You are on page 1of 55

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 1

HEPATITIS A MENYEBAR DI SEKOLAH

Blok 7.1

Tutor : dr. Patrick William Gading, Sp. KFR

KELOMPOK 6B
Seslastri Randeni G1A115028
Laila Hanifah G1A115029
Ulfadiya Putri G1A115045
Hairon Dhiyaulhaq G1A115046
Regina Dwindarti Darosty G1A115064
Febrima Cahyani G1A115065
Cyndi Natalia Susanto G1A115066
Novia Martha Theresya G1A115097
Siti Agusriantina G1A115099
Dinda Asri Aisyah G1A115100

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018/2019
Hepatitis A Menyebar di Sekolah

Dino membaca surat kabar hari ini yang memberitakan adanya kejadian hepatitis A pada
anak-anak di SDN 06 Jambi. Dinas Kesehatan Jambi sudah melakukan investigasi dan
mendapatkan bahwa sumber penyebaran dari kantin sekolah yang menjual jajanan yang
sangat ramai saat jam istirahat. Keadaan sanitasi dan pengelolaan limbah di sekitar sekolah
masih belum baik, sehingga memungkinkan terjadinya penyakit-penyakit berbasis
lingkungan. Dinas Kesehatan dalam rangka penanganan lebih lanjut meminta kepada pihak
sekolah agar melaksanakan prinsip dasar sanitasi, sanitasi makanan dan minuman serta
melakukan langkah-langkah pengelolaan sanitasi di tempat-tempat umum.
I. KLARIFIKASI ISTILAH
1. Hepatitis A : Penyakit infeksi akut pada hati yang
disebabkan virus hepatitis A (HAV), yang
paling sering ditularkan melalui jalur fecal-oral
melalui makanan yang terkontaminasi atau air
minum.1

2. Investigasi : Penyelidikan untuk mengetahui kesalahan atau


kebenaran dalam sebuah fakta.2

3. Sanitasi : Upaya pengendalian semua faktor lingkungan


fisik manusia yang dapat menimbulkan hal hal
yang merugikan bagi perkembangan fisik,
kesehatan, daya tahan tubuh manusia.1

4. Limbah : Sisa suatu usaha kegiatan yang mengandung


bahan berbahaya bagi lingkungan dan mahkluk
hidup lainnya.2

5. Penyakit Berbasis Lingkungan : Kondisi patologis yang mengakibatkan


terjadinya kelainan baik secara morfologi
maupun fisiologi yang diakibatkan karena
interaksi manusia dan lingkungan yang
menimbulkan penyakit.1
II. IDENTIFIKASI ISTILAH

1. Apa penyebab dan faktor risiko dari Hepatitis A?


2. Bagaimana cara penularan dan pencegahan dari Hepatitis A?
3. Apa saja gejala klinis Hepatitis A?
4. Bagaimana komplikasi dari Hepatitis A?
5. Bagaimana cara investigasi wabah ?
6. Bagaimana kriteria tempat jajan yang sehat?
7. Apa hubungan tempat jajan yang ramai dengan hepatitis A?
8. Bagaimana tata cara pengolahan limbah?
9. Apa saja penyakit yang berbasis lingkungan?
10. Bagaimana cara mengurangi dan mencegah PBL?
11. Bagaimana sanitasi makanan dan minuman yang baik?
12. Bagaimana prinsip dasar sanitasi ditempat umum (sekolah)?
13. Bagaimana langkah langkah pengelolaan sanitasi di tempat umum?
III. BRAINSTORMING

1. Apa penyebab dan faktor risiko dari Hepatitis A ?


Jawab :
Penyebab : Virus Hepatitis A
Faktor resiko : Sanitasi yang buruk,pengelolaan limba yang kurang baik, tidak
divaksin

2.Bagaimana cara penularan dan pencegahan dari Hepatitis A ?


Jawab :
Penularan :
- Secara fecal-oral
- Kontak fisik
- Hub seksual

Pencegahan : PHBS, hindari kontak, vaksinasi

3.Bagimana Gejala klinis dari Hepatitis A ?


Jawab :
- Fase preikterik, ikterik, perbaikan
- Akut : demam, mual – muntah , nyeri

4. Bagaimana komplikasi dari Hepatitis A ?


Jawab : -

5. Bagaimana cara investigasi wabah ?

Jawab :

- Persiapan investigasi, administrasi, konsultasi


- Konfirmasi
- Perifikasi
- Cek lab
- Definisi kasus

6. Bagaimana kriteria tempat jajan yang sehat?

Jawab :

Ada tempat cuci tangan, ada tempat penyimpanan alat makan, ada ventilasi,
ada tempat pembuangan sementara yang berjarak 20 m
7. Apa hubungan tempat jajan yang ramai dengan hepatitis A?

Jawab :

Kemungkinan karena hygienitas tidak baik, kontak fisik, sanitasi lingkungan tidak baik

8. Bagaimana tata cara pengolahan limbah?

Jawab :

Reduse, reuse, recycle

9. Apa saja penyakit yang berbasis lingkungan?

Jawab :

DBD, malaria, hepatitis, tb paru, diare, cacingan, ispa

10. Bagaimana cara mengurangi dan mencegah PBL?

Jawab :

Berhenti BAB sembarangan, pengendalian smber pajanan penyakit.

11. Bagaimana sanitasi makanan dan minuman yang baik?

Jawab :

Pemilihan bahan, penyimpanan, pengelolahan, pengangkutan, penyajian

12. Bagaimana prinsip dasar sanitasi ditempat umum (sekolah)?

Jawab :

Terdapat beberapa indikator kriteria sekolah sehat

13. Bagaimana langkah langkah pengelolaan sanitasi di tempat umum?

Jawab :

Identifikasi masalah hygiene sanitasi dan pemeriksaan


IV. ANALISIS MASALAH

1. Apa penyebab dan faktor risiko dari Hepatitis A?

Jawab :

Penyebab dari Hepatitis A

Hepatitis A adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A. Virus
ini menyebar terutama bila (dan tidak divaksinasi) tidak terinfeksi orang ingests
makanan atau air yang terkontaminasi dengan tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini
sangat erat kaitannya dengan kurangnya air bersih, sanitasi yang tidak memadai dan
kebersihan pribadi yang buruk.3

Hepatitis A virus akut merupakan infeksi virus yang ditularkan melalui


transmisi enteral virus RNA yang mempunyai diameter 27 nm. Virus ini bersifat self-
limiting dan biasanya sembuh sendiri, lebih sering menyerang individu yang tidak
memiliki antibodi virus hepatitis A seperti pada anak-anak, namun infeksi juga dapat
terjadi pada orang dewasa. Jarang terjadi fulminan (0.01%) dan transmisi menjadi
hepatitis konis tidak perlu ditakuti, tidak ada hubungan korelasi akan terjadinya
karsinoma sel hati primer. Karier HAV sehat tidak diketahui. Infeksi penyakit ini
menyebabkan pasien mempunyai kekebalan seumur hidup.4
HAV terdiri dari asam nukleat yang dikelilingi oleh satu atau lebih
protein.beberapa virus juga memiliki outer-membran envelop. Virus ini bersifat
parasite obligat intraseluler, hanya dapat bereplikasi didalam sel karena asam
nukleatnya tidak menyandikan banyak enzim yang diperlukan untuk metabolisme
protein, karbohidrat atau lipid untuk menghasilkan fosfat energi tinggi. Biasanya asam
nukleat virus menyandi protein yang diperlukan untuk replikasi dan membungkus
asam nukleatnya pada bahan kimia sel inang. Replikasi HAV terbatas di hati, tetapi
virus ini terdapat didalam empedu, hati, tinja dan darah selama masa inkubasi dan fase
akhir preicterik akut penyakit.
HAV digolongkan dalam picornavirus, subklasifikasi sebagai hepatovirus,
diameter 27 – 28 nm dengan bentuk kubus simetrik, untai tunggal (single stranded),
molekul RNA linier 7,5 kb, pada manusia terdiri dari satu serotipe, tiga atau lebih
genotipe, mengandung lokasi netralisasi imunodominan tunggal, mengandung tiga
atau empat polipeptida virion di kapsomer, replikasi di sitoplasma hepatosit yang
terinfeksi, tidak terdapat bukti adanya repliksai di usus, menyebar pada galur primata
non manusia dan galur sel manusia.5

Faktor resiko dari hepatitis A

Faktor risiko dari hepatitis A meliputi :


a. Sanitasi yang buruk
b. Kurangnya sarana air bersih
c. Tinggal satu rumah dengan orang yang terinfeksi hepatitis A
d. Mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja dari penderita
hepatitis A
e. Menjadi mitra seksual dengan orang yang terinfeksi hepatitis A akut
f. Berpergian ke daerah endemis tanpa vaksinasi.5

2. Bagaimana cara penularan dan pencegahan dari Hepatitis A?

Jawab :

a. Penularan
Hepatitis virus A ditularkan terutama melalui jalur fecal-oral. Bisa terjadi
ketika orang yang tidak terinfeksi mengkonsumsi makanan atau air yang telah
terkontaminasi dengan tinja orang yang terinfeksi. Wabah ditularkan melalui air,
meskipun jarang terjadi, biasanya berhubungan dengan limbah terkontaminasi.
Virus ini juga dapat ditularkan melalui kontak fisik dekat dengan orang yang
terinfeksi, meskipun kontak biasa antara orang-orang tidak menyebarkan virus.6

b. Pencegahan
Dapat dilakukan melalui menghindari kontak dengan pasien, meningkatkan
higienitas individu (cuci tangan, makan makanan bersih, dan sebagainya), maupun
vaksinasi hepatitis A.
Vaksinasi hepatitis A berupa injeksi immunoglobulin 1 mL IM yang diulang
setiap 6-18 bulan tergantung vaksin, dengan efektifitas yang mencapai 80-100%.
Vaksinasi tersebut diindikasikan bagi individu berikut:
- Individu yang akan pergi ke tempat endemis. Vaksinasi diberikan 2 minggu
sebelum keberangkatan
- Pasien dengan penyakit hati kronis vaksinasi hepatitis A. Namun, efektifitas
vaksinasi pada kelompok dengan penyakit hati lanjut atau imunokompromi
lebih rendah.
- Pasien dengan potensi hepatitis A tinggi yakni sosioekonomi rendah,
kebersihan air dan sanitasi yang buruk.
Vaksin hepatitis A belum direkomendasikan pada pasien berusia <2 tahun.
Saat ini, vaksin yang tersedia berupa Havrix® danVaqta®.6

3. Apa saja gejala klinis Hepatitis A?

Jawab :

Masa inkubasi hepatitis A bervariasi antara 14-28 hari dengan gejala klinis yang
juga bervariasi mulai dari asimtomatik hingga simtomatik, tergantung pada usia. Pada
anak berusia <6 tahun, sekitar 70% kasus tidak menunjukkan gejala spesifik, sedangkan
pada kasus dewasa sekitar 85% memperlihatkan gejala dan membutuhkan rawat inap. Gejala
yang terjadi dapat berupa demam, tidak nafsu makan, diare, mual, rasa tidak nyaman di
perut, kemih berwarna gelap, dan warna kuning pada kulit serta mata. Pada umumnya,
gejala bertahan sekitar 2 bulan, tetapi pada kasus tertentu dapat melanjut hingga 6
bulan.

Gambaran klinis hepatitis virus sangat bervariasi mulai dari infeksi asimptomatik tanpa
ikterus sampai yang sangat berat yaitu hepatitis fulminant yang dapat menimbulkan
kematian hanya dalam beberapa hari. Gejala hepatitis akut terbagi dalam 4 tahap yaitu fase
inkubasi, fase prodromal (pra ikterik), fase ikterus, dan fase konvalesen
(penyembuhan).7

1. Fase Inkubasi
Merupakan waktu antara masuknya virus dan timbulnya gejala atau ikterus. Fase ini
berbeda-beda lamanya untuk tiap virus hepatitis. Panjang fase ini tergantung pada dosis
inokulum yang ditularkan dan jalur penularan, makin besar dosis inokulum, makin pendek fase
inkubasi ini. Pada hepatitis A fase inkubasi dapat berlangsung selama 14-50 hari,
dengan rata-rata 28-30 hari.

2. Fase Prodromal (pra ikterik).


Fase diantara timbulnya keluhan-keluhan pertama dan timbulnya gejala ikterus.
Awitannya dapat singkat atau insidious ditandai dengan malaise umum, nyeri otot,
nyeri sendi, mudah lelah, gejala saluran napas atas dan anorexia. Mual muntah dan
anoreksia berhubungan dengan perubahan penghidu dan rasa kecap. Demam derajat rendah
umunya terjadi pada hepatitis A akut. Nyeri abdomen biasanya ringan dan menetap di
kuadran kanan atas atau epigastrium, kadang diperberat dengan aktivitas akan tetapi
jarang menimbulkan kolesistitis. Gejala ini seperti “febrile influenza infection”. Pada
anak - anak dan remaja gejala gangguan pencernaan lebih dominan, sedangkan pada orang dewasa
lebih sering menunjukkan gejala ikterik disertai mialgia.

