You are on page 1of 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Soil Transmitted Helminths

Soil Transmitted Helminths (STH) adalah nematoda usus yang dalam


siklus hidupnya membutuhkan tanah untuk proses pematangan. Cacing ini
ditularkan melalui telur cacing yang dikeluarkan bersamaan dengan tinja orang
yang terinfeksi. Di daerah yang tidak memiliki sanitasi yang memadai, telur ini
akan mencemari tanah. Spesies yang termasuk dalam Soil Transmithed Helminths
antara lain cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris
trichiura), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale),
Strongyloides Stercoralis. tetapi yang ditularkan pada umumnya ada tiga yaitu:
Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang Necator americanus
dan Ancylostoma duodenale.3,4,5

Cara penularan (transmisi) nematoda dapat terjadi secara langsung dan


tidak langsung. Mekanisme penularan berkaitan erat dengan hygiene dan sanitasi
lingkungan yang buruk. Penularan dapat terjadi dengan: menelan telur infektif
(telur berisi embrio), larva (filariorm) menembus kulit, memakan larva dalam
kista, dan perantaraan hewan vektor. Dewasa ini cara penularan nematoda yang
paling banyak adalah melalui aspek Soil Trasmitted Helminth yaitu penularan
melalui media tanah.5

4
5

2.1.1 Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)

Gambar 2.1 Ascaris lumbricoides (Dewasa)

2.1.1.1 Taksonomi

Phylum : Nemathelminthes

Class : Nematoda

Subclass : Secernemtea

Ordo : Ascoridida

Super famili : Ascoridciidea

Genus : Ascaris

Species : Ascaris lumbricoides6

2.1.1.2 Morfologi

Ascaris lumbricoides merupakan nematoda terbesar (cacing gelang)


berwarna putih kecoklatan atau kekuningan pucat, hidup sebagai parasit pada usus
manusia. Cacing betina berukuran lebih besar dari cacing jantan. Ukuran cacing
betina dewasa mencapai 22-35 cm dan cacing jantan dewasa 10-31 cm. Kutikula
6

yang halus bergaris–garis tipis menutupi seluruh permukaan badan cacing.


Ascaris Lumbricoides mempunyai tiga mulut dengan tiga buah bibir, yang terletak
sebuah dibagian dorsal, dan dua bibir lainnya terletak subventral. Cacing dewasa
hidup di rongga usus halus. Seekor cacing betina dapat bertelur 100.000-200.000
butir sehari.7

Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi


bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif tersebut bila
tertelan manusia, menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus
menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian
mengikuti aliran darah menuju ke paru. Larva di paru menembus dinding
pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke
trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva menuju faring, sehingga
menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan tersebut
dan larva akan tertelan ke dalam esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus
halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai
cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2-3 bulan.7

Gambar 2.2 Siklus hidup Ascaris Lumbricoides


7

pemeriksaan tinja penderita, dapat ditemukan telur cacing. Ada tiga bentuk telur
yang mungkin ditemukan, yaitu telur sudah dibuahi (fertilized eggs), berbentuk
bulat atau oval dengan dinding telur yang kuat, terdiri dari 3 lapis. Telur yang
mengalami dekortikasi adalah telur yang dibuahi, akan tetapi kehilangan
albuminoidnya. Telur yang tidak dibuahi (unfertilized eggs), mungkin dihasilkan
oleh betina yang tidak subur atau terlalu cepat dikeluarkan oleh betina yang subur.
Telur ini berdinding tipis dan akan tenggelam dalam larutan garam jenuh.7

Gambar 2.3 Telur Ascaris Lumbricoides

2.1.1.3 Patofisiologi

Gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke paru-paru sehingga


dapat menyebabkan perdarahan di dinding alveolus yang disebut sindrom
Leoffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa termasuk ringan. Ciri-
ciri penderita mengalami gangguan usus ringan seperti mual, napsu makan
berkurang, diare dan konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak
dapat terjadi gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion). Keadaan yang
serius, bila cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada
usus.8

