You are on page 1of 33

PANDUAN SKILLS LAB

BLOK 5.3
ENDOKRIN DAN METABOLISME TUBUH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017
KATA PENGANTAR
Proses pembelajaran pada blok 5.3 ini merupakan integrasi dari ilmu endokrin dan
metabolisme tubuh. Dalam blok ini, mahasiswa akan mempelajari mengenai pengelolaan pasien
yang memiliki gangguan sistem endokrin dan metabolisme tubuh. Tentunya blok ini terdiri dari
banyak materi yang harus dipelajari oleh mahasiswa.
Untuk mendukung kemampuan tersebut, dalam blok ini mahasiswaakan dibekali dengan
keterampilan klinis yang akan bermanfaat dalam praktik di kehidupan nyata. Keterampilan klinis
yang akan dipelajari dalam blok 5.3 terdiri atas melakukan anamnesis, konseling, integrated
pasien management, teknik injeksi. Untuk materi skill lab anamnesis dan konseling akan
dilakukan dalam 1 sesi. Dan untuk materi teknik injeksi juga akan dilakukan dalam 1 sesi. Untuk
mendapatkan hasil yang maksimal, mahasiswa diharapkan dapat membaca panduan skill lab
terlebih dahulu dan mengikuti skill lab dengan sebaik-baiknya.

2
DAFTAR KOMPETENSI
Berdasarkan SKDI (Standar Kompetensi Dokter Indonesia) 2012, ada beberapa level
kompetensi yang harus dipenuhi oleh mahasiswa kedokteran untuk menjadi seorang dokter.

Level kompentensi 1 (Knows): Mengetahui dan menjelaskan


Lulusan dokter mampu menguasai pengetahuan teoritis termasuk aspek biomedik dan
psikososial keterampilan tersebut sehingga dapat menjelaskan kepada pasien/pasien dan
keluarganya, teman sejawat, serta profesi lainnya tentang prinsip, indikasi, dan komplikasi yang
mungkin timbul. Keterampilan ini dapat dicapai mahasiswa melalui perkuliahan, diskusi,
penugasan, dan belajar mandiri,sedangkan penilaiannya dapat menggunakan ujian tulis.

Level kompentensi 2 (Knows how): Pernah melihat atau didemonstrasikan


Lulusan dokter menguasai pengetahuan teoritis dari keterampilan ini dengan penekanan pada
clinical reasoning dan problem solving serta berkesempatan untuk melihat dan mengamati
keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada
pasien/masyarakat. Pengujian keterampilan tingkat kemampuan 2 dengan menggunakan ujian
tulis pilihan berganda atau penyelesaian kasus secara tertulis dan/atau lisan.

Level kompentensi 3 (Shows): Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah


supervisi.
Lulusan dokter menguasai pengetahuan teori keterampilan ini termasuk latarbelakang biomedik
dan dampak psikososial keterampilan tersebut, berkesempatan untuk melihat dan mengamati
keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada
pasien/masyarakat, serta berlatih keterampilan tersebut pada alat peraga dan/ atau standardized
patient. Pengujian keterampilan tingkat kemampuan 3 dengan menggunakan Objective
Structured Clinical Examination (OSCE) atau Objective Structured Assessment of Technical
Skills (OSATS).

Level kompentensi 4 (Does): Mampu melakukan secara mandiri


Lulusan dokter dapat memperlihatkan keterampilannya tersebut dengan menguasai seluruh teori,
prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi dan pengendalian komplikasi.

3
Selain pernah melakukannya di bawah supervisi, pengujian keterampilan tingkat kemampuan 4
dengan menggunakan Workbased Assessment seperti mini-CEX, portfolio, logbook, dsb.
4A. Keterampilan yang dicapai pada saat lulus dokter.
4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atau Pendidikan
Kedokteran Berkelanjutan (PKB).

SKILL
1. Anamnesis 4A
- Autoanamnesis dengan pasien 4A
- Alloanamnesis dengan anggota keluarga/orang lain yang bermakna 4A
- Memperoleh data mengenai keluhan/masalah utama 4A
- Menelusuri riwayat perjalanan penyakit sekarang/dahulu 4A
- Memperoleh data bermakna mengenai riwayat perkembangan, 4A
pendidikan, pekerjaan, perkawinan, kehidupan keluarga
2. Konseling kasus metabolisme dan endokrin 4A

4
MODUL KETERAMPILAN KLINIK 1 BLOK 5.3
KONSELING DAN ANAMNESIS

MATERI
I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Umum :
Setelah mengikuti skill lab berikut mahasiswa mampu melakukan teknik anamnesis dan
konseling.

Khusus :
Setelah mengikuti skill lab berikut mahasiswa diharapkan mampu:
1. Melakukan Autoanamnesis dengan pasien
2. Melakukan Alloanamnesis dengan anggota keluarga/orang lain yang bermakna
3. Memperoleh data mengenai keluhan/masalah utama
4. Menelusuri riwayat perjalanan penyakit sekarang/dahulu
5. Memperoleh data bermakna mengenai riwayat perkembangan, pendidikan, pekerjaan,
perkawinan, kehidupan keluarga
6. Memahami definisi konseling
7. Memahami sasaran konseling
8. Mengetahui langkah – langkah konseling

II. RENCANA PEMBELAJARAN


1. Anamnesis& Konseling
Prasesi
- Mahasiswa membaca buku materi tentang anamnesis
- Mahasiswa membaca buku mengenai konseling
- Mahasiswa membaca panduan skills lab,
- Mahasiswa membaca dan memahami contoh kasus serta mencari tinjauan teori
mengenai kasus yang tertera di panduan skills lab sehingga dapat mempersiapkan diri
untuk melakukan anamnesis dan memberikan konseling sesuai kasus

5
Sesiterbimbing
Sesi I Waktu (menit)
 Introduction 5
 Diskusi tentang keterampilan anamnesis 25
 Masing-masing mahasiswa mencoba melakukan
teknik anamnesis (berpasangan) & konseling
sesuai kasus yang disiapkan tim blok 10x12 = 120

