You are on page 1of 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan adalah kemudahan yang diberikan sehubungan dengan proses jual beli
barang dan jasa. Pelayanan merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang dapat
ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan
tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Menurut Kotler, Pelayanan (service) adalah
setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak lain, yang pada
dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan sesuatu.
Service excellent adalah berkaitan dengan jasa pelayanan yang dilaksanakan oleh
perusahaan dalam upaya untuk memberikan rasa kepuasan dan menumbuhkan
kepercayaan terhadap pihak pelanggannya (customer), sedangkan customer tersebut
merasa dirinya dipentingkan atau diperhatikan dengan baik dan wajar. Menurut
Elhaitammy service excellent merupakan suatu sikap atau tata cara pihak customer
service (pelayanan pelanggan) dapat melayani pelanggan secara memuaskan.
Pelayanan Prima di Rumah Sakit adalah pelayanan terbaik yang diberikan oleh
karyawan RS untuk memenuhi/bahkan melampaui harapan pengguna jasa rumah sakit.
Dimana harapan ini ditentukan oleh pengalaman masa lalu terhadap jasa atau produk
yang pernah digunakan, Informasi layanan yang diterima dari berbagai sumber atau janji-
janji dan faktor internal dari pengguna jasa yaitu dari pengguna jasa rumah sakit sendiri.
Menurut Tjiptono (2008) pelayanan prima (service excellence) terdiri dari 4
unsur pokok, antara lain: kecepatan, ketepatan, keramahan, dan kenyamanan. Unsur-
unsur melayani prima, sesuai keputusan Menpan No. 81/1993, yaitu: kesederhanaan,
kejelasan dan kepastian, keamanan, keterbukaan, efisien, ekonomis, dan keadilan yang
merata.
Definisi pelayanan prima mengandung tiga hal pokok, yaitu adanya pendekatan
sikap yang berkaitan dengan kepedulian kepada pelanggan, upaya melayani dengan
tindakan yang terbaik, dan adanya tujuan untuk memuaskan pelanggan dengan
beroreantasi pada standart layanan tertentu (Swastika, 2005: 3).
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayaan Aparatur Negara (Menpan) No. 81
Tahun 1993, pelayanan yang diberikan oleh instansi pemerintah, termasuk Rumah Sakit,
merupakan bentuk pelayanan pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan
“kesehatan” bagi masyarakat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
(Kepmenpan No. 81 Tahun 1993).
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Apa pengertian pelayanan keperawatan prima ?
2. Apa Faktor-faktor pelayanan keperawatan prima ?
3. Bagaimana Kualitas pelayanan keperawatan ?
4. Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan keperawatan prima ?
5. Bagaimana pendapat kelompok terhadap upaya peningkatan mutu pelayanan prima
di RSUD Padang Panjang dengan Luncurkan Tiga Inovasi Baru?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:
1. Mengetahui pengertian pelayanan keperawatan prima.
2. Mengetahui Faktor-faktor pelayanan keperawatan prima.
3. Mengetahui Kualitas pelayanan keperawatan.
4. Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan keperawatan prima.
5. Untuk mengetahui pendapat kelompok terhadap upaya peningkatan mutu pelayanan
prima di RSUD Padang Panjang dengan Luncurkan Tiga Inovasi Baru.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pelayanan Keperawatan Prima


Pelayanan umum (Kep.Men.Pan.No.81 tahun 1993) adalah segala bentuk kegiatan
pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, didaerah dan BUMN/D dalam
bentuk barang dan jasa, baik dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam
rangka ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan pelayanan keperawtan prima
adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar kualitas untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan pasien sehingga pasien dapat memperoleh kepuasan dan akhirnya dapat
meningkatkan kepercayaan kepada rumah sakit (Ginting, 2006). Pelayanan prima merupakan
elemen utama rumah sakit dan unit-unit kesehatan agar bisa bertahan diera globalisasi. Adapun
pelayanan kepada masyarakat.tentunya telah ada suatu ketetapan tatalaksananya. Prosedur dan
kewenangan sehingga penerima pelayanan puas dengan apa yang telah diterimanya.
