You are on page 1of 21

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK II

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KELAINAN CONGENITAL


SISTEM DIGESTIVE HISPRUNG

OLEH:
KELOMPOK 1
Asti Winda Wati
Deswinta
Elvina Delviantari
Ihwahyuni
Messa Prayoga
Khairomi Putri Sari

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2018
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Allah Swt yang telah


memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga makalah berjudul
Asuhan Keperawatan Anak Dengan Kelainan Congenital Sistem Digestive
Hisprung dapat terselesaikan dengan baik. Penulis berharap makalah ini dapat
dijadikan sebagai bahan referensi dan menjadi gambaran bagi pembaca
mengenai ilmu pendidikan khususnya yang berkaitan dengan dunia
keperawatan.
Oleh karena itu, penulis mengaharapkan kritik dan saran yang
mendukung, demi lebih sempurnanya makalah ini. Akhir kata, penulis hanya
berharap agar hasil makalah ini dapat berguna bagi semua pihak dan menjadi
sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca.

Pekanbaru, 21 November 2018

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. i


DAFTAR ISI............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................... 3
A. Definisi Hisprung .......................................................................... 3
B. Etiologi Hisprung .......................................................................... 4
C. Patofisiologi Hisprung................................................................... 5
D. Manifestasi klinis .......................................................................... 5
E. Pemeriksaan fisik ..........................................................................
F. Pemeriksaan penunjang .................................................................
G. Pemeriksaan Diagnostik ................................................................
H. Penatalaksaan ...............................................................................
I. Komplikasi ....................................................................................
J. Askep Hisprung .............................................................................
BAB III PENUTUP ................................................................................. 9
A. Kesimpulan.................................................................................... 9
B. Saran .............................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Usus besar merupakan organ yang ada dalam tubuh manusia. Usus
besar merupakan tabung muscular dengan panjang sekitar 1,5 m yang terdiri
dari sekum, kolon, dan rectum. Dimana diameter usus besar lebih besar
daripada usus kecil. Semakin ke bawah menuju rectum, diameternya akan
semakin kecil (Izadi M, 2007). Secara fisiologis, usus besar berfungsi untuk
menyerap air, vitamin, dan elektrolit. Selain itu, usus besar juga berfungsi
untuk menyimpan feses, dan mendorongnya keluar. Inervasi usus besar
dilakukan oleh sistem saraf otonom.
Penyakit Hisprung atau Hirschsprung Disease adalah suatu kondisi
langka yang menyebabkan feses menjadi terjebak di dalam usus besar. Bayi
baru lahir yang memiliki Megacolon congenital, nama lain penyakit
Hirschsprung, akan mengalami kesulitan buang air besar, tinja banyak
tertahan dalam usus besar sehingga terlihat perutnya membuncit. Insiden
penyakit hirschsprung di dunia adalah 1 : 5000 kelahiran hidup dengan angka
kematian berkisar antara 1 – 10%. Sedangkan menurut Ryan (1995) insiden
penyakit hirschsprung adalah 1 : 4400 sampai dengan 1 : 7000 kelahiran
hidup dengan rasio 4 : 1 pada pasien laki-laki dibandingkan perempuan.
Pasien dengan penyakit hisprung pertama kali dilaporkan oleh Frederick
Ruysch pada tahun 1691, tetapi yang baru mempublikasikan adalah Harald
Hirschsprung yang mendeskripsikan megakolon kongenital pada tahun 1863.
(Kartono, 1993) Penyakit hirschsprung diakibatkan oleh kegagalan migrasi
kraniokaudal prekursor sel ganglion di sepanjang saluran cerna selama
minggu ke-5 hingga ke-12.
B. Rumusan masalah
Apa itu Asuhan Keperawatan Anak Dengan Kelainan Congenital Sistem
Digestive Hisprung?
C. Tujuan

1
1. Tujuan Umum
Untuk menjelaskan tentang paradigma keperawatan
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan Definisi Hisprung
b. Mahasiswa mampu menjelaskan Etiologi Hisprung
c. Mahasiswa mampu menjelaskan Patofisiologi Hisprung
d. Mahasiswa mampu menjelaskan Manifestasi klinis
e. Mahasiswa mampu menjelaskan Pemeriksaan fisik
f. Mahasiswa mampu menjelaskan Pemeriksaan penunjang
g. Mahasiswa mampu menjelaskan Pemeriksaan Diagnostik
h. Mahasiswa mampu menjelaskan Penatalaksaan
i. Mahasiswa mampu menjelaskan Komplikasi
j. Mahasiswa mampu menjelaskan Askep Hisprung

