You are on page 1of 32

Laporan Pendahuluan

“Anemia”

A. Pengertian
Anemia adalah keadaan di mana masa eritrosit dan/atau masa hemoglobin yang beredar
tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh. Secara laboratoris,
anemia dijabarkan sebagai penurunan kadar hemoglobin serta hitung eritrosit dan hematrokit di
bawah normal (Handayani & Haribowo, 2008)
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan / atau hitung eritrosit lebih rendah dari
nilai normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl (normal : 14 – 16 g/dl) dan Ht< 40 %
(normal : 40 – 48 vol %) pada pria atau Hb < 12 g/dl (normal : 12 – 14 g/dl) dan Ht < 37%
(normal : 37- 43 vol %) pada wanita (Mansjoer, 2001).
Anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass) dan atau
massa hemoglobin sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam
jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity) ( Lubis, 2006).

B. Etiologi
Menurut Fadil (2005) anemia terjadi sebagai akibat gangguan, atau rusaknya mekanisme
produksi sel darah merah. Penyebab anemia adalah menurunnya produksi sel-sel darah merah
karena kegagalan dari sumsum tulang, meningkatnya penghancuran sel-sel darah merah,
perdarahan, dan rendahnya kadar ertropoetin, misalnya pada gagal ginjal yang parah. Gejala
yang timbul adalah kelelahan, berat badan menurun, letargi, dan membran mukosa menjadi
pucat. Apabila timbulnya anemia perlahan (kronis), mungkin hanya timbul sedikit gejala,
sedangkan pada anemia akut yang terjadi adalah sebaliknya. Adapun penyebab dari anemia
adalah sebagai berikut :
1. Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2. Perdarahan
3. Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid, piridoksin,
vitamin C dan copper

C. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah
merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan
nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat
defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan
destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system
retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang
akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera
direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas
1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera). Apabila sel darah merah mengalami penghancuran
dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma
(protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan
berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria). Jadi ada atau tidak adanya
hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi mengenai lokasi
penghancuran sel darah merah abnormal pada pasien dengan hemolisis dan dapat merupakan
petunjuk untuk mengetahui sifat hemolitik tersebut.
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien tertentu disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi, biasanya
dapat diperoleh dengan dasar (1) hitung retikulosit dalam sirkulasi darah, (2) derajat proliferasi
sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat
dengan biopsy; dan (3) ada atau tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemian. Anemia
merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah
merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh.
Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat
kerja organ-organ penting. Salah satunya otak, otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika
kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, lambat
menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Fadil, 2005).

D. Klasifikasi
Menurut Mansjoer (2001) klasifikasi anemia yaitu :
1. Anemia Mikrositik Hipokrom antara lain :
a. Anemia Defisiensi Besi
Anemia ini umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik. Di Indonesia paling
banyak disebabkan oleh infestasi cacing tambang (ankilostomiasis). Infestasi cacing
tambang pada seseorang dengan makanan yang baik tidak akan menimbulkan anemia.
Bila disertai malnutrisi, baru akan terjadi anemia.
b. Anemia Penyakit Kronik
Penyakit ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi, seperti
infeksi ginjal, paru-paru (abses, empiema dll), inflamasi kronik (artritis reumatoid) dan
neoplasma.
2. Anemia Makrositik antara lain:
a. Defisiensi Vitamin B12
Kekurangan vitamin B12 akibat faktor intrinsik terjadi karena gangguan absorpsi
vitamin yang merupakan penyakit herediter autoimun, namun di Indonesia penyebab
anemia ini adalah karena kekurangan masukan vitamin B12 dengan gejala-gejala yang
tidak berat.
b. Defisiensi Asam Folat
Anemia defisiensi asam folat jarang ditemukan karena absorpsi terjadi di seluruh
saluran cerna. Gejalanya yaitu perubahan megaloblastik pada mukosa, mungkin dapat
ditemukan gejala-gejala neurologis, seperti gangguan kepribadian.
3. Anemia karena perdarahan
a. Perdarahan akut
Perdarahan akut akan timbul renjatan bila pengeluaran darah cukup banyak, sedangkan
penurunan kadar Hb baru terjadi beberapa hari kemudian.
b. Perdarahan kronik
Biasanya sedikit - sedikit sehingga tidak diketahui pasien. Penyebab yang sering adalah
ulkus peptikum dan perdarahan saluran cerna karena pemakian analgesik.
4. Anemia Hemolitik
Pada anemia hemolitik terjadi penurunn usia sel darah merah ( normal 120 hari). Anemia
terjadi hanya bila sumsum tulang telah tidak mampu mengatasinya karena usia sel darah
merah sangat pendek.
5. Anemia Aplastik
Terjadi karena ketidaksanggupan sumsum tulang untuk membentuk sel-sel darah. Hal ini
bisa karena kongenital namun jarang terjadi.
E. Kriteria Anemia
Untuk memenuhi definisi anemia, maka perlu ditetapkan batas hemoglobin atau hematokrit
yang dianggap sudah terjadi anemia. Batas tersebut sangat dipengaruhi oleh usia,jenis
kelamin,dan ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut.
Batasan yang umum dipengaruhi adalah kriteria WHO. Dinyatakan sebagai anemia bila
tedapat nilai dengan kriteria sebagai berikut:

No Jenis kelamin/ usia Kadar hemoglobin

1 Laki-laki Hb <13gr/dl

2 Perempuan dewasa tidak hamil Hb <12gr/dl

3 Perempuan Hb <11gr/dl

4 Anak usia 6-14 tahun Hb <12gr/dl

5 Anak usia 6 bulan-6 tahun Hb <11gr/dl

Untuk kriteria anemia di klinik, rumah sakit, atau praktik klinik pada umumnya
dinyatakan anemia bila terdapat nilai sebagai berikut :
1. Hb< 10gr/dl
2. Hematokrit <30%
3. Eritrosit< 2,8juta

