You are on page 1of 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ENCEPHALITIS

Dosen Pembimbing: Ns. Kustiningsih M.Kep., An

Disusun Oleh : Kelompok B2

1. Hengki Anggara Putra (1610201078)


2. Agustinus Sinaga (1610201079)
3. Miya Endarwati (1610201094)
4. Monita Purnamasari (1610201095)
5. Yke Yuliana Dewi (1610201096)
6. Dewie Meidyani (1610201097)
7. Rizka Arianti (1610201098)
8. Tri Utami Handayani (1610201099)
9. Nenes Kanti Widhiastuti (1610201100)
10. Nurhayati Elisa Putri (1610201101)
11. Yosi Ardelia Rahman (1610201102)
12. Joaninha Amaral D (1610201103)
13. Laela Novia Fitriani (1610201104)
14. Ulfa Alfiana Putri (1610201105)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2018
HALAMAN PENGESAHAN
MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ENCEPHALITIS

telah disahkan dan disetujui pada :

Hari :
Tanggal :
Jam :

Yogyakarta 06 Januari 2019

Dosen Mata Kuliah Koordinator Kelompok

Ns. Kustiningsih M.Kep., An Nenes Kanti Widiastuti

Koordinator Mata Kuliah

Ns. Kustiningsih M.Kep., An

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................2

1.3 Tujuan ........................................................................................................2

1.4 Manfaat ......................................................................................................3

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi Ensefalitis ....................................................................................4

2.2. Etiologi Ensefalitis ....................................................................................4

2.3. Anatomi Fisiologi Ensefalitis ....................................................................4

2.3.1. Pengertian .......................................................................................... 5

2.3.2. Sel sel pada sistem syaraf .................................................................. 5

2.4. Klasifikasi ..................................................................................................9

2.4.1. Ensefalitis Supurativa........................................................................ 9

2.4.2. Ensefalitis Siphylis ............................................................................ 9

2.4.3. Ensefalitis virus ............................................................................... 10

2.4.4. Ensefalitis parasit ............................................................................ 10

2.4.5. Ensefalitis berdasarkan Fungus ....................................................... 11

2.4.6. Riketsiosis Serebri........................................................................... 12

2.5. Manifestasi Klinis....................................................................................12

2.6. Faktor Predisposisi ..................................................................................12

2.7. Patofisiologi.............................................................................................13

2.8. Patways ....................................................................................................14

2.9. Penatalaksanaan .......................................................................................15

iii
2.10. Pemeriksan Diagnosis .............................................................................15

2.11. Komplikasi ..............................................................................................17

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Kasus .......................................................................................................18

3.2. Analisa data .............................................................................................19

3.3. Tujuan dan Intervensi ..............................................................................21

3.4. Implementasi Dan Evaluasi .....................................................................27

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ..............................................................................................30

4.2 Saran ........................................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ensefalitis adalah suatu peradangan yang menyerang otak (radang
otak) disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan parasit. Ensefalitis paling
sering disebabkan oleh infeksi virus. Paparan virus dapat terjadi melalui
percikan saluran napas, kontaminasi makanan dan minuman, gigitan
nyamuk, kutu, dan serangga lainnya serta kontak kulit. Ensefalitis adalah
penyakit dengan onset akut, gejala dapat berkembang dengan cepat dan anak-
anak yang sebelumnya sehat menjadi lemah. Selain itu, dokter bahkan
mengalami kesulitan untuk mengetahui penyebab, terapi yang tepat dan
prognosis. Penyebab Ensefalitis terbanyak di Indonesia yaitu virus Japanese
Ensefalitis.

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan karena masuknya


bibit penyakit ke dalam tubuh seseorang. Penyakit infeksi masih menempati
urutan teratas penyebab kesakitan dan kematian di Negara berkembang,
termasuk Indonesia. Sebagaimana uraian tersebut, maka dalam makalah ini
kami akan membahas mengenai salah satu masalah yang diakibatkan oleh
terjadinya infeksi terhadap jaringan otak oleh virus, bakteri, cacing, protozoa,
jamur, atau ricketsia, yang biasa disebut dengan encephalitis.

Encephalitis merupakan radang jaringan otak yang dapat disebabkan


oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, fungus dan
riketsia (ArifMansur : 2000). Secara umum gejala ensefalitis berupa demam,
kejang dan kesadaran menurun. Penyakit ini dapat dijumpai pada semua
umur mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Virus Japanese Ensefalitis pertama kali dikenal pada tahun 1871 di
Jepang. Diketahui menginfeksi sekitar 6000 orang pada tahun 1924,
kemudian terjadi KLB besar pada tahun 1935 hampir setiap tahun terjadi
KLB dari tahun 1946 1950. Virus Japanese Ensefalitis pertama di isolasi pada
tahun 1934 dari jaringan tak penderita Ensefalitis yang meninggal. Penyakit
ini endemik di daerah Asia, mulai dari Jepang, Filipina, Taiwan, Korea,

1
2

China, Indo-China, Thailand, Malaysia, sampai ke Indonesia serta India.


Diperkirakan ada 35.000 kasus Japanese Ensefalitis di Asia setiap tahun.
Angka kematian berkisar 20- 30%.

