You are on page 1of 6

Sistem Saraf Terhadap Nyeri

Pendahuluan

Mekanisme tubuh kita dikendalikan oleh saraf, dalam setiap kegiatan yang kita lakukan
sehari-hari semua hal itu dikerjakan oleh saraf. Pergerakan saraf diatur oleh sebuah sumber
pusat integrasi yang berada tepat di basis cranii yang disebut sebagai sistem saraf pusat.

Sistem saraf pusat mengintegrasikan segala tindakan yang dilakukan tubuh,. Sistem saraf
pusat juga mempersarafi bagian-bagian organ tubuh mulai dari kulit hingga ujung rambut,
dari kepala hingga kaki. Keadaan sakit atau nyeri merupakan sebuah proses persarafan secara
sadar dan dirasakan langsung melewati hantaran sinyal dari epidermis hingga ke pusat
integrasi.

Tujuan makalah ini dibuat agar mahasiswa mampu menjelaskan proses rasa nyeri pada kaki
yang tertusuk paku.

Medulla Spinalis

Fungsi dari medulla spinalis bagian anterior berfungsi sebagai penyerap hantaran gerakan
tubuh seperti berjalan dan berlari. Bagian posterior medulla spinalis berfungsi melindungi
sumsum tulang bagian belakang dan dan saraf dalam kanal tulang belakang dan
mengstabilkan tulang belakang dengan menyediakan tempat untuk otot dan ligamen agar bisa
menempel. Akar saraf akan keluar pada tingkat di atas dari badan vertebra di daerah
cervicalis, seperti C7 akar saraf keluar dari tingkat C6-C7 dan di bawah tulang belakang
masing-masing pada daerah thoracal dan lumbar, akar saraf T1 akan keluar pada T1-T2. Akar
saraf cervical mengikuti jalur intraspinal singkat sebelum keluar. Berlawanan dengan, akibat
dari sumsum tulang belakang berakhir pada vertebra L1 atau L2, akar saraf lumbar
mengikuti jalur panjang intraspinal dan dapat terluka dimana saja dari bagian atas akar saraf
lumbalis sampai jalur keluar pada foramen intervertebral.1

Pada struktur bagian dalam medulla spinalis terdapat bagian secara besar seperti substansia
grisea dan alba, substansia grisea melapisi bagian cornu anterior , cornu posterior, cornu
lateralis pada Th 1- L2, dan terdapat commisura grisea, terlerak pada canalis centralis.
Memiliki komponen isi yang terdiri dari badan sel-sel neuron dan dendrit, serta axon-axon
tanpa myelin dan juga sel-sel glia. Lapisan gray matter pada sumsum tulang belakang
termasuk morfologis heterogen. sel-sel kelabu sumsum tulang belakang materi berbeda dalam
hal ukuran, bentuk dan kepadatan. Namun, materi abu-abu menunjukkan beberapa organisasi
intrinsik, sehingga zona keteraturan atau lamina dapat diidentifikasi. lamina ini pertama kali
dijelaskan oleh rexed dan disebut sebagai lamina rexed.2 Lamina rexed terdiri dari 10 area
dan memiliki fungsi yang berbeda.

Nervus Peroneus Communis

Nevus peroneus communis merupakan salah satu divisi terminal dari saraf rasa nyeri yang
menjalar dari punggung bawah hingga ke paha, betis, tumit, dan telapak kaki baik pada satu
sisi maupun kedua sisi kaki, letak nervus peroneus communis terlihat menyimpang dari saraf
tibialis di ujung atas fossa poplitea, kemudian mengalir dengan tendon biseps sepanjang
bagian lateral ruang poplitea di sekitar leher fibula, kemudian membagi ke dalam saraf
peroneal dangkal dan dalam. Saraf peroneal umum, atau cabang yang mendalam, adalah
saraf yang biasa nya terjadi cedera, yang terletak di posisi subkutan lateral pada leher fibula,
apa bila terjadi lesi, kemungkinan akan menyebabkan hilangnya kemampuan untuk dorsiflex
kaki atau menapakan kaki.3, 4

