You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obstruksi ileus merupakan kegawatan dalam bedah abdominal yang sering
dijumpai. Sekitar 20% pasien datang kerumah sakit datang dengan keluhan nyeri
abdomen karena obstruksi pada saluran cerna, 80% terjadi pada usus halus.Obstruksi
ileus adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana menghambat proses
pencernaan secara normal (Sjamsuhidayat, 2006).
Penyakitini sering terjadi pada individu yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi
makanan yang rendah serat, dari kebiasaan tersebut akan muncul permasalahan pada
kurangnya membentuk massa feses yang menyambung pada rangsangan peristaltic
usus, kemudian saat kemampuan peristaltic usus menurun maka akan terjadi
konstipasi yang mengarah pada feses yang mengeras dan mampu menyumbat lumen
usus sehingga menyebabkan terjadinya osbtruksi (Mansjoer, 2001)
Angka kejadian di Indonesia menunjukan kasus laparotomi meningkat dari 162
kasus pada tahun 2005 menjadi 983 kasus pada 2006 dan 1281 kasus pada tahun 2007
(Depkes RI, 2007) . Salah satu cara penanganan pada pasien dengan obstruksi ileus
adalah dengan pembedahan laparotomi, penyayatan pada dinding abdomen. Obstruksi
ileus dapat terjadi pada setiap usia. Namun penyakit ini sering dijumpai pada orang
dewasa (Smeltzer, 2002).
Laparotomi adalah suatu pembedahan yang dilakukan pada bagian abdomen
untuk mengetahui suatu gejala dari penyakit yang diderita oleh pasien.suatu kondisi
yang memungkinkan untuk dilakukan tindakan laparotomi adalah : Kanker organ
abdominal, radang selaput perut, appendisitis, pankreasitis, obstruksi ileus (Smeltzer,
2002). 3 1
Dengan masalah diatas penulis tertarik untuk mengambil kasus dengan judul “Asuhan
Keperawatan Pada Nn.N Dengan Gangguan Pencernaan :Obstruksi Ileus Dengan
PostLaparotomi di Ruang

1
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran nyata tentang Asuhan Keperawatan pada pasien
dengan ileus obstruksi.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu menjelaskan konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan ileus
obstruksi.
b. Mampu melaksanakan pengkajian dalam upaya mengumpulkan data dan
informasi yang benar pada Pasien dengan ileus obstruksi
c. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan hasil analisis data
serta mengidentifikasi masalah potensi pada pada Pasien dengan ileus
obstruksi
d. Mampu melaksanakan rencana keperawatan secara menyeluruh sesuai
dengan rencana yang telah disusun pada pada Pasien dengan ileus obstruksi

BAB II
TINJAUAN TEPROTIS

2
I. Konsep Dasar
A. Definisi
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya)
aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan
kronik, partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat
karsino ma dan perkembangannya lambat. Sebahagaian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus.
Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis
dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.
Obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang mencegah aliran normal
melalui saluran pencernaan. (Brunner and Suddarth, 2001).
Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan
penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara,
2007).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan
total atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau
gangguan usus disepanjang usus.
Sedangkan Ileus obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang
dikarenakan oleh sumbatan mekanik.

B. Anatomi Fisiologi

3
Anatomi fisiologi tentang sistem pencernaan yang meliputi:
1. Mulut
Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian yaitu:
a. Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu diruang antara gusi, bibir dan
pipi.
b. Rongga mulut/bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh
tulang maksilaris, palatum dan mandi bilaris disebelah belakang bersambung
dengan faring.
2. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
kerongkongan, merupakan persimpangan jalan nafas dan jalan makanan, letaknya
dibelakang rongga mulut dan didepan ruas tulang belakang.
3. Esofagus (kerongkongan)
Panjangnya ± 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah
lambung. Esofagus terletak dibelakang trakea dan didepan tulang punggung setelah
melalui thorak menembus diafragma masuk kedalam abdomen ke lambung.
4. Gaster (lambung)
Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang dapat mengembang paling
banyak terutama didaerah epigaster. Bagian-bagian lambung antara lain:
a. Fundus ventrikularis, bagian yang menonjol keatas terletak disebelah kiri
osteum kardium biasanya berisi gas.

