You are on page 1of 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit diare menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
penting karena merupakan penyumbang utama ketika angka kesakitan dan
kematian anak di berbagai Negara termasuk Indonesia. Diperkirakan lebih dari 1,3
milyar serangan dan 3,2 juta kematian per tahun pada balita disebabkan oleh diare.
Diare adalah perubahan frekuensi dan konsitensi tinja. WHO pada tahun 1984
mendefinisikan diare sebagai berak air tiga kali atau lebih dalam sehari semalan
(24 jam) para ibu mungkin mempunyai istilah tersendiri seperti lembek, cair,
berdarah, berlendir, atau dengan muntah (muntaber). Penting untuk menanyakan
kepada orang tua mengenai frekuensi dan konsitensi tinja anak yang dianggap
sudah tidak normal. Diare merupakan penyebab utama kematian anak-anak berusia
kurang dari lima tahun (balita) secara global (Pahwa, 2010). Sekitar lima juta anak
di seluruh dunia meninggal karena diare akut. Di Indonesia pada tahun 70-80 an,
prevalensi penyakit diare sekitar 200-400/1000 penduduk pertahun, dari angka
prevalensi tersebut 70-80% menyerang anak di bawah usia lima tahun (balita).
Golongan umur ini mengalami 2-3 episode diare pertahun, diperkirakan kematian
anak akibat diare sekitar 200-250 ribu setiap tahunnya.
Diare dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah keadaan
lingkungan dan perilaku masyarakat (Widoyono, 2008). Kebiasaan yang
berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman
diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah
buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan,
sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak
menurunkan angka kejadian diare sebesar 47% (Kemenkes RI, 2011).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari penyakit diare?

1
2. Bagaimana etiologi dan cara penularan pada diare?
3. Bagaimana patofisiologi terjadinya diare?
4. Bagaimana manifestasi klinis penyakit diare?
5. Sebutkan stadium demam pada diare?
6. Apa saja komplikasi dan pemeriksaan penunjang pada diare?
7. Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan pada diare?
8. Bagaimana monitoring pemberian cairian pada diare?
9. Bagaimana asuhan keperawatan pada diare?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan tropis infeksi menular akibat bakteri
pada diare.
2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui konsep dasar penyakit diare yang terdiri dari :
a. Untuk mengetahui definisi dari penyakit diare
b. Untuk mengetahui etiologi dan cara penularan pada diare
c. Untuk mengetahui manifestasi klinis pada diare
d. Untuk mengetahui patofisiologi pada diare
e. Untuk mengetahui komplikasi dan pemeriksaan penunjang pada diare
f. Untuk mengetahui penatalaksanaan dan pencegahan pada diare
g. Untuk mengetahui monitoring pemberian cairan pada diare
h. Untuk mengetahui pengkajian, diagnosa keperawatan dan intervensi pada
diare

2
BAB II
KONSEP DASAR PENYAKIT
A. Pengertian
Diare menurut Mansjoer (2000) adalah frekuensi defekasi encer lebih dari
3 x sehari dengan atau tanpa daerah atau tinja yang terjadi secara mendadak
berlangsung kurang dari tujuh hari yang sebelumnya sehat.

Diare adalah keadaan buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dengan
konsistensi cair atau lunak (NANDA, 2015).

Diare merupakan salah satu penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas
di negara yang sedang berkembang dengan kondisi sanitasi lingkungan yang
buruk, persediaan air yang tidak adekuat, kemiskinan, dan pendidikan yang
terbatas (WHO, 2013).

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi,
yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer
tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.

Jenis diare dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari


2. Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari

B. Etiologi dan Cara Penularan

Faktor infeksi diare menurut Ngastiyah (2005).

1. Infeksi enteral : Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab


utama diare.
a. Infeksi bakteria : vibrio, E. coli, salmonella campilo baster.

3
b. Infeksi virus : Rotavirus, calcivilus, Enterovirus, Adenovirus,
Astrovirus.
c. Infeksi parasite : cacing (ascaris, oxyuris), protozoa (entamoba
histolica, giardia lambia), jamur (candida aibicans).
2. Infeksi Parenteral : Infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti Tonsilitis,
broncopneumonia, Ensefalitis, meliputi :
a. Faktor Malabsobsi : karbohidrat, lemak, protein
b. Faktor makanan : basi, racun, alergi.
c. Faktor psikologis : rasa takut dan cemas.

Cara Penularan

Penularan terjadi terutama karena mengkonsumsi makanan yang


terkontaminasi seperti: tercemar dengan Salmonella, hal ini paling sering terjadi
karena daging sapi yang tidak dimasak dengan baik (terutama daging giling) dan
juga susu mentah dan buah atau sayuran yang terkontaminasi dengan kotoran
binatang pemamah biak. Seperti halnya Shigella, penularan juga terjadi secara
langsung dari orang ke orang, dalam keluarga, pusat penitipan anak dan asrama
yatim piatu. Penularan juga dapat melalui air, misalnya pernah dilaporkan adanya
KLB sehabis berenang di sebuah danau yang ramai di kunjungi orang dan KLB
lainnya disebabkan oleh karena minum air PAM yang terkontaminasi dab tidak
dilakukan klorinasi dengan semestinya.

