You are on page 1of 18

TUGAS ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA

Disusun Oleh :

Kelompok 9
1. Andi Nidyah Karunia A P07124318005
2. Verawati Simamora P07124318013
3. Erna Handayani P07124318015
4. Nadia Ayuningtias P07124318019
5. Guslaini P07124318045
6. Zebulan Chandra Kirana P07124318050

ALIH JENJANG SARJANA TERAPAN KEBIDANAN


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
TAHUN 2018 / 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada setiap perkembangan kehidupan manusia, individu itu dituntut
untuk menguasai kemampuan berperilaku yang menjadi ciri bahwa
perkembangannya berhasil dan normal. Jika pada fase itu individu tidak
mempunyai kemampuan berperilaku sepatutnya, sesuai dengan tugas-tugas
perkembangannya maka dianggap individu itu mengalami kelambatan
perkembangannya, atau penyimpangan perkembangan. Pencapaian tugas-
tugas perkembangan bukan hanya penting untuk fase perkembangan
dimana tugas-tugas perkembangan itu seharusnya muncul, tetapi juga
penting untuk pencapaian tugas-tugas perkembangan selanjutnya.
Keluarga merupakan bagian dari manusia yang setiap hari selalu
berhubungan dengan kita. Keadaan ini perlu kita sadari sepenuhnya bahwa
setiap individu merupakan bagiannya dari keluarga juga semua dapat
diekspresikan tanpa hambatan yang berarti.
Asuhan kebidanan keluarga merupakan tingkat asuhan kesehatan
pada masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai
unit atau satu kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan dan
perawatan sebagai penyalur. Sasaran asuhan kebidanan keluarga yaitu
individu, family atau keluarga dan community atau masyarakat. Prinsip
utama dalam asuhan kesehatan masyarakat mengatakan bahwa keluarga
adalah unit atau kesatuan dari pelayanan kesehatan.
Prioritas tertinggi dari keluarga adalah kesejahteraan anggota
keluarganya. Hal ini tercapai apabila fungsi-fungsi dari keluarga untuk
memenuhi kebutuhan tiap individu yang ada dalam keluarga dapat tercapai
dan terpenuhi. Bidan perlu memahami setiap tahapan perkembangan
keluarga serta tugas tugas perkembangannya. Hal ini penting mengingat
tugas bidan dalam mendeteksi adanya masalah keperawatan yang
dilakukan terkait erat dengan sifat masalah yaitu potensial atau aktual.
B. Tujuan
1. Pembuatan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
asuhan kebidanan keluarga.
2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang tahap perkembangan
keluarga.
3. Memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang peran individu
dalam keluarga.

C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud keluarga?
2. Bagaimana struktur keluarga?
3. Apa saja ciri keluarga?
4. Apa saja bentuk keluarga?
5. Apa saja peran keluarga?
6. Apa saja fungsi keluarga?
7. Bagaimana tahap perkembangan keluarga?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan,
kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan
budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta
sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu
rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi.
Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran
masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu
budaya (Bailon dan Maglaya, 1978).
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan
(Departemen Kesehatan RI, 1988).
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi.
2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka
tetap memperhatikan satu sama lain.
3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing
mempunyai peran sosial: suami, istri, anak, kakak dan adik.
4. Mempunyai tujuan: menciptakan dan mempertahankan budaya,
meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.

B. Struktur Keluarga
1. Patrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
2. Matrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ibu.
3. Matrilokal
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu.
4. Patrilokal
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
5. Keluarga kawinan
Hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan
beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya
hubungan dengan suami atau istri.
Dari struktur keluarga diatas, maka dapat dipahami bahwa struktur
keluarga memiliki ciri-ciri yaitu :
1. Terorganisasi: saling berhubungan, saling ketergantungan antara
anggota keluarga.
2. Ada keterbatasan: setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka
juga mempunyai keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya
masing-masing.
3. Ada perbedaan dan kekhususan: setiap anggota keluarga mempunyai
peranan dan fungsinya masing-masing.