3. Fase Ikterus
Ikterus muncul setelah 5-10 hari, tetapi dapat juga muncul bersamaan dengan munculnya
gejala. Pada banyak kasus fase ini tidak terdeteksi. Akhir dari prodromal dan awal dari fase
klinis di tandai dengan urin yang berwarna coklat, urobilinogenuria persisten,
proteinuria ringan dan microhaematuria dapat berkembang. Feses biasanya acholic, dengan
terjadinya ikteric (60-70% pada anak-anak, 80-90% pada dewasa). Sebagian gejala
mereda, namun demam bisa tetap terjadi. Hepatomegali, nyeri tekan hepar
splenomegali, dapat ditemukan. Akhir masa inkubasi LDL dapat meningkat sebagai
espresi duplikasi virocyte, peningkatan SGOP, SGPT, GDH. Niali Transaminase
biasanya tidak terlalu diperlukan untuk menentukan derajat keparahan.
Peningkatan serum iron selalu merupakan ekspresi dari kerusakan sel hati. AP
dan LAP meningkat sedikit. HAV RNA terdeteksi sekitar 17 hari sebelum SHPT
meningkat dan beberapa hari sbelum HAV IgM muncul. Viremia bertahan selama rata-
rata 79 hari setelah peningkatan GPT , durasinya sekitar 95 hari.

4. Fase konvalesen (penyembuhan).


Diawali dengan menghilangnya ikterus dan keluhan lain, tetapi hepatomegali dan
abnormalitas fungsi hati tetap ada. Muncul perasaan sudah lebih sehat dan kembalinya nafsu
makan. Keadaan akut biasanya akan membaik dalam 2-3 minggu. Pada hepatitis A
perbaikan klinis dan laboratorium lengkap terjadi dalam 9 minggu. Pada 5-10% kasus
perjalanan klinisnya mungkin lebih sulit ditangani, hanya <1% yang menjadi fulminant.
Normalisasi dari serum asam empedu juga dianggap sebagai perameter dari
penyembuhan gejala kilnis :
1. Hepatitis A Klasik : Timbul secara mendadak didahului gejala prodromal sekitar 1
minggu sebelum jaundice
2. Hepatitis A relaps : Timbul 6-10 minggu setelah sebelumnya dinyatakan sembuh
secara klinis. Kebanyakan terjadi pada umur 20-40 tahun. Gejala relaps lebih
ringan daripada bentuk pertama.
3. Hepatitis A kolestatik : Terjadi pada 10% penderita simtomatis. Ditandai dengan
pemanjangan gejala hepatitis dalam beberapa bulan disertai panas, gatal-gatal dan
jaundice.
4. Hepatitis A protracted : Pada biopsi hepar ditemukan adanya inflamasi portal
dengan piecemeal necrosis, periportal fibrosis, dan lobular hepatitis.
5. Hepatitis A fulminan : Paling berat dan dapat menyebabkan kematian, ditandai
dengan memberatnya ikterus, ensefalopati, dan pemanjangan waktu protrombin.7

4. Bagaimana komplikasi dari Hepatitis A?

Jawab :

Infeksi virus hepatitis A dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi, diantaranya


adalah hepatitis fulminant, autoimun hepatitis, kolestatik hepatitis, hepatitis relaps, dan
sindroma pasca hepatitis (sindroma kelelahan kronik). Hepatitis A tidak pernah
menyebabkan penyakit hati kronik.18

5. Bagaimana cara investigasi wabah ?

Jawab :

LANGKAH - LANGKAH PENYELIDIKAN DAN PENANGGULANGAN KLB


PENYAKIT MENULAR DAN KERACUNAN PANGAN

A. TAHAPAN PENYELIDIKAN DAN PENANGGULANGAN KLB

Secara teori ada beberapa tahapan dalam melakukan penyelidikan dan


penanggulangan KLB penyakit menular dan keracunan pangan.Tahapan ini tidak
harus sekuensial dalam arti satu kegiatan baru dapat dilaksanakan setelah tahapan
yang sebelumnya sudah selesai.Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan secara
bersamaan, yang terpenting dalam tahapan kegiatan dapat dipastikan memuat seluruh
unsur-unsur tersebut. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
I. Menegakkan atau Memastikan Diagnosis
Untuk dapat membuat penghitungan kasus secara teliti guna keperluan analisis
di tahapan berikutnya maka menjadi penting sekali untuk memastikan diagnosis dari
kasus-kasus yang dilaporkan sehubungan dengan KLB yang dicurigai.8

Alasan mengapa langkah ini penting adalah:


1) Adanya kemungkinan kesalahan dalam diagnosis
2) Anda mungkin tidak dilapori tentang adanya kasus, melainkan adanya tersangka
atau adanya orang yang mempunyai sindroma tertentu.
3) Informasi dari yang bukan kasus (yaitu kasus-kasus yang dilaporkan tetapi
diagnosisnya tidak dapat dipastikan) harus dikeluarkan dari informasi kasus yang
digunakan untuk memastikan ada/tidaknya suatu KLB.

Diagnosis yang didasarkan atas pemeriksaan klinis saja mudah salah, sering
tanda atau gejala dari banyak penyakit adalah tidak begitu khas untuk dapat
menegakkan suatu diagnosis. Beberapa faktor penyulit lain seperti banyak penderita
tidak memperlihatkan sindroma yang khas bagi penyakit mereka, serta dimungkinkan
banyak serotipe dari spesies penyebab penyakit menular terdapat secara bersamaan di
masyarakat. Oleh karena itu, bila mungkin harus dilakukan pemeriksaan laboratorium
untuk memastikan diagnosis.Namun karena beberapa konfirmasi laboratorium
membutuhkan waktu, maka kriteria tanda-tanda dan gejala-gejala suatu penyakit
seperti pada daftar dibawah dapat dipertimbangkan untuk menetapkan diagnosis
lapangan.Selanjutnya dapat ditetapkan orang-orang yang memenuhi kriteria/gejala
seperti dalam tabel 1 dapat dikategorikan sebagai kasus, sebaliknya orang-orang yang
tidak memenuhi kriteria/gejala dapat dikeluarkan dari kasus.
Bila diagnosis lapangan telah ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah
menghitung jumlah kasus dengan cara menghitung distribusi frekuensi dari tanda-
tanda dan gejala-gejala yang ada pada kasus. Ini dilakukan dengan cara: pertama
pertama, mendaftarkan semua tanda dan gejala yang dilaporkan kasus. Kedua,
menghitung jumlah kasus yang mempunyai tanda dan gejala tertentu.Kemudian
menghitung persen kasus yang mempunyai tanda atau gejala itu.Untuk memudahkan
penafsiran hasilnya, Tanda-tanda dan gejala-gejala itu sebaiknya disusun ke bawah
menurut urutan frekuensinya seperti tabel dibawah.8
Tabel 1. Frekuensi Gejala pada Kasus-Kasus Suspek Hepatitis A di Desa “SMP
Contoh”, Desember 2009

No. Gejala Jumlah Presentase


(%)
1 Hilang nafsu 75 69
makan
2 Mual/muntah 86 79
3 Panas 60 55
4 Pusing/sakit 50 46
kepala
5 Rasa penuh di 39 36
perut
6 Pegal-pegal 40 37
7 Kencing seperti 99 91
air teh
8 Sklera mata/kulit 85 78
kuning

II. Memastikan terjadinya KLB


Tujuan tahap ini adalah untuk memastikan apakah adanya peningkatan kasus
yang tengah berjalan memang benar-benar berbeda dibandingkan dengan kasus yang
"biasa" terjadi pada populasi yang dianggap mempunyai risiko terinfeksi.Apabila
insidens yang tengah berjalan secara menonjol melebihi insidens yang "biasa", maka
biasanya dianggap terjadi KLB.Perbedaan-perbedaan kecil antara insidens yang
"biasa" dan yang tengah berjalan dapat menimbulkan ketidakpastian, sehingga
peneliti harus selalu waspada mencari kasus-kasus baru yang dapat memastikan
dugaan adanya KLB.
Apabila suatu KLB baru tersangka, seringkali populasi yang mempunyai
risiko tidak diketahui secara jelas. Oleh karena itu pada taraf permulaan, populasi
yang mempunyai risiko biasanya diasumsikan saja sama dengan keseluruhan populasi
dari daerah geografis atau wilayah pelayanan institusi tertentu tempat penyakit itu
berjangkit. Apabila tersangka KLB diketahui atau diduga berjangkit di suatu populasi
yang sangat terbatas misalnya suatu sekolah, rumah perawatan, tempat pemeliharaan
anak bayi disiang hari atau kelompok sosial tertentu, maka intormasi yang ada tentang
angka insidens yang "biasa" dan yang tengah berjalan pada kelompok yang
bersangkutan dapat digunakan untuk menetapkan terjadi atau tidaknya KLB.

III. Menghitung jumlah kasus/angka insidens yang tengah berjalan

Apabila dicurigai terjadi suatu KLB, harus dilakukan penghitungan awal dari
kasus-kasus yang tengah berjalan (orang-orang yang infeksinya atau keracunannya
terjadi di dalam periode KLB) untuk memastikan adanya trekuensi kasus baru yang
"berlebihan".Pada saat penghitungan awal itu mungkin tidak terdapat cukup informasi
mengenai setiap kasus untuk memastikan diagnosis.Dalam keadaan ini, yang paling
baik dilakukan adalah memastikan bahwa setiap kasus benar-benar memenuhi kriteria
kasus yg telah ditetapkan.
Laporan kesakitan yang diterima oleh dinas kesehatan segera dapat diolah
untuk penghitungan kasus. Di samping catatan Dinas Kesehatan, sumber-sumber
tambahan lain seperti dokter, rumah sakit atau klinik, dan laboratorium penting untuk
diperhitungkan. Hubungan dengan dokter-dokter praktek kadang-kadang
menyingkapkan kasus-kasus yang didiagnosis tetapi tidak dilaporkan, dan juga kasus-
kasus tersangka yang diagnosisnya belum dapat ditegakkan.Rumah sakit dan klinik
dapat memberikan informasi klinis dan laboratorium mengenai kasus-kasus yang
dirawat.Mereka harus didorong untuk melaporkan hasil tes diagnosis para tersangka
secepatnya.
Kasus-kasus yang telah diketahui beserta orang-orang di sekitarnya
merupakan sumber informasi yang penting untuk mendapatkan kasus-kasus tambahan
yang tidak didiagnosis atau tidak dilaporkan.Kasus-kasus yang diwawancarai
mungkin memberikan petunjuk ke arah adanya kasus-kasus subklinis maupun klinis
di antara anggota keluarganya, sanak saudaranya atau kenalannya.Wawancara itu
mungkin dapat menuntun kepada penemuan sumber inteksi, atau kontak yang menjadi
sakit karena penularan dari kasus yang diwawancarai.8

IV. Menggambarkan karakteristik KLB


Seperti disebutkan di atas, KLB sebaiknya dapat digambarkan menurut
variabel waktu, tempat dan orang. Penggambaran ini harus dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat disusun hipotesis mengenai sumber, cara penularan, dan lamanya KLB
berlangsung. Untuk dapat merumuskan hipotesis-hipotesis yang diperlukan, informasi
awal yang dikumpulkan dari kasus-kasus harus diolah sedemikian rupa sehingga
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :8

1. Variabel waktu :
1) Kapan periode yang tepat dari KLB ini?
2) Kapan periode paparan (exposure) yang paling mungkin?
3) Apakah KLB ini bersifat ”common source” atau ’propagated source' atau
keduanya?

2. Variabel tempat :
1) Dimanakah distribusi geografik yang paling bermakna dari kasus-kasus (menurut)
tempat tinggal? Tempat kerja? Tempat lain?
2) Berapakah angka serangan (attack rate) pada setiap satuan tempat/geografik?

3. Variabel orang (kasus) yang terkena :


1) Berapakah angka serangan menurut golongan umur, dan jenis kelamin
2) Golongan umur dan jenis kelamin manakah yang risiko sakit paling tinggi dan
paling rendah
3) Dalam hal apa lagi karakteristik kasus-kasus berbeda-beda secara bermakna dari
karakteristik populasi seluruhnya 8

V. Mengidentifikasikan Sumber dari Penyebab Penyakit dan Cara


Penularannya

Untuk mengidentifikasikan sumber dan cara penularan dibutuhkan lebih dari


satu kali siklus perumusan dan pengujian hipotesis. Untuk keperluan kita, suatu
hipotesis adalah suatu pernyataan, "dugaan yang terbaik" dari peneliti, dengan
menggunakan informasi yang tersedia, yang menjelaskan terjadinya suatu peristiwa.
Dalam hubungan dengan penyelidikan KLB biasanya hipotesis dirumuskan sekitar
penyebab penyakit yang dicurigai, sumber infeksi, periode paparan, cara penularan,
dan populasi yang telah terpapar atau mempunyai risiko akan terpapar. Tergantung
dari jenis, jumlah dan kualitas informasi yang dapat diperoleh peneliti, hipotresis
dapat berbidara tentang salah satu atau beberapa hal di atas sekaligus.
Tujuan hipotesis adalah untuk memberikan dasar yang logis untuk
merencanakan dan melaksanakan berbagai penyelidikan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan penyelidikan KLB. Oleh karena itu, hipotesis harus dirumuskan
demikian rupa sehingga dapat diuji, dan hasil pengujiannya dapat memberikan
jawaban yang jelas tentang benar/tidaknya hipotesis itu.

