You are on page 1of 20

wwwu

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI
SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2018 - 2019

MODUL : Anaerobik
PEMBIMBING : Dian Ratna S., S.T., M.T.

Oleh
Kelompok III
Kemuning Aqshabrilyan 161411041
Muthia Amanda G. 161411042
Nanda Ravenia A. 161411043
Rahayu 161411045
Kelas 3B – D3 Teknik Kimia

Tanggal Praktikum : 9 - 16 Oktober 2018


Tanggal Pengumpulan Laporan : 30 Oktober 2018

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018
I. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Menentukan konsentrasi kandungan organik (COD) dalam umpan dan
efluen setelah percobaan berlangsung selama seminggu.
2. Menentukan kandungan mixed liquor volatile suspended solid
(MLVSS) yang mewakili kandungan mikroorganisme dalam reaktor.
3. Menghitung efisiensi pengolahan air limbah dengan cara menentukan
persen kandungan bahan organik yang didekomposisi oleh
mikroorganisme selama seminggu.
4. Menghitung gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama
seminggu untuk mengetahui efisiensi pembentukkan gas.

II. DASAR TEORI


Proses pengolahan limbah cair secara biologi dapat dilakukan dengan
dua metode, yaitu aerobik dan anaerobik. Pada pengolahan limbah cair
secara aerobik, mikroorganisme memerlukan oksigen untuk
mendekomposisi bahan-bahan organik dalam air tersebut. Dengan oksigen
yang disuplai oleh aerasi dan batuan enzim dalam mikroorganisme maka
pada waktu yang sama akan terjadi dekomposisi bahan-bahan organik dan
pertumbuhan mikrooganisme baru karena adanya pertambahan energi pada
saat proses dekomposisi bahan-bahan organik berlangsung (Budiastuti, TT).
Pada pengolahan limbah cair secara anaerobik oksigen tidak
diperlukan. Keberadaan oksigen akan membuat pertumbuhan
mikroorganisme pendekomposisi menjadi terganggu atau bahkan mengalami
kematian. Maka dari itu diperlukan penjagaan, penanganan khusus, dan
biaya yang tidak murah dalam prosesnya (Budiastuti, TT).
Menurut Indriyanti (2015), tahapan- tahapan yang terjadi dalam proses
degradasi anaerobik antara lain sebagai berikut.
1. Proses Hidrolisis
Proses hidrolisis adalah proses di mana aktivitas kelompok
bakteri saprofilik menguraikan bahan organik kompleks. Aktivitas
terjadi karena bahan organik yang tidak larut seperti polisakarida,
lemak, protein, dan karbohidrat akan dikonsumsi bakteri saprofilik, di
mana enzim ekstraseluler akan mengubahnya menjadi bahan organik
yang larut dalam air.
2. Proses Asidogenesis
Pada proses ini, bahan organik terlarut akan diubah menjadi asam
organik rantai pendek, seperti asam butirat, asam propionat, asam
amino, asam asetat, dan asam-asam lainnya oleh bakteri asidogenik.
Salah satu bakteri yang hidup dalam kelompok asidogenik adalah
bakteri pembentukan asam asetat, yaitu bakteri asitogenik, bakteri ini
berperan dalam tahap perombakan asam propionate, asam amino, asam
butirat, maupun asam rantai panjang lainnya menjadi asam organik
yang mudah menguap, seperti asam asetat.
3. Proses Metanogenesis
Proses metanogenesis adalah proses dimana bakteri metanogenik
akan mengkonversi asam organik volatil menjadi gas metan (CH4) dan
karbondioksida (CO2).
Sementara itu, faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas reaktor pada
proses anaerobik antara lain sebagai berikut.
1. Waktu Tinggal Hidrolik
Waktu tinggal dengan satuan hari, dipengaruhi oleh volume
reaktor dan berbanding terbalik dengan debit substrat. Waktu tinggal
pada reaktor anaerobik berkisar antara 10 sampai 20 hari.
2. Laju Pembebanan Organik
Laju pembebanan organik, yaitu besaran yang menyatakan
jumlah material organik dalam air buangan yang diuraikan oleh
mikroorganisme dalam reaktor per unit volume per hari.
3. pH
Pada proses anaerob , proses masih dapat berjalan pada rentang
pH 6,0-8,0 tetapi bakteri metan sangat sensitif sehingga harus
dikondisikan pada rentang 6,5 – 7,5. pH rendah dan asam yang
berlebih akan menjadi penghambat untuk baketri metanogenik. Untuk
mengotrol pH pada proses ini dapat menggunakan natrium bikarbonat.
4. Alkalinitas
Alkalinitas berpengaruh untuk mempertahankan pH agar tetap
dalam rentang yang optimum sehingga masih dapat digunakan untuk
pertumbuhan bakteri metan sehingga dapat menghasilkan biogas
dengan perbandingan 55-75% gas metan dan 25-45% gas
karbondioksida. Untuk mencapai perbandingan gas di atas, dengan
kondisi pH 6,5 dibutuhkan nilai alkalinitas pada rentang 500 – 900
mg/L CaCO3.
5. Temperatur
Berdasarkan pada pengoperasian reaktor anaerobik, bakteri yang
hidup dalam reaktor dibedakan menjadi dua golongan, yaitu sebagai
berikut.
a. Termofilik yang hidup pada suhu antara 40-60 ºC.
b. Mesofilik yang hidup pada suhu antara 25-40 ºC.
Temperatur optimum untuk pertumbuhan bakteri mesofilik adalah pada
35 ºC.
6. Nutrisi
Kebutuhan nutrisi bakteri anaerobik khususnya N dan P yang
dibutuhkan untuk memproduksi enzim untuk mencerna karbon. Rasio
perbandingan C:N:P berkisar 400:7:1 dan 1000:7:1 tergantung pada
tinggi rendahnya beban yang akan diolah.
7. Senyawa Racun atau Penghambat
Pada proses anaerob, senyawa penghambat dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu penghambat fisik dan penghambat kimia.
Penghambat fisik adalah temperatur, sedangkan penghambat kimia
adalah logam berat, antibiotic, dan volatile fatty acid (asam lemak
volatil). Pada proses anaerob konsentrasi asam volatil dalam rentang
200-400 mg/L sebagai asam asetat menunjukkan kondisi reaktor yang
baik (Indriyanti, 2005).
Analisa Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan suatu jenis
analisa yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui banyaknya oksigen
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam sampel
air, menjadi CO2 dan H2O (Sato, dkk. 2015).
Nilai COD dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.
( − ). 1000
( 2
)=

