You are on page 1of 12

KEGIATAN BELAJAR 4

(DISKUSI)
BODY MEKANIK, BODY ALIGNMENT DAN IMOBILISASI
A. Body Mekanik dan Body Alignment
1. Pengertian
1.1 Body alignment
Body alignment adalah susunan geometric bagian-bagian tubuh
dalam hubungannya dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Body
alignmen baik akan meningkatkan keseimbangan yang optimal dan
fungsi tubuh yang maksimal, baik dalam posisi berdiri, duduk, maupun
tidur. Body aligment yang baik: keseimbangan pada persendian otot,
tendon, ligamen. Body Alignment yang baik dapat meningkatkan
fungsi tangan yang baik, mengurangi jumlah energi yang digunakan
untuk mempertahankan keseimbangan, mengurangi kelelahan,
memperluas ekspansi paru, meningkatkan sirkulasi renal dan fungsi
gastrointestinal. Body alignment yang buruk dapat: mengurangi
penampilan individu dan mempengaruhi kesehatan yang dapat
mengarah pada gangguan.
1.2 Body mekanik
Body mekanik merupakan usaha koordinasi dari
muskuloskeletal dan sistem saraf untuk mempertahankan
keseimbangan tubuh dengan tepat. Mekanika tubuh adalah cara
menggunakan tubuh secara efesien, yaitu tidak banyak mengeluarkan
tenaga, terkoordinasi, serta aman dalam menggerakkan dan
mempertahankan keseimbangan selama beraktivitas. Body mekanik
adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan
digunakannya tubuh dan bagian-bagianya secara effisien, aman dan
terkoordinasi untuk memindahkan suatu obyek dan melakukan
pekerjaan sehari-hari. Dalam hal ini difokuskan pada penggunaan
body mekanik oleh perawat pada saat mengatur posisi pasien diatas
bed, memindahkan pasien diantara bed,kursi roda dan brankat.
2. Prinsip-prinsip Body Mekanik dan Body Alignment
a. Body Mekanik
Prinsip yang digunakan dalam mekanik tubuh adalah sebagai
berikut:
 Gravitasi
Merupakan prinsip pertama yang harus diperhatikan yaitu
memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh.
Terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam gravitasi:
- Pusat gravitasi (center of gravitasi), titik yang berada dipertengahan
tubuh.
- Garis gravitasi (line of gravitasi), merupakan garis imaginer vertical
melalui pusat gravitasi.
- Dasar tumpuan (base of support), merupakan dasar tempatseseorang
dalam keadaan istirahat untuk menopang atau menahan tubuh.
 Keseimbangan

Keseimbangan dapat dicapai dengan cara mempertahankan


posisis garis gravitasi diantara pusat gravitasi dan dasar tumpuan.

 Berat

Dalam menggunakan mekanika tubuh yang sangat diperhatikan


adalah berat atau bobot benda yang akan diangkat karena berat benda
akan mempengaruhi mekanika tubuh.

b. Prinsip Body Alignment

Prinsip body alignment adalah sebagai berikut:

1. Keseimbangan dapat dipertahankan jika garis gravitasi melewati pusat


gravitasi (center of gravity-titik yang berada di pertengahan garis
tubuh) dan dasar tumpuan (base of support-posisi menyangga atau
menopang tubuh).
2. Jika dasar tumpuan lebih luas dan pusat gravitasi lebih rendah,
kestabilan dan keseimbangan akan lebih besar.
3. Jika gravitasi berada di luar pusat dasar tumpuan, energi akan lebih
banyak digunakan untuk mempertahankan keseimbangan.
4. Dasar tumpuan yang luas dan bagian-bagian dari postur tubuh yang
baik akan menghemat energi dan mencegah kelelahan otot.
5. Perubahan dalam posisi tubuh membantu mcncegah ketidaknyamanan
otot.
6. Memperkuat otot yang lemah dapat membantu mencegah kekakuan
otot dan ligamen.
7. Posisi dan aktivitas yang bervariasi dapat membantu mempertahankan
otot dan mencegah kelelahan.
8. Pergantian antara masa aktivitas dan istirahat dapat mencegah
kelelahan.
9. Membagi keseimbangan antara aktivitas pada lengan dan kaki untuk
mencegah beban belakang.
10. Postur yang buruk dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa
nyeri, kelelahan otot, dan kontraktur.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Body Mekanik dan Body Alignment


