You are on page 1of 37

Makalah

FARMAKOTERAPI DAN TERMINOLOGI MEDIK

Cancer Mammae

Disusun oleh:

1. Dewi Kurnianingtyas S 1061621014


2. Enggar Prasetyaningrum Harianto 1061621017
3. Friska Noviani S. Depari 1061621018
4. Wijayanti Marheani 1061621041

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI”
SEMARANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Kanker payudara adalah pertumbuhan sel yang abnormal pada jaringan payudara
seseorang. Payudara wanita terdiri dari lobulus (kelenjar susu), duktus (saluran susu), lemak
dan jaringan ikat, pembuluh darah dan limfe. Sebagian besar kanker payudara bermula pada
sel-sel yang melapisi duktus (kanker duktal), beberapa bermula di lobulus (kanker lobular),
serta sebagian kecil bermula di jaringan lain (Ellis, E.O. 2003).
Kanker payudara merupakan gangguan payudara yang paling ditakuti perempuan.
Salah satu penyebabnya karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan jika ditemukan pada
stadium lanjut. Padahal, jika dideteksi secara dini, penyakit ini sebetulnya bisa diobati sampai
sembuh. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui. Penyebab yang ada hanya merupakan
dugaan-dugaan, biasa disebut sebagai faktor-faktor resiko terkena kanker payudara (Boyles,
2008 dalam Karmila M, 2013).

Menurut data Pathology Based Cancer Registry yang dilakukan oleh ikatan patologi
anatomi Indonesia yang bekerja sama dengan yayasan kanker Indonesia, kanker payudara di
Indonesia menduduki peringkat kedua dari semua jenis kanker yang sering diderita.
Karenanya, perkembangannya harus dicermati. Sementara itu, di Amerika Serikat dan
beberapa negara maju lainnya, kanker payudara menduduki peringkat pertama (Luwia, 2009
dalam Karmila M, 2013).
Pada umumnya tumor pada payudara bermula dari sel epitelial, sehingga kebanyakan
kanker payudara dikelompokkan sebagai karsinoma (keganasan tumor epitelial). Sedangkan
sarkoma, yaitu keganasan yang berangkat dari jaringan penghubung, jarang dijumpai pada
payudara. Berdasarkan asal dan karakter histologinya kanker payudara dikelompokkan
menjadi dua kelompok besar yaitu in situ karsinoma dan invasive karsinoma. Karsinoma in
situ dikarakterisasi oleh lokalisasi sel tumor baik di duktus maupun di lobular, tanpa adanya
invasi melalui membran basal menuju stroma di sekelilingnya. Sebaliknya pada invasive
karsinoma, membran basal akan rusak sebagian atau secara keseluruhan dan sel kanker akan
mampu menginvasi jaringan di sekitarnya menjadi sel metastatik (Hondermarck, 2003).
Kanker payudara pada umumnya berupa ductal breast cancer yang invasif dengan
pertumbuhan tidak terlalu cepat (Tambunan, 2003). Kanker payudara sebagian besar (sekitar
70%) ditandai dengan adanya gumpalan yang biasanya terasa sakit pada payudara, juga
adanya tanda lain yang lebih jarang yang berupa sakit pada bagian payudara, erosi, retraksi,

2
pembesaran dan rasa gatal pada bagian puting, juga secara keseluruhan timbul kemerahan,
pembesaran dan kemungkinan penyusutan payudara. Sedangkan pada masa metastasis dapat
timbul gejala nyeri tulang, penyakit kuning atau bahkan pengurangan berat badan (Bosman,
1999). Sel kanker payudara dapat tumbuh menjadi benjolan sebesar 1 cm 2 dalam waktu 8-12
tahun (Tambunan, 2003). Pada tumor yang ganas, benjolan ini besifat solid, keras, tidak
beraturan, dan nonmobile. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi edema kulit, kemerahan,
dan rasa panas pada jaringan payudara (Lindley dan Michaud, 2005).

3
BAB II

ISI

I. DEFINISI
Kanker Payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara.
Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun
jaringan ikat pada payudara. Terdapat beberapa jenis kanker payudara:
1. Karsinoma in situ
Karsinoma in situ artinya adalah kanker yang masih berada pada
tempatnya, merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar
dari tempat asalnya.
2. Karsinoma duktal
Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju
ke puting susu. Sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal.
Kanker ini bisa terjadi sebelum maupun sesudah masa menopause. Kadang kanker
ini dapat diraba dan pada pemeriksaan mammogram, kanker ini tampak sebagai
bintik-bintik kecil dari endapan kalsium (mikrokalsifikasi). Kanker ini biasanya
terbatas pada daerah tertentu di payudara dan bisa diangkat secara keseluruhan
melalui pembedahan. Sekitar 25-35% penderita karsinoma duktal akan menderita
kanker invasif (biasanya pada payudara yang sama).
3. Karsinoma lobuler
Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi
setelah menopause. Kanker ini tidak dapat diraba dan tidak terlihat pada
mammogram, tetapi biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada mammografi
yang dilakukan untuk keperluan lain. Sekitar 25-30% penderita karsinoma lobuler
pada akhirnya akan menderita kanker invasive (pada payudara yang sama atau
payudara lainnya atau pada kedua payudara).
4. Kanker invasif
Kanker invasif adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan
lainnya, bisa terlokalisir (terbatas pada payudara) maupun metastatik (menyebar
ke bagian tubuh lainnya). Sekitar 80% kanker payudara invasif adalah kanker
duktal dan 10% adalah kanker lobuler.

4
Gambar 1. Anatomi kanker payudara

II. PATOFISIOLOGI CA MAMMAE


a. Karsinoma in situ = tanpa invasi stroma di sekitarnya
 Karsinoma duktal in situ (DCIS, Ductal Carcinoma In Situ)
Sebagai mikrokalsifikasi pada mamogram atau discharge yang keluar
dari puting susu 30% → keganasan dalam 10 tahun.
Penatalaksanaan :Mastektomi atau eksisi lokal yang luas + radiasi; angka
kesembuhan lebih kurang 98%.
 Karsinoma lobular in situ (LCIS, Lobular Carcinoma In Situ)
Biasanya dijumpai secara kebetulan pada saat biopsi payudara tanpa
bukti adanya massa pada mamografi LCIS merupakan susu petanda meningkat
resiko karsinoma pada payudara (~1% per tahun) penatalaksaan mastektomi
bilateral profilaksis dengan pengawasan yang seksama.
b. Kanker payudara invasif = adenokarsinoma
 Menginfiltrasi duktus (75%) :Benjolan keras, perasaan seperti memegang
pasir diatasnya
 Menginfiltrasi lobulus (10%): batas penebalan tidak tegas, sering multi
sentris tubular, Musinosa dan medularis (10%): prognosis lebih baik.
Peradangan (3%) :Edema kulit dan eritema akibat invasi tumor ke
limfatik dermis (peau d’orange): prognosis buruk.
Penyakit Paget (1%) :Eksema pada puting + keluarnya dara; karsinoma
duktus yang meluas ke epidermis puting susu
III. DIAGNOSIS
a. Manifestasi Klini dari Kanker Payudara
 Massa payudara: keras, terfiksasi, tifak nyeri.
 Retraksi puting susu.
 Eritema atau edema kulit.
 Metastasis: tulang, hepar, paru-paru, otak.
b. Pemeriksaan Diagnostik
 Perubahan fibrokistik

5
Terjadi pada ~50% perempuan premenopause; nyeri siklik sesuai dengan
siklus menstruasi.
 Fibroadenoma
Sangat sering pada perempuan muda; kecil, bulat, tidak nyeri, sangat mudah
bergerak; tidak dipengaruhi oleh menstruasi.
 Sistosarkoma floides
Memiliki batas yang tegas, licin dan mudah digerakkan. Ukurannya relatif
besar, rata-rata memiliki garis tengah 5 cm. Kulit diatasnya tampak mengkilat
dan agak transparan sehingga pembuluh darah dibawahnya terlihat
(Sebastine,M.S. 2003 Buku Saku Klinis).
 Pemeriksaan fisik
Dilakukan pada posisi duduk supinasi; inspeksi bentuk yang tidak simetris,
retraksi kulit, edema atau eriterna payudara; palpasi payudara dengan pola
yang sistematis (ingat jaringan payudara meluas hingga aksila); lakukuan
tekanan ringan pada puting susu untuk mengetahui ada tidaknya discharge;
periksa aksila dengan regio supralavikula untuk mencari adanya adenopati
 Mamografi
Karakerisitik yang mencurigakan kearah keganasan meliputi adanya
mikrokalsifikasi, lesi stelata, dan lesi yang membesar.
 USG
Untuk membedakan lesi solid dengan kistik.
 Jaringan
Aspirasi jarum halus (FNA, Fine-needle Aspiration), biopsi jarum core, atau
biopsi eksisional.
 Penanganan massa payudara yang dapat dipalpasi

Perempuan premenopause → periksa selama 2–4 minggu untuk mengetahui


massa yang teraba itu dipengaruhi oleh mestruasi.

Massa yang tidak berubah atau perempuan yang lebih tua → mamografi
(deteksi lesi lain) → biopsi eksisional.

Jelas karsinomatosa → biopsi eksisional.

 Penanganan mamogram yang mencurigakan pada pemeriksaan fisik


yang normal
Biopsi yang dipandu secara stereotaktis
c. Skrining
 Pemeriksaan payudara sendiri
Tidak terbukti terhadap mortalitas, namun dianjurkan tiap bulan (1 minggu
setelah menstruasi).