Di mana: a = mL FAS untuk blanko


b = mL FAS untuk sampel
c = normalitas FAS
d = berat equivalen oksigen (8)
p = pengenceran
Besarnya nilai COD dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya
ialah waktu tinggal dan volume limbah.
 Pengaruh Waktu Tinggal Terhadap Penurunan COD
Menurut Wulandari dan Marlitasari (TT), semakin lama waktu
tinggal limbah di dalam digester anaerob maka kontak antara limbah
dan lumpur aktif akan semakin lama pula. Waktu yang lama ini
memberikan kesempatan kepada mikroorganisme untuk mendegradasi
bahan organik sehingga bahan organik yang terurai semakin banyak
(penurunan COD menjadi semakin besar).
 Pengaruh Volume Limbah Terhadap Penurunan COD
Limbah dengan volume yang semakin besar berarti memiliki
kandungan bahan organik (yang akan diuraikan) yang semakin besar
pula. Terlalu banyak jumlah bahan organik akan membuat proses
penguraian yang akan dilakukan oleh zat organik menjadi tidak efektif
sehingga penurunan COD nya pun akan semakin kecil (Wulandari dan
Marlitasari, TT).
Menurut Handayani (2012) , total suspended solid (TSS) merupakan
bagian dari total solid (TS) yang tertahan pada filter/kertas saring dengan
ukuran pori tertentu, yang diukur setelah dikeringkan. Besarnya TSS dapat
dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.