2.1.1.4 Gejala Klinik dan Diagnosis

Infeksi cacing Ascaris lumbricoides dapat diidentifikasi melalui telur


dalam tinja dan cacing dewasa yang keluar melalui mulut, hidung atau tinja.
8

Penyakit terjadi pada sebagian kecil dari individu yang terinfeksi, dapat menjadi
suatu masalah klinis karena insiden tinggi askariasis. Morbiditas dapat terinfestasi
selama migrasi larva yang melalui paru-paru atau dihubungkan dengan adanya
cacing dewasa di usus halus. Patogenisasi askariasis belum diketahui walaupun
mungkin dilibatkan fenomena hipersensitivitas. Cacing dewasa dapat
menimbulkan penyakit dengan menyumbat usus atau cabang-cabang saluran
empedu dan dengan mempengaruhi nutrisi hospes.8

2.1.2 Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)

Gambar 2.4 Trichuris Trichiura (Dewasa)

2.1.2.1 Taksonomi

Phylum : Nemathelminthes

Class : Nematoda

Subclass : Adenophorea

Ordo : Enoplida

Super famili : Trichinelloidea

Genus : Trichuris

Species : Trichuris trichiura8


9

2.1.2.2 Morfologi

Manusia merupakan hospes definitif dari Trichuris trichiura. Cacing ini terutama
dapat ditemukan di sekum dan appendiks, tetapi juga dapat ditemukan di kolon
dan rektum dalam jumlah yang besar. Cacing cambuk tidak membutuhkan hospes
perantara untuk tumbuh menjadi bentuk infektif.3

Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, sedangkan cacing jantan kira-kira 4 cm.
Bagian anterior langsing seperti cambuk, panjangnya kira-kira 3/5 dari panjang
seluruh tubuh. Bagian posterior bentuknya lebih gemuk dan cacing betina
bentuknya membulat tumpul, sedangkan pada cacing jantan melingkar dan
terdapat satu spikulum. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dan sekum
dengan satu spikulum dengan bagian anteriornya yang seperti cambuk masuk ke
dalam mukosa usus. Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap
hari antara 3.000-20.000 butir. Telur berbentuk seperti tempayan dengan semacam
penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna
kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih.7

Gambar 2.5 Telur Trichuris Trichiura

Telur yang keluar bersama tinja merupakan telur dalam keadaan belum matang
(belum membelah) dan tidak infektif. Telur ini perlu pematangan pada tanah
10

selama 3-5 minggu sampai terbentuk telur infektif yang berisi embrio di
dalamnya. Manusia mendapat infeksi jika telur yang infektif ini tertelan.
Selanjutnya di bagian proksimal usus halus, telur menetas, keluar larva, menetap
selama 3-10 hari. Setelah dewasa, cacing akan turun ke usus besar dan menetap
dalam beberapa tahun. Jelas sekali bahwa larva tidak mengalami migrasi dalam
sirkulasi darah ke paru-paru.3

Gambar 2.6 Siklus Trichuris Trichiura

2.1.2.3 Patofisiologi

Cacing cambuk pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga ditemukan di
dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak cacing ini tersebar
diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada mukosa rektum yang
mengalami prolapsus akibat mengejanya penderita sewaktu defikasi. Cacing ini
memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi trauma yang
menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat pelekatnya dapat
menimbulkan perdarahan. Disamping itu cacing ini menghisap darah hospesnya
sehingga dapat menyebabkan anemia.8
11

2.1.2.4 Gejala Klinik dan Diagnosis

Infeksi cacing cambuk yang ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang
jelas atau sama sekali tanpa gejala. Sedangkan infeksi cacing cambuk yang berat
dan menahun terutama pada anak menimbulkan gejala pada anak seperti diare,
disenteri, anemia, berat badan menurun dan kadang-kadang terjadi prolapsus
rectum. Infeksi cacing cambuk yang berat juga sering disertai dengan infeksi
cacing lainnya atau protozoa. Diagnosa dibuat dengan menemukan telur didalam
tinja.9