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Hisprung
Menurut Suriadi (2015) Penyakit hirschprung di sebut juga kongenital
aganglionosis atau megacolon (aganglionic megacolon) yaitu tidak adanya sel
ganglion dalam rectum dan sebagian tidak ada dalam colon. Penyakit
hirschprung adalah anomaly kongenital yang mengakibatkan obstruksi
mekanik karena ketidak adekuatan motilitas sebagian dari usus. Penyakit ini
di sebabkan oleh gangguan perkembangan dari sistem syaraf enteric dengan
karakteristik tidak adanya sel ganglion kolon dan kolon tidak bisa
mengembang. Pada kondisi klinik penyakiy hirschprung lebih di kenal
dengan megakolon kongenital.
Hicrschprung adalah kelainan cacat bawaan bayi, dimana usus besar si
cabang bayi tidak memiliki syaraf motoric untuk gerakan peristaltic usus
besar, sehingga usus besar tersebut tidak mampu mengadakan kontraksi otot
untuk mengadakan gerakan peristaltic di bagian pangkal usus besarnya (
Hidayat, 2008). Akibatnya terjadi penyumbatan usus besar yang terjadi akibat
lemahnya pergerakan usus-usus besar untuk mengeluarkan faeces. Penyakit
Hisprung atau Hirschsprung Disease adalah suatu kondisi langka yang
menyebabkan feses menjadi terjebak di dalam usus besar. Bayi baru lahir
yang memiliki Megacolon congenital, nama lain penyakit Hirschsprung, akan
mengalami kesulitan buang air besar, tinja banyak tertahan dalam usus besar
sehingga terlihat perutnya membuncit.

B. Etiologi Hisprung
Sampai tahun 1930-an etiologi Penyakit Hirschsprung belum jelas di
ketahui. Penyebab sindrom tersebut baru jelas setelah Robertson dan
Kernohan pada tahun 1938 serta Tiffin, Chandler, dan Faber pada tahun 1940
mengemukakan bahwa megakolon pada penyakit Hirschsprung primer
disebabkan oleh gangguan peristalsis usus dengan defisiensi ganglion di usus

3
bagian distal. Sebelum tahun 1948 belum terdapat bukti yang menjelaskan
apakah defek ganglion pada kolon distal menjadi penyebab penyakit
Hirschsprung ataukah defek ganglion pada kolon distal merupakan akibat
dilatasi dari stasis feses dalam kolon. Aganglionosis pada penyakit
Hirschsprung bukan di sebabkan oleh kegagalan perkembangan inervasi
parasimpatik ekstrinsik, melainkan oleh lesi primer, sehingga terdapat
ketidakseimbangan autonomik yang tidak dapat dikoreksi dengan
simpatektomi. Kenyataan ini mendorong Swenson untuk mengengembangkan
prosedur bedah definitif penyakit Hirschsprung dengan pengangkatan segmen
aganglion disertai dengan preservasi sfingter anal (Kartono, 2010).
1. Sering terjadi pada anak dengan down syndrome
2. Kegagalan sel neural pada masa embrio di dalam usus, gagal eksistensi
kraniokaudal pada myenterik dan sub mukosa dinding plexus.

C. Patofisiologi Hisprung
1. Persyarafan parasimpatik colon di dukung oleh ganglion. Persyarafan
parasimpatik yang tidak sempurna pada bagian usus yang aganglionik
mengakibatkan peristaltic abnormal, sehingga terjadi konstipasi dan
obstruksi.
2. Tidak adanya ganglion di sebabkan kegagalan dalam migrasi sel ganglion
selama perkembangan embriologi. Karena sel ganglion tersebut
bermigrasi pada bagian kaudal saluran gastrointestinal (rectum), kondisi
ini akan memperluas hingga proksimal dari anus.
3. Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk
control kontraksi dan relaksasi peristaltic secara normal.
4. Penyempitan pada lumen usus, tinja dan gas akan terkumpul di bagian
proksimal dan terjadi obstruksi dan menyebabkan di bagian colon tersebut
melebar (megakolon).