6
 Pemeriksaan payudara oleh dokter
Tidak terbukti terhadap mortalitas, namun dianjurkan tiap 1 tahun sekali.
IV. STAGING (PENENTUAN STADUIM KANKER)
Penentuan stadium kanker penting sebagai panduan pengobatan, follow-up dan
menentukan prognosis. Staging kanker payudara (American Joint Committee on
Cancer) :
 Stadium 0 :Kanker in situ dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya di dalam
jaringan payudara yang normal.
 Stadium I :Tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum menyebar
keluar payudara.
 Stadium IIA :Tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar
getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm tetapi sudah
menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
 Stadium IIB :Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar
ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah 2-5 cm tetapi sudah
menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
 Stadium IIIA :Tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan sudah menyebar ke
kelenjar getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketah ke
struktur lainnya; atau tumor dengan garis tengah lebih dari 5 cm dan sudah menyebar
ke kelenjar getah bening ketiak
 Stadium IIIB :Tumor telah menyusup keluar payudara, yaitu ke dalam kulit
payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam
dinding dada dan tulang dada
 Stadium IV :Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada,
misalnya ke hati, tulang atau paru-paru.
GRADE TUMOR MODUS METASTASIS
Tahap 0 Tis N0 M0
Tahap I T1 N0 M0
Tahap IIA T0 N1 M0
T1 N1 M0
T2 N0 M0
Tahap IIB T2 N1 M0
T3 N1 M0
Tahap IIIA T0 N2 M0
T1 N2 M0
T2 N2 M0
T3 N1 M0
T3 N2 M0
Tahap IIIB T4 Sembarang N M0

7
Tahap IV Sembarang T N3 M0
Sembarang T Sembarang N M1
Keterangan:
Tumor primer (T):
T0 :Tidak ada bukti tumor primer
Tis :Karsinoma in situ : karsinoma intraduktal, karsinoma lobular in situ atau
penyakit Paget’s puting susu dengan atau tanpa tumor.
T1 :Tumor ≤ 2 cm dalam dimensi terbesarnya.
T2 :Tumor >2 cm tetapi tidak >5 cm dalam dimensi terbesarnya.
T3 :Tumor >5 cm dalam dimensi terbesarnya.
T4 :Tumor sembarang ukuran dengan arah perluasan ke dinding dada atau kulit.
Nodus limfe regional (N):
N0 :Tidak ada metastasis nodus limfe regional.
N1 :Metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral yang dapat digerakkan.
N2 :Metastasis ke nodus limfe aksilaris ipsilateral terfiksasi pada satu sama lain
atau pada struktur lainnya.
N3 :Metastasis ke nodus limfe mamaria internal ipsilateral
Metastasis jauh (M):
M0 :Tidak ada metastasis yang jauh
M1 :Metastasis jauh (termasuk metastasis ke nodus limfe supraklavikular
ipsilateral) (Brunner dan Suddarth, 2002).

V. TATALAKSANA TERAPI
Operasi/Pembedahan/Mastektomi
Dilakukan untuk menghilangkan tumor primer. Operasi diindikasikan
pada kanker payudara stadium dini (stadium I dan II). Kanker payudara
stadium lanjut lokal dengan persyaratan tertentu, keganasan jaringan lunak
pada payudara. Operasi dikontraindikasikan pada kondisi tumor melekat
dinding dada, edema lengan, nodul satelit yang luas, mastitis inflamator.
Terapi operasi merupakan penatalaksanaan lokal pada kanker
payudara. Operasi yang akan digunakan tergantung pada stadium kanker,
ukuran tumor, ukuran payudara, dan keterlibatan nodus limfe (American
Cancer Society, 2007).
Terapi operasi kanker payudara meliputi :
o Lumpektomi
Lumpektomi adalah pengambilan benjolan dan sedikit jaringan normal
payudara yang mengelilingi benjolan tersebut. Lumpektomi dilakukan
apabila daerah atau jaringan yang terkena kanker kecil/sedikit.
Lumpectomi biasanya diikuti dengan terapi radiasi.
Terapi radiasi dapat dilakukan ke seluruh area payudara atau hanya
pada bagian tertentu payudara. Terapi radiasi biasanya dilakukan selama 7

8
hari. Kombinasi lumpektomi-radiasi disebut breast-conserving therapy
(Lindley, 2005).
Radioterapi diberikan setelah lumpektomi. Jika sedang menjalani
kemoterapi adjuvant maka radiasi ini ditunda sampai kemoterapi selesai.
Kelebihan lumpektomy yaitu payudara dapat dipertahankan, sedangkan
kekurangannya yaitu kemungkinan besar dilanjutkan dengan terapi radiasi.
Sedangkan mastectomi mempunyai kelebihan kemungkinan kecil
dilakukan terapi radiasi, tetapi kekurangannya yaitu kehilangan payudara
(kecuali partial mastectomi).
Beberapa wanita tidak diperbolehkan memilih lumpektomi karena
kondisi berikut:
- Pernah menjalani terapi radiasi payudara
- Mempunyai 2 atau lebih lokasi kanker pada payudara
yang sama. Pernah menjalani initial lumpectomy
dengan re-ekcisi belum sempurna menghilangkan
kanker.
- Mempunyai penyakit yang sensitif terhadap terapi
radiasi, contoh : skleroderma, lupus sistemik, dermatitis.
- Wanita hamil karena terapi radiasi beresiko terhadap
janin.
- Mempunyai kanker > 5cm (2 inches).
- Mempunyai kanker yang relatif besar bila dibandingkan
ukuran payudara.
- Mempunyai resiko tinggi timbul kanker lagi.

Operasi ini ditujukan untuk kanker payudara stadium I dan II. Pada
beberapa kasus, stadium lanjut juga bisa memilih lumpectomy tetapi harus
dilakukan kemoterapi sebelum operasi untuk mengurangi ukuran tumor
dan mencegah kesepatan kanker bermetastase. Angka survival operasi ini
sama dengan mastectomy (Medline Plus, 2006).

o Mastektomi total atau sederhana


Mastektomi total atau sederhana adalah pengambilan keseluruhan
payudara termasuk puting susu, beberapa dari nodus limfe dibawah ketiak
seringkali diambil pada prosedur ini untuk dilakukan biopsi. Operasi ini
juga dilakukan untuk kedua payudara (double mastectomy) yang dilakukan
sebagai upaya preventif untuk wanita dengan resiko tinggi kanker
payudara.

9
Operasi pembentukan payudara setelah total mastectomy jauh lebih
mudah dibandingkan modified radical dan radical mastectomy. Pasca
operasi ini jarang menimbulkan pembengkakan (Beliefnet, 2006).
o Mastectomi radikal
Mastektomi radikal adalah pengambilan keseluruhan payudara, nodus
limfe aksila dan otot pektoral (dinding dada) dibawah payudara. Operasi
ini pernah menjadi operasi yang sering digunakan karena anggapan bahwa
mengambil otot dibawah payudara dapat mencegah metastasis kanker.
Setelah diteliti ternyata radikal mastectomy tidak meningkatkan prognosis
dan tidak perlu dilakukan operasi ini jika kanker ditemukan lebih dini.
Juga karena efek samping yang ditimbulkan dan bisa memilih modified
radikal mastectomy yang sama efektifnya dengan radikal mastectomy,
sehingga radikal mastectomy saat ini jarang digunakan (Bland, 2006).
Efek samping yang bisa terjadi antara lain :
- Terkadang lengan tidak dapat digerakkan
- Bekas operasi meninggalkan jurang pada dada (bekas operasi),
sehinngga sulit dilakukan operasi pembentukan operasi
payudara.
- Infeksi pada luka.
- Hematoma (pendarahan pada lokasi yang dioperasi).
- Seroma (lokasi yang dioperasi mengeluarkan cairan bening)
- Lymphedema

o Masectomi radikal termodifikasi


Melibatkan pengambilan keseluruhan payudara dan beberapa nodus
limfe aksila, tetapi otot pectoral masih dipertahankan. Operasi ini paling
banyak dilakukan wanita dengan kanker payudara yang keseluruhan
payudaranya harus dibuang.
Radiasi
Terapi radiasi dilakukan dengan sinar atau partikel berenergi tinggi.
Tetapi menggunakan radiasi penyinaran digunakan untuk membunuh sel sel
kanker ditempat pengangkatan tumor dan daerah sekitarnya, termasuk kelenjar
getah bening (kelenjar limphe) regional yang tidak dapat direseksi pada kanker
lanjut; pada metastasis tulang, metastasis kelenjar limfe aksila. Ini dilakukan
pada pasien yang telah menjalani operasi untuk tumor yang terlokalisasi pada
suatu area. Radiasi memberikan efek samping berupa peradangan otot,
kelelahan, kulit menjadi gatal, kering dan kemerahan. Efek samping radiasi

