You are on page 1of 29

” MENGGERAKKAN DAN MENINGKATKAN PERAN SERTA MASYARAKAT”

A. PENGERTIAN

Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan
dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat untuk
berkerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan
kesehatan.

Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat
departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan
untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader
kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup
sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sedarhana.

Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab atas masyarakat setempat serta pimpinan
yang ditujuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Diharapkan mereka dapat melaksanakan
petunjuk yang diberikan oleh para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim
kesehatan.

Para kader kesehatan masyarakat untuk mungkin saja berkerja secara fullteng atau partime
dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak dibayar dengan uang atau bentuk
lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh puskesmas. Namun ada juga kader kesehatan
yang disediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya oleh
masyarakat setempat.

B. PERAN FUNGSI KADER

Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat:

1. perilaku hidup bersih dan sehat

2. pengamatan terhadap masalah kesehatan didesa

3. upaya penyehatan dilingkungan

4. peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita

5. ermasyarakatan keluarga sadar gizi

Kader di tunjukan oleh masyarakat dan biasanya kader melaksanakan tugas-tugas kader
kesehatan masyarakat yang secara umum hampir sama tugasnya dibeberapa Negara yaitu:

1. pertolongan pertama pada kecelakaan dan penanganan penyakit yang ringan

2. melaksanakan pengobatan yang sederhana

3. pemberian motivasi dan saran-saran pada ibu-ibu sebelum dan sesudah melahirkan
4. menolong persalinan

5. pemberian motivasi dan saran-saran tentang perawatan anak

6. memberikan motivasi dan peragaan tentang gizi

7. program penimbangan balita dan pemberian makanan tambahan

8. pemberian motivasi tentang imunisasi dan bantuan pengobatan

9. melakukan penyuntikan imunisasi

10. pemberian motivasi KB

11. membagikan alat-alat KB

12. pemberian motivasi tentang sanitasi lingkungan,kesehatan perorangan dan kebiasaan


sehat secara umum.

13. pemberian motivasi tentang penyakit menular,pencegahan dan perujukan.

14. pemberian motivasi tentangperlunya fall up pada penyakit menular dan perlunya
memastikan diagnosis.

15. penenganan penyakit menular.

16. membantu kegiatan di klinik.

17. merujuk penderita kepuskesmas atau ke RS

18. membina kegiatan UKS secara teratur

19. mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh puskesmas membantu pencatatan dan
pelaporan.

C. PEMBINAAN KADER KESEHATAN

Pembinaan kader kesehatan merupakan kegiatan dalam rangka mempersiapkan


kader kesehatan agar mampu berperan serta dalammengembangkan pasien kesehatan di desa.

1. Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan ( promosi bidan siaga)

Pembinaan kader yang dilakukan bidan didalamnya berisi tentang peran kader adalah dalam
daur kehidupan wanita dari mulai kehamilan sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun
hal-hal yang perlu disampaikan dalam persiapan persalinan adalah sebagai berikut :

a. Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong oleh bidan atau
dokter.

b. suami atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.


c. Ibu dan suami menanyakan kebidan atau kedokter kapan perkiraan tanggal persalinan

d. Jika ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan terang, tempat tidur
dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun untuk cuci tangan, handuk kain, pakaian
kain yang bersih dan kering dan pakaian ganti ibu.

Pembinaan kader yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini
tanda bahaya dalam kehamilan maupun hal-hal berikut ini.

a. Perdarahan ( hamil muda dan hamil tua)

b. Bengkan dikaki, tangan, wajah, atau sakit kepala kadang disertai kejang

c. Demam tinggi

d. Keluar air ketuban sebeleum waktunya

e. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak

f. Ibu muntah terus dan tidak mau makan

2. Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas serta rujukan

a. Tanda-tanda bahaya kehamilan

Pada setiap kehamilan perlu di informasikan kepada ibu, suami dan keluarga tentang
timbulnya kemungkinan tanda-tanda bahaya dalam kehamilan.

Adanya tanda-tanda bahaya mengharuskan ibu, suami / keluarga untuk segera membawah ibu
kepelayanan kesehatan / memanggilbidan. Tanda-tanda bahaya kehamilan meliputi :

1) perdarahan jalan lahir

2) kejang

3) sakit kepala yang berlebihan

4) muka dan tangan bengkak

5) demam tinggi menggigil / tidak

6) pucat

7) sesak nafas

b. Tanda-tanda kegawatan dalam persalinan

Sebagai akibat dari permasalahan dalam persalinan, kegawatan dalam persalinan dapat terjadi
dengan tanda-tanda sebagai berikut :

1) Perdarahan
2) Kejang

3) demam, menggigil, keluar lender dan berbau

4) persalinan lama

5) mal presentase

6) plasenta tidak lahir dalam 30 menit

c. Kegawatan masa nifas

Pada masa segera setelah persalinan, kegawatan dapat terjadi baik pada ibu ataupun bayi.
Kegawatan yang dapat mengancam keselamatan ibu baru bersalin adalah perdarahan karena
sisa plasenta dan kontraksi serta sepsis (demam). Pada bayi yang baru dilahirkan dapat terjadi
depresi bayi dan atau trauma.

Bila terjadi kegawatan pada ibu / bayi beri tahu ibu, suami dan keluarga tentang tatalaksanaan
yang dikerjakan dan dampak yang dapat ditimbulkan dari tatalaksana tersebut. Serta
persiapan tindakan rujukan. Tindakan ini perlu untuk melibatkan ibu, suami dan keluarga
sehingga tercapai suatu kerjasama yang baik.

Apabila ibu dan bayi sudah berada dirumah, informasikan kepada ibu, suami dan keluarga
bahwa adanya tanda-tanda kegawatan mengharuskan ibu untuk dibawah segera kesarana
pelayanan kesehatan atau menghubungi bidan.

Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu. Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu
yang perlu diperhatikan meliputi :

1) perdarahan banyak atau menetap

2) rasa lelah yang sangat, mata, bibir dan jari pucat

3) bengkak pada salah satu atau kedua kaki

4) rasa sakit pada perut berlebihan dan lokia berbau busuk atau berubah warna.

5) pucat, tangan dan kaki dingin (syok)

6) tidur turun dratis

7) kejang

8) sakit kepala berlebihan / gangguan pandangan

9) bengkak pada tangan dan muka

10) peningkatan tekanan darah

11) buang air kecil sedikit / berkurang dan sakit


12) tidak mampu menahan BAK / ngompol

13) demam tanpa atau dengan menggigil

14) adanya kesedihan yang mendalam, kesulitan dalam tidur, makan dan merawat bayi.

Adanya salah satu tanda kegawatan tersebut mengharuskan ibu mendapatkan pelayanan
dari bidan / mencari pertolongan kesarana pelayanan kesehatan.

Pada bayi sebagian besar penyebab kematian adalah karena infeksi, asveksia dan trauma pada
bayi. Pengenalan tanda-tanda kegawatan pada bayi perlu untuk dilakukan penatalaksanaan
lebih dini yang sesuai yang dapat menurunkan kematian tersebut.

Kegawatan bayi dapat terjadi hari-hari pertama masa nifas dan perlu pertolongan segera
ataupun dalam 7 hari pertama masa nifasyang juga memerlukan pertolongan disarana
pelayanan kesehatan. Kegawatan bayi beberapa hari setelah persalinan harus segera dibawah
kesarana pelayanan kesehatan / hubungi bidan :

1) bayi sulit bernafas

2) warna kulit dan mata kuning

3) pernafasan lebih dari 60 x / menit

4) kejang

5) pendarahan

6) demam

7) bayi tidur sepanjang malam dan tidak mau menetek sepanjang hari.

8) tidak dapat menetek (mulut kaku)

Kegawatan bayi 7 hari pertama masa nifas yang membutuhkan perawatan bidan / dibawah
kesarana pelyanan kesehatan secepatnya :

1) hypothermia

2) pucat / kurang aktif

3) diare / konstipasi

4) kesulitan dalam menetek

5) mata merah dan bengkak / nanah

6) merah pada tali pusat / tercium bau

d. Tetanus neonatorum
Tetanus neonatorum adalah penyakit pada bayi baru lahir, disebabkan masuknya kuman
tetanus melalui luka tali pusat, akibat pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak bersih,
luka tali pusat kotor atau tidak bersih karena diberi bermacam-macam ramuan, atau ibu hamil
tidak mendapat imunisasi TT lengkap sehingga bayi yang dikandungnya tidak kebal terhadap
penyakit tetanus neonatorum. Maka perlu dilakukan pembinaan dukun bayi dalam
pencegahan tetanus neonatorum, yaitu : Melakukan pertolongan persalinan “3 bersih”.