D. Manifestasi klinis
1. GEJALA

4
Berdasarkan usia penderita gejala penyakit Hirschsprung dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu:
a. Periode neonatus
Ada trias gejala klinis yang sering dijumpai, yakni pengeluaran
mekonium yang terlambat, muntah bilious (hijau) dan distensi
abdomen. Terdapat 90% lebih kasus bayi dengan penyakit
Hirchsprung tidak dapat mengeluarkan mekonium pada 24 jam
pertama, kebanyakan bayi akan mengeluarkan mekonium setelah 24
jam pertama (24-48 jam). Muntah bilious (hijau) dan distensi abdomen
biasanya dapat berkurang apabila mekonium dapat dikeluarkan segera.
Bayi yang mengonsumsi ASI lebih jarang mengalami konstipasi, atau
masih dalam derajat yang ringan karena tingginya kadar laktosa pada
payudara, yang akan mengakibatkan feses jadi berair dan dapat
dikeluarkan dengan mudah (Kessman, 2008)
b. Periode anak-anak
Walaupun kebanyakan gejala akan muncul pada bayi, namun ada
beberapa kasus dimana gejala-gejala tersebut tidak muncul hingga usia
kanak-kanak (Lakhsmi, 2008). Gejala yang biasanya timbul pada anak-
anak yakni, konstipasi kronis, gagal tumbuh, dan malnutrisi.
Pergerakan peristaltik usus dapat terlihat pada dinding abdomen
disebabkan oleh obstruksi fungsional kolon yang berkepanjangan.
Selain obstruksi usus yang komplit, perforasi sekum, fecal impaction
atau enterocolitis akut yang dapat mengancam jiwa dan sepsis juga
dapat terjadi (Kessman, 2008).
2. TANDA
a. Anemia dan tanda-tanda malnutrisi
b. Perut membuncit (abdomen distention) mungkin karena retensi
kotoran.
c. Terlihat gelombang peristaltic pada dinding abdomen

5
d. Pemeriksaan rectal touche (colok dubur) menunjukkan sfingter anal
yang padat/ketat, dan biasanya feses akan langsung menyemprot
keluar dengan bau feses dan gas yang busuk.
e. Tanda-tanda edema, bercak-bercak kemerahan khususnya di sekitar
umbilicus, punggung dan di sekitar genitalia ditemukan bila telah
terdapat komplikasi peritonitis (Kessman, 2008; Lakhsmi, 2008)

E. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi, perut kembung atau membuncit di seluruh lapang
pandang. Apabila keadaan sudah parah, akan terlihat pergerakan usus pada
dinding abdomen. Saat dilakukan pemeriksaan auskultasi, terdengar bising
usus melemah atau jarang. Untuk menentukan diagnosis penyakit
Hirschsprung dapat pula dilakukan pemeriksaan rectal touche dapat dirasakan
sfingter anal yang kaku dan sempit, saat jari ditarik terdapat explosive stool
(Izadi,2007; Lorijn,2006; Schulten,2011).
F. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Biopsi
Memastikan keberadaan sel ganglion pada segmen yang terinfeksi,
merupakan langkah penting dalam mendiagnosis penyakit Hirschsprung.
Ada beberapa teknik, yang dapat digunakan untuk mengambil sampel
jaringan rektum. Hasil yang didapatkan akan lebih akurat, apabila
spesimen/sampel adekuat dan diambil oleh ahli patologi yang
berpengalaman. Apabila pada jaringan ditemukan sel ganglion, maka
diagnosis penyakit Hirschsprung dieksklusi. Namun pelaksanaan biopsi
cenderung berisiko, untuk itu dapat di pilih teknik lain yang kurang
invasive, seperti Barium enema dan anorektal manometri, untuk
menunjang diagnosis(Lorijn,2006;Schulten,201 1).
2. Pemeriksaan Radiologi
Pada foto polos, dapat dijumpai gambaran distensi gas pada usus,
tanda obstruksi usus (Lakhsmi, 2008) Pemeriksaan yang digunakan
sebagai standar untuk menentukan diagnosis Hirschsprung adalah

