You are on page 1of 19

BAGIAN KARDIOLOGI REFARAT

FAKULTAS KEDOKTERAN SEPTEMBER 2018


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

ACLS
( ADVANCED CARDIOVASCULAR LIFE SUPPORT )

Oleh:
SESARIAH FATIMAH NUR BAHTIAR

111 2017 2107

Pembimbing Supervisor :
dr. Wisudawan,M.Kes,Sp.JP,FIHA

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN KARDIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Sesariah Fatimah Nur Bahtiar

NIM : 111 2017 2107

Judul Referat : ACLS ( Advanced Cardiovascular Life Support )

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Kardiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, September 2018

Mengetahui,

Supervisor

dr.Wisudawan,M.Kes,Sp.JP,FIHA
BAB I

PENDAHULUAN

Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS ) adalah kemudahan yang


masing-masing dapat digambarkan suatu kemampuan dan pengetahuan yang dapat
diterapkan secara berurutan selama perawatan bagi pasien yang mengalami henti
jantung. Terdapat tumpeng tindih karena disetiap tahap perawatannya harus berlanjut
ketahapberikutnya, tapi secara umum, ACLS terdiri tingkat perwatan BLS dan pasien
yang sudah mengalami henti jantung.

Pelatihan ACLS direkomendasikan untuk penyedia layanan media pra-rumah


sakit dan di rumah sakit. Di masa lalu, banyak data hanya terkumpul dari luar rumah
sakit yang mengalami henti jantung. Tapi beberapa tahun terakhir, sudah banyak juga
data yang terkumpul dari dalam rumah sakit bagi yang mengalami henti jantung.
Meskipun banyak persamaan, tetapi ada juga perbedaan antara didalam dan diluar
rumah sakit etiologi henti jantung, yang mana dapat menyebabkan perubahan
rekomendasi resusitasi atau dalam urutan perawatan.

Rekomendasi yang terbaru yaitu tahun 2015 American Heart Association (


AHA ), pembaruan pada panduan Cardiopulmonary Resucitation ( CPR ) dan
Emergency Cardiovascular Care ( ECC ) yang didasarkan pada proses peninjauan bukti
ekstensif yang dimulai oleh International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR)
setelah publikasi Konsensus Internasional ILCOR 2010 tentang Resusitasi Jantung dan
Ilmu Darurat Kardiovaskular dengan Rekomendasi Perawatan dan selesai pada Februari
2015.
BAB II