Pelayanan keperawatan prima adalah pelayanan keperawatan profesional yang memiliki
mutu, kualitas, dbersifat efektif, efisien sehingga memberikan kepuasan pada kebutuhan dan
keinginan lebih dari yang diharapkan pelanggan atau pasien. Pelayanan prima, sebagaimana
tuntutan pelayanan yang memuaskan pelanggan atau masyarakat, maka diperlukan persyaratan
agar dapat dirasakan oleh setiap pelayan untuk memiliki kualitas kompetensi yang profesional,
dengan demikian kualitas kompetensi profesionalisme menjadi sesuatu aspek penting dan wajar
dalam setiap transaksi.
Pelayanan prima pada dasarnya ditunjukan untuk memberikan kepuasan kepada pasien.
Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit harus berkualitas dan memiliki lima dimensi mutu
yang utama yaitu : tangibles, re;iability, responsiveness, assurance, dan empathy. Disadari
ataupun tidak, penampilan (tangibles) dari rumah sakit merupakan poin pertama yang ditilik
ketika pasien pertama kali mengetahui keberadaannya. Masalah kesesuain janji (reliability),
pelayanan yang tepat (responsiveness), dan jaminan pelayanan (assurance) merupakan masalah
yang sangat peka dan sering menimbulkan konflik. Dalam proses ini faktor perhatian (empathy)
terhadap pasien tidak dapat dilalaikan oleh pihak rumah sakit (Fahriadi,2007). Untuk dapat
memberikan pelayanan yang prima, sebuah rumah sakit harus memiliki sumber daya manusia
dengan kualitas baik. Pelayanan dirumah sakit merupakan bentuk pelayananyang diberikan oleh
suatu tim tenaga kesehatan, seperti Dokter, Perawat dan Bidan. Tim keperawatan merupakan
anggota tim garda depan yang menghadapi masalah kesehatan pasien selama 24 jam secara terus
menerus. Bentuk pelayanan dan asuhan keperawatan seyogianya diberikan oleh perawat yang
memiliki kemampuan serta sikap dan kepribadian yang sesuai dengan tuntutan profesi
keperawatan. Sehubungan dengan hal tersebut, tenaga keperawatan harus dipersiapkan dan
ditingkatkan secara teratur, terencana, dan berkesinambungan (Aisyah, 2008).
B. Faktor-faktor pelayanan keperawatan prima
Dalam pengembangan budaya pelayanan keperawatan prima, Gultom (2006)
mengembangkan pelayanan keperawatan priama dengan menyelaraskan faktor-faktor. Ability
(kemampuan), Attitude (sikap), Appearance (penampilan), Attention (perhatian), Action
(tindakan), Accountability (tanggung jawab).

1. Kemampuan (Ability)
Kemampuan adalah pengetahuan dan keterampilan yang mutlak diperlukan untuk
menunjang program layanan prima, yang meliputi kemampuan dalam bidang keperawatan
yang ditekuni, melaksanakan komunikasi yang efektif, mengembangkan motivasi, membina
hubungan dengan tenaga kesehatan lain.
Perawat harus mempunayai pengetahuan dan wawasan luas, terlebih lagi pada saat ini
ketika perawat dituntut untuk menjadi seorang profesional. Pengetahuan dan wawasan yang
dimaksud bukan hanya sebatas bidang keperawatan, tapi menyeluruh. Pengetahuan yang
luas dari perawat sangat berguna untuk memberikan pelayanan keperawatan yang
profesional. Sedangkan menurut Utama (1999), keterampilan merupakan kemampuan untuk
melakukan sesuatu yang baik dan benar. Seorang perawat dikatakan terampil apabila telah
dapat memberikan pelayanan keperawatan dengan baik dan benar. Baik dan benarnya
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan mengacu pada dasar pendidikannya dan
standar keperawatan. Akan tetapi, keterampilan seorang perawat bukan hanya tergantung
dari tingginya pendidikan yang diterimanya, tapi pengalaman dalam melakukan pelayanan
keperawatan juga sangat berpengaruh (Zulkifli, 1999).
2. Sikap (Attitude)
Sikap adalah perilaku yang harus ditonjolkan perawat ketika menghadapi pasien. Dalam
memberikan asuhan keperawatan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang
lembut,sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping pasien dan bersikap sebagai
media penberi asuhan. Sikap ini diberikan melalui kejujuran, kepercayaan dan niat baik.
Adapun sikap-sikap dalam pelayanan prima adalah semangat, memakai cara yang baik, pro-
aktif, positif, penuh kesabarab dan tidak mengada-ada, dan tepat waktu.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan, sikaf tersebut harus dimiliki oleh seorang
perawat karena sikaf perawat juga sangat berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Sikap
perawat yang baik dan ramah dapat menimbulkan rasa simpati pasien terhadap perawat.