Di Indonesia, kasus Japanese Ensefalitis pertama kali dilaporkan pada


tahun 1960 dan pertama diisolasi dari nyamuk pada tahun 1972, didaerah
Bekasi. Survai di rumah sakit Sanglah Bali pada tahun 1990-1992 atas 47
kasus Ensefalitis menemukan 19 kasus serologi positif terhadap Japanese
Ensefalitis. Penelitian yang dilakukan oleh Liu et al. 2009 menyebutkan
bahwa identifikasi kasus Ensefalitis dirumah sakit di Bali antara tahun 2001-
2004 menemukan 163 kasus encephalitis dan 94 diantaranya secara serologis
mengarah pada kasus Japanese Ensefalitis.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi Encephalitis ?
1. Apa Etiologi Encephalitis?
2. Apa saja Klasifikasi Encephalitis ?
3. Bagaimana Tanda dan gejalaEncephalitis ?
4. Bagaimana Patofisiologi Encephalitis ?
5. Bagaimana Pemeriksaan penunjang Encephalitis ?
6. Bagaimana Pengobatan Encephalitis?
7. Bagaimana Pencegahan Encephalitis?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum

Menambah pengetahuan mahasiswa mengenai ensefalitis serta mampu


menerapkan asuhan keperawatan yang dilakukan pada masalah ensefalitis.

2. Tujuan khusus
a. Memahami tentang definisi Encephalitis
b. Mengetahui Etiologi Encephalitis
c. Mengetahui Klasifikasi Encephalitis
d. Mengetahui Tanda dan gejala Encephalitis
e. Mengetahui Patofisiologi Encephalitis
f. Mengetahui Pemeriksaan Penunjang Encephalitis
3

g. Mengetahui PengobatanEncephalitis
h. Mengetahui Pencegahan Encephalitis

1.4 Manfaat
a Dapat digunakan sebagai informasi untuk membuat kebijakan dalam
memahami atau mengetahui penyakit Ensefalitis berdasarkan faktor
penyebabnya dan sebagai..
b Bagi Mahasisa/wi keperawatan dan kesehatan yan lain, juga dapat
digunakan sebagai pedoman pembelajaran untuk meningkatkan
kemampuan terhadap ensefalitis
c Bagi mahasiswa maupun pembaca dapat memperoleh ilmu
pengetahuan mengenai karakteristik, penyebab terjadinya penyakit
Ensefalitis dan profil penggunaan obat untuk pasien penyakit
Ensefalitis berdasarkan faktor penyebabnya serta dapat menerapkannya
di masyarakat.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi Ensefalitis


Ensefalitis adalah infeksi intrakranial yang melibatkan jaringan otak
atau lapisan yang menutupi otak yang disebabkan oleh bakteri, virus dan
jamur. Ensefalitis merupakan radang otak yang dapat meliputi radang
meningen. Ensefalitis merupakan komplikasi yang lebih jarang terjadi dan
dapat disebebkan oleh invasi protozoa, bakteri, jamur dan virus. Pada anak
ensefalitis paling sering berkaitan dengan virus.

2.2. Etiologi Ensefalitis


a. Bakteri (staphylococcus aureus, streptokous, E-coli, M. Tuberculosa dan
T.Paliidum)
b. Virus (virus herpes simpleks, enterovirus : polio dan koksakivirus, virus
yang ditularkan melalui antropoda)
c. Jamur

2.3. Anatomi Fisiologi Ensefalitis

4
5

2.3.1. Pengertian
Menurut Setiadi, (2007) sistem syaraf adalah salah satu organ
yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama yang rapih
dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh. Dengan
pertolongan syaraf kita dapat mengisap suatu rangsangan dari luar
pengndalian pekerja otot.

2.3.2. Sel sel pada sistem syaraf


a. Neuron
Unit fungsional sistem syaraf yang terdiri dari : Badan Sel,
yaitu bagian yang mengendalikan metabolisme keseluruhan neuron.
Sedangkan Akson adalah suatu prosesus tunggal, yang lebih tipis
dan lebih panjang dari dendrit. Bagian ini mengahantarkan impuls
menjauhi badan sel ke neuron lain, ke sel lain atau ke ke badan sel
neuron yang menjadi asal akson (arah menuju ke luar sel). Maka,
Semua akson dalam sistem syaraf perifer di bungkus oleh lapisan
schwann (neurolema) yang di hasilkan oleh sel-sel schwann.
Kemudian mielin berfungsi sebagai insulator listrik dan
mempercepat hantaran impuls syaraf. Sedangkan Dendrit adalah
6

Perpanjang sitoplasma yang biasanya berganda dan pendek yang


berfungsi sebagai penghantar impuls ke sel tubuh.

b. Neuroglial
Sel penunjang tambahan pada susunan syaraf pusat yang
berfungsi sebagai jaringan ikat yang mensuport sel dan nervous
sistem.

c. Sistem komunikasi sel


Rangsangan ini di sebut stimulus, sedangkan yang di hasilkan
dinamakan respon. Alat penghantar stimulus yang berfungsi
menerima rangsangan disebut reseptor, sedangkan yang menjawab
stimulus di sebut efektor seperti otot, sel, kelenjar atau sebagainya.