6
contrast enema atau barium enema. Pada bayi dengan penyakit
Hirschsprung, zona transisi dari kolon bagian distal yang tidak dilatasi
mudah terdeteksi (Ramanath,2008). Pada total aganglionsis colon,
penampakan kolon normal. Barium enema kurang membantu penegakan
diagnosis apabila dilakukan pada bayi, karena zona transisi sering tidak
tampak. Gambaran penyakit Hirschsprung yang sering tampak, antara
lain; terdapat penyempitan di bagian rectum proksimal dengan panjang
yang bervariasi; terdapat zona transisi dari daerah yang menyempit
(narrow zone) sampai ke daerah dilatasi; terlihat pelebaran lumen di
bagian proksimal zona transisi (Schulten,2011).
3. Pemeriksaan Anorectal Manometry

Pada individu normal, distensi pada ampula rectum menyebabkan


relaksasi sfingter internal anal. Efek ini dipicu oleh saraf intrinsic pada
jaringan rectal, absensi/kelainan pada saraf internal ini ditemukan pada
pasien yang terdiagnosis penyakit Hirschsprung. Proses relaksasi ini bisa
diduplikasi ke dalam laboratorium motilitas dengan menggunakan metode
yang disebut anorectal manometry

D. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan rectum
2. Pemeriksaan dengan barium enema
3. Pemeriksaan rectal biopsy

Diagnosis penyakit hirschsprung dapat ditegakkan dengan melakukan


pemeriksaan fisik dan laboratorium. Pemeriksaan fisik pada anak dengan
hirschsprung ditemukan abdomen sering mengalami distensi dengan feses
yang teraba di kolon kiri. Pada neonatus penderita enterokolitis dan
peritonitis mekoneum dapat terlihat nyeri lepas dan tanda-tanda peritoneum.
Ampula rekti kecil dan kosong. Sedangkan pemeriksaan laboratorium dapat
dilakukan dengan radografi abdomen maupun pemeriksaan barium enema

7
tanpa persiapan. (Schwartz, 2005).
E. Penatalaksaan Hisprung
Tujuan umum dalam penatalaksaan penyakit Hirchsprung meliputi:
1. untukmemperbaiki gejala klinis dan komplikasi yang tidak teratasi
2. untukmemonitor tindakan sementara sampai bedah rekonstruksi
3. untuk menjagafungsi usus pasca pembedahan (Kartono, 2010).
Pada prinsipnya, sampai saat ini, penyembuhan penyakit Hirschsprung
hanyadapat dicapai dengan pembedahan. Tindakan-tindakan medis dapat
dilakukan tetapi hanya untuk sementara dimaksudkan untuk menangani
distensi abdomen dengan pemasangan pipa anus atau pemasangan pipa
lambung dan irigasi rektum. Pemberian antibiotika dimaksudkan untuk
pencegahan infeksi terutama untuk enterokolitis dan mencegah terjadinya
sepsis. Cairan infus dapat diberikan untuk menjaga kondisi nutrisi penderita
serta untuk menjaga keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa tubuh
(Pieter, 2005). Pilihan bedah bervariasi tergantung pada usia pasien, status
mental, kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari, panjang
segmen aganglionik, derajat dilatasi kolon, dan kehadiran enterokolitis.
Pilihan bedah kolostomi termasuk pada tingkat usus normal, irigasi rektal
diikuti oleh reseksi usus dan prosedur kolostomi (Mustaqqin dan Sari, 2011)
Penanganan bedah pada umumnya terdiri atas dua tahap yaitu tahap
pertama dengan pembuatan kolostomi dan tahap kedua dengan melakukan
operasi definitif. Tahap pertama dimaksudkan sebagai tindakan darurat untuk
mencegah komplikasi dan kematian. Pada tahapan ini dilakukan kolostomi,
sehingga akan menghilangkan distensi abdomen dan akan memperbaiki
kondisi pasien. Tahapan kedua adalah dengan melakukan operasi definitif
dengan membuang segmen yang aganglionik dan kemudian melakukan
anastomosis antara usus yang dengan bagian bawah rektum. Dikenal
beberapa prosedur tindakan definitif yaitu prosedur Swenson, prosedur
Duhamel, prosedur Soave, prosedur Rehbein dengan cara reseksi anterior,
prosedur Laparoscopic Pull-Through, prosedur Transanal Endorectal Pull-
Through dan prosedur miomektomi anorektal (Hidayat, 2009).

