You are on page 1of 3

Apa itu Thoracentesis: Gambaran Umum, Manfaat, dan Hasil yang Diharapkan

Apa itu Thoracentesis?

Thoracentesis adalah tindakan yang dilakukan pada pasien yang menderita efusi
pleura, suatu penyakit yang ditandai dengan penimbunan cairan di rongga pleura. Pada
individu yang sehat, cairan yang diproduksi dan diserap oleh pleura jumlahnya
seimbang, sehingga cairan pleura dapat dijaga agar berjumlah 10-20 ml pada waktu
tertentu. Kelainan atau penyakit yang mengganggu proses ini dapat menyebabkan
terjadinya efusi pleura.

Pada thoracentesis, jarum berlubang yang besar akan digunakan untuk mengambil
dan mengeluarkan cairan dari rongga pleura. Kemudian, sampel cairan pleura akan
dikirim ke laboratorium untuk diuji. Pemeriksaan cairan pleura dapat menganalisis
karakterisitik cairan pleura, keberadaan bakteri, dan mengetahui apakah cairan tersebut
bersifat transudat atau eksudat. Semua tes ini dapat digunakan untuk mengetahui
penyebab penimbunan cairan pleura dan menghasilkan diagnosis.

Selain sebagai tindakan diagnostik, thoracentesis juga dapat bersifat terapeutik.


Adanya penimbunan cairan di rongga pleura, terutama dalam jumlah besar, dapat
menyebabkan meningkatnya tekanan pada paru-paru yang berdekatan dengan rongga
pleura. Hal ini dapat menyebabkan gejala seperti kesulitan bernapas. Pengeluaran cairan
pleura dengan thoracentesis dapat memberikan efek yang luar biasa bagi pasien. Dalam
beberapa kasus, thoracentesis dapat menyembuhkan efusi sepenuhnya, tanpa tindakan
intervensi lain.

Siapa yang Harus Menjalani Thoracentesis dan Hasil yang Diharapkan

Tidak semua pasien efusi pleura harus menjalani thoracentesis. Beberapa pasien,
terutama pasien yang efusinya tidak terlalu parah, atau disebabkan oleh gagal jantung
kongestif atau uremia, dapat diobati dengan diuresis atau pengobatan lainnya.
Tindakan ini disarankan untuk:

 Kasus di mana penyebab efusi pleura tidak diketahui

 Pasien yang baru pertama kali mengalami efusi pleura

 Pasien dengan efusi yang parah


 Pasien yang berulangkali mengalami efusi pleura

Tujuan dari thoracentesis terapeutik adalah untuk mengambil sebanyak mungkin cairan
pleura dalam satu tindakan. Hal ini dapat sangat mengurangi kesulitan bernapas pasien.
Selain itu, pasien dengan empiema atau nanah pada rongga pleura dapat menjalani
thoracentesis untuk menghilangkan cairan yang terinfeksi.

Pengambilan cairan yang cukup dari efusi yang terinfeksi dan pengendalian sumber
cairan adalah langkah yang penting dari penanganan empiema. Akhirnya, pengambilan
cairan pleura dapat memberikan hasil evaluasi radiografi pada paru-paru yang lebih
jelas, yang dapat membantu dalam penanganan efusi pleura.