1) Sebelum menolong persalinan, tangan penolong disikat dan disabun hingga bersih :
BERSIH ALAT.

2) Alas tempat ibu berbaring harus bersih : BERSIH ALAS.

3) Gunting dan benang pengikat tali pusat harus steril, bersih, dan tidak berkarat. Supaya
steril gunting dan benang direbus dalam air mendidih selama paling sedikit 15 menit pada
saat akan dipakai : BERSIH ALAT.

Melakukan perawatan luka tali pusat yang bersih. Tali pusat dibersihkan setiap pagi dangan
air hangat. Luka tali pusat yang telah dibersihkan tidak boleh sama sekali dibubuhi ramuan,
jamu, daun-daunan, atau abu dapur. Setelah dibersihkan luka tali pusat ditutup dengan kain
kasa kering. Demikian dilakukan terus sampai luka kering dan tali pusat puput.

Memberi kekebalan kepada bayi baru lahir dengan member imunisasi tetanus toksoid
sebanyak 2 kali kepada ibu hamil, calon pengantin,dan anak perempuan kelas 6 sekolah
dasar.

Imunisasi TT bagi calon ibu berguna agar ibu dan bayi mendapat kekebalan terhadap tetanus.
Imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali karena imunisasi yang pertama belum member
kekebalan pada bayi baru lahir terhadap penyakit tetanus sehingga bayi yang berusia kurang
dari 1 bulan dapat terkena tetanus melamui luka tali pusat.

Imunisasi TT umumnya diberrikan kepada ibu hamil, calon pengantin wanita, dan anak
perempuan kelas 6 SD.

o Pada ibu hamil:

TT-1 : Segera setelah ada tanda-tanda kehamilan.

TT-2 : Satu bulan setelah TT-1.

o Pada calon pengantin wanita:

TT-1 : Pada saat penaftaran nikah.

TT-2 : Satu bulan setelah TT-1.

o Anak perempuan kelas 6 SD:

TT : Kapan saja selama SD kelas 6.

e. Rujukan
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu kepfasilitas rujukan / fasilitas yang memiliki
sarana lebih lengkap, diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir.
Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun 10 sampai 15 %
diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran bayi sehingga
perlu dirujuk kefasilitas kesehatan rujukan. Sangat sulit untuk menduga kapan penyakit akan
terjadi sehingga kesiapan untuk merujuk ibu dan atau bayinya kefasilitas kesehatan rujukan
secara optimal dan tepat waktu (jika penyulit terjadi) menjadi saran bagi keberhasilan upaya
penyelamatan, setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan yang
mampu untuk menatalaksana kasus gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir seperti :

1) pembedahan termasuk bedah sesar

2) transfuse darah

3) persalinan menggunakan ekstraksi fakum / cunam

4) pemberian anti biotik intravena

5) resusitasi BBL dan asuhan lanjutan BBL

Informasi tentang pelayanan yang tersedia ditempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna
waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ketempat rujukan dadlah wajib untuk
diketahui oleh setiap penolong persalinan jika terjadi penyulit, rujukan akan melalui alur
yang singkat dan jelas. Jika ibu bersalin / BBL dirujuk ketempat yang tidak sesuai maka
mereka akan kehilangan waktu yang sangat berharga untuk menangani penyakit untuk
komplikasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka pada saat ibu melakukan
kunjungan antenatal,jelaskan bahwa penolong akan selalu berupaya dan meminta bekerja
sama yang baik dari suami / keluaga ibu untuk mendapatkan layanan terbaik dan bermanfaat
bagi kesehatan ibu dan bayinya,termasuk kemungkinan perlunya upaya rujukan pada waktu
penyulit,seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan dan ketidaksiapan ini
dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Anjurkan ibu untuk membahas dan
membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya. Tawarkan agar penolong
mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan
tentang perlunya rencana rujukan apabila diperlukan. Masukan persiapan-persiapan dan
informasi berikut kedalam rencana rujukan :

1) siapa yang akan menemani ibu dan BBL

2) tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga? (jika ada lebih dari
satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis
asuhan yang diperlukan).

3) sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengendarainya ingat
bahwa transportasi harus segera tersedia, baik siang maupun malam.

4) orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika transfuse darah diperlukan.

5) uang yang disisihkan untuk asuhan medik, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan.
6) siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak
dirumah.

Kaji ulang rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus dilakukan
selama ibu melakukan kunjungan asuhan antenatal / diawal persalinan (jika mungkin). Jika
ibu belum membuat rencana rujukan selama kehamilannya, penting untuk dapat
mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya diawal persalinan. Jika timbul
masalah pada saat persalinan dan rencana rujukan belum dibicarakan maka sering kali sulit
untuk melakukan semua persiapan-persiapan secara cepat. Rujukan tepat waktu merupakan
unggulan asuhan saying ibu dalam mendukung keselamatan ibu dan BBL.

Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam


mempersiapkan rujukan untuk ibu dan bayi.

o B (Bidan) :

pastikan bahwa ibu dan bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan yang kompeten
untuk menatalaksana gawat darurat obstetri dan BBL untuk dibawah kefasilitas rujukan.

o A (Alat) :

bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan, masa nifas dan BBL (tabung
suntik, selang iv, alat resusitasi, dll) bersama ibu ketempat rujukan. Perlengkapan dan bahan-
bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu melahirkan dalam perjalanan menuju fasilitas
rujukan.

o K (Keluarga) :

beri tahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan bayi dan mengapa ibu dan bayi
perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alas an dan tujuan merujuk ibu kefasilitas rujukan
tersebut. Suami / anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan BBL hingga kefasilitas
rujukan.

o S (Surat) :

berikan surat ketempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan
BBL, cantumkan alas an rujukan dan uraikan hasil penyakit, asuhan / obat-obatan yang
diterima ibu dan BBL. Sertakan juga partograf yang dipakai untuk membuat keputusan
klinik.

o (Obat) :

bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu kefasilitas rujukan. Obat-obatan tersebut
mungkin diperlukan selama diperjalanan.

o K (Kendaraan) :
siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi cukup
nyaman. Selain itu, pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai tujuan pada
waktu yang tepat.

o U (Uang) :

ingatkan keluarga agar membawah uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-
obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan bayi
baru lahir tinggal difasilitas rujukan.

3. Penyuluhan gzi dan keluarga berencana

a. Penyuluhan Gizi Ibu Hamil

Berat badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai dengan usia kehamilan. Berat badan
yang bertambah dengan normal, menghasilkan anak yang normal. Kenaikan berat badan ideal
pada ibu hamil sebanyak 7 kg (untuk ibu yang gemuk) dan 12,5 kg (untuk ibu yang tidak
gemuk). Di luar batas itu, dinilai abnormal.

Dalam 3 bulan pertama, berat badan ibu hamil akan naik sampai 2 kg. Kemudian, dinilai
normal jika setiap minggu berat badan naik 0,3 kg. Pada kehamilan tua, rata-rata kenaikan
berat badan ibu akan mencapai 12 kg. Jika kenaikan berat badan lebih dari normal, akan
berisiko mengalami komplikasi preeklamsia dan janin terlalu besar sehingga menimbulkan
kesulitan persalinan.

Demam tinggi pada masa nifas. Pada masa nifas, selama 42 hari setelah melahirkan, ibu yang
mengalami demam tinggi lebih dari 2 hari, dan disertai keluarnya cairan (dari liang rahim)
yang berbau, mungkin mengalami infeksi jalan lahir. Cairan Hang rahim yang tetap berdarah,
keadaan ini dapat mengancam keselamatan ibu. Zat makanan yang dibutuhkan ibu hamil,
yaitu:

1) Energi, dihasilkan dari karbohidrat, protein, dan zat patinya. Protein. Ibu hamil
membutuhkan protein lebih banyak dari biasanya.

2) Protein hewani lebih besar dibandingkan protein nabati. Contoh: ikan, daging, susu, dan
telur harus lebih banyak dikonsumsi jika dibandingkan dengan tahu, tempe, dan kacang.
Protein dapaa diperoleh dari susu, telur, dan keju. Tambahannya diperoleh dan gandum dan
kacang-kacangan. Manfaat dari protein.

a) Protein untuk membangun tubuh janin dimulai dari sebesar sehingga menjadi tubuh
seberat 3,5 kg.

b) Protein digunakan untuk membuat ari-ari.

c) Protein digunakan untuk menambah unsur dalam cairan darahterutama haemoglobin


dan plasma darah.

d) Protein digunakan untuk pembuatan cairan ketuban.


3) Vitamin.

Ada beberapa jenis vitamin yang penting untuk ibu hamil. Jika ibu hamil sampai kekurangan
vitamin, pembentukan sel-sel tubuh anak akan berkurang. Anak dapat kurang darah, cacar
bawaam kelainan bentuk, bahkan ibu dapat keguguran. Vitamin yang dibutuhkan oleh ibu
hamil, yaitu B6, C, A, D, E, dan K.