4
b. Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah
notura minor.
c. Antrum pilorus, berbentuk tebing mempunyai otot tebal membentuk spinkter
pilorus.
d. Kurtura minor, terletak disebelah kanan lambung, terdiri dari osteum kordi
samapi pilorus.
e. Kurtura mayor, lebih panjang dari kurtura minor terbentang dari sisi kiri
osteum kardium melalui fundus kontrikuli menuju kekanan sampai ke pilorus
anterior.
Fungsi lambung
a. Menampung makanan.
b. Getah cerna lambung yang dihasilkan pepsin, asam garam, renin dan
lipak.

5. Usus halus
Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal
pada pilorus dan berakhir pada sekum panjangnya ± 6cm, merupakan saluran paling
panjang tempat proses pencernaan dan obstruksi hasil pencernaan makanan.

a. Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, panjangnya ± 25 cm, berbentuk sepatu kuda
melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada bagian
kanan duodenum terdapat selaput lendir yang nambulir disebut papila vateri.
b. Yeyunum dan ileum
Panjangnya sekitar ± 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyunum
dengan ± 2-3 meter dan ileum dengan panjang ± 4-5 meter. Lekukan
yeyunum dan ileum melekat pada dinding abdomen fasterior dengan
perantara lipatan peritoneum yang berbentuk kipas disebut mesentrium.
c. Mukosa usus halus
Permukaan epitel yang sangat halus melalui lipatan mukosa dan makro villi

5
memudahkan penernaan dan absorpasi

Fungsi usus halus:


a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui
kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohirat diserap dalam bentuk monosakarida didalam usus halus.
6. Usus besar/interdinum mayor
Panjangnya ± 1 meter, lebar 5-6 cm, fungsinya menyerap air dari makanan,
tempat tinggal bakteri koli, tempat feces. Usus besar terdiri atas 7 bagian:
a. Sekum.
b. Kolon asenden.
Terletak di abdomen sebelah kanan, membujur ke atas dari ileum sampai ke
hati, panjangnya ± 13 cm.
c. Appendiks (usus buntu)
Sering disebut umbai cacing dengan panjang ± 6 cm.
d. Kolon transversum.
Membujur dari kolon asenden sampai ke kolon desenden dengan panjang ± 28
cm.
e. Kolon desenden.
Terletak dirongga abdomen disebelah kiri membujur dari anus ke bawah
dengan panjangnya ± 25 cm.
f. Kolon sigmoid.
Terletak dalam rongga pelvis sebelah kiri yang membentuk huruf “S” ujung
bawah berhubungan dengan rektum.
g. Rektum.
Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor
dengan anus.
7. Anus.

6
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum
dengan dunia luar.
(Drs. Syaifuddin, hal 87-92).
C. Etiologi
Adapun penyebab dari obstruksi usus dibagi menjadi dua bagian menurut jenis
obstruksi usus, yaitu:
1. Mekanis : Terjadi obstruksi intramunal atau obstruksi munal dari tekanan pada
usus, contohnya adalah intrasusepsi, tumor dan neoplasma, stenosis, striktur,
perlekatan, hernia dan abses.
2. Fungsional : Muskulator usus tidak mampu mendorong isi sepanjang usus
(Brunner and Suddarth).