1. Body Mekanik
a. Status kesehatan
Perubahan status kesehatan dapat memepengaruhi system
musculoskeletal dansistem saraf berupa penurunan koordinasi.
Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh penyakit, berkurangnya
kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari sehingga dapat
mempengaruhi mekanika tubuh.
b. Nutrisi
Salah satu fungsi nutrisi bagi tubuh adalah membantu proses
pertumbuhan tulang dan perbaikan sel. Kekurangan nutrisi bagi tubuh
dapat menyebabkan kelemahan otot dan memudahkan terjadinya
penyakit. Sebagai contoh tubuh yang kekurangan kalsium akan lebih
mudah mengalami fraktur.
c. Emosi
Kondisi psikologis seseorang dapat menurunkan kemampuan
mekanika tubuh yang baik, misalnya seseorang yang mengalami
perasaan tidak aman, tidak bersemangat, dan harga diri rendah, akan
mudah mengalami perubahan dalam mekanika tubuh.
d. Situasi dan Kebiasaan
Situasi dan kebiasaan yang dilakukan seseorang misalnya,
sering mengangkat benda-benda berat, akan menyebabkan perubahan
mekanika tubuh dan ambulasi.
e. Gaya Hidup
Perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stress dan
kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan dalam beraktivitas
yang dapat menganggu koordinasi antara system muskulusletal dan
neurologi sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan perubahan
mekanika tubuh.
f. Pengetahuan
Pengetahuan yang baik terhadap penggunaan mekanika tubuh
akan mendorong seseorang untuk memepergunakannya dengan benar,
sehingga mengurangi tenaga yang dikeluarkan. Sebaliknya,
pengetahuan yang kurang memadai dalam penggunaan mekanika tubuh
akan menjadikan seseorang beresiko mengalami gangguan koordinasi
system neurologi dan muskulusletal.
g. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Body Alignment
g. Gravity
Gravity adalah atraksi timbale balik antara tubuh dan bumi.
Pusat gravity : titik pusat seluruh massa dari suatu objek.
2. Body Alignment
a. Postural reflek dan Apposing Muscles Group
Action dari otot postural yang terus menerus menyokong
seseorang pada posisi tegak melawan gravity.
b. Pengaturan gerakan
Koordinasi gerakan tubuh merupakan fungsi yang terintregasi
dari system skeletal oto skelet dan system syaraf. Karena ketika
system ini berhubungan erat dengan mekanisme pendukung tubuh,
system ini dapat dianggap sebagai 1 unit fungsional.
c. System skeletal
Skelet adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari 4 tipe
tulang: panjang, pendek, pipih dan irregular. Skelet tempat
melekatnya otot dan ligament
d. Karakteristik tulang
Karakteristik tulang meliputi kekokohan kekuatan dan
elastisitas.

B. IMOBILISASI
1. Pengertian Imobilisasi
Imobilisasi adalah ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif
akibat berbagai penyakit atau impairment (gangguan pada alat atau organ
tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi dapat juga diartikan
sebagai keadaan tidak bergerak atau tirah baring yang terus menerus
selama lima hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis. (Potter &
Perri, 2010)

Imobilisasi merupakan pembatasan gerak atau keterbatasan fisik


dari anggota badan dan tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk, dan
berjalan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh berada pada posisi tetap
dengan gravitasi berkurang seperti saat duduk atau berbaring. (Susan J.
Garrison, 2004)

Imobilisasi merupakan keadaan seseorang dimana ia tidak dapat


bergerak secara bebas karena kondisinya seperti trauma tulang belakang,
cedera otak berat, fraktur pada ekstremitas dan lainnya. Sehingga
mengganggu pergerakan dalam aktivitasnya.
Jadi kesimpulannya, imobilisasi adalah kemampuan seseorang
yang mengalami keterbatasan gerak secara bebas karena berbagi gangguan
yang dialami baik secara fisik maupun mental.

2. Kondisi Patologi yang Mempengaruhi Imobilisasi

Berbagai kondisi dapat menyebabkan terjadinya immobilisasi,


yaitu sebagai contoh :

a. Gangguan sendi dan tulang


Penyakit reumatik seperti pengapuran tulang atau patah tulangakan
menghambat pergerakan.
b. Penyakit Saraf

Adanya stroke, penyakit parkinson dan gangguan saraf tepi


juga menimbulkan gangguan pergerakan dan mengakibatkan
imobilisasi.

c. Penyakit Jantung atau Pernafasan.