C. Manifestasi Klinik

Diare akut sering disertai dengan tanda dan gejala klinik lainnya seperti
muntah, demam, dehidrasi dan gangguan elektrolit. Keadaan ini merupakan
gejala infeksi dan disebabkan oleh bakteri, virus dan parasite perut. Diare juga
dapat terjadi bersamaan dengan penyakit infeksi lainnya seperti malaria dan
campak, begitu juga dengan keracunan kimia. Perubahan flora usus yang dipicu
antibiotic dapat menyebabkan diare akut karena pertumbuhan berlebihan dan
toksin dari Clostridium diffeciel.

4
Beberapa tanda dan gejala tentang diare menurut Suriadi (2001) antara lain:

1. Sering BAB dengan konsistensi tinja cair atau encer.


2. Terdapat luka tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit
menurun) ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
3. Kram abdominal.
4. Demam.
5. Mual dan muntah.
6. Anoreksia.
7. Lemah.
8. Pucat.
9. Perubahan TTV, nadi dan pernafasan cepat.
10. Menurun atau tidak ada pengeluaran urin.

D. Patofisiologi
1. Faktor Mal Absobsi
Diare akut yang disebabkan oleh malabsorbsi biasanya adalah malabsobsi
terhadap laktosa dan malabsobsi terhadap laktosa dan lemak. Penyabab diare
ini sering berlanjut menjadi diare kronik, karena adanya underlying disease
yang memerlukan penanganan khusus.
2. Faktor makanan
a. Alergi makanan/minuman
Beberapa jenis makanan/minuman dapat menimbulkan diare akut
pada orang tertentu yang rentan yang bersifat indifidual. Biasanya diare
timbul dalam beberapa dam hingga beberapa hari setelang mengkonsumsi
makanan/minuman tersebut.
b. Keracunan
Diare akut yang disebabkan oleh keracunan makanan atau minuman
biasanya berakibatan dengan kontaminasi makana/minuman oleh berbagai

5
jenis bakteri atau jamur yang menghasilkan toksin atau diare. Disamping
menimbulkan diare juga sering disertai dengan muntah serta dehidrasi.
3. Faktor Fisiologi
a. Stress emosional
Kondisi itu bersifat individual yang mudah mengalami stress dengan
manifestasi diare akut. Biasnya bersifat sementara dan hilang tanpa
pengobatan, bila factor stress sudah teratasi.

Diare yang terjadi merupakan proses dari transpor aktif akibat rangsangan
toksin bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus, sel dalam mukosa
intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit.
Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga
mengurangi fungsi permukaan intestinal. Perubahan kapasitas intestinal dan
terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit. Peradangan akan menurunkan
kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahan-
bahan makanan ini terjadi pada sindrom malabsorbsi. Peningkatan motilitas
intestinal dapat mengakibatkan gangguan absorbsi intestinal.

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ada 3 macam yaitu:

1. Gangguan Osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan dalam rongga yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus. Isi rongga usus yang
berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare.

2. Gangguan sekresi akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding


usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus
dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

6
3. Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus


untuk menyerap makanan sehingga timbul diare.

Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri kambuh


berlebihan, selanjutnya timbul diare pula.

Dari ketiga mekanisme diatas menyebabkan :

1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan


gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik hipokalemia).

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan akibat kelaparan (masukan kurang,


pengeluaran bertambah).

7
Faktor Mal Absorbsi Faktor Makanan Faktor Psikologi
- Karbohidrat -Makanan besi -Rasa takut
- Lemak -Beracun -Cemas
- Protein -Alergi makanan

Penyerapan sari-sari makanan dalam


saluran pencernaan tidak adekuat

Terdapatnya zat-zat Peradangan isi usus Gangguan motilitas


yang tidak diserap asus

Gangguan sekresi
Tekanan osmotif
meningkat Hiperperistltik
Sekresi air dalam elektrolit dalam usus
meningkat

Reabsorbsi didalam Kesempatan usus


usus besar menyerap makanan
terganggu Merangsang usus mengeluarkan
isinya

DIARE

BAB sering dengan Inflamasi saluran


konsistensi cair pencernaan

Kulit Cairan yang Agen Mual dan


disekitar Frekuensi
keluar defekasi pirogenic muntah
anus lecet banyak
dan teriritasi 8
Kemerahan Dehidrasi BAB enter Suhu tubuh
meningkat Anoreksia
& gatal dengan atau
tanpa darah

Sering
digaruk

Kerusakan Gangguan Gangguan Nutrisis


integritas pemenuhan eliminasi Hipertermi kurang dari
kulit cairan & BAB diare kebutuhan
elektrolit

D. Komplikasi & Pemeriksaan Penunjang


Beberapa komplikasi dari diare menurut Suriadi (2001) adalah :

1. Hipokalemia (dengan gejala matiorisme hipotoni otot lemah bradikardi


perubahan elektrokardiogram).
2. Hipokalsemia
3. Cardiac dysrhythimias akibat hipokalemia dan hipokalsemia.
4. Hiponatremi.
5. Syok hipovalemik.
6. Asidosis
7. Dehidrasi

Pemeriksaan penunjang diare menurut Suriadi (2001) adalah :

1. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan.