F. Manifestasi Klinis
Menurut Handayani dan Haribowo (2008), gejala anemia dibagi menjadi tiga golongan
besar yaitu sebagai berikut:
1. Gejala Umum Anemia
Gejala anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau Anemic
syndrome. Gejala umum anemia atau sindrom anemia adalah gejala yang timbul pada semua
jenis Anemia pada kadar hemoglobin yang sudah menurun sedemikian rupa di bawah titik
tertentu. Gejala ini timbul karena anoksia organ target dan mekanisme kompensasi tubuh
terhadap penurunan hemoglobin. Gejala-gejala tersebut apabila diklasifikasikan menurut organ
yang terkena antara lain :
a. Sistem kardiovaskuler: lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardi, sesak napas saat beraktivitas,
angina pektoris, dan gagal jantung.
b. Sistem saraf: sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata berkunang-kunang,
kelemahan otot, iritabilitas, lesu, serta perasaan dingin pada ekstremitas.
c. Sistem urogenital: gangguan haid dan libido menurun.
d. Epitel: warna pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit menurun, serta rambut tipis dan
halus.
2. Gejala Khas Masing-Masing Anemia
Gejala khas yang menjadi ciri dari masing-masing jenis anemia adalah sebagai berikut:
a. Anemia defisiensi besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis
b. Anemia defisisensi asam folat: lidah merah (buffy tongue)
c. Anemia hemolitik: ikterus dan hepatosplenomegali
d. Anemia aplastik: perdarahan kulit atau mukosa dan tanda tanda infeksi.
3. Gejala Akibat Penyakit Dasar
Gejala penyakit dasar yang menjadi penyebab anemia. Gejala ini timbul karena penyakit-
penyakit yang mendasari anemia tersebut. Misalnya anemia defisiensi besi yang disebabkan
oleh infeksi cacing tambang berat akan menimbulkan gejala seperti pembesaran parotis dan
telapak tangan berwarna kuning seperti jerami.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut Fadil (2005) antara lain sebagai berikut :
1. Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter status besi yang memberikan suatu ukuran kuantitatif
tentang beratnya kekurangan zat besi setelah anemia berkembang. Pada pemeriksaan dan
pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana seperti Hb sachli,
yang dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan, yaitu trimester I dan III.
2. Penentuan Indeks Eritrosit
Penentuan indeks eritrosit secara tidak langsung dengan flowcytometri atau menggunakan
rumus:
a. Mean Corpusculer Volume (MCV) MCV adalah volume rata-rata eritrosit, MCV akan
menurun apabila kekurangan zat besi semakin parah, dan pada saat anemia mulai
berkembang. MCV merupakan indikator kekurangan zat besi yang spesiflk setelah
thalasemia dan anemia penyakit kronis disingkirkan. Dihitung dengan membagi
hematokrit dengan angka sel darah merah. Nilai normal 70-100 fl, mikrositik< 70 fl dan
makrositik > 100 fl.
b. Mean Corpuscle Haemoglobin (MCH) MCH adalah berat hemoglobin rata-rata dalam
satu sel darah merah. Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan angka sel darah
merah. Nilai normal 27-31 pg, mikrositik hipokrom < 27 pg dan makrositik > 31 pg.
c. Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) MCHC adalah konsentrasi
hemoglobin eritrosit rata-rata. Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan hematokrit.
Nilai normal 30-35% dan hipokrom < 30%.
3. Pemeriksaan Hapusan Darah Perifer
Pemeriksaan hapusan darah perifer dilakukan secara manual. Pemeriksaan menggunakan
pembesaran 100 kali dengan memperhatikan ukuran, bentuk inti, sitoplasma sel darah
merah. Dengan menggunakan flowcytometry hapusan darah dapat dilihat pada kolom
morfology flag.
4. Luas Distribusi Sel Darah Merah (Red Distribution Wide = RDW)
Luas distribusi sel darah merah adalah parameter sel darah merah yang masih relatif baru,
dipakai secara kombinasi dengan parameter lainnya untuk membuat klasifikasi anemia.
RDW merupakan variasi dalam ukuran sel merah untuk mendeteksi tingkat anisositosis yang
tidak kentara. Kenaikan nilai RDW merupakan manifestasi hematologi paling awal dari
kekurangan zat besi, serta lebih peka dari besi serum, jenuh transferin, ataupun serum feritin.
MCV rendah bersama dengan naiknya RDW adalah pertanda meyakinkan dari kekurangan
zat besi, dan apabila disertai dengan eritrosit protoporphirin dianggap menjadi diagnostik.
Nilai normal 15 %.
5. Eritrosit Protoporfirin (EP)
EP diukur dengan memakai haematofluorometer yang hanya membutuhkan beberapa tetes
darah dan pengalaman tekniknya tidak terlalu dibutuhkan. EP naik pada tahap lanjut
kekurangan besi eritropoesis, naik secara perlahan setelah serangan kekurangan besi terjadi.
Keuntungan EP adalah stabilitasnya dalam individu, sedangkan besi serum dan jenuh
transferin rentan terhadap variasi individu yang luas. EP secara luas dipakai dalam survei
populasi walaupun dalam praktik klinis masih jarang.
6. Besi Serum (Serum Iron = SI)
Besi serum peka terhadap kekurangan zat besi ringan, serta menurun setelah
cadangan besi habis sebelum tingkat hemoglobin jatuh. Keterbatasan besi serum karena
variasi diurnal yang luas dan spesitifitasnya yang kurang. Besi serum yang rendah
ditemukan setelah kehilangan darah maupun donor, pada kehamilan, infeksi kronis, syok,
pireksia, rhematoid artritis, dan malignansi. Besi serum dipakai kombinasi dengan parameter
lain, dan bukan ukuran mutlak status besi yang spesifik.
7. Serum Transferin (Tf)
Transferin adalah protein tranport besi dan diukur bersama -sama dengan besi serum.
Serum transferin dapat meningkat pada kekurangan besi dan dapat menurun secara keliru
pada peradangan akut, infeksi kronis, penyakit ginjal dan keganasan.
8. Pemeriksaan Sumsum Tulang
Masih dianggap sebagai standar emas untuk penilaian cadangan besi, walaupun
mempunyai beberapa keterbatasan. Pemeriksaan histologis sumsum tulang dilakukan untuk
menilai jumlah hemosiderin dalam sel-sel retikulum. Tanda karakteristik dari kekurangan
zat besi adalah tidak ada besi retikuler. Keterbatasan metode ini seperti sifat subjektifnya
sehingga tergantung keahlian pemeriksa, jumlah struma sumsum yang memadai dan teknik
yang dipergunakan. Pengujian sumsum tulang adalah suatu teknik invasif, sehingga sedikit
dipakai untuk mengevaluasi cadangan besi dalam populasi umum.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang:
1. Anemia aplastik:
a. Transplantasi sumsum tulang
b. Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit (ATG)
2. Anemia pada penyakit ginjal
a. Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
b. Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3. Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan
untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi
sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb
4. Anemia pada defisiensi besi
a. Dicari penyebab defisiensi besi
b. Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat ferosus.
5. Anemia megaloblastik
a. Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi disebabkan
oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan vitamin B12
dengan injeksi IM.
b. Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama hidup
pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
c. Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam folat 1
mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.