4) Kalsium, Mineral dan Zat lainnya

a) Kalsium. Kalsium sangat penting karena dibutuhkan untuk pembentukan tulang.


Apabila kekurangan kalsium, bayi yang dikandung akan menderita kelainan tulang dan gigi.
Sumber kalsium yang tinggi diperoleh dari semua makanan yang berasal dari susu. seperti
keju, es krim, dan kue. Selain itu, juga banyak terdapat pada kacang-kacangan dan sayuran
berdaun hijau.

b) Fosfor. Mineral ini dapat diperoleh dari makanan sehari-hari. Fosfor berhubungan erat
dengan kalsium. Jika jumlahnya tidak seimbang di dalam tubuh, dapat terjadi gangguan.
Gangguan yang paling sering adalah kram pada tungkai.

c) Zat besi. Sel darah merah Ibu hamil bertambah sampai 30rc. Berarti, tubuhnya
memerlukan tambahan zat besi. Setiap hari. ibu hamil membutuhkan tambahan 700-800 mg
zat besi. Sumber makanan yang mengandung zat besi tinggi adalah hati. Oleh karena itu, ibu
hamil perlu banyak mengonsumsi hati, daging. telur, kacang-kacangan, dan sayuran berwarna
hijau. Kebutuhan zat besi ibu hamil meningkat pada kehamilan trimester II dan III. Pada
masa tersebut, kebutuhan zat besi tidak dapat diandalkan dari menu harian saja. Walaupun
menu hariannya cukup mengandung zar besi.

d) Zink, mineral, ini dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil, biasanya cukup dari
makanan sehari-hari

e) Fluor. Mineral floyr juga tidak banyak diperlukan.

f) Yodium. Yosidum cukup diperoleh dari air minum dan sumber bahan makanan laut.

b. Penyuluhan Kb

Sebelum pemberian metode kontrasepsi, misalnya pil, suntik, atau KDR terlebih dahulu
menentukan apakah ada keadaan yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satu usaha
untuk menciptakan kesejahtreraan adalah dengan memberi nasihat perwakinan, pengobatan
kemandulan, dan memperkecil angka kelahiran (Depkes RI 1999). Program KB adalah
bagian yang terpadu dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk turut serta
menciptak~ kesejahteraan ekonomi, spiritual, dan sosial penduduk Indonesia. Tujuan
program KB adalah memperkecil angka kelahiran, menjaga kesehatan ibuanak, serta
membatasi kehamilan jika jumlah anak sudah mencukupi. Peserta KB akan mendapat
pelayanan dengan cara sebagai berikut.
1) Pasangan usia subur yang istrinya mempunyai keadaan “ 4 terlalu” yaitu terlalu muda,
terlalu banyak anak, terlalu sering hamil, dan terlalu tua akan mendapat prioritas
pelayanan KB.

2) Peserta KB diberikan pengertian mengenai metode kontrasepsi dengan keuntungan dan


kelemahan masing-masing sehingga ia dapat : menentukan pilihannya.

3) Harus mendapat informasi mengenai metode kontrasepsi dengan keuntungan dan


kelemahannya sehingga ia dapat menentukan pilihannya

4) Harus dilakukan pemeriksaan fisik sebelum pelayanan KB diberikan kepada klien agar
dapat ditentukan metode yang paling cocok dengam hasil pemeriksaannya.

5) Harus mendapatkan informasi tentang kontraindikasi pemakai. berbagai metode


kontrasepsi.

Kegiatan IM merupakan salah satu komponen dari pelayanan i;;-sehatan reproduksi esensial
(PKRE) yang dapat dilaksanakan di tiap tingkat pelayanan sesuai dengan kewenangannya,
yaitu:

1) Pelayanan di tingkat desa.

a) Konseling KB.

b) Pelayanan KB, kecuali implant dan metode operatif.

c) Pertolongan pertama efek samping KB.

d) Rujukan pelayanan KB.

2) Pelayanan di tingkat puskesmas.

a) Konseling KB.

b) Pelayanan KB, sesuai dengan kemampuan.

c) Pertolongan pertama komplikasi dan kegagalan KB serta penananganan efek


samping KB.

d) Rujukan pelayanan KB.

e) Pembinaan pelayanan di tingkat Desa.

3) Pelayanan di tingkat rujukan KB.

a) Konseling KB.

b) Pelayanan semua jenis metode KB.

c) Penanganan komplikasi dan kegagalan KB serta penanganan efek samping KB.


d) Penanganan kasus rujukan pelayanan KB.

e) Pembinaan pelayanan di tingkat puskesmas.

4. Pencatatan Kelahiran Dan Kematian Ibu/ Bayi

a. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia dari tahun 1967 sampai dengan tahun 1996
menunjukkan kecenderungan menurun. Estimasi AK yang dilakukan Biro Pusat Statistik
adalah berdasarkan perhitungan dari data hasil sensus/survei (tentang rata-rata yang
dilahirkan hidup menurut ibu).

Pada kurun waktu tahun 1967-1976 (9 tahun), penurunan AKB ratarata per tahun adalah
3,2%, yaitu 145 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1967, menjadi 109 per 1000 kelahiran
hidup pada tahun 1976. Untuk periode 1986-1992, penurunan AKB rata-rata per tahun adalah
4,1% yaitu 71 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 60 per 1000 kelahiran
hidup pada tahun 1992. Dari hasil proyeksi, terlihat bahwa AKB pada tahun 1992 sebesar 60
per 1000 kelahiran hidup yang cenderung menurun menjadi 54 per 1000 kelahiran hidup pada
tahun 1996. Berdasarkan jenis kelamin, terlihat bahwa angka kematian pada bayi laki-laki
tampaknya lebih besar dibandingkan bayi perempuan.

Pola penyakit penyebab kematian bayi dari SKRT tahun 1986 berbeda dengan hasil SKRT
tahun 1992. Perbedaan proporsi antara tahun 1986 dan 1992 ini mungkin disebabkan oleh
cakupan sampel SKR.T 1986 yang hanya mencakup 7 provinsi, sedangkan pada tahun 1992
mencakup 37 provinsi. Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi hasil SKRT ,ahun
1986 yang tertinggi adalah penyakit tetanus neonatorum (19,3%), sedangkan hasil SKRT
1992 adalah penyait ISPA (36%). Jika dibanding~an hasil SKRT 1992 dengan hasil SKRT
1995, penyakit sistem pernapasan menduduki urutan pertama, sedangkan gangguan pranatal
naik dari .irutan kelima pada SKRT 1992 dan menjadi urutan kedua pada SKRT :995. Jika
dibandingkan pola penyakit penyebab kematian bayi antara lawa-Bali dan luar Jawa-Bali,
terlihat urutan tertinggi di Jawa-Bali cisebabkan gangguan pranatal (33,5%), sedangkan di
luar Jawa-Bali cisebabkan penyakit sistem pernapasan.

b. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka kematian balita (0--4 tahun) adalah jumlah kematian anak usia C-4 tahun per 1000
kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat perm asalahan kesehatan anak dan faktor
lain yang berpengaruh terhadap keseatan anak balita, seperti gizi, sanitasi, penyakit menular,
dan kecelakaan.

Estimasi angka kematian balita di Indonesia yang dihitung dari data iro Pusat Statistik,
mengalami penurunan yang cukup berarti, yaitu an 111 per 1000 kelahiran hidup pada tahun
1986 menjadi 81 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1993. Angka kematian balita tertinggi
d Provinsi Nusa Tenggara Barat (162 per 1000 kelahiran hidup), sedangkar Provinsi DKI
Jakarta (4 per 1000 kelahiran hidup.
Hasil SKRT 1995 menunjukkan 5 penyakit penyebab kematian. anak balita, yaitu sistem
pernapasan (30,8%), gangguan pranatal (21,6%), diare (15,3%), infeksi dan parasit lain
(6,3%), dan saraf (tetanus) (5,5%).

c. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka kematian ibu berguna untuk menggambarkan tingkat kesa daran perilaku hidup sehat,
status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatar lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan
(terutama untuk ibu hamil ibu waktu melahirkan, dan masa nifas). Angka kematian ibu
sampai saal ini baru diperoleh dari survei terbatas seperti penelitian dan pencatatar pada 12
rumah sakit pendidikan (1977-1980) diperoleh AKI 370 per 100.00( kelahiran hidup.
Penelitian oleh Universitas Padjadjaran di Ujung Berun€ (1978-1980) AKI 170, dan di
Kabupaten Sukabumi tahun 1982 sebesar 450 dan hasil SKRT 1980 adalah 150 per 100.000
kelahiran hidup. Hasil in relatif rendah karena survei tidak mencakup semua provinsi.
Menurut hasi: SKRT tahun 1992, angka kematian ibu sebesar 425 per 100.000 kelahirar
hidup. Hasil survei demografi Kesehatan Indonesia tahun 1994 menunjuk kan angka 390 per
100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada hasil SKRZ 1995, angka kematian ibu sebesar 373
per 100.000 kelahiran hidup.