2. Pemeriksaan intubasi duodenum.
3. Pemeriksaan elektrolit dan creatinin.

9
4. Pemeriksaan tinja, PH, Leukosit, glukosa, dan adanya darah.

Adapun Pemeriksaan penunjang yang lain menurut Mansjoer (2000)

1. Pemeriksaan tinja : Makroskopis dan mikroskopis PH dan kadar gula


juga ada intoleransi gula biarkan kuman untuk mencari kuman penyebab
dan uji retensi terhadap berbagai antibiotik.
2. Pemeriksaan darah : perifer lengkap, Analisa Gas Darah (AGD),
elektrolit (terutama Na, K, Ca, P Serum pada diare yang disertai kejang).
3. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin darah untuk mengetahui faal
ginjal.
4. Duodenal intubation untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif
dan kualitatif terutama pada diare kronik.
D. Penatalaksanaan dan Pencegahan
1. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan medis menurut Biddulp and Stace (1999) adalah
pengobatan dengan cara pengeluaran diet dan pemberian cairan.
1) Diare tanpa dehidrasi memerlukan cairan tambahan berupa apapun
misalnya air gula, sari buah segar, air teh segar, kuah sup, air tajin,
ASI. Jangan memberikan air kembang gula, sari buah air dalam botol
karena cairan yang terlalu banyak mengandung gula akan
memperburuk diare.
2) Diare dengan dehidrasi sedang memerlukan cairan khusus yang
mengandung campuran gula dan garam yang disebut larutan dehidrasi
oral ( LRO ). LRO ini dibuat dengan mencampurkan sebungkus garam
rehidrasi kedalam 1 liter air bersih.
3) Diare dengan dehidrasi berat memerlukan cairan intravena disamping
LRO.
b. Penatalaksanaan keperawatan menurut Nelson (1999) antara lain :

10
1) Penderita yang dirawat inap harus ditempatkan pada tindakan
pencegahan enterik termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
dengan penderita.
2) Jas panjang bila ada kemungkinan pencernaan dan sarung tangan bila
menyentuh barang terinfeksi.
3) Penderita dan keluarganya dididik mengenal cara perolehan entero
patogen dan cara mengurangi penularan.

2. Pencegahan
a. Menggunakan air bersih yang cukup
Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui
jalur fecal-oral mereka dapat ditularkan dengan memasukkan kedalam
mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja misalnya air minum,
jari-jari tangan, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan
air tercemar. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar-
benar bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan
dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih. Masyarakat dapat
mengurangi resiko terhadap serangan diare yaitu dengan menggunakan air
yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari
sumbernya sampai penyimpanan di rumah.
Yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah :
1) Air harus diambil dari sumber terbersih yang tersedia.
2) Sumber air harus dilindungi dengan menjauhkannya dari hewan,
membuat lokasi kakus agar jaraknya lebih dari 10 meter dari sumber
yang digunakan serta lebih rendah, dan menggali parit aliran di atas
sumber untuk menjauhkan air hujan dari sumber.
3) Air harus dikumpulkan dan disimpan dalam wadah bersih. Dan
gunakan gayung bersih bergagang panjang untuk mengambil air.
4) Air untuk masak dan minum bagi anak harus dididihkan.

11
b. Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang
penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci
tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah
membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi
makanan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian
diare.
c. Menggunakan Jamban
Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya
penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan
resiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban
harus membuat jamban, dan keluarga harus buang air besar di jamban.
Yang harus diperhatikan oleh keluarga :
1) Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat
dipakai oleh seluruh anggota keluarga.
2) Bersihkan jamban secara teratur.
3) Bila tidak ada jamban, jangan biarkan anak-anak pergi ke tempat
buang air besar sendiri, buang air besar hendaknya jauh dari rumah,
jalan setapak dan tempat anak-anak bermain serta lebih kurang 10
meter dari sumber air, hindari buang air besar tanpa alas kaki.
d. Sarana Pembuangan Air Limbah
Air limbah baik limbah pabrik atau limbah rumah tangga harus
dikelola sedemikian rupa agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.
Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat akan
menimbulkan bau, mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat
perindukan nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi
menularkan penyakit seperti leptospirosis, filariasis untuk daerah yang
endemis filaria. Bila ada saluran pembuangan air limbah di halaman, secara
rutin harus dibersihkan, agar air limbah dapat mengalir, sehingga tidak