1. Sistem Syaraf Pusat


a. Perkembangan Otak

Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak) berkembang


dari sebuah tabung yang mulanya memperlihatkan tiga gejala
pembesaran otak awal,yaitu:

• Otak depan menjadi hamisfer serebri, korpus striatum, talamus,


serta hipotalamus. Fungsinya menerima dan mengintegrasikan
informasi mengenai kesadaran dan emosi.
• Otak tengah, mengkoordinir otot yang berhubungan dengan
penglihatan dan pendengaran. Otak ini menjadi tegmentum,
krus serebrium, korpus kuadriigeminus.
• Otak belakang (pons), bagian otak yang menonjol kebnyakan
tersusun dari lapisan fiber (berserat) dan termasuk sel yang
terlibat dalam pengontrolan pernafasan. Otak belakang ini
menjadi :
Pons vorali, membantu meneruskan informasi. Medula oblongata,
mengendalikan fungsi otomatis organ dalam (internal). Serebelum,
mengkoordinasikan pergerakan dasar.
7

b. Pelindung Otak

• Kulit kepala dan rambut


• Tulang tengkorak dan columna vetebral
• Meningen ( selaput otak )
c. Bagian – bagian Otak
Hemifer cerebral (otak besar) di bagi menjadi 4 lobus, yaitu :

• Lobus frontalis, menstimuli pergerakan otot, yang


bertanggung jawab untuk proses berfikir.
• Lobus parietalis, merupakan area sensoris dari otak yang
merupakan sensasi perabaan, tekanan, dan sedkit menerima
perubahan temperatur.
• Lobus occipitallis, mengandung area visual yang menerima
sensasi dari mata.
• Lobus temporalis, mengandung area auditory yang menerima
sensasi dari telinga.
Area khusus otak besar (cerebrum) adalah : Somatic sensory area
yang menerima impuls dari reseptor sensory tubuh. Primary
motor area yang mengirim impuls ke otot skeletal broca’s area
yang terliabat dalam kemampuan bicara.
d. Cerebelum (otak kecil)

Fungsi cerebelum mengmbalikan tonus otot di luar kesadaran


yang merupakan suatu mekanisme syaraf yang berpengaruh
dalam pengaturan dan pengendalian terhadap :
• Perubahan ketegangan dalam otot untuk mempertahankan
keseimbangan dan sikap tubuh.
• Terjadinya kontraksi dengan lancar dan teratur pada
pergerakan di bawah pengendalian kemauan dan mempunyai
aspek keterampilan.
Ada tiga jenis kelompok syaraf yang di bentuk oleh syaraf
cerebrospinalis yaitu:
8

• Syaraf sensorik (syaraf afferen), yaitu membawa impuls dari


otak dan medulla spinalis ke perifer.
• Syaraf motorik (syaraf efferen), yaitu menghantarkan impuls
dari otak dan medulla spinalis ke perifer.
• Syaraf campuran, yang mengandung serabut motorik dan
sensorik, sehingga dapat mengantar impuls dalam dua jurusan.
e. Medulla Spinallis

Disebut juga sumsum tulang belakang. Yang terlindung di


dalam tulang belakang dan berfungsi untuk mengadakan komunikasi
anatara otak dan semua bagian tubuh serta berperan dalam : gerak
reflek, berisi pusat pengontrolan yang penting, heart rate contol atau
denyut jantung, pengaturan tekanan darah, pernafasan, menelan,
muntah.

f. Susunan Syaraf Perifer

Sistem syaraf perifer menyampaikan informasi antara jaringan


dan saraf pusat (CNS) dengan cara membawa signals dari syaraf
pusat ke CNS. Susunan syaraf terbagi menjadi 2, yaitu :

g. Susunan syaraf somatic

Susunan syaraf yang memiliki peranan yang spesifik untuk


mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang, jadi syraf ini
melakuakan sistem pergerakan otot yang di sengaja atau tanpa
sengaja

h. Susunan syaraf otonom

Susunan syaraf yang mempunyai peranan penting


mempengaruhi pekerjaan otot sadar atau serat lntang, dengan
membawa informasi ke otot halus atau otot jantung yang dilakuakan
otomatis.Menurut fungsinya susunan syaraf otonom terdiri dari dua
bagian yaitu:

• Susunan syaraf simpatis


• Susunan syaraf para simpatis
9

2.4. Klasifikasi
2.4.1. Ensefalitis Supurativa
Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah :
staphylococcus aureus, streptococcus, E.coli dan M.tuberculosa.
Patogenesis, Peradangan dapat menjalar ke jaringan otak dari otitis
media, mastoiditis, sinusitis, atau dari piema yang berasl dari radang,
abses di dalam paru, bronchiektasi, empiema, osteomeylitis cranium,
fraktur terbuka, trauma yang menembus ke dalam otak dan
tromboflebitis. Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman yang
bersarang adalah edema, kongesti yang disusul dengan pelunakan
dan pembentukan abses. Disekeliling daerah yang meradang
berproliferasi jaringan ikat dan astrosit yang membentuk kapsula.
Bila kapsula pecah terbentuklah abses yang masuk ventrikel.
Manifestasi klinis : Secara umum gejala berupa trias ensefalitis :
demam, kejang, kesadaran menurun. Bila berkembang menjadi
abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum, tanda-tanda
meningkatnya tekanan intracranial yaitu : nyeri kepala yang kronik
dan progresif,muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran
menurun, pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. Tanda-
tanda deficit neurologist tergantung pada lokasi dan luas abses.

