You are on page 1of 190

i

STUDI KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S 35 TAHUN DENGAN KEHAMILAN


NORMAL, PERSALINAN NORMAL, BAYI BARU LAHIR NORMAL
NIFAS NORMAL, NEONATUS NORMAL DAN KUNJUNGAN
AWAL AKSEPTOR KB SUNTIK DMPA

LAPORAN TUGAS AKHIR

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Kebidanan


Pada Program Studi DIII Kebidanan di Stikes Estu Utomo Boyolali

Disusun Oleh :

EKA ASVISTA SALVIANA


NIM : 12013018

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


ii

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ESTU UTOMO BOYOLALI

2016

HALAMAN PERSETUJUAN

STUDI KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S 35 TAHUN DENGAN KEHAMILAN


NORMAL, PERSALINAN NORMAL, BAYI BARU LAHIR NORMAL
NIFAS NORMAL, NEONATUS NORMAL DAN KUNJUNGAN
AWAL AKSEPTOR KB SUNTIK DMPA

LAPORAN TUGAS AKHIR

Disusun oleh :

EKA ASVISTA SALVIANA


NIM : 12013018

Telah Memenuhi Persyaratan dan Disetujui Untuk Mengikuti Ujian Tugas Akhir
Program Studi DIII Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Estu Utomo Boyolali
iii

Tanggal : 4 April 2016

PEMBIMBING I PEMBIMBING II

Nurul Eko W,S.Si.T,M.Kes Hj. Ety Rochaety, SKM


NRP. 1200310
iv

HALAMAN PERSETUJUAN

STUDI KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S 35 TAHUN DENGAN KEHAMILAN


NORMAL, PERSALINAN NORMAL, BAYI BARU LAHIR NORMAL
NIFAS NORMAL, NEONATUS NORMAL DAN KUNJUNGAN
AWAL AKSEPTOR KB SUNTIK DMPA

LAPORAN TUGAS AKHIR

Disusun oleh :

EKA ASVISTA SALVIANA


NIM : 12013018

Telah Dipertahankan Di Depan Dewan Penguji dan Diterima Sebagai Salah


Satu Syarat Untuk Mendapatkan Sebutan Ahli Madya Kebidanan Di
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Pada Tanggal : 21 April 2016

Penguji II Penguji III

Nurul Eko W,S.Si.T,M.Kes Hj. Ety Rochaety, SKM


NRP. 1200310 Penguji I
v

Triani Yuliastanti, S.Si.T,M.Kes


NRP. 1200312

Mengesahkan,
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
ESTU UTOMO BOYOLALI
Ketua

SRI HANDAYANI, SSiT, M.Kes


NIP.19740506 200501 2001
vi

HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI

Judul Artikel : ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S 35 TAHUN P2A0


DENGAN KEHAMILAN NORMAL, PERSALINAN
NORMAL, BAYI BARU LAHIR NORMAL, NIFAS
NORMAL, NEONATUS NORMAL DAN KUNJUNGAN
AWAL AKSEPTOR KB SUNTIK DMPA
Penulis : EKA ASVISTA SALVIANA

Yang bertanda tangan dibawah ini penulis tugas akhir dengan judul yang disebutkan
diatas :
Nama : EKA ASVISTA SALVIANA
Instansi : STIKES ESTU UTOMO BOYOLALI
Asal Institusi : Jl. Tentara Pelajar Mudal Boyolali 57351
Saya menyatakan dan bertanggung jawab dengan sebenarnya bahwa tugas akhir
ini adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan
gelar akademi, baik di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali maupun
diperguruan tinggi lainnya. Jika pada saat ada fihak yang mengklaim bahwa Tugas
Akhir ini sebagai karyanya yang disertai dengn bukti yang cukup maka saya bersedia
membatalkan hak dan kewajiban yang melekat pada artikel tersebut, serta bersedia
menerima sanksi berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh dari tugas akhir ini.
Menyatakan tidak keberatan artikel maupun judul yang disebutkan diatas untuk
dimuat dan dipublikasikan dalam proceeding atau journal STIKES Estu Utomo
Boyolali dan panitia berhak untuk mengedit sebagian dari isi tanpa merubah substansi
makalah.
Apakah terjadi tuntutan dari pihak lain tentang isi makalah yang telah
dipublikasikaan pada journal atau proceeding lain sebelumnya, maka sepenuhnya
bukan merupakan tanggung jawab pengelola namun sepenuhnya menjadi tanggung
jawab penulis.
vii

Boyolali, 21 April 2016


Yang membuat pernyataan

( Eka Asvista Salviana)

NIM 12013018

MOTTO

1. Kesuksesan hanya dapat diraih dengan segala upaya dan usaha yang disertai
dengan doa, karena sesungguhnya nasib seseorang manusia tidak akan berubah
dengan sendirinya tanpa berusaha.

2. Sebuah tantangan akan selalu menjadi beban, jika itu hanya dipikirkan. Sebuah
cita-cita juga adalah beban, jika itu hanya angan-angan.

3. Sesuatu akan menjadi kebanggaan, jika sesuatu itu dikerjakan, dan bukan hanya
dipikirkan. Sebuah cita-cita akan menjadi kesuksesan, jika kita awali dengan
bekerja untuk mencapainya, bukan hanya menjadi impian.
viii

PERSEMBAHAN

1. Ayah (Sardi) dan Ibu (Sri Sulami) yang tercinta atas samudra kasih sayang, doa,
bimbingan dan support yang diberikan.
2. Kakek, Nenenk, dan Tante yang selalu menyemangatiku.
3. Adik tercinta (Ria) yang telah menjadi peyemangat dalam hidupku.
4. Untuk saudar-saudara saya, dan kakak tercinta (Yuniana) yang selalu menjadi
penyemangat.
5. Untuk sahabat - sahabatku (Piko, Fivi, Widia, Hani, Zaenatul) yang aku sayangi
dan menyayangiku yang mampu menyuportku hingga aku mampu mencapai
Tugas Akhir ini.
6. Dosenku yang selama ini memberikan curahan ilmu sehingga aku mampu
menyelesaikan tugas akhirku ini.
7. Sahabat – sahabatku yang berada di luar jawa yang selalu memberi dukungan
8. Teman – teman Stikes Estu Utomo Boyolali yang menyuport dan mendukung
terselesainya Tugas Akhir ini.
9. Untuk calon imamku yang masih ditangan tuhan.
10. Almamaterku Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali
11. Serta Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam penyusunan Studi Kasus ini

INTISARI
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S 35 TAHUN DENGAN KEHAMILAN
NORMAL, PERSALINAN NORMAL, BAYI BARU LAHIR NORMAL
NIFAS NORMAL, NEONATUS NORMAL DAN KUNJUNGAN
AWAL AKSEPTOR KB SUNTIK DMPA

Eka Asvista Salviana1, Nurul Eko W 2, Etik Rochaety3


ix

Continuity of care adalah asuhan kebidanan yang menerapkan fungsi,


kegiatan, dan tanggung jawab bidan dalam pelayanan yang di berikan kepada klien
yang memiliki kebutuhan dan atau masalah kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas,
bayi baru lahir, neonatus, keluarga berencana, kesehatan reproduksi wanita, dan
pelayanan kesehatan masyarakat) secara berkelanjutan untuk mendapatkan
pelayanan.
Tujuan studi kasus ini adalah memberikan pelayanan asuhan kebidanan
secara komprehensif pada Ny. S dalam masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir,
nifas, neonatus,dan kunjungan awal akseptor KB dengan metode COC dan
pendokumentasian SOAP.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan
dokumentasi (foto, buku KIA).
Pada masa kehamilan Ny. “S” melakukan ANC secara teratur yaitu 7 kali
selama masa kehamilan, proses persalinan kala I sampai IV berlangsung normal dan
tidak ada komplikasi.Pada saat neonatus dilakukan 3 kali kunjungan, bayi dalam
kondisi normal, tumbuh kembangnya normal, tidak ada kelainan pada bayi Ny. S.
Pada masa nifas dilakukan 4 kali kunjungan, tidak terjadi perdarahan dan tanda
infeksi serta masa involusi dan penurunan fundus uteri berlangsung baik dan ibu
memutuskan menggunakan KB Suntik 3 bulan pada tanggal 10 februari 2016 sebagai
metode kontrasepsi.
Simpulannya adalah asuhan kebidanan pada Ny. S yang diberikan secara
komprehensif berhasil menjaga Ny. S dari komplikasi yang terjadi selama kehamilan,
persalinan,bbl, nifas, neonatus, KB, sehingga dalam prosesnya semua berjalan
normal.

Kata kunci : Kehamilan, Persalinan, Bayi Baru Lahir, Nifas, Neonatus, dan
kunjungan awal Akseptor KB Suntik DMPA

1
) Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali
2
) Pembimbing I
x

3
) Pembimbing II
xi

ABSTRACT

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S 35 TAHUN DENGAN KEHAMILAN


NORMAL, PERSALINAN NORMAL, BAYI BARU LAHIR NORMAL
NIFAS NORMAL, NEONATUS NORMAL DAN KUNJUNGAN
AWAL AKSEPTOR KB SUNTIK DMPA

Eka Asvista Salviana1, Nurul Eko W 2, Etik Rochaety3

Continuity of care is midwifery care that implements the functions, activities


and responsibilities of midwives in the service that is provided to clients who have a
need or problem obstetrics (pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, neonatal,
family planning, reproductive health of women, and community health services) in a
sustainable manner to obtain services.
The purpose of this case study is to provide comprehensive obstetric care
services in Ny. S during pregnancy, childbirth, newborns, postpartum, neonatal, and
the initial visit acceptors with the method COC and SOAP documentation.
Articles used method of data collection is interview, observation and
documentation (photos, books KIA).
During pregnancy Ny. S ANC regulary conduct that is 7 times during
pregnancy, childbirth stage 1 to stage IV continued as normal and there were no
complications. When neonates conducted three visits, babies under normal
conditions, the growth of normal, no abnornalities in infants Ny. S. In puerperal
made four visits, did nout occur bleeding and signs of infection as well as the period
of involution and decrease fundus went well and the mother decided to use injectable
KB 3 months on 10 February 2016 as method of contraception.
The conclusion is midwifery care at Ny.S given comprehensively managed to
keep Ny.S of complications that occur during pregnancy, childbirth, newborns,
postpartum, neonatal, family planning, in the process all runing normally.
xii

Keywords : Pregnancy, childbirth, newborns, postpartum, neonatal, and early visit


akseptor KB injectable DMPA.

1
) High school students of health sciences Estu Utomo Boyolali
2
) Supervisor I
3
) Supervisor II
xiii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Studi Kasus
dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ny. S Umur 35 Tahun Dengan Kehamilan
Normal, Persalinan Normal, Bayi Baru Lahir Normal dan Nifas Normal, Neonatus
Normal dan Kunjungan Awal Akseptor KB Suntik DMPA” guna memenuhi salah satu
syarat menyelesaikan Pendidikan Program Diploma III di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Estu Utomo Boyolali.
Dalam menyelesaikan Studi Kasus ini, penulis tidak lepas dari bantuan dan
dorongan dari berbagai pihak yang telah membimbing, memberi semangat. Dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Sutomo S.Pd, M.Kes selaku Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu
Utomo Boyolali.
2. Sri Handayani, S.Si.T, M.Kes, selaku Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Estu Utomo Boyolali.
3. Nurul EW, S.Si.T, M.Kes, selaku pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan dan masukan dalam pembuatan Studi Kasus ini.
4. Etik Rochaety AMK selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan
dan masukan dalam pembuatan Studi Kasus ini.
5. Ny. Sujiati dan keluarga yang telah bersedia menjadi responden dari saat hamil
triemster III sampai dengan KB
6. Seluruh Dosen dan Staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali
yang telah membantu kelancaran pembuatan Studi Kasus ini.
7. Klien yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan
yang telah diberikan.
8. Ayah, ibu dan adik yang telah memberikan dorongan baik material maupun
spiritual dan do’a mulianya dalam penyusunan Studi Kasus ini.
9. Seluruh sahabat-sahabat yang telah bekerjasama saling mendukung dan
mensuport dalam menyelesaikan tugas akhir penyusunan Studi Kasus ini.
xiv

10. Seluruh teman-teman Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali yang
telah bekerjasama saling mendukung dan mensuport dalam menyelesaikan tugas
akhir penyusunan Studi Kasus ini.
11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membatu
dalam penyusunan Studi Kasus ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan Studi Kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun dan menyempurnakan Studi Kasus ini.
Semoga Studi Kasus ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan
pembaca umumnya.
Boyolali, 4 April 2016

Eka Asvista Salviana

NIM :12013018
BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Continuity of care adalah asuhan kebidanan yang menerapkan fungsi,
kegiatan, dan tanggung jawab bidan dalam pelayanan yang di berikan kepada
klien yang memiliki kebutuhan dan atau masalah kebidanan (kehamilan,
persalinan, nifas, bayi baru lahir, neonatus, keluarga berencana, kesehatan
reproduksi wanita, dan pelayanan kesehatan masyarakat) secara berkelanjutan
untuk mendapatkan pelayanan.
Prodi DIII Kebidanan STIKES Estu Utomo Boyolali mengimplentasikan
Asuhan Kebidanan Komprehensif atau Continuity Of Care sudah dimulai sejak
tahun 2011, tujuannya agar mahasiswa mampu melakukan pendekatan langsung
dengan pasien dari awal bertemu pasien pada saat hamil sampai dengan
pelayanan KB awal. Manfaat yang di dapat adalah penulis yang sudah mengikuti
dari awal bertemu pasien pada saat hamil sampai pelayanan KB sampai
mengetahui secara detail bagaimana proses sesungguhnya masa kehamilan,
persalinan, neonatus, nifas serta KB yang di alami oleh perempuan, sehingga di
harapkan lulusan Prodi D3 Kebidanan Estu Utomo boyolali mempunyai
kompetensi yang lebih baik untuk mengatasi Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB).
Kabupaten Boyolali pada tahun 2014 terdapat Angka Kematian Ibu (AKI)
yang mencapai 14 orang, adapun penyebab kematian ibu diantarannya karena,
perdarahan sebanyak 1 orang, ibu dengan pre eklamsi berat sebanyak 6 orang,
karena infeksi 1 orang, serta karena penyebab lainnya sebanyak 6 orang.
1
Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebanyak 147 bayi yang disebabkan
karena BBLR sebanyak 75 bayi, kelainan kongenital 3 bayi, asfiksia 28 bayi,
infeksi 4 bayi, serta penyebab lainnya sebanyak 37 bayi.

Angka Kematian Ibu (AKI) di tahun 2014 mengalami penurunan


dibanding tahun 2013. Namun Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten

1
2

boyolali masih sangat tinggi, karena pada tahun 2013 jumlah kematian bayi
mencapai 85 bayi. (Dinas Kesehatan Kota Boyolali, 2014).
Kecamatan Simo terletak pada ketinggian antara 100-300 meter diatas
permukaan laut, dengan luas wilayah 65.84 km2, jumlah penduduk 70.455 jiwa,
dan 15 desa. Pada tahun 2014 terdapat satu Angka Kematian Ibu (AKI) yang
disebabkan karena Preeklampsia Berat (PEB). Menurut hasil pencapaian PWS
KIA 2014 di Puskesmas Simo diketahui sasaran ibu hamil adalah 947 dengan
pencapaian K1 895 (94,9%), K4 864 (90,9%). Sasaran ibu bersalin 880
pencapaian 880 (100%). Sasaran ibu nifas 880 pencapaian 864 (95,8%). Sasaran
bayi dan neonatus 858 pencapaian 858 (100%). (Dinas Kesehatan Kabupaten
Boyolali,2014)
Bentuk dan ruang lingkup pelayanan KIA meliputi pelayanan atenatal
(10T), pertolongan persalinan (pencegahan infeksi,IMD), pelayanan kesehatan
ibu nifas (ASI Ekslusif, involusi uterus), pelayanan kesehatan neonates (MTBM,
perawatan BBL), deteksi dini faktor resiko dan komplikasi kebidanan dan
neonatus oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat (anemia kehamilan, KEK),
penanganan komplikasi kebidanan (pelayanan obstetric, pelayanan neonatus),
pelayanan neonatus dengan komplikasi, pelayanan kesehatan bayi (imunisasi,
pemberian vit A), pelayanan kesehatan anak balita (MTBS, SDIDTK), pelayanan
KB berkualitas. (Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali,2014)
Asuhan kebidanan komprehensif adalah salah satu bentuk
penetalaksanaan untuk penanggulangan deteksi dini resiko ibu hamil, sehingga
dapat menurunkan Angka Kesehatan Ibu (AKI) dan Angka Kesehatan Bayi
(AKB). Asuhan tersebut meliputi pengawasan, perawatan dan penatalaksanaan
ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir dan nifas (Varney, 2010).
Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki posisi penting dalam
penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, dengan memberikan
pelayanan secara paripurna dengan menggunakan prinsip deteksi dini kelainan,
Komplikasi dan penyakit dalam kehamilan melalui pemeriksaan kehamilan serta
melakukan kontak dini kehamilan trimester 1, skreening serta ANC berdasarkan
3

kebutuhan ibu. Dengan adanya prinsip deteksi dini maka resiko tinggi ibu hamil
dapat diamati dan ditemukan sedini mungkin diawal kehamilan. Faktor yang
mempengaruhi kemampuan deteksi dini pada ibu hamil meliputi niat terhadap
objek kesehatan, dukungan dari keluarga/ masyarakat sekitar, informasi
kesehatan dan kebebasan individu untuk mengambil keputusan.
Kriteria pasien yang digunakan dalam pengambilan kasus dengan umur
kehamilan ≥ 28 minggu. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu dari Ny.
S sebagai berikut, pada saat kehamilan pertama tidak terdapat tanda bahaya
kehamilan sampai dengan persalinan, anak pertama lahir spontan di bidan dengan
jenis kelamin perempuan dan berat waktu lahir 2900 gram.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengambil asuhan
kebidanan pada Ny. S G2P1A0 umur 35 tahun dan umur kehamilan 33 minggu 6
hari dengan kriteria rumah pasien dekat dengan tempat penulis praktek dan
pasien yang sangat mudah diajak untuk bekerja sama dan mudah menerima
asuhan yang diberikan.
B. Identifikasi Masalah
Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Ny. S dalam masa kehamilan, persalinan,
bayi baru lahir, nifas, neonatus dan kunjungan awal akseptor KB di BPM Eny
Zubaidah Ngadirejo, Sumber, Simo, Boyolali dengan metode COC ?
C. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Melalui penyusunan laporan tugas akhir dengan melakukan Asuhan
Kebidanan secara komprehensif dan berkelanjutan ini diharapkan dapat
memberikan pelayanan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. S
dalam kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, neonatus, dan kunjungan
awal akseptor KB.
b. Tujuan Khusus
i. Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada Ny. S selama
kehamilan.
ii. Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada Ny. S selama
persalinan.
4

iii. Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada Ny. S selama


nifas.
iv. Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada BBL Ny. S.
v. Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada neonatus Ny.
S.
vi. Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif kepada Ny. S sampai
mendapatkan pelayanan KB.
D. Manfaat Penulisan
a. Bagi Penulis
Penulis dapat lebih siap lagi untuk menganalisa, menangani kasus pada pasien
yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai salah satu metode pembelajaran untuk meningkatkan
kompetensi mahasiswa.
c. Bagi Profesi
Metode CoC ini layak untuk diaplikasikan dan dapat digunakan dalam
penanganan kasus kegawatdaruratan.
d. Bagi Pemerintah/Dinas Kesehatan
Penulisan Asuhan kebidanan ini diharapkan dapat digunakan untuk
pengambilan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kebidanan di masyarakat.
5

e. Bagi BPM
Dengan menerapkan Asuhan Kebidanan menggunakan metode COC dapat
memfokuskan tindakan ataupun masalah dengan tepat.
f. Bagi Pasien COC (Continuity Of Care)
Mendapatkan asuhan kebidanan secara komperhensif dan optimal, sehingga
ibu dapat melalui masa kehamilan, persalinan, neonatus, nifas, kunjungan
awal KB dengan aman.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Laporan Tugas Akhir terdiri dari 5 Bab, sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Tinjauan Kasus
Bab III : Tinjauan Pustaka
Bab IV : Pembahasan
Bab V : Simpulan dan Saran

BAB II

TINJAUAN KASUS

A. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL


I. KUNJUNGAN I (UMUR KEHAMILAN 33 MINGGU 6 HARI)
Tanggal Pengkajian : 12 November 2015
Jam Pengkajian : 13.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah
1. DATA SUBYEKTIF (ANAMNESA)
a. Identitas/biodata
i. Nama Ibu : Ny. S Nama Suami :Tn. J
ii. Umur : 35 tahun :35 tahun
iii. Pendidikan : SD :SMP
iv. Pekerjaan : Karyawan swasta :Karyawan Swasta
v. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia :Jawa/Indonesia
vi. Agama : Islam :Islam
6

vii. Nomor HP : 082329024532


viii. Alamat : Ngadirejo RT 16, RW 03, Sumber, Simo, Boyolali.
b. Alasan Datang : Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya.
c. Riwayat Kehamilan Sekarang :
i. HPHT : 21 Maret 2015
ii. Haid bulan sebelumnya : Februari
iii. BB sebelum hamil : 43 kg
iv. Gerakan janin (24 jam terakhir) : Sering (> 10 kali)
v. Riwayat Penyakit Kehamilan/tanda bahaya (penyulit) : Ibu
mengatakan tidak pernah mengalami penyulit selama kehamilan.
vi. Keluham TM I : Mual, muntah.
TM II : Tidak ada keluhan.
TM III: Tidak ada keluhan
vii. Obat yang dikonsumsi (termasuk jamu) : Ibu mengatakan tidak
pernah mengonsumsi jamu dan obat warung.
viii. ANC : teratur / tidak, frekuensi 5 kali, di Bidan
ix. Imunisasi TT : 2 kali, di Bidan
Tabel 1. Imunisasi TT
TT 1 Langkah awal untuk mengembangkan Tgl. 11-07-2015 Paraf:
kekebalan tubuh terhadap infeksi.

TT 2 4 minggu setelah TT 1 untuk Tgl.10-08-2015 Paraf:


menyempurnakan kekebalan.

TT 3 6 Bulan atau lebih setelah TT 2 untuk Tgl. Paraf:


menguatkan kekebalan.

TT 4 1 tahun atau lebih setelah TT 3 untuk Tgl. Paraf:


menguatkan kekebalan.

TT 5 1 tahun atau lebih setelah TT 4 untuk Tgl. Paraf:


menguatkan kekebalan.

Sumber: Data pengkajian, tahun 2015


x. Kekhawatiran khusus : Ibu mengatakan saat ini tidak ada keluhan.
7

d. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu

Tabel 2. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu


Hamil Penyulit/ Jenis Penyulit/ Penolo BB Jenis Nifas Penyulit/ Usia Keadaa
ke Komplikas Persalina Komplikas Lahi Komplikas Anak
ng Kelamin n Anak
i n i r i
1 Tidak ada Normal Tidak ada Bidan 2900 Perempu Norm Tidak ada 6 Baik
gra an al tahun
m
2 HAMIL SEKARANG
Sumber : Data Pengkajian, 2015.
f. Riwayat Kesehatan
i. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatkan saat ini tidak ada keluhan dan tidak ada penyakit
yang membahayakan proses kehamilanya saat ini seperti pusing
yang menetap, bengkak di wajah, tangan dan kaki, tekanan darah
lebih dari 130/90 mmHg, batuk lebih dari 3 bulan disertai keluar
darah, dan keluar darah dari jalan lahir yang belum diketahui
penyebabnya.
ii. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang
membahayakan proses kehamilannya seperti tekanan darah tinggi,
diabetes militus, TBC, dan abortus.
iii. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit syndrom
down, keturunan kembar, serta tidak ada yang menderita kelainan
kongenital.

g. Riwayat Alergi
Ibu mengatakan tidak memiliki alergi terhadap obat-obatan seperti
amoxilin, dan ibu mengatakan tidak memiliki alergi terhadap makanan
laut seperti ikan laut, kepiting, udang, dll.
8

h. Riwayat Sosial Ekonomi


i. Riwayat Perkawinan
Umur waktu nikah : 27 tahun
Lama : 8 tahun
Perkawinan ke : 1 (satu)
Jumlah anak : 1 (satu)
Pendapatan Suami : + Rp.700.000 / bulan
Pendapatan Istri : + Rp. 700.000 / bulan
Total pendapatan suami dan istri : + 1.400.000 / bulan
Pengeluaran untuk kebutuhan sehari – hari + Rp.1.400.000 / bulan.
ii. Respon Ibu dan Keluarga terhadap Kehamilan Ibu :
Ibu dan Keluarga mengatakan senang atas Kehamilan Ibu
dibuktikan dengan perhatian Keluarga terutama Suami.
iii. Riwayat KB
Tabel 3. Riwayat KB
No Jenis Alkon Lama Keluhan Efek Tahun Alasan
Pakai Samping Lepas
.

1. KB Suntik 3 + 2 tahun Tidak ada Haid 2011 Ingin


Bulan tidak mempunyai
teratur anak

Sumber : Data Pengkajian, 2015.


iv. Dukungan Keluarga : Keluarga sangat mendukung atas kehamilan
ini, karena ini adalah kehamilan yang
diharapkan.
v. Pengambilan keputusan dalam Keluarga : Suami
vi. Pola Pemenuhan kebutuhan sehari-hari :
Tabel 4. Pola Pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Kebutuhan Sebelum Hamil Selama Hamil Keluhan
9

Nutrisi :
a. Makan 3 x/hari, nasi, sayur, 3x/hari, nasi, sayur, lauk Tidak ada
lauk pauk, buah. pauk, buah. keluhan
b. Minum
7-8 gelas/hari air putih. 7-8 gelas/hari air putih
dan 1 gelas susu.

Eliminasi :
a. BAK 4-5 x/hari kuning + 5 kali x/hari kuning Tidak ada
b. BAB
jernih jernih. keluhan
. 1 x/hari kuning lembek.
1 x/hari kuning
lembek.

Istirahat Tidur 7-8 jam Tidur 7-8 jam Tidak ada

Aktifitas Memasak, menyapu, Memasak, menyapu, Tidak ada


mencuci. mencuci.

Personal Hygiene Mandi 2 x/hari Mandi 2 x/hari Tidak ada

Rekreasi Jarang Jarang Tidak ada

Pola Seksual 2 x/minggu 1 x/minggu Tidak ada

Sumber : Data Pengkajian, 2015.


vii. Tempat dan petugas Kesehatan yang diinginkan untuk membantu
persalinan : Ibu berencana ingin bersalin di BPM Eny Zubaidah dan
ditolong oleh Bidan.
viii. Adat Istiadat : Tidak ada adat istiadat yang berpengaruh buruk
terhadap kehamilan Ibu. Tidak ada pantangan makanan untuk Ibu
Hamil.
ix. Lingkungan (hewan peliharaan) : Lingkungan rumah bersih, rapi,
dan tidak memelihara hewan
kucing, sapi, ayam, dll.
x. Pengetahuan Ibu
Pengetahuan Ibu tentang :
1) Kehamilan : Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang
kehamilannya dan mengetahui tentang tanda
bahaya kehamilan TM III seperti : Ketuban
10

pecah sebelum waktunya, gerakan janin


berkurang, bengkak pada muka, kaki,
tangan, dll.
2) Persalinan : Ibu sudah mempersiapkan persalinan seperti
peralatan bayi, dan Ibu sudah mengetahui
tentang tanda-tanda Persalinan dan tanda
bahaya Persalinan.
2. DATA OBYEKTIF
a. Pemeriksaan Umum
i. Keadaan Umum : Baik
ii. Kesadaran : Composmentis
iii. Status emosional : Satabil
iv. HPL : 26 Desember 2015
v. Tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36.10C
vi. BB setelah hamil : 52 kg
vii. TB : 146 cm
viii. LILA : 24 cm
ix. Status Present
1) Kepala
a) Rambut : Hitam, bersih, tidak rontok, dan kulit
kepala tidak ketombe.
Muka : Tidak ada oedema, tidak pucat.
b) Mata : Conjungtiva : Merah muda
Sklera : Tidak ikterik
c) Hidung : Bersih, tidak ada sekret.
d) Telinga : Tidak ada serumen, simetris.
e) Mulut : Bersih, gigi tidak caries, gusi tidak
berdarah.
2) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan
vena jugularis.
3) Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada.
4) Mammae : Simetris, tidak ada benjolan abnormal.
5) Perut : Tidak ada bekas luka operasi.
11

6) Genetalia : Tidak ada varises, tidak mempunyai


penyakit kelamin.
7) Ekstremitas :
Atas : Normal, gerak aktif.
Bawah : Normal, tidak ada varises, gerak aktif.
b. Pemeriksaan Obstetri
i. Inspeksi
1) Wajah/muka : Tidak ada cloasma gravidarum
2) Mammae : Puting : Menonjol
Aerola : Menghitam
3) Abdomen : Terdapat strie gravidarum, linea nigra,
membesar sesuai umur kehamilan.
4) Genetalia (vulva) : Tidak ada flour albus.
ii. Palpasi
1) Palpasi Leopold
a) Leopold I : TFU pertengahan pusat, bagian atas janin
teraba lunak (bokong).
b) Leopold II : Kiri teraba datar memanjang keras seperti
papan (punggung), kanan teraba bagian
terkecil janin (ekstremitas).
c) Leopold IV : Bagian bawah teraba bulat, keras,
melenting (kepala) dan bisa digoyangkan.
d) Leopold IV : Bagian terbawah kepala belum masuk
panggul.
2) Mc. Donald : 27 cm
TBJ : (27-12) x 155 = 2.165 gram
iii. Auskultasi
DJJ : +, Frekuensi 148 x/menit
Irama : Teratur
Puctum Maximum : Terdengar dibawah pusat sebelah kiri.
c. Pemeriksaan Penunjang/Laboratorium
i. Protein Urine : - (Negative)
12

ii. Urine Reduksi : - (Negative)


iii. HB : 11,5 gram%
iv. Golongan Darah : B (tanggal 22-08-2015)
v. HBsAg : - (Negative) (tanggal 22-08-2015)
3. ANALISA
Diagnosa Kebidanan
Ny. S umur 35 tahun G2P1A0 umur kehamilan 33 minggu 6 hari janin
tunggal, hidup, intra uteri, punggung kiri, kepala belum masuk panggul
dengan hamil normal.