10
yang jarang terjadi adalah cacat paru-paru, lymphoedema, kerusakan hati,
sarkoma ( kanker jenis lainnya).
Terapi radiasi disebut juga radioterapi merupakan salah satu cara
penanganan dalam menghancurkan sel kanker yang tidak terangkat setelah
operasi. Radiasi dapat mengurangi risiko timbulnya kanker kembali hingga
50-66%. Terapi radiasi ini relatif mudah untuk ditoleransi oleh tubuh dan
kemungkinan munculnya efek samping terbatas pada daerah yang terkena
radiasi saja. Sinar radiasi yang berenergi tinggi diarahkan kedaerah payudara
yang terkena kanker. Radiasi ini kemungkinan dapat ikut merusak sel atau
jaringan yang terlewati oleh sinar. Meskipun demikian, efek radiasi terhadap
sel kanker lebih buruk daripada sel normal karena sel kanker lebih sensitif
terhadap radiasi daripada sel normal. Pertahanan sel kanker lemah karena
aktifitas sel kanker difokuskan pada pertumbuhan dan pembuatan sel kanker
baru. Selain itu pengaturan didalam sel kanker untuk memperbaiki kerusakan
akibat radiasi dan tetap bertahan. Ada dua cara terapi radiasi yaitu radiasi
eksternal dan internal. Terapi radiasi ada dua jenis yaitu :
o Radiasi eksternal
Radiasi diberikan secara eksternal (dari luar tubuh) dimana
radiasi ini dihasilkan oleh mesin sinar-X berenergi tinggi yang disebut
linear accelerator. Radiasi eksternal biasanya tidak diberikan sebelum
jaringan payudara yang dioperasi sembuh. Radiasi eksternal diberikan
5 kali seminggu selama 6-7 minggu. Dosis radiasi yang diberikan
adalah 45-50 Gy dengan 1,2-2 Gy/fraksi atau 42,5 Gy dengan 2,66
Gy/fraksi.
o Radiasi internal (Brachterapy)
Brachterapy atau radiasi internal menggunakan zat radioaktif
yang ditempatkan secara langsung kedalam jaringan payudara dekat
dengan daerah kanker. Radiasi internal umumnya digunakan sebagai
booster dengan dosis 10-16 Gy dengan 2 Gy/fraksi. Metodenya ada
dua yaitu Intracavitary brachterapy (dengan menggunakan balon berisi
radioaktif yang ditanam dalam jaringan payudara) dan intestinal
brachterapy (menggunakan kateter yang diberikan pelet radioaktif).
Terapi radiasi dapat diberikan:
o Whole breast Radiation
Terapi radiasi ke seluruh bagian payudara ini hanya diberikan
melalui terapi radiasi eksternal menggunakan dua sumber sinar.

11
o Partial–breast Radiation
Partial-breast irradiation (PBI) disebut juga limited-field
radiation terapi. Terapi radiasi ini dikembangkan untuk mengurangi
resiko munculnya kanker kembali, asalkan daerah yang akan diterapi
berbeda dari sebelumnya. Partial-breast radiation dapat diberikan
secara internal maupun eksternal pada saat atau setelah operasi.
Radiasi secara internal dilakukan dengan menanam senyawa radioaktif
pada saat operasi, proses ini disebut intraoperative radiation.
Jika dibandingkan dengan whole-breast radiation, partial-breast
radiation memiliki beberapa keuntungan :
- Waktu perawatan lebih pendek (1 minggu lawan 7 minggu).
Intraoperative partial-breast radiation membutuhkan waktu
yang lebih pendek lagi karena dilakukan pada saat operasi.
- Radiasi hanya diberikan pada daerah yang memiliki risiko
besar timbulnya kanker apabila kanker kembali menyerang.
Bagian tubuh yang menerima radiasi lebih sedikit, sehingga
efek sampingpun lebih sedikit.
- Penelitian menunjukkan sampai saat ini kecilnya risiko
munculnya kembali kanker setelah menerima partial breast-
radiation.

Adapun kekurangan partial-breast radiation antara lain:

- Track record partial-breast radiation pendek. Penelitian baru


dilakukan terhadap beberapa ratus orang dalam jangka waktu
yang pendek sehingga keuntungan dan efek sampingnya belum
dipahami dengan pasti.
- Teknik partial-breast radiation membutuhkan pelatihan khusus
dan pengalaman tertentu.

Berikut ini ada sepuluh poin kunci tentang terapi radiasi yang
perlu diperhatikan diantaranya :

1. Radiasi bersifat lokal, terapi didisain untuk membunuh sel kanker yang
kemungkinan masih ada setelah operasi. Radiasi diberikan pada daerah
munculnya kanker atau ke bagian tubuh lainnya apabila kanker telah
menyebar.

12
2. Perawatan dengan radiasi tidak menimbulkan rasa sakit. Akan tetapi,
kemungkinan radiasi akan menimbulkan sedikit rasa ketidaknyamanan
selama beberapa waktu.
3. Perawatan dengan radiasi eksternal, terapi yang bisa dilakukan, tidak
membuat tubuh menjadi radioaktif.
4. Perawatan biasanya diberikan 5 hari seminggu selama 7 minggu.
Kadangkala radiasi diberikan sehari dua kali selama seminggu.
5. Pasien masih dapat melakukan rutinitas harian selama perawatan
karena perawatan harian hanya berlangsung sekitar 30 menit.
6. Radiasi tidak merontokkan rambut kecuali radiasi diberikan ke kepala.
7. Pada daerah yang menerima radiasi, kulitnya dapat berubah menjadi
pink, kemerahan, kecoklatan yang sensitif dan teriritasi. Gejala ini
dapat dikurangi dengan pemberian krim atau obat-obatan lain.
8. Selama perawatan, pasien biasanya cepat merasa lelah. Kondisi ini
dapat berlangsung selama beberapa minggu, bahkan bulan setelah
perawatan selesai.
9. Efek samping radiasi kebanyakan bersifat sementara.
10. Terapi radiasi dapat menurunkan secara signifikan risiko munculnya
kembali kanker setelah operasi.
Kemoterapi

Berbeda dengan terapi radiasi dan pembedahan, kemoterapi adalah pengobatan


kanker dengan menggunakan obat-obatan atau hormon. Kemoterapi dapat digunakan
dengan efektif pada penyakit baik yang menyebar maupun yang masih terlokalisasi.
Penggunaan kemoterapi kombinasi telah menunjukkan keberhasilan yang substansial,
terutama kombinasi obat-obat yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Kemajuan
pengobatan pada beberapa jenis kanker tertentu adalah dengan menggunakan
beberapa jenis obat secara campuran atau dengan pemberian kemoterapi secara
berkesinambungan. Beberapa kanker dapat disembuhkan dengan kemoterapi saja
(Rasjidi, 2007 : 1).

Kemoterapi adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Tidak


seperti radiasi atau operasi yang bersifat lokal, kemoterapi merupakan terapi
sistemik, yang berarti obat menyebar ke seluruh tubuh dan dapat mencapai sel kanker
yang telah menyebar jauh ke tempat lain (Rasjidi, 2007 : 1).

Ada empat tujuan pemberian kemoterapi pada pengobatan kanker yaitu


sebagai obat utama (induksi), obat tambahan (ajuvan), obat pendahulu atau obat

13
primer yang mendahului pembedahan (neo-ajuvan), dan obat yang digunakan secara
khusus.

1. Kemoterapi utama (induksi)

Kemoterapi utama atau induksi ditujukan untuk penyembuhan apabila


kemoterapi merupakan pengobatan utama, misalnya pada leukemia dan limfoma
maligna. Kemoterapi induksi juga ditujukan untuk tujuan paliatif apabila modalitas
pengobatan pilihan utama tidak dapat dilaksanakan, misalnya pada kanker tumor
solid stadium lanjut dan kanker primer tidak dapat diangkat atau diangkat dengan
tujuan sitoreduktif karena kanker sudah menyebar ke organ lain. Apabila pasien telah
mendapat kemoterapi lengkap atau tidak lengkap dan tidak berespons baik, misalnya
karena ukuran kanker yang besar, resisten terhadap obat, atau status nutrisi buruk,
maka pasien tersebut memerlukan penggantian regimen kemoterapi yang disebut
pengobatan penyelamatan (salvage treatment).

2. Kemoterapi tambahan (ajuvan)

Kemoterapi tambahan atau ajuvan ditunjukkan untuk menghilangkan


mikrometastase pada kanker tumor solid yang telah diangkat total dan bersih
secara histologik dan juga mencegah agar tidak terjadi kekambuhan lokal.
Kemoterapi yang dipilih berdasarkan atas kemoterapi yang sensitif terhadap sel
kanker tersebut pada kemoterapi induksi.

Kemoterapi sebagai obat tambahan setelah pembedahan radikal merupakan


ajuvan sistemik, sedangkan radiasi setelah pembedahan radikal merupakan ajuvan
regional. Kemoterapi ajuvan dapat diberikan sebelum radiasi atau setelah radiasi atau
selang-seling antara radiasi dan kemoterapi. Apabila kemoterapi diberikan bersamaan
dengan radiasi bertujuan untuk menambah daya kerja radiasi (radiosensitizer)
disebut sebagai kemoradiasi bersamaan.

3. Kemoterapi primer (neo-ajuvan)

Kemoterapi yang diberikan sebelum pembedahan disebut sebagai neo-


ajuvan bertujuan untuk mengecilkan kanker sehingga lebih mudah diangkat atau
menghilangkan mikrometastase regional sebelum pembedahan. Apabila pasca bedah

14
akan diradiasi, maka dipikirkan kemungkinan terjadinya kelainan-kelainan lokal yang
akan merugikan kemoterapi ajuvan. Kelainan-kelainan tersebut meliputi gangguan
aliran darah akibat pembedahan dan radiasi, efek sampin radiasi berupa mukositis
dan gangguan nutrisi akibat radiasi (misalnya pada kanker kepala dan leher). Akibat
kelainan ini, kemoterapi neo-ajuvan menjadi pilihan utama.