III. SKENARIO KLINIS


1. Tn.Budi 51 tahun datang dengan ditemani oleh istrinya ke poliklinik RSUD Raden
Mattaher Jambi dengan keluhan sering kencing, kedua kaki terasa kesemutan, serta
sering merasakan lapar. Menurut istrinya sebelumnya Tn.Budi merasakan sering
kencing sehari bisa 10 sampai 15 kali dan tidak pernah berobat ke dokter sejak 2
tahun yang lalu. Penderita juga merasakan rasa haus terus yang sudah dirasakan
sejak 3 bulan terakhir ini.
2. Ny. Sari, 32 tahun datang ke polikinik penyakit dalam dengan keluhan berdebar-
debar, cepat capek, badan makin kurus meskipun banyak makan, tidur gelisah,
selalu berkeringat tidak tahan
3. Tn.Ali 60 tahun, penderita kencing manis sejak 10 tahun yang laludan mndapatkan
terapi insulin. Tiap pagi Tn.Ali mendapat suntikan insulin jangka pendek 3x8 IU
subkutan sebelum makan secara teratur. Siang ini Tn.Ali dibawa ke IGD karena
tidak sadar dan keringat dingin.
4. Anak Andi usia 1 tahun di bawa ke poli klinik anak dengan keluhan berat badan
yang tidak bertambah, anak tampak lemas, lengan dan kaki tampak kurus
sedangkan perut tampak membuncit,

6
IV. TINJAUAN TEORI
ANAMNESIS
Sebelum melakukan anamnesis lebih lanjut, pertama yang harus ditanyakan adalah
identitas pasien, yaitu umur, jenis kelamin, ras, status pernikahan, agama dan pekerjaan.
Anamnesis yang baik harus mengacu pada pertanyaan yang sistematis, yaitu dengan
berpedoman pada empat pokok pikiran (The Fundamental Four) dan tujuh butir mutiara
anamnesis (The Sacred Seven). Yang dimaksud dengan empat pokok pikiran, adalah
melakukan anamnesis dengan cara mencari data:

1. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)


Hal ini meliputi keluhan utama dan anamnesis lanjutan. Keluhan utama adalah
keluhan yang membuat seseorang dating ke tempat pelayanan kesehatan untuk
mencari pertolongan, misalnya :demam, sesak nafas, nyeri pinggang, dll. Keluhan
utama ini sebaiknya tidak lebih dari satu keluhan. Kemudian setelah keluhan
utama, dilanjutkan anamnesis secara sistematis dengan menggunakan tujuh butir
mutiara anamnesis, yaitu:
a. Lokasi (dimana? Menyebar atau tidak?)
 Seorang penderita yang dating dengan nyeri di ulu hati, perlu ditanyakan
lebih lanjut secara tepat bagian mana yang dimaksud, bila perlu penderita
diminta menunjukkan dengan tangannya, dimana bagian yang paling sakit
dan penjalarannya ke arah mana.
 Bila pusat sakit ditengah (linea mediana) dicurigai proses terjadi di
pankreas dan duodenum; sebelah kir i lambung; sebelah
kanan duodenum, hati, kandung empedu; diatas hati, oesofagus, paru,
pleura dan jantung.
 Penjalaran nyeri tepat lurus dibelakang menunjukkan adanya proses
dipankreas atau duodenum dinding belakang; di punggung lebih keatas
lambung dan duodenum; bawah belikat kanan  kandung empedu;
bahu kanan duodenum, kandung empedu, diafragma kanan; bahu kiri
diafragma kiri
7
b. Onset/ awitan dan kronologis (kapan terjadinya ? berapa lama?)
Perlu ditanyakan kapan mulai timbulnya sakit atau sudah berlangsung berapa
lama. Apakah keluhan itu timbul mendadak atau perlahan-lahan, hilang
timbul atau menetap. Apakah ada waktu-waktu tertentu keluhan timbul.
Misalnya bila nyeri ulu hati timbul secara ritmik curiga ulkus peptikum,
malamhariulkus peptikum dan tiap pagidispepsia nonulkus.
c. Kuantitas keluhan (ringan atau berat, seberapa sering terjadi?)
Ditanyakan seberapa berat rasa sakit yang dirasakan penderita. Hal ini
tergantung dari penyebab penyakitnya, tetapi sangat subjektif, karena
dipengaruhi antara lain kepekaan seorang penderita terhadap rasa sakit ,status
emosi dan kepedulian terhadap penyakitnya. Dapat ditanyakan apakah
sakitnya ringan, sedang atau berat. Apakah sakitnya mengganggu kegiatan
sehari-hari, pekerjaan penderita atau aktifitas fisik lainnya.
d. Kualitas keluhan (rasa seperti apa?)
Bagaimana rasa sakit yang dialami penderita harus ditanyakan, misalnya rasa
sakit yang tajam (jelas) seperti rasa panas, terbakar, pedih, diiris, tertusuk,
menunjukkan inflamasi organ. Rasa sakit yang tumpul (dull) seperti diremas,
kramp, kolik, sesuatu yang bergerak biasanya menunjukkan proses pada organ
yang berongga (saluran cerna,empedu). Rasa sakit yang tidak khas
menunjukkan organ padat (hati,pankreas).
e. Faktor-faktor yang memperberat keluhan.
Ditanyakan adakah faktor-faktor yang memperberat sakit, seperti aktifitas
makan, fisik, keadaan atau posisi tertentu. Adakah makanan/minuman tertentu
yang menambah sakit, seperti makanan pedas asam, kopi, alcohol panas, obat
dan jamu. Bila aktivitas makan/ minum menambah sakit menunjukkan proses
di saluran cerna empedu dan pankreas. Aktivitas fisik dapat menambah sakit
pada pankreatitis, kholesistitis, apendisitis perforasi, peritonitis dan abses hati.
Batuk, nafas dalam dan bersin menambah sakit pada pleuritis.
f. Faktor-faktor yang meringankan keluhan.
Ditanyakan adakah usaha penderita yang dapat memperingan sakit, misalnya
dengan minum antasida rasa sakit berkurang, menunjukkan adanya inflamasi

8
di saluran cerna bagian atas. Bila posisi membungkuk dapat mengurangi sakit
menunjukkan proses inflamasi dari pancreas atau hati.
g. Analisis system yang menyertai keluhan utama.
Perlu ditanyakan keluhan–keluhan lain yang timbul menyertai dan factor
pencetusnya, misalnya bila penderita mengeluh nyeri uluhati, yang perlu
ditanyakan lebih lanjut adalah:
 Apakah keluhan tersebut berhubungan dengan aktifitas makan?
 Bagaimana buang air besarnya,adakah flatus?
 Adakah ikterik?
 Adakah pembengkakan,benjolan atau tumor,atau nyer itekan?
 Adakah demam, batuk, sesak nafas, nyeri dada, berdebar-debar, keringat
dingin atau badan lemas?
 Adakah penurunan berat badan?