12
menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak menjadi tempat perindukan
nyamuk.
E. Monitoring Pemberian Cairan
Salah satu keadaan emergensi pada pasien diare akut adalah keadaan tubuh
pasien yang kekurangan cairan akibat diare yang terjadi. Apapun penyebab diare
akut, apabila terjadi dehidrasi, maka penanganan utamanya adalah pemberian
cairan pengganti secara oral maupun parenteral.
Klasifikasi dehidrasi
1. Dehidrasi ringan (kehilangan cairan tubuh kurang dari 5% BB)
2. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan tubuh 5-10% BB)
3. Dehidrasi berat (kehilangan cairan tubuh lebih dari 10% BB)

Pemeriksaan penunjang pada pasien dehidrasi akibat diaere akut mencakup


darah rutin. Dari darah rutin yang perlu diperhatikan adalah nilai hematocrit yang
mencerminkan kepekatan darah dalam sirkulasi. Bilai nilai hematocrit tinggi
(lebih dari 50%), menunjukkan dehidrasi. Atau terjadi peningkatan nilai
hematocrit lebih dari 20% dari nilai hematocrit lebih dari 20% dari nilai
sebelumnya.

1. Pemilihan Cairan
2. Penggantian Cairan dan Elektrolit
Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga hidrasi
yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan
dengan rehidrasi oral, dimana harus dilakukan pada semua pasien kecuali
yang tidak dapat minum atau yang terkena diare hebat yang memerlukan
hidrasi intavena yang membahayakan jiwa.17 Idealnya, cairan rehidrasi oral
harus terdiri dari 3,5 g Natrium klorida, dan 2,5 g Natrium bikarbonat, 1,5 g
kalium klorida, dan 20 g glukosa per liter air. 2,4 Cairan seperti itu tersedia
secara komersial dalam paket-paket yang mudah disiapkan dengan
mencampurkan dengan air. Jika sediaan secara komersial tidak ada, cairan
rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan ½ sendok teh

13
garam, ½ sendok teh baking soda, dan 2 - 4 sendok makan gula per liter air.
Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium..
Pasien harus minum cairan tersebut sebanyak mungkin sejak mereka merasa
haus pertama kalinya.3 Jika terapi intra vena diperlukan, cairan normotonik
seperti cairan saline normal atau laktat Ringer harus diberikan dengan
suplementasi kalium sebagaimana panduan kimia darah. Status hidrasi harus
dimonitor dengan baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan,
dan urin, dan penyesuaian infus jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke
cairan rehidrasi oral sesegera mungkin.
3. Pengobatan
Prinsip pengobatan adalah menghilangkan kausa diare dengan
memberikan antimikroba yang sesuai dengan etiologi, terapi supportive atau
fluid replacement dengan intake cairan yang cukup atau dengan Oral
Rehidration Solution (ORS) yang dikenal sebagai oralit, dan tidak jarang pula
diperlukan obat simtomatik untuk menyetop atau mengurangi frekwensi diare.
Untuk mengetahui mikroorganisme penyebab diare akut dilakukan
pemeriksaan feses rutin dan pada keadaan dimana feses rutin tidak
menunjukkan adanya miroorganisme atau ova, maka diperlukan pemeriksaan
kultur feses dengan medium tertentu sesuai dengan mikroorganisme yang
dicurigai secara klinis dan pemeriksaan laboratorium rutin.
Indikasi pemeriksaan kultur feses antara lain, diare berat, suhu tubuh >
38,50C, adanya darah dan/atau lender pada feses, ditemukan leukosit pada
feses, laktoferin, dan diare persisten yang belum mendapat antibiotik.

Oralit

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari


rumah tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak
tersedia berikan cairan rumah tangga seperti kuah sayur, air matang. Oralit
saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas
yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit merupakan

14
cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang.
Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan
untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus. Pemberian oralit didasarkan
pada derajat dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).

a. Diare tanpa dehidrasi


1) Umur < 1 tahun : ¼ - ½ gelas setiap kali anak mencret
2) Umur 1 – 4 tahun : ½ - 1 gelas setiap kali anak mencret
3) Umur diatas 5 Tahun : 1 – 1½ gelas setiap kali anak mencret
b. Diare dengan dehidrasi ringan sedang
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan
selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa
dehidrasi.
c. Diare dengan dehidrasi berat Penderita diare yang tidak dapat minum harus
segera dirujuk ke Puskesmas untuk di infus (Kemenkes RI, 2011).
Dehidrasi Dewasa Anak

Ringan 4% 4%-5%

Sedang 6% 5%-10%

Berat 8% 10%-15%

Rumus Dehidrasi = BB sebelum sakit – BB sesudah sakit x 100%


BB sebelum sakit

Diketahui:

BB pasien saat sehat : 55 kg

BB pasien saat sakit : 53 kg

Ditanya : Derajat dehidrasi

15
Dehidrasi = (55-53) x 100%
55

= 3%, Maka pasien mengalami Dehidrasi Ringan

Pasien usia 30 tahun datang dengan dehidrasi. BB pasien saat datang 56 kg. Tinggi
pasien : 170 cm. Berapa kebutuhan cairan yang dibutuhkan pasien tersebut?