D. Patofisiologi
Peristiwa patofisiologi yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa
memandang apakah obstruksi usus tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau
fungsional. Perbedaan utamanya adalah obstruksi paralitik, paralitik dihambat dari
permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mula-mula diperkuat
kemudian intermiten akhirnya hilang. Limen usus yang tersumbat profesif akan
terenggang oleh cairan dan gas. Akumulasi gas dan cairan didalam lumen usus
sebelah proksimal dari letak obstruksi mengakibatkan distensi dan kehilangan H2O
dan elektrolit dengan peningkatan distensi maka tekanan intralumen
berkembang/berubah naik, menyebabkan penurunan tekanan vena dan kapiler arteri
sehingga terjadi iskemia dinding usus dan kehilangan cairan menuju ruang peritonium
hasilnya terjadi pelepasan bakteri dan toksin dari usus, bakteri yang berlangsung cepat
menimbulkan peritonitis septik ketika terjadi kehilangan cairan yang akut maka
kemungkinan terjadi syok hipovolemik. Keterlambatan dalam melakukan
pembedahan atau jika terjadi stranggulasi akan menyebabkan kematian. (Pice and
Wilson, hal 404)

7
E. WOC

8
9
F. Manifestasi Klinik
1. Nyeri tekan pada abdomen.
2. Muntah.
3. Konstipasi (sulit BAB).
4. Distensi abdomen.
5. BAB darah dan lendir tapi tidak ada feces dan flatus
(Kapita Selekta, 2000, hal 318).
G. Komplikasi
1. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi
peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen.
2. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ
intra abdomen.
3. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan
cepat.
4. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.
(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122).

H. Pemeriksaan Diagnostik
Adapun pemeriksaan diagnostik yang bisa dilakukan antara lain:
1. Pemeriksaan sinar x: Untuk menunjukan kuantitas abnormal dari gas atau
cairan dalam usus
2. Pemeriksaan laboratorium (misalnya pemeriksaan elektrolit dan jumlah darah
lengkap) akan menunjukan gambaran dehidrasi dan kehilangan volume plasma
dan kemungkinan infeksi.
3. Pemeriksaan radiogram abdomen sangat penting untuk menegakkan diagnosa

obstruksi usus. Obstruksi mekanis usus halus ditandai oleh udara dalam usus
halus, tetapi tidak ada gas dalam usus. Bila foto fokus tidak memberi
kesimpulan, dilakukan radiogram barium untuk mengetahui tempat obstruksi
(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1121).

10
I. Penatalaksanaan Bedah dan Medis
Dasar pengobatan obstruksi usus adalah koreksi keseimbangan cairan dan
elektrolit, menghilangkan peregangan dan muntah dengan intubasi dan kompresi,
memperbaiki peritonitis dan syok bila ada, serta menghilangkan obstruksi untuk
memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.
1. Obstruksi Usus Halus
Dekompresi pada usus melalui selang usus halus atau nasogastrik
bermamfaat dalam mayoritas masalah obstruksi usus halus.Apabila usus
tersumbat secara lengkap, maka strangulasi yang terjadi memerlukan
tindakan pembedahan, sebelum pembedahan, terapi intra vena diperlukan
untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit (natrium, klorida dan
kalium).
Tindakan pembedahan terhadap obstruksi usus halus tergantung penyebab
obstruksi. Penyebab paling umum dari obstruksi seperti hernia dan
perlengketan. Tindakan pembedahannya adalah herniotomi.
2. Obstruksi Usus Besar
Apabila obstruksi relatif tinggi dalam kolon, kolonoskopi dapat dilakukan
untuk membuka lilitan dan dekompresi usus. Sekostomi, pembukaan secara
bedah yang dibuat pasa sekum, dapat dilakukan pada pasien yang berisiko
buruk terhadap pembedahan dan sangat memerlukan pengangkatan obstruksi.
Tindakan lain yang biasa dilakukan adalah reseksi bedah utntuk mengangkat
lesi penyebab obstruksi. Kolostomi sementara dan permanen mungkin
diperlukan.

11
II. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. Pengkajian
1. Idenentitas Klien
Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dan
gaya hidup.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama .
.Pada umumnya akan ditemukan klien merasakan nyeri pada abdomennya
biasanya terus menerus, demam, nyeri tekan lepas, abdomen tegang dan kaku.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya pasien mengeluh nyeri tekan pada abdomen, muntah dan sulit BAB.
BAB yang keluar darah dan lendir tapi tidak ada feces dan flatus
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit yang sama, riwayat
ketergantungan terhadap makanan/minuman, zat dan obat-obatan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
biasanya tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama
dengan klien.