Data dasar :
DS :
i. Ibu mengatakan HPL : 26-12-2015
ii. Ibu mengatakan HPHT : 21-03-2015
DO :
i. Palpasi Leopold
1) Leopold I : TFU pertengahan pusat, bagian atas janin teraba
lunak (bokong).
2) Leopold II : Kiri teraba datar memanjang keras seperti papan
(punggung), kanan teraba bagian terkecil janin
(ekstremitas).
3) Leopold IV : Bagian bawah teraba bulat, keras, melenting
(kepala) dan bisa digoyangkan.
4) Leopold IV : Bagian terbawah kepala belum masuk panggul.
ii. Mc. Donald : 27 cm
TBJ : (27-12) x 155 = 2.165 gram
iii.Auskultasi
DJJ : +, Frekuensi 148 x/menit
Irama : Teratur
Puctum Maximum : Terdengar dibawah pusat sebelah kiri.
13

4. PENATALAKSANAAN
14.45 WIB Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu
dan janin dalam kondisi sehat.
Tanda Vital : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36.10C
DJJ +, frekuensi 148 x/menit.
E : Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan bahwa kondisi ibu dan janin
sehat.
14.49 WIB Menjelaskan kepada ibu tentang ketidaknyamanan di kehamilan
TM III antara lain :
1) Sering BAK, disebabkan oleh tekanan uterus karena
turunnya bagian bawah janin sehingga kandung kemih
tertekan dan mengakibatkan frekuensi berkemih
meningkat.
Cara mengatasi : Kosongkan saat ada dorongan untuk
kencing, mengurangi asupan cairan pada sore hari dan
memperbanyak minum saat siang hari, jangan kurangi
minum untuk mencegah nokturia, keculi jika nokturia
sangat mengganggu tidur pada malam hari, batasi
minum kopi, teh atau soda.
2) Nafas Sesak : Pada kehamilan 33-36 banyak Ibu hamil
akan merasa susah bernafas hal ini karena tekanan
bayi yang berada dibawah diafragma menekan paru
Ibu. Sering dikeluhkan berupa sesak nafas, akibat
pembesaran uterus yang menghalangi pengembangan
paru-paru secara maksimal.
14

Cara mengatasi : Merentangkan tangan di atas kepala


serta menarik nafas panjang, anjurkan untuk menarik
nafas dalam dan lama.
3) Susah tidur (Insomnia) : Pada Ibu hamil, gangguan
tidur umumnya terjadi pada trimester I dan trimester
III. Pada trimester III gangguan ini terjadi kerena Ibu
hamil sering kencing, gangguan ini juga disebabkan
oleh rasa tidak nyaman yang dirasakan Ibu hamil
seperti bertambahnya ukuran rahim yang mengganggu
gerak Ibu.
Cara mengatasi :
a) Ibu hamil diharapkan menghindari rokok dan
minuman beralkohol. Menghindari merokok dan
alkohol pada saat hamil. Selain membahayakan
janin, rokok dan alkohol juga membuat Ibu hamil
sulit tidur.
b) Usahakan tidur + 1- 2 jam di siang hari.
c) Biasakan miring kiri. Tidur miring kiri akan
membantu darah dan nutrisi mengalir lancar ke
janin dan rahim, serta membantu ginjal untuk
sedikit memperlambat produksi urine.
d) Kurangi minum pada malam hari.
e) Menghindari kafein, kafein dapat membuat
seseorang susah tidur dan membuat jantung
berdebar. Selain terdapat pada kopi, kafein juga
terdapat pada teh soda dan cokelat.
4) Kaki/tungkai bengkak, timbul akibat gangguan
sirkulasi vena dan peningkatan tekanan vena pada
ekstremitas bagian bawah. Gangguan sirkulasi ini
disebabkan oleh tekanan uterus yang membesar pada
vena-vena panggul saat wanita tersebut duduk atau
berdiri pada vena kava inferior saat berada dalam
posisi terlentang.
15

Cara mengatasi : Hindari menggunakan pakaian ketat,


posisi menghadap kesamping saat berbaring.
E : Ibu mengerti tentang ketidaknyamanan di kehamilan TM III.
14.53 WIB Memberikan edukasi tentang Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K).
Tujuan dari P4K yaitu suami, keluarga dan masyarakat
paham tentang bahaya persalinan, adanya rencana persalinan
aman yang disepakati antara ibu hamil, suami, dan keuarga
dengan bidan.
1) Menanyakan kepada Ibu akan bersalin dimana ?
2) Menanyakan kepada Ibu ketika melahirkan nanti akan
ditolong oleh siapa ?
3) Menanyakan kepada Ibu persiapan transportasi ?
4) Menanyakan kepada Ibu persiapan keluarga ketika
menjelang persalinan nanti ?
5) Menanyakan persiapan keuangan ?
6) Menanyakan kepada ibu calon pendonor darah untuk
persiapan ketika dalam persalinan terjadi komplikasi ?
7) Menanyakan persiapan pakaian bayi dan ibu hamil ?
E : Ibu sudah menjawab semua pertanyaan tersebut.
1) Ibu akan bersalin di BPM Eny Zubaidah
2) Ibu ketika melahirkan ingin ditolong oleh Bidan
3) Suami dan Ibu sudah mempersiapkan alat transportasi
4) Suami dan Ibu sudah mempersiapkan biaya untuk persalinan
5) Ibu sudah mempersiapkan calon pendonor darah
6) Ibu sudah mempersiapkan pakaian untuk Ibu sendiri dan Bayi
14.57 WIB Mengingatkan Ibu kembali Tanda Bahaya kehamilan TM III :
1) Perdarahan yang keluar dari jalan lahir : plasenta previa
yang ditandai dengan keluar darah lewat jalan lahir tidak
disertai dengan rasa nyeri, karena plasenta menutupi jalan
16

lahir. Dan solusio plasenta yang ditandai dengan keluar


darah, berwarna merah tua lewat jalan lahir yang disertai
rasa nyeri karena lepasnya plasenta sebelum melhirkan
2) Kehamian lebih bulan (serotinus) yang lebih dari 42
minggu itu tidak baik untuk kesejahteraan janin.
3) Gerak janin berkurang dan mungkin tidak bergerak
4) Ketuban pecah sebelum waktu persalinan dan blm ada
tanda-tanda persalinan
5) Wajah, kaki dan tangan bengkak, bisa disertai pusing dan
kejang.
6) Muntah terus dan tidak mau makan.
7) Demam tinggi > 37,50C
8) Tekanan darah tinggi untuk sistolik > 130 mmHg dan
untuk diastolik > 85
E : Ibu bisa menyebutkan tanda bahaya kehamilan
1) Perdarahan yang keluar dari jalan lahir karena plasenta menutupi
jalan lahir atau plasenta yang terlepas sebelum melahirkan
bayinya.
2) Gerak janin berkurang
3) Ketuban pecah sebelum waktu bersalin
4) Demam tinggi > 37,50C
14.59 WIB Menjelaskan kepada ibu masalah lain pada masa kehamilan
dan apabila mengalami keluhan di bawah ini menganjurkan
ibu untuk datang ke puskesmas, rumah sakit, dokter atau
bidan dengan didmpingi suami atau keluarga :
1) Demam, menggigil dan berkeringat. Bila ibu berada di
daerah endemis malaria, menunjukkan adanya gejala
penyakit malaria
2) Terasa sakit pada saat kencing atau keluar keputihan
atau gatal-gatal di daerah kemaluan
17

3) Batuk lama (lebih dari 2 minggu)


4) Jantung berdebar-debar atau nyeri dada
5) Diare berulang
6) Sulit tidur dan cemas berlebihan
E : Ibu mengerti tentang penjelasan tersebut dan ibu bisa menyebutkan
kembali seperti :
1) Demam, menggigil dan berkeringat
2) Batuk lama (lebih dari 2 minggu)
3) Jantung berdebar-debar atau nyeri dada
4) Diare berulang
5) Sulit tidur dan cemas berlebihan
15.03 WIB Memberi Ibu tabet zat besi diminum 1 x 1 dengan
menggunakan air jeruk atau air putih, karena dapat
membantu proses penyerapan zat besi. Diminum pada sore
hari atau malam hari sebelum tidur. Dan hindari minum
tablet zat besi dengan menggunakan air teh, susu, dan kopi,
karena akan menghambat proses penyerapan zat besi.
E : Ibu mengerti tentang tablet zat besi dan Ibu bersedia meminumnya.
15.01 WIB Menganjurkan Ibu untuk periksa 2 minggu lagi yaitu tanggal
26 November 2015 atau bila ada keluhan.
E : Ibu bersedia untuk periksa kembali tanggal 26 November 2015.

Simo, 12 November 2015

(Eka Asvista salviana)


18
22

II. Tabel 5. KUNJUNGAN II (UMUR KEHAMILAN 35 MINGGU 6 HARI)


Tanggal Pengkajian : 26 November 2015
Jam Pengkajian : 09.00 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah
Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan
1. Ibu mengatakan 1. Ku : baik Ny.S umur 35 09.05 1. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa
2. Kesadaran: composmentis
ingin tahun G2P1A0 ibu dan janin dalam kondisi sehat.
3. TTV
a.Tanda Vital
memeriksakan UK 35 minggu
TD : 100/70 mmHg TD : 100/70 mmHg
kehamilannya 6 hari Nadi : 84 x/menit
N : 84x/menit
RR : 24 x/menit
dan ibu ingin ,punggung kiri,
RR : 24x/menit Suhu : 36,5˚C
mengetahui janin tunggal, BB : 54 Kg
S : 36,5 0C
b. DJJ +, frekuensi : 144 x/menit
perkembangan hidup
4. BB : 54 kg E : Ibu sudah tahu hasil pemeriksaannya.
janinnya. 5. LILA : 24 cm intrauterin, 2. Memberitahu ibu bahwa sering kencing dikehamilan TM III
2. Ibu mengatakan
6. Inspeksi preskep dengan adalah wajar disebabkan oleh tekanan uterus karena
sering kencing.
Mamae : Puting susu bersih, hamil normal. turunnya bagian bawah janin sehingga kandung kemih
3. Ibu mengatakan
payudara menonjol, kolostrum 09.07 tertekan dan mengakibatkan frekuensi berkemih meningkat,
sudah minum
sudah keluar. dan menganjurkan ibu untuk mengurangi asupan cairan
tablet fe dan
Mata : Konjungtiva tidak pada sore hari.
kalsium.
E : Ibu mengerti dan akan melakukan anjuran bidan dengan
anemis, skera tidak ikterik.
mengurangi minum dimalam hari.
Muka tidak pucat tidak odema.
3. Menganjurkan ibu untuk USG
7. Palpasi : E : Ibu bersedia untuk melakukan USG untuk mengetahui
22
23

Leopold I : TFU 3 jari bawah perkembangan janinnya.


4. Menyarankan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang
px, bagian atas janin teraba 09.09
banyak mengandung protein seperti daging, telur, buah,
lunak (bokong).
sayur, susu, serta mengkonsumsi air putih lebih banyak saat
siang hari.
Leopold II : Kiri teraba datar 09.12
E : Ibu bersedia untuk mengomsusi makanan yang banyak
memanjang keras seperti papan
mengandung protein
(punggung), kanan teraba 5. Memberikan terapi susu 2x sehari kepada ibu
E : minum susu di pantau dengan kebutuhan susu yang telah
bagian terkecil janin
di konsumsi
(ekstremitas)
6. Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan pagi untuk
Leopold III : Bagian bawah 09.14
mempercepat penurunan kepala janin
teraba bulat, keras, melenting E : Ibu bersedia untuk jalan-jalan pagi.
7. Memberi Ibu tabet zat besi diminum 1 x 1 dan mengingatkan
(kepala) dan tidak bisa
cara meminumnya, diminum dengan menggunakan air jeruk
digoyangkan. 09.16
atau air putih, karena dapat membantu proses penyerapan zat
Leopold IV : Bagian terbawah
besi. Diminum pada sore hari atau malam hari sebelum tidur.
kepala sudah masuk panggul.
Dan hindari minum tablet zat besi dengan menggunakan air
8. Auskultasi 09.19
DJJ : 144 x/menit teh, susu, dan kopi, karena akan menghambat proses
Irama : Teratur
penyerapan zat besi.
Colostrum : Sudah keluar.
E : Ibu mengerti tentang tablet zat besi dan Ibu bersedia
meminumnya.
8. Menganjurkan Ibu untuk periksa 2 minggu lagi yaitu

23
24

tanggal 10 Desember 2015 atau bila ada keluhan.


E : Ibu bersedia untuk periksa kembali tanggal 10 Desember
2015.
09.21

24
25

Boyolali, 26 November 2015

(Eka Asvista Salviana)

25
26

III. Tabel 6. KUNJUNGAN III (UMUR KEHAMILAN 37 MINGGU 6 HARI)

Tanggal Pengkajian : 10 Desember 2015


Jam Pengkajian : 09.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu mengatakan 1. Ku : baik Ny.S umur 35 09.35 1. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu
2. Kesadaran: composmentis
ingin tahun G2P1A0 dan janin dalam kondisi sehat.
3. TTV
a. Tanda Vital
memeriksakan UK 37
TD : 110/70 mmHg TD : 110/70 mmHg
kehamilannya minggu 6 hari Nadi : 84 x/menit
N : 84x/menit
RR : 26 x/menit
dan ibu ingin ,punggung
RR : 26x/menit Suhu : 36,4˚C
mengetahui kiri, janin BB : 54 Kg
S : 36,4 0C
b. DJJ +, frekuensi : 148 x/menit
perkembangan tunggal,hidup
4. BB : 54 kg E : Ibu sudah tahu hasil pemeriksaannya.
janinnya. intrauterin, 2. Menjelaskan keluhan yang dialami ibu yaitu keputihan
5. LILA: 24,5 cm
2. Ibu mengatakan
preskep (normal) di sebabkan karena adanya perubahan hormone,
6. Inspeksi
keputihan
dengan hamil untuk mengatasinya ketika ibu BAK cebok menggunakan air
Mamae : Puting susu bersih ,
sedikit encer,
normal. 09.37 hangat dan jika celananya sudah lembab segera ganti dengan
payudara membesar, kolostrum
tidak berbau,
yang kering
sudah keluar.
warna cairan E : Ibu sudah tahu penyebab yang ibu alami dan
Mata : Konjungtiva tidak
bening penanganannya
anemis, skera tidak ikterik. 3. Menjelaskan pada ibu tentang umpan balik dari dokter bahwa
(normal).
Muka tidak pucat tidak odema.

26
27

7. Palpasi : 09.39 ibu dan janin dalam kondisi sehat dan tak perlu khawatir
USG : tanggal 6 Desember 2015 presentasi kepala, Air
Leopold I : TFU 2 jari bawah
Ketuban : Normal, TBJ : 2300 gram.
px, bagian atas janin teraba
E : Ibu sudah tahu hasil USG.
lunak (bokong). 4. Menjelaskan pada ibu tanda-tanda persalinan
a. Perut terasa mulas secara teratur
b. Mulasnya sering dan lama
Leopold II : Kiri teraba datar 09.41 c. Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
d. Keluar air ketuban dari jalan lahir
memanjang keras seperti papan
E : Ibu sudah tahu tanda-tanda persalinan dan ibu bisa
(punggung), kanan teraba
menyebutkan kembali tanda-tanda persalinan seperti :
bagian terkecil janin a. Perut terasa mulas secara teratur
b. Mulasnya sering dan lama
(ekstremitas)
c. Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
Leopold III : Bagian bawah d. Keluar air ketuban dari jalan lahir
5. Menganjurkan ibu untuk mempersiapkan perlengkapan
teraba bulat, keras, melenting
persalinan baik untuk ibu maupaun bayi seperti,
(kepala) dan tidak bisa
Ibu :Kain, pembalut, baju ibu dll,
digoyangkan. Bayi :Popok, baju bayi, topi, kaos kaki dan tangan lalu
Leopold IV : Bagian terbawah dimasukkan dalam satu tas bila ibu ingin melahirkan bisa
kepala sudah masuk panggul. langsung di bawa.
E: Ibu dan keluarga sudah mempersiapkan perlengkapan
8. Auskultasi 09.44
DJJ : 148 x/menit persalinan jika sewaktu-waktu ibu merasa ingin melahirkan
Irama : Teratur 6. Menganjurkan Ibu untuk periksa 1 minggu lagi yaitu tanggal
Colostrum: Sudah keluar
17 Desember 2015 atau bila ada keluhan.
E : Ibu bersedia untuk periksa kembali tanggal 17 Desember

27
28

2015.

09.47
Boyolali, 10 Desember 2015

(Eka Asvista Salviana)

28
29

IV. Tabel 7. KUNJUNGAN IV (UMUR KEHAMILAN 38 MINGGU 6 HARI)

Tanggal Pengkajian : 17 Desember 2015


Jam Pengkajian : 09.50 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu 1. Ku : baik Ny.S umur 35 09.55 1. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu
2. Kesadaran: composmentis
mengatakan tahun G2P1A0 dan janin dalam kondisi sehat.
3. TTV
a. Tanda Vital
ingin UK 38 minggu
TD : 120/70 mmHg TD : 120/70 mmHg
memeriksakan 6 hari Nadi : 84 x/menit
N : 84x/menit
RR : 24 x/menit
kehamilannya ,punggung kiri,
RR : 24x/menit Suhu : 36,3˚C
dan ibu ingin janin BB : 55 Kg
S : 36,3 0C
b. DJJ +, frekuensi : 144 x/menit
mengetahui tunggal,hidup
4. BB : 55 kg E : Ibu sudah tahu hasil pemeriksaannya.
perkembangan intrauterin, 2. Menjelaskan kembali pada ibu tanda-tanda persalinan
5. LILA: 24,5 cm
a) Perut terasa mulas secara teratur
janinnya. preskep dengan
6. Inspeksi b) Mulasnya sering dan lama
2. Ibu
Hamil Normal. c) Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir
Mamae : Puting susu bersih ,
mengatakan d) Keluar air ketuban dari jalan lahir
09.57
puting susu menonjol, E: Ibu sudah tahu tanda-tanda persalinan.
kadang
3. Memberikan KIE tentang tanda bahaya persalinan seperti :
kolostrum sudah keluar.
kenceng a) Perdarahan lewat jalan lahir
Mata : Konjungtiva tidak b) Ibu tidak kuat mengejan
kenceng.
c) Tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir.
anemis, skera tidak ikterik.
3. Ibu d) Ibu kejang
Muka tidak pucat tidak odema. e) Air ketuban keruh dan bauk

29
30

mengatakan 7. Palpasi : f) Ibu gelisa


g) Ibu merasa sakit yang hebat
belum Leopold I : TFU setinggi px, 09.59
h) Ibu tidak kuat mengejan
mengetahui bagian atas janin teraba lunak E : Ibu sudah tahu tentang tanda bahaya persalinan
4. Menjelaskan kembali tentang persiapan persalinan
tentang tanda (bokong).
Ibu : Kain, pembalut, baju ibu dll,
bahaya Bayi : Popok, baju bayi, topi, kaos kaki dan tangan lalu
persalinan Leopold II : Kiri teraba datar dimasukkan dalam satu tas bila ibu ingin melahirkan bisa
memanjang keras seperti papan langsung di bawa.
E:Ibu dan keluarga sudah mempersiapkan perlengkapan
(punggung), kanan teraba
persalinan jika sewaktu-waktu ibu merasa ingin melahirkan
bagian terkecil janin
5. Membrikan KIE kepada ibu tentang macam – macam alat
(ekstremitas)
kontrasepsi seperti Kb suntik, Pil, IUD/AKDR, Implant.
Leopold III : Bagian bawah E : Ibu mengerti tentang macam – macam alat kontrasepsi dan
teraba bulat, keras, melenting 10.02 ibu berencana akan menggunakan Kb suntik.
6. Menganjurkan Ibu untuk periksa 1 minggu lagi yaitu tanggal
(kepala) dan tidak bisa
24 Desember 2015 atau bila ada keluhan.
digoyangkan.
E : Ibu bersedia untuk periksa kembali tanggal 24 Desember
Leopold IV : Bagian terbawah
2015.
kepala sudah masuk panggul.
8. Auskultasi
DJJ : 144 x/menit
Irama : Teratur
10.04
Colostrum: Sudah keluar

30
31

10.06
Boyolali, 17 Desember 2015

(Eka Asvista Salviana)

31
28

B. ASUHAN KEBIDANAN PADA BERSALIN


II. KALA I
Tanggal Pengkajian : 19 Desember 2015
Jam Pengkajian : 09.00 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah
1. DATA SUBYEKTIF (ANAMNESA)
a. Identitas/biodata
i. Nama Ibu : Ny. S Nama Suami :Tn. J
ii. Umur : 35 tahun :35 tahun
iii. Pendidikan : SD :SMP
iv. Pekerjaan : Karyawan swasta :Karyawan Swasta
v. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia :Jawa/Indonesia
vi. Agama : Islam :Islam
vii. Alamat : Ngadirejo RT 16, RW 03, Sumber, Simo, Boyolali.
b. Alasan Datang : Ibu ingin melahirkan karena perutnya merasakan
mules.
c. Keluhan utama : Ibu mengatakan perutnya mules-mules semakin
lama semakin sering.
d. Riwayat Persalinan Sekarang : (His dan PPV)
Ibu mengatakan mules-mules, sejak tanggal 19 Desember 2015 jam
05.00 WIB.
Ibu mengatakan sudah keluar lendir darah sejak tanggal 19 November
2015 jam 06.00 WIB.
e. Riwayat Menstruasi
i. Menarche : 13 tahun Siklus : 28 hari
ii. Lama : 7 hari Jumlah : 3 kali ganti pembalut/hari
iii. Warna : Merah Keluhan : Tidak ada
iv. Teratur/tidak : Teratur
f. Riwayat Perkawinan
i. Umur waktu nikah : 27 tahun
ii. Lama : 8 tahun
iii. Perkawinan ke : 1 (satu)
iv. Jumlah anak : 1 (satu)
g. Riwayat Kesehatan
i. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan saat ini mengalami kenceng kenceng sejak tanggal
19 Desember 2015 pukul 05.00 WIB dan pukul 09.00 ibu
merasakan kenceng-kenceng yang semakin sering dan
mengeluarkan lendir darah. Serta tidak ada penyakit yang

28
29

membahayakan proses kehamilanya saat ini seperti pusing yang


menetap, bengkak di wajah, tangan dan kaki, tekanan darah lebih
dari 130/90 mmHg, batuk lebih dari 3 bulan disertai keluar darah,
dan keluar darah dari jalan lahir yang belum diketahui
penyebabnya.

ii. Riwayat kesehatan yang lalu


Ibu mengatakan tidak memiliki penyakit kanker, hati, ginjal, hamil
kembar, epilepsy,kelainan bawaan, TBC, dll.
iii. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dikeluarga tidak memiliki penyakit kanker, hati,
ginjal, hamil kembar, epilepsy, kelainan bawaan, TBC, dll.
xi. Riwayat Kehamilan Sekarang
xi. HPHT : 21 Maret 2015
xii. Haid bulan sebelumnya : Februari
xiii. ANC : Teratur, frekuensi 8 kali
xiv. Imunisasi TT : 2 kali, di Bidan
Tabel 8. Imunisasi TT
TT 1 Langkah awal untuk mengembangkan Tgl. 11-07-2015 Paraf:
kekebalan tubuh terhadap infeksi.

TT 2 4 minggu setelah TT 1 untuk Tgl.10-08-2015 Paraf:


menyempurnakan kekebalan.

TT 3 6 Bulan atau lebih setelah TT 2 untuk Tgl. Paraf:


menguatkan kekebalan.

TT 4 1 tahun atau lebih setelah TT 3 untuk Tgl. Paraf:


menguatkan kekebalan.

TT 5 1 tahun atau lebih setelah TT 4 untuk Tgl. Paraf:


menguatkan kekebalan.

Sumber: Data Pengkajian, tahun 2015


xv. Keluham TM I : Mual, muntah.
TM II : Tidak ada keluhan.

29
30

TM III : Sering kencing, krputihan (normal), dan


kenceng-kenceng dipunggung.
xvi. Pergerakan janin dalam waktu 24 jam terakhir : > 10 kali.
xvii. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Tabel 9. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Hamil Penyulit/ Jenis Penyulit/ Penolo BB Jenis Nifas Penyulit/ Usia Keadaa
ke Komplikas Persalina Komplikas Lahi Komplikas Anak
ng Kelamin n Anak
i n i r i

1 Tidak ada Normal Tidak ada Bidan 2900 Perempu Norm Tidak ada 6 Baik
gra an al tahun
m

2 HAMIL SEKARANG

Sumber : Data Pengkajian, 2015.

xviii. Riwayat KB
Tabel 10. Riwayat KB
No Jenis Alkon Lama Keluhan Efek Tahun Alasan
Pakai Samping Lepas
.

1. KB Suntik 3 + 2 tahun Tidak ada Haid 2011 Ingin


Bulan tidak mempunyai
teratur anak

Sumber : Data Pengkajian, 2015.


xix. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Tabel 11. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Kebutuhan Selama Hamil Selama Persalinan Keluhan

Nutrisi :
c. Makan 3x/hari, nasi, sayur, Sedikit 1/2 porsi Tidak ada
lauk pauk, buah. keluhan
d. Minum Air putih
7-8 gelas/hari air putih
dan 1 gelas susu.

30
31

Eliminasi :
c. BAK + 5 kali x/hari kuning 1 kali Tidak ada
jernih. keluhan
d. BAB 1 kali
1 x/hari kuning
lembek.

Istirahat Tidur 7-8 jam + 30 menit Tidak ada

Sumber : Data Pengkajian, 2015.


xx. Data Psikologis dan Spiritual
Ibu mengatakan mau merawat bayinya dan mau menyusui bayinya
dan ibu rajin menjalankan ibadah.
xxi. Data Sosial Budaya
1) Hubungan dengan keluarga : Baik (Keluarga dan tetangga
banyak yang menjenguk Ibu)
2) Adat Istiadat :Tidak ada pantangan makan amis-amisan.
xxii. Lingkungan
Ibu mengatakan tidak memelihara hewan seperti : ayam, kucing,
sapi, dll.
xxiii. Pengetahuan Ibu tentang persalinan
Ibu mengatakan sudah mempersiapkan persalinan seperti peralatan
bayi, dan ibu sudah mengetahui tentang tanda-tanda persalinan dan
tanda bahaya persalinan.
2. DATA OBYEKTIF
a. Pemeriksaan Umum
i. Keadaan Umum : Baik
ii. Kesadaran : Composmentis
iii. Status emosional : Satabil
iv. BB : 55 kg (kenaikan BB 12 kg)
v. TB : 146 cm
vi. HPL : 26 Desember 2015
vii. Tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36.10C
viii. Status Present
1) Kepala
a) Rambut : Hitam, bersih, tidak rontok, dan kulit
kepala tidak ketombe.
31
32

Muka : Tidak ada oedema, tidak pucat.


b) Mata : Conjungtiva : Merah muda
Sklera : Tidak ikterik
c) Hidung : Bersih, tidak ada sekret.
d) Telinga : Tidak ada serumen, simetris.
e) Mulut : Bersih, gigi tidak caries, gusi tidak
berdarah.
2) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan
vena jugularis.
3) Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada.
4) Mammae : Simetris, tidak ada benjolan abnormal.
5) Ekstremitas :
Atas : Normal, gerak aktif.
Bawah : Normal, tidak ada varises, gerak aktif.
b. Pemeriksaan Obstetri
i. Inspeksi
1) Wajah/muka : Tidak ada cloasma gravidarum
2) Mammae : Puting : Menonjol
Pengeluaran : Kolostrum
3) Abdomen : Terdapat strie gravidarum, linea nigra,
membesar sesuai umur kehamilan.
4) Genetalia (vulva) : Tidak ada flour albus.
ii. Palpasi :
1) Palpasi Leopold :
Leopold I : TFU 2 jari bawah px, bagian atas janin teraba
lunak (bokong).
Leopold II : Kiri teraba datar memanjang keras seperti papan
(punggung), kanan teraba bagian terkecil janin
(ekstremitas)
Leopold III : Bagian bawah teraba bulat, keras, melenting
(kepala) dan tidak bisa digoyangkan.
Leopold IV : Bagian terbawah kepala sudah masuk panggul.

2) Mc. Donald : 28 cm
32
33

TBJ : (28-11) x 155 = 2.635 gram


3) Kontraksi Uterus (His)
Frekuensi : 3 x 10’ 25”
Sifat : Teratur
iii. Auskultasi
DJJ : Frekuensi 140 x/menit
Irama : Teratur
Puctum maximum : Terdengar dibawah pusat sebelah kiri
iv. Perkusi : Reflek Patella +
v. Periksa dalam :
Atas Indikasi : Pukul 09.00 WIB
1) Pembukaan : 6 cm
2) Effacement : 60 %
3) KK : Belum pecah (+)
4) Penurunan : 1/5
5) Presentasi : Kepala
6) POD : UUK jam 12
3. ANALISA
Diagnosa Kebidanana
Ny. S umur 35 tahun G2P1A0 umur kehamilan 39 minggu janin tunggal,
hidup, intra uterin, punggung kiri, letak kepala sudah masuk PAP, inpartu
kala 1 fase aktif normal.
Data dasar :
a. Data Subyektif :
i. Ibu mengatakan perutnya mules-mules semakin lama semakin
sering.
ii. Ibu mengatakan mules-mules, sejak tanggal 19 November 2015 jam
05.00 WIB.
iii. Ibu mengatakan sudah keluar lendir darah sejak tanggal 19
November 2015 jam 06.00 WIB.
iv. Ibu mengatakan gerak janin (24 jam) > 10 kali/hari, aktif
v. HPHT : 21 Maret 2015
b. Data Obyektif
i. TTV : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36.10C
ii. Inspeksi : KU : Baik
33
34

Kesadaran : Composmentis
iii. Palpasi :
Leopold I : TFU 2 jari bawah px, bagian atas janin teraba lunak
(bokong).
Leopold II : Kiri teraba datar memanjang keras seperti papan
(punggung), kanan teraba bagian terkecil janin
(ekstremitas)
Leopold III: Bagian bawah teraba bulat, keras, melenting (kepala)
dan tidak bisa digoyangkan.
Leopold IV: Bagian terbawah kepala sudah masuk panggul.
Mc. Donald: 28 cm
TBJ : (28-11) x 155 = 2.635 gram
iv. Auskultasi : DJJ +, 140 x/menit, teratur.
HIS : 3 x 10’ 25”, kuat.
v. VT : Pembukaan 6 cm, porsio lunak, KK +, penurunan
kepala 1/5, presentasi kepala.
Masalah :
Ibu mengatakan mengeluh punggung terasa nyeri dan perut kencang-
kencang.
4. PENATALAKSANAAN
09.10 WIB Memberitahu Ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa saat
ini sudah dalam persalinan.
DJJ +, 140 kali/menit, teratur, HIS : 3 x 10’ 25”, kuat.
VT : Pembukaan 6 cm, porsio lunak, KK +, penurunan kepala
1/5, presentasi kepala.
E : Ibu dan keluarga tahu dan mengerti keadaan ibu dan juga janinnya
09. 12 WIB Mengingatkan kembali teknik relaksasi pada saat ada kontraksi
dengan cara menarik nafas panjang lewat hidung dikeluarkan
lewat mulut bila ada kontraksi.
E : Ibu mengerti dan dapat melakukan teknik relaksasi

34
35

09.14 WIB Menganjurkan ibu untuk makan dan minum jika tidak ada
kontraksi agar ibu memmpunyai tenaga saat mengejan
E : Ibu mengerti dan mau makan dan minum saat tidak ada kontraksi
10.30 WIB 1) Menyiapkan Partus set : 2 buah klem penjepit tali pusat, 1
buah gunting episiotomi, 1 buah gunting tali pusat, 1
buah ½ kochker, 3-5 lembar kassa steril, 1 buah klem tali
pusat, 2 pasang sarung tangan.
2) Menyiapkan pakaian, handuk, selimut, dan kain untuk
bayi dalam konsdisi bersih dan hangat.
3) Menyiapkan timbangan, pita ukur, stetoskop,
thermometer dalam kondisi baik dan bersih
4) Menyiapkan oksitosin 10 unit dalam spuit kemudian
ditempatkan dalam bak instrument steril
5) Menyiapkan tempat dan alat resusitasi : Tempat datar,
rata, bersih kering dan hangat, handuk atau kain bersih
dan kering, alat penghisap lendir, lampu sorot 60 watt
dengan jarak 60 cm diatas tubuh bayi.
6) Menyiapkan alat dan obat bila terjadi kegawatdaruratan
pada ibu : Set infus
11.45 WIB 1) Menggunakan clemek, topi, kacamata, masker dan slop
2) Mencuci kedua tangan dalam air mengalir dan
mengeringkan
3) Memakai sarung tangan DTT pada tangan yang akan
digunakan untuk periksa dalam
4) Melakukan periksa dalam : hasil pembukaan lengkap.
5) Memberitahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah
lengkap.
6) Ambil spuit dengan tangan yang bersarung tangan, isi
dengan oksitosin 10 unit den letakkan kembali spuit
tersebut dipartus set
35
36

7) Memberitahu dan meminta keluarga untuk mendampingi


saat persalinan dan menyiapkan posisi ibu untuk
meneran
8) Memeriksa nadi, his, dan DJJ tiap 30 menit. Memeriksa
keadaan umum, memeriksa tekanan darah, pemeriksaan
dalam, suhu setiap 4 jam.
Tabel 12. Pemantauan kontraksi ibu bersalin
Tanggal Jam TD N S DJJ HIS Pembukaan

19-12- 09.00 120/80 80 36,50C 140 3 x 10’25” Ø 6 cm


2016

09.30 82 142 3 x 10’45”

10.00 82 140 3 x 10’45”

10.30 82 142 4 x 10’45”

11.00 80 142 4 x 10’45”

11.30 84 140 5 x 10’45”

12.00 84 140 5 x 10’40” Ø 10 cm

Sumber data observasi tahun 2015


E : Observasi sudah dilakukan.