Jawab : BB pasien : 56 kg

Maka 10 kg pertama : 1000 cc cairan

10 kg kedua : 500 cc

36 kg terakhir = 20 ml x 36 kg = 720 cc cairan

Total cairan yang dibutuhkan = 1000 cc + 500 cc + 720 cc

= 2220 ml = 2,2 liter

F. Pengkajian Keperawatan
1. Berak-berak dengan frekuensi lebih dari 3 kali konsistensi lunak sampai cair,
mual, dan muntah.
2. Terjadi peningkatan suhu tubuh, dan disertai ada atau tidak ada peningkatan
nadi, pernafasan.
3. Bila terjadi kekurangan cairan ditandai dengan haus, lidah kering, tulang pipi
menonjol, turgor kulit menurun.
4. Bila terjadi gangguan biokimia : Asidosis metabolik nafas cepat/dalam
(kusmaul), bila banyak kekurangan kalium Aritmia jantung.
5. Bila syok hipovolumik berat ; nadi cepat lebih 120x/menit, tekanan darah
menurun sampai dari tak terukur.
6. Pasien gelisah, muka pucat, ujungujung ekstremitas dingin, sianosis.

16
Fokus pengkajian menurut Doenges ( 2000 )

1. Aktivitas / istirahat
a. Gejala : Gangguan pola tidur, misalnya insomnia dini hari, kelemahan,
perasaan “hiper” dan ansietas, peningkatan aktivitas/partisipasi dalam
latihan-latihan energi tinggi.
b. Tanda : Periode hiperaktivitasi, latihan keras terus-menerus.
2. Sirkulasi
a. Gejala : Perasaan dingin pada ruangan hangat.
b. Tanda : TD rendah takikardi, bradikardia, disritmia.
3. Integritas ego
a. Gejala : Ketidakberdayaan/putus asa gangguan (tak nyata) gambaran dari
melaporkan diri-sendiri sebagai gendut terus-menerus memikirkan bentuk
tubuh dan berat badan takut berat badan meningkat, harapan diri tinggi,
marah ditekan.
b. Tanda : Status emosi depresi menolak, marah, ansietas.
4. Eliminasi
a. Gejala : Diare/konstipasi,nyeri abdomen dan distress, kembung,
penggunaan laksatif/diuretik.
5. Makanan, cairan
a. Gejala : Lapar terus-menerus atau menyangkal lapar, nafsu makan normal
atau meningkat.
b. Tanda : Penampilan kurus, kulit kering, kuning/pucat, dengan turgor
buruk, pembengkakan kelenjar saliva, luka rongga mulut, luka
tenggorokan terus-menerus, muntah, muntah berdarah, luka gusi luas.
6. Higiene
a. Tanda : Peningkatan pertumbuhan rambut pada tubuh, kehilangan rambut
( aksila/pubis ), rambut dangkal/tak bersinar, kuku rapuh tanda erosi email
gigi, kondisi gusi buruk
7. Neurosensori

17
a. Tanda : Efek depresi ( mungkin depresi ) perubahan mental ( apatis,
bingung, gangguan memori ) karena mal nutrisi kelaparan.
8. Nyeri / kenyamanan
a. Gejala : Sakit kepala.
9. Keamanan
a. Tanda : Penurunan suhu tubuh, berulangnya masalah infeksi.

G. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan terhadap muntah dan diare.
2. Defisit nutrisi berhubungan dengan masukkan makanan tak adekuat.
3. Defisist pengetahuan pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi
informasi dan atau keterbatasan kognitif.
H. Rencana Keperawatan
1. Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan terhadap muntah dan diare.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi kekurangan
cairan / hipovalumik
Kreteria hasil : -Mepertahankan/menunjukkan perubahan keseimbangan
cairan.
-Haluran urine adekuat
-Tanda vital stabil
-Membran mukosa lembab
-Turgor kulit baik
Intervensi :
a. Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian.
b. Jelaskan tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi yang
adekuat dan metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan cairan.
c. Pantau masukan, pastikan sedikitnya 1000-1500 ml/24 jam. Pantau
terhadap penurunan berat jenis urin.

18
d. Timbang BB setiap hari dengan jenis baju yang sama, pada waktu yang
sama.
e. Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan
muntah, diare, demam.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kadar elektolit darah,
nitrogen urea darah, urine dan serum, kreatinin, hematokrit dan
hemoglobin.
g. Kolaborasi dengan pemberian cairan secara intravena.

2. Defisit nutrisi berhubungan dengan Masukkan makanan tak adekuat.


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nutrisi dapat terpenuhi.
Kreteria hasil : Menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi dapat menunjukkan
peningkatam BB
Intervensi:
a. Buat pilihan menu yang ada dan diizinkan
b. Berikan makanan sedikit tapi sering
c. Timbang dengan timbangan yang sama
d. Libatkan klien dalam penyusunan Nutrisi
e. Kolaborasi dengan ahli gizi dan pemberian obat sesuai dengan indikasi

3. Defisist pengetahuan pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi


informasi dan atau keterbatasan kognitif.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien mengerti tentang
penyakitnya
Intervensi:
a. Kaji kesiapan klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan klien
tentang penyakit dan perawatannya.
b. Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab dan akibatnya terhadap
gangguan aktivitas sehari-hari.