9
2. Riwayat Penyakit Dahulu(RPD)
Ditanyakan adakah penderita pernah sakit serupa sebelumnya, bila dan kapan
terjadinya dan sudah berapa kali dan telah diberi obat apasaja, serta mencari
penyakit yang relevan dengan keadaan sekarang dan penyakit kronik (hipertensi,
diabetes mellitus, dll), perawatan lama, rawat inap, imunisasi, riwayat
pengobatan dan riwayat menstruasi (untuk wanita).
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Anamnesis ini digunakan untuk mencari ada tidaknya penyakit keturunan dari
pihak keluarga (diabetes mellitus, hipertensi, tumor, dll) atau riwayat penyakit
yang menular.
4. Riwayat Sosial dan Ekonomi
Hal ini untuk mengetahui status sosial pasien, yang meliputi pendidikan,
pekerjaan pernikahan, kebiasaan yang sering dilakukan (pola tidur ,minum
alcohol atau merokok,obat-obatan,aktivitas seksual,sumber keuangan,asuransi
kesehatan dan kepercayaan).
Dalam anamnesis alur pikir yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1) Pendekatan sistematis, sehingga perlu diingat: Fundamental Four & Sacred
Seven.
2) Mulai berfikir organ mana yang terkena dan jangan berpikir penyakit
apa,sehingga pengetahuan anatomi dan fisiologi harus dikuasai dengan baik.
3) Anamnesis menggunakan keterampilan interpersonal sehingga dibutuhkan
pengetahuan sosiologi, psikologi dan antropologi.

10
Berikut ini disajikan bagan yang diharapkan dapat membantu pemahaman mengenai
proses anamnesis.

Dari bagan diatas dapat kita lihat pula bahwa tujuh butir mutiara anamnesis(The
Sacred Seven) merupakan bagian dalam‖ disease frame work‖, dan berguna untuk
mencari kemungkinan penyakit apa yang diderita pasien. Untuk empat pokok pikiran
(The Fundamental Four) dapat kita jabarkan sebagai berikut: Riwayat Penyakit
Sekarang (RPS) bagian dari ‖initial exploration‖; Riwayat Penyakit Dahulu (RPD),
Riwayat Kesehatan Keluarga serta Riwayat Sosial dan Ekonomi merupakan bagian
dari ‖essential background information‖.

11
Keterampilan mengeksplorasi masalah pasien:
1) Memberi kesempatan pada pasien untuk menceritakan permasalahan
yangdihadapinya(dengan kata–kata pasien sendiri).
2) Gunakan pertanyaan terbuka dan tertutup secara tepat. Mulailah dengan
pertanyaan terbuka terlebih dahulu, baru diikuti dengan pertanyaan tertutup.
3) Dengarkan dengan penuh perhatian. Berilah kesempatan pada pasien untuk
menyelesaikan ceritanya,dan jangan menginterupsi.
4) Berilah kesempatan pada pasien untuk memberikan respons baik secara verbal
maupun nonverbal. Teknik yang digunakan bisa pemberian
dukungan/dorongan, adanya pengulangan, paraphrasing, interpretasi,dll.
5) Mengenali isyarat verbal dan nonverbal yang ditunjukkan oleh pasien.
6) Mengklarifikasi pernyataan pasien yang kurang jelas, atau yang membutuhkan
suatu keterangan tambahan.
7) Secara berkala buatlah ringkasan dari pernyataan yang dibuat pasien untuk
memverifikasi pengertian anda. Mintalah pasien untuk mengkoreksi
pernyataan anda, atau mintalah pada pasien untuk memberikan keterangan
tambahan bila diperlukan.
8) Gunakan pertanyaan yang ringkas dan mudah dipahami. Hindari
menggunakan istilah–istilah medis yang tidak dipahami pasien.
9) Buatlah urutan waktu suatu kejadian.

12
KONSELING
Konseling adalah interaksi komunikasi antara pasien (dalam hal ini pasien
ataupun anggota keluarganya) dengan konselor yang memiliki cukup pengetahuan
atau keterampilan untuk membantu. Dalam interaksi komunikasi ini, terjadi suatu
proses dimana si penolong (konselor) mengekspresikan perhatian dan
kekuatiranya terhadap pihak yang memiliki permasalahan (pasien) dan
memfasilitasi kemampuan pasien untuk bertumbuh secara pribadi dan
menciptakan perubahan melalui pengetahuannya sendiri.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, konseling berarti pemberian bimbingan
oleh orang yang ahli kepada seseorang. Secara etimologi, istilah konseling berasal
dari bahasa latin, yaitu ―consilium‖ yang berarti ―dengan‖ atau ―bersama‖ yang
dirangkai dengan ―menerima‖ atau ―memahami‖. Sedangkan dalam bahasa
Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari ―sellan‖ yang berarti ―menyerahkan‖
atau ―menyampaikan‖. Disamping itu, konseling merupakan terjemahan dari
bahasa Inggris ―Counseling‖ berasal dari kata ―Councel‖ atau ―to councel‖ yang
artinya memberikan nasehat atau anjuran kepada orang lain secara berhadapan
muka (face to face of relation). Jadi arti konseling adalah pemberian nasihat atau
penasihatan kepada orang lain mengenai pemecahan-pemecahan terhadap
berbagai jenis kesulitan pribadi.
Proses konseling akan terlaksana jika terdapat beberapa aspek berikut ini:
a. Terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan
pasien.
b. Terjadi dalam suasana yang profesional.
c. Dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan-perubahan dalam
tingkah laku pasien.
Konseling merupakan bagian dari bimbingan, bahkan layanan konseling
merupakan jantung hati dari usaha layanan bimbingan secara keseluruhan. Tugas
konseling adalah memberikan kesempatan kepada ―pasien‖ untuk mengeksplorasi,
menemukan, dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam
menghadapi sesuatu.
Konseling mengindikasikan hubungan professional antara konselor terlatih
dengan pasien. Hubungan ini biasanya bersifat individu ke individu, walaupun
terkadang melibatkan lebih dari satu orang. Konseling didesain untuk menolong
pasien untuk memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan,

13
dan untuk membantu mencapai tujuan penentuan diri (self-determination) mereka
melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi
mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal.