4. Kemoterapi khusus

Selain pemberian kemoterapi melalui cara umum (intravena, subkutan, dan


oral), kemoterapi dapat diberikan untuk tujuan tertentu dengan cara khusus,
diantaranya intratekal (limfoma limfoblastik dan leukemia limfoblastik), rongga perut
atau perikardial (untuk mengontrol efusi maligna), intraarterial (intraarteri hepatik
pada kanker hati, arterikarotis pada kanker kepala, leher, dan otak), dan
intraperitonial (Waspadji, 1996 : 116-117).

Cara Pemberian

1. Pemberian oral

Beberapa jenis kemoterapi telah dikemas untuk pemberian oral, diantaranya


klorambusil dan etoposid.

2. Pemberian secara intramuskular

Pemberian dengan cara ini relatif lebih mudah dan sebaiknya suntikan tidak
diberikan pada lokasi yang sama dengan pemberian 2-3 kali berturut-turut. Obat
kemoterapi yang dapat diberikan secara intramuskular, diantaranya bleomisin dan
metotreksat.

3. Pemberian secara intravena

Pemberian secara intravena dapat diberikan dengan bolus perlahan-lahan atau


diberikan secara infus. Cara ini merupakan cara pemberian kemoterapi yang paling
umum dan banyak digunakan.

4. Pemberian secara intraarteri

15
Pemberian intraarteri jarang dilakukan karena membutuhkan sarana yang
cukup banyak, antara lain alat radiologi diagnostik, mesin atau alat filter, dan
memerlukan ketrampilan khusus.

5. Pemberian secara intraperitonial

Cara ini juga jarang dilakukan karena membutuhkan alat khusus (kateter
intraperitonial) dan kelengkapan kamar operasi karena pemberiannya memerlukan
narkose. Pemberian kemoterapi intraperitonial diindikasikan dan disyaratkan pada
minimal kanker residu pada kanker ovarium. Penelitian yang dilakukan dengan
membandingkan pemberian kemoterapi secara intravena dan intraperitonium
didapatkan bahwa respons, survival, maupun toksisitas kedua cara ini tidak berbeda
signifikan (Rasjidi, 2007 : 3-4).

Cara Kerja

Suatu sel normal akan berkembang mengikuti siklus pembelahan sel yang
teratur. Beberapa sel akan membelah diri membentuk sel baru dan sel yang lain akan
mati. Sel yang abnormal juga akan membelah diri dan berkembang secara tidak
terkontrol, yang pada akhirnya akan menjadi suatu massa yang dikenal sebagai
kanker.

Siklus sel secara sederhana dibagi menjadi 5 tahap yaitu:

1. Fase G0, disebut sebagai fase istirahat. Ketika ada sinyal untuk berkembang, sel ini
akan memasuki fase G1.

2. Fase G1, pada fase ini sel siap untuk membelah diri yang diperantarai oleh
beberapa protein penting untuk bereproduksi. Fase ini berlangsung antara 18-30 jam.

3. Fase S, disebut sebagai fase sintesis. Pada proses membelah ini DNA sel akan
disalin. Fase ini berlangsung antara 18-20 jam.

4. Fase G2, pada fase ini sintesis protein terus berlanjut. Fase ini berlangsung antara
2-10 jam.

5. Fase M, pada fase ini sel dibagi menjadi 2 sel baru. Fase ini berlangsung antara
30-60 menit. Siklus sel sangat penting dalam kemoterapi karena obat kemoterapi
mempunyai target dan efek merusak yang berbeda tergantung pada siklus selnya.

16
Obat kemoterapi aktif pada saat sel sedang bereproduksi (bukan pada fase G0)
sehingga sel kanker yang aktif merupakan target utama dari kemoterapi. Sel yang
sehat juga bereproduksi, maka tidak tertutup kemungkinan sel sehat juga akan
terpengaruh oleh obat kemoterapi (Rasjidi, 2007 : 4-5).

Siklus sel sangat penting dalam kemoterapi karena obat kemoterapi


mempunyai target dan efek merusak yang berbeda tergantung pada siklus selnya.
Obat kemoterapi aktif pada saat sel sedang bereproduksi (bukan pada fase G0)
sehingga sel kanker yang aktif merupakan target utama dari kemoterapi. Sel yang
sehat juga bereproduksi, maka tidak tertutup kemungkinan sel sehat juga akan
terpengaruh oleh obat kemoterapi (Rasjidi, 2007 : 4-5).

Persiapan

Sebelum pengobatan dimulai, dilakukan pemeriksaan meliputi:

1. Darah tepi: hemoglobin, leukosit, hitung jenis, dan trombosit.


2. Fungsi hepar: bilirubin, Serum Glutamic Oxaloacetic Transminase (SGOT),
3. Serum Glutamic Piruvic Transminase (SGPT), dan alkali fosfatase.
4. Fungsi ginjal: ureum, kreatinin, dan creatinine clearance test (apabila serum
kreatinin meningkat).
5. Electrocardiography atau ECG (pemberian adriamisin, dan epirubisin)
(Rasjidi, 2007 : 7-8).

Syarat kemoterapi dapat dilakukan apabila pasien memenuhi persyaratan sebagai


berikut:

1. Keadaan umum cukup baik.


2. Penderita mengerti tujuan pengobatan dan mengetahui efek samping yang
akan terjadi.
3. Faal ginjal dan hati baik.
4. Diagnosis hispatologik.
5. Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi.
6. Riwayat pengobatan (radioterapi atau kemoterapi) sebelumnya.
7. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb >10 g/dL, leukosit >5 ribu/µL,
trombosit >150 ribu/µL. (Rasjidi, 2007 : 7-8).

Penggolongan Kemoterapi

1. Golongan alkylating agent


Golongan alkylating agent bekerja sebagai pembunuh sel melalui beberapa
mekanisme yang dapat terjadi, antara lain gangguan replikasi DNA dan gangguan

17
transkripsi. Karena bekerja pada DNA, alkylating agent menyebabkan terjadinya
gangguan formasi atau kode molekul DNA. Akibatnya sel yang terpapar dapat
mengalami kematian atau masuk dalam proses mutagenesis atau karsinogenesis.
Dengan demikian efek samping dari pemberian obat ini dapat menimbulkan risiko
untuk terjadinya keganasan lain. Yang termasuk golongan ini antara lain nitrogen
mustard, chlorambucil, cyclophospamide, dan ifosfamide.
a) Cyclophospamide
 Mekanisme kerja
Cyclophosphamide harus dimetabolisme dulu baru bisa menjadi aktif.
Metabolismenya terjadi di hati dengan perantara enzim mikrosomal P450,
menjadi 4-hydroxycyclophosphamide. Bahan aktif obat ini akan bekerja
langsung di DNA.
 Dosis
Oral 50-200 mg sehari setiap 7-14 hari, i.v 10-15mg/kg/hari setiap 3-7 hari
 Efek samping
Selain menekan sumsum obat ini hampir selalu menimbulkan rontoknya
rambut (reversibel). Adakalanya terjadi radang mukosa kandung kemih
dengan perdarahan (akibat metabolitnya). Guna menghindarkn hal ini pasien
perlu minum banyak air pada pagi hari agar metabolit nefrotoksis tersebut
sudah dieksresi sebelum malam hari.
 Interaksi obat
 Barbiturat dan fenitoin akan meningkatkan metabolisme
cyclophosphamide yang akan menghasilkan metabolit yang toksik.
Sebaliknya cyclophosphamide akan mengeblok metabolisme dari obat-obat
ini sehingga akan menambah efek sedatifnya.
 Cimetidine akan menambah efek mielotoksik dari cyclophosphamide,
dengan meningkatkan konsentrasi metabolit aktif dari obat ini.
2. Golongan antimetabolit
Dapat dibagi dalam 3 kelompok sbb :
a. Antagonis asam folat
Golongan ini bekerja dengan menghambat enzim dihydrofolate reductase
(DHFR). Yang termasuk golongan ini antara lain methotrexate (MTX).
 Kimiawi
o Metotrexate merupakan golongan obat aktif dan merupakan first line
terapi pada penyakit kariokarsinoma, choriodenoma destruens, mola
hydatidiform, dan kanker cervix metastic squamous-cell.
 Mekanisme Kerja
o Metotrexate merupakan golongan antimetabolit spesifik pada siklus sel
dengan aktivitas paling banyak pada fase S.