19
c. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara
pemberian serta efek samping yang mungkin timbul.
d. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi.

20
BAB III
PEMBAHASAN JURNAL
A. Faktor Resiko Terjadinya Diare
Banyak faktor resiko yang diduga menyebabkan terjadinya penyakit diare.
Salah satu faktor antara lain adalah sanitasi lingkungan yang kurang baik,
persediaan air yang tidak hiegienis, dan kurangnya pengetahuan (WHO, 2013).
Selain itu, faktor hygiene perorangan yang kurang baik dapat menyebabkan
terjadinya diare (Primona dkk, 2013; Azwinsyah dkk, 2014), kepemilikan jamban
yang tidak ada dapat menyebabkan diare (Azwinsyah dkk, 2014).

1. Ketersediaan Air Bersih


Ketersediaan air bersih yang kurang yaitu sebanyak 62,86% dan
ketersediaan air bersih yang baik yaitu sebanyak 37,14%. Hal ini menjelaskan
bahwa sebagian besar masyarakat ketersediaan air bersihnya adalah kurang.
Ketidaktersediaan air bersih sangat berpengaruh terhadap kejadian diare,
sehingga sangat diperlukan air bersih untuk mengurangi terjadinya penyakit
diare. Bakteri infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral.
Proses penularan antara lain mencuci peralatan masak dengan menggunakan
air yang tidak bersih, minum air yang tidak dimasak lebih dahulu, dan
sebagainya (CDC, 2012; DEPKES RI, 2010). Penelitian sebelumnya juga
menjelaskan bahwa ketersediaan air yang tercemar dapat menyebabkan diare
(Primadani dkk, 2012).
Sarana air bersih dalam kehidupan sehari-hari yang digunakan sebagai
minum, memasak, membersihkan atau mencuci, mandi, wajib memenuhi
syarat kualitas dan syarat fisik agar vektor penyakit yang dapat berkembang
biak atau dapat menularkan melalui air dapat dikurangi hususnya pada
penyakit diare sehingga angka kesakitan penyakit diare menurun (Agus dkk,
2009; Pebriani dkk, 2012).

21
Kualitas air rumah tangga yang baik harus memenuhi beberapa syarat
antara lain syarat fisis, syarat kimiawi, dan syarat bakteriologis. Syarat fisis
air rumah tangga yaitu harus jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak
berbau. Syarat kimiawi adalah tidak mengandung zat-zat yang berbahaya
untuk kesehatan seperti zat-zat racun, serta tidak mengandung mineral mineral
serta zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. Syarat Bakteriologi
air tidak boleh mengandung bibit penyakit yang sering menular dengan
perantaraan air adalah penyakit yang tergolong dalam golongan water borne
diseases, salah satunya seperti penyakit diare (DEPKES RI, 2010; Soegijanto,
2009).
2. Sanitasi Lingkungan
Lingkungan yang berkategori kurang sebesar 51,43% dan sanitasi baik
sebesar 48,57%. Hal ini menjelaskan bahwa sebagian besar sanitasi
lingkungannya adalah kurang.
Sanitasi lingkungan merupakan status kesehatan lingkungan yang
mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan
sebagainya. Lingkungan yang sanitasinya buruk akan berdampak buruk pula
bagi kesehatan (Chandra, 2007; Chandra, 2009)
Hasil penelitian yang lain menjelaskan bahwa salah satu faktor yang
berhubungan dengan kejadian diare yaitu sanitasi lingkungan (Karyono dkk,
2009). Semakin bagus sanitasi lingkungan, maka semakin rendah pula angka
kejadian penyakit pada masyarakat tersebut terutama yang berhubungan
dengan penyakit diare. Buruknya sanitasi lingkungan mempengaruhi
keberlanjutan lingkungan hidup yang ada. Kebiasaan masyarakat melakukan
pola hidup tidak sehat seperti memanfaatkan sungai sebagai sarana MCK dan
air bersih untuk kebutuhan hidup, serta kebiasaan membuang limbah rumah
tangga langsung ke sungai yang berpotensi sebagai penyebab penyebaran
wabah penyakit terutama diare (Jimung, 2011; Godana & Mengiste, 2013;
Wardani, 2012).
3. Ketersediaan Jamban