2.4.2. Ensefalitis Siphylis


Patogenesis : disebabkan oleh Treponema pallidum. Infeksi
terjadi melalui permukaan tubuh umumnya sewaktu kontak seksual.
Setelah penetrasi melalui epithelium yang terluka, kuman tiba di
sistim limfatik, melalui kelenjar limfe kuman diserap darah sehingga
terjadi spiroketemia. Hal ini berlangsung beberapa waktu hingga
menginvasi susunansaraf pusat. Treponema pallidum akan tersebar
diseluruh korteks serebri dan bagian-bagian lain susunan saraf pusat.

a. Manifestasi klinis
• Gejala-gejala neurologist : Kejang-kejang yang datang dalam
serangan-serangan, afasia, apraksia, hemianopsia, kesadaran
mungkin menurun,sering dijumpai pupil Agryll-Robertson,
10

nervus opticus dapat mengalami atrofi. Pada stadium akhir timbul


gangguan-gangguan motorik yang progresif.
• Gejala-gejala mental : Timbulnya proses dimensia yang
progresif, intelgensia yang mundur perlahan-lahan yang mula-
mula tampak pada kurang efektifnya kerja, daya konsentrasi
mundur, daya ingat berkurang, daya pengkajian terganggu.
2.4.3. Ensefalitis virus
Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia :

.a. Virus RNA


• Paramikso virus : virus parotitis, irus morbili
• Rabdovirus : virus rabies
• Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B,
virus dengue)
• Picornavirus : enterovirus (virus polio, coxsackie A, B,
echovirus)
• Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoria
.b. Virus DNA
• Herpes virus : herpes zoster-varisella, herpes simpleks,
sitomegalivirus, virus Epstein-barr
• Poxvirus : variola, vaksinia
• Retrovirus : AIDS
• Manifestasi klinis : Dimulai dengan demam, nyeri kepala,
vertigo, nyeri badan, nausea, kesadaran menurun, timbul
serangan kejang-kejang, kaku kuduk, hemiparesis dan
paralysis bulbaris.
2.4.4. Ensefalitis parasit
a. Malaria serebral
Plasmodium falsifarum penyebab terjadinya malaria serebral.
Gangguan utama terdapat didalam pembuluh darah mengenai
parasit. Sel darah merah yang terinfeksi plasmodium falsifarum akan
meleka satu sama lainnya sehingga menimbulkan penyumbatan-
11

penyumbatan. Hemorrhagic petechia dan nekrosis fokal yang


tersebar secara difus ditemukan pada selaput otak dan jaringan otak.

Gejala-gejala yang timbul : demam tinggi.kesadaran menurun


hingga koma. Kelainan neurologik tergantung pada lokasi
kerusakan-kerusakan.

b. Toxoplasmosis
Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak menimbulkan
gejala-gejala kecuali dalam keadaan dengan daya imunitas menurun.
Didalam tubuh manusia parasit ini dapat bertahan dalam bentuk kista
terutama di otot dan jaringan otak.

c. Amebiasis
Amuba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh melalui hidung ketika
berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan
meningoencefalitis akut. Gejala-gejalanya adalah demam akut,
nausea, muntah, nyeri kepala, kaku kuduk dan kesadaran menurun.
d. Sistiserkosis
Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia. Larva menembus
mukosa dan masuk kedalam pembuluh darah, menyebar ke seluruh
badan. Larva dapat tumbuh menjadi sistiserkus, berbentuk kista di
dalam ventrikel dan parenkim otak. Bentuk rasemosanya tumbuh
didalam meninges atau tersebar didalam sisterna. Jaringan akan
bereaksi dan membentuk kapsula disekitarnya.
Gejala-gejala neurologik yang timbul tergantung pada lokasi
kerusakan.
2.4.5. Ensefalitis berdasarkan Fungus
Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : candida
albicans, Cryptococcus neoformans, Coccidiodis, Aspergillus,
Fumagatus dan Mucormycosis. Gambaran yang ditimbulkan infeksi
fungus pada sistim saraf pusat ialah meningo-ensefalitis purulenta.
Faktor yang memudahkan timbulnya infeksi adalah daya imunitas
yang menurun.
12

2.4.6. Riketsiosis Serebri


Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan kutu dan
dapat menyebabkan Ensefalitis. Di dalam dinding pembuluh darah
timbul noduli yang terdiri atas sebukan sel-sel mononuclear, yang
terdapat pula disekitar pembuluh darah di dalam jaringan otak.
Didalam pembuluh darah yang terkena akan terjadi trombosis.
Gejala-gejalanya ialah nyeri kepala, demam, mula-mula sukar tidur,
kemudian mungkin kesadaran dapat menurun. Gejala-gejala
neurologik menunjukan lesi yang tersebar.

2.5. Manifestasi Klinis


Masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari. Secara umum, gejala
berupa trias ensefalitis yang terdiri dari demam, kejang dan kesadaran
menurun. Suhu badan meningkat, fotofobia, sakit kepala, muntah letargi,
kadang disertai kaku kuduk jika mengenai meningen (Muttaqin, 2008).

Pada ensefalitis supuratif akut yang berkembang menjadi abses serebri,


akan timbul gejala-gejala sesuai dengan proses patologis yang terjadi di otak.
Gejala-gejala tersebut adalah infeksi umum. Tanda-tanda meningkatnya
tekanan intrakranial yaitu nyeri kepala yang kronik, muntah, pengelihatan
kabur, kejang, kesadaran menurun. Pada pemeriksaan mungkin terdapat
edema pupil. Tanda-tanda deficit neurologis tergantung pada lokasi dan luas
abses (Mansjoer.2000)

2.6. Faktor Predisposisi


1) Usia: anak-anak kecil dan lansia lebih mudah mengalami radang otak.
Kondisi ini juga memengaruhi kelompok orang tertentu dengan usia di
antara 20-40 tahun.
2) Sistem imun yang melemah: orang dengan HIV/AIDS, atau
menggunakan obat yang melemahkan imun dapat memiliki sistem imun
yang menurun sehingga meningkatkan risiko radang otak.
3) Tinggal di daerah dengan populasi nyamuk atau kutu pembawa virus
meningkatkan risiko mengalami radang otak.
13