18
o Obat ini akan menyebabkan DNA istirahat, RNA, dan sintesis protein,
dengan menghambat reduksi hidofolat menjadi tetrahidrofolat, bentuk aktif
asam folatyang dibutuhkan untuk sintesis purin.
 Dosis dan Cara Pemberian
o Metotrexate dapat diberikan secara oral, i.m, i.v, intraarterial,
intratekal.
o Metotrexate dapat diberikan dengan dosis yang bervariasi tergantung
respon klinis dan monitor keadaan hematologik.
o Jika pasien secara i.v dosis harus dikurangi sampai 50% pada pasien
dengan insufiensi renal (BUN ≥ 30mg/l). Metotrexate dikontraindikasikan
pada pasien dengan ClCr < 40ml/menit dan atau SrCr >2mg/ml.
o Dosis metotrexate yang umum digunakan adalah 0,4mg/kgBB/hari
(15-30mg) secara i.m selama 5hari, dan diulang sebanyak 3-5 kali dengan
selang waktu paling sedikit 1 minggu.
 Efek Samping dan Toksisitas
o Efek hematologik dari metotrexate meliputi leukopenia,
trombositopenia, dan anemia. Penurunan kadar Hb mencapai kadar puncaknya
pada hari 6-13, sedangkan retikulosit pada hari 4-7, dan trombosit pada hari 5-
12.
o Efek pada gastrointestinal berupa nausea, muntah, dan anoreksia
biasanya terjadi lebih awal. Ginggivitis, glositis, faringitis, stomatitis, dan
ulserasi mukosa mulut dan gastrointestinal dapat terjadi. Apabila terjadi
ulseratif stomatitis atau diare, terapi metotrexate harus dihentikan terlebih
dahulu untuk mencegah usus yang berat atau perforasi usus.
o Efek pada kulit berupa eritema, pruritus, urtikaria, folikulitis,
vaskulitis, fotosensitivitas, depigmentasi, atau hipopigmentasi, dan alopesia
dapat juga terjadi.
o Pada pemakaian dosis tinggi dapat terjadi gagal ginjal, tetapi dapat
dicegah dengan alkanisasi urin dan berikan rehidrasi i.v.
b. Antagonis pirimidin
Bekerja menghambat messenger RNA dan ribosomal RNA, menyebabkan
gangguan transkripsi RNA, serta menyebabkan pelepasan thymidine. Dengan cara
ini, maka golongan ini dapat bekerja pada beberapa siklus sel tetapi yang terutama
adalah pada fase S. Yang termasuk golongan ini antara lain 5 –fluorouracil (5-FU).
 Mekanisme kerja
Obat ini berkerja melalui 3 tahapan yaitu:
5-FU dimetabolisme menjadi nukleotida 5-FTUP yang bergabung dengan RNA dan
menghambat metabolisme 5- FTUP kemudian dimetabolisme menjadi 5-FdUMP.

19
Metabolit ini berikatan dan menghambat timidilat syntase yang mencegah
produksi d-TMP sehingga merusak DNA. 5-FU bekerja spesifik pada siklus sel
dan mempunyai efek maksimal pada fase S.
 Dosis dan cara pemberian
Dapat diberikan secara bolus iv selama 1-2 menit, secara infus kontinue selama 4-5
menit.
Loading dose untuk 1seri pemberian 400-500mg/m2 (12mg/kgBB, maksimum 800mg)
per hari selama 4 hari.
Maintenance dose 200-250 mg/m2 (6mg/kg) selama 4 hari, kemudian diulang 4
minggu kemudian.
 Efek samping dan toksisitas
o Toksisitas obat tergantung dosis obat
o Sering terjadi leukopenia, granlositopenia dan trombositopenia.
o Dapat terjadi alopesia
o Menimbulkan emetogenik ringan-sedang, sehingga pemberian anti emetik harus
dipertimbangkan.
3. Golongan antibiotik (sitotoksik)
Beberapa antibiotik yang berasal dari jamur streptomyces juga berkhasiat
sitostasis, disamping kerja antibakterinya. Zat-zat ini dapat mengikat DNA secara
kompleks, sehingga sintesisnya terhenti. Yang termasuk golongan ini antara lain
doxorubicin, daunorubisin,actinomycin,mitomycin C.
4. Golongan antimitotika
Zat zat ini menghindari pembelahan sel pada metafase, jadi merintangi pembelahan
inti. Berlainan dengan zat alkilasi yang juga merintangi pembelahan inti dengan
jalan mengganggu pembelahan kromosom antimikotika mencegah masuknya
belahan kromosom itu kedalam anak inti. Obat-obat yang kini digunakan adalah
hasil tumbuhan yakni alkaloid vinca (vinblastin, vinkristin), podofilin dan obat-obat
terbaru dari kelompok taxoida (paclitaxel, docetaxel).

 KIE PADA KANKER PAYUDARA


1. Menghindari makanan berkadar lemak tinggi karena lemak dalam makanan yang
tidak mampu dipecah dalam proses metabolisme tubuh dapat menyebabkan hormon
estrogen dalam tubuh tidak dapat bekerja dengan baik.
2. Menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi buah, sayuran segar, serta kedelai dan
produk olahannya seperti susu kedelai, tahu, tempe karena mengandung fitoestrogen
bernama genistein yang dapat menurunkan resiko terserang kanker payudara.
3. Wanita dengan riwayat keluarga menderita kanker payudara tidak boleh
menggunakan kontrasepsi yang mengandung hormon seperti pil, suntikan, dan
susuk KB.

20
4. Lakukan pemeriksaan SADARI setiap bulan. Bagi wanita beresiko tinggi, lakukan
juga pemeriksaan mamografi secara berkala, terutama pada usia di atas 49 tahun
(Purwoastuti, 2008 : 21-22)
 Pola hidup yang sehat
o Mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan terutama yang mengandung vitamin C.
o Menghindari rokok dan alkohol.
o Berolahraga secara teratur.
o Mengurangi lemak.
o Mengkonsumsi suplemen antioksidan

21
BAB III
KASUS DAN PENYELESAIAN
I. KASUS
Pasien : Ibu S, umur : 46 th, Berat badan: 40 kg.
Diagnosa : Ca mammae T3N2M0, candidiasis, diare>10x,kolic abdomen, obs
febris
riwayat pengobatan: mastektomi dan kemo
Riwayat Penyakit : DM
Tanda -Tanda Vital

PASIEN
TD 104/57
RR 37
Suhu 37,8
Nadi 125

Terapi
Kemo: cyclophosphamid + metotreksat + 5 FU
Pemberian
Obat Dosis
Mei
Parenteral 1 2 3 4 5
Neurobion 5000 SH 1x √ √ √ √ √
Vitamin K 3x1 √ √ √
Cefepim 2 x1 g √ √ √ √
Dextrose 40% √
PRC 250 ml Premid Diphenhydramin √ √
Sotatic 3 x 10 mg √ √ √
Pantoprazol 1 x 40 mg √ √ √
Ca gluconas 1x1 √ √ √
Livola 2 amp/150 NaCl/12 jam √ √ √ √ √
Comafusin hepar 41 ml/jam √ √ √
R/L 500 ml/hari √ √ √ √ √
Oral
Zolac 2 x1 c √ √ √ √ √
Cps curcuma 3x1 √ √ √ √ √
Vip Albumin 3x1 √ √ √ √ √
Hepsera 0-1-0 √ √ √ √ √
Tamofen tab 1-0-1 √ √ √ √ √
Digoksin 0,25 1x 1 √ √ √
Nystatin drops 3x1 √ √ √ √ √
Paracetamol tablet 6×500 mg √ √ √ √ √
Durogesic Patch 12,5 mg k/p √ √ √

II. Data Laboratorium :


Kreatinin 2,1 mg/dL Albumin 1,64 g/dL
Hb 6,8 g/dL Trombosit 34.000

22
D dimer 5148,8 Leukosit 1,8 g/dL
GDS 225,1 SGOT 569,8
Hb A 1 C 10,7 SGPT 89
CKMB mass 72,3 troponin I ultra 1,21
Ureum 93 CEA 182,09 ng/ml
Kalium 5,2
Calcium 7,8
Pemeriksaan sekresi : Bakteri (++)
Kultur : Klebsiella Oxytoca

Penyelesaian Kasus
Analisis dengan Metode SOAP
1. Subjektif
Ibu S, 46 tahun, BB : 40 kg
a. Riwayat penyakit :
Ca mammae T3N2M0
Candidiasis
Diare >10x
Kolik abdomen
Obs. Febris
b. Riwayat pengobatan :
o Masektomi
o Kemoterapi (Cyclosphosphamid + metotreksat +5FU)

2. Objektif
a. Data Klinik :

Nilai Normal Hasil Keterangan


Parameter pemeriksaa
n
TD 120/80 104/57 Menurun
RR 16-20 x/mnt 37 x/mnt Menaik
Suhu 36-37,80C 37,80C Demam
Nadi 70-80 x/mnt 125 x/mnt Menaik

b. Test laboratorium :

No. Parameter Nilai Normal Hasil Pemeriksaan Keterangan


1. Kreatinin 0.5 – 1.5 (mg/dl) 2,1 mg/dL Menaik
2. Hb 12 – 15 (g/dl) 6,8 g/dL Menurun
3. D dimer 0-300 ng/ml 5148,8 Menaik
4. GDS < 150 (mg/dl) 225,1 Menaik

23
5. Hb A 1 C <7% 10,7 Menaik
6. CKMB mass 25-150 iu/Ml 72,3 Normal
7. Ureum 15 – 40 (mg/dl) 93 (mg/dL) Menaik
8. Kalium 3.5-5.0 mEq/L 5,2 Menaik
9. Calcium 8.4-10.2 mg/dL 7,8 Menurun
10. Albumin 3.8 – 5.0 (g/dL) 1,64 g/dL Menurun
11. Trombosit 150.000 - 400.000(/ul) 34.000 Menurun
12. Leukosit 0,5– 1 (g/dL) 1,8 g/dL Menaik
13. SGOT 5 – 40 (u/l) 569,8 Menaik
14. SGPT 5 – 41 (u/l) 89 Menaik
15. troponin I ultra 0,01 – 30 u/l 1,21 Normal
16. CEA < 20 ng/ml 182,09 ng/ml Menaik

3. Assessment
 Hb pasien menurun, karena pasokan zat besi ke berbagai bagian tubuh berkurang
fungsi tubuh akan terhambat dan mengalami anemia.
 Kadar kreatinin pasien meningkat, hal ini dapat disebabkan karena adanya
kerusakan pada ginjal sehingga kreatinin yang ada dalam darah tidak dapat
difiltrasi oleh ginjal.
 Hb menurun sementara HbA1c meningkat dikarenakan Hb banyak yang berikatan
dengan gula darah sehingga menyebabkan naiknya HbA1c.
 Trombosit pada pasien meningkat, peningkatan nilai trombosit disebabkan karena
adanya infeksi akut yaitu kanker.
 CEA yang tinggi mengindikasikan adanya agen kanker yang masih ada dalam
tubuh, sehingga perlu dilanjutkan terapi untuk membunuh agen penyebab kanker.
 Pada pengukuran gula darah sewaktu pasien, kadar gula darah pasien meningkat.
Hal ini dapat disebabkan karena sebelum pengecekan, pasien mengkonsumsi
makanan atau minuman yang mengandung gula atau pasien mengalami
hiperglikemi
 Leukosit pada pasien meningkat, peningkatan nilai leukosit dapat disebabkan
karena adanya kerusakan jaringan akibat pecahnya pembuluh darah dan
menunjukkan adanya infeksi.
 SGOT tinggi dalam darah yaitu akibat dari adanya kerusakan hati dan jantung.
Nilai dari SGPT dan SGOT meningkat juga dapat dikarenakan adanya infusiensi
hati yang disebabkan penurunan kadar albumin.
 Ca menurun hipokalasemia, penyebabnya hilangnya kalsium dalam jangka lama
melalui air kemih.