Simo, 19 Desember 2015

(Eka Asvista salviana)

36
40

II. Tabel 13. KALA II


Tanggal Pengkajian : 19 Desember 2015
Jam Pengkajian : 12.13 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu 1. Ku : baik Ny.S umur 35 12.14 1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah
2. Kesadaran: composmentis
mengatakan tahun G2P1A0 lengkap, janin baik, ibu dalam proses persalinan, dan ibu
3. TTV
ingin meneran UK 39 minggu , disuruh untuk meneran.
TD : 120/70 mmHg
E : Ibu sudah siap untuk meneran.
seperti ingin janin tunggal,
N : 84x/menit 2. Melakukan Amniotomi
BAB hidup, intra 12.15 E : Amniotomi sudah dilakukan
RR : 24x/menit
2. Ibu 3. Menganjurkan ibu untuk meneran yang benar dan
0 uteri, punggung
S : 36,4 C
mengatakan memposisikan ibu dengan tangan memegang pada mata kaki,
kiri, letak 12.18
4. BB : 55 kg
merasakan ada mata membuka dan melihat keperut, gigi menggeget, bokong
kepala sudah
5. LILA: 24 cm
dorongan untuk tidak boleh diangkat karena akan menyebabkan robekan jalan
masuk PAP,
6. Inspeksi
mengeluarkan lahir hingga rectum.
inpartu kala II
Vulva dan anus membuka, E : Ibu mengerti cara meneran yang benar
janin
normal. 4. Menolong persalinan dengan menggunakan 58 langkah APN
perineum menonjol.
12.20 a. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kiri yg
VT : KK +, pembukaan
akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
lengkap, his kuat 5x10’45”
b. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai
penurunan kepal 0/5 hodge IV.
dorongan yang kuat untuk meneran.
c. Menganjurkan ibu untuk (miring kekiri) ambil posisi

40
41

nyaman, jika tidak ada kontraksi.


d. Meletakan jarik bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut
ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan
diameter 5 – 6 cm.
e. Meletakan under pad di bawah bokong ibu
f. Saat kepala janin terlihat di vulva dengan diamter 5-6 cm,
melakukan perasat stenen untuk melindungi perineum
dengan satu tangan, dibawah kain bersih dan kering, ibu
jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan pada
sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala
bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap
fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus
dan perineum).
g. Setelah kepala keluar menyeka mulut dan hidung bayi
dengan kasa steril kemudian memeriksa adanya lilitan tali
pusat pada leher janin
h. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran
paksi luar secara spontan.
i. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang
secara biparental. Menganjurkankepada ibu untuk

41
42

meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala


kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul
dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan
distal untuk melahirkan bahu belakang.
j. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum
ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah
bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan
memegang tangan dan siku sebelah atas.
k. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri
punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk
memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan
kiri diantara kedua lutut janin)
l. Melakukan penilaian selintas :
1) Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa
kesulitan?
2) Apakah bayi bergerak aktif ?
m. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan
bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa
membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.

42
43

n. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada


lagi bayi dalam uterus.
o. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar
uterus berkontraksi baik.
p. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin
10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal
lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
q. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan
klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali
pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada
2 cm distal dari klem pertama.Dengan satu tangan. Pegang
tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan
lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
Mengikat tali pusat dengan menggunakan klem tali pusat.
Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan
memasang topi di kepala bayi.
Evaluasi: Tali pusat sudah di potong dan di jepit dengan
12.31 menggunakan klem tali pusat.
5. Meletakkan bayi diatas perut ibu untuk dilakukan IMD ± 1
jam.

43
44

Evaluasi : IMD hanya berlangsung 10 menit.

Boyolali, 19 Desember 2015

(Eka Asvista Salviana)

44
45

III. Tabel 14. KALA III


Tanggal Pengkajian : 19 Desember 2015
Jam Pengkajian : 12.35 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu 1. Ku : baik Ny.S P2A0 umur 12.36 1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa bayi telah lahir menangis
2. Kesadaran: composmentis
mengatakan 35 tahun kuat
3. TTV
sangat senang manajemen 12.37 E : Ibu dan keluarga tahu bahwa bayi sudah lahir.
TD : 120/70 mmHg
karena aktif kala III. 2. Melakukan manajemen aktif kala III
N : 84x/menit
bayinya sudah a. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm
RR : 24x/menit
lahir sehat dan dari vulva
S : 36,3 0C
merasa b. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas
4. TFU setinggi pusat, kontraksi
perutnya simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali
uterus keras. Tali pusat bertambah
mules. pusat.
panjang, ada semburan darah tiba-
c. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan
tiba, kandung kemih kosong,
tangan kanan, sementara tangan kiri diletakkan di atas
plasenta belum lahir.
shimpisis dengan menekan kearah dorso kranial, ulangi terus
menerus sampai plasenta lahir. Jika plasenta tidak lahir
setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan

45
46

menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan


mengulangi prosedur.
d. Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga
plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong
menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian
kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan
tekanan dorso-kranial).
e. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan
plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan),
pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran
searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah
robeknya selaput ketuban.
f. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus
uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler
menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga
kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
g. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan
tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan
selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam
kantong plastik yang tersedia.

46
47

h. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.


Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
i. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
j. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di
dada ibu paling sedikit 1 jam.
k. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri
tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K 0,5 mg
intramaskuler di paha kiri anterolateral.
l. Setelah satu jam pemberian vitamin K berikan suntikan
imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
m. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
12.40 n. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan
menilai kontraksi.
o. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
E : Plasenta lahir spontan, Insertion : marginalis, jumlah
perdarahan + 150 cc, kandung kemih kosong, uterus keras.
3. Mengobservasi pelaksanaan IMD tanpa skin to skin
Evaluasi : Bayi masih berusaha mencari puting susu
Boyolali, 19 Desember 2015
47
48

(Eka Asvista Salviana)

48
49

IV. Tabel 15. KALA IV

Tanggal Pengkajian : 19 Desember 2015


Jam Pengkajian : 12.50 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu 1. Ku : baik Ny.S P2A0 12.50 1. Memberitahu ibu bahwa rasa mules yang dialami hal yang
2. Kesadaran: composmentis
mengatakan umur 35 tahun wajar karena kontraksi uterus baik dan proses pengembalian
3. TTV
perutnya mules inpartu kala IV uterus (involusio uteri)
TD : 120/80 mmHg
dan masih normal. E : Ibu sudah tahu penyebab rasa mules yang dirasakan ibu
N : 82x/menit
merasa lelah. adalah wajar.
RR : 24x/menit
2. Ibu
12.51 2. Membersihkan dan mengganti pakaian ibu dengan yang bersih
S : 36,3 0C
mengatakan
dan kering serta memastikan ibu merasa nyaman.
4. TFU 3 jari bawah pusat,
merasa senang
E : Ibu sudah dibersihkan dan diganti bajunya.
kontraksi uterus keras,
atas kelahiran
12.53 3. Melakukan pemantauan kala IV
pengeluaran pervaginam
bayinya.
a. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15
normal 150 cc, terdapat
menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30
laserasi derajat satu sampai
menit selama jam kedua pasca persalinan (tabel pemantauan
kulit perineum.
kala IV terlampir).
b. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi
bernafas dengan baik.

49
50

c. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan


klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas
peralatan setelah di dekontaminasi.
d. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah
yang sesuai.
e. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT.
Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu
ibu memakai pakaian bersih dan kering.
f. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk
membantu apabila ibu ingin minum.
g. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
h. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%
melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
i. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
j. Melengkapi partograf (partograf terlampir)
E : 58 langkah APN sudah dilakukan dan bayi lahir spontan,jenis
kelamin laki-laki, BB:2500gram, PB :46 cm.
Boyolali, 19 Desember 2015

(Eka Asvista Salviana)


50
47

C. ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR


Tanggal Pengkajian : 19 Desember 2015
Jam Pengkajian : 12.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah
1. DATA SUBYEKTIF (ANAMNESA)
b. Identitas/biodata
i. Nama Bayi : By. A
ii. Jenis kelamin : Laki-laki
iii. Nama Ibu : Ny. S Nama Suami :Tn. J
iv. Umur : 35 tahun :35 tahun
v. Pendidikan : SD :SMP
vi. Pekerjaan : Karyawan swasta :Karyawan Swasta
vii. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia :Jawa/Indonesia
viii. Agama : Islam :Islam
ix. Alamat : Ngadirejo RT 16, RW 03, Sumber, Simo, Boyolali.
c. Riwayat Penyakit Kehamilan
Ibu mengatakan selama hamil tidak pernah menderita penyakit TBC,
Jantung, Asma, Hipertensi, DM dan anemia.
d. Riwayat Persalinan
i. Tanggal/Jam Persalinan : 19 Desember 2015 / 12:30 WIB
ii. Jenis Persalinan : Spontan normal
iii. Lama Persalinan :
Kala I : 7 jam
Kala II : 30 menit
Kala III : 10 menit
Kala IV : 2 jam
Total : 9 jam 40 menit
iv. Penolong Persalinan : Bidan
v. Penyulit Persalinan : Tidak ada
vi. Bonding Attachment : IMD
2. DATA OBYEKTIF
a. Pemeriksaan Umum
i. Keadaan umum : Baik
ii. Tanda Vital :
Denyut jantung : 140 x/menit
RR : 42 x/menit
S : 37,40C
Gerakan aktif, kulit kemerahan, menamgis kuat.
Apgar Score (AS) : Warna kulit (1)

Frekuensi jantung (2)


Reaksi terhadap rangsangan (2)
Tonus otot (2)
47
48

Usaha nafas (2)


Jumlah (9)
iii. Reflek morro : Ada, kuat
b. Pemeriksaan Fisik
i. Kepala : Baik, tidak ada chepathematom, tidak ada caput
succesdanum, rambut tebal, kulit tipis, bersih.
ii. Muka : Simetris, merah, tidak oedema, tidak pucat.
iii. Mata : Simetris, normal, tidak berwarna kuning, reflek
berkedip baik.
iv. Hidung : Lubang hidung simetris, bersih, tidak terdapat cuping
hidung.
v. Mulut : Bersih, tidak sumbing, reflek menghisap dan reflek
mencari puting susu baik.
vi. Leher : Baik, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
maupun limfe, reflek knecking baik
vii. Dada : Simetris kanan dan kiri, tidak ada retraksi dinding
dada
viii. Perut : Tidak ada perdarahan, tali pusat masih, tidak terdapat
benjolan
ix. Tangan : Simetris, tidak ada fraktur, jari-jari lengkap, reflek
menggenggam dan reflek kaget baik
x. Punggung : Baik, berbentuk lurus dan tidak terdapat benjolan
xi. Genetalia : Laki-laki, testis sudah turun ke skrotum, bersih
xii. Anus : Berlubang, mekonium sudah keluar
3. ANALISA
a. Diagnosa kebidanan
Bayi baru lahir Ny. S, jenis kelamin laki-laki, lahir spontan normal.
Data dasar :
DS : Ny. S G2P1A0 umur 35 tahun mengatakan ini anak yang kedua

48
49

DO : Keadaan umum : Baik


Tanda vital : Denyut jantung : 140 x/menit, RR : 42 x/menit, S
: 37,40C, Gerakan aktif, kulit kemerahan,
menangis kuat.
4. PENATALAKSANAAN
12.35 WIB Beritahu ibu dan keluarga tentang kondisi bayinya
Keadaan umum : Baik
Tanda vital : Denyut jantung : 140 x/menit, RR : 142 x/menit, S :
37,40C, Gerakan aktif, kulit kemerahan, menangis kuat.
E : Ibu mengerti dan merasa senang
12.37 WIB Menjaga kehangatan tubuh bayi dengan cara ditaruh diatas perut
ibu dan diselimuti
E : Bayi tetap hangat
12.39 WIB Menilai Apgar score menit ke 5
Warna kulit (2)

Frekuensi jantung (2)


Reaksi terhadap rangsangan (2)
Tonus otot (2)
Usaha nafas (2)
E : Apgar score menit ke 5 sudah dinilai yaitu (10)
12.45 WIB Menilai Apgar score menit ke 10
Warna kulit (2)

Frekuensi jantung (2)


Reaksi terhadap rangsangan (2)
Tonus otot (2)
Usaha nafas (2)
E : Apgar score menit ke 10 sudah dinilai yaitu (10)
12.47 WIB Evaluasi penatalaksanaan IMD
E : IMD skin to skin hanya dilakukan 10 menit
12.49 WIB Melakukan pemeriksaan antropometri
BB : 2500 gram Lingkar Dada : 34 cm
PB : 46 cm Lingkar Kepala : 32 cm
E : Pemeriksaan antropometri sudah dilakukan
13.30 WIB Melakukan pemberian injeksi Vit K dan salep mata. Vit K untuk
pencegahan perdarahan pada bayi baru lahir. Salep mata untuk
pencegahan infeksi pada mata.
E : Vit K dan salep mata sudah diberikan

49
50

13.33 WIB Memakaikan baju kepada bayi


E : Bayi sudah dipakaikan baju
13.35 WIB Membantu ibu untuk menyusui bayinya kembali
E : Ibu sudah menyusui bayinya kembali
14.30 WIB Melakukan pemberian injeksi HB0
E : HB0 sudah diberikan
14.33 WIB Membantu ibu untuk menyusui bayinya kembali
E : Ibu sudah menysui bayinya kembali
14.35 WIB Melakukan rawat gabung sampai dengan boleh pulang dan
melakukan observasi
E : Bayi sudah dirawat gabung dengan ibu dan 4 jam lagi (18.30 WIB) ibu
dan bayi boleh pulang. Observasi sudah dilakukan, bayi dalam keadaan
sehat, denyut jantung : 140 x/menit, RR : 42 x/menit, S : 37,4 0C, gerakan
aktif, kulit kemerahan, menamgis kuat.
Simo, 19 Desember 2015

(Eka Asvista salviana)

50
53

D. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS


III. KUNJUNGAN I (6 JAM POST PARTUM)
Tanggal Pengkajian : 19 Desember 2015
Jam Pengkajian : 18.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah
1. DATA SUBYEKTIF (ANAMNESA)
a. Identitas/biodata
i. Nama Ibu : Ny. S Nama Suami :Tn. J
ii. Umur : 35 tahun :35 tahun
iii. Pendidikan : SD :SMP
iv. Pekerjaan : Karyawan swasta :Karyawan Swasta
v. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia :Jawa/Indonesia
vi. Agama : Islam :Islam
vii. Alamat : Ngadirejo RT 16, RW 03, Sumber, Simo, Boyolali.
b. Alasan datang : Ibu mengatakan baru melahirkan anaknya 6 jam yang
lalu.
c. Keluhan utama : Ibu mengatakan perutnya masih mulas dan masih
mengeluarkan darah dari jalan lahir.
d. Rawat gabung : Ya
e. Riwayat Menstruasi
i. Menarche : 13 tahun Siklus : 28 hari
ii. Lama : 7 hari Jumlah : 3 kali ganti pembalut/hari
iii. Warna : Merah Keluhan : Tidak ada
f. Riwayat Perkawinan
i. Umur waktu nikah : 27 tahun
ii. Lama : 8 tahun
iii. Perkawinan ke : 1 (satu)
iv. Jumlah anak : 1 (satu)
g. Riwayat Kesehatan
i. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit kanker, hati,
ginjal, hamil kembar, epilepsy, kelainan bawaan, TBC, dll.
ii. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak memiliki penyakit kanker, hati, ginjal, hamil
kembar, epilepsy,kelainan bawaan, TBC, dll.
iii. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dikeluarga tidak memiliki penyakit kanker, hati,
ginjal, hamil kembar, epilepsy, kelainan bawaan, TBC, dll.
h. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Tabel 16. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu

53
54

Hamil Penyulit/ Jenis Penyulit/ Penolo BB Jenis Nifas Penyulit/ Usia Keadaa
ke Komplikas Persalina Komplikas Lahi Komplikas Anak
ng Kelamin n Anak
i n i r i
1 Tidak ada Normal Tidak ada Bidan 2900 Perempu Norm Tidak ada 6 Baik
gra an al tahun
m
2 Tidak ada Normal Tidak ada Bidan 2500 Laki-laki Skrng - 6 jam Baik
gra
m
Sumber : Data Pengkajian, 2015.

i. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari


Tabel 17. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Kebutuhan Selama Nifas Keluhan

Nutrisi :
e. Makan 1 kali, nasi, sayur, lauk Tidak ada
pauk. keluhan
f. Minum
2 gelas air putih.

Eliminasi :
e. BAK 1 kali kuning jernih. Tidak ada
keluhan
f. BAB 1 kali kuning lembek.

Istirahat 1 jam Tidak ada

Aktifitas Tidur, menyusui Tidak ada

Hygiene Ibu mengatakan selama Tidak ada


nifas 6 jam ini belum
mandi

54
55

Sumber : Data Pengkajian, 2015.


j. Data Psikologis dan Spiritual
i. Tanggapan ibu atas kelahiran bayinya : Ibu sangat senang dengan
kelahiran bayinya, ibu mau menggendong dan menyusui bayinya.
ii. Tanggapan keluarga atas kelahiran bayinya : Keluarga merasa
senang dengan kelahiran bayi, keluarga ikut merawat bayinya.
iii. Riwayat spiriyual ibu : Setelah bayi lahir, ibu meminta suaminya
untuk mengumandangkan adzan ditelinga bayinya dan ibu
beristigfar untuk menahan rasa nyeri setelah lahir.

k. Data Sosia Budaya


i. Hubungan dengan keluarga : Hubungan ibu dengan
keluarga baik dan harmonis
ii. Hubungan dengan tetangga : Hubungan ibu dengan
tetangga baik dan saling
menghormati
iii. Adat istiadat terhadap masa nifas : Tidak ada pantangan makan,
percaya dengan adat setempat
misalnya sepasaran.
l. Pengetahuan Ibu :
i. Tentang masa nifas : Ibu sudah mengetahui tentng apa
itu nifas yang baru dijalani saat ini
ii. Tentang manfaat ASI : Ibu sudah mengetahui manfaat ASI
untuk bayinya
iii. Tentang makanan bayi : Ibu mengetahui tentang makanan
bayi, bahwa bayinya sampai nanti
umur 6 bulan hanya boleh diberi
ASI saja
iv. Tentang rencana menyusui : Ibu berencana akan menyusui
bayinya sampai umur 6 bulan
penuh
Tentang perawatan payudara : Ibu sudah mengetahui cara
perawatan payudara yang benar

55
56

Tentang perawatan bayi : Ibu sudah mengetahui cara


perawatan bayi, karena ini adalah
anak kedua jadi ibu tahu cara
perawatan bayi yang benar.
2. DATA OBYEKTIF
a. Pemeriksaan Umum
i. Keadaan Umum : Baik
ii. Kesadaran : Composmentis
iii. Status emosional : Satabil
iv. Tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36.30C
v. Status Present
1) Kepala
a) Rambut : Hitam, bersih, tidak rontok, dan kulit
kepala tidak ketombe.
Muka : Tidak ada oedema, tidak pucat.
b) Mata : Conjungtiva : Merah muda
Sklera : Tidak ikterik
c) Hidung : Bersih, tidak ada sekret.
d) Telinga : Tidak ada serumen, simetris.
e) Mulut : Bersih, gigi tidak caries, gusi tidak
berdarah.
2) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan
vena jugularis.
3) Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada.
4) Mammae : Simetris, tidak ada benjolan abnormal.
5) Perut : Tidak ada bekas operasi
6) Genetalia : Tidak ada varises, tidak oedema
7) Ekstremitas :
Atas : Normal, gerak aktif.
Bawah : Normal, tidak ada varises, gerak aktif.
b. Pemeriksaan Obstetri
i. Inspeksi
1) Wajah/muka : Tidak ada cloasma gravidarum
2) Mammae : Puting : Menonjol
56
57

Aerola : Menghitam
Pengeluaran : ASI Colostrum
Pembengkakan : Tidak ada
3) Abdomen :
TFU : 3 jari di bawah pusat
Kontraksi uterus : Keras
Kandung kemih : Kosong

4) Pengeluaran Pervaginam
Warna Lochea : Merah
Kontraksi uterus : Keras
Banyaknya ganti pembalut : 1 kali
Bau : Khas Lochea
5) Perineum dan anus
Luka episiotomi jahitan : Derajat 1 (kulit perineum)
Keadaan luka : Masih basah
Tanda radang : Tidak ada
Anus : Tidak ada luka
6) Pemeriksaan Laboratorium
Protein Urine : - (Negative)
Urine Reduksi : - (Negative)
HB : 10 gram%
7) Obat-obatan dan tindakan yang sudah didapat
Amoxcilin 3 x 1 / hari
Asam mefenamat 3 x 1 / hari
Vitamin A 200.000 IU
Tablet FE 2 x 1 / hari
3. ANALISA
a. Diagnosa Kebidanan
Ny. S umur 35 tahun P2A0 Post Partum 6 jam normal.

57
58

Data dasar :
DS : 1) Ibu telah melahirkan 6 jam yang lalu anak ke dua
2) Ibu mengatakan perutnya mules
DO : KU : Baik
Kesadaran : Composmentis
TTV : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36.30C
Palpasi : TFU 3 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik,
kandung kemih kosong.
Inspeksi : Ada luka perineum derajat 1
b. Masalah
Nyeri perut
4. PENATALAKSANAAN
18.35 WIB Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dan bayi
dalam kondisi sehat
E : Ibu mengerti dan merasa senang
18.37 WIB Memberitahu ibu penyebab rasa mulas pada rahim adalah
normal karena disebabkan oleh kontraksi uterus yang
meningkat setelah bayi keluar
E : Ibu sudah mengerti penyebab rasa mules yang ibu alami adalah normal.
18.39 WIB Menganjurkan pada ibu untuk tetap menjaga kebersihan diri
khususnya di daerah kemaluan agar tidak terjadi infeks,
dengan cara:
1) Ganti pembalut minimal 2 kali sehari
2) Cebok dengan cara yaitu membersikan daerah kemaluan
baru kemudian membersihkan daerah anus.
3) Selalu mengeringkan genalia setelah buang air kecil dan
besar
4) Melakukan perawatan luka jahitan
E : Ibu akan menjaga kebersihan dirinya
18.42 WIB Mengajari ibu mobilisasi dengan cara miring dulu sebelum
duduk, kemudian duduk sebentar sebelum berdiri.
E : Ibu sudah bisa duduk dan berdiri

58
59

18.39 WIB Memberikan penjelasan tentang tanda-tanda bahaya nifas


yaitu mudah lelah atau sulit tidur, demam, nyeri atau terasa
panas saat BAK, sembelit/haemorroid, sakit kepala hebat,
bengkak pada muka, tangan dan kaki, nyeri perut, cairan
vagina berbau busuk, payudara sangat sakit saat disentuh,
bengkak, puting susu pecah-pecah
E : Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan
18.42 WIB Mengajarkan ibu teknik menyusui yaitu posisi kepala bayi
berada disiku ibu dan bokong bayi disanggah oleh tangan ibu
dengan posisi badan bayi lurus, seluruh aerola masuk kedalam
mulut bayi, menganjurkan ibu untuk selalu menyusui bayinya
setiap saat jika bayi menginginkan serta memberikan ASI
eksklusif yaitu memberikan ASI selam 6 bulan tanpa makanan
tambahan apapun.
E : Ibu mengerti dan dapat mempraktikan teknik menyusui yang benar
18.45 WIB Menganjurkan ibu untuk makan yang bergizi agar ASI lancar
E : Ibu bersedia untuk makan-makanan yang bergizi
18.47 WIB Ibu sudah diperbolehkan untuk pulang
E : Ibu merasa senang sudah diperbolehkan pulang
18.49 WIB Menganjurkan ibu untuk kunjungan 5 hari kemudian yaitu
pada tanggal 25 Desember 2015.
E : Ibu menyanggupinya dan akan datang pada tanggal 25 Desember 2015.

Simo, 19 Desember 2015

(Eka Asvista salviana)

59
63

II. Tabel 18. KUNJUNGAN II (6 HARI POST PARTUM)


Tanggal Pengkajian : 25 Desember 2015
Jam Pengkajian : 09.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu 6. Ku : baik Ny.S umur 35 09.31 1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan
7. Kesadaran: composmentis Tanda Vital
mengatakan tahun P2A0 post
8. TTV TD : 110/70 mmHg
telah partum 6 hari Nadi : 82 x/menit
TD : 110/70 mmHg
RR : 24 x/menit
melahirkan 6 normal.
N : 82x/menit Suhu : 36,3˚C
hari yang lalu. E : Ibu sudah tahu tentang hasil pemeriksaannya.
RR : 24x/menit
2. Mengingatkan kembali tanda bahaya nifas
S : 36,3 0C a. Perdarahan lewat jalan lahir
09.33 b. Keluar cairan berbau dari jalan lahir
9. Status obstetri
c. Demam
a. Palpasi :
d. Bengkak dimuka, tangan atau kaki disertai sakit kepala dan
TFU pertengahan pusat dan
atau kejang
simpisis, kontraksi uterus
e. Nyeri atau panas daerah tungkai
baik, kandung kemih f. Payudara bengkak, berwarna kemerahan, dan skait.
g. Puting lecet
kosong, perdarahan normal.
h. Ibu mengalami depresi (antara lain menangis tanpa sebab
b. Inspeksi :
Lochea serosa dan tidak peduli pada bayinya).
E : Ibu sudah tahu tentang tanda bahaya masa nifas.
3. Mengingatkan ibu kembali untuk mengkonsumsi makanan
yang bergizi agar ASI lancar

63
64

E : Ibu sudah makan-makanan yang bergizi

4. Memastiakan ibu tetap memberikan ASI kepada bayinya dan


memastikan tidak ada penyulit dalam proses menyusui
09.35 E : Sudah dipastikan tidak ada penyulit dalam proses menyusui
5. Melakukan kunjungan ulang 2 minggu kemudian yaitu pada
tanggal 8 Januari 2016.
E : Ibu bersedia untuk dikunjungi lagi yaitu pada tanggal 8
Januari 2016.
09.37

09.39
Boyolali, 25 Desember 2015

(Eka Asvista Salviana)

64
65

III. Tabel 19. KUNJUNGAN III (2 MINGGU POST PARTUM)


Tanggal Pengkajian : 8 Januari 2016
Jam Pengkajian : 10.00 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu 1. Ku : baik Ny.S umur 35 10.01 10. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan
2. Kesadaran: composmentis Tanda Vital
mengatakan tahun P2A0 post
3. TTV TD : 110/70 mmHg
telah partum 2 Nadi : 84 x/menit
TD : 110/70 mmHg
RR : 24 x/menit
melahirkan 2 minggu normal.
N : 84x/menit Suhu : 36,4˚C
minggu yang E : Ibu sudah tahu tentang hasil pemeriksaannya.
RR : 24x/menit
11. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan banyak minum
lalu.
S : 36,4 0C
2. Ibu supaya ASI keluar banyak.
4. Status obstetri E : Ibu bersedia untuk istirahat cukup.
mengatakan
a. Palpasi : 10.03 12. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan alat kelamin
tidak ada TFU tidak teraba, kontraksi
dan mengganti pembalut sesering mungkin.
keluhan. uterus baik, kandung kemih E : Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan alat kelamin.
13. Memastikan ibu kembali, bahwa tetap memberikan ASI
kosong, perdarahan normal.
10.05
b. Inspeksi : kepada bayinya dan memastikan tidak ada penyulit dalam
Flek-flek (lochea alba).
proses menyusui
E : Sudah dipastikan tidak ada penyulit dalam proses menyusui
14. Melakukan kunjungan ulang 6 minggu kemudian yaitu pada
10.07

65
66

tanggal 30 Januari 2016.


E : Ibu bersedia untuk dikunjungi lagi yaitu pada tanggal 30
10.09 Januari 2016.

Boyolali, 8 Januari 2016

(Eka Asvista Salviana)

66
67

IV. Tabel 20. KUNJUNGAN IV (6 MINGGU POST PARTUM)


Tanggal Pengkajian : 30 Januari 2016
Jam Pengkajian : 10.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu 1. Ku : baik Ny.S umur 35 10.31 1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan
2. Kesadaran: composmentis Tanda Vital
mengatakan tahun P2A0 post
3. TTV TD : 110/70 mmHg
telah partum 6 Nadi : 84 x/menit
TD : 110/70 mmHg
RR : 24 x/menit
melahirkan 6 minggu normal.
N : 84x/menit Suhu : 36,2˚C
minggu yang E : Ibu sudah tahu tentang hasil pemeriksaannya.
RR : 24x/menit
2. Mengingatkan ibu kembali tentang macam-macam KB dan
lalu.
S : 36,2 0C
2. Ibu keuntungan meliputi :
4. Status Present a. IUD
mengatakan
a. Inspeksi : 10.32 Keutungan :
tidak ada Muka : Tidak pucat/tidak i. Efektifitas tinggi
ii. Akan segera efektif begitu dipasang dirahim
keluhan. oedema.
iii. Tidak mempengaruhi ASI
Mammae : ASI lancar
iv. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
Abdomen: Mengecil sesuai
v. Dapat dipasang segera setelah melahirkan
masa nifas. b. Pil Progestin
b. Palpasi : Keuntungan :
TFU : Tidak teraba i. Sangat efektif bila digunakan dengan benar
ii. Tidak mempengaruhi hubungan seksual

67
68

Loche : Sudah tidak keluar. iii. Kesuburan akan segera kembali jika dihentikan
iv. Dapat dihentikan setiap saat
c. Suntik Progestin
Keuntungan :
i. Sangat efektif
ii. Pencegahan kehamilan jangka panjang
iii. Tidak mempengaruhi ASI
iv. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
v. Menurunkan penyakit kanker jinak payudara
E : Ibu mengerti dan akan memilih menggunakan KB suntik.
Boyolali, 30 Januari 2016

(Eka Asvista Salviana)

68
69

E. ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI/NEONATUS


I. KUNJUNGAN I (6 JAM)
Tanggal Pengkajian : 19 Desember 2015
Jam Pengkajian : 18.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah
1. DATA SUBYEKTIF (ANAMNESA)
a. Identitas/biodata
i. Nama Bayi : By. A
ii. Jenis kelamin : Laki-laki
iii. Nama Ibu : Ny. S Nama Suami :Tn. J
iv. Umur : 35 tahun :35 tahun
v. Pendidikan : SD :SMP
vi. Pekerjaan : Karyawan swasta :Karyawan Swasta
vii. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia :Jawa/Indonesia
viii. Agama : Islam :Islam
vii. Alamat : Ngadirejo RT 16, RW 03, Sumber, Simo, Boyolali.
b. Alasan datang
Ibu mengatakan melahirkan bayinya pada tanggal 19 Desember 2015
jam 12.30 WIB
c. Keluhan utama
Tidak ada

d. Riwayat kehamilan
Ini merupakan kehamilan yang kedua dan kehamilan pertama berjalan
normal, usia anak pertama 6 tahun.
e. Riwayat Persalinan
i. Tanggal/jam Persalinan : 19 Desember 2015 / 12.30 WIB
ii. Jenis Persalinan : Normal
iii. Lama Persalinan : + 9 jam 40 menit (kala I – IV)
iv. Penolong Persalinan : Bidan
v. Penyulit Persalinan : Tidak ada
vi. Bonding Attachment : IMD
vii. Berat waktu lahir : 2500 gram
f. Riwayat Kesehatan
i. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Penyakit yang lalu
Ibu mengatakan tidak memiliki penyakit kanker, hati, ginjal,
hamil kembar, epilepsy, kelainan bawaan, TBC, dll.
2) Riwayat Perawatan
Pernah dirawat di : -
Penyakit :-
69
70

3) Riwayat Operasi
Pernah operasi di :-
Penyakit :-

ii. Riwayat Kessehatan Keluarga


Ibu mengatakan dikeluarganya tidak memiliki penyakit kanker, hati,
ginjal, hamil kembar, epilepsy, kelainan bawaan, TBC, dll.
g. Riwayat Imunisasi
Tabel 21. Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi Waktu Pemberian
BCG
DPT
Hep B 19-12-2015
Polio
Campak
Sumber : Data Pengkajian, 2015.
h. Riwayat tumbuh kembang
m. BB sebelumnya : 2500 gram
ii. Perkembangan : 2500 gram
i. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Tabel 22. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Kebutuhan Keluhan
Nutrisi : Tidak ada
Makan Hanya diberi ASI saja
Minum
Eliminasi : Tidak ada
BAK Baru 2 kali
BAB Baru 1 kali
Istirahat + 3 jam Tidak ada
Aktifitas Tidur, menangis, menyusu Tidak ada
Hygiene Saat ini belum mandi, ganti celana tiap Tidak ada
BAK atau BAB
Sumber : Data Pengkajian, 2015.
j. Data Sosial Budaya :
i. Pandangan keluarga terhadap kesehatan
Ibu mengatakan keluarganya sangat memperhatikan dan
mementingkan kesehatan.
ii. Keadaan Lingkungan
Ibu mengatakan lingkungannya bersih
iii. Anak diasuh oleh
70
71