Penyakit jantung atau pernafasan akan menimbulkan


kelelahan dan sesak nafas ketika beraktivitas. Akibatnya pasien
dengan gangguan pada organ- organ tersebut akan mengurangi
mobilitasnya.

d. Gangguan Penglihatan

Rasa percaya diri untuk bergerak akan terganggu bila ada


gangguan penglihatan karena ada kekhawatiran terpeleset,
terbentur atau tersandung.

e. Masa Penyembuhan

Pasien yang masih lemah setelah menjalani operasi atau


penyakit berat tertentu memerlukan bantuan untuk berjalan /
banyak istirahat.
Tirah baring / immobilisasi berkepanjangan dapat
membawa akibat- akibat yang merugikan bagi fisik maupun
psikologis. Konsep immobilisasi merupakan hal yang relatif, dalam
arti tidak saja kehilangan pergerakan total tetapi juga terjadi
penurunan aktivitas dari normalnya.

3. Faktor yang Mempengaruhi Imobilisasi

Terdiri dari beberapa faktor yang mempengaruhi imobilisasi.


Faktor-faktor yang mempengaruhi immobilisasi atau kurangnya gerak
adalah sebagai berikut (Perry dan Potter, 2005):
1. fisiologis. Setiap sistem tubuh akan beresiko terjadi gangguan apabila
ada perubahan mobilisasi, tingkat keparahan dari gangguan tersebut
tergantung pada umur klien, dan kondisi kesehatan secara
keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang dialami. Faktor fisiologis
mempengaruhi perubahan setiap sistem tubuh yaitu perubahan pada
sistem metabolik, respiratori, kardiovaskuler, musculoskeletal,
integument dan sistem eliminasi.
2. Faktor psikososial/emosional. Imobilisasi menyebabkan respon
emosional, intelektual sensori, dan sosiokultural. Perubahan status
emosional bisa terjadi secara bertahap, perubahan emosional yang
paling umum adalah depresi, perubahan prilaku, perubahan siklus
tidur-bangun, dan gangguan koping.
3. Faktor perkembangan. Sepanjang kehidupan, penampilan tubuh dan
fungsinya, tubuh mengalami perubahan. Pengaruh terbesar terlihat
pada usia kanak-kanak dan lansia, imobilisasi dapat menimbulkan
pengaruh yang bermakna pada tingkat kesehatan, kemandirian, dan
status fungsional lansia.

4. Efek Imobilisasi Terhadap System Tubuh


4.1 Efek Fisiologis Imobilisasi
a. Sistem Muskular
Otot yang tidak aktif akan mengalami kehilangan kekuatan
3% per hari, dan dalam hal ini tanpa defisit neuromuskular
primer kadang-kadang memerlukan beberapa minggu/bulan
untuk dapat berfungsi kembali. Streching dapat terjadi seperti
kehilangan tonus otot atau seperti exessive strain (wirst
drop/foot drop) dapat terjadi karena kerusakan jaringan/atropi
otot. Pada atropi otot yang general → penurunan kekuatan otot
dan kekakuan pada persendian. Kekakuan sendi dan perlekatan
sendi serta otot.
b. Sistem Skeletal
Kondisi skeletal sehari-hari akan dipertahankan antara
aktivitas formasi tulang (Osteoblastic activity) dan resporsi
tulang (osteoclastic actinity). Bila stressing pada tulang
berkurang, aktivitas osteobalas menurun, akan dilanjutkan
dengan destruksi tulang, calsium tulang akan berkurang,
sedangkan serum nirogen dan phospor meningkat →
deminralisasi tulang (osteopenia) → fraktur patologis dan
peningkatan kalsium darah. Atrofi dan kelemahan otot
rangka.Pada anak yang tidak dapat bergerak, seperti anak
dengan penurunan kesadaran, pergerakan menjadi terbatas →
kontrkator persendian. Kontraktor paling sering di hip, lutut,
bahu, paintar, kaki.
c. Sistem Kardiovaskular
Ada tiga efek yang dapat terjadi pada sistem kardio vaskuler:
1. Hypotensi ortostatik
2. Peningkatan kerja jantung
3. Trombus formation
4. Gangguan distribusi volume darah
d. Sistem Respiratory
Basal metabolisme rate menurun karena adanya penurunan
kebutuhan energi dalam sel → kebutuhan sel akan oksigen
menurun → produksi CO2, berkurang → penurunan kebutuhan
O2 dan CO2 menyebabkan respirasi menjadi lambat dan dalam.
Expansi dada terbatas karena adanya distensi abdomen akibat
akumulasi feses, gas dan cairan atau karena penggunaan alat yang
membatasi gerak seperti body cast, brace, tight bindes.
e. Sistem Gastro intestinal
Immobilisasi yang lama dapat menyebabkan balance
nitrogen yang negatif yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas
katabolisme → penurunan kontribusi energi → ingesti nutrisi
menurun → nafsu makan menurun.
Penurunan aktivitas → efek gravitational pada pergerakan feses
→ fases menjadi keras → sulit untuk dikeluarkan → konstipasi.
f. Sistem Renal
Struktur dalam sistem perkemihan dirancang untuk posisi
tegak lurus sehingga bila terjadi perubahan posisi kontraksi
peristaltik ureter akan memberikan tahanan terhadap kandung
kemih → urine menjadi statis → merangsang pembentukan batu →
batu dalam saluran kemih. Batu dalm saluran kemih → urine statis
→ media untuk pertumbuhan mikro organisme → infeksi saluran
kemih.
g. Sistem Integumentary
Akibat immobilisasi dapat menyebabkan aliran darah
menurun terutama pada daerah yang tertekan (sacrum, occiput,
trokanter dan ankle) → distribusi O2 dan nutrisi menurun →
ischemia jaringan → nekritic jaringan → ulcer (decubitus).
h. Sistem Neurosensory
Menurut hasil penelitian efek immobilisasi terhadap sistem
neurosensory tidak begitu terlihat.
Dua hal yang dapat terjadi : loss of innervation dan sensory and
perceptual deprivation. (Wong, 2012).