2.1.3 Cacing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)

Gambar 2.7 Necator americanus dan Ancylostoma duodenale

2.1.3.1 Taksonomi

a. Necator americanus

Phylum : Nematoda

Class : Secernentea

Ordo : Strongylida

Famili : Uncinariidae

Genus : Necator
12

Species : Necator americanus8

b. Ancylostoma duodenale

Phylum : Nematoda

Class : Secernentea

Ordo : Strongylida

Famili : Ancylostomatidae

Genus : Ancylostoma

Spesies : Ancylostoma duodenale8

2.1.3.2 Morfologi.
Manusia merupakan hospes definitif dari cacing tambang. Cacing ini
hidup dalam usus halus terutama di daerah jejunum. Pada infeksi berat, cacing
dapat tersebar sampai ke kolon dan duodenum. Cacing dewasa hidup di rongga
usus halus dengan mulut yang besar melekat pada mukosa dinding usus.3

Ukuran Ancylostoma duodenale sedikit lebih besar dari Necator


americanus. Cacing dewasa jantan berukuran 5-11 mm x 0,3-0.45 mm dan cacing
betina 9-13 mm x 0,35-0,6 mm. Bentuk badan Necator americanus biasanya
menyerupai huruf S, sedangkan Ancylostoma duodenale menyerupai huruf C.
Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. Necator americanus mempunyai
benda kitin, sedangkan Ancylostoma duodenale ada dua pasang gigi.7,10

Telur cacing tambang berbentuk oval, tidak berwarna dan berukuran 40 x


60 mikron. Dinding luar dibatasi oleh lapisan vitelline yang halus, di antara ovum
dan dinding telur terdapat ruangan yang jelas dan bening. Telur yang baru keluar
bersama tinja mempunyai ovum yang mengalami segmentasi 2, 4, dan 8 sel.
Bentuk telur Necator americanus tidak dapat dibedakan dari Ancylostoma
duodenale. Jumlah telur per-hari yang dihasilkan seekor cacing betina Necator
13

americanus sekitar 9.000-10.000, sedangkan pada Ancylostoma duodenale


10.000-20.000 butir.3

Gambar 2.8 Telur Cacing Tambang


Telur cacing tambang dikeluarkan bersama tinja dan berkembang di tanah.
Dalam kondisi kelembaban dan temperatur yang optimal, telur akan menetas
dalam 1-2 hari dan melepaskan larva rhabditiform yang berukuran 250-300 μm.
Setelah dua kali mengalami perubahan, akan terbentuk larva filariform.
Perkembangan dari telur ke larva filariform adalah 5-10 hari. Kemudian larva
menembus kulit manusia dan masuk ke sirkulasi darah melalui pembuluh darah
vena dan sampai di alveoli. Setelah itu larva bermigrasi ke saluran nafas atas yaitu
dari bronkhiolus ke bronkus, trakea, faring, kemudian tertelan, turun ke esofagus
dan menjadi dewasa di usus halus.10

Gambar 2.9 Siklus Hidup Cacing Tambang


14

2.1.3.3 Patofisiologi

Lesi yang disebabkan oleh cacing tambang dapat terjadi selama migrasi
infeksi atau mungkin terkait dengan adanya cacing dewasa pada usus kecil.
Daerah gatal atau dermatitis akibat dari invasi larva kulit dan selanjutnya respons
radang. Lesi paru ringan yang serupa dengan lesi yang diuraikan pada ascariasis
dapat terjadi selama migrasi larva dalam paru. Adanya cacing dewasa pada usus
kecil menyebabkan anemia dan hipoalbuminaria. Keparahan anemia cacing
tambang dihubungkan dengan intensitas infeksi dan keseimbangan besi hospes.
Kehilangan darah bervariasi menurut spesies cacing tambang (0,03-0,3 m
darah/cacing/hari), infeksi Ancylostoma duodenale menyebabkan kehilangan yang
lebih besar dari pada Necator americanus.7