24
4. Plan

Dosis seharusnya Keterangan


Obat Dosis
Parenteral
Neurobion 5000 1x1 1x1 Digunakan
Vitamin K 3x1 2,5-10 mg Digunakan
Cefepim 2 x1 g 2 g i.v tiap 8-12 jam Digunakan
Dextrose 40% Digunakan
Premid - Digunakan
PRC 250 ml Diphenhydramin
Sotatic 3 x 10 mg 10-20 mg Dosis berlebih
Pantoprazol 1 x 40 mg 40 mg sehari Digunakan
Ca gluconas 1x1 10-20 ml/ hari Digunakan
Livola 2 amp/150 NaCl/12 jam 4 ampul/ hari Digunakan
Comafusin hepar 41 ml/jam 40-60 ml/jam Digunakan
R/L 500 ml/hari 30-40 ml/kgBB/hari Dosis kurang
Oral
Zolac 2 x1 c 2 x sehari 2,5 mg Digunakan
Cps curcuma 3x1 3 x sehari 1-2 tab Digunakan
Vip Albumin 3x1 3x4 Dosis kurang
Hepsera 0-1-0 10 mg sehari Digunakan
Tamofen tab 1-0-1 20-40 mg / hari Digunakan
Digoksin 0,25 1x 1 1-2 x sehari Tidak Digunakan
Nystatin drops 3x1 1-2 ml 4 x sehari Digunakan
Paracetamol tablet 6×500 mg 4 g/ hari Tidak Digunakan
Durogesic Patch 12,5 mg k/p 12,5 mcg/ jam Digunakan

o Neurobion tetap digunakan untuk membantu dalam regenerasi sel yang rusak.
o Pasien mengalami diare sebanyak 10 kali sehingga pasien memerlukan obat anti diare
seperti attapulgit, untuk menghentikan diare.
o Mengusulkan pada dokter untuk meningkatkan dosis Vip Albumin dari awalnya 3 kali
1 kapsul menjadi 3 kali 4 kapsul perhari.
o Penderita mengalami muntah dan diare, yang akan menyebabkan pasien mengalami
kekurangan cairan tubuh. Pasien diberi infuse RL 600 mL/hari. Dosis lazimnya 1200–
1600 mL/hari sehingga disarankan untuk meningkatkan pemberian infuse RL.
o Sotatik diganti dengan menggunakan ondansentron karena sotatik mengandung
metokloperamide yang efek sampingnya menstimulasi prolaktin yang pada kasus ca
mammae kadar prolaktinnya harus ditekan.
o Melihat hasil laboratorium kadar CKMB Mass dan Troponin I ultra yang normal
maka pemberian digoxin dirasa tidak diperlulkan.
o Paracetamol tablet disarankan untuk dihentikan penggunaannya karena melihat dari
kadar SGOT dan SGPT pasien yang tinggi menunjukan bahwa fungsi hati pasien

25
mengalami penurunan, sehingga apabila ditambah dengan adanya paracetamol yang
dalam dosis besar memiliki efek nefrotoksik dan hepatotoksik, maka akan semakin
membebani kerja hati pasien.

5. KIE Untuk Pasien dan Keluarganya


o Disarankan kepada pasien dan keluarga untuk menjaga kesehatan
dan pola makan yang teratur guna menstabilkan tubuh saat
menjalani kemoterapi.
o Disarankan kepada keluarga pasien untuk terus memberikan
dukungan kepada pasien dalam menjalani kemoterapi.
o Pasien dapat menggunakan tanaman-tanaman herbal guna
mengurangi efek dari kemoterapi, seperti saat dirasakan mual
pasien dapat menyeduh jahe, pepermint.
o Disarankan pasien banyak minum guna mengganti elektrolit tubuh
yang hilang.
o Disarankan untuk pasien beristirahat yang cukup.
o Disarankan pasien untuk melakukan diet rendah gula.
6. DRP yang dialami Pasien
a. Obat Tidak Perlu
o Digoksin
Pada uji klinik, hasil CKMB dan troponin I ultra didapatkan hasil
normal yang artinya jantung pasien bekerja dengan normal. Sehingga
penggunaan digoxin ditiadakan.
b. Butuh Obat
o Pasien mengalami diare sebanyak lebih dari 10 kali. Sehingga untuk
pengobatan diare tersebut, diperluhkan obat anti diare. Obat anti diare
yang dapat digunakan contohnya attalpugit, Kaolin, dan peptin.
c. Dosis Kurang
o Pada hasil uji klinik, didapatkan nilai Hb 1,64 g/dL dimana nilai
normalnya adalah 3.8 – 5.0 g/dL. Sehingga untuk meningkatkan
albumin pasien diberikan VIP Albumin.
o Pada peresepan digunakan adalah 3 kali 1 kapsul perhari, dosis
tersebut kurang dari dosis lazim yang digunakan seharusnya 3 kali 4
kapsul perhari.
o Penderita mengalami muntah dan diare, hal itu menyebabkan penderita
mengalami kekurangan elektrolit tubuh, digunakan infus RL untuk
mengganti elektrolit tubuh. Pada dosis lazim RL 30-40 mL/kgBB/hari.
Sehingga pada peresepan penggunaan RL dosis kurang.

7. OBAT YANG DIGUNAKAN PASIEN

26
1. Neurobion 5000
Komposisi :Vitamin B1 100 mg; Vitamin B6 100 mg; dan Vitamin B12 5000
mcg.
Indikasi :Menghasilkan efek analgesik, regenerasi saraf untuk terapi,
neuralgia, defisiensi vitamin B, memperbaiki metabolism
tubuh.
Efek Samping :Reaksi alergi (ruam, gatal-gatal, timbul biduran).

2. Vitamin K
Indikasi :
 Mengurangi resiko resistens insulin sehingga membantu
melawan diabetes.
 Membantu metabolism di dalam tubuh terkait dengan resistensi
senyawa insulin.
 Meningkatkan kepadatan tulang agar terbentuk struktur rangka
yang kuat.
 Faktor pembekuan darah.
3. Dextrose 40%
Sumber kalori
Untuk pasien yang Saluran pencernaan tidak dapat atau tidak boleh digunakan.
Gangguan penyerapan protein.
Kontra Indikasi :Pasien dengan intracranial / intraspinal pendarahan, pasien
mengalami dehidrasi, anurik, dan koma hepatic. Serta pasien
dengan alergi jagung atau produksi jagung.
Suntikan ini harus diberikan hati-hati pada penderita Diabetes.
4. Cefepim
Bentuk sediaan :Vial serbuk injeksi
Kelompok obat antibiotik sefalosporin.
Bekerja dengan cara mematikan bakteri dalam tubuh serta mengobati berbagai jenis
infeksi bakteri termasuk keadaan parah yang mengancam nyawa.
Indikasi :Mengobati infeksi bakteri tertentu. Dewasa (≥ 16 tahun) :
Infeksi saluran nafas bawah; infeksi saluran kemih atas dan
bawah; infeksi ginekologi.
Dosis :2g intravascular, tiap 8- 12 jam
Efek Samping :Reaksi hipersensitivitas (Reaksi parah bias terjadi seperti
anafilaksis); Efek GI (diare, radang usus besar); Efek candidias.
Instruksi khusus :
 Boleh dikonsumsi khusus dengan makanan untuk mengurangi
keadaan gastric.
 Gunakan hati-hati pada pasien dengan alergi penisilin, ada
kemungkinan 10% peluang sensitivitas
 Gunakan hati-hati pada pasien dengan kerusakan ginjal.
5. Digoksin

27
Indikasi :Gagal jantung, aritmia supraventrikular (terutama artial
fibrilasi)
Dosis :Oral, untuk digitalis cepat 1-1,5 mg dalam dosis terbagi.
Bila tidak diperlukan cepat 250-500 mikrogram sehari (dosis
yang lebih tinggi harus dibagi).
Dosis pemeliharaan :62,5-500 mikrogram sehari (dosis yang lebih tinggi harus
dibagi) disesuaikan dengan fungsi ginjal dan aritmia fibralasi,
tergantung pada respon denyut jantung, dosis pemeliharaan
biasanya berkisar 125-250 mcg sehari (dosis yang lebih rendah
diberikan kepada penderita.
Farmakologi/farmakokinetik
 Waktu onset: oral, 1-2 jam IV, 5-30 menit.
 Waktu efek puncak: oral, 2-8 jam IV, 1-4 jam
 Durasi: dewasa, 3-4 hari pada kedua sediaan

Kontra Indikasi :Intermittent complete heart block ; Blok AV derajat II ;


supraventricular arrhytmias yang disebabkan oleh Wolff-
Parkinson-White Syndrome ; takikardia ventricular atau
fibrilasi ; hipertropik obstruktif cardiomyopathy.