3. Pemerikasaan Fisik
a. Keadaaan Umum
Kesadaran : Biasanya kesadaran pasien composmentis
Tinggi badan : Biasanya tidak terdapat kelainan
Berat badan : Biasanya berat badan pasien menurun
Tanda-tanda vital
TD : Biasanya tekanan darah pasien menurun
N : Biasanya terdapat takikardi
P : Biasanya pernafasan pasien pendek dan dangkal
b. Kepala
1. Rambut
Biasanya warna rambut klien hitam, keadaan rambut bersih, tidak terdapat
ketombe
2. Wajah

12
Biasanya wajah klien, tidak terdapat oedema, tidak terdapat lesi namun
wajah pasien tampak pucat
3. Mata
Biasanya mata klien simetris kiri dan kanan, konjungtiva anemis, sclera
tidak terdapat icterik, pupil respon cahaya baik, penglihatan pasien kabur.
4. Hidung
Biasanya sputum hidung simetris, tidak terdapat oedema, dan lesi pada
hidug penciuman baik.
5. Mulut
Bibir : Biasanya mukosa bibir pasien pucat, bibir pecah- pecah

Gigi : Biasanya, gigi pasien tidak terdapat karies

Lidah : Biasanya, lidah pasien sedikit kotor

6. Telinga
Biasanya, telingga pasien simetris kiri dan kanan, tidak terdapat
gangguan pendengaran pada telingga

c. Thorak/Dada
Inspeksi : Biasaya, pergerakan rongga dada simetris kiri dan kanan
tidak terdapat oedema, lesi, dan tidak ada kelainan
bentuk dada

Palpasi : Palpasi biasanya, pergerakan dan vokal premitus

simetris kiri dan kanan

Perkusi : Biasanya, pada perkusi thorak sonor

Auskultasi : Biasanya, bunyi nafas normal vesikuler

d. Jantung
Inspeksi : Biasanya ictus cordis tidak terlihat
Palpsi : Biasanya, ictus cordis teraba pada Ic v linea
midclavikuralis sinistra

Perkusi : Biasanya, perkusi jantug pekak

Auskultasi : Biasanya, bunyi jantung terdengar normal dan

Teratur

e. Abdomen/ Perut

13
Inspeksi : Biasanya, pada abdomen apabila pasien sudah

post operasi terdapat luka bekas operasi,

Auskultasi : Biasanya, auskultsi pada abdomen bunyi bising

usus normal (5-35x/i )

Palpasi : Biasanya, pada palpasi abdomen terdapat

nyeri tekan,tidak terdapat pembesaran hepar

Perkusi : Biasanya, pada perkusi abdomen bunyi tympany.

f. Integumen

Biasanya, kulit tampak kering, tidak ada lesi pada kulit, tidak ada luka

g. Ektremitas

Biasanya, pada ektermitas pasien tidak terdapat odema, terdapat


kelemahan otot

h. Genitorinaria

Biasanya, pada ginitalia pasien tidak terdapat kelainan.

i. Pola Kebiasaan Sehari Hari

NO Pola Sehat Sakit


aktivitas
1 Nutrisi
Makan
Biasanya, Biasanya, makan
makan psien 2- pasien 2-3x/hari
3x/hari porsi porsi tidak habis,
habis karena mual
muntah dan tidak

14
nafsu makan.