C. Ciri Keluarga
1. Suami sebagai pengambil keputusan.
2. Merupakan suatu kesatuan yang utuh.
3. Berbentuk monogram.
4. Bertanggung jawab.
5. Pengambil keputusan.
6. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa.
7. Ikatan kekeluargaan sangat erat.
D. Bentuk Keluarga
1. Tradisional
a. The nuclear family (keluarga inti).
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup
bersama dalam satu rumah.
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak
sudah memisahkan diri.
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk
mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena
mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.
e. The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama
dalam satu rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante,
orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll).
f. The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan
anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian
dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu
kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja
diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir
pekan (week-end).
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang
tinggal bersama dalam satu rumah.
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling
berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan
pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi,
telpon, dan lain-lain).
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah
kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.
k. The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri
karena pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian
atau ditinggal mati.
2. Non-tradisional
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak
dari hubungan tanpa nikah.
b. The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri.
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada
hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah,
sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama,
sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan
anak bersama.
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa
melalui pernikahan.
e. Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama
sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners).
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan
karena beberapa alasan tertentu.
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah
tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan
yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan
anaknya.
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup
berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang
rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab
membesarkan anaknya.
i. Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak
tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya.
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan
keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda
yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai
perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal
dalam kehidupannya.

E. Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku
interpersonal, sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam
posisi dan situasi tertentu.Peranan individu dalam keluarga didasari oleh
harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan
masyarakat.Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah
sebagai berikut:
1. Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri, berperanan sebagai pencari nafkah,
pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga,
sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota
masyarakat dari lingkungannya.
2. Peranan ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.
3. Peranan anak
Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat
perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

F. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Biologis
a. Meneruskan keturunan.
b. Memelihara dan membesarkan anak.
c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
d. Memelihara dan merawat anggota keluarga.
2. Fungsi Psikologis
a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman.
b. Memberikan perhatian di antara anggota keluarga.
c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
d. Memberikan identitas keluarga.
3. Fungsi Sosialisasi
a. Membina sosialisasi pada anak.
b. Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak.
c. Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
4. Fungsi Ekonomi
a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga.
b. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan keluarga.
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa
yang akan datang (pendidikan, jaminan hari tua).
5. Fungsi Pendidikan
a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan,
ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat
dan minat yang dimilikinya.
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang
dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

G. Tahap Perkembangan Keluarga


Tahap perkembangan dibagi menurut kurun waktu tertentu yang
dianggap stabil.Menurut Rodgers cit Friedman (1998), meskipun setiap
keluarga melalui tahapanperkembangan secara unik, namun secara umum
seluruh keluarga mengikuti pola yang sama. Tahap perkembangan
keluarga menurut Duvall dan Milller (Friedman, 1998) sebagai berikut:
1. Pasangan Baru
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki
(suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui
perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing.
Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis karena kenyataannya
banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya.
Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan
penyesuaian peran dan fungsi. Masing-masing belajar hidup bersama
serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya
makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya. Adapun tugas
perkembangan, yaitu :
a. Membina hubungan intim danmemuaskan.
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok
sosial.
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak.
2. Keluarga “Child Bearing” Kelahiran Anak Pertama
Dimulai sejak hamil sampai kelahiran anak pertama dan
berlanjut sampai anak berumur 30 bulan atau 2,5 tahun. Tugas
perkembangan kelurga yang penting pada tahap ini adalah:
a. Persiapan menjadi orang tua.
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi,
hubungan seksual dan kegiatan.
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
Peran utama perawat adalah mengkaji peran orang tua;
bagaiaman orang tua berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu
menfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat
sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat
tercapai.
3. Keluarga dengan Anak Pra Sekolah
Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan
berakhir saat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan :
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat
tinggal, privasi dan rasa aman.
b. Membantu anak untuk bersosialisasi.
c. Beradaptasi dengan anaky baru lahir, sementara kebutuhan anak
lain juga harus terpenuhi.
d. Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga
maupun dengan masyarakat.
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.
4. Keluarga dengan Anak Sekolah
Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah)
dan berakhir pada saat anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini
biasanya keluarga mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga
sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak
memiliki minat sendiri. Demikian pula orang tua mempunyai aktivitas
yang berbeda dengan anak. Tugas perkembangan keluarga:
a. Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan
lingkungan.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin
meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan
anggota keluarga.
Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi
kesempatan pada anak untuk nbersosialisasi dalam aktivitas baik di
sekolah maupun di luar sekolah.
5. Keluarga dengan Anak Remaja
Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7
tahun kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta
kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang
dewasa. Tugas perkembangan:
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab.
b. Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
c. Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang
tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang
keluarga.
Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas
otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab.
Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.
6. Keluarga dengan Anak Dewasa
Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan
berakhir pada saat anakterakhir meninggalkan rumah. Lamanya
tahapan ini tergantung jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang
belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua. Tugas
perkembangan:
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
b. Mempertahankan keintiman pasangan.
c. Membantu orang tua memasuki masa tua.
d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
7. Keluarga Usia Pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan
rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal.
Pada beberapa pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia
lanjut, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua.
Tugas perkembangan:
a. Mempertahankan kesehatan.
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman
sebaya dan anak-anak.
c. Meningkatkan keakraban pasangan.
Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet
seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain
sebagainya.
8. Keluarga Usia Lanjut
Dimulai saat pensiun sanpai dengan salah satu pasangan
meninggal dan keduanya meninggal. Tugas perkembangan:
1. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
2. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan
fisik dan pendapatan.
3. Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.
4. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
5. Melakukan life review.
6. Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas
utama keluarga pada tahap ini.
BAB III
TINJAUAN KASUS