Untuk mengembangkan suatu hipotesis :


1. Tentukan tujuan yang ingin Anda capai (misalnya, memastikan diagnosis).
2. Identifikasikan informasi yang dapat diperoleh yang relevan dengan tujuan itu.
3. Melanjutkan contoh ini di atas, informasi ini mencakup tanda-tanda, gejala-gejala,
dan hasil pemeriksaan laboratorium dari kasus-kasus yang dilaporkan, dan kriteria
spesifik untuk sebuah kasus.
4. Ambillah kesimpulan logis dari informasi yang tersedia dan rumuskan
sebagaihipotesis. (Bahwa orang-orang yang dicurigai mempunyai penyakit "x"
memang benar-benar mempunyai penyakit "x").8

VI. Mengidentifikasikan Populasi yang Mempunyai Peningkatan Risiko Infeksi


Apabila sumber dan cara penularan telah dipastikan, maka orang-orang yang
mempunyai risiko paparan yang meningkat harus ditentukan, dan tindakan-tindakan
penanggulangan serta pencegahan yang sesuai harus dilaksanakan. Siapa yang
sesungguhnya mempunyai risiko paparan meningkat tergantung pada penyebab
penyakit, sifat sumbernya, cara penularannya, dan berbagai ciri-ciri orang-orang
rentan yang meningkatkan kemungkinannya terpapar.
Apakah populasi yang mempunyai risiko telah diidentifikasikan seluruhnya
atau belum, dapat diketahui apabila salah satu dari dua kondisi ini terjadi : kasus-
kasus baru yang timbul dari sumbernya hanya terjadi pada populasi yang diperkirakan
mempunyai risiko tinggi, atau lebih baik lagi, tindakan penanggulangan yang
ditujukan khususnya kepada populasi ini mencegah terjadinya kasus-kasus baru.5

VII. Melaksanakan Tindakan Penanggulangan

Apabila ciri-ciri umum dari populasi risiko tinggi telah digambarkan perlu
ditentukan tindakan penanggulangan dan pencegahan mana yang sesuai untuk
populasi yang bersangkutan. Tindakan penanggulangan yang kemudian dilaksanakan
mungkin ditujukan kepada salah satu atau semua dari hal-hal berikut (serta lainnya) :
sumber infeksi, sumber semula, alat/cara penularan, orang-orang rentan yang
mempunyai risiko paparan tinggi.
Tindakan penanggulangan tertentu dapat dimulai sedini tahap diagnosis kasus.
Contohnya, pemberian globulin serum imun pada anggota keluarga kasus Hepatitis A.
Tindakan-tindakan lain dapat dimulai pada berbagai titik. Bila menyangkut makanan
tercemar, makan itu dapat dimusnahkan.
Jika didapatkan (atau dicurigai) air sebagai sumber infeksi, penggunaan air
dapat dihentikansampai sumber air dan sistem penyalurannya dibersihkan dari
pencemaran atau air dapat diteruskan dengan peringatan kepada masyarakat agar
mendidihkan air sebelum diminum. Jika menyangkut kontak dengan sumber
pencemaran, dapat diambil langkah-Iangkah untuk mencegah kontak dengan sumber
sampai sumber itu dapat dihilangkan. Imunisasi, diagnosis dini, dan pengobatan
merupakan cara-cara penanggulangan lainnya yang dapat dipakai sesuai kebutuhan
situasi. Penerapan tindakan penanggulangan yang praktis dan efisien secara cepat
merupakan cara paling berharga untuk menilai keberhasilanpenyelidikan
epidemiologi.8

6. Bagaimana kriteria tempat jajan yang sehat?

Jawab :

Kantin sekolah sehat harus dapat menyediakan makanan yang sehat, aman, dan
bergizi. Pengelolaan kantin sehat hendaknya memperhatikan aspek aspek sebagai
berikut.9
1. Tenaga
Penyelenggaraan makanan kantin sekolah memerlukan seorang penanggung
jawab kantin yang mempunyai tugas pokok sebagai penanggung jawab
kelangsungan kantin sekolah secara keseluruhan, baik ke dalam (sekolah)
maupun ke luar yaitu kepada orang tua peserta didikdan instansi yang berwenang
terutama bila terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan atau tidak diduga.
Tenaga kantin sehat seharusnya memiliki kualifikasi seperti berbadan sehat,
bebas dari penyakit menular, bersih dan rapih, mengerti tentang kesehatan dan
memiliki disiplin kerja yang tinggi. Selain itu, tenaga pelaksana ini juga harus
mengerti cara pemasakan bahan makanan menurut syarat gizi dan kesehatan,
serta memelihara kebersihan alat-alat makan.
2. Dana
Investasi pertama yang diperlukan dalam penyelenggaraan makanan
kantin sekolah adalah dana untuk sarana fisik dan bahan makanan. Dana dapat
bersumber dari sekolah sepenuhnya, dari sekolah dan orangtua peserta didik, dari
orangtua peserta didik sepenuhnya ataupun diborongkan pada pengusaha jasa
boga. Dana selanjutnya
diperoleh dan dimanfaatkan melalui penjualan makanan di kantin sekolah.
3. Lokasi Kantin
Lokasi kantin harus dalam pekarangan sekolah dan sedapat mungkin masih
dalam wilayah gedung sekolah, tidak berdekatan dengan jamban, kamar mandi,
dan tempat pembuangan sampah.
Ruangan makan harus cukup luas, bersih, nyaman dan ventilasi cukup
dengan sirkulasi udara yang baik. Lantai hendaknya terbuat dari bahan yang
kedap air dan mudah dibersihkan. Dinding dan langit-langit selalu bersih dan
dicat terang. Jendela yang digunakan sebagai ventilasi hendaknya berkasa untuk
menghindari lalat masuk. Ruang makan dilengkapi dengan tempat cuci tangan
(sebaiknya dengan air yangmengalir/kran) dan sabun yang letaknya mudah
dijangkau oleh pesertadidik.
4. Fasilitas dan Peralatan
a. Fasilitas bangunan kantin
Kantin sekolah dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu kantin
dengan ruangan tertutup dan kantin dengan ruangan terbuka seperti koridor
atau di halaman sekolah. Meskipun kantin berada di ruang terbuka, namun
ruang pengolahan dan tempat penyajian makanan harus dalam keadaan
tertutup. Kedua jenis kantin di atas harus memiliki sarana dan prasarana
sebagai berikut: sumber air bersih, tempat penyimpanan, tempat pengolahan,
tempat penyajian dan ruang makan, fasilitas sanitasi, perlengkapan kerja dan
tempat pembuangan sampah yang tertutup.
Kantin dengan ruang tertutup harus mempunyai bangunan tetap dengan
persyaratan tertentu, sedangkan kantin dengan ruang terbuka (koridor atau
halaman) harus mempunyai tempat tertutup untuk persiapan dan pengolahan
serta penyajian makanan dan minuman. Persyaratan bangunan untuk kantin
dengan ruangan tertutup adalah sebagai berikut:
1) Lantai kedap air, rata, halus tetapi tidak licin, kuat, dibuat miring
sehinggamudah dibersihkan.
2) Dinding kedap air, rata, halus, berwarna terang, tahan lama, tidak
mudah mengelupas dan kuat sehingga mudah dibersihkan.
3) Langit-langit terbuat dari bahan tahan lama, tidak bocor, tidak
berlubanglubang dan tidak mudah mengelupas serta mudah
dibersihkan.
4) Pintu, jendela dan ventilasi kantin dibuat dari bahan tahan lama.
Tidak mudah pecah, rata, halus, berwarna terang, dapat dibuka-tutup
dengan baik, dilengkapi kasa yang dapat dilepas sehingga mudah
dibersihkan.
5) Ruang pengolahan dan penyajian serta tempat makan di ruangan
memiliki lubang angin/ventilasi minimal dua buah dengan
luaskeseluruhan lubang ventilasi 20% dari luas lantai.
6) Lantai, dinding, langit-langit kantin, pintu, jendela dan lubang angin/
ventilasi selalu dalam keadaan bersih.

b. Fasilitas air bersih


Kantin dengan ruangan tertutup maupun kantin dengan ruanganterbuka
harus mempunyai suplai air bersih yang cukup, baik untuk kebutuhan
pengolahan maupun untuk kebutuhan pencucian danpembersihan. Air bersih
dapat diperoleh dari PAM maupun dari sumur. Airbersih yang disimpan dalam
ember harus selalu tertutup. Gunakan gayungbertangkai panjang untuk
mengambil air dari ember.
c. Fasilitas Ruang Pengolahan
Ruang pengolahan atau persiapan makanan mempunyai persyaratan yang
sama, baik untuk kantin ruang tertutup maupun kantin ruang terbuka. Ruang
pengolahan selalu dalam keadaan bersih dan terpisah dari ruang penyajian dan
ruang makan. Ruang pengolahan atau persiapan makanan harus tertutup.
Terdapat tempat/meja yang permanen dengan permukaan halus, tidak bercelah
dan mudah dibersihkan untuk pengolahan atau penyiapan makanan. Ruang
pengolahan tidak berdesakansehingga setiap karyawan yang sedang bekerja
dapat leluasa bergerak.Terdapat lampu penerangan yang cukup terang
sehingga karyawan dapat mengerjakan tugasnya dengan baik, teliti dan
nyaman. Lampu penerangantidak berada langsung di atas meja pengolahan
pangan. Jika lampu berada langsung di atas tempat pengolahan, lampu tersebut
harus diberi penutup.Terdapat ventilasi yang cukup agar udara panas dan
lembab di dalam ruangan pengolahan dapat dibuang keluar dan diganti dengan
udara segar. Sebaiknya di atas kompor untuk memasak makanan dilengkapi
dengancerobong asap (smoke hood).

d. Fasilitas Tempat Penyajian


Kantin ruang tertutup maupun kantin ruang terbuka harus mempunyai
tempat penyajian makanan seperti lemari display, etalase atau lemari kaca
yang memungkinkan konsumen dapat melihat makanan yangdisajikan dengan
jelas. Tempat penyajian atau display makanan ini harus selalu tertutup untuk
melindungi makanan dari debu, serangga dan hamalainnya.
Makanan camilan harus mempunyai tempat penyajian yang terpisah dari
tempat penyajian makanan sepinggan. Makanan camilan yang dikemas dapat
digantung atau ditempatkan dalam wadah dan disajikan pada tempat yang
terlindungi dari sinar matahari langsung atau debu. Buah potong harus
mempunyai tempat display tersendiri dan dijaga kebersihannya, terhindar dari
kontaminasi debu, serta sedapat mungkin dalam keadaan dingin.
Kantin harus menyediakan meja dan kursi dalam jumlah yang cukupdan
nyaman. Meja dan kursi harus selalu dalam keadaan bersih, tidak berdesakan
sehingga setiap konsumen dapat leluasa bergerak. Permukaanmeja harus
mudah dibersihkan. Untuk kantin dalam ruang tertutup, ruangmakan harus
mempunyai ventilasi yang cukup agar udara panas dan lembab dapat dibuang
keluar dan diganti dengan udara segar. Untuk kantinyang menggunakan
koridor, taman atau halaman sekolah sebagai tempatmakan, tempat tersebut
harus selalu dijaga kebersihannya, rindang (tidakterkena matahari langsung
jika tidak ada atap), ada pertukaran udara, serta jauh dari tempat penampungan
sampah, WC dan pembuangan limbah(jarak minimal 20 m).

e. Fasilitas tempat penyimpanan bahan pangan


Kantin harus mempunyai tempat penyimpanan bahan pangan, tempat
penyimpanan makanan jadi yang akan disajikan, dan tempat penyimpanan
peralatan yang bebas pencemaran (lemari). Peralatan yang telah dibersihkan
harus disimpan pada rak/lemari yang bersih. Sebaiknya permukaan peralatan
menghadap ke bawah, supaya terlindungi dari debu, kotoran atau pencemar
lainnya.
Tempat penyimpanan khusus harus tersedia untuk menyimpan BTP
sehingga terpisah dengan produk atau makanan yang siap disajikan. Tempat
penyimpanan khusus harus tersedia untuk menyimpan bahanbahan bukan
pangan seperti bahan pencuci peralatan dan minyak tanah.Bahan berbahaya
seperti pembasmi serangga, tikus, kecoa, bakteri danbahan berbahaya lainnya
tidak boleh disimpan di kantin. Tempat penyimpanan harus mudah
dibersihkan dan bebas dari hama sepertiserangga, binatang pengerat, burung,
dan mikroba. Tempat penyimpananharus ada sirkulasi udara. Penyimpanan
bahan baku dan produk pangan harus sesuai dengan suhu penyimpanan yang
dianjurkan.