22
Tidak ada ketersediaan jamban sebesar 68,57% dan ada ketersediaan
jamban sebesar 31,43%. Hal ini menjelaskan bahwa sebagian besar
masyarakatr tidak memiliki ketersediaan jamban.
Salah satu proses penularan diare adalah kurangnya ketersediaan
jamban. Pada pasien diare yang tidak memiliki jamban, maka mereka akan
BAB (buang air besar) di sembarang tempat. Hal ini akan menyebababkan
penularan diare melalui tinja penderita oleh karena tinja pasien diare
mengandung bakteri penyebab diare yang akan ditularkan secara tidak
langsung oleh lalat (Pebriani dkk, 2012).
Syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah
tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya, tidak mengotori air
permukaan di sekitarnya, tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya,
kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat vektor
bertelur dan berkembang biak (DEPKES RI, 2010).
Pembuangan tinja yang tidak sanitasi dapat menyebabkan berbagai
penyakit, karenanya perilaku buang air besar sembarangan, sebaiknya segera
dihentikan. Keluarga masih banyak yang berperilaku tidak sehat dengan
buang air besar di sungai. Pekarangan rumah atau tempat-tempat yang tidak
selayaknya. Selain mengganggu udara segar karena bau yang tidak sedap juga
menjadi peluang awal tempat berkembangnya vektor penyebab penyakit
akibat kebiasaan perilaku manusia sendiri.
4. Hygiene Perorangan
Hygiene perorangan yang kurang sebesar 64,76% dan hygiene
perorangan yang baik sebesar 35,24%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian
besar hygiene perorangannya adalah kurang.
Hygiene perorangan sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan
kebudayaan. Kebersihan perorangan meliputi:
a. Kebersihan kulit. Untuk selalu memelihara kebersihan kulit kebiasaan-
kebiasaan yang sehat harus selalu memperhatikan: mandi minimal 2 kali

23
sehari, mandi memakai sabun, menjaga kebersihan pakaian dan menjaga
kebersihan lingkungan.
b. Kebersihan rambut. Memperhatikan kebersihan rambut dengan mencuci
rambut sekurang kurangnya 2 kali seminggu, mencuci rambut dengan
sampo atau pembersih lainnya.
c. Kebersihan gigi. Menggosok gigi dengan benar dan teratur dianjurkan
setiap sesudah makan, menghindari makan makanan yang dapat
merusak gigi, menggunakan gosok gigi sendiri, membiasakan makan
buah buahan yang menyehatkan gigi
d. Kebersihan tangan, kaki dan kuku, kuku dan tangan yang kotor dapat
menyebabkan bahaya kontaminasi dan menimbulkan penyakit penyakit
tertentu.

Kebersihan diri merupakan kunci utama tentang terjadinya suatu


penyakit. Kebersihan diri merupakan faktor penting dalam usaha
pemeliharaan kesehatan, agar kita selalu dapat hidup sehat. Menjaga
kebersihan diri berarti juga menjaga kesehatan umum. Cara menjaga
kebersihan diri dapat dilakukan dengan mandi setiap hari minimal 2 kali
sehari secara teratur dengan menggunakan sabun, muka harus bersih, telinga
juga harus dibersihkan serta bagian genital, tangan harus dicuci sebelum
menyiapkan makanan dan minuman, sebelum makan, sesudah buang air besar
atau buang air kecil, kuku digunting pendek dan bersih, agar tak melukai kulit
atau menjadi sumber infeksi. pakaian perlu diganti sehabis mandi dengan
pakaian yang habis dicuci bersih dengan sabun atau detergen. Pemeliharaan
kebersihan diri berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri
sesorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang dikatakan
memiliki kebersihan diri baik apabila, orang tersebut dapat menjaga
kebersihan tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, tangan dan kuku,dan
kebersihan genitalia (Mengistie et al, 2013; Gaffey et al, 2013).

5. Perilaku Buang Tinja

24
Perilaku buang tinja di sembarang tempat adalah sebanyak 74,29% dan
perilaku buang tinja di jamban adalah sebesar 25,71%. Hal ini menjelaskan
bahwa sebagian besar warga Desa Solor membuang tinja di sembarang
tempat.
Sarana jamban merupakan bagian dari usaha sanitasi yang cukup
penting peranannya. Ditinjau dari sudut kesehatan lingkungan, pembuangan
kotoran yang tidak saniter akan dapat mencemari lingkungan terutama tanah
dan sumber air. Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan
berbagai macam penyakit terutama diare. Jika akses buang tinja jauh, atau
bahkan tidak mempunyai akses maka akan BAB disembarang tempat yang
akan mudah bagi vector membawa penyakit dan menularkan kepada orang
lain terutama penularan penyakit diare. Tinja atau kotoran manusia
merupakan media sebagai tempat berkembang dan berinduknya bibit penyakit
menular (misal kuman atau bakteri, virus dan cacing). Apabila tinja tersebut
dibuang di sembarang tempat, missal kebon, kolam, sungai, dan lain
sebagainya maka bibit penyakit tersebut akan menyebar luas ke lingkungan,
dan akhirnya akan masuk dalam tubuh manusia, dan berisiko menimbulakan
penyakit pada seseorang dan bahkan bahkan menjadi wabah penyakit pada
masyarakat yang lebih luas (Surawicz et al, 2007).
6. Sanitasi Makanan
Sanitasi makanan kurang sebesar 62,86% dan sanitasi makanan baik
sebesar 37,14%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar sanitasi
makanannya adalah kurang.
Prinsip hygiene sanitasi makanan dan minuman adalah pengendalian
terhadap empat factor yaitu tempat atau bangunan, peralatan, orang, dan
bahan makanan. Terdapat 6 (enam) prinsip hygiene sanitasi makanan dan
minuman yaitu: pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan,
pengolahan makanan, penyimpanan makanan jadi, pengangkutan makanan,
dan penyajian makanan (Indan, 2008; Fausi, 2008).