I. Pencegahan
Upaya-upaya untuk mencegah anemia menurut Handayani & Haribowo (2008), antara
lain sebagai berikut:
1. Makan makanan yang mengandung zat besi dari bahan hewani (daging, ikan, ayam, hati, dan
telur); dan dari bahan nabati (sayuran yang berwarna hijau tua, kacang-kacangan, dan
tempe)
2. Banyak makan makanan sumber vitamin c yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan
zat besi, misalnya: jambu, jeruk, tomat, dan nanas
3. Minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat mengalami haid
4. Bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera konsultasikan ke dokter untuk dicari
penyebabnya dan diberikan pengobatan.

J. Komplikasi
Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita anemia akan
mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau gampang terkena infeksi saluran
napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus
ibu hamil dengan anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian,
dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga
mengganggu perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak (Fadil, 2005).
K. Konsep Asuhan Keperawatan Anemia
1. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
1) Gejala : keletihan, kelemahan, malaise, kehilangan produtivitas, penurunan semangat
untuk bekerja, toleransi terhadap latihan rendah, kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih
banyak.
2) Tanda : takikardia/takipnea, dispnea pada bekerja atau istirahat, letargi, menarik diri,
apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya, kelemahan otot dan penurunan kekuatan,
ataksia, tubuh tidak tegak, bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda
lain yang menunjukkan keletihan.
b. Sirkulasi
1) Gejala : riwayat kehilangan darah kronis, mis; perdarahan GI kronis, menstruasi berat,
angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan), riwayat endokarditis infektif kronis,
palpitasi (takikardia kompensasi).
2) Tanda : TD peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar;
hipotensi postural, distrimia, abnormalis EKG, mis; depresi segmen ST dan pendataran
atau depresi gelombang T; takikardia, bunyi jantung ; murmur sistolik, ekstremitas
(warna): pucat pada kulit dan membran mukosa (konjungtiva, mulut, faring, bibir)dan
dasar kuku. (Catatan; pada pasien kulit hitam, pucat tampak sebagai keabu abuan); kulit
seperti berlilin, pucat (aplastik) atau kuning lemon terang. Sklera: Biru atau putih seperti
mutiara. Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokontriksi
kompensasi). Kuku; mudah patah, berbentuk seperti sendok (koikologikia). Rambut;
kering, udah putus, menipis; tumbuh uban secara premature.
c. Integritas ego
1) Tanda : keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, mis; penolakan
transfusi darah.
2) Gejala : depresi.
d. Eliminasi
1) Gejala : riwayat piclonefritis, gagal ginjal, flatulen, sindrom malabsorpsi, hematemasis,
feses dengan darah segar, melena, diare atau konstipasi, penurunan haluaran urine.
2) Tanda ; distensi abdomen.
e. Makanan/cairan
1) Gejala: penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukkan produk
sereal tinggi, nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring), mual/muntah,
dyspepsia, anoreksia, adanya penurunan berat badan.
2) Tanda: membran mukosa kering/pucat.
f. Neurosensori
1) Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan berkonsentrasi.
insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata, kelemahan, keseimbangan
buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki.
2) Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu
berespons, lambat dan dangkal, oftalmik : hemoragis retina (aplastik), epitaksis :
perdarahan dari lubanglubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa
getar, dan posisi, tanda romberg positif, paralysis.
g. Nyeri/kenyamanan
1) Gejala : sakit kepala
2) Tanda : -
h. Pernapasan
1) Gejala : riwayat TB, abses paru, napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
2) Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.
i. Seksualitas
1) Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore. Hilang libido
(pria dan wanita), imppoten.
2) Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan konsentrasi Hb dan
darah, suplai oksigen berkurang
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan faktor biologis
(anemia)
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … x NIC label :
perfusi jaringan perifer 24 jam, diharapkan ketidakefektifan perfusi jaringan Hemodynamic
berhubungan dengan perifer pada klien teratasi dengan kriteria hasil: Regulation
penurunan NOC : Tissue perfusion: cellular
konsentrasi Hb dan 1. Kenali adanya
Indikator IR ER
darah, suplai oksigen perubahan tekanan
Tekanan darah sistol darah
berkurang
Tekanan darah diastol
2. Auskultasi suara paru
Saturasi oksigen
seperti crackel atau
Capillary refill suara lainnya
Output urien
3. Monitor dan
Denyut jantung
dokumentasikan
Muntah denyut jantung, ritme
Mual dan nadi
Penurunan kesadaran 4. Monitor nadi di
Keterangan : sekeliling, kapiler dan
suhu serta warna
1. Keluhan berat
ekstremitas
2. Keluhan cukup
5. Pertahankan
3. Keluhan sedang keseimbangan cairan
dengan memberikan
4. Keluhan ringan cairan IV atau diuretic
dengan tepat
5. Tidak ada keluhan
6. Monitor masukan dan
pengeluaran nutrisi,
keluaran urine, dan
berat badan pasien
dengan tepat.