1. Tujuan Konseling
Berikut ini adalah beberapa tujuan yang didukung secara eksplisit
maupun implisit oleh para konselor :
a. Pemahaman. Adanya pemahaman terhadap akar dan perkembangan
kesulitan emosional, mengarah kepada peningkatan kapasitas untuk lebih
memilih control rasional ketimbang perasaan dan tindakan.
b. Berhubungan dengan orang lain. Menjadi lebih mampu membentuk dan
mempertahankan hubungan yang bermakna dan memuaskan dengan
oranglain, misalnya dalam keluarga atau di tempat kerja.
c. Kesadaran diri. Menjadi lebih peka terhadap pemikiran dan perasaan yang
selama ini ditahan atau ditolak, atau mengembangkan perasaan yang lebih
akurat berkenaan dengan bagaimana penerimaan orang terhadap diri.
d. Penerimaan diri. Pengembangan sikap positif terhadap diri, yang ditandai
oleh kemampuan menjelaskan pengalaman yang selalu menjadi subjek
kritik diri dan penolakan.
e. Aktualisasi diri. Pergerakan kearah pemenuhan potensi atau penerimaan
integrasi bagian diri yang sebelumnya saling bertentangan.
f. Pencerahan. Membantu pasien mencapai kondisi kesadaran spiritual yang
lebih tinggi.
g. Pemecahan masalah. Menemukan pemecahan masalah tertentu yang tak
bisa dipecahkan oleh pasien seorang diri. Menuntut kompetensi umum
dalam pemecahan masalah.
h. Pendidikan psikologi. Membuat pasien mampu menangkap ide dan teknik
untuk memahami dan mengontrol tingkah laku.
i. Memiliki keterampilan sosial. Mempelajari dan menguasai keterampilan
sosial dan interpersonal seperti mempertahankan kontak mata, tidak
menyela pembicaraan, asertif, atau pengendalian kemarahan.
j. Perubahan kognitif. Modifikasi atau mengganti kepercayaan yang tak
rasional atau pola pemikiran yang tidak dapat diadaptasi, yang
diasosiasikan dengan tingkah laku penghancuran diri.

14
k. Perubahan tingkah laku. Modifikasi atau mengganti pola tingkah laku
yang maladaptif atau merusak.
l. Perubahan sistem. Memperkenalkan perubahan den2gan cara
beroperasinya sistem sosial (contoh: keluarga).
m. Penguatan. Berkenaan dengan keterampilan, kesadaran, dan pengetahuan
yang akan membuat pasien mampu mengontrol kehidupannya.
n. Restitusi. Membantu pasien membuat perubahan kecil terhadap perilaku
yang merusak.
o. Reproduksi dan aksi sosial. Menginspirasikan dalam diri seseorang hasrat
dan kapasitas untuk peduli terhadap oranglain, membagi pengetahuan, dan
mengkontribusikan kebaikan bersama melalui kesepakatan politik dan
kerja komunitas.

2. Manfaat Konseling
a. Meningkatkan pemahaman pasien tentang dirinya serta masalah kesehatan
yang sedang dihadapinya.
b. Meningkatkan kepercayaan diri pasien dalam menghadapi penyakit yang
sedang diderita.
c. Meningkatkan kemandirian pasien dalam menghadapi penyakit yang
sedang diderita.

3. Fungsi Konseling
a. Konseling dengan fungsi pencegahan merupakan upaya mencegah
timbulnya masalah kesehatan.
b. Konseling dengan fungsi penyesuaian dalam hal ini merupakan upaya
untuk membantu pasien mengalami perubahan biologis, psikologis, social,
cultural, dan lingkungan yang berkaitan dengan kesehatan.
c. Konseling dengan fungsi perbaikan dilaksanakan ketika terjadi
penyimpangan perilaku pasien atau pelayanan kesehatan dan lingkungan
yang menyebabkan terjadi masalah kesehatan sehingga diperlukan upaya
perbaikan dengan konseling.
d. Konseling dengan fungsi pengembangan ditujukan untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan derajat kesehatan
masyarakat dengan upaya peningkatan peran serta masyarakat

15
4. Sasaran Konseling
Tugas seorang ―counselor‖ di antaranya adalah membimbing
pasiennya membuat keputusan, untuk memahami kebutuhan – kebutuhannya
sendiri serta cara memenuhi baik saat ini dan di masa depan, dan mengatasi
perasaan yang dapat menghambat tindakan seperti enggan, takut, ragu – ragu,
dan sebagainya. Dengan demikian, idealnya konseling memiliki beberapa
tingkatan yaitu :
a. Memperoleh informasi tentang: situasi dan kondisi, keinginan,
kekhawatiran, dsb
b. Memahami hubungan antara informasi dan masalah, misalnya hubungan
sebab – akibat yang terkandung di dalamnya.
c. Menemukan alternatif keputusan yang mungkin untuk memecahkan
masalah.
d. Memilih alternatif keputusan yang dianggap paling tepat.
e. Menumbuhkan niat untuk mencoba melaksanakan keputusan dengan
rencana dan langkah – langkah yang kongkrit.
f. Melaksanakan keputusan dengan menerapkan rencana dalam kehidupan
sehari – hari.
5. Bentuk Konseling
Berdasarkan sasaran yang sudah dijabarkan di atas, bentuk konseling
dapat disesuaikan oleh si konselor tergantung dengan apa yang dibutuhkan
pada saat itu. Konseling langsung (direct counseling) adalah situasi di mana
seorang konselor berperan sebagai pihak yang berwenang untuk menawarkan
kepada pasiennya suatu evaluasi dari masalah tertentu dan mendefinisikan
tahap – tahap tindakan yang patut dilaksanakan. Berarti konselor lah yang
mengarahkan keputusan apa yang harus diambil. Sementara dalam konseling
tidak langsung (indirect counseling), konselor berperan sebagai pihak yang
membantu pasien mengeluarkan dan mengekspresikan perasaan sendiri yang
mungkin belum begitu dipahaminya, dan membantu menindaklanjutinya.
Berarti, konselor memfasilitasi pengambilan keputusan, dan pasien yang
membuat keputusan.
6. Teknik-teknik Dasar Komunikasi dalam Konseling
Konseling merupakan suatu proses komunikasi antara konselor dan pasien.
Sebagai suatu proses komunikasi, konseling melibatkan ketrampilan konselor