Cara Kerja Thoracentesis

Tindakan ini biasanya dilakukan dengan meminta pasien untuk duduk atau mengambil
posisi tegak. Pada pasien yang tidak dapat meninggalkan tempat tidur dan tidak dapat
duduk, maka mereka akan diminta untuk berbaring dengan posisi decubitus lateral, di
mana mereka akan berbaring ke samping. Setelah pasien berada dalam posisi yang benar,
area thoracentesis akan ditentukan. Perkusi dan auskultasi pada dada, serta uji
pencitraan, dapat membantu dokter untuk memilih titik yang paling baik untuk
memasukkan jarum suntik. Tindakan ini dapat dilakukan tanpa panduan, di mana jarum
suntik akan dimasukkan 2-3 cm di bawah batas efusi yang paling luar, biasanya di
punggung pasien. Namun, efusi yang lebih kecil atau loculated (efusi pada kantong
pleura) sebaiknya diambil cairannya dengan panduan dari ultrasound.
Setelah itu, area thoracentesis akan dibuka dan dibersihkan. Jarum thoracentesis yang
biasanya berukuran 18 atau 20 akan dimasukkan tepat di atas bagian tulang rusuk yang
lebih besar. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa ikatan intercostal, yang tersusun
dari saraf dan pembuluh darah, tidak akan terkena jarum suntik. Jarum suntik akan
dimasukkan sampai ke pleura parietal, kemudian cairan pleura akan diambil. Apabila
ternyata yang terambil adalah udara dan bukan cairan, maka kemungkinan area
thoracentesis yang dipilih terlalu tinggi. Kegagalan thoracentesis dapat disebabkan oleh
beberapa alasan, misalnya efusi pleura yang sangat parah atau dinding dada yang terlalu
tebal. Menggunakan jarum suntik yang lebih panjang dan lebih besar mungkin dapat
membantu, begitu juga dengan menggunakan panduan ultrasound.
Tergantung pada alat yang digunakan, jarum suntik dapat terhubung dengan stopcock 3
way, yang dapat digunakan untuk beberapa aspirasi dengan jarum suntik tanpa harus
membuka rongga pleura. Beberapa alat dapat digunakan untuk memasukkan kateter
dengan kawat yang dapat dimasukkan ke pleura melalui jarum suntik. Setelah itu, cairan
pleura akan diambil, dan sampelnya akan diletakkan di wadah yang steril untuk
dianalisis. Setelah thoracentesis selesai, jarum suntik atau kateter akan diambil, dan area
thoracentesis akan ditutup dengan perban yang steril.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko

Walaupun thoracentesis adalah tindakan yang sederhana, namun tindakan ini tidak b ebas
dari komplikasi. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumotoraks, atau
adanya udara di rongga pleura. Studi menunjukkan bahwa tingkat terjadinya
pneumotoraks pasca thoracentesis adalah 11%. Dari semua kasus tersebut, 2% pasien
membutuhkan penanganan lebih lanjut dengan torakotomi tabung. Sebagian besar kasus
dapat ditangani dengan cara tradisional, yaitu dengan bantuan oksigen yang tinggi.
Pendarahan adalah kemungkinan risiko lain dari thoracentesis. Saat dilakukan dengan
benar, pendarahan biasanya tidak akan terjadi. Namun, pendarah dapat terjadi pada
pasien lanjut usia dengan pembuluh darah intercostal yang berbelit. Pendarahan juga
dapat terjadi pada pasien dengan kelainan pembekuan darah yang menderita efusi pleura.
Risiko pendarahan dapat dikurangi dengan menggunakan jarum suntik yang lebih kecil
saat thoracentesis.
Komplikasi yang jarang terjadi namun berbahaya dari thoracentesis adalah membesarnya
edema paru. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh membesarnya jantung yang berhenti
bekerja secara cepat. Sebelumnya, kondisi ini dipercaya berkaitan dengan pengambilan
cairan pleura dalam jumlah besar; walaupun tidak ada standar yang menentukan jumlah
cairan yang aman untuk diambil, para ahli menyarankan bahwa jumlah cairan pleura
yang dapat diambil dalam satu tindakan adalah maksimal 1 Li. Namun, studi yang
terbaru menunjukkan bahwa yang menyebabkan edema paru bukanlah jumlah cairan
pleura yang diambil namun kecepatan pengambilan cairan.

Komplikasi lain yang tidak umum adalah empiema, yang disebabkan oleh masuknya
bakteri ke dalam rongga pleura, dan tumor yang menyebar melalui jarum suntik.