d. Angka Kematian Kasar (AKK)

Dari hasil sensus tahun 1971 dan 1980, SUPAS tahun 1967 dan 1985 terlihat bahwa angka
kematian kasar cenderung menurun dan menurut hasil perkiraan BPS angka kematian kasar
(AKK) pada kurun waktL 1985-1990 akan menjadi 7,9 per 1000 penduduk dan selanjutnya
pade kurun waktu 1990-1995 menjadi sebesar 7,5 per 1000 penduduk. Penyakit penyebab
kematian per 100 kematian hasil SKRT 1986 se. bagai urutan pertama adalah penyakit diare
sebesar 12 per 1000 kema. tian, sedangkan dari hasil SKRT 1992 dan SKRT 1995 adalah
penyakit sistem sirkulasi, yaitu sebesar 16 per 100 kematian tahun 1992 menjad 18,9 per 100
kematian tahun 1995. Sementara itu, dari hasil SKRT 1991: untuk daerah Jawa-Bali
menunjukkan bahwa penyakit kematian utama adalah sistem sirkulasi (24,2 per 100
kematian). Penyakit sistem sirkulasi ini mencakup hipertensi, penyakit jantung iskemia,
penyakit paru yang berkaitan dengan jantung, komplikasi penyakit jantung yang kausanya
tidak jelas, dan penyakit serebrovaskular. Untuk daerah luar Jawa-Bali, menunjukkan bahwa
penyakit penyebab kematian utama adalah sistem pernapasan (16,0 per 100 kematian) yang
diikuti penyakit sistem sirkulasi (14,3 per kematian) dan tuberkulosis (10,9%).

Untuk tahun 1995, pola penyakit penyebab kematian bukan penyebab langsung secara
nasional, berbeda dengan pola penyakit penyebab kematian pada rumah sakit umum kelas A,
B, C maupun D. Secara nasional dan menurut rumah sakit umum kelas B, penyakit
serebrovaskular merupakan penyebab utama kematian. Pada rumah sakit umum kelas A,
penyakit karena cedera dan keracunan merupakan penyebab utama, sedangkan pada rumah
sakit umum kelas C dan D, penyebabnya adalah penyakit saluran napas bawah.

Jika dilihat pola penyakit pada tahun 1995, penyakit utama yang terbanyak secara nasional
bukan merupakan penyebab utama yang mendasari kematian. Untuk kasus penyakit
terbanyak secara nasional, yaitu penyakit infeksi usus, penyakit karena cedera, dan keracunan
di rumah sakit umum kelas A, komplikasi obstetri dan abortus di rumah sakit umum kelas B,
sedangkan di rumah sakit umum kelas C dan D sama dengan tingkat nasional, yaitu penyakit
infeksi usus.

5. Progam Kesehatan lainnya

a. Kesehatan

Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan masyarakat untuk memelihara,


meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan, dan
kemampuaserta pengembangan lingkungan sehat. Sasaran promosi kesehatan adalah
individu, keluarga, masyarakat, dan petugas pelaksana program.

b. Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin)

Tabulin merupakan institusi masyarakat dengan anggota para ibu hamil atau PUS (Pasangan
Usia Subur) yang belum hamil, dengan bentuk kegiatan yang berupa pengumpulan dana di
lingkungan anggotanya, ma syarakat, atau subsidi dari pemerintah.

c. Donor darah berjalan

Donor darah berjalan merupakan pendonoran darah secara bertahaa. beberapa kali, atau
secara berangsur-angsur selama 3 bulan sekali agar mendonorkan darahnya ke PMI. Tujuan
utama diadakannya donor darah adalah untuk membantu PMI dalam ketersediaan stok darah
di PMI yang berkurang sejak terjangkitnya penyakit demam berdarah.

d. Ambulans Desa

Ambulans desa merupakan sistem yang dikembangkan oleh pemerintah, swasta, dan
masyarakat untuk mengangkut ibu bersalin yang perlu dirujuk ke rumah sakit atau
puskesmas.

e. Suami Siaga

program ini suami diharapkan suami siap :

1) Secara mental : Ketika ibu menghadapi persalinan, siapkan mentalnya untuk


memberikan dukungan atau semangat kepada istri.

2) Secara fisik : suami mempersiapkan dirinya untuk menjaga dan melindungi


istrinya.

3) Secara materil : suami mempersiapkan dana untuk persalinan istrinya


DAFTAR PUSTAKA

Bari saifudin, abdul. 2002. buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Jakarta : yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Prof. Dr. Azwar, Azrul. MPH. 2002. asuhan persalinan normal. Jakarta : tim revisi edisi
2007.
PELAYANAN YANG BERORIENTASI PADA KEBUTUHAN MASYARAKAT.
Proses dimana masyarakat dapat mengidentifikasi kebutuhan dan tentukan prioritas dari
kebutuhan tersebut serta mengembangkan keyakinan masyarakat untuk berusaha memenuhi
kebutuhan sesuai skala prioritas berdasarkan atas sumber – sumber yang ada di masyarakat
sendiri maupun berasal dari luar secara gotong royong. Terdiri dari 3 aspek penting meliputi
proses, masyarakat dan memfungsikan masyarakat.
Terdiri dari 3 jenis pendekatan :
1. Specifict Content Approach
Yaitu pendekatan perorangan atau kelompok yang merasakan masalah melalui proposal
program kepada instansi yang berwenang.
Contoh : pengasapan pada kasus DBD
2. General Content objektive approach
Yaitu pendekatan dengan mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam
wadah tertentu.
Contoh : posyandu meliputi KIA, imunisasi, gizi, KIE dsb.
3. Proses Objective approach
Yaitu pendekatan yang lebih menekankan pada proses yang dilaksanakan masyarakat sebagai
pengambil prakarsa kemudian dikembangkan sendiri sesuai kemampuan.
Contoh : kader
Pelayanan seorang bidan yang bekerja di masyarakat berarti melayani masyarakat dengan
memberi pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan. Masyarakat juga diajak bekerjasama agar
mampu berperilaku hidup sehat dan mempromosikan kepada orang lain di lingkungan sekitarnya.
Masyarakat juga dapat memberikan masukan tentang bentuk bagaimana bentuk pelayanan yang
diharapkan. Dengan demikian, keberhasilan bidan dalam bekerja di masyarakat sangat ditentukan
oleh kemampuannya untuk mendengarkan, dan memenuhi harapan masyarakat serta melibatkan
masyarakat dalam upaya memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat.

Pemanfaatan fasilitas dan potensi yang ada di masyarakat


Kegiatan dapat dikategorikan sebagai upaya yang berlandaskan pada pemberdayaan
masyarakat apabila dapat menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan atau kekuatan yang
dimiliki oleh masyarakat itu sendiri, bukan kegiatan yang segala sesuatunya diatur dan disediakan
oleh pemerintah maupun pihak lain.

Kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh masyarakat dapat berupa :

a. Tokoh masyarakat
Tokoh masyarakat adalah semua orang yang memiliki pengaruh di masyarakat setempat baik yang
bersifat formal ( ketua RT, RW, Kades dll) maupun tokoh non formal (tokoh agama, tokoh adat,
tokoh pemuda, kepala suku).