f. Peralatan Kantin
Peralatan yang digunakan dalam proses persiapan sampai penyajian harus
mudah dibersihkan, kuat dan tidak mudah berkarat, misalnya peralatan dari
bahan stainless steel untuk pisau, panci, dan wajan.Permukaan peralatan yang
kontak langsung dengan pangan harus halus, tidak bercelah, tidak mengelupas
dan tidak menyerap air. Peralatan bermotor seperti pengaduk dan blender
hendaknya dapat dibongkar agar bagian-bagiannya mudah dibersihkan.

g. Fasilitas Sanitasi
Fasilitas sanitasi dalam kantin mempunyai persyaratan yang sama, baik
untuk kantin ruang tertutup maupun kanting ruang terbuka, yaitu:
1) Tersedia bak cuci piring dan peralatan dengan air bersih yang
mengalir serta rak pengering.
2) Tersedia wastafel dengan sabun/deterjen dan lap bersihatau tissue di
tempat makan dan di tempat pengolahan/persiapan makanan.
3) Tersedia suplai air bersih yang cukup, baik untukkebutuhan
pengolahan maupun untuk kebutuhan pencucian dan pembersihan.
4) Tersedia alat cuci/pembersih yang terawat baik sepertisapu lidi, sapu
ijuk, selang air, kain lap, sikat, kain pel, dan bahan pembersih seperti
sabun/deterjen dan bahan sanitasi.

h. Fasilitas Pembuangan Limbah


Tempat sampah atau limbah padat di kantin harus tersedia dan jumlahnya
cukup serta selalu tertutup. Di dalam maupun di luar kantin harus bebas dari
sampah. Jarak kantin dengan tempat penampungan sampah sementara minimal
20 m. Ada selokan atau saluran pembuangan air,termasuk air limbah dan
berfungsi dengan baik serta mudah dibersihkan bila terjadi penyumbatan.
Terdapat lubang angin yang berfungsi untukmengalirkan udara segar dan
membuang limbah gas hasil pemasakanmakanan.

i. Fasilitas lain-lain
Perlengkapan kerja karyawan kantin yang harus disediakan antara lain
baju kerja, tutup kepala, dan celemek berwarna terang, serta lap yang bersih.
Jika tidak memungkinkan menggunakan tutup kepala, rambut harus tertata
rapi dengan dipotong pendek atau diikat.1

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, ada beberapa hal


yang harus diperhatikan untuk kantin sekolah, antara lain
a. Tersedia tempat cuci peralatan makan dan minum dengan air yang mengalir
b. Tersedia tempat cuci tangan bagi pengunjung kantin/warung sekolah
c. Tersedia tempat untuk penyimpanan bahan makanan
d. Tersedia tempat untuk penyimpanan makanan jadi/siap saji yang tertutup
e. Tersedia tempat untuk menyimpan peralatan makan dan minum
f. Lokasi kantin/warung sekolah minimal berjarak 20 m dengan TPS (tempat
pengumpulan sampah sementara)
g. Bebas dari asap rokok
h. Konsentrasi debu tersuspensi maksimum 150 mikrogram/m3
i. Memiliki intensitas pencahayaan 100 LUX
j. Luas lubang ventilasi 20% terhadap luas lantai
k. Makanan jajanan yang dijual harus dalam keadaan terbungkus dan atau
tertutup (terlindung dari lalat atau binatang lain dan debu)
l. Makanan jajanan yang disajikan dalam kemasan harus dalam keadaan baik
dan tidak kadaluarsa
m. Tempat penyimpanan makanan yang dijual pada warung sekolah harus selalu
terpelihara dan selalu dalam keadaan bersih, terlindung dari debu, terhindar
dari bahan kimia berbahaya, serangga dan hewan lain.
n. Tempat pengolahan atau dapur atau penyiapan makanan harus bersih dan
memenuhi persyaratan kesehatan sesuai ketentuan berlaku
o. Peralatan yang sudah dipakai dicuci dengan air bersih yang mengalir atau
dalam 2 wadah yang berbeda dan dengan menggunakan sabun
p. Peralatan yang sudah bersih harus disimpan ditempat yang bebas pencemaran
q. Peraltan yang digunakan untuk mengolah dan menyajikan makanan harus
sesuai dengan peruntukan
r. Dilarang menggunakan kembali peralatan yang dirancang hanya untuk sekali
pakai
s. Penyaji makanan di sekolah harus selalu menjaga kebersihan dengan selalu
mencuci tangan sebelum memasak dan dari toilet.10

7. Apa hubungan tempat jajan yang ramai dengan hepatitis A?

Jawab:

Hepatitis A diidentifikasi sebagai penyakit infeksi karena sifatnya yang sangat


menular. Cara penularannya adalah dengan melalui fekal-oral. Penularan dimulai saat
orang yang telah terinfeksi tidak mencuci tangan setelah buang air besar dan
mengkontaminasi apapun yang dia pegang. Kantin yang ramai dapat meningkatkan
kemungkinan terjadinya penularan. Banyaknya angka kejadian hepatitis A di SDN 06
terjadi karena adanya sanitasi yang buruk, higienitas yang rendah, pengelolaan limbah
yang kurang baik.11

8. Bagaimana tata cara pengolahan limbah?

Jawab:

A. Pengurangan Sumber (Source Reduction)


Banyaknya sampah yang dihasilkan oleh setiap orang dapat dikurangi
jumlahnya dengan cara mengurangi pemakaian. Hal yang paling sederhana yang
dapat kita lakukan, diantaranya pengurangan pemakaian kantong plastik. Jika kita
belanja, biasakan untuk membawa tas belanja sendiri sehingga jumlah sampah plastik
dapat dikurangi.12
B. Penggunaan kembali (Reuse)
Barang yang sudah tidak digunakan lagi dapat kita manfaatkan untuk berbagai
kepentingan. Biasanya para siswa membeli buku tulis baru setiap kenaikan kelas.
Padahal buku tulis yang lama masih tersisa. Sisa buku tulis hendaknya digunakan
sampai habis, jangan dulu membeli buku tulis baru sebelum buku tulis yang lama
habis.12

C. Pemanfaatan (Recycling)
Sampah-sampah yang dihasilkan dari rumah dapat kita daur ulang menjadi
barang yang baru. Misalnya sisa-sisa makanan atau potongan sayur dan buah-buahan
dapat diolah menjadi pupuk kompos. Minyak jelanta yang seharusnya dibuang dapat
didaur ulang menjadi minyak baru dengan diberi sari buah mengkudu. Jika setiap
orang sudah memahami proses daur ulang sampah. Jumlah sampah dapat dikurangi.12

Pengolahan (treatment)
Teknik pengolahan ditujukan pada limbah yang tidak dapat kita olah sendiri.
Teknik pengolahan ini dilakukan pada limbah industri atau limbah yang beracun.
Adapun beberapa teknik yang dilakukan untuk mengolah limbah cair diantaranya
sebagai berikut :
1. Pengolahan secara fisika, pengolahan secara fisika dapat dilakukan dengan
berbagai cara di antaranya adalah:
a. Penyaringan, dilakukan pada limbah cair yang mudah mengendap. Bahan-
bahan padat dalam cairan dapat dipisahkan dengan penyaringan.
b. Proses flotasi, yaitu proses pengolahan limbah dengan cara penyisihan ahan-
bahan mengapung seperti minyak dan lemak. Teknik ini dapat juga dilakukan
pada bahan-bahan tersuspensi seperti lumpur.
c. Proses filtrasi, yaitu teknik yang dilakukan pada bahan limbah yang
mengandung partikel suspensi (mengendap). Teknik ini dapat menyisihkan
sebanyak mungkin partikel yang mengendap.
d. Proses absorpsi, yaitu teknik pengolahan limbah dengan menggunakan
karbon aktif. Teknik ini dilakukan dengan menyisihkan senyawa aromatik
dan senyawa organik terlarut lainnya.
e. Teknologi membran (reverse osmosis), digunakan untuk unit pengolahan
kecil. Teknik ini membutuhkan biaya operasi yang sangat mahal.
2. Pengolahan secara kimia, pengolahan air buangan secara kimia biasanya
dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap
(koloid), seperti logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun
dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-
bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan
tersebut. Perubahan zat tersebut adalah dari tidak dapat diendapkan menjadi
mudah diendapkan, baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga
berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.
3. Pengolahan secara biologi, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme. Ditinjau
dari segi lingkungan, pengolahan secara biologi dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu proses aerob dan proses anaerob. Proses aerob adalah proses pengolahan
limbah yang melibatkan oksigen, sedangkan proses anaerob adalah proses
pengolahan limbah yang tidak melibatkan oksigen.12

9. Apa saja penyakit yang berbasis lingkungan?

Jawab:

Penyakit berbasis lingkungan adalah ilmu yang mempelajari proses kejadian


atau fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat yang
berhubungan, berakar (bounded) atau memiliki keterkaitan erat dengan satu atau lebih
komponen lingkungan pada sebuah ruang dalam mana masyarakat tersebut bertempat
tinggal atau beraktivitas dalam jangka waktu tertentu. Penyakit tersebut bisa dicegah
atau dikendalikan, kalau kondisi lingkungan yang berhubungan atau diduga
berhubungan dengan penyakit tersebut dihilangkan.
Menurut Pedoman Arah Kebijakan Program Kesehatan Lingkungan
PadaTahun 2008 menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki penyakit menular
yang berbasis lingkungan yang masih menonjol seperti DBD, TB paru, malaria,
diare,infeksi saluran pernafasan, HIV/AIDS, Filariasis, Cacingan, Penyakit Kulit,
Keracunan dan Keluhan akibat Lingkungan Kerja yang buruk.13

VEKTOR-VEKTOR NON-BIOLOGIS DAN PENYAKIT YANG


DITIMBULKAN
1. Kolera
 Pandemi pertama, 1816 –1826. Pada mulanya wabah ini terbatas padadaerah
anak benua India, dimulai di Bengal, dan menyebar ke luar India padatahun
1820. Penyebarannya sampai ke Tiongkok dan Laut Kaspia sebelum akhirnya
berkurang.
 Pandemi kedua (1829 –1851) mencapai Eropa, London padatahun 1832,
Ontario Kanada dan New York pada tahun yang sama, dan pesisirPasifik
Amerika Utara pada tahun 1834.
 Pandemi ketiga(1852–1860) terutamamenyerang Rusia, memakan korban
lebih dari sejuta jiwa.
 Pandemi keempat(186 –1875) menyebar terutama di Eropa dan Afrika.
 Pandemi keenam (1899 –1923) sedikit mempengaruhi Eropa karena kemajuan
kesehatan masyarakat,namun Rusia kembali terserang secara parah.
 Pandemi ketujuh dimulai diIndonesia pada tahun 1961, disebut “kolera El Tor”
(atau “Eltor”) sesuai dengannama galur bakteri penyebabnya, dan mencapai
Bangladesh pada tahun 1963,India pada tahun 1964, dan Uni Soviet pada
tahun 1966.

2. HIV
HIV—virus penyebab AIDS—dapat dianggap sebagai suatu pandemi, namun
saat ini paling meluas di Afrika bagian selatan dan timur. Virus tersebut
ditemukan terbatas pada sebagian kecil populasi pada negara- negara lain, dan
menyebar dengan lambat di negara-negara tersebut. Pandemi yang dikhawatirkan
dapat benar-benar berbahaya adalah pandemi yang mirip dengan HIV, yaitu
penyakit yang terus-menerus berevolusi.

3. SARS
Wabah sindrom pernapasanakut parah (SARS) melanda dunia,dan
penyebarannya relatif cepat. Ketika upaya penangkalan dan pengobatannya secara
medis masih berlangsung, penyakit ini terus berkembang seiring dengan
migrasimanusia antarnegara. Penyakit menular semacam ini tidak mengenal batas
teritori administratif. Wabah sindrom pernapasan akut parah (SARS) melanda dunia,
danpenyebarannya relatif cepat. Ketika upaya penangkalan dan pengobatannya secara
medis masih berlangsung, penyakit ini terus berkembang seiring dengan migrasi
manusia antarnegara. Penyakit menular semacam ini tidak mengenal batas teritori
administrative.