Ibu mengatakan anaknya diasuh oleh ibu sendiri, nenek dan suami.
2. DATA OBYEKTIF
a. Pemeriksaan Umum
i. Keadaan umum : Baik
ii. Kesadaran : Composmentis
iii. Tanda Vital :
Nadi : 130 x/menit
RR : 40 x/menit
S : 36,50C
iv. BB/PB : 2500 gram / 46 cm
v. LD/LK : 34 cm / 32 cm
b. Pemeriksaan Fisik Khusus
i. Kepala : Macocepal, chepalhematom tidak ada, tidak ada caput
succesdanum.
ii. Muka : Simetris, merah, tidak oedema, tidak pucat.
iii. Ubun-ubun : Lembek, tidak ada molase cembung, tidak cekung
iv. Mata : Simetris, tidak ada perdarahan, sklera putih, dan
konjungtiva merah muda.
v. Telinga : Normal, simetris.
vi. Mulut : Tidak ada labio palatoskiziss
vii. Hidung : Bersih, tidak ada pernafasan cuping hidung
viii. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
ix. Dada : Simetris
Dinding thoraks : Tidak ada retraksi dada
Nafas : Teratur, tidak ada bunyi wezing
x. Abdomen :
Dinding abdomen/turgor : Turgor baik
Kandung kemih : Kosong
xi. Ekstremitas:
Tangan : Aktif, tidak pucat atau kebiruan
Kaki : Aktif, tidak pucat atau kebiruan
xii. Tulang punggung : Baik, tidak terdapat benjolan
xiii. Alat genetalia : Laki-laki, testis sudah turunke skrotum
xiv. Anus : Berlubang, mekonium sudah keluar
c. Pemeriksaan Reflek :
i.R. Morro :+
ii. R. Babynsky :+
iii. R. Rooting :+
iv. R. Walking :+
v. R. Graps :+
vi. R. Sucking :+
vii. R. Tonik Neck :+
d. Pemeriksaan Laboratorium
Tidak dilakukan pemeriksaan
71
72

3. ANALISA
a. Diagnosa kebidanan
Neonatus Ny. S umur 6 jam normal.
Data Dasar :
DS : Ibu mengatakan ini anak kedua dan berumur 6 jam.
DO : Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital : Nadi : 130 x/menit
RR : 40 x/menit
S : 36,50C
b. Masalah
Tidak ada
4. PENATALAKSANAAN
18.35 WIB Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu bahwa bayinya dalam
keadaan sehat dan normal dengan hasil pemeriksaan :
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital : Nadi : 130 x/menit
RR : 40 x/menit
S : 36,50C
BB/PB : 2500 gram / 46 cm
E : Ibu senang hasil pemeriksaan bayinya dalam kondisi normal dan sehat.
18.37 WIB Memberitahu kepada ibu tentang cara pencegahan infeksi, yaitu :
1) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
atau ketika akan menyentuh bayi.
2) Memakai masker apabila sedang flu dan batuk
E : Ibu mengerti tentang cara pencegahan infeksi.
18.39 WIB Memberitahu ibu bagaimana cara menjaga kehangatan bayinya,
yaitu :
1) Tunda memandikan bayi sekurang-kurangnya 6 jam setelah
kelahiran
2) Keringkan bayi sampai benar-benar bersih dan kering
3) Pakaikan baju, celana, sarung tangan, sarung kaki, dan
bungkus bayi dengan selimut atau kain kering serta pakaikan
topi.
4) Tempatkan bayi diruangan yang hangat dan bersih
5) Ganti pakaian dan selimut apabila lembab dan bersih
E : Ibu sudah tahu cara menjaga kehangatan bayinya.
72
73

18.42 WIB Memberitahu ibu bagaimana cara merawat tali pusat bayi, yaitu :
1) Mengganti kassa pembalut tali pusat bayi setelah mandi atau
apabila bersih dengan kassa baru yang lebih bersih dan
kering.
2) Jangan memberikan atau membubuhkan sesuatu apapun,
baik itu obat maupun ramuan tradisional pada tali pusat yang
masih basah.
3) Jaga tali pusat agar tetap dalam keadaan bersih dan kering
E : Ibu sudah tahu cara perawatan tali pusat
18.43 WIB Memberitahukan kepada ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
bayinya, yaitu dengan cara :
1) Memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan tanpa pemberian
makanan pendamping atau pengganti
2) Memberikan ASI sedini mungkin setelah bayi lahir karena
ASI yang pertama keluar mengandung colostrum yang
sangat penting untuk daya tahan tubuh bayi.
3) Menyusui bayi setiap kali bayi menangis, tampak gelisah
atau saat payudara terasa penuh dan tidak nyaman
E : Ibu akan berusaha memberikan ASI Eksklusif pada bayinya
18.46 WIB Bayi sudah diperbolehkan untuk pulang
E : Ibu merasa senang bayinya sudah diperbolehkan pulang
18.48 WIB Memberitahu pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang satu
bulan kemudian untuk penimbangan bayi, imunisasi BCG dan
Polio 1 tanggal 19 Januari 2015 atau bila ada keluhan.
E : Ibu bersedia untuk kunjungan ulang satu bulan lagi atau bila ada keluhan.
Simo, 19 Desember 2015

(Eka Asvista salviana)

73
77

II. Tabel 22. KUNJUNGAN II (NEONATUS 6 HARI)


Tanggal Pengkajian : 25 Desember 2015
Jam Pengkajian : 09.30 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


1. Ibu mengatakan 1. Ku : baik Bayi A umur 6 09.31 5. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa bayinya
2. TTV
bayinya umur 6 hari dengan dalam kondisi normal
N : 128x/menit E : Ibu mengetahui bahwa bayinya dalam kondisi normal.
hari, tanggal tumbuh
6. Memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang cukup.
RR : 40x/menit
lahir 19 kembang 09.33 E : Bayi menyusu secara on demand, bayi tidak rewel dan
S : 36,2 0C
Desember 2015. normal. tidur nyenyak.
2. Ibu mengatakan Kulit : Kemerahan 7. Memberitahu kepada ibu bagaimana cara menjaga personal
aktifitas bayi BB : 2500 gram hygiene bayi, yaitu :
09.35
a. Mandikan bayi 2 hari sekali dengan air hangat yang
aktif, tidak PB : 47 cm
bersih dan gunakan sabun serta shampo
lemah, Inspeksi :
b. Ganti popok bayi apabila sudah basah dengan popok
menangis Tali pusat belum kering
baru yang lebih bersih dan kering.
seperti biasa, dan belum lepas c. Ganti pakaian bayi setelah mandi atau apabila terasa
reflek-reflek lembab dan basah
d. Bersihkan pantat dan alat kelamin bayi setelah bayi BAK
normal, gerakan
atau BAB
banyak.
E : Ibu mengerti dan akan selalu menjaga kebersihan
3. Eliminasi
a. BAB : 2 kali bayinya
8. Memberitahu ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir yaitu
sehari, cair,

77
78

warna kuning 09.38 bila di jumpai tanda-tanda :


b. BAK : 6-8 a. Kejang
b. Sesak nafas
kali/hari, warna
c. Bayi merintih
kuning, lancar, E : Ibu mengetahui dan bisa mengulang penjelasan yang
normal diberikan, dan bisa menyebut tanda bahaya baru lahir seperti
c. Istirahat : Bayi
kejang, sesak nafas, bayi merintih.
tidur dalam 9. Mengingatkan kembali pada ibu dan keluarga tentang, cara
sehari + 13 jam mempertahankan kehangatan bayi dengan mengganti popok
d. Personal hygiene
yang basah dan memakaikan yang kering
: Bayi mandi 2 09.40 E : Ibu memahami dengan selalu mengganti popok yang
kali sehari, ganti basah dengan yang kering
10. Mengingatkan kembali tentang perawatan tali pusat yaitu
baju dan ganti
dengan cara menutup menggunakan kassa kering setelah
popok apabila
bayi mandi atau dirasa lembab, tidak diperbolehkan
basah. Merawat 09.42
menggunakan kassa betadin atau menggunakan ramuan-
tali pusat 2 kali
ramuan yang ditempelkan pada tali pusat bayi.
sehari
E : Ibu mengerti cara perawatan tali pusat.
e. Ibu mengatakan
11. Melakukan kunjungan ulang pada tanggal 8 Januari 2016.
tidak ada
E : Ibu bersedia dikunjungi.
keluhan dengan
bayinya
09.44
4. Bayi diasuh
bersama suami

78
79

Boyolali, 25 Desember 2015

(Eka Asvista Salviana)

79
79

III. Tabel 23. KUNJUNGAN III (NEONATUS 14 HARI)


Tanggal Pengkajian : 8 Januari 2016
Jam Pengkajian : 10.00 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah

Data Subjektif Data Objektif Analisa Jam Penatalaksanaan


12. Ibu mengatakan 3. Ku : baik Bayi A umur 14 10.01 18. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa bayinya
4. TTV
anaknya sudah hari dengan dalam kondisi normal
N : 128x/menit E : Ibu mengetahui bahwa bayinya dalam kondisi normal.
berumur 14 hari. tumbuh
19. Menganjurkan pada ibu untuk tetap menyusui bayinya
13. Nutrisi : Minum RR : 40x/menit
kembang 10.03
0 secara ekslusif dan menganjurkan ibu untuk tidak
ASI tidak S : 36,3 C
normal.
memberikan tambahan makanan sampai usia bayi 6 bulan.
terjadwal. Kulit : Kemerahan
E : Ibu bersedia melakukan anjuran bidan untuk menyusui
14. Aktifitas : Bayi
BB : 2700 gram
secara ekslusif dan tidak memberikan makanan tambahan
aktif, tidak lemah,
PB : 47 cm
sampai usia anaknya 6 bulan.
jika dipanggil ada
Inspeksi : 20. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayi
respon, menangis
Tali pusat bayi sudah supaya tidak terjadi hipotermi pada bayi.
10.05
seperti biasa, reflek E : Ibu bersedia untuk tetap menjaga kehangatan bayinya.
lepas.
21. Menganjurkan kepada ibu untuk tetap menjaga kebersihan
normal, pergerakan
pusat supaya tetap kering.
banyak.
E : Ibu bersedia dan mengerti cara menjaga kebersihan
15. Eliminasi 10.07
f. BAB : 2 kali pusat.
22. Merencanakan untuk pemberian imunisasi BCG dan Polio 1
sehari, cair,
setelah anak berusia 1 bulan.

79
80

warna kuning 10.09 E : Sudah direncanakan untuk imunisasi BCG dan Polio 1.
g. BAK : 6-8
kali/hari, warna
kuning, lancar,
normal
h. Istirahat : Bayi
tidur dalam
sehari + 13 jam
i. Personal hygiene
: Bayi mandi 2
kali sehari, ganti
baju dan ganti
popok apabila
basah.
16. Ibu mengatakan
tali pusat bayi
sudah lepas sejak
usia 7 hari.
17. Ibu mengatakan
tidak ada keluhan
dengan bayinya.
Boyolali, 8 Januari 2015

80
81

(Eka Asvista Salviana)

81
81

F. ASUHAN KEBIDANAN PADA AKSEPTOR KB DMPA


Tanggal Pengkajian : 10 Februari 2016
Jam Pengkajian : 16.10 WIB
Tempat Pengkajian : BPM Eny Zubaidah
1. DATA SUBYEKTIF (ANAMNESA)
a. Identitas/biodata
i. Nama Ibu : Ny. S Nama Suami :Tn. J
ii. Umur : 35 tahun :35 tahun
iii. Pendidikan : SD :SMP
iv. Pekerjaan : Karyawan swasta :Karyawan Swasta
v. Suku/bangsa : Jawa/Indonesia :Jawa/Indonesia
vi. Agama : Islam :Islam
vii. Nomor HP : 082329024532
viii. Alamat : Ngadirejo RT 16, RW 03, Sumber, Simo, Boyolali.
b. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin mendapatkan pelayanan KB suntik 3 bulan setelah
melahirkan anak kedua pada tanggal 19 Desember 2016.
c. Keluhan Utama
Tidak ada
d. Riwayat Menstruasi
Ibu mengatakan belum mendapatkan menstruasi setelah melahirkan ini.

e. Riwayat Perkawinan
i. Umur waktu nikah : 27 tahun
ii. Lama : 8 tahun
iii. Perkawinan ke : 1 (satu)
iv. Jumlah anak : 1 (satu)
f. Riwayat Kesehatan
i. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang menajdi
kontraindikasi kb suntik seperti :
1) Hipertensi
2) Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
3) Diabetes melitus disertai komplikasi
4) Perdarahan yang tidak diketahui penybabnya
ii. Riwayat kesehatan yang lalu : Ibu mengatakan tidak memiliki
penyakit kanker, hati, ginjal, hamil kembar, epilepsy, kelainan bawaan,
TBC, dll.

81
82

iii. Riwayat kesehatan keluarga : Ibu mengatakan dikeluarganya tidak


memiliki penyakit kanker, hati, ginjal, hamil kembar, epilepsy,
kelainan bawaan, TBC, dll.
g. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Tabel 25. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Hamil Penyulit/ Jenis Penyulit/ Penolo BB Jenis Nifas Penyulit/ Usia Keadaa
ke Komplikas Persalina Komplikas Lahi Komplikas Anak
ng Kelamin n Anak
i n i r i
1 Tidak ada Normal Tidak ada Bidan 2900 Perempu Norm Tidak ada 6 Baik
gra an al tahun
m
2 Tidak ada Normal Tidak ada Bidan 2500 Laki-laki Skrng Tidak ada 1,5 Baik
gra bulan
m
Sumber : Data Pengkajian, 2015.
h. Riwayat KB
Tabel 26. Riwayat KB
No Jenis Alkon Lama Keluhan Efek Tahun Alasan
Pakai Samping Lepas
.

1. KB Suntik 3 + 2 tahun Tidak ada Haid 2011 Ingin


Bulan tidak mempunyai
teratur anak

Sumber : Data Pengkajian, 2015.

i. Pola Pemenuhan kebutuhan sehari-hari :


Tabel 27. Pola Pemenuhan kebutuhan sehari-hari
Kebutuhan Sebelum KB Selama KB Keluhan

Nutrisi :
g. Makan 3 x/hari, nasi, sayur, 3x/hari, nasi, sayur, lauk Tidak ada
lauk pauk, buah. pauk, buah. keluhan
h. Minum
7-8 gelas/hari air putih. 7-8 gelas/hari air putih

82
83

Eliminasi :
g. BAK 4-5 x/hari kuning + 5 kali x/hari kuning Tidak ada
h. BAB
jernih. jernih. keluhan
1 x/hari kuning 1 x/hari kuning lembek.
lembek.

Istirahat Tidur 7-8 jam Tidur 7-8 jam Tidak ada

Aktifitas Memasak, menyapu, Memasak, menyapu, Tidak ada


mencuci. mencuci.

Personal Hygiene Mandi 2 x/hari Mandi 2 x/hari Tidak ada

Sumber : Data Pengkajian, 2015.

j. Data Psikologis dan Spiritual


Ibu mengatakan ber – Kb atas anjuran suami dan ibu rajin menjalankan
ibadah.
k. Data Sosial – Budaya
i. Hubungan dengan keluarga : Baik (keluarga mendukung ibu ber Kb
untuk menjarangkan kehamilan)
ii. Adat istiadat sehubungan dengan pemakaian kontrasepsi : Dalam adat
istiadat tidak ada larangan untuk ber Kb.
l. Data Lingkungan : Ibu mengatakan tidak memelihara hewan sapi, ayam,
kucing.
m. Pengetahuan ibu tentang Kb
Pengetahuan tentang Kb suntik 3 bulan : Ibu mengatakan sudah
mengetahui tentang Kb suntik 3 bulan seperti : Cara kerja, keuntungan,
indikasi, kontraindikasi, waktu pengguanaan, dan efek samping Kb suntik 3
bulan.
2. DATA OYEKTIF
a. Pemeriksaan Umum
i. Keadaan umum : Baik
ii. Kesadaran : Composmentis
iii. Status emosional : Stabil
iv. Tanda vital :
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit
83
84

RR : 24 x/menit
Suhu : 36,20C
v. BB/TB : 50 kg / 146 cm
vi. Status present
1) Kepala
a) Rambut : Hitam, bersih, tidak rontok, dan kulit kepala
tidak ketombe.
Muka : Tidak ada oedema, tidak pucat.
b) Mata : Conjungtiva : Merah muda
Sklera : Tidak ikterik
c) Hidung : Tidak ada sekret, tidak ada cairan
d) Telinga : Tidak ada serumen, simetris.
e) Mulut : Bersih, gigi tidak caries, gusi tidak berdarah.
2) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena
jugularis.
3) Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada.
4) Mammae : Simetris
5) Ekstremitas / anggota gerak :
Tangan : Normal, gerak aktif.
Kaki : Normal, tidaka ada varises, gerak aktif
b. Pemeriksaan Obstetri
i. Mammae : Tidak ada benjolan / abnormal
ii. Abdomen : Tidak ada bekas luka operasi
iii. Genetalia : Tidak dilakukan pemeriksaan
c. Pemeriksaan Penunjang / Laboratorium
Tidak dilakukan pemeriksaan
3. ANALISA
Ny. S umur 35 tahun P 2A0 akseptor Kb suntik DMPA (Depo
Medroksiprogesteron Asetat).
Data dasar :
DS : Ibu mengatakan ingin suntik Kb 3 bulan
DO : KU : Baik
TTV : TD : 110/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36,20C
4. PENATALAKSANAAN
13.30 WIB Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam
keadaan sehat dan dapat diberikan suntikan Kb 3 bulan.
84
85

E : Ibu sudah tahu tentang hasil pemeriksaan


13.32 WIB Mengingatkan ibu kembali tentang efek samping Kb suntik
DMPA
a. Amenorhea (tidak terjadi menstruasi)
b. Perdarahan hebat atau tidak teratur
c. Pertambahan atau kehilangan berat badan
E : Ibu sudah tahu tentang efek samping Kb suntik DMPA
13.35 WIB Menyiapkan alat dan obat yaitu 1 flacon DMPA, spuit 3 cc,
kapas alkohol, mengocok terlebih dahulu flacon DMPA
kemudian menyedotnya dengan spuit 3 cc, mengganti needle
yang baru kemudian mengeluarkan udara yang ada didalam
spuit.
E : Alat dan obat sudah disiapkan
13.38 WIB Memberitahu ibu bahwa akan disuntik dan mempersiapkan ibu
untuk mencari posisi yang nyaman
E : Ibu sudah dalam posisi yang nyaman
13. 41 WIB Memberikan suntikan Kb 3 bulan di 1/3 SIAS secara IM
E : Ibu sudah disuntik Kb 3 bulan
13. 45 WIB Memberitahu ibu jadwal untuk disuntik Kb kembali atau bila ada
keluhan
E : Ibu akan kunjungi lagi yaitu pada tanggal 15 Mei 2016 atau bila ada
keluhan.

Simo, 20 Februari 2016

(Eka Asvista salviana)

85
88

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Tinjauan Teori Kasus
a. Kehamilan
1) Definisi
Kehamilan adalah periode dimana seorang wanita menyimpan
embrio atau fetus didalam tubuhnya (Jahja, 2011 : 21). Kehamilan
manusia terjadi selama 40 minggu, mulai waktu mentruasi terakhir dan
kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil
adalah gravid, dan manusia didalam rahim disebut embrio (minggu-
minggu awal), janin hingga kelahiran. Seorang wanita hamil untuk
pertama kalinya disebut primigravida (gravid 1) dan pada wanita yang
belum hamil gravida (Bethsaida & Herri, 2013 : 224).
2) Perubahan Fisiologis Yang Terjadi Pada Kehamilan trimester 3
Ketika hamil akan banyak perubahan fisik pada tubuh wanita, 81
perubahan tersebut terjadi karena respon tubuh terhadap kehamilan
dimana organ-organ tubuh menyesuaikan kapasitas dengan
bertambahnya tugas dan fungsi serta sebagai pemberitahuan bahwa
perubahan tersebut terjadi sebagai tanda adanya sebuah proses.

Perubahan tersebut meliputi:

a) Perubahan Uterus
Uterus pada wanita yang tidak hamil kira-kira sebesar
sejempol atau kurang lebih 30 gram karena peningkatan hormone
estrogen dan progesterone akan mengalami hipertropi dan
hyperplasia sehingga pada akhir kehamilan menjadi 1000 gram
(Manuaba, dkk, 2010 : 85).
89

b) Vagina
Pada vagina dan vulva mengalami perubahan akibat
hormone estrogen. Hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan
vulva tampak lebih merah, agak kebiruan (livide), tanda ini
disebut juga Chadwick (Manuaba, dkk, 2010 : 92).

c) Ovarium
Indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum
akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang
sempurna pada usia 16 minggu (Manuaba, dkk, 2010 : 92).

d) Payudara (mammae)
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan
sebagai persiapan laktasi. Dalam hal ini yang berperan hormone
somatomammotropin, estrogen, dan progesterone.

(1) Estrogen menimbulkan hipertropi sistem saluran payudara,


penimbunan lemak air dan garam sehingga payudara tampak
besar dan terasa sakit.
(2) Progesterone mempersiapkan dan meningkatkan sel-sel asinus
pada payudara.
(3) Somatomammotropin mempengaruhi sel asinus untuk
membuat kasein, laktalbumin dan laktoglobulin, penimbunan
lemak disekitar alveolus mamae, merangsang pengeluaran
kolostrum pada kehamilan (Manuaba, dkk, 2010 : 92).
e) Sirkulasi Darah Ibu
Pengaruh hormon estrogen dan progesteron makin meningkat.
Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologis
dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah
akan bertambah banyak dan jumlah serum darah lebih besar dari
pertumbuhan sel darah sehingga terjadi pengenceran darah
(hemodilusi) kira-kira 25% sampai 30 % dengan puncak kehamilan
32 minggu. Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk
90

mengimbangi pertumbuhan janin tetapi tidak seimbang dengan


peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi disertai
anemia fisiologis (Manuaba, dkk, 2010 : 93).
f) Sistem respirasi (pernafasan)
Terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang
membesar pada usia kehamilan 32 minggu, sehingga terjadi desakan
rahim kebutuhan O2 meningkat ± 20% sampai 25 % dari biasanya,
sehingga wanita hamil bernafas lebih dalam. (Manuaba, dkk, 2010 :
93).

g) Traktus digestivus (pencernaan)


Oleh karena pengaruh hormon estrogen, pengeluaran asam
lambung meningkat dan dapat menyebabkan hipersalivasi, morning
sickness, muntah, daerah lambung terasa panas. Progesteron
menyebabkan gerak usus makin berkurang sehingga dapat
menyebabkan obstipasi. (Manuaba, dkk, 2010 : 93).

h) Traktus urinarius (perkemihan)


Karena pengaruh desakan hamil muda dan penurunan kepala
pada hamil tua terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih.
Desakan tersebut menyebabkan kandung kemih cepat terasa
penuh.Hemodilusi menyebabkan metabolisme air makin lancar
sehingga pembentukan urine makin bertambah. (Manuaba, dkk, 2010 :
94).

i) Kulit
Kulit mengalami hiperpigmentasi dan perubahan deposit
pigmen. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan
melanophore stimuting hormon lobus hipofisis anterior dan pengaruh
kelenjar suprarenalis. Sehingga timbul kloasma gravidarum, striae
livide, striae alba, linea nigra, hiperpigmentasi pada areola dan papila
mamae. (Manuaba, dkk, 2010 : 94).
91

j) Metabolisme
Metabolisme tubuh mengalami perubahan yang mendasar
dimana kebutuhan nutrisi makin meningkat untuk pertumbuhan janin
dan persiapan produksi ASI. Peningkatan berat badan ibu selama
kehamilan menandakan adaptasi ibu terhadap pertumbuhan janin.
Berat badan wanita hamil akan naik kira-kira antara 6,5 kg – 15 kg
atau kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari 0,5 kg per minggu.
(Manuaba, dkk, 2010 : 117).
k) Plasenta dan air ketuban
Plasenta berbentuk bundar dengan ukuran 15cm x 20cm
dengan tebal 2,5 sampai 3cm dan berat plasenta 500 g. Tali pusat
yang menghubungkan plasenta panjangnya 25 sampai 60 cm.
plasenta terbentuk sempurna pada minggu ke 16. (Manuaba, dkk,
2010 : 94).

3) Perubahan-Perubahan Psikologi Dalam Kehamilan Trimester III


Perubahan psikologi ibu hamil periode trimester III terkesan lebih
kompleks dan lebih meningkat kembali dari trimester sebelumnya, karena
kehamilannya semakin membesar antara lain :
a) Rasa Tidak Nyaman
Pada trimester ini rasa tidak nyaman yang muncul adalah
banyak ibu merasa dirinya jelek dan aneh. Ibu juga khawatir bayinya
akan lahir sewaktu-waktu dan takut bayi yang akan dilahirkannya tidak
normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan
menghindari orang atau benda yang membahayakan bayi. Ibu juga
mulai merasa takut atas rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada
saat melahirkan. Disamping itu, ibu mulai merasa sedih karena akan
terpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus dari keluarga
dan bidan
b) Perubahan Emiosional
Perubahan emosional pada trimester III terutama pada bulan-
bulan terakhir kehamilan biasanya gembira bercampur takut karena
kehamilan telah mendekati persalinan. rasa kekhawatirannya terlihat
92

menjelang melahirkan, apakah bayinya lahir sehat dan tugas-tugas apa


yang dilakukan setelah kelahiran. (Bethsaida & Herri, 2013 : 241)

4) Perubahan Fisik Pada Trimester III


Pada tiga bulan terakhir beberapa penyakit lain mulai muncul,
namun tidak mengkhawatirkan. Selama periode ini disebut masa
penantian dan kewaspadaan, karena mulai menyadari kehadiran anak
sehingga mereka cenderung menjadi over protective terhadap bayinya.
(Bethsaida & Herri, 2013 : 229)
Ciri-ciri perubahan fisik pada trimester III :
a) Kaki bertambah bengkak dan terasa semakin nyeri
b) Buang air kecil meningkat sekitar 5 menit sekali
c) Suhu tubuh meningkat sehingga sering kepanasan
d) Rahim sering konrtraksi ringan (braxton hicks contraction)
e) Pada bulan ke-8 payudara mengeluarkan kolostrum pada bulan-bulan
terakhir cairan vagina meningkat (kental)
f) Rasa nyeri punggung dan sesak nafas sehingga kesulitan mendapatkan
posisi tidur yang nyaman
g) Uterus terus meninggi ke paru-paru
5) Ketidaknyamanan dalam kehamilan
a) Sering buang air kecil ( BAK )
Cara mengatasinya :

(1) Kurangi minum dimalam hari, perbanyak di siang hari


(2) Jangan menunda jika ingin BAK
(3) Hindari minuman yang mengandung soda, teh dan kopi
b) Nyeri punggung atas dan bawah
Cara mengatasinya :
(1) Gunakan body mekanik yang baik
(2) Mengatur istirahat
(3) Tidak menggunakan sepatu hak tinggi
(4) Tidur dengan alas yang agak datar, misalnya : kasur busa
(5) Gunakan stagen / korset
6) Tanda - tanda bahaya dalam kehamilan
a) Perdarahan pervaginam
Perdarahan pervaginam dalam kehamilan ada yang bersifat
fisiologis maupun patologis. Perdarahan yang bersifat fisiologis
93

terjadi pada awal kehamilan yang terjadi oleh proses implantasi.


Sedangkan perdarahan pervaginam yang bersifat patologis ada dua
yaitu yang terjadi pada awal kehamilan dan pada masa kehamilan
lanjut. Pada awal kehamilan, pada usia kurang dari 22 minggu,
biasanya keluar darah merah, perdarahan banyak disertai nyeri dapat
dicurigai terjadi abortus, kehamilan ektopik atau kehamilan mola.
Perdarahan pada kehamilan usia lanjut, terjadi setelah 22 minggu
sampai sebelum persalinan, tanda-tandanya yaitu keluar darah merah
segar atau kehitaman dengan bekuan, perdarahan banyak dan terus
menerus disertai nyeri, biasanya dikarenakan plasenta previa, solusio
plasenta, dan ruptur uteri, atau ada pembekuan darah.
b) Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala yang hebat dapat terjadi selama kehamilan dan
sering kali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam
kehamilan.
c) Penglihatan / pandangan kabur
Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang
mengancam jiwa adalah perubahan visual mendadak, misalnya
penglihatan kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot) dan
berkunang-kunang.
d) Bengkak pada Muka dan Tangan
Hampir separuh ibu hamil akan mengalami bengkak yang
normal pada kaki. Bengkak dapat menunjukkn adanya masalah serius
apabila bengkak yang muncul pada muka dan tangan tidak hilang
setelah istirahat, disertai sakit kepala hebat, pandangan mata kabur,
hal ini merupakan tanda anemia, gagal jantung, atau preeklamsi.
e) Nyeri Perut yang Hebat
Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan masalah yang
mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak
hilang setelah beristirahat,
f) Gerakan Bayi yang Berkurang
Gerakan janin terjadi pada usia kehamilan 20-24 minggu. Bayi
harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam priode 3 jam. Gerakan janin
akan lebih mudah terasa jika ibu berbaring atau beristirahat serta jika
94

ibu makan dan minum dengan baik. Ibu hamil perlu melaporkan jika
terjadi penurunan/gerakan yang berhenti (Vivian Nanny,2010 : 56).
7) Pemeriksaan Kehamilan
a) Pengertian
Pemeriksaan kehamilan dilakukan untuk meng-optimalisasikan
kesehatan mental dan fisik ibu hamil dalam menghadapi persalinan,
kala nifas, persiapan memberi ASI dan kembalinya kesehatan
reproduksi secara wajar.

b) Tujuan

(1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu


dan tumbuh kembang bayi.

(2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan


sosial ibu dan bayi
(3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi
yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit
secara umum kebidanan dan pembedahan
(4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan
selamat, ibu maupun bayinya lengan trauma seminimal mungkin
(5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI Eksklusif
(6) Mempersiapkan peran ibu dan juga keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang optimal
c) Kebijakan program
Kunjungan antenatal dilakukan paling sedikit 4 kali selama
kehamilan : (Vivian Nanny,2010 : 59).

(1) Satu kali pada trimester pertama

(2) Satu kali pada trimester kedua

(3) Dua kali pada trimester ketiga

d) Jadwal Pemeriksaan
95

(1) Pemeriksaan pertama. Pemeriksan pertama dilakukan segera


setelah diketahui terlambat haid
(2) Pemeriksaan ulang :

(a) Setiap bulan sampai usia kehamilan 6 sampai 7 bulan

(b) Setiap 2 minggu sampai kehamilan berumur 8 bulan.


(c) Setiap 1 minggu sejak usia kehamilan 8 bulan sampai terjadi
persalinan.

(d) Pemeriksaan khusus bila terdapat keluhan-keluhan tertentu.


(Manuaba, 2010 : 111)

e) Konsep pemeriksaan ibu hamil

(1) Anamnesa.

Anamnesa identitas untuk mengetahui data-data biologis pasien,


keluhan hamil, fisiologi dan patologi

(2) Inspeksi dan pemeriksaan fisik diagnostic


Pemeriksaan seluruh tubuh secara baik dan legeartis seperti
tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan dan sebagainya.

(3) Palpasi
Dilakukan unuk menentukan besar dan tinggi fundus uteri
(gambar 2), bagian-bagian janin, letak, presentasi, gerakan janin
dan kontraksi rahim.
Cara melakukan palpasi ialah menurut Leopold yang terdiri atas 4
bagian :

Leopold I : Menentukan tinggi fundus uteri


dan bagian janin dalam fundus,
konsistensi uterus.

Leopold II : Menentukan batas samping kanan


kiri, menentukan letak punggung
janin, pada letak lintang
menentukan mana bagian kepala
janin.
96

Gambar
1
Leopold III :
Px
Leopold 2

Gambar 2
Leopold IV : Px Leopold
Menentukan bagian terbawah
3
janin apa dan berapa jauh sudah
masuk pintu atas panggul.
Gamb
ar 3
Sumber : Manuaba, 2010 (118-119) Px
Tabel 28. Pertambahan Berat Badan, Janin, sesuai Umur
Leopold 4
Kehamilan

Jumlah Minggu Rata-rata Berat Badan


No
Kehamilan Janin

1 8-9 minggu 1 gr

2 9-10 minggu 4

3 10-11 minggu 10

4 11-12 minggu 15

5 12-13 minggu 20

6 13-14 minggu 50

7 14-15 minggu 85

8 15-16 minggu 100

9 16-17 minggu 110


97

10 17-18 minggu 180

11 18-19 minggu 210

12 19-20 minggu 300

13 20-21 mingu 325

14 21-22 mingu 400

15 22-23 mingu 485

16 23-24 mingu 550

17 24-25 mingu 685

18 25-26 mingu 750

19 26-27 mingu 890

20 27-28 mingu 1000

21 28-29 mingu 1150

22 29-30 mingu 1300

23 30-31 minggu 1469

24 31-32 minggu 1610

25 32-33 minggu 1810

26 33-34 minggu 2000

27 34-35 minggu 2250

28 35-36 minggu 2500

29 36-37 minggu 2690

30 37-38 minggu 2900

31 38-39 minggu 3050

32 39-40 minggu 3200

Infobunda, 2012.