8
Tindakan bedah sementara pada penderita penyakit Hirschsprung
adalah berupa kolostomi pada usus yang memiliki ganglion normal paling
distal. Tindakan ini dimaksudkan guna menghilangkan obstruksi usus dan
mencegah enterokolitis sebagai salah satu komplikasi yang berbahaya.
Manfaat lain dari kolostomi adalah: menurunkan angka kematian pada saat
dilakukan tindakan bedah definitif dan mengecilkan kaliber usus pada
penderita penyakit Hirschsprung yang telah besar sehingga memungkinkan
dilakukan anastomose. Kolostomi tidak dikerjakan bila dekompresi secara
medic berhasil dan direncanakan bedah definitif langsung. Kolostomi
merupakan kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang di
buat untuk sementara atau menetap. Indikasi kolostomi adalah dekompresi
usus pada obstruksi, stoma sementara untuk bedah reseksi usus pada radang,
atau perforasi, dan sebagai anus setelah reseksi usus distal untuk melindungi
anastomosis distal. Kolostomi dapat berupa stoma ikat atau stoma ujung.
Kolostomi dikerjakan pada:
1) Pasien neonatus.
Tindakan bedah definitif langsung tanpa kolostomi menimbulkan banyak
komplikasi dan kematian. Kematian dapat mencapai 28,6%, sedangkan
pada bayi 1,7%. Kematian ini disebabkan oleh kebocoran anastomosis dan
abses dalam rongga pelvis.
2) Pasien anak dan dewasa yang terlambat terdiagnosis.
Kelompok pasien ini mempunyai kolon yang sangat terdilatasi, yang
terlalubesar untuk dianastomosiskan dengan rectum dalam bedah definitif.
Dengantindakan kolostomi, kolon dilatasi akan mengecil kembali setelah
3 sampai 6 bulan pascabedaah, sehingga anastomosis lebih mudah
dikerjakan dengan hasil yang lebih baik.
3) Pasien dengan enterokolitis berat dan dengan keadaan umum yang
buruk.Tindakan ini dilakukan untuk mencegah komplikasi pasca bedah,
dengankolostomi pasien akan cepat mencapai perbaikan keadaan umum.
Pada pasienyang tidak termasuk dalam kategori 1, 2, dan 3 tersebut dapat
langsungdilakukan tindakan bedah definitif (Kartono, 2010).

9
F. Komplikasi Hisprung
Komplikasi potensial untuk operasi kompleks terkait dengan penyakit
Hirschsprung mencakup seluruh spektrum komplikasi dari tindakan bedah
gastrointestinal. Komplikasi termasuk peningkatan insiden enterokolitis pasca
operasi dengan prosedur Swenson, sembelit setelah perbaikan Duhamel, dan
diare dan inkontinensia dengan prosedeur Soave. Secara umum, komplikasi
kebocoran anastomosis dan pembentukan striktur (5-15%), obstruksi usus
(5%), abses pelvis (5%), infeksi luka (10%), dan membutuhkan re-operasi
kembali (5%), seperti prolaps atau striktur. Kemudian, komplikasi yang
terkait dengan manajemen bedah penyakit Hirschsprung termasuk
enterokolitis, gejala obstruktif, inkontinensia, sembelit kronis (6-10%), dan
perforasi.
Enterokolitis menyumbang morbiditas dan mortalitas yang signifikan
pada pasien dengan penyakit Hirschsprung. Hasil enterokolitis dari proses
inflamasi pada mukosa dari usus besar atau usus kecil. Sebagai penyakit
berlangsung, lumen usus menjadi penuh dengan eksudat fibrin dan berada
pada peningkatan risiko untuk perforasi. Proses ini dapat terjadi di kedua
bagian aganglionik dan ganglionik usus transisi. Pasien mungkin hadir pasca
operasi dengan distensi abdomen, muntah, sembelit atau indikasi obstruksi
yang sedang berlangsung. Obstruksi mekanik dapat dengan mudah
didiagnosis dengan rektal digital dan barium enema. Komplikasi ini perlu
diketahui secara dini karena dapat mengakibatkan kematian pada setiap saat
bila penanganan tidak memadai (Lee, 2012).
G. Askep Hisprung
1. Pengkajian
a) Riwayat pengeluaran meconium dalam 24 jam pertama setelah akhir
b) Riwayat tinja seperti pita dan bau busuk
c) Pengkajian status nutrisi dan status hidrasipada
d) Pengkajian status bising usus untuk melihat pola bunyi hiperaktif pada
bagian proksimal karena obstruksi