( − ) 106

( )=

Menurut Handayani (2012) , Volatil Suspended Solid (VSS) merupakan


padatan yang dapat diuapkan dan terbakar saat TSS dipanaskan. Dalam hal
ini VSS = MLVSS. Besarnya VSS dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut.
( − ) 106

( )=

Menurut Handayani (2012), Fixed Suspended Solid (FSS) merupakan


residu yang tertinggal setelah TSS dipanaskan. Besarnya FSS dapat dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut.
( )= −
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
1.Skema Peralatan Pengolahan Limbah Secara Anaerobik

Gambar Skema Susunan Alat Pengolahan Anaerobik Dua Tahap

2. Alat Pendukung yang Digunakan

Nama Alat Spesifikasi Jumlah


Labu Erlenmeyer 250 mL 2 buah
Labu Erlenmeyer 100 mL 4 buah
Gelas Kimia 50 mL 4 buah
Gelas Kimia 1L 1 buah
Labu Takar 25 mL 1 buah
Pipet Ukur 1 mL 1 buah
Pipet Ukur 5 mL 1 buah
Pipet Ukur 25 mL 1 buah
Pipet Tetes - 1 buah
Corong Buchner - 1 buah
Kertas Saring - 2 buah
Kertas Timbang - 6 buah
Corong Gelas - 2 buah
Cawan Pijar - 2 buah
Desikator - 1 buah
Neraca Analitis - 1 buah
Oven - 1 buah
Furnace - 1 buah
Hach COD Digester - 1 buah
Tabung Hach - 4 buah
Buret 25 mL 1 buah
Klem - 1 buah
Statif - 1 buah
3. Bahan yang Digunakan

Nama Bahan Jumlah


Glukosa 2,0 g/L
NH4HCO3 0,15 g/L
KH2PO4 0,15 g/L
NaHCO3 0,5 g/L
K2HPO4 0,5 g/L
Trace Metal Solution A 1 mL
MgSO4.7H2O 5,0 g/L
Trace Metal Solution B 1 mL
FeCl3 5,0 g/L
CaCl2 5,0 g/L
KCl 5,0 g/L
COCl2 1,0 g/L
NiCl2 1,0 g/L
FAS Secukupnya
Indikator Ferroin Secukupnya
Aquadest Secukupnya
4. Prosedur Kerja
 Tahapan Percobaan

START

Melakukan aklimatisasi Menentukan konsentrasi COD


mikroba efluen

Menentukan konsentrasi COD


awal umpan Mencatat total gas terbentuk

Menentukan MLVSS FINISH

Melakukan percobaan
pengolahan limbah secara
anaerobik selama 1 minggu
 Penentuan Kandungan Bahan Organik (COD)

START

Melakukan pengenceran Membiarkan tabung Hatch


sampel (25 kali) hingga dingin

Memasukkan 2,5 mL sampel Memindahkan larutan kedalam


kedalam tabung Hatch erelenmeyer

Menambahkan 3,5 mL larutan Menitrasi dengan larutan FAS


H2SO4 pekat 0,1 N dengan indicator ferroin
(2-3 tetes) hingga terjadi
perubahan warna dari hijau
menjadi coklat
Menambahkan 1,5 mL larutan
K2Cr2O7

Melakukan pekerjaan dengan


aquades atau blanko
Memasukan tabung Hatch
kedalam alat Hatch COD
Digester
FINISH

Memanaskan tabung Hatch


T =150°C , t = 2 jam

Mengeluarkan tabung Hatch


 Penentuan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)

START

Memanaskan cawan pijar di Memasukkan cawan pijar ke


furnace T = 600°C , t = 1 jam dalam oven T = 105°C , t = 1

Memanaskan kertas saring di Menimbang cawan pijar


oven T = 105°C , t = 1 jam hingga didapat berat konstan (c

Mendinginkan cawan oijar dan Memasukkan cawan pijar ke


kertas saring di dalam dalam furnace T = 600°C , t =
1 jam

Menimbang hingga berat


konstan cawan pijar (a gram) Menimbang cawan pijar
dan kertas saring (b gram) hingga didapat berat konstan

Menyaring 40 mL sampel FINISH


menggunakan kertas saring
yang telah konstan beratnya

Memasukkan kertas saring +


endapan ke dalam cawan pijar
IV. HASIL PRAKTIKUM
1. Data Pengamatan
 Penentuan COD
Konsentrasi FAS = 0,098
Pengenceran Sampel = 25 kali
Berat Ekivalen Oksigen =8
Volume Sampel = 2,5 mL