Adapun menurut, pendapat lain membaginya menjadi:


1. Biologis
Penyakit berbasis lingkungan yang menular melalui agen biologis
membutuhkan peran agen makhluk hidup seperti virus, bakteri, jamur, prozoa dan
cacing untuk melakukan infeksi. Beberapa penyakit menular yang ditimbulkan oleh
agen biologis, yaitu
a) Penyakit Virus
1) Influenza
Pengertian
Influenza merupakan penyakit virus yang endemik di seluruh
dunia dan sering menjadi epidemi di banyak negara. Penyebab
influenza adalah virus influenza tipe A,B dan C, virus berukuran 200
nm yang mempunyai selubung virion. Virus influenza termasuk famili
Orthomyxoviridae.
Penularan
Penyakit influenza ditularkan oleh virus influenza melalui
udara, menyerang saluran pernapasan, akibatnya penderita mengalami
kesulitan bernapas.
Gejala klinis influenza
Sesudah masa inkubasi 1-2 hari, gejala umum dan keluhan
yang tidak khas terjadi berupa malaise umum, sistem kataral sistemik,
demam menggigil, kadang-kadang muntah dan diare, sakit kepala,
mialga dan sakit tenggorok. Daya tahan tubuh penderita dan adanya
infeksi sekunder mempengaruhi beratnya influenza. Komplikasi
influenza berupa infeksi sekunder bakteril dengan kuman
Staphyllococcus aureus, Haemophyllus influenzae dan pneumokokus
dapat menimbulkan otitis, sinusitis, mastoiditis, bronkiolitis,
bronkopneumoni, miokarditis dan perikarditis.
Pencegahan
Salah satu pencegahan adalah dengan menggunakan vaksin
influenza yang mengandung virus A dan B dan disebutkan dapat
mengurangi terjadinya infeksi yang disebabkan oleh virus H5N1 atau
flu burung dan juga pencegahan flu pada usia 5 – 50 tahun. Golongan
yang memerlukan vaksini ini antara lain : usia > 65 th, memiliki
penyakit kronis lainnya (paru-paru, jantung, darah dan ginjal, DM),
memiliki gangguan sistem pertahanan tubuh, dan petugas kesehatan.
Dianjurkan untuk memberikan vaksin sebelum musim dingin atau
musim hujan. Selain itu perubahan perilaku masyarakat dengan gaya
hidup yang sehat dapat mengurangi terjadinya penyakit influenza ini.

2) Varicella atau Cacar Air


Pengertian
Cacar air atau Varicella simplex adalah suatu penyakit menular
yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella zoster. Penyakit ini
disebarkan secara aerogen.
Penularan
Penyakit varicella atau cacar air ditularkan oleh virus Varicella
zoster melalui udara, menyerang lapisan kulit, akibatnya penderita
mengalami gatal – gatal dan nyeri kulit seperti bisul.
Gejala Klinis
Pada permulaannya, penderita akan merasa sedikit demam,
pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk
infeksi virus.Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri sendi,
sakit kepala dan pusing. Beberapa hari kemudian timbullah kemerahan
pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar
dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di anggota gerak dan
wajah.
Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi
cairan dengan dinding tipis. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri
atau gatal sehingga dapat tergaruk tak sengaja. Jika lenting ini
dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta)
yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang
lebih gelap (hiperpigmentasi). Bercak ini lama-kelamaan akan pudar
sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas
lagi.
Pencegahan
Imunisasi tersedia bagi anak-anak yang berusia lebih dari 12
bulan. Imunisasi ini dianjurkan bagi orang di atas usia 12 tahun yang
tidak mempunyai kekebalan.Penyakit ini erat kaitannya dengan
kekebalan tubuh.
3) Variola
Pengertian
Cacar adalah penyakit virus sistemik dengan gejala khas
adanya erupsi kulit. Kebanyakan cacar dikelirukan dengan cacar air
dimana lesi dikulit pada cacar air umumnya muncul dalam bentuk
successive crops (berhubungan satu sama lain) dengan tingkat yang
berbeda disaat yang sama.
Penularan
Penyakit cacar ditularkan oleh Variola virus , spesies
Orthopoxvirus melalui udara. Penularan umumnya terjadi pada saat
muncul wabah dimana 50% dari mereka yang tidak divaksinasi akan
tertulari. Penyakit ini menyerang bagian kulit tubuh, hampir sama
dengan cacar air. Namun penyakit cacar tidak mengelurakan cairan.
Gejala Klinis
Penyakit muncul mendadak dengan gejala demam, tidak nafsu
makan, sakit kepala, badan lemah, sakit pinggang berat, kadang-
kadang sakit perut dan muntah; gambaran klinis menyerupai influenza.
Cacar dapat dikenal dengan jelas pada awal sakit, ditandai
dengan munculnya lesi kulit kurang lebih secara simultan pada saat
suhu tubuh meningkat, bentuk lesi yang mirip satu sama lain pada
daerah yang sama
Pencegahan
Pencegahan pada penyakit cacar yakni dengan mandi dua kali
sehari, cuci tangan stelah beraktivitas, serta menjaga kebersihan
lingkungan.

b) Penyakit Bakteri
1) TBC Paru
Pengertian
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mikobakterium
tuberkulosa. Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada
waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung
kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam.
Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran
pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian
tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe,
saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh
lainnya.
Penularan
Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar
oleh Mycobacterium tuberculosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si
penderita TBC saat batuk, dimana pada anak-anak umumnya sumber
infeksi adalah berasal dari orang dewasa yang menderita TBC.
Masuknya Mycobacterium tuberkulosa kedalam organ paru
menyebabkan infeksi pada paru-paru, dimana segeralah terjadi
pertumbuhan koloni bakteri yang berbentuk bulat (globular).

Gejala Klinis
Gejala penyakit TBC yakni batuk dalam jangka waktu yang
lama, demam tinggi serta sering keringat dingin.
Pencegahan
• Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi
sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan
kesehatan.
• Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan penderita,
kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan
pengobatan dini bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.
• Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan
terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH sebagai
pencegahan.
• BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama kepada bayi
dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarhanya. Diulang 5 tahun
kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.
• Memberantas penyakti TBC pada pemerah air susu dan
tukang potong sapi, dan pasteurisasi air susu sapi.
• Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karean
menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja
semen dan sebagainya.
• Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan
gejala tbc paru.
• Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada
kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak
dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas/guru disekolah,
petugas foto rontgen.
• Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif
dari hasil pemeriksaan tuberculin test.

2) Difteri
Pengertian
Difteri/ Diphteria adalah penyakit infeksi bakteri yang
disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae, yang umumnya
menyerang membran mukosa yang melapisi hidung dan tenggorokan
serta tonsil. Akibatnya tenggorokan menjadi terinflamasi dan inflamasi
ini dapat menyebar ke kotak suara ( larynx) sehingga mempersempit
saluran pernafasan.
Penularan
Penularan penyakit difteri terjadi melalui tetes udara yang
dikeluarkan oleh penderita ketika batuk atau bersin.Penularan juga
dapat terjadi melalui tissue/ sapu tangan atau gelas bekas minum
penderita atau menyentuh luka penderita.
Anak-anak usia kurang dari 5 tahun dan orang tua usia diatas
60 tahun sangat beresiko tertular penyakit difteri, demikian pula
mereka yang tinggal di lingkungan padat penduduk atau lingkungan
yang kurang bersih dan juga mereka yang kurang gizi dan tidak
diimunisasi DTP.

Gejala Klinis
a) Ada membran tebal warna abu-abu yang melapisi tenggorokan dan
tonsil ( ciri khas )
b) Sakit tenggorokan dan suara serak
c) Sakit ketika menelan
d) Kelenjar getah bening di leher membengkak
e) Kesulitan bernafas dan nafas cepat
f) Keluar cairan dari hidung
g) Demam dan menggigil
h) Malaise
Tanda dan gejala umumnya muncul 2-5 hari setelah terinfeksi,
namun mungkin juga baru muncul 10 hari kemudian.
Pencegahan
Pencegahan penyakit difteri adalah dengan memberikan
imunisasi DTP saat anak berumur 2, 4, 6, 18 bulan dan 5 tahun.
Sedangkan pada usia 10 tahun dan 18 tahun diberikan imunisasi TD (
Toxoid Difteri ) saja. Bila pada suntikan DTP pertama terjadi reaksi
yang berat maka sebaiknya suntikan berikut jangan diberikan DTP lagi
melainkan DT saja (tanpa P).
3) Meningitis
Pengertian
Penyakit meningitis adalah infeksi pada lapisan otak dan urat
saraf tulang belakang.Meningitis merupakan infeksi yang dapat
mengancam nyawa. Bila tidak ditangani dapat terjadi pembengkakan
otak, kecacatan tetap, koma bahkan kematian.
Penularan
Penyakit meningitis yang disebabkan oleh bakteri tertentu dan
merupakan penyakit yang serius. Salah satu contoh bakterinya yaitu
Meningococcal bacteria.Penyakit ini menular melalui kontak dengan
udara bebas.
Gejala
Gejala awal penyakit meningitis yaitu demam, sakit kepala,
kaku kuduk, sakit tenggorokan, dan muntah.Selain itu juga pada orang
dewasa menjadi lebih mudah tersinggung, linglung, dan sangat
mengantuk, hingga terjadi penurunan kesadaran koma bahkan
meninggal.

Pencegahan
Menjaga hygiene merupakan cara yang paling baik untuk
menghindari transmisi penyakit.Antibiotik diberikan untuk mencegah
meningitis pada orang yang kontak dekat dengan orang yang menderita
meningitis.

c) Penyakit Jamur
1) Askariasis
Penyebab
Askariasis disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides
yang oleh masyarakat umum dikenal sebagai cacing gelang.
Penularan
Penularan askariasis dapat terjadi melalui beberapa
jalan, yaitu telur infektif masuk mulut bersama makanan dan
minuman yang tercemar, melalui tangan yang kotor, atau telur
infektif terhirup melalui udara bersama debu.
Gejala klinis
Pada manusia cacing dewasa dapat menimbulkan
berbagai akibat mekanik, yaitu obstruksi usus, intususepsi, dan
perforasi ulkus yang ada di usus.
Diagnosis
Diagnosis pasti askariasis ditegakkan jika melalui
pemeriksaan makroskopis terhadap tinja atau muntahan
penderita ditemukan cacing dewasa.
Pencegahan
1. Membuat kakus yang baik untuk menghundari
pencemaran tanah dengan tinja penderita.
2. Mencegah masuknya telur cacing yang
mencemari makanan atau minuman dengan selalu memasak
makanan dan minuman sebelum dumakan atau diminum
3. Menjaga kebersihan perorangan

d) Penyakit Protozoa
1) Toksoplasmosis
Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii menyebabkan
penyakit toksoplasmosis pada manusia dan hewan.Parasit ini dapat
menimbulkan radang pada kulit, kelenjar getah bening, jantung, paru,
mata, otak dan selaput otak.
Penularan
Penularan pada manusia dapat terjadi melalui dapatan
(acquired) atau secara kongenital dari ibu ke bayi yang
dikandungnya.Secara dapatan, penularan dapat terjadi melalui
makanan mentah atau kurang masak yang mengandung psedokista
(dalam daging, susu sapi atau telur unggas), penularan melalui udara
atau droplet infection (berasal dari penderita pneumonitis
toksoplasmosis) dan melalui kulit yang kontak dengan jaringan yang
infektif atau ekskreta hewan misalnya kucing, anjing, babi atau roden
yang sakit.
Gejala klinis
Pada orang dewasa, gejala klinik tidak jelas dan tidak ada
keluhan penderita.Gejala yang jelas terjadi pada penderita yang
menderita toksoplasmosis kongenital karena luasnya kerusakan organ
dan sistem saraf penderita (bayi dan anak).
Diagnosis
Diagnosis pasti ditetapkan sesudah dilakukan pemeriksaan
mikroskopik histologis secara langsung atau hasil biopsi atau pungsi
atau otopsi atas jaringan penderita, dan pemeriksaan jaringan berasal
dari hewan coba yang diinokulasi dengan bahan infektif.
Pencegahan
1. Selalu memasak makanan dan minuman
2. Menghindari kontak langsung dengan daging atau
jaringan hewan yang sedang diproses
3. Menjaga kebersihan lingkungan
4. Hewan-hewan penderita toksoplasmosis juga harus
segera diobati atau dimusnahkan