2 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama NIC Label : Nutritional


nutrisi kurang dari ...x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi pasien therapy
kebutuhan tubuh tercukupi dengan kriteria hasil :
berhubungan faktor NOC : Nutritional status: nutrient intake 1. Menentukan
kerjasama dengan ahli
biologis (anemia) Indikator IR ER
gizi jumlah kalori yang
Intake besi tepat dan jenis nutrisi
yang dibutuhkan untuk
Intake protein memenuhi persyaratan
Intake kalori gizi

Intake vitamin 2. Mendorong


Intake mineral peningkatan konsumsi
protein, zat besi, dan
NOC : Nutritional status : biochemical
vitamin C yang sesuai
measures
Hemoglobin 3. Memberikan pasien
Hematokrit protein tinggi, kalori
tinggi, makanan dan
Serum albumin minuman bergizi yang
Total iron binding capacity siap dapat dikonsumsi
dengan sesuai

Keterangan : 4. Monitor catatan


asupan untuk
1. Keluhan berat kandungan gizi dan
kalori
2. Keluhan cukup
5. Timbang berat pasien
3. Keluhan sedang pada interval yang
4. Keluhan ringan tepat

5. Tidak ada keluhan 6. Memberikan informasi


yang tepat tentang
kebutuhan nutrisi dan
bagaimana
memenuhinya

3 Intoleransi aktivitas Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ..x24 NIC Label : Activity
berhubungan dengan jam diharapkan klien dapat kembali beraktifitas therapy
ketidakseimbangan dengan kriteria hasil :
1. Kaji tanda dan gejala
antara suplai dan NOC : Toleransi terhadap aktivitas
yang menunjukan
kebutuhan oksigen Indikator IR ER ketidaktoleransi
terhadap aktivitas dan
Saturasi oksigen terhadap aktivitas
memerlukan pelaporan
Frekuensi nadi ketika aktivitas terhadap perawat dan
dokter
Frekuensi pernafasan ketika aktivitas
2. Tingkatkan
Tekanan darah sistolik ketika pelaksanaan ROM
beraktivitas pasif sesuai indikasi

Tekanan darah diastolik ketika 3. Buat jadwal latihan


beraktivitas aktivitas secara
bertahap untuk pasien
Warna kulit dan berikan periode
istirahat
Kekuatan tubuh
4. Berikan reinforcemen
Keterangan :
untuk pencapaian
1. Keluhan sangat terganggu aktivitas sesuai
program latihan
2. Keluhan banyak terganggu
5. Bantu klien untuk
3. Keluhan cukup terganggu mengidentifikasi
aktifitas yang mampu
4. Keluhan sedikit terganggu
dilakukan
5. Tidak terganggu
6. Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
kekuatan diri.

NIC Label : Energy


Management

1. Monitor respon
kardiorespirasi
terhadap aktivitas
(takikardi, disritmia,
dispneu, diaphoresis,
pucat, tekanan
hemodinamik dan
jumlah respirasi)

2. Bantu pasien untuk


mengidentifikasi
pilihan-pilihan
aktivitas

3. Rencanakan aktivitas
untuk periode dimana
pasien mempunyai
energi paling banyak

4. Monitor pola tidur


pasien dan jumlah jam
tidur
5. Dorong bedrest

6. Pantau asupan nutrisi


untuk memastikan
sumber daya energi
yang memadai

7. Monitor pasien dari


kelelahan fisik dan
emosional berlebihan

8. Atur kegiatan fisik


klien untuk
mengurangi hambatan
suplai oksigen ke
fungsi tubuh yang vital
(misalnya menghindari
aktivitas segera
setelah makan)