Tokoh masyarakat merupakan kekuatan yang sangat besar yang mampu menggerakkan masyarakat
di dalam setiap upaya pembangunan.

b. Dana masyarakat

pada golongan masyarakat tertentu penggalangan dana masyrakat merupakan upaya yang tidak
kalah pentingnya, tapi pada golongan masyarakat yang tingkat ekonominya pra sejahtera
penggalangan dana masyarakat hendaknya dilakukan sekedar agar mereka marasa ikut memiliki dan
bertanggungjawab terhadap upaya pemelaiharaan dan peningkatan derajat kesehatnnya. Cara lain
yang dapat ditempuh adalah dengan model tabungan atau sistem asuransi yang bersifat subsidi
silang.

c. Organisasi kemasyarakatan

Organisasi yang ada di masyarakat seperti lembaga persatuan pemuda, pengajian dan sebagainya
merupakanwadah berkumpulnya para anggota dari organisasi tersebut sehingga upaya
pemberdayaan masyarakat akan lebih berhasil guna apabila pemerintah/ tenaga kesehatan
memanfaatkanya dalam upaya pembangunan kesehatan

d. Sarana dan material yang dimiliki masyarakat

Pendayagunaan sarana dan material yang dimiliki masyarakat seperti batu kali, bambu, dan lain
sebagainya untuk pembangunan kesehatan akan menimbulkan rasa tanggung jawab dan ikut
memiliki dari masyarakat.

e. Pengetahuan masyarakat

Masyarakat memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi pembangunan kesehatan seperti


pengetahuan tentang obat tradisional, pengetahuan tentang penerapan teknologi tepat guna untuk
pembangunan fasilitas kesehatan di wilayahnya misalnya penyaluran air menggunakan bambu dan
lain-lain.

f. Teknologi yang dimiliki masyarakat

Masyarakat memiliki tehnologi sendiri dalam memecahkan masalahnya, biasanya bersifat sederhana
tetapi tepat guna. Untuk itu sebaiknya pemerintah memanfaatkan tehnologi tersebut dan apabila
memungkinkan dapat memberikan saran teknis guna meningkatkan hasil gunanya.

g. Pengambilan keputusan oleh masyarakat

Apabila penemuan masalah dan perencanaan pemecahan masalah


kesehatan Telah dapat dilakukan oleh masyarakat maka pengambilan keputusan terhadap upaya
pemecahan masalah akan lebih baik dilakukan oleh masyarakat sendiri. Dengan demikian, kegiatan
pemecahan masalah kesehatan akan berkesinambungan karena masyarakat merasa memiliki dan
bertanggung jawab terhadap kegiatan yang mereka rencanakan sendiri.(Depkes RI, 2007)
Penelusuran Sejarah Desa
Sejarah Desa dapat dikategorikan kedalam sejarah lokal, mengandung suatu
pengertian, bahwa suatu peristiwa yang telah terjadi hanya meliputi suatu daerah dan tidak
menyebar ke daerah lainnya. Sejarah lokal tentang suatu daerah memuat masalah awal suatu
daerah tersebut seperti asal usul daerah bersangkutan sampai kepada perkembangan daerah
itu pada masa berikutnya. Taufik Abdullah (1996) mendefinisikan sejarah lokal sebagai
“sejarah dari suatu tempat”, suatu locality yang batasnya ditentukan oleh perjanjian penulis
sejarah.
Setiap wilayah di Indonesia memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan masing-
masing wilayah terbentuk melalui proses sejarah panjang yang berbeda-beda. Demikian juga
kebudayaan, merupakan produk dari proses sejarah yang panjang. Oleh karena itu, Sejarah
Lokal merupakan yang kompleks yang memiliki banyak aspek dari keseluruhan pengalaman
kolektif masa lalu meliputi aspek sosial-budaya, politik, agama, teknologi, ekonomi, dan
sebagainya dalam suatu wilayah tertentu.
Sejarah lokal yang identik dengan cerita rakyat sampai sekarang masih berkembang
terus dan penyebarannya secara turun menurun oleh masyarakat. Tetapi masih banyak cerita
rakyat yang belum terdeteksi maupun terekam dalam bentuk tulisan maupun kajian. Cerita ini
biasanya berupa cerita yang berbentuk kepahlawanan, legenda, keunikan, maupun yang
lainnya. Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di daerah biasanya dikenang dan diingat
dalam bentuk nama. Nama tersebut biasanya diambil dari nama peristiwa, orang, binatang,
tumbuhan, dan sebagainya. Menurut Suyono (1990: 123) keseluruhan nama itu selalu
mengandung makna, meskipun dalam motif yang berbeda-beda, ada yang sebagai pengingat-
pengingat suatu peristiwa, sesuatu harapan, atau hanya sebagai suatu tanda.
Berbicara masalah sejarah adalah sesuatu pemikiran yang mangacu pada masa
lampau, oleh karenanya pemaparan dalam hal sejarah merupakan panyampaian peran tentang
apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Kalau kita soroti dari segi tujuan dalam hal
pemaparan sejarah adalah sebagai bandingan pada masa sekarang dan sebagai cerminan
terhadap peristiwa masa akan datang. Dalam hal ini kita berbicara sejarah yang lebih khusus
yaitu sejarah desa.

2.1.1 Manfaat Penulisan Sejarah Desa


Merupakan langkah awal untuk terus menggali potensi sejarah dan budaya
masyarakat. Sangat penting kita untuk menoleh ke belakang untuk mengetahui asal-usul diri kita,
sehingga dapat dijadikan sebagai cermin bagi langkah di masa depan. Ini merupakan manfaat
utama dari kita mempelajari sejarah.
Hal yang penting bagi generasi sekarang dan masa depan adalah mengambil yang
baik dari masa lalu dan membuang yang buruk. Dengan harapan agar kita mendapatkan
kuantitas dan kualitas yang lebih baik dibandingkan pada masa lalu.
Penulisan sejarah desa merupakan bagian yang memiliki makna yang strategis dari
kajian sejarah lokal.Tujuan dari penulisan sejarah desa ini selain untuk mendokumentasikan
beberapa peristiwa penting dalam suatu wilayah tertentu, juga merupaka langkah melakukan
‘demokratisasi sejarah’.
Maksud dari ‘demokratsasi sejarah’ adalah sudah saatnya masyarakat mampu
memberi makna dari beragam peristiwa sejarah baik tingkat lokal sampai global.Inisiatif penulisan
sejarah tersebut berasal dari dalam masyarakat lokal (history from below).Sejarah lokal, dalam
hal ini sejarah desa, mempunyai manfaat yang banyak.Di antaranya sebagai sarana untuk
mendokumentasikan dan beragam nilai-nilai lokal, tradisi, adat dan kebiasaan masyarakat lokal
yang dapat membantu untuk mengenal dan memperkokoh identitas / jati diri sosial kulturalnya.
2.1.2 Kesulitan Penulisan Sejarah Desa
Menurut Guru Besar Ilmu Pendidikan Sejarah UPI, Prof Dr Dadang Supardan M.Pd pada
pidato pengukuhan jabatan Guru Besar UPI di Gedung Balai Pertemuan UPI Jalan Setiabudhi,
mengakui bahwa Indonesia kaya akan sejarah lokal. Namun penulisan sejarah lokal di Indonesia
masih mengalami berbagai kesulitan padahal pelajaran sejarah sangat berkontribusi terhadap
integrasi bangsa.
Penulisan Sejarah Desa Pamulihan pun mengalami hal sama dan memakan rentang
waktu yang cukup panjang, berdasarkan informasi dari Bapak H. Achmad Lazuardi Noor beliau
adalah salah satu nara sumber utama Penulisan Sejarah Desa Pamulihan, beliau memulai
mengumpulkan bahan-bahan sudah dimulai sejak tahun 1958. Beliau melakukan wawancara
dengan beberapa orang sesepuh desa, mengunjungi berbagai museum dan sebagainya. Dari
hasil penulisannya dipaparkan kepada orang-orang Desa Pamulihan dari berbagai kalangan
untuk dikoreksi atau dibantah jika terjadi ada kekeliruan atau ada sumber lain yang lebih valid
dari tulisannya.
Pada bulan Agustus 2013, untuk sementara penulisan Sejarah Desa Pamulihan sudah
dianggap rampung dengan mencoba mengundang berbagai perwakilan tokoh-tokoh Desa
Pamulihan baik tinggal di perantaun ataupun yang tinggal di kampung termasuk perangkat
desa, untuk melakuan Soft Launching Sejarah Desa Pamulihan, bertempat di Hotel Purnama
Kuningan, Jawa Barat.
2.2 Peta Desa
2.2.1 Peta dan Batas Desa

 Peta selalu dapat dikaitkan dengan berbagai kepentingan (I-Pol-Ek-Sos-Bud-Duk-Han-


Kam), maka peta mendukungpembangunan dan ketertiban
pelaksanaan/penyelenggaraanpemerintahan yang baik;
 Batas wilayah adalah masalah spasial, dari perolehan data,pengolahan, s.d visualisasi, maka
mutlak memerlukan peta;
 Peran peta: visualisasi batas, media kesepakatandelimitasi/delineasi, dan media legalisasi;
 Adanya ketentuan ketelitian yang baku;
 Adanya keterbatasan skala;
 Beragamnya bentuk dan luas/bentang wilayah;
 Tidak selalu tersedia peta-peta dasar sebagaimana diharapkan;
Peta Batas Wilayah Desa (Peta BWD) adalah peta yangmenyajikan batas-batas
administrasi desa yang telah ditetapkanatau disepakati oleh kedua desa yang berbatasan, atau
telahditegaskan atau telah diverifikasi.