Minum

Biasanya, minum Biasanya, minum


2-4 liter/hari pasien 2-3
liter/hari

2 Eliminasi
BAB Biasanya, 1x/hari, Biasanya,
BAB lancar, tidak 1x/haridan bahkan
konstipasi, bau jarang karena
khas, warna pasien mengalani
kuning susah untuk
defekasi, bau
khas, dan warna
BAK peses berubah

Biasanya, BAK
4-5x/hari, tidak Biasanya, BAK 6-

mengalami 8x/hari, terasa

kesulitan, dan nyeri dan

bau khas,warna kesulitan, bau

kuning jernih khas,

3 Istirahat Biasanya, Biasanya, waktu


dan tidur waktu tidur 7-8 tidur berkurang 5-
jam/ hari, tidak 6 jam/hari,
mengalami mengalami
kesulitan tidur kesulitan tidur
karena nyeri yang

15
dirasakan pada
perut pasien

j. Data Ekonomi
Dari segi ekonomi biasanya saat sakit, klien dan keluarga banyak
menghabiskan uang untuk biaya pengobatan pasien selama di rawat di
rumah sakit maupun di rumah.
k. Data Psikososial
Biasanya, selama klien sakit klien merasa kurang percaya diri
terhadaap lingkungan sekitar dan klien merasa cemas terhadap penyakit nya.
l. Data Spritual
Biasanya, selama sakit aktivitas sholat pasien terganggu, karena
susah nya untuk bergerak dikarenakan terdapat myeri pada perut pasien.

B. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut.
2) Resiko kekurangan volume cairan b/d output berlebihan, mual dan muntah.
3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi
Nutrisi.

C. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa NOC NIC


1. Nyeri akut  Pain level, Pain manajement
 Pain control
berhubungan - lakukan pengkajian nyeri
 Comfort level
dengan agen secara komprehensif termasuk
Kriteria hasil :
injury fisik. lokasi,karakteristik,durasi,frek
 Mampu
uensi, kualitas dan faktor
mengontrol nyeri
presipitasi
(tau penyebab

16
nyeri,mampu - observasi reaksi nonverbal dari
menggunakan ketidaknyamanan
- gunakan teknik komunikasi
tekhnik
teraupetik untuk mengetahui
nonfarmakologi
pengalaman nyeri pasien
untuk mengarungi
- kaji kultur yang mempengaruhi
nyeri,mencari
respon nyeri
bantuan) - evaluasi pengalaman nyeri
 Melaporkan bahwa
masa lampau
nyeri berkurang - evaluasi bersama pasien dan
dengan tim kesehatan lain tentang
menggunakan ketidakefektifan kontrol nyeri
manajaement nyeri masa lampau
 Mampu mengenal - bantu pasien dan keluarga
nyeri(skala,intensit untuk mencari dan menemukan
as,frekuensi dan dukungan
- kontrol lingkungan yang dapat
tanda nyeri)
mempengaruhi nyeri seperti
Menyatakan rasa
suhuruangan,pencahayaan dan
nyaman setelah nyeri
kebisingan.
berkurang
- Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologi,non
farmakologi dan inter personal)
- Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
- Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
- Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan dokter

17
jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
- Monitor penerimaan pasien
tentang manajement nyeri
Analgesik administration
- Tentukan
lokasi,karakteristik,kualitas
dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
- Cek instruksi dokter tentang
jenis obat,dosis,dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik
ketika lebih dari satu
- Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan berat nyeri
- Tentukan analgesik pilihan,rute
pemberian,dan dosis optimal
- Pilih rute pemberian secara
IV,IM untuk pengobatan nyeri
secara terstur
- Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali.
- Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
- Evaluasi efektivitas
analgesik,tanda dan gejala.

