You are on page 1of 263

‫‪Jadilah Perintis Kebaikan‬‬

‫‪Oleh‬‬
‫‪Syaikh Raid bin Shabri‬‬

‫ار‬ ‫ص ْد ِر النَّ َه ِ‬ ‫سلَّ َم فِي َ‬ ‫صلَّى َّ‬


‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو َ‬ ‫َّللاِ َ‬ ‫سو ِل َّ‬ ‫َع ْن َج ِري ِْر ب ِْن َع ْب ِد هللاِ قَا َل ُكنَّا ِع ْندَ َر ُ‬
‫وف َعا َّمت ُ ُه ْم ِم ْن‬ ‫سي ُ ِ‬ ‫اء ُمتَقَ ِلدِي ال ُّ‬ ‫ار أ َ ْو ْالعَبَ ِ‬ ‫ع َراة ٌ ُم ْجتَابِي النِ َم ِ‬ ‫فَ َجا َءهُ قَ ْو ٌم ُحفَاة ٌ ُ‬
‫سلَّ َم ِل َما َرأَى بِ ِه ْم‬ ‫صلَّى َّ‬
‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو َ‬ ‫َّللاِ َ‬ ‫سو ِل َّ‬ ‫ض َر فَت َ َمعَّ َر َو ْجهُ َر ُ‬‫ض َر بَ ْل ُكلُّ ُه ْم ِم ْن ُم َ‬ ‫ُم َ‬
‫ب فَقَا َل‬ ‫ط َ‬ ‫صلَّى ث ُ َّم َخ َ‬ ‫ام فَ َ‬ ‫ِم ْن ْالفَاقَ ِة فَدَ َخ َل ث ُ َّم خ ََر َج فَأ َ َم َر بِ ََل اًل فَأَذَّنَ َوأَقَ َ‬
‫َّللاَ َكانَ َعلَ ْي ُك ْم‬‫آخ ِر ْاْليَ ِة إِ َّن َّ‬ ‫احدَةٍ إِلَى ِ‬ ‫اس اتَّقُوا َربَّ ُك ْم الَّذِي َخلَقَ ُك ْم ِم ْن نَ ْف ٍس َو ِ‬ ‫يَا أَيُّ َها النَّ ُ‬
‫ت ِلغَ ٍد َواتَّقُوا َّ‬
‫َّللاَ‬ ‫س َما قَدَّ َم ْ‬ ‫ظ ْر نَ ْف ٌ‬ ‫َّللاَ َو ْلت َ ْن ُ‬
‫َرقِيباا َو ْاْليَةَ الَّتِي فِي ْال َح ْش ِر اتَّقُوا َّ‬
‫صاعِ ت َ ْم ِر ِه َحتَّى قَا َل‬ ‫صاعِ بُ ِر ِه ِم ْن َ‬ ‫َار ِه ِم ْن د ِْره َِم ِه ِم ْن ث َ ْوبِ ِه ِم ْن َ‬ ‫صدَّقَ َر ُج ٌل ِم ْن دِين ِ‬ ‫تَ َ‬
‫ت َكفُّهُ ت َ ْع ِج ُز َع ْن َها َب ْل قَ ْد‬ ‫ص َّر ٍة َكادَ ْ‬ ‫ار ِب ُ‬ ‫ص ِ‬ ‫ِق ت َ ْم َر ٍة قَا َل فَ َجا َء َر ُج ٌل ِم ْن ْاْل َ ْن َ‬ ‫َولَ ْو بِش ِ‬
‫ب َحتَّى َرأ َ ْيتُ َو ْجهَ‬ ‫ط َع ٍام َو ِث َيا ٍ‬ ‫اس َحتَّى َرأ َ ْيتُ َك ْو َمي ِْن ِم ْن َ‬ ‫ت قَا َل ث ُ َّم تَتَا َب َع النَّ ُ‬ ‫َع َجزَ ْ‬
‫َّللاُ‬ ‫صلَّى َّ‬ ‫َّللاِ َ‬‫سو ُل َّ‬ ‫سلَّ َم يَت َ َهلَّ ُل َكأَنَّهُ ُم ْذ َه َبةٌ فَقَا َل َر ُ‬ ‫علَ ْي ِه َو َ‬ ‫صلَّى َّ‬
‫َّللاُ َ‬ ‫َّللاِ َ‬‫سو ِل َّ‬ ‫َر ُ‬
‫غي ِْر‬ ‫سنَةا فَلَهُ أ َ ْج ُرهَا َوأ َ ْج ُر َم ْن َع ِم َل ِب َها َب ْعدَهُ ِم ْن َ‬ ‫سنَّةا َح َ‬ ‫س َّن ِفي ا ْ ِْل ْس ََل ِم ُ‬ ‫سلَّ َم َم ْن َ‬
‫َعلَ ْي ِه َو َ‬
‫علَ ْي ِه ِو ْز ُرهَا َو ِو ْز ُر‬ ‫س ِيئَةا َكانَ َ‬ ‫سنَّةا َ‬ ‫اْل ْس ََل ِم ُ‬ ‫س َّن ِفي ْ ِ‬ ‫َي ٌء َو َم ْن َ‬ ‫ور ِه ْم ش ْ‬ ‫ص ِم ْن أ ُ ُج ِ‬‫أ َ ْن َي ْنقُ َ‬
‫ش ْي ٌء‬ ‫ص ِم ْن أ َ ْوزَ ِار ِه ْم َ‬ ‫َم ْن َع ِم َل ِب َها ِم ْن َب ْع ِد ِه ِم ْن َغي ِْر أ َ ْن َي ْنقُ َ‬

‫‪Dari Jarir bin Abdillah, ia berkata: Kami bersama Rasulullah pada pagi hari. Lalu datanglah satu‬‬
‫‪kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau‬‬
‫‪hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Kebanyakannya mereka dari‬‬
‫‪kabilah Mudhor atau seluruhnya dari Mudhor, lalu wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa‬‬
‫‪sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk, kemudian keluar dan‬‬
‫‪memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat lalu Beliau shalat. Setelah shalat‬‬
‫‪Beliau berkhutbah seraya membaca ayat:‬‬

‫سآ َءلُونَ‬‫يرا َونِ َسآ اء َواتَّقُوا هللاَ الَّذِي تَ َ‬ ‫ث ِم ْن ُه َما ِر َجاًلا َكثِ ا‬ ‫اس اتَّقُوا َر َّب ُك ُم الَّذِي َخلَقَ ُكم ِم ْن نَ ْف ٍس َو ِ‬
‫احدَةٍ َو َخلَقَ ِم ْن َها زَ ْو َج َها َوبَ َّ‬ ‫يَاأَيُّ َها النَّ ُ‬
‫بِ ِه َواْْل َ ْر َح َ‬
‫ام إِ َّن هللاَ َكانَ َعلَ ْي ُك ْم َرقِيباا‬

‫‪Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang‬‬
satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah
yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [An Nisa:1].

Dan membaca ayat di surat Al Hasyr

َ‫يرُُ ِب َما تَ ْع َملُون‬


ُ ِ‫ت ِلغَ ٍد َواتَّقُوا هللاَ ِإ َّن هللاَ َخب‬ ُ ‫يَاأَيُّ َها الَّذِينَ َءا َمنُوا اتَّقُوا هللاَ َو ْلت َن‬
ُ ‫ظ ْر نَ ْف‬
ْ ‫سُُ َّماقَدَّ َم‬

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al Hasyr:18].

Telah bershadaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha' kurmanya,
sampai Beliau berkata : "Walaupun separuh kurma".
Jarir berkata: Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurrah, hampir-hampir
telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu.
Jarir berkata: Kemudian berturut-turut orang memberi, sampai aku melihat makanan dan pakaian
seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah bersinar seperti emas.
Lalu Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam, maka ia
mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi
pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan contoh jelek dalam Islam, maka ia
mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-
dosa mereka.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Ash Shahih (7/103-104 bersama Syarah
Nawawi) dan (16/225-226); Ahmad dalam Al Musnad (4/357, 359, 361, 362); An Nasa'i dalam
Al Mujtaba' (5/75-76-77); At Tirmidzi dalam Al Jami' (5/42) no. 2675 dengan lafadz َ‫سنَّة‬ َ ‫َم ْن‬
ُ ‫س َّن‬
‫سنَّةَ ش ٍَر‬ َ ‫ ا َخي ٍْر ……… َو َم ْن‬dan Ibnu Majah dalam As Sunan (1/74) no 203.
ُ ‫س َّن‬

PEMAHAMAN YANG BENAR TERHADAP HADITS INI


- Perkataan (‫اء‬ ِ َ‫ار أَ ْو ْال َعب‬
ِ ‫ ) ُمجْ تَا ِبي النِ َم‬an nimar dengan dikasrahkan huruf nun, adalah bentuk plural
dari namirah dengan difathahkan. Maknanya yaitu baju dari kulit domba yang sobek. Sedangkan
‫( ْال َعبَاء‬al aba') dengan dimadkan dan difathahkan huruf 'ain-nya ‫ َعبَاءة – َعبَاية‬. Adapun makna ‫ُمجْ ت َا ِبي‬
‫ار‬
ِ ‫ النِ َم‬yaitu sobek dan terbelah bagian tengahnya.

- Perkataan ‫سلَّ َم‬ َّ ‫صلَّى‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ فَت َ َمعَّ َر َوجْ هُ َر‬, artinya, berubah.
َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬

- Perkataan ‫ب‬ َ ‫صلَّى ث ُ َّم َخ‬


َ ‫ط‬ َ َ‫ ف‬, berisi anjuran mengumpulkan orang banyak untuk perkara penting, dan
menasihati serta memotivasi mereka untuk mencapai kemaslahatan dan memperingatkan mereka
dari perkara jelek.

ِ ‫اس اتَّقُوا َربَّ ُك ُم الَّذِي َخلَقَ ُكم ِم ْن نَ ْف ٍس َو‬


- Tentang firman Allah Azza wa Jalla ٍ‫احدَة‬ ُ َّ‫ يَاأَيُّ َها الن‬. Ayat ini dibacakan
karena ia lebih menyentuh dalam menganjurkan mereka agar bershadaqah dan (juga) karena
berisi penegasan hak mereka sebagai saudara.

- Perkataan ‫ب‬ َ ‫ َرأَيْتُ ك َْو َمي ِْن ِم ْن‬. Kaumain dapat dibaca dengan fathah atau dhammah huruf
ٍ ‫طعَ ٍام َوثِيَا‬
kaf-nya. Artinya tempat yang tinggi seperti bukit kecil.

- Perkataan ٌ‫سلَّ َم يَت َ َهلَّ ُل َكأَنَّهُ ُمذْ َهبَة‬ َّ ‫صلَّى‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ َحتَّى َرأَيْتُ َوجْ هَ َر‬, maknanya wajah Beliau
َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersinar karena senang dan bahagia.

- Perkataan ٌ‫ ُمذْ َهبَة‬, para ulama membacanya dengan dua sisi. Pertama, yang sudah masyhur dan
dirajihkan Al Qadhi dan jumhur adalah ٌ‫ ُمذْ َهبَة‬dengan huruf dzal, fathah huruf ha’ dan setelahnya
ba’. Kedua ٌ‫ مدْ َهنَة‬dengan dal dan dhamah ha’ dan setelahnya nun.

Al Qadhi menjelaskan dalam Masyariqi Al Anwar (1/172) dua sisi bacaan ini dalam tafsirnya.
Pertama, maknanya perak keemasan. Ini lebih cocok untuk (mengungkapkan) keindahan wajah
dan keceriaannya. Kedua, menyerupakan keindahan dan keceriannya dengan kulit yang dilapisi
emas. Dan bentuk pluralnya adalah madzahib. Al mudzahab ini adalah sesuatu yang digunakan
bangsa Arab untuk mencelupkan kulit dan menjadikannya bergaris-garis keemasan, tampak
sebagiannya bersambung dengan sebagian lainnya.

Mengenai yang menjadi sebab kebahagiaan Rasulullah, karena bergegasnya kaum muslimin
dalam mentaati Allah, mengeluarkan harta mereka karena Allah, melaksanakan perintah
Rasulullah, menutupi kebutuhan saudaranya yang membutuhkan, kasih-sayang mereka kepada
sesama muslimin dan kerjasama mereka dalam kebaikan dan taqwa. Jika melihat hal seperti ini,
sudah sepantasnya seseorang berbahagia dan menampakkan kebahagiannya. Dan penyebab
senangnya adalah apa yang telah dijelaskan tadi.

- Perkataan ‫سنَةا فَلَهُ أَجْ ُرهَا‬


َ ‫سنَّةا َح‬ ِ ْ ‫س َّن فِي‬
ُ ‫اْلس ََْل ِم‬ َ ‫ َم ْن‬. Yang dimaksud sunnah dalam hadits ini, adalah
sunnah secara bahasa, yaitu jalan (contoh) yang diikuti atau dilalui; bukan bermakna sunnah
secara terminologi syar’i, sebagaimana dalam terdapat dalam sabda Beliau:

ُ ‫ َعلَ ْي ُك ْم ِب‬dan sabdanya. ‫سنَةا فَلَهُ أَجْ ُرهَا‬


‫سنَّتِ ْي‬ َ ‫سنَّةا َح‬ ِ ْ ‫س َّن فِي‬
ُ ‫اْلس ََْل ِم‬ َ ‫َم ْن‬

Kelaziman hadits menuntut penafsiran seperti ini. Yang saya maksudkan dengan kelaziman
hadits adalah dalam sabda Rasulullah :
‫س ِيئَةا‬
َ ‫سنَّةا‬ ِ ْ ‫س َّن فِي‬
ُ ‫اْلس ََْل ِم‬ َ ‫ َو َم ْن‬, karena dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, Beliau
mensifatkan sunnah dengan sunnah jelek, padahal dalam Islam tidak ada sunnah yang jelek. Jadi
yang dimaksud sunnah disini adalah sunnah dalam makna bahasa (etimologi) bukan dalam
makna syar’i.

Kemudian, kepada orang yang menyelisihi, kita sampaikan bahwa orang-orang itu telah
memisah-misahkan hal-hal yang sama dan menyamakan hal-hal yang berbeda, mencampur-
adukkan yang baik dengan yang buruk, yang berkualitas rendah dengan yang tinggi dan
meletakkan tanah dalam adonan roti.

Dalam banyak nash, kata Sunnah bermakna jalan (metode), sebagaimana hal itu terdapat dalam
sabda Rasulullah :

‫س َّن ْالقَتْ َل‬


َ ‫ظ ْل اما إِ ًَّل َكانَ َعلَى اب ِْن آدَ َم ْاْل َ َّو ِل ِك ْف ٌل ِم ْن دَ ِم َها َوذَلِكَ ِْلَنَّهُ أ َ َّو ُل َم ْن‬
ُ ٌُُ‫من نَ ْف ٍس ت ُ ْقتَل‬
ْ ‫َما‬

Tidak ada satu jiwapun terbunuh secara zhalim, kecuali anak adam pertama (yaitu yang
membunuh saudaranya, Red) mendapatkan bagian dari darahnya (dosa pembunuhan), itu karena
ia adalah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.

Dan juga sabdanya:

‫سنَنَ َم ْن َكانَ قَ ْبلَ ُك ْم‬


َ ‫لَتَتْبَعُ َّن‬

Seandainya kita mendebat orang-orang yang mencampur-adukkan pemahaman sunnah yang


telah diisyaratakan tadi, maka konsekwensinya kita akan mengatakan “Sesungguhnya
membunuh itu adalah sunnah, dan meniru orang musyrik adalah sunnah”. Padahal kalimat ini
tidak akan diucapkan oleh orang yang berakal.

Kalau begitu, kita tidak mungkin membawa pengertian sabda Beliau ‫سنَةا‬ َ ‫سنَّةا َح‬ ِ ْ ‫س َّن فِي‬
ُ ‫اْلس ََْل ِم‬ َ ‫َم ْن‬
kepada (anjuran membuat) amalan baru, karena keterkaitannya dengan baik atau jelek, yang
tidak diketahui kecuali dengan syari’at. Karena menilai baik atau buruk merupakan kekhususan
syari’at semata. Dalam hal ini, akal tidak memiliki peran. Inilah madzhab Ahlu Sunnah Wal
Jama’ah, dan pendapat yang mengatakan -baik dan buruk dinilai dengan akal- merupakan Ahlu
Bid’ah.

(Karena yang dimaksud dalam hadits itu adalah sunnah secara bahasa, yang berarti contoh atau
panutan, Red), maka sunnah dalam hadits itu adakalanya baik menurut syari’at, atau buruk
menurut syari’at. Sehingga (sunnah yang baik, Red) tidak benar (pemakaiannya, Red), kecuali
pada shadaqah yang disebutkan dalam hadits (di depan, Red) dan pada contoh-contoh lain yang
disyari’atkan. Sedangkan sunnah sai’ah (contoh yang buruk) tetap difahami untuk kemaksiatan
yang ditetapkan syari’at sebagai maksiat, seperti membunuh yang dijelaskan dalam hadits Ibnu
Adam, ketika Rasulullah bersabda.

‫س َّن ْالقَتْ َل‬


َ ‫ ِْلَنَّهُ أَ َّو ُل َم ْن‬,

dan kepada kebid’ahan, karena sudah ada celaan dan larangannya dalam syari’at. [1]

Al Hafizh berkata dalam Al Fath 13/302, Al Muhallab berkata,”Dalam bab ini (yaitu Bab Dosa
Orang yang Mengajak kepada kesesatan Atau Memberikan Contoh Yang Jelek, Red)
mengandung makna peringatan dari kesesatan dan (keharusan, Red) menjauhi perbuatan-
perbuatan bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama, serta (mengandung, Red) larangan
menyelisihi jalan kaum mukminin”.

Sisi peringatannya (wajhu tahdzir), adalah orang yang berbuat kebid’ahan terkadang
meremehkannya, karena pada awal mulanya menganggapnya kecil, tidak merasakan kerusakan
yang diakibatkan amalan tersebut, yaitu berupa beban dosa yang didapatkan dari dosa orang-
orang yang mengamalkan perbuatan bid’ah setelah dia -meskipun seandainya ia tidak
mengamalkannya- namun (dia mendapatkan dosa,Red) karena ia sebagai orang yang
merintisnya.

Imam Al Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (7/104),”Dalam hadits ini terdapat anjuran
memulai kebaikan (menjadi perintis kebaikan) dan mencontohkan perbuatan yang baik, serta
terdapat peringatan keras dari membuat-buat kebatilan dan hal-hal yang jelek. Ucapan ini
(Barangsiapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam, Red), beliau sampaikan dalam hadits
ini, karena pada awal hadits, Beliau menyatakan.

ُ َّ‫ت قَا َل ث ُ َّم تَت َا َب َع الن‬


‫اس‬ ْ َ‫ت َكفُّهُ ت َ ْع ِج ُز َع ْن َها َب ْل قَدْ َع َجز‬
ْ َ‫ص َّر ٍة كَاد‬
ُ ‫ار ِب‬
ِ ‫ص‬َ ‫فَ َجا َء َر ُج ٌل ِم ْن ْاْل َ ْن‬

(Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurrah, hampir-hampir telapak tangannya
tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu. Jarir berkata: Kemudian berturut-turut orang
memberi). Ini merupakan keutamaan yang besar bagi perintis kebaikan dan orang yang
membuka pintu kebaikan tersebut.”

PEMAHAMAN YANG SALAH TERHADAP HADITS


Hadits ini difahami secara keliru, yakni banyak orang awam berdalil dengan hadits ini dalam
membagi pengertian bid’ah, menjadi bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayi’ah
(bid’ah tercela). Sebagian ulama juga ikut-ikutan dalam hal ini. Berikut ini akan jelas bagi Anda
kekeliruan cara berdalil ini.

Dengan memohon bantuan kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya, kami katakan,
kebanyakan orang yang berdalil dengan hadits ini dalam membagi bid’ah, bahwasanya orang
yang menyampaikan hadits ini kepada Anda dalam keadaan terpotong. Dia menampakkan
kepada Anda sebagian saja dan menyembunyikan yang lainnya, agar mendapatkan legalitas
dalam pembagian bid’ah tersebut. Lalu mengklaim adanya bid’ah hasanah. Pada saat yang sama,
ia tidak menyebutkan keserasian hadits yang menyebabkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
mengucapkan hadits.

‫سنَةا‬
َ ‫سنَّةا َح‬
ُ ‫س َّن فِي ا ْ ِْلس ََْل ِم‬
َ ‫ َم ْن‬...

Di atas kami telah menjelaskan, maksud dari sunnah disini adalah sunnah secara bahasa, bukan
secara syar’i. Saya minta kepada orang yang menentang kami dalam pendapat ini untuk
menjawab pertanyaan,”Apakah dalam sunnah Rasulullah terdapat sunnah yang jelek? Walaupun
Beliau sendiri menyatakan dalam hadits ini ‫سيِئَةا‬ ِ ْ ‫س َّن فِي‬
ُ ‫اْلس ََْل ِم‬
َ ‫سنَّة‬ َ ‫ َم ْن‬.

Jika kalian menjawab “Ya, ada”, maka tidak perlu lagi berdiskusi, karena dengan pernyataan
jelek ini, tanpa disadari seorang dapat keluar dari agama. Hal ini sudah menjadi kepastian yang
absolut dalam agama ini, yaitu sunnah itu adalah agama.

Jika menjawab “Tidak” maka kita sampaikan kepadanya hadits ini. Di dalamnya termuat
pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek, supaya dia mengakui bahwa lafadz sunnah disini
adalah sunnah secara bahasa dan bukan istilah syari’at.

Seandainya, meskipun hadits ini tidak mengandung pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek,
niscaya sudah cukup dengan lafazh yang menunjukkan pensifatan baik, yaitu ‫اْلس ََْل ِم‬ ِ ْ ‫س َّن ِفي‬
َ ‫َم ْن‬
‫سنَةا‬
َ ‫سنَّةا َح‬
ُ , karena pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek adalah pensifatan yang salah dan
sangat tidak layak, karena menunjukkan ada sunnah yang tidak baik diantara sunnah-sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ini adalah dalil kuat yang menunjukkan bahwa lafazh tersebut (yaitu lafazh sunnah dalam hadits,
Red) secara bahasa. Karena, sebagaimana sudah dimaklumi bahwa sunnah itu adalah agama. Jika
Anda mengatakan “Ini adalah sunnah yang baik”, maka Anda sama dengan orang yang membagi
sunnah menjadi dua, dan itu sesat, terhadap apa yang ingin Anda bersihkan.[2]

Penulis berkata: Sungguh salah faham terhadap hadits ini membawa akibat buruk dan kerusakan.
Kami telah mendengar banyak orang ketika perbuatan mereka diingkari, saat mereka melakukan
perkara bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at, mereka berdalil dengan hadits ini dan
menyatakan “Ini adalah perkara baik dan tidak ada dosanya, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam menyatakan:

‫سنَةا‬
َ ‫سنَّةا َح‬ ِ ْ ‫س َّن فِي‬
ُ ‫اْلس ََْل ِم‬ َ ‫ “ َم ْن‬.
Kepada mereka ini, kami katakan: “Sesungguhnya sahabat mulia (yang disebutkan dalam hadits
ini, Red) yang melakukan shadaqah, (ia) tidak melakukan sesuatu yang baru yang tidak ada
dalam syari’at. Dalam Al Qur’an, shadaqah disyaria’tkan dan dianjurkan oleh Rabb semesta
alam, dan juga ada di dalam Sunnah yang tidak perlu lagi berdalil untuknya.

Dalam khutbahnya tersebut, Rasulullah menganjurkan para sahabatnya untuk bershadaqah.


Namun, ketika mereka semua lambat merespon dan tampak kesedihan pada wajah Rasulullah,
(maka) seorang Anshar dari mereka bangkit dan menyerahkan kepada Rasulullah satu shurrah
shadaqah. Kemudian yang lain berduyun-duyun menyerahkan shadaqahnya. Sehingga perbuatan
Anshar ini menjadi perbuatan yang terpuji. Dia tidak berbuat bid’ah dalam shadaqah, karena
shadaqah disyari’atkan. Lalu dari mana mereka dapat mengatakan, ada bid’ah hasanah yang
bermakna (dengan) istilah syar’i?

Kemudian, seandainya makna hadits sesuai dengan yang telah mereka fahami ini, maka sunnah
dalam hal ini kontradiktif. Karena Rasulullah menganggap seluruh bid’ah adalah sesat. Oleh
karenanya tidak benar, kecuali sebagaimana yang kami jelaskan, dan itulah yang benar.

Syaikh Masyhur Hasan dalam komentarnya terhadap kitab Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’ Wal
Hawadits, hlm. 87, mengatakan,”Dengan demikian (maksudnya dengan memahami lafazh
sunnah itu secara bahasa, Red), maka keluar dari keumuman sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam “Setiap bid’ah sesat”. Karena arti bid’ah menurut syar’i, adalah tambahan atau
pengurangan dalam agama tanpa izin syari’at, baik berupa perkataan dan perbuatan, terang-
terangan atau isyarat. (Sesungguhnya) setiap amalan yang tidak ada dasarnya dalam syari’at
adalah bid’ah yang sesat, meskipun dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai pemilik
keutamaan, atau orang yang terkenal sebagai syaikh. Karena perbuatan ulama dan ahli ibadah
bukanlah hujjah, selama tidak sesuai dengan syari’at.”

Kepada orang yang menganggap baik berbagai perbuatan bid’ah dan menjadikannya sebagai
ِ ْ ‫س َّن فِي‬
ajaran agama secara dusta dan bohong, (maka) kita sampaikan bahwa sabda Nabi. ‫اْلس ََْل ِم‬ َ ‫َم ْن‬
‫سنَةا‬
َ ‫سنَّةا َح‬
ُ bukan bermakna orang yang mencontohkan cara yang tidak ada dalam agama, yaitu
dalam hukum dan furu’ serta ushulnya. Bukan! Ini merupakan kebodohan. Akan tetapi
maksudnya adalah orang yang memberikan contoh dalam zaman dan naungan Islam, yaitu pada
zaman dan keberadaannya. Karena agama ini datang dan memperingatkan dari kerusakan dan
keburukan, serta mengajak berbuat kebaikan dan keshalihan. Sehingga dalam naungan agama
yang lurus ini, memberikan contoh kepada kejelekan, menjadi perkara yang besar, baik kejelekan
itu yang baru atau kejelekan yang sudah ada contohnya sebelum Islam.[3]

Saya (penulis) berkata: Anggaplah sahabat dari kalangan Anshar tersebut melakukan perbuatan
lain, selain shadaqah, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyetujuinya. Maka, perbuatan
atau perkataan sahabat ini menjadi sunnah, setelah iqrar (persetujuan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Sunnah itu tidak hanya ditetapkan berdasarkan perkataan atau perbuatan dari Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam saja , namun juga ditetapkan karena persetujuan Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Sebagaimana terjadi pada seorang sahabat yang setelah bangun dari ruku’
membaca.

‫ار اكا ِفي ِه‬


َ ‫ط ِيباا ُم َب‬ ‫َربَّنَا َولَ َك ْال َح ْمدُ َح ْمداا َك ِث ا‬
َ ‫يرا‬

Ketika selesai shalat, Rasulullah berkata, ”Siapakah yang berbicara tadi?” Sahabat itu
menjawab,”Saya, wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda.

‫ض َعةا َوث َ ََلثِينَ َملَ اكا َي ْبتَد ُِرونَ َها أَيُّ ُه ْم َي ْكتُبُ َها أ َ َّوًل‬
ْ ‫َرأ َ ْيتُ ِب‬
Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat bersegera menjadi yang pertama menulisnya.[4]

Ini adalah persetujuan dan anjuran dari Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga melakukan
perbuatan ini menjadi sunnah dari sisi ini. Dan boleh dikatakan bahwa sahabat itu telah membuat
sunnah (contoh) perkataan ini ketika i’tidal setelah ruku’. Dan ini adalah “sunnah hasanah” yang
diambil dari persetujuan Nabi. Dan persetujuan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini terputus
(tidak akan ada lagi, Red) dengan kematian Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali
persetujuan yang telah Beliau tunjukkan, sehingga ia tetap merupakan iqrar (persetujuan) Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sebagian orang ada yang mencari nash lain untuk melegimitimasi pendapatnya tentang
pembagian bid’ah ini. Sebagian diantara mereka bergantung (berpegang) kepada pernyataan
Umar tentang shalat tarawih (berjama’ah, Red).

َ ‫ت ْالبِ ْد‬
‫عةُ َه ِذ ِه‬ ِ ‫نِ ْع َم‬

Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam Iqtidha’ Shirati Al Mustaqim, hlm.
270,”Sebagian orang ada yang berpendapat, bid’ah itu terbagi menjadi dua bagian; hasanah
(baik) dan qabihah (buruk) dengan dalil pernyataan Umar tentang shalat tarawih “Sebaik-baik
bid’ah adalah ini” dan dengan dalil beberapa perkataan dan perbuatan yang diada-adakan setelah
Rasulullah dan tidak dilarang; atau (menganggapnya) hasanah berdasarkan dalil-dalil ijma’ atau
qiyas yang menunjukkan hal itu. Terkadang orang yang tidak mantap pemahaman dasar-dasar
ilmunya, memasukkan berbagai adat-kebiasaan banyak orang atau yang lainnya ke dalam
kategori ini. Lalu menjadikannya sebagai dalil baiknya sebagian bid’ah; entah dengan
menjadikannya sebagai kebiasaannya dan kebiasaan orang yang sama dengannya, meskipun
tidak mengetahui pendapat seluruh kaum muslimin dalam masalah tersebut, atau enggan
meninggalkan kebiasaannya sebagaimana kondisi orang yang (telah) Allah Subhanahu wa Ta'ala
terangkan, Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah
dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-
bapak kami mengerjakannya". [Al Maidah:104].

Alangkah banyak orang yang dianggap memiliki ilmu atau banyak ibadah berhujjah dengan
dalil-dalil yang keluar dari kaidah-kaidah ilmu yang dijadikan pegangan dalam agama. Intinya,
bahwa nash-nash yang menunjukkan tercelanya kebid’ahan menentang dalil yang menunjukkan
baiknya sebagian kebid’ahan, baik itu dari dalil-dalil syari’at yang shahih, atau dari alasan-alasan
sebagian orang yang dijadikan pegangan oleh sebagian orang bodoh, atau orang yang suka
mentakwilkan secara umum.

Orang-orang yang menentang ini terbagi dalam dua keadaan.


Pertama : Mereka yang mengatakan “Jika benar bahwa sebagian bid’ah itu baik dan sebagiannya
buruk, maka yang buruk adalah bid’ah yang dilarang syari’at. Adapun bid’ah yang tidak
didiamkan oleh syari’at, maka (demikian) itu tidak buruk, bahkan baik”. Begitulah yang
terkadang disampaikan sebagian mereka.

Kedua : Bid’ah buruk dikatakan “Ini bid’ah hasanah, karena berisi kemaslahatan begini dan
begitu”. Mereka menyatakan “Tidak semua bid’ah sesat”.

Tanggapannya: Bukankah terdapat sabda Rasulullah: “Sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara


adalah yang baru dibuat-buat, dan setiap yang baru dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah
adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka” dan peringatan keras dari perkara-perkara
baru.

Ini semua adalah nash dari Rasulullah, maka seseorang tidak boleh menolak kandungannya, yang
berisi celaan terhadap bid’ah. Barangsiapa yang menolaknya, maka ia seorang yang hina.

Mengenai sanggahan mereka, maka dijawab dengan salah satu dari jawaban berikut, dengan
mengatakan kepada mereka: “Sesuatu yang sudah ditetapkan baik oleh syari’at, maka ia bukan
bid’ah,” sehingga lafazh umum tetap, tidak ada pengkhususan. Atau dengan mengatakan kepada
mereka “Sesuatu yang sudah ditetapkan baik oleh syari’at, maka dia pengecualian dari
keumuman ini. Sehingga lafazh umum ini tetap, benar!”.

Mungkin juga dikatakan ”Sesuatu yang sudah ditetapkan baik oleh syari’at, maka dia adalah
pengecualian dari keumuman tersebut. Lafazh umum yang terkhususkan (ada pengecualiannya,
Red) adalah dalil yang bisa dijadikan hujjah atas sesuatu yang tidak masuk dalam kekhususan.
Sehingga orang yang meyakini bahwa sebagian bid’ah terkhususkan dari keumuman tersebut,
maka ia membutuhkan dalil yang benar untuk takhsis (pengkhususan). Bila tidak ada, maka
keumuman lafazh itu tetap menunjukkan larangan”.

Kemudian, yang mengkhususkan haruslah dalil-dalil syari’at berupa Al Qur’an, Sunnah dan
Ijma’, baik secara nash atau istimbat (kesimpulan dari nash). Adapun adat kebiasaan sebagian
negeri atau kebanyakan negeri, pendapat banyak ulama atau ahli ibadah atau kebanyakan mereka
dan sejenisnya, bukanlah sesuatu yang pantas untuk mengalahkan sabda Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam.

Barangsiapa yang meyakini bahwa kebanyakan adat yang menyelisihi Sunnah sudah menjadi
kesepakatan -karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya- maka ia salah dalam
keyakinannya ini. Karena pada setiap waktu, senantiasa akan ada orang yang melarang
kebanyakan adat yang menyelisihi Sunnah, dan tidak boleh mengklaim Ijma’ dengan
berdasarkan amalan satu negeri atau beberapa negeri kaum muslimin, apalagi berdasarkan
amalan sekelompok mereka.

Jika kebanyakan ulama tidak bersandar kepada perbuatan ulama penduduk Madinah dan Ijma’
mereka pada zaman Imam Malik, namun mereka tetap memandang Sunnah sebagai hujjah atas
mereka, sebagaiamana atas selain mereka, padahal para ulama Madinah tersebut telah diberikan
ketinggian ilmu dan iman.

Lalu bagaimana seorang mukmin yang berilmu bersandar kepada adat kebiasan kebanyakan
orang awam, atau kebiasaan orang yang dianggap pemimpin oleh orang awam, atau kebiasaan
satu kaum yang bodoh yang tidak memiliki ketinggian ilmu, tidak termasuk ulul amri, serta
mereka tidak layak dijadikan anggota syura (musyawarah), bahkan mungkin iman mereka
kepada Allah dan RasulNya belum sempurna. Atau ada satu kaum dari ahli fadhl (yang memiliki
kelebihan) bergabung bersama mereka dengan dasar hukum adat, tanpa memandang dengan
ilmu, atau karena syubhat bahwa lebih baik keadan mereka, sehinga mereka dianggap sejajar
dengan kedudukan mujtahid dari kalangan para imam dan shidiqin?

Berargumen dengan hujjah-hujjah dan bantahannya ini sudah jelas, bahwa ini bukanlah cara
Ahlu ilmi berhujjah. Namun karena banyaknya kebodohan, maka banyak orang yang bersandar
kepada metode ini, sampai-sampai orang yang dianggap memiliki ilmu dan keshalihan. Dan
terkadang, seorang yang memiliki ilmu dan keshalihan itu mendapatkan sandaran (metode) lain,
namun bukan diambil dari Allah dan RasulNya, yaitu sandaran-sandaran yang tidak digunakan
oleh Ahli Ilmu dan iman. Ia hanya menyampaikan hujjah-hujjah syar’iyah sebagai hujjah atas
perkara lain, dan melawan orang yang mendebatnya.

Kesimpulannya : Sebagaimana pernyataan yang disampaikan Ash Shan’ani dalam Tsamarutu An


Nadzar (hlm. 11 dengan penomoran saya),”Mereka membagi bid’ah kepada hasanah dan tercela,
dan saya yakin, pembagian ini termasuk perbuatan bid’ah.”

Imam Asy Syathibi dalam Al I’tisham, 1/191-192 berkata,”Sungguh, pembagian ini adalah
perkara baru yang tidak ada dalil syar’inya. Bahkan hal itu bertolak belakang, karena diantara
hakikat bid’ah tidak ditunjukkan oleh dalil syar’i, dan tidak berada di atas kaidah. Seandainya
terdapat dalil dari syari’at yang menunjukkan kewajiban atau sunah atau mubahnya, tentu itu
bukan bid’ah. Dan pasti, amalan tersebut masuk ke dalam keumuman amalan-amalan yang
diperintahkan atau dimubahkan. Tidak bisa dipadukan antara sesuatu itu bid’ah dengan adanya
dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban atau sunnahnya atau mubahnya, karena pemaduan dua
hal ini merupakan pemaduan yang bertentangan.

Akhirnya, saya tutup pernyataan ini dengan pernyataan Umar bin Khathab:

ُ َّ‫ضَلَلَةٌ َو ِإ ْن َرآهَا الن‬


‫اس‬ َ ‫ُك ُّل ِب ْد َع ٍة‬
Seluruh bid’ah adalah sesat, meskipun orang melihatnya baik.

Kaidah-Kaidah Tibbun Nabawi


Oleh
Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr

Allah menciptakan makhlukNya agar beribadah serta tunduk kepadaNya. Allah menciptakannya
terdiri dari ruh dan jasad. Allah menurunkan untuk mereka hukum-hukum syar’i, dan beban-
beban ibadah yang bisa memelihara badan dan ruh mereka. Allah juga telah mengeluarkan untuk
mereka makanan-makanan yang baik, agar kesehatan badan mereka tetap terjaga. Allah
berfirman.

َ‫ت َما َرزَ ْقنَا ُك ْم َوا ْش ُك ُروا ِ َّّلِلِ ِإن ُكنت ُ ْم ِإيَّاهُ تَ ْعبُدُون‬ َ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ُكلُوا ِمن‬
ِ ‫ط ِيبَا‬

Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan
kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu
menyembah. [Al Baqarah:172].

Maka makanan yang baik itu adalah makanan yang bermanfaat. Sedangkan sesuatu yang kotor
dan najis adalah racun yang membunuh. Oleh karena itu, Allah menghalalkan untuk manusia
makanan yang baik dan mengharamkan khaba’its (segala yang buruk). Allah berfirman.

َ ِ‫ت َويُ َح ِر ُم َعلَ ْي ِه ُم ْال َخبَائ‬


‫ث‬ َّ ‫َوي ُِح ُّل لَ ُه ُم ال‬
ِ ‫طيِبَا‬

Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk. [Al A’raf:157]

Dan ini, termasuk diantara tujuan yang terbesar diutusnya Rasulullah.

Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa salalm adalah orang yang paling menginginkan
kebaikan dan Rasul yang paling sayang kepada makhluk Allah –khususnya kepada umatnya–
sebagaimana Allah jelaskan tentang beliau, (dalam firmanNya).

ٌ ‫يص َعلَ ْي ُكم ِب ْال ُمؤْ ِمنِينَ َر ُء‬


‫وف َّر ِحي ٌم‬ ٌ ‫سو ٌل ِم ْن أَنفُ ِس ُك ْم َع ِز‬
ٌ ‫يز َعلَ ْي ِه َما َع ِنت ُّ ْم َح ِر‬ ُ ‫لَقَدْ َجا َء ُك ْم َر‬

Sesungguhnya ungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas
kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [At Taubah:128].

Beliau tidak meninggalkan satu kebaikanpun, kecuali telah beliau tunjukkan kepada umatnya.
Dan tidak membiarkan satu kejelekanpun, kecuali telah beliau peringatkan dan beliau larang.
Termasuk dalam masalah ini, yaitu anjuran beliau kepada umat ini dengan sesuatu yang bisa
menjaga kesehatan mereka dan mencegah hal-hal yang bisa menimbulkan penyakit pada badan
dan ruh. (Juga) larangan beliau dari setiap yang membahayakan dan menghindari mudarat
sebelum terjadi. Inilah yang dinamakan dengan tibbun nabawi al wiqa’i (tindakan Nabi yang
bersifat preventif), yang banyak terdapat dalam Sunnah dan bahkan dianjurkan oleh Al Qur’an.
Dan engkau dapat menyimpulkan, bahwa kaidah-kaidah menjaga kesehatan yang dijelaskan oleh
Al Qur’an dan Al Hadits dapat dibagi menjadi tiga.

Pertama : Menjaga kesehatan.


Allah mengisyaratkan dalam firmanNya.

‫سفَ ٍر فَ ِعدَّة ٌ ِم ْن أَي ٍَّام أُخ ََر‬


َ ‫فَ َمن َكانَ ِمن ُكم َّم ِريضاا أ َ ْو َعلَ ٰى‬

Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. [Al
Baqarah:184].

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, ”Dalam ayat ini, Allah membolehkan berbuka bagi orang yang
sakit, karena alasan sakitnya. Dan bagi orang yang bersafar karena berkumpulnya kesusahan-
kesusahan yang akan menyebabkan lemahnya badan, sehingga Allah membolehkan orang yang
bersafar untuk berbuka, untuk memelihara kekuatan mereka dari hal-hal yang bisa
melemahkannya.”

Kedua : Menjaga (diri) dari hal-hal yang membahayakan.


Kaidah ini telah diisyaratkan Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya.

َ ‫ص ِعيداا‬
‫ط ِيباا‬ َ ‫سفَ ٍر أ َ ْو َجا َء أ َ َحد ٌ ِمن ُكم ِمنَ ْالغَا ِئ ِط أ َ ْو ًَل َم ْست ُ ُم ال ِن‬
َ ‫سا َء فَلَ ْم ت َِجد ُوا َما اء فَت َ َي َّم ُموا‬ َ ‫ض ٰى أ َ ْو َعلَ ٰى‬
َ ‫َو ِإن ُكنتُم َّم ْر‬

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan (safar) atau kembali dari tempat buang air
atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka
bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). [An Nisa’:43].

Dalam ayat ini Allah membolehkan orang yang sakit untuk menggunakan debu yang suci dan
tidak menggunakan air, demi menjaga badan dari hal-hal yang bisa membahayakannya. Disini
juga terdapat peringatan agar menjaga diri dari setiap hal yang bisa membahayakan, baik dari
dalam maupun dari luar.

Ketiga : Membuang zat-zat yang rusak.


Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam firmanNya.
ٍ‫صدَقَ ٍة أَ ْو نُسُك‬ ِ ‫فَ َمن َكانَ ِمن ُكم َّم ِريضاا أ َ ْو ِب ِه أَذاى ِمن َّرأْ ِس ِه فَ ِفدْ َيةٌ ِمن‬
َ ‫ص َي ٍام أ َ ْو‬

Jika ada diantara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajib
atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah atau berkorban. [Al Baqarah:196].

Dalam ayat ini Allah membolehkan bagi orang yang sakit atau yang ada gangguan di kepalanya,
seperti: kutu, atau rasa gatal, atau yang lainnnya; maka boleh baginya memotong rambutnya
walaupun sedang dalam keadaan ihram, untuk menyingkirkan zat-zat yang menyebabkan
penyakit di kepalanya.

Bertolak dari sini juga, banyak hadits-hadits shahih yang penuh berisi wasiat agar berbekam.
Bahkan ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mi’raj, beliau diperintahkan oleh para malaikat
untuk berhijamah (berbekam), sebagaimana sabda beliau.

‫ل إِ ًَّل قَالُوا يَا ُم َح َّمدُ ُم ْر أ ُ َّمتَكَ بِ ْال ِح َجا َم ِة‬ َ ‫َما َم َر ْرتُ لَ ْيلَةَ أُس ِْر‬
ٍ َ ‫ي بِي بِ َم‬

Tidaklah aku melewati satu malaikat dari malaikat-malaikat, kecuali mereka mengatakan
”Wahai, Muhammad perintahkanlah umatmu untuk berbekam.” [1]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda.

ِ ‫ي َع ْن ْالكَي‬ ُ ٍ ‫س ٍل َو َكيَّ ِة ن‬
َ ‫ط ِة ِمحْ َج ٍم َو لُ ْعقَ ِة َع‬
َ ‫ش ْيءٍ فَ ِفي ث َ ََلث َ ٍة ش َْر‬ ِ َ‫إِذَا َكان‬
َ ‫َار َوأ ْن ِه‬ َ ‫الشفَا ُء فِي‬

Apabila obat itu ada pada sesuatu, maka pada tiga hal: goresan orang yang berbekam, jilatan
madu, dan kay (besi yang dipanaskan); dan aku dilarang dari kai. [2]

Jadi, menahan zat-zat yang rusak di dalam badan menjadi sebab utama timbulnya penyakit-
penyakit ganas. Para dokter dan ulama’ menyebutkan –seperti Ibnul Qayyim dan yang lainnya-
bahwa ada sepuluh hal, yang jika ditahan bisa menimbulkan penyakit ganas. Yaitu: darah apabila
tekanannya naik, mani jika telah memuncak (tidak tersalurkan) [3], air kencing, berak, kentut,
muntah, bersin, mengantuk, lapar, dan haus. Masing-masing dari sepuluh macam ini, apabila
ditahan akan mengakibatkan penyakit sesuai dengan kadarnya.

Penyakit yang dijelaskan oleh Al Qur’an ada dua macam. Pertama, penyakit hati. Kedua,
penyakit badan.

Penyakit hati dibagi menjadi dua. Yaitu penyakit syubhat dan ragu-ragu, serta penyakit syahwat
dan dosa.

Penyakit syubhat dan ragu-ragu, telah dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya.
‫ضا‬
‫َّللاُ َم َر ا‬ ٌ ‫فِي قُلُوبِ ِهم َّم َر‬
َّ ‫ض فَزَ ادَ ُه ُم‬
Di dalam hati mereka terdapat penyakit, maka Allah menambah penyakit tersebut. [Al
Baqarah:10].

Dan juga firmanNya.

َّ َ‫ض َو ْال َكا ِف ُرونَ َماذَا أ َ َراد‬


‫َّللاُ ِب ٰ َهذَا َمث َ اَل‬ ٌ ‫َو ِل َيقُو َل الَّذِينَ ِفي قُلُو ِب ِهم َّم َر‬
Dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir
(mengatakan):"Apakah yang dikehendaki Allah dengan (menjadikan) bilangan ini sebagai
perumpamaan?” [Al Muddatstsir:31]

Dan juga firmannya.

ْ ‫ض أ َ ِم‬
‫ارتَابُوا‬ ٌ ‫أَفِي قُلُو ِب ِهم َّم َر‬
Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit; atau (karena)
mereka ragu-ragu? [An Nur:50].

Dan bentuk penyakit ini lebih ganas dan lebih berbahaya, yaitu penyakit syahwat dan dosa. Allah
telah mengisyaratkan penyakit yang kedua ini dalam firmanNya.

ْ َ‫ض ْعنَ بِ ْالقَ ْو ِل فَي‬


‫ط َم َع الَّ ِذي ِفي‬ َ ‫اء ۚ ِإ ِن اتَّقَ ْيت ُ َّن فَ ََل ت َ ْخ‬
ِ ‫س‬َ ِ‫سا َء النَّبِي ِ لَ ْست ُ َّن َكأ َ َح ٍد ِمنَ الن‬
َ ِ‫َيا ن‬
ٌ ‫قَ ْلبِ ِه َم َر‬
‫ض‬
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka
janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit
dalam hatinya. [Al Ahzab:32]

Maksud penyakit disini adalah penyakit syahwat zina.

Sedangkan mengenai penyakit badan, Allah menyebutkan dalam kitabNya dengan firmanNya.

ِ ‫ْس َعلَى ْاْل َ ْع َم ٰى َح َر ٌج َو ًَل َعلَى ْاْلَع َْرجِ َح َر ٌج َو ًَل َعلَى ْال َم ِر‬
‫يض‬ َ ‫لَّي‬
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak pula bagi orang yang pincang, tidak pula bagi orang
yang sakit. [An Nur:61].

Penyakit badan ini, ada dua.


Pertama : Bersifat fitrah, seperti rasa lapar haus dan lelah.
Kedua : Membutuhkan pikiran, penelitian, pengalaman dan percobaan.

Demikian itulah pengobatan untuk umat manusia seluruhnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
telah datang dengan membawa pengobatan terhadap (penyakit) ruh ataupun badan. Beliau
memerintahkan umatnya dengan hal-hal yang bisa menjaga kesehatan badannya dan
kekuatannya. Karena keselamatan agamanya terdapat pada kesehatan badannya. Inilah makna
sabda Rasulullah.

‫يف َوفِي ُك ٍل َخي ٌْر‬ َّ ‫َّللاِ ِم ْن ْال ُمؤْ ِم ِن ال‬


ِ ‫ض ِع‬ ُّ ‫ْال ُمؤْ ِم ُن ْالقَ ِو‬
َّ ‫ي َخي ٌْر َوأ َ َحبُّ ِإلَى‬

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibandingkan dengan mukmin yang
lemah, dan pada masing-masing keduanya terdapat kebaikan.[4]

Dan juga sabdanya.

‫َّللاَ َع َّز َو َج َّل لَ ْم يُن َِز ْل دَا اء ِإ ًَّل أ َ ْنزَ َل َم َعهُ ِشفَا اء ِإ ًَّل ْال َه َر َم‬
َّ ‫َّللاِ فَإ ِ َّن‬
َّ َ‫تَدَ َاو ْوا ِعبَاد‬
Berobatlah, wahai hamba Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit,
kecuali Allah turunkan (juga) obatnya, kecuali penyakit tua.

Jadi, sehat merupakan nikmat yang besar dari Allah yang wajib dijaga. Karena, kesehatan itu
akan membantu seseorang melaksanakan ketaatan kepada Allah. Disebutkan di dalam hadits
yang shahih.

ُ ‫الص َّحةُ َو ْالفَ َرا‬


‫غ‬ ِ ‫اس‬ِ َّ‫ير ِم ْن الن‬ ٌ ُ‫ان َم ْغب‬
ٌ ِ‫ون فِي ِه َما َكث‬ ِ َ ‫نِ ْع َمت‬
Ada dua nikmat, banyak orang tertipu pada keduanya. yaitu (nikmat) sehat dan luang waktu.[5]

Kesehatan adalah nikmat pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.


Dikatakan kepada seorang hamba.

ِ ‫ص َّح لَ َك ِج ْس َم َك َوأ ُ ْر ِو َك ِم ْن ْال َم‬


ِ ‫اء ْال َب‬
‫ار ِد‬ ِ ُ ‫أَلَ ْم أ‬
Bukankah aku sehatkan badanmu, dan aku beri kamu minum dengan air yang dingin? [6]

Maka barangsiapa yang mendapatkan kesehatan, sesungguhnya ia telah mendapatkan kebaikan


yang besar dan bagian yang banyak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallm bersabda.

ْ َ‫س ِد ِه ِع ْندَهُ قُوتُ يَ ْو ِم ِه َف َكأَنَّ َما ِحيز‬


‫ت لَهُ الدُّ ْنيَا‬ ْ َ ‫َم ْن أ‬
َ ‫صبَ َح ِم ْن ُك ْم ِآمناا فِي ِس ْر ِب ِه ُم َعافاى فِي َج‬
Barangsiapa yang mendapatkan rasa aman pada dirinya pada waktu pagi hari, sehat badannya,
(berarti) ia memiliki makanan pada hari itu, seolah-olah dunia dikumpulkan untuknya.

Oleh karena itu, kesehatan merupakan kerajaan yang tersembunyi, mahkota bagi orang-orang
yang sehat; yang tidak dapat dilihat, kecuali oleh orang yang sakit.

Semoga dengan kemurahan dan kedermawananNya, Allah melindungi kita dan semua kaum
muslimin dari segala penyakit. Alhamdulillah atas segala nikmatNya, baik yang nampak maupun
yang tidak nampak.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Hadits riwayat Ibnu Majah
[2]. Dalam riwayat Imam Bukhari terdapat hadits
ِ ‫س ٍل ش َْربَ ِة ثَ ََلثَ ٍة فِي‬
‫الشفَا ُء‬ َ ‫ط ِة َع‬ ٍ ‫ْالكَي ِ َع ْن أ ُ َّمتِي َوأ َ ْن َهى ن‬
َ ‫َار َو َكيَّ ِة ِمحْ َج ٍم َوش َْر‬
[3. Maksudnya yang sudah berkemampuan hendaklah segera menikah (pent)
[4]. HR Muslim
[5]. HR. Bukhari
[6]. Dalam riwayat tirmidzi kami temukan
ِ َ‫اء ْالب‬
‫ار ِد‬ ِ ‫ص َّح لَكَ ِج ْس َمكَ َونُ ْر ِويَكَ ِم ْن ْال َم‬ ِ ُ‫أَلَ ْم ن‬
Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak
Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung
jawab terhadap amanah ini. Tak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak
telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar, dan termasuk
mengkhianati amanah Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu
akan membentuk sebuah bangunan masyarakat.

Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan
mendapatkan pedidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototipe kedua orang
tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab
orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK


Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula
anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah
memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, Allah juga memerintahkan
kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam
mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya,
melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak
nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.

ِ ‫إِنَّ هللاَ يَأْمرك ْم أَن ت َؤدُّوا اْألَ َمانَا‬


‫ت إِلَى أَ ْه ِلهَا‬

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak


menerimanya…[An Nisa’:58].

َ‫الرسو َل َوتَخونوا أَ َمانَاتِك ْم َوأَنت ْم تَ ْعلَمون‬


َّ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ َءا َمنوا الَ تَخونوا هللاَ َو‬

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuai. [Al Anfal:27].

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

ْ ‫سؤ ْو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه و َرجل َراعٍ في أَ ْه ِل ِه َو َم‬


‫سؤ ْو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه‬ ِ َ‫سؤ ْو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه ف‬
ْ ‫اإل َمام َراعٍ َو َم‬ ْ ‫كلُّك ْم َراعٍ َو كلُّك ْم َم‬

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban terhadap yang
dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan bertangung jawab terhadap yang
dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab
terhadap yang dipimpinnya. [HR Al Bukhari].
َ‫علَ ْي ِه ال َجنَّة‬
َ ‫اش ِل َر ِعيَّتِ ِه إالَّ ح َّّر َم هللا‬
ٍ ‫غ‬َ ‫ست َ ْرع ْي ِه هللا َر ِعيَّةً يَم ْوت يَ ْو َم يَم ْوت َو ه َو‬ َ ‫َما ِم ْن‬
ْ َ‫ع ْب ٍد ي‬

Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin, lalu ia mati (sedangkan pada)
hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah akan
mengharamkan surga baginya. [HR Al Bukhari]

SEPULUH KESALAHAN DALAM MENDIDIK ANAK


Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan
tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap
remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak
menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.

Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau
menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran
jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa
sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.
Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya; yang tanpa kita
sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan
remaja.

Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam
mendidik anak-anaknya.

1. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak.


Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita
takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin, dan lain-lain. Dampaknya, anak
akan tumbuh menjadi seorang penakut; takut pada bayangannya sendiri, takut pada
sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakutinya. Misalnya: takut ke kamar mandi sendiri,
takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.
Dan yang paling parah, tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya
sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya,
tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan
senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakuti-nakutinya,
menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya,
anak akan semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat
darah atau merasa sakit.

2. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan
Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-
tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap
sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya
dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya: takut berbohong,
karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka bohong, atau rasa takut
kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak
takut dalam mengamalkan kebenaran.
3. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-Foya, Bermewah-Mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka
bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan
orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqamah
dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakan muru’ah (harga diri) dan kebenaran.

4. Selalu Memenuhi Permintaan Anak.


Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa
memikirkan baik buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu
bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya: si anak minta tas baru
yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru.
Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala
permintaannya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai
uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa
membelanjakan uangnya dengan baik.

5. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih
Kecil.

Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena
suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya,
orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera
berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan
tidak punya jati diri.

6. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
Misalnya, dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan
cacian, ataupun dengan cara-cara keras lain. Ini kadang terjadi, ketika sang anak sengaja
berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

7. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran.

Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa
kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya, mendorong anak-anak itu untuk mencari
uang sendiri dengan berbagai cara. Misalnya: dengan mencuri, meminta-minta pada
orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega
menitipkan anak-anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban orang tuanya.
Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai
hidup. Na’udzubillah min dzalik.

8. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih-
Sayang Di Luar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.
Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke
dalam pergaulan bebas, wa’iyadzubillah. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak
mendapat perhatian dari keluarganya, ia mencari perhatian dari laki-laki di luar
lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu,
karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan
kehormatannya demi cinta semu.

9. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.


Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk
anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik,
makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas.
Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara
benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi
materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih-sayang. Bila kasih-sayang
tidak didapatkan di rumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

10. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya.


Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya.
Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang
dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman-
teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya.
Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya
terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta
segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa adalah penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin, kita juga
tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus
mencair ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak. Agar kita terhindar dari
kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa
depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi
shalih dan shalihah, serta berakhlak mulia. Wallahu a’lamu bishshawaab. (Ummu Shofia)

Maraji:
At Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad, Al Mazhahir Subulul Wiqayati Wal ‘Ilaj, Muhammad bin
Salam Dan Berjabat Tangan Selesai Shalat
Oleh
Syaikh Mansyur Hasan Salman

Mengucapkan salam dan berjabat tangan, merupakan dua hal yang dianjurkan dan ditekankan
oleh syari’at. Tetapi dalam kondisi tertentu, keduanya berubah menjadi terlarang dan dibenci,
manakala diterapkan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah n . Makalah berikut akan
menjelaskan permasalahan tersebut, yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin.
Adalah hal yang sudah dipahami, bahwa petunjuk terbaik berasal dari Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

َ ُ‫ار أ َ ْو َح َج ٌر ث ُ َّم لَ ِقيَهُ فَ ْلي‬


‫س ِل ْم َعلَ ْي ِه أَ ْيضاا‬ ٌ َ‫ش َج َرة ٌ أ َ ْو ِجد‬ ْ َ‫علَ ْي ِه فَإ ِ ْن َحال‬
َ ‫ت بَ ْينَ ُه َما‬ َ ُ‫ي أ َ َحد ُ ُك ْم أَخَاهُ فَ ْلي‬
َ ‫س ِل ْم‬ َ ‫ِإذَا لَ ِق‬

Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia
mengucapkan salam ; dan apabila terhalang oleh pohon, tembok atau batu kemudian keduanya
bertemu lagi, maka hendaklah ia mengucapkan salam pula. [1]

Dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm memerintahkan kepada kaum
muslimin agar mengucapkan salam kepada saudaranya ketika bertemu, karena dapat mempererat
persatuan, menghilangkan kebencian dan menumbuhkan rasa cinta. Namun perintah dalam
hadits tersebut untuk menunjukkan sunnah, dalam arti sebagai anjuran dan penekanan. Bukan
wajib.

Ucapan salam ini diucapkan, tanpa membedakan orang yang disalami, baik ia di dalam atau di
luar masjid. Bahkan Sunnah yang shahih telah menunjukkan disyari’atkannya mengucapkan
salam kepada orang yang di dalam masjid, baik orang itu sedang shalat ataupun tidak.

Ibnu Umar menceritakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju masjid Quba
untuk shalat, lalu para sahabat Anshar datang dan mengucapkan salam kepada Beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam, padahal Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm sedang melakukan shalat.

Ibnu Umar berkata: “Aku bertanya kepada Bilal. Bagaimana engkau melihat Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salam, ketika mereka mengucapkan salam kepadanya,
padahal Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang shalat?” Bilal menjawab,”Beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam menjawabnya demikian, sembari membentangkan telapak tangannya, -Ja’far
bin Aun pun membentangkan tapak tangannya, menjadikan perut tapak tangannya di bawah dan
punggung tapak tangannya di atas-.” [2]

Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih berpendapat seperti hadits ini. Al Marwazi
mengatakan,”Aku bertanya kepada Ahmad bin Hambal. Apakah ia memberikan salam kepada
sekelompok orang, padahal mereka sedang shalat?” Ia berkata,”Ya,” Lalu beliau rahimahullah
menyampaikan kisah Bilal ketika ditanya Ibnu Umar tentang cara Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab salam?” Ia berkata,”Dengan menggunakan isyarat.”

Ishaq berkata: ”(Pendapatku) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad”. [3]

Pendapat inilah yang dipilih Al Qadhi Ibnu Al Arabi. Beliau mengatakan, adakalanya isyarat
dalam shalat berfungsi untuk menjawab salam, karena adanya perintah yang turun (wahyu)
berkaitan dengan shalat, namun adakalanya pula isyarat itu dilakukan karena adanya kebutuhan
lain yang dihadapi oleh orang yang tengah shalat. Jika isyarat itu untuk menjawab salam, maka
dalam masalah ini terpadat atsar (riwayat) shahih, misalnya seperti perbuatan Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam di masjid Quba dan lainnya.[4]

Sementara dalil disyari’atkannya memberikan salam setelah shalat di dalam masjid, diantaranya
sebuah hadits yang masyhur, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu :

َّ‫سلَّ َم فَ َرد‬ َّ ‫صلَّى‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫سلَّ َم َعلَى َر‬ َ َ‫سلَّ َم دَ َخ َل ْال َمس ِْجدَ فَدَ َخ َل َر ُج ٌل ف‬
َ َ‫صلَّى ث ُ َّم َجا َء ف‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫أ َ َّن َر‬
ِ ‫صلَّى ث ُ َّم َجا َء ِإلَى النَّ ِبي‬ َ َ‫صلَّى َك َما َكان‬َ َ‫الر ُج ُل ف‬
َّ ‫ص ِل فَ َر َج َع‬ َ ُ ‫ص ِل فَإِنَّكَ لَ ْم ت‬ ْ ‫سلَّ َم الس َََّل َم قَا َل‬
َ َ‫ار ِج ْع ف‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َر‬
‫سلَّ َم‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ

Rasulullah masuk masjid, kemudian ada seorang laki-laki masuk masjid lalu ia shalat. Kemudian
lelaki itu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam kepada Beliau Shallallahu 'alaihi wa
salalm, lalu Rasulullah menjawab salam orang itu. Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata,”Kembali dan shalatlah (ulangi, Red)! Sesungguhnya engkau belum shalat.” Lelaki
itupun kembali melakukan shalat sebagaimana shalatnya tadi, kemudian datang kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam (dia melakukan hal itu sampai tiga kali). [5]

Syaikh Al Albani menyatakan,”Hadits ini dijadikan dalil oleh Shidiq Hasan Khan dalam kitab
Nazlu Al Abrar, bahwa apabila ada seseorang mengucapkan salam kepada orang lain (dalam
jarak yang jauh-red), kemudian menemuinya dalam jarak yang lebih dekat, maka disunnahkan
baginya untuk mengucapkan salam lagi, baik yang kedua ataupun yang ketiga kalinya.”

Al Albani juga mengatakan,”Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya mengucapkan


salam kepada orang yang berada di dalam masjid. Masalah ini telah ditunjukkan oleh hadits,
berkaitan dengan sahabat dari kalangan Anshar yang mengucapkan salam kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam di masjid Quba, sebagaimana penjelasan di atas. Meskipun
demikian, pada saat yang sama, kita dapati sebagian orang yang fanatik, tidak mau
mengindahkan Sunnah ini. (Misalnya) ada seseorang di antara mereka yang masuk masjid
namun tidak mengucapkan salam kepada orang yang berada di masjid, karena ia mengira,
mengucapkan salam kepada orang yang berada di masjid makruh (dibenci) hukumnya. Semoga
yang kami tulis ini menjadi pengingat bagi mereka dan pengingat lainnya. Sebab peringatan itu
bermanfaat bagi orang yang beriman.”[6]

KESIMPULAN
Sesungguhnya salam dan berjabat tangan dilakukan ketika datang dan berpisah walaupun
sebentar, baik di dalam maupun di luar Masjid. Akan tetapi, ada sesuatu yang disayangkan, yaitu
ketika anda mengucapkan salam kepada seseorang saat berjumpa dengannya seusai shalat,
dengan mengucapkan

“ ‫“ السَلم عليكم ورحمة هللا‬

ia malah spontan menjawab ُ‫( تَقَبَّ َل هللا‬semoga Allah memperkenankan). Anehnya, orang ini
beranggapan telah menunaikan kewajiban menjawab salam. Seakan dia tidak mendengar firman
Allah Azza wa Jalla :

‫سنَ ِم ْن َهآ أَ ْو ُردُّوهَآ‬


َ ْ‫َوإِذَا ُحيِيتُم بِت َِحيَّ ٍة فَ َحيُّوا بِأَح‬

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan
lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). [An Nisa’:86].

Sementara ada sebagian lagi yang serta merta melontarkan ucapan ُ‫ تَقَبَّ َل هللا‬sebagai ganti dari
salam, padahal Allah berfirman:

َ ُ‫ت َِحيَّتُ ُه ْم َي ْو َم َي ْلقَ ْونَه‬


‫سَلَ ٌم‬

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu'min itu) pada hari mereka menemuiNya
ialah "Salam (assalamu’alaikum)". [Al Ahzab:44].

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

‫سَلَ َم بَ ْينَ ُك ْم‬ ُ ‫أ َ ْف‬


َّ ‫شوا ال‬

Sebarkanlah salam diantara kalian.[7]


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak bersabda “Katakanlah: taqabbalallahu”.

Dan kami juga tidak mengetahui ada riwayat dari seorangpun sahabat Nabi atau Salafush Shalih,
bahwa ketika selesai shalat mereka berpaling ke kiri dan ke kanan untuk berjabat tangan dengan
orang-orang di sekitarnya dan mendo’akan agar shalatnya diterima. Seandainya ada seorang
diantara mereka yang melakukannya, tentu akan ada riwayat yang kepada kita, meskipun dengan
sanad yang lemah. Dan niscaya Ahlul Ilmi akan menyampaikannya kepada kita. [8]

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin mengatakan,”Banyak orang-orang shalat


menjulurkan tangan-tanganya untuk berjabat tangan dengan orang-orang di sekitarnya. Ini
dilakukan langsung setelah salam (selesai) dari shalat wajib sambil berdo’a dengan do’a
taqabbalallahu. Perbuatan ini adalah bid’ah. Tidak diriwayatkan dari Salaf.” [9]

Bagaimana tidak bid’ah, sedangkan para muhaqqiq (para peneliti) telah mengatakan, bahwa
berjabat tangan seperti itu, dan dengan cara yang telah disebutkan adalah perbuatan bid’ah.

Al Izz bin Abdussalam mengatakan,”Berjabat tangan setelah shalat Subuh dan Ashar adalah
bid’ah. Terkecuali bagi orang yang baru datang lalu berkumpul dengan orang-orang yang
kemudian menjabat tangannya sebelum shalat. Maka berjabat tangan seperti itu disyari’atkan
ketika baru datang. Sedangkan langsung setelah selesai shalat, Nabi n biasa melakukan dzikir-
dzikir yang disyari’atkan dan membaca istighfar tiga kali, kemudian pergi. Diriwayatkan, bahwa
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a:

ُ ‫اللَّ ُه َّم ِق ِني َعذَا َبكَ َي ْو َم تَ ْب َع‬


َ‫ث ِع َبادَك‬

Ya, Allah. Peliharalah aku dari adzabmu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hambaMu.
[10]

Sesungguhnya semua kebaikan hanyalah terletak pada ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. [11]

Pada zaman Al Izz Bin Abdussalam, bid’ah ini terjadi hanya ketika selesai dari dua shalat (yaitu
Subuh dan Ashar, Red), sedangkan pada zaman kita sekarang ini, bid’ah tersebut dilakukan
sesudah semua shalat. La haula wala quwwata illa billah.

Al Laknuwi mengatakan, ada dua hal yang tersebar pada zaman kita ini di sebagian besar negara,
khususnya di negeri Dakan yang merupakan tempat munculnya berbagai bid’ah dan fitnah. Dua
hal yang harus ditinggalkan :
Pertama : Mereka justeru tidak mengucapkan salam ketika memasuki masjid, pada waktu shalat
Subuh, bahkan langsung masuk, melaksanakan shalat sunnah, kemudian shalat fardlu. Tetapi
mereka malah mengucapkan salam satu sama lain dengan segala rangkaiannya, tepat ketika
shalat usai. Ini adalah perbuatan jelek. Sesungguhnya, mengucapkan salam hanya disunnahkan
ketika bertemu, sebagaimana telah sah dijelaskan dalam banyak hadits, bukan ketika sudah
berada di tengah-tengah majelis.
Kedua : Mereka berjabat tangan tepat setelah selesai shalat Subuh dan Ashar, serta dua shalat Id
dan Jum’at. Padahal disyari’atkannya berjabat tangan juga ketika di awal pertemuan. [12]

Setelah membawakan perselisihan pendapat dalam masalah berjabat tangan usai shalat, Al
Laknuwi mengatakan, diantara ulama yang melarang berjabat tangan sehabis shalat adalah Ibnu
Hajar Al Haitsami As Syafi’i, dan Qatbuddin bin ‘Ala’uddin Al Makki Al Hanafi. Sedangkan Al
Fadhil Ar Rumi, dalam Kitab Majalis al-Abrar, menggolongkannya ke dalam bid’ah yang keji.
Beliau menyatakan, berjabat tangan itu baik, jika dilakukan di saat bertemu. Adapun diselain itu,
seperti berjabat tangan seusai shalat Jum’ah dan Id, (dijadikan) sebagai adat pada zaman kita ini,
maka seperti ini tidak diterangkan oleh hadits, sehingga tetap tidak memiliki dalil. Dan telah
ditetapkan, bahwa sesuatu yang tidak ada dalilnya, maka tertolak dan tidak boleh diikuti. [13]

Beliau juga berkata,”Para pakar fiqih dari kalangan Hanafiyyah, Syafi'iyyah dan Malikiyyah
telah menjelaskan secara tegas akan dibencinya hal tersebut dan merupakan bid'ah.” Beliau
berkata di dalam Multaqath,”Berjabat tangan setelah shalat dibenci dalam segala kondisi. Karena
para shahabat tidak berjabat tangan setelah shalat. Juga karena hal itu merupakan kebiasaan
orang-orang Syi’ah (Rafidhah).” Ibnu Hajar, termasuk ulama Syafi’iyyah,
mengatakan,”Perbuatan yang dilakukan manusia, yaitu berjabat tangan setelah shalat lima waktu,
hukumnya makruh (dibenci), tidak ada dalilnya dalam syari'at.”

Kemudian Al Laknuwi rahimahullah menerangkan ijtihad dan pendapat yang dipilih, Beliau
mengatakan,”Dan aku mengatakan, sesungguhnya mereka (para ulama) telah sepakat, bahwa
berjabat tangan (model) ini tidak ada dasarnya dalam syari'at. Kemudian mereka berselisih
pendapat dalam hal kemakruhan dan kemubahannya. Padahal, apabila suatu masalah berkisar
antara makruh dan mubah, maka selayaknya difatwakan untuk dilarangnya, karena “mencegah
kejelekkan”, lebih diutamakan daripada “mendatangkan manfaat”. Bagaimana tidak lebih utama
dibandingkan melakukan perkara mubah, sementara orang-orang yang berjabat tangan pada
masa kita mengira perbuatan ini sebagai sesuatu yang baik. Dan mereka mencela orang yang
melarangnya dengan celaan yang sangat keji. Mereka terus-menerus melakukannya dengan
berlebihan. Dan sebagaimana pembahasan yang telah berlalu, bahwa terus-menerus melakukan
perkara yang dianjurkan bisa mengantarkan ke batas makruh. Lalu, bagaimana dengan orang
yang selalu mengerjakan kebid'ahan yang tidak ada dasarnya dari syari'at ini? Berdasarkan ini
semua, maka tidak diragukan, bahwa itu (berjabat tangan setelah shalat) adalah makruh. Inilah
tujuan orang yang memfatwakan kemakruhannya (yaitu makruh tahrim). Sementara kata makruh
(dibenci), hanyalah ungkapan-ungkapan orang-orang terdahulu dan pemberi fatwa yang dinukil
oleh orang. Kata makruh ini disamai oleh riwayat-riwayat seperti perbuatan pengarang kitab
Jam'ul Al Barakat, As Siraaj Al Munir dan Mathalib Al Mukmiin, berupa tasahul (terlalu
gampang) dalam menshahihkan hadits, ini merupakan perkara yang dapat disaksikan, dan
perbuatan mereka mengumpulkan hadits tanpa peduli shahih atau dhaif, merupakan satu perkara
yang sudah diketahui bersama. Dan aneh, pengarang kitab Khazanah Ar Riwayah, dimana ia
mengatakan dalam kitab ‘Aqdil Laaliy; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

‫صَلَةِ ْالفَجْ ِر يَ ْكتُبُ هللاُ لَ ُك ْم بِ َها َع ْش ارا‬


َ َ‫صافِ ُح ْوا بَ ْعد‬
َ

Saling berjabat tanganlah selepas shalat Fajr, niscaya Allah akan menetapkan (pahala) sepuluh
kali lipat bagi kalian.

Dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

ِ ‫الرحْ َم ِة َو ْالغُ ْف َر‬


‫ان‬ ْ َ‫صافِ ُح ْوا بَ ْعدَ ْالع‬
َّ ِ‫ص ِر تُؤْ َج ُر ْوا ب‬ َ

Berjabat tanganlah selepas shalat Ashar, kalian akan diganjar dengan rahmat serta ampunan.

Dia tidak tahu, bahwa dua hadits ini dan yang semisalnya merupakan hadits palsu yang dibuat
oleh orang-orang yang melakukan jabat tangan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. [15]

Terakhir, perlu diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh menghentikan (bacaan) tasbih
saudaranya, kecuali dengan sebab syar'i. Dan pemandangan yang kita saksikan, banyak kaum
muslimin terganggu, saat berdzikir dengan dzikir-dzikir yang disunahkan sehabis shalat Fardhu,
karena tiba-tiba mereka dikagetkan dengan tangan yang dijulurkan untuk berjabat tangan dari
kanan dan kiri. Ini mengakibatkan mereka terganggu, bukan karena jabat tangannya, tetapi
karena tasbih mereka terputus dan terhalang dari berdzikir kepada Allah, yang disebabkan oleh
jabat tangan tersebut tanpa sebab, semisal baru bertemu dan sejenisnya.

Apabila masalahnya seperti ini, maka bukanlah satu hikmah, engkau menarik tanganmu dari
tangan orang disampingmu dan menolak tangan yang diulurkan kepadamu, hal ini adalah bathil
yang tidak dikenal Islam. Akan tetapi, pegang tangannya dengan halus dan penuh kelembutan
dan jelaskanlah padanya tentang bid'ahnya jabat tangan ini, yang dibuat-buat oleh manusia.
Betapa banyak orang yang sadar karena peringatan dan dia memang orang yang pantas
menerima nasihati. Karena kebodohan telah menyeretnya kedalam pelanggaran sunnah.

Maka kewajiban bagi orang yang berilmu dan para penuntut ilmu untuk menjelaskan dengan
baik. Dan bisa jadi, seorang penuntut ilmu ingin mengingkari (mencegah) kemungkaran tapi
tidak bisa memilih cara yang baik dan selamat, akibatnya ia terperosok kedalam kemungkaran
yang lebih besar dari kemungkaran yang ingin dicegah sebelumnya.
Maka berlemah lembutlah! wahai para da’i Islam, raihlah kecintaan manusia dengan akhlakmu
yang terpuji, niscaya kamu akan mampu menguasa hati-hati mereka dan kamu akan mendapati
telinga-telinga yang mau mendengarkan dan hati-hati yang mau memperhatikan. Sesungguhnya
tabi'at manusia adalah lari dari kekasaran serta kekerasan [16]

(Diangkat dari kitab Al Qaulul Al Mubin Fi Akhtha' Al Mushallin, karya Syaikh Mansyur Hasan
Salman, hlm. 290-296. Disarikan oleh Abu Azzam dengan beberapa perubahan).

_______
Footnote
[1]. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, no. 5.200 dan sanadnya shahih, sedangkan
semua perawinya terpercaya. Lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah, no. 186.
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, no. 927 dan Ahmad dalam Al Musnad
(2/30) dengan sanad shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim. Lihat Silsilah
Ahadits Ash Shahihah, no. 185.
[3]. Masail Al Marwazi, hlm. 22.
[4]. ‘Aridhah Al Ahwadz (2/162).
[5]. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. (Tambahan Redaksi: Orang itu itu disuruh
mengulangi shalatnya, dikarenakan cara shalatnya tidak benar. Kemudian di bagian akhir dari
hadits ini, dia meminta kepada Rasulullah agar mengajarinya cara shalat yang benar, dan
Rasulullah pun memenuhi permintaannya. Lalu Beliau n mengajarinya cara shalat yang benar).
[6]. Silsilah Ahadits Ash Shahihah (1/314).
[7]. Dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya, no. 54 dan Ahmad dalam Al Musnad (2/391,
443,447, 495) dan lainnya.
[8]. Kelengkapan ucapan ini, lihat kitab Bid’iyatul Mushafahah Ba’da Salam, hlm. 24-25.
[9]. Majalah Al Mujtama’, Edisi 855.
[10]. Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, no 62; Imam Tirmidzi dalam Al Jami’, no.
3.398 dan 3.399; dan Imam Ahmad dalam Al Musnad (4/290).
[11]. Fatawa Izzu Bin Abdussalam, hlm. 46-47 dan lihat Majmu’ (3/488).
[12]. As Si’ayah Fi Al Kasyfi ‘Amma Fi Syarhi Al Wiqayah, hlm. 264. Dan dari ucapan beliau
ini bisa difahami, bahwa tidak mengapa berjabat tangan yang dilakukan antara dua orang atau
lebih yang belum bertemu sebelum shalat.
Al Albani mengatakan,”Dan adapun berjabat tangan setelah shalat, maka tidak diragukan lagi
bid’ahnya, terkecuali jika jabat tangan antara dua orang yang belum bertemu sebelum shalat,
maka hal itu adalah sunnah.” Lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah (1/23).
[13]. As Si’ayah Fi Al Kasyfi ‘Amma Fi syarhi Al Wiqayah, dan lihat Ad Dinul Khalish (4/314),
Al Madkhal (2/84) dan Sunan Wal Mubtada’at, hlm. 72, 78.
[14]. As Si’ayah Fi Al Kasyfi 'Amma Fi Syarhi Al Wiqayah.
[15]. As Si’ayah Fi Al Kasyfi 'Amma Fi Syarhi Al Wiqayah, hlm. 265.l Hamd.
Keutamaan Dan Bentuk Majlis Dzikir
Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari

Tidak diragukan bahwa dzikrullah (mengingat Allah) merupakan salah satu ibadah yang agung.
Dengan dzikrullah seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb-nya, mengisi waktunya dan
memanfaatkan nafas-nafasnya.

KEUTAMAAN MAJLIS DZIKIR


Demikian juga majlis dzikir, merupakan majlis yang sangat mulia di sisi Allah Ta’ala dan
memiliki berbagai keutamaan yang agung. Diantaranya:

Pertama : Majlis dzikir adalah taman surga di dunia ini.

‫اض ْال َجنَّ ِة‬ ْ َ‫اض ْال َجنَّ ِة ف‬


ُ َ‫ارتَعُوا قَالُوا َو َما ِري‬ ِ َ‫سلَّ َم قَا َل إِذَا َم َر ْرت ُ ْم بِ ِري‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫َّللاُ َع ْنهُ أ َ َّن َر‬
َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫ضي‬ِ ‫َع ْن أَن َِس ب ِْن َمالِكٍ َر‬
‫الذ ْك ِر‬ِ ‫قَا َل ِحلَ ُق‬

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para
sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah
(kelompok-kelompok) dzikir.” [1]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di


dunia, hendaklah dia menempati majlis-majlis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.”[2]

Kedua : Majlis dzikir merupakan majlis malaikat. Juga menjadi penyebab turunnya ketenangan
dan rahmat Allah. Allah membanggakannya kepada malaikat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersbada:

َّ ‫س ِكينَةُ َوذَك ََر ُه ُم‬


ُ‫َّللاُ فِي َم ْن ِع ْندَه‬ َّ ‫ت َعلَ ْي ِه ُم ال‬ َّ ‫َّللاَ َع َّز َو َج َّل ِإ ًَّل َحفَّتْ ُه ُم ْال َم ََل ِئ َكةُ َو َغ ِشيَتْ ُه ُم‬
ْ َ‫الرحْ َمةُ َونَزَ ل‬ َّ َ‫ًَل يَ ْقعُد ُ قَ ْو ٌم يَ ْذ ُك ُرون‬

Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kecuali para
malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada
mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisiNya.[3]

BENTUK-BENTUK MAJLIS DZIKIR


Setelah kita mengetahui keutamaan yang begitu besar tentang majlis dzikir, maka yang lebih
penting lagi, kita juga perlu mengetahui bentuk-bentuk majlis dzikir. Sehingga dapat
mengamalkan ibadah yang besar ini sesuai dengan tuntunan.

Dari hadits-hadits yang menyebutkan tentang majlis dzikir, dapat kita ketahui bentuk-bentuk
majlis dzikir sebagai berikut.

Pertama. Duduk bersama-sama, kemudian masing-masing berdzikir dengan pelan.


Jenis-jenis dzikir yang diucapkan yaitu:
- Tasbih, ucapan Subhanallah;
- Takbir, ucapan Allah Akbar;
- Tahmiid, ucapan Alhamdulillah;
- Tahlil, ucapan Laa ilaaha illa Allah. (HR Muslim, no. 2689).
- Meminta surga kepada Allah. Seperti dengan perkataan:
- Permohonan perlindungan kepada Allah dari neraka. Misalnya dengan perkataan:
- Istighfar (ucapan astaghfirullah). (HR Muslim, no. 2689).

Bentuk dzikir ini ditunjukkan oleh hadits-hadits di bawah ini:

‫الذ ْك ِر فَإِذَا َو َجدُوا‬ ِ ‫ق يَ ْلت َِمسُونَ أَ ْه َل‬ ِ ‫ط ُر‬ ُّ ‫طوفُونَ فِي ال‬ ُ َ‫سلَّ َم إِ َّن ِ َّّلِلِ َم ََلئِ َكةا ي‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َع ْن أَبِي ه َُري َْرة َ قَا َل قَا َل َر‬
‫اء الدُّ ْنيَا قَا َل فَيَ ْسأَلُ ُه ْم َربُّ ُه ْم َوه َُو أَ ْعلَ ُم ِم ْن ُه ْم َما‬
ِ ‫س َم‬ َّ ‫َّللاَ تَنَادَ ْوا َهلُ ُّموا إِلَى َحا َجتِ ُك ْم قَا َل فَيَ ُحفُّونَ ُه ْم بِأَجْ نِ َح ِت ِه ْم إِلَى ال‬ َّ َ‫قَ ْو اما يَذْ ُك ُرون‬
َّ ‫سبِ ُحونَكَ َويُكَبِ ُرونَكَ َويَحْ َمد ُونَكَ َويُ َم ِجد ُونَكَ قَا َل فَيَقُو ُل ه َْل َرأ َ ْونِي قَا َل فَيَقُولُونَ ًَل َو‬
‫َّللاِ َما‬ َ ُ‫يَقُو ُل ِعبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ ي‬
‫شدَّ لَكَ ت َ ْم ِجيداا َوتَحْ ِميداا َوأَ ْكثَ َر لَكَ تَ ْس ِبي احا قَا َل‬ َ َ‫شدَّ لَكَ ِعبَادَة ا َوأ‬ َ َ‫ْف لَ ْو َرأ َ ْونِي قَا َل يَقُولُونَ لَ ْو َرأ َ ْوكَ كَانُوا أ‬ َ ‫َرأ َ ْوكَ قَا َل فَيَقُو ُل َو َكي‬
‫ْف لَ ْو أَنَّ ُه ْم َرأَ ْوهَا‬ َ ‫ب َما َرأَ ْوهَا قَا َل َيقُو ُل فَ َكي‬ َّ ‫َيقُو ُل فَ َما َي ْسأَلُو ِني قَا َل َي ْسأَلُونَكَ ْال َجنَّةَ قَا َل َيقُو ُل َوه َْل َرأ َ ْوهَا قَا َل َيقُولُونَ ًَل َو‬
ِ ‫َّللاِ َيا َر‬
‫ار‬ ِ َّ‫ظ َم ِفي َها َر ْغ َبةا قَا َل فَ ِم َّم َيتَ َع َّوذُونَ قَا َل َيقُولُونَ ِمنَ الن‬ َ ‫طلَباا َوأ َ ْع‬ َ ‫شدَّ لَ َها‬ َ َ ‫صا َوأ‬‫شدَّ َعلَ ْي َها ِح ْر ا‬ َ َ ‫قَا َل َيقُولُونَ لَ ْو أَنَّ ُه ْم َرأ َ ْوهَا كَانُوا أ‬
‫شدَّ ِم ْن َها‬ َ َ‫ْف لَ ْو َرأ َ ْوهَا قَا َل َيقُولُونَ لَ ْو َرأ َ ْوهَا كَانُوا أ‬ َ ‫ب َما َرأَ ْوهَا قَا َل َيقُو ُل فَ َكي‬ ِ ‫َّللاِ َيا َر‬َّ ‫قَا َل َيقُو ُل َوه َْل َرأ َ ْوهَا قَا َل َيقُولُونَ ًَل َو‬
‫ْس ِم ْن ُه ْم ِإ َّن َما َجا َء‬َ ‫شدَّ لَ َها َمخَافَةا قَا َل فَ َيقُو ُل فَأ ُ ْش ِهد ُ ُك ْم أ َ ِني قَدْ َغفَ ْرتُ لَ ُه ْم قَا َل َيقُو ُل َملَكٌ ِمنَ ْال َم ََل ِئ َك ِة ِفي ِه ْم فُ ََل ٌن لَي‬ َ َ ‫ارا َوأ‬
‫ِف َر ا‬
‫س ُه ْم‬ُ ‫سا ُء ًَل َي ْشقَى ِب ِه ْم َج ِلي‬ َ َ‫ِل َحا َج ٍة قَا َل ُه ُم ْال ُجل‬

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-
jalan mencari Ahli Dzikir [4]. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir
kepada Allah [5], mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling
mengajak: ‘Kemarilah kepada hajat kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang
berdzikir dengan sayap mereka sehingga langit dunia [6]. Kemudian Allah Azza wa Jalla
bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, ’Apa yang
diucapkan oleh hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab,’Mereka mensucikanMu
(mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu (mengucapkan takbir: Allah
Akbar), mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkanMu’ [7].
Allah bertanya,’Apakah mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, mereka
tidak melihatMu’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatKu?’ Mereka
menjawab,’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat
kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu’. Allah berkata,’Lalu,
apakah yang mereka minta kepadaKu?’ Mereka menjawab, ’Mereka minta surga kepadaMu’.
Allah bertanya,’Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, Wahai
Rabb, mereka tidak melihatnya’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’
Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan
lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan’.”
Allah berkata:“Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka
menjawab,”Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu.” Allah bertanya,”Apakah mereka
melihatnya?” Mereka menjawab,”Tidak, demi Allah, wahai Rabb. Mereka tidak melihatnya.”
Allah berkata,”Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Seandainya
mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap
neraka).” Allah berkata,”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.”
Seorang malaikat diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak
termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir, Pent). Sesungguhnya dia datang hanyalah karena
satu keperluan.” Allah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang duduk. Teman duduk mereka
tidak akan celaka (dengan sebab mereka).” [8]

Dalam hadits lain disebutkan:

َ َ‫آّلِلِ َما أَجْ ل‬


‫س ُك ْم ِإ ًَّل‬ َّ ‫َّللاَ قَا َل‬َّ ‫س ُك ْم قَالُوا َجلَ ْسنَا نَذْ ُك ُر‬ َ َ‫س ِعي ٍد ْال ُخد ِْري ِ قَا َل خ ََر َج ُمعَا ِويَةُ َعلَى َح ْلقَ ٍة فِي ْال َمس ِْج ِد فَقَا َل َما أَجْ ل‬ َ ‫َع ْن أَبِي‬
َّ ‫صلَّى‬
‫َّللاُ َعلَ ْي ِه‬ َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫سنَا إِ ًَّل ذَاكَ قَا َل أ َ َما إِنِي لَ ْم أَ ْستَحْ ِل ْف ُك ْم ت ُ ْه َمةا لَ ُك ْم َو َما َكانَ أ َ َحد ٌ بِ َم ْن ِزلَتِي ِم ْن َر‬ َ َ‫َّللاِ َما أَجْ ل‬
َّ ‫ذَاكَ قَالُوا َو‬
‫س ُك ْم قَالُوا َجلَ ْسنَا نَذْ ُك ُر‬ ْ َ ‫سلَّ َم خ ََر َج َعلَى َح ْلقَ ٍة ِم ْن أ‬
َ َ‫ص َحا ِب ِه فَقَا َل َما أَجْ ل‬ َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬َّ ‫صلَّى‬ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫سو َل‬ ُ ‫سلَّ َم أَقَ َّل َع ْنهُ َحدِيثاا ِم ِني َو ِإ َّن َر‬
َ ‫َو‬
‫سنَا ِإ ًَّل ذَاكَ قَا َل أ َ َما ِإ ِني لَ ْم‬ َ َ‫َّللاِ َما أَجْ ل‬
َّ ‫س ُك ْم إِ ًَّل ذَاكَ قَالُوا َو‬ َ َ‫آّلِلِ َما أَجْ ل‬
َّ ‫لس ََْل ِم َو َم َّن ِب ِه َعلَ ْينَا قَا َل‬ ِ ْ ‫َّللاَ َونَحْ َمد ُهُ َعلَى َما َهدَانَا ِل‬
َّ
َ‫َّللاَ َع َّز َو َج َّل يُ َباهِي ِب ُك ُم ْال َم ََل ِئ َكة‬
َّ ‫أ َ ْستَحْ ِل ْف ُك ْم ت ُ ْه َمةا لَ ُك ْم َولَ ِكنَّهُ أَت َا ِني ِجب ِْري ُل فَأ َ ْخ َب َر ِني أ َ َّن‬

Dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata: Mu’awiyah keluar menemui satu halaqah (kelompok
orang yang duduk berkeliling) di dalam masjid, lalu dia bertanya,”Apa yang menyebabkan
engkau duduk?” Mereka menjawab,”Kami duduk berdzikir kepada Allah.” Dia bertanya
lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?” Mereka
menjawab,”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?” Dia
berkata,”Sesungguhnya aku tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong,
Pent.) kepadamu. Tidaklah ada seorangpun yang memiliki kedudukan seperti aku dari Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, lebih sedikit haditsnya dariku. Dan sesungguhnya, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar menemui satu halaqah dari para sahabat beliau.
Kemudian beliau bertanya,’Apa yang menyebabkan engkau duduk?’.” Mereka menjawab,”Kami
duduk berdzikir kepada Allah.” Beliau bertanya lagi,”Demi, Allah. Tidak ada yang
menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?” Mereka menjawab,”Demi, Allah. Tidak ada
yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?” Beliau bersabda,”Sesungguhnya, aku
tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong, Pent) kepadamu. Akan tetapi
Jibril telah mendatangiku, lalu memberitahukan kepadaku, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala
membanggakanmu kepada para malaikat.” [HR Muslim, no. 2701].

Dari pertanyaan Mu’awiyah kepada orang-orang yang ada di halaqah, demikian juga dari
pertanyaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat, mengisyaratkan bahwa
dzikir yang mereka lakukan adalah dengan cara pelan. Karena jika keras, tentulah tidak perlu
ditanya. Bahkan tentu diingkari, sebagaimana hadits di bawah ini.

Abu Musa Al-Asy’ari berkata:

‫اس َعلَى َوا ٍد فَ َرفَعُوا‬ ُ َّ‫ف الن‬ َ ‫سلَّ َم أ َ ْش َر‬ َّ ‫صلَّى‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫سلَّ َم َخ ْيبَ َر أ َ ْو قَا َل لَ َّما ت ََو َّجهَ َر‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫لَ َّما غَزَ ا َر‬
َ َ
َ‫اربَعُوا َعلى أ ْنفُ ِس ُك ْم إِنَّ ُك ْم ًَل تَدْعُون‬ َّ
ْ ‫سل َم‬ َ
َ ‫َّللاُ َعل ْي ِه َو‬َّ ‫صلى‬ َّ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫سو ُل‬ َّ َ ْ َ
َّ ‫َّللاُ أك َب ُر ًَل إِلهَ إًِل‬
ُ ‫َّللاُ فَقَا َل َر‬ ْ َ
َّ ‫َّللاُ أكبَ ُر‬ َّ ‫ير‬ ْ
ِ ‫ص َوات َ ُه ْم بِالتَّك ِب‬ْ َ‫أ‬
‫س ِمعَنِي َوأَنَا أَقُو ُل ًَل‬ َ َ‫سلَّ َم ف‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ِل‬ ُ ‫ف دَابَّ ِة َر‬ َ ‫س ِميعاا قَ ِريباا َوه َُو َمعَ ُك ْم َوأَنَا خ َْل‬ َ َ‫ص َّم َو ًَل غَائِباا إِنَّ ُك ْم تَدْعُون‬ َ َ‫أ‬
‫وز ْال َجنَّ ِة‬ ِ ُ‫َّللاِ قَا َل أ َ ًَل أَدُلُّكَ َعلَى َك ِل َم ٍة ِم ْن َك ْن ٍز ِم ْن ُكن‬ َّ ‫سو َل‬ ُ ‫َّللاِ بْنَ قَي ٍْس قُ ْلتُ لَبَّيْكَ يَا َر‬ َّ َ‫اّلِلِ فَقَا َل ِلي يَا َع ْبد‬ َّ ِ‫َح ْو َل َو ًَل قُ َّوة َ إِ ًَّل ب‬
َّ ِ‫َّللاِ فَدَاكَ أَبِي َوأ ُ ِمي قَا َل ًَل َح ْو َل َو ًَل قُ َّوةَ إِ ًَّل ب‬
ِ‫اّلِل‬ َّ ‫سو َل‬ ُ ‫قُ ْلتُ بَلَى يَا َر‬

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang
menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara mereka dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Pelanlah!
Sesungguhnya engkau tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yang tidak ada. Sesungguhnya,
engkau menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersamamu (dengan
ilmuNya, pendengaranNya, penglihatanNya, dan pengawasanNya, Pent.).” Dan saya (Abu Musa)
di belakang hewan (tunggangan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau mendengar aku
mengatakan: “Laa haula wa laa quwwata illa billah”. Kemudian Beliau bersabda
kepadaku,”Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa)!” Aku berkata,”Aku sambut panggilanmu,
wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat,
yang merupakan simpanan di antara simpanan-simpanan surga?” Aku menjawab,”Tentu, wahai
Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda,”Laa haula wa laa
quwwata illa billah.” [HR Bukhari, no. 4205; Muslim, no. 2704].

Dan dzikir secara pelan merupakan adab yang Allah perintahkan. Dia berfirman:

َ‫صا ِل َوًلَتَ ُكن ِمنَ ْالغَافِلِين‬


َ َ ‫ض ُّرعاا َو ِخ ْيفَةا َود ُونَ ْال َج ْه ِر ِمنَ ْالقَ ْو ِل ِب ْالغُد ُِو َواْْل‬
َ َ ‫َواذْ ُكر َّربَّكَ فِي نَ ْفسِكَ ت‬

Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan
rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raf:205].

Kedua : Duduk bersama-sama untuk membaca dan mempelajari Al Qur’an. Yaitu dengan cara
salah seorang membaca dan yang lainnya mendengarkan. Hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil
berikut.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

َّ ‫س ِكينَةُ َوذَك ََر ُه ُم‬


ُ‫َّللاُ فِي َم ْن ِع ْندَه‬ َّ ‫ت َعلَ ْي ِه ُم ال‬ َّ ‫َّللاَ َع َّز َو َج َّل ِإ ًَّل َحفَّتْ ُه ُم ْال َم ََل ِئ َكةُ َو َغ ِشيَتْ ُه ُم‬
ْ َ‫الرحْ َمةُ َونَزَ ل‬ َّ َ‫ًَل يَ ْقعُد ُ قَ ْو ٌم يَ ْذ ُك ُرون‬

Tidaklah sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kecuali malaikat
mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah
menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya. [HR Muslim, no. 2700].

Dalam hadits ini disebutkan keutamaan “sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah”.
Dalam hadits lain lebih dijelaskan bentuk dzikir yang mereka lakukan, sebagaimana hadits di
bawah ini:

ُ‫سونَه‬ َ َ‫َّللاِ َويَتَد‬


ُ ‫ار‬ َّ ‫َاب‬َ ‫َّللاِ َيتْلُونَ ِكت‬ َّ ‫ت‬ ِ ‫ت ِم ْن بُيُو‬ ٍ ‫سلَّ َم … َو َما اجْ ت َ َم َع قَ ْو ٌم فِي بَ ْي‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫َع ْن أَبِي ه َُري َْرة َ قَا َل قَا َل َر‬
َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬
َّ ‫الرحْ َمةُ َو َحفَّتْ ُه ُم ْال َم ََلئِ َكةُ َوذَك ََر ُه ُم‬
ُ‫َّللاُ فِي َم ْن ِع ْندَه‬ َّ ‫س ِكينَةُ َو َغ ِشيَتْ ُه ُم‬ َّ ‫ت َعلَ ْي ِه ُم ال‬ ْ َ‫بَ ْي َن ُه ْم إِ ًَّل نَزَ ل‬

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda,”Dan tidaklah sekelompok orang
berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan
saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi
mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para
malaikat) di hadapanNya.” [HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646;
Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya].

Dengan hadits di atas nampak secara nyata, bahwa berkumpul untuk membaca dan mempelajari
Al Qur’an merupakan salah satu bentuk dzikir yang mulia. Namun bagaimana caranya? Caranya,
yaitu satu orang membaca dan yang lain mendengarkannya, sebagaimana disebutkan dalam
hadits di bawah ini:

ُ‫علَيْكَ َو َعلَيْكَ أ ُ ْن ِز َل قَا َل فَإِنِي أ ُ ِحبُّ أ َ ْن أ َ ْس َم َعهُ ِم ْن َغي ِْري فَقَ َرأْت‬ َ ُ ‫ي قُ ْلتُ آ ْق َرأ‬ َ ْ‫سلَّ َم ا ْق َرأ‬
َّ َ‫عل‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫ي‬ ُّ ‫َِّللاِ قَا َل ِلي النَّ ِب‬
َّ ‫َع ْن َع ْبد‬
ْ ‫َؤًُل ِء َش ِهيداا ( قَا َل أ َ ْمس‬
ُ‫ِك فَإِذَا َع ْينَاه‬ َ ‫ش ِهي ٍد َو ِجئْنَا ِبكَ َعلَى ه‬ ُ
َ ‫ْف ِإذَا ِجئْنَا ِم ْن ُك ِل أ َّم ٍة ِب‬ َ ‫اء َحتَّى بَلَ ْغتُ ) َف َكي‬ ِ ‫س‬َ ِ‫ورة َ الن‬ َ ‫س‬ ُ ‫َعلَ ْي ِه‬
ِ َ‫تَذْ ِرف‬
‫ان‬

Dari Abdullah, dia berkata: Nabi bersabda kepadaku,”Bacakanlah (Al Qur’an) kepadaku.” Aku
menjawab,”Apakah aku akan bacakan kepada anda, sedangkan Al Qur’an diturunkan kepada
anda?” Beliau menjawab,”Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari selainku..” Maka aku
membacakan kepada beliau surat An Nisa’, sehingga aku sampai:

‫ش ِهيدا‬
َ ‫َؤًُل ِء‬ َ ِ‫ْف إِذَا ِجئْنَا ِم ْن ُك ِل أ ُ َّم ٍة ب‬
َ ‫ش ِهي ٍد َو ِجئْنَا ِبكَ َعلَى ه‬ َ ‫فَ َكي‬
Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang
saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas
mereka itu (sebagai umatmu). (An Nisa’: 41) Beliau bersabda,”Berhentilah,” ternyata kedua
mata Beliau meneteskan air mata. [HR Bukhari, no. 4582; Muslim, no. 800 dan lain-lain].

Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr berkata,”Berkumpul untuk membaca Al Qur’an yang sesuai
dengan Sunnah Nabi dan perbuatan Salafush Shalih, yaitu satu orang membaca dan orang-orang
selainnya mendengarkan. Barangsiapa mendapatkan keraguan pada makna ayat, (maka
hendaklah, Red.) dia meminta qari’ (orang yang membacakan) untuk berhenti, dan orang yang
ahli berbicara tentang tafsir menjelaskannya, sehingga tafsir ayat itu menjadi jelas dan terang
bagi orang-orang yang hadirin … Kemudian qari’ mulai membaca lagi. [Kitab Al Bahts Wal
Istiqra’ Fi Bida’il Qurra’, hlm. 50-51].

Ketiga : Majlis ilmu adalah majlis dzikir.


Apakah majlis ilmu juga termasuk majlis dzikir? Dalam hal ini, nampaknya para ulama berbeda
pendapat.

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah berkata (dalam penjelasan beliau terhadap hadits
shahih riwayat Al Bukhari, no. 6408 yang telah kami sebutkan haditsnya di atas): “Majlis-majlis
dzikir adalah majlis-majlis yang berisi dzikrullah, dengan macam-macam dzikir yang ada
(tuntunannya, Pen.). Yaitu: tasbih, takbir, dan lainnya. Juga yang berisi bacaan Kitab Allah Azza
wa Jalla dan berisi do’a kebaikan dunia dan akhirat. Dan masuknya -pembacaan hadits Nabi,
mempelajari ilmu agama, mengulang-ulanginya, berkumpul melakukan shalat nafilah (sunah)-
ke dalam majlis-majlis dzikir adalah suatu pandangan. Yang lebih nyata, majlis-majlis dzikir
adalah khusus pada majlis-majlis tasbih, takbir dan lainnya, juga qiraatul Qur’an saja. Walaupun
pembacaan hadits, mempelajari dan berdiskusi ilmu (agama) termasuk jumlah yang masuk di
bawah istilah dzikrullah Ta’ala”. [9]

Dari perkataan Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di atas, nampaknya beliau menguatkan bahwa
majlis ilmu tidak termasuk majlis dzikir. Namun banyak juga perkataan ulama yang
menyebutkan bila majlis ilmu termasuk majlis dzikir. Dan pendapat kedua inilah yang lebih kuat,
insya Allah.

‘Atha rahimahullah berkata,”Majlis-majlis dzikir adalah majlis-majlis halal dan haram;


bagaimana seseorang membeli, menjual, berpuasa, shalat, bershadaqah, menikah, bercerai, dan
berhaji.” [10]

Dalam kitab Riyadhush Shalihin, Imam An Nawawi membuat satu bab (no. 247) dengan judul:
“Keutamaan Halaqah-halaqah Dzikir dan Anjuran Menetapinya, dan Larangan Meninggalkannya
Dengan Tanpa Udzur (alasan)”. Beliau menyebutkan empat hadits. Salah satu hadits berisi
tentang majlis ilmu. Ini menunjukkan, bila Imam Nawawi rahimahullah mengisyaratkan, bahwa
majlis ilmu termasuk majlis dzikir. Wallahu a’lam.

Hadits yang kami maksudkan ialah:

‫َان ِإلَى‬ ِ ‫اس َمعَهُ ِإذْ أ َ ْقبَ َل نَفَ ٌر ثَ ََلثَةٌ فَأ َ ْقبَ َل اثْن‬ ُ َّ‫س فِي ْال َمس ِْج ِد َوالن‬ ٌ ‫سلَّ َم بَ ْينَ َما ه َُو َجا ِل‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو َل‬ ُ ‫َع ْن أ َ ِبي َواقِ ٍد اللَّ ْيثِي ِ أ َ َّن َر‬
‫سلَّ َم فَأ َ َّما أ َ َحد ُ ُه َما فَ َرأَى فُ ْر َجةا فِي ْال َح ْلقَ ِة‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫سو ِل‬ ُ ‫علَى َر‬ َ ‫احد ٌ قَا َل فَ َوقَفَا‬ ِ ‫َب َو‬ َ ‫سلَّ َم َوذَه‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َر‬
ُ َ
‫سل َم قَا َل أ ًَل أ ْخبِ ُر ُك ْم َع ِن النَّفَ ِر‬ َّ َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َّ ‫صلى‬ َّ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫غ َر‬ َ
َ ‫ث فَأدْبَ َر ذَا ِهباا فَلَ َّما فَ َر‬ َّ َ ْ
ُ ‫س خَلفَ ُه ْم َوأ َّما الثا ِل‬ ْ َ
َ َ‫س فِي َها َوأ َّما اْلخ َُر فَ َجل‬ َ َ‫فَ َجل‬
ُ‫َّللاُ َع ْنه‬ َ ‫ض فَأع َْر‬
َّ ‫ض‬ َ َ ْ َ
َ ‫َّللاُ ِم ْنهُ َوأ َّما اْلخ َُر فَأع َْر‬ ْ َ
َّ ‫َّللاُ َوأ َّما اْلخ َُر فَا ْستَحْ يَا فَا ْستَحْ يَا‬ َ َ َ
َّ ‫الث ََلثَ ِة أ َّما أ َحد ُ ُه ْم فَأ َوى إِلَى‬
َّ ُ‫َّللاِ فَ َآواه‬ َّ

Dari Abu Waqid Al Laitsi, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang duduk
di dalam masjid, dan orang-orang bersama Beliau; tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang
mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang satu pergi. Kedua orang tadi berhenti
di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang satu melihat celah pada halaqah
(lingkaran orang-orang yang duduk), lalu dia duduk padanya. Adapun yang lain, dia duduk di
belakang mereka. Adapun yang ketiga, maka dia berpaling pergi. Setelah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam selesai, Beliau bersabda,”Maukah aku beritahukan kepada kamu tentang tiga
orang tadi? Adapun salah satu dari mereka, dia mendekat kepada Allah, maka Allah-pun
mendekatkannya. Adapun yang lain, dia malu, maka Allah-pun malu kepadanya. Dan Adapun
yang lain, dia berpaling, maka Allah-pun berpaling darinya.” [HR Bukhari; Muslim, no. 2176.]

Di antara perkataan Imam Nawawi rahimahullah tentang hadits ini, beliau menyatakan: “Di
dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya halaqah-halaqah ilmu dan dzikir di dalam masjid”.
[Shahih Muslim Syarh An Nawawi, 7/413, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Cet. 4, Th 1422 H/2001
M.]

Ketika menyebutkan fiqih hadits ini, Syaikh Salim Al Hilali berkata,”Majlis dzikir-majlis dzikir
adalah halaqah-halaqah ilmu yang diadakan di rumah-rumah Allah untuk belajar, mengajar dan
mencari pemahaman terhadap agama.” [Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin, 2/521,
Cet. 1, Th. 1415 H/ 1994 M.]

Syaikh Salim Al Hilali juga berkata,”Majlis dzikir-majlis dzikir yang dicintai oleh Allah, ialah
majlis-majlis ilmu, bersama-sama mempelajari Al Qur’anul Karim dan As Sunnah Al
Muththaharah (yang disucikan), dan mencari pemahaman tentang hal itu. Yang dimaksudkan
bukanlah halaqah-halaqah tari dan perasaan ala Shufi.” [Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush
Shalihin, 2/519, Cet. 1, Th. 1415 H/ 1994 M.]

Bahkan sebagian ulama menjelaskan, majlis ilmu lebih baik daripada majlis dzikir. Syaikh
Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al Badr, salah seorang dosen Jami’ah Islamiyah di Madinah
berkata,”Tidak ada keraguan, bahwa menyibukan dengan menuntut ilmu dan menghasilkannya,
mengetahui halal dan haram, mempelajari Al Qur’anul Karim dan merenungkannya, mengetahui
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sirah (riwayat hidup) Beliau serta berita-
berita Beliau, adalah sebaik-baik dzikir dan paling utama. Majlis-majlisnya adalah majlis-majlis
paling baik. Majlis-majlis itu lebih baik daripada majlis-majlis dzikrullah dengan tasbih, tahmid
dan takbir. Karena majlis-majlis ilmu berkisar antara fardhu ‘ain atau fardhu kifayah. Sedangkan
dzikir semata-mata (hukumnya) adalah tathawwu’ murni (disukai, sunnah, tidak wajib).” [ Fiqhul
Ad’iyah Wal Adzkar, 1/104, karya Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al Badr).

Kemudian beliau menyebutkan hadits-hadits dan perkataan para ulama, yang semuanya
menunjukkan lebih utamanya ilmu (din) dibandingkan dengan ibadah yang tidak wajib.

Inilah penjelasan seputar majlis dzikir. Semoga bermanfaat. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

KESIMPULAN
1. Majelis dzkir sesuai dengan jenis-jenis di atas mempunyai keutamaan.
2. Tetapi dzikir membaca tahmid, tasbih, takbir dan semisalnya dengan suara keras tidak ada
contohnya. Bahkan, bertentangan dengan perintah Al Qur’an dan Sunnah, apalagi dikomando
secara bersama-sama.
3. Mejelis ilmu termasuk majelis dzikir, yang menurut banyak ulama justru lebih utama
dibandingkan dengan majlis-majlis dzikir lain yang bersifat sunnat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan


Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. HR Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562.
[2]. Al Wabilush Shayyib, hlm. 145.
[3]. HR Muslim, no. 2700.
[4]. Ahli dzikir, yaitu orang-orang yang berdzikir. Dalam riwayat Muslim, no. 2689 dengan
lafazh: “Mereka mencari majlis-majlis dzikir”. (Pen).
[5]. Dalam riwayat Muslim, no. 2689 dengan lafazh: “Jika mereka telah mendapatkan sebuah
majlis yang padanya terdapat dzikir ... “
[6]. Dalam riwayat Muslim, no. 2689 terdapat tambahan: “Jika orang-orang yang berdzikir telah
berpisah, para malaikat naik ke langit”.
[7]. Dalam riwayat Muslim, no. 2689 dengan lafazh: “Mereka mentahlilkanMu: mengucapkan
Laa ilaaha illa Allah”.
[8]. HR Bukhari, no. 6408, dan ini lafahznya; Muslim, no. 2689.
[9]. Fathul Bari, 11/248, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Cet. 1; Th 1419 H/1998 M.
[10]. Al ‘Ilmu Fadhkuhu Wa Syarafuhu, hlm. 132.

Makna Rukhshah Dan Pembagiannya


Minggu, 6 Maret 2011 11:20:39 WIB

MAKNA RUKHSHAH DAN PEMBAGIANNYA

Oleh
Ustadz Nurul Mukhlisin Asyrafuddin

Rukhshah secara bahasa, berarti izin pengurangan atau keringanan. Sedangkan menurut ulama
ushul diartikan dengan:

ِ َ‫ْال ُح ْك ُم الثَّا ِبتُ َعلَى ِخَل‬


‫ف الدَّ ِل ْي ِل ِلعُذْ ٍر‬

Hukum yang berlaku berdasarkan dalil yang menyalahi dalil yang ada karena adanya udzur.

Dari pengertian di atas dipahami tiga syarat dari rukhshah yaitu:

1. Rukhshah (keringanan) hendaknya berdasarkan dalil al-Qur’an dan Sunnah baik secara
tekstual maupun konstektual melalui qiyas (analogi) atau ijtihad, bukan berdasarkan kemauan
dan dugaan sendiri.

2. Kata hukum mencakup semua hukum dan dalil hukum yang ada seperti wajib, sunnah, haram
dan mubah semuanya bisa terjadi rukhshah di dalamnya.

3. Adanya udzur baik berupa kesukaran atau keberatan dalam melakukannya.

HIKMAH ADANYA RUKHSHAH.


Adanya rukhshah (keringanan) merupakan bagian dari kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala
pada hamba-Nya dan bukti bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan
sebagaimana firman -Nya:

{ ‫َّللاُ ِب ُك ْم ْاليُس َْر َو ًَل ي ُِريد ُ بِ ُك ْم ْالعُس َْر‬


َّ ُ ‫} ي ُِريد‬
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. [al Baqarah/
2:185]

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

{ ‫ض ِعيفاا‬ َ ‫اْل ْن‬


َ ُ‫سان‬ َ ‫َّللاُ أ َ ْن يُخ َِف‬
ِ ْ َ‫ف َع ْن ُك ْم َو ُخ ِلق‬ َّ ُ ‫} ي ُِريد‬

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. [an
Nisaa/4:28].

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

{ ُ‫إن الدِينَ يُس ٌْر َولَ ْن يُشَادَّ الدِينَ أ َ َحد ٌ َّإًل َغلَبَه‬
َّ }

Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada orang yang berlebih-lebihan dalam agama ini
kecuali akan mengalahkannya (tidak mampu melakukannya)”.[HR. Bukhari]

PEMBAGIAN RUKHSHAH.
Ditinjau dari segi bentuknya rukhshah dibagi menjadi tujuh macam yaitu:

1. Rukhshah dengan menggugurkan kewajiban seperti boleh meninggalkan perbuatan wajib atau
sunnah karena berat dalam melaksanakannya atau membahayakan dirinya apabila melakukan
perbuatan tersebut, misalnya orang sakit atau dalam perjalanan boleh meninggalkan puasa
Ramadhan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Jika di antara kamu ada yang
sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari
yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain". [al-Baqarah/2:184].

Rukhshah juga diberikan kepada wanita untuk meninggalkan shalat ketika sedang haid atau
nifas, tidak berpuasa ketika hamil atau menyusui. Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata :
Diberikan rukhshah kepada orang tua jompo untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan
memberi makan orang miskin setiap hari dan tidak wajib qadha (mengulangi) puasanya, begitu
juga kepada wanita hamil dan menyusui kalau dia khawatir akan dirinya maka boleh tidak
berpuasa dan memberikan makan seorang miskin setiap hari selama tidak berpuasa. Ibnu Abbas
juga berkata: Apabila perempuan hamil khawatir atas kesehatan dirinya atau ibu menyusui yang
khawatir atas anaknya maka mereka berdua boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan
setiap hari seorang miskin dan tidak mengqadha’ puasanya [1].

Pada kitab yang sama Syaikh Nashiruddin Albany menyebutkan riwayat Nafi’ bahwa puteri
Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu menikah dengan seorang dari Qurays. Dalam keadaan
hamil ia puasa Ramadhan dan mengalami kehausan. Abdullah bin Umar memerintahkan untuk
berbuka dan menyuruhnya untuk memberi makan seorang miskin.

Contoh rukhshah yang lain seperti bolehnya meninggalkan shalat jumat karena uzur musafir atau
sakit tetapi menggantinya dengan shalat zuhur. Dari Thariq bin Syihab Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:

ٌ ‫ي أَ ْو َم ِر‬
‫يض‬ ِ ‫ْال ُج ُمعَةُ َح ٌّق َو‬
َ ‫اجبٌ َعلَى ُك ِل ُم ْس ِل ٍم فِي َج َما َع ٍة ِإ ًَّل أ َ ْربَعَةا َع ْبد ٌ َم ْملُوكٌ أ َ ْو ا ْم َرأَة ٌ أ َ ْو‬
ٌّ ِ‫صب‬

Shalat Jumat wajib bagi setiap muslim dengan berjamaah kecuali empat orang: hamba sahaya,
perempuan, anak-anak dan orang sakit. [HR.Abu Daud, Baihaqi-Shahih].

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ٌ‫سافِ ِر ُج ُمعَة‬
َ ‫ْس َعلَى ْال ُم‬
َ ‫لَي‬

Tidak wajib shalat jumat bagi orang yang musafir” [2]

Rukhshah tidak shalat jumat juga diberikan kepada orang yang sedang menjaga sesuatu yang
sangat vital. Salah seorang yang bertugas di bagian sentral imformasi yang bertanggungjawab
terhadap keamanan dan kebutuhan orang banyak pernah bertanya kepada Lajnah Daimah di
Saudi Arabia apakah dia boleh tidak ikut shalat berjamaah atau shalat jumat?. Lajnah Daimah
menjawab sebagai berikut: Hukum asal melakukan shalat Jum’at bagi setiap orang muslim yang
berakal dan muqim adalah wajib, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : “Wahai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka
bersegerahlah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [al-Jum’ah/62:9]

Dan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Muslim dari Ibn Mas’ud Radhiyallahu anhu
bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda terhadap kaum yang tidak melakukan shalat
Jum’at:

‫اس ث ُ َّم أ ُ َح ِرقَ َعلَى ِر َجا ٍل يَت َ َخلَّفُونَ َع ْن ْال ُج ُم َع ِة بُيُوتَ ُه ْم‬ َ ُ‫لَقَدْ َه َم ْمتُ أ َ ْن آ ُم َر َر ُج اَل ي‬
ِ َّ‫ص ِلي ِبالن‬

Sesungguhnya aku ingin menyuruh seseorang menggantikanku menjadi imam shalat bersama
orang-orang, kemudian aku akan membakar rumah-rumah orang-orang yang tertinggal shalat
Jum’at.”

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Ibn Umar keduanya mendengar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar:
َ‫َّللاُ َعلَى قُلُو ِب ِه ْم ث ُ َّم لَيَ ُكونُ َّن ِم ْن ْالغَافِلِين‬ ِ ‫لَيَ ْنت َ ِهيَ َّن أ َ ْق َوا ٌم َع ْن َودْ ِع ِه ْم ْال ُج ُم َعا‬
َّ ‫ت أ َ ْو لَيَ ْختِ َم َّن‬

Hendaknya kaum-kaum itu berhenti meninggalkan shalat Jum’at atau Allah benar-benar akan
mengunci hati mereka kemudian mereka benar-benar termasuk golongan orang-orang yang
lengah.

Dan ulama sepakat bahwa jika teradapat udzur syar’i bagi orang yang wajib Jum’at, misalnya
sebagai penanggungjawab langsung pekerjaan yang berhubungan dengan keamanan umat dan
menjaga kesejahteraan mereka yang diharuskan untuk tetap dilaksanakan pada waktu shalat
Jum’at juga seperti petugas lalu lintas atau petugas sentral keamanan dan semacamnya, maka
mereka boleh meninggalkan shalat Jum’at dan jama’ah berdasarkan keumuman firman Allah
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” [at-Thaghabun/64: 16]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

َ َ‫َما نَ َه ْيت ُ ُك ْم َع ْنهُ فَاجْ ت َ ِنبُوهُ َو َما أ َ َم ْرت ُ ُك ْم بِ ِه فَا ْفعَلُوا ِم ْنهُ َما ا ْست‬
‫ط ْعت ُ ْم‬

Apa yang aku larang untukmu melakukannya maka tinggalkanlah, dan apa yang aku perintahkan
melakukannya maka lakukanlah sesuai kesanggupan kamu.”

Hanya saja hal itu tidak menggugurkan kewajiban shalat dhuhur dan harus melakukannya pada
waktunya. [3]

2. Rukhshah dalam bentuk mengurangi kadar kewajiban, seperti mengurangi jumlah rakaat
shalat yang empat pada waktu qashar atau mengurangi waktunya pada shalat jama’ karena
musafir, Allah Subahnahu wa Ta'ala, berfirman : "Dan apabila kamu bepergian di muka bumi,
maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu [an-Nisaa/4:101].

Rukhshah menjama’ shalat juga diberikan karena ada uzur mendesak sebagaimana yang
disebutkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
menjamak shalat Zuhur dan Ashar di Madinah bukan karena takut atau musafir. Abu Zubair
bekata; saya bertanya kepada Said kenapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbuat
demikian?. Said menjawab; saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas sebagaimana yang anda
tanyakan dan beliau menjawab : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin agar tidak
memberatkan umatnya". Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim,V/215, dalam
mengomentari hadits ini mengatakan : “Mayoritas ulama membolehkan menjamak shalat bagi
mereka yang tidak musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak
menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan)". Pendapat demikian juga dikatakan oleh
Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Almarwazi dan Ibnu Munzir, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas
ketika mendengarkan hadist Nabi di atas, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga
beliau tidak menjelaskan alasan menjamak shalatnya, apakah karena sakit atau musafir”.[4]

3. Rukhshah dalam bentuk mengganti kewajiban dengan kewajiban lain yang lebih ringan seperti
mengganti wudhu’ dan mandi dengan tayamum karena tidak ada air atau tidak bisa atau tidak
boleh menggunakan air karena sakit dan lainnya, mengganti shalat berdiri dengan duduk,
berbaring atau isyarat, mengganti puasa wajib dengan memberikan makan kepada fakir miskin
bagi orang tua yang tidak bisa berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan sembuhnya.

4. Rukhshah dalam bentuk penangguhan pelaksanaannya kewajiban seperti penangguhan shalat


Zuhur ke shalat Ashar ketika jama’ ta’khir atau menangguhkan pelaksanaan puasa ke luar bulan
Ramadhan bagi orang yang sakit atau musafir.

5. Rukhshah dalam bentuk mendahulukan pelakasanaan kewajiban seperti membayar zakat


fithrah beberapa hari sebelum hari raya padahal wajibnya adalah pada akhir Ramadhan,
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu
mengeluarkan zakat sehari atau dua hari sebelum hari raya [HR.Bukhari].

Atau seperti mendahulukan pelaksanaan shalat Ashar di waktu Zuhur ketika jama’ taqdim.

6. Rukhshah dalam bentuk merubah kewajiban seperti merubah cara melaksasnakan shalat ketika
sakit atau dalam keadaan perang, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

‫طآ ِئفَةٌ أ ُ ْخ َرى‬ َ ‫ت‬ ِ ْ ‫س َجد ُوا فَ ْل َي ُكونُوا ِمن َو َرآ ِئ ُك ْم َو ْلت َأ‬
َ ‫طآ ِئ َفةُُُ ِم ْن ُهم َّم َعكَ َو ِل َيأ ْ ُخذُوا أَ ْس ِل َحتَ ُه ْم فَإِذَا‬
َ ‫صَلَة َ فَ ْلتَقُ ْم‬
َّ ‫َو ِإذَا ُكنتَ ِفي ِه ْم فَأَقَ ْمتَ لَ ُه ُم ال‬
‫صلُّوا َم َعكَ َو ْل َيأ ْ ُخذُوا ِحذْ َر ُه ْم َوأَ ْس ِل َحتَ ُه ْم‬َ ُ‫صلُّوا فَ ْلي‬ َ ُ‫لَ ْم ي‬

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan
salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu
dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah
menyempurnakan seraka'at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk
menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersalat,lalu
bersalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata…..
[an-Nisaa/4: 102].

7. Rukhshah dalam bentuk membolehkan melakukan perbuatan yang haram dan meninggalkan
perbuatan yang wajib karena adanya uzur syar'i seperti bolehnya memakan memakan bangkai,
darah, dan daging babi pada asalnya haram, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

ُ ُ‫ط َّر َغي َْر بَاغٍ َوًلَ َعا ٍد فََلَ ِإثْ َم َعلَ ْي ِه ِإ َّن هللاَ َغف‬
‫ورُُ َّر ِحي ٌم‬ ْ ‫ير َو َمآأ ُ ِه َّل بِ ِه ِلغَي ِْر هللاِ فَ َم ِن ا‬
ُ ‫ض‬ ِ ‫ِإنَّ َما َح َّر َم َعلَ ْي ُك ُم ْال َم ْيتَةَ َوالد ََّم َولَحْ َم ْال ِخ‬
ِ ‫نز‬
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang
(yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan
terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-
Baqarah/4: 173].

Melakukan jual beli salam dengan memberikan harga (pembayaran) terlebih dahulu dan
barangnya menyusul dengan syarat ditentukan jumlah, sifat, dan tempat penerimaannya juga
termasuk rukhshah, misalnya seorang petani menerima uang harga gabahnya yang belum dia
panen karena dia butuh kepada uang, hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu.

‫وم‬ ْ ‫ف فِي ت َ ْم ٍر فَ ْليُ ْس ِل‬


ٍ ُ‫ف فِي َك ْي ٍل َم ْعل‬ َ َ‫سنَتَي ِْن فَقَا َل َم ْن أ َ ْسل‬
َّ ‫سنَةَ َوال‬ ِ ‫سلَّ َم ْال َمدِينَةَ َو ُه ْم يُ ْس ِلفُونَ فِي الثِ َم‬
َّ ‫ار ال‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُّ ِ‫قَد َِم النَّب‬
َ ‫ي‬
‫وم‬ ُ َ َ ُ
ٍ ‫َو َو ْز ٍن َم ْعل‬
ٍ ‫وم إِلى أ َج ٍل َم ْعل‬

Rasulullah tiba di Madinah dan mereka sedang melakukan jual beli salam pada buah-buahan
setahun atau dua tahun, beliau bersabda,” Barangsiapa yang melakukan jual beli salam pada
buah-buahan maka hendaknya melakukannya dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas
dan waktu yang jelas”. [HR Bukhari dan Muslim].

Padahal hukum asal dalam jual beli adalah al-taqabudh yaitu serah terima barang dan harganya
dan tidak boleh ada yang ditunda.

Ada juga rukhshah yang diberikan karena adanya uzur ketererpaksaan misalnya bolehnya
mengucapkan kata-kata yang mengkafirkan dengan syarat hatinya masih tetap beriman, Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman :"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia
mendapat kemurkaan Allah), kecuali orangyang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang
dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk
kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. [an-Nahl/16:
106].

HUKUM MENGGUNAKAN RUKHSHAH.


Apakah orang yang mendapatkan rukhshah karena uzur seperti di atas wajib melakukan rukhsah
tersebut atau hukumnya ibahah (boleh mengamalnya atau meninggalkannya)?. Masalah ini
menjadi perbincangan di kalangan para ulama. Imam Abu Ishaq Al-Syathibi dalam kitabnya al-
Muwafaaqat menyebutkan hukum menggunakan rukhsah adalah mubah, artinya boleh dilakukan
atau tidak. Alasannya karena pada dasarnya rukhshah itu hanyalah keringanan agar tidak
menyulitkan dan memberatkan, maka seseorang boleh memilih antara mengamalkan rukhshah
tersebut atau tidak tergantung uzur kesulitan atau keberatan yang dia hadapi, misalnya orang
musafir dia diberikan kelapangan untuk memilih apakah ia mau mengqashar shalatnya atau
itmam (menyempurnakannya empat rakaat) tergantung kepada uzurnya. Kalau menggunakan
rukhshah itu diperintahkan baik secara wajib maupun sunnah maka bukan lagi sebuah
keringanan, tetapi kewajiban yang harus dilakukan dan tidak boleh ada pilihan lain.

Pendapat dan argumentasi al-Syatibi di atas dibantah oleh Jumhur Ulama yang mengatakan
bahwa menggunakan rukhsah adalah harus dan kembali kepada hukum asalnya apakah ia wajib
atau sunat, misalnya menjaga jiwa agar tidak binasa adalah wajib, maka memakan babi bagi
mereka yang terpaksa agar tidak mati kelaparan adalah wajib bukan mubah. Karena kalau
dikatakan mubah maka orang tersebut boleh memilih antara makan atau membiarkan dirinya
tidak makan walaupun dirinya mati kelaparan.

Dalam kasus mengqashar dan menjama’ shalat bagi orang musafir, syaikh Abdul Adzim al-
Khulaify mengatakan wajib bagi orang musafir untuk melakukannya. Ini artinya orang yang
musafir wajib melakukan qashar shalat sekalipun dalam perjalanannya itu ia tidak mendapatkan
kesulitan atau tidak berat melakukan shalat secara sempurna. Beliau memberikan beberapa dalil
di antaranya:
Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas beliau berkata:

ِ ‫سفَ ِر َر ْكعَتَي ِْن َوفِي ْالخ َْو‬


‫ف َر ْكعَةا‬ َ ‫سلَّ َم فِي ْال َح‬
َّ ‫ض ِر أَ ْربَعاا َوفِي ال‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫ان نَبِيِ ُك ْم‬
ِ ‫س‬َ ‫علَى ِل‬
َ َ ‫ص ََلة‬ َّ ‫ض‬
َّ ‫َّللاُ ال‬ َ ‫فَ َر‬

Allah mewajibkan shalat melalui lisan nabimu ketika muqim empat rakaat, ketika dalam
perjalanan dua rakaat dan ketika dalam keadaan takut satu rakaat” [HR Muslim].

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu berkata:

َّ ‫صلَّى‬
‫َّللاُ َعلَ ْي ِه‬ َ ‫ان ُم َح َّم ٍد‬
ِ ‫س‬َ ‫ص ٍر َعلَى ِل‬
ْ َ‫َان تَ َما ٌم َغي ُْر ق‬ ْ ‫َان َو ْال ِف‬
ْ َ ‫ط ُر َو ْاْل‬
ِ ‫ض َحى َر ْك َعت‬ ِ ‫ص ََلة ُ ْال ُج ُم َع ِة َر ْك َعت‬ ِ ‫سفَ ِر َر ْك َعت‬
َ ‫َان َو‬ َّ ‫ص ََلة ُ ال‬
َ
‫سلَّ َم‬
َ َ ‫و‬

Shalat dalam perjalanan dua rakaat, shalat Jumat dua rakaat, shalat idul fithri dan idul adha dua
rakaat, secara sempurna bukan dikurangi menurut perintah Rasulullah. [HR. Ibnu Majah dan
Nasa’i].

Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata:

َ ‫ص ََلة ُ ْال َح‬


‫ض ِر‬ ْ ‫سفَ ِر َوأُتِ َّم‬
َ ‫ت‬ َّ ‫ص ََلة ُ ال‬ ْ ‫ت َر ْك َعتَي ِْن فَأُقِ َّر‬
َ ‫ت‬ َ ‫ص ََلة َ أ َ َّو َل َما فُ ِر‬
ْ ‫ض‬ َّ ‫أ َ َّن ال‬

Pertama kali shalat difardhukan dua rakaat, kemudian ditetapkan demikian pada shalat musafir
dan mengenapkan (empat rakaat) ketika tidak musafir. [HR.Bukhari dan Muslim].

Lajnah Da’imah (Majlis Ulama ) di Saudi Arabia ketika ditanya apakah yang lebih afdhal bagi
orang yang musafir berpuasa atau tidak?, menjawab : Banyak sekali hadits yang shahih dan
perbuatan Rasulullah sendiri yang menunjukkan bahwa berbuka (tidak berpuasa) lebih baik bagi
orang yang musafir, baik dalam keadaan berat atau tidak. Walaupun demikian boleh saja mereka
berpusa sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Hamzah bin Umar al-Aslamy
berkata; Ya Rasulullah di antara kami ada yang kuat melaksanakan puasa ketika musafir apakah
mereka salah (kalau berpuasa)? Rasulullah menjawab: Itu adalah rukhshah dari Allah
barangsiapa yang mengambilnya maka itu lebih baik, barangsiapa yang ingin berpuasa maka
tidak ada dosa baginya. [HR Muslim].

Wallahu ‘A’lam pendapat mayoritas ulama yang menyatakan keharusan mengamalkan rukhshah
adalah baik itu wajib atau sunnah adalah yang rajih (kuat) dengan alasan :

a). Sesuai dengan karakterisitik Islam yang mudah dan tidak memberatkan.

b). Rukhshah merupakan shadaqah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diperintahkan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menerimanya, sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Ya’la bin Umayyah ia bertanya kepada Umar bin Khatab tentang firman Allah Subhanahu
wa Ta'ala : Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqasar
salat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu
musuh yang nyata bagimu. (an-Nisaa/4:101). Dan sekarang kita sudah aman. (tidak perlu
qashar).Umar bin Khatab berkata:

‫ فاقبلوا صدقته‬، ‫ صدقة تصدق هللا بها عليكم‬: ‫ فقال‬. ‫ فسألت رسول هللا صلى هللا عليه وسلم عن ذلك‬، ‫ عجب مما عجبت منه‬.

Saya juga heran sebagaimana anda heran dan saya bertanya kepada Rasulullah masalah itu dan
bersabda,” Shadaqah yang diberikan oleh Allah kepadamu dan terimalah shadaqah-Nya”.

c). Karena itu merupakan shadaqah dari-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala senang kalau
shadaqah-Nya diamalkan oleh hamba-Nya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫ إن هللا يحب أن تؤتى رخصه كما يحب أن تترك معصيته‬.

Sesungguhnya Allah Senang untuk diambil keringanan-Nya sebagaimana Dia senang di


tinggalkan maksiat kepada-Nya. [HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah].

d). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri sebagai teladan kita selalu mengambil dan
mengamalkan sesuatu yang paling mudah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah
Radhiyallahu 'anha ia berkata : "Rasulullah (tidak pernah memilih antara dua masalah kecuali
mengambil yang paling mudah selama itu tidak berdosa, kalau itu dosa maka beliau orang yang
paling menjauhi masalah tersebut dan Rasulullah (tidak pernah balas dendam karena pribadinya
kecuali kalau melanggar syariat Allah maka beliau membalasnya karena Allah [HR.Bukhari dan
Muslim].

Wallahu ‘A’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan


Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Syaikh Albani menyebutkan dalam kitab Irwa’ juz 4 hal 19 dari al-Thabary dan beliau
berkata; sanadnya shahih sesuai dengan persyaratan Muslim
[2]. HR.Daraquthni dan dishahihkan oleh Syaikh Abdul Adzim al-Khalfi di kitab al-Wajiz hal.
142.
[3]. Fatawa lil Muwazhzhafin lajnah Daaimah , tartib Dakhilullah al-Mufhrafy
[4]. Lihat Al Wajiz Fi Fiqh As Sunnah Wal Kitab Al Aziz, Abdul Adhim bin Badawi Al Khalafi,
hlm. 141.

Hindarilah Syirik ... Bertauhidlah!


Sabtu, 5 Maret 2011 23:26:22 WIB

HINDARILAH SYIRIK …...BERTAUHIDLAH!


(Sebuah pelajaran dari Al Qur’an surat Yusuf)

Oleh
Abdul Azhim Al Badawi

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah senantiasa mengajarkan kepada kita sesuatu
yang bermanfaat dalam firman Allah yang bercerita tentang Nabi Yusuf Alaihissallam.

َ‫وب َما َكانَ لَنَآ أَن نُّ ْش ِرك‬


َ ُ‫ِيم َو ِإ ْس َحاقَ َويَ ْعق‬ ِ َ‫ِإنِي ت ََر ْكتُ ِملَّةَ قَ ْو ٍم ًلَّيُؤْ ِمنُونَ ِباهللِ َوهُم ِباْْل َ ِخ َرةِ ُه ْم كَافِ ُرونَ َوات َّ َب ْعتُ ِملَّةَ َءاب‬
َ ‫آءي ِإب َْراه‬
ٍ‫ش ْىء‬َ ‫ِباهللِ ِمن‬

Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah,
sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu
Ibrahim, Ishak, Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun
dengan Allah.. [Yusuf:37-38].
Terdapat satu isyarat, bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya’qub dan Nabi
Yusuf itu sama. Yaitu agama tauhid, yang dibawa oleh semua para nabi alaihimus shalatu
wassalam, sebagamana firman Allah.

ِ ‫ِإ َّن َه ِذ ِه أ ُ َّمت ُ ُك ْم أ ُ َّمةا َو‬


ِ ‫احدَة ا َوأَنَا َربُّ ُك ْم فَا ْعبُد‬
‫ُون‬

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah
Rabbmu, maka sembahlah Aku. [Al Anbiya’:92].

Kepada agama inilah, Yusuf menyeru kepada kedua temannya (yang di penjara).

ُ‫س َّم ْيت ُ ُموهَآ أَنت ُ ْم َو َءابَآؤُ ُكم َّمآأَنزَ َل هللا‬ ُ ‫احد ُ ْالقَ َّه‬
َ ‫ار َمات َ ْعبُدُونَ ِم ْن د ُونِه إِْل أ َ ْس َمآ اء‬ ِ ‫احبَي ِ السِجْ ِن َءأ َ ْربَابٌ ُّمتَفَ ِرقُونَ َخي ٌْر أَ ِم هللاُ ْال َو‬
ِ ‫ص‬َ ‫يَا‬
َ
َ‫اس ًلَيَ ْعل ُمون‬ َ ْ َ َ ْ
ِ َّ‫الدينُ القَيِ ُم َول ِك َّن أكث َر الن‬ ًّ َّ َ َ َّ ْ ْ
ِ َ‫ان إِ ِن ال ُحك ُم إًِل هللِ أ َم َر أًلت َ ْعبُد ُوا إِْلإِيَّاهُ ذَلِك‬ َ
ٍ ‫سلط‬ ْ ُ ‫بِ َها ِمن‬

Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, rabb-rabb yang bermacam-macam itu
ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah
kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.
Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah
kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Yusuf:39-40].

Demikian juga semua para nabi, mereka berdakwah kepada agama ini, sebagaimana Allah
berfirman.

َّ ‫سوًلا أ َ ِن ا ْعبُدُوا هللاَ َواجْ ت َ ِنبُوا ال‬


ُ ‫طا‬
َ‫غوت‬ ُ ‫َولَقَدْ َب َعثْنَا ِفي ُك ِل أ َ َّم ٍة َّر‬

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu," [An Nahl:36].

Dan firmanNya.

ِ ‫وحي ِإلَ ْي ِه أَنَّهُ ْل ِإلَهَ ِإْل أَنَا فَا ْعبُد‬


‫ُون‬ ُ ‫س ْلنَا ِمن قَ ْبلِكَ ِمن َّر‬
ِ ُ‫سو ٍل ِإًلَّن‬ َ ‫َو َمآأ َ ْر‬

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku." [Al Anbiya’:25].

Karenanya, seruan yang diucapkan oleh para nabi kepada kaumnya selalu sama, yaitu:
ُ‫َياقَ ْو ِم ا ْعبُدُوا هللاَ َمالَ ُكم ِم ْن ِإًلَ ٍه َغي ُْره‬

Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selainNya. [Al A’raf:59].

Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga mengajak kepada agama (tauhid) ini.
Ketika orang-orang kafir Quraisy mengatakan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

ْ َّ‫س ِم ْعنَا بِ َهذَا فِي ْال ِملَّ ِة اْْل َ ِخ َرةِ ِإ ْن َهذَآ ِإًل‬
‫اختَِلَ ٌق‬ َ ‫َما‬

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak
lain hanyalah(dusta) yang diada-adakan. [Shad:7].

Allah Azza wa Jalla berfirman kepada NabiNya.

‫س ِل‬ ُّ َ‫قُ ْل َما ُكنتُ بِدْعاا ِمن‬


ُ ‫الر‬

Katakanlah:"Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” [Al Ahqaf:9]

Maksudnya, saya bukanlah yang pertama, namun saya ini adalah seorang pengikut.

Allah juga berfirman,

َ‫ِيم َحنِيفاا َو َما َكانَ ِمنَ ْال ُم ْش ِركِين‬


َ ‫ث ُ َّم أ َ ْو َح ْينَآ إِلَيْكَ أ َ ِن اتَّبِ ْع ِملَّةَ إِب َْراه‬

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad):"Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang


hanif." Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb. [An Nahl:123].

Perkataan Nabi Yusuf Alaihissallam ُ‫( ِإنِي ت ََر ْكت‬Aku tinggalkan), sejalan dengan firman Allah ‫فَ َمن‬
‫ت‬
ِ ‫غو‬ ُ ‫طا‬ َّ ‫( َي ْكفُ ْر ِبال‬Maka barangsiapa yang ingkar kepada thagut). Sedangkan perkataan Nabi Yusuf
ُ‫( َواتَّ َب ْعت‬Aku ikuti) sejalan dengan firman Allah ِ‫( َويُؤْ ِمن ِباهلل‬dan beriman kepada Allah). Jadi,
keimanan itu mesti didahului pengingkaran. Keimanan kepada Allah mesti didahului dengan
pengingkaran terhadap semua (yang dipertuhankan oleh manusia, pent) selain Allah Azza wa
Jalla. Oleh karena itu, kalimat tauhid mengandung dua makna ini. Ucapan “Lailaha” adalah
pengingkaran terhadap semua yang dipertuhan. Dan ucapan “Illallah” adalah keimanan kepada
Allah sebagai Ilah (yang berhak disembah).

Hidayah kepada tauhid merupakan karunia Allah yang hanya diberikan kepada hambaNya yang
dikehendaki. Sebagaimana perkataan Nabi Yusuf Alaihissallam.

ِ َّ‫اس َولَ ِك َّن أَ ْكثَ َر الن‬


َ‫اس ًلَيَ ْش ُك ُرون‬ ِ َّ‫ض ِل هللاِ َعلَ ْينَا َو َعلَى الن‬
ْ َ‫ذَلِكَ ِمن ف‬
Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya);
tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(Nya). [Yusuf:38].

Sebagai peringatan atas karunia ini dan agar jangan sampai hilang -kami katakan- demi
memotivasi kepada tauhid dan menjauhi syirk,“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kesesatan
yang nyata dan kezhaliman yang besar.

Allah berfirman.

َ‫ُون هللاِ َمن ًلَّيَ ْست َِجيبُ لَهُ إِلَى يَ ْو ِم ْال ِقيَا َم ِة َو ُه ْم َعن د ُ َعآئِ ِه ْم َغافِلُون‬
ِ ‫َو َم ْن أَض ُّلَُ ِم َّمن يَدْعُوا ِمن د‬

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain
Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari
(memperhatikan) do'a mereka. [Al Ahqaf:5].

Dan firmanNya.

َّ ‫َو ْالكَافِ ُرونَ ُه ُم ال‬


َ‫ظا ِل ُمون‬

Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim. [Al Baqarah:254].

Dan firmanNya.

َ ‫ظ ْل ٌم‬
‫ع ِظي ٌم‬ ُ َ‫ي ًلَت ُ ْش ِر ْك ِباهللِ ِإ َّن الش ِْركَ ل‬ ُ ‫َو ِإذْقَا َل لُ ْق َمانُ ًل ْب ِن ِه َوه َُو َي ِع‬
َّ ‫ظهُ َيا ُب َن‬

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu memberi pelajaran
kepadanya,"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar. " [Luqman:13].

FirmanNya,

َّ ‫ُون هللاِ َماًلَ َينفَعُكَ َوًلَيَض ُُّركَ فَإِن فَ َع ْلتَ فَإِنَّكَ ِإذاا ِمنَ ال‬
َ‫ظا ِل ِمين‬ ِ ‫َوًلَ تَدْعُوا ِمن د‬

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula)
memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka
sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim. [Yunus:106].

FirmanNya.
‫َو َمن يُ ْش ِر ْك ِباهللِ فَقَ ِد ا ْفت ََرى ِإثْ اما َع ِظي اما‬

Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [An
Nisa’:48].

Dan.

‫ضَلًَلا بَ ِعيداا‬ َ ْ‫َو َمن يُ ْش ِر ْك بِاهللِ فَقَد‬


َ ‫ض َّل‬

Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah


tersesat sejauh-jauhnya. [An Nisa’:116].

Syirik termasuk penyebab terhapusnya (nilai) amal perbuatan. Firman Allah.

َ‫ط َّن َع َملُكَ َولَتَ ُكون ََّن ِمنَ ْالخَا ِس ِرين‬


َ َ‫ى إِلَيْكَ َوإِلَى الَّذِينَ ِمن قَ ْبلِكَ لَئِ ْن أ َ ْش َر ْكتَ لَيَحْ ب‬ ِ ُ ‫َولَقَدْ أ‬
َ ‫وح‬

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:"Jika kamu
mempersekutukan (Allah), niscaya amalmu akan terhapus dan tentulah kamu termasuk orang-
orang yang merugi.” [Az Zumar:65].

Dalam surat Al An’am -setelah menyebutkan (kisah) beberapa nabi- Allah berfirman.

َ ِ‫ذَلِكَ ُهدَى هللاِ يَ ْهدِى بِ ِه َمن يَشَآ ُء ِم ْن ِعبَا ِد ِه َولَ ْو أ َ ْش َر ُكوا لَ َحب‬
َ‫ط َع ْن ُهم َّماكَانُوا َي ْع َملُون‬

Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Allah kehendaki
di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari
mereka amalan yang telah mereka kerjakan. [Al An’am:88].

Syirik menjadi penyebab kehinaan dan kerendahan. Allah berfirman.

‫ًلَّتَجْ َع ْل َم َع هللاِ ِإًلَهاا َءاخ ََر فَت َ ْقعُدَ َمذْ ُمو اما َم ْخذُوًلا‬

Janganlah kamu adakan ilah-ilah yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela
dan tidak ditinggalkan (oleh Allah). [Al Isra’:22].

Dan firmanNya.

‫ذَلِكَ ِم َّمآ أ َ ْو َحى ِإلَيْكَ َربُّكَ ِمنَ ْال ِح ْك َم ِة َوًلَ تَجْ عَ ْل َم َع هللاِ ِإًلَهاا َءا َخ َر فَت ُ ْلقَى فِي َج َهنَّ َم َملُو اما َّمدْ ُح ا‬
‫ورا‬

Dan janganlah kamu mengadakan ilah yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu
dilemparkan ke neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). [Al Isra’:39].

Syirik bisa menyebabkan pelakunya masuk neraka dan menghalanginya dari mendapat magfirah
(ampunan) dan keridhaan Allah. Allah berfirman.

‫ار‬
ٍ ‫ص‬َ ‫ظا ِل ِمينَ ِم ْن أَن‬ ُ َّ‫ِإنَّهُ َمن يُ ْش ِر ْك ِباهللِ فَقَدْ َح َّر َم هللاُ َعلَ ْي ِه ْال َجنَّةَ َو َمأ ْ َواهُ الن‬
َّ ‫ار َو َما ِلل‬

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang
zhalim itu seorang penolongpun. [Al Maidah:72].

Syirik termasuk perbuatan haram yang sangat mendasar, sebagaimana firman Allah.

َ ‫قُ ْل تَعَالَ ْوا أَتْ ُل َما َح َّر َم َربُّ ُك ْم َعلَ ْي ُك ْم أًَلَّ ت ُ ْش ِر ُكوا بِ ِه‬
‫ش ْيئاا‬

Katakanlah:"Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu janganlah
kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. [Al An’am:151].

Dan firmanNya.

‫طاناا َوأَ ْن‬ َ ‫س ْل‬ ِ ‫ي بِ َغي ِْر ْال َح‬


ُ ‫ق َوأَن ت ُ ْش ِر ُكوا بِاهللِ َمالَ ْم يُن َِز ْل بِ ِه‬ َ ‫طنَ َواْ ِْلثْ َم َو ْالبَ ْغ‬
َ ‫ظ َه َر ِم ْن َها َو َما َب‬
َ ‫ش َما‬ ِ ‫ي ْالفَ َو‬
َ ‫اح‬ َ ِ‫قُ ْل إِنَّ َما َح َّر َم َرب‬
َ‫تَقُولُوا َعلَى هللاِ َماًلَ تَ ْعلَ ُمون‬

Katakanlah:"Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun
yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,
(mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu
ketahui." [Al A’raf:33].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

َّ ‫َّللاِ َو َما ه َُّن قَا َل الش ِْركُ ِب‬


ِ‫اّلِل‬ َّ ‫سو َل‬ ِ ‫س ْب َع ْال ُمو ِبقَا‬
ُ ‫ت قَالُوا يَا َر‬ َّ ‫اجْ تَنِبُوا ال‬

Hindarilah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya,“Apakah (tujuh perkara)
itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Syirk (menyekutukan) Allah, …” kemudian beliau
melanjutkannya dan menyebutkan ketujuh hal tersebut [1]

Dalam penyebutan kata “syirik” diurutan terdepan terdapat isyarat, bahwa syirik merupakan dosa
yang paling besar. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya.
ُّ ‫س فَقَا َل أ َ ًَل َوقَ ْو ُل‬
‫الزو ِر‬ َ َ‫وق ْال َوا ِلدَي ِْن َو َكانَ ُمتَّ ِكئاا فَ َجل‬
ُ ُ‫عق‬ ِ ْ ‫َّللاِ قَا َل‬
َّ ‫اْل ْش َراكُ ِب‬
ُ ‫اّلِلِ َو‬ ُ ‫أ َ ًَل أ ُ ْخ ِب ُر ُك ْم ِبأ َ ْك َب ِر ْال َك َبائِ ِر قَالُوا َبلَى َيا َر‬
َّ ‫سو َل‬
َ‫س َكت‬ َ ُ‫فَ َما زَ ا َل يُك َِر ُرهَا َحتَّى قُ ْلنَا لَ ْيتَه‬

Maukah kalian kuberitahu tentang dosa yang paling besar? Mereka menjawab,“Tentu, wahai
Rasulullah.” Beliau bersabda,“Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”
Beliau bersabda sambil bersandar, lalu duduk dan bersabda (lagi),”Dan ingatlah berkata dusta
(termasuk dosa besar-pent).” Beliau mengulang-ulang ucapan itu, sampai kami berkata,”Semoga
beliau diam.”

Juga dalam hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata.

َ‫ظ ُم قَا َل أ َ ْن تَجْ عَ َل ِ َّّلِلِ نِدًّا َوه َُو َخلَقَك‬


َ ‫ب أ َ ْع‬ ُّ َ ‫َّللاِ أ‬
ِ ‫ي الذَّ ْن‬ َّ ‫سو َل‬
ُ ‫يَا َر‬

Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab,”Engkau menyekutukan
Allah, padahal Dia telah menciptakanmu.”

Waspadalah dengan syirik, yang kecil maupun yang besar! Syirik itu (kadang) tidak lebih
nampak dibandingkan dengan semut di atas batu hitam. Dan tidak ada yang merasa dirinya aman
dari kesyirikan, kecuali orang-orang yang tidak mengetahui hakikat syirik dan tidak tahu pula
apa yang menyebabkannya terbebas dari syirik. Adapun orang yang mengerti hakikat dan bahaya
syirik, ia akan menjadi orang yang paling takut terhadap syirik. Nabi Ibrahim Alaihissallam
berkata.

‫َام‬
َ ‫صن‬ َّ ‫ب اجْ َع ْل َهذَا ْالبَلَدَ َء ِامناا َو اجْ نُ ْب ِني َو َب ِن‬
ْ َ ‫ي أَن نَّ ْعبُدَ اْْل‬ ِ ‫َو ِإذْ قَا َل ِإب َْراهِي ُم َر‬

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata,"Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang
aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”
[Ibrahim:35].

Kemudian beliau menjelaskan penyebab dari rasa takutnya,

‫ضلَ ْلنَ َكثِ ا‬


ِ َّ‫يرا ِمنَ الن‬
‫اس‬ ْ َ‫ب ِإنَّ ُه َّن أ‬
ِ ‫َر‬

Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia.


[Ibrahim:36].

Jika seseorang sudah mengetahui, bahwa banyak orang yang terjerembab ke dalam syirik akbar
dan mereka sesat dengan menyembah berhala, maka ia akan takut terjerembab seperti mereka.

Ibrahim At Taimi berkata,“Siapakah yang merasa aman dari bala’ (syirik) setelah Nabi
Ibrahim?” Maksudnya, jika Nabi Ibrahim Alaihissallam sang kekasih Allah saja masih khawatir
terjatuh ke dalam kesyirikan, masih adakah orang yang tidak khawatir atas dirinya terjatuh ke
dalam kesyirikan setelah Nabi Ibrahim?

Syirik merupakan kezhaliman yang paling zhalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang
paling adil. Karena jika adil (diartikan dengan, pent.) meletakkan sesuatu pada tempatnya dan
memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya tanpa mengurangi sedikitpun, maka
tauhid merupakan keadilan yang paling adil, karena tauhid merupakan hak Allah atas hambaNya,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,“Saya (Mu’adz bin Jabal)
membonceng Nabi di atas keledai. Beliau berkata kepadaku,“Wahai Mu’adz, tahukah engkau
apa hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?” Saya jawab,“Allah dan RasulNya
yang lebih tahu.” Beliau bersabda,“Hak Allah atas hambaNya adalah agar mereka beribadah
kepadaNya dan tidak menyekutukanNya. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah tidak
menyiksa orang yang tidak berbuat syirik.”

Jika tauhid merupakan hak, maka apabila hamba-hambaNya telah mentauhidkanNya


(menyerahkan kepada Allah yang menjadi hakNya, pent.) berarti mereka telah berlaku adil
dengan seadil-adilnya. Jika mereka berbuat syirik, maka mereka telah berbuat zhalim.
Karenanya, tauhid merupakan kewajiban yang paling wajib. Allah berfirman.

ُ‫ضى َربُّكَ أًَلَّ تَ ْعبُدُوا إِْل إِيَّاه‬


َ َ‫َوق‬

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia [Al Isra’:23].

‫ش ْيئاا‬
َ ‫َوا ْعبُدُوا هللاَ َوًلَت ُ ْش ِر ُكوا ِب ِه‬

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun [An Nisa’:36].

Tauhid memiliki banyak keutamaan, diantaranya:

- Menyebabkan aman dari siksa pada hari kiamat. Allah berfirman.

َ‫ظ ْل ٍم أ ُ ْو َلئِكَ لَ ُه ُم اْْل َ ْمنُ َوهُم ُّم ْهتَدُون‬ ُ ‫الَّذِينَ َءا َمنُوا َولَ ْم يَ ْل ِب‬
ُ ‫سوا ِإي َمانَ ُه ْم ِب‬

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman
(syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk. [Al An’am:82].

Dan firmanNya.
ُ َ‫س ُه ْم خَا ِلدُونَ ًلَ َيحْ ُزنُ ُه ُم ْالفَز‬
‫ع‬ ُ ُ‫ت أَنف‬
ْ ‫س َها َو ُه ْم فِي َما ْشتَ َه‬ َ ‫ت لَ ُهم ِمنَّا ْال ُح ْسنَى أ ُ ْو َلئِكَ َع ْن َها ُم ْب َعد ُونَ ًلَ َي ْس َم ُعونَ َحسِي‬ َ َ‫ِإ َّن الَّذِين‬
ْ َ‫س َبق‬
َ‫اْْل َ ْكبَ ُر َوتَتَلَقَّا ُه ُم ْال َمَلَئِ َكةُ َهذَا يَ ْو ُم ُك ُم الَّذِي ُكنت ُ ْم تُو َعدُون‬

Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka
itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka
kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka Mereka tidak disusahkan oleh
kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat
berkata):"Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.. [Al Anbiya’:101-103].

- Tauhid merupakan kunci masuk surga, sebagaimana perkataan Wahab bin Munabbih, “Kunci
syurga itu adalah lailaha illallah.”

- Dengan tauhid, Allah berkenan menghapus kesalahan-kesalahan, sebagaimana sabda


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits qudsi.

َ َ‫ش ُر َعلَ ْي ِه تِ ْسعَةا َوتِ ْسعِينَ ِس ِج ًَّل ُك ُّل ِس ِج ٍل ِمثْ ُل َم ِد ْالب‬


‫ص ِر ث ُ َّم‬ ُ ‫ق يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة فَ َي ْن‬ ِ ‫ص َر ُج اَل ِم ْن أ ُ َّمتِي َعلَى ُر ُء‬
ِ ِ‫وس ْالخ َََلئ‬ ُ ‫سيُخ َِل‬ َّ ‫إِ َّن‬
َ َ‫َّللا‬
ََ‫ب فَيَقُو ُل بَلَى إِ َّن لك‬ َ ُ
ِ ‫عذ ٌر فَيَقو ُل ًل يَا َر‬ ْ َ َ
ُ َ‫ب َفيَقو ُل أفَلك‬ُ َ ُ ُ ْ
ِ ‫ش ْيئا أظل َمكَ َكتَبَتِي ال َحافِظونَ فَيَقو ُل ًل يَا َر‬ َ َ َ ‫ا‬ َ ْ ُ َ
َ ‫يَقو ُل أتن ِك ُر ِم ْن َهذا‬ُ
ُ
‫سولهُ فيَقو ُل احْ ض ُْر‬ َ ُ َ ْ َ َّ ‫ظ ْل َم َعلَيْكَ اليَ ْو َم فت َخ ُر ُج بِطاقة فِي َها أش َهد ُ أ ْن ًل إِلهَ إًِل‬
ُ ‫َّللاُ َوأش َهد ُ أ َّن ُم َح َّمداا َع ْبدُهُ َو َر‬ َّ َ َ َ ْ َ ٌ َ َ ْ َ ْ ُ ‫سنَةا فَإِنَّهُ ًَل‬
َ ‫ِع ْندَنَا َح‬
‫طاقَةُ فِي َكفَّ ٍة‬ َ ِ‫ض ُع الس ِِج ََّلتُ فِي َكفَّ ٍة َو ْالب‬ َ ‫ظلَ ُم قَا َل فَتُو‬ْ ُ ‫ت فَقَا َل إِنَّكَ ًَل ت‬ ِ ‫طا َقةُ َم َع َه ِذ ِه الس ِِج ََّل‬َ ِ‫ب َما َه ِذ ِه ْالب‬ ِ ‫َو ْزنَكَ فَيَقُو ُل يَا َر‬
‫ش ْي ٌء‬ َّ ‫طاقَةُ فَ ََل يَثْقُ ُل َم َع اس ِْم‬
َ ِ‫َّللا‬ َ ِ‫ت ْالب‬ ِ َ‫ت الس ِِج ََّلتُ َوثَقُل‬ ِ ‫ش‬
َ ‫طا‬َ َ‫ف‬

Sesungguhnya Allah akan menyelamatkan seorang manusia ………. Lalu Allah membentangkan
99 catatan amal di hadapan orang itu. Satu catatan (ukuran) sejauh mata memandang. Kemudian
Allah berfirman,”Adakah diantara catatan-catatan ini yang engkau ingkari? Apakah penulis-
penulisku telah menzhalimimu?” Orang itu menjawab,”‘Tidak wahai Rabb!” Allah
berfirman,”Apakah engkau mempunyai alasan?” Orang itu menjawab,”Tidak wahai Rabb!”
Allah berfirman,”Tentu. Sesungguhnya dalam catatan kami, engkau punya kebaikan. Dan
sesungguhnya hari ini engkau tidak akan dizhalimi!” Lalu keluarlah sebuah kartu, tertulis
padanya:

ُ ‫َّللاُ َوأ َ ْش َهدُ أَ َّن ُم َح َّمداا َع ْبدُهُ َو َر‬


ُ‫سولُه‬ َّ ‫أ َ ْش َهد ُ أ َ ْن ًَل ِإلَهَ ِإ ًَّل‬

Lalu Allah berfirman,”Datangkanlah timbanganmu!” Orang itu menjawab,”Wahai Rabbku,


apalah artinya satu kartu ini dengan catatan-catatan amal (kejelekan) ini.” Allah
berfirman,”Sesungguhnya, engkau tidak akan dizhalimi.” Kemudian catatan-catatan itu ditaruh
pada salah satu sisi timbangan dan kartu di sisi yang lain. Kemudian catatan-catatan amal itu
menjadi ringan dan kartu itu menjadi berat, tidak ada sesuatupun yang lebih berat dari nama
Allah. [2]

Para ulama’ telah membagi tauhid menjadi tiga.


Pertama. Tauhid Rububiyah.
Yaitu mengakui secara zhahir bathin, bahwa Allah adalah Rabb segala sesuatu, Pemilik,
Pencipta, Pemberi Rizki, Yang Menghidupkan dan Mematikan, Yang mengurusi alam semesta
ini semuanya, baik yang atas maupun yang bawah.

Kedua. Tauhid Uluhiyah.


Yaitu mengesakan Allah dengan ibadah tanpa memalingkan bagian terkecil dari ibadah kepada
selain Allah k . Inilah makna kalimat tauhid lailaha illallah, tidak ada yang berhak untuk
diibadahi kecuali Allah. Karena Dialah Sang Pencipta, sedangkan selain Dia adalah makhluq dan
hanya Allah yang bisa mengabulkan permohonan orang yang sengsara dan yang bisa
menghilangkan kesengsaraan. Allah berfirman,

ِ ‫ش ْىءٍ إًِلَّ َكبَا ِس ِط َك َّف ْي ِه إِلَى ْال َم‬


‫آء ِليَ ْبلُ َغ فَاهُ َو َماه َُو ِببَا ِل ِغ ِه‬ َ ِ‫َوالَّذِينَ يَدْعُونَ ِمن د ُونِ ِه ًلَيَ ْست َِجيبُونَ لَ ُهم ب‬

Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun
bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air
supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. [Ar Ra’d:14].

Untuk tujuan tauhid inilah, Allah menciptakan makhluk, mengirimkan para rasul dan
menurunkan kitab-kitabNya. Allah berfirman.

َ ‫َو َما َخلَ ْقتُ ْال ِج َّن َواْ ِْل‬


ِ ‫نس إًِلَّ ِليَ ْعبُد‬
‫ُون‬

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu. [Adz
Dzariyat:56].

FirmanNya.

ُّ ‫س ْب َحانَهُ َوت َ َعالَى َع َّما يُ ْش ِر ُكونَ يُن َِز ُل ْال َمَلَئِ َكةَ ِب‬
ُ‫الروحِ ِم ْن أ َ ْم ِر ِه َعلَى َمن َيشَآ ُء ِم ْن ِع َبا ِد ِه أ َ ْن أَنذ ُِروا أَنَّه‬ ُ ُ‫أَتَى أ َ ْم ُر هللاِ فََلَ ت َ ْست َ ْع ِجلُوه‬
ِ ُ‫ْل ِإلَهَ ِإْلأَنَا فَاتَّق‬
‫ون‬

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintahNya kepada siapa
yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya, yaitu:"Peringatkanlah olehmu sekalian,
bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa
kepadaKu." [An Nahl:2].

Tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang musyrik pada zaman dahulu, padahal mereka
sudah mengakui tauhid Rububiyah. Allah berfirman.
‫ت َوي ُْخ ِر ُج ْال َم ِيتَ ِمنَ ْال َحي ِ َو َمن‬
ِ ‫ي ِمنَ ْال َم ِي‬
َّ ‫ار َو َمن ي ُْخ ِر ُج ْال َح‬
َ ‫ص‬َ ‫ض أَ َّمن َي ْم ِلكُ الس َّْم َع َواْْل َ ْب‬
ِ ‫آء َواْْل َ ْر‬ َّ ‫قُ ْل َمن َي ْر ُزقُ ُكم ِمنَ ال‬
ِ ‫س َم‬
ُ‫سيَقُولُونَ هللا‬ َ َ‫يُدَ ِب ُر اْْل َ ْم َر ف‬

Katakanlah:"Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup
dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur
segala urusan?" Maka mereka menjawab,"Allah." [Yunus:31].

Dan firmanNya.

ِ ‫َويَقُولُونَ أَئِنَّا لَت َِار ُكوا َءا ِل َهتِنَا ِلش‬


ٍ ُ‫َاع ٍر َّمجْ ن‬
‫ون‬

Dan mereka berkata,"Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena


seorang penyair gila?" [Ash Shaffat:36].

Maka seorang muslim harus mengetahui, bahwasanya mengakui Allah sebagai Pencipta,
Pemberi Rizqi, Yang Bisa Menghidupkan dan Mematikan, tidak akan berarti apapun sampai dia
mengetahui bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah, lalu melaksanakan yang menjadi
konsekwensinya.

Ketiga. Tauhid Asma’ dan Sifat.


Maksudnya, ialah menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diriNya dalam kitabNya, dalam
hadits Rasulullah yang shahih tanpa tasybih (menyerupakan), tahrif (menyelewengkan
maknanya), tamtsil (memisalkan), ta’thil (menolak) dan tanpa takyiif.

Berpegang pada firmanNya.

‫ير‬
ُ ‫ص‬ِ ‫ش ْى ُءُُ َوه َُو الس َِّمي ُع ْال َب‬
َ ‫ْس ك َِمثْ ِل ِه‬
َ ‫لَي‬

Tidak ada yang semisalnya denganNya. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
[Asy Syura:11].

Sifat-sifat Allah yang ada dalam Al Qur’an terbagi menjadi dua. Yaitu sifat dzat dan sifat fi’il.
Sifat dzat, misalnya: jiwa, hidup, mengetahui, dapat mendengar, dapat melihat, dapat berbicara,
wajah, tangan, betis dan lain-lain. Sifat fi’il, seperti: bersemayam, turun, datang, ridha, marah,
tertawa, senang dan lain-lain.

Kewajiban kita atas sifat-sifat ini, ialah mengimaninya, menetapkannya untuk Allah tanpa
tasybih, ta’thil, tamtsil dan takyif. Diantara kita, janganlah ada yang mengatakan jiwa Allah
seperti jiwa manusia dan lain sebagainya. Kita mestinya mengikuti sebagaimana perkataan Imam
As Syafi’i rahimahullah,“Aku beriman kepada Allah dan kepada semua yang datang dari Allah
sesuai dengan maksud Allah. Dan aku juga beriman kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan kepada semua yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah.”

Selanjutnya ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah merahmati kita. Bahwa tauhid
merupakan jalan tertinggi yang ditempuh manusia menuju Allah. Tauhid merupakan dakwah
pertama para rasul. Mereka memulai dakwah dengan (menyampaikan) tauhid, sebelum (perkara)
halal dan haram. Rasulullah n tinggal di Mekkah selama 10 tahun atau lebih, senantiasa
menyampaikan, “Wahai manusia, katakanlah laailaha illallah, kalian pasti akan beruntung.”

Ketika tauhid sudah tertanam di hati mereka, barulah kemudian turun ayat-ayat fardhu, diawali
dengan shalat. Tidak bertambah sampai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke
Madinah.

Kemudian perintah dan larangan berdatangan. Rasul tidak perlu bekerja keras untuk
mengarahkan mereka agar mentaatinya, karena beliau sudah bekerja keras di Mekkah sehingga
punahlah ikatan kesyirikan. Ketika ikatan syirik sudah punah, maka ikatan-ikatan yang lainpun
punah. Kaum mukmin menjadi seperti yang diterangkan Allah.

َ َ‫س ِم ْعنَا َوأ‬


‫ط ْعنَا‬ ُ ‫إِنَّ َما َكانَ قَ ْو َل ْال ُمؤْ ِمنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى هللاِ َو َر‬
َ ‫سو ِل ِه ِليَحْ ُك َم بَ ْينَ ُه ْم أ َن يَّقُولُوا‬

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya
agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan: "Kami mendengar dan kami patuh". [An
Nur:51]

Karena pentingnya tauhid, maka ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim
utusan-utusannya dan para da’i ke suatu kaum, beliau memerintahkan mereka agar memulai
dakwahnya dengan tauhid, sebagaimana sabda beliau kepada Muadz bin Jabbal ketika di utus ke
Yaman,

‫طاعُوا ِلذَلِكَ فَأ َ ْع ِل ْم ُه ْم‬ َ َ‫َّللاِ َفإِ ْن ُه ْم أ‬


َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫َّللاُ َوأَنِي َر‬ َّ ‫ش َهادَة َ أَ ْن ًَل ِإلَهَ ِإ ًَّل‬ َ ‫ْعو ُه ْم ِإلَي ِه‬ ُ ‫كن أ َ َّو ُل َما تَد‬ ِ ‫ِإنَّكَ ت َأْتِي قَ ْو اما ِم ْن أ َ ْه ِل ْال ِكت َا‬
ْ ‫ب فَ ْل َي‬
ُ‫صدَقَةا تُؤْ َخذ‬ َ ‫علَ ْي ِه ْم‬
َ ‫ض‬ َّ ‫طاعُوا ِلذَلِكَ فَأ َ ْع ِل ْم ُه ْم أَ َّن‬
َ ‫َّللاَ ا ْفت ََر‬ َ َ ‫ت فِي ُك ِل يَ ْو ٍم َولَ ْيلَ ٍة فَإ ِ ْن ُه ْم أ‬ ٍ ‫صلَ َوا‬ َ ‫س‬ َ ‫علَ ْي ِه ْم َخ ْم‬
َ ‫ض‬ َ ‫َّللاَ ا ْفت ََر‬َّ ‫أ َ َّن‬
َّ َ‫ْس بَ ْي َن َها َو َبيْن‬
ِ‫َّللا‬ ْ ‫ق دَع َْوةَ ْال َم‬
ِ ُ ‫ظل‬
َ ‫وم فَإِنَّهُ لَي‬ ِ َّ ‫طاعُوا ِلذَلِكَ فَإِيَّاكَ َوك ََرائِ َم أ َ ْم َوا ِل ِه ْم َوات‬ َ َ ‫ِم ْن أ َ ْغنِيَائِ ِه ْم فَت ُ َردُّ فِي فُقَ َرائِ ِه ْم فَإ ِ ْن ُه ْم أ‬
ٌ‫ِح َجاب‬

Sesungguhnya engkau akan mendatangi orang-orang ahli kitab, maka hendaklah perkara pertama
yang engkau dakwahkan ialah syahadat lailaha illallah (agar mereka bersaksi, bahwa tidak ilah
yang berhak diibadahi kecuali Allah, pent.) dan sesungguhnya saya adalah Rasulullah. Jika
mereka sudah mentaati kamu untuk itu, maka beritahukanlah mereka bahwasanya Allah telah
mewajibkan kepada mereka lima shalat sehari semalam. Jika mereka sudah taat, maka
beritahulah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan zakat kepada orang-orang kaya lalu
diberikan kepada orang yang fakir. Jika mereka taat, maka hindarilah harta-harta berharga
mereka dan takutlah terhadap do’a orang-orang yang terzhalimi, karena sesungguhnya antara
do’a itu dengan Allah tidak ada hijab. [3]

Maka wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan aqidah ini, baik sebagai pelajaran ataupun
pengajaran. Dan wajib juga bagi setiap da’i dan guru untuk mendahulukan aqidah di atas segala
sesuatu, serta menjadikan aqidah sebagai skala prioritas. Karena baiknya amal disebabkan aqidah
yang baik dan buruknya amal akibat dari buruknya aqidah.

ٍ ‫آء تُؤْ تِي أ ُ ُكلَ َها ُك َّل ِح‬


‫ين بِإِذْ ِن َربِ َها‬ ِ ‫س َم‬َّ ‫ع َها فِي ال‬ ُ ‫صلُ َها ثَابِتٌ َوفَ ْر‬ْ َ ‫طيِبَ ٍة أ‬
َ ٍ‫ش َج َرة‬ َ ‫طيِبَةا َك‬َ ‫ب هللاُ َمثََلا َك ِل َمةا‬ َ ‫ض َر‬ َ ‫ْف‬ َ ‫أَلَ ْم ت ََر َكي‬
‫ض َمالَ َها ِمن قَ َر ٍار‬ ِ ‫ق اْْل َ ْر‬ ِ ‫ت ِمن فَ ْو‬ ْ َّ‫ش َج َرةٍ َخبِيث َ ٍة اجْ تُث‬َ ‫اس لَعَلَّ ُه ْم يَتَذَ َّك ُرونَ َو َمث َ ُل َك ِل َم ٍة َخبِيثَ ٍة َك‬
ِ َّ‫َويَض ِْربُ هللاُ اْْل َ ْمثَا َل ِللن‬

Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang
baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu
memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-
perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang
buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi;
tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. [Ibrahim:24-26].

Akhirnya, semoga Allah memberikan kita dan semua kaum muslimin aqidah yang baik dan
selamat. Sesungguhnya hanya Allah yang mampu melakukan hal itu.

(Diterjemahkan dari Majalah Al Ashalah Edisi 11/Tahun ke-2, halaman 17-24)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Hadits-hadits yang ada dalam pembahasan terdapat dalam Bukhari-Muslim atau salah-
satunya
[2]. Hadits shahih, terkenal di kalangan ahlu ilmi dengan haditsul bithaqah. Lihat Silsilah Al
Alhadits Ash Shahihah, karya Syaikh Al Albani rahimahullah no. 135.
[3]. Riwayat Bukhari-Muslim

Hanya Satu Jalan Menuju Allah Azza Wa


Jalla
Kamis, 3 Maret 2011 23:11:30 WIB

HANYA SATU JALAN MENUJU ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh
Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramdhani

Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu- bahwa jalan yang menjamin nikmat Islam bagimu
hanya satu, tidak bercabang. Allah telah menetapkan keberuntungan hanya untuk satu golongan
saja. Allah berfirman.

َ ‫أ ُ ْوًلَئِكَ ِح ْزبُ هللاِ أَْلَإِ َّن ِح ْز‬


َ‫ب هللاِ ُه ُم ْال ُم ْف ِلحُون‬

Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan
yang beruntung. [Al Mujadalah:22].

Dan Dia (Allah) menetapkan kemenangan hanya untuk mereka pula. Allah berfirman.

َ‫ب هللاِ ُه ُم ْالغَا ِلبُون‬


َ ‫سولَهُ َوالَّذِينَ َءا َمنُوا فَإ ِ َّن ِح ْز‬
ُ ‫َو َمن يَت ََو َّل هللاَ َو َر‬

Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman menjadi
penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. [Al
Maidah:56].

Bagaimanapun, jika anda mencari dalam kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam, maka anda tidak akan menemukan di dalamnya (dalil, Red.) pengkotak-kotakan umat
kepada jama’ah-jama’ah, partai-partai atau golongan-golongan, kecuali perbuatan itu dicela dan
tercela. Allah berfirman.

ٍ ‫ ِمنَ الَّذِينَ فَ َّرقُوا دِينَ ُه ْم َوكَانُوا ِش َي اعا ُك ُّل ِح ْز‬. َ‫َوًلَت َ ُكونُوا ِمنَ ْال ُم ْش ِركِين‬
َ‫ب ِب َما لَدَ ْي ِه ْم فَ ِر ُحون‬

Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang
yang memecah-belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan
merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [Ar Rum:31-32].

Bagaimana mungkin Allah mengakui dan melegitimasi perpecahan ummat, setelah Dia
memelihara mereka dengan tali (agama)Nya? Lagi pula, Allah telah melepaskan tanggung jawab
NabiNya -Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam - atas umatnya, manakala mereka berpecah-
belah, dan (dia) mengancam mereka atas perpecahan tersebut. Allah berfirman.
َ‫ش ْىءٍ ِإنَّ َمآأَ ْم ُر ُه ْم ِإلَى هللاِ ث ُ َّم يُ َن ِبئ ُ ُهم ِب َما كَانُوا يَ ْف َعلُون‬
َ ‫ِإ َّن الَّذِينَ فَ َّرقُوا دِينَ ُه ْم َوكَانُوا ِشيَعاا لَسْتَ ِم ْن ُه ْم فِي‬

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi


beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya
urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada
mereka apa yang telah mereka perbuat. [Al An’am:159].

Dari Muawiyah bin Abu Sufyan Radhiyallahu 'anhu berkata, ketahuilah, bahwasanya Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri di tengah-tengah kami, lalu bersabda.

‫س ْبعُونَ فِي‬ ِ ‫ث َو َس ْبعِينَ ِث ْنت‬


َ ‫َان َو‬ َ َ‫س ْبعِينَ ِملَّةا َوإِ َّن َه ِذ ِه ْال ِملَّة‬
ٍ ‫ست َ ْفت َِر ُق َع َلى ث َ ََل‬ ِ ‫أ َ ًَل إِ َّن َم ْن قَ ْبلَ ُك ْم ِم ْن أ َ ْه ِل ْال ِكت َا‬
َ ‫ب ا ْفت ََرقُوا َعلَى ثِ ْنتَي ِْن َو‬
ُ‫ِي ْال َج َما َعة‬
َ ‫احدَة ٌ فِي ْال َجنَّ ِة َوه‬
ِ ‫ار َو َو‬ ِ َّ‫الن‬

Ketahuilah, bahwasanya Ahlul Kitab sebelum kalian terpecah menjadi tujuhpuluh dua golongan.
Dan bahwasanya, umat ini akan terpecah menjadi tujupuluh tiga golongan. Tujuhpuluh dua di
neraka, dan hanya satu yang di surga, yaitu Al Jama’ah. [1]

Mengomentari hadits ini, Amir Ash Shan’ani rahimahullah berkata,“Penyebutan bilangan pada
hadits ini, bukan untuk menjelaskan banyaknya orang yang binasa. Akan tetapi, hanya untuk
menerangkan luasnya jalan-jalan kesesatan dan cabang-cabang kesesatan, serta untuk
menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya satu. Hal ini, sama dengan yang telah disebutkan
oleh ulama ahli tafsir berkaitan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

ُّ ‫اطي ُم ْست َ ِقي اما فَاتَّ ِبعُوهُ َوًلَتَت َّ ِب ُعوا ال‬


َ ‫سبُ َل فَتَفَ َّرقَ ِب ُك ْم َع ْن‬
‫س ِبي ِل ِه‬ ِ ‫َوأ َ َّن َهذَا‬
ِ ‫ص َر‬

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu
dari jalanNya. [Al An’am:153].

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggunakan bentuk jamak pada kata yang
menerangkan “jalan-jalan yang dilarang mengikutinya”, guna menerangkan cabang-cabang dan
banyaknya jalan-jalan kesesatan serta keluasannya. Sedangkan pada kata “jalan petunjuk dan
kebenaran“, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggunakan bentuk tunggal. (Ini) dikarena jalan al haq
itu hanya satu, dan tidak berbilang. [2]

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata.

ُ ‫طا َع ْن يَ ِمينِ ِه َو َع ْن ِش َما ِل ِه ث ُ َّم قَا َل َه ِذ ِه‬


‫سبُ ٌل قَا َل‬ ‫طو ا‬ ُ ‫ط ُخ‬َّ ‫َّللاِ ث ُ َّم َخ‬ َ ‫طا ث ُ َّم قَا َل َهذَا‬
َّ ‫سبِي ُل‬ ًّ ‫سلَّ َم َخ‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫ط لَنَا َر‬ َّ ‫َخ‬
ُّ ‫اطي ُم ْست َ ِقي اما فَاتَّبِعُوهُ َو ًَل تَت َّ ِبعُوا ال‬
‫سبُ َل فَتَفَ َّرقَ بِ ُك ْم َع ْن‬ ِ ‫ص َر‬ ِ ‫ان يَدْعُو إِلَ ْي ِه ث ُ َّم قَ َرأ َ إِ َّن َهذَا‬
ٌ ‫ط‬ َ ‫ش ْي‬
َ ‫سبِي ٍل ِم ْن َها‬ َ ‫يَ ِزيد ُ ُمتَفَ ِرقَةٌ َعلَى ُك ِل‬
‫س ِبي ِل ِه‬
َ

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu
bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan
garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan
yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca.

‫سبِي ِل ِه‬ ُّ ‫اطي ُم ْست َ ِقي اما فَات َّ ِبعُوهُ َو ًَل تَتَّبِعُوا ال‬
َ ‫سبُ َل فَتَفَ َّرقَ بِ ُك ْم َع ْن‬ ِ ‫ِإ َّن َهذَا‬
ِ ‫ص َر‬

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu
dari jalanNya. [Al An’am:153]. [3].

Redaksi hadits ini menunjukkan, bahwa jalan (kebenaran, pent.) itu hanya satu. Imam Ibnul
Qayyim rahimahullah berkata,”Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang)
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah
mengutus para rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya. Tiada seorangpun yang dapat sampai
kepadaNya, kecuali melalui jalan ini. Seandainya manusia datang dengan menempuh semua
jalan, lalu mendatangi setiap pintu dan meminta agar dibukakan, niscaya seluruh jalan tertutup
dan terkunci buat mereka; terkecuali melalui jalan yang satu ini. Karena jalan inilah, yang
berhubungan dengan Allah dan bisa mengantarkan kepadaNya. [4]

Aku (penyusun) mengatakan: Akan tetapi, banyaknya liku-liku di jalan ini yang cukup
memberatkan, menyebabkan seseorang menjadi ragu, lalu meninggalkannya. Dan sesungguhnya
kelompok-kelompok yang menyimpang, telah menyelisihi jalan ini. (Penyebabnya), karena
merasa senang dan tenang pada jalan yang banyak, serta merasa berat untuk menyendiri. Ingin
segera tiba (tergesa-gesa, Red.) dan takut memikul beban perjalanan yang panjang. Ibnul
Qayyim berkata, “Barangsiapa menganggap jauh satu jalan ini, maka dia tidak akan mampu
menempuhnya.”

MENGENAL JALAN YANG SATU


(Menyimpulkan) dari pendapat Ibnul Qayyim di atas, maka jelaslah jalan yang dimaksud. Dan
jelas, bahwa jalan yang dimaksud disini, ialah “rukun yang kedua” dari rukun tauhid. (Yaitu)
setelah syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, maka (yang
kedua, Red.) persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan (kalimat) ini, juga menjadi
syarat kedua diterimanya suatu amal ibadah. Karena -sebagaimana sudah diketahui- bahwa amal
ibadah tidak akan diterima, kecuali setelah memenuhi dua syarat; Pertama, mengikhlaskan
agama (ketaatan) karena Allah semata. Kedua, dalam beribadah hanya dengan mengikuti (cara
yang dicontohkan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Pada kesempatan ini, saya tidak bermaksud menjadikan untuk kaidah yang mashur ini sebagai
dalil dalam pembahasan ini. Sebab, tujuan utama bahasan ini untuk menjelaskan bahwa jalan
yang pernah ditempuh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, itulah satu-satunya jalan yang bisa
mengantarkan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla.

(Pengenalan terhadap jalan ini amat penting, pent); karena ketidak tahuan terhadap jalan ini,
rintangan-rintangannya, serta tidak mengerti maksud dan tujuannya, hanya akan menghasilkan
kepayahan yang sangat, tanpa bisa mendapatkan manfaat yang berarti. [5]

Tujuan pembahasan ini, juga untuk menjelaskan, bahwa jalan itu hanya satu. Sehingga tidak
boleh berdusta mengatas-namakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan
menda’wahkan, bahwa jalan menuju Allah Azza wa Jalla itu (jumlahnya banyak, pent.),
sejumlah bilangan nafas manusia. Atau ungkapan-ungkapan lain, yang menurut agama Allah
Azza wa Jalla–yang datang guna menyatukan pemeluknya dan bukan untuk memecah-belah
mereka- jelas nyata kebathilannya. Allah berfirman.

ْ َ ‫ف بَيْنَ قُلُوبِ ُك ْم فَأ‬


‫صبَحْ تُم بِنِ ْع َمتِ ِه إِ ْخ َواناا‬ َ َّ‫َص ُموا بِ َح ْب ِل هللاِ َج ِميعاا َوًلَ ت َ َف َّرقُوا َواذْ ُك ُروا نِ ْع َمتَ هللاِ َعلَ ْي ُك ْم إِذْ ُكنت ُ ْم أَ ْعدَآ اء فَأَل‬
ِ ‫َوا ْعت‬

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-
berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-
musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang
yang bersaudara [Ali Imran:103]

Tali yang menjamin kaum muslimin adalah kitab Allah Azza wa Jalla, sebagaimana penafsiran
para ulama kaum muslimin. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu berkata.

َّ ‫َص ُموا ِب َح ْب ِل‬


ِ‫َّللا‬ ِ ‫س ِب ْي ِل هللاِ فَا ْعت‬
َ ‫صد ُّْوا َع ْن‬ ُ ‫الص َرا‬
ُ ‫ط ِل َي‬ ِ ‫َّللاِ َهلُ َّم َهذَا‬
َّ َ‫اطينُ يُنَاد ُونَ َيا َع ْبد‬ َّ ‫ض ٌر تَحْ ض ُُرهُ ال‬
ِ ‫ش َي‬ َ ‫الص َرا‬
َ َ ‫ط ُمحْ ت‬ ِ ‫ِإ َّن َهذَا‬
ُ‫َّللاِ ْالقُ ْرآن‬
َّ ‫فَإ ِ َّن َح ْب َل‬

Sesungguhnya, jalan ini dihadiri para syetan. Mereka berseru,”Wahai hamba-hamba Allah,
kemarilah. Ini adalah jalan (yang benar).” (Mereka melakukan ini, pent.) untuk menghalang-
halangi manusia dari jalan Allah Azza wa Jalla. Maka, berpegang taguhlah kalian dengan
hablullah. Sesungguhnya, hablullah itu adalah Kitabullah (Al Qur’an). [6].

Ungkapan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ini, mengandung dua makna yang sangat penting.
Pertama : Jalan menuju Allah itu hanya satu. Hanya saja, jalan itu dikelilingi oleh syetan yang
ingin memisahkan manusia dari jalan ini. Sementara itu, syetan tidak menemukan jalan terbaik
untuk mencerai-beraikan mereka dari jalan ini, kecuali dengan menda’wakan, bahwa jalan-jalan
itu banyak. Maka, barangsiapa yang hendak memasukkan suatu anggapan kepada manusia,
bahwa kebenaran (al haq) itu tidak hanya terbatas pada satu jalan saja, berarti dia adalah syetan.
Dan sungguh Allah berfirman.

ِ ‫فَ َماذَا بَ ْعدَ ْال َح‬


َّ ‫ق ِإًلَّ ال‬
‫ضَلَ ُل‬

Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. [Yunus:32].

Kedua :Tafsir hablullah (tali Allah Azza wa Jalla) yang wajib dipegang teguh oleh kaum
muslimin agar tetap bersatu, ialah kitab Allah, Al Qur’a Al Karim. Tafsir ini tidak bertentangan
dengan ucapan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu yang berbunyi.

ُ ‫ط ْال ُمستَقـ ِ ْي ُم الَّذِي ت ََر َكنَا َعلَ ْي ِه َر‬


ِ‫س ْو ُل هللا‬ ُ ‫الص َرا‬
ِ

Jalan yang lurus, yaitu jalan yang kami lalui ketika kami ditinggal oleh Rasulullah. [7]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewariskan dua pusaka untuk mereka, yaitu Al Qur’an
dan Sunnah, sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

‫س َّنتِ ْي‬ َ ‫َضلُّوا بَ ْعدِي أَبَداا ِكت‬


َّ ‫َاب‬
ُ ‫َّللاِ َو‬ ِ ‫س ْكت ُ ْم بِ ِه لَ ْن ت‬
َّ ‫ت ََر ْكتُ فِي ُك ْم َما إِ ْن ت َ َم‬

Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan
sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.. [8]

Ditinjau dari ekstensinya, Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu sama dengan kitab
Allah sebagai wahyu, dan Sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah Azza wa Jalla. Bahkan,
makhluk terbaik yang menafsirkan Al Qur’an adalah Rasulullah, sebagaimana firman Allah Azza
wa Jalla.

‫اس َمانُ ِز َل ِإلَ ْي ِه ْم‬ ِ َ‫َوأَنزَ ْلنَآ ِإ َليْك‬


ِ َّ‫الذ ْك َر ِلت ُ َب ِينَ ِللن‬

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa
yang telah diturunkan kepada mereka. [An Nahl:44].

Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata.

َ‫َكانَ ُخلُقُهُ القُ ْرآن‬

Akhlaq beliau adalah Al Qur’an. [9]

Oleh karena itu pula, jika timbul perpecahan dan perselisihan diantara mereka, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan umatnya agar berpegang teguh dengan sunnahnya
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersada.

‫س ُكوا ِب َها َو َعضُّوا َعلَ ْي َها‬ َّ َ‫اء ْال َم ْه ِد ِيين‬


َّ ‫الرا ِشدِينَ تَ َم‬ ِ ‫سنَّ ِة ْال ُخ َل َف‬ ُ ‫يرا فَ َعلَ ْي ُك ْم ِب‬
ُ ‫س َّنتِي َو‬ ‫اختِ ََلفاا َكثِ ا‬ َ َ‫ش ِم ْن ُك ْم بَ ْعدِي ف‬
ْ ‫سيَ َرى‬ ْ ‫فَإِنَّهُ َم ْن يَ ِع‬
ٌ‫ور فَإِ َّن ُك َّل ُمحْ دَثَ ٍة ِبدْ َعة‬ ُ
ِ ‫ت ْاْل ُم‬ ِ ‫اج ِذ َو ِإيَّا ُك ْم َو ُمحْ دَثَا‬
ِ ‫ِبالنَّ َو‬

Dan sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku, dia akan melihat banyak
perselisihan, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para
khalifah yang diberi hidayah yang mereka di atas petunjuk. Berpegang teguhlah padanya, dan
gigitlah ia dengan gigi geraham kalian (peganglah sekuat-kuatnya, Red.), serta jauhilah perkara-
perkara yang baru (dalam agama); karena sesungguhnya, setiap perkara yang baru (yang diada-
adakan dalam agama) adalah bid’ah. [10]

Ketika menjelaskan sebab bersatunya salaf pada aqidah yang sama, Imam Ibnu Bathuthah
rahimahullah mengatakan,“Generasi pertama, semuanya masih tetap pada aqidah ini. Hati dan
mazdhab mereka menyatu. Kitab Allah sebagai jaminan yang memelihara keutuhan mereka.
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pedoman. Mereka tidak menuruti
pendapat atau rasio mereka, (dan) tidak menyandarkan pemahamannya kepada hawa nafsu.
Kondisi umat pada saat itu terus demikian. Hati-hati mereka terpelihara oleh penjagaan Allah
Azza wa Jalla, dan berkat ‘InayahNya jiwa-jiwa mereka terkendali dari hawa nafsu. [Lihat kitab
Al Ibanah atau Al Qadar, I].

Apa yang dikatakan Ibnu Baththah rahimahullah itu benar ; karena agama Allah itu hanya satu
(dan) tidak ada pertentangan. Allah berfirman.

‫اخ ِتَلَفا ا َك ِث ا‬
‫يرا‬ ْ ‫َولَ ْو َكانَ ِم ْن ِعن ِد َغي ِْر هللاِ لَ َو َجد ُوا ِفي ِه‬

Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan
yang banyak di dalamnya. [An Nisa’:82].

Adapun yang kami dakwahkan ini adalah jalan yang paling jelas, paling terang, paling kaya
(dengan dalil) dan paling sempurna. Dari Al Irbadh bin Sariyah, ia berkata, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

ِ ‫اء لَ ْيلُ َها َك َن َه‬


ٌ‫ارهَا ًَل يَ ِزي ُغ َع ْن َها بَ ْعدِي ِإ ًَّل هَا ِلك‬ ِ ‫ض‬َ ‫لَقَدْ ت ََر ْكت ُ ُك ْم َعلَى ْالبَ ْي‬

Sesungguhnya, aku telah meninggalkan kalian di atas jalan, seperti jalan yang sangat putih,
malamnya sama dengan siangnya. Tiada yang menyimpang sesudahku dari jalan itu, kecuali
orang (itu) akan binasa. [11]

Sehingga, jika ada seseorang yang berupaya untuk “menyempurnakan atau menghiasinya”
dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah n dan tidak pula oleh para sahabat g ,
berarti perbuatan itu hanyalah sebuah upaya untuk menyimpangkan mereka kepada jalan-jalan
kesesatan, bahkan menyimpangkan ke lembah-lembah kebinasaan. Inilah yang dinamakan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

ُ‫ضَلَلَة‬
َّ ‫ال ِبدْ َعةُ ال‬

Bid’ah adalah kesesatan

Oleh karena itu, para salafush shalih sangat mengingkari orang-orang yang menambah-nambah
dalam (masalah) agama, atau mengotori agama ini dengan pendapat rasionya. Umar bin Khathab
Radhiyallahu 'anhu menuturkan.

‫ْث أَ ْن‬ ُ ‫َت َعلَ ْي ِه ُم اْل َ َحا ِدي‬


ْ ‫ظ ْوهَا َونَ َس ْوا )وفي رواية( َوتَفَ َّلت‬ ُ َ‫سنَّةُ أَ ْن يَحْ ف‬ ُّ ‫الرأْي ِ فَإِنَّ ُه ْم أ َ ْعدَا ُء ال‬
ُّ ‫سنَّ ِة أ ُ ِعيَتْ ُه ُم ال‬ َّ ‫ب‬
ِ ‫ص َحا‬ْ َ ‫سة َ أ‬ َ َ‫إِيَّا ُك ْم َو ُم َجال‬
‫سبِ ْي ِل‬
َّ ‫اء ال‬ َ ‫ضلُّ ْوا َع ْن‬
ِ ‫س َو‬ َ ‫ضلُّ ْوا َكثِي اْرا َو‬ َ َ‫سئِلُ ْوا َع َّما ًلَ يَ ْعلَ ُم ْونَ فَا ْستَحْ يَ ْوا أ َ ْن يَقُ ْولُ ْوا ًلَ َن ْعلَ ُم فَأ َ ْفت َْوا ِب َرأْيِ ِه ْم ف‬
َ َ ‫ضلُّ ْوا فَأ‬ ُ ‫يَعُ ْودَهَا َو‬
ْ َ َ
. ‫اطنُ ال ُخفي ِْن أ ْولى بِال َمسْحِ ِم ْن‬َّ ْ َ
ِ َ‫سنَّ ِة ل َكانَ ب‬ َ
ُّ ‫ي أ ْولى ِمنَ ال‬ َ ْ َ
َّ َ‫الرأي ِ َول ْو َكان‬
ُ ‫الرأ‬ ْ ْ ْ َ
َّ ‫ضهُ هللاُ َحتى أغنَاهُ بِال َوحْ ي ِ َع ِن‬ َّ ْ ِ‫إِ َّن نَبِيَّ ُك ْم لَ ْم يَ ْقب‬
‫ظاه ِِر ِه َما‬ َ

Janganlah kalian duduk dengan orang-orang yang berpegang dengan rasio mereka; karena
sesungguhnya, mereka itu musuh Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka tidak
mampu memelihara Sunnah. Mereka lupa (dalam sebuah riwayat, mereka diserang) hadits-hadits
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga mereka tidak mampu memahaminya. Mereka
ditanya tentang masalah yang tidak mereka ketahui, akan tetapi mereka malu untuk
mengatakan,“Kami tidak mengetahui,” lalu mereka berfatwa dengan rasionya, sehingga mereka
tersesat dan menyesatkan orang banyak. Mereka tersesat dari jalan yang lurus. Sesungguhnya
Nabi kalian tidaklah diwafatkan Allah, kecuali setelah Allah mencukupkannya dengan wahyu
dari rasio. Dan seandainya rasio itu lebih utama daripada Sunnah, niscaya mengusap bagian
bawah kedua sepatu (khuf), itu lebih utama daripada mengusap bagian atasnya. [12]

Yang demikian itu, karena agama ini dibangun diatas dasar ittiba’ (mengikuti wahyu), bukan
dengan ikhtira’ (mengada-ada). Sedangkan rasio, biasanya tercela; karena banyak urusan agama
yang tidak bisa dijangkau oleh akal semata. Apalagi akal manusia memiliki perbedaan dalam
menjangkau pemahaman dan faktor-faktor yang mempengaruhinya; meskipun terkadang
pendapat itu patut mendapatkan pujian. [13] Abdullah bin Mas’ud berkata.

ِ ‫اِت َّ ِبعُ ْوا َوًلَ تَ ْبتَ ِدع ُْوا فَقَدْ ُك ِف ْيت ُ ْم َعلَ ْي ُك ْم ِب ْال َعتِ ْي‬
‫ق‬

Ikutilah dan jangan mengada-ada, karena sesungguhnya (ajaran syari’at Islam ini) telah
mencukupi kalian, hendaklah kalian berpegang dengan tuntunan agama yang sediakala. [14]
Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu berkata.

‫سنَةا‬ ُ َّ‫ضَلَلَ ٍة َو ِإ ْن َرآهَا الن‬


َ ‫اس َح‬ َ ‫ُك ُّل ِبدْ َع ٍة‬

Semua bid’ah itu adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik. [15]

Dan selama pembahasan kami tentang “pengaruh perbuatan bid’ah” yang menghalangi seseorang
dalam mencari jalan yang lurus, maka saya akan menyebutkan sebuah ucapan Abdullah bin
Abbas perihal masalah ini, yang menunjukkan luasnya ilmu para sahabat.

Dari Utsman bin Hadhir, ia berkata: Aku datang menjumpai Abdullah bin Abbas. Lalu aku
berkata kepadanya, ‫ ( أوصيني‬berilah wasiat kepadaku); diapun berkata.

‫اْل ْست ُِِقَا َم ِة َو اْلَثَ ِر َو ًلَ تَ ْبتَ ِد ْع‬


ِ ‫نَعَ ْم َعلَيْكَ بِتَ ْق َوى هللاِ َو‬

“Ya , bertaqwalah engkau kepada Allah, istiqamahlah dan (berpeganglah pada) atsar (jejak para
salaf, pent). Ikutilah, dan jangan mengada-ada dalam urusan agama. [16]

Cobalah anda perhatikan ucapan ini. Dia memadukan dua hal. Pertama, taqwa kepada Allah,
yang maknanya sama dengan keikhlasan. Sebab ia dipadukan dengan perintah untuk berittiba’
(perintah untuk mengikuti tuntunan Nabi, pent.). Kedua, al ittiba’, yang maknanya mengikuti
jalan yang lurus, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Selanjutnya, beliau mengingatkan agar waspada terhadap yang bertolak belakang dengan kedua
hal di atas, yaitu bid’ah. Demikianlah mayoritas ucapan para salaf, meskipun singkat, namun
selalu mencakup dan membentengi (seseorang).

Merupakan perangai Salafush Shalih, mereka selalu bersikap tegas dan keras terhadap orang
yang mencari-cari ucapan manusia (para tokoh) untuk menandingi hukum Rasulullah, setinggi
apapun kedudukan dan martabat tokoh-tokoh tersebut.

Tidak diragukan, bahwasanya beradab dan memelihara kesopanan terhadap para ulama’,
mencintai dan mendahulukan mereka atas lainnya, serta tudingan seseorang terhadap rasionya
jika disejajarkan dengan pendapat-pendapat para ulama; semua itu perkara yang amat penting.
Namun demikian, hal tersebut merupakan persoalan lain. Sedangkan mendahulukan wahyu (Al
Qur’an dan As Sunnah) setelah jelas permasalahannya, juga merupakan perkara lain.

Urwah berkata kepada Ibnu Abbas,“Celaka engkau. Engkau telah menyesatkan manusia, karena
memerintahkan untuk melakukan ibadah umrah pada sepuluh hari ( pertama bulan Dzul Hijjah),
padahal tiada umrah pada hari-hari itu.” Maka Ibnu Abbas berkata,“Wahai Uray [17].
Tanyakanlah kepada ibumu.” Urwah berkata, “Bahwasanya Abu Bakar dan Umar tidak pernah
berkata (berpendapat) seperti itu, padahal mereka benar-benar lebih mengetahui dan lebih
mengikuti Rasulullah daripada engkau.” Maka dijawab oleh Ibnu Abbas.

ُ ‫س ْو ِل هللاِ َوت َِج ْيئ ُ ْونَ ِبأ َ ِب ْي بَ ْك ٍر َو‬


‫ع َم َر‬ ُ ‫ِم ْن َه ُهنَا تُؤْ ت َْونَ ن َِج ْيئ ُ ُك ْم ِب َر‬

Dari sinilah kalian didatangi. Kami membawakan kepadamu (perkataan) Rasulullah, dan kamu
membawakan (perkataan) Abu Bakar dan Umar.

Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berkata kepadanya.

‫ص َحابِ ِه َوأ ُ َّمتِ ِه‬


ْ َ‫س ْو ُل هللاِ ِفي أ‬
ُ ‫س َّن َر‬ ِ ‫ آث َ ٌر ِع ْندَكَ أ َ ْم َما فِي ِك ُِت َا‬- َ‫أَ ُه َما – َو ْي َحك‬
َ ‫ب هللاِ َو َما‬

Celaka engkau. Apakah mereka berdua (Abu Bakar dan Umar, pent), lebih engkau dahulukan
ataukah yang tertulis dalam Kitab Allah dan disunahkan oleh Rasulullah bagi sahabat dan
umatnya?

Dalam riwayat lain, ia bertutur.

َ ‫أ ُ َرا ُه ْم‬
ُ ‫سيُ ْهلَ ُك ْونَ أَقُ ْو ُل قَا َل النَّبِي َويَقُ ْو ُل نَ َهى أَب ُْو بَ ْك ٍر َو‬
‫ع َم ُر‬

Kelihatannya mereka akan dibinasakan, aku katakan “Nabi berkata” sedang mereka berkata
“Abu Bakar dan Umar telah melarangnya”. [18]

Setelah membawakan ucapan Ibnu Abbas di atas, Syaikh Abdurrahman bin Hasan
mengatakan,“Dalam ucapan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu terdapat isyarat yang menunjukkan,
bahwa seseorang yang telah sampai padanya dalil, lalu tidak mengambilnya (tidak
mengamalkannya) karena bertaklid kepada imamnya, maka orang itu wajib diingkari dengan
keras karena sikapnya yang menyelisihi dalil.” [19]

Beliau juga mengatakan,”Kemungkaran ini, [20] telah merebak luas terutama dari mereka yang
menisbatkan diri kepada ilmu. Mereka telah menancapkan jerat-jerat dalam menghalangi
(manusia) dari mengambil Al Qur’an dan As Sunnah; menghalangi mereka dari mengikuti
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjunjung tinggi perintah serta larangannya.”

Diantara ucapan mereka, “tidak boleh berdalil dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, kecuali
seorang mujtahid, sedangkan ijtihad telah terputus.” Ada juga yang mengatakan, “orang yang
aku taklidi (ikuti) padanya, lebih mengetahui daripada kamu tentang hadits, nasikh dan
mansukhnya” serta ucapan-ucapan serupa dengan tujuan akhirnya untuk meninggalkan ittiba’
(mengikuti) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang (beliau) tidak pernah berbicara karena
terdorong hawa nafsu, lalu (mereka) bersandar kepada ucapan orang-orang yang bisa saja
berbuat kesalahan. Ada juga diantara imam yang menyelisihi dan mencegah dari perkataan
Rasulullah n dengan berdalih “tiada seorang ulama pun, kecuali yang dimilikinya hanyalah
sebagian ilmu, dan tidak semua (dikuasainya)”.

Maka wajib bagi setiap mukallaf (orang yang telah terkena beban syari’at), jika telah sampai
kepadanya dalil Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah dan telah dipahaminya, untuk berhenti
padanya dan mengamalkannya, meskipun ada yang menyelisihinya, sebagaimana firman Allah.

ِ ُ ‫اتَّبِعُوا َمآأ‬
َ‫نز َل إِلَ ْي ُكم ِمن َّر ِب ُك ْم َوًلَتَتَّبِعُوا ِمن دُونِ ِه أ َ ْو ِليَآ َء قَ ِليَلا َماتَذَ َّك ُرون‬

Ikutilah apa yang diturunkan kepada kamu sekalian dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti
pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). [Al
A’raf:3]

FirmanNya

َ ‫أَ َولَ ْم يَ ْك ِف ِه ْم أَنَّآأَنزَ ْلنَا َعلَيْكَ ْال ِكت‬


َ‫َاب يُتْلَى َعلَ ْي ِه ْم إِ َّن فِي ذَلِكَ لَ َرحْ َمةا َو ِذ ْك َرى ِلقَ ْو ٍم يُؤْ ِمنُون‬

Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasannya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab
(Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka. Sesungguhnya di dalam (Al Qur'an) itu
terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. [Al Ankabut:51].

Dan di depan telah disampaikan perihal ijma’ (kesepakatan) para ulama’ terhadap yang kami
sampaikan ini, serta keterangan, bahwa muqallid (orang yang taklid) tidak termasuk orang-orang
yang berilmu. Demikian pula Abu Umar bin Abdil Barr dan ulama’ lainnya, telah menceritakan
ijma’ atas masalah ini. [21].

Pengagungan kaum salaf terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, telah sampai
pada tingkatan menghunuskan pedang kepada orang yang menolak hadits Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, sebagaimana dilakukan oleh Imam Syafi’i. Beliau rahimahullah telah mengadu
kepada Al Qadhi (pemimpin mahkamah syari’at) Abul Bakhturi perihal Bisyir Al Marisi. [22]
Beliau berkata,”Aku berdialog dengan Al Marisi tentang mengundi, [23]. Dia berkata, “Wahai
Abu Abdillah, Al Qur’an (mengundi) itu judi,” maka kudatangi Abul Bakhturi, lalu kukatakan
kepadanya,”Aku mendengar Al Marisi berkata, mengundi itu judi,” Abul Bakhturi
menjawab,”Wahai Abu Abdillah, ajukan seorang saksi lagi. Aku akan membunuhnya.” Dalam
riwayat lain ida berkata,”Ajukan seorang saksi lagi, niscaya akan kuangkatnya pada sebatang
kayu, lalu kusalibnya.” [24]

(Diterjemahkan Oleh : Ustadz Mubarak Bamualim, dari Sittu Durar Min Ushuli Ahlil Atsar,
karya Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramdhani)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/102; Abu Dawud no. 4597; Darimi 2/241; Thabrani 19/367, 88-
885; Hakim 1/128; dan yang lainnya. Hadits ini shahih.
Juga dikeluarkan oleh Ahmad 2/332; Abu Dawud no. 4596; Tirmidzi no. 2642; Ibnu Majah no.
3990; Abu Ya’la no. 5910, 5978, 6117; Ibnu Hibban 14/6247 dan 15/6731; Hakim 1/6, 128, dan
lainnya dari hadits Abu Hurairah, dan Hakim mempunyai beberapa riwayat lain dalam jumlah
banyak dari hadits Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin Al Ash, dan yang selainnya c . Hadits
ini dishahihkan oleh Tirmidzi; Hakim; Adz Dzahabi, dan Al Jazajani dalam kitab Al Abathil
1/302; Al Baghawi dalam Syarh Sunnah 1/213; Asy Syathibi dalam Al I’tisham 2/698, tahqiq
Salim Al Hilali; Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 3/345; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya
4/48; Ibnu Katsir dalam tafsirnya 1/390; Ibnu Hajr dalam Tarikh Al Kasysyaf, halaman 63; Al
Iraqi dalam Al Mughni ‘An Hamlil Asfar, no. 3240; Al Bushairi dalam Mishbahuz Zujajah,
halaman 4/180; Al Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 203, dan yang lainnya. Sangat banyak.
Sengaja saya sebutkan ini semua, untuk membuat ahli bid’ah yang berupaya melemahkan hadits
yang agung ini, menjadi sia-sia –aku ingin menjadikan mereka bisu. Al Hakim rahimahullah
berkata tentang hadits ini,”Hadits yang agung atau banyak, sebagaimana sebagian ulama telah
menempatkannya dalam hadits-hadits yang pokok.

Hukum Jama'ah Kedua Dalam Satu Masjid


Rabu, 2 Maret 2011 23:25:51 WIB

HUKUM JAMA’AH KEDUA DALAM SATU MASJID

Sangat sering terjadi pengulangan berjama’ah dalam satu masjid, sehingga lebih dari dua
jama’ah. Bahkan terkadang terjadi dua jama’ah dalam satu waktu. Adanya kenyataan ini
mengharuskan kita mengetahui tinjauan hukum syari’at tentangnya, agar semakin jelas
permasalahan dan hukum syari’atnya.

Melihat keadaan jama’ah kedua dalam satu masjid, disebabkan karena beberapa kondisi.

Pertama : Melakukan jama’ah kedua pada satu masjid yang tidak memiliki imam rawatib. Hal ini
diperbolehkan [1], dan merupakan ijma’ sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi. Beliau
menyatakan, “Apabila masjid tidak memiliki imam rawatib (tetap), maka -menurut ijma’-
diperbolehkan mengadakan jama’ah kedua dan ketiga atau lebih.” [2]

Kedua : Melakukan jama’ah kedua pada satu masjid yang ada imam rawatibnya, namun
dilakukan karena kapasitas masjidnya tidak mampu menampung seluruh jama’ah shalat.
Demikian juga hal ini diperbolehkan.

Ketiga : Melakukan jamaah kedua di masjid yang sama pada waktu yang bersamaan pula. Hal ini
disepakati oleh para ulama keharamannya [3] dan dikuatkan dengan beberapa hal.

a. Hal ini menyelisihi amalan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, karena
kejadian ini tidak pernah ada pada zaman mereka. Syaikh ‘Alisi Al Mishri menjelaskan, bahwa
awal terjadinya berbilang jama’ah dalam satu masjid terjadi pada abad keenam dan belum pernah
ada sebelumnya [4].

b. Menyelisihi hikmah pensyari’atan berjama’ah, yang berupa kesatuan hati dan persatuan.
Jama’ah kedua yang dilakukan pada masjid dan waktu yang sama, tentu akan memecah-belah
persatuan dan kesatuan hati kaum muslimin.

c. Mengganggu dan memecah konsentrasi serta kekhusyukan orang yang shalat.

d. Tidak dapat melakukan taswiyatus shufuf (merapatkan dan meluruskan shaf). Ini tentunya
menyelisihi anjuran dan ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

e. Terdapat penghinaan dan celaan kepada iman rawatib. Padahal para imam madzhab,
khususnya madzhab Syafi’iyah dan Hambaliyah sangat menganjurkan penjagaan hak imam
rawatib. Tidak boleh selainnya menegakkan jama’ah bila ia tidak ada di masjid, kecuali dengan
udzur, seperti: tidak mungkin ia hadir di masjid dan takut hilang waktu shalat. [5]

Keempat : Mengerjakan jama’ah lebih dari sekali di mushala-mushala pinggir jalan dan pasar
(pusat perbelanjaan). Hukum jama’ah ini diperbolehkan, walaupun ada jama’ah ketiga, keempat
dan seterusnya. Sebabnya, karena mushala-mushala ini tidak dapat diatur jama’ahnya, silih
berganti datangnya.[6] Imam Syafi’i berkata,“Adapun masjid yang dibangun di pinggir jalan
atau pojokannya yang tidak ada mu’adzin tetap dan juga tidak ada imam tetapnya, tempat shalat
dan istirahat orang yang lalu-lalang disana, maka aku tidak melarangnya.” [7]

Kelima : Imam mengulangi shalatnya berjama’ah dua kali, dengan mengimami satu shalat dua
kali. Ini diharamkan. Walaupun ia berniat shalat yang kedua mengqadha shalat yang terlewatkan.
Apalagi shalat fardhu harus pada waktunya. Ini disepakati oleh para imam madzhab sebagai
perkara yang haram.[8]
Keenam : Mengerjakan jama’ah kedua dalam masjid yang ada imam rawatibnya setelah selesai
jama’ah pertama bersama imam rawatib. Pada masalah ini terdapat perbedaan pendapat diantara
para ulama.

Pendapat Pertama : Melarang secara tegas dan orang yang tertinggal pada jama’ah pertama
hendaklah shalat sendirian.

Demikian ini pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Abdullah bin Al Mubarak, Malik bin Anas,
Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, Laits bin Sa’ad, Al Auza’i, Az Zuhri, Utsman Al Bitti,
Rabi’ah, An Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah, Ya’qub bin Ibrahim Abu Yusuf Al Qadhi,
Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani, Al Qasim, Yahya bin Sa’id, Salim bin Abdillah, Abu
Qilabah, Abdurrazaq Ash Shan’ani, Ibnu ‘Aun, Ayub As Sakhtiyani, Al Hasan Al Bashri, ‘Al
Qamah, Al Aswad bin Yazid, An Nakha’i dan Abdillah bin Mas’ud.

Dalam menetapkan pendapatnya, ulama-ulama ini mengambil dalil nash dan akal. Adapun dari
nash, dinukil dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, terdiri dari tiga sisi, Al
Qur’an, As Sunnah (Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) dan atsar para sahabat.

a. Dalil Al Qur’an
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

َّ‫سولَهُ ِمن قَ ْب ُل لَيَحْ ِلفُ َّن إِ ْن أَ َردْنَآ إًِل‬ُ ‫ب هللاَ َو َر‬ َ ‫ارا َو ُك ْف ارا َوت َ ْف ِريقاا بَيْنَ ْال ُمؤْ ِمنِينَ َوإِ ْر‬
َ ‫صاداا ِل َم ْن َح‬
َ ‫ار‬ ِ ‫َوالَّذِينَ ات َّ َخذُوا َمس ِْجداا‬
‫ض َر ا‬
َ‫ْال ُح ْسنَى َوهللاُ َي ْش َهدُ ِإنَّ ُه ْم لَكَا ِذبُون‬

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang. orang yang mendirikan masjid untuk
menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu'min), untuk kekafiran dan untuk memecah-
belah antara orang-orang mu'min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi
Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah,"Kami tidak menghendaki
selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta
(dalam sumpahnya). [At Taubah:107].

Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : َ‫ َوت َ ْف ِري اقا بَيْنَ ْال ُمؤْ ِمنِين‬, menunjukkan secara jelas larangan
memecah-belah kaum muslimin, sehingga wajib bagi mereka untuk menyatukan kekuatan. Hal
ini tidak bakal terjadi, kecuali dengan berjama’ah bersama imam rawatib.

Imam Al Qadhi Abu Bakr Ibnul ‘Arabi menjelaskan maksud ayat ini dengan
pernyataannya,“Maknanya, mereka berada pada satu jama’ah di satu masjid. Lalu kaum munafiq
ingin memecah-belah kesatuan mereka dalam ketaatan, dan mengajak mereka kepada kekufuran
dan maksiat. Ini menunjukkan, bahwa tujuan terbesar dan jelas dalam penetapan jama’ah ialah
menyatukan hati dan persatuan dalam ketaatan. Mengendalikan dan melarang melakukan
perbuatan yang rendah, sehingga timbul rasa senang berkumpul serta membersihkan hati dari
noda kedengkian dan iri hati. Imam Malik mengerti akan makna ini, ketika menyatakan,’Tidak
boleh ditegakkan shalat dua jama’ah dalam satu masjid, baik dengan dua imam atau satu imam’.
Beliau menyelisihi ulama lainnya.” [9]

b. Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Mereka berdalil dengan hadits Abu Bakroh Radhiyallahu 'anhu yang berbunyi:

‫صلَّى بِ ِه ْم‬
َ َ‫صلَّ ْوا فَ َما َل إِلَى َم ْن ِز ِل ِه فَ َج َم َع أ َ ْهلَهُ ف‬
َ ْ‫اس قَد‬
َ َّ‫صَلَةََُ فَ َو َجدَ الن‬ ِ ‫س ْو َل هللاِ أ َ ْقبَ َل ِم ْن ن ََو‬
َّ ‫اح ْي ال َم ِد ْينَ ِة ي ُِر ْيد ُ ال‬ ُ ‫أ َ َّن َر‬

Sesungguhnya Rasulullah datang dari pinggiran Madinah ingin menunaikan shalat. Lalu
mendapati orang-orang telah selesai shalat berjama’ah. Kemudian beliau pulang ke rumahnya
dan mengumpulkan keluarganya dan mengimami mereka shalat.[10]

Hadits ini menunjukkan, tidak bolehnya jama’ah kedua. Karena seandainya diperbolehkan, tentu
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggalkan keutamaan masjid Nabawi.[11]

Ibnu ‘Abidin menyatakan dalam Hasyiyah Radul Mukhtar (1/553), “Seandainya diperbolehkan
jama’ah kedua, tentu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memilih shalat di rumah dari
berjama’ah kedua di masjid.” [12]

Demikian juga mereka berdalil dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu yang berbunyi:

‫صَلَةَ فَأ ُ َح ِرقَ َعلَ ْي ِه ْم‬ َ ‫ام ث ُ َّم أُخَا ِل‬


ِ ‫ف إِلَى َمن‬
َّ ‫َاز ِل قَ ْو ٍم ًلَ َي ْش َهد ُونَ ال‬ َّ ‫لَقَدْ َه َم ْمتُ أ َ ْن آ ُم َر ِبال‬
َ َ‫صَلَ ِة فَتُق‬

Sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengimami shalat, lalu ditegakkan (dilaksanakan).
Kemudian aku pergi ke rumah orang-orang yang tidak mengikuti shalat, lalu aku bakar rumah-
rumah mereka tersebut.[13]

Hadits ini menunjukkan tidak bolehnya jama’ah kedua dalam satu masjid. Karena seandainya
diperbolehkan, maka ancaman pembakaran tersebut tidak ada artinya. Hal ini karena mereka
dapat mengambil udzur dari jama’ah pertama dengan menyatakan, kami akan melaksanakan
jama’ah kedua.

Pernyataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :َ ‫صَلَة‬َّ ‫ ًلَ يَ ْش َهد ُونَ ال‬, bermakna shalat yang
diperintahkan untuk ditegakkan atau dilaksanakan ialah shalat jama’ah yang pertama. Karena
kata (َ‫صَلَة‬
َّ ‫ )ال‬diberi tambahan huruf alif dan lam, sehingga menunjukkan shalat jama’ah yang
pertama. Hal ini menguatkan pendapat larangan jama’ah kedua. Karena seandainya
diperbolehkan, tentu dikatakan ‫صَلَة ا‬
َ َ‫ ًلَ َي ْش َهد ُْون‬tanpa huruf alif dan lam.

c. Atsar Sahabat.
Imam Syafi’i dalam kitab Al Umm (1/136) menyatakan,“Apabila seseorang mendapatkan masjid
yang dipakai berjama’ah, lalu tertinggal shalat jama’ah. Seandainya ia mendatangi masjid lain
untuk berjama’ah, ini lebih saya sukai. Apabila ia tidak mencari masjid lain, lalu shalat sendirian
di masjidnya tersebut, maka itu baik. Apabila satu masjid memiliki imam rawatib (tetap) lalu
seseorang atau sejumlah orang tertinggal shalat berjama’ah, maka mereka shalat sendiri-sendiri.
Saya tidak menyukai mereka shalat berjama’ah padanya. Jika mereka melakukan shalat sendirian
tersebut, maka ia mendapat pahala berjama’ah. Hal ini (berjama’ah) dilarang bagi mereka,
karena bukan merupakan amalan para salaf sebelum kita. Bahkan sebagian mereka mencelanya.”
[14]

Imam Syafi’i menyatakan lagi,“Sungguh, kami telah mengetahui secara pasti, bahwa jika
sejumlah sahabat tertinggal jama’ah shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
mereka shalat sendiri-sendiri -sepengetahuan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam -. Padahal
mereka mampu untuk berjama’ah. Demikian juga kami ketahui, sejumlah orang tertinggal
jama’ah shalat, lalu mendatangi masjid dan shalat sendiri-sendiri, padahal mereka mampu
melakukan jama’ah kedua di masjid tersebut. Namun mereka shalat sendiri-sendiri. Mereka tidak
menyukainya, hanya agar tidak ada shalat jama’ah dua kali pada satu masjid.” [15]

Pernyataan seorang mujtahid seperti ini tentu memiliki sumber rujukan. Diantaranyaialah
pernyataan Al Hasan Al Bashri yang mengatakan,“Para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, jika masuk masjid dan mendapatkan imam telah shalat, maka mereka shalat sendiri-
sendiri.” [16]

Demikian juga atsar sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan Imam
Abdirrazaq Ash Shon’ani dari Ma’mar dari Hammad bin Ibrahim, bahwa Al Qamah dan Al
Aswad berangkat bersama Ibnu Mas’ud ke masjid. Lalu orang-orang menyongsong mereka
dalam keadaan telah shalat. Lalu Ibnu Mas’ud pulang bersama keduanya ke rumah. Salah
seorang mereka lalu berdiri di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kirinya. Kemudian Ibnu
Mas’ud mengimami mereka shalat. [17]

Seandainya jama’ah kedua diperbolehkan, tentulah Ibnu Mas’ud tidak berjama’ah di rumah.
Apalagi berjama’ah di masjid jelas lebih utama. Demikian juga sahabat Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam yang lainnya, tidaklah shalat sendiri-sendiri, padahal mampu untuk melakukan
jama’ah.

Hal ini dikuatkan lagi dengan riwayat Sahnun dari Ibnul Qasim dari Malik dari Abdurrahman Al
Mujabbar. Beliau berkata,“Aku masuk bersama Salim bin Abdillah pada satu masjid jami’ dalam
keadaan orang-orang telah selesai shalat. Lalu mereka berkata,’Mengapa tidak shalat
berjama’ah?’ Salim bin Abdillah bin Umar menjawab,’Tidak boleh shalat berjama’ah dalam satu
shalat pada satu masjid dua kali’.” [18]

Pernyataan Imam Salim bin Abdillah bin Umar ini menunjukkan tidak dibolehkannya
berjama’ah lebih dari satu pada satu masjid. Hal ini juga disepakati oleh sejumlah tabi’in,
diantaranya Ibnu Syihab, Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id.

Sedangkan dalil akal, mereka menyatakan, bahwa jama’ah kedua dapat menimbulkan
perpecahan atas jama’ah pertama yang disyari’atkan. Karena jika seseorang mengetahui akan
tertinggal jama’ah, tentu ia akan segera bergegas, sehingga jumlah jama’ahnya menjadi banyak.
Akan tetapi, jika mereka mengetahui tidak akan kehilangan jama’ah dengan adanya jama’ah
yang kedua, tentu menyebabkan seseorang bersantai-santai, yang berakibat jumlah jama’ah
shalat menjadi sedikit. Padahal sedikitnya jumlah jama’ah shalat dimakruhkan.

Demikian pula mereka menyatakan, bahwa jama’ah-jama’ah yang tertinggal (jama’ah kedua dan
seterusnya) dapat dikatakan sebagai jama’ah orang yang malas. Lalu bagaimana mereka
mendapatkan pahala jama’ah, padahal mereka tertinggal jama’ah pertama dan tidak memenuhi
panggilan Allah tepat waktu?! Sungguh membolehkan adanya jama’ah kedua dan seterusnya,
dapat menghilangkan jama’ah pertama dan mennyia-nyiakan hikmahnya. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menyatakan:

‫صَلَة ُ َعلَى َو ْقتِ َها‬ َ َ‫إِ َّن أ َ َحبَّ اْل َ ْع َما ِل إِل‬
َّ ‫ى هللاِ ال‬

Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah ialah shalat tepat waktu [19].

Dan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

‫ع ْذ ٍر‬
ُ ‫صَلَةَ لَهُ ِإًلَّ ِم ْن‬
َ َ‫س ِم َع النِدَاء فَلَ ْم ي ُِجبْ فََل‬
َ ‫َم ْن‬

Barangsiapa yang telah mendengar panggilan shalat lalu tidak memenuhinya, maka tidak ada
baginya shalat, kecuali karena udzur [20].

Demikian juga mereka menyatakan, bahwa dalam fatwa bolehnya mengadakan jama’ah kedua,
akan mengecilkan makna shalat berjama’ah.

As Sarkhasi menyatakan,“Sesungguhnya, kita diperintahkan memperbanyak jumlah jama’ah


pertama. Dan pengulangan jama’ah shalat pada satu masjid akan menguranginya. Karena jika
manusia mengetahui akan kehilangan jama’ah, maka mereka bersegera hadir sehingga jumlah
anggota jama’ahnya menjadi banyak. Apabila mereka mengetahui tidak akan kehilangan
jama’ah, maka mereka memperlambat. Lalu hal ini mengurangi jumlah jama’ah.” [21]

Setelah membawakan pendapat Imam Malik, berkatalah Al Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi, “Ini
adalah makna yang dijaga dalam syari’at dari penyimpangan ahli bid’ah. Agar mereka tidak
meninggalkan jama’ah kemudian datang dan shalat dipimpin imam yang lain. Dengan demikian,
akan hilang hikmah dan sunnah berjama’ah.” [22]

Mereka juga mengutarakan, bahwa jama’ah kedua menimbulkan kemalasan dan meremehkan
jama’ah pertama. sehingga sebab kemakruhan hukumnya makruh.

Pendapat ini dirajihkan Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah dengan menyatakan :
Kesimpulannya, jumhur ulama memandang tidak boleh mengulang jama’ah shalat pada satu
masjid, dengan syarat terdahulu. Inilah yang benar. Dan pendapat ini tidak bertentangan dengan
hadits yang masyhur:

َ َ‫أًَلَ َر ُج ٌل يَت‬
َ ُ‫صد َُّق َعلَى َهذَا فَي‬
ُ‫ص ِل ْي َمعَه‬

Adakah orang yang bershadaqah kepada orang ini lalu shalat bersamanya

Karena paling-paling (lantaran) hanya ada anjuran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
kepada seseorang yang telah shalat bersama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pada jama’ah
pertama untuk shalat sunah di belakang orang tersebut. Maka demikian ini adalah shalat sunah di
belakang orang yang shalat wajib. Padahal pembahasan kita ialah mengenai shalat wajib di
belakang orang yang mengerjakan shalat wajib, yang dikarenakan kehilangan jama’ah pertama.
Sehingga tidak boleh dianalogikan dengan kisah tersebut. Karena ini termasuk analog dengan
adanya perbedaan (qiyas ma’al fariq). Hal ini dapat dilihat dari dua sisi:

1. Bentuk pertama (jama’ah kedua dalam shalat wajib) belum pernah dinukil dari beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam, baik izin atau persetujuan. Padahal itu ada di zamannya,
sebagaimana ditunjukkan riwayat Al Hasan Al Bashri.

2. Jama’ah kedua ini menimbulkan perpecahan atas jama’ah pertama yang disyari’atkan. Karena
jika manusia mengetahui akan kehilangan jama’ah, mereka akan bersegera, sehingga jumlah
anggota jama’ah pertama menjadi banyak. Sebaliknya, jika mengetahui tidak akan kehilangan
jama’ah, maka memperlambat hadir, sehingga mengurangi jumlah anggota jama’ah pertama.
Padahal pengurangan jumlah jama’ah dimakruhkan. Tidak ada sedikitpun persetujuan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, atas hal yang dilarang ini. Sehingga terbukti perbedaannya. Kalau
demikian, tidak boleh mengambil dalil dari hadits tersebut dalam menyelisihi sesuatu yang sudah
ditetapkan.” [23]
Demikian uraian singkat pendapat dan dalil mereka dalam permasalahan hukum jama’ah kedua
dalam satu masjid. Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat pendapat Syaikh Shalih Sadlan dalam Shalatul Jama’ah, Hukmuha Wa Ahkamuha, hal.
100.
[2]. Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab, 4/222.
[3]. Lihat I’lamul ‘Abid Fi Hukmi Tikraril Jama’ah Fil Masjidil Wahid, karya Syaikh Masyhur
Salman, hal. 11.
[4]. Dinukil Syaikh Masyhur dalam I’lamul Abid, hal. 12 dari kitab Fathul ‘Ali Al Malik Fil
Fatawa ‘Ala Madzhab Imam Malik 1/92-94.
[5]. I’lamul ‘Abid, hal. 13.
[6]. Lihat Shalatul Jama’ah Hukmuha Wa Ahkamuha, hal. 102
[7]. Al Umm 1/180.
[8]. Ibid.
[9]. I’lamul ‘Anid, hal. 32-33
[10]. Syaikh Al Albani menyatakan dalam Tamamul Minnah, hal. 155, hadits ini hasan. Imam Al
Haitsami (2/45) menyatakan,“Hadits ini diriwayatkan At Thabrani dalam Al Kabir dan Al
Ausath. Semua perawinya tsiqat.” Sedangkan Syaikh Masyhur Hasan menambahkan, bahwa
hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil, 6/2398. Lihat I’lamul ‘Abid, hal.
36.
[11]. Lihat Al Mabsuth, 1/135 dan Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami’ At Tirmidzi, 2/10.
[12]. Dinukil dari I’lamul ‘Abid, hal. 36-37.
[13]. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Adzan, Bab Wujub Shalatil
Jama’ah, no. 644 dan Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Masajid Wa Mawadhi’ush Shalat,
Bab Fadhlu Jama’ah Wa Tasydid Fi Takhaluf Anha, no.651.
[14]. Dinukil Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah, hal. 156.
[15]. Al Umm, 139.
[16]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, 2/223 dan dinukil dari
Tamamul Minnah, hal. 157.
[17]. Mushannaf 2/409 no. 3883. Atsar ini dihasankan Syaikh Al Albani dalam Tamamul
Minnah, hal. 155.
[18]. Al Mudawanah 1/89 dengan para perawi yang tsiqat.
[19]. Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Mawaqit Ash Shalat, Bab Fadhlu
Ash Shalat Liwaqtiha, no. 527 dan Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Bayani Kaunil
Iman Billahi Afdhalul A’mal 1/89.
[20]. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Al Masajid Wal Jama’ah, Bab
Taghklidz Fit Takhalif ‘Anil Jama’ah 1/260 no.793, dan dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul
Ghalil, 2/336-339 no. 551.
[21]. I’lamul ‘Abid, hal 45 menukil dari Al Mabsuth 1/135-136.
[22]. Aridhatul Ahwadzi 2/21.
[23]. Tamamul Minnah hal 158.
_________________________

Pendapat Kedua : Diperbolehkan mendirikan jama’ah kedua dalam satu masjid, jika jama’ah
kedua terpisah dari jama’ah pertama.

Demikian ini pendapat Imam Ibnu Hazm, Ibnu Qudamah, Ibnul Mundzir, Daud Adz Dzahiri,
Asyhab, At Tirmidzi, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Ibrahim bin Rahuyah, Ibnu Abi Syaibah,
Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ‘Atha, Ibrahim An Nakha’i, Makhul, Ayub As Sakhtiyani,
Tsabit Al Bunani, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Anas bin Malik dan Ibnu Mas’ud. Namun
terdapat riwayat yang berbeda dalam penisbatan pendapat ini kepada beberapa ulama, seperti:
Ibnu Mas’ud dan Anas bin Malik, Al Hasan Al Bashri, Ayub As Sakhtiyani, Ahmad bin Hambal
dan Ibrahim An Nakha’i. Yang rajih dari mereka ialah riwayat yang menyatakan, bahwa mereka
termasuk orang yang berpendapat dengan pendapat pertama, yaitu larangan membuat jama’ah
kedua dalam satu masjid yang memiliki imam tetap (rawatib) [1]. Mereka berdalil dengan dalil
nash dan akal.

Adapun dalil nash, mereka mengambil hadits dan atsar para sahabat, diantaranya:

- Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

َ ‫ص ََلة َ ْالفَ ِذ ِب‬


‫سبْعٍ َو ِع ْش ِرينَ دَ َر َجةا‬ ُ ‫ص ََلة ُ ْال َج َما َع ِة ت َ ْف‬
َ ‫ض ُل‬ َ

Shalat jama’ah lebih baik dari shalat sendirian dua puluh tujuh derajat. [HR Bukhari]

Dalam riwayat lain.

‫ص ََلة َ ْالفَ ِذ ِبخ َْم ٍس َو ِع ْش ِرينَ دَ َر َجةا‬ ُ ‫ص ََلة ُ ْال َج َما َع ِة ت َ ْف‬
َ ‫ض ُل‬ َ

Shalat jama’ah lebih baik dari shalat sendirian dua puluh lima derajat. [HR Bukhari].

Hadits ini menunjukkan keumuman shalat jama’ah, baik jama’ah pertama atau kedua atau yang
lainnya.
- Hadits Abu Sa’id Al Khudri:

ُ‫ي َم َعه‬ َ َ‫ص ِلي َوحْ دَهُ فَقَا َل أ َ ًَل َر ُج ٌل يَت‬


َ ُ‫صد َُّق َعلَى َهذَا فَي‬
َ ‫ص ِل‬ َ ‫سلَّ َم أ َ ْب‬
َ ُ‫ص َر َر ُج اَل ي‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫أ َ َّن َر‬
َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seseorang shalat sendirian, lalu berkata,“Adakah
orang yang mau bershadaqah kepada orang ini, lalu sholat bersamanya?” [HR Abu Daud dan
Ahmad].

Dalam riwayat lainnya:

ُ‫صلَّى َمعَه‬ َ َ‫سلَّ َم فَقَا َل أَيُّ ُك ْم يَتَّ ِج ُر َعلَى َهذَا فَق‬


َ َ‫ام َر ُج ٌل ف‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫صلَّى َر‬
َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ َ ْ‫َجا َء َر ُج ٌل َوقَد‬

Datang seseorang setelah Rasulullah usai shalat, lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,“Adakah orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?” Lalu ada seorang yang
bangkit dan shalat bersamanya. [HR At Tirmidzi dan Ahmad]. [3]

Al Hakim menyatakan, hadits ini sebagai dasar dibolehkannya dilakukan dua kali jama’ah dalam
satu masjid. [4]

Hadits ini menunjukkan bolehnya mendirikan jama’ah kedua setelah selesai jama’ah pertama,
walaupun di masjid yang memiliki imam rawatib (tetap). Sebab pada waktu itu Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan imam tetap di masjid tersebut. Sehingga Imam Al
Baghawi menyatakan, hadits ini menunjukkan bolehnya bagi orang yang berjama’ah untuk
mengerjakan jama’ah kedua setelah yang pertama. Juga menunjukkan bolehnya diadakan dua
kali jama’ah dalam satu masjid. Inilah pendapat banyak sahabat dan tabi’in. [5]

Demikian juga Imam Muhammad Adzimabadi, penulis kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi
Daud menyatakan,“Hadits ini menunjukkan dibolehkannya mengerjakan shalat berjama’ah pada
masjid yang telah selesai shalat jama’ah (pertama)nya.” [6]

Syaikh Shalih As Sadlan menjadikan hadits ini sebagai dalil dalam merajihkan pendapat ini.
Beliau menyatakan,“Pendapat yang rajih ialah pendapat kedua, yaitu dibolehkannya secara
mutlak, tanpa membedakan antara masjid tiga (Masjid Al Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al
Aqsha) dengan yang lainnya, karena keumuman sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
‘Adakah orang yang mau bershadaqah kepada orang ini, lalu shalat bersamanya?” Jelaslah, ini
dilakukan di masjid Nabawi. Juga secara makna menunjukkan, bahwa keutamaan shalat jama’ah
didapatkan padanya sebagaimana didapatkan pada yang lainnya.” [7]

- Atsar dari Sahabat Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Bukhari secara muallaq dalam
Shahihnya yang berbunyi:
‫عةا‬
َ ‫صلَّى ج َما‬ َ َ‫ي فِ ْي ِه فَأَذَّنَ َوأَق‬
َ ‫ام َو‬ َ ‫ص ِل‬ ُ ‫َجا َء أَن‬
ُ ْ‫َس ِإلَى َمس ِْج ٍد قَد‬

Anas datang ke satu masjid yang telah selesai shalat, lalu beliau adzan dan iqamat serta shalat
berjama’ah. Hadits ini diriwayatkan secara bersambung melalui jalan periwayatan Imam Bukhari
dalam kitab Taghliq Ta’liq, karya Ibnu Hajar [10] , lalu Al Hafidz Ibnu Hajar
menyatakan,“Sanadnya ini shahih namun mauquf .” [11]

- Sedangkan dalil akal, mereka menyatakan, “Orang yang mampu berjama’ah disunnahkan
berjama’ah, sebagaimana ada di masjid yang dijadikan sebagai tempat shalat orang yang lewat.
[12]

Pendapat ini dirajihkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, ketika beliau ditanya,
bagaimana hukum mengerjakan jama’ah kedua pada masjid yang terdapat imam tetapnya?
Beliau menjawab : Mengerjakan jama’ah kedua pada masjid yang memiliki imam rawatib
(tetap), jika dilakukan terus-menerus, maka ini menjadi satu kebid’ahan. Namun, bila itu hanya
kadang-kadang (dilakukan), misalnya oleh sekelompok orang yang datang ke masjid dan
mendapatkan orang-orang telah selesai shalat. Disini mereka dibolehkan dan tidak mengapa
mengerjakan shalat berjama’ah (kedua). Adapun pendapat yang menyatakan, hal ini sebagai satu
kebid’ahan, maka pendapat ini lemah, karena dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
duduk bersama para sahabatnya, lalu masuk seseorang yang belum shalat. Rasululloh bersabda:

ُ‫صلَّى َمعَه‬
َ َ‫ام َر ُج ٌل ف‬
َ َ‫ي َمعَهُ فَق‬
َ ‫ص ِل‬ َ َ ‫أَ ًَل َر ُج ٌل يَت‬
َ ُ‫صد َُّق َعلَى َهذَا فَي‬

Adakah orang yang mau bershadaqah kepada orang ini, lalu shalat bersamanya? Lalu ada
seseorang yang bangkit dan shalat bersamanya.

Disini ditegakkan jama’ah shalat setelah jama’ah (pertama), padahal salah seorang dari keduanya
shalat sunnah yang tidak wajib baginya. Apakah masuk akal Rasulullah n melarang dua orang
yang tertinggal shalat (jama’ah pertama) mengerjakan shalat berjama’ah dan memerintahkan
seseorang yang telah shalat untuk ikut shalat berjama’ah kembali bersama orang tersebut? Ini
tidak masuk akal. Oleh karena itu, kelirulah seseorang yang menganggap salah kepada orang
yang mengerjakan shalat berjama’ah (kedua) dan menganggap sunnah orang yang melakukan
shalat sendirian, jika tertinggal jama’ah (pertama).

- Adapun atsar Ibnu Mas’ud, bahwa beliau masuk (masjid) lalu mendapatkan orang-orang telah
selesai shalat berjama’ah. Kemudian beliau pulang dan shalat di rumahnya. Atsar ini
bertentangan dengan atsar yang disampaikan penulis kitab Al Mughni dari Ibnu Mas’ud sendiri.
Beliau menyatakan bolehnya menegakkan shalat jama’ah kedua setelah selesai shalat jama’ah
pertama.
Jika atsar Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan dalam Al Mughni benar, maka beliau memiliki dua
riwayat. Jika tidak benar, maka pendapat pertama (yaitu tidak bolehnya) adalah pendapat Ibnu
Mas’ud, namun ini semata satu kejadian saja.

Ada kemungkinan pulangnya Ibnu Mas’ud ke rumah untuk shalat berjama’ah terjadi karena
khawatir ditiru orang, sehingga mereka meremehkan masalah shalat ini. Mungkin juga bisa
menyakiti hati imam pertama tadi, lalu imam tersebut berkata, ‘Abdullah bin Mas’ud
memperlambat shalat, agar tidak shalat bersama saya ……’ atau yang sejenisnya, yang tidak kita
ketahui, karena ini hanya semata satu kejadian.

Namun kita memiliki sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan
seseorang yang telah shalat untuk ikut shalat sunnah mendampingi orang yang baru masuk
masjid (tertinggal jama’ah) shalat berjama’ah. Tentunya dua orang yang terkena kewajiban
jama’ah, bila tertinggal jama’ah pertama lebih boleh dan lebih pantas.”.[13]

BANTAHAN PENDAPAT KEDUA TERHADAP PENDAPAT YANG PERTAMA


Pendapat kedua berusaha memperkuat dalil dan hujjah, dengan membantah dalil pendapat
pertama. Bantahan ini dapat diringkas menjadi beberapa hal, diantaranya:

Pertama : Hadits Abu Bakrah Radhiyallahu 'anhu memiliki seorang perawi yang dicela para
ulama, yaitu Muawiyah bin Abi Yahya. Sebagaimana disampaikan oleh Al Kasymiri,“Pada
sanadnya ada Mu’awiyah bin Abi Yahya. Dia termasuk perawi yang disebut dalam At Tahdzib
dan ia dipermasalahkan.” [14]

Kedua. Apabila hadits ini shahih, belum juga menunjukkan larangan mengerjakan jama’ah
kedua, karena masih ada kemungkinan beliau shalat berjama’ah di masjid. Sedangkan pulangnya
beliau ke rumah bertujuan mengumpulkan keluarganya, bukan bermaksud shalat berjama’ah di
rumahnya.
Seandainya kita menerima, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memang shalat
berjama’ah bersama keluarganya di rumah, tidak juga menunjukkan ketidakbolehan mengadakan
jama’ah kedua dalam satu masjid. Hal ini karena hadits ini hanya menunjukkan dibolehkannya
orang yang tertinggal jama’ah dengan imam tetap untuk tidak shalat di masjid. Dia boleh keluar
dan pulang ke rumahnya, lalu berjama’ah bersama keluarganya. Jadi, hadits ini sama sekali tidak
menunjukkan larangan melakukan jama’ah kedua dalam satu masjid yang terdapat imam
tetapnya.

Lagipula bila benar, tidak shalatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di masjid menjadi
dalil larangan berjama’ah, maka tentunya juga dilarang shalat sendirian di masjid tersebut,
karena beliau tidak shalat sendirian dan tidak pula berjama’ah disana. Bahkan beliau pulang ke
rumah dan shalat di rumahnya.

Kesimpulannya, berdalil dengan hadits Abu Bakrah tersebut untuk larangan dan sunahnya shalat
sendirian, tidaklah benar.

Ketiga. Adapun atsar Anas bin Malik, para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jika
masuk masjid dan mendapatkan imam telah shalat, maka mereka shalat sendiri-sendiri [15],
bukanlah dalil yang kuat dalam larangan ini, karena Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu sendiri
menjelaskan hal itu karena takut dengan penguasa (Sulthan). Hal ini dijelaskan dalam riwayat
Ibnu Abi Syaibah [16] dan Abdurrazaq Ash Shan’ani [17] dalam kitab Al Mushannaf [18].

Demikian bantahan pendapat kedua terhadap dalil pendapat pertama.

BANTAHAN PENDAPAT PERTAMA TERHADAP DALIL PENDAPAT KEDUA


Ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama (tidak bolehnya mendirikan jama’ah kedua
dalam satu masjid), memberikan bantahan atas dalil dan argumentasi pendapat kedua. Bantahan
ini dapat diringkas sebagai berikut:

Pertama : Berdalil dengan hadits Abu Sa’id tersebut tidaklah benar, karena hanya menunjukkan
berulangnya shalat jama’ah, namun sekedar dalam bentuknya saja, bukan shalat jama’ah
sesungguhnya. Hal ini, karena seseorang yang beliau n perintahkan untuk menemaninya telah
melakukan shalat berjama’ah fardhu, sehingga yang berjama’ah kepada orang tersebut hanyalah
shalat sunnah semata. Adapun jama’ah yang hakiki, ialah bila imam dan makmum shalat
berjama’ah fardhu. Sehingga analogi jama’ah kedua shalat fardhu dengan bentuk jama’ah dalam
hadits ini merupakan analogi yang tidak tepat (qiyas ma’al fariq) [19].

Kedua : Adapun atsar Anas bin Malik yang digunakan sebagai dalil pendapat kedua, mereka
membantahnya dengan menyatakan, Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu tidak melakukannya di
masjid tempat tinggalnya. Beliau mendatangi masjid Bani Tsa’labah atau Bani Rifa’ah atau
masjid Ashhabus Saaj atau masjid Bani Zuraiq, lalu melakukan shalat berjama’ah disana. Ini,
tentunya diluar permasalahan mengerjakan jama’ah kedua yang dimaksud.

At Tahawuni berkata,“Ada kemungkinan masjid tersebut adalah masjid di pinggir jalan (tempat
persinggahan orang) atau sejenisnya, yang diperbolehkan melakukan jama’ah kedua padanya.
Kemungkinan ini diperkuat dengan adanya pengulangan adzan dan iqamah yang tidak
diperbolehkan oleh orang yang berpendapat bolehnya mengulang jama’ah shalat.” [20]

Ketiga. Semua keutamaan dan anjuran yang ada untuk shalat berjama’ah hanya berlaku untuk
jama’ah pertama.
PENYEBAB KHILAF DAN PENDAPAT YANG RAJIH DALAM PERMASALAHAN INI
Setelah melihat dan meneliti perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini, dapat
disimpulkan penyebab perselisihan mereka ada dua:

Pertama. Apakah anjuran dan pelipat-gandaan pahala khusus untuk shalat jama’ah di masjid
bersama imam tetap atau juga meliputi lainnya?
Kedua. Apakah berjama’ah termasuk sebagai syarat keabsahan shalat atau tidak?

Ulama yang berpendapat, anjuran dan pelipat-gandaan pahala hanya untuk yang mengerjakan
shalat berjama’ah di masjid bersama imam tetap, mereka melarang pengulangan jama’ah di
masjid yang memiliki imam tetap. Sedangkan yang tidak demikian, maka membolehkan
pengulangan shalat berjama’ah tersebut. [21]

Yang rajih ialah pendapat pertama jika penyebab larangan tersebut ada, yaitu menimbulkan
perpecahan atau kemalasan untuk menghadiri jama’ah pertama. Penyebab ini tidak akan terjadi,
kecuali pada masjid yang memiliki imam dan muadzin tetap. Demikian yang dirajihkan oleh
Syaikh Masyhur Hasan Ali Salman [22] dengan dalil-dalil sebagai berikut:

- Melihat dalil pendapat pertama yang ada.


- Tidak adanya perintah melakukan jama’ah yang berulang-ulang dalam shalat khauf, padahal
sangat dibutuhkan. Demikian juga, tidak terdapat dalil yang shahih adanya jama’ah kedua setelah
jama’ah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang pertama. Juga riwayat para sahabat dan
tabi’in, jika tertinggal shalat jama’ah, mereka melakukan shalat secara sendirian di masjid atau
berjamaah di rumah.
- Meninggalkan jama’ah pertama yang disebabkan karena rasa malas mengikuti jama’ah dengan
imam tetap, tentunya dicela. Padahal sesuatu yang menyebabkan terjadinya perkara tercela,
sebagai sesuatu yang tercela.
-Apabila seseorang tertinggal shalat berjama’ah bersama imam tetap karena udzur, maka ia
memperoleh pahala jama’ah tersebut, walaupun shalat secara sendirian.

Demikianlah sebagian dalil yang menguatkan pendapat pertama. Dan inilah pendapat yang rajih,
Insya Allah Ta’ala. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat tarjihnya dalam kitab I’lamul ‘Abid Fi Hukmi Tikraril Jama’ah Fil Masjidil Wahid,
karya Syaikh Masyhur Salman, hal. 68-75.
[2]. Lihat kitab Al Mughni, karya Ibnu Qudamah, 3/11.
[3]. Ibid.
[4]. Al Mustadrak karya beliau 1/209.
[5]. Syarhu Sunnah 3/437.
[6]. Aunul Ma’bud 1/225.
[7]. Shalatul Jama’ah Hukmuha Wa Ahkamuha, hal. 101.
[8]. Muallaq adalah hadits yang terputus sanadnya satu perawi atau lebih di awal sanad.
[9]. Shahih Bukhari, kitab Al Adzan, Bab Fadhlu Shalatil Jama’ah. Lihat Fathul Bari 2/131.
[10]. Taghliq At Ta’liq 2/276-277.
[11]. Mauquf adalah perkatan, perbuatan atau persetujuan yang disandarkan kepada para sahabat.
[12]. Al Mughni, 3/11.
[13]. I’lamul ‘Abid, hal. 79-80 menukil dari kaset rekaman beliau berjudul Masail Tahumu Al
Muslim.
[14]. I’lamul ‘Abid, hal. 83-84, menukil dari Al Urfusy Syadzi ‘Ala Jami’ At Tirmidzi, hal. 118.
[15]. Diriwayatakan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 2/223 dan dinukil dari Tamamul
Minnah, hal. 157. Lihat dalil pendapat pertama dalam majalah As Sunnah, edisi 4/VII/1424
H/2003 M. hal. 41.
[16]. Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah 2/322
[17]. Mushannaf, Abdirrazaq 2/293 no. 3422.
[18]. Apabila ingin lebih panjang lagi, silahkan melihat kepada kitab I’lamul Abid hal. 85-87.
[19]. Lihat pernyataan Syaikh Al Albani dalam majalah As Sunnah edisi 4/ VII/1424 H/2003 M.
hal. 42.
[20]. I’lamul Abid, hal. 91, menukil dari I’lamus Sunan 4/248.
[21]. Hal ini disampaikan oleh Syaikh

Penyebab Perceraian Dan Kiat


Mengantisipasinya [2]
Senin, 28 Februari 2011 23:41:42 WIB

PENYEBAB PERCERAIAN DAN KIAT MENGANTISIPASINYA

Oleh
Syaikh Dr. Muhammad Nasir Al Humaid

Adalah suatu hal yang sangat memprihatinkan, banyaknya terjadi kasus perceraian di dunia
Islam yang disebabkan berbagai macam faktor, yang sebenarnya dapat diantisipasi. Padahal
dampaknya sangat mengkhawatirkan di masyarakat; secara individual maupun kelompok
masyarakat. Bukankah sangat mungkin untuk mencari solusi permasalahan ini dalam khazanah
syari’at Islam yang memiliki kompleksitas dan sempurna?

Tulisan ini merupakan karya seorang ulama yang bernama Dr. Muhammad Nasir Al Humaid.
Beliau salah seorang staf pengajar di Jami’ah Islamiyah Al Madinah. Tulisan yang merupakan
refleksi terhadap masyarakat dunia Islam yang kini semankin jauh dari pedoman Al Qur’an dan
Sunnah. Akibat dari itu, upaya syari’at untuk menciptakan tatanan masyarakat Islam yang baik
dan benar dengan jalinan pernikahan mulai goyah dengan banyaknya kasus perceraian.
Dalam tulisan ini, beliau menyebutkan beberapa point penting yang menjadi penyebab
perceraian. Kebanyakan dari sebab-sebab itu, dapat diantisipasi dan ada solusinya. Namun, ada
pula yang tidak memiliki alternatif lain, kecuali perceraian.

Beliau membagi sebab perceraian ini menjadi tiga bagian. Pertama, sebab perceraian yang
datangnya dari suami. Kedua, sebab perceraian yang datangnya dari istri. Ketiga, sebab
perceraian yang disebabkan oleh keluarga kedua pasangan suami-istri.

Tulisan berikut merupakan bagian kedua sebagai kelanjutan dari pembahasan edisi 07. Semoga
bermanfaat.
____________________________

Keenam : Perilaku suami yang jelek acapkali membuat istri menuntut khulu' (minta diceraikan
dengan mengembalikan mahar yang diberikan suami). Banyak suami yang memiliki perangai
yang jelek, bermulut keji, selalu mengumpat, melaknat ataupun selalu memukul istri.

Hendaklah para suami takut kepada Allah dalam mempergauli istri. Seharusnya dia bersyukur
kepada Allah yang telah memberinya istri. Yang sang istri ini dapat meredam gejolak
syahwatnya dan menjadikannya iffah (menjaga kesucian diri), apalagi jika istri telah melahirkan
anak-anaknya. Bukankah hal ini sepatutnya menjadikannya bersyukur kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat.

‫اء َخي اْرا‬


ِ ‫س‬َ ِ‫ص ْوا ِبالن‬
ُ ‫ِإ ْست َْو‬

Berbuat baiklah kalian dalam mempergauli para istri.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

‫ان ِع ْندَ ُك ْم‬


ٌ ‫اء َخي اْرا فَإ ِ َّن َما ه َُّن َع َو‬
ِ ‫س‬ ُ ‫أ َ ًَل َوا ْست َْو‬
َ ِ‫صوا ِبالن‬

Ingatlah, berbuat baiklah kalian dalam mempergauli para istri. Sesungguhnya, mereka adalah
'awanin [1] (tawanan) di sisi kalian.[2]
Rasulullah bersabda,”Janganlah kalian pukul para istri kalian,” maka Umar datang kepada
Rasulullah dan berkata,"Zu'irna [3] an nisa (para istri telah berani menentang para suami),” maka
Rasulullah memperbolehkan para suami untuk memukul istrinya. Setelah itu, datanglah para
wanita ke rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengadu perlakuan suami mereka,
maka Rasulullah berkata,”Banyak para wanita datang ke rumah keluarga Muhammad
mengadukan perlakuan suami mereka. Sesungguhnya, para suami yang berbuat itu (memukul
istri) bukanlah orang-orang yang terbaik diantara kalian.” [4]

Beliau juga bersabda.

‫آخ ِر ْاليَ ْو ِم‬ ِ ‫ًَل يَجْ ِلد ُ أ َ َحد ُ ُك ْم ا ْم َرأَتَهُ َج ْلدَ ْالعَ ْب ِد ث ُ َّم يُ َج‬
ِ ‫امعُ َها فِي‬

Janganlah salah seorang kalian memukul istrinya seperti memukul hamba, kemudian dia
mencampurinya di penghujung hari. [5]

Dalam riwayat lain disebutkan.

ِ ‫اجعُ َها ِم ْن‬


‫آخ ِر يَ ْو ِم ِه‬ ِ ‫ض‬َ ُ‫يَ ْع ِمد ُ أ َ َحد ُ ُك ْم فَيَجْ ِلد ُ ا ْم َرأَتَهُ َج ْلدَ ْالعَ ْب ِد فَلَعَلَّهُ ي‬

Kenapa salah seorang kalian memukul istrinya sebagaimana memukul hamba, kemudian
menyetubuhinya di penghujung hari? [6]

Ketujuh : Suami ingin menguasai harta istri, atau memaksa istri agar memberikan harta yang
dimilikinya itu kepadanya. Kasus ini banyak menimpa para istri yang memiliki pekerjaan.
Biasanya akan merusak hubungan antara keduanya, dan tidak sedikit berakhir dengan perceraian.

Allah berfirman.

‫ش ٍة ُّم َب ِينَ ٍة‬ ِ َ‫ض َمآ َءاتَ ْيت ُ ُموه َُّن ِإْلَّ أَن َيأْتِينَ ِبف‬
َ ‫اح‬ ِ ‫ضلُوه َُّن ِلتَذْ َهبُوا ِب َب ْع‬
ُ ‫َوًلَ ت َ ْع‬

Janganlah kalian menahan mereka (para istri) (untuk dapat menikah) agar kalian dapat membawa
sebagian dari harta yang mereka berikan kepada kalian, kecuali jika mereka melakukan
perbuatan keji yang nyata. [An Nisa:19].

Allah berfirman.

‫سا َف ُكلُوهُ َهنِيئاا َّم ِريئاا‬ َ ‫فَإِن ِطبْنَ لَ ُك ْم َعن‬


‫ش ْىءٍ ِم ْنهُ نَفَ ا‬

Jika mereka dengan rela memberikan kepada kalian harta mereka, maka makanlah dengan baik-
baik. [An Nisa:4].

Tidak halal bagi suami mengambil harta istri, kecuali dengan kerelaannya atau jika istri berbuat
nuzus. Ketika seorang pria menikahi wanita yang berharta, jika menginginkan harta istrinya,
maka dituntut darinya untuk berlemah-lembut. Cara ini lebih efektif baginya untuk mendapatkan
keinginannya. Cara lain yang diizinkan untuknya, yaitu dengan mengajukan persyaratan, bahwa
istri harus membantunya dengan memberikan sebagian dari hasil gajinya. Dan hal ini sah-sah
saja; apalagi dengan bekerjanya sang istri, akan mengurangi sedikit banyak perhatian dan
kewajibannya terhadap suami. Demikian ini tidak dapat diingkari, sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

‫طا َح َّر َم َح ََل اًل أَ ْو أ َ َح َّل َح َرا اما‬


‫وط ِه ْم إِ ًَّل ش َْر ا‬ ُ ‫ْال ُم ْس ِل ُمونَ َعلَى‬
ِ ‫ش ُر‬

Kaum muslimin wajib menepati janji (kesepakatan) yang mereka perbuat, kecuali kesepakatan
yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan yang haram.[7]

Berapa banyak rumah tangga hancur berantakan ketika istri tidak memberikan apa yang
diharapkan suami. Para istri hendaklah memahami hal ini, demi menjaga kelangsungan rumah
tangga dan demi kemaslahatan anak-anak agar tidak terlantar. Allah berfirman, ‫ص ْل ُح‬
ُّ ‫َوال‬
‫( َخي ٌْر‬Sesungguhnya berdamai itu lebih baik). Perbuatan wanita memberikan sebagian harta kepada
suami adalah merupakan upaya untuk berdamai. Semoga Allah akan memberikan kepadanya
ganjaran terbaik. Allah berfirman.

ِ‫صلَ َح فَأَجْ ُرهُ َعلَى هللا‬


ْ َ‫فَ َم ْن َعفَا َوأ‬

Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat islah, maka ganjaran pahalanya di sisi Allah. [Asy
Syura:40]

Kedelapan : Sikap acuh suami terhadap istri.


Banyak para suami tidak memberikan perhatian yang cukup dan lebih senang tidur di luar rumah
daripada berkumpul dan berkomunikasi dengan istri. Apalagi, terkadang kesibukannya di luar
rumah dalam hal-hal yang sepele dan tidak bermanfaat.

Seorang suami dituntut untuk dapat memberikan waktu dan perhatian yang cukup kepada istri.
Tidak dibenarkan terus-menerus meninggalkan istri, walaupun dengan dalih sibuk mengerjakan
ibadah-ibadah, seperti puasa sunnah maupun shalat malam. Bukankah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda.

‫علَيْكَ َحقًّا َو ِإ َّن ِلعَ ْينِكَ َعلَيْكَ َحقًّا َو ِإ َّن ِلزَ ْو ِجكَ َعلَيْكَ َحقًّا‬ َ ‫ِإ َّن ِل َج‬
َ َ‫سدِك‬
Jasadmu memiliki hak (beristirahat), matamu memiliki hak (untuk tidur), dan istrimu memiliki
hak atas dirimu.[8]

Pernah seorang wanita mendatangi Umar Ibn Al Khathab untuk mengadu,”Wahai, Amirul
Mukminin. Suamiku seorang yang selalu berpuasa dan shalat malam. Aku sebenarnya enggan
melaporkannya kepadamu karena sikapnya yang selalu melaksanakan ibadah-ibadah sunnah1.”
Umar menjawab,”Alangkah bagusnya suamimu,” namun wanita itu masih mengulangi
perkataannya, dan Umar menjawab jawaban yang sama. Akhirnya, Ka'ab Al Asadi
berkata,”Wahai, Amirul Mukminin. Wanita ini sebenarnya mengadukan sikap suaminya yang
tidak peduli lagi padanya,” maka Umar berkata,”Sebagaimana yang engkau pahami dari wanita
ini, maka engkau kuserahkan untuk mengadili perkara ini.” Akhirnya Ka'ab memanggil suami
wanita itu. Ketika (suami wanita itu) datang, Ka'ab berkata kepadanya,”Istrimu mengadukan
engkau kepada Amirul Mukminin.” Dia bertanya,”Karena apa? Apakah karena tidak kuberi
makan ataupun minum?” Ka'ab menjawab,”Tidak.”

Akhirnya wanita itu berkata:

ُ‫اضي ْال َح ِك ْي ُم ُر ْشدُهُ أ َ ْل َهى َخ ِل ْي ِل ْي َع ْن فِ َرا ِشي َمس ِْجدُه‬


ِ َ‫يَاأَيُّ َها ْالق‬
َ ُ‫ض ْالق‬
ُ‫ضا َكعْبُ َوًلَ ت ُ َر ِددُه‬ ِ ‫ض َج ِعي تَعَبُّدُهُ فَا ْق‬ ْ ‫زَ َهدَهُ فِي َم‬
ُ‫اء أحْ َمدُه‬َ ِ ‫س‬َ ُِ ‫الن‬ َ َ ُ
ِ ‫ارهُ َولَ ْيلُُُ هُ َما يَ ْرقدُهُ فل ْستُ فِي أ ْم ِر‬
َ ُ ‫نَ َه‬

Wahai hakim yang bijaksana,


Masjid telah melalaikan suamiku dari tempat tidurku
Beribadah membuatnya tidak membutuhkan ranjangku
Adililah perkara ini, wahai Ka'ab dan jangan kau tolak
Siang dan malam tidak pernah tidur
Dalam hal mempergauli wanita, aku tidak memujinya

Kemudian suaminya menjawab:

‫زَ َهدَنِي فِي فِ َرا ِش َها َوفِي ْال َح َج ِل أَنِي ْام ُر ٌؤ أَذْ َهلَنِي َما قَدْ نَزَ َل‬
‫ْف َجلَ َح‬ٌ ‫ب هللاِ ت َْخ ِوي‬ ُّ ‫سبْع ال‬
ِ ‫ط ْو ِل َوفِي ِكت َا‬ ِ َّ ‫س ْو َرةِ النَّحْ ِل َوفِي ال‬
ُ ‫فِي‬

Aku Zuhud tidak mendatangi ranjang dan biliknya


Karena aku telah dibuat sibuk dan binggung dengan apa yang telah turun
Yaitu surat An Nahl dan tujuh surat yang panjang
Dan Kitab Allah membuat hatiku takut dan risau

Setelah mendengar ini, Ka'ab berkata:


‫َص ْيبُ ُها فِي أَ ْر َب َع ِل َم ْن َع َق َل‬
ِ ‫ِإ َّن لَ َها َع َليْكَ َحقًّا َيا َر ُج ُل ن‬
‫ع َع ْنكَ ْال ِعلَ َل‬ ْ َ‫ْط َها ذَاكَ َود‬ ِ ‫فَاع‬

Dia memiliki hak atasmu, wahai lelaki


Jatahnya empat hari bagi orang yang berakal
Berikah hak itu, dan tinggalkan cela yang ada padamu [9]

Kesembilan : Sepele dengan lafazh “thalak”.


Sebagian suami, sering terlihat begitu ringannya mengeluarkan kata-kata “thalak” kepada
istrinya. Terkadang sambil bergurau meluncur dari mulutnya ucapan talak. Padahal Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

ُ‫الرجْ عَة‬ َّ ‫ث ِجدُّه َُّن ِجدٌّ َوه َْزلُ ُه َّن ِجدٌّ النِكَا ُح َوال‬
َّ ‫ط ََل ُق َو‬ ٌ ‫ث َ ََل‬

Tiga macam perkara akan tetap terjadi, walaupun diucapkan dengan sungguh-sungguh ataupun
dengan bergurau, yaitu: nikah, talak, dan ruju'.[10]

Selayaknya, seorang suami menjaga lidahnya. Tidak menyepelekan lafazh thalak, yang tanpa
disadarinya dapat meruntuhkan bangunan rumah tangga, hingga akhirnya dapat mendatangkan
penyesalan yang berkepanjangan, setelah nasi menjadi bubur.

Kesepuluh : Ila' (sumpah suami) untuk tidak mencampuri istrinya selamanya, ataupun lebih dari
empat bulan.
Demikian Ini merupakan bentuk kezhaliman suami terhadap istri. Pada kondisi seperti ini, istri
berhak menuntut perceraian setelah lewat empat bulan. Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman.

َّ ‫ورُُ َّر ِحي ُمُُ َو ِإ ْن َعزَ ُموا ال‬


َ َ‫طَلَقَ فَإِ َّن هللا‬
ُُ‫س ِمي ٌع َع ِلي ُم‬ ُ ُ‫ُّص أَ ْر َب َع ِة أ َ ْش ُه ٍر فَإ ِ ْن فَآ ُءو فَإ ِ َّن هللاَ َغف‬ َ ِ‫ِللَّذِينَ يُؤْ لُونَ ِمن ن‬
ُ ‫سآئِ ِه ْم ت ََرب‬

Bagi suami-suami yang bersumpah tidak mencampuri istrinya, maka istri menunggu selama
empat bulan. Jika dia kembali dalam masa itu kepada istrinya, sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Penyayang. Jika dia berniat untuk menceraikannya, sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Mengetahui. [Al Baqarah: 226-227].

Maka hendaknya para suami tidak menzhalimi hak-hak istri. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

‫ظلُ َماتٌ يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة‬


ُ ‫الظ ْل َم‬
ُّ ‫الظ ْل َم فَإِ َّن‬
ُّ ‫اتَّقُوا‬

Takutlah kalian berbuat zhalim. Sesungguhnya, kezhaliman itu kegelapan pada hari kiamat. [11]
Jika masa empat bulan akan berakhir, seharusnya dia ruju' kepada istrinya, sebagaimana
dianjurkan Allah dalam firmanNya: Jika dia kembali dalam masa itu kepada istrinya,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang (Al Baqarah:226). Jika tidak ruju’, maka
wajib atasnya menceraikan istrinya, jika si istri menuntutnya. Namun, jika istri sabar (tidak minta
cerai, walaupun telah lewat empat bulan), demi kepentingan anak ataupun hal lainnya, maka
boleh saja selama dirinya yakin terjaga dari perbuatan haram. Insya Allah dia (istri) akan
mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah, dengan harapan semoga suaminya
kelak mendapat petunjuk dari Allah. Allah berfirman.

‫ق هللاَ يَجْ عَ ْل لَهُ ِم ْن أ َ ْم ِر ِه يُس اْرا‬


ِ َّ‫َو َم ْن يَت‬

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, akan dimudahkan baginya segala urusannya. [Ath
Thalaq:4].

Kesebelas : Merasa tidak senang karena istri melahirkan anak perempuan. Karena faktor
kejahilan, sebagian suami mengancam akan menceraikan istrinya, jika mendapat bayi
perempuan.

Sebenarnya wajib baginya beriman dengan ketetapan Allah dan takdirNya. Bayi wanita ataupun
pria itu lahir atas kehendakNya semata. Adapun manusia, tidak bisa memilih. Allah berfirman.

َ ‫َار َما َكانَ لَ ُه ُم ْال ِخ‬


ُ ‫يرة‬ ُ ‫َو َربُّكَ يَ ْخلُ ُق َمايَشَآ ُء َويَ ْخت‬

Dan Rabb-mu yang mencipta apa-apa yang dikehendakiNya dan memilih, tidak ada hak manusia
untuk memilih. [Al Qhasas: 68].

Allah juga berfirman.

‫ور أ َ ْو يُزَ ِو ُج ُه ْم ذ ُ ْك َراناا َو ِإنَاثاا َو َيجْ َع ُل َمن َيشَآ ُء َع ِقي اما‬


َ ‫َو َي َهبُ ِل َمن َيشَآ ُء الذُّ ُك‬

Dia memberikan siapa-siapa yang dikehendakiNya bayi perempuan, dan memberikan siapa-siapa
yang dikehendakiNya bayi laki-laki, Dia juga yang menjadikan siapa-siapa yang
dikehendakiNya mandul. [Asy Syura:49-50].

Keduabelas : Muncul perasaan tidak suka terhadap istri, karena selalu membandingkan istrinya
dengan wanita lain yang lebih baik dari istrinya dalam agama, akhlak, kecantikan, ilmu,
kecerdasan dan sebagainya. Akhirnya, suami menjauhi istrinya tanpa ada sebab syar'i, seperti:
istri meyeleweng ataupun menentang suami.
Seharusnya suami bersabar agar dia beruntung mendapatkan janji Allah.

َ ‫سى أَن ت َ ْك َرهُوا‬


‫ش ْيئاا َو َيجْ َع َل هللاُ فِي ِه َخي اْرا َكثِ ا‬
‫يرا‬ ِ ‫َو َعا ِش ُروه َُّن ِب ْال َم ْع ُر‬
َ ‫وف فَإِن ك َِر ْهت ُ ُموه َُّن فَ َع‬

Dan bergaullah kepada mereka dengan baik. Bias jadi kalian membenci sesuatu, namun Allah
menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak. [An Nisa:19].

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibn Abbas berkata,”Suami berlemah-lembut terhadap istrinya, maka
Allah memberikan karunia anak-anak yang baik-baik.”

Ibnu Katsir berkata,”Mungkin sikap sabar kalian dengan tidak menceraikan istri yang tidak
kalian sukai, akan membuahkan kebahagian bagi kalian di dunia dan akhirat.”

Imam Asy Syaukani berkata,”Semoga sikap benci kalian terhadap istri, akan digantikan Allah
dengan sikap cinta yang akan mendatangkan kebaikan yang banyak, hubungan yang mesra
ataupun rezeki anak-anak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫ي ِم ْن َها آخ ََر‬ ِ ‫ًَل يَ ْف َر ْك ُمؤْ ِم ٌن ُمؤْ ِمنَةا إِ ْن ك َِرهَ ِم ْن َها ُخلُقاا َر‬
َ ‫ض‬

(Janganlah seseorang membenci pasangannya. Jika ia benci kepada salah satu sikap istrinya,
pasti dalam hal lain ia akan rela).” [12]

Diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'anhu, dia berkata,”Sangat sedikit rumah tangga yang
dibangun di atas cinta. Namun, kebanyakan manusia bergaul (menikahi) pasangannya dengan
dasar Islam, menyambung nasab ataupun untuk berbuat ihsan.” [13]

Ibnul Arabi menyebutkan dengan sanadnya dan berkata,”Ada seorang syaikh yang dikenal
berilmu dan memiliki kedudukan, bernama Abu Muhammad Ibn Abi Zaid [14]. Istrinya
berperangai jelek, tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri dan selalu menyakiti suaminya
dengan lidahnya. Orang-orang banyak yang heran dan mencela sikap sabarnya terhadap sang
istri. Jika ditanya perihal sikap sabarnya terhadap istrinya, Abu Muhammad selalu berkata,”Aku
telah diberikan Allah berbagai macam nikmat, berupa: kesehatan, ilmu dan budak-budak yang
kumiliki. Mungkin sikap jelek istriku terhdapku disebabkan hukuman Allah kepadaku, karena
dosa-dosaku. Aku takut, jika dia kuceraikan akan turun ujian kepadaku lebih berat dari ujian
perangai istriku yang jelek.” [15]

Selayaknya, ini menjadi pelajaran berharga bagi para suami. Tidaklah menjadi masalah, jika ia
ingin menikahi wanita lain sebagai tambahan. Allah berfirman.

‫ع‬ َ َ‫آء َمثْنَى َوثَُل‬


َ ‫ث َو ُربَا‬ ِ ‫س‬َ ِ‫اب لَ ُكم ِمنَ الن‬
َ ‫ط‬َ ‫فَان ِك ُحوا َما‬
Nikahilah wanita-wanita yang baik-baik, dua, tiga ataupun empat. [An Nisa:3].

Ketigabelas : Kecenderungan suami kepada salah satu istrinya -jika memiliki lebih dari satu-
dengan alasan takut berbuat dosa ; sehingga ia terpaksa menceraikan istri yang kurang
disukainya.

Dalam kondisi seperti ini, selayaknya istri yang akan diceraikan berdamai dengan suaminya,
sebagaimana firman Allah.

ُُ‫ص ْل ُح َخي ُْر‬


ُّ ‫ص ْل احا َوال‬ ْ ُ‫وزا أ َ ْو إِع َْراضاا فََلَ ُجنَا َح َعلَ ْي ِه َمآ أَن ي‬
ُ ‫ص ِل َحا بَ ْينَ ُه َما‬ ‫ش ا‬ ْ َ‫َوإِ ِن ا ْم َرأَة ٌ خَاف‬
ُ ُ‫ت ِمن بَ ْع ِل َها ن‬

Jika seorang istri takut diceraikan oleh suaminya atau dijauhkan, maka tidak mengapa jika
keduanya melaksanakan as sulhu (kesepakatan), dan berdamai itu lebih baik. [An Nisa:128] .

Dalam menafsirkan ayat ini, 'Aisyah berkata, ”Seorang suami melihat kekurangan pada istri yang
tidak disukainya, seperti: usia yang telah tua dan sebab lainnya. Maka, ia berniat
menceraikannya, namun istri memohon agar suami tidak menceraikannya, dan siap menerima
apapun perlakuan suami terhadapnya. Demikian inilah solusi menghindari perceraian, jika
keduanya sepakat.” [16]

Ibn Abbas meriwayatkan, ”Saudah takut Rasulullah menceraikannya (karena ia telah tua).
Kemudian ia berkata,’Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku. Aku siap memberikan giliranku
untuk ‘Aisyah,’ maka Rasul menerima usulan itu dan turunlah ayat: Tidak mengapa jika
keduanya membuat kesepakatan, dan berdamai itu lebih baik.”[17]

Rafi’ Ibn Khadij menceritakan, bahwa ia memiliki istri yang telah tua. Kemudian ia menikahi
wanita lain yang masih muda. Akhirnya Rafi’ lebih cenderung kepada istri yang muda. Melihat
perlakuan Rafi', maka istrinya yang telah tua protes. Kemudian Rafi’ menjatuhkan thalak satu.
Ketika masa iddahnya akan berakhir, Rafi’ berkata kepadanya,”Jika engkau mau, aku akan ruju'
kepadamu; dengan syarat, engkau rela (dengan) perlakuanku padamu. Jika tidak, (maka) aku
akan membiarkan hingga iddahmu selesai, dan tidak ruju' padamu,” maka istrinya
menjawab,”Ruju'lah, aku akan berusaha sabar dengan sikapmu. Setelah Rafi ruju', ia kembali
protes dengan perlakuan Rafi' kepadanya, maka Rafi’ memutuskan untuk menceraikannya. Rafi'
berkata,”Itulah makna as sulhu yang telah diturunkan Allah dalam firmanNya: Jika seorang istri
takut diceraikan oleh suaminya atau dijauhkan, maka tidak mengapa jika keduanya
melaksanakan as sulhu (kesepakatan), dan berdamai itu lebih baik.” [18]

Jelaslah maksud pengertian sulhu dalam ayat, yaitu istri siap menerima apapun yang diberikan
suami kepadanya, walaupun harus dengan mengurangi sebagian haknya, berupa kewajiban suami
bermalam padanya ataupun nafkah. Hal ini demi menghindari perceraian, dan dia tetap menjadi
istri. Karena hal ini akan lebih baik baginya, dibandingkan hidup tanpa suami. Apalagi jika dia
memiliki anak-anak dari suaminya, atupun dia telah tua dan takut terhadap resiko perceraian.
Ingatlah firman Allah: Dan berdamai itu lebih baik. [An Nisa:128].

Keempatbelas : Penyakit berkepanjangan yang menimpa suami. Terkadang hal ini menjadi
penyebab istri menuntut cerai.
Andai saja istri mau bersabar dan tetap merawatnya dengan mengharap balasan dari Allah, hal
itu akan lebih baik baginya, sebagaimana firman Allah.

‫ب‬ َ ‫صابِ ُرونَ أَجْ َرهُم بِغَي ِْر ِح‬


ٍ ‫سا‬ َّ ‫إِنَّ َما ي َُوفَّى ال‬

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberi ganjaran yang tak terhingga. [Az
Zumar:10]

Akan tetapi, jika dirinya takut akan tergelincir ke dalam perbuatan haram dengan menyeleweng,
disebabkan sang suami tidak lagi dapat melayani kebutuhan biologisnya, (maka) dalam kondisi
seperti ini, tidak mengapa dia menuntut agar diceraikan demi menjaga agama dan kesucian
dirinya; memelihara perkara ini merupakan sesuatu yang wajib.

Kelimabelas : Sikap curiga suami terhadap istri, akibat pengaruh bisikan syetan. Seharusnya dia
berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk, dan tidak berperasangka buruk. Allah
berfirman.

ُُ‫ظ ِن ِإثْ ُم‬


َّ ‫ض ال‬ َّ ‫يرا ِمنَ ال‬
َ ‫ظ ِن إِ َّن َب ْع‬ ‫َياأ َ ُّي َها الَّذِينَ َءا َمنُوا اجْ ت َ ِنبُوا َك ِث ا‬

Wahai orang-orang beriman, jauhilah prasangka buruk, sesungguhnya prasangka buruk itu
adalah dosa. [Al Hujurat:12].

Suami harus sadar, bahwa perkara yang paling diupayakan syetan ialah memisahkan antara dua
suami istri. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda.

‫ظ ُم ُه ْم فِتْنَةا يَ ِجي ُء أ َ َحد ُ ُه ْم َفيَقُو ُل َف َع ْلتُ َكذَا َو َكذَا فَيَقُو ُل َما‬ َ ‫س َرايَاهُ فَأَدْنَا ُه ْم ِم ْنهُ َم ْن ِزلَةا أ َ ْع‬
َ ‫ث‬ ِ ‫شهُ َعلَى ْال َم‬
ُ ‫اء ث ُ َّم يَ ْب َع‬ َ ‫ض ُع َع ْر‬ َ ‫ِإ َّن ِإ ْب ِل‬
َ َ‫يس ي‬
َ‫ش ْيئاا قَا َل ث ُ َّم يَ ِجي ُء أ َ َحدُ ُه ْم فَيَقُو ُل َما ت َ َر ْكتُهُ َحتَّى فَ َّر ْقتُ بَ ْينَهُ َوبَيْنَ ا ْم َرأَتِ ِه قَا َل فَيُدْنِي ِه ِم ْنهُ َويَقُو ُل نِ ْع َم أ َ ْنت‬ َ َ‫صنَعْت‬َ

Sesungguhnya Iblis meletakkan kerajaannya di atas air, kemudian dia mengurus para tentaranya.
Yang paling tinggi kedudukannya adalah syetan yang paling besar fitnahnya terhadap manusia.
Salah satu dari mereka berkata kepada Iblis,”Aku telah berbuat begini dan begini,” Iblis
menjawab,”Engkau belum berbuat apa-apa,” kemudian datang syetan yang lain dan
berkata,”Tidaklah aku meninggalkan seseorang yang aku goda, hingga aku berhasil memisahkan
dia dengan istrinya,” maka Iblis mendudukkannya di dekatnya dan berkata,”Engkau sebaik-baik
tentaraku.” [19]

Keenambelas : Suami berada di bawah kekuasan istri. Pindahnya tampuk kepemimpinan rumah
tangga kepada sang istri, yang semestinya berada di tanggan suami. Padahal Allah berfirman.

‫ض َو ِب َما أَ ْنفَقُ ْوا ِم ْن أَ ْم َوا ِل ِه ْم‬


ٍ ‫ض ُه ْم َعلَى بَ ْع‬ َّ ‫آء ِب َما َف‬
َ ‫ض َل هللاُ بَ ْع‬ ِ ‫س‬َ ِ‫الر َجا ُل قَ َّوا ُمونَ َعلَى الن‬
ِ

Lelaki adalah pemimpin bagi wanita dengan kelebihan yang Allah limpahkan kepada sebagian
dari mereka dan dengan sebab nafkah yang mereka berikan (kepada istri-istri). [An Nisa:34]

Ini bisa mutlak terjadi, dikarenakan kelemahan pribadi suami atau anggapannya yang keliru,
bahwa sikapnya itu sebagai wujud penghormatan kepada istrinya. Sehingga ketika ia sadar dan
ingin mengembalikan kepemimpinan itu kepadanya, ternyata ia tidak sanggup. Sehingga,
akhirnya berujung pada perceraian.

Semenjak menikah, seorang suami harus benar-benar sadar, bahwa kepemimpinan rumah tangga
wajib berada di tanggannya. Jangan sampai rasa cinta yang berlebihan atau rasa bangga dapat
menikahi wanita tersebut, akhirnya membuat dia lemah di hadapan istri dan berujung dengan
penyesalan tak berguna.

Ketujuhbelas : Suami datang ke rumah istri pada malam hari setelah lama bepergian tanpa
pemberitahuan sebelumnya. Hal ini terkadang membuatnya melihat hal-hal yang dibencinya,
karena istri dalam keadaan tidak siap menyambutnya. Rasulullah bersabda.

ْ ‫طا َل أ َ َحد ُ ُك ْم ْالغَ ْي َبةَ فَ ََل َي‬


‫ط ُر ْق أَ ْهلَهُ لَي اَْل‬ َ َ‫ِإذَا أ‬

Jika kalian bepergian lama, maka janganlah kalian mendatangi rumah istri kalian pada malam
hari.[20]

Dalam riwayat lain disebutkan.

ُ‫ش ِعثَةُ َوتَ ْست َِحدَّ ْال ُم ِغي َبة‬ َ ‫َك ْي ت َْمتَ ِش‬
َّ ‫ط ال‬

Agar para istri yang lama ditinggalkan berhias dengan menyisir rambut dan mencukur bulu
kemaluannya.[21]

Selayaknya suami mendatangi rumah istrinya pada siang hari ketika ia pulang dari bepergian
dalam masa yang lama, dan dengan memberitahukan terlebih dahulu perihal kepulangannya, istri
agar tidak terkejut.
Kedelapanbelas : Rumah tangga yang dibina atas dasar surat-menyurat, ataupun saling
berkomunikasi melalui telepon -yang popular dengan istilah pacaran sebelum menikah.

Mahligai rumah tangga yang dibanggun di atas pondasi kropos seperti ini, biasanya akan
berujung dengan kehancuran. Aِِllah berfirman.

ُ‫َار َج َهنَّ َم َوهللا‬ِ ‫اربِ ِه فِي ن‬ َ ‫ان َخي ٌْر أَم َّم ْن أَس‬
َ ‫َّس بُ ْنيَانَهُ َعلَى‬
َ ‫شفَا ُج ْرفٍ هَا ٍر فَا ْن َه‬ َ ‫أَفَ َم ْن أَس‬
ٍ ‫َّس بُ ْنيَانَهُ َعلَى ت َ ْق َوى ِمنَ هللاِ َو ِرض َْو‬
َّ ‫ًلَيَ ْهدِي ْالقَ ْو َم ال‬
َ‫ظا ِل ِمين‬

Apakah sama orang yang membangun pondasinya di atas taqwa dan keridhaan Allah dengan
orang yang membangun pondasinya di atas jurang neraka, yang akhirnya membuatnya
terperosok ke neraka Jahannam; sesungguhnya Allah tidak akan menunjuki orang yang berbuat
kezhaliman. [At Taubah:109]

Ibn Sa'di rahimahullah berkata,”Sesungguhnya suatu perbuatan yang dikerjakan dengan ikhlas
dan mengikuti sunnah, itulah makna dibangun di atas pondasi taqwa yang akan membuahkan
surga penuh kenikmatan. Adapun perbuatan yang dibangun di atas niat buruk, bid'ah dan
kesesatan, itulah pondasi yang dibangun di tepi jurang neraka, yang membuatnya terperosok ke
dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak akan membimbing orang-orang yang zhalim.” [22]

Semestinya lelaki yang hendak melamar wanita datang kepada walinya, dan mendatangi rumah
dari pintunya, sebagaimana firman Allah.

‫َولَ ِك َّن ْال ِب َّر َم ِن اتَّقَى َوأْتُوا ْالبُيُوتَ ِم ْن أَب َْوا ِب َها‬

Namun kebajikan itu adalah orang yang bertaqwa, dan masukilah rumah-rumah melaui pintunya.
[Al Baqarah: 189]

Ibn Sa'di berkata, ”Dari ayat ini dapat dipetik manfaat, bahwa selayaknya manusia masuk dalam
berbagai macam urusan dari jalan yang paling mudah, dekat yang akan mengantarkannya sampai
kepada tujuan.” [23]

Para wanita jangan sampai terjerumus kepada hubungan haram (pacaran) yang menipu; agar
tidak mengundang murka Rabb-nya yang akan mendatangkan kegagalan dalam hidupnya.

Kesembilanbelas : Ketika proses lamaran, suami tidak melihat calon istri. Terkadang dalam
benaknya, suami berkhayal mengenai sosok istri yang ideal. Namun, selesai akad -ketika masuk
ke kamar- dia terkejut melihat istri yang tidak seideal dalam alam khayalnya. Biasanya, ini akan
membuatnya menjauh dari sang istri.
Karena itu, seharusnya calon suami melihat terlebih dahulu calon wanita yang akan dilamarnya.
Pihak keluarga wanita jangan sampai menghalanginya, karena hal ini merupakan perintah
Rasulullah n dan menjadi salah satu faktor yang dapat melanggengkan perkawinan.

Dari Mughirah Ibn Syu'bah, bahwa ia melamar seorang wanita, maka Rasulullah berkata
kepadanya.

‫ظ ْر إِلَ ْي َها فَإِنَّهُ أَحْ َرى أَ ْن يُؤْ دَ َم بَ ْينَ ُك َما‬


ُ ‫ا ْن‬

Lihatlah kepadanya, karena hal itu akan melangengkan hubungan kalian berdua.[24]

Keduapuluh :Telat menikah. Para pakar berpendapat, bahwa terlambat menikah akan
membuahkan hubungan yang tidak bahagia dan harmonis sebagaimana yang diimpikannya.
Penyebabnya, karena keduanya telah banyak mengecap berbagai macam nilai-nilai ataupun
norma-norma lingkungan dengan beragam coraknya. Hal ini membuatnya sulit untuk
menyesuaikan tabiatnya dengan tabiat pasangannya. Hingga akhirnya banyak permasalahan yang
muncul akibat benturan dua watak yang berbeda yang sulit dikompromikan. Survei maupun
fakta yang ditemukan para pakar di lapangan membuktikan, bahwa hubungan perkawinan
pasangan telat nikah akan segera cerai-berai dan bangunan rumah tangga yang mereka bina akan
segera runtuh.

Oleh karena itu, selayaknya para pemuda bersegera menikah dan merealisasikannya. Kami
ingatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

َ َ‫َّللاِ َو ْال ُمكَاتَبُ الَّذِي ي ُِريدُ ْاْلَدَا َء َوالنَّا ِك ُح الَّذِي ي ُِريدُ ْال َعف‬
‫اف‬ َ ‫َّللاِ َع ْونُ ُه ْم ْال ُم َجا ِهد ُ ِفي‬
َّ ‫س ِبي ِل‬ َّ ‫ث َ ََلثَةٌ َح ٌّق َعلَى‬

Tiga macam manusia wajib bagi Allah membantunya; seorang mujahid di jalan Allah, budak
yang ingin menebus diri untuk dapat merdeka dan seorang yang akan menikah untuk ‘iffah. [25]

Hadits ini memberikan motivasi kepada para pemuda, bahwa Allah berjanji akan menolongnya
dan memudahkan urusannya, jika dia berazzam untuk menikah. Sehingga tidak ada lagi alasan
baginya, kecuali mulai berusaha untuk merealisasikannya dan bertawakkal kepada Allah.

Hendaklah diketahui, bahwa menikah di usia dini akan memudahkan pasagan suami istri untuk
dapat saling berinteraksi dan memahami tabiat masing-masing. Terlebih lagi nikah dini sangat
efektif untuk menjaga kesucian umat, berdampak positif untuk kesehatan dan kedewasan
berfikir, sebagaimana realita telah terbukti. Karena itulah Islam menganjurkannya.

Sebaliknya kaum wanita juga jangan telat menikah. Nikah dini lebih mendukung kebahagian
rumah tangga, sebagaimana disebutkan di atas. Jika datang kepadanya pria yang sekufu' (setara),
maka wajib baginya untuk menerima dan tidak menolak, walaupun dengan alasan studi dan
sebagainya. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Bias jadi, tidak akan pernah lagi
datang kepadanya lelaki yang sekufu’ atau malah tidak akan datang seorangpun yang
melamarnya.

Jika ternyata masih ingin sekolah, hendaklah dia membuat perjanjian terlebih dahulu kepada
suaminya, kecuali jika ternyata persyaratan ini akan menjadi sandungan dalam kehidupan rumah
tangga. Jika ini terjadi, maka wajib baginya mendahulukan perkara yang dapat mendatangkan
ketentraman dan mensucikan dirinya dengan memilih menikah. Hendaklah dia mengambil
pelajaran dari para wanita yang telat menikah. Dikarenakan sebab-sebab di atas, akhirnya mereka
banyak kehilangan kesempatan dan pahala.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. An Nihayah, karya Ibn Atsir 3/314
[2]. Sunan At Tirmidzi hadits no. 1163, dia berkata,”Hasan shahih.”
[3]. Lihat An Nihayah, karya Ibn Atsir 2/151. Aku berkata,”Dari hadits ini, jelas disyari’atkan
bolehnya memukul istri dan dampaknya yang positif dalam mendidik, selama tidak melampaui
batas ketetentuan syari’at.
[4]. Sunan Abu Dawud hadits no. 2146 dan sanadnya dishahihkan Ibn Hajar, lihat Isabah 1/101,
perawi hadits ini adalah Iyas Ibn Abdullah Ibn Abi Ziyab yang masih diperselisihkan, apakah dia
sahabat. Lihat At Taqrib no. 590.
[5]. Shahih Al Bukhari hadits no. 5204.
[6]. Shahih Al Bukhari hadits no. 4942, Shahih Muslim hadis no 2855.
[7]. Sunan At Tirmidzi hadits no. 1352. At Tirmidzi berkomentar,”Hasan shahih.” Imam Bukhari
meriwayatkannya secara al muallaq dengan lafazh ‫المسلمون عند شروطهم‬. Kitab Ijarah, Bab Ujratus
Simsarah.
[8]. Shahih Al Bukhari hadits no. 5199, Shahih Muslim hadits no. 1159
[9]. Tafsir Al Qurtubi 5/11
[10]. Sunan At Tirmidzi hadits no. 1184, At Tirmidzi berkata,”Hasan gharib," Sunan Abu
Dawud hadits no 2194, Sunan Ibn Majah hadits no. 2039.
[11]. Shahih Muslim hadits no. 2578
[12]. Shahih Muslim hadits no. 149
[13]. Al Ma'rifah Wa At Tarikh, karya al-Fasawi 1/392
[14]. Dia adalah Al Qaiyruwani, pengarang Ar Risalah (wafat 386).
[15]. Ahkam Al Qur’an 1/363.
[16]. Shahih Al Bukhari hadits no 2694
[17]. Sunan At Tirmidzi, hadits no 3040, Tirmidzi berkata,”Hasan gharib.”
[18]. Al Mustadrak 2/308 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi
[19]. Shahih Muslim hadits no. 2813
[20]. Shahih Al Bukhari hadis no. 5244, Sahih Muslim hadis no. 715
[21]. Shahih Muslim hadits no. 715
[22]. Tafsir Ibn Sa'di 2/ 289
[23]. Ibid 1/150
[24]. Sunan At Tirmidzi hadits no 1087, dan Tirmidzi berkomentar,”Hadis ini hasan.” Sunan An
Nasa’i hadits no. 3235. Ibnu Majah hadits no. 1865.
[25]. Sunan At Tirmidzi hadits no 1655 dan At Tirmidzi berkomentar,”Hadis ini hasan.” Sunan
An Nasa'i hadits no. 3218.

Terapi Rasulullah Menyembuhkan Penyakit


Cinta
Kamis, 24 Februari 2011 22:50:45 WIB

TERAPI RASULULLAH MENYEMBUHKAN PENYAKIT CINTA [1]

MUKADIMAH
Virus hati yang bernama al isyq (cinta), ternyata telah memakan banyak korban. Mungkin anda
pernah mendengar seorang remaja nekad bunuh diri disebabkan putus cinta, atau tertolak
cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta
yang bermula sejak mereka bersama menggembala domba sewaktu kecil hingga dewasa.
Akhirnya sungguh tragis, Qeis benar-benar menjadi gila ketika Laila dipersunting oleh pria lain.
Apakah anda pernah mengalami problema seperti ini atau sedang mengalaminya ? Mari kita
simak terapi mujarab yang disampaikan Ibnul Qayyim dalam karya besarnya Zadul Ma’ad.
___________________________

Beliau berkata, ”Gejolak cinta merupakan jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan
khusus. Disebabkan berbeda dengan jenis penyakit lain, baik dari segi bentuk, penyebabnya
maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati,
sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.”

Allah mengisahkan penyakit ini dalam Al Qur’an tentang dua tipe manusia. Pertama, wanita dan
kedua, kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak laki-laki yang rupawan).

Allah mengisahkan bagaimana penyakit ini telah menyerang istri Al Aziz (gubernur Mesir) yang
mencintai Nabi Yusuf, dan menimpa kaum Luth. Allah mengisahkan kedatangan para malaikat
ke negeri Luth.

‫(قَالُوا أ َ َولَ ْم نَ ْن َهكَ َع ِن‬69)‫ون‬ َّ ‫(واتَّقُوا‬


ِ ‫َّللاَ َو ًَل ت ُ ْخ ُز‬ َ 68)‫ون‬ ِ ‫ض ُح‬ َ ‫(قَا َل ِإ َّن َهؤ ًَُل ِء‬67) َ‫َو َجا َء أَ ْه ُل ْال َمدِينَ ِة يَ ْست َ ْبش ُِرون‬
َ ‫ض ْي ِفي فَ ََل تَ ْف‬
َ ‫(قَا َل ه‬70) َ‫( ْالعَالَ ِمين‬72)
َ ‫(لَعَ ْم ُركَ ِإ َّن ُه ْم لَ ِفي‬71) َ‫َؤًُل ِء َبنَاتِي ِإ ْن ُك ْنت ُ ْم فَا ِعلِين‬
َ‫س ْك َرتِ ِه ْم َي ْع َم ُهون‬

Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-
tamu itu. Luth berkata, "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi
malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina."
Mereka berkata, "Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?" Luth
berkata, "Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat
(secara yang halal)." (Allah berfirman), "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka
terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)." [Al Hijr : 67-72]

KEBOHONGAN KISAH CINTA NABI DENGAN ZAINAB BINTI JAHSY


Ada sekelompok orang yang tidak mengetahui cara menempatkan kedudukan Rasul sebagaimana
layaknya. Beranggapan, bahwa Rasulullah tak luput dari penyakit ini. Konon, sebabnya ialah
tatkala Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Zainab binti Jahsy, seraya berkata kagum,
”Maha Suci Rabb yang membolak-balik hati.” Sejak itu Zainab mendapat tempat khusus di
dalam hati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid
bin Haritsah, ”Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat:

‫َّللاُ أَ َح ُّق أَ ْن‬ َّ ‫َّللاَ َوت ُ ْخ ِفي ِفي نَ ْفسِكَ َما‬


َ َّ‫َّللاُ ُم ْبدِي ِه َوت َْخشَى الن‬
َّ ‫اس َو‬ َّ ‫ق‬ ْ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َوأ َ ْن َع ْمتَ َعلَ ْي ِه أ َ ْمس‬
ِ َّ ‫ِك َعلَيْكَ زَ ْو َجكَ َوات‬ َّ ‫تَقُو ُل ِللَّذِي أ َ ْن َع َم‬
ُ‫ت َْخشَاه‬

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat
kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya,"Tahanlah terus isterimu dan
bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah
akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk
kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya),
Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk
(mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. [Al
Ahzab:37] [2]

Sebagian orang beranggapan, ayat ini turun berkenaan kisah kasmaran Nabi. Bahkan sebagian
penulis mengarang buku khusus mengenai kisah kasmaran para nabi dan meyebutkan kisah Nabi
ini di dalamnya. Hal ini terjadi, karena kejahilannya terhadap Al Quran dan kedudukan para
rasul. Hingga memaksakan kandungan ayat dngan apa yang tidak layak dikandungnya.
Menisbatkan perbuatan Rasulullah, yang seolah Allah menjauh dari diri Beliau

Padahal kisah sebenarnya, bahwasannya Zainab binti Jahsy adalah istri Zaid Ibn Haritsah (bekas
budak Rasulullah) yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid Ibn Muhammad.
Zainab merasa lebih tinggi dibandingkan Zaid. Oleh sebab, itu Zaid ingin menceraikannya. Zaid
datang menemui Rasulullah minta saran untuk menceraikannya. Maka Rasulullah menasehatinya
agar tetap memegang Zainab. Sementara Beliau pun tahu, bahwa Zainab akan dinikahinya jika
dicerai Zaid. Beliau takut akan cemoohan orang-orang jika mengawini wanita bekas istri anak
angkatnya. Inilah yang disembunyikan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam dirinya. Rasa
takut inilah yang tejadi dalam dirinya. Oleh karena itu Allah menyebutkan karunia yang
dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut. Sambil menasehatinya
agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal yang memang Allah halalkan baginya.
Sebab Allahlah yang seharusnya ditakuti. Jangan sampai Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
takut berbuat sesuatu hal yang Allah halalkan karena takut gunjingan manusia. Setelah itu Allah
memberitahukan, bahwa Allah langsung yang akan menikahkannya setelah Zaid menceraikan
istrinya. Agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai bolehnya menikahi bekas istri anak
angkat. Adapun menikahi bekas istri anak kandung, maka hal ini terlarang.sebagaimana firman
Allah.

ْ َ‫َو َح ََلئِ ُل أَ ْبنَا ِئ ُك ُم الَّذِينَ ِم ْن أ‬


‫ص ََلبِ ُك ْم‬

(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu). [An Nisa’ : 23].

Allah berfirman dalam surat lain.

‫َما َكانَ ُم َح َّمد ٌ أَ َبا أَ َح ٍد ِم ْن ِر َجا ِل ُك ْم‬

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu [Al Ahzab : 40].

Allah berfirman di pangkal surat ini.

‫َو َما َج َع َل أَدْ ِعيَا َء ُك ْم أ َ ْبنَا َء ُك ْم ذَ ِل ُك ْم قَ ْولُ ُك ْم ِبأ َ ْف َوا ِه ُك ْم‬

Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang
demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. [Al Ahzab : 4].

Perhatikanlah bagaimana pembelaan terhadap Rasulullah ini, dan bantahan terhadap orang-orang
yang mencelanya. Wabillahit taufiq.
Tidak dipungkiri bahwa Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya. Aisyah adalah istri yang
paling dicintainya. Namun kecintaannya kepada Aisyah dan kepada lainnya tidak dapat
menyamai cintanya tertinggi , yakni cinta kepada Rabbnya.

Dalam hadis shahih.

‫يَل ًَلت َّ َخذْتُ أَبَا َب ْك ٍر‬ ِ َّ‫َولَ ْو ُك ْنتُ ُمت َّ ِخذاا ِمنَ الن‬
‫اس َخ ِل ا‬

Andaikata aku dibolehkan mengambil seorang kekasih dari salah seorang penduduk bumi, maka
aku akan menjdikan Abu Bakr (sebagai kekasih).[3]

KRITERIA MANUSIA YANG BERPOTENSI TERJANGKIT PENYAKIT AL ISYQ


Penyakit al isyq akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta)
kepada Allah, selalu berpaling dariNya dan dipenuhi kecintaan kepada selainNya. Hati yang
penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu denganNya pasti akan kebal terhadap serangan
virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf alaihis salam.

ِ َ‫ف َع ْنهُ السُّو َء َو ْالفَحْ شَا َء إِنَّهُ ِم ْن ِعبَا ِدنَا ْال ُم ْخل‬
َ‫صين‬ ْ َ‫َكذَلِكَ ِلن‬
َ ‫ص ِر‬

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf-
pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari)
Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian.
Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.….[Yusuf : 24].

Nyatalah bahwa ikhlas merupakan immunisasi manjur yang dapat menolak virus ini dengan
berbagai dampak negatifnya, berupa perbuatan jelek dan keji. Artinya, memalingkan seseorang
dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan berbagai sarana yang menjurus ke arah itu.

Berkata ulama Salaf, “Penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain
apa yang dicinta dan dipujanya. Allah berfirman mengenai ibu Nabi Musa.

‫ت لَت ُ ْبدِي ِب ِه‬


ْ َ‫ار اغا إِ ْن كَاد‬ َ ‫صبَ َح فُ َؤاد ُ أ ُ ِم ُمو‬
ِ َ‫سى ف‬ ْ َ ‫َوأ‬

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang
Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya. ([Al Qasas : 11].

Yakni kosong dari segala sesuatu, kecuali Musa; karena sangat cintanya kepada Musa dan
bergantungnya hatinya kepada Musa.
BAGAIMANA VIRUS INI BISA BERJANGKIT ?
Penyakit al isyq terjadi karena dua sebab. Pertama, karena mengganggap indah apa-apa yang
dicintainya. Kedua, perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor
ini tak ada, niscaya virus tidak akan berjangkit -walaupun penyakit kronis ini telah
membingungkan banyak orang dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya. Namun
solusi yang diberikan belum mengena.

MAKHLUK DICIPTAKAN SALING MENCARI YANG SESUAI DENGANNYA


Berkata Ibn Al Qayyim, ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hikmahNya menciptakan
makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya. Secara fitrah saling tertarik
dengan jenisnya, dan sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.

Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh, menyebabkan adanya keserasian serta
kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh akan berakibat tidak adanya keserasian
dan kesesuaian. Dengan cara inilah tegaknya urusan manusia. Allah befirman,

ِ ‫ه َُو الَّذِي َخلَقَ ُك ْم ِم ْن نَ ْف ٍس َو‬


:”‫احدَةٍ َو َجعَ َل ِم ْن َها زَ ْو َج َها ِل َي ْس ُكنَ إِلَ ْي َها‬

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya,
agar dia merasa senang kepadanya. [Al A’raf : 189].

Dalam ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan tenteram dan senang seorang lelaki terhadap
pasangannya karena berasal dari jenis dan bentuknya. Jelaslah faktor pendorong cinta tidak
bergantung dengan kecantikan rupa. Tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan
keinginan, ataupun kesamaan bentuk dan dalam mendapat petunjuk. Pun demikian tidak
dipungkiri, bahwa hal-hal ini merupakan salah satu penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.

Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadits.

َ َ‫اختَل‬
‫ف‬ َ َ‫ف ِم ْن َها ائْتَل‬
ْ ‫ف َو َما تَنَاك ََر ِم ْن َها‬ َ ‫ْاْل َ ْر َوا ُح ُجنُود ٌ ُم َجنَّدَة ٌ َف َما ت َ َع‬
َ ‫ار‬

Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan
menyatu dan yang saling mengingkari akan berselisih. [4]

Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan, bahwa asbabul wurud hadis ini yaitu ketika seorang
wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa hijrah ke Madinah, ternyata dia
tinggal dan bergaul dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya. Yaitu senang membuat orang
tertawa. Karena itulah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan hadits ini.

Karena itulah syariat Allah menghukumi sesuatu menurut jenisnya. Mustahil syariat
menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan berbeda atau mengumpulkan dua hal yang
kontradiktif. Barang siapa yang berpendapat lain, maka jelaslah karena minimnya ilmu
pengetahuannya terhadap syariat ini atau kurang memahami kaedah persamaan dan sebaliknya.

Penerapan kaidah ini tidak saja berlaku di dunia. Lebih dari itu akan diterapkan pula di akhirat.
Allah berfirman.

َ‫ظلَ ُموا َوأ َ ْز َوا َج ُه ْم َو َما كَانُوا َي ْعبُدُون‬


َ َ‫ش ُروا الَّذِين‬
ُ ْ‫اح‬

(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat
mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah. [Ash Shaffat : 22].

Umar Ibn Khatab dan setelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai tafsiran “azwajahum”
yakni yang sesuai dan mirip dengannya.

Allah juga berfirman.

ُ ُ‫َوإِذَا النُّف‬
ْ ‫وس ُز ِو َج‬
‫ت‬

dan apabila jiwa (ruh-ruh) dipertemukan. [At Takwir : 7].

Yakni setiap orang akan digiring beserta dengan orang-orang yang sama perilakunya. Allah akan
menggiring sesama orang-orang yang saling mencintai karenaNya ke dalam surga, dan orang–
orang yang saling berkasih-kasihan di atas jalan syetan digiring ke neraka Jahim. Mau tidak mau,
maka setiap orang akan digiring dengan siapa yang dicintainya. Di dalam Mustadrak Al Isyq
Hakim disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah seseorang
mencintai suatu kaum, kecuali akan digiring bersama mereka kelak.”[5]

CINTA DAN JENIS-JENISNYA


Cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan. Yang tertinggi dan paling mulia ialah
mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan di dalam agama Allah). Yaitu cinta yang
mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah, dilakukan berlandaskan cinta kepada
Allah dan RasulNya. Cinta berikutnya adalah cinta yang terjalin karena adanya kesamaan dalam
cara hidup, agama, madzhab, ideologi, hubungan kekeluargaaan, profesi dan kesamaan dalam
hal-hal lainnya.

Diantara jenis cinta lainnya yakni cinta yang motifnya karena ingin mendapatkan sesuatu dari
yang dicintainya; baik karena kedudukan, harta, pengajaran dan bimbingan, ataupun kebutuhan
biologis. Cinta yang didasari hal-hal seperti tadi -yaitu al mahabbah al ‘ardiyah- akan hilang
bersama hilangnya apa yang ingin didapatkan dari orang yang dicintainya. Yakinlah, bahwa
orang yang mencintaimu karena sesuatu, akan meninggalkanmu ketika telah mendapat apa yang
diinginkan darimu.

Adapun cinta lainnya yaitu cinta karena adanya kesamaan dan kesesuaian antara yang menyinta
dan yang dicinta. Mahabbah al isyq termasuk cinta jenis ini. Tidak akan sirna kecuali jika ada
sesuatu yang menghilangkannya. Cinta jenis ini, yaitu berpadunya ruh dan jiwa. Oleh karena itu
tidak terdapat pengaruh yang begitu besar baik berupa rasa was-was, hati yang gundah gulana
maupun kehancuran kecuali pada cinta jenis ini.

Timbul pertanyaan, bahwa cinta ini merupakan bertemunya ikatan batin dan ruh, tetapi mengapa
ada cinta yang bertepuk sebelah tangan? Bahkan kebanyakan cinta seperti ini hanya sepihak dari
orang yang sedang kasmaran saja? Jika cinta ini perpaduan antara jiwa dan ruh, maka tentulah
cinta itu akan terjadi antara kedua belah pihak dan bukan sepihak saja?

Jawabnya ialah, bahwa tidak terpenuhinya hasrat disebabkan kurangnya syarat tertentu. Atau
adanya penghalang sehingga tidak terealisasinya cinta antara keduanya. Hal ini disebabkan tiga
factor. Pertama, bahwa cinta ini sebatas cinta karena adanya kepentingan. Oleh karena itu tidak
mesti keduanya saling mencintai. Terkadang yang dicintai justru lari darinya. Kedua, adanya
penghalang sehingga seseorang tidak dapat mencintai orang yang dicintanya, baik karena adanya
cela dalam akhlak, bentuk rupa, sikap dan faktor lainnya. Ketiga, adanya penghalang dari pihak
orang yang dicintai.

Jika penghalang ini dapat disingkirkan, maka akan terjalin benang-benang cinta antara keduanya.
Kalau bukan karena kesombongan, hasad, cinta kekuasaan dan permusuhan dari orang-orang
kafir, niscaya para rasul-rasul akan menjadi orang yang paling mereka cintai lebih dari cinta
mereka kepada diri, keluarga dan harta.

TERAPI PENYAKIT AL ISYQ


Sebagai salah satu jenis penyakit, tentulah al-isyq dapat disembuhkan dengan terapi-terapi
tertentu. Diantara terapi tersebut ialah sebagai berikut,

Jika terdapat peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk meraih cinta orang yang
dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan taqdirnya, maka inilah terapi yang paling
utama. Sebagaimana terdapat dalam sahihain dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu 'anhu,
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

َّ ‫ع ِم ْن ُك ُم ْالبَا َءة َ فَ ْليَتَزَ َّو ْج َو َم ْن لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَ َعلَ ْي ِه ِبال‬


‫ص ْو ِم فَإِنَّهُ لَهُ ِو َجا ٌء‬ َ َ‫ب َم ِن ا ْست‬
َ ‫طا‬ َّ ‫* يَا َم ْعش ََر ال‬
ِ ‫شبَا‬

Hai sekalian pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah.
Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa. Karena puasa dapat menahan
dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina).

Hadis ini memberikan dua solusi, utama, dan pengganti.

Solusi pertama adalah menikah. Jika solusi ini dapat dilakukan, maka tidak boleh mencari solusi
lain. Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.

ِ‫سلَّ َم لَ ْم ن ََر ِل ْل ُمت َ َحابَّي ِْن ِمثْ َل النِكَاح‬ َ ‫صلَّى اللَّهم‬


َ ‫علَ ْي ِه َو‬ ُ ‫*قَا َل َر‬
َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬

Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan.

Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yang merdeka ataupun budak dalam
firmanNya.
,
‫ض ِعيفاا‬ َ ‫اْل ْن‬
َ ُ‫سان‬ َ ‫َّللاُ أ َ ْن يُخ َِف‬
ِ ْ َ‫ف َع ْن ُك ْم َو ُخلِق‬ َّ ُ ‫ي ُِريد‬

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. [An
Nisa : 28].

Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikan terhadap hambaNya. Dan Allah
mengetahui kelemahan manusia dalam menahan syahwatnya, sehingga memperbolehkan
menikahi para wanita yang baik-baik dua, tiga ataupun empat. Sebagaimana Allah
memperbolehkan mendatangi budak-budak wanita mereka. Sampai-sampai Allah membuka bagi
mereka pintu untuk menikahi budak-budak wanita jika mereka membutuhkannya sebagai
peredam syahwat. Demikianlah keringanan dan rahmatNya terhadap makluk yang lemah ini..

Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan akibat tertutupnya peluang menuju orang yang
dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir, maka penyakit ini bisa semakin ganas. Adapun
terapinya harus dengan meyakinkan pada dirinya, bahwa apa-apa yang diimpikannya mustahil
terjadi. Lebih baik baginya untuk segera melupakannya. Jiwa yang telah memutus harapan untuk
mendapatkan sesuatu, niscaya akan tenang dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum
terlupakan, dapat mempengaruhi keadaan jiwanya hingga semakin menyimpang jauh.

Dalam kondisi seperti ini wajib baginya untuk mencari terapi lain. Yaitu dengan mengajak
akalnya berfikir, bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang mustahil dijangkaunya itu
ibarat perbuatan gila. Ibarat pungguk merindukan bulan. Bukankah orang-orang akan
mengganggapnya termasuk ke dalam kumpulan orang-orang yang tidak waras?

Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya terhalang karena larangan
syariat, maka terapinya yaitu dengan mengangap bahwa yang dicintainya itu bukan ditakdirkan
menjadi miliknya. Jalan keselamatan ialah dengan menjauhkan dirinya dari yang dicintainya. Dia
harus merasa bahwa pintu ke arah yang diingininya tertutup, dan mustahil tercapai.

Jika ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran masih tetap menuntut,
hendaklah dia mau meninggalkannya karena dua hal.

Pertama : Karena takut (kepada Allah). Yaitu dengan menumbuhkan perasaan, bahwa ada hal
yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih baik dan lebih kekal. Seseorang yang berakal
jika menimbang-nimbang antara mencintai sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih
layak untuk dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, tentu akan memilih yang
lebih tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang tidak
terlintas dalam pikiranmu menggantikannya dengan kenikmatan sesaat yang segera berbalik
menjadi sumber penyakit. Ibarat orang yang sedang bermimpi indah, ataupun berkhayal terbang
melayang jauh, maka ketika tersadar ternyata hanyalah mimpi dan khayalan. Akhirnya sirnalah
segala keindahan semu. Yang tertinggal hanyalah keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan
menunggu.

Kedua : Keyakinan bahwa berbagai resiko yang sangat menyakitkan akan ditemuinya jika gagal
melupakan yang dikasihinya. Dia akan mengalami dua hal yang menyakitkan sekaligus. Yaitu :
gagal mendapatkan kekasih yang diinginkannya, serta bencana menyakitkan dan siksa yang pasti
akan menimpanya. Jika yakin bakal mendapatkan dua hal menyakitkan ini, niscaya akan mudah
baginya meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta. Dia akan bepikir, bahwa sabar
menahan diri itu lebih baik. Akal, agama , harga diri dan kemanusiaannya akan
memerintahkannya untuk bersabar, demi mendapatkan kebahagiaan abadi. Sementara
kebodohan, hawa nafsu, kedzalimannya akan memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan
apa yang dikasihinya. Sungguh, orang yang terhindar ialah orang-orang yang dipelihara oleh
Allah.

Jika hawa nafsunya masih tetap ngotot dan tidak menerima terapi tadi, maka hendaklah berfikir
mengenai dampak negatif dan kerusakan yang akan ditimbulkannya segera, dan kemasalahatan
yang akan gagal diraihnya. Sebab mengikuti hawa nafsu dapat menimbulkan kerusakan dunia
dan menepis kebaikan yang bakal diterimanya. Lebih parah lagi, dengan memperturutkan hawa
nafsu ini akan menghalanginya untuk mendapat petunjuk yang merupakan kunci keberhasilan
dan kemaslahatannya.

Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah dia selalu mengingat sisi-sisi keburukan
kekasihnya dan hal-hal yang dapat membuatnya menjauh darinya. Jika dia mau mencari-cari
kejelekan yang ada pada kekasihnya, niscaya dia akan mendapatkannya lebih dominan daripada
keindahannya. Hendaklah dia banyak bertanya kepada orang-orang yang berada disekeliling
kekasihnya tentang berbagai kejelekannya yang belum diketahuinya. Sebab sebagaimana
kecantikan sebagai faktor pendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya, maka demikian
pula kejelekan merupakan pendorong kuat agar dapat membenci dan menjauhinya. Hendaklah
dia mempertimbangkan dua sisi ini dan memilih yang terbaik baginya. Jangan terperdaya karena
kecantikan kulit, dan membandingkannya dengan orang yang terkena penyakit sopak atau kusta.
Tetapi hendaklah dia memalingkan pandangannya kepada kejelelekan sikap dan perilakunya.
Hendaklah dia menutup matanya dari kecantikan fisik dan melihat kepada kejelekan yang
diceritakan mengenai hatinya.

Jika terapi ini masih saja tidak mempan baginya, maka terapi terakhir yaitu mengadu dan
memohon dengan jujur kepada Allah penolong orang-orang yang ditimpa musibah jika
memohon kepadaNya. Hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya di hadapan kebesaranNya
sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Jika dia dapat melaksanakan terapi akhir
ini, maka sesungguhnya dia telah membuka pintu taufik (pertolongan Allah). Hendaklah dia
berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan perasaannya. Jangan menjelek-jelekkan
kekasihnya dan mempermalukannya di hadapan manusia ataupun menyakitinya. Sebab hal
tersebut merupakan kedzaliman dan melampaui batas.

PENUTUP
Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun ibarat kata pepatah,
mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum terkena virus ini, maka lebih baik
menghindar. Bagaimana cara menghindarinya? Tidak lain, yaitu dengan tazkiyatun nafs. Semoga
pembahasan ini bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Diterjemahkan Oleh Ahmad Ridwan Abu Fairuz Al Medani. Dari Kitab Zadul Ma’ad Fi
Hadyi Khairi Ibad, Juz 4, Hal. 265-274.
[2]. Ini berita batil yang diriwayatkan oleh Ibn Sa’ad dalam At Tabaqat 8/101-102, dan Al
Hakim 3/23 dari jalan Muhammad Ibn Umar Al Waqidi, seorang yang matruk (ditinggalkan).
Dan sebagian menggapnya sebagai pemalsu hadis; dari Muhammad Ibn Yahya Ibn Hibban,
seorang yang tsiqah , namun riwayat yang diriwayatkannya dari Nabi seluruhnya mursal.
Kebatilah riwayat ini telah diterangkan oleh para ulama al muhaqqiqin. Mereka berkata, “Penukil
riwayat ini dan yang menggunakan ayat ini sebagai dalil atas prasangka buruk mereka mengenai
Rasulullah, sebenarnya tidak meletakkan kedudukan kenabian Rasulullah sebagaimana layaknya,
dan tidak mengerti makna kemaksuman Beliau. Sesungguhnya yang disembunyikan Nabi di
dalam dirinya dan belakangan Allah nampakkan adalah berita yang Allah disampaikan padanya,
bahwa kelak Zainab akan menjadi istrinya. Faktor yang membuat nabi menyembunyikan berita
ini tidak lain disebabkan perasaan takut beliau terhadap perkataan orang, bahwa Beliau tega
menikahi istri anak angkatnya . Sebenarnya dengan kisah ini Allah ingin membatalkan tradisi
jahiliyyah ini dalam masalah adopsi. Yaitu dengan menikahkan Rasulullah dengan istri anak
angkatnya.Peristiwa yang terjadi dengan Rasulullah ini sebagai pemimpin manusia akan lebih
diterima dan mengena di hati mereka.. Lihat Ahkam Al Quran 3/1530,1532, Karya Ibn Arabi dan
Fathul Bari8/303, Ibn Kastir 3/492, dan Ruhul Ma’ani 22/24-25.
[3]. Hadis diriwaytkan oleh Bukhari 7/15 dalam bab Fadhail Sahabat Nabi, dari jalan Abdullah
Ibn Abbas, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2384) dalam Fadhail Sahabat, Bab Keutamaan
Abu Bakar, dari jalan Abdullah Ibn Masud, dan keduanya sepakat meriwayatkan dari jalan Abu
Sa’id Al Khudri.
[4]. Hadis Riwayat Bukhari 7/267dari hadis ‘Aisyah secara muallaq, dan Muslim (2638) dari
jalan Abu Hurairah secara mausul
[5]. Diriwayatkan oleh Ahmad 6/145, 160, dan An Nasai dari jalan ‘Aisyah. Bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku bersumpah terhadap tiga hal, Allah tidak akan
menjadikan orang-orang yang memiliki saham dalam Islam sama dengan orang yang tidak
memiliki saham. Saham itu yakni: Shalat, puasa dan zakat. Tidaklah Allah mengangkat
seseorang di dunia, kemudain ada selainNya yang dapat mengangkat (derajatnya) di hari kiamat.
Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali kelak Allah akan menggumpulkannya bersama
(di akhirat). Kalau boleh aku bersumpah terhadap yang keempat dan kuharap aku tidak berdosa
dalam hal ini, yaitu tidaklah seseorang memberi pakaian kepada orang lain (untuk menutupi
auratnya), kecuali Allah akan memberinya pakaian penutup di hari kiamat.” Para perawi hadits
ini tsiqah, kecuali Syaibah Al Khudri (di dalam Musnad di tulis keliru dengan Al Isyq Hadrami).
Dia meriwayatkan dari Urwah, dan dia tidak di tsiqahkan kecuali oleh Ibn Hibban. Namun ada
syahidnya dari hadits Ibn Masud dari jalur Abu Ya’la, dan Thabrani dari jalur Abu Umamah.
Dengan kedua jalan ini, maka hadits ini menjadi shahih.

Madzhab Dan Perkembangannya


Senin, 21 Februari 2011 22:42:04 WIB

MADZHAB DAN PERKEMBANGANNYA

Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi

Kata madzhab berasal dari kata bahasa Arab َ‫ ذُه ُْوباا – َمذْ َهباا‬- ‫ ذَهَاباا‬- ُ‫ يَذْهَب‬-‫َب ذ‬
َ ‫ ه‬, yang maknanya
berjalan (pergi) atau lewat. Sedangkan ُ‫ ْال َم ْذهَب‬, maknanya ialah i`tiqad, jalan dan ushul (prinsip-
prinsip) yang dijalankannya [1]. Misalnya seperti pernyataan, “madzhab kami adalah madzhab
sepuluh orang yang dijamin masuk syurga dan Imam Ahmad” [2].

Pada umumnya, bila membicarakan madzhab, seseorang kemudian mengacu kepada


permasalahan fiqhiyah. Padahal madzhab itu mencakup juga yang berkait dengan keyakinan dan
aqidah. Oleh karenanya, sering digunakan para ulama untuk menyatakan keyakinan dan i`tiqad
Ahlu Sunnah, seperti pernyataan Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash Shabuni
(wafat 449H) ketika menjelaskan aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah : “Dan termasuk madzhab
Ahli Hadits, iman adalah perkataan dan perbuatan serta ma’rifah (ilmu), bertambah dengan
ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan” [3]. Beliau juga menyatakan : “Diantara madzhab
Ahlu Sunnah wal Jamaah…” [4]

Dengan demikian, merupakan kekeliruan bila seseorang yang fanatik terhadap satu madzhab
(misalnya madzhab Syafi’i), tetapi hanya mengambil madzhabnya dalam bidang fiqih dan
meninggalkan aqidah yang diyakini Imam Syafi’i. Atau yang mengklaim diri bermahdzab
Hanbali, tetapi tidak mengikuti masalah i’tiqad Imam Ahmad bin Hanbal. Atau yang lainnya.
Fenomena seperti ini banyak menghinggapi para pengikut madzhab yang ada, yakni mereka
bersikukuh menyatakan diri bermadzhab imam tertentu, namun aqidah dan amalannya jauh dari
imam yang “katanya” diikutinya tersebut.

Kenyataan seperti ini telah lama melintas dalam sejarah berkembangnya madzhab-madzhab.
Terlebih lagi dengan masuknya kitab-kitab Persia, India dan Rumawi dengan ajaran filsafatnya,
yang turut berperan melahirkan pemikiran dan madzhab baru dan menyesatkan. Kemudian
berkembang sebagai madzhab bid’ah yang menyimpang.

Fakta tak terbantahkan, pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, umat Islam adalah
satu dan hanya mengikuti petunjuk Rasulullah dalam seluruh permasalahan. Setelah Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, umat Islam memasuki periode berikutnya. Seiring dengan
perjalanan waktu, semakin hari semakin jauh dari masa kenabian dan jauh dari kota Madinah,
hingga kemudian bermunculan madzhab-madzhab bid’ah. Kota-kota yang dihuni oleh banyak
para sahabat Nabi, relatif lebih sulit dan sedikit bid’ahnya dibandingkan dengan kota lainnya.
Sebab di kota-kota tempat banyak sahabat Nabi bermukim itu, menjadi tempat berkembangnya
ilmu dan iman. Kota-kota tersebut meliputi Mekkah, Madinah, Bashrah, Kufah dan Syam. Di
antara kota-kota tersebut, hanya kota Madinahlah yang tidak muncul bid’ah sampai selesai masa
tabi-it tabi’in. Adapun di kota lainnya bermunculan bid’ah. Di kota Kufah muncul bid’ah Syi’ah
dan Murji’ah. Di kota Bashrah muncul Qadariyah, Mu’tazilah dan Shufiyah. Di kota Syam
muncul bid’ah Nawashib [5]. Berbeda dengan lainnya, di kota Madinah kebid’ahan tidak
berkembang sampai zaman murid-murid Imam Malik yang merupakan qurun (generasi)
keempat.
Syaikhul Islam menceritakan perkembangan pemikiran-pemikiran bid’ah di kalangan umat Islam
ini :

Perlu diketahui, umumnya bid’ah-bid’ah yang berhubungan dengan aqidah dan ibadah ini, terjadi
pada masa-masa akhir kekhalifahan Khulafa-ar Rasyidin, sebagaimana diberitakan Rasulullah
dalam sabdanya :

َّ َ‫اء ْال َم ْهدِيِين‬


َ‫الرا ِشدِين‬ ِ َ‫سنَّ ِة ْال ُخلَف‬ ُ ِ‫يرا فَعَلَ ْي ُك ْم ب‬
ُ ‫سنَّتِي َو‬ ‫اختِ ََلفاا َكثِ ا‬ َ َ‫ش ِم ْن ُك ْم َب ْعدِي ف‬
ْ ‫سيَ َرى‬ ْ ‫َم ْن يَ ِع‬

Barangsiapa yang masih hidup dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka
berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah para Khalifa-ar Rasyidin. [Hadits shahih
lighairihi. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya 4/126, Ad Darimi dalam
muqaddimah Sunan-nya, At Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no 42 dan 44. Lihat takhrij
Muhamad Umar Bazmul dalam kitab Al Intishar Li Ahli Al Hadits, hlm. 35].[6]

Pernyataan beliau selanjutnya: Ketika negara Khulafa-ar Rasyidin habis dan berganti menjadi
kerajaan, maka muncullah kekurangan pada pemerintah, dan ini diikuti juga dengan munculnya
kekurangan pada ulamanya; sehingga muncullah pada Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dua
kebid’ahan, yaitu Khawarij dan Rafidhah. Dua kebid’ahan ini berhubungan dengan masalah
imamah dan khilafah serta amalan dan hukum-hukum syari’at yang terkait dengannya.[7]

Di bagian lainnya, Syaikhul Islam menyatakan: Ketika terjadi perpecahan setelah terbunuhnya
Khalifah Utsman, muncul bid’ah Khawarij dan Syi’ah dengan tiga alirannya. Yang ekstrim
dibakar oleh Ali bin Abi Thalib. Syi’ah Mufadhalah dicambuk delapan puluh kali oleh Ali.
Sedangkan aliran Saba’iyah diancam oleh Imam Ali (untuk dimusnahkan). Sementara Ibnu Saba’
dicari untuk dibunuh, namun berhasil melarikan diri.[8]

Kemudian setelah berakhirnya pemerintahan Mu’awiyah dan Yazid bin Mu’awiyah, umat Islam
terpecah-belah. Ibnu Taimiyah menyatakan: Kemudian Yazid meninggal dunia dan umat Islam
berpecah-belah. Ibnu Az Zubair memerintah di Hijaz. Banu Al Hakam memerintah di Syam. Al
Mukhtar bin Abu Ubaid dan lainnya merebut Iraq. Ini terjadi di akhir masa sahabat. Pada masa
mereka masih tersisa sahabat-sahabat, seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin
Abdillah, Abu Sa’id Al Khudri dan sejawatnya. Pada masa inilah muncul bid’ah Qadariyah dan
Murji’ah. Yang kemudian para sahabat seperti Ibnu Abas, Ibnu Umar [9], Jabir [10] dan
Watsilah bin Al Asqaa’ serta yang lainnya membantah bid’ah ini dengan tetap membantah
kebid’ahan Khawarij dan Rafidhah.

Pada umumnya, ketika itu madzhab Qadariyah hanya berbicara pada masalah amalan hamba
(a’mal al ibad) sebagaimana Murji’ah juga berbicara dalam permasalahan ini, sehingga mereka
hanya berbicara tentang masalah taat dan maksiat, mu`min dan fasiq, dan yang sejenisnya dari
masalah asma wa ahkam [11] dan al wa’d wa al wa’id [12]. Pembicaraa mereka belum meluas
pada pembahasan yang menyangkut Rabb dan sifat-sifatNya, kecuali pada akhir-akhir masa
shighar tabi’in, tepatnya di akhir kekhalifahan Bani Umayah (awal abad ketiga) –tabi`it tabi’in-
(yaitu) ketika kebanyakan dari tabi’in telah wafat.[13]

Selanjutnya Syaikhul Islam menyatakan: Lalu sebagian kitab-kitab Persia, India dan Rumawi
dialih bahasakan ke dalam bahasa Arab, dan muncullah apa yang disabdakan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam :

ُ ‫ف َوًلَ يُ ْستَحْ َل‬


‫ف‬ َّ َ‫شو ْال َكذِبُ َحتَّى يَ ْش َهد‬
ُ ‫الر ُج ُل َو ًلَ يُ ْستَ ْش َهد ُ َو يَحْ ِل‬ ُ ‫ث ُ َّم يَ ْف‬

Kemudian tersebarlah kedustaan sampai seseorang bersaksi padahal tidak dimintai persaksian,
dan bersumpah tanpa diminta bersumpah.

Muncullah tiga kebid’ahan, yaitu ar ra`yu [14], al kalam (filsafat ketuhanan) dan tashawuf.
Kemudian muncul bid’ah tajahhum (Jahmiyah), yaitu jenis bid’ah yang melakukan penolakan
terhadap sifat-sifat Allah. Juga muncul bid’ah tamtsil. [15]

Berkaitan dengan munculnya bid’ah Jahmiyah ini, Ibnu Taimiyah menyatakan : Adapun
Jahmiyah, mereka muncul pada akhir zaman tabi’in setelah wafatnya Umar bin Abdul Aziz.
Jahm bin Shafwan muncul di kota Khurasaan pada zaman kekhalifahan Hisyam bin Abdul
Malik.[16]

Ibnul Qayyim memaparkan secara ringkas sejarah yang disampaikan gurunya di atas dengan
pernyataannya: Pada akhir masa sahabat, muncullah bid’ah Qadariyah. Para sahabat yang masih
hidup, seperti Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas dan yang semisalnya mengingkarinya. Setelah
habis masa sahabat, muncullah bidah irja’ (Murji’ah), dan para kibar tabi’in pun membantahnya.
Usai masa tabi’in, kemudian muncul bid’ah tajahhum (Jahmiyah). Bid’ah ini kian membesar dan
menyebarkan syubhat keburukannya pada zaman para imam, seperti Imam Ahmad dan yang
semisalnya. Setelah itu, kemudian muncul bid’ah hulul (Hululiyah, yakni beranggapan bahwa
Allah menempati makhluk), dan berkembang pada zaman Al Husain Al Hallaj. Setiap kali setan
memunculkan satu kebid’ahan dan yang lainnya, maka Allah membangkitkan sebagian tentara
pembelaNya yang membantah dan memperingatkan kaum muslimin dari bid’ah-bid’ah tersebut.
[17]

Ibnu Hajar sendiri menjelaskan, bahwa setelah penulisan hadits Nabi muncullah penulisan tafsir
Al Qur’an, kemudian dibukukan masalah-masalah fiqih yang lahir dari ra’yu murni, kemudian
dibukukan masalah yang berhubungan dengan amalan-amalan hati (tashawuf).
Adapun yang pertama (pembukuan hadits) diingkari oleh Umar, Abu Musa dan sejumlah sahabat
lainnya, sedangkan mayoritas sahabat membolehkannya. Adapun yang kedua (penulisan tafsir Al
Qur’an) diingkari oleh sejumlah tabi’in, diantaranya ialah Asy Sya’bi. Adapun yang ketiga
(dibukukannya masalah fiqih berdasarkan ra`yu murni) diingkari oleh Imam Ahmad dan
sejumlah ulama. Imam Ahmad juga lebih mengingkari lagi (dibukukannya) masalah yang
setelahnya (yaitu tashawuf).

Diantara yang muncul dan juga berkembang ialah, dibukukannya pendapat-pendapat yang
berkaitan dengan pokok-pokok agama, sehingga berkembanglah kelompok mutsbitah (yang
menetapkan sifat Allah) dan an nufah (yang menolak sifat Allah). Kelompok pertama
(Mutsbitah) menjadi ekstrim sampai menyerupakan Allah dengan makhluk. Dan kelompok yang
kedua (An Nufah), menolak semua sifat Allah (muaththil).

Para salaf, seperti Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Asy Syafi’i sangat keras mengingkari kelompok
ini. Pernyataan para ulama Salaf dalam mencela ilmu kalam sudah mashur. Sebabnya, karena
orang-orang yang menyerupakan dan menolak sifat-sifat Allah mempermasalahkan hal-hal yang
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak membicarakannya.

Imam Malik menyatakan, pada zaman Nabi, Abu Bakar dan Umar, sedikitpun tidak ada
kebid’ahan, baik bid’ah Khawarij, Rafidhah, maupun Qadariyah. Bid’ah-bid’ah ini kemudian
berkembang lebih luas pada masa berakhirnya tiga generasi utama, berkaitan dengan sebagian
besar perkara yang telah diingkari para tabi’in dan tabi’it tabi’in. Mereka tidak puas hanya
dengan bid’ah tersebut, bahkan kemudian mereka mencampur adukkan masalah-masalah agama
dengan filsafat Yunani dan menjadikan filsafat sebagai dasar rujukan untuk menta`wil atsar
(nash-nash syar’i) yang menyelisihi filsafat tersebut walaupun dipaksakan. Kemudian juga tidak
cukup hanya dengan ini, bahkan mereka menganggap apa yang disusunnya itu sebagai ilmu yang
paling mulia dan utama untuk dipelajari. Seseorang yang tidak menggunakan istilah yang mereka
buat tersebut, dianggap sebagai orang awam yang bodoh. Padahal, orang yang berbahagia adalah
orang yang berpegang teguh pada ajaran Salaf dan menjauhi kebid’ahan orang-orang khalaf [18].

Demikianlah orang-orang yang menganggap pemikirannya lebih baik dari nash-nash syar’i.
Setelah itu bermunculanlah sikap taklid buta, yang pada gilirannya menyebabkan kaum muslimin
jauh dari kemulian dan kejayaan yang pernah dinikmati para salafush shalih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melengkapi pernyataannya di atas dengan menyatakan: Orang-
orang bid’ah terdahulu (mutaqaddimun) yang meletakkan dasar pemikiran ilmu kalam, tasawuf
dan yang lainnya, mereka masih menghimpun pemikiran-pemikirannya mengacu kepada Al
Qur’an, Sunnah dan Atsaar, karena masanya masih dekat (dengan generasi terbaik), dan juga
cahaya Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masih tampak tinggi, walaupun pada sebagian
orang, cahaya Sunnah ini telah tercampuri kegelapan yang lainnya. (Berbeda dengan) orang-
orang akhir (mutaakhirun), mereka banyak yang lepas dari kaidah yang diletakkan para
pendahulunya. Misalnya, orang yang menulis kitab ilmu kalam dari kalangan mutaakhirin, yang
hanya memuat kaidah-kaidah berfikir bid’ah saja dan berpaling dari Kitabullah dan Sunnah. Juga
menjadikan keduanya sebagai rujukan pelengkap saja, atau beriman kepada keduanya secara
global saja, atau perkaranya keluar sehingga sampai menjadi zindiq. Ahli kalam mutaqaddimun
lebih baik dari mutaakhir. Demikian juga yang menulis pembahasan ar ra`yu, hanya menjelaskan
pemikiran imamnya dan para pendukungnya saja, dan berpaling dari Al Qur`an dan Sunnah,
serta menimbang kandungan Al Qur’an maupun Sunnah berdasarkan pemikiran imamnya saja,
sebagaimana banyak dari kalangan (yang mengklaim dirinya) sebagai pengikut madzhab Abu
Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad [19].

Demikian nyata penjelasan Ibnu Taimiyah di atas, yang dikatakan saat beliau masih hidup.
Bagaimana pula dengan kondisi saat ini, yang kian jauh dari masa kenabian? Begitulah, hingga
akhirnya madzhab seolah menjadi segala-galanya. Semua yang menyelisihi madzhab, meskipun
datang dari Al Qur’an dan Sunnah, maka harus ditinggalkan. Bahkan sampai muncul perkataan
“yang tidak bermadzhab satu dianggap sesat”. Tidak cukup sampai disini, bahkan sampai ada
yang melarang meneliti langsung Al Qur`an dan Sunnah, dengan dalih bila madzhab telah
mencukupinya. La haula wala quwwata illa billah..

Mengambil hikmah dari sejarah umat Islam ini, fakta membuktikan bahwa jauhnya kaum
muslimin dari Al Qur`an dan Sunnah serta pemahaman para salafush shalih telah mengakibatkan
kaum muslimin jatuh ke dalam jurang kehancuran dan taklid buta. Oleh karenanya, sudah
menjadi keharusan bagi kita untuk menjadikan Al Qur`an dan Sunnah sebagai pelindung dari
semua kesesatan dan kehancuran, dan menjadikan keduanya sebagai sumber pelita kehidupan
kita. Allah Ta’ala berfirman:

‫ص َبحْ تُم ِب ِن ْع َم ِت ِه ِإ ْخ َواناا‬ ْ َ ‫ف َبيْنَ قُلُو ِب ُك ْم َفأ‬ َ َّ‫َص ُموا ِب َح ْب ِل هللاِ َج ِمي اعا َوًلَ ت َ َف َّرقُوا َوا ْذ ُك ُروا ِن ْع َمتَ هللاِ َعلَ ْي ُك ْم ِإذْ ُكنت ُ ْم أَ ْعدَآ اء فَأَل‬
ِ ‫َوا ْعت‬
َ‫ار فَأَنقَذَ ُكم ِم ْن َها َكذَلِكَ يُ َب ِينُ هللاُ لَ ُك ْم َءا َيا ِت ِه لَ َعلَّ ُك ْم تَ ْهتَدُون‬ ِ َّ‫شفَا ُح ْف َرةٍ ِمنَ الن‬ َ ‫َو ُكنت ُ ْم َعلَى‬

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-
berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-
musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang
yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu
daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk. [Ali Imran:103].

Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa-alihi wa shahbihi wa sallam.

Maraji`:
1. Al Qamus Al Muhith, Muhammad bin Ya’qub Al Fairyuzabadi (wafat tahun 817 H), tahqiq
Muhammad Na’im Al Urqusysi, Cetakan kelima, Tahun 1416 H, Muassasah Ar Risalah.
2. Al Kuliyat, Mu’jam Fi Al Mushthalahat Wa Al Furuq Al Lughawiyah, Ayub bin Musa Al
Husaini Al Kafawi (wafat 1094 H), tahqiq ‘Adnan Darus dan Muhammad Al Mishri, Cetakan
pertama, Tahun 1412H, Muassasah Ar Risalah, Beirut.
3. Aqidah As Salaf Wa Ash-habul Hadits, Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash Shabuni
(wafat 449H ), tahqiq Dr. Nashir bin Abdurrahman Al Judai`, Cetakan kedua, Tahun 1419H, Dar
Al ‘Ashimah.
4. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah.
5. Taqrib At Tadmuriyah, Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, tahqiq Sayyid Abbas bin Ali Al
Julaimi, Cetakan pertama, Tahun 1413H, Maktabah As Sunnah, Mesir.
6. Al Intishar Li Ahli Al Hadits, Muhammad bin Umar Salim Bazamul, Cetakan pertama, Tahun
1418H, Dar Al Hijrah, KSA.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat Al Qamus Al Muhith, Muhammad bin Ya’qub Al Fairyuzabadi (wafat tahun 817 H),
tahqiq Muhammad Na’im Al Urqusysyi, Cetakan kelima, Tahun 1416 H, Muassasah Ar Risalah,
Beirut, hlm. 111.
[2]Lihat Al Kuliyat, Mu’jam Fi Al Mushthalahat Wa Al Furuq Al Lughawiyah, Ayub bin Musa
Al Husaini Al Kafawi (wafat 1094 H), tahqiq ‘Adnan Darus dan Muhammad Al Mishri, Cetakan
pertama, Tahun 1412H, Muassasah Ar Risalah, Beirut, hlm. 878.
[3]. Aqidah Al Salaf Wa Ash-habul Hadits, Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash Shabuni
(wafat 449H), tahqiq Dr. Nashir bin Abdurrahman Al Judai`, Cetakan kedua, Tahun 1419H, Dar
Al ‘Ashimah, hlm. 264.
[4]. Ibid, hlm. 285.
[5]. Lihat Majmu’ Fatawa, 20/300-301.
[6]. Lihat pula Majmu’ Fatawa, 10/354.
[7]. Ibid, 10/356.
[8]. Ibid, 20/301.
[9]. Lihat bantahan beliau terhadap Qadariyah, hadits no. 8 kitab Al Iman dalam Shahih Muslim.
[10]. Ibid, hadits no. 191.
[11]. Penamaan seseorang dengan mukmin atau kafir dan hukumnya di dunia dan akhirat.
[12]. Masalah janji dan ancaman yang ada dalam nash-nash dan penerapannya.
[13]. Majmu’ Fatawa, 10/357.
[14]. Yang dimaksud disini adalah menjadikan akal sebagai sumber rujukan dan lebih
mengutamakannya daripada nash Al Qur`an atau Sunnah. Lihat Al Intishar Li Ahli Al Hadits,
Muhammad bin Umar Salim Bazamul, Cetakan pertama, Tahun 1418 H, Dar Al Hijrah, KSA,
hlm. 21.
[15]. Ibid, 10/358.
[16]. Ibid, 20/302.
[17]. Lihat Tahdzib Sunan Abi Dawud (7/61), hadits no. 4527. Kami nukil dari Taqrib At
Tadmuriyah, Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, tahqiq Sayyid Abbas bin Ali Al Julaimi,
Cetakan pertama, Tahun 1413H, Maktabah As Sunnah, Mesir, hlm. 12.
[18]. Dinukil dari Taqrib At Tadmuriyah, hlm. 12-13 dengan merujuk kepada Fathul Bari
(13/253).
[19]. Majmu’ Fatawa, 10/366.

Mendo'akan Anak Ciri Pendidik Ideal


Minggu, 20 Februari 2011 22:20:06 WIB

MENDO'AKAN ANAK CIRI PENDIDIK IDEAL

Oleh
Al Maghriby bin As Sayyid Mahmud Al Maghriby

Allah Azza wa Jalla berfirman.

ِ ‫سأ َ َلكَ ِع َبادِي َع ِني فَإ ِ ِني قَ ِريبٌ أ ُ ِجيبُ دَع َْوةَ الدَّاعِ ِإذَا دَ َع‬
‫ان‬ َ ‫َو ِإذَا‬

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka(jawablah) bahwasannya


Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon
kepada-Ku. [Al Baqarah : 186]

Allah Azza wa Jalla berfirman.

ُ ‫ط َّر ِإذَا دَ َعاهُ َويَ ْكش‬


‫ِف السَّو َء‬ ْ ‫أ َ َّمن ي ُِجيبُ ْال ُم‬
َ ‫ض‬

Atau siapakah yang memperkenankan (Do’a) orang yang dalam kesulitan apa bila ia berdo’a
kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan. [An Naml : 62]

Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

ُ ‫الدُّ َعا ُء ه َُو ْال ِعبَادَة‬


Berdoa itu adalah Ibadah. [1]

Wahai para pendidik, doa sangat memberi manfaat kepada anak dan menambah keteguhan dan
kesolehan mereka serta orang akan selalu mendapat hidayah dan petunjuk kepada jalan yang
lurus.

Oleh sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong kita agar selalu berdoa untuk kebaikan
anak, sebab doa akan menambah keberkahan dan kebaikan pada anak. Maka Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kepada kita mendoakan buruk atas anak sebagaimana
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

‫سا َعةا إًلَّ يَسْأ ُل فِ ْي َها َعطا َ اء‬


َ ‫ َوًلَ ت ُ َوافِقُ ْوا ِمنَ هللا‬,‫ًلَ تَدْع ُْوا َعلَى أ َ ْنفُ ِس ُك ِم َوًلَ تَدْع ُْوا َعلَى أ َ ْوًلَ ِد ُك ْم َوًلَ تَدْع ُْوا َعلَى ِأم َوا ِل ُك ْم‬
‫فَيَ ْست َِجيْبُ َل ُك ْم‬.

Janganlah kalian berdoa buruk atas dirimu, jangan berdoa buruk atas anakmu, dan jangan berdoa
buruk atas hartamu sebab bila kalian tepat pada saat yang dikabulkan Allah ketika kamu
meminta suatu permintaan maka Allah akan mengabulkannya.

Seorang laki-laki datang kepada Abdullah Ibnu Mubarak yang mengeluhkan tentang kenakalan
anaknya, maka Beliau bertanya kepadanya,” Apakah kamu pernah berdoa buruk atasnya? ia
menjawab,”Ya”. Ibnu Mubarak berkata,” Kamulah yang merusaknya”.

Wahai para pendidik, daripada anda merusak anak maka lebih baik anda menjadi sebab baiknya
anak dan datangnya keberkahan dalam hidup mereka lewat cara berdoa baik untuk mereka
seperti yang dilakukan oleh pendidik utama, Muhammad dan para rasul serta para nabi.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah merangkulku ke dadanya lalu bersabda.

َ ‫اللَّ ُه َّم َع ِل ْمهُ ْال ِح ْك َمةَ َوفِي ِر َوا َي ٍة َع ِل ْمهُ ْال ِكت‬
‫َاب‬

Ya Allah ajarkanlah kepadanya Al hikmah” dalam riwayat lain “Ajarkanlah kepadanya Al Kitab.

Dengan karunia Allah Azza wa Jalla berkat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Ibnu
Abbas Radhiyallahu 'anhu menjadi pemuka ulama dan ahli tafsir Al-Qur’an.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berdoa untuk kebaikan anak-anak ketika dalam keadaan
bepergian, sebab dia pada saat itu sangat dikabulkan. Beliau berdoa.
‫ب فِي ْال َما ِل‬ ِ ‫س ْو ِء ْال ُم ْنقَ ِل‬ َ ‫سفَ ِر َوكَآ َب ِة ْال َم ْن‬
ُ ‫ظ ِر َو‬ ِ َ‫ اللَّ ُه َّم ِإنِي أَع ُْوذُ بِكَ ِم ْن َو ْعث‬,‫سفَ ِر َو ْال َخ ِل ْيفَةَ فِي اْْل َ ْه ِل‬
َّ ‫اء ال‬ َّ ‫ب فِي ال‬
َ ‫اح‬
ِ ‫ص‬َّ ‫اللَّ ُه َّم أ َ ْنتَ ال‬
‫ َواْل ْه ِل َو ْال َولَ ِد‬.

Ya Allah Engkau adalah teman dalam perjalanan, pengganti di keluarga. Ya Allah sesungguhnya
aku berlindung kepada-Mu dari gangguan perjalanan, kegelisahan penungguan dan buruknya
kembali pada harta, keluarga dan anak.

Kaum Ibu pernah datang kepada Rasulullah agar Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa
untuk anak-anak mereka.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Ummu Sulaim berkata,” Wahai
Rasulullah, Anas menjadi pembantumu maka berdoalah kepada Allah untuk kebaikannya”. Maka
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa.

َ ‫اركَ فِ ْي َما أَ ْع‬


ُ‫ط ْيتَه‬ َ َ‫اللَّ ُه َّم أ َ ْكثِ ْر َمالَهُ َوولَدَهُ َوب‬

Ya Allah berikanlah kepada Anas harta dan anak yang banyak dan berkahilah apa-apa yang
engkau berikan kepadanya.

Dalam riwayat Bukhari bahwa Anas Radhiyallahu 'anhu berkata,” Ummu Sulaim membawaku
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menutupi badanku dengan setengah
tudungnya dan setengah selendangnya. Maka ia berkata,” Wahai Rasulullah, anak ini bernama
Unais aku membawanya kepadamu untuk menjadi pembantumu, maka berdoalah kepada Allah
untuk kebaikannya”. Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa.

ُ‫اللَّ ُه َّم أ َ ْك ِث ْر َمالَهُ َوولَدَه‬

Ya Allah berikanlah kepada Anas harta dan anak yang banyak.

Anas Radhiyallahu 'anhu berkata,” Demi Allah hartaku banyak dan sungguh anak dan cucuku
sampai seratus orang sejak hari ini”.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Khildah berkata bahwa Abu Aliyah pernah mendengar
Anas Radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku membantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
selama sepuluh tahun dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa kepadaku untuk kebaikan
maka aku punya kebun buah-buahan yang bisa panen setahun dua kali sementara dalam kebun
juga ada pohon raihan untuk bahan minyak kasturi”.

Berdoa merupakan perihal yang menjadi ciri utama pendidik yang berhasil yang pasti bisa
dipetik buah dan hasilnya sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
‫َوقَا َل َربُّ ُك ُم ادْعُونِي أَ ْست َِجبْ لَ ُك ْم‬

Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. [Ghafir :
60]

Dalam memenuhi panggilan Allah tersebut, para nabi dan rasul selalu berdoa untuk kebaikan
anak cucu mereka.

Bukanlah kemiskinan yang menjdikan mereka cemas dan risau. Sebab tidak ada kerisauan dan
kemalangan yang lebih besar daripada orang yang melepas keimanan demi mengejar dunia yang
fana. Melepas iman apapun sebabnya merupakan sebab kecelakaan dunia dan akhirat. Oleh
sebab itu para nabi selalu mewanti-wanti kepada keturunan mereka agar senantiasa menjaga
benteng iman yang merupakan sebab keberhasilan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Allah Azza wa Jalla berfirman ketika menceritakan doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya.

َ‫َربَّنَا َواجْ عَ ْلنَا ُم ْس ِل َمي ِْن لَكَ َو ِمن ذ ُ ِر َّيتِنَآ أ ُ َّمةا ُّم ْس ِل َمةا لَّك‬

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan
(jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. [Al Baqarah :
128]

Lalu firmanNya dalam surat lain, mengisahkan doa Nabi Ibrahim yang lain.

‫َام‬
َ ‫صن‬ َّ ‫ب اجْ َع ْل َهذَا ْال َبلَدَ َء ِامناا َواجْ نُ ْب ِني َو َب ِن‬
ْ َ ‫ي أَن نَّ ْعبُدَ اْْل‬ ِ ‫َر‬

Ya tuhanku,jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman dan jauhkanlahaku beserta anak
cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim : 35]

Juga firman Allah.

ِ ‫صَلَةِ َو ِم ْن ذُ ِريَّتِي َربَّنَا َوتَ َقب َّْل دُ َع‬


‫آء‬ َ ‫ب اجْ َع ْلنِي ُم ِق‬
َّ ‫يم ال‬ ِ ‫َر‬

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya
Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. [Ibrahim : 40]

Begitu juga Zakaria berdoa sebagaimana firman Allah.

َ َ‫طيِبَةا إِنَّك‬
ِ ‫س ِمي ُع الدُّ َع‬
‫آء‬ َ ‫ب هَبْ ِلي ِمن لَّدُنكَ ذ ُ ِريَّةا‬
ِ ‫قَا َل َر‬
Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar
do’a. [Ali Imran : 38]

Allah Ta'ala juga berfirman mengisahkan sifat-sifat ‘Ibadurrahman adalah berdoa untuk kebaikan
istri dan keturunannya.

Firman Allah,

ُ‫صلِحْ ِلي فِي ذُ ِريَّتِي إِنِي تُبْت‬ ْ َ‫ضاهُ َوأ‬ َ ‫ى َو َعلَى َوا ِلدَيذَ َوأ َ ْن أ َ ْع َم َل‬
َ ‫صا ِل احا ت َْر‬ َّ َ‫ب أ َ ْو ِز ْعنِي أ َ ْن أ َ ْش ُك َر نِ ْع َمتَكَ الَّتِي أ َ ْنعَ ْمتَ َعل‬
ِ ‫قَا َل َر‬
ْ
َ‫إِلَيْكَ َوإِنِي ِمنَ ال ُم ْس ِل ِمين‬

Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau
ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan(memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri. [Al Ahqaf : 15]

Firman Allah

‫اجنَا َوذُ ِريَّاتِنَا قُ َّرةَ أ َ ْعي ٍُن َواجْ عَ ْلنَا ِل ْل ُمتَّقِينَ إِ َما اما‬
ِ ‫َوالَّذِينَ يَقُولُونَ َربَّنَا هَبْ لَنَا ِم ْن أَ ْز َو‬

Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami , anugerhakanlah kepada kami isteri-isteri kami
dan keturunan kami sebagai penyenang hati(kami) dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang
yang bertakwa. [Al Furqan : 74]

Wahai para pendidik, berdoalah kepada Allah untuk anak-anakmu terus menerus dan tumbuhkan
perasaan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali datang dari Allah karena seluruh taufik hanya
datang dari Allah sementara manusia hanya sekedar usaha dan ikhtiar. Marilah kita berdoa
dengan penuh khusyu’ dan perasaan tunduk semoga Allah menutup kekurangan, memberi belas
kasih kepada yang lemah di antara kita, dan memelihara anak cucu kita. Hendaklah kita
membiasakan pola makan, pola minum dan dalam berpakaian yang bersih dan halal. Begitu juga
hendaklah berdoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat dan mengembalikan kedzaliman
kepada pemiliknya serta memilih waktu yang mustajab terutama pada saat sujud berdasarkan
hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.

ِ ‫اجد ٌ فَأ ْكثِ ُر ْوا ِمنَ الدُّ َع‬


‫اء‬ ِ ‫س‬َ ‫أ ْق َربُ َما يَ ُك ْونُ ْالعَ ْبد ُ ِم ْن َر ِب ِه َوه َُو‬

Saat yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sedang sujud maka
perbanyaklah berdoa. [2]

Dari Abu Umamah berkata, ” Pernah Rasulullah ditanya: Kapan doa sangat dikabulkan? Beliau
bersabda, ”Pada waktu pertengahan malam dan setiap selesai shalat wajib”.

Wahai saudaraku, jangan lupa perdoa terutama ketika dalam keadaan bepergian berdasarkan
hadits dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda:

‫سافِ ِر َودَع َْوة ُ ْال َوالَ ِد َعلَي َولَ ِد ِه‬


َ ‫ظلُ ْو ِم َودَع َْوة ُ ْال ُم‬
ْ ‫ دَع َْوة ُ ْال َم‬,‫ت ًلَ شَكَّ فِ ْي ِه َّن‬
ٍ ‫ت ُم ْست َ َجابَا‬ ُ َ‫ثََل‬.
ٍ ‫ث دَ َع َوا‬

Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan, doa orang yang teraniaya, doa orang yang
sedang bepergian dan doa orang tua atas anaknya.

Begitu juga berdoa pada siang hari dan malam hari dari bulan ramadhan serta berdoa pada saat
haji dan umrah. Maka berdoalah kepada Allah pada saat itu sementara dalam keadaan sangat
yakin bahwa doa anda dikabulkan sehingga Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu
berkata,”Yang menjadi perhatianku bukan terkabulnya doa akan tetapi perhatian utamaku adalah
ilham untuk bisa berdoa sebab orang kalau sudah bisa berdoa maka pengkabulan doa akan bisa
diraih”.

Orang Mukmin Akan Melihat Allah Di


Akhirat
Jumat, 18 Februari 2011 22:52:36 WIB

ORANG MUKMIN AKAN MELIHAT ALLAH DI AKHIRAT

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin

Kaum mukminin mengimani akan melihat Allah dengan mata kepala sendiri di akhirat, termasuk
salah satu wujud iman kepada Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Mereka akan
melihatnya secara jelas, bagaikan melihat matahari yang bersih, sedikitpun tiada terliputi awan.
Juga bagaikan melihat bulan pada malam purnama, tanpa berdesak-desakan.

Demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskannya dalam Al Aqidah Al


Wasithiyah [1]. Dan ini merupakan kesepakatan Salafush Shalih Radhiyallahu 'anhum.
Imam Ibnu Abi Al Izz Al Hanafi, pensyarah kitab Aqidah Thahawiyah, menegaskan bahwa
jelasnya kaum mukminin melihat Rabb-nya pada hari akhirat nanti, telah dinyatakan oleh para
sahabat, tabi’in, serta para imam kaum muslimin yang telah dikenal keimaman mereka dalam
agama. Begitu pula para ahli hadits dan semua kelompok Ahli Kalam yang mengaku sebagai
Ahli Sunnah Wal Jama’ah. [2]

Mengapa demikian? Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, salah seorang ulama senior di Saudi
Arabia, menjelaskan [3] : “Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitakan hal tersebut
dalam KitabNya ; Al Qur’an Al Karim. Begitu pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun
telah memberitakannya dalam Sunnahnya. Barangsiapa yang tidak mengimani kejadian ini,
berarti ia mendustakan Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Sebab orang yang beriman
kepada Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya, akan beriman pula kepada segala yang
diberitakannya”.

Dalil-dalilnya, seperti yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
dalam Al Aqidah Al Wasithiyah [4]

DALIL DARI AL QUR’AN AL KARIM


Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

ِ ‫اض َرة ٌ إِلَى َربِ َها ن‬


ٌ ‫َاظ َرة‬ ِ َّ‫ُو ُجوهُُُ َي ْو َمئِ ٍذ ن‬

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka
melihat.. [Al Qiyamah : 22-23].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah [5] menerangkan maksudnya, yaitu mereka melihat Allah
dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab
Shahih-nya [6] yang akan diketengahkan di bawah nanti –Insya Allah-.

Imam Ibnu Abi Al Izz rahimahullah mengatakan: “Ayat di atas termasuk salah satu dalil yang
paling nyata”. Selanjutnya, setelah beliau mengemukakan akibat rusaknya tahrif (ta’wil), beliau
mengatakan: “Dihubungkannya kata-kata nazhar (nazhirah, memandang) dengan wajah (wujuh)
yang merupakan letak pandangan. Ditambah dengan idiom “ilaa” yang secara tegas
menunjukkan pandangan mata, disamping tidak adanya qarinah yang menunjukkan makna lain,
maka jelas dengan ayat itu, Allah memaksudkannya sebagai pandangan mata yang ada di wajah
manusia, memandang Allah Azza wa Jalla“ [7]

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

ُ ‫َعلَى اْْل َ َرآئِ ِك يَن‬


َ‫ظ ُرون‬
Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. [Al Muthaffifin : 35].

Ibnu Katsir rahimahullah kembali menjelaskan arti memandang, yakni mereka melihat Allah
Azza wa Jalla. [8]

Selanjutnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

ٌ ‫سنُوا ْال ُح ْسنَى َو ِزيَادَة‬


َ ْ‫ِللَّذِينَ أَح‬

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.
[Yunus:26].

Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan: ziyadah (tambahan dari pahala yang terbaik) dalam ayat
di atas, maksudnya ialah melihat Wajah Allah, sebagaimana tafsir yang dikemukakan oleh
Rasulullah n tentangnya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim (haditsnya akan di
ketengahkan di bawah, Insya Allah, Pen). Para Ulama Salaf juga menegaskan tafsir yang
demikian itu [9].

Berikutnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

ٌ‫لَ ُهم َّمايَشَآ ُءونَ فِي َها َولَدَ ْينَا َم ِزيد‬

Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah
tambahannya. [Qaf : 35]

Syaikh Shalih Al Fauzan juga menjelaskan makna tambahan pada ayat di atas, artinya ialah
melihat Wajah Allah Azza wa Jalla [10]. Begitu juga Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya
mengatakan: Ayat ini, seperti firman Allah

ٌ ‫سنُوا ْال ُح ْسنَى َو ِز َيادَة‬


َ ْ‫ِللَّذِينَ أَح‬

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.
[Yunus:26].

Yaitu seperti dalam riwayat Muslim dari Shuhaib bin Sinan Ar Rumi, bahwa maksud ayat
tersebut adalah melihat Wajah Allah Yang Mulia [11].

Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah tentang melihatnya kaum mu’minin
pada wajah Allah.

Sementara itu, berkaitan dengan mafhum dari firman Allah:

َ‫كَآلَّ ِإنَّ ُه ْم َعن َّر ِب ِه ْم يَ ْو َمئِ ٍذ لَ َمحْ ُجوبُون‬

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb
mereka. [Al Muthaffifin:15].

Imam Syafi’i rahimahullah, seperti dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya [12]
menegaskan : “Dalam ayat ini terdapat dalil, bahwa kaum mu’minin akan melihat Rabb-nya pada
hari (akhirat) itu”.

Di tempat lain (yaitu pada tafsir surat Al Qiyamah ayat 22-23), Ibnu Katsir menukil perkataan
Imam Syafi’i lainnya berkenaan dengan surat Al Muthaffifin ayat 15. Yaitu: “Orang kafir tidak
tertutup pandangannya dari melihat Allah, kecuali karena sudah difahami bahwa orang-orang
abrar (kaum mu’minin) akan melihat Allah Azza wa Jalla.”

DALIL-DALIL DARI HADITS NABI SHALALLLAHU 'ALAIHI WA SALLAM


Sebenarnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir [13] dan lain lain, hadits yang menyatakan
bahwa kaum mu’minin akan melihat Allah di akhirat secara nyata dan dengan mata kepala
mereka, adalah merupakan hadits mutawatir. Bahkan Ibnu Katsir menyatakan, bahwa kenyataan
ini tidak mungkin dapat ditolak. Hanya saja, disini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mencukupkan
pemaparan satu hadits saja. Yaitu hadits yang muttafaq ‘alaih.

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

‫ش ْم ِس‬ َّ ‫طلُ ْوعِ ال‬ ُ ‫صَلَةٍ قَ ْب َل‬ َ ‫ط ْعت ُ ْم أَ ْن ًلَ تُ ْغلَب ُْوا َعلَى‬ َ َ ‫ست ََر ْونَ َربَّ ُك ْم َك َما ت ََر ْونَ َهذَا ْالقَ َم َر ًلَ ت‬
َ َ ‫ فَإ ِ ِن اْست‬،‫ضا ُّم ْونَ فِي ُرؤْ َيتِ ِه‬ َ ‫ِإنَّ ُك ْم‬
‫غ ُر ْو ِب َها فَا ْف َعلُ ْوا‬
ُ ‫صَلَةٍ قَ ْب َل‬
َ ‫َو‬

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam
permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang melihat bulan
yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la
tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan
dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat
sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka
kerjakanlah. [14]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menerangkan makna hadits di atas, (yaitu) kalian akan
melihat Allah semata-mata dengan pandangan mata kepala kalian. Dan hadits-hadits tentang ini
adalah mutawatir [15].

Begitu pula Imam Ibnu Hajar Al Asqalani serta Imam Nawawi, dalam mensyarah hadits-hadits
yang dipaparkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim menegaskan secara jelas, bahwa kaum
mu’minin di akhirat kelak akan melihat Allah semata-mata dengan pandangan mata [16]. Bahkan
dalam menafsirkan hadits:

‫ست ُ ْع َرض ُْونَ َعلَى َربِ ُك ْم فَت ََر ْونَ َربَّ ُك ْم َك َما ت ََر ْونَ َهذَا ْالقَ َم َر‬
َ ‫أَ َما ِإنَّ ُك ْم‬

Ketahuilah, sesungguhnya kalian akan di hadapkan kepada Rabb kalian, maka kalian akan
melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. [HR Muslim].

Imam Nawawi mengatakan, artinya kalian akan melihat Allah secara nyata, tidak ada keraguan
dalam melihatNya, dan tidak pula ada kesulitan padanya. Seperti halnya kalian melihat bulan
(purnama) ini secara nyata, tidak ada kesulitan dalam melihatnya. Yang diserupakan disini
adalah cara melihatnya, bukan Allah diserupakan dengan bulan [17].

Di samping hadits muttafaq ‘alaih yang berasal dari hadits Jarir bin Abdillah serta hadits riwayat
Muslim di atas, masih banyak hadits lainnya, antara lain:
Sabda Rasulullah n yang juga berasal dari Jarir bin Abdillah:

‫ست ََر ْونَ َربَّ ُك ْم ِعيَاناا‬


َ ‫إنَّ ُك ْم‬

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan semata-mata. [HR Bukhari] [18].

Diantaranya lagi hadits dari Shuhaib bin Sinan, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau
bersabda:

َ‫ض ُو ُج ْو َهنَا؟ أَلَ ْم تُد ِْخ ْلنَا ْال َجنَّة‬ ْ ‫ أَلَ ْم ت ُ َب ِي‬: َ‫ش ْيئاا أ َ ِز ْيدُ ُك ْم؟ فَ َيقُولُ ْون‬ َ ‫ يَقُ ْو ُل هللاُ ت َ َب‬: ‫ قَا َل‬،َ‫ِإذَا دَ َخ َل أ َ ْه ُل ْال َجنَّ ِة ْال َجنَّة‬
َ َ‫ ت ُ ِر ْيد ُْون‬: ‫اركَ َوت َ َعالَى‬
‫ظ ِر ِإلَى َر ِب ِه ْم َع َّز َو َج َّل‬ َ َّ‫ش ْيئاا أَ َحبَّ ِإلَ ْي ِه ْم ِمنَ الن‬
َ ‫ط ْوا‬ ُ ‫َف ْال ِح َجابُ فَ َما أ ُ ْع‬ ُ ‫ فَيُ ْكش‬: ‫ار؟ قَا َل‬ِ َّ‫ َوتُن َِجنَا ِمنَ الن‬.

Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,”Apakah kalian
menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?” Mereka menjawab,”Bukankah Engkau telah
menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke
dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Nabi bersabda,”Maka disingkapkanlah tabir
penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan
anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla.”

Dalam riwayat lain dari riwayat Abu Bakar bin Abi Syaibah, ada tambahan riwayat : Kemudian
Rasulullah membacakan ayat :
ٌ ‫سنُوا ْال ُح ْسنَى َو ِزيَادَة‬
َ ْ‫ِللَّذِينَ أَح‬

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya [19].

Jadi hadits tersebut jelas menunjukkan, bahwa maksud ziyadah (tambahan) pada ayat di atas
ialah melihat Allah Azza wa Jalla, seperti telah dipaparkan di muka.

Juga hadits Abu Hurairah berikut:

َ‫ار ْونَ فِى ْالقَ َم ِر لَيِلَة‬ ُّ ‫ض‬َ ُ ‫ ه َْل ت‬:‫س ْو ُل هللاِ صلى هللا عليه وسلم‬ ُ ‫ َه ْل ن ََرى َربَّنَا يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة؟ فَقَا َل َر‬،ِ‫س ْو َل هللا‬ َ َّ‫أَن الن‬
ُ ‫ يَا َر‬:‫اس قَالُ ْوا‬
ُ ‫ ًلَ يَا َر‬:‫س َحابٌ ؟ قَالُ ْوا‬
‫ فَإِنَّ ُك ْم‬: ‫ قَا َل‬.ِ‫س ْو َل هللا‬ َ ‫ش ْم ِس لَي‬
َ ‫ْس د ُْونَ َها‬ َّ ‫ار ْونَ فِى ال‬ ُّ ‫ض‬ َ ُ ‫ فَ َه ْل ت‬: ‫ قَا َل‬.ِ‫س ْو َل هللا‬ُ ‫ ًلَ يَا َر‬:‫ْالبَد ِْر ؟ قَالُ ْوا‬
‫الحديث‬... َ‫ت ََر ْونَهُ َكذَلِك‬.

Sesungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya,”Wahai, Rasulullah. Apakah kami akan


melihat Rabb kami pada hari kiamat nanti?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam balik
bertanya,”Apakah kalian akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat
bulan pada malam purnama?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam bertanya lagi,”Apakah kalian juga akan mengalami bahaya (karena berdesak-
desakan) ketika melihat matahari yang tanpa diliputi oleh awan?” Mereka menjawab,”Tidak,
wahai Rasulullah.” Maka Beliau bersabda,”Sesungguhnya, begitu pula ketika kalian nanti
melihat Rabb kalian”…sampai akhir hadits. [20]

Demikianlah sebagian kecil hadits shahih diantara sekian banyak hadits shahih lainnya, yang
semuanya menyatakan bahwa kaum mu’minin kelak akan melihat Allah dengan mata kepala
sendiri di akhirat. Sebelumnya, beberapa ayat Al Qur’anpun telah dipaparkan untuk
membuktikan hal itu. Sungguh suatu nikmat luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada kaum
mu’minin, sebagai tambahan nikmat kepada mereka.

Sebenarnya, masih banyak hadits-hadits lainnya, baik yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Muslim di beberapa tempat dalam kitab shahih masing-masing, maupun yang diriwayatkan oleh
imam-imam lain, seperti Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain. Namun di sini
cukuplah kiranya pemaparan beberapa dalil di atas.

Intinya, para ulama menyatakan bahwa hadits-hadits tentang melihatnya kaum mu’minin kepada
Allah pada hari kiamat mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, wajib bagi setiap insan yang
beriman kepada Allah, kitab-kitabNya serta rasul-rasulNya, untuk mengimani masalah ini.
Barangsiapa tidak mengimaninya, sama artinya dengan mendustakan Allah, kitab-kitabNya serta
rasul-rasulNya, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan pada
permulaan tulisan ini.
Melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan dambaan setiap insan yang benar-benar
beriman dan cinta kepadaNya. Ternyata kelak akan menjadi kenyataan. Bukankah itu merupakan
nikmat luar biasa?.Nas’alullah Al Jannah wan nazhar ila wajhihi Al Karim.

Mengikuti Manhaj Salaf Dalam Segala Hal


Kamis, 17 Februari 2011 23:03:54 WIB

MENGIKUTI MANHAJ SALAF DALAM SEMUA HAL

Oleh
Ustadz Abu Nida` Chomsaha Shofwan

Dalam memahami Islam, dalam bentuk apapun, baik masalah ibadah, syari’ah, mu’amalah;
terutama masalah aqidah, harus mengikuti sebagaimana ulama-ulama Salaf memahaminya.
Sebagai contoh dalam memahami al Qur`an dan al Hadits, kita tidak boleh lepas dari
pemahaman ulama-ulama Salaf. Mengapa harus mengikuti para salaf?

Karena para sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, mereka adalah yang paling memahami tentang Islam
seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Begitu pula kita harus
mengikuti imam-imam Ahlus Sunnah, karena mereka sangat memahami tentang Islam. Apa yang
difatwakan mereka adalah untuk kebaikan bagi kaum Muslimin. Memang, para imam-imam
tersebut tidak ma’shum, tetapi, mereka itu adalah mujtahid. Sedangkan ciri Ahlus Sunnah, di
antaranya ialah mengikuti para ulama dalam memahami dalil, terutama masalah fitnah yang
dimunculkan oleh firqah-firqah. Sebagai contoh, yaitu Khawarij dan Syi'ah.

Khawarij, mereka salah dalam memahami ayat :

َ‫َّللاُ فَأُو ٰلَئِكَ ُه ُم ْالكَافِ ُرون‬


َّ ‫َو َمن لَّ ْم َيحْ ُكم ِب َما أَنزَ َل‬

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-oang yang kafir. [al Maidah/5 : 44].

Kelompok Khawarij tidak rela terhadap apa yang dilakukan oleh Khalifah Ali Radhiyallahu
'anhu kepada Mu’awiyah Radhiyallahu 'anhu, dan akhirnya mereka mengkafirkan Ali
Radhiyallahu 'anhu. Setelah itu, muncullah kelompok yang mengatasnamakan pendukung Ali
Radhiyallahu 'anhu yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Saba`, seorang Yahudi yang kemudian
menyatakan masuk Islam, dan pada akhirnya nanti sebagai bibit pertama munculnya Syi'ah.
Tokoh ini sangat berlebihan dalam mencintai Ali Radhiyallahu 'anhu. Dia menyatakan, bahwa
berdasarkan wasiat dari Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, katanya, Ali Radhiyallahu 'anhu
lebih berhak menjadi khalifah. Bahkan Syi'ah sampai mengangkat Ali sebagai ilah (sesembahan).
Kedua firqah ini muncul pada zaman Khalifah Ali Radhiyallahu 'anhu.

Firqah lain yang juga muncul, yaitu Qadariyah dan Murjiah. Firqah Qadariyah sendiri telah ada
sejak zaman Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, karya Al Lalika’i (I/35-36) disebutkan, Abu
Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata : Orang-orag musyrik Quraisy mendatangi Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Mereka mendebat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah qadar,
maka turunlah firman Allah Azza wa Jalla.

َ ‫إِ َّن ْال ُمجْ ِر ِمينَ فِي‬


ُ ‫ض ََل ٍل َو‬
‫سعُ ٍر‬

[Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka -
al Qamar/54 ayat 47-].

Disebutkan dalam al Lalika’i, halaman 36, ketika terjadi perdebatan di antara para sahabat dalam
masalah qadar, dan didengar oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam memarahi dan melarang mereka untuk mengulang-ulang
pembicaraan tersebut. Dalam riwayat Muslim, dari Yahya bin Ya’mar, sesungguhnya ia berkata :
"Orang yang pertama kali berbicara tentang al qadr di Basrah adalah, Ma’bad al Juhani".

Madzhab Qadariyah berpandangan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mentaqdirkan


sesuatu dan Dia tidak mengetahuinya. Menurut paham sesat Qadariyah, Allah mengetahui
setelah suatu kejadian itu terjadi. Dari pemahaman ini, berarti ada dua kesimpulan. Pertama,
ingkar terhadap ilmu Allah sebelum sesuatu itu terjadi. Kedua, berarti hamba itu terjadi dengan
sendirinya, bukan dari Allah. [Lihat al Lalika’i, 1/36-37].

Sedangkan Murjiah, mereka mempunyai pandangan, apabila seseorang yang beriman,


melakukan dosa maka dosanya itu tidak mempengaruhi keimanannya. Sebagaimana orang kafir,
sekalipun melakukan ketaatan, akan tetapi ketaatan itu tidak mempengaruhi kekufurannya.
Mereka menyangka, iman itu hanya pembenaran di dalam hati saja. [Syarah Aqidah
Washithiyah, Harrasy, hlm. 188]

Jadi, pada zaman pertengahan Khalifah Ali Radhiyallahu 'anhu, telah muncul bid’ah-bid’ah
Khawarij, Murjiah, Qadariyah, Syi’ah. Kemudian pada tahun 100-150 H muncullah nama
pemuka ahli bid’ah, di antaranya Muqatil bin Sulaiman, Jahm bin Shafwan, Al Ja’d bin Dirham
dan Washil bin Atha’. Mereka ini, masing-masing mempunyai pemikiran dan diikuti oleh
jamaahnya.

Kemudian pada tahun 150-234 H, seiring dengan munculnya empat tokoh ahli bid’ah tersebut,
muncul bid’ah-bid'ah dalam pemikiran, di antaranya :

1. Manzilah bainal manzilatain (satu tempat di antara dua tempat), yaitu tidak mukmin tidak
kafir.
2. Masalah dosa besar.
3. Muncul bid’ah yang menyatakan bahwa al Qur`an itu makhluk.
4. Bid’ah yang menafikan (menolak) Asma’ wa Shsifat (nama-nama dan sifat-sifat Allah), atau
menta’wilnya.
5. Bid’ah Jabariyah, yang berpandangan bahwa manusia itu dipaksa oleh Allah, dan manusia
sama sekali tidak mempunyai kekuatan kehendak.

Inilah bid'ah-bid'ah yang muncul pada saat itu, yang pada zaman Khalifah Ali Radhiyallahu
'anhu. Dan bid’ah yang pada waktu kemudian bermunculan, banyak terpengaruh oleh pemikiran
atau filsafat Yunaniyah, merupakan produk dari akal manusia yang jahil, menyimpang dari al
Qur`an dan as Sunnah dan pemahaman Salaful Ummah.

Adapun firqah-firqah yang muncul pada masa sekarang ini, semuanya menginduk kepada empat
firqah tersebut, bisa ke Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij, atau Murjiah. Kesesatan firqah-firqah
tersebut bisa karena mereka melampui batas dalam melaksanakan perintah, ataupun
meninggalkan yang semestinya boleh dilakukan. Yakni, mereka terjatuh ke dalam al ifrath
(terlalu mengagungkan) dan at tafrith (berlebih-lebihan). Padahal Islam itu wasath (tengah-
tengah), di antara al ifrath dan at tafrith. Artinya, tidak boleh berlebih-lebihan, dalam batas yang
disyariatkan. Islam itu lurus.

Firqah-firqah itu menisbatkan diri kepada Islam dan berbicara tentang Islam. Dan dalam
membicarakan Islam, firqah-firqah tersebut menggunakan akal dan filsafat Yunani. Apabila al
Qur`an dan Hadits bertentangan dengan akal dan filsafat, mereka akan mendahulukan akalnya
daripada al Qur`an dan as Sunnah. Maka jelaslah, pemikiran semacam ini menyelisihi Ahlus
Sunnah wal Jama’ah.

Dan harus diwaspadai, karena pola pemikiran seperti ini beredar di perguruan tinggi-perguruan
tinggi Islam. Sehingga tak mustahil bisa melahirkan kecenderungan berpikir sangat berbahaya.
Terlebih lagi bagi masyarakat kita yang mayoritas awam dan sangat kagum dengan orang yang
mempunyai gelar kesarjanaan.

Dalam makalah ini, kami akan mengemukakan beberapa contoh, bahwa Islam itu berada di
tengah-tengah, di antara al ifrath dan at tahrith, tidak kurang dan tidak berlebihan. Naskah yang
ditulis oleh Ustadz Abu Nida` Chomsaha Shofwan ini, diangkat dari Tahdzib, Tashil al Aqidah al
Islamiyah, Dr. 'Abdullah bin 'Abdul Aziz al Jibrin. Semoga bermanfaat.

DALAM MASALAH IBADAH


Dalam masalah aqidah ini, pemahaman Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah, antara pemikiran
Rafidhah dan ad Duruz an Nushairiyah

Rafidhah, mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi tidak sebagaimana yang
disyariatkanNya, seperti dalam berdzikir, tawasul. Dzikir mereka amalkan ialah dengan
dipimpin, dan secara berjamaah. Mereka juga bertawasul kepada orang-orang shalih yang sudah
meninggal, membuat acara-acara bid’ah, seperti Maulid Nabi, Isra` Mi`raj, mendirikan bangunan
di atas kubur, kemudian shalat dan thawaf, serta menyembelih di atasnya. Perbuatan yang
mereka amalkan sangat melampui batas, hingga mereka menyembah dan berdoa kepadanya,
dengan maksud untuk mendatangkan manfaat dan menolak madharat (bahaya, musibah).
Misalnya dengan maksud minta kaya dan keselamatan, serta menolak bala` (musibah).

Ad Duruz an Nushairiyah, mereka tidak melaksanakan ibadah-ibadah yang biasa dilakukan oleh
kaum Muslimin. Mereka meninggalkan shalat, tidak berpuasa, tidak zakat, tidak berhaji dan
seterusnya.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka beribadah kepada Allah sesuai dengan yang
disyariatkan di dalam al Qur`an dan as Sunnah. Tidak meninggalkan yang diwajibkan oleh
Allah, dan tidak menambah dengan hal-hal baru yang tidak ada contohnya dari Rasul.
Berdasarkan hadits :

َ ‫ث ِفي أَ ْم ِرنَا َهذَا َما لَي‬


ٌّ‫ْس ِفي ِه فَ ُه َو َرد‬ َ َ‫َم ْن أَحْ د‬

Barangsiapa membuat-buat suatu yang baru dalam agama ini yang tidak berasal darinya, maka
itu tertolak. [Muttafaq ‘alaih]

ٌّ‫ْس َعلَ ْي ِه أَ ْم ُرنَا فَ ُه َو َرد‬


َ ‫َم ْن َع ِم َل َع َم اَل لَي‬

Barangsiapa melakukan satu amalan yang tidak ada dalam agama kami ini, maka itu tertolak.
[HR Muslim]

ٌ‫ض ََللَة‬ ِ ‫َّللا َو َخي ُْر ْال ُهدَى ُهدَى ُم َح َّم ٍد َوش َُّر ْاْل ُ ُم‬
َ ‫ور ُمحْ دَثَات ُ َها َو ُك ُّل ِبدْ َع ٍة‬ ِ ‫أ َ َّما بَ ْعد ُ فَإ ِ َّن َخي َْر ْال َحدِي‬
ِ َّ ُ‫ث ِكتَاب‬

Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta seburuk-buruknya adalah perkara
baru yang dibuat-buat. Dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat. [HR Muslim].
DALAM MASALAH ASMA`DAN SIFAT ALLAH
Pemahaman Ahlus Sunnah dalam asma` dan sifat Allah berada di tengah-tengah di antara
kelompok-kelompok Mu’aththilah (yang menafikan) dan kelompok yang Mumatstsilah (yang
menyamakan Allah dengan makhluk). Di antara Mu’aththilah ada yang mengingkari nama-nama
Allah dan sifat-sifat Allah, seperti Jahmiyah. Juga ada yang mengingkari sifat-sifat Allah, seperti
Mu’tazilah, dan ada yang mengingkari sebagian sifat-sifat Allah, seperti al Asy'ariyah. Mereka
ini, dalam menentukan nama-nama dan sifat-sifat Allah bersandar kepada akal manusia, bukan
dengan al Qur`an dan as Sunnah.

Al Mumatstsilah, yaitu kelompok yang menjadikan sifat Allah sama seperti sifat makhluk.
Seperti mengatakan tangan Allah seperti tangan kami, pendengaran Allah seperti pendengaran
kami, dan seterusnya. Pemahaman seperti ini berbeda dengan Ahlus Sunnah.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla
atas diriNya dan apa-apa yang ditetapkan oleh RasulNya, baik berupa nama-nama dan sifatNya,
tidak dita’wil (dirubah artinya), tidak ditolak (diingkari), tidak disamakan dengan sifat-sifat
makhluk, dan tidak bertanya tentang hakikatnya. Ahlus Sunnah mengimani bahwa nama-nama
dan sifat-sifat Allah itu benar-benar ada (haqiqi), sesuai dengan kebesaran Allah, dan tidak sama
dengan sifat-sifat makhluk. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

َ ‫إِ َّن ْال ُمجْ ِر ِمينَ فِي‬


ُ ‫ض ََل ٍل َو‬
‫سعُ ٍر‬

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. [asy Syuura/42 : 11]. [Lihat Taqrib at Tadmuriyyah]

DALAM MASALAH QADHA DAN QADAR


Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di antara Jabariyah dan Qadariyah.

Firqah Qadariyah, mereka menafikan qadr (ketentuan Allah). Mereka berpendapat, bahwa
perbuatan manusia, baik yang berupa ketaatan maupun kemaksiatan, tidak ada campur tangan
dari Allah. Perbuatan itu tidak ditakdirkan dan tidak ditentukan Allah. Menurut mereka,
perbuatan manusia itu terbebas dari apa saja, tidak ada yang mempengaruhi dan tidak diciptakan
oleh Allah. Yang berarti perbuatan manusia itu diciptakan oleh dirinya sendiri. Apabila
demikian, berarti Qadariyah terjatuh ke perbuatan syirik dalam masalah rububiyah; karena ada
beberapa pencipta, yaitu Allah dan manusia. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam menjuluki mereka dengan "majusinya" umat ini.

Adapun Jabariyah, mereka berlebihan dalam menetapkan qadr. Mereka berpendapat,


sesungguhnya perbuatan hamba itu dipaksa oleh Allah. Manusia hanya mengikuti saja, ibarat
daun ditiup angina. Jabariyah menganggap manusia tidak mempunyai kehendak apapun, terserah
angin yang membawa.

Sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki pemahaman tengah-tengah di antara Jabariyah
dan Qadariyah. Ahlus Sunnah menetapkan, bahwa manusia (hamba) itu benar-benar berbuat, dan
perbuatan mereka itu dinisbatkan kepada mereka (yang berbuat) dengan sebenar-benarnya.
Tetapi, semua perbuatan hamba itu terjadi dengan takdir dan kehendak, dan merupakan
ciptaanNya. Allah-lah yang menciptakan hamba dan perbuatan hamba tersebut. Firman Allah:

َ‫َّللاُ َخلَقَ ُك ْم َو َما تَ ْع َملُون‬


َّ ‫َو‬

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. [ash Shaffat/37 : 96]

Seorang hamba mempunyai kehendak, tetapi kehendaknya itu di bawah kehendak Allah. Firman
Allah :

َ‫َّللاُ َربُّ ْالعَا َل ِمين‬
َّ ‫تَشَا ُءونَ إِ ًَّل أَن يَشَا َء‬

an kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah,
Rabb semesta alam. [at Takwir/81 : 29]

Allah memerintahkan kepada hamba untuk taat kepadaNya dan taat kepada RasulNya, dan
melarang mereka berbuat maksiat. Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, dan Dia tidak
ridha kepada orang yang fasik. Supaya hamba tidak menuntut di akhirat nanti, maka Allah
mengutus Rasul dan menurunkan kitab. Barangsiapa yang taat, silakan taat dan akan diberi
pahala. Sebaliknya, barangsiapa yang ingin bermaksiat, silakan berbuat maksiat dan akan
mendapat balasan. Karena permasalahannya sudah jelas, dan Allah tidak zhalim terhadap
hambanya. Firman Allah :

‫ظ ََّل ٍم ِل ْلعَبِي ِد‬ َ َ‫صا ِل احا فَ ِلنَ ْف ِس ِه ۖ َو َم ْن أ‬


َ ِ‫سا َء فَعَلَ ْي َها ۗ َو َما َربُّكَ ب‬ َ ‫َّم ْن َع ِم َل‬

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri. Dan
barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah
Rabb-mu menganiaya hamba-hamba(Nya). [Fushilat/41 : 46].

Ada empat tingkatan yang harus diimani dalam masalah qada’ dan qadr ini.
1. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
Sesungguhnya Allah mengetahui yang sudah terjadi dan yang akan terjadi, dan Allah mengetahui
perbuatan hambaNya sebelum Allah menciptakannya.
2. Segala yang ada telah dicatat oleh Allah di dalam Lauhul Mafudz pada 50 ribu tahun sebelum
Allah menciptakannya.

3. Kehendak dan kekuasaan Allah meliputi apa yang Allah kehendaki, maka bisa terjadi. Begitu
pula apa yang tidak dikehendakiNya, maka tidak akan terjadi. Semua yang terjadi tersebut atas
kehendak Allah sebelum hal itu terjadi.

4. Allah menciptakan segala sesuatu.


Allah-lah yang menciptakan orang yang mengerjakan dan pekerjaannya, dan yang bergerak dan
gerakannya, dan semua yang diam dan diamnya.

DALAM MASALAH AL WA’D DAN AL WA’ID


Al wa’du atau janji, yaitu ayat-ayat yang memberikan janji surga bagi yang beramal shalih.
Sedangkan al wa’id atau ancaman, yaitu ayat-ayat yang memberikan ancaman neraka bagi yang
berbuat maksiat.

Pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam masalah ini berada di tengah-tengah antara
Wa’idiyah dan Murjiah.

Kelompok Wa’idiyah mempunyai pemahaman, bahwa ayat-ayat al wa’diyah (ancaman) harus


diutamakan dibandingkan dengan ayat-ayat al wa’du (janji). Menurut mereka, pelaku dosa besar,
seperti zina, minum khamr adalah kafir dan kekal di neraka.

Sedangkan Murjiah, mereka mengutamakan ayat-ayat al wa’du daripada ayat-ayat al wa’id.


Mereka berkata, iman ialah pembenaran dalam hati. Amal tidak termasuk iman. Dan
kemaksiatan seorang mu’min (seperti zina dan minum khamr) tidak membahayakan
keimanannya, dan ia tidak berhak masuk Neraka. Menurut mereka, seorang mukmin meskipun
bermaksian, keimanannya tetap seperti keimanan yang dimiliki Abu Bakr dan ‘Umar
Radhiyallahu a'nhuma.

Berbeda denganAhlus Sunnah wal Jamaah yang berpendapat, seorang muslim, apabila berbuat
maksiat (seperti melakukandosa besar), maka dia tidak keluar dari Islam. Artinya, dia tetap
muslim, tetapi imannya berkurang. Selama tidak melakukan perbuatan yang mengkafirkannya,
dia tetap mukmin dengan imannya, dan fasiq dengan dosanya. Dan di akhirat terserah kepada
Allah Azza wa Jalla. Jika Dia berkehendak untuk mengampuni, maka dia diampuni. Jika tidak,
maka disiksa sampai bersih dosa-dosanya, kemudian masuk surga. Mereka tidak kekal di neraka,
kecuali jika mati dalam keadaan kufur dan syirik kepada Allah.

Definisi iman menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah ialah, diucapkan dengan lisan, diyakini dengan
hati, diamalkan dengan anggota badan. Dan iman itu bisa bertambah dengan sebab ketaatan,
berkurang akibat perbuatan maksiat.

DALAM MASALAH PARA SAHABAT NABI SHALALLLAHU A'ALAIHI WA SALLAM


Kepada para sahabat Nabi, pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah kepada mereka berada di
antara al Khawarij dan Syiah.

Syiah, mereka melampaui batas dalam mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi), seperti kepada Ali
bin abi Thalib dan anak-anaknya Radhiyallahu 'anhum. Mereka memiliki anggapan bahwa Ali
Radhiyallahu a'nhu itu ma’shum (tidak pernah salah), mengetahui hal-hal ghaib, dan lebih utama
daripada Abu Bakr Radhiyallahu 'anhu. Bahkan ada yang sampai mengatakan Ali Radhiyallahu
'anhu itu ilah (Tuhan).

Sedangkan Syiah Rafidhah, mereka membenci kepada sebagian sahabat. Mereka melontarkan
celaan kepada sebagian sahabat. Mereka mengatakan bahwa para sahabat telah kufur dan murtad
setelah Rasulullah n wafat, termasuk juga Abu Bakr Radhiyallahu 'anhu. Tidak ada
pengecualian, selain Ahlul Bait dan beberapa sahabat saja. Mereka berkata, sesungguhnya
mereka itu adalah kekasih Ahlul Bait.

Mereka juga mengecam isteri-isteri Rasul dan afdhalush shahabah (sahabat terbaik), yaitu Abu
Bakr secara terang-terangan. Terkadang mereka tampak meridhainya, dan secara dhahir
menunjukkan kecintaan kepada sahabat dan dekat kepada Ahlus Sunnah. Namun, mereka
sebenarnya hanyalah melakukan tipuan saja, sebab aqidah mereka adalah aqidah taqiyyah (pura-
pura), dhahirnya menampakkan Ahlus Sunnah, akan tetapi hakikat di dalam kalbunya Syiah.

Sebaliknya, al Khawarij berseberangan dengan Syiah. Khawarij sangat membenci Ali


Radhiyallahu 'anhu, dan tidak memberikan hak yang sebenarnya kepada Ali Radhiyallahu 'anhu.
Mereka juga mengkafirkan Mu’awiyah dan mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham
dengan mereka.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka mencintai sahabat Nabi dan meridhainya. Ahlus
Sunnah berpendapat, para sahabat adalah orang yang paling mulia setelah Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, karena Allah telah memilih mereka sebagai sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam.

Terhadap perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat, maka Ahlus Sunnah wal Jamaah
tidak memberikan komentar terhadap pertikaian mereka. Ahlus Sunnah wal Jamaah berpendapat,
para sahabat adalah mujtahidun, yang mendapat pahala. Jika benar mendapat dua pahala, tetapi
jika salah mendapat satu pahala.

Ahlus Sunnah juga berpendapat, sahabat yang termulia adalah Abu Bakr kemudian Umar,
kemudian ‘Utsman, kemudian Ali Radhiyallahu 'anhum, dan juga mencintai Ahlul Bait Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahlul Bait mendapat
dua hak, yaitu hak Islam dan hak keluarga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari penjelasan ringkas ini, menunjukkan bila Ahlus Sunnah wal Jamaah mencintai dan meridhai
para sahabat dan Ahlul Bait Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Mengingat Maut
Rabu, 16 Februari 2011 23:24:25 WIB

MENGINGAT MAUT

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al Atsari

Jika Anda pernah mendengar kisah mengenai orang-orang yang hidup kekal di dunia ini,
sesungguhnya itu hanya dongeng yang batil. Sebagian orang beranggapan ada orang-orang yang
hidup kekal di dunia ini, seperti Khidhir q , Dzulqarnain atau lainnya. Keyakinan seperti ini tidak
dikenal dalam Islam. Karena, tidak ada manusia yang hidup kekal di dunia ini.

Kematian, sesungguhnya merupakan hakikat yang menakutkan, akan menghampiri semua


manusia. Tidak ada yang mampu menolaknya. Dan tidak ada seorangpun kawan yang mampu
menahannya.

Kematian datang berulang-ulang, menjemput setiap orang, orang tua maupun anak-anak, orang
kaya maupun orang miskin, orang kuat maupun orang lemah. Semuanya menghadapi kematian
dengan sikap yang sama, tidak ada kemampuan menghindarinya, tidak ada kekuatan, tidak ada
pertolongan dari orang lain, tidak ada penolakan, dan tidak ada penundaan. Semua itu
mengisyaratkan, bahwa kematian datang dari Pemilik kekuatan yang paling tinggi. Meski sedikit,
tak seorang pun manusia memiliki wewenang atas kematian.

Hanya di tangan Allah semata pemberian kehidupan. Dan hanya di tanganNya, mengambil
kembali yang telah Dia berikan pada ajal yang telah digariskan. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:

ُ ‫ار َوأُد ِْخ َل ْال َجنَّةَ فَقَدْ فَازَ َو َما ْال َحيَاة ُ الدُّ ْنيَا إًِلَّ َمتَا‬
‫ع‬ َ ‫ت َوإِ َّن َما ت ُ َوفَّ ْونَ أ ُ ُج‬
ِ َّ‫ور ُك ْم يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة فَ َم ْن ُزحْ ِز َح َع ِن الن‬ ِ ‫ُك ُّل نَ ْف ٍس ذَآئِقَةُ ْال َم ْو‬
ِ ‫ْالغُ ُر‬
‫ور‬

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan. [Ali Imran:185].

Maut merupakan ketetapan Allah. Seandainya ada seseorang yang selamat dari maut, niscaya
manusia yang paling mulia pun akan selamat. Namun maut merupakan SunnahketetapanNya atas
seluruh makhluk. Allah berfirman:

َ‫إِنَّكَ َميِتٌ َوإِنَّ ُهم َّميِتُون‬

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) akan mati dan
sesungguhnya mereka akan mati (pula). [Az Zumar:30].

Tidak ada manusia yang kekal di dunia ini.

َ‫ش ِر َو ْال َخي ِْر فِتْنَةا َوإِلَ ْينَا ت ُ ْر َجعُون‬ ِ ‫} َو َما َجعَ ْلنَا ِلبَش ٍَر ِمن قَ ْبلِكَ ْال ُخ ْلدَ أَفَإ ِ ْن ِمتَّ فَ ُه ُم ْالخَا ِلدُونَ ُك ُّل نَ ْف ٍس ذَآئِقَةُ ْال َم ْو‬
َّ ‫ت َونَ ْبلُو ُكم بِال‬

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad),
maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan
mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-
benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Al Anbiya:34-35].

MENGHINDAR DARI KEMATIAN?


Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan kematian atas diri manusia.
Sehingga bagaimanapun manusia berupaya menghindar darinya, kematian itu tetap akan
mengejarnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

َ ‫أ َ ْينَ َما تَ ُكونُوا يُد ِْرك ُّك ُم ْال َم ْوتُ َولَ ْو ُكنت ُ ْم فِي ب ُُروجٍ ُم‬
‫شيَّدَ ٍة‬

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam
benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78].

َ‫ش َهادَةِ فَيُن َِبئ ُ ُكم ِب َما ُكنت ُ ْم تَ ْع َملُون‬ ِ ‫قُ ْل ِإ َّن ْال َم ْوتَ الَّذِي ت َ ِف ُّرونَ ِم ْنهُ فَإِنَّهُ ُمَلَقِي ُك ْم ث ُ َّم ت ُ َردُّونَ ِإلَى َعا ِل ِم ْالغَ ْي‬
َّ ‫ب َوال‬

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya


kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan". [Al Jumu’ah:8].

ِ ‫ت ِب ْال َح‬
ُ‫ق ذَلِكَ َما ُكنتَ ِم ْنهُ ت َِحيد‬ ِ ‫س ْك َرة ُ ْال َم ْو‬ ْ ‫َو َجآ َء‬
َ ‫ت‬

Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.
[Qaaf:19].

Kematian sebagai bukti nyata kekuasaan Allah, dan siapapun tidak ada yang dapat
mengalahkanNya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

َ‫نَحْ نُ قَد َّْرنَا بَ ْينَ ُك ُم ْال َم ْوتَ َو َما نَحْ نُ بِ َم ْسبُوقِين‬

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan
[Al Waqi’ah:60].

Allah menantang kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka tidak dikuasai oleh Allah,
dengan mengembalikan nyawa orang yang sekarat, jika memang mereka benar. Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:

ِ ‫ظ ُرونَ َونَحْ نُ أَ ْق َربُ إِلَ ْي ِه ِمن ُك ْم َولَ ِكن ًلَّ تُب‬


‫ْص ُرونَ فَلَ ْو ْل إِن ُكنت ُ ْم َغي َْر َمدِينِينَ ت َْر ِجعُو َن َها إِن‬ َ ُ‫ت ْال ُح ْلق‬
ُ ‫وم َوأَنت ُ ْم ِحينَ ِئ ٍذ ت َن‬ ِ َ‫فَلَ ْو ْل إِذَا بَلَغ‬
َ‫صا ِدقِين‬َ ‫ُكنت ُ ْم‬

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat, dan
Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu
tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika
kamu adalah orang-orang yang benar. [Al Waqi’ah:83-87].

Manusia tidak akan lepas dari ajal, bahkan ajal itu meliputinya. Imam Bukhari telah
meriwayatkan:

‫طا‬‫ط ا‬َ ‫ط ُخ‬ َّ ‫َار اجا ِم ْنهُ َو َخ‬


ِ ‫س ِط خ‬ َ ‫طا فِي ْال َو‬ ًّ َ‫ط خ‬َّ ‫طا ُم َربَّ اعا َو َخ‬
ًّ ‫سلَّ َم َخ‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫ي‬ ُّ ‫ط النَّ ِب‬ َّ ‫َّللاُ َع ْنهُ قَا َل َخ‬
َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ َّ ‫َع ْن َع ْب ِد‬
ِ ‫َّللاِ َر‬
‫ط ِب ِه َو َهذَا الَّذِي‬َ ‫ط ِب ِه أ َ ْو قَدْ أ َ َحا‬
ٌ ‫سانُ َو َهذَا أ َ َجلُهُ ُم ِحي‬ ِ ْ ‫س ِط َوقَا َل َهذَا‬
َ ‫اْل ْن‬ َ ‫س ِط ِم ْن َجانِ ِب ِه الَّذِي فِي ْال َو‬ َ ‫َارا ِإلَى َهذَا الَّذِي فِي ْال َو‬ ‫صغ ا‬ ِ
‫شهُ َهذَا‬َ ‫طأَهُ َهذَا نَ َه‬ َ ‫شهُ َهذَا َو ِإ ْن أَ ْخ‬ َ ‫طأَهُ َهذَا نَ َه‬َ ‫اض فَإ ِ ْن أَ ْخ‬
ُ ‫َار ْاْلَع َْر‬ ُ ‫الصغ‬ ِ ُ
‫ط‬ َ
‫ط‬ ُ
‫خ‬ ْ
‫ال‬ ‫ه‬
ِ ‫ذ‬
ِ ‫ه‬
َ ‫و‬ ُ
َ َ ‫ه‬ُ ‫ل‬ ‫م‬َ ‫أ‬ ‫ج‬
ٌ ‫َار‬
ِ َ‫خ‬ ‫ُو‬
‫ه‬

Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat garis segi empat, dan
Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya. Beliau membuat garis-garis kecil kepada
garis yang ada di tengah ini dari sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini
manusia, dan ini ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini adalah
angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. Jika ini luput darinya, ini
pasti mengenainya. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].
Jika demikian, maka bagaimana mungkin manusia dapat lari dan selamat dari kematian?
Ketahuilah, sesungguhnya umur kita di dunia ini terbatas dan hanya sebentar. Orang yang
berakal, sepantasnya tidak tertipu dengan gemerlapnya dunia, sehingga melupakan bekal menuju
akhiratnya.

‫وز ذَلِكَ )جة‬ َّ ‫ار أ ُ َّمتِي َما بَيْنَ السِتِينَ ِإ َلى ال‬
ُ ‫س ْبعِينَ َوأَقَلُّ ُه ْم َم ْن يَ ُج‬ ُ ‫سلَّ َم قَا َل أ َ ْع َم‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫َع ْن أ َ ِبي ه َُري َْرة َ أ َ َّن َر‬
َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬
4236,‫ وهو حديث حسن‬,757 ‫ الصحيحة‬,3550 ‫)ت‬

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Umur
umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.” [HR
Ibnu Majah, no. 4.236; Tirmidzi, no. 3.550. Lihat Ash Shahihah, no. 757].

ANJURAN MENGINGAT KEMATIAN


Banyak hadits-hadits yang mengingatkan tentang kematian, agar manusia selalu ingat bahwa
hidup di dunia tidaklah kekal. Agar manusia bersiap siaga dengan perbekalan yang
dibutuhkannya saat perjalanannya yang panjang nanti. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

َ‫ت يَ ْعنِي ْال َم ْوت‬


ِ ‫سلَّ َم أ َ ْكثِ ُروا ِذ ْك َر هَاذ ِِم اللَّذَّا‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫َع ْن أَبِي ه َُري َْرة َ قَا َل قَا َل َر‬
َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. [HR Ibnu Majah, no. 4.258;
Tirmidzi; Nasai; Ahmad].

Dalam riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan:

َ َّ‫س َع ٍة ِإًل‬
‫ضيَّقَ َها َعلَ ْي ِه‬ َّ ‫ق ِمنَ ْال َعي ِْش ِإًلَّ َو‬
َ ‫ َوًلَ ذَك ََرهُ ِف ْي‬, ‫س َعهُ َعلَ ْي ِه‬ ِ ‫ فَإِنَّهُ لَ ْم َيذْ ُك ْرهُ أَ َحد ٌ ِف ْي‬, َ‫ ْال َم ْوت‬: ‫ت‬
ٍ ‫ض ْي‬ ِ ‫أ َ ْك ِث ُروا ِذ ْك َر هَاذ ِِم اللَّذَّا‬

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah


seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu
melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu
luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang
itu. [Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333].

Syumaith bin ‘Ajlan berkata:

‫ق الدُّ ْنيَا َوًلَ ِب َس َعتِ َها‬ َ ‫ لَ ْم يُبَا ِل ِب‬,‫ب َع ْي َن ْي ِه‬


ِ ‫ض ْي‬ ْ ُ‫َم ْن َج َع َل ْال َم ْوتَ ن‬
َ ‫ص‬

Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan
dunia atau keluasannya. [Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan
Al Halabi].

Orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan iman yang shahih
(benar), tauhid yang khalish (murni), amal yang shalih (sesuai dengan tuntunan), dengan
landasan niat yang ikhlas, itulah orang-orang yang paling berakal.

‫سلَّ َم‬ َّ ‫صلَّى‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫علَى النَّ ِبي‬ َ ‫سلَّ َم‬
َ َ‫ار ف‬ َ ‫سلَّ َم فَ َجا َءهُ َر ُج ٌل ِم ْن ْاْل َ ْن‬
ِ ‫ص‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫ع َم َر أ َ َّنهُ َقا َل ُك ْنتُ َم َع َر‬
ُ ‫َع ْن اب ِْن‬
َ
َ ْ‫ت ِذ ْك ارا َوأح‬
ُ‫سنُ ُه ْم ِل َما بَ ْعدَه‬ ْ َ
ِ ‫س قَا َل أ ْكثَ ُر ُه ْم ِلل َم ْو‬ َ ْ
ُ َ‫ي ال ُمؤْ ِمنِينَ أ ْكي‬ َ ُ
ُّ ‫سنُ ُه ْم ُخلقاا قَا َل فَأ‬ َ َ ْ
َ ‫ي ال ُمؤْ ِمنِينَ أ ْف‬
َ ْ‫ض ُل قَا َل أح‬ َ َّ ‫سو َل‬
ُّ ‫َّللاِ أ‬ ُ ‫ث ُ َّم قَا َل يَا َر‬
‫اس‬ ُ َ‫ا ْستِ ْعدَاداا أُولَئِكَ ْاْل َ ْكي‬

Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu seorang
laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin
yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia
bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau
menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus
persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” [HR Ibnu Majah, no.
4.259. Hadits hasan. Lihat Ash Shahihah, no. 1.384].

Marilah kita renungkan sabda Nabi yang mulia :

ُ‫احد ٌ يَتْبَعُهُ أَ ْهلُهُ َو َمالُهُ َو َع َملُهُ فَيَ ْر ِج ُع أَ ْهلُهُ َو َمالُهُ َويَ ْبقَى َع َملُه‬ ٌ ‫يَتْبَ ُع ْال َميِتَ ث َ ََل‬
ِ ‫ث فَيَ ْر ِج ُع اثْن‬
ِ ‫َان َو َي ْبقَى َو‬

Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali, satu akan tetap.
Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarganya dan hartanya akan
kembali, sedangkan amalnya akan tetap. [HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa-i]

PENYESALAN ORANG KAFIR SAAT KEMATIAN


Janganlah seseorang menolak keimanan dan meremehkan amal shalih, karena suatu saat pasti
akan menyesalinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

‫صا ِل احا فِي َما ت ََر ْكتُ كَآل ِإ َّن َها َك ِل َمةٌ ه َُو قَآئِلُ َها َو ِمن َو َرآئِ ِهم بَ ْرزَ ٌخ‬
َ ‫{ لَ َع ِلي أ َ ْع َم ُل‬99} ‫ون‬ ِ ‫َحتَّى ِإذَا َجآ َء أ َ َحدَ ُه ُم ْال َم ْوتَ قَا َل َر‬
ِ ُ‫ب ا ْر ِجع‬
َ‫ِإلَى يَ ْو ِم يُ ْب َعثُون‬

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang
dari mereka, dia berkata: "Ya, Rabbku. Kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal
yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah
perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka
dibangkitan. [Al Mukminun :99-100].
SEGERA BERAMAL SEBELUM DATANG KEMATIAN
Janganlah seseorang selalu menunda dalam berbuat amal shalih karena kesibukan duniawinya.
Karena, selama manusia masih hidup, ia tidak akan lepas dari kesibukan. Orang yang berakal
akan mengutamakan urusan akhirat yang pasti datang, dan mengalahkan urusan dunia yang pasti
ditinggalkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

‫يَاأَيُّ َها الَّذِينَ َءا َمنُوا ًلَ ت ُ ْل ِه ُك ْم أ َ ْم َوالُ ُك ْم َوْل أَ ْوًلَد ُ ُك ْم َعن ِذ ْك ِر هللاِ َو َمن َي ْفعَ ْل ذَ ِلكَ فَأ ُ ْولَئِكَ ُه ُم ْالخَا ِس ُرونَ َوأَن ِفقُوا ِمن َّما َرزَ ْقنَا ُكم ِمن قَ ْب ِل‬
‫سا ِإذَا َجآ َء أَ َجلُ َها‬ َّ ‫صدَّقَ َوأ َ ُكن ِمنَ ال‬
َّ َ ‫ب فَأ‬ ِ ‫ي أ َ َحدَ ُك ُم ْال َم ْوتُ فَيَقُو َل َر‬
ٍ ‫ب لَ ْو ْل أ َ َّخ ْرتَنِي ِإلَى أ َ َج ٍل قَ ِري‬ ْ
‫صا ِل ِحينَ َولَن ي َُؤ ِخ َر هللاُ نَ ْف ا‬ َ ِ‫أَن يَأت‬
َ‫ير بِ َما تَ ْع َملُون‬
ٌ ِ‫َوهللاُ َخب‬

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang
rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang
kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya, Rabbku. Mengapa Engkau
tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat
bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih”. Dan Allah sekali-kali tidak akan
menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha
Mengenal apa yang kamu kerjakan. [Al Munafiqun: 9-11].

Oleh karena itu, seseorang hendaklah memanfaatkan hidupnya dengan sebaik-baiknya,


mengisinya dengan amal shalih sebelum datang kematian. Imam Bukhari meriwayatkan:

‫سلَّ َم بِ َم ْن ِكبِي فَقَا َل ُك ْن فِي الدُّ ْنيَا َكأَنَّكَ غ َِريبٌ أَ ْو َعابِ ُر‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫ع ْن ُه َما قَا َل أ َ َخذَ َر‬ َّ ‫ي‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ‫ض‬ ِ ‫ع َم َر َر‬ َّ ‫َع ْن َع ْب ِد‬
ُ ‫َّللاِ ب ِْن‬
َ‫ضكَ َو ِم ْن َح َياتِك‬
ِ ‫ص َّحتِكَ ِل َم َر‬ َ ‫ص َبحْ تَ فَ ََل تَ ْنت َِظ ْر ْال َم‬
ِ ‫سا َء َو ُخذْ ِم ْن‬ ْ َ ‫ص َبا َح َو ِإذَا أ‬
َّ ‫سيْتَ فَ ََل ت َ ْنت َِظ ْر ال‬ َ ‫ع َم َر َيقُو ُل ِإذَا أ َ ْم‬
ُ ُ‫س ِبي ٍل َو َكانَ ا ْبن‬َ
‫ت‬‫و‬ ‫م‬
َ‫ِ َ ْ ِك‬‫ل‬

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Rasululloh n memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah
engkau di dunia ini seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir.” Dan Ibnu Umar
mengatakan: “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika
engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah dari kesehatanmu
untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.” [HR Bukhari, no. 5.937].

Hendaklah setiap orang waspada terhadap angan-angan panjang umur, sehingga menangguhkan
amal shalih. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫طو ُل ْالعُ ُم ِر‬


ُ ‫َان حُبُّ ْال َما ِل َو‬
ِ ‫يَ ْكبَ ُر ا ْبنُ آدَ َم َويَ ْكبَ ُر َم َعهُ اثْن‬

Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan
panjang umur. [HR Bukhari, no. 5.942, dari Anas bin Malik].
Sesungguhnya, masa 60 tahun bagi seseorang sudah merupakan waktu yang panjang hidup di
dunia ini, cukup bagi seseorang merenungkan tujuan hidup, sehingga tidak ada udzur bagi orang
yang telah mencapai umur tersebut.

‫سنَةا‬
َ َ‫ئ أ َ َّخ َر أَ َجلَهُ َحتَّى بَلَّغَهُ ِستِين‬ َّ ‫سلَّ َم قَا َل أَ ْعذَ َر‬
ٍ ‫َّللاُ إِلَى ا ْم ِر‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ ‫َع ْن أ َ ِبي ه َُري َْرة َ َع ْن النَّ ِبي‬

Dari Abu Hurairah, dari Nabi n , Beliau bersabda: “Allah meniadakan alasan seseorang yang Dia
telah menunda ajalnya sehingga mencapai 60 tahun. [HR Bukhari, no. 5.940].

PENUTUP
Mengakhiri tulisan ini, berikut kami bawakan pernyataan Hamid Al Qaishari, sebagai berikut:
“Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap
menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang
beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang
yang takut terhadapnya! Maka terhadap apa kamu bergembira? Kemungkinan apakah yang kamu
nantikan? Kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa
kebaikan atau keburukan. Wahai, saudara-saudaraku! Berjalanlah menghadap Penguasamu
(Allah) dengan perjalanan yang bagus”. [Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq:
Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi].

Semoga tulisan ini mengingatkan kita, betapa penting mempersiapkan diri menghadapi kematian,
yang merupakan masalah besar yang dihadapi setiap insan. Imam Ibnu Majah meriwayatkan:

‫ير ْالقَب ِْر فَ َبكَى َحتَّى َب َّل الث َّ َرى ث ُ َّم قَا َل َيا ِإ ْخ َوا ِني‬
ِ ‫ش ِف‬ َ َ‫سلَّ َم ِفي ِجنَازَ ٍة فَ َجل‬
َ ‫س َعلَى‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ِ ‫َع ْن ْال َب َر‬
ُ ‫اء قَا َل ُكنَّا َم َع َر‬
َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬
‫ِل ِمثْ ِل َهذَا فَأ َ ِعدُّوا‬

Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu
jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian Beliau menangis sehingga tanah menjadi
basah, lalu Beliau bersabda: “Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti
ini,!” [HR Ibnu Majah, no. 4.190, dihasankan oleh Syaikh Al Albani].

Demikian sedikit tentang dzikrul maut, semoga bermanfaat. Terakhir kami katakan: Wahai,
saudara-saudaraku! Persiapkanlah dirimu menghadapi kematian!”
Wallahu Al Musta’an.

ANJURAN MENCARI NAFKAH & SEORANG DA’I TIDAK BOLEH BERGANTUNG KEPADA MAD’U (MURID)
NYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Untuk memenuhi kebutuhannya, seorang muslim wajib berusaha dengan mencari nafkah yang halal.
Dengan nafkah itu, ia dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Dengan nafkah itu, ia juga dapat
memberikan manfaat kepada orang lain. Seorang muslim tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada
orang lain. Karena hidup dengan bergantung kepada orang lain merupakan kehinaan. Dan hidup dari
usaha orang lain adalah tercela. Malaikat Jibril datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
kemudian berkata: ”… Ketahuilah, bahwa kemuliaan orang mukmin shalat nya di waktu malam dan
kehormatannya adalah dengan tidak mengharapkan sesuatu kepada orang.” [Hadits hasan. Lihat Shahih
Jami’ush Shagir, no. 73 dan 3710]

Allah dan RasulNya menganjurkan umat Islam untuk berusaha dan bekerja. Apapun jenis pekerjaan itu
selama halal, maka tidaklah tercela. Para nabi dan rasul juga bekerja dan berusaha untuk menghidupi
diri dan keluarganya. Demikian ini merupakan kemuliaan, karena makan dari hasil jerih payah sendiri
adalah terhormat dan nikmat, sedangkan makan dari hasil jerih payah orang lain merupakan kehidupan
yang hina. Karena itu, Islam menganjurkan kita untuk berusaha, dan tidak boleh mengharap kepada
manusia. Pengharapan hanya wajib ditujukan kepada Allah saja. Allah-lah yang memberikan rezeki
kepada seluruh makhluk. Kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin, Insya Allah, rezeki itu akan
Allah berikan sebagaimana burung, yang pagi hari keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, kemudian
pada sore hari pulang dalam keadaan kenyang. Terlebih manusia, yang telah mendapatkan dari Allah
berupa akal, hati, panca indra, keahlian dan lainnya serta berbagai kemudahan, maka pasti Allah akan
memberikan rezeki kepadanya.

1-ْ‫عن‬ َ ‫ع َم َْر‬
ُ ‫ي‬
َْ ‫ض‬ ْ ُ‫عن ْه‬
ِ ‫للاُ َر‬ َ ‫ل‬ َْ ‫قَا‬:ُْ‫سمِعت‬ َْ ‫صلَّى للاِْ َرسُو‬
َ ‫ل‬ َ ُ‫للا‬ َ ‫سلَّ َْم‬
ْ ‫علَي ِْه‬ ُْ ‫يَقُو‬:ْ‫علَى تَت ََو َّكلُونَْ اَنَّ ُكمْ لَو‬
َ ‫ل َو‬ َ ِ‫للا‬
ْ ‫ق‬ َّْ ‫ق َك َما لَ َرزَ قَ ُكمْ ت ََو ُّك ِل ِْه َح‬ َّ
ُْ ‫الطي َْر يَر ُز‬,
‫صا ت َغدُو‬
ً ‫ح خِ َما‬ َ ِ‫ب‬.
ُْ ‫طانًا َوت َُرو‬

Dari Umar Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: “Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka niscaya
Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi
hari dalam keadaan perutnya kosong, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang”. [HR Tirmidzi,
no. 2344; Ahmad (I/30); Ibnu Majah, no. 4164]
.
Di bawah ini, penulis bawakan beberapa ayat dan hadits-hadits yang menganjurkan seorang muslim
makan dari hasil usaha sendiri dan menjaga diri dari meminta-minta kepada orang lain.

Allah berfirman:

‫ت فَإ ِ َذا‬ ِ ُ‫صالَْة ُ ق‬


ِْ َ‫ضي‬ ْ ِ ‫ل مِ ن َوابتَغُوا األَر‬
َّ ‫ض فِي فَانتَش ُِروا ال‬ ً ‫حونَْ لَّعَلَّ ُكمْ َكث‬
ِْ ‫ِيرا للاَْ َواذ ُك ُروا للاِْ فَض‬ ُْ ‫تُف ِل‬

"Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah
rezeki karunia Allah". [Al Jumu’ah : 10]
ْ‫ل الَّذِي ه َُو‬ َْ ‫لً األَر‬
َْ َ‫ض لَ ُك ُْم َجع‬ ْ ‫شوا ذَلُو‬
ُ ‫ور َوإِلَي ِْه ِرزقِ ِْه مِ ن َو ُكلُوا َمنَا ِكبِ َها فِي فَام‬ ُ ُّ‫الن‬
ُْ ‫ش‬

"Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah
sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan". [Al Mulk : 15]

Tentang ayat ini, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan: “Kemudian, Dia menyebutkan nikmat yang
telah Dia anugerahkan kepada makhlukNya dengan menyediakan bumi bagi mereka dan
membentangkannya untuk mereka. Dia membuatnya sebagai tempat menetap yang tenang, tidak
miring dan tidak juga bergoyang, karena Dia telah menciptakan gunung-gunung padanya. Dan Dia
alirkan air di dalamnya dari mata air. Dia bentangkan jalan-jalan, serta menyediakan pula di dalamnya
berbagai manfaat, tempat bercocok tanam dan buah-buahan. Dia berfirman:

ْ‫ل الَّذِي ه َُو‬ َْ ‫لً األَر‬


َْ َ‫ض لَ ُك ُْم َجع‬ ْ ‫شوا ذَلُو‬
ُ ‫َمنَا ِكبِ َها فِي فَام‬

"(Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya)".
Maksudnya, lakukanlah perjalanan ke mana saja yang kalian kehendaki dari seluruh belahannya, serta
bertebaranlah kalian ke segala penjurunya untuk menjalankan berbagai macam usaha dan perdagangan.
Ketahuilah, bahwa usaha kalian tidak akan macam usaha dan perdagangan. Ketahuilah, bahwa usaha
kalian tidak akan bermanfaat bagi kalian sama sekali, kecuali jika Allah memudahkan untuk kalian. Oleh
karena itu, Dia berfirman

‫ِرزقِ ِْه مِ ن َو ُكلُوا‬



(Makanlah sebagian dari rezekiNya). Dengan demikian, usaha yang merupakan sarana, sama sekali tidak
bertentangan dengan tawakal.

ْ‫ور َوإِلَي ِه‬ ُ ُّ‫الن‬


ُْ ‫ش‬

(Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan). Maksudnya ialah, tempat kembali
pada hari Kiamat kelak. [Tafsir Ibnu Katsir, IV/420, Cet. Darus Salam].

2-ْ‫عن‬ َ ‫عب ِدللاِْ اَبِى َو‬َ ‫بن‬


ِْ ‫الزبَي ِر‬ُّ ‫ام‬ِْ ‫ل العَ َّو‬ َْ ‫قَا‬:ْ‫ل قَا َل‬
ُْ ‫سو‬ ْ :ْ‫ل يَاتِى ث َُّْم ْا َحبُلَ ْهُ اَََ َح ُد ُكمْ يَأ ُخ ْذَ ألَن‬
ُ ‫للاِ َر‬ َْ َ‫ِى ال َجب‬ َ ‫علَى َح‬
َْ ‫طبْ مِنْ بِ ُحز َمةْ فَيَات‬ َ ِ‫خ‬ َ ‫فَيَبِيعَ َها‬
ْ ‫ظه ِر‬
ْ ‫ل اَنْ مِ نْ خَي ٌرلَ ْهُ َوج َه ْهُ بِ َها‬
َّْ ‫للاُ فَيَ ُك‬
‫ف‬ َْ َ ‫اس يَسأ‬َْ َّ‫طوْهُ الن‬ َ ‫ َمنَعُوْهُ اَوْ اَع‬.

Dari Abi Abdillah (Zubair) bin Awwam Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu
bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah
lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. [HR Bukhari,
no. 1471].

Penjelasan :
1). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan umatnya supaya berusaha memenuhi hajat
hidupnya dengan jalan apapun menurut kemampuan, asal jalan yang ditempuh itu halal.
2). Berusaha dengan bekerja kasar, seperti mengambil kayu bakar di hutan itu lebih terhormat daripada
meminta-minta dan menggantungkan diri kepada orang lain.
3). Begitulah didikan dan arahan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjadikan umatnya sebagai
insan-insan terhormat dan terpandang, dan bukan umat yang lemah lagi pemalas.
4). Tidak halal meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak.
5). Meminta-minta atau mengemis dalam Islam merupakan perbuatan yang hina dan tercela.
6). Usaha dengan jalan yang benar tidak menafikan tawakkal kepada Allah.
7). Seseorang tidak boleh menganggap remeh jenis usaha apapun, meskipun usaha itu dalam pandangan
manusia dinilai hina.

َ ‫ل ه َُري َرْة َ ا َ ِبيْ َو‬


3-ْ‫عن‬ َْ ‫قَا‬:ْ‫ل قَا َل‬
ُْ ‫سو‬ َْ ِ‫علَى ُحز َم ْةً ا َ َح ُد ُكمْ َيحتَط‬
ُ ‫للاِْ َر‬:ْ‫ب ألَن‬ َ ‫ظه ِرِْه‬ َْ َ ‫ َيمنَ َع ْهُ اَو فَيُعطِ َي ْهُ ا َ َحدًا َيسأ‬.
َ ُ ‫ل اَنْ مِ نْ خَي ٌرلَ ْه‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang dari
kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta
kepada orang lain, baik diberi atau tidak”. [HR Bukhari, no. 1470; Muslim, no. 1042; Tirmidzi, no. 680
dan Nasa-i, V/96]

َ ‫عنْ و ََ ه َُري َرة ا َ ِبى‬


ََ 4- ْ‫عن‬ ْ ‫صلَّى النَّ ِب‬
َ ِ‫ي‬ َ ُ‫للا‬ َ ‫سلَّم‬
ْ ‫علَي ِْه‬ َْ ‫قَا‬: َْ‫علَي ِْه َد ُاو ُْد كَان‬
َ ‫ل َو‬ ُْ ‫لَّ لَ َيأ ُك‬
َ ‫ل السَّال ُْم‬ ْ ِ‫ل مِ نْ ا‬
ِْ ‫ع َم‬
َ ‫ َيدََِ َِْه‬.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Adalah Nabi Daud tidak makan, melainkan dari hasil usahanya sendiri”. [HR Bukhari, no. 2073].

Penjelasan :
1. Nabi Daud Alaihissalam, disamping sebagai nabi dan rasul, dia juga seorang Khalifah. Namun
demikian, sebagaimana diceritakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Beliau, bahwa apa
yang dimakan Nabi Daud adalah dari hasil jerih payahnya sendiri dengan bekerja yang menghasilkan
sesuatu, sehingga ia dapat memperoleh uang untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Di antaranya
sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur`an, bahwa Allah menjinakkan besi buat Nabi Daud, sehingga ia
bisa membuat bermacam pakaian besi.

‫الً مِ نَّا َد ُاوو َْد َءات َينَا َولَقَ ْد‬


ْ ‫ل فَض‬
ُْ ‫اجبَا‬ َّ ‫ن ال َحدِي َْد لَ ْهُ َوأَلَنَّا َو‬
ِ َ‫الطي َْر َمعَ ْهُ أ َ ِوبِي ي‬ ِْ َ ‫سابِغَاتْ اع َملْ أ‬
َ ْ‫صا ِل ًحا َواع َملُوا السَّر ِْد فِي َوقَدِر‬
َ ‫ت َع َملُونَْ بِ َما إِنِي‬
ٌْ ‫ص‬
‫ير‬ ِ ‫َب‬

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-
gunung dan burung-burung, bertashbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan
besi untuknya. (Yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah
amalan yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan". [Saba` : 10-11].

Alah Ta’ala mengabarkan tentang kenikmatan yang diberikanNya kepada hamba dan RasulNya, Daud -
semoga shalawat dan salam untuknya- diberikanNya keutamaan yang nyata, dihimpunkan kepadanya
kenabian dan kerajaan yang kokoh, tentara berjumlah besar dengan peralatan yang lengkap, serta
diberikanNya dan dianugerahkanNya suara yang indah; sehingga jika dia bertashbih, maka bertashbihlah
bersamanya gunung-gunung yang kokoh, berhentilah burung-burung yang beterbangan untuk
mendengarkan dan turut serta bertashbih dengan berbagai ragam bahasa. [Tafsir Ibnu Katsir III/578-
579, Cet. Darus Salam]
.
2. Di dalam hadits ini, seorang muslim dianjurkan untuk bekerja dan berusaha.
3. Mencari nafkah tidak menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu syar’i.
4. Mencari nafkah tidak menghalangi seorang da’i untuk menyampaikan dakwahnya.

َ ‫عنْ َْو ه َُري َرة اَبِى‬


5-ْ‫عن‬ ْ ِ‫ى النَّب‬
َ ِ‫ي‬ َّْ ‫صل‬
َ ُ‫للا‬ َ ‫سلَّم‬
ْ ‫علَي ِْه‬ َْ ‫قَا‬: َْ‫علَي ِْه زَ ك َِريَّا كَان‬
َ ‫ل َو‬ َ ‫َّارا السَّال ُْم‬
ً ‫نَج‬.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Nabi Zakaria Alaihissalam adalah seorang tukang kayu”. [HR Muslim, no. 2379; Ahmad II/296, 405, 485].

6-ََ ‫ن‬ ِْ ‫ع‬


َ ‫ام‬
ِْ ‫بن المِ ق َد‬
ِْ َِْ ‫ب‬ َ ‫عنْ َمعدِيك َِر‬ ْ ِ‫ى ال َّنب‬
َ ِ‫ي‬ َّْ ‫صل‬
َ ُ‫للا‬ َ ‫سلَّم‬
ْ ‫علَي ِْه‬ َْ ‫قَا‬:‫ل َما‬
َ ‫ل َو‬ َْ ‫طعَا ًما ا َ َك‬ ُّْ َ‫ل اَنْ مِ نْ خَي ًرا ق‬
َ ‫ط ا َ َح ٌد‬ َْ ‫ل مِ نْ يَأ ُك‬
ِْ ‫ع َم‬ َّْ ‫للاِْ نَبِيَََْ َوا‬
َ ‫يَدَِِْه‬, ‫ِن‬
‫علَي ِْه َد ُاو ُْد‬
َ ‫ل كَانَْ السَّال ُْم‬ُْ ‫ل مِ نْ يَأ ُك‬
ِْ ‫ع َم‬
َ ‫يَدَِِْه‬.

Dari Miqdam bin Ma’dikariba Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam, ia berkata:
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud
Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri”. [HR Bukhari, no. 2072]

Pelajaran dari hadits :


1). Bekerja atau berusaha jenis apapun asal jalan yang ditempuh halal, adalah baik dan terhormat.
2). Hidup dengan menggantungkan diri kepada orang lain adalah tercela.
3). Malas merupakan sifat yang tercela.
4). Makan dari hasil jerih payah sendiri adalah terhormat dan nikmat.
5). Para nabi dan rasul, mereka semua tidak meminta upah dari manusia, sebagaimana Allah sebutkan
dalam ayat-ayat Al Qur`an.

Allah berfirman:

ْ ُ‫علَيْ ِْه َمآأَسئَلُ ُكمْ ق‬


‫ل‬ َ ْ‫{ ال ُمتَك َِلفِينَْ مِ نَْ َو َمآأَنَا أَجرْ مِ ن‬86} ْ‫لَّ ه َُْو إِن‬ َّْ ‫حِ ينْ بَع َْد نَبَأ َْهُ َولَت َعلَ ُم‬
ْ ِ‫ن لِلعَالَمِ ينَْ ذِك ٌْر إ‬

Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku, dan
bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Al Qur`an ini tidak lain hanyalah peringatan
bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Qur`an setelah
beberapa waktu lagi”. [QS Shad : 86-88]

Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman: Katakanlah hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik itu “Aku
tidak meminta upah kepada kalian (yang kalian berikan) berupa harta benda dunia atas penyampaian
risalah dan nasihat ini”.
‫ال ُمتَك َِلفِينَْ مِ نَْ َو َمآأَنَا‬

(Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan). Artinya, aku tidak menghendaki dan
menginginkan kelebihan atas risalah yang disampaikan oleh Allah Ta’ala kepadaku, bahkan aku tunaikan
apa yang diperintahkanNya kepadaku, aku tidak menambah dan mengurangi, aku hanya mengharap
wajah Allah l dan negeri akhirat.

Sufyan Ats Tsauri berkata dari Al A’masy dan Manshur, dari Abudh Dhuha, bahwa Masruq bekata: Kami
mendatangi Abdullah bin Mas’ud z . Lalu dia berkata: “Wahai sekalian manusia, barangsiapa mengetahui
sesuatu, maka hendaklah ia mengatakannya. Dan barangsiapa tidak mengetahuinya, maka katakanlah
Allahu a’lam (Allah lebih mengetahui). Karena sesungguhnya termasuk bagian dari sebuah ilmu, bahwa
seseorang mengatakan ‘Allahu a’lam (Allah lebih mengetahui)’ apa yang diketahuinya”. Sesungguhnya
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada nabi kalian

ْ ُ‫علَي ِْه َمآأَسئَلُ ُكمْ ق‬


‫ل‬ َ ْ‫ال ُمتَك َِلفِينَْ مِ نَْ َو َمآأَنَا أَجرْ مِ ن‬

(Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku, dan
bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan)”. [HR Al Bukhari, no. 4809, Tafsir Ibnu Katsir
IV/ 47].

Dari Abu Darda’ Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

7- ْ‫لى أ َ َخذَْ َمن‬


َْ ‫ع‬
َ ‫ان ت َعلِي ِْم‬ ً ‫قَو‬. ُ‫للاُ قَلَّ َدْه‬
ِْ ‫سا القُر‬ ْ ‫سا‬ً ‫ال ِق َيا َم ِْة َيو َْم نَارْ مِ نْ قَو‬.

"Barangsiapa mengambil sebuah busur sebagai upah dari mengajarkan Al Qur`an, niscaya Allah akan
mengalungkan kepadanya busur dari api neraka pada hari Kiamat". [Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh
Ibnu ‘Asakir dalam kitab Tarikh Dimasyq (II/427), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (VI/126) dari jalur Utsman
bin Sa’id Ad Darimi, dari Abdurrahman bin Yahya bin Isma’il bin Ubaidillah, dari Al Walid bin Muslim, dari
Sa’id bin Abdul ‘Aziz, dari Ismail bin Ubaidillah, dari Ummu Darda’ Radhiyallahu 'anha] [1]
.
Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Aku mengajarkan Al Qur`an
dan menulis kepada ahli Shuffah. Lalu salah seoarang dari mereka menghadiahkan sebuah busur
kepadaku. Kata hatiku, busur ini bukanlah harta, toh dapat kugunakan untuk berperang fi sabilillah. Aku
akan mendatangi Rasulullah dan menanyakan kepada Beliau. Lalu aku pun menemui Beliau dan berkata:
“Wahai Rasulullah, seorang lelaki yang telah kuajari menulis dan membaca Al Qur`an telah
menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Busur itu bukanlah harta berharga dan dapat kugunakan untuk
berperang fi sabilillah”. Rasulullah bersabda:

8- ْ‫ط َّوقَْ أَنْ تُحِ بُّْ ُكنتَْ ِإ َِن‬


َ ُ ‫طوقًا ت‬
َ ْ‫فَاق َبل َها نَارْ مِن‬.

"Jika engkau suka dikalungkan dengan kalung dari api neraka, maka terimalah! " [Hadits shahih,
diriwayatkan oleh Abu Dawud, Bab Abwabul Ijarah Fi Kasbil Muallim (3416); Ibnu Majah (2157); Ahmad
(V/315 dan 324); Al Hakim (II/41, III/356); Al Baihaqi (VI/125) dan selainnya dari dua jalur].

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia melihat seorang qari sedang
membaca Al Qur`an lalu meminta upah. Beliau mengucapkan kalimat istirja’

(ْ‫لِل إ َ َّن‬ َّْ ‫اجعُونَْ ِإلَي ِْه ِإ‬


َِّْ ِ ‫ن َْو‬ ِ ‫) َر‬, kemudian berkata: Rasulullah bersabda:

9-ْ‫ل القُرانَْ قَ َرْأ َ َمن‬


ِْ َ ‫للا فَاليَسأ‬ َ ‫اس بِ ِْه يَسأَلُونَْ القُرانَْ يَق َر ُءونَْ أَق َوا ٌْم‬
َْ ‫بِ ِْه‬, ُ ‫سيَ ِجي ُْء فَإِنَّ ْه‬ َْ َّ‫الن‬.

"Barangsiapa membaca Al Qur`an, hendaklah ia meminta pahalanya kepada Allah. Sesungguhnya akan
datang beberapa kaum yang membaca Al Qur`an , lalu meminta upahnya kepada manusia". [Hasan
lighairihi, diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2917); Ahmad (IV/432-433,436 dan 439); Al Baghawi dalam
Syarhus Sunnah (1183), dari jalur Khaitsamah, dari Al Hasan, dari Imran bin Hushain Radhiyallahu 'anhu].

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

10-‫القُرانَْ تَعَلَّ ُموا‬, ‫ل ال َجنَّ ْةَ بِ ِْه للاَْ َواسأَلُوا‬ َّْ ِ ‫ثةٌ يَتَعَلَّ ُم ْهُ القُرانَْ ْفَإ‬
َْ ‫الدُّنيَا يِ ِْه يَسأَلُونَْ قَو ٌْم يَتَعَلَّ َم ْهُ أَنْ قَب‬, ‫ن‬ ْ َ‫ثَال‬: ‫ل‬
ٌْ ‫بِ ِْه يُبَاهِيْ َر َج‬, ‫ل‬
ٌْ ‫ل َو َر ُج‬
ُْ ‫بِ ِْه يَست َأ ِك‬,
ٌْ ‫للِْ َيق َرأ ُْهُ َو َر ُج‬.
‫ل‬

"Pelajarilah Al Qur`an, dan mintalah surga kepada Allah sebagai balasannya. Sebelum datang satu kaum
yang mempelajarinya dan meminta materi dunia sebagai imbalannya. Sesungguhnya ada tiga jenis orang
yang mempelajari Al Qur`an. Orang yang mempelajarinya untuk membangga-banggakan diri dengannya,
orang yang mempelajarinya untuk mencari makan, orang yang mempelajarinya karena Allah semata".
[Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (III/38-39); Al Baghawi (1182); Al Hakim (IV/547) dan selainnya
dari dua jalur. Hadits ini hasan, Insya Allah. Lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah, no. 258].

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam keluar menemui kami. Saat itu kami sedang membaca Al Qur`an. Di antara kami terdapat orang-
orang Arab dan orang-orang ‘Ajam (non Arab). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :

11- ‫ن فَ ُكلْ اِق َرؤُوا‬


ٌْ ‫س‬ َ ‫ح تُقَا ُْم َك َما يُقِي ُمونَ ْهُ أَق َوا ٌْم َو‬
َ ‫ َح‬, ‫سيَ ِجي ُْء‬ ْ ‫يَتَأ َ َّجلُونَ ْهُ َو‬.
ُْ ‫لَ يَتَعَ َّجلُونَ ْهُ القِد‬

"Bacalah Al Qur`an. Bacaan kalian semuanya bagus. Akan datang nanti beberapa kaum yang
menegakkan Al Qur`an seperti menegakkan anak panah. Mereka hanya mengejar materi dunia
dengannya dan tidak mengharapkan pahala akhirat". [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (830)
dan Ahmad (III/357dan 397) dari jalur Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir. Sanadnya shahih. Lihat
Shahih Sunan Abi Dawud, III/418 no. 783][2]

Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Syibl Al Anshari Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Mu’awiyah
berkata kepadanya: “Jika engkau datang ke kemahku, maka sampaikanlah hadits yang telah engkau
dengar dari Rasulullah!” Kemudian ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

12- ‫القُرانَْ اِق َرؤُوا‬,َْ‫بِ ِْه ت َأ ُكلُوا َول‬, َ‫ل‬ َ , ‫فِي ِْه َولت َغلُوا‬.
ْ ‫عن ْه ُ ت َجفُوا َو‬
ْ ‫يِ ِْه ت َست َكث ُِروا َو‬, َ‫ل‬

"Bacalah Al Qur`an, janganlah engkau mencari makan darinya, janganlah engkau memperbanyak harta
dengannya, janganlah engkau anggap remeh dan jangan pula terlalu berlebihan" [Hadits shahih,
diriwayatkan oleh Ath Thahawi dalam Musykilul Atsar (4322) dan Ma’anil Atsar (III/18); Ahmad (III/428
dan 444) dan Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (III/273 no. 2595) dari jalur Yahya bin Abi Katsir, dari Zaid
bin Salam, dari Abu Sallam, dari Abu Rasyid Al Habrani, dari Abdurrahman bin Syibl Al Anshari. Sanad
tersebut shahih dan perawinya tsiqah].

Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali menjelaskan :


a). Hadits-hadits di atas menunjukkan haramnya mengambil upah dari mengajarkan Al Qur`an, dan
haram mencari makan darinya.
Akan tetapi jumhur ahli ilmu membolehkan mengambil upah dari mengajarkan Al Qur`an. Mereka
berdalil dengan hadits pemimpin suku yang tersengat binatang berbisa lalu diruqyah oleh sebagian
sahabat dengan membacakan surat Al Fatihah kepadanya. Kisah ini diriwayatkan dalam shahih Bukhari
dan Muslim. Dalam riwayat lain dari ‘Abdullah bin’ Abbas radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa
Rasulullah bersabda:

َّْ ‫علَي ِْه أَخَذتُم َما ا َ َح‬


ْ‫ق ا َِّن‬ َ ‫للاِ ِكت َابُْ أَج ًرا‬
ْ .

Sesungguhnya perkara yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah Kitabullah.

b). Mereka menjawab hadits-hadits yang disebutkan di atas sebagai berikut:


- Mengambil upah diharamkan apabila diminta dan mencari penghormatan diri.
- Hadits-hadits di atas tidak terlepas dari cacat dan tidak bisa dijadikan sebagai dalil.
- Larangan tersebut telah dimansukhkan (dihapus) hukumnya.

c). Setelah diteliti lebih dalam, maka jelaslah bahwa jawaban-jawaban di atas sama-sekali tidak memiliki
dasar. Berikut ini rinciannya :
- Klaim, bahwa mengambil upah diharamkan apabila diminta dan mencari penghormatan diri, ditolak
oleh hadits ‘Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'anhu. Dalam hadits itu, hal tersebut tidak disinggung,
namun Rasulullah tetap melarangnya.
- Klaim, bahwa hadits-hadits di atas tidak terlepas dari cacat dan tidak bisa dijadikan sebagai dalil,
tidaklah mutlak benar. Namun ada yang shahih, hasan dan ada yang dha’if, namun dha’ifnya bisa
terangkat ke derajat shahih karena ada riwayat-riwayat yang menguatkannya. Dengan demikian bisa
dijadikan sebagai dalil.
- Klaim, bahwa hukum di atas telah dimansukh (dihapus), maka hal ini tidak boleh ditetapkan hanya
dengan berdasarkan praduga belaka. Dan alternatif penghapusan hukum tidak boleh diambil, kecuali
bila hadits-hadits tersebut tidak mungkin digabungkan dan memang benar-benar bertentangan.
Siapapun yang memperhatikan hadits-hadits tersebut, tentu dapat melihat bahwa:
- Haram hukumnya mengambil upah dari mengajarkan Al Qur`an.
- Haram hukumnya mencari makan dan memperoleh harta dari Al Qur`an.

Adapun dalil-dalil yang membolehkan hal tersebut menunjukkan bolehnya mengambil upah dari ruqyah.
Jadi jelaslah, bahwa kedua masalah di atas berbeda.

Kesimpulannya, hadits-hadits di atas jelas menunjukkan larangan mengambil upah dari mengajarkan Al
Qur`an dan memperoleh harta darinya. Wallahu a’lam.
[Lihat Mausu’ah Al Manahiy Asy Syar’iyyah Fi Shahihis Sunnah An Nabawiyyah, oleh Syaikh Salim bin ‘Id
Al Hilali, hlm..212-216, Cet. I, Dar Ibnu Affan, Th. 1420, Kairo dan Silsilah Ahadits Ash Shahihah, Juz 1, no.
256-260]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat tahun 728 H) pernah ditanya : “Apakah boleh
seorang yang mengajarkan ilmu syar’i dan Al Qur`an mengambil upah dari pengajarannya itu?” Beliau
menjawab: “Segala puji bagi Allah. Mengajarkan ilmu dan Al Qur`an tanpa upah, adalah seutama-utama
amal dan paling dicintai oleh Allah. Hal ini sudah diketahui dari agama Islam dan bukanlah suatu hal
yang tersembunyi bagi orang yang hidup di negara Islam; para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan selain
mereka dari kalangan ulama yang masyhur yang berkata tentang Al Qur`an, hadits, dan fiqh. Mereka
mengajarkan ilmu ini tanpa upah. Belum ada di antara mereka yang mengajarkan ilmu dengan upah.
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham; akan
tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah beruntung. Para nabi -
shalawatullah alaihim- mereka mengajarkan ilmu tanpa upah. Sebagaimana perkataan Nuh Alaihissalam,
sebagaimana disebtukan dalam firman Allah surat Asy Syu’ara ayat 109, yang artinya: Aku tidak
meminta dari kalian upah. Sesungguhnya ganjaranku ada di sisi Rabb semesta alam.

Demikian pula yang dikatakan oleh Nabi Hud, Syu’aib, Shalih, Luth[3] dan yang lainnya. Begitu juga yang
dikatakan penutup para rasul,”Katakanlah: Aku tidak meminta upah dari kalian atas dakwahku dan
bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”.[4] Rasulullah juga berkata,”Katakanlah:
Aku tidak meminta upah dari kalian atas dakwahku, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang
yang mau mengambil jalan tuhannya”. (Al Furqan : 57). Lihat Majmu’ Fatawa (XXX/204-205).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ketika menafsirkan surat Yasin ayat 20-21:

َ ‫ل ال َمدِينَ ِْة أَق‬


ْ‫صا مِ نْ َو َجآ َء‬ َ ‫ُّمهتَدُونَْ َوهُم أَج ًرا لَّ َيسئَلُ ُكمْ َمن ات َّ ِبعُوا ال ُمر‬
َْ ‫سلِينَْ ات َّ ِبعُوا َياقَو ِْم قَا‬
ٌْ ‫ل َيس َعى َر ُج‬

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas ia berkata: “Hai
kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Beliau berkata, diantara pelajaran yang terkandung dari ayat ini ialah, seorang da’i yang mengajak
manusia ke jalan Allah, hendaknya dia menjauhkan diri mengambil harta dari tangan manusia meskipun
mereka memberikan. Karena yang demikian itu akan mengurangi kedudukannya apabila dia menerima
sebab orang yang memberikan itu karena dakwah dan nasehatnya. Karena sesungguhnya para rasul -
alahimus shalatu wassalam- mereka tidak meminta upah dari manusia, baik dengan perkataannya
maupun keadaannya; karena itu kita mengetahui jeleknya sebagian orang yang mereka menasihati
manusia apabila setelah selesai ia berkata “Sesungguhnya saya punya kebutuhan, keluarga, dan yang
sepertinya”. Sehingga tujuan dari memberi nasihat itu untuk dunia.

Kemudian Syaikh Utsaimin juga menjelaskan, jika mengajar, yang dia (seseorang itu) membutuhkan
waktu, tenaga, fikiran, kelelahan, maka tidak apa-apa dia mengambil upah dengan dasar hadits Nabi:

َّْ ‫علَي ِْه أَخَذتُمْ َما ا َ َح‬


ْ‫ق ِإ َّن‬ َ ‫للاِ ِكت َابُْ أَج ًرا‬
ْ .

Sesungguhnya perkara yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah Kitabullah. )Hadits shahih
riwayat Bukhari, 5737 dari sahabat Ibnu Abbas).
Menerima atau mengambil upah karena mengajar Al Qur`an atau da’wah, merupakan masalah yang
diperselisihkan oleh para ulama. Jumhur ulama berpendapat boleh menerima upah atau mengambil
upah karena mengajarkan Al Qur`an atau da’wah.

Sebagian Ulama yang lain berpendapat tidak boleh. Yang berpendapat seperti ini, yaitu: Imam Az Zuhri,
Abu Hanifah dan Ishaq bin Rahawaih. Yang berpendapat boleh, mereka mengambil dalil hadits di atas
yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas, juga beberapa hadits yang lain, seperti Nabi
menikahkan seorang sahabat dengan hafalan Qur’annya, dan ini haditsnya shahih yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’ad.

Pendapat yang rajih (kuat) dari dua pendapat ulama ini, yaitu tentang bolehnya mengambil upah dari
mengajarkan Al Qur`an dan berda’wah. Tetapi yang perlu diingat, bahwa setiap orang yang menuntut
ilmu, kemudian mengajarkan Al Qur`an ataupun berda’wah, maka dia harus melakukannya semata-mata
ikhlas karena Allah dan mengharapkan ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala ; tidak boleh
mengharapkan sesuatu dari manusia baik berbentuk harta maupun yang lainnya. Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda :

14- ْ‫للاِْ َوج ْه ُ بِ ِْه يُبتَغَى مِ َّما عِل ًما تَعَلَّ َْم َمن‬,ُْ‫لَّ لَيَتَعَلَّ ُمه‬
ْ ِ‫ب إ‬
َْ ‫ُصي‬ َ َْ‫ف يَ ِجدْ الدُّنيَالَمْ مِن‬
ِ ‫ع َرضًا بِ ِْه ِلي‬ َ ‫ال ِقيَا َم ِْة يَو َْم ال َجنَّ ِْة‬.
َْ ‫عر‬

"Barangsiapa menuntut ilmu, yang seharusnya ia tuntut semata-mata mencari wajah Allah Azza wa Jalla,
namun ternyata ia menuntutnya semata-mata mencari keuntungan dunia, maka ia tidak akan
mendapatkan aroma wanginya surga pada hari kiamat". [Hadits shahih riwayat Abu Dawud, 3664;
Ahmad, II/338; Ibnu Majah, 252; dan Hakim, I/85 dari sahabat Abu Hurairah. Hadits ini dishahihkan oleh
Imam Hakim dan disetujui oleh Imam Adz Dzahabi].

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anh berkata: “Jikalau seorang yang berilmu mengamalkan ilmunya
dan mengajarkannya, maka dia akan mendapatkan kemuliaan di antara orang-orang sezamannya. Akan
tetapi mereka menyampaikan ilmu kepada pecinta dunia untuk mengharapkan harta mereka, maka
mereka menjadi hina”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadlih. Lihat
Shahih Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadlih, no.746, diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abi Syaibah]

Ibnu Jama’ah berkata: “Hendaknya seorang yang berilmu membersihkan ilmunya dari menjadikannya
sebagai jalan untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, baik untuk mencari kehormatan, harta, ketenaran,
atau merasa lebih hebat dari teman-temannya…” [Tadzkiratus Sami’ Wal Mutakallim Fi Adabil ‘Alim Wal
Muta’alim, hlm. 48 oleh Ibnu Jama’ah Al Kinani, wafat th. 733 H, Muhaqqaq]

Kalau seorang da’i tidak mempunyai mata pencaharian yang memadai, dan dia waktunya habis untuk
mengajar dan berdakwah, maka dibolehkan menerima upah. Dan kepada Ulil Amri (penguasa atau
pemerintah), selayaknya memberikan imbalan yang setimpal, karena dia mengajar kaum muslimin,
sebagaimana dijelaskan oleh Al Khatib Al Baghdadi dalam kitab Al Faqih Wal Mutafaqqih (II/347), tahqiq
‘Adil bin Yusuf Al ‘Azazi.

Demikianlah sebagian yang dapat saya tulis tentang masalah ini, yang berkaitan dengan mengambil
upah dari mengajarkan Al Qur’an dan berda’wah. Wallahu a’lam bish shawab.

Kesimpulan yang bisa diambil dari masalah ini ialah:


1. Seorang da’i dianjurkan untuk mencari nafkah yang halal.
2. Hidup dengan menggantungkan diri kepada orang lain adalah tercela dan hina.
3. Malas merupakan sifat yang tercela; dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berlindung kepada Allah dari sifat malas.
4. Islam melarang meminta-minta atau mengemis untuk kepentingan pribadi.
5. Makan dari hasil jerih payah sendiri adalah terhormat dan nikmat.
6. Mencari nafkah tidak menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu syar’i.
7. Mencari nafkah tidak menghalangi seorang da’i untuk menyampaikan dakwahnya.
8. Para nabi dan rasul, mereka semua tidak meminta upah dari manusia sebagaimana Allah sebutkan
dalam ayat-ayat Al Qur`an.
9. Menurut jumhur ulama, menerima upah dari mengajarkan Al Qur`an dan berda’wah adalah
diperbolehkan, namun menjadikannya sebagai tujuan untuk mendapatkan ma’isyah (mata pencaharian)
adalah terlarang.
10. Selayaknya bagi Ulil Amri atau orang yang kaya menjamin kebutuhannya sehari-hari, sehingga dia
dapat memaksimalkan waktu dan tenaganya untuk mengajar Al Qur`an dan berda’wah.
11. Kalau tidak ada yang menjamin dari Ulil Amri maupun orang yang kaya, maka seorang da’i harus
dapat membagi waktunya untuk mencari nafkah dan berdakwah. Tidak boleh dia bergantung kepada
mad’u (muridnya).
12. Seseorang, sekali-kali tidak boleh berharap kepada manusia. Bahkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam mengatakan: “Hendaknya kalian berputus asa kepada apa yang ada di tangan manusia, niscaya
engkau akan menjadi orang yang kaya”. (Lihat Silsilah Ahaadits Ash Shahihah, no. 401, 1914, hadits
hasan).
13. Mengajar Al Qur’an dan berda’wah adalah amalan yang paling baik dan ganjarannya sangat besar.
Oleh karena itu, keutamaan yang sangat besar ini janganlah dihapuskan dengan tujuan-tujuan duniawi
yang fana dan remeh.
14. Setiap muslim, apalagi seorang da’i, haruslah mengharap hanya kepada Allah saja dan mengadukan
kesulitan kepadaNya, insya Allah diberikan jalan keluar yang terbaik.

Maraji’:
- Tafsir Ibnu Katsir.
- Kutubus Sittah.
- Musnad Imam Ahmad.
- Riyadush Shalihin, oleh Imam An Nawawi.
- Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadush Shalihin, oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali.
- Syarah Riyadush Shalihin, tahqiq Dr. Al Husaini Abdul Majid Hasyim.
- Mausu’ah Al Manahiy Asy Syar’iyyah Fi Shahihis Sunnah An Nabawiyyah, ta’lif Syaikh Salim bin ‘Id Al
Hilali.
- Silsilah Ahadits Ash Shahihah, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
- ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, oleh Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq Al ‘Azim Abadi.
- Shahih Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadlih Lil Hafizh Ibnu Abdil Barr, oleh Abul Asybal Az Zuhairi.

Jual Beli Yang Dilarang Dalam Islam


Minggu, 13 Februari 2011 23:08:44 WIB

JUAL BELI YANG DILARANG DALAM ISLAM

Oleh
Syaikh Shalih Al Fauzan bin Fauzan

Risalah tentang jual beli yang dilarang dalam Islam ini kami adaptasi dari kitab Fiqh Wa Fatawa
Al Buyu’, hlm. 125 s/d 137, karya Syaikh Shalih Al Fauzan bin Fauzan. Awalnya merupakan
ceramah beliau di Masjid Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz Alu Su’ud, Riyadh, bulan Jumadil
Ula 1411 H. Kami angkat ke hadapan pembaca, supaya kaum muslimin mengerti dan kemudian
menjauhi perniagaan yang terlarang. Sehingga dalam melakukan jual beli, seorang muslim harus
memperhatikan ketentuan-ketentuan syari’at, hendaklah menjauhi muamalah dan usaha-usaha
yang buruk yang diharamkan. Rasulullah n melarang jual beli, yang dilakukan dengan cara yang
buruk, mendatangkan madharat (bahaya) bagi orang lain, serta mengambil harta seseorang
dengan cara yang bathil. Berikut beberapa transaksi perniagaan atau jual beli yang dilarang.
(Redaksi)

1. Jika akad jual beli itu menyulitkan ibadah, misalnya mengambil waktu shalat.
Seorang pedagang sibuk dengan jual beli sampai terlambat melakukan shalat jama’ah di masjid,
baik tertinggal seluruh shalat atau masbuq. Berniaga yang sampai melalaikan seperti ini dilarang.
Allah berfirman.

‫َّللاِ َوذَ ُروا ْالبَ ْي َع ۚ ٰذَ ِل ُك ْم َخي ٌْر لَّ ُك ْم ِإن ُكنت ُ ْم ت َ ْع َل ُمونَ فَإِذَا‬
َّ ‫ص ََلةِ ِمن يَ ْو ِم ْال ُج ُم َع ِة فَا ْس َع ْوا ِإلَ ٰى ِذ ْك ِر‬ َ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ِإذَا نُود‬
َّ ‫ِي ِلل‬
َّ َّ
َ‫يرا ل َعل ُك ْم تُ ْف ِلحُون‬ َّ ‫َّللاِ َواذْ ُك ُروا‬
‫َّللاَ َكثِ ا‬ َّ ‫ض ِل‬ ْ َ‫ض َوا ْبتَغُوا ِمن ف‬ َ
ِ ‫ص ََلة ُ فَانتَش ُِروا فِي ْاْل ْر‬ َّ ‫ت ال‬
ِ َ‫ضي‬ ِ ُ‫ق‬

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih
baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung. [Al Jumu’ah :9-10].

Dalam ayat lain Allah berfirman :

َ‫َّللاِ ۚ َو َمن َي ْفعَ ْل ٰذَلِكَ فَأُو ٰلَئِكَ ُه ُم ْالخَا ِس ُرون‬


َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ًَل ت ُ ْل ِه ُك ْم أ َ ْم َوالُ ُك ْم َو ًَل أ َ ْو ًَلد ُ ُك ْم َعن ِذ ْك ِر‬

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang
rugi. [Al Munafiqun:9].

Perhatikanlah firman Allah Azza wa Jalla "maka mereka itulah orang-orang yang rugi". Allah
menyatakan mereka mengalami kerugian, meskipun mereka kaya, berhasil mengumpulkan
banyak harta dan memiliki banyak anak. Sesungguhnya harta dan anak-anak mereka tidak akan
bisa menggantikan dzikir yang terlewatkan.

Seorang pedagang akan meraih keuntungan yang hakiki, jika mampu meraih dua kebaikan, yaitu
memadukan antara mencari rezeki dengan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Melangsungkan
akad jual beli pada waktunya, dan menghadiri shalat pada waktunya. Allah berfirman :

ُ‫الر ْزقَ َوا ْعبُدُوهُ َوا ْش ُك ُروا لَه‬ َّ َ‫فَا ْبتَغُوا ِعند‬
ِ ِ‫َّللا‬

Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepadaNya. [Al
Ankabut :17]

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia
Allah. [Al Jumu’ah :10].

Jadi, perniagaan itu ada dua, yaitu perniagaan dunia dan akhirat. Perniagaan dunia menggunakan
harta dan usaha. Sedangkan perniagaan akhirat menggunakan amal shalih. Allah berfirman :
‫َّللاِ ِبأ َ ْم َوا ِل ُك ْم‬ َ ‫سو ِل ِه َوت ُ َجا ِهدُونَ فِي‬
َّ ‫س ِبي ِل‬ َّ ‫ب أ َ ِل ٍيم تُؤْ ِم ُنونَ ِب‬
ُ ‫اّلِلِ َو َر‬ ٍ ‫نجي ُكم ِم ْن َعذَا‬ َ ‫يَا أَيُّ َها ا َّلذِينَ آ َمنُوا ه َْل أَدُلُّ ُك ْم َع َل ٰى تِ َج‬
ِ ُ ‫ارةٍ ت‬
ۚ ‫ت َعد ٍْن‬ ِ ‫ط ِيبَةا فِي َجنَّا‬
َ َ‫ساكِن‬ َ ‫ار َو َم‬ُ ‫ت تَجْ ِري ِمن تَحْ تِ َها ْاْل َ ْن َه‬ ٍ ‫َوأَنفُ ِس ُك ْم ۚ ٰذَ ِل ُك ْم َخي ٌْر لَّ ُك ْم ِإن ُكنت ُ ْم تَ ْعلَ ُمونَ يَ ْغ ِف ْر لَ ُك ْم ذُنُوبَ ُك ْم َويُد ِْخ ْل ُك ْم َجنَّا‬
َ‫َّللاِ َوفَتْ ٌح قَ ِريبٌ ۗ َوبَ ِش ِر ْال ُمؤْ ِمنِين‬
َّ َ‫ص ٌر ِمن‬ ْ َ‫ٰذَلِكَ ْالفَ ْو ُز ْال َع ِظي ُم َوأ ُ ْخ َر ٰى ت ُ ِحبُّونَ َها ۖ ن‬

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya
dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu
mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal
yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu
sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang beriman. [Ash Shaf :10-13].

Inilah perniagaan yang menguntungkan, jika ditambah lagi dengan pernigaan dunia yang
diperbolehkan, maka itu berarti kebaikan di atas kebaikan. Jika seseorang hanya melakukan
perdagangan di dunia dan mengabaikan perdagangan di akhirat, inilah orang yang rugi.
Sebagaimana firman Allah, yang artinya mereka itulah orang-orang yang merugi.

Seandainya seseorang melakukan ibadah, shalat, dzikir dan melaksanakan kewajiban-


kewajibannya, niscaya Allah membukakan pintu rezeki baginya. Dan perintahkanlah kepada
keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak
meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu
adalah bagi orang yang bertaqwa. [Thaha :132].

Shalat yang dianggap oleh sebagian orang sebagai penghalang mencari rezeki, ternyata
sebaliknya, ia bisa membuka pintu rezeki, kemudahan dan barakah. Jika engkau berdzikir dan
beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberikan kemudahan dan
membukakan pintu rezeki buatmu, dan Allah adalah sebaik-baik Pemberi rezeki. [Al Jumu’ah
:11].

Allah Azza wa Jalla menjelaskan sifat-sifat hambaNya yang beriman:

َّ ‫ارة ٌ َو ًَل بَ ْي ٌع َعن ِذ ْك ِر‬


‫َّللاِ َو ِإقَ ِام‬ َ ‫صا ِل ِر َجا ٌل ًَّل ت ُ ْل ِهي ِه ْم تِ َج‬ َ ‫س ِب ُح لَهُ فِي َها ِب ْالغُدُ ِو َو ْاْل‬
َ ُ‫َّللاُ أَن ت ُ ْرفَ َع َويُذْك ََر فِي َها ا ْس ُمهُ ي‬
َّ َ‫ت أَذِن‬
ٍ ‫فِي بُيُو‬
‫ار‬
ُ ‫ص‬ َ ‫لزكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَ ْو اما تَتَقَ َّلبُ فِي ِه ْالقُلُوبُ َو ْاْل َ ْب‬ َّ ‫ص ََلةِ َو ِإيت َِاء ا‬
َّ ‫ال‬

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut
namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh
perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan
membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi
goncang. [An Nur : 36-37].

Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama salaf mengatakan, orang-orang mukmin itu
melakukan akad jual beli. Jika salah seorang di antara mereka mendengar adzan, sedangkan
timbangan masih ada di tangannya, maka dia akan menurunkan timbangan itu dan pergi
mengerjakan shalat.

Kesimpulannya, jika jual beli menghalangi seseorang dari shalat, maka hal itu termasuk jual beli
yang dilarang, bathil dan hasilnya haram.

2. Di antara jual beli yang dilarang dalam Islam, yaitu menjual barang yang diharamkan.
Jika Allah sudah mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan hasil penjualannya.
Seperti menjual sesuatu yang terlarang dalam agama. Rasulullah n telah melarang menjual
bangkai, khamr, babi, patung. Barangsiapa yang menjual bangkai, maksudnya daging hewan
yang tidak disembelih dengan cara yang syar’i, ini berarti ia telah menjual bangkai dan memakan
hasil yang haram.

Begitu juga hukum menjual khamr. Khamer, maksudnya segala yang bisa memabukkan
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

‫ُك ُّل ُم ْس ِك ٍر خ َْم ٌر َو ُك ُّل ُم ْس ِك ٍر َح َرا ٌم‬

Semua yang memabukkan itu adalah khamr, dan semua khamr itu haram.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat sepuluh orang yang berkaitan dengan khamr.

َ ‫املَ َها َو ْال َمحْ ُمولَةُ ِإلَ ْي ِه َو‬


‫سا ِق َي َها‬ ِ ‫َار َب َها َوآ ِك َل ث َ َم ِن َها َو َح‬
ِ ‫َص َرهَا َو َبا ِئ َع َها َو ُم ْبت َا َع َها َوش‬ ِ ‫َّللاَ لَ َعنَ ْال َخ ْم َر َو َع‬
ِ ‫اص َرهَا َو ُم ْعت‬ َّ ‫إن‬

Sesungguhnya Allah melaknat khamr, pemerasnya, yang minta diperaskan, penjualnya,


pembelinya, peminum, pemakan hasil penjualannya, pembawanya, orang yang minta dibawakan
serta penuangnya. [HR Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Termasuk dalam masalah ini, bahkan lebih berat lagi hukumnya, yaitu menjual narkoba, ganja,
opium dan jenis obat-obat psikotropika lainnya yang merebak pada saat ini. Orang yang
menjualnya dan orang yang menawarkannya adalah mujrim (pelaku keriminal). Karena narkoba
merupakan senjata pemusnah bagi manusia. Jadi orang yag menjual narkoba, melariskannya
serta para pendukungnya terkena laknat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hasil
penjualannya merupakan harta haram. Orang yang membuatnya laris berhak dijatuhi hukuman
mati, karena ia termasuk pelaku kerusakan di muka bumi.
Begitu juga menjual rokok dan tembakau. Rokok benda yang jelek dan dapat menyebabkan
sakit. Semua sifat jelek ada pada rokok, dan ia sama sekali tidak ada manfaatnya. Madharatnya
sangat banyak. Para perokok itu orang paling jelek bau dan penampilannya. Teman duduk yang
paling berat adalah perokok. Jika dia duduk di sampingmu atau berdampingan di kendaraan, lalu
bernapas di depanmu, engkau akan tersiksa oleh bau napasnya. Apalagi kalau ia menyulut rokok
dan asapnya berputar-putar di hadapanmu, tentu ini lebih berat lagi.

Merokok juga berarti membuang-buang harta, waktu, merusak kesehatan, mengotori wajah,
menghitamkan bibir, mengotori gigi. Banyak penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Jadi ditinjau dari berbagai sudut, rokok itu jelek dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Sehingga
tidak disangsikan lagi, rokok itu haram.

Masalah ini telah melanda kaum muslimin, dan banyak yang meremehkannya. Kadang ada di
antara kaum muslimin yang tidak merokok dan tidak suka dengan rokok, tetapi (anehnya) ia
menjual rokok karena ia senang menumpuk harta dengan segala cara. Orang-orang ini tidak
mengetahui, bahwa jual-beli rokok ini akan merusak seluruh hasil usaha mereka. Yaitu hasil
penjualan rokok bercampur-aduk dengan hasil perniagaan atau usaha lainnya sehingga
mengakibatkan rusaknya harta yang diusahakannya secara halal.

3. Di antara jual beli yang dilarang ialah, menjual berbagai macam alat musik.
Seperti seruling, kecapi, perangkat-perangkat musik dan semua alat-alat yang dipergunakan
untuk perbuatan sia-sia. Meskipun alat-alat itu diberi istilah lain, seperti alat-alat kesenian. Maka
haram bagi kaum muslim untuk menjual semua alat dan perangkat-perangkat itu. Seharusnya
alat-alat tersebut dimusnahkan dari negeri kaum muslimin agar tidak tersisa.

4. Di antara jual beli yang dilarang ialah, menjual gambar.


Nabi n melarang berjualan ashnam, maksudnya ialah gambar. Pada dasarnya ashnam itu adalah
gambar patung, baik patung khayalan, burung, binatang ternak atau manusia.

Semua gambar makhluk yang bernyawa itu, haram untuk dijual dan hasil penjualannya juga
haram. Rasulullah n melaknat para pelukis dan memberitahukan, mereka adalah manusia yang
paling berat siksanya pada hari Kiamat nanti. Begitu juga, tidak boleh menjual majalah-majalah
yang bergambar, terutama yang memuat gambar-gambar cabul. Gambar, disamping diharamkan,
ia juga menebar fitnah. Karena tabiat seorang manusia, jika melihat gambar atau photo gadis
cantik yang menampakkan sebagian kecantikan atau sebagian anggota tubuhnya, biasanya akan
membangkitkan syahwatnya, yang kadang mendorongnya untuk melakukan perbuatan keji dan
tindakan kriminal.

Begitulah yang diinginkan setan yang berwujud jin dan manusia dengan menebarkan dan
memperjual-belikan gambar ini. Apatah lagi menjual film porno atau video yang berisi gambar-
gambar wanita telanjang serta berperilaku bejat dan keji.

Gambar-gambar inilah yang telah menfitnah (menipu) banyak wanita dan para pemuda serta
membuat mereka menyukai perbuatan keji. Film-film seperti ini tidak boleh dijual, bahkan wajib
atas seorang muslim untuk mencegah, memusnahkan dan menyingkirkannya dari tengah-tengah
kaum muslimin. Orang yang membuka tempat untuk menjual film porno (cabul), berarti telah
membuka tempat untuk bermaksiat dan mengusahakan harta haram, dan mengundang murka
Allah. Bahkan ia berarti telah membuka tempat fitnah dan tempat mangkal bagi setan.

5. Termasuk jual beli yang dilarang, yaitu menjual kaset-kaset berisi lagu-lagu cabul, suara
penyanyi yang diiringi musik. Isinya bercerita tentang asmara, cinta atau menyanjung wanita.

Lagu-lagu ini haram untuk didengar, direkam, dijual. Hasil penjualannya termasuk dalam
kategori hasil yang haram dan dilarang oleh Rasulullah n . Karena lagu-lagu ini menebarkan
kerusakan, perbuatan nista, merusak akhlak, serta membuka jalan bagi keburukan agar sampai ke
rumah-rumah kaum muslimin.

6. Termasuk jual beli yang dilarang ialah, menjual barang yang dimanfaatkan oleh pembeli untuk
sesuatu yang haram.
Jika seorang penjual mengetahui dengan pasti, bahwa si pembeli akan menggunakan barang
yang dibelinya untuk sesuatu yang diharamkan, maka akad jual beli ini hukumnya haram dan
bathil. Jual beli seperti ini termasuk tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.
Allah Azza wa Jalla berfirman :

ِ ‫اْلثْ ِم َو ْالعُد َْو‬


‫ان‬ ِ ْ ‫َوت َ َع َاونُوا َعلَى ْال ِب ِر َوالت َّ ْق َو ٰى ۖ َو ًَل تَ َع َاونُوا َعلَى‬

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [Al Maidah :2].

Misalnya seseorang yang membeli anggur atau kurma untuk membuat khamr, membeli senjata
untuk membunuh seorang muslim, menjual senjata kepada perampok, para pemberontak atau
kepada pelaku kerusakan. Begitu juga hukum menjual barang kepada seseorang yang diketahui
akan menggunakannya untuk mendukung sesuatu yang diharamkan Allah, atau mengunakan
barang itu untuk sesuatu yang haram, maka seorang pembeli seperti ini tidak boleh dilayani.

7. Termasuk jual beli yang dilarang, yaitu menjual barang yang tidak ia miliki.
Misalnya, seorang pembeli datang kepada seorang pedagang mencari barang tertentu. Sedangkan
barang yang dicari tersebut tidak ada pada pedagang itu. Kemudian antara pedagang dan pembeli
saling sepakat untuk melakukan akad dan menentukan harga dengan dibayar sekarang ataupun
nanti, sementara itu barang belum menjadi hak milik pedagang atau si penjual. Pedagang tadi
kemudian pergi membeli barang dimaksud dan menyerahkan kepada si pembeli.

Jual beli seperti ini hukumnya haram, karena si pedagang menjual sesuatu yang barangnya tidak
ada padanya, dan menjual sesuatu yang belum menjadi miliknya, jika barang yang diinginkan itu
sudah ditentukan. Dan termasuk menjual hutang dengan hutang, jika barang yang diinginkan
tidak jelas harganya dibayar di belakang.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang cara berjual beli seperti ini. Dalam suatu
riwayat, ada seorang sahabat bernama Hakim bin Hazam Radhiyallahu 'anhu berkata kepada
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm : “Wahai, Rasulullah. Seseorang datang kepadaku. Dia
ingin membeli sesuatu dariku, sementara barang yang dicari tidak ada padaku. Kemudian aku
pergi ke pasar dan membelikan barang itu”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

َ ‫ًَل تَبِ ْع َما لَي‬


َ‫ْس ِع ْندَك‬

Jangan menjual sesuatu yang tidak ada padamu. [HR Tirmidzi].

Demikian ini menunjukkan adanya larangan yang tegas, bahwa seseorang tidak boleh menjual
sesuatu kecuali telah dimiliki sebelum akad, baik dijual cash ataupun tempo. Masalah ini tidak
boleh diremehkan. Pedagang yang hendak menjual sesuatu kepada seseorang, hendaknya dia
menjamin keberadaan barangnya di tempatnya atau di tokonya, gudangnya, show roomnya atau
di toko bukunya. Kemudian jika ada orang yang mau membelinya, dia bisa menjualnya cash atau
tempo.

8. Termasuk jual beli yang dilarang ialah, jual beli secara‘inah.


Apakah maksud jual beli dengan inah itu? Yaitu engkau menjual suatu barang kepada seseorang
dengan pembayaran tempo (bayar di belakang), kemudian engkau membeli barang itu lagi (dari
pembeli tadi) dengan harga yang lebih murah, tetapi dengan pembayaran kontan yang engkau
serahkan kepada pembeli. Ketika sudah sampai tempo pembayaran, engkau minta dia membayar
penuh (sesuai dengan harga yang kita berikan saat dia membeli barang pada kita, Pent.).

Ini disebut jual beli ‘inah (benda), karena benda yang dijual kembali lagi kepada si pedagang
semula. Ini adalah haram. Karena hanya bersifat untuk menyiasati riba. Seakan engkau menjual
dirham sekarang dengan beberapa dirham di masa yang akan datang, lalu engkau jadikan barang
tadi sebagai alat untuk menyiasati riba.

Jika engkau memberikan hutang kepada seseorang dengan menyerahkan barang dagangan
dengan pembayaran tempo, seharusnya engkau membiarkan orang tadi menjual barang tersebut
kepada orang selain engkau, atau membiarkan dia berbuat apa saja atas barang tersebut,
disimpan atau dijual kepada orang lain jika dia memang membutuhkan uang.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

ُ ‫َّللاُ َعلَ ْي ُك ْم ذ ُ ًًّل ًَل َي ْن ِز‬


‫عهُ َحتَّى ت َْر ِجعُوا ِإلَى دِينِ ُك ْم‬ َّ ‫ط‬ َ َّ‫سل‬ ِ ‫َاب ْالبَقَ ِر َو َر‬
َّ ‫ضيت ُ ْم ِب‬
َ ِ‫الز ْرع‬ َ ‫ِإذَا تَبَايَ ْعت ُ ْم ِب ْال ِعينَ ِة َوأ َ َخذْت ُ ْم أَذْن‬

Jika kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah memegang ekor sapi, dan
kalin rela dengan bercocok tanam, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah k
tidak akan mengangkatnya sampai kalian kembali kepada agama kalian. [HR Abu Dawud dan
memiliki beberapa penguat].

9. Di antara jual beli yang terlarang, yaitu najasy (menawar harga tinggi untuk menipu
pengunjung lainnya).
Misalnya, dalam suatu transaksi atau pelelangan, ada penawaran atas suatu barang dengan harga
tertentu, kemudian ada seseorang yang menaikkan harga tawarnya, padahal ia tidak berniat untuk
membelinya. Dia hanya ingin menaikkan harganya untuk memancing pengunjung lainnya dan
untuk menipu para pembeli, baik orang ini bekerjasama dengan penjual ataupun tidak.

Orang yang menaikkan harga, padahal tidak berminat untuk membelinya telah melanggar
larangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabdanya :

ُ ‫ًلَ تَنَا َج‬


‫ش ْوا‬

Janganlah kalian melakukan jual beli najasy

Orang yang tidak berminat membeli dan tidak tertarik pada suatu barang, hendaknya tidak ikut
campur dan tidak menaikkan harga. Biarkan para pengunjung (pembeli) yang berminat untuk
saling tawar-menawar sesuai harga yang diinginkan.

Mungkin ada sebagian orang yang kasihan kepada si penjual, kemudian ia bermaksud membantu
agar si penjual kian bertambah keuntungannya, sehingga ia menambahkan harga. Menurutnya,
yang ia lakukan akan menguntungkan penjual. Atau ada kesepakatan antara si penjual dengan
beberapa kawannya untuk menaikkan harga barang. Harapannya, agar pembeli yang datang
menawar dengan harga yang lebih tinggi. Ini juga termasuk najasy dan juga haram, mengandung
unsur penipuan dan mengambil harta dengan cara bathil.

Termasuk jual beli najasy –sebagaimana disebutkan oleh ulama ahli fikih- yaitu perkataan
seorang penjual “aku telah membeli barang ini dengan harga sekian”, padahal dia berbohong.
Tujuannya untuk menipu para pembeli agar membelinya dengan harga tinggi. Atau perkataan
penjual “aku berikan barang ini dengan harga sekian”, atau perkataan “barang ini dihargai
sekian”, padahal dia berbohong. Dia hendak menipu para pengunjung agar menawar dengan
harga lebih tinggi dari harga palsu yang dilontarkannya. Ini juga termasuk najasy yang dilarang
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Termasuk perbuatan khianat, menipu dan perbuatan
bohong yang akan dihisab di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Para pedagang wajib menjelaskan harga sebenarnya jika ditanya oleh pembeli “anda membelinya
dengan harga berapa?” Beritahukan harga yang sebenarnya. Jangan dijawab “barang ini dijual
kepada saya dengan harga sekian”, padahal dia berbohong.

Termasuk dalam masalah ini, yaitu jika seorang pedagang di pasar atau pemilik toko sepakat
tidak akan menaikkan harga tawar, jika ada penjual yang datang menawarkan barang, agar
penjual terpaksa menjualnya dengan harga murah. Dalam hal ini, mereka melakukan kerjasama.
Ini juga termasuk najasy dan mengambil harta manusia dengan cara haram.

10. Diantara jual beli yang dilarang ialah, seorang muslim melakukan akad jual beli di atas akad
saudaranya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

ٍ ‫ض ُك ْم َعلَى بَيْعِ َب ْع‬


‫ض‬ ُ ‫ًَل يَبِ ْع بَ ْع‬

Janganlah sebagian di antara kalian berjualan di atas jualan sebagian.

Misalnya, seseorang mencari barang, dan dia membelinya dari seorang pedagang. Lalu pedagang
ini memberikan hak pilih (jadi atau tidak) kepada si pembeli dalam tempo selama dua atau tiga
hari atau lebih. Pada masa-masa ini, tidak boleh ada pedagang lain yang masuk dan mengatakan
kepada si pembeli tadi “tinggalkan barang ini, dan saya akan memberikan barang sejenis dengan
kwalitas yang lebih baik dan harga lebih murah”. Penawaran seperti ini merupakan perbuatan
haram, karena berjualan di atas akad jual beli saudaranya.

Selama penjual memberikan hak pilih kepada calon pembeli, maka biarkanlah calon pembeli
berpikir, jangan ikut campur. Jika calon pembeli mau, ia bisa melanjutkan akad jual beli atau
membatalkan akad. Jika akadnya sudah rusak dengan sendirinya, maka engkau boleh
menawarkan barang kepadanya.

Begitu juga membeli di atas pembelian saudaranya, hukumnya haram. Misalnya, jika ada
seseorang mendatangi pedagang hendak membeli suatu barang dengan harga tertentu, lalu dia
memberikan hak pilih kepada pedagang (jadi dijual atau tidak) selama beberapa waktu. Maka
selama masa memilih ini, tidak boleh ada orang lain ikut campur, pergi ke pedagang seraya
mengatakan “saya akan membeli barang ini darimu dengan harga yang lebih tinggi dari tawaran
si fulan”. Demikian ini merupakan perbuatan haram. Karena dalam perbuatan ini tersimpan
banyak madharat bagi kaum muslimin, pelanggaran hak-hak kaum muslimin, menyakitkan hati
mereka. Karena jika orang ini mengetahui bahwa engkau ikut campur dan merusak akad antara
dia dengan pembeli atau penjual, dia akan merasa marah, dongkol dan benci. Bahkan mungkin
dia mendoakan keburukkan bagimu, karena engkau telah menzhaliminya.

11. Di antara jual beli yang dilarang ialah, menjual dengan cara menipu.
Engkau menipu saudaramu dengan cara menjual barang yang engkau ketahui cacat tanpa
menjelaskan cacat kepadanya. Jual beli seperti ini tidak boleh, karena mengandung unsur
penipuan dan pemalsuan. Para penjual seharusnya memberitahukan kepada pembeli, jika barang
yang hendak dijual tersebut dalam keadaan cacat. Kalau tidak menjelaskan, berarti ia terkena
ancaman Rasulullah n dalam sabdanya :

‫ت بَ َر َكةُ بَي ِْع ِه َما‬


ْ َ‫ُوركَ لَ ُه َما فِي بَ ْي ِع ِه َما َوإِ ْن َكذَبَا َو َكت َ َما ُم ِحق‬ ِ َ‫ان بِ ْال ِخي‬
َ ‫ار َما لَ ْم يَتَفَ َّرقَا فَإ ِ ْن‬
ِ ‫صدَقَا َوبَيَّنَا ب‬ ِ َ‫ْالبَيِع‬

Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur, niscaya
keduanya akan diberikan barakah pada jual beli mereka.Jika keduanya berbohong dan
menyembunyikan (cacat barang), niscaya barakah jual beli mereka dihapus.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati seorang pedagang di pasar. Di
samping pedagang tersebut terdapat seonggok makanan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
memasukkan tangannya yang mulia ke dalam makanan itu, dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam merasakan ada sesuatu yang basah di bagian bawah makanan. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bertanya kepada pedagang: “Apa ini, wahai pedagang?” Orang itu menjawab:
“Makanan itu terkena air hujan, wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam !” kemudian
Rasulullah bersabda: “Mengapa engkau tidak menaruhnya di atas, agar bisa diketahui oleh
pembeli? Barangsiapa yang menipu kami, maka dia tidak termasuk golongan kami”.

Hadits yang mulia ini sebagai salah satu kaidah dalam muamalah jual beli dengan sesama
muslim. Tidak sepantasnya bagi seorang muslim menyembunyikan aib barangnya. Jika ada
aibnya, seharusnya diperlihatkan, sehingga si pembeli bisa mengetahui dan mau membeli barang
dengan harga yang sesuai dengan kadar cacatnya, bukan membelinya dengan harga barang
bagus.

Betapa banyak kasus penipuan yang dapat kita lihat sekarang. Betapa banyak orang yang
menyembunyikan aib suatu barang dengan menaruhnya di bagian bawah, dan menaruh yang baik
di bagian atas, baik sayur mayur atau makanan lainnya. Ini dilakukan dengan sengaja. Ini adalah
perbuatan khianat.

Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan memberikan keselamatan kepada kita.
Semoga Allah menjadikan rezeki dan usaha kita halal. Dan semoga Allah mencurahkan rezeki
kepada kita.

َّ ُ‫ار َح ْمنَ َاوتُبْ َعلَ ْينَا ِإنَّكَ أَ ْنتَ التَّ َّواب‬


‫الر ِح ْي ُم‬ ْ َ‫أَللَّ ُه َّم ا ْغنِنَا ِب َحَلَلِكَ َع ْن َح َر ِامكَ َو ِبف‬
ْ ‫ضلِكَ َع َّم ْن ِس َواكَ َوا ْغ ِف ْرلَنَا َو‬

Wahai, Allah Azza wa Jalla. Cukupkanlah kami dengan rezeki yang halal, bukan dari yang
haram. Cukupkanlah kami dengan karunia bukan dari yang lain. Ampunilah kami dan
kasihanilah kami. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi
Maha penyayang.

Keutamaan Ikhlas
Jumat, 11 Februari 2011 22:44:02 WIB

KEUTAMAAN IKHLAS

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

‫ظ ُر إِلَى قُلُ ْوبِ ُك ْم َو أَ ْع َما ِل ُك ْم‬


ُ ‫ص َو ِر ُك ْم َو أ َ ْم َوا ِل ُك ْم َو لَ ِك ْن يَ ْن‬ ُ ‫ قَا َل َر‬: ‫َع ْن أَبِ ْي ه َُري َْرة َ قَا َل‬
ُ ‫ إِ َّن هللاَ ًلَ يَ ْن‬: ِ‫س ْو ُل هللا‬
ُ ‫ظ ُر إِلَى‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam telah
bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta
kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

Di dalam Al Quran, Allah memuji orang-orang yang ikhlas. Mereka tidak menghendaki dari
amalnya tersebut, kecuali wajah Allah dan keridhaanNya. Tidak terpengaruh dengan apa-apa
yang berada dibalik keridhaan dan pujian manusia. Mereka adalah orang-orang yang berbuat
kebajikan, menolong orang lain dan memberi makan karena mengharap wajah Allah. Mereka
tidak mengharapkan balasan dan ucapan terimakasih dari seorang pun. Di antara mereka, ada
yang berinfaq mencari keridhaan Allah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam disuruh bersabar bersama orang-orang yang selalu
berdo`a kepada Allah karena mengharap wajahNya. Mereka itulah yang disebutkan Allah dalam
firmanNya :

ُ‫يرا يُوفُونَ بِالنَّذْ ِر َويَخَافُونَ يَ ْو اما َكانَ َُّره‬ ‫َّللاِ يُفَ ِج ُرو َن َها ت َ ْف ِج ا‬
َّ ُ ‫ورا َع ْيناا يَ ْش َربُ بِ َها ِعبَاد‬ ‫ار يَ ْش َربُونَ ِمن كَأ ْ ٍس َكانَ ِمزَ ا ُج َها كَافُ ا‬َ ‫ِإ َّن ْاْلَب َْر‬
ُ ‫ورا إِنَّا نَخ‬
‫َاف‬ ‫ش ُك ا‬ُ ‫َّللاِ ًَل نُ ِريدُ ِمن ُك ْم َجزَ ا اء َو ًَل‬
َّ ‫ط ِع ُم ُك ْم ِل َوجْ ِه‬ ْ ُ‫يرا إِنَّ َما ن‬
‫ام َعلَ ٰى ُحبِ ِه ِم ْس ِكيناا َو َيتِي اما َوأ َ ِس ا‬
َ َ‫طع‬ ْ ‫يرا َوي‬
َّ ‫ُط ِع ُمونَ ال‬ ‫ُم ْست َِط ا‬
‫يرا‬ َ ‫سا قَ ْم‬
‫ط ِر ا‬ ‫ِمن َّر ِبنَا َي ْو اما َعبُو ا‬

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, minum dari gelas (berisi minuman) yang
campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga); yang daripadanya hamba-hamba
Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan
nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan
makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan
Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya kami takut akan adzab (yang datang) dari Rabb kami, pada suatu hari; yang (pada
hari itu orang-orang bermuka) masam, penuh kesulitan. [Al Insan : 5-10].

ِ ‫ض ْعفَي ِْن فَإِن لَّ ْم ي‬


‫ُص ْب َها‬ ِ ‫َت أ ُ ُكلَ َها‬ َ َ ‫َّللاِ َوتَثْبِيتاا ِم ْن أ َنفُ ِس ِه ْم َك َمث َ ِل َجنَّ ٍة بِ َرب َْوةٍ أ‬
ْ ‫صابَ َها َوابِ ٌل فَآت‬ َّ ‫ت‬ َ ‫َو َمث َ ُل الَّذِينَ يُن ِفقُونَ أ َ ْم َوالَ ُه ُم ا ْبتِغَا َء َم ْر‬
ِ ‫ضا‬
‫ير‬
ٌ ‫ص‬ ِ َ‫َّللاُ بِ َما تَ ْع َملُونَ ب‬
َّ ‫ط ٌّل ۗ َو‬َ َ‫َوابِ ٌل ف‬

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah
dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang
disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat
tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang
kamu perbuat. [Al Baqarah: 265]

‫سكَ َم َع الَّذِينَ يَدْعُونَ َربَّ ُهم بِ ْالغَدَاةِ َو ْالعَ ِشي ِ ي ُِريدُونَ َوجْ َههُ ۖ َو ًَل ت َ ْعدُ َع ْينَاكَ َع ْن ُه ْم ت ُ ِريد ُ ِزينَةَ ْال َحيَاةِ الدُّ ْنيَا ۖ َو ًَل ت ُ ِط ْع َم ْن‬
َ ‫صبِ ْر نَ ْف‬
ْ ‫َوا‬
‫عن ِذ ْك ِرنَا َواتَّبَ َع ه ََواهُ َو َكانَ أَ ْم ُرهُ فُ ُرطاا‬ ُ ْ َ ْ
َ ‫أغفلنَا قلبَه‬ َ ْ َ

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja
hari dengan mengharap keridhaanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang
hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah
keadaannya itu melewati batas. [Al Kahfi : 28].

DI ANTARA KEUTAMAAN IKHLAS DAN BUAHNYA


1. Seseorang yang ikhlas dan beramal karena Allah, maka di dunia dia akan dapat bertawassul
(......) kepada Allah dengan amalnya yang ikhlas karena Allah itu, agar dia selamat dari setiap
kesulitan dan kesusahan serta musibah yang menimpanya.

Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari sahabat
Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, dikisahkan tentang tiga orang yang
terpaksa bermalam di dalam gua, kemudian tiba-tiba ada sebuah batu besar jatuh dari atas
gunung hingga menutup pintu gua itu. Lalu mereka berkata, bahwa tidak ada yang dapat
menyelamatkan mereka, melainkan mereka harus berdo’a kepada Allah dengan (menyebutkan)
amal mereka yang paling shalih, ...... kemudian mereka menyebutkan amal mereka masing-
masing yang ikhlas karena Allah, agar batu itu bergeser dan mereka dapat keluar. Dengan
pertolongan Allah, mereka dapat keluar dari gua tersebut.[1]

2. Selamatnya Nabi Yusuf Alaihissallam dari godaan wanita yang akan menjerumuskannya pada
perzinaan disebabkan pertolongan Allah Azza wa Jalla dan keikhlasannya. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:

ِ َ‫شا َء ۚ إِنَّهُ ِم ْن ِعبَا ِدنَا ْال ُم ْخل‬


َ‫صين‬ َ ْ‫ف َع ْنهُ السُّو َء َو ْالفَح‬ ْ َ‫ت بِ ِه ۖ َو َه َّم بِ َها لَ ْو ًَل أَن َّرأ َ ٰى ب ُْرهَانَ َربِ ِه ۚ َك ٰذَلِكَ ِلن‬
َ ‫ص ِر‬ ْ ‫َولَقَدْ َه َّم‬

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf
pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikan dia tidak melihat tanda (dari)
Rabb-nya. Demikianlah agar kami memalingkan daripadanya kemunkaran dan kekejian.
Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba Kami yang terpilih. [Yusuf : 24].

3. Seorang ghulam (pemuda) yang mu’min, dengan keikhlasannya dan pertolongan dari Allah, ia
mendapat kedudukan yang besar di sisi Allah. Yaitu dengan berimannya sebagian besar rakyat
dengan kematiannya. Dia menyuruh Sang Raja, bila ingin membunuhnya, maka Sang Raja harus
mengatakan ‫ بسم هللا برب الغَلم‬di hadapan rakyatnya. Lalu dilepaskan anak panah dan matilah anak
muda ini. Seketika itu juga, rakyat yang menyaksikan kejadian ini berucap “kami beriman
kepada Rabb anak muda ini”. [2]

4. Seseorang yang mengucapkan kalimat ُ‫( ًلَ إِلَهَ إًِلَّ هللا‬La ilaha illallah) dengan ikhlas, ia akan
dibukakan pintu-pintu langit, dihapus dosa-dosanya, dan diharamkan Allah Azza wa Jalla masuk
neraka. [4]

5. Orang yang berwudhu dengan ikhlas akan dihapuskan dosa-dosanya. [HR Muslim].

6. Orang yang bersujud dengan ikhlas, ia akan diangkat derajatnya oleh Allah dan dihapuskan
satu kesalahan. [HR Ahmad, Tirmidzi dan Nasa-i].

7. Orang yang berpuasa dengan ikhlas, ia akan dihapuskan dosa-dosanya yang lalu. [HR
Bukhari].

8. Orang yang pergi shalat berjama’ah di masjid dengan ikhlas, maka setiap langkahnya menuju
masjid akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajatnya sampai masuk masjid. Dan bila ia
masuk masjid, maka malaikat bershalawat atasnya dan mendo’akannya:

“Ya Allah, berilah rahmat kepadanya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya. Ya Allah, terimalah
taubatnya”.
Selama di tempat shalat itu ia tidak mengganggu orang lain dan selama belum hadats (belum
batal). [HR Bukhari dan Muslim. Secara lengkap lihat Riyadhush Shalihin, no. 11].

9. Orang yang ikhlas dalam bershadaqah, ia termasuk tujuh golongan yang akan mendapat
perlindungan dari Allah pada hari kiamat kelak. [HR Bukhari dan Muslim].

10. Orang yang ikhlas membangun masjid, maka ia akan dibangunkan rumah di surga. [HR
Ahmad, Bukhari, Muslim dan lainnya]

11. Orang yang tawadhu` dengan ikhlas karena Allah, ia akan diangkat derajatnya oleh Allah.
[HSR Muslim]

12. Ada tiga perkara yang menjadikan hati seorang mukmin tidak menjadi seorang pengkhianat,
yaitu : ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik kepada pemimpin kaum
muslimin, dan senantiasa komitmen kepada jama’ah kaum Muslimin. [HR Bazzar, dari sahabat
Abu Said Al Khudri dengan sanad hasan. Lihat Shahih Targhib Wat Tarhib 1/104-105, no. 4].

13. Ummat ini akan ditolong oleh Allah dengan orang-orang yang lemah, karena keikhlasan
mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

ِ َ‫صَلَتِ ِه ْم َو إِ ْخَل‬
‫ص ِه ْم‬ َ ِ‫ص ُر هللاُ َه ِذ ِه اْل ُ َّمةَ ب‬
َ ‫ بِدَع َْوتِ ِه ْم َو‬: ‫ض ِع ْي ِف َها‬ ُ ‫إِنَّ َما يَ ْن‬

Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan orang-orang yang lemah dengan do’a, shalat
dan keikhlasan mereka. [HSR Nasa-i, 6/45].

14. Orang yang ikhlas akan ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dari penyesatan iblis.
[Shad : 82-83].

15. Orang yang ikhlas akan ditambah petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. [Al Kahfi : 13].

16. Orang yang berdzikir dengan ikhlas dan sesuai dengan Sunnah, maka ia akan diberi
ketenangan hati [Ar Ra’d : 28].

BEBERAPA FAKTOR YANG DAPAT MENDUKUNG IKHLAS


Ada beberapa faktor yang dapat mendukung seorang muslim, sehingga mampu melakukan
ibadah dengan ikhlas karena Allah, kendati pun ikhlas itu sangat sulit. Beberapa faktor tersebut
ialah:

1. Belajar menuntut ilmu yang bermanfaat, yaitu mempelajari Al Qur`an dan As Sunnah menurut
pemahaman Salafush Shalih, karena mereka berada di atas kebenaran.

2. Berteman dengan orang-orang shalih. Ini termasuk faktor yang dapat mendorong keikhlasan.
Berteman dengan orang-orang yang shalih dapat memotivasi diri untuk mengikuti jejak dan
tingkah laku mereka yang baik, mengambil pelajaran dan mencontoh akhlak mereka yang baik.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang sahabat yang baik
dan yang tidak baik dengan sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang artinya:
Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, ialah seperti pembawa
minyak wangi dan peniup tungku api (pandai besi). Pembawa minyak wangi boleh jadi akan
memberimu, bisa jadi kamu akan membeli darinya. Dan kalau tidak, kamu akan mendapat bau
harum darinya. Sedangkan peniup tungku api (pandai besi), boleh jadi akan membakar
pakaianmu, dan bisa jadi engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya. [Muttafaqun
‘alaihi, dari Abu Musa Al Asy’ari]

3. Membaca sirah (perjalanan hidup) orang-orang yang ikhlas. Di antara karunia Allah, banyak
kisah yang Allah sebutkan di dalam Al Qur`an dan dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallm tentang orang-orang yang mukhlis. Semua itu agar menjadi ibrah dan contoh bagi
orang-orang sesudahnya.

4. Bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Seseorang tidak akan dapat mencapai keikhlsan
kalau tidak bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, kecintaan kepada kedudukan dan
ketenaran, gila harta, sanjungan, dengki, dendam, dan lain-lainnya.

5. Berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah. Ini termasuk salah satu jalan yang bisa
menguatkan dan menopang agar seseorang bersungguh-sungguh untuk ikhlas dalam ibadah. Doa
adalah senjata orang mukmin. Untuk dapat mewujudkan permintaan dan memenuhi
kebutuhannya, manusia disyariatkan Allah agar berdoa. Di antara doa itu ialah :

َ َ‫اَللَّ ُه َّم ِإنَّا نَعُ ْوذ ُ ِبكَ ِم ْن أ َ ْن نُ ْش ِركَ ِبك‬


‫شيْئا ا َن ْعلَ ُمهُ َو نَ ْستَ ْغ ِف ُركَ ِل َما ًلَ َن ْعلَ ُم‬

Ya, Allah. Sesungguhya kami berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukanMu dengan
sesuatu yang kami ketahui. Dan kami memohon ampun kepadaMu dari sesuatu yang kami tidak
mengetahuinya. [HSR Ahmad 4/403 dan sanadnya hasan. Hadits ini diriwayatkan juga oleh
Imam lainnya].

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang yang ikhlas, sehingga seluruh amal kita bisa
diterima sebagai simpanan yang bermanfaat kelak.
Wallahu ‘alamu bish shawab.

Pengertian Ikhlas
Kamis, 10 Februari 2011 15:21:32 WIB

PENGERTIAN IKHLAS

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

‫ظ ُر إِلَى قُلُ ْوبِ ُك ْم َو أَ ْع َما ِل ُك ْم‬


ُ ‫ص َو ِر ُك ْم َو أ َ ْم َوا ِل ُك ْم َو لَ ِك ْن يَ ْن‬ ُ ‫ قَا َل َر‬: ‫َع ْن أَبِ ْي ه َُري َْرة َ قَا َل‬
ُ ‫ إِ َّن هللاَ ًلَ يَ ْن‬: ِ‫س ْو ُل هللا‬
ُ ‫ظ ُر إِلَى‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam telah
bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta
kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada yang
berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula
yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang
berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.

Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan
semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan
tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”.

Al Harawi mengatakan : “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata :
“Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka
memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai
memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.

Abu ‘Utsman berkata : “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat
kepada Khaliq (Allah)”.

Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berkata : “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara
lahir dan batin”.

Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan
beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari
keduanya”.[1]
Ikhlas ialah, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala
individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah
dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan
kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau
karena mencari harta rampasan perang, atau agar dikatakan sebagai pemberani ketika perang,
karena syahwat, kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang banyak,
mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena alasan-alasan
lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu; maka semua ini
merupakan noda yang mengotori keikhlasan.

Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari
perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita
bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya. Karena itu,
orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka
tindakan dan perilakunya mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak
akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berpendapat, arti ikhlas karena Allah ialah, apabila
seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk taqarrub kepada Allah dan mencapai
tempat kemuliaanNya.

SULITNYA MEWUJUDKAN IKHLAS


Mewujudkan ikhlas bukan pekerjaan yang mudah seperti anggapan orang jahil. Para ulama yang
telah meniti jalan kepada Allah telah menegaskan sulitnya ikhlas dan beratnya mewujudkan
ikhlas di dalam hati, kecuali orang yang memang dimudahkan Allah.

Imam Sufyan Ats Tsauri berkata,”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada
mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.” [2]

Karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a:

َ‫ت قَ ْل ِب ْي َعلَى ِد ْينِك‬ ِ ‫ب القُلُ ْو‬


ْ ‫ ثَ ِب‬، ‫ب‬ َ ‫يَا ُمقَ ِل‬

Ya, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu.

Lalu seorang sahabat berkata,”Ya Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang
engkau bawa kepada kami?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Ya, karena
sesungguhnya seluruh hati manusia di antara dua jari tangan Allah, dan Allah membolak-balikan
hati sekehendakNya. [HR Ahmad, VI/302; Hakim, I/525; Tirmidzi, no. 3522, lihat Shahih At
Tirmidzi, III/171 no. 2792; Shahih Jami’ush Shagir, no.7987 dan Zhilalul Jannah Fi Takhrijis
Sunnah, no. 225 dari sahabat Anas].

Yahya bin Abi Katsir berkata,”Belajarlah niat, karena niat lebih penting daripada amal.” [3]

Muththarif bin Abdullah berkata,”Kebaikan hati tergantung kepada kebaikan amal, dan kebaikan
amal bergantung kepada kebaikan niat.” [4]

Pernah ada orang bertanya kepada Suhail: “Apakah yang paling berat bagi nafsu manusia?” Ia
menjawab,”Ikhlas, sebab nafsu tidak pernah memiliki bagian dari ikhlas.” [5]

Dikisahkan ada seorang ‘alim yang selalu shalat di shaf paling depan. Suatu hari ia datang
terlambat, maka ia mendapat shalat di shaf kedua. Di dalam benaknya terbersit rasa malu kepada
para jama’ah lain yang melihatnya. Maka pada saat itulah, ia menyadari bahwa sebenarnya
kesenangan dan ketenangan hatinya ketika shalat di shaf pertama pada hari-hari sebelumnya
disebabkan karena ingin dilihat orang lain. [6]

Yusuf bin Husain Ar Razi berkata,”Sesuatu yang paling sulit di dunia adalah ikhlas. Aku sudah
bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya’ dari hatiku, seolah-olah timbul riya, dengan
warna lain.” [7]

Ada pendapat lain, ikhlas sesaat saja merupakan keselamatan sepanjang masa, karena ikhlas
sesuatu yang sangat mulia. Ada lagi yang berkata, barangsiapa melakukan ibadah sepanjang
umurnya, lalu dari ibadah itu satu saat saja ikhlas karena Allah, maka ia akan selamat.

Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan
murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang
mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam
masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya,
padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan. Merekalah yang
dimaksudkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

َ ‫َوبَدَا لَ ُهم ِمنَ هللاِ َمالَ ْم يَ ُكونُوا يَحْ ت َ ِسبُونَ َوبَدَا لَ ُه ْم‬
َ‫س ِيئَاتُ َما َك َسبُوا َو َحاقَ ِب ِهم َّماكَانُوا ِب ِه يَ ْستَ ْه ِز ُءون‬

Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.Dan jelaslah
bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat … [Az Zumar : 47-48]

‫ص ْنعاا‬ َ ْ‫س ْعيَ ُه ْم فِي ْال َحيَاةِ الدُّ ْنيَا َو ُه ْم يَح‬


ُ َ‫سبُونَ أ َنَّ ُه ْم يُحْ ِسنُون‬ َ َ‫س ِرينَ أ َ ْع َماًلا الَّذِين‬
َ ‫ض َّل‬ َ ‫قُ ْل ه َْل نُن َِبئ ُ ُك ْم ِباْْل َ ْخ‬

Katakanlah:"Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya". Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al Kahfi : 103-104].[8]

Bila Anda melihat seseorang, yang menurut penglihatan Anda telah melakukan amalan Islam
secara murni dan benar, bahkan boleh jadi dia juga beranggapan seperti itu. Tapi bila Anda tahu
dan hanya Allah saja yang tahu, Anda mendapatkannya sebagai orang yang rakus terhadap
dunia, dengan cara berkedok pakaian agama. Dia berbuat untuk dirinya sendiri agar dapat
mengecoh orang lain, bahwa seakan-akan dia berbuat untuk Allah.

Ada lagi yang lain, yaitu beramal karena ingin disanjung, dipuji, ingin dikatakan sebagai orang
yang baik, atau yang paling baik, atau terbetik dalam hatinya bahwa dia sajalah yang konsekwen
terhadap Sunnah, sedangkan yang lainnya tidak.

Ada lagi yang belajar karena ingin lebih tinggi dari yang lain, supaya dapat penghormatan dan
harta. Tujuannya ingin berbangga dengan para ulama, mengalahkan orang yang bodoh, atau agar
orang lain berpaling kepadanya. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam orang itu
dengan ancaman, bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam neraka jahannam. Nasalullaha As
Salamah wal ‘Afiyah. [9]

Membersihkan diri dari hawa nafsu yang tampak maupun yang tersembunyi, membersihkan niat
dari berbagai noda, nafsu pribadi dan duniawi, juga tidak mudah. memerlukan usaha yang
maksimal, selalu memperhatikan pintu-pintu masuk bagi setan ke dalam jiwa, membersihkan
hati dari unsur riya’, kesombongan, gila kedudukan, pangkat, harta untuk pamer dan lainnya.

Sulitnya mewujudkan ikhlas, dikarenakan hati manusia selalu berbolak-balik. Setan selalu
menggoda, menghiasi dan memberikan perasaan was-was ke dalam hati manusia, serta adanya
dorongan hawa nafsu yang selalu menyuruh berbuat jelek. Karena itu kita diperintahkan
berlindung dari godaan setan. Allah berfirman, yang artinya : Dan jika kamu ditimpa suatu
godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui. [Al A’raf : 200].

Jadi, solusi ikhlas ialah dengan mengenyahkan pertimbangan-pertimbangan pribadi, memotong


kerakusan terhadap dunia, mengikis dorongan-dorongan nafsu dan lainnya.

Dan bersungguh-sunguh beramal ikhlas karena Allah, akan mendorong seseorang melakukan
ibadah karena taat kepada perintah Allah dan Rasul, ingin selamat di dunia-akhirat, dan
mengharap ganjaran dari Allah.

Upaya mewujudkan ikhlas bisa tercapai, bila kita mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan jejak Salafush Shalih dalam beramal dan taqarrub kepada Allah, selalu mendengar
nasihat mereka, serta berupaya semaksimal mungkin dan bersungguh-sungguh mengekang
dorongan nafsu, dan selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala.

HUKUM BERAMAL YANG BERCAMPUR ANTARA IKHLAS DAN TUJUAN-TUJUAN


LAIN
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin menjelaskan tentang seseorang yang beribadah
kepada Allah, tetapi ada tujuan lain. Beliau membagi menjadi tiga golongan.

Pertama : Seseorang bermaksud untuk taqarrub kepada selain Allah dalam ibadahnya, dan untuk
mendapat sanjungan dari orang lain. Perbuatan seperti membatalkan amalnya dan termasuk
syirik, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah berfirman:

ْ ‫ َم ْن َع ِم َل َع َمَلا أ َ ْش َركَ فِ ْي ِه َم ِعي َغي ِْر‬، ‫َاء َع ِن الش ِْر ِك‬


ُ‫ي ت ََر ْكتُهُ َو ِش ْر َكه‬ ُّ ‫أَنَا أ َ ْغنَى ال‬
ِ ‫ش َرك‬

Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa beramal mempersekutukanKu dengan yang
lain, maka Aku biarkan dia bersama sekutunya. [HSR Muslim, no. 2985; Ibnu Majah, no. 4202
dari sahabat Abu Hurairah].

Kedua : Ibadahnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan duniawi, seperti ingin menjadi
pemimpin, mendapatkan kedudukan dan harta, tanpa bermaksud untuk taqarrub kepada Allah.
Amal seperti ini akan terhapus dan tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah. Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman:

َ ‫ار َو َح ِب‬
‫ط‬ َ ‫ف إِلَ ْي ِه ْم أ َ ْع َمالَ ُه ْم فِي َها َو ُه ْم فِي َها ًلَيُ ْب َخسُونَ أ ُ ْولَئِكَ الَّذِينَ لَي‬
َ َّ‫ْس لَ ُه ْم فِي اْْل َ ِخ َرةِ إًِلَّ الن‬ ِ ‫َمن َكانَ ي ُِريد ُ ْال َحيَاة َ الدُّ ْنيَا َو ِزي َنت َ َها نُ َو‬
َ‫اط ٌل َّماكَانُوا َي ْع َملُون‬ ِ ‫صنَعُوا ِفي َها َو َب‬ َ ‫َما‬

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan
kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak
dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka
kerjakan. [Hud : 15-16].

Perbedaan antara golongan kedua dan pertama ialah, jika golongan pertama bermaksud agar
mendapat sanjungan dari ibadahnya kepada Allah; sedangkan golongan kedua tidak bermaksud
agar dia disanjung sebagai ahli ibadah kepada Allah dan dia tidak ada kepentingan dengan
sanjungan manusia karena perbuatannya.

Ketiga : Seseorang yang dalam ibadahnya bertujuan untuk taqarrub kepada Allah sekaligus untuk
tujuan duniawi yang akan diperoleh. Misalnya :

•- Tatkala melakukan thaharah, disamping berniat ibadah kepada Allah, juga berniat untuk
membersihkan badan.
•- Puasa dengan tujuan diet dan taqarrub kepada Allah.
•- Menunaikan ibadah haji untuk melihat tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat pelaksaan
ibadah haji dan melihat para jamaah haji.

Semua ini dapat mengurangi balasan keikhlasan. Andaikata yang lebih banyak adalah niat
ibadahnya, maka akan luput baginya ganjaran yang sempurna. Tetapi hal itu tidak menyeret pada
dosa, seperti firman Allah tentang jama’ah haji disebutkan dalam KitabNya:[10]

ْ َ‫ْس َعلَ ْي ُك ْم ُجنَا ٌح أَن ت َ ْبتَغُوا ف‬


‫ضَلا ِمن َّربِ ُك ْم‬ َ ‫لَي‬

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Rabb-mu……[Al Baqarah : 198].

Namun, apabila yang lebih berat bukan niat untuk beribadah, maka ia tidak memperoleh
ganjaran di akhirat, tetapi balasannya hanya diperoleh di dunia; bahkan dikhawatirkan akan
menyeretnya pada dosa. Sebab ia menjadikan ibadah yang mestinya karena Allah sebagai tujuan
yang paling tinggi, ia jadikan sebagai sarana untuk mendapatkan dunia yang rendah nilainya.
Keadaan seperti itu difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala :

ُ ‫ط ْوا ِم ْن َهآ إِذَا ُه ْم يَ ْس َخ‬


َ‫طون‬ ُ ‫ت فَإ ِ ْن أ ُ ْع‬
َ ‫طوا ِم ْن َها َرضُوا َوإِن لَّ ْم يُ ْع‬ َّ ‫َو ِم ْن ُهم َّمن يَ ْل ِم ُزكَ فِي ال‬
ِ ‫صدَقَا‬

Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang pembagian zakat, jika mereka diberi sebagian
darinya mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta
mereka menjadi marah. [At Taubah : 58].

Dalam Sunan Abu Dawud [11], dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ada seseorang bertanya:
“Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ! Seseorang ingin berjihad di jalan Allah Subhanahu
wa Ta'ala dan ingin mendapatkan harta (imbalan) dunia?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,”Tidak ada pahala baginya,” orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai
tiga kali, dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm menjawab,”Tidak ada pahala baginya.”

Di dalam Shahihain (Shahih Bukhari, no.54 dan Shahih Muslim, no.1907), dari Umar bin
Khaththab Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

َ ‫ أَ ِو ا ْم َرأَةٍ يَ ْن ِك ُح َها فَ ِهجْ َرتُهُ ِإلَى َما ه‬، ‫ُص ْيبُ َها‬
‫َاج َر ِإلَ ْي ِه‬ ِ ‫ت هِجْ َرتُهُ ِلد ُ ْنيَا ي‬
ْ َ‫َم ْن كَان‬

Barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang
wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai hijrahnya sesuai dengan tujuan niat dia berhijrah.

Apabila ada dua tujuan dalam takaran yang berimbang, niat ibadah karena Allah dan tujuan
lainnya beratnya sama, maka dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama. Pendapat yang
lebih dekat dengan kebenaran ialah, bahwa orang tersebut tidak mendapatkan apa-apa.

Perbedaan golongan ini dengan golongan sebelumnya, bahwa tujuan selain ibadah pada
golongan sebelumnya merupakan pokok sasarannya, kehendaknya merupakan kehendak yang
berasal dari amalnya, seakan-akan yang dituntut dari pekerjaannya hanyalah urusan dunia
belaka.

Apabila ditanyakan “bagaimana neraca untuk mengetahui tujuan orang yang termasuk dalam
golongan ini, lebih banyak tujuan untuk ibadah atau selain ibadah?”

Jawaban kami: “Neracanya ialah, apabila ia tidak menaruh perhatian kecuali kepada ibadah saja,
berhasil ia kerjakan atau tidak. Maka hal ini menunjukkan niatnya lebih besar tertuju untuk
ibadah. Dan bila sebaliknya, ia tidak mendapat pahala”.

Bagaimanapun juga niat merupakan perkara hati, yang urusannya amat besar dan penting.
Seseorang, bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan
dengan niatnya.

Ada seorang ulama Salaf berkata: “Tidak ada satu perjuangan yang paling berat atas diriku,
melainkan upayaku untuk ikhlas. Kita memohon kepada Allah agar diberi keikhlasan dalam niat
dan dibereskan seluruh amal” [12].

IKHLAS ADALAH SYARAT DITERIMANYA AMAL


Di dalam Al Qur`an dan Sunnah banyak disebutkan perintah untuk berlaku ikhlas, kedudukan
dan keutamaan ikhlas. Ada disebutkan wajibnya ikhlas kaitannya dengan kemurnian tauhid dan
meluruskan aqidah, dan ada yang kaitannya dengan kemurnian amal dari berbagai tujuan.

Yang pokok dari keutamaan ikhlas ialah, bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya amal.
Sesungguhnya setiap amal harus mempunyai dua syarat yang tidak akan di terima di sisi Allah,
kecuali dengan keduanya. Pertama. Niat dan ikhlas karena Allah. Kedua. Sesuai dengan Sunnah;
yakni sesuai dengan KitabNya atau yang dijelaskan RasulNya dan sunnahnya. Jika salah satunya
tidak terpenuhi, maka amalnya tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak, sebagaimana hal ini
ditunjukan dalam firmanNya:

َ ‫احد ٌ فَ َم ْن َكانَ يَ ْر ُجوا ِلقَآ َء َر ِب ِه فَ ْليَ ْع َم ْل َع َمَلا‬


‫صا ِل احا َوًلَيُ ْش ِركُ ِب ِعبَادَةِ َر ِب ِه أَ َحداا‬ ِ ‫َو‬

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal
shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb- nya. [Al Kahfi : 110].
Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai
dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Dia memerintahkan agar
orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak
menghendaki selainNya.[13]

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsir-nya [14]: “Inilah dua landasan amalan yang
diterima, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
”.

Dari Umamah, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam seraya berkata,”Bagaimanakah pendapatmu (tentang) seseorang yang berperang demi
mencari upah dan sanjungan, apa yang diperolehnya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab,”Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga
kali, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm selalu menjawab, orang itu tidak mendapatkan apa-
apa (tidak mendapatkan ganjaran), kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

َ ‫إِ َّن هللاَ ًلَ يَ ْقبَ ُل ِمنَ العَ َم ِل إًِلَّ َما َكانَ لَهُ خَا ِلصا ا َو ا ْبت ُ ِغ‬
ُ‫ي بِ ِه َوجْ ُهه‬

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan
dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. [HR Nasa-i, VI/25 dan sanad-
nya jayyid sebagaimana perkataan Imam Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib, I/26-27 no. 9.
Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib, I/106, no. 8].

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Imam An Nawawi (I/16-17), Cet. Darul Fikr; Madarijus
Salikin (II/95-96), Cet. Darul Hadits Kairo; Al Ikhlas, oleh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hlm. 16-17,
Cet. III, Darul Nafa-is, Tahun 1415 H; Al Ikhlas Wasy Syirkul Asghar, oleh Abdul Lathif, Cet. I,
Darul Wathan, Th. 1412 H.
[2]. Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (I/17); Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam (I/70).
[3]. Jami’ul Ulum Wal Hikam (I/70).
[4]. Ibid. (I/71).
[5]. Madarijus Salikin (II/95).
[6]. Tazkiyatun Nufus, hlm. 15-17.
[7]. Madarijus Salikin (II/96).
[8]. Tazkiyatun Nufus, hlm. 15-17.
[9]. Lihat hadits yang semakna dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib (I/153-155); At Tarhib Min
Ta’allumil Ilmi Lighairi Wajhillah Ta’ala, hadits no. 105-110; dan hadits ini dishahihkan oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah.

Ikhlas
Rabu, 9 Februari 2011 23:30:49 WIB

IKHLAS

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

‫ظ ُر إِلَى قُلُ ْوبِ ُك ْم َو أَ ْع َما ِل ُك ْم‬


ُ ‫ص َو ِر ُك ْم َو أ َ ْم َوا ِل ُك ْم َو لَ ِك ْن يَ ْن‬ ُ ‫ قَا َل َر‬: ‫َع ْن أَبِ ْي ه َُر ْي َرة َ قَا َل‬
ُ ‫ إِ َّن هللاَ ًلَ يَ ْن‬: ِ‫س ْو ُل هللا‬
ُ ‫ظ ُر إِلَى‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta
kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Muslim dalam kitab Al Birr Wash Shilah Wal Adab, bab Tahrim Dzulmin Muslim Wa
Khadzlihi Wa Ihtiqarihi Wa Damihi Wa ‘Irdhihi Wa Malihi, VIII/11, atau no. 2564 (33).
2. Ibnu Majah dalam kitab Az Zuhud, bab Al Qana’ah, no. 4143.
3. Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539.
4. Baihaqi dalam kitab Al Asma’ Wa Shifat, II/ 233-234, bab Ma Ja’a Fin Nadhar.
5. Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’, IV/103 no. 4906.

Derajat hadits ini shahih.


Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan dari Katsir bin Hisyam, telah menceritakan kepada
kami Ja’far bin Barqan dari Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini ada mutabi’nya [1]. Imam Ahmad berkata,”Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Bakr Al Barani, telah menceritakan kepada kami Ja’far -yakni Ja’far bin Barqan-
dengan sanad ini.” Lihat Musnad Ahmad, 2/285.
Muslim meriwayatkan dari jalan lain dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi
َ ْ‫ أَج‬dan di akhirnya terdapat lafazh ‫صا ِب ِع ِه‬
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan lafazh ‫سا ِد ُك ْم‬ َ َ ‫َار ِبأ‬
َ ‫َوأَش‬
َ ‫ ِإلَى‬dan Beliau mengisyaratkan ke dadanya. Dalam riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Baihaqi
‫صد ِْر ِه‬
ada tambahan ‫إِنَّ َما‬
adi lengkapnya riwayat hadits ini dengan tambahan sebagai berikut:

‫صد ِْرهِ( َو‬ َ َ ‫َار ِبأ‬


َ ‫صا ِب ِع ِه ِإلَى‬ َ ‫ظ ُر ِإلَى قُلُ ْو ِب ُك ْم ) َوأَش‬
ُ ‫ص َو ِر ُك ْم َو أ َ ْم َوا ِل ُك ْم َو لَ ِك ْن ) ِإنَّ َما( َي ْن‬ َ ْ‫ظ ُر ِإلَى) أَج‬
ُ ( ‫سا ِد ُك ْم َو ًلَ ِإلَى‬ ُ ‫ِإ َّن هللاَ ًلَ يَ ْن‬
‫أَ ْع َما ِل ُك ْم‬

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak juga kepada rupa dan harta
kalian. Akan tetapi sesunguhnya Dia hanyalah melihat kepada hati kalian (Nabi Shalalllahu
'alaihi wa sallam mengisyaratkan ke dadanya) dan dia melihat pula kepada amal kalian.

SYARAH HADITS
Hadits ini dengan lafazh ‫ظ ُر إِلَى قُلُ ْوبِ ُك ْم َو أَ ْع َما ِل ُك ْم‬
ُ ‫( َو لَ ِك ْن يَ ْن‬tetapi sesungguhnya Allah hanyalah melihat
kepada hati dan amal kalian). Kata ‫ قُلُ ْوبِ ُك ْم َو أَ ْع َما ِل ُك ْم‬sangat penting karena inilah yang akan dinilai
oleh Allah nanti pada hari Kiamat. Karena itu, Imam Baihaqi (wafat tahun 458H), setelah
membawakan hadits di atas, beliau berkomentar: “Hadits inilah yang shahih dan terpelihara yang
dihafal oleh huffazh (ulama ahli hadits). Adapun riwayat yang biasa diucapkan oleh sebagian
ahli ilmu ‘sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan amal kalian, tetapi melihat kepada
hati kalian’, riwayat ini tidak ada satupun yang shahih yang sampai kepada kami, juga menyalahi
hadits yang shahih. Riwayat yang sudah shahih itulah yang menjadi pegangan kita dan seluruh
kaum muslimin. Terutama (yang harus berpegang dengan riwayat yang shahih ini) adalah ulama
yang diikuti, yang menjadi panutan (bagi ummat). Wabillahit taufiq”.

Di dalam kitab Riyadhush Shalihin, no. 8 tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani,
dibawakan hadits ini tanpa tambahan ‫ َو أ َ ْع َما ِل ُك ْم‬yaitu:

ُ ‫ص َو ِر ُك ْم َو أ َ ْم َوا ِل ُك ْم َو لَ ِك ْن َي ْن‬
‫ظ ُر ِإلَى قُلُ ْو ِب ُك ْم‬ ُ ‫ِإ َّن هللاَ ًلَ َي ْن‬
ُ ‫ظ ُر ِإلَى‬

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak juga kepada rupa kalian, tetapi
Dia melihat pada hati kalian.

Kemudian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkomentar: “Dalam riwayat Muslim dan
lainnya ada tambahan ‫ َو أَ ْع َما ِل ُك ْم‬dan tambahan ini sangat penting, karena kebanyakan kaum
muslimin memahami hadits di atas tanpa ada tambahan ini dengan pemahaman yang salah.
Apabila Anda menyuruh mereka dengan perintah syariat yang bijaksana, seperti diperintahkan
untuk memelihara atau memanjangkan jenggot dan tidak boleh menyerupai orang kafir dan
selain itu dari beban syariat, mereka akan menjawab ‘yang penting adalah hati’. Mereka berdalil
dengan hadits di atas. Mereka tidak mengetahui tambahan yang shahih ini, yang menunjukkan
bahwa Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi melihat juga kepada amal mereka. Bila amal
baik (sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam), maka Allah akan menerimanya.
Dan jika tidak baik, maka Allah akan menolaknya, sebagaimana terdapat dalam nash-nash
shahih, seperti sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

َ ‫ث فِي أَُا ْم ِرنَا َهذَا َما لَي‬


ٌّ‫ْس ِم ْنهُ فَ ُه َو َرد‬ َ َ‫َم ْن أَحْ د‬
Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian
darinya, maka ia tertolak. [2]

Sesungguhnya tidak mungkin dapat dibayangkan baiknya hati, kecuali dengan baiknya amal dan
tidak ada baiknya amal, melainkan dengan baiknya hati.
Hadits di atas dengan masalah ikhlas sangat erat kaitannya, karena berhubungan dengan masalah
hati dan amal. Yaitu hati yang ikhlas dan amal yang sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, hadits ini dimasukkan oleh Imam Abdul ‘Azhim bin Abdul
Qawi Al Mundziri (wafat th. 656 H) dalam kitabnya, At Targhib Wat Tarhib 1/ 29 no.19 atau
dalam shahih At Targhib Wa Tarhib I/109 hadits no. 15, kitab Ikhlas, bab At Targhib Fil Ikhlash
Wash Shidiq Wan Niyat Ash Shalihah. Hadits ini juga dimuat oleh Imam Abu Zakaria Yahya bin
Syaraf An Nawawi Ad Dimasyqi (wafat th. 676 H) dalam kitabnya, Riyadhush Shalihin, no. 8,
tahqiq Syaikh Al Albani, bab Al Ikhlas Wa Ikhdharin Niyat Fi Jami’il A’mal Wal Aqwal Wal
Ahwal Barizah Wal Khafiyah.

MAKNA HADITS

َ ْ‫ظ ُر إِلَى أَج‬


ُ ‫سا ِد ُك ْم َو ًلَ إِلَى‬
‫ص َو ِر ُك ْم‬ ُ ‫ًلَ يَ ْن‬

Allah Tidak melihat pada tubuh kalian dan tidak pula pada rupa kalian.

Artinya, Allah tidak akan memberi ganjaran terhadap bentuk tubuh atau rupa manusia atau
banyaknya harta, karena dzat manusia (tubuh manusia) tidak dibebani hukum. Adapun yang
terbebani hukum adalah perbuatan yang berkaitan dengan diri manusia. Demikian pula sifat dan
bentuk yang di luar manusia, seperti: rupa, putih, tinggi, pendek dan lainnya. Allah tidak pula
melihat pada banyaknya harta atau sedikitnya, kaya atau miskin dan lainnya.

‫ظ ُر ِإلَى قُلُ ْو ِب ُك ْم َو أَ ْع َما ِل ُك ْم‬


ُ ‫َو لَ ِك ْن َي ْن‬

Akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.

Ikhlas adalah amal hati, dan amal hati sangat penting. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata:
“Ini adalah kalimat yang ringkas tentang amal hati. Dan amal hati merupakan dasar keimanan,
sebagai tonggak agama, seperti mencintai Allah dan RasulNya, tawakkal kepada Allah,
mengikhlaskan ibadah karenaNya, bersyukur kepadaNya, sabar terhadap putusanNya, takut dan
berharap kepadaNya. Amal ini, secara keseluruhan wajib bagi setiap makhluk menurut
kesepakatan seluruh ulama (imam). [Majmu’ Fatawa, X/5-6].
Ibnul Qayyim berkata,”Amal hati adalah pokok, sedangkan amal badan sebagai penyerta dan
penyempurna. Sesungguhnya niat itu laksana ruh, sedangkan amal laksana badan. Jika ruh
meninggalkan badan, ia akan mati. Maka mempelajari hukum-hukum hati lebih penting dari
pada mempelajari hukum perbuatan atau badan.” [Badai’ul Fawaid, hlm. 511].[3]

Selanjutnya Ibnul Qayyim berkata,”Barangsiapa memperhatikan syarat dan sumbernya, ia akan


tahu tentang terkaitnya amal badan terhadap amal hati. Amal badan tidak akan ada manfaatnya
tanpa ada amal hati. Amal hati lebih wajib bagi setiap hamba dari pada amal badan. Bukankah
perbedaan orang mukmin dan orang munafik tergantung pada hatinya? Oleh karenanya, ibadah
hati lebih agung daripada ibadah badan, bahkan lebih banyak dan lebih kontinyu dan lebih wajib
pada setiap waktu. [4]

Amal hati sangat penting dan sangat tinggi nilainya di sisi Allah. Dan yang terpenting dari
amalan hati adalah keikhlasan karena Allah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

ُ‫ِي ْالقَ ْلب‬ َ ‫سدَ ْال َج‬


َ ‫سد ُ ُكلُّهُ أًَلَ َو ه‬ َ َ‫ت ف‬ َ َ‫سدُ ُكلُّهُ َو إِذَا ف‬
ْ َ ‫سد‬ َ ‫صلَ َح ال َج‬ َ ‫ضغَةا إِذَا‬
ْ ‫صلَ َح‬
َ ‫ت‬ َ ‫أًَلَ َو إِ َّن فِي ْال َج‬
ْ ‫س ِد ُم‬

… Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka
baik pula seluruh tubuhnya. Apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah
segumpal daging itu adalah hati. [HR Bukhari no. 52, 2051 dan Muslim no. 1599 dari sahabat
Nu’man bin Basyir].

Ikhlas merupakan salah satu amal hati. Bahkan ikhlas berada di awal amal-amal hati. Sebab
diterimanya seluruh amal tergantung dari niat yang ikhlas karena Allah. Dan diterimanya harus
terpenuhi dua syarat. Yaitu ikhlas dan sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

PERINTAH UNTUK IKHLAS, MENJAUHI RIYA’ DAN SYIRIK


Ikhlas merupakan hakikat Din dan kunci dakwah para rasul, sebagaimana firman Allah:

‫االزكَوةَ َوذَلِكَ ِد ْينُ ْال َق ِي َم ِة‬


َّ ‫صلَوة َ َويُؤْ ت ُ ْوا‬ ِ ‫َو َمآ أ ُ ِم ُر ْو~ا ِإًلَّ ِليَ ْعبُد ُْوهللاَ ُم ْخ ِل‬
ِ ُ‫صيْنَ َله‬
َّ ‫الديْنَ ُحنَفَآ َء َويُ ِق ْي ُم ْوا ال‬

Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Dan supaya mereka mendirikan shalat,
menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus. [Al Bayyinah : 5].

َ‫س َّخ َرهَا لَ ُك ْم ِلتُك َِب ُروا هللاَ َعلَى َما َهدَا ُك ْم َو َبش ِِر ْال ُمحْ ِسنِين‬
َ َ‫لَن َينَا َل هللاَ لُ ُحو ُم َها َوًلَ ِد َمآ ُؤهَا َو َل ِكن َينَالُهُ الت َّ ْق َوى ِمن ُك ْم َكذَلِك‬
Daging unta (kurban) dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai
kepadaNya adalah ketaqwaan kamu. [Al Hajj : 37].

ُُ ُ‫سنُ دِيناا ِم َّم ْن أ َ ْسلَ َم َوجْ َههُ هللِ َوه َُو ُمحْ ِسن‬
َ ْ‫َو َم ْن أَح‬

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada
Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan…[An Nisa`: 125].

ُ ‫ش ْيءٍ قَد‬
ُُ‫ِير‬ ِ ‫ت َو َمافِي اْْل َ ْر‬
َ ‫ض َوهللاُ َعلَى ُك ِل‬ َّ ‫ُور ُك ْم أ َ ْو ت ُ ْبد ُوهُ يَ ْعلَ ْمهُ هللاُ َويَ ْعلَ ُم َمافِي ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬ ِ ‫صد‬ُ ‫قُ ْل إِن ت ُ ْخفُوا َمافِي‬

Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau menampakkannya,
pasti Allah mengetahui [Ali Imran : 29].

ُ ‫الدينُ ْالخَا ِل‬


‫ص‬ ِ ِ‫{ أًَلَ ِ َّّلِل‬2} َ‫صا لَّهُ الدِين‬ ِ ‫َاب بِ ْال َح‬
‫ق فَا ْعبُ ِد هللاَ ُم ْخ ِل ا‬ َ ‫إِنَّآ أَنزَ ْلنَآ إِلَيْكَ ْال ِكت‬

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Qur`an) dengan (membawa) kebenaran.
Maka sembahlah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya. Ingatlah hanya milik Allah agama
yang bersih (dari syirik). [Az Zumar : 2-3].

‫صا لَّهُ دِينِي‬


‫قُ ِل هللاَ أ َ ْعبُدُ ُم ْخ ِل ا‬

Katakanlah, hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam
menjalankan agamaku. [Az Zumar : 14].

‫ئ َما ن ََوى‬ ِ ‫ إِنَّ َما اْل َ ْع َما ُل بِالنِيَا‬: ِ‫س ْو ُل هللا‬


ٍ ‫ت َو إِنَّ َما ِل ُك ِل ا ْم ِر‬ ُ ‫قَا َل َر‬

Nabi Shallallahu 'alaihi w sallam telah bersabda : “Sesungguhnya amal-amal itu (harus) dengan
niat, dan sesungguhnya setiap (amal) seseorang itu tergantung niatnya…”. [HSR Bukhari, no. 1
dan Muslim, no. 1907].

ْ ‫ َم ْن َع ِم َل َع َمَلا أ َ ْش َركَ فِ ْي ِه َم ِعي َغي ِْر‬، ‫َاء َع ِن الش ِْر ِك‬


‫ي‬ ُّ ‫ قَا َل هللاُ تَعَالَى أَنَا أَ ْغنَى ال‬: ِ‫س ْو َل هللا‬
ِ ‫ش َرك‬ ُ ‫ قَا َل َر‬: ‫َع ْن أَبِ ْي ه َُري َْرة َ قَا َل‬
ُ‫ت ََر ْكتُهُ َو ِش ْر َكه‬

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman: Aku tidak butuh kepada semua sekutu.
Barangsiapa beramal mempersekutukanKu dengan yang lain, maka Aku biarkan dia bersama
sekutunya”. [HSR Muslim, no. 2985; Ibnu Majah, no. 4202].

َ‫ْب ِب ِه َع َرضا ا ِمن‬ َ ‫ُصي‬ ِ ‫ َم ْن ت َ َعلَّ َم ِع ْلما ا ِم َّما يُ ْبتَغَى ِب ِه َوجْ هُ هللاِ َع َّز َو َج َّل ًلَ َيت َ َعلَّ ُمهُ ِإًلَّ ِلي‬: ِ‫س ْو ُل هللا‬
ُ ‫ قَا َل َر‬: ‫َع ْن أ َ ِب ْي ه َُري َْرة َ قَا َل‬
(‫ف ال َجنَّ ِة َي ْو َم ال ِق َيا َم ِة ) َي ْعنِ ْي ِر ُِ ْي َح َها‬َ ‫الدُّ ْن َيا لَ ْم َي ِجدْ َع ْر‬
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam : “Barangsiapa belajar ilmu yang seharusnya ia mengharapkan wajah Allah Azza wa
Jalla, kemudian ia belajar untuk mendapatkan sesuatu dari (harta) dunia, maka ia tidak akan
mencium baunya surga pada hari Kiamat. [HSR Abu Dawud, no. 3664; Ibnu Majah, no. 252 dan
Ahmad, II/338]. [5]

Hadits-hadits yang semisal ini banyak sekali.

Yang selayaknya disebutkan juga dalam pembahasan ini ialah, manakala ikhlas telah tertanam
dalam mengamalkan suatu ketaatan, sedangkan ketaatan itu murni hanya dalam rangka mencari
wajah Allah saja, maka kita dapat menyaksikan, bahwa Allah pasti akan memberi balasan yang
besar terhadap orang-orang yang ikhlas, meskipun ketaatannya sedikit. Sebagaimana kata
Abdullah Ibnul Mubarak: “Betapa banyak amal kecil (sedikit, sederhana) menjadi besar dengan
sebab niatnya (keikhlasannya). Dan betapa banyak amal yang besar (banyak) menjadi kecil
nilainya dengan sebab niat (karena tidak ikhlas)”.[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Suatu bentuk amal yang dilakukan manusia dengan
dasar keikhlasan dan ibadah yang sempurna kepada Allah, maka Allah akan mengampuni
dengan keikhlasan itu dosa-dosa besarnya, sebagaimana dalam hadits bithaqah (kartu yang
bertuliskan ‫ )ًلَ ََُُ إِ ُِلَهَ إًِلَّ الله‬ditimbang dengan 99 dosa di salah satu daun timbangan. Maka yang
lebih berat adalah bithaqah”. [7]

Inilah keadaan orang yang mengucapkannya dengan ikhlas dan jujur sebagaimana dalam hadits
tersebut. Kalau tidak ikhlas, maka berapa banyak orang yang melakukan dosa besar masuk
neraka, padahal mereka mengucapkan kalimat tauhid, namun ucapan mereka tidak dapat
menghapuskan dosa-dosa mereka sebagaimana ucapan pemilik bithaqah. [8]

Ketaatan tanpa keikhlasan dan kejujuran karena Allah, tidak akan mendapat pahala, bahkan
pelakunya akan dicampakkan ke dalam neraka, meskipun ketaatan itu berupa amal-amal besar
seperti berinfaq, berjihad, mencari ilmu syariat. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat,
bahwa tiga golongan manusia yang pertama-tama diputuskan hukuman, yang kemudian
dimasukaan ke dalam api neraka. Pertama, orang yang berjihad karena ingin mendapat julukan
pemberani. Kedua, orang yang belajar dan membaca Al Qur`an, supaya dikatakan orang yang
alim dan qari’. Ketiga, orang yang mengeluarkan shadaqah agar dikatakan orang bahwa ia
dermawan (suka memberi shadaqah). [HSR Muslim, no. 1905, diriwayatkan juga Imam Ahmad
II/322, dan Nasa-i VI/23-24, dari sahabat Abu Hurairah].

Ketiga macam orang tersebut tidak ikhlas dan melakukan amal bukan karena Allah.
Kesimpulan yang bisa kita ambil, ikhlas adalah dasar-dasar utama dari tiap-tiap amal. Amal
diumpamakan jasad, sedang jiwanya adalah ikhlas.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Mutabi’, adalah yang mengiringi atau yang mencocoki. Maksudnya, satu hadits yang
sanadnya menguatkan sanad yang lain dari hadits itu juga.
[2]. HR Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718 dari Aisyah Radhiyallahu anha .
[3]. Badai’ Al Fawa-id, oleh Ibnul Qayyim, tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun, Cet. II, Maktabah
Darul Bayan, Tahun 1425 H.
[4]. Ibid, hal. 514.
[5]. Sebenarnya dalam sanad ini ada Fulaih bin Sulaiman. Dia jelek hafalannya dan seorang yang
jujur. Akan tetapi, hadits ini ada mutabi’nya dan syawahidnya, sehingga terangkat shahih. Lihat
Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadh-lihi, I/658-659, no. 1143, tahqiq Abul Asybal, dan Iqazhul Himam
Al Muntaqa Min Jami’il Ulum Wal Hikam, hlm. 39, oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali.
[6]. Jami’ul Ulum Wal Hikam, oleh Ibnu Rajab Al Hanbali, I/71.
[7]. Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, no. 2639; Ibnu Majah, no. 4300; Ahmad, II/213; dan
Hakim I/6, 529. Tirmidzi berkata,”Hadits ini hasan.”
[8]. Minhajus Sunnah, VI/218-220, tahqiq, Dr. Muhammad Rasyad Salim.

Taubat Nashuha
Selasa, 8 Februari 2011 23:31:22 WIB

TAUBAT NASHUHA

Oleh
Syaikh Salim bin Id Al Hilali

Manusia tidak lepas dari kesalahan, besar maupun kecil, disadari maupun tanpa disengaja.
Apalagi jika hawa nafsu mendominasi jiwanya. Ia akan menjadi bulan-bulanan berbuat
kemaksiatan. Ketaatan, seolah tidak memiliki nilai berarti.

Meski manusia dirundung oleh kemaksiatan dan dosa menumpuk, bukan berarti tak ada lagi
pintu untuk memperbaiki diri. Karena, betapapun menggunung perbuatan maksiat seorang
hamba, namun pintu rahmat selalu terbuka. Manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Yaitu dengan bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang bisa mengantarkannya ke jurang neraka.
Taubat yang dilakukan haruslah total, yang dikenal dengan taubat nashuha. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

َّ ‫طا ٌء َو َخي ُْر ْال َخ‬


ُّ ‫ َر َواهُ التِ ْرمـِ ِذ‬. َ‫طائِيْنَ الت َّ َّوب ُْون‬
‫ي‬ َ ‫ُك ُّل بَنِ ْي آدَ َم َخ‬

Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah
yang bertaubat. [2]

‫لَ ْو أ َ َّن ْال ِعبَادَ لَ ْم يُذْنِب ُْوا لَ َخلَقَ هللاُ ْالخَلقَ يُذْنِب ُْونَ ث ُ َّم َي ْغ ِف ُر لَ ُه ْم َرواه ْال َحا ِك ُم‬

Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan
makhluk lain yang berbuat dosa kemudian mengampuni mereka.[3]

Dengan bertaubat, kita dapat membersihkan hati dari noda yang mengotorinya. Sebab dosa
menodai hati, dan membersihkannya merupakan kewajiban. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda : Sesungguhnya seorang mukmin bila berbuat dosa, maka akan (timbul) satu
titik noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan (perbuatan tersebut) dan memohon
ampunan (kepada Allah), maka hatinya kembali bersih. Tetapi bila menambah (perbuatan dosa),
maka bertambahlah noda hitam tersebut sampai memenuhi hatinya. Maka itulah ar raan (penutup
hati) yang telah disebutkan Allah dalam firmanNya “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya
apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. [Al Muthaffifin:14] [4]

Allah juga menganjurkan kita untuk segera bertaubat dan beristighfar, karena hal demikian jauh
lebih baik daripada larut dalam dosa. Allah berfirman.

ُۚ ‫ير‬ ِ ‫َّللاُ َعذَاباا أ َ ِلي اما فِي الد ُّ ْن َيا َو ْاْل ِخ َر ِة ۚ َو َما لَ ُه ْم فِي ْاْل َ ْر‬
ِ ‫ض ِمن َو ِلي ٍ َو ًَل ن‬
ٍ ‫َص‬ َّ ‫فَإِن َيتُوبُوا َيكُ َخي اْرا لَّ ُه ْم ۖ َو ِإن َيت ََولَّ ْوا يُ َع ِذ ْب ُه ُم‬

Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling,
niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan
mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. [At
Taubah : 74]

Rasulullah sendiri telah memberikan contoh dalam bertaubat ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam banyak bertaubat dan beristighfar, sampai-sampai para sahabat menghitungnya sebanyak
lebih dari seratus kali dalam satu majlis, sebagaimana Nafi’ maula Ibnu Umar telah menyatakan :

َّ َ‫ب ا ْغ ِف ْر ِلي َوتُبْ َعل‬


َ‫ي ِإنَّك‬ ِ ‫وم َر‬ ِ ‫سلَّ َم فِي ْال َمجْ ِل ِس ْال َو‬
َ ُ‫اح ِد ِمائَةُ َم َّرةٍ ِم ْن قَ ْب ِل أ َ ْن يَق‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ُ‫َكانَ انْن‬
ُ ‫ع َم ُريُعَدُّ ِل َر‬
ْ
ُ ُ‫أ ْنتَ الت َّ َّوابُ الغَف‬
‫ور َر َوَُ اهُ التِ ْر ِمذِي‬ َ
Ibnu Umar pernah menghitung (bacaan istighfar) Rasulullah n dalam suatu majlis sebelum
bangkit darinya seratus kali, (yang berbunyi) : Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah
taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha pengampun. [5]

PENGERTIAN TAUBAT NASHUHA


Yang dimaksud dengan taubat nashuha, adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dari
dosa yang pernah dilakukannya, baik sengaja ataupun karena ketidaktahuannya, dengan jujur,
ikhlas, kuat dan didukung dengan ketaatan-ketaatan yang mengangkat seorang hamba mencapai
kedudukan para wali Allah yang muttaqin (bertakwa) dan (ketaatan) yang dapat menjadi
pelindung dirinya dari setan.

HUKUM DAN ANJURAN TAUBAT NASHUHA


Hukum taubat nashuha adalah fardhu ‘ain (menjadi kewajiban setiap individu) atas setiap
muslim. Dalilnya :

1. Firman Allah :

َ‫َّللاِ َج ِميعاا أَيُّهَ ْال ُمؤْ ِمنُونَ لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِلحُون‬


َّ ‫َوتُوبُوا إِلَى‬

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [An
Nuur : 31].

ُ َّ‫َّللاِ ت َْو َبةا ن‬


‫صو احا‬ َّ ‫َيا أ َ ُّي َها الَّذِينَ آ َمنُوا تُوبُوا ِإلَى‬

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-
murninya. [At Tahriim : 8].

2. Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

‫ٍ َر َواهُ ُمسْـ ِل ٌم‬.‫َياأَيُّ َها الَّذِينَ َءا َمنُوا تُوبُوا ِإلَى هللاِ فَإِنِ ْي أَت ُ ْوبُ ِإلَى هللاِ فِ ْي ْال َي ْو ِم ِمائَةَ َم َّرة‬

Wahai, kaum mukminin. Bertaubatlah kepada Allah, karena saya juga bertaubat kepada Allah
sehari seratus kali.[6]

Umat Islam juga telah bersepakat tentang kewajiban bertaubat, sebagaimana dinyatakan Imam
Al Qurthubi : “(Para ulama) umat telah ijma’ (bersepakat) bahwa hukum bertaubat adalah fardhu
(wajib) atas seluruh mukminin” [7]. Ibnu Qudamah juga menyatakan demikian [8].

KELUASAN RAHMAT ALLAH DAN KEUTAMAAN TAUBAT NASHUHA


Manusia hendaklah jangan khawatir jika taubatnya tidak diterima, karena rahmat Allah sangat
luas, sebagaimana do’a para malaikat yang dijelaskan dalan firmanNya :

‫اب ْال َج ِح ِيم‬ َ ‫ش ْيءٍ َّرحْ َمةا َو ِع ْل اما فَا ْغ ِف ْر ِللَّذِينَ ت َابُوا َواتَّبَعُوا‬
َ َ‫س ِبيلَكَ َوقِ ِه ْم َعذ‬ َ ‫َربَّنَا َو ِسعْتَ ُك َّل‬

Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada
orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan
neraka yang bernyala-nyala. [Al Mu’min:7].

SYARAT TAUBAT NASHUHA


Agar taubat nashuha bisa diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala, ada beberapa syarat yang harus
dipenuhinya :

1. Islam.
Taubat yang diterima hanyalah dari seorang muslim. Adapun orang kafir, maka taubatnya ialah
dengan masuk memeluk Islam. Allah berfirman.

َ‫ار ۚ أُو ٰلَئِك‬


ٌ َّ‫ض َر أ َ َحدَهُ ُم ْال َم ْوتُ قَا َل إِنِي تُبْتُ ْاْلنَ َو ًَل الَّذِينَ يَ ُموتُونَ َو ُه ْم ُكف‬
َ ‫ت َحت َّ ٰى إِذَا َح‬ َّ ‫ت الت َّ ْوبَةُ ِللَّذِينَ يَ ْع َملُونَ ال‬
ِ ‫سيِئَا‬ َ ‫َولَ ْي‬
ِ ‫س‬
‫أَ ْعتَدْنَا لَ ُه ْم َعذَاباا أَ ِلي اما‬

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang)
hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan
"Sesungguhnya saya bertaubat sekarang ". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang
mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang
pedih. [An Nisaa’ : 18].

2. Ikhlash.
Taubat yang diterima secara syari’at, hanyalah yang didasari dengan keikhlasan. Taubat karena
riya` atau tujuan duniawi, tidak dikatakan sebagai taubat syar’i. Allah berfirman.

‫َّللاُ ْال ُمؤْ ِمنِينَ أَجْ ارا َع ِظي اما‬


َّ ‫ت‬ ِ ْ‫ف يُؤ‬ َ ‫صوا دِينَ ُه ْم ِ َّّلِلِ فَأُو ٰلَئِكَ َم َع ْال ُمؤْ ِمنِينَ ۖ َو‬
َ ‫س ْو‬ ُ َ‫اّلِلِ َوأ َ ْخل‬ ْ َ ‫ِإ ًَّل الَّذِينَ ت َابُوا َوأ‬
َ َ ‫صلَ ُحوا َوا ْعت‬
َّ ‫ص ُموا ِب‬

Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama)
Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah
bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang
beriman pahala yang besar. [An Nisaa’ : 146].

3. Mengakui dosanya.
Taubat tidak sah, kecuali setelah mengetahui perbuatan dosa tersebut dan mengakui
kesalahannya, serta berharap selamat dari akibat buruk perbuatan tersebut.
4. Penuh penyesalan.
Taubat hanya bisa diterima dengan menunjukkan penyesalannya yang mendalam. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

‫النَّدَ ُم ت َْوبَةٌ َر َواهُ ا ْبنُ َما َجه‬

Penyesalan adalah taubat.[9]

5. Meninggalkan kemaksiatan dan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya.


Orang yang bertaubat wajib meninggalkan kemaksiatannya dan mengembalikan setiap hak
kepada pemiliknya, jika berupa harta atau yang sejenisnya. Kalau berupa tuduhan fitnah atau
yang sejenisnya, maka dengan cara meminta maaf. Apabila berupa ghibah (menggunjing), maka
dengan cara memohon dihalalkan (ditoleransi) selama permohonan tersebut tidak menimbulkan
pengaruh buruk yang lain. Bila ternyata berimplikasi buruk, maka cukuplah dengan
mendoakannya untuk meraih kebaikan.

6. Masa bertaubat sebelum nafas berada di kerongkongan (sakaratul maut) dan sebelum matahari
terbit di arah barat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam sabda Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam :

‫ َر َواهُ التِ ْر ِمذِي‬.‫إِ َّن هللاَ يَ ْقبَ ُل ت َْوبَةَ ْالعَ ْب ِد َما لَ ْم يُغ َْر ِغ ْر‬

Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nafasnya berada di kerongkongan
[10].

ُ ‫ْال ِهجْ َرة ُ ًلَ ت َ ْن َق ِط ُع َحتَّى تَ ْنقَ ِط َع ْالت َْو َبةُ َوًلَ ت َ ْنقَ ِط ُع ْالت َْو َبةُ َحتَّى ت َْطلُ َع الش َْم‬
ُ‫ َر َواهُ أبو دَ ُاود َوأَحْ َمد‬.‫س ِم ْن َم ْغ ِر ِب َها‬

Hijrah tidak terputus sampai terhentinya (masa untuk) taubat, dan taubat tidak terputus sampai
matahari terbit dari sebelah barat [11].

7. Istiqamah setelah bertaubat.


Allah berfirman.

‫ير‬
ٌ ‫ص‬ َ ‫فَا ْست َ ِق ْم َك َما أ ُ ِم ْرتَ َو َمن ت‬
ِ َ‫َاب َم َعكَ َو ًَل ت َْطغ َْوا ۚ ِإنَّهُ ِب َما تَ ْع َملُونَ ب‬

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga)
orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Huud : 112].
8. Mengadakan perbaikan setelah taubat.
Allah berfirman.

‫َاب ِمن‬ ُ ‫الرحْ َمةَ ۖ أَنَّهُ َم ْن َع ِم َل ِمن ُك ْم‬


َ ‫سو اءا ِب َج َهالَ ٍة ث ُ َّم ت‬ َّ ‫َب َربُّ ُك ْم َعلَ ٰى نَ ْف ِس ِه‬ َ ‫َو ِإذَا َجا َءكَ الَّذِينَ يُؤْ ِمنُونَ ِبآيَا ِتنَا فَقُ ْل‬
َ ‫س ََل ٌم َعلَ ْي ُك ْم ۖ َكت‬
َ
ٌ ُ‫صلَ َح فَأنَّهُ َغف‬
‫ور َّر ِحي ٌم‬ َ
ْ ‫بَ ْع ِد ِه َوأ‬

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka
katakanlah "Salaamun-alaikum. Rabb-mu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu)
bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia
bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al An’am : 54].

YANG HARUS DIINGAT KETIKA BERTAUBAT


1. Meyakini bahwa Allah Maha mengetahui dan Maha melihat. Allah mengetahui segala yang
tersembunyi dan yang disembunyikan di dalam hati. Meskipun kita tidak melihatnya, tetapi Dia
pasti melihatnya.

2. Lihat keagungan Dzat yang Anda durhaai, dan jangan melihat kepada kecilnya obyek maksiat,
sebagaimana firmanNya.

‫الر ِحي ُم َوأَ َّن َعذَابِي ه َُو ْالعَذَابُ ْاْل َ ِلي ُم‬ ُ ُ‫نَبِ ْئ ِعبَادِي أَنِي أَنَا ْالغَف‬
َّ ‫ور‬

Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azabKu adalah azab yang sangat pedih. [Al Hijr :
49- 50].

3. Ingatlah, bahwa dosa itu semuanya jelek dan buruk, karena ia menjadi penghalang dalam
mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

4. Meninggalkan tempat-tempat kemaksiatan dan teman-teman yang berperangai buruk, yang


biasa membantunya berbuat dosa, serta memutus hubungan dengan mereka selama mereka
belum berubah menjadi baik.

HAL-HAL YANG MENGHALANGI TAUBAT


Di antara hal-hal yang menghalangi dosa ialah :
1. Bid’ah dalam agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

‫ب ُك ِل بِدْ َع ٍة‬
ِ ‫اح‬
ِ ‫ص‬َ ‫ب اَلتَّ ْوبَةَ َع ْن‬
َ ‫ِإ َّن هللاَ َح َج‬
Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah. [Ash-Shahihah No. 1620]

2. Kecanduan minuman keras. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

‫َّللاِ تَ َعالَى أ َ ْن يَ ْس ِقيَهُ ِم ْن نَ َه ِر ْال َخبَا ِل‬


َّ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه فَإ ِ ْن َعادَ َكانَ َحقًّا َعلَى‬
َّ ‫َاب‬
َ ‫َاب ت‬ َ ُ‫ب ْال َخ ْم َر لَ ْم ت ُ ْقبَ ْل لَه‬
َ ‫ص ََلة ٌ أ َ ْربَعِينَ لَ ْيلَةا فَإِ ْن ت‬ َ ‫َم ْن ش َِر‬
َ
‫ار َر َواهُ أحْ َمد‬ َ
ِ َّ‫صدِيد ُ أ ْه ِل الن‬ ْ
َ ‫قِي َل َو َما نَ َه ُر ال َخبَا ِل قَا َل‬

Barangsiapa yang minum khamr (minuman keras), maka shalatnya tidak diterima selama empat
puluh malam. Jika ia bertaubat, maka Allah akan menerimanya. Namun, bila mengulangi lagi,
maka pantaslah bila Allah memberinya minuman dari sungai Khibaal. Ada yang bertanya: “Apa
itu sungai Khibaal?” Beliau menjawab,”Nanah penduduk neraka.[12]

Demikianlah secara ringkas risalah tentang taubat nashuha. Semoga dapat menjadi pengingat kita
untuk senanPERINTAH UNTUK MENGIKUTI SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
DAN LARANGAN DARI FANATISME DAN TAQLID

Oleh
Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya dan semua sahabatnya.

Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah. Saya bersaksi di hadapan Allah, bahwa saya mencintai
antum semua dan orang-orang shalih di negeri ini semata karena Allah. Saya datang ke Indonesia untuk
yang ketiga kalinya. Dan saya –alhamdulillah- mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di negeri ini.
Saya berdoa semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits qudsi :

ْ‫ي ال ُمت َ َجا ِلسِينَْ فِي َم َح َّبتِي َو َج َبت‬


َّْ ِ‫ي ال ُمت َزَ ا ِو ِرينَْ فِي َم َح َّبتِي َو َج َبتْ َْو ف‬
َّْ ِ‫ف‬

Orang-orang yang duduk di satu majelis karena Aku, maka mereka pasti mendapatkan kecintaan dariKu.
Orang-orang yang berkumpul karena Aku, maka telah mendapatkan kecintaan dariKu.

Sudah kita ketahui bersama, orang yang masuk ke dalam agama Islam harus mengatakan :

ْ‫للا إل إلَ ْهَ ل أَنْ أَش َه ُد‬, ‫أن َوأَش َه ُْد‬


َّْ ‫ل ُم َح َّمدًا‬
ُْ ‫سو‬
ُ ‫للاِ َر‬
ْ

Dua kalimat tersebut merupakan kalimat yang sangat agung. Seseorang tidak bisa dikatakan muslim,
kecuali jika dia telah mengucapkan dua kalimat tersebut, memahami dan melakukan konsekuensi dari
kedua kalimat itu.

Dan makna perkataan ‫للا إل إلَ ْهَ ل أَنْ أَش َه ُْد‬adalah tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali
Allah. Maka wajib bagi seorang muslim untuk merealisasikan ubudiyahnya kepada Allah. Ubudiyah
kepada Allah adalah kecintaan yang sempurna, taat dan tunduk terhadap perintahNya. Oleh sebab
itulah, semua para nabi datang membawa panji Islam.

Allah berfirman.

َِّْ ‫اْلس َال ُْم‬


ْ‫ّللا عِن َْد ال ِدينَْ ِإ َّن‬ ِ

Sesungguhnya agama yang Allah diridhai di sisiNya adalah Islam. [Ali Imran : 19].

Allah berfirman.

ِ ‫ل فَلَن دِينًا‬
‫اْلس َال ِْم غَي َْر يَبت َِْغ َو َمن‬ َْ َ‫يُقب‬

Dan barangsiapa yang menginginkan agama selain Islam, maka tidak akan pernah diterima (agama itu)
darinya. [Ali Imran : 85].

Semua agama di atas bumi adalah agama yang batil, kecuali Islam. Allah tidak akan menerima dan rela
untuk hambaNya, kecuali agama Islam ini. Agama ini wajib dijalankan dan diamalkan oleh kaum
muslimin. Allah berfirman.

َ ‫ين مِ نَْ لَ ُكم ش ََر‬


ْ‫ع‬ َّ ‫صيْنَا َو َما ِإلَيكَْ أَو َحينَا َوالَّذِي نُو ًحا ِب ِْه َو‬
ِْ ‫صىْ َما ال ِد‬ َّ ‫ِيم ِب ِْه َو‬
َْ ‫سىْ ِإب َراه‬ َ ‫ل ال ِدينَْ أَقِي ُموا أَنْ َ َوعِي‬
َ ‫سىْ َو ُمو‬ َْ ‫َ فِي ِْه تَتَف ََّرقُوا َو‬
‫علَى َكب َُْر‬
َ َْ‫ّللاُ َ إِلَي ِْه ت َدعُوهُمْ َما ال ُمش ِركِين‬
َّْ ‫يُنِيبُْ َمن إِلَي ِْه َويَهدِي يَشَا ُْء َمن إِلَي ِْه يَجتَبِي‬

Allah telah mensyariatkan bagi kalian agama seperti yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa
yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa
yaitu: “Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya. Amat berat bagi kaum
musyrikin agama yang kamu serukan mereka kepadanya. Allah memilih orang-orang yang
dikehendakiNya kepada agamaNya dan memberikan petunjuk kepada (agama)Nya orang-orang yang
kembali (kepadaNya). [Asy Syura : 13].

Dalam ayat lain, Allah berfirman.

Allah menentukan untuk (diberi) rahmatNya orang-orang yang Dia kehendaki. [Al Baqarah : 10]

Allah memilih orang-orang tertentu dari kalangan ahli tauhid dan ahli din.
Namun syi’ar (slogan) seorang muslim adalah tauhid dan Sunnah. Karena itu, keimanan seorang muslim
tidak akan sempurna kecuali jika dia telah mengatakan :
ْ‫لَ أَنْ أَش َه ُد‬
ْ َ‫للاُ ِإلَََْ ِإلَ ْه‬
ْ

Dengan itulah, tauhid akan terwujud, dan juga dengan kalimat :

ْ‫ن أَش َه ُد‬


َّْ َ ‫ل ُم َح َّمدًا أ‬
ُْ ‫سو‬
ُ ‫للاِ َر‬
ْ

Makna kalimat ini, ialah tidak ada orang yang berhak diikuti, kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam.

Maka, seorang muslim tidak boleh menjadikan seorang syaikh, madzhab, kelompok, jama’ah, nalar,
pendapat, (aturan) politik, adat, taqlid, budaya, warisan nenek moyang, sebagai panutan dan diterima
begitu saja tanpa melihat dalil. Seorang muslim tidak bisa dikatakan muslim yang sempurna, sampai ia
melaksanakan ubudiyah (penghambaan diri) hanya untuk Allah saja dan menjadikan Rasulullah n
sebagai orang yang dia ikuti. Barangsiapa yang menisbatkan diri kepada salah satu madzhab, kelompok
atau jama’ah atau akal, maka ucapannya “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” masih dianggap kurang
dan tidak sempurna.

Pernyataan yang telah kami sebutkan itu merupakan ketetapan semua ulama Islam, terutama para
imam yang empat, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad, semoga Allah
memberikan rahmat kepada mereka semua.

Imam Abu Hanifah berkata: ”Haram bagi seseorang mengemukakan pendapat kami, sampai dia
mengetahui dari mana kami mengambilnya”.

Dan Imam Malik, sambil memberikan isyarat ke arah makam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
sambil berkata : ”Semua orang, perkataannya bisa diambil dan bisa ditolak, kecuali perkataan orang
yang ada di dalam kuburan ini,” yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Imam Syafi’i berkata : ”Jika ada hadits shahih, maka itulah madzhabku”.

Pada suatu hari, datang kepadanya seseorang dan berkata: “Wahai, Imam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda begini dan begini (sambil menyebutkan hadits) dalam masalah ini. Lalu, apa
pendapatmu, wahai Imam?” Maka Imam Syafi’i marah besar dan berkata : ”Apakah engkau melihat saya
keluar dari gereja? Apakah engkau melihatku keluar dari tempat peribadatan orang Yahudi? Engkau
menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka aku tidak berkata apa pun, kecuali
seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam“.

Karena itulah, salah satu muridnya yang bernama Yunus bin Abil A’la Ash Shadafi dalam satu majelis
pernah ditanya tentang satu masalah. Maka dia menjawabnya dengan hadits Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Lalu ada yang bertanya : ”Apa pendapat Imam Syafi’i dalam masalah tersebut?” Beliau
menjawab: ”Madzhab Imam Syafi’i ialah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena saya
pernah mendengar beliau berkata : ”Jika ada hadits shahih, maka itulah madzhabku”.
Begitu pula Imam Ahmad, beliau adalah orang yang selalu mengikuti atsar dan dalil. Beliau tidak pernah
berhujjah, kecuali dengan dalil dari firman Allah atau sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Demikian ini merupakan kewajiban bagi seorang alim, mufti dan orang yang meminta fatwa. Karena
Allah memerintahkan orang-orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya.

‫ل فَاسأَلوا‬
َْ ‫الذك ِْر أَه‬
ِْ ْ‫ت َعلَ ُمونَْ ل ُكنتُمْ ِإن‬

Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui. [An
Nahl : 43].

Akan tetapi, (sebagian) kaum muslimin berhenti sampai ayat ini saja. Mereka lupa dan tidak melanjutkan
ayat tersebut. Padahal kelanjutan dari ayat tersebut adalah :

ْ‫ت‬ ُّ ‫َو‬
ِ ‫الزب ُِْر بِالبَ ِينَا‬

Dengan keterangan-keterangan dan kitab-kitab. [An Nahl : 44].

Maksudnya, jika Anda tidak mengetahui, maka bertanyalah kepada orang yang mengetahui dengan
disertai dalil, hujjah dan bukti-bukti. Itulah makna firman Allah :

ْ‫ت‬ ُّ ‫َو‬
ِ ‫الزب ُِْر بِالبَ ِينَا‬

Agama dan hukum Allah tidak diambil kecuali berdasarkan keputusan (ijma’), penjelasan dan kaidah-
kaidah para ulama yang dilandasi dengan dalil-dalil syar’i. Dari situ, tumbuhlah persatuan. Persatuan
yang wajib digalang oleh kaum muslimin harus bertumpu pada tauhid dan ittiba’ kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Persatuan secara fisik yang kita serukan harus didahului oleh persatuan
atau kesamaan pemahaman. Pemahaman kita harus dilandasi dengan tauhid dan ittiba’ hanya kepada
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan inilah makna dari firman Allah.

ْ‫ل ال ِدينَْ أَقِي ُموا أَن‬


َْ ‫فِي ِْه تَتَف ََّرقُوا َو‬

Tegakkanlah agama dan jangan kalian berpecah belah tentangnya. [Asy Syura : 13].

Allah melarang kita berpecah-belah, dan jangan sampai ada sesuatu yang memecah-belah kita. Allah
juga melarang kita meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita, bahwa pada akhir jaman nanti
akan ada beberapa kaum yang mengingkari Sunnah. “Aku akan mendapati salah satu dari kalian
bersandar di atas kursinya sambil berkata “Dihadapan kita ada Kitab Allah. Jika kita mendapatkan
sesuatu yang halal di dalamnya, maka kita akan halalkan. Dan jika kami menemukan sesuatu yang
haram, maka kami haramkan”. Ketauhilah, bahwa aku telah diberi sesuatu yang sama dengan Al
Qur’an”. [HR Abu Daud dan Tirmidzi].

Kedudukan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sama dengan Al Qur’an. Di dalamnya
disebutkan hal-hal yang halal dan haram. Orang yang mengingkari Sunnah, hukumnya kafir, keluar dari
agama. Orang yang mengingkari Sunnah, berarti mengingkari Al Qur’an.

Kita lihat, bagaimana Al Qur’an bisa sampai kepada kita? Al Qur’an sampai kepada kita dari generasi ke
generasi. Para tabi’in mengambilnya dari para sahabat, dan para pengikut tabi’in mengambilnya dari
para tabi’in. Begitu seterusnya, sehingga Al Qur’an bisa sampai kepada kita.

Pada masa-masa terakhir ini, telah terjadi perbedaan. Kami menemukan beberapa kaum di antara
mereka ada yang mengingkari Sunnah. Di antara mereka ada yang membacanya dengan niat mencari
barakah dan tidak beramal dengan sunnah. Ada sebagian orang, yang sama sekali tidak perduli sama
sekali dengan Sunnah, dan dia beranggapan bahwa yang dimaksud dengan Sunnah adalah satu hukum
yang tidak ada sangsinya. Demikian ini merupakan dugaan yang salah.

Sebab, para ulama, jika mengatakan “Sunnah” secara mutlak, maka maknanya tidak lepas dari dua hal.

Pertama : Sunnah, sebagai sumber syari’at (hukum). Dalam hal ini, kedudukan Sunnah sama dengan Al
Qur’an, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

ْ َ ‫َاب أُوتِيتُْ ِإنِي أ‬


َ‫ل‬ َْ ‫َم َع ْه ُ َومِ ثلَ ْهُ ال ِكت‬

Kedua : Sunnah yang berarti sebagai salah satu hukum syar’i yang lima, yang berada di bawah wajib dan
di atas mubah. Berdasarkan (makna) yang kedua ini, pelakunya akan diberi pahala, dan yang
meninggalkannya tidak mendapat sangsi.

Jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengambil dalil yang benar, maka lebih baik dia
mengikuti jalan para sahabat, karena kebaikan hanya dari jalan mereka. Kemudian kebaikan ini
diriwayatkan dan diambil oleh para tabi’in. Akan tetapi, pada jaman tabi’in, kebaikan tersebut
tercampuri dengan noda dan bid’ah yang mulai muncul. Sehingga, muncullah kelompok-kelompok
seperti Rafidhah, Qadariyah dan kelompok-kelompok sesat lainnya. Padahal, kebanyakan orang
umumnya masih berada di atas kebaikan tersebut. Seiring dengan perjalanan waktu, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan tentang keterasingan agama ini. beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda :

Sesungguhnya agama (Islam) muncul dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka
keberuntungan bagi orang-orang yang asing. Ditanyakan kepada nabi n : “Siapa mereka, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab : “Sekelompok orang yang sedikit, yang berada di kalangan orang yang
banyak. Mereka memperbaiki Sunnah-ku yang telah dirusak oleh orang.” [HR Tirmidzi]

Oleh karenanya, ketika Imam Ahmad mendengar seseorang berkata – saat fitnah banyak bermunculan,
di antaranya bid’ah yang menyatakan Al Qur’an adalah makhluk dan fitnah lainnya, : “Ya, Allah.
Matikanlah aku di atas Islam.” Maka Imam Ahmad berkata kepadanya : ”Katakanlah, ‘Ya, Allah.
Matikanlah aku di atas Islam dan Sunnah’.”

Kita memohon dan berdo’a kepada Allah, semoga kita dimatikan di atas Islam dan Sunnah, dan semoga
kata-kata terakhir dalam hidup kita ialah laa ilaaha illallah

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberitahukan kepada kita, bahwa setiap satu jaman
berlalu dan datang jaman lain, maka semakin berat fitnah yang melanda umat ini dan perpecahan akan
semakin nampak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm berkata kepada sahabatnya :

َ َ‫ِيرا اخت َِالفًا ف‬


ُ‫العمر به يطول من أي – بَعدِي مِ ن ُكمْ يَعِشْ َمنْ فَإ ِْنَّ ْه‬- ‫سيَ َرى‬ ً ‫َكث‬

Sesungguhnya, barangsiapa yang hidup di antara kalian (panjang umurnya), maka dia akan
mendapatkan perbedaan yang sangat banyak. [HR Abu Daud].

Perpecahan tersebut telah terjadi, dan ini adalah penyakit. Dan tidak ada satu penyakit, (kecuali) pasti
ada obatnya. Obat dari penyakit ini, ialah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam lanjutan
hadits itu sendiri.

ْ‫سنَّتِي فَ َعلَي ُكم‬ ُ ‫الرا ِشدِينَْ ال َمهد ِِيينَْ ال ُخلَفَاءِْ َو‬


ُ ‫سنَّ ِْة ِب‬ َ ‫علَي َها‬
َّ ْ‫عضُّوا َبعدِي مِ ن‬ ِ ‫ِبال َّن َو‬
َ ‫اج ِْذ‬

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku, dan sunnah para khulafaur rasyidin yang
mendapat petunjuk. Gigitlah (peganglah) sunnah tersebut dengan gerahammu.

Jadi, Sunnah para khulafa’ dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah satu. Karena itulah
Rasulullah n bersabda : ْ‫سنَّتِي فَ َعلَي ُكم‬ ُ ‫الرا ِشدِينَْ ال َمهد ِِيينَْ ال ُخلَفَاءِْ َو‬
ُ ‫سنَّ ِْة ِب‬ َّ ْ‫ َبعدِي مِ ن‬, lalu setelah itu Beliau berkata “‫عضُّوا‬
َ
‫ ”عليها‬dengan lafazh satu (tersirat dalam sabda beliau ini bahwa sunnah Rasulullah dan sunnah khulafa’
Ar Rasyidin adalah satu –red) dan tidak berkata “‫عضُّوا‬ َ ‫علَي ِه َما‬
َ ” (gigitlah keduanya, maksudnya peganglah
ia dengan sekuat-kuatnya).

Pada hakikatnya, semua ini merupakan agama Allah. Karena, sebagaimana Allah memilih Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusanNya dari kalangan manusia, maka Allah juga memilih untuk
nabiNya sahabat-sahabat yang pilihan. Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada
mereka untuk mengajar dan membersihkan mereka, sebagaimana yang telah Allah firmankan :

َْ َ‫ول األُمِ يِينَْ فِي بَع‬


ْ‫ث الَّذِي ه َُو‬ ُ ‫علَي ِهمْ يَتلُو مِ ن ُهمْ َر‬
ًْ ‫س‬ َْ ‫ل مِ ن كَانُوا َوإِن َوالحِ ك َم ْةَ ال ِكت‬
َ ‫َاب َويُعَ ِل ُم ُه ُْم َويُزَ ِكي ِهمْ آيَاتِ ِْه‬ ُْ ‫ض َاللْ لَفِي قَب‬
َ ْ‫ُّمبِين‬

Dia-lah yang mengutus kepada umat yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membaca
ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
(Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yang nyata. [Al Jumu’ah : 2].
Orang yang mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, berarti dia telah mencela Allah. Orang yang
mencela sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sungguh dia telah mencela Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Agama ini adalah dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam dengan pemahaman para salaful umah, dari para sahabat dan tabi’in, seperti difirmankan
Allah.

‫ق َو َمن‬
ِْ ِ‫ل يُشَاق‬ َّْ ‫ل غَي َْر َويَت َّ ِبعْ ال ُه َدىْ َل ْهُ تَبَيَّنَْ َما بَع ِْد مِ ن‬
َْ ‫الرسُو‬ َ َْ‫سا َءتْ َ َج َهنَّ َْم َونُص ِل ِْه ت ََولَّىْ َما نُ َو ِل ِْه ال ُمؤمِ نِين‬
ِْ ‫س ِبي‬ َ ‫يرا َو‬
ً ‫ص‬ِ ‫َم‬

Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan
jalannya orang-orang mukminin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,
dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An
Nisaa’: 115].

Yang dimaksud jalan orang-orang mukminin, ialah para sahabat dan orang-orang yang berjalan di atas
jalan mereka dari kalangan para tabi’in dan pengikut tabi’in sampai hari kiamat tiba. Keberadaan
mereka, akan terus ada sampai hari kiamat datang, seperti yang akan kita jelaskan, insya Allah.

Agama ini adalah agama yang nilai-nilainya dipraktekkan, bukan agama filsafat atau teori semata.
Agama ini telah tegak pada masa-masa yang lalu, sejak zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
era sahabat dan para tabi’in. Apa yang menjadi agama pada masa itu, maka pada sekarang ini, hal
tersebut juga merupakan bagian dari agama. Dan jika pada zaman mereka ada satu hal yang bukan dari
agama, maka sekarang ini, hal tersebut juga bukan termasuk dari agama yang dicintai dan diridhai Allah.

Agama ini adalah Kitab Allah, dan Kitab Allah memerintahkan agar kita mengikuti Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Dan Rasulullah, memerintahkan kita untuk mengikuti sahabat Rasulullah. Ini semua
dicintai dan diridhai Allah. Begitulah yang difahami Imam Syafi’i dan ulama lainnya.

(Suatu waktu), Imam Syafi’i datang ke Masjidil Haram di Mekkah untuk menunaikkan ibadah haji. Beliau
duduk dan berkata kepada orang-orang yang ada : “Tanyalah kepadaku. Tidak ada orang yang bertanya
tentang sesuatu kepadaku, kecuali aku akan menjawabnya dengan Kitabullah”.

Maka ada orang awam berdiri dan bertanya : “Wahai, imam. Ketika aku masuk Masjidil Haram, aku
menginjak dan membunuh satu serangga. Padahal orang yang dalam keadaan ihram tidak boleh
membunuh sesuatu. Akan tetapi, aku telah membunuh seekor serangga. Apa jawabannya dari Kitabullah
?”.

Setelah memuji Allah dan shalawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Imam Syafi’i berkata
: Allah berfirman :

Apa-apa yang telah diperintahkan Rasul, maka haruslah kalian mengambilnya. [Al Hasyr:8].
Sementara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :

‫سنَّتِي فَعَلَي ُك ْم‬ ُ ‫الرا ِشدِينَْ ال َمهدِيِينَْ ال ُخلَفَاءِْ َو‬


ُ ِ‫سنَّ ِْة ب‬ َّ ْ‫بَعدِي مِ ن‬

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang
mendapat petunjuk. [HR Abu Daud]

Dan di antara Khulafaur Rasyidin adalah Umar bin Khaththab. Kemudian beliau membawakan sebuah
riwayat bahwa ada seseorang bertanya kepada Umar bin Khaththab tentang seseorang yang membunuh
seekor serangga dalam keadaan ihram. Maka Umar menjawab, ”Tidak ada denda (sangsi) apa pun atas
kamu”. Maka Imam Syafi’i berkata : “Jawabanku dari Kitabullah, wahai orang yang berbuat (seperti) itu,
sesungguhnya engkau tidak mendapat sangsi apapun. Itulah jawaban dari kitab Allah.”

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kita, bahwa akan terjadi perpecahan pada
umat ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan, Yahudi terpecah menjadi 71 golongan,
Nashara akan terbagi menjadi 72 golongan. Dan kaum muslimin, akan terpecah menjadi 73 kelompok.
Rasulullah kemudian berkata, semua kelompok itu –semuanya- akan masuk ke dalam neraka, kecuali
satu kelompok saja. Ditanyakan kepadanya: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam menjawab: “Yaitu orang-orang yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku pada hari
ini.”

Perpercahan itu juga telah dijelaskan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Para
sahabat benar-benar menekuni agama ini dengan amalan nyata. Karena sesuatu yang bersifat teori, akal
dan pemahaman bisa berbeda-beda. Namun, jika berbentuk praktek dan amalan, maka itu merupakan
hal yang terbaik dalam menafsirkan firman Allah dan ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .
Perbedaan seperti ini sudah ada ketika muncul para imam dan Daulah Islam. Para fuqaha (ahli fiqih)
jatuh ke dalam perbedaan tersebut. Namun perbedaan yang terjadi pada di kalangan mereka memiliki
ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang sesuai dengan syar’i, sehingga tidak ada saling mencela
dan perpecahan.

Para fuqaha, terutama para imam yang empat, mereka saling mencintai. Kita juga harus mencintai
mereka, berlepas diri dari orang-orang yang mencela mereka. Namun kita juga yakin, di antara mereka,
tidak ada satu pun yang ma’shum. Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada mereka.

Akan tetapi, setelah itu, pada masa akhir-akhir ini muncul fanatisme dan taqlid buta kepada imam-imam
tersebut. Sehingga ada sebagian orang yang bermadzhab Syafi’i berkata, bahwa orang yang bermadzhab
Syafi’i tidak boleh menikah dengan wanita yang bermadzhab Hanafi. Dan orang yang bermadzhab Hanafi
tidak boleh menikah dengan wanita yang bermadzhab Syafi’i. Sehingga terjadilah fanatisme yang tercela
dan taqlid buta yang tidak dicintai dan diridhai Allah.

Umat ini terpecah dengan perpecahan yang sangat dahsyat. Setiap golongan umat ini tidak beribadah
kepada Allah, kecuali dengan madzhab satu imam. Kemudian pemahaman agama hanya diambil dari
catatan-catatan dan buku-buku ulama terdahulu tanpa kembali kepada dalil-dalil yang syar’i. Sehingga
semakin menambah perbedaan dan perpecahan umat ini, karena persatuan tidak akan mungkin
terwujud kecuali jika dilandasi dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Seiring dengan bergulirnya waktu, maka perbedaan yang ada semakin keras dan dahsyat.

Ketika kekuatan dan kekuasaan Islam hilang, muncul sekelompok orang yang ingin memperbaiki
keadaan dan mendirikan agama ini. Masing-masing kelompok menempuh metode tersendiri, sehingga
terjadi perpecahan dan perbedaan yang tajam di antara mereka. Padahal ahlul haq (orang-orang yang
berada di atas kebenaran) masih ada. Dan sebelumnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
menceritakan tentang orang-orang tersebut dalam haditsnya :

ْ‫ل َل‬ َ ْ‫ظاه ِِرينَْ أ ُ َّمتِي مِ ن‬


ُْ ‫طائِف َْةٌ ت َزَ ا‬ َ ‫علَى‬ َْ ُ‫ع ْة ُ تَق‬
ِْ ‫وم َحتَّى ال َح‬
َ ‫ق‬ َ ‫السَّا‬

Masih akan terus ada satu kelompok pada umatku, mereka akan tetap berada di atas kebenaran sampai
hari kiamat datang. [HR Bukhari dan Muslim].

Pada asalnya, kaum muslimin harus menjadi umat yang bersatu di atas tauhid dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yang telah kami jelaskan. Dan juga, satu sama lain harus saling
mencintai karena agama Allah. Ketika terjadi perselisihan antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar,
dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar orang Anshar berkata “Wahai orang-orang
Anshar!” dan yang Muhajirin berkata “Wahai orang-orang Muhajirin!”

Sebutan Muhajirin dan Anshar adalah dua nama yang syar’i dan dicintai Allah. Allah telah menyebutkan
dalam KitabNya, artinya : Dan orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta
orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, maka Allah telah ridha kepada mereka dan
mereka juga telah ridha kepada Allah. [At Taubah : 100]

Namun ketika terjadi perbedaan antara keduanya dan masing-masing memanggil kelompoknya, maka
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka : “Apakah kalian melakukan adat
jahiliyah, padahal aku berada di tengah-tengah kalian?”

Sabda Beliau “kalian telah melakukan adat jahiliyah” ini ditujukan kepada orang yang mengatakan
“Wahai orang-orang Anshar” dan yang berkata ”Wahai orang-orang Muhajirin”.

Jadi, seharusnya umat ini bersatu dan menjadikan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n sebagai penentu
hukum di antara mereka. Keduanya adalah agama yang diamalkan oleh para sahabat. Mengamalkan
agama dengan pemahaman dan amalan para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Orang-orang yang mengikuti para sahabat akan terus ada, seperti disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam.

ْ‫ل َل‬ َ ْ‫ظاه ِِرينَْ أ ُ َّمتِي مِ ن‬


ُْ ‫طائِف َْةٌ ت َزَ ا‬ َ ‫علَى‬ َْ ُ‫ع ْة ُ تَق‬
ِْ ‫وم َحتَّى ال َح‬
َ ‫ق‬ َ ‫السَّا‬
Masih akan terus ada satu kelompok pada umatku, mereka akan tetap berada di atas kebenaran sampai
hari kiamat datang.

Hadits ini harus kita cermati. Dengan memahaminya, maka orang akan merasa tenang, tidak goncang
dan bingung. Hadits ini penting.

Berikut penjelasannya:
Pertama : Disebutkan di dalamnya “masih akan terus ada”, yang artinya “tidak akan terputus”. Maka
siapa pun yang mengajak kepada kebenaran, lalu dakwahnya sampai kepada seorang tertentu, dan
sebelumnya tidak ada kelompok atau jama’ah kecuali setelah orang tersebut muncul, maka dia tidak
termasuk di dalam hadits ini. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : ”Masih akan terus
ada pada umatku”. Dan ahlul haq tidak pernah mengajak, kecuali kepada Al Qur’an dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman para salafush shalih. Kelompok yang
disebutkan Rasulullah n ini akan terus ada dan memiliki sanad (jalur periwayatan) yang sampai kepada
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua, sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam “akan tetap eksis atau menang”. Ini tidak berarti mereka
haruslah golongan yang kuat atau menang dengan kekuatan materi. Akan tetapi, mereka tetap menang
dengan hujjah, dalil, keterangan, penjelasan dan kaidah-kaidah para ulama. Mereka tetap teguh di atas
kebenaran. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang keadaan mereka dalam
sabdanya :

ْ ْ‫َخذَلَ ُهمْ َمنْ يَض ُُّرهُم‬


َ‫ل‬

Tidak mempengaruhi mereka orang-orang yang tidak memperdulikan mereka.

Dan dalam riwayat Musnad Imam Ahmad:

َّ‫ل‬
ْ ِ‫صيبُ ُهمْ لَع َوا ُْء إ‬
ِ ُ‫ت‬

(Kecuali jika musibah yang menimpa mereka).

Maka kelompok manapun, di negeri manapun, dan kapanpun mereka berada sementara musuh-musuh
mereka berhasil mengecilkan nyali dan menekan mentalnya, maka mereka ini bukan yang termasuk
dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata “tidak mempengaruhi mereka orang-orang yang mencela dan mengganggu mereka”.

Kelompok yang disebutkan ini adalah yang berada di atas agama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan para sahabatnya. Kelompok tersebut akan menjadi kelompok yang mendapat pertolongan dan akan
menggenggam masa depan yang bagus. Allah telah menceritakan dalam KitabNya, dan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Sunnah-nya yang shahih, bahwa masa depan akan menjadi milik
agama ini. Dan agama ini akan menang dan merambah seluruh wilayah. Barangsiapa yang menduga
bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaknya dia
merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah dia pikirkan
apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya. [Al Hajj : 15].

Makna ayat ini (ialah): Wahai, seluruh manusia. Barangsiapa yang menduga Allah tidak akan menolong
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan agamanya, maka lebih baik dia menggantung dirinya
dengan tali di atap rumahnya, lalu membunuh dirinya. Karena Allah benar-benar menolong Nabi dan
agamaNya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm pernah ditanya : “Kota manakah yang lebih dulu dibebaskan,
Qostantiniyah (Konstantinopel yaitu di Turki) atau Roma (ibukota Italia)?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab : “Qostantiniyah) dahulu, kemudian Roma.”

Dan (Qostantiniyah) telah dibebaskan semenjak tahun 1543M, dibebaskan lebih dari 800 tahun setelah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan kabar tersebut dalam haditsnya. Dan kita sedang
menunggu penaklukkan kota Roma, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tsauban :

ُْ‫ست َ ُكون‬ ْ ْ‫ضي ث َُّْم ت َ ُكونَْ أَن‬


َ ْ‫للاُ َماشَا َْء النُّب َُّوْة ُ فِي ُكم‬ ِ َ‫ت َنق‬, ‫للاُ َماشَا َْء َرا ِش َدْة ٌ خِ الَفَ ْةٌ فِي ُكمْ ت َ ُكونُْ ث َُّْم‬
ْ ‫ضي ث َُّْم ت َ ُكونَْ أَنْ لَ َها‬ ِ َ‫ت َنق‬, ‫مِ ي َراثِي ُملكٌْ فِي ُْكمْ يَ ُكونُْ ث َُّْم‬
‫للاُ َماشَا َْء‬ َ
ْ ُ‫ضي ث َُّْم يَ ُكونَْ أنْ لَ ْه‬ ِ َ‫يَنق‬, ‫عضُودِي ُملكٌْ لَ ُكمْ يَ ُكونُْ ث َُّْم‬ َ –‫للاُ َماشَا َءْ– جبري ملك‬ َ
ْ ُ ‫ضي ث َُّْم يَ ُكونَْ أنْ لَ ْه‬ ِ َ‫ يَنق‬, ‫علَى خِ الَفَ ْةٌ فِي ُكمْ ت َ ُكونُْ ث َُّْم‬
َ
ِْ ‫النُّب َُّوِْة نَـه‬
‫ج‬

Akan datang pada kalian masa kenabian sesuai dengan kehendak Allah, setelah itu habis masanya. Lalu
akan datang zaman Khilafah Rasyidah sesuai dengan kehendak Allah, lalu setelah itu habis masanya. Lalu
datang masa kerajaan yang turun menurun sesuai dengan kehendak Allah, lalu setelah itu habis
masanya. Lalu datang masa kerajaan dengan cara paksaan (peperangan) dengan kehendak Allah berdiri,
lalu setelah itu habis masanya. Kemudian datang masa Khilafah yang berada di atas jalan kenabian.

Di samping Allah mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendirian khilafah yang berada di atas jalan
kenabian tersebut, Allah juga mempersiapkan sebab-sebabnya. Di antara sebabnya, adalah Allah
memberikan kemudahan kepada para ulama untuk menjelaskan hadits-hadits shahih dan jalan para
salafush shalih dari umat ini.

Para imam-imam (ulama) tersebut yang diawali oleh Bukhari, lalu Muslim, Nasaa-i, Abu Dawud dan Ibnu
Majah. Mereka semua bukanlah dari golongan bangsa Arab. Bukhari dari negeri Bukhara, Muslim dari
Naisabur, Nasaa-i dari Nasaa’, Abu Dawud dari Sijistan, Ibnu Majah dari Qozwin. Mereka semua adalah
orang ajam (bukan Arab). Mereka adalah para ulama hadits, muncul setelah masa para imam empat,
(yaitu): Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad. Pada zaman para fuqaha, Sunnah belum dibukukan
dalam satu buku, namun setelah zaman mereka.
Kemudian Allah menurunkan keutamaanNya untuk kita di negeri Syam dengan munculnya Syaikh Imam
dalam ilmu hadits (yaitu) Abu Abdir Rahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Najati Al Albani. Beliau
datang dari negeri Albania, dibawa hijrah oleh ayahnya ke Damaskus guna menjaga agamanya.
Kemudian diusir dari Damasqus, lalu menuju ke Yordania. Beliau tinggal (disana) lebih dari 50 tahun.
Setiap hari selama lebih dari 18 jam, beliau melakukan penelitian terhadap hadits-hadits Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam , baik dari buku-buku cetakan atau dari manuskrip-manuskrip kuno. Selama
itu, beliau mengarang dan menjelaskan hadits-hadits Nabi .

Setelah itu, dengan keutamaan Allah, muncul ulama-ulama sunnah di negeri-negeri kaum muslimin.
Mereka mengajak untuk kembali kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sunnah
para sahabatnya. Inilah tanda-tanda khilafah yang telah diceritakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan yang akan kembali kepada umat ini, Insya Allah. Khilafah tersebut berada di atas jalan
kenabian, jalan para sahabat dan tabi’in yang datang setelah Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Oleh sebab itu, wahai saudara-saudaraku! Jika ingin menolong dan menyebarkan agama kita, maka kita
harus mempelajari Al Qur’an. Karena dengan menghafal dan menjaganya, hati akan menjadi mulia.
Dengan memahami dan mentadabburinya (menghayatinya), akal pikiran menjadi mulia. Kita juga harus
menghafal dan menjaga hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , atsar para sahabat dan tabi’in.
Mengetahui perkataan-perkataan mereka dalam menghukumi masalah-masalah. Kita juga harus selalu
mempelajari agama Allah dengan dalil-dalilnya yang syar’i dan shahih. Kita jangan bersikap fanatik
kepada seseorang, madzhab, kelompok dan jama’ah. Kita harus bersikap lembut, memberi nasihat,
menunjukkan rasa cinta kepada saudara-saudara kita yang terjerumus ke dalam jurang fanatisme
terhadap satu kelompok. Jika kamu menolak nasihat kami, maka jangan kamu berikan semua akalmu
kepada yang engkau ikuti, teapi sisakan sedikit, agar kamu bisa bertadabbur dan berpikir. Jika kamu
merasa berat untuk melihat kebenaran kecuali dari tempat yang sempit dan kamu merasa tertahan di
tempat tersebut, maka hendaklah kamu menjaga kunci tempat tersebut di tanganmu atau di sakumu;
jangan engkau buang jauh dan jangan berikan kepada orang lain. Karena, jika pada suatu saat kamu
mengetahui mana yang benar, maka kamu bisa keluar dari tempat tersebut dalam keadaan tenang dan
bebas. Dan kamu bisa melihat kebenaran dari tempat yang luas dengan dalilnya yang shahih dan syar’i.
Akhirnya, engkau akan berjalan di atas jalan para ulama.

Dan ketahuilah dengan seyakin-yakinnya, wahai saudara-saudaraku! Sesungguhnya akhir umat ini tidak
akan menjadi baik, kecuali jika mencontoh umat yang pertama. Tidak ada jalan untuk memperbaiki umat
ini, kecuali dengan jalan para ulama, duduk di majlis para ulama, mempelajari agama dengan
pemahaman mereka dan mengamalkannya, kemudian menyebarkannya. Maka dengan itu, kaum
mukminin akan bergembira dengan pertolongan dari Allah. Saya mengharap kepada Allah, agar kita
dijadikan dari salah satu sebab ditolongnya agama ini, dan sebab penyebarluasan Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dan menjadikan kita berguna bagi orang lain, juga
menjadikan apa yang telah kita katakan dan kita dengar ini menjadi hujjah (pembela) untuk kita, bukan
penggugat diri kita. Semoga Allah menjadikan itu semua sebagai timbangan kebaikan kita, dan
menjadikan timbangan kita berat karenanya, Insya Allah.tiasa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala.

MEMAHAMI AL AWWAL, AL AKHIR, AZ ZHAHIR DAN AL BATHIN

Oleh
Ustadz Ahmas Fais Asifuddin

Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan salah satu rukun penting dalam beriman kepada
Allah yang memiliki empat rukun, yaitu: Beriman kepada ekstensi Allah, beriman kepada Rububiyah
Allah, beriman kepada Uluhiyah Allah dan beriman kepada Asma' wa Sifat (nama-nama serta sifat-sifat)
Allah.[1]

Tidak bisa dibayangkan seseorang yang ingin menyembah Allah tetapi tidak mengenal nama-nama dan
sifat-sifat-Nya. Ia bisa terjebak dalam kesalahan fatal yang bisa mengakibatkan kecelakaan di dunia dan
di akhirat. Minimal, tidak bisa sempurna dalam beribadah.

Sebagai contoh, seseorang menyangka bahwa Allah adalah bapak. Maka ketika ia memanggilNya dengan
nama bapak, Allah tidak akan memenuhi panggilannya, karena bapak bukan panggilan untukNya. Dan
itu merupakan kekufuran. Contoh lain, seseorang menyangka bila Allah menyenangi suatu perbuatan
tertentu. Misalnya, perbuatan yang dianggap Islami, padahal tidak ada contoh dari Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam atau para sahabatnya. Jelas merupakan perbuatan yang dibenci dan buruk. Sebab
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ْ‫ث خَي َْر فَإ ِ َّن‬


ِْ ‫ي ِ َوخَي َْر للاِْ ِكت َابُْ ال َحدِي‬
ْ ‫ي ال َهد‬ َّْ ‫ ُمح َدثَات ُ َها األ ُ ُمو ِْر َوش‬...‫باب – الجمعة كتاب فى مسلم رواه( الحديث‬
ُْ ‫َر وسلم عليه للا صلى ُم َح َّمدْ هَد‬
‫)فيها ومايقال الخطبة في الصوت رفع‬

Sesungguhnya, sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-
adakan secara baru dalam agama..dst.[2]

Oleh karena itu, amat penting artinya memahami persoalan Asma' wa Sifat secara benar dan ikhlas
untuk tujuan meningkatkan kebenaran serta bobot keimanannya kepada Allah hingga memperkecil
kemungkinan terjerumus dalam penyimpangan-penyimpangan.

Di antara nama Allah yang perlu di fahami ialah nama al-Awwal, al-Akhir, azh-Zhahir dan al-Bathin.
Empat nama di antara nama-nama Allah yang sangat indah. Empat nama ini ditambah nama al-'Alim
terkumpul pada Al-Qur'an, surah al-Hadid ayat 3, yaitu firman-Nya:
ُْ ‫ِر َواألَخِْ ُْر األ َ َّو‬
ْ‫ل ه َُو‬ َّ ‫ل َوه َُْو َوالبَاطِ نُْ َو‬
ُْ ‫الظاه‬ ِْ ‫علِي ٌْم شَىءْ بِ ُك‬
َ

Dialah Allah, Al-Awwal (Yang Pertama) dan Al-Akhir (Yang Akhir), Azh-Zhahir (Yang paling atas/zhahir)
dan Al-Bathin (Yang paling bathin). Dan Dia 'Aliim (Maha mengetahui) terhadap segala sesuatu. [Al-
Hadid : 3]

Imam Ibnu Katsir menegaskan dalam Kitab Tafsirnya: "Ayat ini adalah ayat yang diisyaratkan dalam
hadits 'Irbadh bin Sariyah bahwasanya merupakan ayat yang lebih utama dari seribu ayat".[3]

Hadits yang semakna diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya.

ْ‫عن‬
َ ‫اض‬ ِْ ‫ار َي ْةَ ب‬
ْ ِ ‫ن العِر َب‬ ِ ‫س‬َ ‫ي‬
َْ ‫ض‬ َّْ ُ‫عن ْه‬
ِ ‫ّللاُ َر‬ َّْ َ ‫ي أ‬
َ ‫ن‬ َّْ ‫صلَّى النَّ ِب‬
َ ُ‫ّللا‬ َ ‫سلَّ َْم‬
َّْ ‫علَي ِْه‬ َْ ‫ت َيق َرْأ َ َحتَّى َينَا ُْم‬
َ ‫ل كَانَْ َو‬ ِْ ‫س ِب َحا‬ ُْ ‫آ َيةْ أَلفِْ مِ نْ خَي ٌْر آ َي ْةٌ فِي َها َو َيقُو‬
َ ‫ل ال ُم‬

Dari Al Irbadh bin Sariah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak tidur
sampai beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca al musabbihat (surat-surat yang diawali dengan
sabbaha) dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Didalamnya terdapat satu ayat yang lebih
baik dari seribu ayat. [4]

Sementara, tentang makna empat nama dalam ayat tersebut, tidak ada tafsirnya yang lebih baik
daripada tafsir yang dikemukakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda ketika
mengajarkan sebuah doa tidur, yang penggalannya sebagai berikut:

ْ‫ل أَنتَْ اَللَّ ُه َّم‬ َْ ‫شَي ٌْء قَبلَكَْ فَلَي‬، َْ‫س اآلخِ ُْر َوأَنت‬
ُْ ‫س األ َ َّو‬ َْ ‫شَي ٌْء بَع َدكَْ فَلَي‬، َْ‫ِر َوأَنت‬ َّ ‫س‬
ُْ ‫الظاه‬ َْ ‫شَي ٌْء فَوقَكَْ فَلَي‬، َْ‫س البَاطِ نُْ َوأَنت‬
َْ ‫شَي ٌْء دُونَكَْ فَلَي‬

Ya Allah, Engkau adalah Al-Awwal (Yang pertama), maka tidak ada sesuatupun sebelum-Mu. Engkau
adalah Al-Akhir (Yang akhir), maka tidak ada sesuatupun yang sesudah-Mu. Engkau adalah Azh-Zhahir
(Yang paling atas), maka tidak ada sesuatupun yang ada di atas-Mu. Dan Engkau adalah Al-Bathin (Yang
paling Bathin), maka tidak ada sesuatupun yang lebih lembut/lebih bathin daripada-Mu [5]

Suatu tafsir yang ringkas, padat dan jelas. Nama-nama yang menunjukan bahwa Allah Maha meliputi
segala sesuatu, baik ruang maupun waktu.

Pada nama Allah : Al-Awwal dan al-Akhir, menunjukkan betapa Dia Maha meliputi seluruh waktu dengan
segala bagian-bagiannya, semenjak waktu pertama hingga waktu kapanpun. Sedangkan nama; Azh-
Zhahir dan al-Bathin menunjukkan betapa Dia Maha meliputi seluruh ruang dan tempat dengan segala
bagian-bagiannya. [6]

Tidak ada satu bagian waktu sesedikit apapun kecuali berada dalam pengetahuan, penglihatan,
kekuasaan dan kewenangan Allah. Begitu pula tidak ada satu tempat sekecil apapun kecuali berada
dalam pengetahuan, penglihatan, kekuasaan dan kewenangan-Nya.

Tidak ada satupun pelaku yang melakukan kemaksiatan di satu kurun waktu tertentu, kapanpun dan di
tempat manapun, baik yang tersembunyi ataupun terbuka, di dasar laut atau di permukaannya, di langit,
di bumi atau di manapun, kecuali pasti di lihat, di awasi dan berada dalam kekuasaan serta ancaman
hukum Allah Azza wa Jalla.

Demikian juga, tidak ada satupun pelaku yang menegakkan kebenaran serta ketaatan kepada Allah, di
satu kurun waktu tertentu, kapanpun serta di tempat manapun; di darat, laut, langit, bumi atau di
manapun, kecuali pasti di lihat, di sertai, di bela dan dijanjikan balasan yang baik oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala.

Syaikh Shalih al-Fauzan menukil perkataan Imam Ibnu al-Qoyyim tentang nama-nama Allah tersebut
sebagai berikut: "Empat nama ini saling berhadap-hadapan. Dua nama saling berhadapan antara
azaliyahNya (ada semenjak dahulu tanpa ada sesuatupun yang mendahului) dan abadiyahNya (kekal
seterusnya /tanpa akhir). Sedangkan dua nama yang lain saling berhadap-hadapan antara Maha
TinggiNya dengan Maha dekat-Nya. Awaliyah Allah Subhanahu wa Ta'ala mendahului segala awaliyah
(permulaan) segenap yang selainNya. Sedangkan akhiriyah (keMaha akhiran) Allah Subhanahu wa Ta'ala
akan tetap terus kekal sesudah segala sesuatu yang selainNya (berakhir). Jadi awaliyah Allah adalah
lebih dahulunya Allah bagi adanya segala sesuatu. Sedangkan akhiriyahNya adalah tetap kekalnya Allah,
tidak ada sesuatupun yang menyudahiNya.

Adapun zhahiriyah (Maha Zhahirnya) Allah, maksudnya: Maha Atas dan Maha Tingginya Allah mengatasi
segala sesuatu. Pengertian azh-zhuhur menunjukkan makna tinggi. Zhahir dari sesuatu maksudnya
adalah bagian atas (permukaan) dari sesuatu itu.

Sedangkan Maha Bathin Allah maksudnya adalah, Allah Maha meliputi segala sesuatu, sehingga Allah
lebih dekat kepada sesuatu dibandingkan sesuatu itu kepada dirinya. Tetapi maksud kedekatan ini
adalah kedekatan dalam arti; ilmu Allah meliputi segala sesuatu". [7]

Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah juga mengemukakan hal senada ketika menerangkan
perkataan Imam Thahawi dalam al-Aqidah ath-Thahawiyah….. [8]

Pada sisi lain, Imam Ibnu al-Qoyyim rahimahullah dalam Zaad al-Ma'ad mengatakan : "Dengan ayat ini
Allah menunjukkan kepada para hambaNya -berdasarkan aksioma logika- tentang batilnya jaringan mata
rantai tak berpenghabisan (tasalsul) mengenai kejadian makhluk. Sesungguhnya mata rantai kejadian
segenap makhluk pada permulaannya berawal dari Dzat Maha Pertama yang tidak didahului oleh
sesuatupun sebelumnya. Begitu pula segenap makhluk itu akan berakhir diujungnya pada Dzat Maha
Akhir yang tidak disudahi oleh sesuatupun sesudahnya.

Demikian juga, Maha Zhahirnya Allah ialah Maha Tingginya Allah yang tidak ada lagi sesuatupun di
atasNya. Dan Maha BathinNya adalah Maha Meliputi hingga tidak ada sesuatupun yang berada di luar
kekuasaanNya. [9]

Empat nama Allah pada surah al-Hadid tersebut ditutup dengan firmanNya :
ِْ ‫علِي ٌْم شَىءْ بِ ُك‬
ْ‫ل َوه َُو‬ َ

Sedangkan Dia Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.

Ayat ini merupakan penutup yang mempertegas secara jelas bahwa tidak ada sesuatupun, yang lepas
dari pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta'ala, meski sekecil apapun. Nama al-'Aliim dalam penutup ayat
ini merupakan penegasan dari makna yang terkandung dalam empat nama sebelumnya.

Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan makna bagian akhir ayat ini sebagai berikut: "Artinya, Ilmu Allah
meliputi segala sesuatu, baik perkara-perkara yang sudah lewat, perkara-perkara yang kini sedang
berlangsung, maupun perkara-perkara yang akan berlangsung. Baik yang terjadi di alam atas, maupun di
alam bawah. Baik yang lahir maupun yang bathin. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari ilmu
Allah meskipun hanya seberat biji atom, di darat maupun di langit." [10]

Dengan demikian, akankah seseorang merasa dapat bersembunyi dari pengawasan Allah?

Dari surah al-hadid ayat 3 tersebut dapat diambil beberapa faidah,di antaranya:
a. Adanya penetapan 5 nama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yaitu : al-Awwal, al-Akhir, azh-Zhahir, al-Bathin
dan al-'Aliim.

b. Lima nama Allah itu, memberi arti penetapan bagi sifat-sifat Allah. Yaitu sifat awwaliyah yang tidak
didahului oleh sesuatupun sebelumnya. Sifat akhiriyah yang tidak diakhiri dengan sesuatupun
sesudahnya. Sifat zhahiriyah yang tidak ada sesuatupun ada di atasNya. Sifat bathiniyah yang tidak ada
sesuatupun lebih dekat dariNya. Dan sifat Maha mengetahui yang tidak ada sesutupun dapat
tersembunyi dariNya. Maka segala sesuatu berada dalam pengawasan, pengetahuan dan kewenangan
Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik waktu, tempat, ketetapan takdir maupun pengaturannya. Maha Tinggi
Allah dan Maha Perkasa.

c. Disimpulkan juga, sesungguhnya sifat-sifat Allah tidak dapat dibatasi hanya dalam jumlah tertentu.
Para Ulama Ahlu Sunnah wal Jama'ah menyatakan, jumlah sifat Allah lebih banyak dari jumlah namaNya.
Sebab setiap nama Allah pasti mengandung sifat. Padahal masih banyak sifat-sifat lain yang tidak berasal
dari namaNya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menegaskan: Bab Sifat lebih luas daripada bab
Asma'. [11]

Lebih lanjut beliau memberikan contoh-contoh sifat yang darinya tidak dapat disebutkan sebagai nama
Allah. Misalnya, sifat majii' dan sifat ityaan : berarti Allah mempunyai sifat datang. Dari sifat ini Allah
tidak bisa disebut al-Jaa'iy atau al-Aatiy (yang datang). Padahal Allah telah berfirman, menerangkan
sifatNya:

ْ‫َربُّكَْ َو َجآ َء‬


Dan Rabb-mu datang. [Al-Fajr : 22]

ُ ‫آلَّ يَن‬
ْ‫ظ ُرونَْ هَل‬ ْ ِ‫للاُ يَأتِيَ ُه ُْم أَن إ‬ ُ َْ‫ام ِمن‬
ْ ‫ظلَلْ فِي‬ ِْ ‫الغَ َم‬

Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain kedatangan Allah (untuk mengadili mereka di hari kiamat)
di iringi bayang-bayang awan. [Al-Baqarah : 210]

Dan contoh-contoh lain yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. [12] .

Di samping beberapa faidah di atas, penghayatan terhadap nama-nama Allah dalam surah al-Hadid ayat
3 di atas juga dapat memberikan motivasi (dampak) berikut:
a. Dapat mencegah orang yang hendak berbuat maksiat, kejahatan atau tindakan apa saja yang akan
mendatangkan murka Allah, sebab ia memahami dengan baik bahwa kemaksiatan, kejahatan serta
segala tindakannya tidak dapat ia sembunyikan dari penglihatan Allah dan tidak dapat ia hindarkan dari
ancaman kerasNya, kapanpun dan di manapun.

b. Dapat meningkatkan ketakwaan dan kehati-hatian dalam berbuat sesuatu sehingga memperkecil
kemungkinan untuk terjerumus dalam bid'ah. Allah melalui RasulNya telah menegaskan bahwa
perbuatan bid'ah adalah sesat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫ن بَع ُْد أ َ َّما‬


َّْ ِ ‫ث خَي َْر فَإ‬ ِْ ‫ل ُمح َدثَات ُ َها األ ُ ُم‬
َِّْ ‫ور َوش َُّْر ُم َح َّمدْ ُه َدى ال ُه َدى َوخَي ُْر‬
ِْ ‫ّللا ِكت َابُْ ال َحدِي‬ َ ‫ض َاللَ ْةٌ بِد‬
ُّْ ‫عةْ َو ُك‬ َ (‫رفع باب – الجمعة كتاب فى مسلم رواه‬
‫)فيها ومايقال الخطبة في الصوت‬

Amma Ba’du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara-
perkara yang diada-adakan secara baru dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat. [13]

c. Akan menghibur seseorang untuk tidak bersedih dan khawatir menghadapi tantangan ketika ia
melakukan ketaatan, sebab ia yakin bahwa Allah senantiasa melihat sepak terjangnya yang di ridhai
Allah, dan Allah senantiasa akan menyertainya dengan pertolongan serta perlindunganNya.
Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Allah kepada Musa dan Harun ketika menghadapi Fir'aun.
FirmanNya:

ْ‫َوأ َ َرى أَس َم ُْع َم َع ُك َمآ ِإنَّنِي لَتَخَافَآ قَا َل‬

Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua takut. Sebab sesungguhnya Aku menyertai kamu berdua. Aku
mendengar dan Aku melihat. [Thaha : 46]

Yang dimaksud dengan kesertaan Allah kepada Musa dan Harun pada ayat diatas adalah kesertaan
dalam arti penjagaan, perlindungan dan pertolonganNya [14]

Demikianlah, tulisan singkat yang diambil dari keterangan Ulama ini diharapkan dapat membantu
meningkatkan keimanan secara benar kepada Allah k . Wallahu Waliyyu at-Taufiq.

Kitab rujukan:
1. Kitab Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, karya Syaikh Shalih al-Fauzan
2. Kitab Al-Qawa'id al-Mutsla Fi Sifatillah wa Asma'ihi al-Husa. Tahqiq dan takhrij: Asyraf bin Abdul
Maqshud bin Abdur Rahim. Cet. I- Maktabah as-Sunnah, 1411 H/1990 M.
3. Kitab Zaad al-Ma'ad, Imam Ibnu al-Qoyyim II/422. Cet. III dari terbitan baru – 1421 H/2000 M.
Mu'assasah ar-Risalah. Tahqiq : Syu'aib dan Abdul Qodir al-Arna'uth
4. Kitab Syarah Shahih Muslim, karya Imam Nawawi, Khalil Ma’mun syiha, cet. Darul Ma’rifah th. 1420
H/1999 M
5. Kitab Tafsir Al Qur’an Al Azhim karya Imam Abul Fida’ Ismail bin Katsir al Qurasy

JIKA HAJR TERJADI?

Oleh
Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar Ruhaili –hafizhahullah-

Pembaca yang budiman,


Hajr, secara bahasa artinya meninggalkan. Adapun yang dimaksudkan hajr disini adalah meninggalkan
orang yang menyelisihi kebenaran, yaitu ahli bid’ah atau pelaku maksiat, dengan tidak menjalin
komunikasi dengannya, tidak duduk bersamanya, dan sikap-sikap lainnya sebagaimana akan dijelaskan
oleh Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar Ruhaili –hafizhahullah.

Dalam pembahasan ini, Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar Ruhaili –hafizhahullah- memberikan penjelasan
tentang hajr, berkaitan dengan syari’atnya dan kaidah penerapannya. Secara panjang, penjelasan ini
juga disertai dengan contoh nyata, sehingga mempermudah kita dalam memahami maksud
disyari’atkannya hajr. Mengapa dan bagaimana hajr harus diberlakukan?

Kami persilahkan para pembaca menyimak nasihat Syaikh, yang kami angkat berdasarkan ceramah
beliau pada Daurah Aqidah dan Manhaj, diadakan oleh Ma’had ‘Ali al Irsyad as Salafi Surabaya, di
Agrowisata Perkebunan Teh, Wonosari, Lawang, Malang, Jawa Timur, 20-24 Jumadits Tsaniyah 1427H,
bertepatan 16-20 Juli 2006. Naskah ini diterjemahkan Abu Isma’il Muslim al Atsari, dengan memberi
judul, sub judul dan beberapa catatan kaki yang dianggap perlu. (Redaksi)
_______________________________________

Subhanallah. Di suatu negara, di Eropa, mungkin yang menjalankan Sunnah (cuma) 50 pemuda, lalu
mereka bersepakat menghajr Fulan. Mereka membiarkannya untuk disergap orang-orang jahat dan
orang-orang rusak, gara-gara dia berbuat kesalahan, dan karena hajr disyari’atkan; dan karena Fulan
telah memfatwakan untuk menghajrnya. Akibatnya, orang itu murtad. Siapakah yang telah
menyesatkannya dari agama? Apa yang lebih bermanfaat bagi pemuda tadi? (Apakah) dita’lif dan
dinasihati, walaupun dia mati dengan kesalahannya? Ataukah dia disesatkan dari agamanya sehingga
murtad? Perkara ini jelas!

Adapun sekarang, ada orang yang menjauhkan manusia dari (dakwah) Salafiyah, disebabkan
pemahaman orang-orang yang buruk tentang hajr.

Demi Allah, banyak orang telah datang kepada kami, dari dalam Saudi maupun dari luar negeri, mereka
berkata : “Tidaklah kami melihat orang-orang yang lebih keras daripada orang-orang Salafi ini!”

Darimana (perkataan) ini datang? Apakah kita akan mengatakan, orang-orang itu tidak mengatakan al
haq?

Kita ini Salafi. Kita mengikuti manhaj Salaf. Seharusnya kita menuduh masing-masing diri kita, (bahwa
kitalah yang salah dalam memahami suatu masalah, Pent)! Demi Allah, sesungguhnya manhaj Salaf tidak
membuat seseorang menjauh dari agama. Tetapi, pemahaman dan penerapan hukum yang buruk
terhadap orang-orang yang menyimpang itulah yang menjadikan manusia menjauhi agama. Oleh karena
itu, wajib diperhatikan kondisi orang yang dihajr, apakah dia akan mendapatkan manfaat ataukah tidak?

Kemudian, di antara kaidah yang disebutkan oleh ulama dalam masalah hajr, (yakni) memperhatikan
waktu lamanya hajr.

Terkadang penyimpangan itu kecil. Jika engkau hajr dua hari, itu bermanfaat. Namun, jika engkau
menghajrnya sebulan, kemungkinan akan merusaknya. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
tentang Ka’ab bin Malik dan dua kawannya:

َ ‫علَي ِه ُْم‬
ْ َّ ‫ضاقَتْ إِذَا َحت‬
‫ى‬ ُْ ‫َر ُحبَتْ بِ َما األَر‬
َ ‫ض‬

(hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas -at Taubah/9 ayat 118-),
yakni, apakah sekarang yang dia gambarkan?
Ini berkaitan dengan tekanan psikis, sebagaimana disebutkan oleh Rabbul ‘alamin yang mengetahui jiwa
mereka, bahwa bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas. Seandainya Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam menghajr mereka lagi 50 hari setelah itu, setelah 50 hari, apakah yang akan
terjadi? Bisa jadi mereka akan putus asa.

Demikianlah di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa hajr itu sesuai dengan
penyimpangannya. Imam Ibnul Qayyim menyatakan: “Hajr itu seperti obat. Jika kelebihan, akan
mematikan. Jika kurang, tidak akan bermanfaat”.

Ini merupakan ungkapan yang sangat bagus, mengapa kita tidak mencermatinya? Terkadang terdapat
sedikit penyimpangan pada seseorang, muncul penyimpangan darinya, lalu engkau berpaling darinya
selama dua hari atau tiga hari, itu bermanfaat. Dia akan menyesal, (kemudian) mendatangimu, dan
mengatakan: “Maafkan aku!”
Engkau berpaling darinya. Lalu dia datang yang kedua kalinya, dia mengatakan: “Maafkan aku, aku
menyesal, aku keliru!”, (maka) selesailah, (engkau menerimanya dan hajr berhenti, Pent).

Tetapi jika dia datang dua kali, engkau berpaling darinya, maka dia akan berpaling dan tidak akan
kembali kepadamu. Dengan demikian, hajr haruslah proporsional sesuai dengan tingkat pelanggaran.
Jika kita melakukannya, haruslah sesuai dengan penyimpangan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menghajr para istri beliau sebulan, menghajr Ka’ab bin Malik 50 hari, beliau berpaling dari sebagian
sahabat, sehingga ketika sebagian mereka berhenti dari penyimpangan, beliau menyambutnya, seperti
pemakai cincin (emas) dan lainnya. Oleh karena itu, harus diperhatikan kaidah ini dalam menyikapi
orang yang menyimpang. Yaitu, bahwa hajr yang disyari’atkan untuk mashlahat orang yang
menyimpang, adalah bertujuan memperbaikinya, bukan untuk merusaknya.

Hajr bukanlah hukuman. Sebagian orang sekarang menyangka hajr merupakan hukuman. Katanya
‘semua ahli bid’ah harus dihajr. Karena Ahlus Sunnah mengatakan: “Hajrlah ahli bid’ah”, “Ahli bid’ah itu
dihajr”.

Tetapi, ungkapan ini bertentangan dengan perkataan lainnya. Yaitu ahli bid’ah terkadang dinasihati, ahli
bid’ah terkadang dipergauli, ahli bid’ah terkadang dibantah. Seharusnya kita mengambil aqidah Ahli
Sunnah secara menyeluruh. Kita tidak boleh mengambil beberapa bagian perkataan saja. Kita tidak
boleh mengambil beberapa bagian contoh saja. Kita tidak boleh mengambil sebagian perkataan ulama,
lalu meninggalkan perkataan yang lain. Inilah perkara yang seharusnya diperhatikan.

Jika seorang thalibul ‘ilmi bersungguh-sungguh dalam menekuni kaidah-kaidah ini, demi Allah, akan
menghasilkan kebaikan yang banyak. Kita akan memahami bahwa sebagian orang, termasuk mashlahat
(baginya) adalah dilakukan ta’lif kepadanya.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Para tokoh, orang-orang yang ditaati di kalangan kaumnya, orang
yang memiliki keutamaan, mereka ini tidak pantas dihajr. Umumnya, mereka itu memiliki kekuatan dan
kekuasaan”.

Kekuatan itu bermacam-macam. Ada kekuatan ilmu. Terkadang ada seseorang, walaupun dia ahli bid’ah,
tetapi dia memiliki kekuatan ilmu dan kedudukan di kalangan manusia, pengikutnya jutaan. Jika engkau
menghajrnya, maka hajr itu tidak mempengaruhinya.

Di antara manusia ada yang memiliki kekuatan harta. Orang-orang tunduk kepadanya karena hartanya,
walaupun dia merupakan orang yang paling jahat sekalipun. Sehingga hajr tidak bermanfaat baginya,
kecuali jika dia memiliki agama, dia memperdulikan agama ini, maka pada keadaan seperti itu,
kemungkinan hajr bermanfaat baginya.

Di antara orang, ada yang memiliki kekuatan di tengah kaumnya. Seperti ketua suku dan wali kota. Oleh
karena itulah, di antara hikmah dalam mendakwahi para penguasa adalah dengan sabar dan lemah-
lembut, bukan dengan kekerasan.
Maka, perhatikan orang-orang yang menyelisihi itu. Terapkan pada mereka wasilah (sarana) yang kita
harapkan, kita yakini, dan kita beragama karena Allah dengan itu. Bahwa itu sesuatu yang paling baik
dalam hidayah orang tersebut. Jika dia mengikuti petunjuk, al-hamdulillah. Jika dia tidak mengikuti
petunjuk, kewajiban sudah gugur (yakni sudah dilaksanakan, Pent).

Adapun sekarang, sebagian orang menyangka, jika kita telah menasihati Fulan, dan dia tidak kembali
(kepada al haq), maka dia mengatakan: “Kami telah menasihatinya, tetapi dia tidak kembali (ke jalan
yang benar). Apakah Anda berpendapat kita menghajrnya?”

Sebagian orang berpendapat: “Ya, kita menghajrnya”.

Kami (Syaikh, Red) katakan: “Perhatikan orang itu. Bisa jadi dia tidak pantas dihajr sampai dia meninggal.
Dan yang lebih bermanfaat dalam mendakwahinya adalah menta’lifnya sampai dia mati, bukan hajr”.

Saya ingat pada suatu majlis yang dihadiri para ulama, thalibul ‘ilmi, dan masyayikh kibar (para ulama
besar). Ada seseorang berbicara tentang Fulan, dan dia mengatakan: “Dia pantas dihajr”.
Saya katakan: “Orang semisal ini tidak perlu dihajr, tetapi dinasihati”.
Dia bertanya: “Sampai kapan?”
Saya jawab: “Sampai Allah kehendaki, bisa sampai 20 tahun”.

Banyak orang di majlis itu tertawa. Salah seorang berkata : “Maksudnya, kita menempuh ini sampai 20
tahun?”

Lantas, saya bertanya kepada salah seorang masyayikh : “Wahai, Syaikh Fulan, aku ingin bertanya
kepadamu dengan nama Allah. Apakah engkau mengetahui di antara petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dalam keadaan beliau menta’lif sebagian
orang? Atau beliau menta’lif seseorang lalu menghajrnya?”
Beliau (masyayikh itu) menjawab: “Ya, disertai nasihat”.

Saya katakan: “Inilah, yang aku pegangi sebagai ajaran agama di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala l .”

Sebagian orang tidak pantas dihajr, tetapi yang pantas adalah dita’lif, sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala
memberinya petunjuk, atau sampai hujjah tegak padanya. Inilah sikap yang kami pandang lebih
bermanfaat baginya.

Selain itu, dengan memperhatikan kaidah pertama (dalam hajr), sebagian orang terkadang mempunyai
pengaruh. Sementara ada orang lain yang tidak berpengaruh. Di sini, terdapat satu permasalahan :
terkadang, untuk menyikapi si Fulan yang menyimpang, disyari’atkan bagi sebagian orang untuk
menghajrnya. Seperti ulama, imam yang memiliki kedudukan, disyari’atkan baginya untuk menghajr
Fulan. Tetapi bagi saya, tidak disyari’atkan untuk menghajrnya. Kenapa? Karena dia memiliki pengaruh,
sedangkan saya tidak mempunyai pengaruh.
(Sebagai penjelasnya), tidaklah setiap orang yang saya fatwakan kepada salah seorang thalibul ‘ilmi
untuk menghajrnya, disyari’atkan bagi orang lain untuk menghajrnya. Justru terkadang disyari’atkan
buat orang lain untuk menta’lifnya. Orang ini menghajr, orang itu menta’lif, semuanya mengajak menuju
Sunnah.

Orang ini menghajrnya, orang itu menta’lifnya. Akan tetapi, jika kita bersatu di atas al haq, tidak
mungkin orang yang menta’lifnya mengatakan: “Tinggalkan orang yang membuat jauh (dari agama ini,
Pent). Orang yang menghajrmu adalah orang yang keras”. Dan tidak mungkin orang yang menghajr
datang dan mengatakan: “Tinggalkan orang yang mumayyi’ (mengikuti arus) dan mudhayyi’ (menyia-
nyiakan kewajiban) itu!” Jika semua bertaqwa kepada Allah, maka orang yang menta’lif itu akan
mengatakan: “Fulan tidak menghajrmu kecuali karena penyimpanganmu. Dia telah bertindak benar di
dalam menghajrmu, karena engkau menyimpang. Dan inilah yang mesti ia lakukan. Sementara saya,
tidaklah berhubungan denganmu serta bergaul bersamamu karena menyetujui kesalahanmu. Akan
tetapi, untuk menta’lif hatimu”. Demikian juga orang yang menghajr akan mengatakan: “Janganlah
engkau terpedaya dengan Fulan yang bergaul bersamamu, dengan menyangka dia sepakat denganmu.
Tidak! Akan tetapi, dia sedang menta’lifmu”. Dengan demikian semuanya bertemu di atas al haq.

Adapun sekarang, jika saya menghajr Fulan, dan melihat sebagian orang menta’lifnya, maka saya
katakan: “Mereka ini menipumu. Mereka ini mencari muka. Mereka ini membicarakan keburukan
kawannya”. (Ini tidak benar). Terkadang orang yang menta’lif itu mengajaknya menuju Sunnah,
mengajaknya menuju kebaikan. Maka, sepantasnya kita memperhatikan niat-niat orang. Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hajr terhadap sebagian orang yang menyimpang, dan beliau
tidak memerintahkan orang lain menghajrnya. Bahkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
“Shalatkanlah (jenazah) kawan kamu!” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hajr kepada
sebagian mereka dan memerintahkan manusia menghajrnya, seperti beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
(telah) menghajr Ka’ab bin Malik.

Oleh karena itulah, saya teringat, ada seseorang yang menyelisihi penjelasan ini -semoga Allah
menunjukinya - . Masalah tersebut telah saya tetapkan dalam (kitabku), Mauqif Ahli Sunnah, bahwa
sebagian orang disyari’atkan hajr terhadapnya, dan sebagian yang lain tidak disyari’atkan.

Dia mengatakan: “Ini menyelisihi metode yang dijalani Salaf. Yang mereka tempuh adalah menghajr ahli
bid’ah”.

Aku katakan kepadanya: “Berikan kepadaku satu contoh saja, dari zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam sampai hari ini, bahwa seorang ‘alim di antara ulama umat mengeluarkan fatwa yang memuat
hajr kepada seseorang dan memerintahkan semua orang untuk menghajrnya” selain hajr Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Ka’ab bin Malik, karena beliau adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam . Jika beliau memerintahkan, maka tidak ada pilihan kecuali umat harus mentaatinya.
Demikian juga seorang imam (penguasa) umat Islam, jika penguasa muslim itu mengatakan: “Hajrlah si
Fulan,” maka tidak ada pilihan bagi umat, kecuali harus mentaatinya. Oleh karena itu, tatkala ‘Umar
memerintahkan untuk menghajr Shabigh bin ‘Asal, masyarakat pun menghajrnya.

Tetapi jika ada seorang ‘alim, mujtahid, dia memandang bahwa merupakan bentuk mashlahat,
melakukan hajr Fulan, lalu ijtihadnya wajib atas umat, maka ini tidak (pernah) diucapkan oleh seorang
pun, termasuk Imam Ahmad.

Beliau merupakan Imam Ahli Sunnah. Beliau menghajr sebagian orang. Dan sebagian ulama mengkritik
beliau dalam masalah hajrnya terhadap sebagian orang yang menyimpang itu. Beliau pun tidak
memaksa ulama lain untuk menghajr orang yang bersangkutan. Jika demikian, pendapat bahwa “apabila
seseorang telah mengeluarkan fatwa untuk menghajr Fulan, maka wajib atas semua oranga untuk
menghajrnya. Barangsiapa tidak menghajr, maka dia pun dihajr. Barangsiapa menyetujuinya, maka dia
pun dihajr,” mengakibatnya, tidak tersisa seorang pun. Pada akhirnya, tidak tersisa seorang pun bagi
kita.

Keterangan demikian ini, bila kita sandarkan bahwa barometer dalam masalah ini adalah penentuan
mashlahat. Sebagai dampaknya, kita juga akan berbeda pandangan dalam menentukan mashlahat. Bisa
jadi saya berpendapat Fulan tidak pantas dihajr, tetapi orang lain berpendapat Fulan pantas dihajr.

Perbedaan pandangan ini bukan pada inti permasalahan, bukan tentang Sunnah dan bid’ah, tetapi
perselisihan hanya dalam menentukan mashlahat. Maka, sepantasnya kita memahami masalah ini, dan
memahami tujuan-tujuan syari’at dalam menghajr orang-orang yang menyimpang. Demikian juga, ketika
kita menetapkan masalah hajr dan menetapkan kaidah-kaidahnya. Kita sekarang juga tidak menyetujui
orang yang menjadikan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai dalil :

ُّْ ِ‫ث فَوقَْ أَخَاْهُ يَه ُج َْر أَنْ ِل ُمسلِمْ يَح‬


ْ‫ل َل‬ ِْ ‫لَيَالْ ث َ َال‬

(Tidak halal seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari). [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya,
Pent], lalu dia membatalkan masalah hajr ini.

Dengan mengatakan, semua yang menghajr umat Islam, maka dia bermaksiat, berdosa, karena Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga
hari”. (Karena) hajr ini tentang apa? Tentang mashlahat dunia. Engkau boleh menghajr saudaramu
muslim untuk mashlahat duniawimu kurang dari tiga hari. Adapun lebih tiga hari, maka engkau tidak
boleh menghajr saudaramu. Sedangkan dalam mashlahat agama, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
yang telah bersabda, tidak halal seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari, beliau juga
pernah menghajr Ka’ab bin Malik selama 50 hari. Maka sepantasnya kita mengambil nash ini, dan nash
tersebut.

Kami -demi Allah- terkadang di majlis menetapkan masalah hajr kepada orang-orang yang mengatakan
“tidak ada hajr”. Dan terkadang kami menetapkan masalah kaidah-kaidah hajr pada orang-orang yang
mengatakan “hajrlah semua orang yang menyimpang”.
Mereka mensifati kami dengan kekerasan. Sementara pihak lain mengatakan: “Kamu ini mumayyi’
(orang yang mengikuti arus), Fulan mudhayyi’ (orang yang menyia-nyiakan kewajiban),” Namun,
keridhaan manusia tidaklah penting bagi kami, karena kewajiban seorang muslim, thalibul ‘ilmi, ialah
untuk bertaqwa kepada Allah, dan memperhatikan kaidah-kaidah ini. Apakah ini -perkataan yang kalian
dengar ini- bersumber pada istihsan (anggapan baik semata, subyektifitas individu), ataukan
bersumberkan dari dalil-dalil, bukti-bukti dari perkataan dan perbuatan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, dan keterangan-keterangan dari praktek Salaf?.

Jika ada orang yang menyimpang dengan argumentasi ilmu, (maka) orang semacam ini harus dijelaskan,
tidak boleh dibantah dengan hawa nafsunya, bahwa Fulan mumayyi’, Fulan mudhayyi’. Kewajibannya
ialah berbicara dengan (membawakan) dalil, seperti mengatakan: “Engkau keliru. Engkau mengatakan
bahwa hajr untuk mashlahat mahjur, untuk mashlahat umat. Ini adalah perkataan batil, dalilnya
demikian”. Kewajibannya berbicara dengan dalil, menetapkan al haq dengan dalil. Saya memiliki
keterangan-keterangan dari perkataan para ulama dan saya mengambil faidah dari pemahaman Salaf.
Inilah yang kami tetapkan.

Oleh karena itu, kewajiban thalibul ‘ilmi (yang) pertama kali, jika menjumpai perselisihan tentang
menghajr seseorang atau tidak, maka hendaknya ia memperhatikan bahwa masalah ini memiliki
perincian lebih lanjut dalam banyak hal. Karena, seseorang mesti memperhatikan (kapasitas) dirinya
terlebih dahulu, apakah memiliki kemampuan menghajr ataukah tidak? Dan dia (juga) memperhatikan
orang yang dihajr, apakah perlu berpendapat untuk menghajrnya atau tidak? Di sini ada banyak hal.
Karenanya, engkau mendapatkan sebagian ulama terkadang berpendapat Fulan dihajr, (sedangkan)
ulama lain berpendapat Fulan tidak dihajr. Padahal tidak ada perselisihan aqidah dan substansi masalah
pada mereka (para ulama). Tetapi perselisihan yang terjadi pada para ulama, yaitu tentang mengukur
mashlahat dalam menghajr Fulan atau tidak. Inilah perinciannya, dan inilah kaidah-kaidahnya berkaitan
dengan masalah ini.

Di antara perkara yang paling berbahaya, sebagaimana yang telah saya sebutkan dalam masalah ini,
bahwa telah datang fatwa-fatwa dari orang-orang yang tidak memahami kondisi orang-orang yang
diberi fatwa. Mereka langsung memfatwakan: “Hajrlah dia!”, “Hajrlah Fulan, jangan bicara dengannya,
jangan duduk bersamanya,” sedangkan mereka tidak mengetahui keadaan orang yang dihajr ini,
keadaan orang yang menghajr, dan keadaan kota (negara)nya. Tidak ada aturan agama yang baru.

Sekarang Anda telah mengetahui kaidah-kaidah hajr. Hendaklah engkau merasa berada di bawah
pengawasan Allah saat bergaul dengan orang, bersikap lunak atau menghajrnya. Jika kita menempatkan
perkataan Fulan bagai kedudukan nash-nash (al Kitab dan as Sunnah), bahwa Fulan telah memfatwakan
untuk menghajr si Fulan, barangsiapa yang tidak menghajr, maka dia bukan Salafi. Dia telah keluar dari
Salafi karena menyelisihi pendapat salah seorang ulama di dalam menghajr Fulan. (Syaikh berkata):
“Demi Allah, tidak ada seorang pun ‘alim yang wara’ (yang berhati-hati dengan meninggalkan perkara
yang ditakutkan berbahaya di akhirat-pent) yang berpendapat untuk menghajr Fulan dan dia
mengatakan “Hajrlah orang yang aku hajr, dan siapa yang tidak menghajr, maka dia keluar dari Sunnah!”
Saya ingin berbicara tentang tentang diri. (Terkadang) saya berpendapat tidak perlu berhubungan
dengan Fulan dan duduk bersamanya. Sedangkan sebagian ikhwan duduk bersamanya dan
menasihatinya. Demi Allah, saya tidak mencelanya, dan tidak menghalalkan (anggapan buruk itu).
Bahkan, dalam hati saya tidak pernah terbetik, atau terpikirkan bahwa Fulan mudhayyi’ mumayyi’.
Ketika sebagian ikhwan berhubungan dengan Fulan dan menasihatinya, dia berpendapat, Fulan akan
menerima nasihatnya dan sementaran ia tidak akan menerima nasihat saya. Maka dia mendapatkan
faidah melalui kebersamaan dengannya. Sedangkan saya, tidak mendapatkan manfaat dengan duduk
bersamanya. Dia lebih mengetahui terhadap dirinya, dan saya lebih mengetahui terhadap diri saya. Dia
tidaklah tertuduh (melakukan keburukan) dalam agama Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Maka, mengapa tidak menjadikan diri kita (sebagai) orang yang cemburu terhadap agama Allah? (Lalu
kita jadikan) orang lain sebagai yang mudhayyi’ mumayyi’? Bahkan, jika memperhatikan kaidah-kaidah
yang ada pada ahli ilmu, kita akan mengetahui bahwa mereka (orang-orang yang menghajr semua orang
tanpa pertimbangan) berbicara dengan hawa nafsu, berbicara dengan kebodohan; demi Allah, mereka
tidak memiliki pengetahuan tentang aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Banyak orang berbicara tentang hajr, padahal dia tidak mengetahui tentang hajr kecuali sebagian
riwayat yang dibacanya dari buku-buku Ahli Sunah, bahwa Imam Ahmad menghajr, Sufyan menghajr,
Fulan menghajr. Dia berpendapat, hajr itu mutlak (umum tanpa syarat). Dia tidak mengkaji masalah ini
dengan sebenarnya, tidak merujuk kepada perkataan para ulama. Padahal Syaikhul Islam telah
menjelaskan masalah ini, dan beliau telah menyebutkan di dalam banyak kitab beliau. Tetapi, memang
membutuhkan waktu untuk mengumpulkan materi itu, dan menyampaikannya kepada orang. Saya telah
menyebutkan hal ini dalam (kitab saya), Mauqif Ahli Sunnah. [9]

Kitab saya ini telah lewat bertahun-tahun, (dan) tidak ada yang membicarakannya (yakni mengkritiknya).
Kemudian sekarang setelah muncul pengaruh hawa nafsu, mereka mulai membicarakan kitab ini.
Mereka mengatakan: “Ini mumayyi, ini mudhayyi’”. Dan tidaklah seorang pun membaca kitab itu,
kecuali berpendapat bahwa penulisnya mumayyi’.

Mereka sombong, bahkan terhadap Allah, juga terhadap manusia. Mereka menerapkan hukum-hukum
dan mensifati manusia dengan sifat-sifat (yang buruk). Urusan mereka ini terserah Allah. Fitnah
(musibah) mereka besar, dan keburukan mereka terhadap masyarakat juga besar; demi Allah, walaupun
mereka menisbatkan diri kepada Sunnah. Seseorang tidak akan selamat pada hari Kiamat di sisi Allah
lantaran mengatakan “saya salafi”, ketika dia menjadi sebab fitnah (kesesatan) pada manusia.

Sekarang ini, para thalibul ‘ilmi dan pemuda yang menisbatkan diri kepada manhaj Ahli Sunnah dan
aqidah Salaf (telah tersebar, Pent). Demi Allah, setelah aqidah ini tersebar dan merata di bumi, dan ada
di seluruh negara umat Islam, bahkan di negara-negara Eropa dan Amerika, dan mereka didapati di
mana-mana; demi Allah, fitnah (musibah) yang paling besar yang mereka timbulkan sekarang adalah
saling menghajr dan saling memutuskan (hubungan antar mereka) disebabkan fatwa-fatwa yang tidak
berdasarkan pada kaidah-kaidah ini. Manakah fitnah (musibah) yang lebih besar dibandingkan bahaya
yang muncul jika seseorang menjadi penyebab fitnah umat Islam dan Ahlus Sunnah di dalam masalah
ini? Jika seseorang merusak hubungan antara dua orang awam umat Islam, demi Allah, dia berdosa.
Maka, bagaimanakah dengan orang yang perkataannya menyebabkan fitnah (musibah) yang besar,
yakni menimbulkan saling hajr dan memutuskan hubungan di antara penuntut ilmu di antara Ahli
Sunnah, di antara Salafiyyin?

Sekarang ini kita tidak mengatakan: “Ta’liflah (bersikaplah lembut kepada) ahli bid’ah!” Karena menurut
banyak orang, merupakan dosa besar jika engkau mengatakan: “Ta’liflah ahli bid’ah!” Sehingga sekarang
ini, jika kita katakan: “Ta’liflah Ahlus Sunnah,” maka mereka mengatakan: “Tidak ada ta’lif. Semua
kesalahan harus dihajr. Semua kesalahan harus kita putuskan dan kita hajr!” Ini merupakan fitnah
(musibah) yang besar!

Suatu ketika ada seseorang berbuat salah, lalu ada orang lain yang membantahnya, kemudian orang-
orang saling hajr dan memutuskan. Dan umat menjadi dua golongan. Fulan bersama Fulan, Fulan yang
lain bersama yang lain.

Demi Allah, telah sampai kepadaku, seseorang menceraikan isterinya disebabkan fitnah (musibah) ini.
Apakah ada fitnah yang lebih besar dari fitnah ini? Manusia manakah yang memiliki semangat karena
Allah Subhanahu wa Ta'ala, menetapkan masalah ini dan berfatwa kepada orang banyak dan berpegang
dengan fikirannya? Bahkan dia menghalangi manusia dari mencari ilmu, dan memperingatkan manusia
dari kajian-kajian ini?

Sebagian mereka, ketika saya menuliskan nasihat kepada sebagian penuntut ilmu dalam masalah hajr,
dan saya jelaskan kaidah-kaidahnya, saya bacakan penjelasan para ulama, dan dia menganggapnya baik.
Kemudian, salah seorang dari mereka membacanya, dan ia mengatakan: “Orang yang membaca nasihat
ini, dia akan keluar dengan mengatakan, tidak ada hajr di dunia ini”.

Hendaklah diperhatikan, jika memang kaidah-kaidah (itu) menunjukkan bahwa tidak ada hajr, al-
hamdulillah, maka kita tidak menginginkan hajr. Tetapi jika kaidah-kaidah (itu) menunjukkan adanya
hajr, sesuai dengan mashlahat-mashlahat, (maka kita melakukan hajr). Seolah-olah tujuan kita dan
tujuan agama kita adalah hajr.

Demi Allah, kita membela al haq dari segala penjuru. Sehingga tatkala dinukilkan dari sebagian ulama
besar, bahwa pada zaman ini tidak ada hajr, dan murid-murid bertanya kepada saya, maka saya katakan,
bahwa ini tidak benar. Kita tidak mungkin mengatakan masa ini bukanlah masa hajr, akan tetapi kita
kembali kepada kaidah-kaidah. Memang benar, banyak orang yang tidak layak dihajr, tetapi tidak
mungkin kita menerapkan hukum mutlak ini kepada setiap muslim di seluruh negara, bahwa tidak ada
hajr, dan ini untuk semua manusia. Tidak! Bahkan sebagian orang, hajr memberikan pengaruh.

Kami mengetahui di antara murid kami, demi Allah, jika kami berpaling darinya, dia datang dan minta
maaf, dia mengatakan: “Maafkan saya,” tetapi sebagian orang tidak mendapatkan manfaat dengan hajr.

Walaupun perkataan tadi dari seorang ‘alim yang agung pada diri kami, namun -demi Allah- kami
berlaku ikhlas untuk al haq. Kami menetapkan al haq, dan kami tidak berbasa-basi padanya. Kami tidak
mencari keridhaan manusia. Jika semangat kita agar bersesuaian dengan Fulan dan Fulan, yaitu (supaya
dipuji) “dia itu ditazkiyah (dipuji) dengan gelar Salafi”, maka kami tidak menginginkan ini dari manusia.
Kami tidak menginginkan Fulan mentazkiyah kami. Kami tidak ingin celaannya. Bahkan hendaklah
manusia menahan keburukannya dan menahan lidahnya dari penuntut ilmu yang menetapkan al haq.

Jika ada sesuatu (kesalahan) pada seseorang, dan dia memiliki ilmu yang nyata dan terang, maka
hendaklah dia mendatanginya, menjelaskannya, dan menasihatinya. Karena Ahli Sunnah saling
menerima dari yang lain. Saling menasihati di antara mereka. Saya tidak ingin memperpanjang ceramah
ini. Ini merupakan nasihat, dan saya ingin menjelaskan masalah yang berkaitan dengan hajr ini, karena
saya mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Saya memberi nasihat, saya ingatkan kalian terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk bersatu di atas
Sunnah, dan dakwah kalian kepada orang lain. Bersatulah di atas Sunnah. Kalian di atas Sunnah, bisa jadi
ada perselisihan di antara kalian dalam masalah-masalah yang besar dan kecil. Hendaklah saling
menasihati. Jelaskanlah al haq, dan janganlah kalian berbasa-basi dalam masalah-masalah yang besar
dan kecil. Jika ikhwan kalian menerima, maka al-hamdulillah. Jika tidak, maka perhatikanlah kaidah-
kaidahnya. Demi Allah, jika saya tidak bertemu dengan Fulan dan tidak berhubungan dengannya,
semoga Allah menunjukinya, maka bisa jadi hajr disyari’atkan bagimu. Namun jika engkau tidak bertemu
dengannya dan hajrmu tidak berpengaruh dan menjauhkan dari Sunnah, maka janganlah engkau hajr.

Hendaklah Anda sekalian saling menasihati dan bersatulah di atas al haq. Ajaklah semua orang yang
menyelisihi Sunnah, ajaklah (mereka) menuju Sunnah, dan bersikaplah lembut kepadanya. Kelemah-
lembutan akan mendekatkannya kepada agamanya, yaitu kelemah-lembutan yang diajarkan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami memohon taufiq kepada Allah untuk kita semua. Wallahu
a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7-8/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647,
08157579296]
_______

Dr. Ahmad Khan seorang peneliti lulusan Summa Cumlaude dari Duke University menemukan
informasi lain selain konstruksi Polipeptida yang dibangun dari kodon DNA.
DNA (Deoxy Nucleotida Acid) sendiri merupakan materi genetik yang membawa informasi

yang dapat diturunkan.

Di dalam sel manusia DNA dapat ditemukan pada inti sel dan di dalam mitokhondria.

Di dalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap
sel manusia yang normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik
dan 1 pasang kromosom sex (XX atau XY)

Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi
protein sama sekali.

Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah.

Kenyataannya DNA tersebut menurut Ahmad Khan jauh sekali dari makna sampah. Menurut
hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta
serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.

Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis
sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah.

Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja
kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk menemukan huruf Arab yang mungkin dibentuk dari
rantai Kodon pada kromosom manusia.
Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Al Qur”an. Akhirnya pada tanggal 2 Januari
tahun 1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang pertama “Bismillah ir Rahman ir Rahiim.
“Iqra bismirrabbika ladzi Khalq”, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”.

Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A”laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan
Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira.

Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu secara cepat.
Sampai sekarang ia telah berhasil menemukan 1/10 ayat Alquran.

Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuannya dalam beberapa lembar kertas


yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G,
dan A masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai
akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.
HIJIB

Assalamu'alaikum Wr Wb.
Habib Luthfi yang saya hormati. Saya ingin bertanya seputar hizib. Apa sebenarnya hizib itu? Mengapa
ada yang disebut hizib keras dan ada yang lembut? Apa bedanya dengan ratib? Apa fadhilah
mengamalkan hizib? Mengapa untuk mengamalkannya diperlukan ijazah?
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Asep Sofyan Kebon Mangu, Bandung

Catatan Redaksi
Pertanyaan tersebut juga terungkap dalam beberapa surat senada yang diterima Redaksi. Semoga
Mudah-mudahan ulasan Habib Luthfi tersebut cukup menjawab semuanya.

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.


Kapsul, atau tablet, tentu tidak mempunyai dosis yang sama. Demikian juga dosis obat antibiotik dan
vitamin. Jika yang satu bisa diminum sehari tiga kali, yang lain mungkin hanya boleh diminum satu kali
dalam sehari. Bahkan vitamin, yang jelas-jelas berguna, pun jika diminum melebihi dosis yang
ditentukan dokter; efeknya akan berakibat buruk bagi tubuh. Badan bisa meriang atau bahkan kera-
cunan. Begitu pula halnya dengan hizib dan ratib.

Hizib dan ratib, dilihat dari susunannya, sebenarnya sama. Yakni, sama-sama kumpulan ayat, dzikir; dan
doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih
Allah). Yang membedakan suatu ratib dengan ratib lain, atau hizib dan hizib lain, adalah asrar yang
terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang disesuaikan dengan waqi’iyyah
(latar belakang penyusunan)-nya.

Namun, meski muncul pada waqi' yang sama dan oleh penyusun yang sama, ratib sejak awal dirancang
oleh para awliya untuk konsumsi umum, meski tetap mustajab. Semua orang bisa mengamalkan untuk
memperkuat benteng dirinya, bahkan tanpa perlu ijazah. Meski tentu jika dengan ijazah lebih afdhal.

Sementara hizib, sejak awal dirancang untuk kalangan tertentu yang oleh sang wali (penyusun-red)
dianggap memiliki kemampuan lebih, karena itu mengandung dosis yang sangat tinggi. Hizib juga
biasanya mengandung banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti
kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian doa sebelumnya padahal yang
terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizib juga biasanya mengandung lebih banyak ismul a'zham (asma
Allah yang agung), yang tidak ada dalam ratib.

Dan yang pasti, hizib tidak disusun berdasarkan keinginan sang ulama, karena hizib rata-rata merupakan
ilham dari Allah SWT: Ada juga yang mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW seperti Hizbul Bahr,
yang disusun oleh Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili.rhm Karena itulah, hizib mempunyai fadhilah dan
khasiat yang luar biasa.
Selain itu, ada juga syarat usia yang cukup bagi pengamal hizib. Sebab orang yang sudah mengamalkan
hizib biasanya tidak lepas dari ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang,
karena Allah SWT, menampakkan salah satu hizibnya dalam bentuk kehebatan, lalu pengamalnya
kehilangan kontrol terhadap hatinya dan menjadi sombong. Ada juga yang berpengaruh ke rizqi, yang
selalu terasa panas sehingga sering menguap tanpa bekas, dan sebagainya.

Karena itu pula diperlukan ijazah dari seorang ulama yang benar-benar mumpuni dalam arti mempunyai
sanad ijazah hizib tersebut yang bersambung dan mengerti dosis hizib. Selain itu juga diperlukan guru
yang shalih yang mengerti ilmu hati untuk mendampingi dan ikut membantu si pengamal dalam menata
hati dan menghindari efek negatif hizib.

DALAM al-Quran, ada lima ayat dalam beberapa surah yang mengandungi khasiat. Lima ayat
itu lebih dikenali sebagai ayat Nashr, yang bermaksud suatu ayat yang boleh digunakan sebagai
penolong atau pendinding diri.

Mengikut pendapat ulama, ayat lima itu mempunyai pelbagai faedah termasuk:

 Sebagai penolak sebarang kejahatan manusia, jin, syaitan dan binatang buas.
 Sekiranya dibaca di hadapan musuh atau seteru, insya-Allah akan terjaga daripada
sebarang kejahatannya.
 Dapat menimbulkan kewibawaan dan kehebatan diri di depan musuh ketika di medan
perang hingga mereka gerun.
 Jika dijadikan suatu wirid (amalan yang berterusan) tiap selesai sembahyang fardu, maka
segala hajat yang diingini akan dikabulkan Allah.
 Sesiapa yang membaca selepas Subuh dan solat Maghrib secara istiqamah akan
dikekalkan dalam jawatannya dan dinaikkan pangkat.

Ayat pertama adalah daripada surah al-Baqarah ayat 246, yang bermaksud: “Apakah kamu
tidak memerhatikan pengikut Bani Israil sesudah Nabi Musa iaitu ketika mereka berkata kepada
seorang nabi mereka, “Lantiklah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah
kepemimpinannya) di jalan Allah. Nabi mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mahu
berperang di jalan Allah, pada hal kami dihalau dari kampung halaman kami dan daripada anak
kami? Maka tatkala perang itu diwajibkan ke atas mereka, lalu mereka pun berpaling kecuali
beberapa orang saja antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui ke atas orang yang zalim.”

Ayat kedua bermaksud: “Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang yang mengatakan,
“Sesungguhnya Allah miskin dan kami adalah kaya. Kami akan mencatat perkataan mereka itu
dan perbuatan mereka yang membunuh nabi tanpa sebarang alasan yang benar. Dan Kami akan
mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah oleh kamu azab yang membakar.” (Surah Ali Imran,
ayat 181).

Ayat ketiga daripada surah an-Nisa, ayat 77 yang bermaksud: “Tidakkah kamu perhatikan orang
yang dikatakan kepada mereka, Tahanlah tanganmu (daripada berperang), dirikanlah
sembahyang dan keluarkan zakat.” Setelah diwajibkan ke atas mereka berperang tiba-tiba
sebahagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti mana
ketakutannya kepada Allah, malah lebih daripada itu dalam ketakutannya lalu mereka berkata,
“Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tangguhkan (kewajipan berperang) kepada kami sampai
beberapa waktu lagi! Katakanlah, “Kesenangan dunia itu hanya sebentar dan akhirat itu lebih
baik untuk orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”

Ayat keempat daripada surah al-Maidah, ayat 77, bermaksud: “Ceritakanlah kepada mereka
mengenai kisah kedua-dua anak Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya ketika kedua-
duanya dipersembahkan korban, maka terimalah (korban) daripada seorang antara mereka
berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia berkata, “Aku pasti akan
membunuh.” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima korban daripada orang yang
bertakwa.”

Ayat terakhir daripada surah al-Ra’du, ayat 16, bermaksud: “Katakanlah siapakah Tuhan langit
dan bumi? Jawablah, Allah, katakanlah, Patutkah kami mengambil perlindunganmu selain Allah,
pada hal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka
sendiri.”
Setiap wirid dibaca 2000X kecuali [‫ ]يا ذا الجَلل واْلكرام‬hendaklah diwiridkan lebih dari 2000X
kali.

Semasa berwirid hendaklah di tempat yang jauh dari org ramai dan berpuasa selama 7 hari mulai
hari Ahad.

Amalkan sehingga mendapat hikmat kalau tidak ia mendapat hikmat hendaklah dimulai dari
awal sampailah mendapat hikmat. Setiap yang berkehendak pasti akan dapat dengan izin Allah.

Hikmatnya bermaksud mendapat tanda-tanda bahawa amalannya diijab kabul oleh Allah.
Antaranya melihat rupa singa berkepala manusia tersurat padanya surah al-Fatihah di kepalanya,
surah Yasin di tubuhnya atau datang padanya Rasulullah menyurat padanya yakni memberi
wejangan padanya samada berupa amalan atau kata-kata dan ianya adalah pakaian utama bagi
para hulubalang.
Tanda-tanda ini hanyalah berupa pengalaman-pengalaman dari orang yang mengamalnya dan
ianya berbeza pada setiap orang. Dalam menghadapi peperangan yang menuntut umat Islam
bangkit melawan musuh sebagaimana zaman darurat melawan pengganas komunis ada beberapa
amalan yang masih wujud hingga ke hari ini.

Amalan sedemikian adalah jalan menuntut keredhaan Ilahi yang dibawa oleh alim ulama zaman
bahari (dahulu) bagaimana kekuatan jasmani sahaja tidak memadai melainkan digarap dengan
kekuatan rohani.

Kesungguhan untuk mendapatkan pertolongan Allah menuntut setiap pengamalnya sedia


melakukan beberapa amalan para solihin selain mentaati perintah yang fardu dan meninggalkan
perkara yang dilarang (haram).

Amalan Empat Zikir yang lebih dikenali Ayat 4 menjadi amalan zikir yang amat mustajab di
amalkan bagi menghadapi musuh durjana yang menyerang, memperkosa dan membunuh orang
Islam. Selain itu ada beberapa zikir dan doa yang baik untuk di praktikkan bagi
memperkukuhkan kekuatan yang dipohon kehadrat Allah SWT.

Dari ayat empat tadi terdapat kekuatan hikmah dan doa permohonan kita kepada Allah Ta’ala
agar kita diberi kekuatan dan perlindungan. Malah, musuh yang melihat pengamalnya pasti akan
gerun, kaku dan dengan izin Allah boleh dikalahkan.

Zikir membawa erti ingat akan Allah. Apakala kita ingat padaNYA, maka DIA ingat pada kita.
Maknanya ada penyerahan diri kepada Allah dalam zikir dan permintaan kita melalui doa agar
kita di lindungi membawa suatu keyakinan yang mutlak dalam ilmu Banjar ini.

Apakala sudah di lindungi Allah tiada apa lagi kainat* yang dapat membinasakan kita melainkan
Allah. Maka Ayat 4 sebaiknya di amalkan sebagai zikirullah dan wajar diamalkan sebaik-
baiknya tanpa sekali-kali melakukan perkara yang mungkar dan maksiat.

Bagi mengelakkan daripada panas baran kepada pengamalnya, malah memberikan ketenangan
hati dan keyakinan bahawasanya Allah berdiri dengan sendiriNYA. Tiada kuasa yang lebih kuat
selain Allah. Kainat* tiada memberi bekas. Maka jatuh pada tilikan hakikat kita bahawasanya
sekelian yang baharu lemah seperti air dan kainat* tidak akan memberi bekas. *Nota: Kainat
adalah sesuatu yang bergerak bernyawa dan sesuatu apa jua yang hendak membinasakan kita.

Iringi setiap kali amalan ini dilakukan dengan membaca Selawat Syifa’ 11 kali setiap kali lepas
solat fardu agar terhindar daripada panas baran dan banyakkan beristighfar kepada Allah yang
maha mengetahui dan penyerahan hakiki diri kita yang sebenar-benar diri.
Antara kita dan DIA tiada bersekutu dan tiada bercerai. Umpama mata hitam dan mata putih.
Jika bersekutu kita binasa. Jika bercerai pun kita binasa. Allah Maha Kaya sedangkan kita hamba
yang lemah dan tiada daya-upaya jika tanpaNYA. Buat generasi muda, usah gentar usah ragu.
Belajarlah, ” Demi Agama, Tanah Air dan Bangsa”.

Sesungguhnya betapa besar ilmu kerahsiaan Allah ini mereka yang pernah mengamalkan tahu
fadilat dan kebesaranNYA Allah Yang Maha Agong. Sesungguhnya hanya Dia Maha
Mengetahui di atas tiap-tiap sesuatu, kalau Ia menghendaki maka akan jadilah (Kun Fayakun).

Ingatlah amalan ini sebagai persediaan menghadapi musuh yang sentiasa mencari peluang untuk
memerangi kita yang entah dari mana datangnya. Kalaulah amalan ini tidak wujud masakan
pertempuran Angkatan Parang Panjang di Batu Pahat Johor dan Sungai Manek Perak mampu
menewaskan pasukan pengganas komunis yang menggunakan pelbagai senjata api.
Kalau ada yang tahu dengan amalan ini dan maklumkanlah di mana adanya guru-guru yang
berwibawa untuk menerangkan selanjutnya.

Anak-anak muda jika berminat dengan amalan ini jangan mendekati perkara yang ditegah dan
dilarang oleh Agama Islam. Pelajarilah Ilmu Tauhid sedalam-dalamnya. Praktikkan jalan mulia
yang menuju kesucian jiwa melalui amalan yang murni. Patuhi tuntutan syarak dan sentiasa
mendekati Allah. Hanya dengan amalan yang baik yang diredhai Allah akan meletakkan diri kita
mampu mengalahkan musuh-musuh Islam yang kini menggunakan pelbagi cara untuk
mengalahkan Islam.

Jangan takbur dan ego apabila beramal dengan ayat 4 ini. Kukuhkan persaudaran Islam tanpa
memperlekehkan sesama sendiri melainkan atas jalan nasihat bagi memperbetulkan keadaan
khususnya yang berkaitan akidah
Bismillah Enam

Bismillah Enam

 Makbul segala hajat dan cita-cita.


 Luas rezkinya.
 Jika ditiup kpd perempuan nescaya kasih ia kepada kita.
 Menang dalam peperangan.
 Penerang hati.
 Diajuhkan dari segala penyakit.
 Dibaca 70 kali tiap-tiap hari aman dari ancaman raja-raja dan pembesar yang zalim yang hendak
membunuhnya.
 Dibaca ditempat yahng suci nescaya dapat melihat malaikat, jin dan syaitan.
 Dibaca dimalam jumaat 20 kali boleh melihat orang didalam kubur.
 Aman daripada binatang2 buas.
 Air laut menjadi tawar.
 Terlepas daripada terkena bunuh juka dibaca kepada tubuh badan.
 Jika ditulis dan dijadikan azimat atau dibaca pada sawah aman daripada ancaman babi, tikus
atau burung.
 Terselamat daripada bahaya musuh dan seteru.
 Terselamat dari karam dilaut.
 Jika dibaca pada minyak malam jumaat tiga kali boleh memudahkan perempuan beranak jika
meminumnya.
 Orang yang pekak jika dibaca pada telinganya selam 7 hari nescaya mendengar.
 Orang gila atau yang dirasuk oleh iblis apabila dibaca ditelinga tiga kali insyaallah lari iblisnya.
 Boleh tawarkan segala jenis bisa termasuk bisa sengat binatang seperti lebah, ular dan ikan.
 Boleh tawarkan segala jenis racun dan santau, seperti yang diperbuat daripada miang rebung,
ulat buku mati beragan, hempedu katak dan sebagainya.
 Terkeluar daripada penjara apabila dibaca bersungguh-sungguh.
 Dijadikan jampi untuk menghalau jin dan syaitan.

Cara untuk merawat pesakit yang menderita kerana perkara diatas; latakkan tangan ditempat
yang sakit, tahan nafas dan baca al-Fathihah dan juga ayat Bismillah Enam ini. Tiup tempat
tersebut dah urut sedikit. Baca juga ayat ini pada air untuk disapukan pada tempat yang sakit dan
untuk di minum. Angin akan keluar darpi pesakit dan diikuti oleh muntah, insyaallah.

Doa ini juga boleh digunakan kepada binatang yang termakan rumput yang diracun atau yang
dipatuk ular. Kaedah rawatannya adalah dengan memberi makan rumput dan meminum air yang
telah dibacakan dengan doa diatas.

AMAL LAH BISMILLAH ENAM INI KERANA IANYA MENJADIKAN SEGALA JENIS
RACUN AKAN TAWAR DAN TIDAK MEMBERI MUDHARAT KEPADA PENGAMAL
KALAU TERMINUM. GELAS YANG MENGANDUNGI RACUN AKAN PECAH KALAU
DIPEGANG OLEH PENGAMAL BISMILLAH ENAM. INSYAALLAH.

Hikmat Surah al-Fathihah

BISMILLAH HIRRAHMANIRRAHIM
Sesiapa yang mengekalkan mambaca AlFathihah diantara sembahyang sunat subuh dengan
Fardhu Subuh sebanyak 41 kali, makan fazilatnya ialah:

 Meminta pangkat melainkan dapat.


 Ia miskin melainkan kaya.
 Ia berhutang melainkan dibayar Allah akan hutangnya
 Ia sakit melainkan disembuhkan Allah.
 Ia lemah malainkan dikuatkan Allah.
 Ia berdagang di negeri orang,melainkan dimuliakan, dikasihi dan sampai cita-cita.

Berkata beberapa ulama termasuk beberapa orang murid kepada al-Sheikh al-Tamimi
menyatakan:

“Suatu masa penyakit Taun dan wabak telah menyerang negeri Maltan dengan dahsyatnya
kerana itu beberapa bayak kematian telah berlaku di negeri itu pada setiap hari.”

“Lalu tuan Sheikh al-Tamimi meminta sahabat dan muridnya membaca Fatihah keatas sesiapa
yang dihinggapi oleh penyakit Taun dan wabak tersebut.”

“Maka kami pun membaca dan meniupkannya ke atas orang sakit itu, seketika lamanya kami
lihat orang sakit itu pun sembuh dang penyakitnya berkurangan.”

Begitulah Fazilatnya sesiapa yang membaca 41 kali Fathihah keatas seorang yang sakit setelah
itu dihembuskan kepadanya, Insya Allah afiat.

Air Fatihah

Ibnu Abas r.a mennyatakan ,Saidina Hassa bin Ali r.a cucu kepada Rasulallah telah sakit.
Rasulallh melihat cucunya sakit, mengambil air dan membacakan fatihah dan membacakan 40
kali dalam saru bekas, kemudain air itu disapukan ke muka, kepala dan dua belah tanngan dan
kaki serta perut dan mana-mana angota yang nyata. Dengan berkat fathihah itu sembuh lah
penyakitnya.

Demikinalah, sesiapa sehaja yang mengidap sesuatu penyakit bacakanlah Fatihah sebanyak yang
tersebut setelah itu bacakan serapah ini:

Ya Allah sembuhkanlah kerana Engkau Maha Penyembuh. Ya Allah lindugkan kerana


Engkau Maha Pelindung. Ya Allah pulihkan kerana Engkau Maha Pemulih.

Diberi minum air Fatihah itu kepada orang yang mengidap penyakit dan
sapukan ke mukanya serta kWirid Fathihah

Sesiapa yang membaca alFathihah sebanyak 100 kali sehari pada tiap-tiap lepas sembahyang
sebanyak 20 kali akan:

 Dimurahkan allah rezkinya


 Diperbaikki hal ehwalnya.
 Dibersihkan hatinya.
 Diangkat darjatnya.
 Dimudahkan pekerjaannya.
 Dilepaskan ia daripada dukacita
 Dijauhkan dari mudharat.
 Diberi ia kerajinan dan semangat.
 Tidak keciwa.
 Dijauh dari asutan syaitan.
 Di ilham kepadanya kebajikan.

e serata tubuh badannya, inysaallah akan afiat.

Hikmat Surah al-Fathihah 2

Mengembalikan Pangkat

Sesiapa yang di pecat dari pekerjaannya atau jatuh pangkat yang disandang olehnya dan sukakan
ia kembali kepada pangkatnya, hendaklah ia membaca Fathihah sebanyak 41 kali diantara Sunat
Subuh dan Fardhunya selama 40 hari.

Jangan kurang dari bilangan ini dan jangan putuskan ayat-ayat yang dibaca.

Insayallah kembalilah pangkatnya semula atau menyandang pangkat yang lebih tinggi,
percayalah kepada khudrat Allah.

Mendapat Zuriat
Sesiapa yang mandul tidak mendapat anak selama ia berkahwin dan suka pula hendak mendapat
zuriat atau anak, hendaklah ia mengamalkan membaca surah Fathihah sebagaimana kaedah
peraturan seperti ini:

Hendaklah membaca Fathihah sebanyak 41 kali selam 40 hari dengan tidak putus-putus dan
tidak kurang bilangannya.

Masanya ialah diantara Sunat Subih dan Fardhu Subuh.

Insyaallah ia akan mendapat zuriat yang salleh lagi baik.

Fathihah di atas kapas.

Sesiapa membaca Fathihah 7 sebanyak 7 kali, kemudian diludahkan diatas sekeping kapas dan
ditampalkan pada tempat yang luka atau kudis atau apa-apa sehaja penyakit kulit, akan
bercantum lukanya dan sembuh kudisnya, dengan izin Allah.

Bacaan untuk pelayar

Jika di baca Fathihah sebanyak 41 kali di belakang orang yang hendak belayar, Inyaallah di
selamatkan ia dalam pelayarannya dan di kembalikan semula ke tanah air dalam keadaan sihat
afiat.

Jika hendak membereskan sesuatu pekerjaan

Sesiapa yang melakukan pekerjaan dan hendak selesaikan pekerjaan itu denga baik, bacalah
Fathihah di tengah malam sebanyak 41 kali.

Insyaallah dimudahkan allah pekerjaannya dengan tidak mendapat suatu gangguan dan apa saja
pekerjaanya dengan izin allah semuanya beres.

Jika berasa dahaga

Sesiapa yang berada dalam pelayaran atau perjalanan atau sesat maka takut ia dahaga atau lapar,
hendaklah ia membaca Fathihah sekali diatas tapak tangannya, kemudian ditiupkan diatas tapak
tangannya itu dan disapukan kemuka dan perutnya.

Insyaallah ia tidak akan merasa lapar atau dahaga pada hari itu.

Mengubat sakit telinga.

Jika mengidap sakit telinga baru atau pun lama, hendaklah dituliskan Fathihah dalam satu bekas
ekmudian dihapuskan tulisan itu dengan minya mawar dan titikkan kedalam telinga, insayaallh
afiat.

Minyak Fathihah.
Jika di bacakan 70 kali Fathihah kedalam minyak (apa saja jenis minyak) dan disimpan unutk
persediaan bagi sakit-sakit angin, akhmar dan bagi menyegarkan tenaga dan urat. Juga bagi
penyakit belakang dan pinggang. Insyaallah afiat apabila di gosokkan.

Menjadi Penawar.

Jika disengat binantang berbisa seperti lipan, kala atau ikan bersengat hendaklah diambil segelas
air masuk kan sebutir garam jantan ( besar ) dalam air itu dan bacakan Fatihah sekali.

Kemudian di beri minum, Insyaallah akan hilang bisanya.

Khasiat Ayat Kursi

Mahfum ayat:

Allah, tidak ada yang benar disembah hanya Dia yang Hidup dan Maha Kaya, tidak pernah
ditimpa mengantuk dan tidak pernah tidor, bagin Nya sesuatu yang ada di langit dan di bumi,
tidak ada yag boleh membri syafaat kecuali denga izin Nya. Ia maha mengetahui segala apa
yang terjadi di hadapan mereka dan dibelakang mereka. Tidaklah mereka meliputi ilmunya
sedikit jua kecuali yang dikehendakki Nya. Lebih luas kerusinya darilangit dam bumi. Tidak
susah bagi Nya memelihara keduanya. Ia maha Tinggi dan maha Besar.

[Allah! There is no god but He, the Living, the Self-subsisting, Eternal. No slumber can seize Him nor
sleep. His are all things in the heavens and on earth. Who is there can intercede in His presence except as
He permitteth? He knoweth what (appeareth to His creatures as) Before or After or Behind them. Nor
shall they compass aught of His knowledge except as He willeth. His Throne doth extend over the
heavens and the earth, and He feeleth no fatigue in guarding and preserving them for He is the Most
High, the Supreme (in glory).]
Penjelasan:

Ayat Kursi diturunkan pada suatu malam selepas Hijrah. Menurut riwayat, ketika ayat kursi
diturunkan disertai dengan beribu-ribu malaikat sebagai penghantarnya, kerana kebesaran dan
kemuliaannya.

Syaitan dan Iblis menjadi gempar kerana adanya suatu alamat yang menjadi perintang dalam
perjuangan nya.

Rasulallah s.a.w segera memerintah kepada penulis alQuran iaitu Zaid bin Thabit agar segera
menulisnya dan menyebarkannya.

Ada terdapat sembilan puluh lima buah hadis yang menjelaskan fazilat ayat kursi. Sebabnya ayat
ini disebut ayat KURSI kerana di dalam nya terdapat perkataan KURSI, ertinya tempat duduk
yang megah lagi yang mempunyai martabat.

Perlu di ingat, bukan yang di maksudkan dengan KURSI ini tempat duduk tuhan, tetapi adalah
KURSI itu syiar atas kebesaran Tuhan.

Khasiat Ayat Kursi:

1. Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan istikamah setiap kali selesai sembahyang
fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali masuk kerumah atau kepasar, setiap kali masuk
ke tempat tidur dan musafir, insyaallah akan diamankan dari godaan syaitan dan
kejahatan raja-raja (pemerintah) yang kejam, diselamatkan dari kejahatan manusia dan
kejahatan binatang yang memudharatkan. Terpelihara dirinya dann keluarganya, anak-
anak nya, hartanya, rumahnya dari kecurian, kebakaran dan kekaraman.
2. Terdapat keterangan dalam kitab Assarul Mufidah, barang siapa yang mengamalkan
membaca ayat kursi, setiap kali membaca sebanyak 18 kali, inyaallah ia akan hidup
berjiwa tauhid, dibukakan dada dengan berbagai hikmat, dimudahkan rezekinya,
dinaikkan martabatnya, diberikan kepadanya pengaruh sehingga orang selalu segan
kepadanya, diperlihara dari segala bencana dengan izin Allah s.w.t.
3. Salah seorang ulama Hindi mendengar dari salah seorang guru besarnya dari Abi
Lababah r.a, membaca ayat Kursi sebanyak anggota sujud (7 kali) setiap hari ada benteng
pertahanan Rasulallah s.a.w.
4. Syeikh Abul ‘Abas alBunni menerangkan: “Sesiapa membaca ayat Kursi sebanyak
hitungan kata-katanya (50 kali), di tiupkan pada air hujan kemudian diminumnya, maka
inysyaallah tuhan mencerdaskan akalnya dan memudahkan faham pada pelajaran yang
dipelajari.
5. Sesiapa yang membaca ayat Kursi selepas sembahyang fardhu, Tuhan akan
mengampunkan dosanya. Sesiapa yang membacanya ketika hendak tidur, terpelihara dari
gangguan syaitan, dan sesiapa yang membacanya ketika ia marah, maka akan hilang rasa
marahnya.
6. Syeikh alBuni menerangkan: Sesiapa yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan
hurufnya (170 huruf), maka insyaallah, Tuhan akan memberi pertolongan dalam segala
hal dan menunaikan segala hajatnya, dam melapangkan fikiranyan, diluluskan rezekinya,
dihilangkan kedukaannya dan diberikan apa yang dituntutnya.
7. Barang siapa membaca ayat Kursi ketika hendak tidur, maka Tuhan mewakilkan dua
malaikat yang menjaga selama tidurnya sampai pagi.
8. Abdurahman bin Auf menerangkan bahawa, ia apabila masuk kerumahnya dibaca ayat
Kursi pada empat penjuru rumahnya dan mengharapkan dengan itu menjadi penjaga dan
pelindung syaitan.
9. Syeikh Buni menerangkan: sesiapa yang takut terhadap serangan musuh hendaklah ia
membuat garis lingkaran denga nisyarat nafas sambil membaca ayat Kuris. Kemudian ia
masuk bersama jamaahnya kedalam garis lingkaran tersebut menghadap kearah musuh,
sambil membaca ayat Kursi sebayak 50 kali, atau sebanayk 170 kali, insyaallah musuh
tidak akan melihatnya dan tidak akan memudharatkannya.
10. Syeikul Kabir Muhyiddin Ibnul Arabi menerangkan bahawa; sesiapa yang membaca ayat
Kursi sebayak 1000 kali dalam sehari semalam selama 40 hari, maka demi Allah, demi
Rasul, demi alQuran yang mulia, Tuhan akan membukakan baginya pandangan rohani,
dihasilkan yang dimaksud dan diberi pengaruh kepada manusia. (dari kitab Khawasul
Qur’an)

Pagar atau pendinding rumah.

Kaedah berikut dilakukan untuk mendinding rumah dan kawasannya juga tempat-tempat lain.

Untuk memagar rumah, mulakan dari bahagian kanan rumah. Mula-mula pacakkan teras kayu
asam jawa disatu penjuru rumah (sebelah kanan) dan ketuk dengan pemukul besi hingga
tenggelam paras bumi. Pijak tunggu tadi sambil mengadap ke penjuru lain yang di tuju dan baca:

 Ini tembok Nabi Sulaiman


 Dalamnya laut luarnya kota
 Kalau kamu pecah kota ini
 Kamu akan berenang dalam laut.

Tiup menghala penjuru yang hendak dituju. Baca bimillah, al-Fathihah dan surah Yasin dari
awal hingga ayat ke 9.
Kemudian berjalan menuju ke arah penjuru lagi satu dengan membaca ayat ini berulang-ulang.
Sambil membaca, Air Yasin di renjiskan disepanjang jalan ke penjuru yang dituju. Apabila tiba
dipenjuru yang dituju, paku satu lagi tersa kayu asam jawa seperti yang dilakukan sebelum ini.
Kemudian berdiri diatasnya sambil memandang penjuru yang berikutnya. Buat seperti tadi ke
penjuru ketiga, kemudian seterusnya kembali ke penjuru yang mula-mula tadi.

Setelah menanam kesemua empat teras batang kayu asam jawa yang disediakan, pijaklah teras
kayu asam jawa yang pertama tadi kemudian buat lingkungan di bahagian atas seluruh kawasan
yang dipagar tadi, dengan isyarat tangan. Untuk tujuan ini, Air Yasin atau garam boleh
digunakan untuk melinkungi bahagian atas rumah tadi.

Sekiranya terdapat penceroboh yang berniat buruk memasukki kawasan yang telah dipagar ini,
nescaya ia akan rasakan bagai berada di tengah-tengah lautan yang luas, terkapai-kapai berenang
unutk menyelamatkan dari lemas.

Begitu lah kebesaran Allah. ALLAHUAKHBAR.


Hikmat Ayat Seribu Dinar

June 13, 2007 by alivewire

Bermaksud :

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani. Dan sesiapa yang bertaqwa
kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya), nescaya akan
dijadikan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya).

Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas hatinya. Dan (ingatlah), sesiapa berserah diri
bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukupkan baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya).
Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang di kehendakiNya. Allah telahpun
menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.

(Ayat 2 & 3 Surah At-Talaq)

Ini ayat seribu dinar namanya, ayat ini diamal oleh seorang hamba yang mendapat hikmat ini dari Nabi
Allah Khidhir ketika belayar di laut dengan berkata berkat amal ayat ini hamba itu mendapat kemuliaan
dan menjadi raja.

Ayat ini mengandungi seribu faedah jikalau di amalkan tiap-tiap kali lepas sembahyang sebanyak tiga
kali, insya’Allah akan beroleh seribu faedah, barang siapa yang beramal ayat ini Allah taala akan
mengadakan baginya jalan keluar dari segala kesulitan, Allah ta’ala akan memberi rezeki yang banyak
dengan tidak di sangka-sangka dan Allah Ta’ala menyampaikan segala hajatnya, dengan beramal
bersungguh-sungguh dan yakin kepada Allah, terlindung segala daripada bala di darat dan di laut.

Jikalau dibaca ayat ini kepada orang yang sedang sakit sebanyak 3 kali dan dihembuskan kepada si
pesakit itu dan di jampi pada air sebanyak 3 kali diberi minum, insya’Allah si pesakit akan sembuh.

Jikalau mendapat sebarang kesusahan yang amat berat, kesusahan kerana kezaliman orang-orang
tamak, oleh peperangan yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Negara, beramallah selalu dengan ayat ini
selepas daripada sembahyang lima waktu, mudah-mudahan segala kesusahan mendapat perlindungan
dari Allah Ta’ala.
Jikalau masuk berperang menentang musuh, tiada binasa oleh terbakar, jika di pukul dengan besi tiada
lut dan tiada binasa dari sebarang benda yang bahaya, hendaklah beramal ayat ini dan bertawakkal
kepada Allah, baca ayat ini sesudah sembahyang lima waktu, baca ketika hendak tidur tiga kali, baca
ayat ini ketika hendak keluar rumah sekurang-kurangnya tiga kali.

AYAT LIMA BELAS


DAN KEAMPUHANNYA
Posted on Maret 14, 2009 by RUMAH KESEHATAN
Ayat lima belas terdiri atas :

1. Ali Imran :1-2 dan 18

2. Al-An`am : 95

3. Ar-Ra`d : 31

4. Yasin : 82

5. Al-Fatihah : 2

6. Qaf : 15

7. Al-Hadid : 4 dan 25

8. At-Taghabun : 13

9. Ath-Thalaq : 3

10. Al-Jinn : 28

11. Al-Muzzammil : 9

12. An-Naba : 38

13. Abasa : 18-19

14. At-Takwir : 20

15. Al-Buruj : 20-22

DAHSYATNYA AYAT LIMA BELAS


Berikut kami akan mengijazahkan satu lagi amalan yang cukup lumayan "dahsyat"
apabila benar-benar diamalkan secara istiqomah(terus menerus),nama amalan
ini,adalah "AYAT LIMA BELAS".
Bagi para ulama dan santri mungkin ayat ini sudah sangat tidak asing lagi,sobat
blogger pasti bisa dengan mudah menemukan tulisan ayat lima belas ini di buku-
buku mujarrobat pada umumnya.
Sebenarnya tiap-tiap ayat mempunyai kegunaan dan fungsi masing-masing untuk
memenuhi apa yang kita hajatkan,tetapi jarang sekali orang tahu bahwa jika ayat
lima belas ini dibaca sekaligus dapat mendatangkan berbagai hajat..insya Allah
dengan keyakinan tentunya,berikut akan kami paparkan sedikit fungsi dan
manfaat ayat lima belas ini,yaitu diantaranya:
1.keselamatan lahir dan bathin dari kejahatan,baik yang bersifat nyata maupun
ghoib,
2.mengobati kesurupan,
3.pengasihan umum dan khusus,
4.terawangan,mamampu melihat keadaan orang lain yang jaraknya ribuan km.
5.dan masih banyak lagi manfaat ayat ini untuk berbagai keperluan hajat,yang
tidak bisa kami sebutkan satu per satu.

Baiklah...sekarang akan kami paparkan lagi tentang tata cara pengamalan ayat ini
:
* terlebih dahulu sobat harus mandi wajib atau mandi junub pada sore hari
sekitar jam 4 atw jam 5 sore,lakukan hal ini selama 7 sore berturut-turut.
*pada malam harinya silahkan para sobat lakukan sholat taubat 2 rakaat,selesai
sholat perbanyak baca istigfar.Setelah itu silahkan teruskan untuk melakukan
sholat hajat 2 rakaat yang aturannya :
-rakaat I:setelah membaca Al-fatihah baca surat Al-kafiruun 10x,
-rakaat II:selesai baca Al-fatihah,baca surat Al-Ikhlas 10x
*selesai sholat hajat,baca:
-istighfar 100x,
-dua kalimat
syahadat 3x,
-sholawat nabi 70x,
-laa haulaa walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhiim 1x.

Lalu diteruskan dengan membaca tawassul fatihah,kepada:


1.illa hadrotin nabiyyil musthofa Muhammad rosulillahi SAW,al fatihah......(baca
fatihah 1x),
2.nabi sulaiman ibnu daud as,wa illa nabi khidr balya' ibnu mulkan as,al fatihah....
3.illa arwah arba'ati a-immatil mujtahidin al khulafa urrosyidiin saadatinah abi
bakrin,wa umaaro,wa utsman,wa ali rodliyallohu anhum 'ajma'in,al fatihah....
4.khushushon illa hadroti syekh abdul Qodir jailani,al fatihah...
5.alfatihah illa para wali songo,al fatihah....
6.khusushon illa 4 malaikat jibril,mikail,isrofil,izroil..al fatihah....
7.al fatihah kepada para kaum muslimin dan muslimat,para syuhada',guru guru
bathin,al fatihah.....,
8.kepada kedua orang tua,al fatihah....
9.kepada hamba Allah para penjaga ayat 15,alfatihah...
10.kepada ruh jasadku,lahir bathinku..(sebut nama anda binti ibu),al fatihah....
11.wa 'alaa niyyati....(sebutkan tujuan anda),alfatihah....

Setelah selesai kemudian baca:


Al-ikhlas 3x,Alfalaaq 1x,Annaas 1x,Inilah ayat 15 :
Bismillahir rohmaanir rohiim.
1.Aliif Laam Miim,Allohu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum.
2.Qoo-iman bil qisthi dzaalikumulloohu fa'anna tu'fakuun.
3.Walau anna qur-aanan suyyirot bihil jibaalu au quth-thi'at bihil ardlu au kullima
bihil mautaa balillahil amru jaami'aa,
4.Innama amruhu idza arooda syai-an ay yaquula lahu kun fayakun,
5.Alhamdulillahi robbil 'alamiin,
6.Bal hum fi labsim min kholqin jadiid,
7.Wahuwa ma'akum ainamaa kuntum walloohu bima ta'maluuna bashiir,
8.Innalloha qowiyyun 'aziiz,Allahu laa illaha illaa huwa wa 'alalloohi fal
yatawakkalil mu'minuun,
9.Wamay yatawakal 'alalloohi fahuwa hasbuh,innallooha balighu amrihi qod
ja'alalloohu likulli syai-in qodroo,
10.Wa ahaatho bimaa ladaihim wa ahshoo kulla syai-in 'adadaa,
11.Robbul masyriqi wal maghribi laa ilaaha laa ilaaha illa huwa fattakhidz-hu
wakiilaa,
12.Laa yatakal lamuuna illa maa adzina lahur rohmaanu wa qoola showaaba,
13.Min ayyi syai-in kholaqohuu min nuthfatin kholaqohuu faqoddaroh,
14.Dzi quwwatin 'inda dzil 'arsyi makiin,
15.Wallohu miw waroo ihim muhith bal huwa qur'anuum majiid fii lauhim
mahfuuzh.
Membaca ayat lima belas dengan seizin Allah SWT dapat berfaedah memenuhi
kebutuhan hidup, menyembuhkan orang sakit atau keracunan, serta memberikan
keselamatan dan keamanan.

Dalam kitab catatan peninggalan para leluhur ada diterangkan tentang keampuhan
gaib yang tinggi pada ayat lima belas secara lengkap.

Antara lain:

Ayat ke 1: Mendapat ampunan dosa.

“Alif laamim, allahu laa ilaaha illallah huwal hayyul qoyyum“

Apabila ayat tsb dibacakan kepada orang yang sakit secara terus menerus maka mempunyai
keutamaan bahwa orang yang sakit itu akan mendapat ampunan dosa dari Allah SWT.

Ayat ke 2: Segera Hasil Hajat

“Qaaiman bilqisthi dzaalikumullaahu fa-annaa tukfakuuna“

Apabila ayat tsb dibaca terus menerus pada malam hari, maka mempunyai keajaiban, bahwa
orang yang mempunyai hajat dan belum berhasil maka Allah akan cepat menghasilkan hajatnya
orang yang membacanya.
Ayat ke 3: Pengasih semua orang

“Walau anna Qur’aanan suyyirot bihil jibaalu auquththi-at bihil ardhu au kullima bihil
mauta balillaahil amru jamii-an”

Apabila ingin dicintai oleh semua orang baik laki laki maupun perempuan atau lawan berganti
menjadi kawan, maka ayat ke 3 mempunyai daya keampuhan yang tinggi untuk itu bila dibaca
7x (tujuh kali) lalu sebutlah nama orang yang dimaksud, insya allah akan berhasil.

Ayat ke 4: memberi pelajaran pada orang zalim

“Innamaa amruhuu idzaa araada syai an an yaquula lahuu kun fayakuun”

Apabila ayat tersebut ditulis dikertas kemudian ditulis juga nama orang yang zalim, maka
mempunyai keanehan setelah tulisan tersebut ditulis lalu ditindih dengan batu maka orang zalim
yang dimaksud akan mengalami sakit. Tapi perlu di ingat bahwa perbuatan yang demikian
adalah dosa besar sehingga allah akan melaknat ummatnya yang berbuat aniaya dan menyenangi
umatnya yang pemaaf.Tangan mencincang bahu memikul, barang siapa berbuat keburukan akan
mendapat buah keburukan. Nauzubillah!!!

Ayat ke 5: Untuk menunaikan segala hajat

“Alhamdulillaahi rabbil aalamiin”

mempergunakannya dengan cara dibaca sebanyak 7x sambil menahan nafas, lalu sampaikan
hajatnya.
Ayat ke 6: Menawarkan Racun

“Balhum fii labsiin min khalqin jadiidin”

Bacalah ayat ke 6 sebanyak 7x pada 7 butir beras atau gandum dalam bejana mangkuk putih
porselin yang sudah dituangi air. Lalu airnya minumkan dan beras atau gandumnya dimakan oleh
orang yang terkena racun, dengan izin Allah racun akan akan tawar dengan cepat.

Ayat ke 7: Juga menawarkan racun

“Wahuwa ma-akum ainamaa kuntum wallaahu bimaa ta’maluuna bashiir”

Bacakan pada air kelapa hijau sebanyak 3x lalu diminumkan airnya pada orang yang terkena
racun, insya aalh seketika racunnya akan tawar dengan qudrat irodat allah.

Ayat ke 8: Untuk terhindar dari marabahaya dan ampunan dosa

“Innallaaha qawiyyun aziizun. Allaahu laa ilaaha illaa huwa wa alallaahi fal yatawakkalil
mu’minun”

Dibaca dengan penuh keikhlasan dalam keadaan berwudlu (tidak berhadas) maka akan diampuni
oleh allah dosanya. Dan jika dibaca ketika akan tidur maka selama tidur akan dilindungi allah
dari segala marabahaya kebakaran, maling, pembunuhan, bencana alam dsb, insya allah.

Ayat ke 9: Untuk Keselamatan dari Penyakit Menular


“Wamayyatawakkal alallaahi fahuwa hasbuhuu innallaaha balighu amrihi qad ja-
alallaahu likulli syai-in qadraan”

Apabila dibaca akan menjadi tangkal yang ampuh dan jika ayatnya ditulis pada kulit kijang atau
harimau kemudian dimasukkan dalam potongan bambu atau tabung lalu ditutup dan ditanam
pada tengah kampung, desa atau kotamaka seluruh penduduk akan selamat dari penyakit
menular. Metode ritual ini mungkin saja jawaban atau dapat juga dijadikan alternatif ditengah
hingar bingarnya wabah penyakit menular yang disebabkan virus virus berbahaya yang belum
diketahui identitasnya bahkan virus virus berbahaya yang sudah diketahui identitasnya seperti
Flu burung,flu babi flu flu lainnya.makanya peninggalan leluhur itu sangat banyak sekali yang
harus kita gali dan lestarikan sepanjang sejarah.

Ayat ke 10: untuk hajat duniawi dan ukhrowi cepat terkabul

“Wa ahaatho bimaa ladaihim wa ahshaa kulla syai-in ‘adadan”

Bila dibaca ayat ke 10 ini secara kontiniu maka hajat duniawi dan ukhrowi insya allah segera
terlaksana…amiin.

Ayat ke 11: Untuk meredakan orang yang mengamuk/emosi

“Robbul masyriqi wal maghribi laa ilaaha illaa huwa fatta khidzhu wakiila”

Dibaca pada 7 butir padi kemudian dibawa menghadapi orng yang sedang marah atau
mengamuk maka kemarahan dan kebencianya akan reda dengan sendirinya berkat izin Allah
SWT.

Ayat ke 12: Untuk hajat agar cepat tercapai


“Laa yatakallaamuuna illa man adzina lahu rrahmaanu waqaala shawaaban”

bagi siapa yang mengamalkan ayat ini maka segala hajatnya akan cepat ditunaikan oleh Alah
SWT, amiin

Ayat ke 13: Untuk melumpuhkan perampok dan pembegal

“Min ayyi syai in khalaqahuu min nuthfatin khalaqahuu faqaddarahuu”

Dari zaman dahulu hingga sekarang perampokan dan pembunuhan terus saja terjadi dimana
mana, bukan saja ditempat tempat yang sepi namun juga ditempat keramaian. nah! ayat yang ke
13 dari 15 ayat ini jawabannya. Apabila suatu waktu anda dihadang oleh perampok tidak
bersenjata maupun bersenjata maka janganlah bingung atau berputus asa. caranya serahkan diri
pada allah sehingga kita akan timbul keberanian sebab sebelum ajal berpantang mati. kemudian
ambilllah debu secepatnya kemudian ayat ke 13 sebanyak 7 x ulang lau tebarkan ke sekeliling.
Insya allah dengan kekuasaan allah seketika para pembegal akan kebingungan saling bentrok
antara teman sehingga tidak berdaya.

Ayat ke 14: Melemahkan penguasa jahat dan kejam

“Inda dzil arsyil makiini”

Seorang raja, presiden atau para pejabat pemerintah juga penguasa hukum dan penegak hukum
selalu kita temukan arogan dan menyombongkan diri atas kekuasaan yang diembannya atau
wewenang yang dimilikinya, penyalahgunaan wewenang selalu saja kita temui ketika
berhadapan dengan mereka. tanpa mereka sadar atau dalam keadaan sadar menganggap bahwa
kekuasaan atau jabatan yang diembannya itu kekal tiada berujung..nau’uzubillah!!! jika anda
mengalami seperti ini sebagai antisipasi ayat 14 ini
jawabannya. caranya: Bacalah 7x
sambil menahan nafas ketika berhadapan dengan penguasa lalim kemudian hembuskan pada
penguasa tersebut sambil mohon dalam hati agar dilindungi allah dari kejahatannya dan
dimudahkan segala urusan dengannya.
Ayat ke 15: untuk membuka gembok atau tali ikatan

“Wallaahu min waraa ihim muhithun bal huwa qur aanun majidun fii lauu hin mah
fudhin”

Meski tidak diterima nalar namun semua kekuasaan allah nyata di alam ini. semua yang mustahil
dijawab oleh allah denagn adanya ciptaannya di alam ini. sesunguhnya manusia tidak memiliki
kekuatan selain kekuatan yang diamanahkan allah pada kita sebagai sifat NYA. jadi, janganlah
menyombongkan diri dan menganiaya pada sesama. kemudian taatlah pada hukum allah. ayat
yang ke 15 ini sungguh luar biasa dan nyata, barang siapa kehilangan kunci sehingga gemboknya
tidak bisa dibuka maka dengan sarana membaca ayat ke 15 sebanyak 21x kemudian hembuskan
pada gembok tersebut maka seketika gembok itu akan terbuka dengan izin allah. dengan cara
yang sama dapat juga membuka ikatan tali atau rantai. Namun jangan coba coba disalahgunakan
sebagai sarana membuka gembok untuk mencuri/mengambil milki orang lain tanpa izin, sebab
tuah keampuhannya tidak akan berfungsi.

Untuk mengamalkannya agar datang tuahnya ada berbagai cara menurut mursid masing-masing,
diantaranya sebagai beriku. Terlebih dahulu kita diharuskan mandi junub untuk membuang hadas
besar dari tubuh sehingga dalam melaksanakan pengamalannya bersih lahir. Apapun yang kita
kerjakan dalam melakukan kebaikan harusnyalah bersuci dahulu.Mandi ini dilakukan selama
seminggu setiap siang hari dan yang baik itu pada waktu sore/petang.

Setelah sholat maghrib maka sholatlah 2 rakaat dengan sholat taubat dilanjutkan sholat 2 rekaat
dengan sholat hajat.

Khusus sholat hajat ini setelah membaca fatihah pada rekaat 1 maka membaca surat Al-Ikhlas
60x, seterusnya setelah baca fatihah pada rekaat ke 2 maka baca surat Al-Ikhlas sebanyak 40x.

Setelah salam kedua maka duduk bersila menghadap kiblat sambil mengamalkan berikut ini:

-”Astaghfiroulloohal azhim” 41x,


-”Ashadu allaa ilaha ilallah Wa ashadu anna muhammaddarrosululloh”, 17x
-”Allaahumma sholli ala muhammad 100x,
- “Bismillaahirrohmaanirrohim” 21x
-Laa haulaa walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim 1x.

Baca Tawasul:

1. Illa hadrotin nabiyyil musthofa Muhammad rosulillahi SAW, wa ala alihi washohbihi ajmain
arba’ati a-immatil mujtahidin al khulafa urrosyidiin saadatinah abi bakrin,wa umaaro,wa
utsman,wa ali rodliyallohu anhum ‘ajma’in, wali kaaffati ambiya iwal mursalin walil malaa ikati
mukorrobin jibril mikail isrofil izrail,kiromil faatihah……(baca fatihah 1x),
2. Alfaatihah allannabi khidir balya’ ibnu mulkan as wa ilyas alaihi salam wannabi sulaiman
ibnu daud as, bismillaahirrohmanirrohim alhamd…dst.
3. Khushushon illa hadroti Kutubul aulia syekhuna abdul Qodir zailani baghdad fatihah…
5. Sengaja hamba berfatihah kepada wali-wali allah wali sembilan dan kepada ruhulloh tentranya
sirulloh Bismillaahirrohmaanirrim alhamdulillah…dst.
6. Tsumma li arwahi aba ina wa ummina wali ustajuna wali mu allimina Al-faatihah
9. Tsumma husushon ala hajihinniyah alfaatihah

Setelah selesai kemudian baca:

Ayat 15 sebanyak 150x sekali duduk setiap malam selama 7 hari.


Lebih baik ketika mengamalkan ayat ini di barengi puasa setiap hari seperti bulan ramadhan
dengan berbuka tidak boleh makan yang bernyawa dan garam selama 7 hari. Hri terakhir
malamnya tidak boleh tidur dan bukanya kenduri dengan selametan ayam putih di ingkung dan
nasi gurih/nasi lemak.
Selesai puasa setiap bakda solat 5 waktu ayat 15 dibaca 7x. dan setiap bait kalimat dipergunakan
sesuai dengan keperluannya. wallahu a’lam.

Ayat lima ialah ayat-ayat yang diambil dari lima surah dalam Al-Quran:

Ayat pertama: Surah Al-Baqarah ayat 246.

Ayat kedua : Surah Ali-Imran ayat 181

Ayat ketiga: Surah An-Nisaa ayat 77.

Ayat keempat: Surah Al-Maidah ayat 27.

Ayat kelima : Surah Ar-Rad ayat 16.

Setiap satu dari lima ayat itu terdapat sepuluh huruf QAF (kaf besar), sebab itulah ayat
lima ini boleh juga disebut dengan Ayat Lima Puluh QAF.

Ibnu Mas’ud r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w selalu membaca ayat lima ini
baik beliau sedang berada dalam negeri atau sedang dalam perjalanan dalam peperangan.
Dalam peperangan beliau selalu dapat mengalahkan orang-orang kafir dan orang-orang
munafik dan selalu mendapat pertolongan ALLAH S.W.T.

Sayyidah Aisyah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w menerangkan bahawa bila
ayat lima ditulis di dalam bejana, kemudian diisi air dan airnya diminum pada hari
jumaat, maka ALLAH akan menyembuhkan penyakitnya kemudian diisi hatinya dengan
nur hidayah, keyakinan dan kasih sayang.
Bila selalu dibaca oleh seorang pemimpin, maka akan ditetapkan hatinya oleh ALLAH
S.W.T dan diberi pengaruh serta kekuatan, dan patuh kepadanya semua orang-orang
yang dipimpinnya.

Jika ditulis dan digantungkan pada hujung senjata untuk menghadapi musuh dalam
pertempuran, maka ALLAH akan memecah-belahkan kekuatan musuh.

Jika menghadap raja yang kejam, ia akan terpelihara dari kekejamannya dan tipu
dayanya. Ayat lima adalah dinding dari kejahatan manusia dan jin serta syaitan.

Salman Al-Farsi r.a berkata: Rasulullah s.a.w mengajarkan kepadaku ayat lima kemudian
beliau berkata: siapa yang membaca dan mengamalkannya, ALLAH S.W.T akan
melanjutkan usianya dan mengampuni dosanya dan mudah tercapai apa yang
dikehendaki. (keterangan ini diambil dari Tafsir Al-Arais)

ILMU HIZIB

with one comment

Dalam tradisi arab, kata Hizib semula ditandai untuk merujuk sesuatu yang “berduyun-duyun”
dan “berkelompok”. Itulah makanya ada kata “Hizbullah”, artinya “sekumpulan” bala tentara
yang berjuang atas nama Allah. Tetapi kata Hizbullah sendiri kadang juga digunakan untuk
menyebut para malaikat.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum
musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan
yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah)

Kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau
“mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung)

Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thoriqot atau yang
berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya
hizib yang dibaca hari jum’at ; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari
jum’at.

Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada
hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, yang masing-masing memiliki
sejarah sendiri-sendiri.

Asy Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian
doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib
beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahri dan hizib Nashor. Kedua
hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama
besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh.

Hizib Bahri yang artinya hizib yang di terima asy syaikh Abul Hasan asy Syadzili langsung dari
Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri
adalah sebagai berikut :

Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke
tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi
lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani.
Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan
laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti
itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada
suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu,
Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada asy
syaikh.

Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian
beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya.
Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk
menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh.
Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan
perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan
memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun
akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk
islam.

Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi.
Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan
bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung.

Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang
pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang
diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut
Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini
dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh
Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar.

Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar
Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.

Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang
mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau
tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari
maksud jelek orang dan seterusnya.
Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari
segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan
melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang
yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus
melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya.

Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang
keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata
Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak
ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-
Harawi.

Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir
hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka,
maksudnya para murid thoriqot syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahri. Namun untuk
mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melalui talqin atau ijazah dari seorang guru yang
memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak
berhak mengajarkannya ataupun memberikan hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan
adabiyah atau etika dilingkungan dunia thoriqot.

Dalam Thoriqot Syadziliyah Peta Tulungagung, setiap mengamalkan aurod, wirid maupun hizib
selalu diawali dengan niat dan kata “Lillahi ta’ala”, setiap murid tidak boleh bertanya apa
fadhilah maupun faedah dari wirid ataupun hizib tersebut, karena hal tersebut bisa mengurangi
atau menghilangkan keikhlasan. Bagi jamaah Syadziliyah Peta Tulungagung fungsi Hizib itu
sendiri adalah untuk meng-Hizib dirinya sendiri, untuk merontokkan hawa nafsunya, sehingga
bisa wushul kepada Allah. Itulah Tujuan utama orang berthoriqot, karena kalau tujuannya bukan
untuk Allah (bukan Lillahi ta’ala) maka itu akan menjadi Hijab antara dirinya dengan Allah,
bukan semakin dekat malah semakin jauh dari Allah SWT, naudzubillahi mindhalik.

Sumber :
1. Sang Quthub Agung, manaqib Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili, Penerbit PETA,
Tulungagung.
2. www.sidogiri.com
3. Sastra Hizib, penerbit LKIS.

macam-macam Hizib

1.hizib abu bakar sakron

Untuk obat dan menangkal sihir dan kejahatan manusia.selain itu juga untuk pagar gaib
rumah,kantor,atau lahan pertanian/kebun. Dan yang ana ketahui hizib abu bakar sakron /hizin
sakron salah satu fadhilahnya
kalo dibaca dan diamalkan dengan tartil ( bacaan harus benar ) yakin tentunya biasanya jin atau
makhluk halus yang mau mendekat akan terbakar karena bersifat panas…..jangan kan mau
mendekat melihat pengamal hizib ini mereka langsung menghindar… begitu yg ana ketahui
selain itu jangan dibaca berlebihan…..panas ditubuh : seperti kata alm.guru kami guru sekumpul
martapura
kata seorang Habib ditempat kami dia pernah mencoba mengamalkan untuk coba coba apa benar
kalo diamalkan berlebihan mengandung hawa panas…ternyata setelah 7 hari diamalkan memang
badan terasa sangat panas…dan untuk menetralisirnya beliau baca sholawat 10000 kali masih
terasa hwa panasnya subhanallh…tpi ana belum pernah coba karena belum dikasih
ijazah…wallahu alam bisshowab

2.hizib al barri

Hizib ini menjadi amalan tarekat asy-sadziliyah berfungsi mendapatkan keistimewaan yang
diperoleh perangkumnya,imam asy-syadzily dan untuk keselamatan dari segala marabahaya

3.hizib ‘aly

Untuk keselamatan,kesaktian,keberanian,melumpuhkan lawan dan menangkal berbagai serangn


sihir.

4.hizib andarun

Untuk keselamatan.jika sedang bermusuhan (berada di pihak yang benar),lawan tidak akan
mampu bergerak ,melihat ,mendengar dan berbicara.

5.hizib autad

Untuk memudahkan terkabulnya cita – cita ,menambah kharisma dan wibawa ,serta
memudahkan rezeki dan terjaga dari segala bahaya yang nyata maupun halus

6.hizib badawi rifa’i

Untuk keselamatan dari jin ,setan,dan manusia,serta menjadi lawan lemah dan gemetar.

7.hizib bahri

Untuk meningkatkan kharisma,wibawa,membuat musuh meminta maaf,kebal


senjata,menundukkan jin dan setan,serta keberuntungan usaha dan selamat dari bencana dan sihir
. bagi yg berminat untuk mengetahui lebih lanjut tentang Hizib Bahri (Imam As Sazali), sila
dapatkan Kitab karangan Allayarham Tok Wan Ali Kutan, seorang Ulama dari negeri
Kelantan,(yg hidup nya dulu lagi dari Tok Kenali) yang meninggal diTanah Arab kalau tak silap
saya di Thaif yg banyak mengarang kitab2 Agama salah satu nya kitab LamAutul Aurad, disitu
diterangkan cara terperinci kaedah2 dan cara2 mengamalkan nya akan HizibBahri

8.hizib barqi

Untuk melemahkan mental lawan,mental menutup pandangan dan pendengaran


lawan,menghancurkan benda keras,serta disegani kawan maupun lawan.selain itu juga
meningkatkan kharisma dan agar selamat dari segala bahaya.hizib ini sering digunakan untuk
memukul balik serangan para pelaku sihir/santet

9.hizib bayyumi

Untuk meramaikan majelis(banyak murid),serta agar selamat dari kejahatan manusia.selain itu
agar aman dari segala bentuk sihir,serta untuk meningkatkan derajat dan cita – cita

10.hizib bukhori

Agar istikomah dalam ibadah ,selamat dari fitnah,membingungkan orang zalim agar tipu
dayanya gagal,serta menangkal dan mengembalikan guna-guna dan sihir.kadang – kadang juga
di maksudkan agar rumah musuh disambar petir.

11.hizib difa’

Jika dibacakan 41 kali di suatu lokasi,bisa membuat jin dan setan kabur dari lokasi tersebut.

12.hizib ikhfa

Hizib rangkuman imam abi hasan asy-sadzili ini untuk menjaga dari ancaman fisik,
meningkatkan keberanian dan merusak orang zalim.

13.hizb ja’far shadiq

Untuk menjaga dari kejahatan orang lain,terutama pengamanan


lokasi(rumah,kantor,pabrik,kebon),baik secara lahir maupun batin.

14.hizib jabalakah

Untuk menanggulangi musuh,kuat jasmani,mengamankan lokasi,serta selamat dari senjata tajam


dan untuk melumpuhkan musuh.

15.hizib jailani

Untuk kesaktian menaikkan derajat,sehat jasmani, dan ketentetaman berkeluarga untuk


persahabatan (majelis)agar damai dan bersatu,dicintai masyarakat,terpelihara dari kefakiran,serta
dijauhkan dari sihir dan hal-hal yang bersifat samar(halus).dimudahkan cita-cita dan usaha
diberkati.

16.hizib jalalah

Agar seorang hamba selalu dikasih tuhan dan sesama manusia.selain itu agar ucapan
manjur,diberi/dijaga kewibawaan,serta agar selamat dari senjata tajam. salah satunya pada
tataran tertinggi berfungsi ky “sabdo dadi” atau “sauciduh metu seucap nyata”
17.hizib kasri

Hizib ini karakter nya keras dan memiliki 9 fungsi,yakni merusak orang jahat agar kejahatan nya
berhenti,membuat persatuan musuh porak poranda,mengembalikan serangn lawan hingga
menghantam dirinya sendiri,menangkis senjata musuh,mendatangkan ajal bagi pihak yang
memusuhi,mengiri suara yang dapat menggentarkan lawan,serta merusak rumah tangga musuh.

18.hizib lathif

Seseorang yang didzalimi lalu membaca hizib ini 41 kali pada sore hari,maka orang yang dzalim
justru dihantam niat jahatnya sendiri hingga jiwanya tergoncang.semua terjadi atas keadilan
tuhan sesuai kadar kedzaliman yang dilakukannya

19.hizib lidaf’i silah


Untuk membakitkan kesaktian;tenaga dalam;menolak serangan lawan;menutup
pendengaran;penglihatan dan mulut lawan;seta mengamankan pekarangan dan menambah
kekuatan lahir-batin

20.hizib mighnatis

Untuk ketabahan mental,kesaktian jasmani, dan selamat dari niat-niat jahat.jika dibaca sekali di
hadapan musuh,musuh bisa mengalami kelumpuhan.

21.hizib nashor

Untuk menjaga dari fitnah dan segala bentuk kedzaliman,serta agar kebal pukulan dan senjata
tajam.bisa pula untuk menyembuhkan sakit jiwa(kemasukan jin) dan ayan,serta menetralkan
lokasi angker.

22.hizib nawawy

Hizib ini setara dengn hizib nashor.fungsinya dari sihir,penganiayaan


fisik,pencurian/perampokan,kebakaran,serta selamat dalam berlalu lintas dan melemahkan
kesaktian orang dzalim

23.hizib silah

Jika dibaca dalam jumlah tertentu di tepi sungai lalu ditujukan kepada orang dzalim,keinginan
terhadap orang zalim tersebut bisa terjadi.

24.hizib yamani

Hizib yamani berfungsi menangkal berbagai jenis sihirbdan bahaya yang bersifat fisik
Dan masih banyak lg hizib yang lain untuk keperluan seperti, pengobatan,ketentraman
hati,keharmonisan kelurga ,kharisma,rezeki,ilmu,penunjang ibadah,atau kekuatan yang lebih
defensif seperti selamat dari kejahatan fisik dan supranatural.

HIZIB Alam Nasyroh

with 11 comments

Doa Hizib Alam Nasyroh

Ini adalah salah satu dari Doa dari Surat Alam Nasyroh……
Gunanya untuk memperlancar rizki dan memudahkan penghidupan dan pangkat.
Tata caranya : Dengan membaca surat alam nasyrah 10 kali setiap selesai solat subuh lalu
dilanjutkan dengan membaca doanya dibawah ini 1 kali saja…” Bismillaahirrohmaanirrahiim..
allaahumma innii as-aluka…dst….
Hizib sakran

Berikut adalah Wirid SAkran yang merupakan salah satu wirid khas yang diamalkan di tariqa
alawiyyin beserta manakib sohibul wirid dari Syeh Abu Bakar Assakran
MANAKIB AL IMAM AS-SAKRAN

Beliau adalah Sayyidinal Imam Abu Bakar As-Sakran bin Syeikh al Ghauts Abdurrahman As-
Seggaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghoyur bin Al-Imam Al-Faqih Al-
Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi
bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad
An-Naqib bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal
Abidin bin Husain bin Siti Fatimah Az-Zahro binti Muhammad SAW )
Beliau digelari dengan As-Sakran (mabuk) , karena beliau mabuk dengan cintanya kepada Allah
swt.
Waliyullah Abu Bakar al-sakran dikarunia lima orang anak laki, yaitu: Muhammad al-akbar,
Hasan, Abdullah, Ali, dan Ahmad. Dari ketiga anaknya yang bernama Abdullah, Ali dan Ahmad
menurunkan keluarga al-Aydrus, Syahabuddin, al-Masyhur, al-Hadi, al-Wahath, al-Munawar.

Beliau adalah seorang wali Allah yang mempunyai berbagai macam karamah yang luar biasa.
Beliau berasal dari keturunan Al-Ba’alawi. Sebahagian dari karamahnya pernah diceritakan
bahawasanya pernah ada dua orang yang datang ke kota Tarim (Hadhramaut) dengan maksud
mengunjungi setiap orang terkemuka dari keluarga Al-Ba’alawi yang berada di kota tersebut.
Setibanya di suatu masjid jami’ keduanya dapati Syeikh Abu Bakar sedang bersolat di masjid
tersebut. Setelah solat Jumaat selesai keduanya menunggu keluarnya Syeikh Abu Bakar dari
masjid. Namun beliau tetap duduk beribadat dalam masjid sampai hampir matahari terbenam.
Kedua orang itu merasa lapar, tapi keduanya tidak berani beranjak dari masjid sebelum bertemu
dengan Syeikh Abu Bakar.
Tidak lama kemudian, Syeikh Abu Bakar Asseggaf menoleh kepada mereka berdua sambil
berkata: “Ambillah apa yang ada dalam baju ini”.
Keduanya mendapati dalam baju Syeikh itu sepotong roti panas. Roti tersebut cukup
mengenyangkan perut kedua orang tersebut. Bahkan masih ada sisanya. Kemudian sisa roti itu
barulah dimakan oleh Syeikh Abu Bakar”.

Ada seorang diceritakan telah meminang seorang gadis. Syeikh Abu Bakar ketika mendengar
berita tersebut telah memberikan komentarnya: “Pemuda itu tidak akan mengahwini gadis itu, ia
akan kahwin dengan ibu gadis tersebut”.
Apa yang diceritakan oleh Syeikh Abu Bakar ersebut ternyata benar, kerana tidak lama
kemudian ibu gadis itu diceraikan oleh suaminya. Kemudian pemuda itu membatalkan niatuntuk
mengahwini gadis tersebut. Bahkan sebagai gantinya ia meminang ibu gadis tersebut.

Diceritakan pula bahwa ada serombongan tetamu yang berkunjung di Kota Tarim tempat
kediaman Syeikh Abu Bakar Asseggaf. Tetamu itu tergerak di hatinya masing-masing ingin
makan bubur gandum dan daging. Tepat waktu rombongan tetamu itu masuk ke rumah Syeikh
Abu Bakar, beliau segera menjamu bubur gandum yang dimasak dengan daging.
Kemudian sebahagian dari rombongan tersebut ada yang berkata: “Kami ingin minum air hujan”
Syeikh Abu Bakar berkata kepada pembantunya: “Ambillah bejana itu dan penuhilah dengan air
yang ada di mata air keluarga Bahsin”.
Pelayan itu segera keluar membawa bejana untuk mengambil air yang dimaksud oleh
saudagarnya. Ternyata air yang diambil ari mata air keluarga Bahsin itu rasanya tawar seperti air
hujan.

Pernah diceritakan bahawasanya ada seorang Qadhi dari keluarga Baya’qub yang mengumpat
Syeikh Abu Bakar Asseggaf. Ketika Syeikh Abu Bakar mendengar umpatan itu, beliau hanya
berkata: “Insya-Allah Qadhi Baya’qub itu akan buta kedua matanya dan rumahnya akan
dirampas jika ia telah meninggal dunia”.
Apa yang dikatakan oleh Syeikh Abu Bakar tersebut terlaksana sama seperti yang dikatakan.
Ada seorang penguasa yang merampas harta kekayaan seorang pelayan dari keluarga Bani
Syawiah. Pelayan itu minta tolong kepada Syeikh Abu Bakar Asseggaf. Pada keesokkan harinya
penguasa tersebut tiba-tiba datang kepada pelayan itu dengan mengembalikan semua harta
kekayaannya yang dirampas dan dia pun meminta maaf atas segala kesalahannya.
Penguasa itu bercerita: “Alu telah didatangi oleh seorang yang sifatnya demikian, demikian,
sambil mengancamku jika aku tidak mengembalikan barangmu yang kurampas ini”.
Segala sifat yang disebutkan oleh penguasa tersebut sama seperti yang terdapat pada diri Syeikh
Abu Bakar.

Diceritakan pula oleh sebagian kawannya bahawasanya pernah ada seorang ketika dalam suatu
perjalanan di padang pasir bersama keluarganya tiba-tiba ia merasa haus tidak mendapatkan air.
Sampai hampir mati rasanya mencari air untuk diminum. Akhirnya ia teringat pada Syeikh Abu
Bakar Asseggaf dan menyebut namanya minta pertolongan.
Waktu orang itu tertidur ia bermimpi melihat seorang penunggang kuda berkata padanya: “Telah
kami dengar permintaan tolongmu, apakah kamu mengira kami akan mengabaikan kamu?”
Waktu orang itu terbangun dari tidurnya, ia dapati ada seorang Badwi sedang membawa tempat
air berdiri di depannya. Badwi itu memberinya minum sampai puas dan menunjukkannya jalan
keluar hingga dapat selamat sampai ke tempat tujuan.
Waliyullah Abu bakar al-sakran wafat di Tarim tahun 821 Hijriyah.

Hijib kofi

ILMU ASROR

Ilmu asror di sebut juga ilmu hadiran atau amatan adalah ilmu untuk mengontak jurus-jurus
beladiri seperti jurus silat, karate, taekwondo, kungfu dll. Ilmu hadiran ini kalo di tanah sunda
biasa di sebut nyambat.di pesantren-pesantren di sebut asror , ada juga yg menyebutnya silat
gaib. biasa ilmu nya di sebut pamacan, pamonyet dsb nya, untuk dapatkan ilmu ini kadang2
cukup minum segelas air yang sudah di “bacain” oleh sang guru, atau di setroom , tapi
kelemahan ilmu ini (yg saya ketahui) anda tidak sadar. dan mudah cepat emosi . pada tingkat
pemula, ilmu ini akan muncul dgn sendiri kalo seandainya anda dalam keadaan emosi…, dan
ketika di keroyok. mengenai kekuatannya ilmu asror ini sangatlah dahsyat , pintu jati saja bisa
tersayat karena cakaran kuku seorang yang sudah kemasukan ilmu pamacan, dia dapat melompat
kesana-kemari dengan ringan seperti pamonyet..dsb . ada juga yg disebut gerak bathin, biasanya
banyak dipakai pada perguruan hikmah untuk silat batin, untuk yang satu ini ada yang
menggunakan do’a pembangkit..maupun dengan olah nafas terutama pada daerah dada.

ILMU HADIRAN atau ILMU NYAMBAT ada 2 jenis :


1. Ilmu Hadiran yang tidak sadar
2. Ilmu Hadiran yang sadar.

> Ilmu Hadiran Yang tidak Sadar


Biasanya ada tehnik pengisian kepada orang yang ingin bisa Ilmu tersebut, jadinya tubuh atau
badannya di isi semacam “CHIP”atau SETROOM istilah kerennye, buat manggil khodam Ilmu
yang akan disambat, Chip ini macem2 ada yang hanya berupa do’a, mantera, atau rajah yang
dimasukan kebadan bahkan ada juga jenis2 dari suatu kemenyan yang ditelan oleh seseorang.
Setelah di isi sang penerima dapat langsung mempraktekan ilmu ini tapi ketika datang khodam
Ilmu tsb kondisi dia tidak sadar (trance). tapi gerakan dan kecepatan dlm menerima “bimbingan”
gerakan bergantung dari bersihnya isi hati dan niat dari individu masing2…biasanya salah satu
murid yg sudah ahli dlm silat akan ditransfer khodam asmak,setelah gerakannya cepat,khodam
asmak santri yg ahli tsb diambil dan dimasukkan ke dlm tubuh santri yg blm menguasai atau
masih belajar…

> Ilmu Hadiran Yang Sadar


Ilmu Hadiran berdasarkan Olah Laku seseorang ( puasa dll ). Ilmu Hadiran ini seseorang pelaku
tetap sadar tapi gerakan badan dapat terjadi sesuai dengan yang dia inginkan inilah yang disebut
ILMU GERAK RASA CIPTA RASA.
Ilmu Gerak Rasa Cipta Rasa yang sudah tinggi dapat mendatangkan jurus orang atau lawan
tanding kita.
Misalnya : Lawan kita pakai jurus / permainan PAMACAN atau CIMANDE maka pemilik ilmu
tersebut hanya mohon seperti ini, (contoh) :
“YA ALLAH YA TUHANKU AKU MOHON BERILAH AKU GERAKAN SILAT
LAWANKU INI LEBIH SEMPURNA DARI DIA” ATAU ” YA ALLAH YA TUHANKU
AKU MOHON GERAKAN SILAT ORANG YANG PERTAMA MENCIPTAKAN ILMU
SILAT INI ( mis : pamacan, pamonyet, jurus ular, cimande, cikalong, dll).
Ilmu Gerak Rasa Cipta Rasa biasanya banyak dimiliki oleh guru2 besar perguruan silat.,Karena
kalau disalah gunakan dapat berbahaya. contoh: hanya dengan memperhatikan gerakan / jurus
lawan, maka dia dapat menirukan gerakan / jurus orang tsb lebih sempurna. Minta ilmu si pitung
bisa, minta ilmu si Jampang bisa, minta ilmu Gajah Mada, ilmu bruce lee juga bisa.

pamacan itu ada 2 bagian


1. pamacan astol / asror ( pamacan yang tidak sadarkan diri)
nah kalo mau nyadarin biasanya suka langsung dimandiin sama mpunya
2. pamacan yang sadar biasanya, amatan atau pamacan yang kerasukan tapi dia masih sadar diri (
sadar ingatan dan dapat dikendalikan oleh diri sendiri) cara menutupnya dengan mengucapkan
alhamdulillah atau wasalam.
Doa hijib bismilalh
HIZIB MAGHROBI

with 2 comments

Hizib Maghrobi adalah salah satu ilmu batin yang cukup terkenal didunia spiritual. Ilmu langka
yang kepopulerannya setara dengan Asma’ Sunge Rajeh, Asma’ Suryani, Asma’ Kaf 40 dan
ilmu-ilmu langka lainnya. Disebut langka karena ilmu ini tidak sembarang orang memilikinya.
Bukan karena ritual untuk mendapatkan ilmu ini, tetapi dikarenakan ilmu Hizib Maghrobi
menurut tradisi pantang untuk ditulis. Diturunkan turun temurun kepada anak cucu dan murid
pilihan secara lisan dan rahasia di malam Jumat Legi.
Maghribi adalah sebutan untuk negara-negara yang berada di deretan kawasan Afrika Utara.
Seperti Maroko, Aljazair, Tunisia. Dari sana terlahir banyak ulama ahli hadist, fiqih dan
pengarang kitab-kitab tasawuf dan ilmu hikmah. Seperti Maulana Muhammad Al Maghrobi,
seorang ulama anggota walisongo periode pertama, berasal dari Maghrib (Maroko) yang
berdakwah di tanah Jawa. Syekh Imam Muhammad Abdul Wahab At-Tazi Al-Maghribi, seorang
wali yang tinggal di Maroko yang merangkai Shalawat Nariyah. Dan mungkin masih banyak lagi
ilmu hikmah dan hizib yang diajarkan oleh ulama-ulama di Maghrib dan akhirnya memberi
nama keilmuannya dengan sebutan “Maghrobi”.
Pengertian “Hizib” adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an, untaian kalimat-kalimat
zikir dan Do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk
ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dari yang saya ketahui tentang versi Hizib Maghrobi tersebut, ternyata hanya beberapa saja yang
memenuhi pengertian sebagai Hizib. Yaitu untaian himpunan sejumlah ayat Al Quran dan doa.
Sedangkan yang lain, saya rasa lebih cocok disebut sebagai ASMA’ (setara Asma’ Sunge Rajeh,
Asma Suryani, Asma Kaf 40 dll). Dikarenakan rapalannya menggunakan bahasa yang tidak
umum dan sulit dimengerti artinya
Rapalan Inti Hizib Maghrobi diambil dari ayat-ayat Al Quran dan tambahan untaian doa.
Diambil dari Al-Quran Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Israa dan Surat Yasiin. Untuk mengamalkan
Hizib Maghrobi mudah, tidak wajib tirakat puasa dan semacamnya. Cukup di wirid setiap hari.

Kandungan dari Hizib Maghrobi ini sebagaimana halnya dengan hizib-hizib pada umumnya
adalah sebagai amalan untuk keselamatan mutlak bagi pemiliknya. Selamat dari segala
marabahaya, ancaman dan tipudaya musuh, menolak segala keburukan dan merugikan, meraih
segala kebaikan dalam hal apapun. Dan terakhir doa permohonan dalam tataran maqam SABDA
sehingga apapun yang dikehendaki bisa saja terjadi. Untuk yang terakhir ini harus ekstra hati-
hati. Tidak boleh sembarangan berucap.
Cara mudah untuk mengetahui sejatinya khasiat suatu ilmu adalah dengan melakukan ritual
sendiri. Jadi seorang guru hanya sebagai pemberi keilmuan dan ijasah. Tentu saja juga sebagai
pembimbing. Kemudian rasakan segala manfaat dan khasiatnya.

Jangan biarkan tubuh kita ditranfer (diisi) benda atau ilmu-ilmu yang tidak jelas oleh paranormal.
Akhirnya malah berefek buruk mempengaruhi badan lahir dan batin kita. Kelak akan
mempersulit kita mengenali diri sendiri dengan segala perangkat (saudara) didalamnya. Tubuh
ini bukan untuk wadah seperti itu. Tubuh ini adalah salah satu saudara kita yang harus senantiasa
kita rawat dan hormati keberadaannya. Bila kita mau menghargai jasad ini InsyaAllah nanti jalan
spiritual anda lebih terbuka lebar. Ini adalah pondasi untuk mengenali saudara gaib (Sedulur
Sejati) yang kelak akan membantu membimbing jalan spiritual kita menuju kesempurnaan
(sangkan paraning dumadi).

Intinya bila seseorang tekun mengamalkan Hizib Maghrobi, InsyaAllah akan berdayaguna antara
lain untuk :

1. Tolak segala kejahatan apapun jenisnya. Selamat lahir dan batin. Selamat dari ancaman orang
jahat, senjata tajam & tumpul, senjata api dan sihir.
2. Menumbuhkan aura kewibawaan yang besar dan tatapan mata yang tajam, penuh percaya diri
sehingga membuat siapa saja segan dan hormat. Cocok untuk pejabat dan atasan.
3. Menarik segala kebaikan dan menolak segala keburukan.
4. Siapapun yang berniat jahat, maka kejahatannya akan berbalik kepada dirinya.
5. Siapapun yang mencelakai dan menyakiti hati anda, hidupnya bisa hancur dan sial. Sebagai
contoh bila anda sekarang mengalami sakit karena dibuat (santet) orang, atau mengalami
kerugian dan kecelakaan karena kejahatan orang lain, maka coba amalkanlah Hizib Maghrobi.
Maka (jika Allah Swt menghendaki) cepat atau lambat orang yang mencelakai anda bisa hancur
hidupnya atau mati mendadak!
6. Hizib Maghrobi juga bermanfaat untuk memudahkan segala urusan dan meringankan segala
masalah hidup. Apapun itu jenis keperluan anda selama baik dan benar.
7. InsyaAllah, senantiasa diberi jalan keluar (solusi) terbaik dari segala persoalan hidup.
8. Mewujudkan segala keinginan dengan “kekuatan Sabda Jadi”.
9. Semua khasiat tersebut bisa terjadi semata-mata bila ada ijin dari Allah SWT, disertai dengan
KUNCI tatacara yang benar sesuai dengan pakem keilmuan Hizib Maghrobi.

Dalam tahap penguasaan akhir Hizib Maghrobi seseorang sangat dituntut kematangan jiwa dan
kebijaksanaannya. Untuk tidak sembarang berucap, bersumpah serapah terhadap orang lain.
Maka Hizib Maghrobi hanya layak bagi anda yang sudah memiliki mental stabil sehingga
mampu menjaga hati dan lisan.

Demikian sekilas tentang Hizib Maghrobi. Melalui blog ini saya tularkan Hizib Maghrobi tahap
1 lengkap dengan kunci tatarcara mendayagunakannya, khusus untuk anda yang telah mengikuti
PENGIJASAHAN ILMU secara Resmi. Semoga ilmu ini dapat bermanfaat dalam kehidupan kita
sehari-hari.

HIZIB JA’FAR ASSHODIQ ( sunan Qudus )

tinggalkan komentar »

faisal amri- ichalsinbad@yahoo.com.sg

Assalammualaikum. Saya hamba Allah yang dhoif ini mau berbagi sedikit ilmu Allahyang
Insya Allah bermanfaat untuk PAGAR GHAIB LAUT UNTUK RUMAH/TEMPAT
USAHA.Ilmu ini saya dapatkan dari Kitab “Tajul Muluk” yang diwariskan oleh kakek
saya. Cara pengamalannya:
1.Tawassul kepada Nabi Muhammad SAW,Khulafaur Rasyidin,Malaikat
Muqarrabin,Syech Abdul Qadir Jaelani Dan Syech Ja’far Asshodiq.
2. Amalkan amalan dibawah ini (Hizib Ja’far Asshodiq) 7x setiap malam di tengah
rumah/tempat yang akan di Pagari selama 7 malam berturut-turut.
3. Setelah selesai membaca Hizib tersebut 7x lalu berdo’a kepada Allah agar tampak laut
dan sungai yang bergelombang disekitar rumah jika ada orang yang berniat/berbuat
jahat.
4. Inilah Hizib yang di baca:

“BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.RABBI NAJJINII MINAL


QAUMIDZHALIMIN.WAMA ROMAITA IDZ RAMAITA WALAKINNALLAHA
ROMA.WALIYUBLIYAL MU’MINIINA MINHU BALA’AN HASANAH.SUMMUN
BUKMUN UMYUN FAHUM LAA YAFKOHUUN.SUMMUN BUKMUN UMYUN
FAHUM LAA YUBSIRUUN.SUMMUN BUKMUN UMYUN FAHUM LAA
YATAKALLAMUUN.SUMMUN BUKMUN UMYUN FAHUM LAA
YATAZAKKARUUN. YAA ALLAH YAA RASULULLAH,BI BARAKATI SYECH
JA’FAR ASSHODIQ,BI BARAKATI LAA ILAHA ILALLAH MUHAMMAD
DURRASULULLAH.”

Salah satu syarat orang yang mengamalkan ilmu ini adalah,jika pada pagi hari anda
menemukan pencuri linglung berkeliling rumah anda karena tidak dapat menemukan
jalan keluar,anda tidak boleh menganiyaya pencuri tersebut,tapi cukup dilepaskan saja
dan nasehati.

HIZBUL BAHR: HIZIB GAIB PENYERANG MUSUH

Ini hizib (ajian) yang dikarang oleh Syekh Abul Hasan Asy Syadzili pendiri Tarekat
Syadziliyah. Kegunaannya sangat banyak, di antaranya adalah disegani kawan maupun
lawan, kebal senjata dan serangan gaib, menundukkan musuh bahkan mampu
menewaskan musuh.

Hizib ini cocok diamalkan saat keadaan genting dan kekuatan musuh tidak sebanding dengan
kekuatan kita. Misalnya saat perjuangan melawan penjajah dan kita harus menghadapi lawan
yang jumlahnya berlipat ganda dan persenjataannya lebih hebat.

Dalam riwayatnya, hizib ini banyak dimiliki oleh para kyai dan pejuang kemerdekaan kita dulu.
Mereka kebal senjata tajam dan peluru tidak mampu menebus tubuhnya. Karena sangat
mematikan, hizib ini dilarang keras diamalkan oleh mereka yang belum cukup dewasa, sebab
kalau salah niat bisa berakibat fatal dan tidak mendatangkan manfaat bagi kedamaian hidup di
dunia dan akhirat.

CARA MENGAMALKANNYA SEBAGAI BERIKUT: Puasa sunah biasa 7 hari dimulai pada
hari Jumat. Saat puasa malam hari tidak tidur, tidak boleh bicara dan kumpul orang lain. Selama
puasa setiap selesai sholat lima waktu membaca hizib tiga kali. Setelah selesai puasa, hizib hanya
dibaca setiap usai sholat Ashar satu kali dan setelah sholat subuh satu kali. Sebelum membaca
hizib, baca surat Al Fatihah untuk: Nabi Muhammad, Syekh Abul Hasan Asy Syadzili, dan
Syekh Mahfuzh Sya’Rani (orang yang memberi ijazah hizib ini.

Bila punya musuh tertentu dengan hizib ini dia dapat tunduk, minta maaf bahkan hingga bisa
membunuhnya. Cara mengetrapkannya adalah membaca hizib ini 3 kali pada hari Senin atau
malam Senin menghadap ke arah musuh berada dalam keadaan duduk meluruskan kaki
(selonjor) dan tanpa penutup kepala. Saat akan maju perang, amalan hijib ini bekerja secara
otomatis melindungi pengamalnya dari bahaya.

Hizib Bahr ini sebagai berikut:


BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. ALLAHUMMA YAA ALIYYU YAA AZHIIMY
YAA HALIIMU YAA ALIIMU ANTA RABBI WA ILMUKA HASBII FANI MARRABBU
RABBI WANI’MAL HASBU HASBII TANSHURU MAN TASYAA U WA ANTAL
AZIIZURRAHIIM. NAS ALUKAL ISMATA FIL HARAKAATI WAS SAKANAATI WAL
KALIMAATI WAL IRADAATI WAL KHAIRAATI MINASY SYUKUUKI WAZH
ZHUNUUNI WAL AWHAMIS SAATIRATI LILQULUUBI AN MUTHAALA’ATIL
GHUYUUBI FAQADIBTULIYAL MU’MINUUNA WAZULZILUU ZILZAALAN
SYADIIDA. WA IDZ YAQUULUL MUNAAFIQUUNA WALLADZIINA FII QULUUBIHIM
MARADZ. MAA WA’ADANALLAAHU WARASUULUHUU ILLA GHURUURAA,
FATSABBITNAA WANSHURNAA WASAKHKHIR LANAA HAADZAL BAHRA KAMAA
SAKHKHARTAL BAHRA LIMUUSAA WASAKHKARTAN NAARA LIL IBRAAHIIMA
WASAKHKHARTAL JIBAALA WALHADIIDA LIDAAWUUDA WASAKHKHARTAR
RIIHA WASYSYAYATHIINA WALJINNA LISULAYMAANA WASAKHKHIR LANAA
KULLA BAHRIN HUWA LAKA FIL ARDHI WASSAMA’I WALMULKI WAL
MALAKUUTI WABAHRAD DUNYAA WABAHRAL AKHIRAATI WASAKHKHIR
LANAA KULLA SYAY’IN YAA MAN BIYADIHII MALAKUUTU KULLI SYAY’IN KAAF
HAA YAA AIN SHAD (3x).

UNSHURNAA FA INNAKA KHAYRUN NAASHIRIINA WAFTAH LANAA FA INNAKA


KHAYRUL FAATIHIIN WAGHFIR LANAA FA INNAKA KHAYRUL GHAAFIRIIN
WARHAMNAA FA INNAKA KHAYRUR RAAHIMIIN WARZUQNAA FA INNAKA
KHAYRUR RAAZIQIIN WAHDINA WANAHHINAA MINALQAWMIZH ZHAALIMIIN
WAHAB LANAA RIIHAN THAYYIBATAN KAMAA HIYA FII ILMIKA WANSYURHAA
ALAYNAA MIN KHAZAA INI RAHMATIKA WA AHMILNAA BIHAA
HAMLALKARAAMAATI MA’AS SALAAMATI WAL AAFIYATI DID DIINI
WADDUNYAA WAL AAKHIRATI, INNAKA ALAA KULLI SYAYIN QADIIR.
ALLAHUMMA YASSIR LANAA UMUURANA MA’AR RAAHATI LIQULUUBINAA WA
ABDAANINAA WASSALAAMATI MAL AAFIYATI FIDIININA WA DUNYAANA
WAKUN LANAA SHAAHIBAN FII SAFARINAA WA KHALIIFATAN FII AHLINAA
WATHMIS ALAA WUJUUHI A’DAA INAA WAMSAKH HUM ALAA MAKANAATIHIM
FALAA YASTATHII UUNAL MUDHIYYA WAL MAJIIA ILAYNAA WALAWNASYAA’U
LATHAMASNAA ALAA AYUNIHIM FASTABAQUSHIRAATA FA ANNA
YUBSHIRUUNA WALAW NASYAA U LAMASAKHNAAHUM ALA MAKAANATIHIM
FAMASTHATHAA’UU MUDHIYYAN WALAA YARJI’UN, YAA SIIN (7 x)
WAL QURAANIL HAKIIM INNAKA LAMINALMURSALIIN ALAA SHIRAATTHIM
MUSTAQIIM TANDZIILAL AZIIZIRRAHIM LITUNDDZIRA QAWMAM MAA UNDZIRA
ABAAUHUM FAHUM GHAAFILUUN LAQAD HAQQAL QAWLU ALAA AKTSARIHIM
FAHUM LAA YU’MINUN, INAA JA’ALNAA FII A’NAAQIHIM AGHLAALAN FAHIYA
ILAL ADZQAANI FAHUM MUQMAHUUN WAJA’ALNA MIM BAYNI AYDIIHIM
SADDAN FA AGHSYAYNAAHUM FAHUM LAA YUBSHIRUUN, SYAAHATIL
WUJUUHU (3 x)

WA’ANATIL WUJUUUHU LILHAYYILQAYYUMI WAQAD KHAABA MAN HAMALA


ZHULMAN THAA SIIN, HAA MIIM, HAA MIIM, AIN SIIN QAF, MARAJAL BAHRAYNI
YALTAQIYAANI BAYNAHUMAA BARZAKHUN LAA YABGHIYAANI, HAA MIIM (7
x)

HUMMAL AMRU WAJAA AN NASHRU FA’ALAYNAA LA YUNSHARUUN, HAA MIIM


TANDZIILUL KITAABI MINALLAAHIL AZIIZIL ALIIM GHAARIRINDZANBI
WAQAABILITTAWBI SYADIIDIL IQAABI DZITH THAWLI LAA ILAAHA ILLA HUWA
ILAYHIL MASHIIR. BISMILLAAHI BAABUNAA TABAARAKA HIITHAANUNAA, YAA
SIIN SAQFUNAA, KAAF HAA YAA AIN SHAAD KIFAYATUNAA, HAA MIIM. AIN SIIN
QAAF HIMAYAATUNAA FASYAKFIIKAHUMULLAAHU WAHUWAS SAMIIUL ALIIM
(3 x).

SITRUL ARSYI MASBULUN ALAYNAA WA’AYNULLAAHI NAAZHIRATUN ILAYNAA


BIHHAWLILLAAHI LAA YUQDARU ALAYNAA WALLAAHU MIN WARAA IHIM
MUHIITH BAL HUWA QUR’AANUM MAJIID, FII LAWHIM MAHFUZH FALLAAHU
KHAYRUN HAAFIZHAA, WAHUWA ARHAMURRAAHIMIN, INNA
WALIYYILYALLAHULLADZII NAZZALAL KITAABA WAHUWA YATAWALLASH
SHAALIHIN FAIN TAWALLAW FAQUL HASHBIYALLAAHU LAA ILAAHA ILAA
HUWA ALAYHI TAWAKALTU WAHUWA RABBUL ARSYIL AZHIIM (3 x)

BISMILLAAHILLADZII LA YADHURRU MA’ASMIHII SYAY’UN FIL ARDHI WALAA


FI SAMAA’I WAHUSSAMII’UL ALIIM (3 x) WALAA HAWLA WALAA QUWWATA
ILAA BILLAAHIL ALIYYIL AZHIIM.

HIZIB AL MADHUM

Insya Alloh saya Ijazahkan untuk umum yang saya boleh Riwayatkan dan ajarkan seperti yang di
Ijazahkan para syekhhku, ulama dan penerus Nabi Mudah2 Bermanfaat serta Selamat di Dunia
dan Akhirat.amien.

HIZIB AL MADHUM

(Untuk Jamiman Datangnya Kebutuhan Dari Alloh yang Halal dan Berkah.) Hizib Ini bersumber
dari Keluarga Nabi yang bersumber dari Sayyidina Hasan Bin Ali alaihi salamKaramallohu
Wajhah yang didiktekan Oleh Rosululloh SAW kepada beliau dlm Tidurnya. Apabila Kita
semua ingin di jamin Kebutuhan Hidup Terjamin oleh Alloh, Yang Baik,Luas,Halal dan Tidak
Rakus sesudah mendapatkannya, juga Berkah Sehingga di dalam Bekerja/Ihtiar tidak Harus
Menggantungkan diri Kpd Mahluk Alloh Baik Jin dan Manusia.

ALLOHUMMAQ DZIF FII QOLBI ROJA -AKA WAQTHO ROJA-II AMMAN


SIWAAKA HATTA LAA ARJU AHADAN GHOIROKA ,
ALLOHUMMA MAA DHO’UFAT ANHU QUWWATI WA QOSHURO ANHU AMALI
WALAM TANTAHI ILAHI ROGHBATI WALAM TABLUGH HUMAS ALATI
WALAM YAJRI ALAA LISANI MIMMA A’THOITA AHADAN MINAL AWALINA
WAL AKHIRINA MINAL YAQIN FAKHUSSONI BIHI YA ROBBAL ALAMIN.

(Ya Alloh Tanamkanlah Kedalam Hatiku Harapan Kpdmu dan putuskanlah Harapan selain
Engkau Sehingga Aku tidak Berharap kpd Mahlukpun selain Engkau, Ya Alloh Aku Yang
Lemah Kekuatanku darinya dan Pekerjaan Kurang darinya dan Yang keinginanku Belum
Mencapainya dan Lisanku Belum Menjangkauku dan Mengeluarkan Keyakinan seperti yang
engkau Berikan Kpd Orang-orang Terdahulu dan Kemudian maka Istimewakanlah aku
Dengannya Oh Tuhan Semesta Alam.)

Dibaca Tiap Sholat 5 Waktu 7x dan Sholat Hajat 313x dan setelah selesai dibaca 7x subuh dan
Magrib.

Tawasul Kpd :
Rosululoh , Malaikat Muqorobin , Para Sahabat 4
Kepada Sayyidah Fathimah Alz zahro, Imam Hasan dan Husain, ImamImam Zaenal abidin,
Muhamad Baqir, Imam Ja’far Shodiq,
Syekh Abdul Qodir Jaelani, Syekh Imam Junaid Bagdadi, Syekh Abil Hasan Asy-Syadzili ra.
Para wali Songo, Wali Paku Bumi
Khususon kpd Syekh Zaenal Mustaqim Tulung agung, Sayyidil Habib Idrus bin Hasan al-Kaf
Man azazani..