2.2.2 Jenis Peta Batas Wilayah:


a. Peta Hasil Penetapan Batas,
adalah peta batas yang dibuat secara kartometrik dari peta dasar yang telah ada dengan tidak
melakukan pengukuran di lapangan.

b. Peta Hasil Penegasan Batas,


adalah peta batas yang dibuat dengan peta dasar yang ada ditambah dengan data yang
diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan.
c. Peta Hasil Verifikasi,
adalah peta batas yang telah dibuat oleh daerah dan hasilnya dilakukan verifikasi oleh Tim
PPBD Pusat sebelum ditandatangani oleh Menteri Dalam Negeri.
2.2.3 Karakteristik Peta BWD
 Skala berkisar dari 1:1.000 s.d 1:10.000 (setidaknya untuk di P.Jawa);
 Luas wilayah relatif kecil dalam hirarki administrasipemerintahan;
 Seluruh wilayah desa tergambar pada satu lembar peta;
 Unsur-unsur rupabumi (alam dan buatan) yang digambarkanumumnya tidak begitu
banyak/kompleks;
 Mempunyai daftar dan penggambaran kordinat titik-titikbatas dengan orientasi arah utara
yang benar;
 Menyajikan nama unsur-unsur geografi seperlunya.
2.2.4 Prosedur Penggambaran Batas Desa pada Peta

1. Asumsi pertama adalah bahwa telah tersedia Peta DasarWilayah Desa;


2. Jika Peta Dasar tersebut belum tersedia, maka perlu diadakanterlebih dulu dengan cara:
a. Penggambaran ulang dari peta rupabumi wilayah desa,atau peta dasar lain yang ada; atau
b. Pengukuran terestris wilayah desa; atau
3. Penggambaran dengan media foto udara; atau
4. Penggambaran dari interpretasi citra atau foto udara.

2.2.5 Menggambar Peta Desa


Gambar/Peta desa yaitu teknik/metode pembuatan sketsa desa secara kasar untuk
menggambarkan masalah dan sumberdaya yang terdapat di desa, dan kemudian digunakan
sebagai bahan diskusi masalah dan potensi sumber daya desa dengan cara :
a. Masyarakat atau kelompok masyarakat (antara 10-15 orang) diminta membuat sketsa peta
desa untuk menggambarkan sumber daya alam/lingkungan, sosial, permukiman, sumber daya
ekonomi, sarana dan prasarana) dan lain-lain.

Contoh Gambar Peta Desa

b. Gambar desa seperti diatas dapat digunakan untuk melakukan pemetaan kemiskinan dengan
cara :
1) Gambarkan lokasi permukiman secara lebih rinci, semua rumah tangga miskindigambarkan
dengan simbol sederhana dan disepakati masyarakat
2) Tandai juga jumlah laki-laki dan perempuan di dalamnya; misalnya 3L, 4P (3 laki-laki dan 4
perempuan). Bisa juga dirinci berapa dewasa,anak-anak, danorang tua. Gunakan
sketsa/gambar desa untuk mengajak masyarakat menyadari kondisi lingkungan, permasalahan-
permasalahan dan potensi-potensi yang ada.
2.3 Rangking Peringkat Kekayaan dan Kesejahteraan
2.3.1 Tujuan
a. Mengklasifikasi jumlah penduduk ke dalam kategori tingkatan tertentu (seperti kaya, miskin,
menengah) menurut kriteria khusus setempat dan sesuai istilah di komunitas tersebut.
b. Mengidentifikasi kriteria setempat mengenai kemiskinan dan memahami alasan-alasan
dikemukakannya kriteria-kriteria tersebut.
c. Menghitung tingkat kesejahteraan masing-masing rumah tangga dari tingkat kampung sampai
desa.
d. Hasil klasifikasi kesejahteraan digunakan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok yang akan
terlibat dalam diskusi kelompok terfokus (FGD), untuk pemetaan akses orang miskin terhadap
sarana–sarana umum dan sumberdaya yang ada serta diskusi kajian mendalam selanjutnya.
e. Mengetahui proporsi masing-masing tingkatan/kategori menurut masyarakat.
2.3.2 Langkah-langkah
1. Menjelaskan tujuan, alur proses, waktu yang dibutuhkan dalam pengkajian
2. Mengidentifikasi indikator /aspek yang berpengaruh terhadap Kesejahteraan.
Langkah awal pengkajian difokuskan pada, “Bagaimana masyarakat membedakan antara
rumah tangga dalam komunitas desa mereka”. Para peserta diminta menyampaikan
pendapatnya mengenai hal-hal apa saja yang membedakan tingkat kehidupan satu rumah
tangga dengan rumah tangga lainnya di desa. Jawaban-jawaban peserta didiskusikan dan
dibahas melalui pemetaan pemikiran yang menghasilkan kriteria tingkatan kesejahteraan
berdasarkan indikator setempat.
3. Menyusun pembobotan terhadap indikator/ aspek yang telah teridentifikasi.
4. Menyusun kelompok ciri-ciri pembeda pada setiap indikator/aspek
Dari berbagai indikator yang telah disepakati, kelompok diskusi kemudian menyusun
pembobotan berdasarkan pengaruh paling besar terhadap pandangan tingkat kesejahteraan
penduduk sesuai kondisi lokal.Pengaruh yang paling besar diberi bobot tertinggi sedangkan
indikator yang memiliki pengaruh paling kecil diberi bobot yang terendah.
5. Menetapkan penilaian terhadap setiap kelompok ciri-ciri pembeda
Pada setiap indikator, kelompok diskusi kemudian menyusun ciri-ciri pembeda untuk penetapan
strata setiap indikator yang dimunculkan.Hal ini dimaksudkan untuk memberi pertimbangan
dalam pemberian nilai sesuai kondisi setiap rumah tangga.
6. Menetapkan rentang nilai untuk rumah tangga sangat miskin, miskin, sedang dan kaya.
7. Setelah semua indikator dan ciri-ciri pembeda setiap indikator dibobot, selanjutnya dilakukan
penilaian untuk menetapkan rentang nilai bagi rumah tangga sangat miskin, miskin, sedang dan
kaya dengan langkah-langkah sebagai berikut:
 Menghitung skor tertinggi (jumlah keseluruhan skor tertinggi ciriciri pembeda dari setiap indikator)
dan menghitung skor terendah (jumlah keseluruhan skor terendah ciri-ciri pembeda dari setiap
indikator)
 Hasil skor tertinggi dikurangi hasil skor terendah kemudian dibagi empat (4) (angka 4 diambil dari
empat tingkatan peringkat kesejahteraan yaitu: Sangat Miskin, Miskin, Sedang dan Kaya).
Dengan demikian didapatkanlah jumlah nilai standar yang digunakan dalam rangka
menentukan rentang nilai antara rumah tangga sangat miskin, miskin, sedang dan kaya.
8. Membuat kesepakatan untuk matrik peringkat kesejahteraan sebelum melakukan sensus pada
setiap rumah tangga, maka pleno desa dilakukan untuk mendapatkan kesepakatan atas Matrik
Peringkat Kesejahteraan yang kemudian akan menjadi pedoman dalam melakukan penetapan
kondisi tingkat kesejahteraan setiap rumah tangga
9. Fasilitator menjelaskan bahwa peringkat kesejahteraan keluarga yang telah dihasilkan akan
dipakai untuk melakukan sensus sosial keseluruh rumah tangga.Olehnya itu dibangunlah
kesepakatan untuk menyepakati agenda untuk merumuskan format sensus bersama Pemerintah
Desa.
10. Sebelum mengakhiri sesi ini,dipersilahkan salah seorang peserta untuk memberikan apresiasi dan
hikmah pembelajaran terkait dengan peringkat kesejahteraan yang telah dihasilkan.