Efek samping :Biasanya berhubungan dengan dosis yang berlebih, termasuk :


anoreksia, mual, muntah, diare, nyeri abdomen, gangguan
penglihatan, sakit kepala, rasa capek, mengantuk , bingung,
delirium, halusinasi, depresi; aritmia; jarang terjadi rash,
isckemia intestinal; gynecomastia pada penggunaan jangka
panjang, trombositopenia.

Peringatan :Infark jantung baru; sindrome sinus; penyakit tiroid; dosis


dikurangi pada penderita lanjut usia; hindari hipokalemia;
hindari pemberian intravena secara cepat (mual dan risiko
arimia); kerusakan ginjal; kehamilan.

Mekanisme aksi :

 Gagal jantung kongestif: menghambat pompa Na/K ATP0-ase


yang bekerja dengan meningkatkan pertukaran natrium-kalsium

28
intraselular sehingga meningkatkan kadar kalsium intraseluler
dan meningkatkan kontraktilitas.
 Aritmia supraentrikular : Secara langsung menekan konduksi
AV node sehingga meningkatkan periode refraktori efektif dan
menurunkan konduksi kecepatan -efek inotropik positif-,
meningkatkan vagal tone, dan menurunkan dan menurunkan
kecepatan ventrikular dan aritmia atrial. Atrial fibrilasi dapat
menurunkan sensitifitas dan meningkatkan toleransi pada
serum konsentrasi digoksin yang lebih tinggi .

Monitoring penggunaan obat :

 Kapan mengukur konsentrasi serum digoksin : konsentrasi


serum digoksin harus dimonitor karena digoksin mempunyai
rentang terapi yang sempit ; terapi endopoin sukar ditentukan
dan toksisitas digoksin dapat mengancam jiwa.
 Kadar serum digoksin harus diukur sedikitnya 4 jam setelah
pemberian dosis intravena dan sedikitnya 6 jam setelah
pemberian dosis oral (optimal 12 – 24 jam setelah pemberian).
 Terapi awal (inisiasi): Jika loading dose diberikan: konsentrasi
serum digoksin diukur dalam 12 – 24 jam sesudah pemberian
loading dose awal. Kadar yang terukur menunjukkan
hubungan kadar plasma digoksin dan respon. Jika loading dose
tidak diberikan : konsentrasi serum digoksin ditentukan setelah
3 – 5 hari terapi.
 Terapi pemeliharaan (maintenance ): Konsentrasi harus diukur
minimal 4 jam setelah dosis IV dan paling sedikit 6 jam setelah
dosis oral.Konsentrasi serum digokin harus diukur dalam 5-7
hari (rata-rata waktu steady state) setelah mengalami perubahan
dosis. Pemeriksaan dilanjutkan 7 – 14 hari setelah perubahan
ke dalam dosis pemeliharaan.

6. Nistatin
Indikasi :Candidiasis, infeksi vaginal, infeksi oral, infeksi kulit.Nistatin
terutama digunakan untuk ingeksi Candida albicans pada kulit,
dan membran mukosa termasuk candiddiasi esofagus dan
intestinal

29
Dosis :Peroral, pada intestinal candidiasi 500.000 unit setiap 6 jam,
pada infeksi berat diberikan dosis ganda;

Kontra Indikasi :Hipersensitivitas terhadap nistatin atau komponen lain dalam


sediaan.

Efek samping :Mual, muntah, diare pada dosis tinggi, sensitivitas dan iritasi
oral.

7. Parasetamol tablet
Indikasi :Menghilangkan rasa sakit dan menurunkan demam pada
keadaan sakit kepala, pusing, sakit gigi.
Dosis :3-4X 1 tablet
Kontra Indikasi :Penyakit hati dan ginjal
Efek Samping :Kerusakan hati (dosis besar, terapi jangka panjang)
8. Durogesic patch 12,5 mg

Indikasi :Nyeri sebelum operasi,selama & paska operasi, penanganan


nyeri pada kanker, sebagai suplemen anestesi sebelum operasi
untuk mencegah atau menghilangkan takipnea dan delirium
paska operasi emergensi.

Dosis : 12,5-100 mcg/jam

Metabolisme :Terutama dalam hati.

Ekskresi :Melalui urin sebagai metabolit tidak aktif dan obat utuh 2-
12%. Pada kerusakan ginjal terjadi akumulasi morfin-6-
glukoronid yg dpt memperpanjang aktivitas opioid. Kira-kira
7-10% melalui feses.

Kontra Indikasi :Hipersensitivitas, depresi pernapasan yang parah, Sediaan


tidak direkomendasikan pada nyeri pasien yg belum pernah
menggunakan opioid & toleran terhadap opioid.

Efek samping :Depresi pernapasan.

 Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo,


depresi, rasa mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi,
ketegangan, kejang.
 Pencernaan : mual, muntah, konstipasi.

30
 Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural
 Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria
 Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi,
takikardia, tremor otot, pergerakan yang tidak terkoordinasi,
delirium atau disorientasi, halusinasi
 Lain-lain : Berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam
kulit

Perhatian :Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan
memperlama kerja & efek kumulasi opiod, pasien usia lanjut,
pada depresi system saraf pusat yg parah, anoreksia,
hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, cedera kepala,
tumor otak, asma bronchial.

Mekanisme aksi :Berikatan dengan reseptor di sistem saraf pusat,


mempengaruhi persepsi dan respon terhadap nyeri.

8. Zolac (Bromocriptine mesylate 2.5 mg)


Indikasi :Hiperprolaktinemia, akromegali dan Parkinson.
Efek samping :Sakit kepala, diare, mulut kering, kelelahan, mual, muntah,
nyeri lambung, hidung tersumbat, tinja berwarna hitam, nyeri
punggung, telinga berdenging dan kejang.
Dosis :1 x 1 tablet 2,5 mg
9. Sotatic 10 mg (metoklopramide)
Indikasi :
 Gangguan motilitas lambung, khususnya stasis lambung.
 Refluks gastroesofagus.
 Investigational use:pencegahan dan/atau pengobatan mual dan
muntah karena penggunaan obat-obat kemoterapi, terapi
radiasi, atau setelah pembedahan.
 Investigational use:pemasangan enteral-feeding tube post-
pyloric.

Dosis :Hipomotilitas gastrointestinal

Dewasa: IV:10 mg selama 1-2 menit (untuk gejala yang parah);


pemberian terapi IV selama 10 hari dapat diperlukan untuk
memperoleh respon terbaik.

31
Kontra Indikasi :Hipersensitivitas terhadap metoklopramid atau bahan-bahan
dalam formulasi; obstruksi gastrointestinal, perforasi atau
perdarahan, pheocromocytoma, sejarah kejang.

Efek Samping :Efek samping yang lebih umum/parah:terjadi pada dosis yang
digunakan untuk profilaksis emetik kemoterapi. >10%:efek
pada sistem saraf pusat:kelelahan, mengantuk, gejala
ekstrapiramidal (sampai dengan 34% pada dosis tinggi, 0,2%
pada dosis 30-40 mg/hari); efek gastrointestinal:diare (mungkin
bersifat dose-limiting); neuromuskular dan skeletal:kelemahan.
1-10%:efek pada sistem saraf pusat:insomnia, depresi,
kebingungan, sakit kepala; dermatologis:kemerahan; endokrin
dan metabolik:rasa sakit dan panas pada payudara (breast
tenderness), stimulasi prolaktin; gastrointestinal:mual,
xerostemia.<1%(dari terbatas sampai penting/berbahaya)
agranulositosis, reaksi alergi, amenorrhea, angioedema, AV
block, bronkospasme, CHF, galactorrhea, ginekomastia,
hepatotoksik, hiper/hipotensi, jaundice.

Parameter Monitoring :Fungsi ginjal.

Mekanisme Aksi :Memblok reseptor dopamin dan (bila diberikan pada dosis
yang lebih tinggi) juga memblok reseptor serotonin di
chemoreceptor trigger zone di sistem saraf pusat; meningkatkan
respon jaringan di saluran pencernaan atas terhadap asetilkolin
sehingga meningkatkan motilitas dan kecepatan pengosongan
lambung tanpa menstimulasi sekresi pankreas, bilier, atau
lambung; meningkatkan tonus spingter esofagus bagian bawah.

10. Ondansetron 4mg/2ml injeksi


Indikasi :Penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi dan
radioterapi serta oprasi.

Dosis :Kemoterapi yang kurang emotogenik, misalnya siklospamid.


Injeksi i.v. 8 mg ondansetron secara lambat atau diinfuskan
selama 15 menit segera sebelumdiberikan kemoterapi, diikuti
dengan 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari.