2.7. Patofisiologi
Organisme piogenik seperti bakteri masuk melalui peredaran darah,
penyebaran langsung komplikasi luka tembus dan kelainan kardio pulmonal.
Penyebaran melalui pembuluh darah dalam bentuk sepsis atau berasal dari
radang fokal dibagian lain didekat otak. Penyebaran langsung dapat melalui
tromboflebilitis, osteomyelitis, infeksi telinga bagian tengah dan sinus
paranasales. Mula-mula terjadi peradangan supuratif pada selaput atau
jaringan otak. Proses peradangan ini membentuk eksudat, thrombosis septik
pada pembuluh darah, dan agregasi leukosit yang sudah mati. Di daerah yang
mengalami peradangan timbul edema, perlukaan dan kongesti jaringan otak
disertai perdarahan kecil. Bagian tengah kemudian melunak dan membentuk
dinding yang kuat membentuk kapsul yang kosentris. Disekeliling abses
terjadi infiltrasi leukosit polimorfonuklear, sel-sel plasma dan limfosit.
Seluruh proses ini memakan waktu kurang dari 2 minggu. Abses dapat
membesar, kemudian pecah dan masuk ke dalam ventrikulus atau ruang
subaraknoid yang dapat mengakibatkan meningitis (Harsono, 2011).

Encephalitis yang disebabkan oleh virus terjadi melalui virus-virus


yang melalui parotitis, morbili, varisella dan lan-lain. Masuk kedalam tubuh
manusia melalui saluran pernafasan. Virus polio dan entero virus melalui
mulut, virus herpes simpleks melalui mulut atau mukosa kelamin. Virus-
virus yang lain masuk ke tubuh manusia melalui inokulasi seperti gigitan
bintang (rabies) atau nyamuk. Bayi dalam kandungan dapat mendapat infeksi
melalui plasenta oleh virus rubella atau cytomegalovirus. Di dalam tubuh
manusia virus memperbanyak diri secara local, kemudian terjadi viremia
yang menyerang susunan saraf pusat melalui kapilaris di pleksus koroideus.
Cara lainnya adalah melalui saraf perifer atau secara retrograde axoplasmic
spread misalnya oleh virus-virus herpes simpleks, rabies dan herper zoster.
Didalam susunan saraf pusat virus menyebar secara langsung atau melalui
ruang ekstraseluler. Infeksi virus dalam otak dapat menyebabkan meningitis
aseptic dan ensefalitis (kecuali rabies). Pada ensefalitis terdapat kerusakan
neuron dan glia dimana terjadi peradangan otak, edema otak peradangan pada
pembuluh darah kecil, thrombosis dan mikroglia (Harsono, 2011
14

2.8. Patways
15

2.9. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Umum
a) Rawat di rumah sakit
b) Kemoterapi
c) Pembedahan
d) Terapi radiasi (brachyterapy atau terapi radiasi eksternal beam
e) Fotokoagulasi (menggunakan laser untuk mematikan tumor,
digunakan untuk tumor yang kecil)
f) Krioterapi (menggunakan probe yang sangat dingin untuk
membekukan dan mematikan tumor)
g) Termoterapi (merupakan terapi panas yang menggunakan
inframerah untuk mematikan tumor, digunakan untuk tumor yang
kecil)
h) Penatalaksanaan secara umum tidak spesifik tujuanya adalah
mempertahankan fungsi organ dengan mengusahakan jalan nafas
tetap terbuka, pemberian makanan enteral atau parenteral, menjaga
keseimbangan cairan dan elektrolit, koreksi gangguan asam basa
darah
i) Atasi kejang
j) Bila tanda peningkatan tekanan intracranial dapat diberikanmenitol
0,5-29/BB IV dalam periode 8-12 jam
k) Pada pasien dengan gangguan menelan akumulasi lendir pada
tenggorokan paralisis pita suara dan otot nafas dilakukan drainase
postural dan aspirasi mekanis yang periodik

2.10. Pemeriksan Diagnosis


a. Anamnesa

Penegakan diagnosa ensefalitis dimulai dengan proses anamnesa


secara lengkap mengenai adanya riwayat terpapar dengan sumber
infeksi, status immunisasi, gejala klinis yang diderita, riwayat
menderita gejala yang sama sebelum serta ada tidaknya faktor resiko
yang menyertai.
16

b. Pemeriksaan Fisik

Melakukan pemeriksaan neurologis yang bertujuan untuk


membedakan antara ensefalitis dan meningitis virus. Pada ensefalitis
pemeriksaan neurologis mengungkap perubahan pada sensorium dan
perubahan neurologis fokal. Temuan neurologis beragam dan
mencerminkan area otak yang terlibat

c. Pemeriksaan Penunjang
a) Gambaran cairan serebrospinal
dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu.
Biasanya berwarna jernih jumlah sel 50-200 dengan dominasi
lemfosit. Kadar protein kadang-kadang meningkat sedangkan
glukosa masih dalam batas normal. Gambaran EEG memprlihatkan
proses inflamasi. Bila terdapat tanda klinis vokal yang ditunjang
dengan gambaran EEG atau CTScan dapat dilakukan biopsi di
daerah otak yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis vokal,
biopsi dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya
menjadi predileksi virus herpes simplex.
b) Biopsi otak
Biopsi otak jarang dilakukan kecuali untuk mendiagnosa adanya
herpes simplek ensefalitis yang jika tidak mungkin dilakukan
metode DNA atau CTScan dan MRI
c) Pemeriksaan imaging otak
Diantara CTScan dan MRI yang dapat mendeteksi adanya
pembengkakan otak jika pemeriksaan imaging memiliki tanda-
tanda dan gejala yang menjurus ke ensefalitis maka lumbal fungsi
harus dilakukan untuk melihat apakah terdapat peningkatan
tekanan intrakranial.
17

d) Pemeriksaan darah
Polymerase Chain Reation (PCR) pemeiksaan ini merupakan
metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya infeksi HSV 1,
enterovirus 2, pada susunan saraf pusat

2.11. Komplikasi
a. Retardasi mental
b. Iritabel
c. Gangguan motorik
d. Epilepsi
e. Emosi tidak stabil
f. Sulit tidur
g. Halusinasi
h. Enuresis
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Kasus
Anak S berusia 6 tahun dirawat di bangsal anak. Anak mengalami
demam sudah lebih dari 3 hari, pasien mengalami kejang dihari pertama
masuk ke Rumah Sakit, pasien sering merasakan mual, muntah. Klien juga
cenderung mengalami delirium, binggung, stupor atau koma, hemiparesis,
serta ataxia. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan hasil: Kesadaran CM, TD
100/60mmHg, Nadi 110x/menit, Respirasi 24x/menit, 38,80oC, nyeri kepala
skala 8, mukosa kering

Ayah pasien mengatakan anaknya sering mual, muntah, sakit kepala,


cekot-cekot bagian kepala. Keluarga pasien mengatakan sangat cemas
dengan keadaan anaknya, meskipun kejadian seperti ini sudah dialaminya
sebanyak 3 kali. Keluarga juga mengatakan kasihan dengan keadaan anaknya
saat ini. Ayah pasien mengatakan dikeluarganya tidak ada yang terkena
penyakit seperti ini, hanya saja ibu pasien terkena TBC dan sudah meninggal
2 tahun yang lalu. Ayah pasien mengatakan kesulitan memberikan makan
dan minum pada anaknya dikarenakan anaknya selalu meminta makanan
junk food dan minuman es.

18
19

3.2. Analisa data


No Sign & symptom Problem Etiologi

1. Ds: Ayah pasien mengatakan Ketidakseimbangan Faktor Biologis


kesulitan memberikan makan nutrisi kurang dari
dan minum pada anaknya kebutuhan tubuh
dikarenakan anaknya selalu
meminta makanan junk food
dan minuman es.

Do: pasien tampak lemas,


mukosa kering

2 Ds : Ayah pasien mengatakan Gangguan rasa Gejala terkait


anaknya sering mual, muntah, nyaman penyakit
sakit kepala, cekot-cekot
bagian kepala.

Do : Kesadaran CM, TD
100/60mmHg, Nadi
110x/menit, Respirasi
24x/menit, 38,80oC, nyeri
kepala skala 8.

3 Ds : Ibu anak mengatakan Hipertermi Penyakit


bahwa anak nya mengalami
demam sudah lebih dari 3 hari,
kejang di hari pertama masuk
rumah sakit, dan muntah

Do : suhu 38,80°C , stupor atau


koma.

19
20

4 Ds: nyeri kepala anak Nyeri akut Agen cidera


didapatkan hasil dengan skala biologis
8

Do: anak juga cenderung


mengalami delirium, bingung,
stupor/koma, hemiparesis,
serta ataxia

Diagnosa keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubugan dengan
faktor biologis yang ditandai dengan ayah pasien mengatakan kesulitan
memberikan makan dan minum pada anaknya dikarenakan anaknya selalu
meminta makanan junk food dan minuman es.
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit yang ditandai
dengan sering mual, muntah, sakit kepala, cekot-cekot bagian kepala.
3. Hipertermi berhubungan dengan penyakit yang ditandai dengan Ibu anak
mengatakan bahwa anak nya mengalami demam sudah lebih dari 3 hari, kejang di
hari pertama masuk rumah sakit, dan muntah
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis yang ditandai dengan nyeri
kepala anak didapatkan hasil dengan skala 8

20
21

3.3. Tujuan dan Intervensi

Perencanaan
No Diagnosa Keperawatan
NOC NIC Rasionalisasi

1. Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan Konseling Nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh tindakan asuhan 1. Kaji asupan makanan 1. Upaya untuk memantau asupan
berhubugan dengan faktor keperawatan selama 2x24 dan kebiasaan makan nutrisi pasien
biologis yang ditandai dengan jam pasien membaik pasien 2. Memfasilitasi keluarga
ayah pasien mengatakan dengan indicator: 2. Sediakan mengenai masalah yang
kesulitan memberikan makan Status Nutrisi: Asupan konsultasi/rujukan dialami pasien
dan minum pada anaknya Nutrisi dengan anggota 3. Untuk mengetahui asupan
dikarenakan anaknya selalu 1. Asupan Kalori kesehatan lain sesuai pasien yang masuk perharinya
meminta makanan junk food (skala 2 menjadi kebutuhan 4. Memantau keadaan umum
dan minuman es. skala 5) 3. Bantu pasien untuk pasien dan mencegah penyakit
2. Asupan Serat (skala mencatat makanan yang yang akan muncul
2 menjadi skala 5) biasanya dimakan
3. Asupan Vitamin dalam waktu 24 jam
(skala 2 menjadi 4. Kaji ulang pengukuran
skala 5) intake dan output cairan
pasien, nilai HB, TD,

21
22

4. Asupan Zat besi atau penambahan dan


(skala 2 keskala 5) penurunan berat badan
5. Asupan Kalsium ( sesuai kebutuhan
skala 2 menjadi 5

2. Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan Manajemen Nyeri Manajemen Nyeri


berhubungan dengan gejala tindakan asuhan O: Lakukan pengkajian nyeri 1. Mengetahui tingkat nyeri.
terkait penyakit yang ditandai keperawatan 1x24 jam, di komprehensif yang meliputi 2. Mengetahui prinsip-prinsip
dengan sering mual, muntah, harapkan pasien membaik, lokasi, karakteristik, manajemen nyeri saat melakukan
sakit kepala, cekot-cekot bagian dengan indikator: onset/durasi, frekuensi, tindakan.
kepala. Tingkat Nyeri kualitas, intensitas atau 3. Mengetahui informasi mengenai
1. Nyeri yang beratnya nyeri dan factor nyeri
dilaporkan (dari 1 pencetus. 4. Tindakan yang tepat untuk
ke 4). N: ajarkan prinsip-prinsip mengurangi nyeri.
2. Eksoresi nyeri manajemen nyeri
wajah (skala 1 ke E: berikan informasi
4). mengenai nyeri , seperti
3. Mual (skala 2 ke 4). penyebab nyeri, berapa lama
4. Menyeringit (skala nyeri, dan antisipasi dari Pengurangan kecemasan
1 ke 4). ketidaknyamanan. 1. mengetahui kecemasan klien.

22
23

Status Kenyamanan C: kolaborasi dengan pasien, 2. dasar untuk kelancaran


1.kontrol terhadap orang terdekat, dan tim hubungan interaksi
gejala (skala 1 ke 4). kesehatan lainnya untuk selanjutnya.
2.Kesejahteraan memilih dan 3. Mengetahui perawatan atau
psikologis (skala 1 ke mengimplementasikan tindakan yang tepat.
4). tindakan penurun nyeri. 4. Membantu pasien untuk
3.Dukungan social dari mengurangi kecemasan.
keluarga (skala 4 k3 Pengurangan kecemasan
5).
O: Identifikasi pada saat
terjadi perubahan tingkat
kecemasan
N: Gunakan pendekatan yang
tenang dan meyakinkan.
E: Berikan informrmasi
factual terkait diagnosis,
perawatan dan prognosis.
C: Dorong keluarga untuk
mendampingi klien dengan
cara yang tepat.

23
24

3. Hipertermi berhubungan Setelah dilakukan Perawatan Hipertermi


dengan penyakit di tandai tindakan asuhan 1. Pastikan kepatenan jalan 1. untuk memastikan kepatenan
dengan Ibu anak mengatakan keperawatan selama 2x24 nafas jalan nafas
bahwa anak nya mengalami jam pasien membaik
2. Monitor tanda tanda vital 2. untung mengetahui tanda tanda
demam sudah lebih dari 3 hari, dengan indicator:
kejang di hari pertama masuk Termoregulasi 3. monitor abnormalis status vitasl pasien

rumah sakit, dan muntah 1. Berkeringat saat panas mental ( Misal nya, bingung, 3. untuk mengetahui adanya ke

(skala 2 ke skala 5) perilaku bizzare, cemas, hilang abnormalitasan pada pasien

2. menggigil saat dingin nya koordinasi, agitasi, kejang,

(skala 2 ke skala 5) dan koma)

3. Hipertermi (skala 2 ke
Manajemen Kejang
skala 5)
Manajemen Kejang
4. peningkatan suhu kulit 1. Untuk terus memantau agar
1. tetap disisi klien selama tidak terjadi hal hal yang tidak di
(skala 2 ke skala 5)
(klien mengalami) kejang inginkan
2. monitor tanda tanda vital 2. untuk mengetahui perubahan
3. catat lama kejang tanda tanda vital pasien

4. catat karakteristik kejang 3. untuk mengetahui lama nya


(missal nya keterlibatan pasien mengalami kejang

24
25

anggota tubuh, aktivitas 4. untuk mengetahui karakteristik


motoric dan kejang progresif) kejang pasien

5. berikan obat anti kejang


dengan benar

4. Nyeri akut berhubungan dengan Setelah dilakukan 2x24 Manajemen nyeri 1. Upaya untuk memantau nyeri
agen cedera biologis yang jam pertemuan pasien 1. Lakukan pengkajian yang sedang dirasakan
ditandai dengan nyeri kepala membaik dengan nyeri komprehensif 2. Memberikan cara alternative
anak didapatkan hasil dengan indikator yang meliputi lokasi, untuk mengurangi rasa nyeri
skala 8 Kontrol Nyeri karakteristik, pada pasien

onset/durasi, 3. Memfasilitasi keluarga


a. Mengenali kapan
frekuensi, kualitas, dalam upaya menangani
nyeri terjadi (skala 2
intensitas atau nyeri yang dirasakan anak
menjadi skala 5)
beratnya nyeri dan 4. Upaya untuk mengurangi
b. Menggunakan
faktor pencetus tingkat keparahan nyeri yang
analgesic yang
2. Pastikan perawatan terjadi
direkomendasikan
(skala 2 menjadi analgesic bagi pasien

skala 4) dilakukan dengan

c. Melaporkan nyeri pemantauan yang ketat

yang terkontrol

25
26

(skala 2 menjadi 3. Bantu keluarga dalam


skala 4) mencari dan
d. melaporkan menyediakan dukungan
perubahan terhadap 4. Informasikan timkes lain/
gejala nyeri pada anggota keluarga
professional mengenai strategi non
kesehatan (skala 2 farmakologi yang sedang
keskala 5) digunakan untuk
e. mengenali apa yang mendorong pendekatan
terkait dengan gejala preventif terkait dengan
nyeri ( skala 2 manajemen nyeri
menjadi 5)