2. Resiko  Fluid balance Fluid management


kekurangan  Hydration - Pertahankan catatan

volume cairan  Nutritional intake dan output yang

18
status : Food and akurat
Fluid - Monitor status hidrasi
Kriteria hasil: (kelembaban membran
 Mempertahanka mukosa, nadi adekuat,
n urine output tedakan darah ortostatik)
sesuai dengan - Monitor vital sign
usia dan BB,BJ - Monitor masukan

urine normal, makanan/ cairan dan

HT normal hitung intake kalori


 Tekanan darah, harian
nadi, suhu tubuh - Kolaborasi pembnerian

dalam batas cairan IV

normal - Monitor status nutrisi

 Tidak ada tanda- Hypovolemia management


tanda dehidrasi, - Monitor tingkat Hb dan

elastisitas turgor hematokrit

kulit baik, - Monutor tanda vital

membran - Monitor respon pasien

mukosa lembab, terhadap penambahan

tidak ada rasa cairan


- Monitor berat badan
haus yang
- Dorong pasien untuk
berlebihan
menambahkan intake oral
- Pemberian cairan IV
monitor adanya tanda dan
gejala kelebihan volume
cairan.
3. Ketidak Noc Nic
Nutrition manajement
seimbangan  nutrional status:food
- kaji adanya alergi makanan
nutrisi kurang and fluid intake
- kolabirasi dengan ahli gizi

19
dari kebutuhan  nutrional untuk menentukan jumlah
tubuh status:nutrien intake kalori dan nutrisi yang
Defenisi:  weight control
dibutuhkan pasien
asupan nutrisi 20riteria hasil: - anjurkan pasien utnuk
tidak cukup  adanya peningkatan meningkatkan intake Fe
berat badan sesuai - anjurkan pasien untuk
untuk memenuhi
dengan tujuan meningkatkan protein dan
kebutuhan
 berat badan ideal vitamin C
20riteria20
sesuai tinggi badan - berikan substansi gula
 mampu - yakinkan diet yang dimakan

mengidentifikasi mengandung tinggi serat

kebutuhan nutrisi untuk mencegah konstipasi


 tidak ada tanda tanda - berikan makanan yang

malnutrisi terpilih
 menunjukkan - ajarkan pasien bagaimana

peningkatan fungsi membuat catatan makanan

pengecapan dari harian


- monitor jumlah nutrisi dan
menelan
 tidak terjadi kandungan kalori
- berikan informasi tentang
penuruna berat
kebutuhan nutrisi
badan yang berarti - kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
nutrition monitoring
- BB pasien dalam batas
normal
- Monitor adanya penurunan
berat badan
- Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa dilakukan
- Monitor interaksi anak dan
orang tua selama makan
- Monitor lingkungan selama

20
makan
- Monitor kalori dan intake
nutrisi
- Catat jika lidah berwarna
magenta,scarlet

BAB III
PENUTUP

21
A. Kesimpulan
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya)
aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan
kronik, partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat
karsino ma dan perkembangannya lambat. Sebahagaian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus.
Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis
dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.
Obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang mencegah aliran normal
melalui saluran pencernaan. (Brunner and Suddarth, 2001).
Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan
penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara,
2007).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan
total atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau
gangguan usus disepanjang usus.
Sedangkan Ileus obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang
dikarenakan oleh sumbatan mekanik.

B. Saran

Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat
menjadi referensi bagi para mahasiswa keperawatan maupun pembacanya dalam
pembuatan Asuhan Keperawatan tentang penyakit Bronkitis Kronis. Kami sebagai
penyusun menyadari adanya kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembacanya bagi kami
sebagai penyusun makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran, EGC.

22
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan System
Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Setiawan, Wawan. 2010. Intervensi dan Rasional Ileus Obstruktif.
(http://wawanjokamblog.blogspot.com/. Diakses tanggal 11 Januari 2011).
Zwani. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Obstruksi Usus
(http://keperawatan-gun.blogspot.com/2007/07/obstruksi-usus.html. Diakses tanggal
11 Januari 2011).
Harnawati. 2008. Obstruksi Usus. (http:// harnawatiaj. wordpress. com /
2008/02/21/obstruksi-usus/. Diakses tanggal 11 Januari 2011).
Vanilow, Barry. 2010. Askep Ileus Obstruksi . (http://barryvanilow.blogspot.com/.
Diakses tanggal 11 Januari 2011).
http://hasgurstika.blogspot.com/2011/02/askep-ileus-obstruktif.html

23