(4) Perkusi, untuk mengetahui pemeriksaan reflek patella pada lutut


kanan kiri
98

(5) Auskultasi, menggunakan stetoskop monokuler atau linec, atau


Doppler. Untuk mengetahui denyut jantung janin

(6) Pemeriksaan laboratorium

(a) Darah
Yang diperiksa adalah golongan darah dan kadar darah
haemoglobin. Pemeriksaan haemoglobin dilakukan untuk
mendeteksi faktor resiko kehamilan yang adanya anemia. Bila
kadar Hb ibu kurang dari 11 gr % berarti ibu tidak anemia,jika
Hb ibu 9-10 gr % berarti ibu anemia ringan, sedangkan 7-8 gr
% anemia sedang. Kadar Hb < 7 gr % berarti anemia
berat.Wanita yang mempunyai Hb kurang dari 10 gr % baru
disebut menderita anemia dalam kehamilan. Pemeriksaan Hb
minimal dilakukan 2 kali selama hamil, yaitu pada trisemester
I dan trimester II. (Manuaba, 2010 : 239)
(b) Urine :
Pemeriksaan yang dilakukan adalah reduksi urine dan kadar
albumin dalam darah sehingga diketahui apakah ibu
menderita preeklamsi atau tidak
(7) Pelayanan asuhan standar minimal termasuk “14T”

(a) Ukur Berat Badan dan Tinggi Badan

(b) Ukur Tekanan Darah


(c) Ukur tinggi fundus Uteri
(d) Pemberian Tablet zat besi, minimal 90 tablet selama
kehamilan
(e) Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid / TT lengkap
(f) Pemeriksaan Hb
(g) Test terhadap Penyakit Menular Seksual
(h) Pemeriksaan Protein Urine
(i) Pemeriksaan Urine Reduksi
(j) Perawatan Payudara
(k) Senam Hamil
(l) Pemberian obat malaria
(m) Pemberian kapsul minyak yodium
(n) Temu wicara / konseling
99

b. Persalinan
1) Pengertian
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin
dan placenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan
melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau tanpa
bantuan(kekuatan sendiri). (Manuaba, 2010 : 164).

2) Faktor-faktor yang berpengaruh dalam persalinan


a) Teori penurunan hormone progesteron
Pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehinga dapat timbul
his.

b) Teori oksitosin internal


Pada akhir kehamilan kadar oxitosin bertambah sehingga

timbul kontraksi rahim

c) Teori keregangan otot otot


Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan kontraksi
rahim untuk mengeluarkan isi rahim

d) Teori hipotalamus-hipofise dan glandula suprarenalis.


Hipofise dan glandula suprarenal janin memegang peranan. Glandula
suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan.

e) Teori prostaglandin. Prostaglandin yang dihasilkan desidua


kemungkinan menjadi salah satu sebab permulaan persalinan.
(Manuaba, 2010 : 168).
3) Tanda Bahaya Persalinan
a) Partus lama, (Kala pertama atau persalinan aktif berlangsung lebih dari
12 jam).
b) Ketuban pecah sebelum waktunya (lebih dari 24 jam sebelum
permulaan persalinan)
c) Perdarahan sebelum melahirkan
100

d) Kala ke-2 yang lebih lama kira-kira lebih dari 2 jam


4) Asuhan Persalinan
a) Asuhan Ibu Bersalin Kala I
Kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol
sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala pembukaan
berlangsung tdak begitu kuat sehingga ibu bersalin masih dapat
berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida 12 jam, sedangkan
multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve Friedman,
diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/ jam dan pembukaan
multigravida 2 cm/ jam. (Manuaba, 2010 : 173).
Asuhan sayang ibu :
(1) Memberikan asuhan fisik dan psikologis
(2) Memfasilitasi kehadiran seorang pendamping secara terus-
menerus.
(3) Menganjurkan keluarga memberi dukungan
(4) Mengurangi rasa sakit dengan massase dan sentuhan yang lembut.
(5) Memenuhi kebutuhan hidrasi ibu
(6) Menganjurkan perubahan posisi dan ambulasi
(7) Menerima atas sikap dan periaku ibu.
(8) Memberikan informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang
aman.
(9) Membantu ibu memahami apa yang sedang terjadi sehingga ia
berperan serta aktif dalam menentukan asuhan.
(10) Menyiapkan ruangan, alat dan obat untuk persalinan.

(11) Mengenali masalah secepatnya dan mengambil keputusan serta


tindakan yang tepat guna dan tepat waktu.
(12) Memantau persalinan dari partograf meliputi (kesejahteaan ini,
kesejahteraan janin, kemajuan persalinan) dengan interval waktu:
(a) Denyut jantung, kontraksi dan nadi dipantau setiap 30 menit.
(b) TD, suhu, pembukaan serviks, penurunan kepala dipantau
101

setiap 4 jam.
(c) Produksi urine, aseton dan protein dipantau tiap 2-4 jam.
b) Asuhan Ibu Bersalin Kala II
Kala II (Sulistyowati, 2010) adalah kala pengeluaran bayi
dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Proses ini
berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida.
Diagnosa kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam
untuk memastikan pembukaan lengkap dan kepala janin sudah tampak
divulva denagn diameter 5-6 cm. (Levii-Medikal blog, 25-3-2015 jam
12.04 WIB)
c) Asuhan Ibu Bersalin Kala III (Kala Pengeluaran Uri)
Tanda-tanda pelepasan plasenta menurut Manuaba (2010:191) antara
lain :

(1) Bentuk uterus berubah menjadi bulat, keras dan tinggi fundus uteri
naik karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim.
(2) Tali pusat memanjang
(3) Semburan darah tiba-tiba.

d) Asuhan Ibu Bersalin Kala IV


Kala IV adalah kala pengawasan selama 1-2 jam setelah bayi
dari uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya
perdarahan postpartum. Perdarahan kala IV yang normal adalah tidak
melebihi 400-500 cc (Manuaba, 2010 : 174).

5) Faktor Persalinan
a) Passage (Jalan Lahir)
Merupakan jalan lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari
rongga panggul, dasar panggul, serviks dan vagina.

b) Power
102

Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari
his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. yang dihasilkan
oleh adanya kontraksi dan retraksi otot-otot rahim.

Kekuatan yang mendorong janin keluar (power) terdiri dari :

(1) His (kontraksi otot uterus)


(2) Kontraksi otot-otot dinding perut
(3) Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
(4) Ketegangan dan ligmentous action terutama ligamentum rotundum
c) Passanger
Passanger terdiri dari janin dan plasentaa. Janin merupakan passangge
utama dan bagian janin yang paling penting adalah kepala karena
bagian yang paling besar dan keras dari janin adalah kepala janin.

d) Psikis (Psikologis)
Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah-olah pada saat itulah
benar-benar terjadi realitas “kewanitaan sejati” yaitu munculnya rasa
bangga bias melahirkan atau memproduksi anaknya. Psikologis
meliputi :
(1) Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual
(2) Pengalaman bayi sebelumnya
(3) Kebiasaan adat
(4) Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu
(5) Sikap negatif terhadap peralinan dipengaruhi oleh:
(6) Persalinan sebagai ancaman terhadap keamanan
(7) Persalinan sebagai ancaman pada self-image
(8) Medikasi persalinan
(9) Nyeri persalinan dan kelahiran
e) Penolong
Proses tergantung dari kemampuan skill dan kesiapan penolong dalam
menghadapi proses persalinan (wiwing setiono.blogspot.com, tanggal
25-11-2015 jam 11.58)

6) Sebab-sebab mulai persalinan

Sebab-sebab persalinan menurut Manuaba (2010:168) :


103

a) Teori penurunan hormone progesterone

Pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga dapat


timbul his.

b) Teori oksitosin internal

Pada akhir kehamilan kadar oxitosin bertambah sehingga timbul


kontraksi rahim.

c) Teori ketegangan otot-otot


Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan kontraksi
rahim untuk mengeluarkan isi rahim.

d) Teori Hipotalamus-hipofise dan glandula suprarenalis


Hipofise dan glandula suprarenal janin memegang peranan. Glandula
suprarenal merupakan pemicu terjadinya persalinan.

e) Teori prostaglandin

Prostaglandin yang dihasilkan desidua kemungkinan menjadi salah


satu sebab permulaan persalinan.

7) Tanda-tanda persalinan
Tanda-tanda persalinan menurut (Manuaba, 2010 : 169) :

a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b) Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda (pengeluaran lendir
bercampur darah)
c) Dapat disertai keluarnya air ketuban dari jalan lahir.

d) Pada pemeriksaan dalam dijumapai perubahan serviks (perlunakan


cervik, pendataran, pembukaan serviks).
c. Bayi Baru Lahir
1) Pengertian
104

Bayi Baru Lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia
kehamiln 37 – 42 minggu dan berat badannya 2500 gr – 4000 gr (Ibrahim
kristina S 1984, Dewi Vivian Nanny Lia, 2010 : 1).

2) Ciri ciri bayi baru lahir normal:


a) Lahir aterm antara 37 – 42 minggu
b) BB 2500 gr – 4000 gr.
c) PB 48 cm – 52 cm.
d) LIDA 30 – 38 cm.
e) LIKA 33cm – 35 cm.
f) LILA 11 cm – 12 cm.
g) Frekwensi denyut jantung 120 -160 x / menit
h) Frekwensi pernafasan 40 - 60 x / menit
i) Kulit kemerahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup
j) Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala telah sempurna.
k) Kuku agak panjang dan lemas.
l) Nilai APGAR lebih dari 7
Tabel 29. Tanda APGAR

Tanda Nilai : 0 Nilai : 1 Nilai : 2

Appearance Tubuh merah, Seluruh tubuh


Pucat/biru seluruh tubuh
(warna kulit) ekstremitas biru Kemerahan
Pulse
Tidak ada < 100 > 100
(denyut jantung)
Grimace Ekstremitas
Tidak ada Gerakan aktif
(tonus otot) sedikit fleksi

Activity Langsung
Tidak ada Sedikit gerak
(aktivitas) menangis

Respiration Lemah/tidak
Tidak ada Menangis
(pernapasan) teratur

m)Gerak aktif.
n) Bayi langsung menangis kuat.
o) Reflek sucking (isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik.
105

p) Reflek rooting (mencari puting susu dengan rangsangan taktil pada


pipi dan daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik.
q) Reflek moro (gerak memeluk jika kaget) sudah terbentuk dengan baik.
r) Reflek grasping (menggenggam) sudah terbentuk dengan baik.
s) Genetalia
(1) Pada laki laki kematangan ditandai dengan testis yang berada
pada scrotum dan penis berlubang
(2) Pada wanita kematangan ditandai dengan vagina dan uretra yang
berlubang serta adanya labia mayora dan minora
t) Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya mekonium dalam 24
jam pertama dan berwarna hitam kecoklatan. (Lia,2010:2).
3) Ciri – ciri bayi baru lahir tidak normal
a) Tidak mau minum
b) Mulut mencucu seperti mulut ikan
c) Kejang – kejang
d) Nafas cepat dan sesak
4) Asuhan Segera Pada Bayi Baru Lahir
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada
bayi tersebut selama satu jam pertama setelah kelahiran.

a) Mencuci tangan dengan seksama sebelaum dan setelah bersentuhan


dengan bayi
b) Menilai secara cepat keadaan umum bayi dan apgare score,
meletakkan bayi diatas perut ibu
c) Membersihkan jalan nafas bayi dengan kassa kering bersih dan delay
untuk mencehgah jalan nafas terhalang , mulai dari mulut ke hidung
d) Mengeringkan tubuh bayi dengan handuk kering mulai dari wajah
sampai muka kecuali daerah telapak tangan dan Menjaga kehangatan
bayi dengan handuk kering
e) Mengeklem tali pusat dengan dua klem, kira-kira 2-3 cm dari pangkal
pusat bayi. Lalu potong tali pusat dan mengikat tali pusat.
f) Meletakkan bayi di dada ibu (kontak antara kulit dengan kulit) untuk
dilakukan IMD selama 1 jam, untu memeriksa apakah reflek rooting
dan sucking bayi baik. Menjaga kehangatan bayi dan pantau agar jalan
nafas bayi tidak tertutup.
106

g) Memberi salep mata pada bayi yaitu di beri salep pada kedua mata
bayi.
h) Memberikan vitamin K setelah bayi lahir dengan dosis 0, 5 mg
diberikan secara IM, di paha kiri anterolateral setelah Inisiasi Menyusu
Dini.
i) Memberi imunisasi Hepatitis B 0, 5 ml secara IM, di paha kanan
anterolateral, diberikan kira-kira 1–2 jam setelah pemberian vitamin K
(Maternal Neonatal Pink, 2010 : N-32).
5) Cara Merawat Bayi Baru Lahir
a) Memberikan ASI sesuai kebutuhan secara on demand atau setiap 2-3
jam
b) Pertahankan agar bayi selalu dengan ibu
c) Jaga bayi dalam keadaan bersih, hangat, dan kering. Dengan
memastikan popok dan selimut sesuai dengan keperluan. Pastikan bayi
tidak terlalu panas dan terlalu dingin (dapat menyebabkan dehidrasi,
karena kemampuan pengaturan suhu tubuh bayi masih dalam
pemantauan). Apa saja yang dimasukkan ke dalam mulut bayi harus
bersih.
d) Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering
e) Peganglah, sayangi dan nikmati kehidupan bersama bayi
f) Awasi masalah dan kesulitan pada bayi dan minta bantuan jika perlu
g) Jaga keamanan bayi terhadap trauma dan penyakit/ infeksi
h) Ukur suhu tubuh bayi jika tampak sakit atau menyusu kurang baik
d. Asuhan Pada Ibu Post Partum

1) Pengertian
Masa Nifas (Puerperium) adalah masa sesudah persalinan, masa,
perubahan, pemulihan, penyembuhan, dan pengembalian alat-alat
kandungan atau reproduksi, seperti sebelum hamil yang lamanya 6
minggu atau 40 hari pasca persalinan (Jannah,20011 :13).

Nifas dibagi dalam 3 tahapan, yaitu ;


107

a) Puerperium dini : Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri


dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan
boleh bekerja setelah 40 hari.
b) Puerperium intermedial : Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya 6-8 minggu.
c) Remote puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan
mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-
minggu, bulanan, tahunan (Ambarwati, 2010).
2) Tujuan Asuhan Masa Nifas
a) Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikis
b) Melaksanakan skrining yang komprehensif
c) Mendeteksi masalah dan mengobati atau merujuk bila terjadi
komplikasi pada ibu dan bayi
d) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan
diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi
e) Perawatan bayi agar tetap sehat
f) Memberikan pelayanan keluarga berencana atau KB (Askeb Nifas dan
Deteksi Dini komplikasi ECG, 2013:1).
3) Perubahan Fisiologi pada Masa Nifas
Menurut Varney (2010:187) Pada jam-jam pertama setelah
pelahiran, uterus kemungkinan bergeser ke atas dan kadang-kadang
bergeser ke kanan oleh kandung kemih. Kandung kemih harus
dikosongkan sebelum mengkaji tinggi fundus. Uterus akan mengecil
menjadi setengahnya dalam satu minggu, dan kembali ke ukuran normal
pada minggu ke-8 pascapartum. Pada masa ini terjadi perubahan penting
lainnya, perubahan-perubahan yang terjadi antara lain sebagai berikut :

a) Uterus
Involusi adalah pengembalian ke keadaan sebelum setelah
melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat
kontraksi otot-otot polos uterus. Selama 12 jam, tinggi fundus
memcapai kurang lebih 1 cm diatas umbilicus. Beberapa hari
108

kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun


kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Fundus normal dapat kira-kira
dipertengahan antara umbilikus dan simpisis pubis. Pada hari pasca
post partum minggu ke-6. Uterus tidak bisa dipalpasi abdomen pada
post partum hari ke-9. Uterus yang pada hamil penuh mencapai 11 kali
berat sebelum hamil., berinvolusi kira-kira 500 gram 1 minggu setelah
melahirkan. Seminggu setelah melahirkan, uterus berada didalam
panggul sejati lagi. Pada minggu ke-6, berat uterus menjadi 50 sampai
60 gram.

Kontraksi

Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera


setelah bayi lahir. Hal ini diduga sebagai respon terhadap penurunan
volume intrauterin yang sangat besar. Hormon oksitosin yang lepas
dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi otot uterus,
mengompresi pembuluh darah, dan membantu homstasis. Dan ibu
pasca melahirkan dianjurkan menyusui bayinya karena isapan bayi
akan merangsang pelepasan oksitosin. (Askeb ibu Nifas dan deteksi
dini komplikasi ECG, 2013:59)

b) Serviks
Beberapa hari setelah persalinan, ostium externum dapat dilalui
oleh 2 jari, pinggirnya tidak rata, tetapi retak-retak karena robekan
dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama, ostium externum hanya
dapat dilalui oleh 1 jari saja, dan lingkaran retraksi berhubungan
dengan bagian atas dari canalis cervicis uteri.Pada cervix, terbentuk
sel-sel otot baru. Karena hiperplasia dan retraksi cervix ini, robekan
cervix menjadi sembuh. Walaupun begitu, setelah involusio selesai,
ostium externum tidak serupa keadaanya dengan sebelum hamil, pada
umumnya ostium externum lebih besar dan tetap ada retak-retak dan
robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya.
109

Robekan ke samping ini membentuk bibir depan dan bibir belakang


cervix (Obstetri Fisiologi,2010).

c) Vagina dan Perineum


Estrogen pasca partum yang menurun dalam penapisan mukosa
vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang dapat
kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hami, 6 sampai 8 minggu
setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu ke-
4, walaupun tidak akan semenonjol wanita nulipara. Pada umumnya,
rugae dapat memipih secara permanen. Mukosa tetap atrifik pada ibu
yang menyusui sekurang-kurangnya sampai mentruasi dimulai
kembali. Penebalaan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi
ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan pelumas
vagina dan penipisan mukosa vagina.

Proses penyembuhan luka episiotomi, sama dengan luka


operasi lain. Tanda-tanda infeksi seperti nyeri, merah, panas, bengkak,
atau rabas, atau tepian insisi yang tidak saling mendekat dapat terjadi.
Penyembuhan harus berlangsung selama 2 sampai 3 minggu. (Askeb
Masa Nifas & Deteksi Dini Komplikasi ECG, 2013:63).

d) Darah nifas (Lochea).


Macam-macam lochea fisiologis:

(1) Lochea Rubra/Merah (Cruenta)


Lochea ini muncul pada hari ke 1 sampai hari ke 4 masa post
partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah
segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi,
lanugo (rambut bayi), dan mekonium.

(2) Lokea Sanguinolenta


Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir.
Berlangsung dari hari ke 4 sampai hari ke 7 postpartum.
110

(3) Lochea serosa


Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung
serum, leukosit dan robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari
ke 7 sampai hari ke 14 postpartum.

(4) Lochea Alba/Putih


Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks
dan serabut jaringan yang mati. Lochea alba bisa berlangsung
selama 2-6 minggu postpartum (Ambarwati,2010).

e) Payudara
Payudara menjadi besar, keras dan menghitam di sekitar puting
susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui
bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar) dapat mencegah
perdarahan dan merangsang produksi ASI. Pada hari ke 2 hingga ke 3
akan diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning
keruh yang kaya akan anti body, dan protein, sebagian ibu
membuangnya karena dianggap kotor, sebaliknya justru ASI ini sangat
bagus untuk bayi (Ambarwati,2010).

f) Sistem perkemihan
Dieresis pascapartum, Dalam 12 jam pasca melahirkan, ibu
mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun didalam cairan yang
tertimbun di jaringan selama hamil. Salah satu mekanisme untuk
mengurangi cairan yang terterensi selama masa hamil adalah
diaphoresis luas, terutama pada malam hari, selama 2 sampai 3 hari
pertama setelah melahirkan. Kehilangan cairan melalui keringat dan
peningkatan jumlah urine menyebabkan penurunan berat badan sekitar
2,5 kg selama masa pascapartum. (Askeb Ibu Nifas dan deteksi Dini
Komplikasi ECG, 2013:65)

g) Sistem pencernaan
111

Nafsu makan, ibu biasanya lapar setelah melahirkan dan


diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan ringan. Setelah benar-
benar pulih dari efek analgesia, anestesi, dan keletihan, kebanyakan
ibu merasa sangat lapar. Permintaaan untuk memperoleh makanan
menjadi 2 kali dari jumlah biasanya yang dikonsumsi disertai
mengkonsumsi secara sering.

Defekasi, buang air besar secara spontan akan tertunda selaama


2 sampai 3 hari setelah ibu melahirkan. Keadaan itu dapat disebabkan
oleh penurunan tonus otot usus selama proses persalinan dan pada
awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum
melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Ibu sering kali menduga
akan merasakan nyeri saat defekasi akibat luka episiotomy di
perineum, laserasi dan hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur
perlu dicapai kembali setelah tonus otot kembali normal. (Askeb Ibu
Nifas & Deteksi Dini Komplikasi ECG, 2013: 64)

h) Sistem Endokrin
Hormon Plasenta. Kadar esterogen dan progesteron menurun
secara mencolok setelah plasenta keluar. Kadar terendah hormon
tersebut tercapai kira-kira 1 minggu pascapartum. Penurunan kadar
esterogen berhubungan dengan pembengkakan payudara dan dieresis
cairan ekstraselular yang berlebih yang terakumulasi selama masa
hamil. Kadar esterogen pada ibu tidak menyusui mulai meningkat pada
minggu ke-2 setelah melahirkan dan lebih tinggi dibandingkan ibu
menyusui pada pascapartum hari ke- 17.

Kadar prolaktin tinggi pada ibu yang menyusui tampaknya


berperan dalam menekan ovulasi. Kadar prolaktin meningkat secara
progresif sepanjang masa hamil. Kadar prolaktin tetap meningkat
sampai minggu ke-6 setelah melahirkan pada wanita menyusui. Kadar
prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap
112

menyusui, dan banyak makanan tambahann yang diberikan. Perbedaan


individu dalam mengisap kemungkinan juga mempengaruhi kadar
prolaktin. (Askeb Ibu Nifas & Deteksi Dini komplikasi ECG,
2013:67).

i) Peredaran Darah
Sel darah putih akan meningkat dan sel darah merah serta
hemoglobin (keeping darah) akan berkurang, ini akan normal kembali
setelah 1 minggu. Tekanan dan jumlah darah ke jantung akan lebih
tinggi dan kembali normal hingga 2 pekan.

4) Perubahan Psikologi pada Ibu Nifas


Rubin (1963) dan Bobak (2000) mengidentifikasi dalam tiga tahap
perilaku wanita ketika beradaptasi perannya sebagai orang tua, yaitu:

a) Pertama, Taking in (Periode tingkah laku ketergantungan). Fase


ketergantungan ibu segera setelah melahirkan yang menyerahkan
sepenuhnya kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Ibu
lebih memusatkan perhatian pada dirinya sendiri sehingga tidak
mengawali kontak dengan bayinya. Ibu bersemangat membicarakan
pengalaman persalinan yang baru dialaminya. Fase ini berlangsung
selama 2 hari setelah melahirkan.
b) Kedua, Taking hold (Periode peralihan dari ketegantungan ke mandiri).
Ibu berada pada fase mencari kasih sayang untuk dirinya sendiri, selain
mulai mengalihkan perhatian dan kasih sayangnya kepada bayi yng
berlangsung lebih kurang sepuluh hari setelah persalinan.
c) Ketiga, Letting go (Periode kemandirian dalam peran baru). Ibu
menerima peran barunya secara penuh dengan meningkatkan
keterampilan dalam merawat bayi. (Askeb Nifas & Deteksi Dini
Komlikasi ECG, 2013: 77).
Faktor yang mempengaruhi adaptasi psikososial mencakup :

(1) Dukungan suami, orang tua, teman, dan orang dekat lainnya
113

(2) Usia
(3) Kehamilan yang direncanakan atau tidak
(4) Status social ekonomi dan Masalah seksualitas
(5) Pengalaman orang tua sebelumnya
(6) Riwayat melahirkan anggota keluarga atau teman dekat
(7) Pengalaman lalu terkait dengan fasilitas
(8) Pemberi pelayanan kesehatan
5) Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas
a) Nutrisi Dan Cairan
Tujuan pemberian makanan : memulihkan tenaga ibu,
memproduksi ASI yang bernilai tinggi mempercepat penyembuhan
luka, dan mempertahankan kesehatan. Hidangan gizi yang dibutuhkan
ibu menyusui terdiri atas zat tenaga, (hidrat arang, lemak, protein), zat
pembangun (protein, vitamin, mneral dan air), dan zat pengatur atau
pelindung. Makanan tambahan untuk ibu menyusui adalah 500 kalori
per hari. Minum paling tidak 3 liter sehari, minum tablet tambah darah,
dan minum vitamin A 200.000 IU agar bisa memberi vitamin A secara
tidak langsung pada bayinya.
b) Mobilisasi
Mobilisasi merupakan aktifitas segera yang dilakukan setelah 1
atau 2 jam setelah melahirkan, agar bisa merawat bayinya sendiri.

Keuntungan perawatan mobilisasi :


(1) Melancarkan keluarnya lokea, mengurangi infeksi puerperium dan
mempercepat involusi alat kandungan.
(2) Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
(3) Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat
fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
c) Eliminasi
Buang air besar hendaknya dapat dilakukan 24 jam setelah
melahirkan. Ibu mengalami sulit buang air besar karena spingter uretra
pada janin dan spasme akibat iritasi. Sfingter ani selama persalian .
selain itu masalah buang air kecil. Dapat juga disebabkan oleh oedema
pada kandung kemih yang terjadi selama persalinan. Selama 6 jam
pertama setelah melahirkan ibu harus buang air kecil, bila tidak akan
mengakibatkan infeksi pada saluran kemih.
114

d) Personal Higiene.
Kebersihan Tubuh atau Kulit. Ibu nifas harus mandi minimal 2
kali sehari. Kebersihan Pakaian. Ibu disarankan ganti pakaian dua kali
sehari setelah mandi dan bila pakaian terasa lembap atau basah.
Gunakan pakaian yang agak longgar dan dapat menyerap keringat.
Anjurkan ibu untuk ganti pembalut minimal sehari 3 kali. Selama masa
nifas harus memperhatikan kebersihan giginya dengan menggosok gigi
minimal 2 kali sehari (setelah makan, saat mandi, dan sebelum tidur),

Kebersihan tempat tidur juga harus diperhatikan. Beri alas


perlak dibawah bokong ibu sehingga darah masa nifas tidak megenai
tempat tidur / mengganti seprei 2 minggu sekali dan usahakan jemur
kasur sebulan sekali.

Kebersihan lingkungan bukan hanya di lingkungan dalam


rumah. Tetapi juga di luar rumah seperti peralatan rumah tangga,
peralaatan dapur, dan kebersihan halaman serta pembuangan limbah
dan sampah.

Kebersihan Perineum, usahakan daerah perineum tetap kering


dan bersih. Harus di ingat, pembersihan vagina dari arah depan ke
belakang. Anjurkan ibu untuk mencuci daerah genetaliaa dengan sabun
dan air. Cuci tangan menggunakan sabun sebelum dan setelah
mengganti pembalut. Keringkan vagina ibu setelah buang air kecil
dengan tissue toilet bersih. Tindakan perawatan perineum dengan tutup
luka jahitan dengan kassa yang dibubuhi cairan antiseptic atau gunakan
kantung es yang dibungkus selama 2 jam pertama untuk menurunkan
pembentukan oedema dan meningkatkan kenyamanan dan setelah 2
jam pertama pasca kelahiran untuk menimbulkan afek anestetik.

Kebersihan rambut, setelah melahirkan ibu dapat mengalami


kerontokan rambut akibat gangguan perubahan hormon. Jumlah
kerontokan diantara ibu berbeda-beda, meskipun begitu kondisi ibu
115

dapat pulih selama beberapa bulan. Cuci rambut dengan sampo


secukupnya, lalu sisir menggunakan sisir yang lembut dan jarang-
jarang, dan hindari penggunaan pengering rambut.

e) Istirahat
(1) Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup untuk mencegah
kelelahan yang berlebihan
(2) Sarankan ibu untuk kembali menjalani kegiatan dirumah seperti
biasa secara perlahan, serta tidur siang atau istirahat selagi bayi
tidur. Kurang istirahat dapat menyebabkan beberapa hal :
mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses
involusi uterus dan meperbanyak perdarahan, menyebabkan
depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya
sendiri.
f) Seksual
Secara fisik hubungan suami istri aman dilakukan begitu darah
merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jari kedalam
vagina tanpa rasa nyeri. Apabila tidak keluar darah merah dan ibu tidak
merasakan ketidaknyamanan, hubungan suami istri dapat dilakukan.
Banyak budaya, yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami
istri sampai masa nifas selesai yaitu 40 hari atau 6 minggu setelah
persalinan. (Askeb Ibu Nifas & Deteksi Dini Komplikasi EGC, 2013:
83-91).
6) Tanda Bahaya Masa Nifas :
a) Peningkatan suhu tubuh, lochea berbau
b) Perdarahan pervaginam
c) Pusing, nyeri epigastrik, pandangan mata kabur.
d) Oedem diwajah dan kaki.

e) Demam, muntah, rasa sakit waktu berkemih.

f) Mammae berubah menjadi kemerahan, panas dan terasa sakit.

g) Kaki oedem, merah dan terasa sakit.


116

h) Anoreksi dalam jangka waktu lama

i) Adanya perasaan sedih atau merasa tidak mampu merawat diri dan
bayinya. (Akbid estu utomo, 2012).
7) Kunjungan masa nifas
a) 6 – 8 jam setelah persalinan
(1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

(2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila


perdarahan berlanjut.

(3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

(4) Pemberian ASI awal

(5) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi

b) 6 hari setelah persalinan


(1) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi,
fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak
ada bau.
(2) Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi, dan perdarahan
abnormal.
(3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan
istirahat.
(4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan
tanda – tanda penyulit.

(5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan
tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi
sehari–hari.

c) 2 minggu setelah persalinan


117

Memastikan rahim sudah kembali normal dengan mengukur dan


meraba bagian rahim.

d) 6 minggu setelah persalinan.

(1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ia atau


bayi alami.

(2) Memberikan konseling untuk KB secara dini (Dewi,2013:4)

8) ASI Eksklusif
ASI Eksklusif adalah asi yang diberikan sejak bayi dilahirkan
sampai umur bayi 6 bulan tanpa susu formula atau makanan lain. Ibu
diharapkan untuk menyusui bayinya setiap kali bayi merasa lapar atau
secara on demand (atau setidaknya 10-12 kali dalam 24 jam) selama 2
minggu.
a) Untuk Bayi
(1) Susui bayi setiap 2 jam, siang dan malam hari dengan lama
penyusuan 10-15 menit di setiap payudara kanan kiri
(2) Bangunkan bayi dan lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah,
dan posisi duduk selama menyusui
(3) Pastikan bayi menyusu dengan posisi menempel yang baik dan
dengarkan suara menelan yang aktif
(4) Susui bayi ditempat yang tenang dan nyaman serta minumlah
setiap kali menyusui
(5) Tidur bersebelahan dengan bayi

b) Untuk Ibu
(1) Tingkatkan istirahat dan minum
(2) Amati ibu yang menyusui bayinya dan koreksi setiap masalah ibu
pada posisi penempelan
118

(3) Bisa menjadi metode kontrasepsi laktasi (MAL) jika ibu menyusui
bayinya secara on demand atau sesuai kebutuhan bayi dan teratur.
(4) Yakinkan ibu bahwa ia dapat memproduksi lebih banyak air susu
dengan melakukan hal-hal tersebut. (Askeb Ibu Nifas & Deteksi
Dini Komplikasi ECG, 2013: 26-26).
9) Menyusui Yang Benar
Langkah-langkah menyusui yang benar :

a) Sebelum menyusui, keluarkan ASI sedikit, kemudian oleskan pada


putting susu da areola sekitarnya. Untuk mendisinfektan dan menjaga
kelembapan putting susu.
b) Letakkan bayi menghadap perut ibu atau payudara
c) Duduk atau baringkan santai. Bila duduk lebih baik gunakan kursi
yang lebih rendah agar kaki ibu tidak menggantung dan punggung ibu
bersandar pada sandaran kursi
d) Pegang bayi dengan 1 lengan, hindari kepala bayi tengadah dan tahan
bokong bayi dengan telapak tangan ibu
e) Letakkan satu tangan bayi dibelakang badan ibu dan 1 tangan lagi
didepan
f) Tempel perut bayi pada badan ibu, hadapkan kepala bayi ke payudara
(tidak hanya membelokkan kepala bayi)
g) Letakkan telinga dan lengan bayi pada satu garis lurus
h) Tatap bayi dengan kasih sayang
i) Regang payudara dengan satu jari diatas dan jari lainnya menopang di
bawah.
Hindari menekan putting susu atau areolanya saja :
(1) Rangsang bayi untuk membuka mulut atau reflek rooting dengan
menyentuh pipi dengan putting susu atau menyentuh sisi mulut
bayi
(2) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat dekatkan kepala bayi
ke payudara ibu mengenai putting serta masukkan areola ke mulut
bayi.
(3) Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi,
sehingga putting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi
akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang
terletak di bawah areola
119

(4) Setelah bayi mulai menghisap, payudara tak perlu dipegang atau
disangga lagi. (Askeb Ibu Nifas & Deteksi Dini Komplikasi ECG,
2013:32-34).