Kasus Semu
Asuhan Kebidanan pada Keluarga dengan Usia Lanjut, Remaja dan Pra
Sekolah

Keluarga bapak Hartanto tinggal di daerah pedesaan. Bapak Hartanto


tinggal bersama dengan istri, satu anak remaja dan satu anak pra sekolah, serta
seorang ibu yang sudah lanjut usia. Bapak Hartanto kerja sebagai Pegawai Negeri
Sipil di salah satu instansi pemerintah di kabupaten, sedangkan istrinya bekerja
sebagai karyawan bank konvensional. Anak pertamanya sekolah di SMA swasta,
sedangkan anak kedua tinggal bersama neneknya. Bapak dan ibu berangkat kerja
pada pagi hari dan pulang pada sore hari. Ibu sering lembur di kantor karena
mengelola masalah keuangan di bank.
Anak pertamanya masuk dalam usia pubertas atau usia transisi dari usia
kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan akan tetapi belum mampu ke
usia yang kuat dan penuh tanggung jawab baik terhadap dirinya maupun
masyarakat. Semakin berkembangnya masyarakat semakin panjang usia remaja
karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dirinya dengan
masyarakat yang banyak syarat dan tuntutan dalam hidup. Pada usia ini penting
adanya pengawasan dan pendampingan orang tua, karena dalam fase ini anak
dinilai dalam kondisi labil. Tapi dalam kasus ini anak tidak dalam pengawasan
orang tua, karena orang tua sibuk bekerja. Sehingga dalam perkembangannya
anak tidak mendapatkan figur orang tua dalam menghadapi perubahan psikologis
dan fisik dalam masa remajanya. Anak sering menghabiskan waktunya di luar
rumah bersama teman sebaya dan tidak peduli dengan keadaan rumah karena
merasa tidak nyaman dengan lingkungan keluarganya. Dia merasa tidak ada
kewajiban untuk dekat dengan adiknya dan membantu neneknya dalam
pengasuhan sang adik.
Anak keduanya berada dalam pengasuhan dan pengawasan sang nenek
karena orang tua sibuk bekerja dan keluarga tidak percaya dengan pengasuhan
orang lain. Anak kedua berusia 4 tahun, pada usia ini anak seharusnya
mendapatkan pengasuhan orang tua karena sedang berada dalam masa
pertumbuhan dan sangat membutuhkan perhatian serta kasih sayang yang cukup.
Anak pra sekolah umumnya sangat aktif, sehingga jika dalam pengasuhan
neneknya, nenek akan mengalami kesulitan karena sudah berada dalam usia
lanjut. Pada usia pra sekolah, anak harus mendapatkan stimulasi dalam
perkembangan dan pertumbuhannya.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi
pada sistem keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar
anggota keluarga disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa
tahapan atau kurun waktu tertentu.Pada setiap tahapan mempunyai tugas
perkembangan yang harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui
dengan sukses.
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan,
kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan
budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta
sosial dari tiap anggota keluarga.
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal,
sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi
tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola
perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

B. Saran
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan keluarga
melalui penyuluhan mengenai peran anggota keluarga dan perkembangan
keluarga sesuai jenjang merupakan langkah yang tepat dilakukan guna
mencapai kebutuhan kesehatan keluarga yang optimal.Upaya ini perlu
dikembangkan dan ditingkatkan, untuk itu perlu dukungan oleh pihak-pihak
yang peduli terhadap kesehatan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, W. 2009. Ilmu Pengantar Komunitas. Jakarta: Salemba Medika.


Ali, Z. 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.
Friedman, M. 1998. Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik edisi 3.
Jakarta: EGC.
Friedman. M, Bowden. V, Jones. E. 2003. Family Nursing: Research,
Theory, And Practice. New Jersey: Pearson Education.
Murwani, Arita. 2008. Asuhan Keperawatan Keluarga: Konsep dan
Aplikasi Kasus. Yogyakarta: Mitra Cendikia.