16
dalam menangkap atau merespon pernyataan pasien dan
mengkomunikasikannya kembali kepada pasien tersebut. Dalam
berkomunikasi dengan pasien konselor seharusnya menggunakan respon-
respon yang fasilitatif bagi pencapaian tujuan konseling. Secara umum respon-
respon tersebut dapat dikelompokan kedalam berbagai teknik dasar
komunikasi konseling antara lain :
a. Attending ( perhatian )
Attending adalah ketrampilan / teknik yang digunakan konselor untuk
memusatkan perhatian kepada pasien agar pasien merasa dihargai dan
terbina suasana yang kondusif sehingga pasien bebas mengekspresikan /
mengungkapkan tentang apa saja yang ada dalam pikiran, perasaan
ataupun tingkah lakunya. Perilaku attending yang baik harus
mengombinasikan ketiga aspek di atas sehingga akan memudahkan
konselor untuk membuat pasien terlibat pembicaraan dan terbuka.
Perilaku attending yang baik akan dapat: (1) meningkatkan harga diri
pasien, (2) menciptakan suasana yang aman dan akrab,(3)
mempermudah ekspresi perasaan pasien dengan bebas.
Wujud perilaku attending dalam proses konseling misalnya: pertama,
kepala mengangguk sebagai pertanda setuju atas pernyataan pasien.
Kedua , ekspresi wajah tenang, ceria, dan senyum. Ketiga, posisi tubuh
agak condong ke arah pasien, jarak duduk antara konselor dengan pasien
agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.Keempat,
melakukan variasi isyarat gerakan tangan lengan secara spontan untuk
memperjelas ucapan (pernyataan konselor).Kelima, mendengarkan
secara aktif dan penuh perhatian, menunggu ucapan pasien hingga
selesai, diam (menunggu saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah
pada pasien (lawan bicara).
Sebaliknya, wujud perilaku attending yang tidak baik adalah: pertama,
kepala kaku. Kedua, wajah kaku (tegang), ekspresi melamun
mengalihkan pandangan, tidak melihat ketika pasien berbicara, mata
melotot.Ketiga, posisi tubuh tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk
dengan pasien agak jauh, duduk kurang akrab dan berpaling.Keempat
memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam guna

17
memberi kesempatan berpikir dan berbicara.Kelima, perhatian terpecah,
mudah buyar oleh gangguan dari luar.
Perilaku attending berkenaan dengan teknik penerimaan konselor
terhadap pasien. Teknik penerimaan menggambarkan cara bagaimana
konselor menerima pasien dalam proses atau sesi konseling. Atau cara
bagaimana konselor bertindak agar pasien merasa diterima dalam proses
konseling. Teknik ini dalam proses konseling bisa diwujudkan melalui
ekspresi wajah, (misalnya ceria atau cemberut). Ekspresi wajah ceria
bisa menggambarkan penerimaan konselor atas pasiennya, sebaliknya
ekspresi wajah cemberut bisa menggambarkan penolakan atau
ketidaksetujuan konselor atas pasiennya.Selanjutnya juga bisa
diwujudkan dalam bentuk tekanan atau nada suara dari konselor (tinggi,
mendatar, dan rendah) dan jarak duduk antara konselor dan
pasien.Konselor yang berkata dengan nada tinggi atau duduk yang
berjarak melebihi batas ketentuan dalam konseling, mungkin merupakan
indikasi bahwa konselor tidak menerima pasien.
b. Opening ( pembukaan )
Opening adalah ketrampilan / teknik untuk membuka / memulai
komunikasi dan hubungan konseling. Contohnya menyambut kehadiran
pasien dan membicarakan topik netral seperti menjwab salam,
mempersilakan duduk dll.
c. Acceptance ( penerimaan )
Acceptance( penerimaan ) adalah teknik yang digunakan konselor untuk
menunjukan minat dan pemahaman terhadap hal-hal yang dikemukakan
pasien. Contohnya anggukan kepala dll.
d. Restatement ( pengulangan )
Restatement adalah teknik yang digunakan konselor untuk mengulang /
menyatakan kembali pernyataan pasien ( sebagian atau seluruhnya )
yang dianggap penting.
e. Reflection of fefling ( pemantulan perasaan )
Reflection of fefling( pemantulan perasaan ) adalah teknik yang
digunakan konselor untuk memantulkan perasaan / sikap yang
terkandung dibalik pernyataan pasien.

18
f. Clarification ( klarifikasi )
Clarification( klarifikasi ) adalah teknik yang digunakan untuk
mengungkapkan kembali isi pernyataan pasien dengan menggunakan
kata-kata baru dan segar. Contohnya pada intinya, pada dasarnya dll.
g. Paraprashing
Paraprashing adalah kata-kata konselor untuk menyatakan kembali
esensi dari ucapan-ucapan pasien.Contohnya ―ya‖, ―benar/betul‖ secara
spontan dari pasien.
h. Structuring ( pembatasan )
Structuring ( pembatasan ) adalah teknik yang digunakan konselor untuk
memberikan batas-batas / pembatasan agar proses konseling berjalan
sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dalam konseling.
i. Lead ( pengarahan )
Lead( pengarahan ) adalah teknik / ketrampilan yang digunakan konselor
untuk mengarahkan pembicaraan pasien dari suatu hal ke hal yang lain
secara langsung ketrampilan ini sering pula disebut ketrampilan
bertanya. Structuring memberikan kerangka kerta atau orientasi pada
pasien. Structuring ada dapat bersifat inplisit dimana secara umum
peranan konselor diketahui oleh pasien da nada yang bersifat formal
berupa pertanyaan konselor untuk menjelaskan dan membatasi proses
konseling. Misalnya, berapa lama konseling ini akan kita lakukan, atau
kapan waktu-waktu Anda bias untuk mengikuti konseling dan
seterusnya.
Ada lima macam structuring dalam konseling, yaitu : (1) time limit
(pembatasan waktu), (2) action limit (pembatasan tindakan, (3) batas-
batas peranan konselor, (4) procedurelimit (pembatasan prosedur atau
proses, (5)
j. Silence ( diam )
Silence( diam ) adalah suasana hening, tidak ada interaksi verbal antara
konselor dan pasien dalam proses konseling.
k. Reassurance ( penguatan / dukungan )
Reassurance( penguatan / dukungan ) adalah ketrampilan / teknik yang
digunakan oleh konselor untuk memberikan dukungan / penguatan

19
terhadap pernyataan positif pasien agar ia menjadi lebih yakin dan
percaya diri.
l. Rejection ( penolakan )
Rejection ( penolakan ) adalah ketrampilan / teknik yang digunakan
konselor unutuk melarang pasien melakukan rencana yang akan
membahayakan / merugikan dirinya atau orang lain.
m. Advice ( saran / nasehat )
Advice adalah ketrampilan / teknik yang digunakan konselor untuk
memberikan nasehat atau saran bagi pasien agar dia lebih jelas mengenai
apa yang akan dikerjakan.
n. Summary ( ringkasan / kesimpulan )
Summary ( ringkasan / kesimpulan ) adalah ketrampilan / teknik yang
digunakan konselor untuk menyimpulkan atau ringkasan mengenai apa
yang telah dikemukakan pasien pada proses komunikasi konseling.
o. Konfrontasi ( pertentangan )
Konfrontasi ketrampilan / teknik yang digunakan oleh konselor untuk
menunjukan adanya kesenjangan, diskrepansi atau inkronguensi dalam
diri pasien kemudian konselor mengumpanbalikkan kepada pasien.
p. Interprestasi ( penafsiran )
Interprestasi adalah ketrampilan / teknik yang digunakan oleh konselor
dimana atau karena tingkah laku pasien ditafsirkan / diduga dan
dimengerti dengan dikomunikasikan pada pasien.Selain itu didalam
interpretasi konselor menggali dan makna yang terdapat dibelakang kata-
kata pasien atau dibelakang perbuatan / tindakannya yang telah
diceritakannya.Bertujuan membantu pasien lebih memahami didiri
sendiri bila mana pasien bersedia mempertimbangkannya dengan pikiran
terbuka.
q. Termination ( pengakhiran )
Termination ( pengakhiran ) adalah ketrampilan / teknik yang digunakan
konselor untuk mengakhiri komunikasi berikutnya maupun mengakhiri
karena komunikasi konseling betul-betul telah ―berakhir‖.