PEMBAHASAN

I. Henti Jantung ( Cardiac Arrest )


Henti jantung atau Cardiac arrest merupakan keadaan yang dapat terjadi dimana
saja dan memerlukan tindakan segera. Hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba akan
menyebabkan berhentinya aliran darah ke semua organ sehingga kondisi perfusi dan
metabolisme dari organ yang mendukung fungsi masing-masing akan juga hilang.
Kerusakan yang bersifat irreversible dapat terjadi apabila tidak dilakukan usaha
resusitasi dalam beberapa menit untuk mengembalikan fungsi organ seperti otak dan
jantung. Otak sebagai organ yang sangat tergantung fungisnya dengan ketersediaan
oksigen maka berhentinya aliran darah menuju otka pada henti jantung akan
menyebabkan masalah serius mengingat otak merupakan organ yang mnegatur
sebagian besar fungsi fisiologis dan haemostasis tubuh. Kejadian cardiac arrest dapat
terjadi setiap saat, dimana saja dan pada siapa saja yang mengharuskan setiap tenaga
medis ataupun orang awam memiliki kemampuan melakukan Resusitasi Jantung
Paru (RJP) dengan baik dan efektif.
Penyebab henti jantung dibedakan menjadi primer dan sekunder. Pada umumnya
henti jantung itu disebabkan karena gangguan irama ( primer ) pada jantung yaitu:
 Ventricular Fibrillation ( VF )
 Ventricular Tachycardi ( VT ) tanpa nadi
 Pulseless Electric Activity ( PEA )
 Asistole.
Sedangkan penyebab henti jantung yang sekunder sesuatu yang berasal yang
bukan dari jantung secara langsung seperti :
 Gangguan elektrolit
 Syok ( hipovelemia,neurologic,anafilkasis )
 Pericardial tamponade
 Tension pneumothorax
 Tindakan medis
Patofisiologi cardiac arrest tergantung dari etiologi yang mendasarinya.
Namun,umumnya mekanisme terjadinya kematian adalah sama. Sebagai akibat
dari henti jantung, peredaran darah akan berhenti. Berhentinya peredaran darah
mencegah aliran oksigen untuk semua organ tubuh. Organ-organ tubuh akan
mulai berhenti berfungsi akibat tidak adanya suplai oksigen, termasuk otak.
Hypoxia cerebral atau ketiadaan oksigen ke otak, menyebabkan korban
kehilangan kesadaran dan berhenti bernapas normal. Kerusakan otak mungkin
terjadi jika cardiac arrest tidak ditangani dalam 5 menit dan selanjutnya akan
terjadi kematian dalam 10 menit (Sudden cardiac death).
Sudden cardiac death ( henti jantung) pemicu kematian paling tinggi yang di
United States. 70% kasus henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) terjadi di
rumah dan sekitar 50% tidak disadari. Hasil dari OHCA masih saja rendah
hanya 10.8% dari pasien dewasa yang mengalami henti jantung tanpa kasus
trauma yang mendapatkan upaya resusitasi dari pelayanan emergensi ( EMS )
yang bertahan hingga keluar dari rumah sakit. Henting jantung di dalam rumah
sakit ( IHCA ) mempunyai hasil yang lebih baik dengan 22.3% sampai dengan
25.5% yang dapat bertahan hingga keluar dari rumah sakit.
Basic Life Support ( BLS ) adalah dasar untuk penyelamatan setelah terkena
henti jantung. Aspek yang mendasari dari BLS termasuk pengenalan yang cepat
dalam kasus henti jantung dan mengaktifkan sistem respon emergency.
Pengenalan yang awal pada serangan jantung dan stroke termasuk bagian dari
BLS. Ketika “Chains Of Survival “ diimplementasikan secara baik, jumlah
orang yang dapat bertahan dapat mencapai 50%. Berikut adalah diagram “
Chains of Survival “
II. BLS (Basic Life Support)
Urutan dari BLS dari tahun 2010 sampai tahun 2015 tidak pernah
berubah. Maksud dari algoritma itu untuk memberikan langkah-langkah
pada BLS dengan cara yang mudah dan logis bagi semua penyelamat untuk
mempelajari, mengingat dan melakukannya.

 Pengenalan yang lebih awal dan aktivasi sistem respon emergensi

Bagi orang awam sebaiknya mereka langsung menelfon nomor


darurat apabila menemukan orang dewasa yang sudah dipastikan tidak
berespon. Untuk OHCA, beberapa rekomendasi baru-baru ini
menyatakan bahwa dispatcher emergensi untuk mengajarkan bagi orang
yang awam melakukan protokol untuk melakukan langkah-langkah CPR.
Dalam pemeriksaan pernapsan dan nadi harus dilakukan dengan sangat
hati-hati agar dapat menentukan tindakan CPR dengan segera.
 Cardiopulmonary Recusitation ( CPR )
Kompresi dada di mulai secepat mungkin setelah mengenal
sebagai henti jantung. Urutan keterampilan BLS untuk penyedia
layanan kesehatan digambarkan di BLS Healthcare Provider.
Terdapat beberapa perubahan dari panduan 2010 urutan yang
direkomendasikan untuk penyelamat yang sendiri disarankan
melakukan kompresi dada terlebih dahulu baru melakukan
pernapasan ( C-A-B daripada A-B-C ) untuk menghindari
terlambatnya melakukan kompresi dada pertama.

Gambar 1. CPR Algoritma untuk OHCA


Tehnik yang dilakukan pada saat CPR :
Kompresi dada merupakan komponen penting terhadap
keberhasilan CPR yang efektif. Kompresi dada terdiri dari aplikasi
tekanan ritmik yang kuat dibawah bagian sternum. Kompresi ini
menghasilkan aliran darah dengan meningkatkan tekanan
intrathoraks dan langung menekan jantung. Sehingga menghasilkan
aliran darah dan oksigen yang disalurkan menuju miokardium dan
otak.
Kompresi dada yang direkomendasikan setidaknya berjumlah 100
dalam 1 menit dengan kedalaman setidaknya 2 inchi ( 5cm ) tapi
tidak lebih dari 2.4 inchi ( 6cm ), dada yang recoil. Kualitas CPR
juga dicirikan melalui frekuensi dan durasi interupsi ketika terjadi
interupsi diharapkan diminimalkan agar fraksi kompres dada sewaktu
resusitasi menjadi lebih tinggi.

