You are on page 1of 9

 Indikator Efisiensi Rawat Inap

Menurut Sudra (2010:42) untuk mengetahui tingkat efisiensi di suatu ruangan rawat inap, perlu
adanya suatu indikator untuk mengukur apakah ruangan rawat inap tersebut sudah efisien atau
belum. Beberapa indikator efisiensi rawat inap diantaranya adalah :

 BOR (Bed Occupancy Rate)

Menurut Hatta (2013:232) BOR (Bed Occupancy Rate) merupakan persentase dari penggunaan
tempat tidur yang tersedia pada satu periode waktu tertentu. Umumnya semakin besar BOR akan
semakin bertambah pemasukan dari rumah sakit.

Sedangkan menurut Sudra (2010:42)BOR (Bed Occupancy Rate) merupakan angka yang
menunjukan presentase penggunaan tempat tidur di suatu ruangan rawat inap. Periode
penghitungan BOR ditentukan berdasarkan kebijakan intern, misalnya bualanan, triwulan,
semester dan tahuanan.

Lingkup penghitungan BOR juga ditentukan berdasarkan kebijakan intern rumah sakit, misalnya
BOR per ruangan atau BOR seluruh ruangan rawat inap di suatu rumah sakit.

Untuk menghitung BOR dapat menggunakan rumus :

Keterangan :

: Jumlah hari perawatan

: Jumlah tempat tidur

: Jumlah hari periode tertentu (Ery R, 2009)

Menurut Sudra (2010:44) nilai ideal BOR dikatakan secara statistik semakin tinggi nilai BOR
berarti semakin tinggi pula penggunaan tempat tidur yang tersedia untuk perawatan pasien.
Namun perlu diperhatikan pula bahwa semakin banyak pasien yang dilayanai berarti semakin
sibuk dan semakin berat pula beban kerja petugas kesehatan di unit tersebut. Akibatnya, pasien
kurang mendapatkan perhatian yang dibutuhkan dalam proses perawatan. Pada akhirnya,
peningkatan BOR yang terlalu tinggi ini justru bisa menurunkan kualitas kinerja tim medis dan
menurukan kepuasan serta keselamatan pasien. Di sisi lain, semakin rendah BOR berarti semakin
sedikit tempat tidur yang digunakan untuk merawat pasien dibandingkan dengan tempat tidur
yang telah disediakan. Dengan kata lain, jumlah pasien yang sedikit ini bisa menimbulkan
kesulitan pendapatan ekonomi bagi pihak rumah sakit.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut maka perlu adanya suatu nilai ideal yang
menyeimbangkan suatu kualitas medis, kepuasan pasien, keselamatan pasien, dan aspek
pendapatan ekonomi bagi pihak rumah sakit. Maka nilai ideal untuk BOR yang disarankan
adalah 75%-85% (Sudra, 2010:44)
 AvLOS (Average Length of Stay)

Menurut Sudra (2010:45) AvLOS adalah rata-rata jumlah hari pasien rawat inap yang tinggal di
suatu ruangan di rumah sakit, tidak termasuk bayi baru lahir. Untuk menghitung AvLOS dapat
menggunakan rumus :

Keterangan :

: Jumlah hari perawatan periode tertentu

: Jumlah pasien keluar hidup + mati

(Ery R, 2009)

Dari aspek medis, semakin lama angka AvLOS maka bisa menunjukan kinerja kualitas medis
yang kurang baik karena pasien harus dirawat lebih lama (lama sembuhnya). Dari aspek
ekonomis, semakin lama nilai AvLOS berarti semakin tinggi biaya yang nantinya harus dibayar
oleh pasien kepada pihak rumah sakit. Jadi diperlukan adanya keseimbangan antara sudut
pandang medis dan ekonomis untuk menentukan nilai AvLOS yang ideal. Nilai AvLOS ideal
yang disarankan yaitu 3-12 hari (Sudra, 2010:45)

 TOI (Turn Over Interval)

Menurut Sudra (2010:51) angka TOI menunjukan rata-rata jumlah hari sebuah tempat tidur tidak
ditempati untuk perawatan pasien. Hari “Kosong” ini terjadi antara saat tempat tidur ditinggalkan
oleh seorang pasien hingga digunakan lagi oleh pasien berikutnya. Untuk menghitung nilai TOI
bisa digunakan rumus :

Keterangan :

: Jumlah hari perawatan

: Jumlah tempat tidur

: Jumlah hari periode tertentu

: Jumlah pasien keluar hidup + mati (Ery R, 2009)

Semakin besar Angka TOI, berarti semakin lama waktu “menganggurnya” tempat tidur tersebut
yaitu semakin lama saat dimana sebuah tempat tidur tidak digunakan oleh pasien. Hal ini berarti
tempat tidur semakin tidak produktif. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan dari segi ekonomi
bagi pihak manajemen rumah sakit. Semakin kecil angka TOI, berarti semakin singkat saat
tempat tidur menunggu pasien berikutnya. Hal ini bisa berarti tempat tidur bisa sangat produktif,
apalagi jika TOI = 0 berarti tempat tidur tidak sempat kosong satu haripun dan segera digunakan
lagi oleh pasien berikutnya. Hal ini bisa sangat menguntungkan secara ekonomi bagi pihak
manajemen rumah sakit, tapi bisa merugikan pasien karena tempat tidur tidak sempat disiapkan
secara baik. Akibatnya, kejadian infeksi nosokomila mungkin saja meningkat, beban kerja tim
medis meningkat sehingga kepuasan dan keselamatan pasien terancam. Berkaitan dengan
pertimbangan tersebut, maka nilai ideal TOI yang disarankan adalah 1-3 hari (Sudra, 2010:51)

 BTO (Bed Turn Over)

Menurut Sudra (2010:52) BTO adalah angka yang menunjukan rata-rata jumlah pasien yang
menggunakan setiap tempat tidur dalam periode tertentu. Misalnya BTO bulan Januari adalah 4
pasien. Maka berarti dalam bulan Januari tersebut setiap tempat tidur digunakan oleh 4 pasien
secara bergantian. Untuk menghitung BTO menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

: Jumlah tempat tidur

: Jumlah pasien keluar hidup + mati (Ery R, 2009)

Secara logika, semakin tinggi angka BTO berarti semakin banyak pasien yang menggunakan
tempat tidur yang tersedia secara bergantian. Hal ini tentu merupakan kondisi yang
menguntungkan bagi pihak rumah sakit karena tempat tidur yang tersedia tidak “menganggur”
dan menghasilkan pemasukan untuk pihak rumah sakit. Namun bisa dibayangkan bila dalam satu
bulan tempat tidur digunakan oleh 15 pasien, berarti rata-rata setiap pasien menempati tempat
tidur tersebut selama 2 hari dan tidak ada hari dimana tempat tidur tersebut kosong. Ini berarti
beban kerja tim perawatan sangat tinggi dan tempat tidur tidak sempat dibersihkan karena terus
digunakan pasien secara bergantian, kondisi ini mudah menimbulkan ketidakpuasan pasien, bisa
mengancam keselamatan pasien, bisa menurunkan kinerja kualitas medis dan bisa meningkatkan
kejadian infeksi nosokomial karena tempat tidur tidak sempat dibersihkan atau disterilkan. Jadi
dibutuhkan angka BTO yang ideal dari aspek medis, pasien, dan manajemen rumah sakit.

Menurut Hatta (2013:233) indikator BTO berguna untuk melihat berapa kali tempat tidur rumah
sakit digunakan. Beberapa formula menggunakan rate dan tidak ada persetujuan umum yang
mengatakan bahwa indikator ini tepat untuk mengukur utilitas rumah sakit, tetapi bagaimanapun
administrator rumah sakit masih menggunakan karena mereka ingin juga melihat keselarasan
dari indikator lainnya yang terkait seperti length of stay dan bed occupancy rate. Ketika
occupany rate bertambah dan length of stay memendek maka akan tampak efek dari perubahan
atau bed turn over rate.

Nilai ideal BTO yang disarankan yaitu minimal 30 pasien dalam periode 1 tahun (Sudra,
2010:52). Artinya, 1 tempat tidur diharapkan digunakan oleh rata-rata 30 pasien dalam 1 tahun.
Berarti 1 pasien rata-rata dirawat selama 12 hari. Hal ini sejalan dengan nilai ideal AvLOS yang
disarankan yaitu 3-12 hari.

 Konsep Grafik Barber Johnson


 Pengertian
Pada Tahun 1973, Barry Barber, M.A., PhD., Finst P., AFIMA dan David Johnson, M.Sc
berusaha merumuskan dan memadukan empat parameter untuk memantau dan menilai tingkat
efisiensi penggunaan tempat tidur di suatu ruangan perawatan pasien. Keempat parameter yang
dipadukan tersebut yaitu, BOR, AvLOS, TOI dan BTO. Perpaduan keempat parameter tersebut
lalu diwujudkan dalam bentuk grafik yang akhirnya dikenal sebagai grafik Barber Johnson
(Sudra 2010:54)

Grafik Barber Johnson merupakan suatu grafik yang secara visual dapat menyajikan dengan jelas
tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit. Indikator yang cukup tajam untuk menilai tingkat
efisiensi di rumah sakit yang ternyata akan lebih bermanfaat untuk menentukan kebijakan
pendayaguaan tempat tidur adalah dengan grafik Barber Johnson.

 Parameter dan Daerah Efisiensi Dalam Grafik Barber Johnson

Grafik Barber Johnson merupakan suatu indikator yang menggunakan empat parameter yang
terdiri dari :

1. BOR (Bed Ocupanccy Rate), yaitu persentase tempat tidur terisi


2. AvLOS (Average Length of Stay), yaitu rata-rata lama dirawat
3. TOI (Turn Over Interval), yaitu rata-rata waktu luang tempat tidur
4. BTO (Bed Turn Over), yaitu produktivitas tempat tidur

Keempat parameter tersebut tergambar dalam suatu grafik. Dengan grafik Barber Johnson secara
visual dapat menyajikan dengan jelas tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit dan
perkembangannya dari waktu ke waktu. Grafik Barber Johnson ditampilkan secara periodik tiap
tahun atau sesuai kebutuhan.

Menurut Barber dan Johnson apabila titik temu antara keempat parameter (BOR, TOI, AvLOS
dan BTO) tergambar di luar daerah ini menunjukan bahwa sistem yang sedang berjalan adalah
kurang efisiensi (Sudra, 2010:59)

 Kegunaan Grafik Barber Johnson

Menurut Sudra (2010:54) grafik Barber Johnson dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk
mengukur tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit khususnya pendayagunaan sarana tempat
tidur dan dapat digunakan untuk melakukan perbandingan serta membantu dalam menganalisa
dan mengambil keputusan mengenai :

1. Memonitor kegiatan dan perbandingan efisiensi penggunaan tempat tidur dalam kurun
waktu tertentu. Perkembangan kegiatan rumah sakit dalam beberapa tahun dapat dilihat
pada satu grafik.
2. Membandingkan tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur dari suatu unit (rumah sakit
atau ruang perawatan) dari waktu ke waktu dalam periode tertentu.
3. Memonitor perkembangan pencapaian target efisiensi penggunaan tempat tidur yang
telah ditentukan dalam suatu periode tertentu.
4. Kesalahan laporan, apabila laporan BOR, AvLOS, TOI, BTO setelah digambarkan dalam
grafik Barber Johnson, keempat garis tersebut tidak bertemu dalam satu titik, berarti
laporan tersebut tidak benar.
5. Perbandingan antar rumah sakit

Perbandingan kegiatan antar bagian yang sama di beberapa rumah sakit atau antar bagian di
suatu rumah sakit dapat digambarkan dengan satu grafik. Dengan jelas dan mudah dapat diambil
kesimpulan, rumah sakit mana atau bagian mana yang pengelolaan rawat inapnya telah efisien.

1. Meneliti akibat perubahan kebijakan

Grafik Barber Johnson dapat digunakan untuk meneliti suatu kebijakan relokasi tempat tidur atau
keputusan memperpendek Length of Stay.

Berdasarkan kegunaan tersebut, maka grafik Barber Johnson harus dibuat oleh setiap rumah sakit
sebagai bagian dalam laporan intern rumah sakit, bahkan data BOR diperlukan oleh pihak
pemerintah untuk mengetahui seberapa jauh rumah sakit tersebut digunakan oleh masyarakat.

 Makna Grafik Barber Johnson dan Penerapan Parameter dalam Melakukan


Analisa Tingkat Efisiensi Rumah Sakit:

Garis BOR, AvLOS, TOI, dan BTO yang telah dibuat dengan grafik Barber Johnson dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Parameter BOR

Makin dekat garis BOR dengan sumbu Y (AvLOS) maka persentase BOR makin tinggi.
Sebaliknya apabila makin jauh garis BOR dengan sumbu Y maka nilai persentase makin rendah.
BOR digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui seberapa jauh masyarakat menggunakan
pelayanan rumah sakit khususnya pelayanan rawat inap. Oleh pemerintah BOR digunakan untuk
melakukan perencanaan di bidang pelayanan kesehatan misalnya perencanaan pembangunan
rumah sakit. Nilai BOR juga menunjukan secara kasar beban kerja yang dilakukan oleh staf
medis rumah sakit.

Menurut Sudra (2010:44) semakin tinggi nilai BOR berarti semakin tinggi pula penggunaan
tempat tidur yang tersedia untuk perawatan pasien. Namun perlu diperhatikan pula bahwa
semakin banyak pasien yang dilayani berarti semakin sibuk dan semakin berat pula beban kerja
petugas kesehatan di unit tersebut. Akibatnya pasien kurang mendapat perhatian yang
dibutuhkan dan kemungkinan infeksi nosokomial juga meningkat. Pada akhirnya, peningkatan
BOR yang terlalu tinggi ini justru menurunkan kualitas kinerja tim medis dan menurunkan
kepuasan serta keselamatan pasien.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut maka perlu adanya suatu nilai ideal yang
menyeimbangkan suatu kualitas medis, kepuasan pasien, keselamatan pasien, dan aspek
pendapatan ekonomi bagi pihak rumah sakit. Maka nilai ideal untuk BOR yang disarankan
adalah 75%-85% (Sudra, 2010:44)
1. Parameter AvLOS

Lama perawatan yang dijalani seorang pasien tergantung pada jenis penyakitnya, stadium
penyakitnya, mutu pelayanan medis dan keperawatan serta fasilitas pelayanan yang ada di unit
rawat inap. Untuk memperpendek rata-rata lama perawatan pasien tidak dapat dilakukan dengan
menentukan kebikakan pemulangan pasien lebih cepat dengan tujuan agar secepatnya pula ada
pemasukan pasien baru. Karena kebijakan seperti initidak mempertimbangkan nilai TOI yaitu
waktu kosong penggunaan tempat tidur. Sebaliknya dengan menahan pasien terlalu lama di
rumah sakit akan mengakibatkan pemborosan biaya perawatan.

Menurut Sudra (2010:51) nilai ideal AvLOS adalah antara 3-12 hari. Apabila AvLOS melebihi
nilai tersebut kemungkinan bisa disebabkan adanya pasien yang berpenyakit kronis, penurunan
kualitas pelayanan keperawatan, dan adanya kelambatan atau penundaan penanganan medis oleh
staf medis rumah sakit.

1. Parameter TOI

Semakin besar angka TOI, berarti semakin lama saat “menganggurnya” tempat tidur yaitu
semakin lama saat dimana tempat tidur tidak digunakan oleh pasien. Hal ini berarti tempat tidur
semakin tidak produktif (Sudra, 2010:52). TOI yang lama kemungkinan disebabkan karena
organisasi yang kurang baik, kurangnya permintaan penggunaan tempat tidur (demand) dan
fasilitas penunjang medis yang kurang memadai baik fisik maupun pengaturannya.

Nilai TOI yang tinggi dapat diturunkan dengan memperbaiki sarana dan prasarana di suatu
ruangan rawat inap. Maka nilai TOI yang disarankan adalah 1-3 hari (Sudra, 2010:52).

1. Parameter BTO

Makin dekat garis BTO dengan titik sumbu (0,0), maka jumlah pasien per tempat tidur dalam
periode tertentu akan semakin tinggi. Sebaliknya jika garis BTO makin menjauhi titik sumbu
(0,0) maka nilai BTO akan semakin kecil. Meningkatnnya nilai BTO mempertinggi nilai
produktivitas pelayanan medis, karena semakin banyak pasien yang dirawat tanpa menambah
tempat tidur atau memperluas ruangan rawat inap.

Penurunan nilai BTO dapat disebabkan karena nilai AvLOS yang tinggi atau semakin lama
waktu rata-rata pasien dirawat. Selain itu juga disebabkan karena nilai TOI atau waktu kosong
penggunaan tempat tidur yang terlalu lama.

Maka dari itu, nilai BTO yang disarankan adalah lebih dari 30 pasien per tahun (Sudra, 2010:54).
STATISTIK PELAPORAN LAYANAN KESEHATAN

Statistik dapat digunakan untuk menghitung berbagai macam indikator statistik layanan kesehatan.
Dalam artikel berikut ini akan diulas beberapa indikator didasari pada fasilitas kesehatan, seperti
indikator Statistik Rumah Sakit.
Pengumpulan data di Rumah Sakit merupakan data yang dikumpulkan setiap hari dari pasien rawat jalan
dan rawat inap. Data tersebut berguna untuk memantau perawatan pasien setiap hari, minggu, bulan,
dan lain-lain. Informasi dari statistik rumah sakit digunakan untuk perencanaan memantau pendapatan
dan pengeluaran dari pasien oleh pihak manajemen rumah sakit.
Beberapa istilah yang telah dikembangkan, seperti;
• Hospital patient, seorang indiviu yang mendapatkan layanan medis RS
• Hospital inpatient, seorang pasien yang telah mendapatkan layanan rumah sakit berupa menginap,
perawatan, pengobatan dan umunya pasien tersebut telah menginap minimal 1 malam
• Hospital newborn inpatient, bayi yang dilahirkan di RS. Umumnya bayi baru lahir ini dihitung terpisah
karena mereka mendapatkan layanan yang berbeda
• Inpatient hospitalization, periode dalam kehidupan pasien yang ketika ia dirawat di satu rumah sakit
terus-menerus, tidak terputus kecuali cuti perawatan
• inpatient admission, prosedur penerimaan untuk pasien menginap di RS termasuk ruangan, perawatan
dimana pasien menginap
• Inpatient discharge, akhir dari periode pasien menginap sampai keluar dari RS, setelah disetujui oleh
RS. Umumnya melalui persetujuan bersama dokter yang merawat, pergi menemui penasihat
pengobatannya, dirujuk ke fasilitas lain, atau meninggal
• Hospital outpatient, pasien rumah sakit yang mendapatkan layanan di satu atau lebih dari fasilitas
rumah sakit, ketika tidak dirawat atau dalam home care patient. Seorang pasien rawat jalan dapat
diklasifikasikan pada pasien yang datang pada fasilitas gawat darurat atau dapat juga datang ke klinik.

Saluran Pengiriman Laporan


Laporan dibuat rangkap 6 ( kecuali laporan yang bersifat individual dibuat rangkap dua):
Laporan asli dikirim ke Direktorat Jendral Pelayanan Medik. Bagian informasi rumah sakit Dep. Kes. RI
sedang rangkap ke dua dan seterusnya dikirim kepada:
 Kepala Kantor Wilayah Dep. Kes. RI
 Kepala Dinas Kesehatan Dati 1
 Direktur rumah sakit
 Kepala bagian Sekertariat rumah sakit
Khusus laporan individual pasien rawat inap, keadaan keterangan rumah sakit dan peralatan rumah sakit
(RL 2.1, RL 2.2, RL 2.3, RL 4a, dan RL 5a)masing- masing dibuat 2 rangkap. Rangkap pertama dikirim ke
Direktorat Jendral pelayanan medik, sedang tembusan untuk arsip rumah sakit.

Data sensus pasien rawat inap


Data sensus ini merupakan data yang harus dikumpulkan setiap hari dan merupakan aktivitas pasien
selama 24 jam periode waktu lapor. Termasuk pada pasien yang masuk dan keluar pada 24 jam
sebelumnya. Umumnya pelaporan dimulai dari pukul 00.01 pagi dan berakhir di pukul 12.00 malam.
Dalam sensus ini, bayi dihitung terpisah dari pasien dewasa dan anak-anak. Sebelum menggabung, perlu
diperhatikan bahwa sensus mengutamakan jumlah pasien rawat inap di setiap jam, seperti di sebuah
rumah sakit dengan 300 tempat tidur, hasil sensus adalah pada pukul 2 sore berjumlah 250, tetapi 1 jam
kemudian pasien menjadi 245. Kasus pasien misalnya seorang pasien dirawat karena sakit jantung pukul
1 sore dan meninggal pukul 4 sore, maka pasien tersebut sudah terhitung sebagai pasien yang masuk
dan keluar pada hari yang sama. Karenanya tidak dihitung dalam sensus, dihitung secara terpisah. Satu
unit pengukuran, menggambarkan layanan yang diterima oleh satu pasien selama periode 24 jam yang
dinamakan sebagai hari layanan pasien.
Sebagai contoh: sebuah rumah sakit mempunyai sensus pasien rawat sebanyak 240 di hari pertama, hari
kedua 253 dan hari ketiga 237. Total dari hari layanan pasien untuk 3 hari adalah 730, jika total tersebut
dibagi 3 hari, maka didapati rata-rata sensus harian. Nilai rata-rata sensus harian adalah rata-rata jumlah
pasien yang dirawat selama satu periode tertentu.
Pada rata-rata sensus harian ini, bayi baru lahir dihitung terpisah dari sensus harian dewasa yang
digabung dengan anak-anak, sehingga tentu saja seharusnya rata-rata sensus harian anak+dewasa lebih
besar dari rata-rata sensus harian bayi baru lahir.

Isian Tempat Tidur Pasien Rawat Inap atau Inpatient Bed Occupancy Rate(BOR)
Indikator rumah sakit lainnya adalah isian tempat tidur pasien rawat inap rate (BOR), yang merupakan
presentase dari penggunaan tempat tidur yang tersedia pada satu peiode waktu tertentu. Umumnya
semakin besar BOR akan bertambah pemasukan dari rumah sakit. Contoh dari 200 pasien yang mengisi
280 tempat tidur pada satu hari, maka BOR nya adalah 200/208 x 100% atau 71,4%. Bila ingin dihitung
lebih dari satu hari, maka harus dikalikan pada jumlah hari yang sesuai dengan periode waktu yang
diinginkan. Misalnya ingin mengetahui BOR 1 minggu, artinya pasien inap dalam 1 minggu (misalnya
1729) dibagi (dengan 280 tempat tidur yang dikalikan dengan 7) x 100%. Angka penyebut yang difomula
adalah kemungkinan maksimum pasien yang dapat dirawat, sesuai dengan tempat tidur yang tersedia.

Bed Turn Over Rate (BTO)


Ukuran lainnya yang juga digunakan mengukur utilisasi rumah sakit adalah bed turn over rate. Indikator
ini berguna untuk melihat berapa kali tempat tidur rumah sakit digunakan. Beberapa formula
menggunakan rate dan tidak ada persetujuan umum yang mengatakan bahwa indikator ini tepat untuk
mengukur utilitas rumah sakit, tetapi bagaimanapun administrator rumah sakit masih menggunakannya
karena mereka ingin juga mellihat keselarasan dari indikator lainnya yang terkait seperti length of stay
dan bed occupancy rate. Ketika occupancy rate bertambah dan length of stay memendek maka akan
tampak efek dari perubahan atau bed turn over rate.
Di Amerika terdapat dua cara perhitungan, yaitu:
a. Direct bed turn over rate, adapun contoh perhitungannya adalah total jumlah penggunaan (termasuk
kematian) dalam satu periode dibagi dengan tempat tidur yang tersedia dalm satu periode tersebut.
b. Indirect bed turn over rate, dengan contoh perhitungannya adalah occupancy rate (dalam desimal)
dikali dengan jumlah hari dalam satu periode dibagi dengan rata-rata lama perawatan.

Lama perawatan atau length of stay


Lama perawatan yang dihitung dari setiap pasien masuk inap sampai hari keluar dari rumah sakit. Dapat
dihitung dengan mengurangi tanggal pasien tersebut keluar dengan tanggal pasien itu masuk, bila ada
pada periode/bulan yang sama. Misalnya masuk tanggal 5 Mei dan keluar pada tanggal 8 Mei, maka
lama hari rawat adalah (8-5) atau 3 hari. Tetapi bila tidak ada bulan yang sama, maka perlu adanya
penyesuaian, misalnya masuk tanggal 28 Mei dan keluar tanggal 6 Juni, maka perhitungannya adalah 31
(Mei) – 28 (Mei) + menjadi 9 hari. Dan bila pasien masuk dan keluar pada hari yang sama, lama hari
rawatnya adalah 1 hari.
Total dari lama hari rawat dapat diartikan sebagai jumlah hari rawat yang didapat pada pasien, sampai
pasien keluar atau meninggal. Rata-rata lama hari rawat adalah total dari lama hari rawat pasien dalam
satu periode tertentu dibagi dengan jumlah pasien yang keluar pada periode yang sama. Sama seperti
dengan BOR dan sensus, bayi baru lahir juga dihitung terpisah dengan anak dan dewasa.

Angka kematian di rumah sakit

GDR (Gross Death Rate)


Hitungan rate untuk kematian didasari pada jumlah pasien yang keluar, hidup atau meninggal. Kematian
merupakan akhir dari periode perawatan. Pada kematian dibedakan kematian secara keseluruhan atau
gross death rate, kematian yang telah disesuaikan dengan lebih dari 48 jam perawatan dikenal sebagai
net death rate, kemudian kematian bayi baru lahir atau yang dikenal dengan newborn death rate, lalu
kematian bayi lahir meninggal atau fetal death rate, kematian atas ibu melahirkan atau kematiannya
yang berhubungan dengan melahirkan atau selama masa kehamilan, dikenal maternal death rate.
Dasar dari angka kematian kasar rumah sakit adalah merupakan kematian dari fasilitas kesehatan.
Perhitungannya didapat dengan cara:

Jumlah pasien rawat yang meninggal termasuk bayi baru


Lahir dalam satu periode waktu tertentu
_____________________________________________ x

Jumlah pasien yang keluar (dewasa+anak, bayi baru lahir


yang meninggal) pada waktu yang sama