25
Makanan merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam kehidupan
manusia, makanan yang dimakan bukan saja memenuhi gizi dan mempunyai
bentuk menarik, akan tetapi harus aman dalam arti tidak mengandung
mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit.
Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan factor tempat,
peralatan, orang dan makanan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Ada dua faktor yang menyebabkan suatu makanan
menjadi berbahaya bagi manusia antara lain: parasite misalnya: cacing dan
amuba, golongan mikro organisme misalnya: salmonela dan shigella, zat
kimia misalnya: bahan pengawet dan pewarna, bahan-bahan radioaktif
misalnya: kobalt dan uranium, toksin atau racun yang dihasilkan
mikroorganisme (Soegijanto, 2009).
Kebersihan sanitasi makanan sangat berpengaruh terhadap kejadian
diare sehingga sangat diperlukan sanitasi yang baik untuk mengurangi
terjadinya penyakit diare. Sanitasi makanan berarti suatu usaha pencegahan
yang menitikberatkan kegiatan dan tindakan untuk membebaskan makanan
dan minuman dari segala bahaya-bahaya yang dapat mengganggu atau
merusak kesehtan, mulai dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan
mentah, proses pengolahan, penyimpanan makanan, pengangkutan, penjualan
sampai pada penyajian makanan untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Peneliti
berharap agar masyarakat melakukan satu usaha pencegahan yang
menitikberatkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan
makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau
memasak kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam
proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana
makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat
atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan untuk menjamin keamanan
dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah
penjualan makanan yang akan merugikan pembeli. Mengurangi kerusakan
atau pemborosan makanan.

26
7. Kejadian Diare
Kejadian diare sebesar 74,29% dan tidak diare sebesar 25,71%. Hal ini
menjelaskan bahwa sebagian besar penduduk Desa Solor mengalami diare.
Tingginya kejadian diarendisebabkan oleh beberapa faktor antara lain
kesehatan lingkungan belum memadai, sosial ekonomi, pengetahuan
masyarakat, perilaku masyarakat dan sebagainya yang secara langsung
maupun tidak langsung mempengaruhi kejadian diare (Wijaya, 2013).
Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa faktor kejadian diare antara lain
disebabkan oleh sumber air minum masyarakat, kualitas fisik air bersih, dan
kepemilikan jamban (Murtiana dkk, 2014).
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik
(makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam
rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam
rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare). Selain itu
menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga
sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan
motilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat
dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang
mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hypokalemia),
gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan
sirkulasi (Smeltzer & Bare, 2008; Black & Hawks, 2014).

27
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyakit diare menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang


penting karena merupakan penyumbang utama ketika angka kesakitan dan
kematian anak di berbagai Negara termasuk Indonesia. Diperkirakan lebih dari
1,3 milyar serangan dan 3,2 juta kematian per tahun pada balita disebabkan oleh
diare. Diare adalah perubahan frekuensi dan konsitensi tinja.

Diare merupakan penyebab utama kematian anak-anak berusia kurang dari


lima tahun (balita) secara global (Pahwa, 2010). Sekitar lima juta anak di seluruh
dunia meninggal karena diare akut. Di Indonesia pada tahun 70-80 an, prevalensi
penyakit diare sekitar 200-400/1000 penduduk pertahun, dari angka prevalensi
tersebut 70-80% menyerang anak di bawah usia lima tahun (balita). Golongan
umur ini mengalami 2-3 episode diare pertahun, diperkirakan kematian anak
akibat diare sekitar 200-250 ribu setiap tahunnya.

Pengkajian Keperawatan

1. Berak-berak dengan frekuensi lebih dari 3 kali konsistensi lunak sampai


cair, mual, dan muntah.
2. Terjadi peningkatan suhu tubuh, dan disertai ada atau tidak ada
peningkatan nadi, pernafasan.
3. Bila terjadi kekurangan cairan ditandai dengan haus, lidah kering, tulang
pipi menonjol, turgor kulit menurun.
4. Bila terjadi gangguan biokimia : Asidosis metabolik nafas cepat/dalam
(kusmaul), bila banyak kekurangan kalium Aritmia jantung.
5. Bila syok hipovolumik berat ; nadi cepat lebih 120x/menit, tekanan darah
menurun sampai dari tak terukur.
6. Pasien gelisah, muka pucat, ujungujung ekstremitas dingin, sianosis.

28
Diagnosa Keperawatan

1. Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan


cairan terhadap muntah dan diare.
2. Defisit nutrisi berhubungan dengan masukkan makanan tak adekuat.
3. Defisist pengetahuan pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi
informasi dan atau keterbatasan kognitif.
B. Saran

Perawat harus lebih memperhatikan pasien, dalam memberikan asuhan


keperawatan hendaknya harus sesuai standar yang berlaku dan meningkatkan
kerja sama dengan pasien, keluarga dan tim kesehatan lainnya .

29