2. Kimia
1) Asbestosis
Pengertian
Asbestosis adalah suatu penyakit saluran pernafasan yang
terjadi akibat menghirup serat-serat asbes, dimana pada paru-paru
terbentuk jaringan parut yang luas.Asbestos terdiri dari serat silikat
mineral dengan komposisi kimiawi yang berbeda.Jika terhisap, serat
asbes mengendap di dalam dalam paru-paru, menyebabkan parut.
Menghirup asbes jugs dapat menyebabkan penebalan pleura atau
selaput yang melapisi paru-paru.
Penyebab
Penyebab asbestosis adalah serat asbes, dimana serat asbes
sukar untuk dihancurkan, bahkan oleh makrofag.Ketika makrofag
mencoba untuk mencernakan serat asbes, sering mengalami kegagalan
sebab seratnya terlalu kuat dan ikatan rantainya sangat kuat untuk
diuraikan. Pada proses ini, makrofag menghasilkan unsur yang
diharapkan dapat menghancurkan benda asing, tetapi hal itu dapat juga
merugikan alveoli. Hal ini akan menyebabkan terjadinya inflamasi
pada alveoli dan secepatnya dapat meninggalkan parut.
Penyebaran
Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan
mengakibatkan gejala sesak napas dan batuk-batuk yang disertai
dengan dahak. Ujung-ujung jari penderitanya akan tampak membesar /
melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan pada dahak maka akan
tampak adanya debu asbes dalam dahak tersebut. Pemakaian asbes
untuk berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan
kesadaran akan keselamatan dan kesehatan lingkungan agar jangan
sampai mengakibatkan asbestosis ini.
Pencegahan
• Health Promotion
1. Pendidikan kesehatan kepada pekerja
2. Peningkatan dan perbaikan gizi pekerja
3. Perkembangan kejiwaan pekerja yang sehat
4. Penyediaan tempat dan lingkungan kerja yang sehat
5. Pemeriksaan sebelum bekerja (Effendy, 1997)
• Specific Protection
1. Penggunaan masker bagi pekerja yang beresiko tinggi dapat
mengurangi pemaparan.
2. Asbestosis dapat dicegah dengan mengurangi kadar serat dan
debu asbes di lingkungan kerja.
3. Pengendalian penggunaan asbes di tempat kerja ini adalah
metoda yang paling efektif untuk mencegah asbestosis.
4. Ventilasi udara yang cukup di ruang kerja
5. Untuk mengurangi resiko terjadinya kanker paru-paru,
kepada para pekerja yang berhubungan dengan asbes,
dianjurkan untuk berhenti merokok.
6. Guna menghindari sumber penyakit yang akan tersebar pada
pihak keluarga, disarankan setiap pekerja untuk mencuci
pakaian kerjanya di pabrik, dan menggantinya dengan pakaian
bersih untuk kembali ke rumah. Sehingga semua pakaian kerja
tidak ada yang dibawa pulang, dan pekerja membersihkan diri
atau mandi sebelum kembali ke rumah masing-masing
(Aditama TY, 1992).
• Early Diagnostic
1. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:
2. Terdengar suara ronki keying
3. Diikuti dengan keluhan takipnue, dan sianosis
4. Dapat terlihat adanya jari tabuh.
5. Pergerakan dada menjadi berkurang
6. pada stadium lanjut dapat ditemukan kor pulmonal dan
mungkin gagal jantung (Aditama TY, 1992).
3. Fisika
a) Kebisingan
1) Sensorineural hearing loss

Pengertian
Gangguan pendengaran sensorineural (HPS) adalah jenis
gangguan pendengaran di mana akar penyebab terletak pada saraf
vestibulocochlear ( saraf kranial VIII), bagian dalam telinga , atau
pusat-pusat pengolahan sentral dari otak . Gangguan pendengaran
sensorineural dapat ringan, sedang, atau berat, termasuk tuli total.
Penyebab
Sebagian besar gangguan pendengaran sensorineural manusia
disebabkan oleh kelainan pada sel-sel rambut dari organ Corti di
koklea.Gangguan telinga ini juga bisa disebabkan akibat kebisingan di
atas ambang batas yang terus menerus.
Pencegahan
1. Pengendalian secara teknis: Meredam sumber bising dengan
jalan memberi bantalan karet untuk mengurangi getaran peralatan dari
logam, mengurangi jatuhnya
2. Pengendalian secara administrative: Pengendalian ini meliputi
rotasi kerja pada pekerja yang terpapar oleh kebisingan dengan
intensitas tinggi ke tempat atau bagian lain yang lebih rendah, cara
mengurangi paparan bising dan melindungi pendengaran.
3. Pemakaian alat pelindung telinga: Pengendalian ini tergantung
terhadap pemilihan peralatan yang tepat untuk tingkat kebisingan
tertentu, kelayakan dan cara merawat peralatan.
b) Suhu
1) Hipotermia
Pengertian
Hipotermia adalah kondisi darurat medis yang terjadi
ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat dari pada saat tubuh
menghasilkan panas sehingga suhu tubuh pun menjadi sangat
rendah. Penderita hipotermia suhu tubuhnya di bawah 36
derajat Celcius padahal suhu tubuh manusia normal adalah 37
derajat Celcius.
Penyebab
Penyebab Hipotermia yakni pasti ada kontak dengan
lingkungan dingin, ada gangguan penyakit yang tengah
diderita, penggunaan obat - obatan ataupun alkohol serta
radang pankreas.13

10. Bagaimana cara mengurangi dan mencegah PBL?

Jawab:

1. Penyehatan Sumber Air Bersih (SAB), yang dapat dilakukan melalui Surveilans
kualitas air, Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih, Pemeriksaan kualitas air, dan
Pembinaan kelompok pemakai air.
2. Penyehatan Lingkungan Pemukiman dengan melakukan
pemantauan jamban keluarga (Jaga), saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan
tempat pengelolaan sampah (TPS), penyehatan Tempat-tempat Umum (TTU)
meliputi hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian
umum lain, sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar dan
tempat hiburan lainnya.
3. Dilakukan upaya pembinaan institusi Rumah Sakit dan sarana kesehatan lain,
sarana pendidikan, dan perkantoran.
4. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM) yang bertujuan untuk melakukan
pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan dan
minuman, kesiap-siagaan dan penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan
dini serta penyakit bawaan makanan.
5. Pemantauan Jentik Nyamuk dapat dilakukan seluruh pemilik rumah bersama
kader juru pengamatan jentik (jumantik), petugas sanitasi puskesmas, melakukan
pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang mungkin menjadi perindukan nyamuk
dan tumbuhnya jentik.13

11. Bagaimana sanitasi makanan dan minuman yang baik?

Prinsip Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman


Pengertian dari prinsip hygiene sanitasi makanan dan minuman adalah
pengendalian terhadap tempat/bangunan, peralatan, orang dan bahan makanan.
Prinsip ini penting untuk diketahui karena berperan sebagai faktor kunci keberhasilan
usaha makanan. Suatu usaha makanan yang telah tumbuh dan berkembang dengan
baik, jika melalaikan pringsip-prinsip hygiene sanitasi makanan dan minuman, besar
kemungkinan pada suatu saat akan merugikan. Menurut Depkes RI, 2004, enam
prinsip hygiene sanitasi makanan dan minuman yaitu :14

A. Prinsip 1 : Pemilihan Bahan Makanan.


Kualitas bahan makanan yang baik dapat dilihat melalui ciri-ciri fisik dan
mutunya dalam hal ini bentuk, warna, kesegaran, bau dan lainnya. Bahan makanan
yang baik terbebas dari kerusakan dan pencemaran termasuk pencemaran oleh bahan
kimia seperti pestisida (Kusmayadi, 2008).

a. Ciri-ciri bahan makanan yang baik.


1. Buah-buahan.
a) Keadaan fisiknya baik, isinya penuh, kulit utuh, tidak rusak atau
kotor.
b) Isi masih terbungkus kulit dengan baik.
c) Warna sesuai dengan bawaannya, tidak ada warna tambahan,
warna buatan (karbitan) dan warna lain selain warna buah.
d) Tidak berbau busuk, bau asam/ basi atau bau yang tidak segar
lainnya.
e) Tidak ada cairan lain selain getah aslinya.
2. Sayuran.
a) Daun, buah atau umbi dalam keadaan segar, utuh dan tidak layu.
b) Kulit buah atau umbi utuh tidak rusak/pecah
c) Tidak ada bekas gigitan hewan, serangga atau manusia
d) Tidak ada bagian sayuran yang ternoda atau berubah warnanya.
e) Bebas dari tanah atau kotoran lainnya.
3. Susu
a) Alami
Susu langsung diambil dari puting susu sapi, kerbau atau
kambing, susu ini harus steril. Pencemaran terjadi karena tangan
pemerah, infeksi kulit atau peralatan yang digunakan.
b) Pasteurisasi dan Sterilisasi
Pasteurisasi adalah proses pemanasan susu secara berulang
pada suhu 600C untuk membebaskan susu dari kuman pathogen.
Dengan cara ini susu tidak mengalami perubahan tetapi kuman
patogennya mati.
Sterilisasi adalah pemanasan susu dengan suhu 1000C atau
lebih untuk memusnahkan semua jenis kuman pathogen. Dengan cara
ini pathogen mati tetapi susunya mengalami perubahan berupa
pemecahan dan penggumpalan protein.

B. Prinsip 2 : Penyimpanan Bahan Makanan


Proses penyimpanan bahan makanan adalah agar bahan makanan tidak mudah
rusak dan kehilangan nilai gizinya. Semua bahan makanan dibersihkan terlebih
dahulu sebelum disimpan, yang dapat dilakukan dengan cara mencuci. Setelah
dikeringkan kemudian dibungkus dengan pembungkus yang bersih dan disimpan
dalam ruangan yang bersuhu rendah.

Dalam penyimpanan bahan makanan hal – hal yang harus diperhatikan adalah:
1. Penyimpanan harus dilakukan dalam suatu tempat khusus yang bersih
dan memenuhi syarat.
2. Barang-barang harus diatur dan disusun dengan baik, sehingga :
- Mudah untuk mengambilnya.
- Tidak menjadi tempat bersarang/ bersembunyi serangga dan tikus.
- Tidak mudah membusuk dan rusak, untuk bahan-bahan yang mudah
membusuk harus disediakan tempat penyimpanan dingin.
- Setiap bahan makanan mempunyai kartu catatan agar dapat digunakan
untuk riwayat kelur masuk barang dengan system FIFO (First In Firs
Out).

Ada empat cara penyimpanan makanan yang sesuai dengan suhunya


yaitu (Depkes RI,2004):
1. Penyimpanan sejuk (coolling), yaitu suhu penyimpanan 100 C – 150 C untuk
jenis minuman buah, es krim dan saturan.
2. Penyimpanan dingin (chilling), yaitu suhu penyimpanan 40 C – 100 C
untuk bahan makanan yang berprotein yang akan segera diolah kembali.
3. Penyimpanan dingin sekali (freezing), yaitu suhu penyimpanan 00 C – 40 C untuk
bahan berprotein yang mudah rusak untuk jangka waktu sampai 24 jam.
4. Penyimpanan beku (frozen), yaitu suhu penyimpanan < 00 C untuk bahan makanan
protein yang mudah rusak untuk jangka waktu > 24 jam.

C. Prinsip 3 :Pengolahan Makanan


Pengolahan makanan adalah proses pengubahan bentuk dari bahan mentah
menjadi makanan yang siap santap. Pengolahan makanan yang baik adalah yang
mengikuti kaidah prinsip-prinsip hygiene sanitasi (Depkes RI, 2004). Dalam proses
pengolahan makanan, harus memenuhi persyaratan hygiene sanitasi terutama menjaga
kebersihan peralatan masak yang digunakan, tempat pengolahan atau disebut dapur
serta kebersihan penjamah makanan (Kusmayadi, 2008).
a. Penjamah makanan.
Penjamah makanan adalah seorang tenaga kerja yang menjamah mulai dari
persiapan, mengolah, menyimpan, mengangkut maupun dalam penyajian makanan.

Syarat-syarat penjamah makanan (Depkes RI, 2003) :


1. Tidak menderita penyakit mudah menular, missal : batuk, pilek, influenza, diare,
penyakit perut sejenisnya.
2. Menutup luka (pada luka terbuka/bisul atau luka lainnya)
3. Menjaga kebersihan tangan, rambut, kuku dan pakaian.
4. Memakai celemek dan tutup kepala.
5. Mencuci tangan setiap kali hendak menangani makanan.
6. Menjamah makanan harus memakai alat/perlengkapan atau dengan alas tangan.
7. Tidak merokok, menggaruk anggota badan (telinga, hidung, mulut dan bagian
lainnya)
8. Tidak batuk atau bersin dihadapan makanan jajanan yang disajikan dan atau tanpa
menutup hidung atau mulut.

b. Persiapan Tempat Pengolahan.