9. Gunakan latihan ROM


pasif dan atau aktif
untuk meredakan
ketegangan otot.
L. Contoh Kasus
A. Pengkajian
1. Identitas
a. Biodata pasien
Nama : Ny. A
Umur : 55 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
No. Registrasi : 01010110
Diagnosa medis : Anemia Hipokromik Mikrositik
Tanggal MRS : 1 Juli 2018
Tanggal Pengkajian : 2 Juli 2018
Alamat : Ds. A, Kec. K, Kab. J
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. N
Umur : 60 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani
Hubungan dengan pasien : Suami
Alamat : Ds. A, Kec. K, Kab. J
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien mengatakan lemas
b. Riwayat kesehatan sekarang
SMRS : Pada tanggal 1 Juli 2018 jam 12.00 WIB pasien mengatakan badannya lemas,
pucat, pusing, tidak BAB selama lima hari BAB hanya sedikit berwarna hitam dengan
konsistensi keras, mual, tidak muntah, nafsu makan menurun. Kemudian keluarga membawa
pasien ke IGD RSUD X.
MRS : Pada tanggal 1 Juli 2018 jam 15.00 pasien mengatakan badannya lemas, pusing,
BAB hitam padat kemudian pasien didiagnosa mengalami anemia hipokromik mikrositik dengan
HB 5,8 g/dl kemudian pasien dirawat inap diruang X untuk ditangani lebih lanjut.
Saat pengkajian : Pada tanggal 2 Juli 2018 jam 07.00 WIB pasien mengatakan badan
lemas, pucat, tidak bertenaga, pasien sudah BAB berwarna hitam konsistensi keras dan sedikit.
Hasil HB pasien 5,8 g/dL.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang sama.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita gejala penyakit
yang sama dengan pasien dan tidak ada riwayat penyakit menurun seperti hipertensi, diabetes,
stroke.
e. Genogram
3. Pengkajian Pola Fungsional
a. Pemeliharaan kesehatan
Pasien mengatakan bahwa dia sedang mengalami sakit kurang darah.
Pasien mengatakan jika sakit jarang pergi ke Puskesmas dan sering
mengkonsumsi jamu. Dalam keluarga pasien, sehat berarti mampu melakukan
kegiatan sehari-hari tanpa gangguan. Keluarga sangat berharap bahwa penyakit
yang diderita pasien akan segera membaik dan pasien segera pulang.
b. Nutrisi – pola metabolik
Sebelum : Makan : Pasien mengatakan pasien makan 2x/hari dengan
sakit nasi dan lauk pauk dengan setengah piring.

Minum: Pasien mengatakan pasien minum 6 gelas/hari.

Selama : Makan : Pasien mengatakan selama mengalami sakit, pola


sakit makan pasien menjadi tidak teratur dengan porsi sedikit.
Pasien hanya makan tiga sendok dan tidak mau makan
buah. Saat dikaji porsi makan pasien mulai bertambah
dengan ditandai makanan pasien sisa sedikit.

Minum : pasien mengatakan dalam sehari pasien minum


hanya 3 gelas.

c. Pola eliminasi
Pola defekasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan pasien BAB 1x/hari dengan
konsistensi lunak dan warna khas.
Selama sakit : Pasien mengatakan selama sakit dan sebelum di rawat
di rumah sakit 5 hari belum bisa BAB. Pada saat di
kaji pasien sudah BAB dengan konsistensi keras,
sedikit dan berwarna hitam.

d. Pola eliminasi urin


Sebelum sakit : Pasien mengatakan pasien BAK 5-7x/hari dengan
warna kuning dan bau yang khas.

Selama sakit : Pasien mengatakan pasien BAK 4x/hari dengan warna


kuning dan bau yang khas.

e. Aktifitas-pola latihan
Sebelum : Pasien mengatakan bahwa sebelum sakit pasien melakukan
sakit semua aktivitas secara mandiri baik makan atau minum,
mandi, toileting, berpakaian. mobilitas, berpindah dan
ambulasi.

Selama sakit : Pasien mengatakan bahwa selama sakit semua aktivitas


dilakukan dengan bantuan. Penjelasan sebagai berikut:

Kemampuan dalam perawatan diri 0 1 2 3 4


Makan/minum √
Mandi √
Toileting √
Berpakaian √
Mobilitas di tempat tidur √
Berpindah √
Ambulasi/ROM √
Keterangan :
0 = mandiri
1= dengan alat
2 = dibantu orang lain
3 = di bantu orang lain dan alat
4 = tergantung total
f. Pola kognitif dan sensori
Kognitif :
1) Penglihatan
Pasien tetapi tidak menggunakan kacamata, lapang pandang pasien masih bagus.
2) Pendengaran
Pasien mengatakan pendengaran pasien masih jelas ditandai dengan pasien masih dapat menjawab
pertanyaan dengan jelas.
3) Pengecap
Pasien mengatakan pasien masih dapat membedakan rasa antara manis, pahit, asam dan asin
dengan baik.
4) Sensasi
Pasien mengatakan pasien masih dapat membedakan panas, dingin, sakit maupun nyeri.
Sensori:
Pasien masih mampu berbicara dengan baik, tetapi dalam menjawab pertanyaan tidak sesuai
dengan pertanyaan yang diajukan. Keluarga pasien mengatakan pasien sering mengalami kelupaan
atau demensia.
g. Pola istirahat-tidur
1) Sebelum sakit : Pasien mengatakan sebelum dirawat di RS X tidak mengalami gangguan tidur.
Pasien tidur jam 21.00 WIB-04.00.
2) Setelah sakit : Pasien mengatakan semenjak sakit, pola tidur pasien mengalami perubahan dari
jam 03.00 WIB-05.00 dan siang tidak tertidur.
3) Selama dirawat di RS X : pola tidur pasien mengalami perbaikan kembali dari jam 22.00-04.00
WIB terutama ketika pasien sudah transfusi darah.
h. Pola konsep diri
1) Gambaran diri/body image
Pasien mengatakan bahwa merasa bersyukur dengan anugerah yang Tuhan telah berikan
kepadanya karena anggota badannya tidak mengalami kecacatan.
2) Identitas diri
Pasien adalah seorang perempuan, dan mengatakan merasa puas dengan keadaannya.
3) Peran
Pasien berperan sebagai seorang istri. Pasien memiliki satu orang anak perempuan.
4) Ideal diri
Pasien mengatakan bahwa walaupun sudah tua, tetapi harus tetap bersemangat sehingga dapat
tetap bermanfaat dan melakukan aktivitas secara mandiri.
5) Harga diri
Pasien tidak merasa malu karena menderita penyakit anemia mikrositik.