Volume Titrasi Sampel Volume Titrasi Blanko


Awal Akhir Awal Akhir
2 2.1 3.3 3.2
Volume FAS
1.8 2.1 3.1 3.2
Rata-rata 1.9 2.1 3.2 3.2

 Penentuan MLVSS

Benda Berat Konstan (g)


Cawan Pijar (a) 41,0995
Kertas Saring (b) 0,8779
Cawan Pijar + Kertas Saring + Endapan (c) 41,9861
Cawan Pijar + Residu (d) 41,1056

2.Pengolahan Data
 Penentuan COD

(Vt blanko – Vt sampel)mL x (FAS) x 1000 x BE O2 x fp


COD = mg O2/L
( )

COD awal = (3,2 – 1,9) x (0,098) x 1000 x 8 x 25


= 10192 mg O2/L
2,5

(3,2 −2,1) x (0,098) x 1000 x 8 x 25


COD akhir = = 8624 mg O2/L 2,5
Efisiensi = 10192−8624 x 100% = 15.4 %
10192
 Penentuan MLVSS

TSS (mg/L)

=( ) x 106
41,9861−41,0995
= x 106 = 18093.88 49

VSS (mg/L)
=( ) x 106
41,9861−41,1056
= x 106 = 17969.39 49

= TSS – VSS

FSS (mg/L) = 18093.88 – 17969.39 = 124.49

= V air baku awal – V air baku akhir

Gas Terbentuk = 296 mL – 295 mL

= 1 mL

Data Percobaan Hasil


MLVSS (mg/L) 17969.39
COD umpan (mg O2/L) 10192
COD efluen (mg O2/L) 8624
Efisiensi pengolahan (%) 15.4
Total Gas Terbentuk (ml) 1