Tempat pengolahan makanan yang digunakan harus memenuhi standar dan
persyaratan hygiene sanitasi untuk mencegah resiko pencemaran terhadap makanan.
Beberapa hal yang penting dalam persiapan tempat pengolahan adalah :
1. Ventilasi harus cukup baik agar asap dan udara panas dapur keluar dengan
sempurna.
2. Lantai, dinding dan ruangan bersih dan terpelihara agar menekan kemungkinan
pencemaran terhadap makanan.
3. Meja peracikan bersih dan permukaannya kuat/tahan goresan agar bekas irisan
tidak masuk kedalam makanan.
4. Tungku dilengkapi dengan alat penangkap asap atau pembuang asap berupa
sungkup (hood) atau cerobong asap, agar asap tidak mengotori ruangan.
5. Ruangan bebas lalat dan tikus. Lalat dan tikus adalah sumber pencemar yang cukup
potensial pada makanan.

c. Peralatan Masak.
Peralatan/perlengkapan yang diperlukan dalam proses pengolahan makanan,
seperti pisau, sendok, kuali, wajan dan lain-lainnya perlu diperhatikan :

1. Bahan peralatan
Tidak boleh melepaskan zat beracun kepada makanan seperti cadmium,
plumbum, zincum, cuprum, stibium atau arsenicum. Logam ini beracun yang
dapat berakumulasi sebagai penyakit kemih dan kanker.
2. Keutuhan peralatan
Tidak boleh patah, tidak mudah berkarat, penyok, tergores atau retak karena
akan menjadi sarang kotoran atau bakteri. Peralatan yang tidak utuh tidak
mungkin dapat dicuci sempurna sehingga dapat menjadi sumber kontaminasi.
3. Fungsi
Setiap peralatan mempunyai fungsi tersendiri yang berbeda dan jangan
dicampur aduk dan bila perlu digunakan tanda pada peralatan sesuai
fungsinya, karena peralatan yang digunakan bercampur baur akan
menimbulkan kontaminasi makanan.
4. Letak
Peralatan yang bersih dan siap dipergunakan sudah berada pada tempat
masing-masing (rak penyimpanan peralatan) sehingga memudahkan waktu
mempergunakannya/mengambil.

d. Peralatan Makanan dan Minuman.


Peralatan Makanan dan Minuman dapat dipergunakan seperti : piring, gelas,
mangkuk, sendok atau garpu harus dalam keadaan bersih. Beberapa hal yang harus
diperhatikan adalah :
1. Bentuk peralatan utuh, tidak rusak, cacat, retak atau berlekuk-lekuk tidak
rata.
2. Peralatan yang sudah bersih dilarang dipegang di bagian tempat makanan,
minuman atau menempel dimulut, karena akan terjadi pencemaran mikroba
melalui jari tangan.
3. Peralatan yang sudah retak, gompel atau pecah selain dapat menimbulkan
kecelakaan (melukai tangan) juga menjadi sumber pengumpulan kotoran
karena tidak akan dicuci sempurna.
4. Dilarang menggunakan kembali peralatan yang dirancang hanya untuk
sekali pakai.

e. Wadah Penyimpanan Makanan dan Minuman.


Wadah penyimpanan baskom, panci, harus dalam keadaan bersih, wadah
penyimpanan perlu diperhatikan cara pemisahan yang benar dan teliti untuk setiap
jenis makanan yang berada di dalam ruangan tempat penyimpanan. Makanan kering
dan bahan makanan basah serta makanan matang dan makanan mentah.

D. Prinsip 4 : Penyimpanan Makanan Masak


Menyimpanan makanan dan minuman yang sudah masak di tempat-tempat
yang tidak terjangkau tikus, serangga, binatang pengganggu lainnya. Adapun
karakteristik dari pada pertumbuhan bakteri pada makanan masak yang harus dipantau
dan dijaga adalah kadar air makanan, jenis makanan, suhu makanan.
a. Wadah.
Setelah selesai proses pengadaan, penerimaan bahan makanan, pencucian,
peracikan, pembuatan, pengubahan bentuk, maka akan dilakukan pengemasan atau
pewadahan. Makanan dan minuman yang disajikan harus dengan wadah yang bersih
dan aman bagi kesehatan dan atau tutup makanan dan minuman harus dalam keadaan
bersih dan tidak mencemari makanan (Depkes RI, 2003).
Pada dasarnya hygiene sanitasi dalam pewadahan mencakup beberapa hal,
antara lain :
1. Semua makanan masak mempunyai wadah masing-masing yang terpisah.
2. Pemisahan didasarkan pada saat makanan mulai diolah dan jenis makanan.
3. Setiap wadah mempunyai tutup, tetapi berventilasi yang dapat megeluarkan uap air.
4. Makanan berkuah dipisahkan antara lauk dengan saus atau kuahnya.

b. Suhu
1. Makanan kering di simpan dalam suhu kamar (250C – 300C).
2. Makanan basah harus segar disajikan pada suhu diatas 600C.
3. Makanan basah yang masih lama disajikan disimpan pada suhu dibawah
100C. Untuk mencegah pertumbuhan bakteri usahakanlah makanan selalu
berada pada suhu dimana bakteri tidak tumbuh yaitu dibawah 100C atau diatas
60 0C. Suhu 100C – 600C sangat berbahaya, (danger zone).

E. Prinsip 5: Pengangkutan Makanan


Pengangkuatan makanan yang sehat akan sangat berperan didalam mencegah
terjadinya pencemaran makanan. Pencemaran pada makanan masa lebih tinggi
resikonya daripada pencemaran pada bahan makanan. Oleh karena itu titik berat
pengendalian yang perlu diperhatikan adalah pada makanan masak. Dalam proses
pengangkutan makanan banyak pihak yang terkait mulai dari persiapan, pewadahan,
orang ,suhu dan kendaraan pengangkutan itu sendiri.

G. Prinsip 6 : Penyajian Makanan


Penyajian makanan yang menarik akan memberikan nilai tambah dalam
menarik pelanggan. Teknis penyajian makanan untuk konsumen memiliki berbagai
cara asalkan memperhatikan kaidah hygiene sanitasi yang baik. Penggunaan
pembungkus seperti plastik, kertas atau boks plastik harus dalam keadaan bersih dan
tidak berasal tidak berasal tidak berasal tidak berasaltidak berasal dari bahan-bahan
tidak berasal tidak berasal dari bahan – bahan yang dapat menimbulkan racun.
Makanan yang disajikan pada tempat yang bersih, peralatan yang digunakan
bersih, sirkulasi udara dapat berlangsung, penyaji berpakaian bersih dan rapi
menggunakan tutup kepala dan celemek. Tidak boleh terjadi kontak langsung dengan
makanan yang disajikan.14

12. Bagaimana prinsip dasar sanitasi ditempat umum (sekolah)?

Jawab:

Sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan aseptik dalam persiapan, pengolahan, dan


penyajian makanan; pembersihan dan sanitasi lingkungan kerja; dan kesehatan
pekerja. Secara lebih terinci sanitasi meliputi pengawasan mutu bahan mentah,
penyimpanan bahan, suplai air yang baik, pencegahan kontaminasi produk dari
lingkungan, peralatan, dan pekerja, pada semua tahapan proses.15

Prinsip-prinsip dasar sanitasi adalah sebagai berikut:


Kebersihan; yang meliputi pemusnahan mikrobia, sisa-sisa makanan, debu dan
tanah yang memungkinkan tumbuhnya mikrobia yang tidak dikehendaki.
Sanitasi; yang meliputi penggunaan cara-cara fisik dan mekanis atau zat-zat
kimia dengan maksud untuk memusnahkan sebagian besar mikrobia yang masih
tertinggal pada permukaan perkakas dan peralatan pabrik.
Persyaratan sanitasi harus dipenuhi dalam hal sarana dan atau prasarana yang
digunakan secara langsung atau tidak langsung, penyelenggaraan atau proses, orang
yang bertanggungjawab, menangani secara langsung dan atau berada langsung dalam
lingkungan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan atau
peredaran pangan.
Upaya sanitasi dasar meliputi penyediaan air bersih, pembuangan kotoran
manusia (jamban), pengelolaan sampah dan saluran pembuangan air limbah.
Sedangkan sanitasi di sekolah itu sendiri terdapat beberapa indikator dengan
standar peraturan yang ada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor: 24 tahun
2007 dan Peraturan Menteri Kesehatan nomor1429/Menkes/ SK/XII/2006 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah. Sekolah Bersih dan Sehat
didukung bangunan yang terdiri atas ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang
perpustakaan, ruang kelas, kamar mandi/WC, ruang UKS, kantin, gudang, tempat
ibadah, halaman,dan pagar sekolah. Semua unit bangunan di sekolah bebas dari suara
gaduh dan bising yang mengurangi konsentrasi belajar peserta didik dan kenyamanan
mengajar guru.

1. Ruang Kelas
Rasio minimal luas ruang kelas 2 m2/siswa. Untuk rombongan belajar dengan
peserta
didik kurang dari 15 orang, luas minimal ruang kelas 30 m2 dengan lebar minimal 5
m. Jarak papan tulis dengan meja siswa paling depan minimal 2,5 m dan jarak papan
tulis dengan meja paling belakang minimal 9 m. Kapasitas maksimal ruang kelas 28
siswa. Tersedia tempat cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun.
Minimal satu tempat cuci tangan untuk dua kelas. Disetiap kelas disediakan tempat
sampah bertutup.

2. Kamar mandi/WC
Rasio kamar mandi/WC dan urinoir adalah perbandingan antara jumlah peserta didik
dengan banyaknya kamar mandi/WC dan urinoiryang tersedia. Untuk peserta didik
rasionya adalah 1:60; sedangkan untuk siswi rasionya adalah 1:50. Kamar mandi/WC
dan urinoir peserta didik/siswi terpisah dengan kamar mandi/WC dan urinoir guru
dan pegawai.Ukuran kamar mandi/WC tidak kurang dari 2 m2. Dinding berwarna
terang. Lantai memiliki perkerasan tidak licin, air tidak menggenang, memiliki
kemiringan minimal 1%.Closet memiliki ketinggian 30 cm dari lantai baik closet
untuk guru maupun untukpeserta didik.Ruangan memiliki lubang penghawaan dan
pencahayaanyang cukup, bebas dari jentik nyamuk, memiliki alat kebersihan (sikat,
sabun, karbol), dan tempat sampah tertutup.

3. Ruang UKS
Ruang UKS adalah tempat untuk melakukan pelayanan kesehatan yang
bersifat promotif, preventif, dankuratif.Penyuluhantentang perilaku hidup sehat
kepada peserta didik dan warga sekolah lainnya dilakukan secara terus-menerus,
menyeluruh, dan terpadu.Ruang UKS dilengkapi tempat cuci tangan dengan air bersih
yang mengalir,tersedia sabun, memiliki tempat tidur periksa, timbangan badan, alat
pengukur tinggi badan, alat pengukur suhu tubuh,dental kit, UKS kit, P3K, lemari
obat, torso rangka atau alat tubuh, snellen chart, dan tempat sampah. Standar luas
ruang UKSadalah minimal 27 m2 yang dilengkapi dengan buku kesehatan dan buku
adminsitrasi.
4. Kantin
Kantin sekolah adalah tempat usaha makanan dan minumanyang pengelola
dan konsumennya adalah warga sekolah.Lokasi kantin berjarak minimal 20 m dari
tempat pembuangan sampah sementara. Kantin memiliki peralatan pengolahan dan
makan yang bersih, tempat cuci peralatan makan dan minum dengan air bersih yang
mengalir, tempat cuci tangan dilengkapi dengan air bersih mengalir, sabun dan lap
tangan untuk pengunjung kantin, tersedia tempat penyimpanan bahan makanan
terpisah dari makanan jadi/siap saji dan tempatpajangan(display) makanan jadi/siap
saji yang tertutup. Kantin dilengkapi dengan tempat duduk dan saluran air limbah
yang tertutup.Tersedia tempat untuk mengolah makanan sederhana (memanasi,
mengukus, dan memanggang). Makanan kemasan berlabel BPOM/Dinkes dan tidak
kadaluarsa. Makanan dan minuman yang dijual sudah dilakukan uji bebas formalin,
boraks, dan pewarna kimia berbahaya. Kemasan bersih dan tidak menggunakan
styrofom. Petugas kantin berpakaian rapi, bersih, bercelemek, bertudung, dan
sehat. Pengambilan makanan selalu menggunakan alat bantu pengambil makanan.

5. Halaman dan Pagar Sekolah


Halaman sekolah merupakan ruang terbuka hijau sebagai sarana untuk menunjang
segala kegiatan di luar ruangan (upacara, olahraga, kesenian, pramuka, parkir
kendaraan, apotek hidup,taman sekolah dan kegiatan lain)bagi warga sekolah.
Halaman sekolah terbebas dari genangan air dan mempunyai batas yang jelas dengan
lingkungan sekitar, dan dilengkapi dengan pagar yang kuat dan aman.