20
7. Langkah-langkah Konseling
Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan saat
melakukan konseling:
a. Building Relationship
 Siap menerima pasien
 Mendengarkan dengan serius keluhan pasien
 Berusaha mengerti apa yang dirasakan pasien
 Menyusun, merefleksikan dan menyimpulkan apa yang sudah pasien
sampaikan.
b. Exploration and Understanding
Tujuan dilakukannya exploration dan understanding dalam konseling:
 Agar pasien dapat mengetahui dengan baik dirinya, masalah dan
situasi yang dialami sekarang.
 Membantu pasien dalam memecahkan masalah yang dihadapinya
dengan rational.
c. Rational discussion
 Mendefinisikan masalah pasien
 Menentukan tujuan pengobatan dan implementasinya
 Melakukan evaluasi keputusan.

Salah satu teknik yang dapat digunakan dalam konseling adalah


―BATHE‖, yang merupakan akronim dari Background, Affect, Troubling,
Handling, dan Empathy.
B Background
Menggali latar belakang permasalahan, misalnya dengan pertanyaan
―Bagaimanakah situasi dalam rumah tangga anda?Di lokasi kerja
anda?‖
A Affect
Menggali afek (perasaan pasien terhadap apa yang sedang terjadi atau
situasi yang sedang dialami. contoh pertanyaannya : ―Bagaimana
perasaan anda terhadap kehidupan sehari – hari di rumah? Dalam
suasana kerja? Dalam hubungan anda dengan ...?
T Troubling

21
Menggali sejauh manakah permasalahan ini mengganggu atau memberi
dampak pada pasien, misalnya dengan menanyakan, ―Seberapa stres
kah anda karena masalah ini?‖
H Handling
Menggali bagaimana pasien menangani masalah ini sejauh ini.
―Apakah anda sudah berusaha mengatasi masalah ini? Apakah yang
sudah anda lakukan untuk mengatasinya?Siapakah yang memberikan
dukungan pada anda dalam menghadapi masalah ini?‖
E Empathy
Mengekspresikan pemahaman terhadap distress yang dirasakan
pasien.―Masalah ini tentu terasa cukup berat untuk anda.‖―Saya dapat
membayangkan bahwa hal ini tentu sangat mengganggu anda.‖―Saya
dapat memahami bahwa hal ini tentu membuat anda sangat marah dan
tertekan‖, dan sebagainya.

Teknik BATHE ini dapat lebih diperkuat lagi apabila didukung dengan
kemampuan konselor untuk memberi pertolongan emosional dan psikologis
dengan cara berbicara menggunakan cara yang terapeutik, yang tekniknya
diwakili oleh akronim SOAP.
S Support (memberikan dukungan; memberi pemahaman bahwa ini
adalah situasi lazim yang mungkin menimpa siapapun; membantu
pasien mencari tahu sumber atau pihak mana saja yang dapat
mendukungnya dalam mengatasi problem ini).
O Objectivity (Objektif, membantu pasien melihat permasalahan secara
rasional dan menghindar dari meremehkan masalah yang signifikan
ataupun cemas secara berlebihan; menghindari terbawa emosi pasien
maupun emosi sendiri, menghindari memberi solusi berdasarkan
pendapat pribadi (―Bila saya jadi anda...‖))
A Acceptance (menunjukkan sikap menerima dan terbuka terhadap
masalah yang dihadapkan pasien, yaitu dengan tidak menghakimi;
dengan memahami bahwa memulai suatu perubahan adalah sulit; tidak
menyalahkan pasien; tidak menyudutkan pasien atas pendapatnya tetapi
mengarahkannya supaya lebih realistis; menghormati nilai – nilai yang
dipegang teguh oleh pasien; menghormati prioritasnya).

22
P Present focus (mendorong pasien untuk memusatkan perhatian dan
tenaganya terhadap situasi saat ini, bukan masa lalu maupun
kemungkinan – kemungkinan yang masih belum pasti di masa depan;
menunjukkan optimisme yang wajar mengenai apa yang dapat dicapai
pasien apabila dapat mengusahakan suatu perubahan).

Skil yang umumnya


Langkah Fungsi dan tujuan
digunakan

1. Rapport dan Untuk membangun kerja Attending behavior untuk


structuring. ―Hello‖ sama yang baik dengan membangun kontak dengan
pasien dan untuk membuat pasien dan client
pasien merasa nyaman observation skill untuk
dengan konselor. menentukan metode yang
Structuring dibutuhkan tepat untuk membangun
untuk menjelaskan tujuan rapport.
dari konseling. Fungsi
Strukturing umumnya
strukturing adalah untuk
menggunakan influencing
menjaga sesi pada tujuan
skill, yaitu information
(tidak melenceng) dan
giving and instructions
untuk menginformasikan
pada pasien apa yang
konselor mampu dan tidak
mampu lakukan.