Tabel 1. Tehnik melakukan CPR


Tambahan yang diperlukan ketika melakukan CPR adalah adanya
monitoring parameter fisiologis selama CPR berlangsung. Dalam
studi tenatng hewan dan manusia mereka menyatakan bahwa
monitoring parameter fisiologis selama berlangsungnya CPR akan
membantu kita untuk mengetahui kondisi pasien dan responnya
terhadap terapi yang kita berikan. Yang paling penting, end-tidal
CO2, tekanan perfusi coroner, tekanan relaksasi arteri, tekanan darah
arteri dan saturasi oksigen yang berhubungan dengan curah jantung
dan aliran darah miokardial selama CPR.

Durasi untuk melakukan resusitasi


Para peneliti menerbitkan studi tentang penelitian dampak
resusitasi pada hasil klinik dan sebagian penelitian ini memiliki
dampak yang keterbatasan penting. Dalam rangkaian tua dari 313
pasien IHCA, persentasi yang bertahan adalah 45% ketika resusitasi
dijalankan tidak lebih dari 5 menit dan kurang dari 5 % ketika
resusitasi dijalankan lebih dari 20 menit.

III. ACLS ( Advanced Cardiovascular Life Support )


Dalam melakukan pertolongan menggunakan pendekatan sistematis
Bantuan Hidup Jantung Lanjut (ACLS), maka kita harus melakukan
pengamatan dan pemeriksaan secara sistematis pula. Pengamatan dan
pemeriksaan tersebut dimulai dari survei primer Bantuan Hidup Dasar
dilanjutkan dengan survei Bantuan Hidup Jantung Lanjut. Survei Bantuan
Hidup Dasar Primer merupakan dasar tindakan penyelamatan jiwa setelah
terjadi keadaan henti jantung.
Tindakan ini bisa dilakukan oleh seorang penolong ataupun secara
simultan. Tujuan awal pelaksanaan Survei Bantuan Hidup Dasar Primer
adalah memperbaiki sirkulasi sistemik yang hilang pada penderita henti
jantung mendadak dengan melakukan kompresi dada secara efektif dan
benar, diikuti dengan pemberian ventilasi yang efektif sampai didapatkan
kembalinya sirkulasi sistemik secara spontan atau tindakan dihentikan
karena tidak ada respon dari penderita setelah tindakan dilakukan beberapa
saat. Jikalau setelah dilakukan survei Bantuan Hidup Dasar Primer secara
efektif didapatkan kembalinya sirkulasi secara spontan, maka tindakan
Survei Bantuan Hidup Dasar Primer langsung dilanjutkan Survei Bantuan
Hidup Jantung Lanjut.
Perubahan utama dalam pedoman ACLS 2015 termasuk rekomendasi
tentang prognostikasi selama CPR berdasarkan pengukuran CO2 yang
dikeluarkan, waktu pemberian epinefrin yang dikelompokkan berdasarkan
shockable dan nonshockble, dan kemungkinan untuk penggabungan
steroid,vasopressin dan epinefrin untuk pengobatan henti jantung di rumah
sakit. Selain itu, pemberian vasopressin sebagai satu-satunya vasoaktif
selama CPR yang dihapuskan dari algoritma.
 Manajemen jalan napas dan ventilasi
Manajemen dasar jalan napas dan ventilasi

Dalam penanganan dasar jalan napas dan ventilasi


terdapat 4 alat yang dapat digunakan yaitu : Nasal kanul, Simple
Mask,Venturi Mask dan Non-rebreathing Mask.
Tabel 2. FlowRate dan Persentase SpO2
Didalam penanganan Bantuan Hidup Lanjutan,
menajemen dasar pada jalan napas dan ventilasi adanya Bag
Valve Mask Ventilation fungsi dari alat ini adalah untuk
mengalirkan konsentrasi oksigen tingkat tinggi melalui tekanan
positif yang tidak bernapas secara efektif.
Cara memasang Bag Valve Mask dengan baik :
1. Pasangkan Oropharengeal Airway secepat
mungkin jika pasien sudah tidak memiliki
batuk dan reflex muntah untuk menjaga jalan
napas tetap terbuka
2. Lakukan head tilt,chin lift dalam proses
menggunakan bag valve mask kemudian
bentuk huruf “C” menggunakan jempol dan
ibu jari untuk menekan masker kewajah.
Selanjutnya,gunakan jari yang masih tersisa
untuk mengangkat dagu keatas agar jalan jalan
napas tetap terbuka
3. Untuk membuat penutupan masker yang
efektif,harus dilakukan secara bersamaan;
mempertahankan kepala tetap
terangkat,masker yang menutupi wajah dan
dagu tetap terangkat.
4. Menggunakan 2 trainer yang mempunyai
kemapuan,lebih baik selama bag valve mask
digunakan.