10)Manfaat ASI eksklusif


a) Manfaat untuk bayi
Nutrisi dan vitamin, imunitas seluler, tidak menimbulkan alergi,
mempunyai efek psikologis yang menguntungkan, meningkatkan
kualitas generasi penerus bangsa. (Askeb Ibu Nifas & Deteksi Dini
Komplikasi ECG, 2013: 17)
b) Manfaat untuk ibu
Merangsang terbentuknya oksitosin melalui isapan bayi pada
payudara, membantu involusio uterus sehingga mengurangi perdarahan
pasca persalinan, menjalin kasih sayang antara ibu dan bayi, dan bisa
menekan hormon untuk ovulasi sehingga menunda kesuburan. (Askeb
Ibu Nifas & Deteksi Dini Komplikasi ECG, 2013:24).
e. Neonatus
1) Definisi
Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan
harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra
uterin. Beralih dari ketergantungan mutlak pada ibu menuju kemandirian
fisiologi. Tiga faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi dan proses
vital neonatus yaitu maturasi, adaptasi dan toleransi (Rukiyah. YA, dkk,
2012 : 2).

2) Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan di Luar Uterus


a) Sistem Pernapasan
Rangsangan gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal
berikut :
(1) Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (stimulasi
mekanik).
(2) Penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 merangsang kemoseptor
yang terletak di sinus karotikus (stimulasi kimiawi).
120

(3) Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di dalam


uterus (stimulasi sensorik).
(4) Refleks deflasi Hering Breur.
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30
menit pertama sesudah lahir. Usaha bayi pertama kali untuk
mempertahankan tekanan alveoli, selain karena adanya surfaktan,
juga karena adanya tarikan napas dan pengeluaran napas dengan
merintih sehingga udara bisa tertahan di dalam. Cara neonatus
bernapas dengan bernapas diafragmatik dan abdominal, sedangkan
untuk frekuensi dan dalamnya bernapas belum teratur. Apabila
surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru – paru
kaku, sehingga terjadi atelektasis. Dalam kondisi seperti ini
(anoksia), neonatus masih dapat mempertahankan hidupnya
karena adanya kelanjutan metabolisme anaerobik (Dewi. LNV,
2012 : 12).
b) Peredaran Darah
Setelah bayi lahir, paru akan berkembang yang akan
mengakibatkan tekanan arteriol dalam paru menurun yang diikuti
dengan menurunnya tekanan pada jantung kanan. Kondisi ini
menyebabkan tekanan jantung kiri lebih besar dibandingkan dengan
tekanan jantung kanan, dan hal tersebutlah yang membuat foramen
ovale secara fungsional menutup. Hal ini terjadi pada jam – jam
pertama setelah kelahiran. Oleh karena tekanan dalam paru turun dan
tekanan dalam aorta desenden naik dan juga karena rangsangan
biokimia (PaO2 yang naik) serta duktus arteriosus yang berobliterasi.
Hal ini terjadi pada hari pertama.
Aliran darah paru pada hari pertama kehidupan adalah 4 – 5
liter per menit/ m2. Aliran darah sistolik pada hari pertama rendah yaitu
1,96 liter/menit/m2 dan bertambah pada hari kedua dan ketiga (3,54
liter/m2) karena penutupan duktus arteriosus. Tekanan darah pada
waktu lahir dipengaruhi oleh jumlah darah yang melalui transfusi
plasenta yang pada jam – jam pertama sedikit menurun, untuk
121

kemudian naik lagi dan menjadi konstan kira – kira 85/40 mmHg
(Dewi. LNV, 2012 : 13).
c) Suhu Tubuh
Empat kemungkinan mekanisme yang dapat menyebabkan bayi baru
lahir kehilangan panas tubuhnya menurut (Dewi. LNV, 2012 : 13-14).

(1) Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang
kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh
bayi ke objek lain melalui kontak langsung).
(2) Konveksi
Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang
bergerak (jumlah panas yang hilang bergantung pada kecepatan
dan suhu udara).
(3) Radiasi
Panas dipancarkan dari BBL keluar tubuhnya ke lingkungan yang
lebih dingin (pemindahan panas antara 2 objek yang mempunyai
suhu berbeda).
(4) Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan yang bergantung pada
kecepatan dan kelembapan udara (perpindahan panas dengan cara
mengubah cairan menjadi uap).
Agar dapat mencegah terjadinya kehilangan panas pada bayi,
maka lakukan hal berikut :
(a) Keringkan bayi secara seksama.
(b) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang kering dan
hangat.
(c) Tutup bagian kepala bayi.
(d) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.
(e) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru
lahir.
(f) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat
d) Metabolisme
Luas permukaan tubuh neonatus relatif lebih luas dari tubuh
orang dewasa sehingga metabolisme basal per kg berat badan akan
lebih besar. Oleh karena itulah, BBL harus menyesuaikan diri dengan
122

lingkungan baru sehingga energi dapat diperoleh dari metabolisme


karbohidrat dan lemak.
Pada jam – jam pertama kehidupan, energi didapatkan dari
perubahan karbohidrat. Pada hari kedua, energi berasal dari
pembakaran lemak. Setelah mendapat susu, sekitar di hari keenam
energi diperoleh dari lemak dan karbohidrat yang masing – masing
sebesar 60 dan 40% (Dewi. LNV, 2012 : 14).
e) Keseimbangan Air dan Fungsi Ginjal
Tubuh BBL mengandung relatif banyak air. Kadar natrium juga
relatif lebih besar dibandingkan dengan kalium karena ruangan
ekstraseluler yang luas. Fungsi ginjal belum sempurna karena :
(1) Jumlah nefron masih belum sebanyak orang dewasa.
(2) Ketidakseimbangan luas permukaan glomerulus dan volume
tubulus proksimal.
(3) Renal blood flow relatif kurang bila dibandingkan dengan orang
dewasa (Dewi. LNV, 2012 : 15).
f) Imunoglobulin
Bayi baru lahir tidak memiliki sel plasma pada sumsum tulang
juga tidak memiliki lamina propia ilum dan apendiks. Plasenta
merupakan sawar, sehingga fetus bebas dari antigen dan stres
imunologis. Pada BBL hanya terdapat gamaglobin G, sehingga
imunologi dari ibu dapat berpindah melalui plasenta karena berat
molekulnya kecil. Akan tetapi, bila ada infeksi yang dapat melalui
plasenta (lues, toksoplasma, herpes simpleks, dan lain – lain) reaksi
imunologis dapat terjadi dengan pembentukan sel plasma serta
antibodi gama A, G dan M (Dewi. LNV, 2012 : 15).
g) Traktus Digestivus
Traktus digestivus relatif lebih berat dan lebih panjang
dibandingkan dengan orang dewasa. Pada neonatus, traktus digestivus
mengandung zat bewarna hitam kehijauan yang terdiri atas
mukopolisakarida atau disebut juga dengan mekonium. Pengeluaran
mekonium biasanya pada 10 jam pertama kehidupan dan dalam 4 hari
setelah kelahiran biasanya feses sudah berbentuk dan bewarna biasa.
123

Enzim dalam traktus digestivus biasanya sudah terdapat pada neonatus,


kecuali enzim amilase pankreas (Dewi. LNV, 2012 : 15).
h) Hati
Segera setelah lahir, hati menunjukkan perubahan kimia dan
morfologis yang berupa kenaikan kadar protein dan penurunan kadar
lemak serta glikogen. Sel hemopoetik juga mulai berkurang, walaupun
dalam waktu yang agak lama. Enzim hati belum aktif benar pada
waktu bayi baru lahir, daya detoksifikasi hati pada neonatus juga
belum sempurna, contohnya pemberian obat kloramfenikol dengan
dosis lebih dari 50 mg/kgBB/hari dapat menimbulkan grey baby
syndrome (Dewi. LNV, 2012 : 15).
i) Keseimbangan Asam Basa
Tingkat keasaman (pH) darah pada waktu lahir umumnya
rendah karena glikolisis anaerobik. Namun, dalam waktu 24 jam,
neonatus telah mengompensasi asidosis ini (Dewi. LNV, 2012 : 15).
j) Pemberian Minum
Salah satu dan yang pokok minuman yang hanya boleh
dikonsumsi oleh bayi baru lahir dan diberikan secara cepat/ dini adalah
Air Susu Ibu (ASI), karena ASI merupakan makanan yang terbaik bagi
bayi. ASI diketahui mengandung zat gizi yang paling sesuai kualitas
dan kuantitasnya untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Berikan
ASI sesering mungkin sesuai keinginan bayi (On demand) atau sesuai
keinginan ibu (jika payudara penuh) atau sesuai kebutuhan bayi setiap
2 – 3 jam (paling sedikit setiap 4 jam), berikan ASI dari salah satu
payudara sampai payudara benar – benar kosong, setelah itu kalau
masih kurang baru diganti dengan payudara sebelahnya.
Jangan berikan makanan atau minuman lain selain ASI (ASI
eksklusif selama 6 bulan), kecuali ada alasan medis (sangat jarang atau
tidak memiliki ASI), berikan ASI sesuai dengan dorongan alamiah
(kapanpun dimanapun) selama bayi menginginkan.
Tanda posisi bayi menyusu dengan baik yaitu dagu menyentuh
payudara, mulut bayi terbuka lebar, hidung mendekat atau kadang
menyentuh payudara, mulut mencakup sebanyak mungkin areola, lidah
124

menopang puting dan areola bagian bawah, bibir bawah melengkung


keluar, bayi menghisap dengan kuat namun perlahan dan kadang –
kadang berhenti sesaat (Rukiyah. YA, dkk, 2012 : 66).
k) Eliminasi pada Neonatus
(1) BAB
Jumlah feses pada bayi baru lahir cukup bervariasi selama minggu
pertama dan jumlah paling banyak adalah antara hari ketiga dan
keenam. Feses transisi (kecil – kecil berwarna coklat sampai hijau
karena adanya mekonium) dikeluarkan sejak hari ketiga sampai
keenam. Bayi baru lahir yang diberi makan lebih awal akan lebih
cepat mengeluarkan tinja dari pada mereka yang diberi makan
kemudian. Tinja dari bayi yang disusui ibu lunak berwarna kuning
emas dan tidak menyebabkan iritasi pada kulit bayi. Bayi biasanya
dalam 3 hari pertama BAB, tinja masih dalam bentuk mekonium
dan normalnya bayi BAB paling tidak 1 x sehari.
(2) BAK
Fungsi ginjal yang mirip dengan fungsi yang dimiliki pada orang
dewasa belum terbentuk pada tahun kedua yang dimiliki oleh bayi.
Biasanya sejumlah kecil urine terdapat pada kandung kemih bayi
saat lahir tapi BBL mungkin tidak mengeluarkan urine selama 12
– 24 jam. Berkemih sering terjadi setelah periode ini. Berkemih 6
– 10 x dengan warna urine pucat menunjukan masukan cairan
yang cukup atau berkemih > 8 x pertanda ASI cukup. Umumnya
bayi cukup bulan mengeluarkan urine 15 – 16 ml/kg/hari. Untuk
menjaga bayi tetap bersih, hangat dan kering, maka setelah BAK
harus diganti popoknya (Rukiyah. YA, dkk, 2012 : 69).
(3) Kebutuhan Istirahat/ Tidur
Dalam 2 minggu pertama setelah lahir, bayi normalnya sering
tidur. Neonatus sampai usia 3 bulan rata – rata tidur sekitar 16 jam
sehari. Pada umumnya bayi mengenal malam hari pada usia 3
bulan. Sediakan selimut dan ruangan yang hangat pastikan bayi
tidak terlalu panas atau terlalu dingin.
125

Jumlah total tidur bayi akan berkurang seiring dengan


bertambahnya usia bayi (Rukiyah. YA, dkk, 2012 : 71).
(4) Menjaga Kebersihan Bayi
Memandikan harian pada bayi dilakukan, harus diruangan yang
hangat, bebas dari hembusan angin langsung dan tergantung
kondisi udara jangan memandikan bayi langsung saat bayi baru
bangun tidur, karena sebelum adanya aktivitas dan pembakaran
energi dikhawatirkan terjadi hipotermi dan bayi masih kedinginan,
prinsip memandikan bayi adalah : cepat dan hati – hati, lembut
pada saat memandikan usahakan membasahi bagian – bagian
tubuh tidak langsung sekaligus :
Bagian kepala : Lap muka bayi dengan waslap lembut,
tidak usah memakai sabun, kemudian lap
dengan handuk, lalu basahi kepala bayi
dengan air kemudian pakaikan sampo
kalau rambut kotor, kemudian di bilas lalu
keringkan dengan handuk.
Bagian tubuh : Buka pembungkus bayi (pakaian dan
popok), kalau bayi BAB bersihkan terlebih
dahulu, kemudian lap tubuh bayi dengan
cepat dan lembut memakai waslap yang
telah diberi air dan sabun mulai dari leher,
dada, perut, punggung, kaki dengan cepat,
kemudian angkat tubuh bayi dan celupkan
ke bak mandi yang telah diisi air hangat ±
37oC. Angkat tubuh bayi lalu keringkan
dengan handuk, pakaikan minyak telon
pada dada, perut dan punggung jangan
pakaikan bedak, lalu pakaikan baju,
kemudian bayi dibungkus agar hangat dan
dekapkan ke tubuh ibu (Rukiyah. YA, dkk,
2012 : 72).
126

(5) Menjaga Keamanan Bayi


Jangan sesekali meninggalkan bayi tanpa ada yang menunggu.
Hindari pemberian apapun kemulut bayi selain ASI, karena bayi
bisa tersedak (Rukiyah. YA, dkk, 2012:73).
(6) Mendeteksi Tanda – Tanda Bahaya pada Bayi antara lain :
(a) Pernapasan sulit atau lebih dari 60 x per menit.
(b) Terlalu panas (>380C) atau terlalu dingin (<360C).
(c) Kulit bayi kering (terutama 24 jam pertama), biru, pucat atau
memar.
(d) Hisapan saat menyusu lemah, rewel, sering muntah,
mengantuk berlebihan.
(e) Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk,
berdarah.
(f) Tanda – tanda infeksi seperti suhu tubuh meningkat.
(g) Tidak BAB dalam 3 hari, tidak BAK dalam 24 jam, tinja
encer, ada lendir atau darah.
(h) Menggigil, rewel, lemas, mengantuk, kejang, tidak bisa
tenang, menangis terus menerus (Rukiyah. YA, dkk, 2012 :
73).

f) Asuhan Kebidanan pada Akseptor KB


1) Pengertian
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan
jarak dan jarak anak yang diinginkan. Agar dapat mencapai hal tersebut,
maka dibuatlah beberapa cara atau alternatife untuk mencegah atau
menunda kehamilan.
Menurut UU No. 10/ 1992 Keluarga Berencana adalah upaya
peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil
yang bahagia dan sejahtera. Metode konrtrasepsi bekerja dengan dasar
mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi sel telur wanita
(fertilisasi), atau mencegah sel telur yang dibuahi untuk berimplantasi
127

(melekat) dan berkembang didalam rahim. Kontrasepsi dapat bersifat


reversibel (kembali) atau permanen (tetap) kontrasepsi yang reversibel
adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek
samping lama dan mengembalikan kesuburan atau kemampuan kembali
untuk memiliki anak. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut
sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan
kesuburan karena melibatkan tindakan operasi.
Metode kontrasepsi juga dapat digolongkan berdasarkan cara
kerjanya yaitu : metode barrier (penghalang), contohnya kondom yang
menghalangi sperma, metode hormonal seperti konsumsi pil. Dan metode
kontrasepsi alami yang tidak menggunakan alat bantu maupun hormonal,
namun berdasarkan fisiologis seorang wanita dengan tujuan untuk
mencegah fertilisasi (Sulistyowati, 2013: 12).
2) Tujuan Program Kontrasepsi
Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan
kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan
kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia
perkawinan, peningkatan ketahanan keluarga. Hal ini sesuai dengan teori
pembangunan menurut Alex Inkeles dan Davit Smith yang mengatakan
bahwa pembangunan bukan sekedar perkara pemasok modal dan
teknologi saja tapi juga membutuhkan sesuatu yang mampu
mengembangkan sarana yang berorientasi pada masa sekaran dan masa
depan, memiliki kesangggupan untuk merencanakan, dan percaya bahwa
manusia dapat mengubah alam, bukan sebaliknya (Pelayanan KB
Sulistyowati, 2013: 13).
3) Suntik atau Injeksi
a) Profil
(1) Sangat efektif
(2) Aman
(3) Dapat dipakai oleh semua perempuan
(4) Kembalinya kesuburan lebih lambat, rata-rata empat bulan
(5) Cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI
b) Jenis
128

Tersedia dua jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung


progestin, yaitu sebagai berikut :
(1) Depomendroksi Progesteron Asetat (DMPA), mengandung 150
mg DMPA yang diberikan setiap tiga bulan dengan cara disuntikan
intramuscular (didaerah bokong)
(2) Depo Noretisteron Enantat(Depo Noristerat), mengandung
200 mg noretrindon enantat, diberikan setiap dua bulan dengan
cara suntik intramuscular
c) Cara Kerja
(1) Mencehgah ovulasi
(2) Mengentalkan lender servik sehingga menurunkan kemampuan
penetrasi sperma
(3) Menjadikan selaput lendir tipis dan atrofi
(4) Menghambat transportasi gamet oleh tuba
d) Evektivitas
Kedua jenis suntik tersebut memiliki efektivitas yang tinggi,
dengan 30% kehamilan per 100 perempuan per tahun, asal
penyuntikan dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah
ditentukan.
e) Keuntungan (Buku Pelayanan KB Sarwono, 2010: MK- 43)
(1) Sangat efektif
(2) Pencegahan kehamilan jangka panjang
(3) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
(4) Tidak mengandung esterogen, sehingga tidak berdampak serius
terhadap penyakit jantung dan pembekuan darah
(5) Tidak memiliki pengaruh terhadap prodiksi ASI
(6) Efek samping sedikit
(7) Klien tidak pernah menyimpan obat suntik
(8) Dapat digunakan oleh perempuan usia lebih dari 35 tahun
sampai perimenopause
(9) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
(10) Kejadian kejadian tumor jinak payudara
(11) Mencegah beberapa penyebab radang panggul
(12) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cel)
f) Ketebatasan
(1) Sering ditemukan gangguan haid, seperti : siklus haid yang
memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit,
perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting), tidak
haid sama sekali.
(2) Klien tidak bergantung pada sarana pelayanan kesehatan
129

(3) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntik berikutnya


(4) Sering menimbulkan efek samping masalah berat badan
(5) Tidak menjamin perlindungan terhadap penyakit infeksi menular
seksual, hepatitis B, inveksi virus HIV.
(6) Terjadi perubahan pada lipid serum dengan penggunaan jangka
panjang
(7) Gangguan jangka panjang yaitu dapat sedikit menurunkan
kepadatan tulang (densitas)
(8) Terlambat kembali kesuburan setelah penghentian penggunaan.
Bukan karena kerusakan organ genetalia, tapi karena belum
habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat suntikan)
(9) Pada penggunaan jangka panjang juga dapat menimbulkan
kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi
(jarang), sakit kepala gugup atau jerawat.
g) Klien Yang Dapat Menggunakan Kontrasepsi Suntik Progestin
(1) Usia Reproduksi
(2) Telah memiliki anak
(3) Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memilki
efektivitas tinggi
(4) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
(5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
(6) Setelah abortus atau keguguran
(7) Telah memiliki banyak anak tapi belum menghendaki tubektomi
(8) Perokok
(9) Tekanan darah < 180/ 110 mmHg dengan masalah gangguan
pembekuan darah ataau dengan anemia bulan sabit
(10) Tidak dapat mengguanakan kontrasepsi yang menggunakan
esterogen
(11) Menggunakan obat untuk epilepsy (fenitoin dan barbiturate) atau
obat tuberkolusis (rifampisin)
(12) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
(13) Anemia defisiensi besi
(14) Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh
menggunakan pil kontrasepsi kombinasi (Buku Panduan Praktis
Pelayanan KB Sarwono, 2010: MK- 43)
h) Klien Yang Tidak Boleh Menggunakan Konsepsi Suntik Progestin
(1) Hamil atau dicurigai hamil
(2) Memiliki riwayat perdarahan pervaginam yang belum tentu
diketahui penyebabnya
130

(3) Tidak menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenore


(4) Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
(5) Menderita diabetes melitus disertai komplikasi
i) Waktu Untuk Mulai Menggunakan Kontrasepsi Suntik Progestin
(1) Setiap saat selama siklus haid , dengan syarat tidak hamil
(2) Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid
(3) Pada perempuan yang tidak haid, injeksi pertama dapat diberikan
setiap saat, dengan syarat tidak hamil. Selama 7 hari setelah
suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual
(4) Perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan
ingin mengganti dengan kontrasepsi suntik. Apabila telah
menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara benar dan
tidak hamil, suntik pertama dapat diberikan tanpa perlu menunggu
sampai haid berikutnya datang
(5) Apabila sedang menggunakan satu kontrasepsi satu jenis
kontrasepsi suntik dan ingin menggantinya dengan jenis
kontrasepsi suntik yang lain, kontrasepsi suntik yang akan
diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntik sebelumnya
(6) Perempuan yang mrnggunakan kontrasepsi nonhormonal dan
ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal. Suntik pertama
kontrasepsi hormonal yang akan diberikan dapat segera diberikan,
dengan syarat tidak hamil dan pemberiannya tidak perlu
menunggu haid berikutnya datang. Apabila suntik hari ke-7 haid,
maka selama 7 hari setelah di suntik tidak boleh melakukan
hubungan seksual
(7) Ingin mengganti AKDR dengan kontrasepsi hormonal. Suntik
pertama dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus
haid.
(8) Tidak haid dengan perdarahan tidak teratur. Suntik pertama dapat
diberikan setiap saat, dengan syarat tidak hamil, dan selama 7 hari
setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
131

j) Cara Penggunaan Kontrasepsi Suntik


(1) Kontrasepsi DMPA diberikan setiap tiga bulan dengan cra disuntik
intramuskular dalam didaerah bokong. Apabila suntik diberikan
terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi suntik akan lambat dan
tidak bekerja secara efektif. Suntikan diberikan setiap 90 hari.
Pemberian kontrasepsi suntikan Noristerat untuk tiga injeksi
berikutnya diberikan setiap delapan minggu. Mulai dengan injeksi
kelima diberikan setiap 12 minggu
(2) Berikan kulit daerah suntkan dengan kapas alkohol yang dibasahi
oleh etil/ isopropil alkohol 60-90%, biarkan kulit kering sebelum
disuntik, lalu setelah kering baru disuntik
(3) Kocok dengan baik dan hindari terjadinya gelembung udara.
Kontrasepsi suntik tidak perlu didinginkan. Apabila terjadi
endapan warna putih pada dasar ampul, upayakan
menghilangkannya dengan menghangatkannya
k) Peringatan Bagi Pemakai Kontrasepsi Suntikan Progestin
(1) Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan
kehamilan
(2) Nyeri abdomen bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan
ektopik terganggu
(3) Timbul abses atau perdarahan ditempat injeksi
(4) Sakit kepala, migran, sakit kepala berulang yang berat, atau
kaburnya penglihatan
(5) Perdarahan berat 2 kali lebih panjang dari masa haid atau 2 kali
lebih banyak dalam satu periode
(6) Apabila terjadi hal-hal yang disebutkan, hubungi segera tenaga
kesehatan atau klinik
l) Penanganan Ganngguan Haid
(1) Amenorea (tidak terjadi perdarahan)
(2) Apabila tidak hamil, maka tidak perlu pengobatan apapun.
Jelaskan darah haid tidak terkumpul dalam rahim dan nasehati
untuk kembali ke klinik. Apabila telah terjadi kehamilan, rujuk
132

klien dan hentikan penyuntikan. Jelaskan bahwa hormone


progestin tidak akan menimbulkan kelainan pada janin
(3) Apabila terjadi kehamilan ektopik, rujuk klien segera
(4) Jangan berikan terapi hormonal untuk menimbulkan perdarahan
karena tidak akan berhasil. Tunggu 3-6 bulan kemudian, bila tidak
terjadi perdaraha juga, rujuk ke klinik
(5) Perdarahan atau perdarahan bercak (spotting)
Bila klien tidak dapat menerima perdarahan tersebut dan ingin
melanjutkan suntikan., maka disarankan dua pilihan pengobatan
yaitu preparat esterogen dan progesteron. Apabila mempunyai
penyakit hati akut, penyakit jantung dan stroke, sebaiknya jangan
menggunakan kontrasepsi suntik (Pelayanan KB Salemba Medika,
2013: 75-80).
2. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan
a. Management Kebidanan
1) Pengertian Manajemen Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang


digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan
dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang
berfokus pada klien (Varney, 1997).

2) Langkah Managemen Kebidanan


Manajemen kebidanan menyangkut pemberian layanan yang utuh
dan menyeluruh kepada kliennya, yang merupakan suatu proses
manajemen kebidanan yang diselenggarakan untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas melalui tahapan-tahapan dan langkah-
langkah yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan data,
memberikan pelayanan yang benar sesuai dengan keputusan tindakan
klinik yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien.

Asuhan kebidanan ini menggunakan metode pemecahan masalah


dengan proses manajemen kebidanan menurut Hellen Varney yang terdiri
133

dari 7 langkah yaitu :

Langkah 1 : Pengumpulan data dasar

Langkah ini menentukan langkah berikutnya, sehingga


kelengkapan data akan menentukan proses interpretasi yang
benar. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :

a) Pengambilan riwayat.
b) Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan
pemeriksana tanda-tanda vital.
c) Pemeriksaan khusus.
d) Pemeriksaan penunjang.
Langkah 2 : Interpretasi data dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnose


atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang
telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan
diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnose dan
masalah yang spesifik. Masalah adalah problema yang
dialami ibu tetapi tidak termasuk ke dalam diagnosa
kebidanan, contoh :cemas, masalah ekonomi. Diagnose
kebidanan adalah diagnose yang ditegakkan bidan dalam
lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar
nomenklatur diagnose kebidanan. Standar nomenlakter
diagnose kebidanan :

a) Diakui dan telah disyahkan oleh profesi.


b) Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan.
c) Memiliki ciri khas kebidanan.
d) Didukung oleh clinical judgement dalam praktik
kebidanan.
e) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen
134

kebidanan.
Langkah 3 : Identifikasi diagnosa/ masalah potensial dan antisipasi
penangannnya. Langkah yang bersifat antisipasi yang
rasional/ logis, bukan hanya merumuskan tetapi juga
mengantisipasi.

Langkah 4 : Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera.

Tindakan segera terhadap kondisi yang diperkirakan akan


membahayakan klien. Bidan harus bertindak segera untuk
kepentingan keselamatan jiwa ibu.

Langkah 5 : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh.

Hal ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah


atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.
Informasi data yang tidak kurang dapat dilengkapi. Rencana
asuhan menyeluruh : penyuluhan, konseling dan lain-lain.

Langkah 6 : Pelaksanaan/ implementasi

Pemberian asuhan dapat dilakukan oleh bidan, klien/


keluarga atau tim kesehatan lainnya. Tanggung jawab utama
tetap berada pada bidan untuk mengarahkan
pelaksanaannya. Asuhan dapat dilakukan secara efisien dan
aman guna, untuk hemat waktu, hemat biaya, mutu
meningkat/ berkualitas.

Langkah 7 : Evaluasi terhadap asuhan yang dilakukan.

Dilakukan untuk mengevaluasi keefektifan asuhan yang


diberikan. Dapat menjadi dasar untuk menegakkan diagnose
selanjutnya.

b. Dokumentasi Kebidanan (SOAP)


135

Di dalam memberikan asuhan kebidanan digunakan 7 langlah


manajemen Varney sebagai catatan perkembangan dilakukan asuhan
kebidanan SOAP dalam pendokumentasian. Dokumentasi sangat penting
karena :

1) Menjadi sumber data catatan nasional, riset dan statistic mortalitas/


morbiditas.
2) Merupakan sumber untuk meningkatkan mutu
pemberian asuhan.
3) Merupakan sumber informasi.
4) Memfasilitasi pemberian asuhan yang
berkesinambungan.
5) Memudahkan evaluasi pelaksanaan/ implementasi
asuhan.
Dalam pendokumentasian menggunakan SOAP karena :
1) Sistematis
2) Ringkas
3) Mengorganisir pemikiran.
4) Digunakan oleh banyak profesi.
5) Memudahkan komunikasi dan bekerja sama.
Pendokumentasian menggunakan SOAP yaitu :

S : Subyektif

Informasi data / data subyektif yang diperoleh dari apa yang


dikatakan klien, keluarganya atau dokumentasi pelaksanaan asuhan
(Langkah I Varney ).

O : Obyektif

Data yang diperoleh dari apa yang dilihat dan diperiksa oleh bidan
sewaktu melakukan pemeriksaan, hasil pemeriksaan laboratorium
serta hasil pemeriksaan penunjang lainnya (Langkah I Varney).

A : Analisa
136

Kesimpulan yang dibuat berdasarkan interpretasi yang benar


terhadap data subyektif dan obyektif yang sudah dikumpulkan.
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan intrepretasi
data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi. Dx / masalah
merupakan langkah II Varney. Dx potensial dan analisa merupakan
langkah III Varney. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter,
konsultasi/ kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah II, III, dan
IV Varney.

P : Penatalaksanaan

Pelaksanan dari tindakan untuk menangani diagnosa atau masalah.


Disertai evaluasi tindakan langkah ke V, VI, VII Varney (D3
Kebidanan, 2010).

Kewenangan Bidan sesuai Permenkes 1464

Pasal 9
1) Pelayanan kesehatan ibu
2) Pelayanan kesehatan anak
3) Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
Pasal 10

1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf a


diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas,
masa menyusui dan masa antara dua kehamilan.

2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :


3) Pelayan konseling pada masa pra hamil
4) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
5) Pelayanan persalinan normal
6) Pelayanan ibu nifas normal
7) Pelayanan ibu menyusui
8) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
9) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat 2
berwenang untuk :
a) Episiotomi
b)Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
137

c) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan


d)Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
e) Pemberian Vit A dosis tinggi pada ibu nifas
f) Bimbingan inisiasi menyusui dini dan promosi ASI eksklusif
g)Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan post partum.
h)Penyuluhan dan konseling
i) Bimbingan pada kelompok ibu hamil
j) Pemberian surat keterangan kematian
k) Pemberian surat keterangan cuti bersalin
Pasal 11
1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf b
diberikan pada bayi baru lahir, bayi, anak balita, dan anak pra sekolah
2) Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk :
a) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi
b) Pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini, injeksi vit K 1,
perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hr)
c) Perawatan tali pusat
d) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
e) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan rujukan
f) Pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah
g) Pemantauan tubuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah
h) Pemberian konseling dan penyuluhan
i) Pemberian surat keterangan kelahiran
j) Pemberian surat keterangan kematian
Pasal 12
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan
keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c berwenang
untuk :
1) Memberikan penyuluhan dan konseling; kesehatn reproduksi perempuan
dan keluarga berencana
2) Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom
Pasal 13
1) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10, 11, dan 12,
bidan yang menjalankan program pemerintah berwenang melakukan
pelayanan kesehatan meliputi :
a) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan
alat kontrasepsi bawah kulit
b) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis
tertentu dilakukan dibawah supervisi dokter
c) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan
138

d) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu


dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan
e) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah, dan
anak sekolah
f) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
g) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan
h) Terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian
i) Kondom, dan penyakit lainnya
j) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat
k) Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi
l) Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah
2) Pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal terintegrasi,
penanganan bayi dan anak balita sakit, dan pelaksanaan deteksi dini,
merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual
(IMS) dan penyakit lainnya, serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) hanya dapat dilakukan
oleh bidan yang telah dilatih untuk itu.
Pasal 14
1) Bagi bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki
dokter, dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.
2) Daerah yang tidak memiliki dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah kecamatan atau kelurahan/desa yang ditetapkan oleh kepala dinas
kesehatan kabupaten/kota
3) Dalam hal daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah terdapat
dokter, kewenangan bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku.
Pasal 15
Pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota menugaskan bidan praktek
mandiri tertentu untuk melaksanakan program pemerintah
1) Bidan praktek mandiri yang ditugaskan sebagai pelaksana program
pemerintah berhak atas pelatihan dan pembinaan dari pemerintah daerah
provinsi/kabupaten/kota
Pasal 16
1) Pada daerah yang beum memiliki dokter, pemerintah dan pemerintah
daerah harus menempatkan bidan dengan pendidikan minimal Diploma
III Kebidanan.
139

2) Apabila tidak terdapat tenaga bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
pemerintah dan pemerintah daerah dapat menempatkan bidan yang telah
mengikuti pelatihan.
3) Pemerintah daerah propinsi/kabupaten/kota bertanggung jawab
menyelenggarakan pelatihan bagi bidan yang memberikan pelayanan di
daerah yang tidak memiliki dokter.