V. PEMBAHASAN
1.Pembahasan oleh Kemuning Aqshabrilyan (161411041)
Pada praktikum kali ini dilakukan pengolahan air limbah anaerobik.
Proses anaerobik merupkan proses pemecahan bahan-bahan organik oleh
mikroorganisme dalam keadaan tanpa oksigen. Kehadiran oksigen dalam
sistem pengolahan dapat menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme
pendekomposisi bahan bahan organik dalam air limbah terganggu.
Pengolahan secara anaerobik digunakan untuk air limbah yang
mengandung bahn organik (COD) ≥ 2000 mg/L. Dalam sampel
limbah,ditambahkan nutrisi sebagai sumber makanan bagi
mikroorganisme yang akan mendekomposisi bahan organik sehingga
menurunkan kandungan organik dalam sampel.
Peralatan utama yang digunakan pada praktikum adalah dua buah
reaktor anaerobik yang berfungsi sebagai reaktor tempat terjadinya
dekomposisi bahan bahan organik yang terkandung didalam air limbah
yang dilakukan oleh mikroorganisme. Pada proses praktikum ini
dilakukan hanya dengan satu reaktor saja namun tidak mempengaruhi
kandungan organik dari efluen reaktor lainnya.
Pada percobaan,dilakukan pengukuran COD untuk mengetahui
berapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
kandungan organik dalam sampel,semakin tinggi nilai COD maka
kandungan organik dalam sampel semakin banyak atau kualitas air
semakin buruk.
Pada pengukuran COD awal didapatkan nilai sebesar 10192 mg
O2/L dan setelah 7 hari proses pengamatan dilakukan kembali
pengukuran COD akhir didaptlah nilai COD sebesar 8624 mg O2/L.
Hal ini telah sesuai dengan literatur dimana seiring berjalan nya proses
waktu tinggal anaerobik nilai COD akan menurun artiya mikroba telah
terdegradasi sebagian jumlah bahan rganik dalam umpan air limbah.
Dengan nilai fisiensi dari pengolaahan anaerobik sebesar 15,4%.
Selanjutnya pengukuran MLVSS. MLVSS adalah kandungan
padatan tersuspensi yang mudah menguap dan mewakili kandungan
mikroorganisme yang terdapat dalam air sampel. Dengan kata lain
MLVSS dilakukan untuk mengetahui kuantitas mikroba yang
mendekomposisi bahan organik. Dari percobaan didaptkan nilai
MLVSS sebesar 17969,39 mg/L. Menurut literatur jumlah MLVSS
yang baik harusnya sekitar 1500-4500 mg/L,kenyataannya mikroba
yang terkandung dalam reaktor sangat banyak.
Pada pengolahan anaerobik akan dihasilkan gas yang sebagian
besar berupa gas metana (CH4). Gas tersebut merupakan biogas yang
dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Volume gas
metana yang terbentuk dari proses pengolahan limbah secara anaerobik
ini dapat ditentukan dengan mengukur volume air yang keluar dari
tabung gas collection. Gas metana yang terbentuk tersebut akan
mendorong air keluar dari tabung gas collection sehingga volume air
yang keluar dari tabung gas collection tersebut sama dengan volume
gas metana yang terbentuk. Namun saat praktikum tidak menghasilkan
gas metana karena pH sebagai faktor utama dalam pembentukan gas
metana,jika kondisi pH <7 (asam) dan pH>8 (basa) dapat membentuk
4+
ion NH atau amonia bebas NH3 yang bersifat racun bagi baktteri
pembentuk metana dan mnejadi inhibitor pembentukan gas metana,dan
waktu yang kurang optimum untuk memperhatikan pembentukan gas
metana.
2. Pembahasan oleh Muthia Amanda G. (161411042)
Pada praktikum kali ini kami telah melakukan praktikum
pengolahan limbah dengan metode anaerobic. Pengolahan limbah
anaerobic adalah sebuah metode peruraian bahan organic atau anorganik
tanpa kehadiran oksigen. Produk akhir dari degradasi anaerob adalah gas,
paling banyak metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan sebagian kecil
hydrogen sulfide (H2S) dan hydrogen (H2). Bakteri anaerob tidak
memerlukan oksigen bebas dan dapat bekerja dengan baik pada suhu yang
semakin tinggi hingga 40°C, serta pH sekitar 7. Bakteri anaerob juga akan
bekerja dengan baik pada keadaan yang gelap dan tertutup (Pohan, 2008).
Proses yang berlangsung adalah proses hidrolisis, proses pembentukkan