Konstruksi bangunan sekolah memenuhi persyaratan sebagai berikut:


a. Atap
Sekolah memiliki atap yang kuat, tidak bocor, tidak menjadi sarang tikus, serta
memiliki kemiringan yang cukup.Sekolah yang mempunyai ketinggian atap lebih dari
10m harus dilengkapi dengan penangkal petir.Gedung sekolah memiliki talang air
yang berfungsi baik, langit-langit yang kuat, berwarna terang dan mudah
dibersihkan.Ketinggian plafon tidak kurang dari 270 cm.
b. Dinding
Dinding bangunan sekolah bersih, tidak lembab, dan dicat berwarna terang.Pada
dinding yang terkena percikan air, bahan dinding tersebutdibuat dari bahan campuran
kedap air, tidak mudah retak, dan tidak dicat dengan larutan kapur tohor.
c. Lantai
Lantai kelas, kantor, dan perpustakaan terbuat dari bahan kedap air, kuat, permukaan
rata, tidak licin, tidak retak, dan mudah dibersihkan. Lantai menggunakan bahan
penutup yang berwarna terang. Terdapat perbedaan tinggi lantai antara selasar dengan
ruang kelas, perpustakaan, dan kantor. Lantai kamar mandi/WC memiliki kemiringan
yang cukup sehingga memudahkan air mengalir.
d. Tangga
Tangga bangunan sekolah bertingkat dapat berfungsi ganda. Tangga berfungsi sebagai
sarana lalu lintas dan sebagai sarana penyelamat. Tangga dilengkapi dengan pegangan
tangan dan sarana keamanan setinggi bahu peserta didik.

e. Pintu
Pintu memiliki lebar sekurang-kurangnya 1 m. Pintu tersebut dapat terdiri atassatu
daun pintu atau dua daun pintu dengan arah buka keluar.Pintu dilengkapi dengan
pengunci dan pegangan (handle)yang terbuat dari bahan yang kuat.
f. Jendela
Jendela dapat dibuka dan ditutup dengan arah buka keluar dan diberi pengaman. Kaca
jendela memungkinkan cahaya masuk secara alami sehingga peserta didik, guru, dan
pegawai sekolah dapat membaca dengan nyaman, tidak terlalu terang, dan juga tidak
gelap (20 % luas lantai).
g. Ventilasi
Gedung sekolah dilengkapi dengan ventilasi. Ruang-ruang di sekolah diupayakan
mempunyai ventilasi silang yang dapat menjamin aliran udara segar. Ventilasi udara
dapat berupa ventilasi alami dan ventilasi mekanis. Ventilasi mekanis
memperhitungkan kekuatan pendinginan mesin dengan jumlah penghuni. Pada ruang
yang menggunakan ventilasi mekanis hendaknya tersedia jendela yang dapat dibuka
dan ditutup untuk menjamin udara segar disekolah.
h. Sanitasi
Sekolah memiliki sarana sanitasi dasar berupa sarana air bersih, saluran pembuangan
air limbah, dan jamban(WC).Sarana air bersih dapat berupa sumur gali, sumur pompa
tangan,atau sumur bor. Jamban di sekolah minimal berbentuk leher angsa dan
dilengkapi septictank kedap air serta saluran peresapan.Sekolah memiliki sarana air
bersih yang mencukupi untuk warga sekolah, memenuhi kualitas air bersih secara
fisik, kimia, dan bakteriologis.Jarak antara sarana air bersih dan septic-tankminimal
10 m.
i. Sumber Air
Sumber air dapat berasal dari air tanah, air permukaan, dan airhujan.Air tanah dapat
berupa air sumur atauair mata air.Air permukaan berupa air sungai, air danau,atau air
payau. Jika air permukaan akan digunakan sebagai sumber air minum, maka harus
dilakukan proses pengolahan lebih lanjut.
j. Tempat Sampah
Tempat sampahadalah tempat menampung material sisa hasil kegiatan sehari-hari
manusia dan atau proses alam yang tidak diinginkan yang berbentuk padat. Sekolah
memiliki tempat sampah sementara yang bertutup dan terpilah di setiap
ruangan.Sampah diangkut setiap hari ke tempat pengolahan sampah.
Perilaku Warga sekolah
Tujuan pelaksanaan SD Bersih Sehatadalah untukmembudayakan perilaku hidup
bersih
dan sehat meliputi perilaku sebagai berikut.
a. Menjaga rambut agar bersih dan rapih.
b . Memakai pakaian bersih dan rapih.
c. Menjaga kuku agar pendek dan bersih.
d . Berolahraga teratur dan terukur.
e . Tidak merokok.
f . Tidak menggunakan narkoba, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA).
g . Memberantas jentik nyamuk.
h . Menggunakan jamban yang bersih dan sehat.
i . Menggunakan air bersih.
j . Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
k . Membuang sampah ke tempat sampah yang terpilah (sampah organik dan
nonorganik. 15
13. Bagaimana langkah langkah pengelolaan sanitasi di tempat umum?
Jawab:
Sanitasi tempat-tempat umum adalah usaha untuk mengawasi dan mencegah
akibat dari tempat-tempat yang diperuntukkan bagi masyarakat umum terutama yang
erat kaitannya dengan timbulnya atau menularnya suatu penyakit. Pentingnya
pengawasan tempat-tempat umum karena :16

a. Tempat umum yang tidak saniter dapat menjadi tempat perkembangbiakan bibit
penyakit dan vektor penyakit, sehingga akan memperluas penyebaran penyakit.
b. Kontruksi bangunan tempat umum yang tidak memenuhi syarat akandapat
menimbulkan bahaya dan kecelakaan.

Dalam pelaksanaan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum adabeberapa


langkah yang perlu dilakukan. Adapun langkah-langkah tersebut adalah.17

a. Identifikasi Masalah Higiene dan Sanitasi Tempat-Tempat Umum

Pelaksanaan identifikasi masalah dilakukan dengan melihat secaragaris besar


untuk mengetahui permasalahan sanitasi pada tempat umumyang diperiksa
menyangkut permasalahan umum sanitasi yang ada. Tahapini merupakan survey
pendahuluan ( preliminary survey) pada tempatumum. Pelaksanaan identifikasi
masalah dapat dilakukan dengan carawawancara dengan pengusaha/pengelola atau
karyawan pada tempatumum tersebut dan melakukan peninjauan lapangan. Dalam
peninjauanlapangan dimulai dari bagian luar (halaman dan pekarangan), kemudianke
bagian dalam (ruangan-ruangan). Peninjauan dilakukan di seluruhwilayah tempat
umum dan diutamakan pada lokasi yang dipergunakansebagai pelayanan umum.

b. Pemeriksaan Sanitasi ( Sanitary Inspections)

Dalam pemeriksaan sanitasi tempat-tempat umum ada 2 tahapanyang dilakukan


yaitu:

i. Langkah persiapan pemeriksaan


Kegiatan yang dilakukan dalam langkah persiapan ini adalahmengadakan
peninjauan lokasi (areal survey), mencari danmenentukan barang-barang
sanitasi (sanitary items) dan membuat formulir pemeriksaan (sanitary
inspection sheet).
ii. Langkah pelaksanaan pemeriksaan
Dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan ada dua tindakan yang dilakukan, yaitu
 Penilaian adalah pengujian sesuatu dengan menggunakan alatukur atau
standar ukuran tertentu apakah obyek yang diujisesuai dengan ketentuan atau
persyaratan yang berlaku.
 Pemberian saran perbaikan (order for improvement)
Dalam pelaksanaan pemberian saran dapat dilakukan dengancara langsung
secara lisan atau tidak langsung yaitu menuliskan saran pada formulir
perbaikan yang dapat ditempelpada unit wilayah yang didapatkan ada
permasalahannya. Carapemberian saran mencakup beberapa hal yaitu tentang
4W +1H:
iii. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Sanitasi (Follow Up Inspections)
Pengertian tindak lanjut hasil pemeriksaan sanitasi adalah suatupemeriksaan
yang dilakukan dalam rangka pengamatan terhadap hasilpelaksanaan perbaikan
sanitasi setelah pemberian saran padapemeriksaan sebelumnya. Maksud dan
tujuan dari tindak lanjut ini adalahmengadakan penilaian secara terus menerus
mengenai keadaan sanitasisuatu tempat umum, memperoleh data pembanding
dari kegiatan sanitasisaat ini (dibandingkan dengan sebelumnya), memperoleh
gambarankeadaan sanitasi tempat umum sepanjang tahun terus
menerus,memperoleh data untuk kepentingan penelitian dan pengembangan.
iv. Sistem penilaian ( Evaluation Methode )
Permasalahan yang didapatkan pada saat diadakan pemeriksaansanitasi
maupun pemeriksaan tindak lanjut perlu dipertimbangkanpenyelesaiannya
apakah hal-hal yang berhubungan dengan:
a. Adanya klasifiasi permasalahan, apakah kesalahannya
menyangkutkonstruksi, pengaturan, tidak memenuhi persyaratan, tidak
memenuhiperaturan, terbatasnya anggaran, dan sikap karyawan.
b. Adanya penentuan prioritas, mana yang perlu dilakukan perbaikanterlebih
dahulu, disesuaikan dengan kemampuan pengelola tempatumum.
v. Sistem Pencatatan dan Pelaporan
a. Pencatatan ( recording )
Setiap pelaksanaan dan hasil yang didapatkan dari pengawasansanitasi
harus dibuat pencatatan. Catatan ini nanti nya dipergunakanuntuk menilai
kembali keadaan sanitasi selanjutnya (pembanding).Hal-hal yang perlu
dicatat adalah data hasil pemeriksaan danpengawasan, nilai keadaan sanitasi
yang diperoleh pada waktupemeriksaan dan pemeriksaan tindak lanjut, dan
data untukkeperluan statistik yang akan digunakan sebagai dasar pelaporan.
b. Pelaporan ( reporting )
Dari hasil pencatatan yang diolah selanjutnya disusun sebagipelaporan.
Dengan adanya pelaporan ini maka pihak-pihak lain akandapat mengetahui
dan dapat memanfaatkan untuk mengembangkannya.17
I. Kerangka Konsep

PENYEBARAN
HEPATITIS A DI
SMAN 5 JAMBI

Penyakit Berbasis Lingkungan (PBL) Prinsip Dasar Sanitasi

- Penyebab 1. Sanitasi
- Faktor risiko lingkungan
- Transmisi 2. Sanitasi
penularan makanan dan
- Gejala klinis minuman
- Pencegahan 3. Sanitasi TTU
4. Pengelolaan
limbah

- TBC
- Diare
- ISPA
- Malaria
- DBD
- Chikungunya
- Filariasi
- Penyakit kulit
- Hepatitis A
- Kcacingan
DAFTAR PUSTAKA

1. Dorlan,W.A.Newman; Alih Bahasa , Huriawati, Hartanto, Dkk ; Editor Edisi Bahasa


Indonesia, Huriawati, Hartanto, Dkk. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29.
Jakarta : EGC
2. Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1996
3. Acute viral hepatitis dalam buku harrison’s principles of internal medicine 16th
Edition. L.Kasper MD, Dennis dkk United States of America : Mc Graw Hill. 2005
4. Acute viral hepatitis dalam buku harrison’s principles of internal medicine 17th
Edition. L.Kasper MD, Dennis dkk United States of America : Mc Graw Hill. 2008
5. Hepatitis virus akut dalam buku panduan pelayanan medik. Perhimpunan dokter
specialis penyakit dalam indonesia. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI. 2009.
6. Arief, Syamsul. Hepatitis Virus. Dalam: Juffrie M, Soenarto Yati SS, Oswari
Hanifah, Arief S, Rosaline Ina, Mulyani SS, penyunting. Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi. Edisis ke-1. Jakarta: Badan Penerbitan IDAI ; 2012.
7. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II edisi V. Jakarta: Interna Publishing; 2009.
8. Santoso Hari, Ratna BH, Muchtar N. Buku pedoman penyelidikan dan
penanggulangan kejadian luar biasa penyakit menular dan keracunan pengan
(pedoman epidmilogi penyakit). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011;9-
22.
9. Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan. Pedoman
Keamanan Pangan di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Bina Gizi. 2011
10. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1429/MENKES/SK/XII/2006. Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan
Sekolah.
11. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Stiyohadi B, Syam AF. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid III.VI. Jakarta: Interna Publishing. 2014.
12. Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 288/MENKES/SK/HI/2003
Tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum. Jakarta : 2003.
13. Achmadi, U. F. Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers;
2013.
14. http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/plh/573-sanitasi-
makanan-sehat Diunduh pada Selasa 14 Agustus 2018.
15. Bafadal, I. 2014. Panduan pelaksanaan pembinaan sekolah dasar bersih dan sehat.
Jakarta: kementrian pendidikan dan kebudayaan, direktorat jendral pendidikan dasar,
direktorat pembinaan sekolah dasar.
16. Adi, BS. Hyegine Dan SanitasiLingkunganSekolah . (online) . (diaksespada 13 Agustus
2018). Diunduhdari URL :
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Banu%20Setyo%20Adi,%20M.Pd./
Hygiene%20dan%20Sanitasi.pdf.
17. Mubarak, Wahid Iqbal. 2009 . Ilmu Kesehatan Masyarakat:Teori dan Aplikasi.
Jakarta:Salemba medika.
18. Adhyatama, Dhaneswara. Angka Kejadian Infeksi Hepatitis A Virus Pada Pasien
Dengan Leptospirosis. 2014. Semarang: Universitas Diponegoro