10
e) Pengkajian psikososial keluarga
2. Diagnosa keperawatan
a) Konstipasi berhubungan dengan penyakit hisprung
b) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor
biologis
c) Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan persiapan
pembedahan, intake yang kurang, mual dan muntah.
d) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan colostomy dan
perbaikan pembedahan.
e) Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedaha dan adanya
insisi
f) Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
g) Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kebutuhan irigasi,
pembedahan dan perawatan colostomy.
h) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan colostomy dan irigasi.
3. Intervensi Keperawatan
Nd. 1: konstipasi b/d penyakit hirschsprung.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
fesesnya kembali normal.
Kriteria Hasil: ( Eliminasi usus )
1. Warna feses normal.
2. Kemudahan BAB.
3. Feses lembut dan berbentuk.
4. Tidak ada nyeri pada saat BAB.
5. Tidak ada darah dalam feses.
INTERVENSI (pemberian enema)
O N
1. Monitor respon pasien terhadap 1. Bantu pasien memberikan perinium.
prosedur, termasuk tanda 2. Tentukan tinggi kantong enema,
intoleransi( misalnya , volume, cairan, frekuensi pengisian,

11
perdarahan rectum, distensi, dan dan penanganan selang.
nyeri abdomen) 3. Bantu pasien dengan memberikan
2. Monitor karakter feses dan posisi yang sesuai ( misalnya posisi
cairannya ( misalnya warna, miring kiri dengan lutut kanan fleksi
banyaknya , dan peampilan ) pada org dewasa, dan dorsal
recumben pada anak.
E C
1. Instruksikan klien untuk 1. Kolaborasi dengan dokter cairan
menggunakan metode enema.
mengurangi kecemasan (
misalnya teknik bernafas dalam,
distraksi visualisasi, meditasi,
dll).
2. Instruksikan pada pasien untuk
menarik nafas sebelum cairan
dimasukkan.
Nd. 2: ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor
biologis

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan


status nitrisi bayi terpenuhi
Kriteria Hasil:
1. intake nutrisi pasien terpenuhi
2. intake makanan pasien lewat mulu pasien terpenuhi
3. intake cairan pasien lewat mulut pasien terpenuhi
4. status hidrasi pasien terpenuhi
5. pertumbuhan pasien kembali normal
INTERVENSI (manajemen cairan dan elektrolit)

12
O N
1. Monitor ttv 1. Berikan dialisis dan catat reaksi
2. Monitor respon pasien terhadap pasien.
terapi elektrolit yang diresepkan 2. Tentikan jumlah jenis intake/asupa
3. Monitor manifestasi dari cairan.
ketidakseimbangan elektrolit 3. Berikan cairan yang tepat.
4. Monitor kehilangan cairan (mual
muntah)

E C
3. Bantu pasien dengan gejala sisa 1. Kolaborasi dengan dokter jika
yang tidak di inginkan pengeluaran urin kurang dari
4. Intruksikan pasien dan keluarga 0.5ml/kg/jam.
mengenai alasan pembatasan
cairan
Nd. 3: resiko kekurangan volume cairan b/d persiapan pembedahan, intake
yang kurang, mual dan muntah.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan
volume pasien kembali normal.
Kriteria Hasil: (keseimbangan cairan)
1. Ttv normal.
2. Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam.
3. Kelembapan membran mukosa.
Intervensi (monitor cairan)
O O
1. Monitor berat badan. 4. Monitor berat badan.
2. Monitor ttv 5. Monitor ttv
3. Monitor asupan dan 6. Monitor asupan dan pengeluaran.
pengeluaran.