Pasal 17
1) Bidan dalam menjalankan praktik mandiri harus memenuhi persyaratan
meliputi :
a) Memiliki tempat praktek, ruangan praktik dan peralatan untuk tindakan
asuhan kebidanan, serta peralatan untuk menunjang pelayanan
kesehatan bayi, anak balita dan pra sekolah yang memenuhi
persyaratan lingkungan sehat
b) Menyediakan maksimal 2 (dua) tempat tidur untuk persalinan
c) Memiliki sarana, peralatan dan obat sesuai dengan ketentuan yang
berlaku
2) Ketentuan persyaratan tempat praktik dan peralatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) satu tercantum dalam Lampiran Peraturan ini
Pasal 18
1) Dalam melaksanakan praktek/kerja, bidan berkewajiban untuk :
a) Menghormati hak pasien
b) Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan
pelayanan yang dibutuhkan
c) Merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapat ditangani
dengan tepat waktu
d) Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan
e) Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
f) Melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan pelayanan lainnya secara
sistematis
g) Mematuhi standar
h) Melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan praktik
kebidanan termasuk pelaporan kelahiran dan kematian
2) Bidan dalam menjalankan praktik/kerja senantiasa meningkatkan mutu
pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan iptek melalui
pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya
140

3) Bidan dalam menjalankan praktik kebidanan harus membantu program


pemerintah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
Pasal 19
Dalam melaksanakan praktek bidan mempunyai hak :
1) Memperoleh perlindungan hukum dalam pelaksanaan praktik/kerja
sepanjang sesuai dengan standar
2) Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien dan/atau
keluarganya
3) Melaksanakan tugas sesuai dengan kewenangan dan standar
4) Meminta imbalan jasa profesi
c. Rasionalisasi Asuhan Kebidanan
1) Asuhan kebidanan ibu hamil
a) Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang disampaikan oleh pasien,
dicatat sebagai kutipan langsung, mencatat tanda-tanda dan perilaku
pasien tanpa melihat taksiran atau kesimpulan.

(1) Biodata
Berisi biodata klien dengan penanggung jawab yang
meliputi nama pasien, umur, tanggal lahir, nama suami, umur
agama, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.

(2) Anamnesa dengan pasien.


(a) Keluhan utama
Yaitu keluhan yang dirasakan ibu saat ini.

(b) Riwayat kesehatan


(i) Riwayat kesehatan sekarang, yaitu untuk mengetahui
kesehatan yang sedang dialami ibu.
(ii) Riwayat kesehatan dahulu, yaitu untuk mengetahui
penyakit yang dialami pada waktu yang lalu.
(iii) Riwayat kesehatan keluarga yaitu untuk mengetahui
apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
menurun, menular, dan keturunan kembar.
(c) Riwayat Obstetri Ibu
141

(i) Riwayat menstruasi


Yaitu untuk mengetahui maturitas bayi. Data yang dikaji
meliputi menarche, siklus haid, haid bulan sebelumnya,
lamanya, jumlahnya, sifat darah, teratur/tidak, dan
adanya nyeri saat menstruasi.

(ii) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu.


Untuk mengetahui riwayat kehamilan, persalinan, nifas
yang lalu, adakah penyakit dalam masa tersebut.
Pengkajian ini meliputi: tanggal, tahun, persalinan, umur
kehamilan, jenis persalinan, pertolongan nifas, keadaan
anak (jenis kelamin, berat badan, keadaan anak
sekarang).

(iii) Riwayat kehamilan sekarang.


Untuk mengetahui kondisi bayi saat dalam kandungan.
Pengkajian ini meliputi: hamil ke berapa, umur
kehamilan. ANC, gerakan janin, HPHT. HPL.

(iv) Riwayat Perkawinan. Yaitu untuk mengetahui usia waktu


nikah, lama perkawinan, perkawinan ke berapa, dan
jumlah anak dari perkawinan tersebut.
(v) Riwayat KB
Untuk mengetahui kontrasepsi yang digunakan ibu
sebelum kehamilan sekarang, apakah sudah direncanakan
atau akibat dari kegagalan kontrasepsi.

(d) Pola kebiasaan sehari-hari selama hamil.


(i) Pola Nutrisi
Yaitu pengkajian tentang asupan nutrisi ibu yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan janin, diet pada wanita
hamil mensuplai kebutuhan ibu dan juga janin, pada
dasarnya dianjurkan makanan 4 sehat 5 sempuma.
142

Kebutuhan total tiap hari harus ditambahkan 2500 kalori,


100 gr protein, lemak 100 gr dan karbohidrat 300 gr.

(ii) Pola Eliminasi


Pengkajian tentang BAB dan BAK yang meliputi
frekuensi, warna, konsistensi. Data obyektif mencakup
tanda-tanda yang berasal dari pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan USG. Pada kehamilan, kebiasaan BAB
cenderung menjadi lebih tidak teratur, karena relaksasi
otot polos dan kompresi usus bawah oleh uterus yang
membesar, atau presen'rasi janin. Konstipasi dapat
dicegah dengan banyak minum, makan makanan berserat
dan cukup olah raga. Sering berkemih merupakan hal
umum yang terjadi selama bulan pertama dan terakhir
kehamilan karena rongga perut dipenuhi oleh uterus dan
peningkatan sensitivitas kongesti darah jaringan.

(iii) Pola Aktivitas dan Istirahat


Untuk mengetahui pola aktivitas dan istirahat apakah ada
masalah dalam hal tersebut. Pekerjaan yang membuat
wanita hamil mengalami ketegangan fisik yang berat
hendaknya dihindarkan. Jadwal istirahat dan tidur perlu
diperhatikan dengan baik, karena dapat meningkatkan
kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan
perkembangan dan pertumbuhan janin .

(iv) Pola Pesonal Hygiene


Untuk mengetahui cara menjaga kebersihan. Selama
hamil ibu perlu menjaga kebersihan diri, karena dengan
adanya perubahan hormonal maka rongga mulut dan
jalan lahir lebih peka terhadap infeksi. Ibu perlu mandi
143

dan sikat gigi teratur minimal 2 kali sehari dan lebih


sering ganti pakaian terutama bagian dalam.

(v) Pola seksual


Pengkajian tentang frekuensi hubungan seksual, apakah
ada masalah yang mempengaruhi kehamilan selama
melakukan hubungan seksual. Aktivitas seksual selama
hamil dapat dilanjutkan menurut keinginan. Frekuensi,
intensitas, posisi untuk kegiatan seksual memerlukan
penyesuaian bagi wanita hamil karena perubahan postur
tubuhnya. Kecuali jika wanita hamil memiliki riwayat
abortus spontan atau persalinan prematur maka hubungan
seksual tidak bileh dilakukan selama 2-3 bulan pertama
dan bulan terakhir.

(e) Riwayat Psiko Sosio Spiritual


Untuk mengetahui keadaan psikologis apakah keluarga
menerima kehamilan saat ini, hubungan dengan keluarga. dan
ketaatan ibu dalam menjalankan ibadah.

(f) Dukungan Keluarga


Untuk mengetahui sejauh mana keluarga mendukung
kehamilan ini terutama suami.

(g) Pengambilan Keputusan


Untuk mengetahui dalam keluarga, siapa pengambil
keputusan, sehingga bila sewaktu-waktu memerlukan
rujukan.

(h) Tempat dan petugas kesehatan yang diinginkan untuk


membantu persalinan. Untuk mengetahui petugas kesehatan
atau di RS yang diinginkan ibu dan suami.
(i) Pengetahuan ibu
144

Mengetahui sejauh mana ibu mengerti dan memahami


tentang kehamilan, persalinan, nifas, dan perawatan bayi baru
lahir

b) Data Obyektif
Merupakan data yang diperoleh bidan dengan cara observasi atau
pemeriksaan.

(1) Pemeriksaan Fisik / Umum


(a) Keadaaan umum : untuk mengetahui kondisi pasien secara
umum.
(b) Kesadaran : untuk mengetahui sejauh mana
kesadaran pasien.
(c) Status emosional : untuk mengetahui emosional ibu saat ini.
(d) HPL : untuk mengetahui hari perkiraan
persalinan.
(e) Tanda Vital :
TD : untuk mengetahui tekanan darah ibu
(normalnya 120/80 mmhg)

Suhu : untuk mendeteksi dini adanya gangguan


termoregulator di hipotalamus(normalnya 36-
37,5°C).

Nadi : untuk mengetahui denyut jantung ibu


(normalnya 80-90x/menit).

Pernafasan : untuk mengetahui kelainan pada organ saluran


nafas (normalnya 18-24x/menit).

(f) BB setelah hamil


145

Untuk mengetahui kenaikan BB ibu selama hamil,


penambahan berat badan rata-rata 0,3 – 0,5 kg/minggu
(normal berat badan selama kehamilan 9-12 kg).

(g) TB
Untuk mengetahui tinggi badan ibu, berkaitan dengan
kemungkinan panggul sempit, batasan normal 145 cm.

(h) LILA
Untuk mengetahui status gizi ibu selama hamil. Normalnya >
23, 5 cm.

c) Status Praesent meliputi:


(a) Kepala
(i) Rambut : Bersih / tidak, mudah rontok / tidak.
(ii) Muka : Oedoma/ tidak, pucat / tidak, bersih/ tidak
(iii) Mata : Conjungtiva pucat / tidak, sclera ikterik/tidak.
(iv) Hidung : Simetris / tidak, bersih / tidak, ada polip /
tidak, ada sekret / tidak.

(v) Telinga : Simetris / tidak bersih / tidak.


(vi) Mulut : Bersih / tidak, ada caries / tidak.
(b) Leher : Adakah pembesaran kelenjar thyroid
(c) Dada : Simetris / tidak, ada retraksi / tidak dan
adakah kelainan.

(d) Mammae : Simetris / tidak, ada benjolan/ tidak, areola


melebar/tidak, putting susu menonjol/ tidak.

(e) Perut : Ada luka bekas operasi / tidak, striae ada /


tidak.
146

(f) Genitalia : Ada varises / tidak, oedema / tidak, flour albus


ada / tidak, ada pembesaran kelenjar bartholini
/ tidak, haemorroid ada / tidak, pada anus.
(g) Ekstremitas :
(i) Atas : Ada oedema / tidak, sianosis / tidak.
(ii) Bawah : Ada oedema / tidak, sianosis / tidak,
varices / tidak, refleks patella.

(2) Pemeriksaan Obstetri


(a) Inspeksi:
Wajah / muka : Ada oedema / tidak, pucat / tidak,

cloasma gravidarum ada / tidak.

Mammae : Simetris / tidak, ada pembesaran / benjolan

/tidak, areola melebar / tidak, puting susu


menonjol / tidak.

Abdomen : Adakah striae gravidarum dan linea alba /

nigra.

Genetalia : Bersih / tidak, tanda-tanda PMS / tidak.

(b) Palpasi:
Leopold I : Untuk menentukan umur kehamilan dan

bagian janin yang terdapat di fundus uteri.

Leopold II : Untuk menentul:an punggung janin (pada


letak membujur) dan kepala janin (pada
letak melintang).

Leopold III : Untuk menentukan bagian terendah janin


yang berada di bawah rahim.
147

Leopold IV : Untuk menentukan bagian terdepan janin


dan sudah masuk PAP atau belum.

MC Donald : Mengukur tinggi fundus uteri dari Sympisis


sampai ke fundus uteri.

TBJ : Tafsiran Berat Janin, bila

(i) (TFU - 11) x 155, bila kepala sudah masuk.


(ii) (TFU - 12) x 155, kepala belum masuk panggul.

(c) Auskultasi

Untuk mengetahui DJJ : Menghitung denyut jantung janin


selama satu menit. Iramanya teratur / tidak, letak punctum
maximum sebelah mana.

(d) Perkusi

Mengetuk reflek patella dengan hammer, ada reflek / tidak.

(e) Periksa Dalam (bila perlu) untuk menentukan pembukaan.

Bagian bawah janin, efficemen berapa %. Ketuban utuh /


sudah pecah / rembes, penurunan kepala.

(3) Pemeriksaan Penunjang Laboratorium


(a) Protein urine : Mengetahui ada/tidak kandungan protein
di dalam urine
(b) Urin Reduksi : Mengetahui ada/tidak kandungan gula
didalam urin.

(c) Hb : Menentukan kadar Hb, sehingga ibu


diketahui anemia / tidak.

(d) Golongan Darah : Mengetahui golongan darah.


148

3) Analisa

a) Diagnosa kebidanan.

Masalah potensial yang diidentifikasi berdasarkan masalah yang


sudah teridentifikasi. Langkah Selanjutnya yaitu menentukan
diagnosis. Ada 4 kemungkinan diagnosis pada ibu hamil, yaitu :

(1) Hamil Normal (37 mgg – 40 minggu)


(2) Hamil Normal dengan masalah khusus (keluarga, Keuangan,
Psikososial, KDRT, dan lain – lain)
(3) Hamil dengan penyakit/ komplikasi ( hipertensi, Anemia,
Pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat, infeksi
saluran kencing, dan lain – lain), kondisi ini memerlukan
tindakan rujukan untuk konsultasi/ penanganan bersama.

(4) Hamil dengan keadaan darurat (Perdarahan, Eklampsia, KPD,


dan lain – lain), memerlukan tindakan rujukan segera.

b) Masalah
Contoh : GII PI A0 hamil 16 minggu normal dengan wasir
berdarah dan sedih karena tidak menginginkan kehamilannya.

4) Penatalaksanaan

Pelaksanaan asuhan ini dilakukan oleh bidan, sebagian oleh pasien


sendiri atau oleh petugas kesehatan lainnya. Tetapi bidan tetap
memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

Pelaksanaan rencana asuhan ibu hamil meliputi :

a) Menjelaskan kondisi kehamilan.ih karena


b) Mendiskusikan jadwal pemeriksaan.
c) Menjelaskan pada ibu, bila memerlukan pemeriksaan khusus.
149

d) Memberitahukan beberapa gejala dalam kehamilan yang


menyebabkan ibu harus melakukan kunjungan ulang.
e) Melanjutkan pemantauan ibu dan janin selama kehamilan.
f) Merujuk segera bila ditemukan kegawatdaruratan obstetri.
2) Asuhan kebidanan ibu bersalin

a) Data Subyektif
Adalah langkah pertama yang disampaikan oleh pasien sendiri
maupun keluarga. Adapun data subyektif tersebut antara lain:

(1) Identitas/Biodata
(a) Nama : Untuk mengetahui dan mengenal Pasien.
(b) Umur : Untuk mengetahui faktor resiko yang ada
hubungannya dengan umur Ibu
(c) Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pendidikan yang
nantinya penting dalam memberikan
pendidikan kesehatan kepada klien sesuai
dengan tingkat pendidikannya.
(d) Pekerjaan : Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi.
(e) Suku/Bangsa : Untuk mengetahui faktor pembawaan/RAS
(f) Agama : Untuk memberikan motivasi kepada pasien
sesuai dengan agama yang dianut.
(g) Alamat : Untuk mengetahui lingkungan tempat
tinggalnya.
(2) Alasan Datang : Untuk mengetahui mengapa pasien datang ke
petugas kesehatan
(3) Keluhan Utama : Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan
pasien termasuk keluhan normal / tidak.

(4) Riwayat Persalinan Sekarang (HIS dan PPU)


Untuk mengetahui apa yang dirasakan pasien dan tanda-tanda apa
yang sudah terjadi.
150

(5) Riwayat Menstruasi


Untuk mengetahui tentang faal alat kandungan.

(6) Riwayat Perkawinan


Untuk mengetahui fungsi alat reproduksi baik istri maupun suami.

(7) Riwayat Kesehatan


(a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Untuk mengetahui keadaan pasien saat ini dan mengetahui
adakah penyakit lain yang memperberat keadaan ini.

(b) Riwayat Kesehatan Dahulu


Untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita apakah Ibu
pernah menderita penyakit tertentu.

(c) Riwayat Kesehatan Keluarga


Untuk mengetahui penyakit yang ada dalam keluarga adakah
penyakit yang menjadi penyakit dalam kehamilan, persalinan
dan nifas.

(8) Riwayat Kehamilan Sekarang


(a) HPHT : Untuk menentukan umur
kehamilan.
(b) Haid bulan sebelumnya : Untuk mengetahui siklus haid
(c) ANC : Untuk mengetahui apakah ada
deteksi dini penyakit dalam
kehamilan.
(d) Imunisasi TT : Untuk mengetahui apakah pasien
KB sudah diimunisasi TT.
(e) Keluhan
Untuk mengetahui adakah keluhan-keluhan yang dirasakan
pasien pada saat kehamilan.

(9) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu.


151

(a) Kehamilan : Adakah gangguan atau penyakit saat hamil


kehamilan saat ini yang keberapa.
(b) Persalinan : Apakah persalinan yang lalu spontan atau
buatan, lahir aterm atau premature, ada
pendarahan sewaktu persalinan, ditolong oleh
siapa dan dimana.
(c) Nifas : Ada infeksi atau tidak, kesulitan masa laktasi
atau tidak, ada penyakit atau tidak.
(d) Anak : Jenis kelamin, BB lahir, hidup atau mati, kalau
meninggal umur berapa dan apa sebab
meninggal.
(10) Riwayat KB, untuk mengetahui :
(a) Apakah Ibu sudah pernah ikut program KB.
(b) Jika pernah KB, jenis alat kontrasepsi apa yang dipakai,
berapa lama ia berKb dan adakah keluhan yang ia rasakan
selama ikut KB.
(c) Jika berhenti berKB apa alasannya.
(11) Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari, antara lain :
(a) Nutrisi : Untuk mengetahui gizinya apakah sudah sesuai
atau belum.
(b) Eliminasi : Untuk mengetahui adakah gangguan BAB dan
BAK pada waktu hamil dan persalinan.
(c) Istirahat : Untuk mengetahui apakah pasien istirahatnya
cukup atau tidak, karena faktor kelelahan juga
akan mempengaruhi proses persalinan.
(12) Data Psikologis dan Spiritual
Untuk mengetahui perasaan Ibu apakah senang, takut,
cemas/bingung.

b)Data obyektif
(1) Pemeriksaan Umum
152

(a) Keadaaan umum : Untuk mengetahui kondisi pasien secara


umum.
(b) Kesadaran : Untuk mengetahui sejauh mana
kesadaran pasien.
(c) Status emosional : Untuk mengetahui emosional ibu saat
ini.
(d) HPL : Untuk mengetahui hari perkiraan
persalinan.
(e) Tanda Vital
TD : Untuk mengetahui tekanan darah ibu
(normalnya 100-120/ 60-80 mmhg)

Suhu : Untuk mendeteksi dini adanya gangguan


termoregulator di hipotalamus (normalnya 36-
37, 5° C).

Nadi : Untuk mengetahui denyut jantung


ibu/normalnya 80-< 100x/menit).

Pernafasan : Untuk mengetahui kelainan pada organ saluran


nafas (normalnya 18-24x/menit).

(f) BB setelah hamil


Untuk mengetahui kenaikan BB ibu selama hamil,
penambahan berat badan rata-rata 0, 3 - 0, 5 kg/minggu
(normal berat badan selama kehamilan 9 - 12 kg).

(g) T. B
Untuk mengetahui tinggi badan ibu, berkaitan dengan
kemungkinan panggul sempit, batasan normal 145 cm.

(h) LILA
Untuk mengetahui status gizi ibu selama hamil.
153

(2) Status Present


(a) Kepala
(i) Rambut : Untuk mengetahui kebersihan rambut,
rontok apa tidak.
(ii) Muka : Untuk mengetahui tampak pucat atau tidak.
(iii) Mata : Untuk mengetahui anenera atau tidak
(iv) Hidung : Untuk mengetahui ada secret atau tidak.
(v) Telinga : Untuk mengetahui ada serumen atau tidak.

(vi) Mulut : Untuk mengetahui bersih atau tidak, ada


stomasitis/tidak, ada carres/tidak.

(b) Leher : Untuk mengetahui apakah ada pembesaran


kelenjar/tidak.
(c) Dada : Untuk mengetahui apakah reaksi dada
kanan ldri saat bernafas sama/tidak,
payudara simetris/tidak.
(d) Mammae : Untuk mengetahui apapkah payudara ada
benjolan/ tidak, putting susu menonjo atau
tidak.
(e) Perut : Untuk mengetahui ada luka bekas operasi /
tidak. Bagaimana kontraksi nya.
(f) Pinggang : Untuk mengetahui kondisi ginjalnya.
(g) Genetalia : Untuk mengetahui ada oedema/tidak, ada
varises/tidak, pengeluaran cairan berupa
apa.
(h) Ekstremitas : Untuk mengetahui pergerakannya,
oedema/tidak, varises/tidak, pucat/tidak.
(i) Palpasi

Leopold I : Untuk mengetahui TFU dan bagian janin


yang teraba di fundus.
154

Leopold II : Untuk mengetahui bagian janin yang


berada disamping perut Ibu kanan dan
kiri.

Leopold III : Untuk mengebilusi bagian janin yang


berada di bagian terbawah janin.

Leopold IV : Untuk mengetahui apakah bagian


terbawah janin sudah masuk
panggul/belum.

(j) Mc. Donald : Untuk mengetahui tafsiran berat janin.

(k) Kontraksi Uterus : Untuk mengetahui berapa kali his terjadi


setiap l0 menit, bagaimana sifatnya
kuat/tidak.

(l) Auskultasi : DJJ untuk mengetahui kondisi janin.


(m) Perkusi : Reflek Patellauiituk mengetahui apakah
pasien berpotensi terjadi preeklamsi.
(n) Periksa Dalam
V/U/V : Untuk mengetahui pengeluaran cairan
pervaginam.

Pembukaan : Untuk mengetahui kemajuan persalinan

Effecement : Untuk mengetahui keadan jalan lahir.

KK : Untuk mengetahui KK pecah/belum,


kalau sudah pecah kapan waktunya.

Penurunan : Untuk mengetahui penurunan kepala.

Presentasi : Untuk mengetahui bagian terbawah


janin.
155

c) Analisa
(1) Diagnosa Kebidanan
Untuk mengidentifikasi terhadap masalah atau diagnosis
berdasarkan interpretasi yang benar atas data – data yang telah
dikumpulkan.

Contoh :

Ny. M umur 35 tahun, GIII PII A0, Hamil 39 minggu dgn inpartu
kala I fase Aktif.

(2) Masalah.
Misalnya : nyeri, takut, cemas menghadapi persalinan.

d)Penatalaksanaan
Pelaksanaan dilakukan Bidan secara menyeluruh dengan melakukan
pendekatan yang baik pada Pasien dan Keluarga. Pelaksanaan rencana
asuhan pada Ibu bersalin meliputi:

(1) Melakukan pemeriksaan keadaan kesehatan umum secara


menyeluruh
(2) Menjelaskan tentang proses persalinan yang sedang berlangsung.
(3) Mengobservasi kemajuan persalinan ku Ibu dan Janin.
3) Asuhan Kebidanan pada bayi baru lahir

a) Data Subyektif
(1) Identitas / Biodata:
Berisi biodata klien dengan penanggung jawab yang meliputi
nama bayi, umur, tanggal lahir, nama orang tua, alamat.

(2) Riwayat Penyakit Kehamilan


Untuk mengetahui kondisi bayi sebelumnya

(3) Riwayat Persalinan


Untuk menentukan asuhan selanjutnya pada bayi
156

b) Data Obyektif
(1) Pemeriksaan umum data yang diperoleh bidan saat pemeriksaan
atau dengan cara observasi.
(2) Pemeriksaan Fisik
Untuk mengetahui kondisi fisik secara keseluiruhan dan untuk
mengetahui adakah kelainan bawaan pada bayi.

c) Analisa
(1) Diagnosa kebidanan
Mengidentifikasi yang benar terhadap diagnosis, masalah dan
kebutuhan bayi berdasarkan data yang telah dikumpulkan.

Contoh :

(a) Bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan, dengan asfiksi


sedang.

(b) Bayi kurang bulan, kecil masa kehamilan dengan hipotermi


dan gangguan pernafasan.

Data Dasar : Yang terdiri dari data subyektif dan data obyektif
untuk membuktikan diagnosa kebidanan.

(2) Masalah.
Potensial terjadi masalah ekonomi bagi orang tua yang tidak
mampu, karena bayi membutuhkan perawatan intensif dan lebih
lama.

d) Penatalaksanaan
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efektif dan
aman.

Contoh :

(1) Mempertahankan suhu tubuh tetap hangat


157

(2) Pastikan bayi tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dan
kulit ibu.
(3) Ganti handuk/ kain basah dan bungkus bayi dengan selimut.
(4) Perawatan mata
Obat mata Eritromicyn 0,5% atau Tetrasiklin 1% dianjurkan untuk
mencegah penyakit mata karena clamidia. Obat mata perlu
diberikan pada jam pertama setelah persalinan.

(5) Memberikan identitas bayi


Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi, perlu
dipasang segera setelah lahir.

(6) Memperlihatkan bayi pada orang tuanya/ keluarga.


(7) Memfasilitasi kontak dini bayi dengan ibu.
(8) Berikan bayi kepada ibu sesegera mungkin.
(9) Doronglah ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi telah siap.
(10) Bila memungkinkan, jangan pisahkan ibu dengan bayi, biarkan
bayi bersama ibu paling tidak 1jam setelah bayi lahir.
(11) Memberikan vitamin K 1
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena dificiensi vitamin
K1 pada bayi baru lahir.

(12) Konseling
Ajarkan pada ibu/ orang tua bayi untuk :

(a) Menjaga kehangatan bayi.


(b) Pemberian ASI.
(c) Perawatan tali pusat
(d) Mengawasi tanda – tanda bahaya
Tanda – tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir,
antara lain :
158

(a) Pernafasan, sulit atau lebih dari 60 X /menit, terlihat dari


retraksi dinding pada dada pada waktu bernafas
(b) Suhu,
terlalu panas atau dingin
(c) Warna
abnormal, kulit biru atau pucat
(d) Pembe
rian ASI sulit, hisapan lemah atau banyak muntah
(e) Tali
pusat merah, keluar cairan, bau busuk atau berdarah
(f) Infeksi
, suhu meningkat, pernafasan sulit
(g) Gangg
uan gastrointestinal, misalnya mumtah terus menerus, muntah
dan perut bengkak
(h) Tidak
berkemih dalam 24 jam
(i) Meng
gigil atau suara tangis tidak biasa
(j) Mata
bengkak dan mengeluarkan cairan
(13) Imunisasi
Dalam waktu 24 jam sebelum ibu dan bayi dipulangkan, berikan
imunisasi Vit K dan Hepatitis B.

4) Asuhan Kebidanan Pada Nifas

Nifas adalah dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-
alat kandungan seperti keadaan sebelum hamil.

a) Data Subyektif
(1) Identitas atau biodata
159

Berisi biodata klien dengan penanggung jawab yang meliputi


nama, umur, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, agama, alamat.

(2) Alasan datang


Untuk mengetahui mengapa pasien datang kepetugas kesehatan

(3) Keluhan Utama


Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan pasien termasuk
keluhan normal atau tidak.

(4) Rawat Gabung


Untuk menyatukan ibu dan bayi dalam satu ruangan, agar ibu
memahami dan merawat bayi yang benar.

(5) Riwayat Menstruasi


Untuk mengetahui fungsi alat kandungan

(6) Riwayat Perkawinan


Untuk mengetahui berapa lama perkawinan

(7) Riwayat Kesehatan


(a) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui kesehatan yang sedang dialami ibu

(b) Riwayat kesehatan yang lalu


Untuk mengetahui kesehatan yang lalu

(c) Riwayat kesehatan keluarga


Untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga yang
menderita penyakit menurun, menular, menahun, dan adakah
keturun kembar.

(8) Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu


Untuk mengetahui riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
adakah penyakit dalam masa tersebut.
160

(9) Riwayat KB
Untuk mengetahui kontrasepsi yang digunakan ibu sebelumya

(10) Pola pemenuhan kebutuhan


(a) Nutrisi : Untuk mengetahui gizi sudah terpenuhi atau
belum
(b) Eliminasi : Untuk mengetahui apakah ada gangguan
BAB/BAK dalam waktu nifas.
(c) Istirahat. : Untuk mengetahui apakah pasien istirahatnya
cukup atau tidak.
(d) Hygiene : Untuk mengetahui hygiene pasien
(11) Riwayat psikologis dan spiritual
Untuk mengetahui tanggapan ibu dan keluarga terhadap kelahiran
bayinya.

(12) Riwayat sosial budaya


Untuk mengetahui adakah adat istiadat yang dianut dalam
keluarga pasien.

(13) Pengetahuan Ibu


Untuk mengetahui seberapa jauh ibu mengetahi tantang masa
nifas, manfaat ASI, makanan bayi, rencana menyusui, perawatan
payudara,

b) Data Obyektif
(1) Pemeriksaan Umum
Data yang diperoleh bidan saat pemerikasaan atau dengan cara
observasi.

(2) Pemeriksaan Fisik


Untuk mengetahui kondisi fisik pasien secara keseluruhan.

c) Analisa
(1) Diagnosa kebidanan
161

Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial yang mungkin


terjadi berdasarkan masalah atau diagnosis yang sudah
diidentifikasi.

Contoh :

(a) Perdarahan postpartum

(b) Febris postpartum

(c) Infeksi postpartum

(2) Masalah

(a) Sakit pada luka bekas jahitan

(b) Nyeri kepala

(c) Mulas

d) Penatalaksanaan

Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan


aman terhadap :

(1) Kontak dini sesering mungkin dengan bayi


(2) Mobilisasi/ istirahat baring di tempat tidur
(3) Perawatan gizi
(4) Perawatan perineum dan Pemberian obat penghilang nyeri
(5) Pemberian tambahan vitamin dan zat besi
(6) Perawatan payudara
(7) Rencana KB
(8) Tanda – tanda bahaya
162

d) Asuhan kebidanan pada Bayi/ Neonatus


a) Data subyektif

(1) Identitas atau biodata


Berisi biodata klien dengan penanggung jawab yang meliputi
nama, umur, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, agama, alamat.

(2) Alasan datang


Untuk mengetahui mengapa pasien datang kepetugas kesehatan.

(3) Keluhan Utama


Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan pasien termasuk
keluhan normal atau tidak.

(4) Riwayat persalinan


Untuk menentukan asuhan selanjutnya pada bayi

b) Data Obyektif
(1) Pemeriksaan umum
Data yang diperoleh bidan saat pemeriksaan atau dengan cara
observasi.

(2) Pemeriksaan Fisik


Untuk mengetahui kondisi fisik secara keseluiruhan dan untuk
mengetahui adakah kelainan bawaan pada bayi.
163

c) Analisa

(1) Diagnosa kebidanan.


Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial yang mungkin
akan terjadi berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah
diidentifikasi :

Contoh : Gizi buruk dan tidak mendapatkan imunisasi

(2) Masalah
Masalah ekonomi bagi orang tua yang tidak mampu, karena anak
membutuhkan perawatan intensif dan lebih lama.

d) Penatalaksanaan

Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efektif dan


aman. Contohnya :

(1) Anak dengan kelainan atau masalah yang berkaitan dengan


tumbuh kembang.
(2) Memberikan kesempatan anak untuk melaksanakan tugas
perkembangan
(3) Melakukan asuhan kebidanan
6) Asuhan kebidanan pada calon akseptor KB

a) Data subyektif

(1) Identitas atau biodata


Berisi biodata klien dengan penanggung jawab yang meliputi
nama, umur, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, agama, alamat.

(2) Alasan datang


Untuk mengetahui mengapa pasien datang kepetugas kesehatan
164

(3) Keluhan Utama


Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan pasien termasuk
keluhan normal atau tidak.

(4) Riwayat Menstruasi


Untuk mengetahui fungsi alat kandungan

(5) Riwayat Perkawinan


Untuk mengetahui berapa lama perkawinan

(6) Riwayat Kesehatan


(a) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui kesehatan yang sedang dialami ibu

(b) Riwayat kesehatan yang lalu


Untuk mengetahui kesehatan yang lalu

(c) Riwayat kesehatan keluarga. Untuk mengetahui apakah ada


anggota keluarga yang menderita penyakit menurun, menular,
menahun, dan adakah keturun kembar.
(7) Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Untuk mengetahui riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
adakah penyakit dalam masa tersebut.