4.2 Efek terhadap Keluarga


1. Penurunan status finansial (sumber keuangan keluarga berkurang).
2. Fokus keluarga terhadap anak sakit, sehingga sibling merasa disia-
siakan.
3. Coping individu dan keluarga tidak efektif sehingga tidak dapat
menanggulangi krisis keluarga yang terjadi.
4. Orang tua selalu merasa bersalah atas sakit anaknya.

4.3 Efek Psikologis Imobilisasi


Aktivitas fisik merupakan bagian integral dari kehidupan
sehari-hari dan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
fisik. Aktivitas ini membantu pasien mengatasi bermacam-macam
perasaan dan impuls serta memberikan mekanisme yang
memungkinkan mereka mengendalikan ketegangan dari dalam.
Pasien berespons terhadapa ansietas dengan meningkatkan
aktivitas. Apabila kekuatan ini tidak ada, mereka akan kehilangan
masukan yang penting dan tempat untuk mengekspresikan
perasaan fantasinya. Keadaan seperti ini sering kali menimbulkan
perasaan terisolasi dan bosan. Reaksi pasien terhadap imobilisasi :
 Tingkat kecemasan lebih tinggi
 Depresi
 Merasa terisolasi
 Protes aktif, marah dan agresif. Atau bahkan menjadi
pendiam, pasif dan submisif
 Monotomy dapat mengakibatkan :
1. Respons intelektual dan psikomotor menjadi lamban
2. Keterampilan komunikasi menurun
3. Fantastis meningkat
4. Halusinasi
5. Disorentasi
6. Ketergantungan
 Perilaku yang tidak biasa (mencari perhatian orang lain dengan
kembali ke perilaku perkembangan awal : ingin disuapi, mengompol,
dan komunikasi seperti bayi.
 Pada anak sebaiknya dibiarkan melampiaskan rasa amarah, tetapi
tidak boleh melewati batas keamanan dari harga diri mereka dan
tidak merusak integritas orang lain. Contohnya, memberikan benda
untuk diserang, bukan orang atau barang-barang berharga, adalah
tindakan yang cukup aman dan terapeutik. Apabila anak tidak dapat
mengekspresikan rasa marah, agresi sering kali ditampilkan tidak
tepat melalui perilaku regresif dan menangis berlebihan atau
temperamentum (Wong, 2012)
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul,2006, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia:Aplikasi


Konsep dan Proses Keperawatan,Jakarta:Salemba Medika.

Hidayat, A. Aziz Alimul,2004, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia:Buku Saku


Praktikum ,Jakarta:EGC.