2. Mengumpulkan Untuk mengetahui alasan Yang paling umum


informasi, pasien datang dan digunakan adalah attending
mendefinisikan bagaimana ia memandang skills, khususnya the basic
masalah, dan masalah. Pendefinisian listening sequence
mengidentidikasi aset. masalah yang baik akan (berurutan mulai dari open
―Apa masalahnya?‖ memberi arah dan tujuan question, closed questions,
konseling dan menghindari encourager, parafrase,
dibahasnya topik yang tidak reflection of feeling,
berguna. Juga untuk summarization. Umumnya

23
mengidentifikasi kekuatan- berhasil, tetapi tidak kaku!!
kekuatan pasien (positive Mau penjelasan lebih
strength)—Ingat bahwa lanjut? Lihat text book hal
pasien bertumbuh dari 211)
kekuatannya, yaitu dari
Skil yang lain digunakan
aset-aset positif dan
bila perlu. Jika masalah
kemampuan-kemampuan!!
tidak jelas, barangkali Anda
So, harus digali untuk
memerlukan tambahan
memecahkan masalah yang
influention skill.
sedang dihadapi dan untuk
pertumbuhan di masa Penggalian aset positif
mendatang sering membukakan tentang
kemampuan-kemampuan
yang dimiliki oleh pasien
yang berguna dalam
mencari pemecahan
masalah

3. Menentukan tujuan. Untuk mengetahui dunia Yang paling umum adalah


―Apa yang diinginkan ideal pasien. Hal bagaimana attending skills, khususnya
oleh pasien?‖ yang diinginkan oleh the basic listening
pasien? Bagaimana segala sequence. Dengan pasien
sesuatunya jika masalah dari budaya yang berbeda
dipecahkan? Langkah ini dan yang tidak terlalu
penting karena banyak bicara, langkah ini
memungkinkan konselor (langkah 3) sebaiknya
untuk mengatahui apa yang dilakukan sebelum langkah
pasien inginkan. Arah yang 2.
yang diinginkan pasien dan
konselor harus dibuat
harmonis. Untuk beberapa
pasien, lewati langkah 2 dan
tentukan tujuan terlebih

24
dahulu.

4. Mencari alternatif dan Untuk mencari pemecahan Dapat dimulai dengan


mengkonfrontasi client dari masalah pasien. Hal ini kesimpulan tentang
incongruities ―Apa yang bisa meliputi pemecahan discrepancy
akan kita lakukan masalah kreatif (ketidaksesuaian).
terhadap masalah ini?‖ (menemukan sebanyak Influencing skills amat
mungkin alternatif dibutuhkan di sini.
pemecahan dengan tidak Attending skills juga
menilai terlebih dahulu— dibutuhkan untuk
biar pun alternatifnya menyeimbangkan.
tampak bodoh dan tak
masuk akal) untuk
kemudian memutuskan
alternatif mana yang akan
diambil. Langkah ini
memerlukan waktu yang
paling lama dalam
konseling

5. Generalization dan Untuk memungkinkan Influencing skills, seperti


transfer of learning perubahan dalam pikiran, directive dan
“Will you do it?” perasaan, dan perilaku information/explanation
dalam kehidupan pasien umumnya bermanfaat.
sehari-hari. Banyak pasien Attending skills digunakan
yang mengikuti konseling untuk mengecek apakah
untuk kemudian tidak pasien memahami
melakukan apa-apa untuk pentingnya tahap/langkah
mengubah perilakunya, dan ini.
tetap hidup dengan pola
seperti sedia kala

25
8. Cakupan Konseling
Dalam hubungan di dalam keluarga dan penyesuaian dalam
masyarakat, umumnya konseling mencakup beberapa hal pokok.
a. Kesulitan dalam hubungan interpersonal yang bermanifestasi dalam
keluarga, misalnya antara pasien dengan saudara kandungnya,
suami/istrinya, anak – anaknya, sanak saudaranya, dsb yang dapat
menghasilkan rasa ansietas atau perilaku yang tidak semestinya
b. Kesulitan dalam hubungan interpersonal yang bermanifestasi dalam fungsi
– fungsi internal atau pribadi, misalnya hambatan dalam kemampuan
mencapai target dalam pendidikan, atau pembelajaran, gangguan
seksualitas, dan kesulitan dalam kemampuan kerja.
c. Masalah – masalah eksternal, misalnya kesulitan ekonomi.
d. Masalah – masalah kesehatan, misalnya kecacatan, retardasi mental,
gangguan genetika, dsb.

9. Enam Langkah Pendekatan untuk Perubahan Perilaku


Banyak pengaruh telah membentuk perkembangan dari pendekatan enam
langkah untuk bernegosiasi tentang perubahan perilaku.Anda dapat menggunakan
langkah-langkah ini untuk menilai negosiasi mana antara anda dengan pasien
yang efektif serta di mana dan mengapa mereka tidak melanjutkan.
a. Langkah 1. Mengembangkan empati, mengklarifikasi peran dan tanggung
jawab dan menggunakan keterampilan relasional secara efektif
b. Langkah 2 Negosiasi agenda, menggunakan pendekatan preventif atau fokus
pada masalah untuk menegosiasikan agenda bersama
c. Langkah 3. Menilai resistensi dan motivasi: bertanya tentang kesiapan pasien
untuk mengubah, alasan mereka untuk tetap sama (resistensi) dan alasan
mereka untuk perubahan (motivasi), dan tingkat perlawanan dan motivasi
mereka.
d. Langkah 4. Meningkatkan saling pengertian: memahami dan menangani
bagaimana anda dan perbedaan persepsi pasien anda dan nilai-nilai tentang
alasan untuk tetap sama/ bertahan pada kebiasaan awal dan untuk mengubah
kebiasaan, dalam kata lain, mengurangi resistensi pasien, meningkatkan
motivasi mereka dan dengan demikian membantu mereka untuk bertanggung
jawab atas kesehatan mereka

26
e. Langkah 5. Menerapkan rencana untuk perubahan: negosiasi rencana yang
sesuai dengan pasien anda berdasarkan rasa saling pengertian anda, misalnya,
lebih memikirkan perubahan, bersiap-siap untuk berubah dan mengambil
langkah-langkah kecil atau lompatan raksasa menuju perubahan
f. Langkah 6. melalui berikut ini: negosiasi tentang kebutuhan dan waktu untuk
pertemuan klinis di masa yang akan datang

Secara implisit, langkah di atas dapat bergerak maju-mundur antara enam langkah
berikut, terutama ketika berhadapan dengan berbagai masalah dalam pertemuan klinis.
Jika dan bila perlu, secara eksplisit dapat bernegosiasi dengan pasien tentang
pergeseran dari satu langkah ke yang lain. Jika anda terjebak untuk bekerja dengan
pasien di langkah khusus (misalnya melaksanakan rencana), anda perlu kembali ke
langkah awal sebelum mengembangkan rencana tindakan/aksi.

Tangga Perubahan
Tangga Perubahan menyediakan pedoman kerangka kerja untuk negosiasi tentang
perubahan perilaku. Enam langkah membentuk anak tangga. Ruang antara anak
tangga mewakili lima tahap kesiapan pasien untuk berubah, mulai di bagian bawah
dengan pra-kontemplasi dan bergerak ke atas untuk kontemplasi, persiapan,
tindakan/aksi, dan akhirnya, pemeliharaan. Relapse/ ulangan terjadi ketika pasien
tergelincir menuruni tangga. Anda dapat menggunakan kerangka kerja ini untuk
membantu pasien meningkatkan anak tangga dengan kecepatan yang sesuai dengan
mereka.