6) Pola peran dan hubungan


Selama dirawat di rumah sakit pasien ditunggu oleh anak. Pasien memiliki satu orang anak
perempuan. Hubungan dengan anggota keluarga yang lain baik-baik saja dan tidak ada masalah
didalam keluarganya.
7) Pola reproduksi dan seksual
Pasien berjenis kelamin perempuan Pasien tidak menggunakan alat kontrasepsi dan sudah
mengalami menopause.
8) Pola pertahanan diri/koping
Pasien mengatakan jika ada masalah keluarga, menyelesaikannya dengan cara musyawarah.
Pasien mengatakan pasien termasuk orang yang terbuka. Sehingga jika ada masalah selalu
diceritakan pada anak ataupun anggota keluarga yang lain.
9) Pola keyakinan dan nilai
Pasien mengatakan bahwa pasien beragama Islam, sebelum sakit pasien melakukan ibadah
dengan baik seperti sholat lima waktu. Selama di RS pasien tidak melaksanakan ibadah sama
sekali karena pasien terpasang infus dan keterbatasan fisik.
i. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum : Lemah
2) Tingkat kesadaran : Composmetis
3) Tanda – tanda vital
Tekanan darah : 100 / 60 mmHg
Nadi : 80 x / menit
Pernafasan : 20 x / menit
Suhu : 36,2 0 C
SpO2 : 99%
4) Berat badan dan tinggi badan
Berat badan dan tinggi badan telah dikaji namun keluarga pasien tidak tahu dan pasien tidak
bersedia untuk dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan.
5) Pemeriksaan head to toe
a) Kepala / rambut
Simetris, warna rambut hitam dan beruban, terlihat rapi, penyebaran rambut merata, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada benjolan, rambut tampak bersih, tidak berketombe.
b) Mata
Simetris, penglihatan cukup tajam, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, reflek pupil
terhadap cahaya baik dan tidak menggunakan alat bantu penglihatan.
c) Telinga
Simetris, tampak bersih, pendengaran normal, tidak ada perdarahan, tidak ada serumen.
d) Hidung
Simetris, tampak bersih, tidak ada benjolan, penciuman normal, tidak ada sekret, tidak ada
kotoran, tidak ada luka, ada bulu hidung, tidak ada perdarahan.
e) Mulut
Simetris, gigi lengkap, tidak bau mulut, tidak kotor, tidak ada sariawan, mukosa lembab,
bibir pucat, tidak ada stomatitis.
f) Leher
Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tampak bersih, tidak ada jaringan parut, tidak
ada lesi, tidak ada peningkatan JVP.
g) Dada dan thorak
Paru-paru
Inspeksi : Gerakan simetris, retraksi dinding dada tidak
terlihat, tidak ada lesi
Perkusi : Sonor diseluruh lapang paru
Palpasi : Focal fremitus kanan dan kiri simetris,
pergerakannya sama
Auskultasi : Vesikuler tidak ada suara nafas tambahan
seperti whezzing dan ronchi
Jantung
Inspeksi : Bentuk dada simetris, Ictus cordis tidaktampak
Perkusi : Redup pada batas jantung
Palpasi : Pulsasi ictus cordis teraba di ICS 5 mid
clavikula sinistra
Auskultasi : Lup dup BJ 1 BJ 2 tunggal tidak ada suara
nafas tambahan seperti mur-mur dan gallop
h) Ketiak
Simetris, bersih, tidak ada benjolan, tidak ada kemerahan, tidak ada pigmentasi.
i) Abdomen
Inspeksi : Simetris, tidak ada lesi
Perkusi : Tympani
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Auskultasi : Bising usus 8x/menit
j) Genetalia
Tidak ada keluhan maupun kelainan.
k) Kulit
Kulit kering, warna sawo matang, terlihat bersih, turgor kulit lebih dari 2 detik, akral
dingin, capillary refill time > 3 detik..
l) Ekstermitas atas
Tidak mengalami odema, tidak ada lesi, kekuatan otot 5, pergerakkan tangan bebas, CRT < 2 detik,
tidak ada sindaktil dan polidaktil, simetris.
m) Ekstermitas bawah
Tidak mengalami odema, tidak ada lesi, kekuatan otot 4, pergerakkan kaki bebas, tidak ada sindaktil
dan polidaktil, simetris, tidak ada varises.

Kekuatan otot 5 5
4 4
Keterangan :
0 = tidak ada gerakan otot
1 = terlihat gerakan otot sedikit tetapi tidak mampu bergeser
2 = dapat bergerak tetapi tidak mampu mengangkat
3 = mampu mengangkat tetapi tidak mampu menahan gravitasi lama
4 = mampu menahan gravitasi tetapi tidak mampu menahan beban
5 = mampu menahan beban dan gravitasi
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada tanggal 1 Juli 2018
DL
Parameter Hasil Nilai Normal Interpretasi
WBC 11,07 (103/uL) 4,8-10,8 Meningkat

RBC 2,42 (106/uL) 4,2-10,8 Menurun

HGB 5,8 (g/dL) 12-16 gr/dL Menurun

HCT 20,1 (%) 37-47 (%) Menurun

MCV 80,7 (fL) 79-99 (fL) Normal

MCH 23,3 (pg) 27-31(pg) Menurun

MCHC 28.9 (g/dL) 33-37 (g/dL) Menurun

PLT 695(103/uL) 150-450 (103/uL) Meningkat

RDW-CV 16,5(%) 11,5-14,5 (%) Meningkat

RDW-SD 46,4(fL) 35-47 (fL) Normal

MPV 9,5 (fL) 7,2-11,1 (fL) Normal

PDW 9,1(fL) 9,0-13,0 (fL) Normal

P-LCR 19,6 (%) 15-25(%) Normal

Deferensial:

Neut 7,39 (103/uL) 1,8-8 (103/uL) Normal

Lymph 2,70 (103/uL) 0,9-5,2 (103/uL) Normal

Mono 0,70 (103/uL) 0,16-1(103/uL) Normal

Eo 0,26 (103/uL) 0,045-0,44(103/uL) Normal

Baso 0,02 (103/uL) 0,-0,2 (103/uL) Normal

Neut % 66,8 (%) 50-70 (%) Normal

Lymph % 24,4 (%) 25-80 (%) Menurun

Mono % 6,3 (%) 2-8 (%) Normal

Eo % 2,3 (%) 2-4 (%) Normal

Baso % 0,2 (%) 0-1(%) Normal


b. Kimia
- Creatinin : Nilai Normal : 0,5-1,2 mg/dl, Hasil : 2,43 mg/dl (peningkatan)
 adanya penurunan fungsi ginjal dalam penyaringan zat dan pembentukan urin.
Kemungkinan adanya kerusakan ginjal
- Urea uv : Nilai Normal : 10-50 mg/dl, Hasil : 95,9 mg/dl (peningkatan)
c. Pemeriksaan Hematologi
Gambaran Darah Tepi :
- Eritrosit : anisositosis sedang, Polikomasi (positif), poikilositosis berat (amilosit, sel
pensil, tear drop, fragmentosit, siferosit).
- Leukosit : estimasi jumlah meningkat, bentuk besar (positif), tidak ada clumping.
HASIL : - Anemia mikrositik hipokromik  anemia defisiensi besi dengan tanda hemolitik
- Leukositosis  infeksi berat
- Trombositosis  trombositosis reaktif (adanya infeksi essensial trombositopenia)
5. Terapi
Tanggal Nama Obat Dosis

2 Juli 2018 Rocer 3x40 mg

Ketorolax 2x30 mg

Captrofil 2x30 mg

Infus NaCl 20 tpm

3 Juli 2018 Omeprazole 3x40 mg

Farsix 3x10 mg/ml

Infus NaCl 20 tpm

B. Analisa data
No. Data Etiologi Masalah
1. DS : Penurunan Ketidakefektifan
Pasien mengatakan lemas dan tidak bertenaga konsentrasi Hb perfusi jaringan
dan darah, perifer
DO : suplai oksigen
- Pasien tampak pucat berkurang
- Pasien tampak lemah
- Konjungtiva anemis
- Akral pasien teraba dingin
- Capilary Refiil Time : > 3 detik
- Hasil laboratorium :
HCT = 20,1 % (N : 37 % - 47% ) 
(menurun)
Hb = 5,8 gr/ dL (N : 12-16 gr/dL) 
(menurun)
- Tanda Tanda Vital :
Tekanan darah = 100/ 60 mmHg
Suhu = 36,2 0 C
Nadi : 80 x/menit
RR = 20 x/menit
SpO2=99%
2. DS : Ketidakseimba Intoleransi
Pasien mengatakan lemas dan tidak bertenaga ngan antara aktivitas
DO : suplai dan
- Pasien tampak pucat kebutuhan
- Pasien tampak lemah oksigen
Hb = 5,8 gr/ dL (N : 12-16 gr/dL) 
(menurun)
- Tanda Tanda Vital :
Tekanan darah = 100/ 60 mmHg
Suhu = 36,2 0 C
Nadi : 80 x/menit
RR = 20 x/menit
SpO2=99%
- Paisen tampak dibantu aktivitas oleh keluarga
- Kekuatan otot 5 5
4 4

C. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan konsentrasi Hb dan darah,
suplai oksigen berkurang
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
D. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
Keperawatan

1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama NIC label :


perfusi jaringan 3x7 jam, diharapkan ketidakefektifan perfusi Hemodynamic
perifer jaringan perifer pada klien teratasi dengan kriteria Regulation
berhubungan hasil:
dengan penurunan NOC : Tissue perfusion: cellular 1. Kenali adanya
konsentrasi Hb perubahan tekanan
Indikator IR ER
dan darah, suplai darah
Tekanan darah sistol 4 5
oksigen berkurang 2. Auskultasi suara paru
Tekanan darah diastol 4 5
seperti crackel atau
Saturasi oksigen 5 5
suara lainnya
Capillary refill 4 5
3. Monitor dan
dokumentasikan
Keterangan : denyut jantung, ritme
dan nadi
1. Keluhan berat
4. Monitor nadi di
2. Keluhan cukup sekeliling, kapiler dan
3. Keluhan sedang suhu serta warna
ekstremitas
4. Keluhan ringan
5. Pertahankan
5. Tidak ada keluhan keseimbangan cairan
dengan memberikan
cairan IV atau diuretic
dengan tepat

6. Monitor masukan dan


pengeluaran nutrisi,
keluaran urine, dan
berat badan pasien
dengan tepat.