26
27

3.4. Implementasi Dan Evaluasi


No Diagnose keperawatan Implementasi Evaluasi

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari 1. Mengkaji asupan makanan dan S: keluarga pasien mengatakan
kebutuhan tubuh berhubugan dengan faktor kebiasaan makan pasien keadaan anaknya makin
biologis yang ditandai dengan ayah pasien 2. Menyediakan konsultasi/rujukan membaik dan mau makan dan
mengatakan kesulitan memberikan makan dengan anggota kesehatan lain sesuai minum lagi
dan minum pada anaknya dikarenakan kebutuhan O: Pasien tampak bertenaga dan
anaknya selalu meminta makanan junk food 3. Membantu pasien untuk mencatat ceria kembali
dan minuman es. makanan yang biasanya dimakan dalam
A: Masalah ketidakseimbangan
waktu 24 jam
nutrisi kurang dari kebutuhan
4. Mengkaji ulang pengukuran intake dan
tubuh sudah teratasi
output cairan pasien, nilai HB, TD, atau
penambahan dan penurunan berat badan P: Mengedukasi pasien terkait

sesuai kebutuhan kebutuhan nurtisi untuk dirumah

2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan 08.00 S : pasien mengatakan nyeri dan
gejala terkait penyakit yang ditandai dengan Melakukan pengkajian nyeri dan kecemasan cemas mulai berkurang.
sering mual, muntah, sakit kepala, cekot- pasien serta memberikan informasi mengenai
cekot bagian kepala.

27
28

nyeri dan cara mengurangi kecemasan akibat O : pasien compos mentis, masih
nyeri. terlihat menahan nyeri dan terlihat
cemas akibat nyeri.
10.00
Mengajarkan pasien tentang prisip-prinsip A : masalah gangguan rasa nyaman
manajemen nyeri. belum teratasi.

12.00 P: intervensi dilanjutkan.


Mengajarkan pasien untuk membantu
mengurangi kecemasan akibat nyeri.
3 Hipertermi berhubungan dengan penyakit 08.00 S : Pasien mengatakan masih
ditandai dengan Ibu anak mengatakan bahwa Pastikan kepatenan jalan nafas demam namun sudah sedikit
anak nya mengalami demam sudah lebih dari berkurang
10.00
3 hari, kejang di hari pertama masuk rumah
sakit, dan muntah Monitor tanda tanda vital O: pasien tampak pucat
11.00 A : Masalah Hipertermi belum
teratasi
monitor abnormalis status mental ( Misal
nya, bingung, perilaku bizzare, cemas, hilang
P : Lanjutkan intervensi
nya koordinasi, agitasi, kejang, dan koma)

28
29

4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera 1. Melakukan pengkajian nyeri S: keluarga pasien mengatakan
biologis yang ditandai dengan nyeri kepala komprehensif yang meliputi lokasi, anak sudah mulai tenang dan tidak
anak didapatkan hasil dengan skala 8 karakteristik, onset/durasi, frekuensi, terlalu merasakan nyeri lagi
kualitas, intensitas atau beratnya nyeri
dan faktor pencetus O: pasien tampak mulai rileks,
2. Memastikan perawatan analgesic bagi tenang, dan gelisah berkurang
pasien dilakukan dengan pemantauan
yang ketat A: nyeri akut belum teratasi
3. Membantu keluarga dalam mencari dan
menyediakan dukungan P: lanjutkan intervensi
4. Menginformasikan timkes lain/ anggota
keluarga mengenai strategi non
farmakologi yang sedang digunakan
untuk mendorong pendekatan preventif
terkait dengan manajemen nyeri

29
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Encephalitis adalah peradangan pada jaringan otak dan meningen, yang


dapat disebabkan karena virus, bakteru, jamur dan parasit. Untuk
mengetagui penyebab encephalitis perlu dikakukannya
pemeriksaanbakteriologik dan virulogik pada spesimen feses, sputum,
serum darah ataupun cairan serebrosspinalis yang harus diambil pada hari –
hari pertama.

Meskipun penyembabnya berbeda – beda, gehaka klinis ensefalitis


lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan sebagao kriteria
diagnosis. Secara umum, gejala berupa trias ensepalitis yang terdiri dari
demam, kejang dan kesadaran menurun, sakit kepalam kadang disertai kaku
kuduk apabila infeksi mengenai meningen, dapat terjadi gangguan
pendengaran dan penglihatan

Dan dari kasus yang diangkat diagnosis yang muncul terdiri dari nyeri,
nutrisi kurang, dan gangguan rasa nyaman. Untuk asuhan keperawatannya
sudah dijelaskan dipembahasan sebelumnya.

4.2 Saran

1. Untuk Perawat
Agar meningkatkan kualitas dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien dengan enchepalitis, serta meningkatkan pengetahuan
dengan membaca buku dan mengikuti seminar serta menindaklanjuti
masalah yang belum teratasi.

2. Untuk Mahasiswa
Diharapkan dapat melaksanakan tehnik komunikasi terapeutik dalam
melakukan pengumpulan data maupun dalam melakukan setiap
tindakan keperawatan agar kualitas pengumpulan data dapat lebih baik
sehingga dapat melaksanakan asuhan keperawatan dengan baik.

30
DAFTAR PUSTAKA

kyle, t., & carman, s. (2012). Buku Ajar Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.

riyadi, s., & suharsono. (2010). Asuhan Keperawatan pada Anak Sakit. Yogyakarta:
Gosyen Publishing.

31