Tabulasi data

Tabulasi data artinya penyajian data ke dalam bentuk tabel atau diagram untuk memudahkan
pengamatan atau evaluasi. Dengan tabulasi, Anda dapat melihat data yang mencerminkan keadaan
sesungguhnya dari suatu wilayah atau suatu fenomena.
Keuntungan menggunakan Gantt chart :
• Sederhana, mudah dibuat dan dipahami, sehingga sangat bermanfaat sebagai alat komunikasi dalam
penyelenggaraan proyek.
• Dapat menggambarkan jadwal suatu kegiatan dan kenyataan kemajuan sesungguhnya pada saat
pelaporan
• Bila digabungkan dengan metoda lain dapat dipakai pada saat pelaporan

Kelemahan Gantt Chart


• Tidak menunjukkan secara spesifik hubungan ketergantungan antara satu kegiatan dan kegiatan
yang lain, sehingga sulit untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh keterlambatan satu
kegiatan terhadap jadwal keseluruhan proyek.
• Sulit mengadakan penyesuaian atau perbaikan/pembaharuan bila diperlukan, karena pada umumnya
ini berarti membuat bagan balok baru.

diagram garis
Diagram garis merupakan diagram yang digunakan untuk menggambarkan keadaan yang serba terus
atau berkesinambungan, misalnya produksi minyak tiap tahun, jumlah penduduk tiap tahun, dsb.
Diagram garis juga memiliki sumbu datar dan sumbu tegak, dimana sumbu datar menyatakan waktu
dan sumbu tegak menyatakan kuantum data.
peta dan diagram
Peta adalah representasi dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi.
Diagram adalah suatu representasi simbolis informasi dalam bentuk geometri dua dimensi sesuai
teknik visualisasi. Kadang teknik yang dipakai memanfaatkan visualisasi tiga dimensi yang kemudian
diproyeksikan ke permukaan dua dimensi.

piktogram

Piktogram adalah penyajian data statistik dengan menggunakan lambang-lambang. Meskipun


penyajian data dengan piktogram itu sederhana, akan tetapi pemakaiannya sangat terbatas. Biasanya
piktogram dipakai untuk menyajikan data yang nilainya cukup besar dengan nilai-nilai data yang telah
dibulatkan.
flowchart
Flowchart atau diagram alir merupakan sebuah diagram dengan simbol-simbol grafis yang
menyatakan aliran algoritma atau proses yang menampilkan langkah-langkah yang disimbolkan
dalam bentuk kotak, beserta urutannya dengan menghubungkan masing masing langkah tersebut
menggunakan tanda panah. Diagram ini bisa memberi solusi selangkah demi selangkah untuk
penyelesaian masalah yang ada di dalam proses atau algoritma tersebut
ada 4 jenis diagram alir secara umum:
a. Diagram Alir Dokumen, menunjukkan kontrol dari sebuah sistem aliran dokumen.
b. Diagram Alir Data, menunjukkan kontrol dari sebuah sistem aliran data.
c. Diagram Alir Sistem, menunjukkan kontrol dari sebuah sistem aliran secara fisik.
d. Diagram Alir Program, menunjukkan kontrol dari sebuah program dalam sebuah sistem.

grafik komputer
Grafika komputer (bahasa Inggris: computer graphics) adalah bagian dari ilmu komputer yang
berkaitan dengan pembuatan dan manipulasi gambar (visual) secara digital. Bentuk sederhana dari
grafika komputer adalah grafika komputer 2D yang kemudian berkembang menjadi grafika komputer
3D, pemrosesan citra (image processing), dan pengenalan pola (pattern recognition). Grafika
komputer sering dikenal juga dengan istilah visualisasi data
Karakteristik Gantt Chart
1. Gantt chart secara luas dikenal sebagai alat fundamental dan mudah diterapkan oleh para manajer
proyek untuk memungkinkan seseorang melihat dengan mudah waktu dimulai dan selesainya tugas-
tugas dan sub- sub tugas dari proyek.
2. Semakin banyak tugas-tugas dalam proyek dan semkin penting urutan antara tugas-tugas maka
semakin besar kecenderungan dan keinginan untuk memodifikasi gantt chart.
3. Gantt chart membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan “what if” saat melihat kesempatan-
kesempatan untuk membuat perubahan terlebih dahulu terhadap kebutuhan.

Bar Chart
Penyajian dalam bentuk gambar grafik atau diagram dapat lebih menjelaskan lagi persoalan secara
visual. Diagram batang (histogram) adalah gambaran mengenai suatu distribusi frekuensi, dimana
untuk setiap kelas dinyatakan dalam skala horizontal (datar) dan frekuensinya dalam skala vertical
(tegak); atau sebaliknya. Data yang variabelnya berbentuk kategori atau atribut sangat tepat disajikan
dengan diagram batang. Jika diagram dibuat tegak, maka sumbu datar dipakai untuk menyatakan
atribut. Kuantum atau nilai data digambar pada sumbu tegak
pie chart
Pie chart merupakan salah satu penyampaian informasi dalam sebuah diagram lingkaran yang dibagi
menjadi beberapa bagian yang mewakili persentase. Bentuk ini menyerupai kue bundar yang
dipotong-potong.
Visual Planning Board
Visual Planning Board adalah salah satu metode penyampaian informasi dalam wujud visual yang
sederhana untuk memantau kemajuan dan mengelola pekerjaan secara cepat. Sedangkan yang
dimaksud dengan visual adalah sebuah rangkaian proses penyampaian infromasi atau pesan kepada
pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan.
Komunikasi visual menkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan
warnadalam penyampaiannya.
sekian dan terima kasih
Grafik Gantt
Gantt Chart merupakan alat bantu visual yang sangat berguna dalam pembebanan dan penjadwalan.
Pada saat digunakan dalam pembebanan diagram gantt menunjukan waktu pembebanan dan waktu
menganggur dari beberapa departemen seperti mesin-mesin atau fasilitas. Diagram ini menampilkan
beban kerja relatif di dalam sistem sehingga para menajer bisa tahu penyesuaian seperti apa yang tepat
Persentasi Visual

PEMBUATAN BAGAN
KECENDERUNGAN DAN PERUBAHAN
PENGERTIAN :
TEKNIK PEMBUATAN BAGAN KECENDERUNG-AN DAN PERUBAHAN ADALAH TEKNIK
PRA YANG DAPAT MENGGAMBARKAN PERUBAHAN -PERUBAHAN BERBAGAI KEADAAN,
KEJADIAN, SERTA KEGIATAN MASYARAKAT DARI WAKTU KE WAKTU, DIMANA
BESARNYA PERUBAHAN DAN HAL-HAL YANG DIAMATI DAPAT BERARTI BERKURANG,
TETAP, ATAU BERTAMBAH .

JENIS INFORMASI YANG DIKAJI :


1. PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN KEADAAN BERBAGAI SUMBERDAYA ( MISAL:
PRODUKTIFITAS LAHAN, TINGKAT KESUBURAN TANAH, CURAH HUJAN,
KETERSEDIAAN AIR, KETERSEDIAAN KAYU BAKAR DSB )
2. PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN TATA GUNA LAHAN ( LUAS SAWAH, LADANG,
PEMUKIMAN, HUTAN, LUAS KEPEMILIKAN LAHAN DSB )
3. PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN PENANAMAN PEPOHONAN ( JENIS, HASIL)
4. PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN PENDUDUK ( LAHIR, MATI, PINDAH : ??? )

LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN :

1. TERANGKAN MAKSUD DAN PROSES PELAKSANAAN KEGIATAN.


2. MULAILAH DISKUSI DENGAN TOPIK YANG RINGAN, MISALNYA TENTANG TANAMAN
PADI YANG MENJADI PERHATIAN UTAMA BAGI PETANI.
3. BAHAS SEBUAH TOPIK HINGGA SELESAI KEMUDIAN LANJUTKAN DG TOPIK YG LAIN
4. AJAK MASYARAKAT UTK MENDISKUSIKAN
a. PERUBAHAN-PERUBAHAN PENTING YG TERJADI DI DESA
b. APA SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERU-BAHAN-PERUBAHAN TSB.

5. SETELAH CUKUP TERGAMBARKAN, SEPAKATI DENGAN PESERTA :


a. TOPIK-TOPIK UTAMA (PERUBAHAN-PERUBAHAN PENTING) YANG AKAN DI
CANTUMKAN DALAM BAGAN SERTA PERLU DI DISKUSIKAN LEBIH LANJUT
b. SIMBOL TOPIK-TOPIK BAHASAN YANG DI CANTUMKAN DALAM BAGAN
c. SELANG WAKTU YANG AKAN DI CANTUMKAN.
6. MINTALAH MASYARAKAT UNTUK MEMBUAT BAGAN DI ATAS KERTAS BESAR YANG DI
TEMPELKAN DI DINDING BESERTA HASIL TOPIK –TOPIK INFORMASI SESUAI HASIL
DISKUSI.
7. LAKUKAN DISKUSI BAGAN PERUBAHAN LEBIH LANJUT :
a. APA AKIBAT DARI PERUBAHAN-PERUBAHAN (YG SUDAH DAN AKAN TERJADI )
b. APAKAH ADA HUBUNGANNYA SEBAB AKIBAT DIANTARA PERUBAHAN
c. APAKAH PERUBAHAN ITU AKN BERLANJUT TERUS DIWAKTU YG AKAN DATANG
8. CATATLAH SELURUH MASALAH, POTENSI, INFORMASI YANG MUNCUL DALAM
DISKUSI DENGAN CERMAT, SEBAB HASIL PENGGALIAN INI AKAN MENJADI BAHN BAGI
KEGIATAN PENERAPAN TEKNIK LAIN).
9. CANTUMKAN NAMA-NAMA PESERTA DISKUSI ( JML L/P, LATAR BELAKANG PESERTA
).