Jaringan Saraf

Jaringan saraf adalah salah satu dari 4 jaringan besar dalam tubuh manusia, pergerakan
manusia sehari-hari seperti makan, minum, bergerak, tidur, belajar, dan berbicara
dikendalikan oleh sistem saraf , jaringan saraf dalam tubuh manusia dibentuk oleh sel neuron
dan neuroglia. Pada sel neuron terdapat badan sel, soma atau perikarion terdiri dari nukleus,
sitoplasma, serta organel-organel. Terdapat juluran pada neuron yang tersusuk dari 1 akson
yang panjangnya bisa mencapai 100cm dan beberapa dendrit. Pada jaringan saraf ada sebuah
tempat terjadi transmisi impuls antara sel parasinaps neuron dan pascasinaps biasanya antar
neuron lain, sel otot atau suatu kelenjar yang disebut sinaps. Sinaps memiliki cara
penyampaian sinaps dengan menggunakan impuls yang berbeda seperti sinaps dengan
menggunakan kimia atau menggunakan impuls listrik.4

Pada jaringan saraf memiliki sistem saraf pusat yang berfungsi untuk menerima dan
mengintegrasikan semua rangsangan yang diterima di luar tubuh dan di dalam tubuh melalui
reseptor tertentu, sistem saraf ini terdapat pada otak dan medulla spinalis. Sistem saraf pusat
memiliki struktur di dalamnya terdapat neuron, neuroglia, serat saraf, dan struktur tambahan
seperti pembuluh darah, CCS, selaput otak.4 Pada sistem saraf pusat terbentuk oleh substansia
kelabu dan alba, dan tanpa jaringan ikat lain.Pada bagian substansia grisea terdapat pada
badan-badan sel neuron, dendrit, bagian proksimal akson, ujung terminal akson dari daerah
lain. Sedangankan substansia alba terdapat pada akson dari perikarium atau soma dalam
substansia grisea atau dalam ganglia sistem saraf tepi.

Sistem saraf tepi berfungsi sebagai pengantar penyampaian pesan dari reseptor ke sistem
saraf pusat, atau memberikan perintah dari sistem saraf pusat menuju ke bagian tubuh yang
diperintahkan oleh sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat sendiri terdiri atas urat-urat saraf
yang berasal dari otak dan sumsum tulang belakang, dan sistem saraf otonom.4

Fungsi Sensorik Sistem Saraf Pusat

Sistem saraf pusat memiliki pengaruh penting dalam mengatur kordinasi tubuh baik dalam
menerima rangsangan dari luar maupun dari dalam tubuh sendiri. Kendali sistem saraf pusat
memiliki kendali dalam memberi dan menerapkan reaksi dari rangsangan yang diberikan,
fungsi sensorik sendiri terbagi menjadi khusus dan umum. Pada fungsi sensoris umum
mempengaruhi rangsangan seperti pukulan, tusukan, suhu, suara, cahaya dan kimia. Fungsi
sensorik umum dapat berulang terus menerus pada pagi, siang, dan malam, intensitas dari
rangsangan berpengaruh baik secara di atas ambang, maupun di bawah ambang dan
rangsangan adekuat atau tidak adekuat pada indra yang dituju. Reseptor pada sensoris umum
dapat mengubah berbagai macam energi menjadi energi listik. Reseptor pada fungsi umum
memiliki pengaruh rangsang di bawah ambang dan di atas ambang, kemampuan adaptasi
reseptor dipengaruhi sekali oleh jenis reseptor yang menerima rangsangan. Seperti
exteroseptor menerima rangsangan dari luar, proprioseptor menerima sikap dan gerakan
tubuh, visceroseptor menerima dari dalam tubuh, teleseptor menerima rangsangan dari jauh
seperti fungsi telinga dan hidung, nosiseptor menerima rangsanan nyeri, kemoreseptor
menerima rangsangan kimia, baroreseptor menerima rangsangan dari pembuluh darah,
osmoreseptor menerima rangsangan dari cairan tubuh. Proses penerimaan saraf akan
melewati reticular activating system.4