2 Intoleransi Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2x7 NIC Label : Activity
aktivitas jam diharapkan klien dapat kembali beraktifitas therapy
berhubungan dengan kriteria hasil :
1. Kaji tanda dan gejala
dengan NOC : Toleransi terhadap aktivitas
yang menunjukan
ketidakseimbanga
n antara suplai Indikator IR ER ketidaktoleransi
dan kebutuhan terhadap aktivitas dan
oksigen Saturasi oksigen terhadap aktivitas 4 5 memerlukan pelaporan
terhadap perawat dan
Frekuensi nadi ketika aktivitas 4 5 dokter
Frekuensi pernafasan ketika aktivitas 5 52. Tingkatkan
pelaksanaan ROM
Tekanan darah sistolik ketika 4 5
pasif sesuai indikasi
beraktivitas
3. Buat jadwal latihan
Tekanan darah diastolik ketika 4 5
aktivitas secara
beraktivitas
bertahap untuk pasien
Warna kulit 3 5 dan berikan periode
istirahat
Kekuatan tubuh 3 5
4. Berikan reinforcemen
Keterangan : untuk pencapaian
aktivitas sesuai
1. Keluhan sangat terganggu
program latihan
2. Keluhan banyak terganggu
5. Bantu klien untuk
3. Keluhan cukup terganggu mengidentifikasi
aktifitas yang mampu
4. Keluhan sedikit terganggu dilakukan

5. Tidak terganggu 6. Bantu pasien untuk


mengembangkan
motivasi diri dan
kekuatan diri.

NIC Label : Energy


Management

7. Monitor respon
kardiorespirasi
terhadap aktivitas
(takikardi, disritmia,
dispneu, diaphoresis,
pucat, tekanan
hemodinamik dan
jumlah respirasi)

8. Bantu pasien untuk


mengidentifikasi
pilihan-pilihan
aktivitas

9. Rencanakan aktivitas
untuk periode dimana
pasien mempunyai
energi paling banyak

10. Monitor pola


tidur pasien dan
jumlah jam tidur

11. Dorong bedrest

12. Pantau asupan


nutrisi untuk
memastikan sumber
daya energi yang
memadai

13. Monitor pasien


dari kelelahan fisik dan
emosional berlebihan

14. Atur kegiatan fisik


klien untuk
mengurangi hambatan
suplai oksigen ke
fungsi tubuh yang vital
(misalnya menghindari
aktivitas segera
setelah makan)

15. Gunakan latihan


ROM pasif dan atau
aktif untuk meredakan
ketegangan otot.

E. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


Tanggal No Jam Implementasi Jam Evaluasi Paraf
Dx

2 Juli 1 07.00 1. Melakukan TTV 14.00 S : pasien mengatakan


2018 lemas berkurang
2. Memonitor warna kulit
O:
3. Memonitor Hb
- Pasien tampak lemah
4. Mengambil sampel - Konjungtiva ananemis
darah - Akral teraba hangat
5. Kolaborasi memberikan - CRT : > 3 detik
tranfusi darah - HB : 5,8 g/dl
- Tanda Tanda Vital :
TD = 110/ 70 mmHg
Suhu = 36,5 0 C
Nadi = 82 x/menit
RR = 18 x/menit
SpO2 = 99%

A : Masalah teratasi
sebagian

P : lanjutkan intervensi

2 07.00 1. Menganjurkan klien 14.00 S : pasien mengatakan


beraktivitas secara lemas berkurang

bertahap O:

2. Memantau asupan nutrisi - Pasien tampak tidak


3. Melatih pasien ROM pasif pucat
maupun aktif - Pasien tampak lemah
4. Memonitor pasien dari Hb = 5,8 gr/dl
kelelahan fisik - Tanda Tanda Vital :
5. Menciptakan lingkungan Tekanan darah = 110/
yang tenang dan nyaman 70 mmHg
Suhu = 36,5 0 C
Nadi : 82 x/menit
RR = 18 x/menit
SpO2=99%
- Pasien tampak dibantu
aktivitas oleh keluarga
- Kekuatan otot
5 5
4 4

A : Masalah teratasi
sebagian

P : lanjutkan intervensi

3 Juli 1 1. Melakukan TTV S : pasien mengatakan


2018 lemas berkurang
2. Memonitor warna kulit
O:
3. Memonitor Hb
- KU baik
- Konjungtiva ananemis
- Akral teraba hangat
- CRT : > 2 detik
- HB : 10 g/dl
- Tanda Tanda Vital :
TD = 110/ 80 mmHg
Suhu = 36,4 0 C
Nadi = 78 x/menit
RR = 20 x/menit
SpO2 = 99%

A : Masalah teratasi
sebagian

P : lanjutkan intervensi

2 1. Menganjurkan klien S : pasien mengatakan


beraktivitas secara lemas berkurang

bertahap O:

2. Melatih pasien ROM pasif a. Pasien tampak tidak


maupun aktif pucat
3. Memonitor pasien dari b. KU baik
kelelahan fisik Hb = 10 gr/dl
4. Menciptakan lingkungan c. Tanda Tanda Vital :
yang tenang dan nyaman Tekanan darah = 110/
80 mmHg
Suhu = 36,4 0 C
Nadi : 78 x/menit
RR = 20 x/menit
SpO2=99%
d. Pasien dapat
beraktivitas secara
mandiri

e. Kekuatan otot
5 5
5 5

A : Masalah teratasi
sebagian

P : lanjutkan intervensi
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., & dkk. (2013). Nursing Intervensions Classification (NIC). Mosby: Lowo City.

Bulechek, G. M., & dkk. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC). Mosby: Lowo City

Fadil, M. (2005). Konsep Dasar Anemia. Available at http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=28334.


Diakses pada 4 Juni 2018.

Handayani, W., & Haribowo, A. S. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Hematologi. Jakarta: Salemba Medika

Heather, H. T. (2015). Diagnosis keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC.

Lubis, Dian. (2006). Anemia Defisiensi Besi. Available at


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21579/4/Chapter%20II.pdf Diakses pada 4 Juni 2018.

Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius.