You are on page 1of 7

IX.

Analisis Data dan Pembahasan

Pada percobaan kali ini dengan judul “Inversi Gula” dengan tujuan percobaan
yakni menentukan orde reaksi dan reaksi inversi gula menggunakan polarimeter.Pada
percobaan inversi gula menggunakanmetode pengukuran konsentrasi larutan gula dengan
alat polarimeter.

Gula merupakan senyawa yang bersifat zat optik aktif sehingga dapat memutar
bidang polarisasi. Zat optik aktif adalah zat-zat yang dapat memutar bidang polarisasi
cahaya, yaitu zat-zat yang molekul-molekulnya mempunyai pusat asimetris dan kurang
simetris disekitar bidang tunggal. Zat yang bersifat optis aktif adalah zat yang
memilikistruktur transparan dan tidak simetris sehingga mampu memutar bidang
polarisasi radiasi. Larutan yang memutar bidang polarisasi cahaya kekanan
disebut dekstrorotatori (Latin : dexter, ”kanan”), dan yang memutar bidang polarisasi
cahaya kekiri disebut levorotatori (Latin : leaves, “kiri”). Arah perputaran ditandai oleh
(+) untuk dekstrorotatori dan (-) untuk levorotatori.

Pertama, semua alat dan bahan disiapkan dan alat alat yang digunakan
dibersihkan agar tidak ada zat pengotor yang mengganggu hasil data percobaan. Setelah
semua sudah siap. Percobaan pertama dimulai yaitu menyiapkan apparatus polarimeter.
Tabung (kuvet) dikeluarkan dari dalam bak polarimeter, untuk dibersihkan dengan
aquades agar tidak ada zat pengotor yang mengganggu hasil data percobaan. Setelah itu
dibersihkan dengan pelarut yang akan digunakan sebagai pelarut zat optis aktif yang
akan dianalisisuntuk memperkecil kemungkinan kesalahan terjadi dalam pengamatan.
Pada percobaan kali ini kami menggunakan aquades sehingga untuk analisa dihasilkan
sudut putar aquades sebesar 58.50.

Kemudian tabung (kuvet) di isi kembali dengan larutan gula untuk memperoleh
sudut putar glukosa. Pada saat memasukkan larutan kedalam tabung, tidak boleh ada
gelembung sedikitpun, karena akan mempengaruhi pada penentuan sudut putar. Lalu
dimasukkan ke dalam bak polarimeter, dicari cahaya yang terang. Kemudian dibaca
skalanya yang ditunjukkan pada polarimeter, pembacaan skala dari polarimeter sama
dengan pembacaan skala pada jangka sorong yaitu skala utama ditambah dengan skala
noniusnya Pembacaan skala dilakukan pada saat semua terang. Sebelumnya di saat
semua terang itu melalui fase terang gelap terang lalu gelap terang gelap dan yang
terakhir terang terang terang. Pada saat itu lah pembacaan skala yaitu semua terang.
Seperti gambar berikut ini:

Gambar Pembacaan Skala Pada Polarimeter

Setelah itu tabung yang telah berisi larutan gula 10%, dimasukkan kedalam
polarimeter, lalu diamati hingga didapatkan cahaya terang semua. Diukur sudut putarnya,
dengan melihat skala pada polarimeter dan dicatat. Hasil yang kami dapat ternyata tidak
sesuai dengan teori dan yang kami peroleh sudut putarnya yaitu 70,9°. Berdasarkan teori
sudut putar fruktosa dan glukosa masing masing sebesar – 92.4 ° dan + 52.7 °

Percobaan selanjutnya, tabung (kuvet) di isi kembali dengan larutan gula dan
HCl. Sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu dengan pelarut yang akan digunakan
sebagai pelarut zat optis aktif yang akan dianalisis yaitu larutan gula dan HCl untuk
memperkecil kemungkinan kesalahan terjadi dalam pengamatan. Fungsi dari HCl adalah
sebagai katalis yang dapat mempercepat reaksi terurainya sukrosa menjadi glukosa dan
fruktosa, dimana pada akhir reaksi akan terbentuk kembali. Pada sukrosa yang memiliki
putaran optik +ojika terhidrolisisakan terdapat campuran D-Glukosa dan D-Fruktosa
dalam jumlah yang sama. Setelah itu, diukur sudut putarnya dalam waktu
(0,5,10,15,20,25) menit. Didapatkan besar sudut putarnya. Persamaan reaksinya sebagai
berikut

C6H22O11(s) + H2O(l) H+ C6H22O11(aq) + C6H12O6(aq)


Dari percobaan yang telah dilakukan menghasilkan data sebagai berikut:

t(menit) Skala putar

0 69,50 o

5 66,95 o

10 60,5 o

15 56,7 o

20 45,1 o

25 41,6o

Dapat dilihat di tabel diatas bahwa semakin lama waktunya maka semakin kecil
skala putarnya. Itu menandakan bahwa itu sudah terhidrolisis. Kemudian dihitung sudut
putar jenis menggunakan rumus:

putaran yang diamati


[α] =
panjang tabung dalam dm  kadar ( gram per mol )

t Skalaputar [α]
0 69,50 o 330,550
5 66,95 o 318,809
10 60,5 o 288,095
15 56,7 o 270,000
20 45,1 o 214,761
25 41,6o 198,095

Laju inversi gula adalah laju reaksi hidrolisis sukrosa menjadi fruktosa dan
glukosa. Reaksi inversi adalah reaksi hidrolisis irreversibel, dimana satu molekul sukrosa
dan satu molekul air menghasilkan satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa.
Salah satu tujuan percobaan ini adalah menentukan orde reaksi pada inversi gula. Dalam
menentukan orde reaksi ada dua metode yaitu metode differensial dan metode integral.
Pada percobaan inversi gula ini menggunakan metode integral, dikarenakan data yang
kami peroleh atau kami cari adalah konsentrasi (skala putar) tiap saat dengan waktu yang
sudah ditentukan. Ada dua cara dalam menentukan orde reaksi yaitu grafik dan non
grafik.

Menentukan orde reaksi dengan grafik metode integral. Dimana a adalah sudut
putar awal (sukrosa) dan (a-x) adalah sudut putar tiap saat (sukrosa + HCl). Data yang
kami peroleh sebesar

t a (a-x) ln (a-x) 1/(a-x) ln a 1/a


0 330,55
300 330,55 318,809 5,764592 0,003137 5,800758 0,003025
600 330,55 288,095 5,66329 0,003471 5,800758 0,003025
900 330,55 270 5,598422 0,003704 5,800758 0,003025
1200 330,55 214,761 5,369526 0,004656 5,800758 0,003025
1500 330,55 198,095 5,288747 0,005048 5,800758 0,003025

Sehingga grafik yang kami peroleh yakni :

GRAFIK INVERSI GULA ORDE 1


5.9
5.8
5.7
ln (a-x)

5.6
5.5
5.4
5.3 y = -0.0004x + 5.9106
R² = 0.9623
5.2
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600
t
GRAFIK INVERSI GULA ORDE 2
0.006
y = 2E-06x + 0.0025
0.005
R² = 0.9493
0.004

0.003

0.002

0.001

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600

Pada grafik berorde 1 antara ln (a-x) vs t, diperoleh regresi sebesar 0.9623. Dan
pada grafik berorde 2 antara 1/(a-x) vs t, diperoleh regresi sebesar 0.9493. Dari kedua
orde tersebut regresi yang mendekati 1 adalah grafik orde 1. Sehingga orde reaksi yang
kami peroleh menggunakan grafik yaitu orde 1.

Menentukan orde reaksi dengan non grafik metode integral. Dimana a adalah
sudut putar awal (sukrosa) dan (a-x) adalah sudut putar tiap saat (sukrosa + HCl). Non
grafik disini adalah melalui perhitungan yaitu menggunakan rumus tetapan laju bagi
inversi gula yaitu:

Pada orde satu

Mencari harga k dengan rumus

a
ln
k
a  x
t
k = tetapan konsentrasi laju reaksi
a = konsentrasi mula-mula
(a-x) = konsentrasi setiap reaksi
t = waktu
t k orde 1

5 1,2 𝑥10−4

10 2,3 𝑥10−4

15 2,26 𝑥10−4

20 3,6 𝑥10−4

25 3,413 𝑥10−4

Setelah sudah memperoleh harga k nya maka tinggal di bandingkan manakah


harga k yang memiliki selisih yang sedikit atau hampir sama antara k berorde 1 atau k
berorde 2. Dapat dilihat diatas bahwa k berode 1 yang memiliki selisih sedikit atau
hampir sama, sehingga pada percobaan ini diperoleh orde reaksinya 1.

X. Kesimpulan
Gula merupakan senyawa yang dapat terhidrolisis menjadi glukosa dan fruktosa. Gula
bersifat zat optik aktif sehingga dapat memutar bidang polarisasi. Sudut putar larutan
gula 10% adalah 70,9⁰. Grafik yang diperoleh didapatkan R2 = 0,9623 untuk orde 1,
sehingga larutan sukrosa termasuk orde reaksi satu (pseudo) karena laju reaksi hanya
tergantung pada satu konsentrasi satu saja yaitu [C12H22O11] sedangkan pada H2O tidak
berpengaruh pada reaksi tersebut.
Lampiran Jawaban Pertanyaan

1. Apa fungsi penambahan larutan HCl?

Fungsi dari HCl adalah sebagai katalis yang dapat mempercepat reaksi
terurainya sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dimana hasil akhir reaksi
akan terbentuk kembail/tidak ikut bereaksi dan mencari jalur alternatif
yang membutuhkan Ea yang kecil/rendah.

2. Berikan sedikitnya 3 contoh zat optis selain gula dan berapa sudut
putarnya berdasarkan kajian pustaka dan pengamatan anda?

Galaktosa [𝛼]= +83,90 dan nikotin dengan pelarut air [𝛼]= -770
(Prasetio,dkk)

3. Berapa sudut putar larutan sukrosa, larutan glukosa, dan larutan fruktosa
berdasarkan kajian pustaka anda?

 sukrosa memiliki rotasi sebesar +66,50


 glukosa memiliki alpha sebesar +52,70
 fruktosa memiliki alpha -92,40