asam (acidogenesis/acetogenesis), serta proses pembentukkan gas metan
(methanogenesis) (Gerardi, 2003).
Kami melakukan pengukuran konsentrasi kandungan organic
(COD) sebelum dan setelah 7 hari pemberian nutrisi untuk meghitung
efisiensi pengolahan. Pengukuran COD ini dilakukan untuk mengetahui
berapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi kandungan
organic dalam sampel. Jika semakin banyak kandungan organic dalam air
menunjukkan buruknya kualitas air tersebut. Pada pengukuran COD
dilakukan penambahan 3,5 mL pereaksi Kalium Bikromat dan 1,5 mL
H2SO4 pekat. Kalium bikromat sebagai sumber oksigen dan H2SO4
pekat sebagai pencipta suasana asam dan sumber ion H+. pH menjadi
salah satu factor yang mempengaruhi pengolahan secara anaerob ini maka
pH nya sebesar 6,2, jika konsentrasi H2SO4nya tinggi maka pH
optimumnya antara 7 – 8 agar menghindari keracunan H2S. Setelah itu
sampel dituangkan kedalam tabung Hach untuk dipanaskan di Digester.
Kemudian didinginkan terlebih dahulu sebelum akhirnya dititrasi dengan
larutan FAS diperoleh hasil COD awal praktikum kami yaitu sebesar
10192 mg 2/L dan setelah 7 hari kami mengukur kembali diperoleh COD
dan terukur CODnya menurun menjadi 8624 mg 2 /L. Hal ini sesuai
literature, yaitu seiring berjalannya waktu COD menurun berarti
kandungan organiknya telah terdekomposisi . Efisiensi dari pengolahan
anaerobic ini sebesar 15,4%.
Selanjutnya melakukan pengukuran MLVSS. MLVSS adalah
kandungan padatan tersuspensi yang mudah menguap dan mewakili
kandungan mikroorganisme yang terdapat dalam air sampel. MLVSS
diperoleh dari perhitungan selisih berat sampel beserta cawan pijar dan
kertas saring yang telah dipanaskan dalam oven dengan suhu 105°C
selama sejam dengan berat sampel beserta cawan pijar dan kertas saring
yang telah dipanaskan dalam furnace dengan suhu 600°C selama kurang
lebih 2 jam dibagi dengan volume sampel dalam mL yang digunakan
dengan satuan mg/L. diperoleh MLVSS sebesar 17969,39 mg/L.
3. Pembahasan oleh Nanda Ravenia A. (161411043)
Dilakukan percobaan pengolahan air limbah secara anaerobik, yaitu
pengolahan limbah yang memanfaatkan mikroorganisme dalam
mendegradasi atau menguraikan bahan organik tanpa atau sangat sedikit
kandungan oksigen terlarut. Mikroba jenis anaerob tidak membutuhkan
oksigen dalam sistem metabolismenya sehingga jika terdapat oksigen
maka proses penguraian bahan organik tidak akan optimal juga dapat
membunuh mikroba tersebut. Pengolahan secara anaerob dilakukan
untuk air limbah yang mengandung chemical oxygen demand (COD) ≥
mg
2000 /L.
Dilakukan pengukuran nilai COD awal serta COD akhir setelah 6
hari untuk mengetahui banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi bahan organik menjadi CO2 dan H2O. Semakin tinggi
nilai COD, kandungan organik dalam sampel pun semakin banyak
sehingga mengindikasikan kualitas air yang semakin buruk. Dalam
analisis COD, reaksi yang terjadi adalah reaksi redoks dalam keadaan
asam.
Pada percobaan yang telah dilakukan, kami mengencerkan air
limbah sebanyak 25x untuk mempermudah proses titrasi kemudian
dimasukan ke dalam 4 tabung hach dimana 2 tabung lainnya bertindah
sebagai blanko yang berisi air. Blanko berfungsi sebagai faktor koreksi
untuk menghindari adanya bahan organik dari pelarut yang ikut
teroksidasi selama reaksi redoks. Dilakukan penambahan kalium
bikromat yang berfungsi sebagai oksidator kuat dan penambahan
pereaksi sulfat yang berfungsi sebagai katalisator sehingga reaksi
redoks dalam keadaan asam berlangsung lebih cepat.
Dilakukan proses titrasi pada keenam sampel dalam tabung hach
menggunakan larutan FAS konsentrasi 0,098 N. Larutan FAS berfungsi
sebagai reduktor sehingga dapat diketahui kalium bikromat yang
tereduksi selama proses redoks tersebut.
Reaksi yang terjadi saat titrasi yaitu :
2- + - 3+
Cr2O7 + 14 H + 6e ‒› 2Cr + 7H2O
2+ 3+ -
6Fe ‒› 6Fe + 6e
2- 2+ + 3+ 3+
Cr2O7 + 6Fe + 14H ‒› 2Cr + 6Fe + 7H2O
mgO2
/Liter.

Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan nilai COD awal sebesar


mgO2 mgO2
10.192 /Liter, dan COD akhir sebesar 8.624 /Liter. Nilai COD
tersebut belum memenuhi syarat Peraturan Pemerintah No. 82 th. 2001
yang menyatakan bahwa COD maksimum dalam air adalah 100
Namun, terdapat penurunan nilai COD awal dengan COD

akhir. Adanya penurunan nilai COD tersebut menandakan bahwa


mikroba telah terdegradasi sebagian jumlah bahan organik dalam
umpan air limbah.
Pengukuran nilai MLVSS dilakukan karena mengindikasikan
kandungan mikroba di dalam reaktor. Dalam reaktor tersebut
berlangsung tahapan proses anaerob, diantaranya proses hidrolisis,
proses asetogenesis, serta proses metanogenesis. Dari hasil percobaan
mg mg mg
diperoleh MLVSS 17969,39 /L,TSS 18093,88 /L, FSS 124,49 /L.
Sehingga diketahui bahwa jumlah mikroba banyak yang mendegradasi
bahan organik sangat banyak maka perlu ditambahkan jumlah nutrisi
yang seimbang agar proses penguraian bahan organik oleh mikroba
dapat terus berlangsung.
Efisiensi pengolahan anaerobik dapat dilihat dari penurunan nilai
COD awal hingga akhir, diperoleh efisiensi 15,4%. Angka tersebut
masih rendah untuk jangka waktu 6 hari, apabila proses pengolahan
lebih lama menurut literature waktu tinggal untuk reaktor anaerobik
berkisar antara 10-20 hari maka efisiensi pengolahan akan lebih tinggi.
Namun hal tersebut juga bergantung dari kemampuan mikroba sendiri
dan keadaan lingkungannya.
4. Pembahasan oleh Rahayu (161411045)
Pengolahan limbah secara anaerob ialah pengolahan yang tidak
memerlukan oksigen dalam prosesnya. Pengolahan anaerob dilakukan
pada limbah yang memiliki nilai COD tinggi yang didasarkan pada
pertimbangan bahwa jika pengolahan aerob dilakukan maka akan
membutuhkan oksigen dalam jumlah besar dan waktu pengolahan
yang lama.
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapat nilai MLVSS
sebesar 17969.39 mg/L, COD umpan (awal) sebesar 10192 mg O 2/L,
COD efluen (setelah proses dilakukan selama seminggu) sebesar 8624
mg O2/L, gas yang terbentuk sebanyak 1 mL, dan efisiensi pengolahan
sebesar 15.4%.
Nilai MLVSS menunjukkan banyaknya mikroorganisme yang
terdapat dalam lumpur yang ada di dalam reaktor. Mikroorganisme ini
lah yang akan mendegradasi senyawa organik kompleks menjadi
senyawa yang lebih sederhana. Proses pendegradasian senyawa
organik tersebut ditunjukkan oleh nilai COD yang semakin lama akan
semakin berkurang.
Pada praktikum kali ini didapat nilai efisiensi pengolahan sebesar
15.4%. Nilai tersebut menunjukkan besar COD yang berkurang setelah
dilakukan proses pengolahan selama seminggu. Dapat dikatakan
bahwa nilai efisiensi pengolahan yang didapat tergolong rendah karena
jumlah gas yang terbentuk dalam proses ini pun hanya sebanyak 1 mL.
Rendahnya nilai efisiensi pengolahan yang didapat bisa disebabkan
oleh kualitas mikroorganisme yang kurang bagus. Selain itu juga dapat
disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang tepat, di mana
reaktor yang digunakan pada praktikum kali ini sudah mengalami
kerusakan (tidak bisa menyalakan pemanas) sehingga suhu reaktor
tidak bisa dijaga konstan. Suhu sendiri merupakan faktor penting yang
memengaruhi stabilitas reaktor pada proses anaerob.

VI. KESIMPULAN
1. Nilai COD awal 10192 mg O2/L dan nilai COD akhir 8624 mg O2/L.
2. Nilai MLVSS 17969,39 mg/L.
3. Efisiensi pengolahan air limbah secara anaerobik pada praktikum kali
ini adalah sebesar 15.4%.
4. Gas yang terbentuk pada pengolahan air limbah secara anaerobik pada
praktikum kali ini adalah sebanyak 1 mL.
DAFTAR PUSTAKA

Andrews And Graef. 1970. Wastewater Technology. United States Environmental


Protection Agency.
Budiastuti, Herawati. TT. Pengolahan Anaerobik. Bandung: Politeknik Negeri
Bandung.
Chandra, Dyah. 2007. Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Handayani, Rahayu. 2012. Evaluasi Kinerja dan Optimasi Instalasi Pengolahan
Limbah Cair (IPLC) Gedung Perkantoran PT Pacific Paint Dalam
Penurunan Amonia. Depok: Universitas Indonesia.
Indriyanti. 2005. Pengolahan Limbah Cair Organik secara Biologi Menggunakan
Reaktor Anaerobik Lekat Diam. Pusat Pengkajian dan Penerapan
Teknologi Lingkungan, BPPT.
Sato, Abas. dkk. 2015. Pengolahan Limbah Tahu Secara Anaerobik-Aerobik
Kontinyu. Surabaya: Institut Teknologi Adhi Tama.
Wulandari, Desi dan Riska Hesti Marlitasari. TT. Proses Pengolahan Limbah
Cair Domestik Secara Anaerob. Semarang: Universitas Diponegoro.