13
E E
1. Intrusikan ke pasien untuk 4. Intrusikan ke pasien untuk makan
makan makanan yang makanan yang menambah asupan
menambah asupan cairan. cairan.
Nd.4 : kerusakan integritas kulit b/d colostomy dan perbaikan pembedahan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam,
gangguan integritas kulit dapat diminimalisir

Kriteria Hasil:
4. turgor kulit normal
5. CRT kembali < 2 detik
6. Kelembaban kulit bertambah
7. Tidak ada luka / lesi pada kulit (decubitus)
Intervensi
O N
1.Monitor TTV 1. Memandikan pasien dengan air
2. Monitor adanya iritasi pada kulit hangatdan sabun.
pasien 2. Bersihkan dengan sabun antibakteri
dengan tepat
3. Tutupi tangan dengan sarung tangan
dengan tepat
4. Berikan bedak kering didalam
lipatan kulit

E C
2. Tempatkan pada bantalan 1. Beri baby oil pada daerah yang
inkontinensia dengan tepat tertekan dan jaga kebersihan kulit
2. Berikan pembersihan topikal pada
daerah yang terkena dengan tepat
3. Oleskan krim jika perlu.

14
Nd. 5: risiko infeksi b/d prosedur pembedahan dan adanya insisi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan
proses keperawatan resiko infeksi dapat teratasi dan luka sembuh sempurna
Kriteria Hasil:
1. Pasien bebas dari gejala infeksi
2. Mengetahui proses penularan penyakit
3. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
4. Menunjukan perilaku hidup sehat

INTERVENSI (pemberian enema)


O O
5. Monitor tanda gejala infeksi 8. Monitor tanda gejala infeksi sistemik
sistemik dan local dan local
6. Monitor kerentanan terhadap 9. Monitor kerentanan terhadap infeksi
infeksi 10. kaji insisi pembedahan, bengkak
7. kaji insisi pembedahan, bengkak dan drainage.
dan drainage.
E E
5. Posisikan untuk menghindari 7. Posisikan untuk menghindari
menempatkan ketegangan pada menempatkan ketegangan pada luka
luka dengan tepat dengan tepat
6. Pertahankan teknik balutan 8. Pertahankan teknik balutan steril
steril ketika melakukan ketika melakukan perawatan luka
perawatan luka dengan tepat dengan tepat

Nd. 6: : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (pembedahan


Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 1x24 diharapkan nyeri pasien
berkurang (skala 0-1)
Kriteria Hasil:
1. Mengenal kapan nyeri terjadi

15
2. TTV normal
3. mampu melaporkan gejala yang tidak terkontrol
INTERVENSI (kontrol nyeri)
O N
1. Observasi adanya petunjuk 1. Berikan obat sebelum melakukan
nonverbal, mengenal aktivitas
ketidaknyamanan terutama
pada yang tidak dapat
berkomunikasi

E C
1. Kolaborasi dengan pasien, 2. Berikan pasien obat penurun
orang terdekat dan tim nyeri yang optimal dengan
kesehatan laiinya untuk peresepan analgesic
memilih tindakan
penurunan nyeri

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit Hisprung atau Hirschsprung Disease adalah suatu kondisi
langka yang menyebabkan feses menjadi terjebak di dalam usus besar. Bayi
baru lahir yang memiliki Megacolon congenital, nama lain penyakit
Hirschsprung, akan mengalami kesulitan buang air besar, tinja banyak
tertahan dalam usus besar sehingga terlihat perutnya membuncit
B. Saran
Bagi mahasiswa calon perawat diharapkan dapat memahami askep
hisprung beserta konsepnya dan juga teori keperawatan agar bisa
mengaplikasikannya pada saat bertemu dengan pasien/klien yang berbeda
beda dirumah sakit nanti.

DAFTAR PUSTAKA

17
Muslim, Coirul, Musni dkk. 2016. Beberapa Kejadian Cacat Bawaan Bayi Lahir
Di Rumah Sakit M. Yunus Bengkulu Dalam Satu Dekade Terakhi. ISBN:
978-602-72245-1-3. Makasar : Alaudin

Mangungsong, Devi. 2017. Gambaran Pasien Penyakit Hirschsprung pada Bayi


Usia 0-12 Bulan di RSUP Haji Adam Malik MedanTahun 2012-
2016.SripsiSarjana: USU.
Suriadi dan Rita. 2015. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : Salemba
Mediaka
Suryandari, Artathi Eka. 2011. Analisis Faktor Yang MempengaruhiHirschsprung
Di Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Hasil-Hasil
Penelitian Pengabdian Masyarakat. ISBN 978-602-50798-0-. Purwokwrto:
Akbid YLPP

18