(8) Riwayat KB
Untuk mengetahui kontrasepsi yang digunakan ibu sebelumya

(9) Pola pemenuhan kebutuhan


(a) Nutrisi
Untuk mengetahui gizi sudah terpenuhi atau belum

(b) Eliminasi
Untuk mengetahui apakah ada gangguan BAB/BAK dalam
waktu nifas.
(c) Istirahat
165

Untuk mengetahui apakah pasien istirahatnya cukup atau


tidak.
(d) Hygiene
Untuk mengetahui hygiene pasien
(e) Riwayat psikologis dan spiritual
Untuk mengetahui tanggapan ibu dan keluarga terhadap
kelahiran bayinya.
(f) Riwayat social budaya
Untuk mengetahui adakah adat istiadat yang dianut dalam
keluarga pasien.

(g) Pengetahuan Ibu. Untuk mengetahui macam – macam alat


kontrasepsi.
b) Data Obyektif
(1) Pemeriksaan Umum. Data yang diperoleh bidan saat
pemerikasaan atau dengan cara obsertvasi.
(2) Pemeriksaan Fisik. Untuk mengetahui kondisi fisik pasien secara
keseluruhan.
c) Analisa

(1) Diagnosa kebidanan


Mengidentifikasi yang benar terhadao diagnosis terhadap
diagnosis atau masalah dan kebutuhan berdasarkan interprestasi
data yang benar.

Contoh : P III A 0, UMUR 52 tahun dengan kistoma uteri

(2) Masalah. Perasaan mual terus menerus, tidak sampai muntah.


d) Penatalaksanaan
Mengarahkan dan melaksanakan rencana asuhan secara efektif dan
aman, misalnya : memberikan konseling atau pemyuluhan

B. ALAT DAN METODE PENGUMPULAN DATA


Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data studi kasus yaitu cheklist
dan kuesioner. Cheklist digunakan setiap melakukan asuhan kebidanan
166

berdasarkan teori yang sudah dilakukan (cheklist anamnese, pemeriksaan fisik,


pemeriksaan laboratorium). Kuesioner yang digunakan berupa kuesioner terbuka
yaitu format asuhan kebidanan.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, obsevasi
dan dokumentasi (foto, buku KIA). Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data
primer. Obyek wawancara yaitu ibu hamil dan keluarga.
Obsevasi dilakukan pada saat peneliti melakukan pemeriksaan kepada
pasien di BPM maupun saat kunjungan rumah. Peneliti juga melakukan observasi
terhadap lingkungan pasien.
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain PWS KIA, buku
KIA dan foto, saat memberikan asuhan kebidanan (hamil, persalinan, bayi baru
lahir, nifas, neonatus, dan akseptor KB baru).
214

BAB IV
PEMBAHASAN
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Asuhan Masa Kehamilan


Ny. S G2P1Ao umur 35 tahun dengan umur kehamilan 33 minggu
lebih 6 hari saat pertama kali bertemu dengan penulis. Ibu sebelumnya
melakukan pemeriksaan hamil sebanyak 7 kali di bidan dimana 3 kali
pemeriksaan hamil dibidan didampingi oleh penulis termasuk juga kunjungan
penulis sebanyak 4 kali. Kehamilan ini merupakan kehamilan yang
direncakan ibu dan suami. Aktivitas ibu sebagai karyawan swasta di pabrik
dan ibu rumah tangga. Dalam masa kehamilan ibu sudah melakukan
kunjungan antenatal lebih dari 4 kali, hal ini sudah sesuai pendapat Manuaba
(2010 : 111) kunjungan antenatal dilakukan paling sedikit 4 kali selama
kehamilan satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua,
dan dua kali pada trimester ketiga.
Keadaan ibu secara umum dalam batas normal. Selama kehamilan
berat badan ibu naik sebesar 12 Kg, hal ini sudah sesuai pendapat Manuaba
(2010:117) berat badan wanita hamil akan naik kira – kira antara 6,5 kg – 15
kg atau kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari 0,5 kg per minggu.
Ibu selama hamil sudah mengecheck Hb dua kali yaitu pada umur
kehamilan 22 minggu dan umur kehamilan 36 minggu, sekaligus mengechek
golongan darah, urine reduksi, dan protein urine. Hasil pemeriksaan Hb pada
umur kehamilan 22 minggu adalah 11.0 gram% dan hasil pemeriksaan Hb
pada umur kehamilan 36 minggu adalah 11,5 gram%, protein urine negatif,
urine reduksi negatif, golongan darah O. Hb ibu dalam batas normal saat
kehamilan karena saat hamil terjadi hemodilusi atau pengenceran darah. Hal
ini sudah sesuai dengan pendapat Manuaba (2010 : 239) kadar Hb normal
dalam kehamilan ≥ 11gr%.
Perubahan kadar Hb pada Ny. S disebabkan oleh adanya asupan
nutrisi yang baik dengan mengonsumsi sayur, buah, ikan, susu, kemudian
215

pola konsumsi makan yang teratur, dan rutin untuk meminum tablet FE. Hal
ini sesuai dengan pendapat Kristiyanasari (2010:40) kebutuhan nutrisi yang
terpenuhi dan pola makan yang teratur dapat meningkatkan kadar Hb.
Selama hamil ibu sudah melakukan imunisasi tetanus toksoid 2 kali
yaitu tetanus toksoid I : tanggal 11-07-2015, tetanus toksoid II : tanggal 10-
08-2015, tetanus toksoid III : tanggal 07-02-2016, rencana selanjutnya yaitu
tetanus toksoid 4 pada bulan Februari 2017, tetanus toksoid 5 pada bulan
Februari 2018 dengan melakukan kerjasama dengan bidan desa. Asuhan
tersebut sudah sesuai dalam buku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan salah satu kebijakan program standar
pelayanan ANC untuk 14T salah satunya adalah pemberian imunisasi TT
lengkap 5 kali atau minimal 2 kali selama kehamilan bertujuan untuk
mencegah terjadinya tetanus neonatorum.
Keluhan yang terjadi pada Ny. S adalah sering buang air kecil pada
malam hari. Keluhan tersebut muncul karena uterus terus mengalami
pembesaran dan kandung kencing tertekan oleh bagian terendah janin, yaitu
kepala. Kemudian ibu diberikan penyuluhan mengenai penyebabnya dan
mengatakan mengerti. Untuk mengatasi keluhan sering kencing ibu
dianjurkan untuk mengurangi minum pada malam hari, memperbanyak
minum disiang hari dan dianjurkan untuk tidak menahan keinginan untuk
buang air kecil. Hal ini sudah sesuai dengan pendapat Saifuddin (2010:95)
yang menyatakan bahwa sering BAK disebabkan karena rahim berada
dibawah kandung kencing sehingga pembesaran rahim menahan kandung
kencing.
Secara keseluruhan tidak ada kelainan maupun komplikasi yang
terjadi pada Ny. S, hal ini dikarenakan Ny. S mau bekerjasama dan mau
mengikuti anjuran yang diberikan oleh bidan. Ny. S juga mengerti akan
pentingnya kesehatan dirinya dan kehamilannya serta pentingnya persiapan
persalinan nanti.
B. Asuhan Masa Persalinan
Umur kehamilan Ny. S yaitu aterm 39 minggu tepatnya pada tanggal
19 Desember 2015 pukul 09.00 mengalami kenceng-kencang yang hebat dan
216

mengeluarkan lendir darah sejak pukul 05.00. Akhirnya diputuskan untuk


mendatangi tempat pelayanan kesehatan, dalam hal ini ibu memilih datang ke
BPM Eny Zubaidah. Proses persalinan Ny. S pada kala 1 fase aktif dilatasi
maksimal tidak ada komplikasi atau penyulit yang menyertai. Selanjutnya
dilakukan pemantauan dengan menggunakan partograf didapat hasil partograf
tidak melewati garis waspada dan kala 1 berlangsung + 7 jam. Asuhan yang
diberikan antara lain relaksasi, tidur miring ke kiri, makan minum bila tidak
ada his, dan mempersiapkan peralatan persalinan, hal ini sudah sesuai
pendapat Prawirohardjo (2010:112) tidur miring kiri pada proses persalinan
dapat mempercepat turunnya bagian terbawah janin dan dapat meningkatkan
aliran darah dan nutrisi ke plasenta janin.
Dari data diatas ibu sudah mengetahui keadaannya saat ini merupakan
tanda - tanda persalinan, dikarenakan ibu sudah pernah mengalaminya pada
saat proses persalinan anak pertama. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan
antara teori dan kenyataan dilapangan.
Dilakukan pemeriksaan kembali pada pukul 12.00 didapat hasil
pemeriksann DJJ 140x/menit, ketuban sudah pecah, pembukaan lengkap, dan
sudah terdapat tanda dan gejala kala II (ibu mempunyai keinginan untuk
meneran, ibu merasakan ada tekanan yang semakin meningkat pada rektum,
perineum menonjol dan menipis, vulva vagina dan spingter ani membuka).
Selanjutnya menyiapkan pertolongan persalinan dengan menggunakan
metode 58 langkah APN. Dalam proses persalinan ibu menginginkan suami
untuk berada disampingnya untuk menemani dan memberikan makan atau
minum ketika tidak ada kontraksi. Kala II berlangsung selama 30 menit. Hal
ini sudah sesuai pendapat Sulistyowati (2010:21) pada primigravida kala II
berlangsung 2 jam dan pada multigravida berlangsung 1 jam. Sehingga tidak
ada kesenjangan antara teori dengan kenyataan dilahan untuk lamanya waktu
kala II.
Lama kala III Ny. S berlangsung selama 10 menit (dimulai dari pukul
12.30 – 12.40 WIB), dari observasi sudah terdapat tanda – tanda pelepasan
plasenta yaitu terdapat semburan darah, tali pusat semakin panjang, dan perut
217

berbentuk globular. Tepat pukul 12.40 plasenta lahir spontan, lengkap,


marginalis. Hal ini sudah sesuai pendapat Mochtar (2010:24) kala III pada
primigravida 30 menit dan pada multigravida 15 menit. Pada proses kala III
berjalan dengan baik, hal ini karena dilakukan manajemen aktif kala III sesuai
standar. Sehingga plasenta dapat lahir spontan, kotiledon lengkap, selaput
utuh serta perdarahan pasca persalinan dapat dihindari dengan baik.
Pada kala IV dilakukan observasi pada Ny.S selama 2 jam. Ibu dan
bayi dalam keadaan normal. Perdarahan yang terjadi pada Ny. S berlangsung
normal, dan jumlah perdarahan juga berada dalam batas normal yaitu + 150
cc, hal ini sudah sesuai pendapat Mochtar (2010:25) perdarahan dianggap
normal jika jumlah darah kurang dari 400 sampai 500 cc. Pada keseluruhan
proses persalinan pada Ny. S berjalan dengan normal dan baik, hal ini terjadi
karena adanya observasi dan tindakan serta asuhan yang tepat dari awal
persalinan hingga bayi dapat lahir. Kelancaran persalinan ini juga berkat
adanya kerjasama yang baik dari ibu, ibu dapat meneran dengan baik, dan ibu
juga mau mengikuti anjuran yang diberikan bidan.
C. Asuhan kebidanan pada Bayi Baru Lahir
Bayi Ny.S lahir pukul 12.30 WIB dengan spontan, menangis keras,
warna kulit kemerahan, tidak ada cacat bawaan, jenis kelamin laki-laki,
gerakan aktif, anus (+) ditandai dengan keluarnya mekonium dan bayi sudah
buang air kecil dan buang air besar dengan normal. Ketika bayi lahir,
pengikatan tali pusat dilakukan dengan menggunakan penjepit umbilikal
dalam keadaan steril dan dibungkus dengan kassa kering steril. Setelah bayi
lahir, bayi tidak langsung dimandikan. Bayi Ny. S hanya dibersihkan dan
segera diselimuti serta ditutupi bagian kepalanya dengan kain bersih, kering,
dan hangat agar bayi terhindar dari hipotermi atau kehilangan panas. Berat
badan bayi 2500 gram merupakan berat badan yang normal. Hal ini sesuai
dengan pendapat Depkes RI (2010) berat bayi normal adalah 2500 – 4000
gram dan asuhan yang diberikan sudah sesuai pendapat Prawirohardjo
(2010:30) meliputi: Mempertahankan suhu tubuh bayi yaitu bayi dibungkus
hangat dan diselimuti, tidak dimandikan sebelum 6 jam, membersihkan jalan
218

napas bila diperlukan yaitu dengan menghisap lendir dari mulut ke hidung
dengan menggunakan penghisap lendir steril.
Pada saat IMD tidak dilakukan 1 jam penuh hanya dilakukan 10 menit
dengan alasan keluarga menghendaki bayi untuk diberi pakaian dulu sebelum
diberikan lagi kepada ibu untuk disusukan selama + 1 jam. Setelah
dipakaikan baju, bayi dikembalikan pada ibu untuk Inisiasi Menyusui Dini
walaupun tidak skin to skin dan bayi bisa menemukan puting pada menit ke
20. Ini terjadi kesenjangan antara teori dan praktek karena menurut Maternal
Neonatal Pink (2010 :32) meletakkan bayi di dada ibu (kontak antara kulit
dengan kulit) untuk dilakukan IMD selama 1 jam, untuk memeriksa apakah
reflek rooting dan sucking bayi baik.
Bayi Ny. S sudah mendapatkan injeksi Vitamin K dosis 0,5 mg 1 jam
setelah lahir diberikan secara IM, di paha kiri anterolateral, Vit K fungsinya
untuk mencegah terjadinya perdarahan dan mendapatkan salep mata di kedua
mata bayi, berfungsi untuk mencegah penyakit mata. Dua jam setelah lahir
baru mendapatkan injeksi Hb0 0,5 ml secara IM, di paha kanan anterolateral.
Hal ini sudah sesuai buku Maternal Neonatal Pink, (2010:N-32) suntikan
Vitamin K1 dan salep mata diberikan 1 jam setelah lahir sedangkan imunisasi
hepatitis B pertama (HB 0) diberikan 1 – 2 jam setelah pemberian injeksi
Vitamin K1.
Didapatkan analisa diagnosa kebidanan Bayi baru lahir Ny. S jenis
kelamin laki – laki, lahir spontan normal.
D. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas
Berdasarkan asuhan yang sudah diberikan selama masa nifas, sudah
melakukan kunjungan nifas selama 4 kali, Pada pengkajian pertama yaitu 6
jam post partum di dapat hasil anamnesa ibu mengatakan masih meraskan
sedikit mules. Hasil pemeriksaan TTV dalam batas normal, TFU 3 jari
dibawah pusat, kontraksi uterus keras, kandung kemih kosong. Lochea rubra
berwarna merah, pengeluaran lochea Ny.S normal, hal ini sesuai dengan
pendapat Ambarwati (2010:45) bahwa lochea pada hari pertama sampai hari
ke empat cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar,
jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, dan mekonium.
219

Didapatkan analisa diagnosa kebidanan Ny.S umur 35 tahun P2A0 post


partum 6 jam normal.
Asuhan yang diberikan yaitu memberikan penjelasan tentang tanda
bahaya masa nifas, pencegahan perdarahan masa nifas, memberitahu kepada
ibu tehnik menyusui yang benar, mengajurkan ibu untuk memberikan ASI
Eksklusif pada bayinya selama 6 bulan, menganjurkan ibu untuk istirahat
cukup, mobilisasi dini dan merencanakan pemberian vitamin A 200.000 unit,
hal ini sesuai pendapat Prawirohardjo (2010:123) asuhan yang diberikan pada
ibu nifas memberitahu tentang tanda bahaya masa nifas, pencegahan
perdarahan, tehnik menyusui yang benar, istiraht cukup, pemberian kapsul
vitamin A.
Pada pengkajian nifas ke dua dilakukan pada 6 hari setelah proses
persalinan yaitu pada tanggal 26 Desember 2015 dilakukan di rumah Ny.S,
dari anamnesa yang didapat ibu mengatakan tidak merasakan ada tanda
bahaya pada masa nifasnya ini, ibu mengatakan telah mengetahui tentang
nutrisi ibu nifas, dan tehnik menyusui yang benar. Dari hasil pemeriksaan
didapatkan hasil TTV dalam batas normal, TFU pertengahan pusat dan
simpisis, kandung kemih kosong, PPV lochea serosa berwarna kuning
kecoklatan, hal ini sudah sesuai buku Askeb Nifas dan Deteksi dini ECG
(2013:26-36) bahwa satu minggu setelah persalinan TFU pertengahan pusat
simpisis. Didapatkan analisa diagnosa kebidanan Ny.S umur 35 tahun P2A0
post partum 6 hari normal.
Asuhan yang diberikan pada ibu yaitu memberikan konseling tentang
personal hygiene ibu nifas, mengingatkan kembali tentang tanda bahaya nifas,
mengingatkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya, konseling
tentang perawatan payudara, menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayi
nya secara on demand, Asuhan yang diberikan sudah sesuai dengan pelayanan
ibu nifas 6 hari menurut Askeb Nifas dan Deteksi dini ECG(2013:26-36)
yaitu memastikan involusi berjalan normal, menilai tanda-tanda infeksi,
memastikan ibu mendpatkan cukup nutrisi dan cairan, dan memastikan ibu
menyusui dengan baik.
220

Pengkajian ke tiga dilakukan pada 14 hari setelah persalinan yaitu


pada tanggal 2 Januari 2016. Dari hasil anamnesa didapatkan ibu mengatakan
telah menerapkan tehnik perawatan payudara agar ASI nya semakin lancar.
Dari hasil pemeriksaan di dapatkan TTV dalam batas normal, pengeluaran
ASI lancar, TFU sudah tidak teraba, kandung kemih kosong, PPV lochea
alba, hal ini sudah sesuai pendapat Ambarwati (2010:45) pengeluaran lochea
alba bisa berlangsung 2-6 minggu postpartum. Didapatkan Analisa diagnosa
kebidanan Ny.S umur 35 tahun P2A0 post partum 14 hari, normal.
Asuhan yang diberikan adalah menganjurkan ibu untuk tetap sesering
mungkin memberikan ASI kepada bayinya dan memastikan tidak ada penyulit
dalam proses menyusui, memberikan konseling kepada ibu tentang pasca
persalinan seperti KB IUD, implant, suntik 3 bulan, dan kb pil, hal ini sudah
sesuai dengan buku Askeb Ibu Nifas dan Deteksi dini ECG (2013:26-36)
bahwa asuhan yang diberikan adalah memastikan ibu tetap menyusui
bayinya, konseling Kb secara dini.
Pada pengkajian ke empat dilakukan pada enam minggu post partum
pada tanggal 30 Januari 2016. Dari hasil anamnesa ibu mengatakan sudah
tidak mengeluarkan darah nifas lagi, ibu telah mengetahui macam-macam alat
kontrasepsi. Dari pemeriksaan didapatkan hasil TTV dalam batas normal,
TFU sudah tidak teraba, hal ini sesuai dengan buku Askeb Ibu Nifas dan
Deteksi dini ECG (2013:26-36) bahwa involusi uterus 6 minggu post partum
tidak teraba dan bertambah kecil, kandung kemih kosong, PPV sudah tidak
ada pengeluaran. Analisa diagnosa kebidanan Ny.S umur 35 tahun P2A0
postpartum 6 minggu normal.
Asuhan yang diberikan yaitu menganjurkan ibu untuk tetap menjaga
kebersihan alat genetalianya, menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit
yang ibu dan bayi alami, memberikan konseling ulang tentang KB. Asuhan
yang diberikan sudah sesuai dengan buku Askeb Ibu Nifas dan Deteksi dini
ECG (2013:26-36) yaitu menanyakan penyulit yang dialami ibu, memberikan
konseling KB yang berfungsi untuk menjarangkan kehamilan.
E. Asuhan Kebidanan pada Neonatus
221

Berdasarkan asuhan yang sudah diberikan selama masa neonatus, bayi


sudah melakukan kunjungan neonatus selama 3 kali, hal ini sudah sesuai
dengan program Kemenkes (2010: 10) Kunjungan Neonatus 1 : 2 jam – 48
jam, Kunjungan Neonatus 2 : 3 hari – 7 hari, Kunjungan Neonatus 3 : 8 hari –
28 hari.

Kunjungan neonatus hari ke-1, pada kunjungan ini didapatkan hasil


pemeriksaan KU baik, TTV normal. Pada pemeriksaan Reflek bayi Ny.S
sudah terbentuk dengan baik terbukti dari hasil pemeriksaan reflek yaitu bayi
berkedip saat terkena rangsangan cahaya, memeluk jika dikagetkan,
menggenggam saat telapak tangan bayi di beri sentuhan, mencari putting jika
sudut bibir disentuh menghisap dan menelan saat menyusu, menoleh kearah
yang berlawanan saat ditolehkan kesatu sisi, reflek menarik kaki saat kaki
diberi rangsangan sentuhan, ini sesuai dengan pendapat Dewi (2010:33) yang
menyatakan bahwa reflek yang terdapat pada neonatus meliputi : reflek moro,
berkedip, menghisap, sucking, tonick neck, mengenggam, walking dan
babinsky. Semua reflek sudah terbentuk sempurna dengan baik. Dari hasil
pemeriksaan di dapatkan analisa diagnosa kebidanan By. Ny.S umur 6 jam
dengan tumbuh kembang normal.
Asuhan yang diberikan yaitu memandikan bayi, memberitahu kepada
ibu tentang cara pencegahan infeksi untuk bayinya, menjaga kehangatan bayi,
perawatan tali pusat, memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya dengan pemberian
ASI secara on Demand. Asuhan yang diberikan sudah sesuai dengan pendapat
Rohmah (2010:51-54) tentang penyuluhan bayi sebelum pulang yaitu
memberikan konseling tentang perawatan tali pusat, imunisasi, menjaga
kehangatan bayi, hygiene.

Untuk pemeriksaan selanjutnya pada kunjungan ke-2 yang dilakukan


pada tanggal 26 Desember 2015 yaitu 6 hari setelah bayi lahir. Dari hari
anamnesa ibu mengatakan rutin menjemur bayinya kurang lebih 30 menit,
bayinya BAK ±8x/hari, BAB ±2x/hari. Dari hasil pemeriksaan di dapat KU
222

baik, TTV dalam batas normal, tali pusat bayi Ny.S belum lepas dan belum
kering, kulit kemerahan, gerak aktif. Analisa diagnosa kebidanan By.Ny. S
umur 6 hari dengan tumbuh kembang normal.
Kemudaian asuhan yang diberikan adalah memberitahu kembali
tentang cara merawat tali pusat dengan cara membersihkan dengan air hangat
lalu dibungkus menggunakan kassa steril ,hygiene bayi, konseling tentang
tanda-tanda bahaya bayi, imunisasi bagi bayi sampai usia 9 bulan sesuai
dengan pendapat Rochmah (2011: 27-54) yang menyatakan bahwa cara
merawat tali pusat hanya dengan dibersihkan dengan air hangat dan di
bungkus dengan kassa steril, mengingatkan kembali tentang menjaga personal
hygiene bayi, memberitahu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi, macam-
macam imunisasi bagi bayi sampai usia 9 bulan.

Pada pemeriksaan berikutnya dilakukan pada neonatus 14 hari pada


tanggal 2 Januari 2016 ibu mengatakan bayinya tidak mengalami keluhan
yang signifikan, tali pusat lepas pada hari ke 8, sudah minum ASI rutin 2-3
jam sekali, BAK 6-8 x/hari, BAB 1-2x/hari. Dari hasil pemeriksaan bayi Ny.
S tidak mengalami tanda bahaya neonatus, ini dilihat dari pemeriksaan suhu
bayi Ny.S 36oC, respirasi 60x/menit, warna kulit tidak ikhterik, tali pusat
tidak berbau busuk dan tidak kemerahan, sesuai dengan pendapat Rochmah
(2011: 51-54) tanda bahaya bayi baru lahir adalah bayi tampak kuning pada
semua bagian tubuh bayi dalam 24 jam pertama, warna kuning pada lengan
dan kaki pada hari ke-2, warna kuning pada telapak tangan dan kaki seetiap
saat, suhu badan tidak stabil, perdarahan terus-menerus selama 15 menit pada
tali pusat, bayi pucat, pernafasan cepat, tali pusat berbau dan bernanah.
Didapat analisa diagnosa kebidanan By.Ny.S umur 14 hari dengan tumbuh
kembang normal.
Asuhan yang diberikan adalah menjelaskan kepada ibu tentang
imunisasi BCG dan Polio , mengingatkan kembali kepada ibu untuk tetap
menyusui bayinya hanya dengan ASI tanpa tambahan makanan selama 6
bulan dari kelahirannya, menganjurkan kepada ibu untuk memantau
pertumbuhan dan perkembangan bayinya dengan rutin datang ke posyandu,
223

mengingatkan kembali kepada ibu tentang jadwal pemberian imunisasi BCG


dan polio untuk bayinya pada tanggal 14 Januari 2016 untuk datang ke bidan
atau puskesmas. Asuhan yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan bayi
dan sesuai dengan pendapat Rochmah (2011:42-54) asuhan bayi usia 1-6
minggu pemantauan berat badan bayi, imunisasi, .
F. Asuhan kebidanan pada KB
Pada tanggal 10 Februari 2015 ibu datang ke BPM Eny Zubaidah
mengatakan ingin menggunakan Kb suntik 3 bulan yang tidak mempengaruhi
ASI. Pada pengkajian ini didapatkan data bahwa ibu sudah tidak
mengeluarkan cairan dari vagina. Penulis awalnya mentargetkan ibu untuk
dapat memakai KB IUD dengan pertimbangan usia ibu yang sudah menginjak
35 tahun, putranya sudah 2 (1 putra, 1 putri). Pada pengkajian hamil ke 4,
penulis sudah memberikan sedikit gambaran tentang macam-macam KB
salah satunya yaitu KB IUD.

IUD yaitu suatu alat atau benda yang dimasukan kedalam rahim yang
sangat efektif, reversibel, dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua
perempuan usia reproduksif, sedangkan efek samping dari IUD yaitu: nyeri,
perdarahan, dan peningkatan jumlah darah menstruasi.
Pasien sudah paham tentang penjelasan yang disampaikan penulis,
dan pasien mengatakan ingin berkonsultasi dahulu dengan suami, namun
pada kunjungan nifas ke 4 setelah dilakukan pengkajian ulang ternyata pasien
menolak untuk menggunakan KB IUD dengan alasan suami ibu tidak
membolehkan ibu untuk memakai alat kontrasepsi selain KB suntik 3 bulan
dikarenakan dari segi kepercayaan yang tidak membolehkan.
Dari pengkajian sebelumnya didapatkan data ibu sudah menikah
selama 7 tahun, selama itu ibu hanya memakai KB suntik 3 bulan selama 2
tahun dengan keluhan di 1 tahun pertama menstruasi ibu tidak teratur. Sesuai
dengan hasil diskusi ibu dan suami KB suntik 3 bulan cocok untuk ibu
menyusui.

Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil TTV dalam batas normal.


Asuhan kebidanan yang diberikan yaitu tentang KB suntik DMPA meliputi
224

cara kerja, keuntungan, kerugian dan efek samping dari KB suntik DMPA dan
menganjurkan ibu konsultasi ke bidan jika ada keluhan dan jika ingin ganti
alat kontrasepsi. Hal ini sudah sesuai dengan pendapat Salemba Medika
(2013:75-80) Dari hasil anamnesa dan hasil pemeriksaan keadaan ibu dapat
menggunakan KB suntik DMPA ini karena masih usia produktif, tidak
hipertensi,tidak memiliki riwayat Ca payudara dan ibu masih dalam masa
laktasi.
Ibu sudah mendapatkan injeksi Depo Medroxyprogesteron Asetat 3
bulan pada tanggal 10 Februari 2016 dan ditegaskan untuk kembali tanggal 5
Mei 2016 serta kunjungan rutin Keluarga Berencana Depo
Medroxyprogesteron Asetat tiap 3 bulan sekali. Asuhan kunjungan ulang
ssesuai dengan pendapat Salemba Medika (2013:75-80) yaitu pada setiap 90
hari sekali atau 3 bulan sekali.
225

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN
Setelah penulis melaksanakan asuhan kebidanan selama hamil,
bersalin, bayi baru lahir, nifas, neonatus dan program Keluarga Berencana
pada Ny. ‘’S‘’ di BPM Bidan Eny Zubaidah, yang dimulai pada usia
kehamilan 33 minggu lebih 6 hari sampai program KB dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Asuhan kehamilan Ny. “S“ selama TM I sampai TM III sudah sesuai
dengan acuan program ANC yaitu 4 kali kunjungan, imunisasi TT sudah
3 kali dengan rencana mengikuti program TT 5 kali yang monitoring
selanjutnya bekerjasama dengan bidan desa, serta sudah melakukan
pemeriksaan Hb, golongan darah, protein urine, urine reduksi, dan
HbsAg.
2. Asuhan persalinan Ny. S selama kala I sampai kala IV berlangsung
selama 9 jam 40 menit dengan metode APN dan IMD 10 menit, terdapat
jahitan perineum derajat I, dan tidak terdapat perdarahan abnormal.
3. Asuhan BBL Ny. S sudah di IMD skin to skin selama 10 menit.
Kemudian BBL dipakaikan baju dan dikembalikan lagi pada ibu untuk
IMD tanpa skin to skin dan bisa menemukan puting pada menit ke 20.
Dan sudah mendapatkan injeksi Vit K, salep mata dan Hb0.
4. Asuhan nifas Ny. S sudah sesuai dengan acuan kunjungan nifas I sampai
IV, involusio uteri berjalan dengan normal dan ASI keluar lancar.
5. Asuhan neonatus bayi Ny. S sudah sesuai dengan acuan kunjungan
neonatus I sampai III, serta sudah mendaptakan imunisasi BCG dan Polio
I.
226

6. Asuhan akseptor KB kunjungan awal Ny. S sudah mendapatkan KIE


tentang suntik DMPA 3 bulan yang tidak mempengaruhi proses laktasi
dan ibu sudah mendapatkan kunjungan DMPA yang pertama tanggal 10
Februari 2015 dengan rencana kunjungan berikutnya tanggal 15 Mei
2016.
SARAN

Berdasarkan pada simpulan di atas, maka penulis menyampaikan saran


sebagai berikut:
1. Bagi Bidan Praktek Mandiri (BPM)
a. Menerapkan asuhan yang komprehensif terhadap pelayanan kebidanan
yaitu One Student One Client : 1 praktikan 1 pasien.
b. Melakukan pertolongan persalinan 58 langkah APN dan IMD sesuai
prosedur.
227

2. Bagi Mahasiswa
Menerapkan manajemen dan asuhan kebidanan yang telah dimiliki,
mengikuti kemajuan dan perkembangan dalam dunia kesehatan
khususnya dalam dunia kebidanan.
3. Bagi Klien / Ibu
Setiap wanita yang siap menjadi ibu mau bekerjasama dan mau
mengikuti anjuran yang diberikan bidan, karena sangat bermanfaat bagi
kesehatannya dan janinnya.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Metode COC ini terus dilanjutkan untuk tahun – tahun berikutnya, karena
dengan metode ini sangat bermanfaat untuk mahasiswa, karena
mahasiswa bisa terjun ke masyarakat langsung untuk mengetahui
kesehatan ibu dan janinnya.
5. Bagi Pemerintah/Dinas Kesehatan
Mensosialisasikan program One Student One Client di tingkat tenaga
kesehatan diwilayah Kabupaten Boyolali untik menurunkan AKI dan
AKB.
228

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2013. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal, Asuhan Esensial,
Pencegahan dan Penanggulangan Segera Komplikasi Persalinan dan
Bayi Baru Lahir, JNPK-KR, Jakarta
, 2010. Asuhan Kebidanan Kehamilan Fisiologi, Trans Info Media,
Jakarta
, 2013. Asuhan Kebidanan III (Nifas), Trans Info Media, Jakarta
Dewi, Vivian Nanny Lia, 2010. Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita, Salemba
Medika, Jakarta
Dinkes Provinsi Jateng, 2012. Profil Kesehatan Provinsi Jateng 2012
, 2014. Profil Kesehatan Provinsi Jateng 2014
Handayani, Sri, 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana, Pustaka
Rihama, Yogyakarta
Kemenkes RI, 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan 2013, AIPKIND, Jakarta
, 2015. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial,
AIPKIND, Jakarta
Manuaba, Ida Ayu, I. Bagus Gde Fajar, I. Bagus Gde, 2010. Ilmu Kebidanan,
Penyakit Kandungan, dan KB, EGC, Jakarta
Pantikawati, Saryono, 2010. Asuhan Kebidanan I (Kehamilan), Nuha Medika,
Yogyakarta
Prawirohardjo, Sarwono, 2010. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Rukiyah, Ai Yeyeh & Lia Yulianti, 2010. Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita,
Trans Info Media, Jakarta
229

Saifudin, 2010. Buku Panduan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal


(pink), Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Sulistyawati, Ari, 2010. Asuhan pada Masa Kehamilan, Salemba Medika, Jakarta
Yanti, 2010. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan, Pustaka Rihama,
Yogyakarta