Pada fungsi sensorik khusus kemampuan yang lebih didapatkan pada rangsangan khusus ini
berupa sensibilitas somatoviseral, penglihatan, pendengaran-keseimbangan, penghidu, dan
pengecap. Menurut hukum Johannes muller jika ada suatu rangsangan maka rangsangan itu
akan dikirimkan melalui impuls sinyal ke korteks yang memang lokasi untuk saraf yang
dituju, contoh pada penglihatan maka akan langsung menuju ke daerah occipital dan juga
hukum proyeksi menyebutkan bahwa kesan sensorik di pusat sensorik berasal dari tempat
asal rangsangan dan dibedakan menjadi rangsangan dan kualitas. Pada evoked potential yaitu
perangsang titik raba-tekan, sakit-suhu muncul potensial aksi dan menyebabkan homunculus
sensorik bereaksi dan memberikan sinyal pada evoked potential primer di korteks primer
yang berada di titik-titik tubuh dan menyebabkan terjadinya evoked potential sekunder. Pada
rasa nyeri, terdapat dua jalur untuk penyaluaran rasa nyeri seperti jalur cepat, jalur lambat dan
nyeri dalam. Dalam rasa nyeri jalur cepat rangsangan dikirim melalui serat sensorik A gama
dan mengandung myelin yang dapat menghantarkan rangsangan lebih cepat, pada jalur
lambat dan nyeri dalam pada otot dan sendi akan menggunakan serat sensorik C yang tidak
mengandung myelin.4

Perasa

Perasa adalah fungsi utama dari reseptor penerima rangsangan, reseptor pada tubuh manusia
memiliki berbagai macam jenis dan memiliki fungsi masing-masing seperti proprioseptor
yang mengambil informasi tentang gerakan dan fungsi tubuh, eksteroseptor, yaitu informasi
tentang perubahan pada lingkungan luar, interoseptor menerima stimulus dari dalam tubuh,
teleseptor mengambil informasi dari jauh, dan nosiseptor yang dapat menjawab rangsangan
sakit atau nyeri. Pada rangsangan spesifik yang memiliki sikap adekuat akan sangat mudah
apa bila diberikan rangsangan karna ambangnya yang rendah. Lintasan persarafan
somatosensorik melalui sistem anterolateral dan sistem kolumna dorsalis untuk daerah tubuh.
5

Untuk rasa nyeri pada tubuh akan terasa pada reseptor nosiseptor, karna nosiseptor adalah
rangsang rasa nyeri pada tubuh dan terdapat pada ujung saraf bebas. Rasa sakit atau nyeri
dapat dirasakan pada reseptor ujung-ujung saraf tak bermielin dan menyebar pada bagian
epidermis, rangsangan adekuat pada rasa sakit atau nyeri beruapa semua rangsanan yang
dapat merusak jaringan, seperti rangsangan dingin, panas, tekanan, dan tusukan. Nyeri dapat
digolongkan menjadi dua kualitas utama yaitu nyeri somatic atau nyeri visceral. Nyeri pada
visceral artinya nyeri pada daerah dalam tubuh seperti usus, lambung, sedangkan nyeri
somatic lebih mengarah ke daerah nyeri kulit, nyeri awal, dan nyeri lambat.4

Rasa nyeri superfisial memiliki sifat nyeri awal dan nyeri lambat, dan nyeri pada daerah kulit
karna adanya rangsangan nosiseptif yang merusak jaringan seperti nyeri kulit akibat tusukan
benda tajam, hal yang akan terasa pertama adalah sensasi rasa tajam kemudian lokalisasinya
dapat ditentukan segera dan segara hilang apa bila rangsangan dihentikan dan menyebabkan
nyeri awal. Kedua adalah nyeri tumpul yang sulir ditentukan lokalisasinya bersifat difus
seperti panas yang menusuk dan tetap terasa beberapa saat setelah rangsangan dihentikan hal
ini disebut sebagai nyeri lambat.3,4,5