32
Kontra Indikasi :Penderita yang hipersensitiv terhadap ondensetron.

11. Kalsium Glukonat


Indikasi :Keracunan antagonis kalsium
Farmakologi :Kalsium sangat diperlukan untuk memelihara integritas fungsi
dari saraf, otot, dan sistem skelet serta membran sel dan
permeabilitas kapiler. Kation merupakan aktivator penting pada
berbagai reaksi enzimatik dan kation diperlukan untuk
sejumlah proses fisiologi termasuk transmisi dari impuls saraf;
kontraksi jantung, otot polos dan lurik; fungsi ginjal,
pernafasan; dan koagulasi darah. Kalsium juga memegang
peranan dalam melepaskan dan menyimpan neurotransmiter
dan hormon, pada uptake dan pengikatan asam amino, dan pada
absorpsi vitamin B12 dan sekresi lambung
Kontra Indikasi :Fibrilasi ventrikular pada saat resusitasi jantung; pasien
dengan risiko keracunan digitalis, penyakit jantung atau ginjal,
hiperkalsemia, calculi ginjal, hipofosfatemia

Efek Samping :< 1% : Nyeri abdomen, bradikardi, aritmia jantung, koma,


konstipasi, penurunan kadar magnesium dalam
serum/penurunan magnesium serum, peningkatan kadar
amilase dalam serum/peningkatan amilase serum, eritema,
hiperkalsemia, hiperkalsiuria, hipotensi, lethargy, mania, lemah
otot, mual, syncope, nekrosis jaringan, vasodilatasi, fibrilasi
ventrikular, muntah.

Peringatan :

 Gunakan secara hati-hati pada pasien yang menggunakan obat-


obat digitalis, hiperfosfatemia yang berat, gagal nafas, atau
asidosis.
 Dapat menyebabkan henti jantung (cardiac arrest).
Hiperkalsemia dapat terjadi pada pasien gagal ginjal,
dianjurkan untuk sering dilakukan pemeriksaan kalsium serum.

Mekanisme Aksi :Kalsium pada garam kalsium memoderasi kinerja saraf dan
otot dan menormalkan fungsi jantung.

33
12. Pantoprazol
Indikasi :Tukak lambung dan duodenum
Peringatan :Penghambat pompa proton harus digunakan dengan hati-hati
pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan menyusui.
Sebelum pengobatan adanya kanker lambung harus
dikeluarkan.
Efek Samping :Efek samping penghambat pompa proton meliputi sakit
kepala, diare, ruam, gatal-gatal dan pusing.
Dosis :Tukak lambung, 40 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu,
diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh seutuhnya.Pada
gangguan hati pengobatan diberikan selang sehari.
11. Curcumin Tablet
Indikasi :Sebagai pengobatan anoreksia, akibat obstruksi / penyumbatan
saluran empedu, amenore
12. Vip Albumin
Mengandung Ekstrak Ophiocephalus Striatus 500 mg.
Indikasi :Membentuk antibodi, meningkatkan kadar albumin,
mempercepat penyembuhan luka pasca operasi, menghilangkan
edema.

13. Hepsera
Mengandung adevoir dipivoxl
Indikasi :Pengobatan hepatitis B kronik pada orang dewasa dengan
terbukti adanya replikasi virus hepatitis.
Dosis :18-65 tahun 1x sehari 10 mg
Perhatian :Monitoring fungsi ginjal pada semua pasien; pada pasien
dengan resiko untuk terjadinya atau dengan riwayat ganguan
fungsi ginjal dianjurkan untuk pemantauan pada perubahan
serum fosfat.
Efek Samping :Nyeri perut, mual, kembung, diare, dyspepsia, asthenia,
peningkatan kadar kreatinin, fungsi ginjal abnormal, gagal
ginjal.
14. Livola
Mengandung L-ornithine L-aspartate 500 mg
Indikasi :Menurunkan kadar amonium plasma pada kondisi
hiperamonemia yang diakibatkan oleh penyakit hati akut &
kronik, seperti sirosis hati, perlemakan hati (fatty
liver), hepatitis, terutama khususnya pada pengobatan prekoma
atau komplikasi neurologik (ensefalopati hepatik).

34
Dosis :4 ampul/hari. Prekoma atau koma 8 ampul dapat diberikan
dalam waktu 24 jam, tergantung keparahan kondisi inidvidu.
Kecepatan infus maks: 5 g/jam. Sebaiknya diberikan saat
makan.
Perhatian :Monitor kadar urea serum & urin pada pemberian dosis tinggi.
Gangguan fungsi hati. Dpt mengganggu kemampuluan
mengemudi atau menjalankan mesin. Hamil & laktasi
Efek Samping :Muntah derajat ringan hingga sedang, mual, rasa panas &
berdebar-debar (palpitasi).
Kontra Indikasi :Gangguan ginjal berat. Pemberian melalui arteri.
15. Comafusin Hepar
Komposisi :Dosis tinggi dari branched-chain amino acids 43%, xylitol,
vitamin & electrolit.
Indikasi :Semua kasus berat pada insufisiensi hati
dengan koma endogen atau prekoma hepatik.
Kontra Indikasi :Insufisiensi ginjal berat.
Perhatian :Defisiensi K.
16. Siklofosfamid
Sediaan :Siklofosfamid tersedia dalam bentuk kristal 100, 200, 500 mg
dan 1,2 gram untuk suntikan, dan tablet 25 dan 50 gram untuk
pemberian per oral.
Indikasi :Leukemia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, Limfoma non
Hodgkin, Mieloma multiple, Neuro Blastoma, Tumor Payudara,
ovarium, paru, Cerviks, Testis, Jaringan Lunak atau tumor
Wilm.
Mekanisme kerja :Siklofosfamid merupakan pro drug yang dalam tubuh
mengalami konversi oleh enzim sitokrom P-450 menjadi 4-
hidroksisiklofosfamid dan aldofosfamid yang merupakan obat
aktif. Aldofosfamid selanjutnya mengalami perubahan non
enzimatik menjadi fosforamid dan akrolein. Efek siklofosfamid
dipengaruhi oleh penghambat atau perangsang enzim
metabolismenya. Sebaliknya, siklofosfamid sendiri merupakan
perangsang enzim mikrosom, sehingga dapat mempengaruhi
aktivitas obat lain.
17. Methotrexat
Sediaan :Tablet 2,5 mg, vial 5 mg/2ml, vial 50 mg/2ml, ampul 5 mg/ml,
vial 50 mg/5ml.
Indikasi :Leukimia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker

35
payudara, leher dan kepala, paru, buli-buli, Sarkoma
osteogenik.
Mekanisme kerja :Metotreksat adalah antimetabolit folat yang menginhibisi
sintesis DNA. Metotreksat berikatan dengan dihidrofolat
reduktase, menghambat pembentukan reduksi folat dan
timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan sintesis
asam timidilat. Metotreksat bersifat spesifik untuk fase S pada
siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat dalam artritis tidak
diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi imun. Dalam
psoriasis, metotreksat diduga mempunyai kerja mempercepat
proliferasi sel epitel kulit.
18. 5-fluorourasil (5-FU)
Sediaan :Obat ini tersedia sebagai larutan 50 mg/mL dalam ampul 10
mL untuk IV.
Indikasi :Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala, Leukimia
limfositik dan mielositik akut, Limfoma non-Hodgkin.Target
enzim untuk 5-FU ini adalah timidilat sintetase. Perbedaan
respon ini berkaitan erat dengan adanya polimorfisme gen yang
bertanggungjawab terhadap ekspresi enzim timidilat sintetase
(TS). Enzim ini sangat penting dalam sintesis DNA yaitu
merubah deoksiuridilat menjadi deoksitimidilat. Diketahui
bahwa sekuen promoter dari gen timidilat sintetase bervariasi
pada setiap individu. Ekspresi yang rendah dari mRNA
TS berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan sembuh
dari penderita kanker yang diobati dengan 5-FU.

36
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, H.Syahri, Richa. 2014. Faktor Resiko Kejadian Kanker Payudara Di RSUD
Labuang Baji Makasar. ISSN : 2302-1721
Chlebowski, R.T. 2009. Breast Cancer after Use of Estrogen plus Progestin in
Postmenopausal Women. The New England Journal of Medicine,360(6)
Ellis, E.O., Schnitt, S.J., S.-Garau, X., Bussolati, G., Tavassaoli, F.A., Eusebi, V.
Pathology and Genetic of Tumours of The Breast and Female Genital Organs
WHO Classification of Tumours. Washington: IARC Press; 2003. P.10, 34-6
Hondermarck, H., 2003, Breast Cancer : When Proteomics Challenges Biological
Complexity, Molecular and Proteomics, 2, 281- 291
Lincoln, J & Wilensky. 2008. Kanker payudara, diagnosis dan solusinya. Cetakan I.
Jakarta: Prestasi Pustakarya
Lindley, C., and L. B. Michaud. 2005. Breast Cancer, Pharmccotherapy: A
Pathophysiologic Approach. Sixth Edition. The McGraw-Hill Companies.
United States of America
Luwia, M. 2003. Problematika dan keperawatan payudara. Cetakan I. Jakarta: Kawan
Pustaka
Novianti, Fourina Ayu. 2012. Analisis Diagnostik Pasien Kanker Payudara Menggunakan

Regresi Logistik dan Support Vector Machine (SVM) Berdasarkan Hasil


Mamografi. ISSN: 2301-928X
Tambunan, G.W. 1995. Diagnosa dan tatalaksana 10 jenis kanker di Indinesia.
Cetakan III. Jakarta: EGC
-------------------- 1992. Strategi deteksi kanker payudara . Edisi Khusus. Jakarta:
Cermin Dunia Kedokteran
Stringer, Janet L. 2008. Konsep Dasar Farmakologi Panduan untuk Mahasiswa. Jakarta :
EGC

37