Gambar 2. Bag valve mask


Manajemen Advanced jalan napas dan ventilasi
The Laryngeal Airway
The Laryngeal Airway terdiri dari tabung dengan
penutup. Jika dibandngkan dengan ET tube the laryngeal
airway menyediakan keseimbangan ventilasi 79% sampai
97% selama CPR kepada pasien.
Keuntungan yang didapat dari the laryngeal
airway : a. regurgitasi yang kurang dengan the laryngeal
airway daripada bag valve mask; b.untuk pemasangan
tidak membutuhkan alat seperti laringoskopi dan
visualisasi untuk sampai di vokal kord; c. pemasangan the
laryngeal airway lebih mudah dari pada pemasangan ET
tube,ketika akses yang dibutuhkan terbatas maka
kemungkinan ada cedera leher.

Gambar 3. The Laryngeal Airway

The Laryngel Tube

The Laryngel Tube adalah alat yang digunakan


sebagai supraglotic airway. The laryngeal tube tersedia
dalam 2 versi yaitu satu dan dua lumen. Hanya orang
yang berpengalaman yang dapat memasang alat ini.

Keuntungan dari alat ini : alat ini mengisolasi


jalan napas sehingga mengurangi resiko aspirasi
dibandingkan bag valve mask

Gambar 4. The Laryngeal Tube


ET Intubation

ET-Tube meruakan alat yang sekali


pakai,tabung yang tertutup mengantarkan
konsentrasi oksigen yang tingkat tinggi dan
volume tidal yang terseleksi untuk menjaga jalan
napas yang adekuat. Pemasangan alat ini
membutuhkan visualisasi yang bagus untuk
sampai di vokal kord.

Keuntungan menggunakan ET-Tube :a.


menjaga jalan napas tetap paten; b.menjaga jalan
napas dari aspirasi.

Gambar 5. Endotacheal Tube

 Manejemen Cardiact Arrest


Henti jantung dapat disebabkan oleh 4:
 Ventricular Fibrillation ( VF ) : Ventrikel terdiri dari
area miokardium yang normal dengan iskemik,
gangguan miokardium dan injur sehingga
menyebabkan pola yang sangat tidak beraturan dari
depolarisasi dan repolarisasi ventrikel. Tanpa pola
depolarisasi ventrikel yang teratur,ventrikel tidak akan
berkontraksi secara semprna sehingga jantung tidak
bisa memompakan darah secara sempurna.
 Ventricular Tachycardi ( VT ) tanpa nadi : Pada area
ventrikel yang terkena cedera akan menyebabkan
impuls terus berputar. Sehingga terjadi fenomena
reentry dan depolarisasi yang cepat dan berulang.
 Pulseless Electric Activity ( PEA ) : Impul konduksi
jantung yang terjadi dalam pola yang teratur,tapi tidak
menghasilkan kontraksi miokardial ( kondisi ini biasa
disebut disosiasi elektromekanikal) ketidakcukupan
ventrikel mengisi selama fase diastole atau
ketidakefektifan kontraksi
 Asistole : Tidak adanya aktifitas ventrikel yang terlihat

Penggunaan Defibrilasi
Defibrilasi mempunyai 2 tipe ada yang Automated
Defibrilasi ( AED ) dan Manual Defibrilasi. Tidak
semua kelainan irama pada pasien henti jantung
digunakan, namun mereka ada syaratnya. Syarat
digunakan defibrilasi adalah ketika irama yang muncul
di monitor yang Shockable Wave ( VF atau VT Tanpa
nadi ) .
Automated External Defibrilator ( AED )
Penggunaan AED harus pada 3 teman klinis :
a. Tidak ada respon
b. Pasien dengan tidak bernapas atau
pernapasan yang abnormal ( tidak
bernapas atau hanya terengah-engah )
c. Tidak ada nadi

Gambar 6. AED
Tabel 3. Penggunaan AED

Manual Defibrilasi

Ketika menggunakan manual defibrilator,lakukan


pengecekkan ritme sebagai indikasi mealakukan ACLS
Algoritma Henti Jantung. Ini dapat dilakukan dengan meletakkan
padel elektroda defibrilator atau dengan meletakkan padel
defibrilator pada dada. Setelah melakukan satu kali shock,
lakukan segera RJP tekan dengan keras dan cepat dengan
kecepatan 100-120 kali permenit.

Gambar 7. Algoritma Henti Jantung pada orang dewasa