1. Penelusuran sejarah desa


Teknik ini dipergunakan untuk mengungkap kembali sejarah masyarakat di suatu
lokasi tertentu berdasarkan penuturan masyarakat sendiri.
 Tujuan kajian sejarah desa yaitu untuk sebagai berikut:
 Memfasilitasi masyarakat agar mengungkapkan pemahamannya tentang
keadaan mereka di masa kini, dengan mengkaji latar belakang masa lalu.
 Memfasilitasi masyarakat untuk mengkaji perubahan-perubahan yang
terjadu di masyarakat dan masakah yang terjadi karena perubahan serta
bagaimana solusinya.
 Memfasilitasi masyarakat untuk mengkaji hubungan sebab akibat antara
berbagai kejadian dalam sejarah kehidupan mereka.
 Manfaat kajian sejarah desa
 Bagi orang dalam: memiliki potensi untuk memperkuat kesadaran
masyarakat akan keberadaan dirinya.
 Bagi orang luar: memberikan pemahaman dan wawasan tentang masyarakat
tersebut.
 Undanglah masyarakat di tempat musyawarah
 Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
 Kajilah sejarah terbentuknya pemukiman, asal usul penduduk,
perkembangan jumlah penduduk, dan berbagai peristiwa yang berkenaan
dengan itu.
 Lakukan identifikasi keberadaan dan pengelola sumber daya alam
 Identifikasi perubahan-perubahan dalam status kepemilikan, penguasaan
dan pemanfaatan tanah
 Identifikasi pengenalan dan penanaman jenis tanaman baru dan penerapan
teknologi lainnya
 Identifikasi terjadinya wabah penyakit
 Identifikasi tanggapan masyarakat atas berbagai masukan dan kegiatan
pembinaan yang telah dilakukan serta masalah-masalah yang dihadapi dan
berbagai alternatif pemecahannya, pengalaman masyarakat dalam
mengatasi masalah tersebut.
 Lakukan pengkajian terhadap pembangunan sarana dan prasarana
penunjang (jalan, sekolah, saluran irigasi, puskesmas dan lain-lain)
 Identifikasi sejarah organisasi desa dan sistem pengorganisasian
 Catatlah data-data yang telah terkumpul

2. Pembuatan kalender musim


Teknik penyusunan kalender musim adalah teknik PRA yang memfasilitasi
pengkajian kegiatan-kegiatan dan keadaan yang terjadi berulang dalam suatu kurun
waktu tertentu (musiman) dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan-kegiatan itu
dituangkan dalam kalender kegiatan dalam jarak waktu 1 tahun (12 bulan).
 Jenis informasi kajian :
 Penanggalan atau system kalender yang dipakai oleh masyarakat.
 Iklim, cuaca, hujan, ketersediaan air.
 Musim kerja ke kota pada masa panceklik.
 Kesehatan (musim wabah penyakit) dan kebersihan lingkungan.
 Pola pengeluaran (konsumsi, produksi dan investasi)
 Kegiatan sosial, adat dan agama dll
 Tujuan kalender musiman :
 Mengetahui kegiatan mereka sepanjang tahun
 Mengetahui profil kegiatan masyarakat.
 Manfaat kajian kalender musim :
 Mendapatkan gambaran mengenai pola kegiatan dan pembagian kerja
masyarakat memunculkan berbagai pemikiran tentang keadaan usaha mereka
sendiri terutama usaha pertanian.
 Informasiyang diperoleh dapat menjadi masukan untuk perencanaan
program.
 Berguna untuk meniai tawaran program
 Contoh kalendar musim yang terkait dengan kesehatan untuk analisis situasi
kesehatan beberapa pertanyaan yang bisa diajukan adalah :
 Penyakit apa saja yang biasanya diderita pada musim hujan, pada musim
kemarau?
 Adahkah penyakit yang diderita pada bulan-bulan tertentu?
 Penyakit apa saja yang terjadi di sepanjang tahun?

Setelah menuliskan penyakit-penyakit tersebut dalam kalender musim, ajaklah


masyarakat untuk menggali lebih dalam :

 Adakah wabah penyakit pada musim tertentu yang terjadi setiap tahun?
 Siapa yang terkena wabah itu : laki, pempuan, anak-anak, balita, susu bsyi?
 Apakah akibat dari wabah tersebut? Adakah yang bisa menyebabkan
kematian?
 Adakah hubungan antara penyakit-penyakit tersebut dengan kondisi
lingkungan?
 Undanglah masyarakat di tempat musyawarah
 Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
 Kajilah penyakit apa saja yang biasanya diderita pada muasim hujan? Pada
musim kemarau?
 Adakah penyakit yang diderita pada bulan-bulan tertentu?
 Penyakit apa saja yang terjadi di sepanjang tahun?
 Setelah menuliskan penyakit-penyakit tersebut dalam kalender musim,
ajaklah masyarakat untuk menggali lebih dalam
 Adakah wabah penyakit pada musim tertentu yang terjadi di setiap tahun?
 Siapa yang terkena wabah itu, laki, perempuan, anak-anak, balita, bayi?
 Apakah akibat dari wabah tersebut? Adakah yang menyebabkan kematian?
 Adakah hubungan antara penyakit-penyakit tersebut dengan kondisi
lingkungan?
 Catatlah data data hasil wawancara dengan masyarakat

3. Pembuatan peta desa


Pemetaan adalah teknik PRA yang digunakan untuk memfasilitasi diskusi mengenai
keadaan wilayah desa tersebut beserta lingkungannya. Keadaan itu digambarkan
dalam satu sketsa atau peta desa. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam pemetaan
adalah :
a. Pemetaan di atas tanah
b. Pemetaan di atas kertas
c. Pembuatan model atau maket

 Jenis infomasi kajian :


 Peta sumber daya dsa (umum)
 Peta sumber daya alam desa
 Peta khusus (topical)
 Sumber informasi :
 Untuk pemetaan umum dapat diambil dari masyarakat umum : tua, muda,
laki-laki, perempuan, kaya, miskin dsb.
 Untuk peta khusus perlu sumber informasi tertentu.
 Berbagai jenis peta di kantor desa, dan data lain sebagai data sekunder.

 Tujuan kajian :
 Memfasilitasi masyarakat untuk mengungkapkan berbagai keadaan desa
dan lingkungannya sendiri (lokasi sumber daya, batas-batas wilayah, jenis-
jenis sumber daya yang ada baik masalah maupun potensinya.
 Memfasilitasi masyarakat untuk mengkaji perubahan keadaan yang terjadi
dari sumber daya mereka sendiri tentang sebab akibat dari perubahan
tersebut.

 Manfaat pemetaan :
 Masyarakat dapat merenungkan dan memikirkan kembali desanya dan
mulai merencanakan arah perubahan.
 Memahami cara berfikir masyarakat yang telah hidup turun temurun di
suatu wilayah termasuk berbagai kejadian, masalah, hambatan dan sumber
daya yang ada.
 Dapat menimbulkan partisipasi yang baik dari berbagai lapisan masyarakat.
 Pemetaan untuk pengenalan tata batas yang seringkali menjadi sumber
konflik di masyarakat.
 Pemetaan dapat menjadi dasar untuk penggalian informasi dengan teknik-
teknik PRA lainnya.
 Menjadi dasar perencanaan program juga keperluasan evaluasi.

 Langkah-langkah :
 Kajilah kondisi penduduk/pemetaan umum dapat diambil dari masyarakat
umum : tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin dsb.
 Untuk peta khusus : perlu informasi tertentu.
 Ajaklah masyarakat untuk memetakan siapa saja warga miskin, laki-laki
dan perempuan
 Kajilah masalah kesehatan dan sumber daya kesehatan yang ada
 Buatlah peta desa atau gunakan peta desa yang sudah ada
 Lengkapilah dengan pemukiman penduduk serta fasilitas kesehatan yang
tersedia.

Selanjutnya ajaklah masyarakat untuk menandai (gunakan symbol yang


berbeda-beda) :

1) Rumah warga yang miskin


2) Rumah warga yang memiliki ibu hamil
3) Rumah warga yang memiliki bayi dan balita
4) Rumah warga yang memiliki bayi dan balita kurang gizi
5) Rumah warga yang mempunyai penyakit kronis, baik laki-laki maupun
perempuan
 Lakukan identifikasi terhadap berapa banyak warga miskin yang
mempunyai lebih dari satu masalah kesehatan.
 Berapa jauh jarak antara rumah warga miskin dengan pelayanan kesehatan
yang ada (apakah jarak menjadi masalah?)
 Adakah hubungan antara penyakit yang diderita dengan sanitasi lingkungan
(sampah, drainase, banjir, dsb)
 Berapakah jumlah bayi dan balita yang menderita kekurangan gizi.