27
Pemeliharaan/
Maintenance

Langkah 6

Tindakan / aksi Langkah 6 : Melanjutkan

Langkah 5 Langkah 5 : Melaksanakan rencana

Persiapan Langkah 4 : Meningkatkan saling pengertian

Langkah 3 and Langkah 3 : Menilai motivasi / resistensi


4 Langkah 2 : Negosiasi Agenda
Kontemplasi Langkah 1 : Membangun kemitraan
Langkah 1 and
2

Pra-kontemplasi

Pembahasan berikut menguraikan bagaimana pendekatan enam-langkah dan


tahapan perubahan bergabung untuk membentuk tangga perubahan yang akan
membantu anda untuk pendekatan secara personal anda kepada pasien anda.

Menggunakan langkah 1 dan 2 : Membantu pasien mengenali dan mengatasi


masalah kesehatan

Anda dapat membangun kemitraan yang efektif dan menegosiasikan agenda bersama
untuk membantu pasien bergerak dari tidak berpikir tentang perubahan perilaku
berisiko (kontemplasi).

Menggunakan langkah 3 dan 4. Membantu pasien untuk bertanggung jawab


atas kesehatan mereka

Anda dapat membantu memindahkan pasien dari pemikiran tentang mempersiapkan


untuk perubahan (tahap persiapan). Ketika anda melakukan penilaian motivasi, anda
membantu pasien berpikir lebih mendalam tentang alasan mereka untuk berubah dan
tidak berubah, dan untuk memahami lebih baik tentang resistensi mereka dan

28
perubahan motivasi. Ketika anda mencoba untuk meningkatkan saling pengertian
tentang kebutuhan mereka untuk perubahan perilaku, anda bekerja untuk mengurangi
resistensi pasien dan meningkatkan motivasi mereka sehingga mereka bertanggung
jawab atas kesehatan mereka.

Menggunakan langkah 5. Membantu pasien mengubah perilaku mereka

Setelah meningkatkan saling pengertian, anda membantu memindahkan pasien dari


mempersiapkan untuk mengubah untuk mengubah perilaku mereka (tahap tindakan/
aksi). Anda bernegosiasi dengan pasien tentang tujuan dan tanggal untuk perubahan
dan membantu mereka memilih dan melaksanakan suatu rencana tindakan/ aksi yang
sesuai.

Menggunakan langkah 6. Membantu pasien mempertahankan perubahan


Setelah pasien membuat perubahan, anda dapat mengatur tindak lanjut untuk berjanji
dan membantu mereka mengembangkan rencana darurat untuk mencegah kambuh
(tahap pemeliharaan).
Setiap langkah mencakup berbagai strategi dan intervensi. Pilihan ini dapat membantu
Anda untuk mengembangkan pendekatan individu dengan semua pasien anda
sehingga mereka bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri.

29
V. DAFTAR PUSTAKA
Swartz MH. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta: EGC; 1995. hal. 46-1.

Markum HMS. Penuntun Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis. Jakarta: Pusat Penerbitan
Ilmu Penyakit Dalam; 2011.

Redhono D, Putranto W, Budiastuti VI. Komunikasi III History Taking – Anamnesis.


series on the internet [cited: 2013 April 10] available from:
http://fk.uns.ac.id/static/file/Manual_Semester_II-2012.pdf

Azwar, Azrul dkk. Dokter Keluarga, Kelompok Studi dokter Keluarga. Jakarta :
Bunga Rampai; 1983

Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


028/MENKES/PER/I/2011 Tentang Klinik. DEPKES RI Jakarta;2011

McLeod, John. Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus. Jakarta : Kencana; 2006

Baratawidjaja KG, Rengganis I. Imunologi Dasar edisi ke-10. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI; 2012.

30
VI. CHECKLIST
Anamnesis
Nama: NIM:
SKOR
No. ASPEK PENILAIAN
0 1 2
Membuka Wawancara
1. Menyapa pasien
2. Memperkenalkan diri
3. Menunjukkan sikap hormat dan respek pada pasien
4. Mengidentifikasi dan mengkonfirmasi permasalahan
pasien
5. Menegosiasikan agen dan konsultasi
Anamnesis
6. Menanyakan identitas penderita
7. Menanyakan keluhan utama
8. Menanyakan lokasi
9. Menanyakan onset dan kronologi
10. Menanyakan kualitas keluhan
11. Menanyakan kuantitas keluhan
12. Menanyakanfaktor-faktor pemberat
13. Menanyakan faktor-faktor peringan
14. Menanyakan gejala penyerta
15. Menanyakan riwayat penyakit dahulu
16. Menanyakan riwayat kesehatan keluarga
17. Menanyakan riwayat sosial ekonomi
18. Menanyakan kebiasaan pribadi
19. Penggunaan bahasa yang mudah dipahami pasien
20. Menggunakan pertanyaan terbuka secara tepat
21. Menggunakan pertanyaan tertutup secara tepat
Menutup Wawancara
22. Menanyakan pada pasien apakah ada hal yang terlewat
23. Menutup wawancara dengan membuat suatu ringkasan

31
KETERANGAN:
0-1
0 : Tidak melakukan
1 : Dilakukan, tapi belum sempurna
2 : Dilakukan dengan sempurna

SKOR PENILAIAN:
Jumlah Skor yang diperoleh x 100 = .................................
46

32
Konseling
Nama: NIM:
SKOR
No. ASPEK PENILAIAN
0 1 2 3
Komunikasi Verbal
1. Membangun hubungan/kesesuaian
2. Membangun kemitraan dan negosiasi agenda,
menilai motivasi atau resistance, dan
meningkatkan saling pengertian
a. Bertanya
b. Menilai
c. Memberi nasihat
d. Membantu
e. Mengatur waktu untuk tindak lanjut
Komunikasi Non-verbal
3. Aspek-aspek komunikasi non-verbal:
a. Menjaga tatapan mata
b. Ekspresi wajah ramah, tersenyum
c. Postur tubuh terbuka, menghadap pasien
dengan sudut 45 derajat
d. Artikulasi suara jelas dan intonasi tepat
e. Penampilanbersih dan rapi
4. Empati dan keterampilan mendengar aktif
a. Refleksi isi
b. Refleksi perasaan
Keterangan:
0 : Tidak melakukan
1 : Melakukan tetapi salah
2 : Melakukan tapi kurang benar, tidak berurutan atau tidak lengkap
3 : Melakukan dengan benar dan berurutan
SKOR PENILAIAN:
Jumlah Skor yang diperoleh x 100 = .................................
12

33