2.1.3.4 Gejala Klinik dan Diagnosis

Gejala klinis karena infeksi cacing tambang antara lain lesu, tidak
bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi
kerja menurun, dan anemia (anemia hipokrom micrositer). Disamping itu juga
terdapat eosinophilia.6

2.2 Sayuran Yang Menjadi Media Penularan

2.2.1 Kubis (Brassica oleracea)

Gambar 2.10 Kubis (Brassica oleracea)


15

2.2.1.1 Taksonomi

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub divisio : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Papavorales

Famili : Cruciverae (Brassicaceae)

Genus : Brassica

Spesies : Brassica oleracea11

2.2.2 Selada (lactuca sativa l.)

Gambar 2.11 Selada (lactuca sativa l.)


16

2.2.2.1 Taksonomi

Phylum : Spermatophyta

Ordo : Dicotyledoneae

Subclass : Angiospermae

Super famili : Asterales

Genus : Lactuca

Species : Lactuca sativa L.14

2.2.3 Pemeriksaan Soil Transmitted Helminths (STH) pada Sayuran

Salah satu metode pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk


mengidentifikasi telur Soil Transmitted Helminths (STH) pada sayuran adalah
dengan metode tak langsung. Dalam metode ini telur cacing tidak langsung dibuat
sediaan tetapi sebelum dibuat sediaan sampel diperlakukan sedemikian rupa
sehingga telur cacing dapat terkumpul. Metode ini menghasilkan sediaan yang
lebih bersih daripada metode yang lain.13

Metode tak langsung dibagi menjadi dua cara yaitu sedimentasi


(pengendapan) dan flotasi (pengapungan). Prinsip dari teknik sedimentasi adalah
memisahkan antara suspensi dan supernata dengan adanya sentrifugasi sehingga
telur cacing dapat terendap. Sedangkan prinsip dari teknik flotasi adalah berat
jenis telur cacing lebih kecil daripada berat jenis NaCl jenuh sehingga
mengakibatkan telur cacing akan mengapung di permukaan larutan.14

Pemeriksaan dengan teknik sedimentasi dan flotasi memiliki kelebihan


dan kekurangan. Teknik sedimentasi memerlukan waktu lama, tetapi mempunyai
keuntungan karena dapat mengendapkan telur tanpa merusak bentuknya. Pada
teknik flotasi, pemeriksaan tidak akurat bila berat jenis larutan pengapung lebih
17

rendah daripada berat jenis telur dan jika berat jenis larutan pengapung ditambah
maka akan menyebabkan kerusakan pada telur.13
18

2.4 Kerangka Teori

Telur Soil transmithed


Helminths di keluarkan
bersamaan dengan tinja

Telur STH mengontaminasi


Tanah
Faktor Iklim dan
lingkungan

Telur STH melekat pada


sayuran kubis dan salada

Kebersihan pasar
Sayuran di jual di pasar

Pencucian sayur yang


kurang baik

Telur STH masih melekat


pada sayuran

Infeksi Soil transmithed


Helminths
19

2.5 Kerangka Konsep

Sayuran Kubis Dan


salada

Sayur dibawa dengan


kendaraan pribadi dan
disimpan didalam plastik
klip

Pemeriksaan
laboratorium dengan
metode pengendapan

Ditemukan telur Soil Tidak ditemukan telur


Transmithed Soil Transmithed
Helminths Helminths

Jumlah telur Soil Jenis telur Soil


Transmithed Transmithed
Helminths Helminths
20

2.6 Hipotesis
Adanya telur Soil Transmithed Helminths di pasar Tradisional Kota Jambi.