Neurotransmiter

Neurotransmiter adalah salah satu dari zat kimia yang membawa pesan antar neuron.
Biasanya, neuron hanya melepas neurotransmiter dalam jumlah kecil, yang mengaktifkan
reseptor pada reseptor saraf sensorik. Pada proeses aktivasi reseptor akan mengstimulus
terjadinya perubahan komposisi kimia di neuron penerima, dan jika jumlah neurotransmitter
yang dibutuhkan reseptor tercukupi maka reseptor akan diaktifkan, neuron reseptor akan
menjadi aktif dan mengirim pesan sesuai yang diterima pada reseptor. Jenis neurotransmitter
telah teridentifikasi, seperti asetilkolin, dopamine, serotonin, norepinefrin. Reseptor saraf
khusus hanya menanggapi satu jenis neurotransmitter, hal ini memungkinkan untuk
spesialisasi tingkat tinggi dalam pengiriman pesan antar saraf neuron, satu neuron dapat
merespon kuat kepada neurotransmitter tertentu sementara tetangganya relative tidak
sensitive. 6

Sel saraf terdiri dari senyawa asam amino, seperti glisin, glutamat, taurin, aspartate dan
histidin. Sedangkan yang bukan asam amino seperti asetilkolin, serotonin, GABA, dopamine,
dan norepinefrin. Metabolisme pada neurotransmitter umumnya terjadi pada senyawa kolin
dengan asetil koA yang akan digabungkan dengan enzim kolin esterase dan membentuk
asetilkolin. Dari senyawa asetilkolin akan diubah oleh senyawa enzim asetilkolin esterase
menjadi asetat + kolin. Pada senyawa triptofan akan menjadi serotonin, kemudian dengan
bercampurnya serotonin dengan enzim monoamine oksidase (MAO) akan membentuk 5
HIAA. Pada senyawa glutamate akan berubah menjadi GABA dengan bantuan enzim
glutamate dekarboksilase dan memerlukan vitamin B6. Pada tirosin akan berubah menjadi
dopamine dan norepinefrin dengan bantuan enzim regulator tirosin hidroksilase, kemudian
akan menjadi HVA dan VMA dengan bantuan enzim COMT dan CAO.6

Simpulan

Rasa sakit yang terjadi di timbulkan akibat adanya luka pada bagian epidermis kulit kaki.
Sehingga terjadi luka akibat tusukan paku dan menyebabkan terjadinya kerusakan pada
bagian permukaan epidermis kaki dan mengenai reseptor nyeri terlebih dahulu. Pada mulanya
dari reseptor rasa nyeri akan di proses pada sistem saraf pusat, kemudian dibawa kembali ke
daerah dengan saraf yang terluka sehingga menyebabkan rasa nyeri superfisial yang
mengalami sensasi tajam pada permukaan kaki yang tertusuk paku.

Daftar Pustaka

1. Hauser SL, Scott AJ. Hariison’s Neurology in clinical medicine.2nd edition. USA :
The McGraw-Hill companies; 2010. p 70-1.
2. Watson C, George P, Gulgun K. The spinal cord. London : Academic Press ; 2009. p.
64.
3. Mardjono M, Priguna S. Neurologi klinis dasar. Jakarta : PT. Dian Rakyat ; 2009. h
74, 89-1, 111.
4. Sherwood L. Human physiology. From cells to systems. 8th edition. China:
Brooks/Cole, Cengage Learning; 2013: p 112, 185-9, 196-7, 203-6.
5. Pearce, Evelyn C. Anatomi dan fisiologis dalam paramedis. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama ; 2006. h 4.
6. Pasiak T. Unlimited potency of the brain dalam kenali dan manfaatkan sepenuhnya
potensi otak anda yang tak terbatas. Bandung : PT Mizan Pustaka ; 2009. h 88, 96,
121-2, 223.