3. Penampilan (Appearance)
Penampilan perawat dalah penampilan, baik berupa fisik maupun nonfisik yang mampu
merefleksikan kepercayaan diri dan kredibilitas dari pihak lain. Penampilan seseorang
merupakn salah satu hal pertama yang diperhatikan selama komuniksi interpersonal. Kesan
pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama. 84% dari kesan terhadap seseorang
berdasarkan penampilannya (Lalli Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993). Bentuk fisik,
cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadiaan, status sosial, pekerjaan, agama,
budaya dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya dapat
menimbulkan cita diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik perawat dapat
mempengaruhi persepsi pasien terhadap pelayanan atau asuhan keperawatan yang diterima,
karena tiap pasien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seorang perawat.
Walaupun penampilan tidak sepenuhnya mecerminkan kemampuan perawat tetapi mungkin
akan lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap pasien jika perawat tidak
memenuhi citra pasien.
4. Perhatian ( Attention)
Perhatian adalah kepedulian penuh terhadap pasien, baik yang berkaitan dengan perhatian
akan kebutuhan dan keinginan pasien maupun pemahaman atas saran dan kritik. Perhatian
yang diberikan perawat, terutama ketika pasien sendiri dan merasa menadi beban bagi orang
lain, adalah sangat berguna untuk mempercepat proses penyembuhan. Penyakit yang diderita
oleh pasien terjadi bukan hanya kelemahan fisiknya, tetapi dapat juga terjadi karena adanya
gangguan pada kejiwaannya. Sikap yang baik terutama perhatian yang diberikan oleh
perawat kepada pasien, diyakuni ddapat mempercepat proses penyembuhan kejiwaannya.
Sehingga dengan sembuhnya kejiwaan maka dapat mempengaruhi kesembuhan fisiknya.
5. Tindakan (Action)
Tindakan adalah berbagai kegiatan nyata yang harus dilakukan dalam memberikan
layanan kepada pasien. Layanan ini seyogianya berlandaskan ilmu pengetahuan, prinsip dari
teori keperawatan serta penampilan dan sikap serta sesuai dengan kompetensi dan
kewenangan yang diemban kepada perawat tersebut. Apabila perawat terampil dalam
memberikan tindakan keperawatan, maka secara otomatis pasien juga akan merasakan
kepuasan dari tindakan yang diberikan perawat tersebut. Hal ini teradi karena perawat yang
terampil dapat menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi pasien saat melakukan suatu
tindakan. Tindakan perawat yang sesuai dengan standar keperawatan dapat menjamin bahwa
asuhan keperawatan yang diberikan juga berkualitas.
6. Tanggung jawab (Accountability)
Tanggung jawab adalah suatu sikaf keberpihakan kepada pasien sebagai wujud
kepedulian untuk menghindarkan atau meminimalkan kerugian atau ketidakpuasan pasien.
Perawat merupakan salah satu profesi yang berhubungan dan berinteraksi langsung dengan
pasien, baik itu klien sebagai individu, keluarga maupun masyarakat, oleh karena itu dalam
memberikan asuhan keperawatannya perawat dituntut untuk memahami dan berprilaku
sesuai dengan etika keperawatan. Agar seorang perawat dapat bertanggung jawab dan
bertanggung gugat maka perawat harus memegang teguh nilai-nilai yang mendasari praktik
keperawatan itu sendiri., yaitu : perawat membantu pasien untuk mencapai tingkat kesehatan
optimum, perawat membantu meningkatkan autonomi pasien mengekspresikan
kebutuhannya, perawat mendukung martabat kemanusiaan dan berprilaku sebagai advokat
bagi pasien, perawat menjaga kerahasiaan pasien, beriorentasi pada akuntabilitas perawat,
dan perawat bekera dalam lingkungan yang kompeten, etik, dan aman (CAN,2001). Prinsip
pelayanan prima dibidang kesehatan :
a. Mengutamakan pelanggan
b. Sistem yang efektif
c. melayani dengan hati nurani
d. perbaikan berkelanjutan pemberdayaan pelanggan

C. Kualitas Pelayanan Keperawatan


Kualitas pelayanan merupakan tipe pengawasan yang berhubungan dengan kegiatan yang
dipantau atau diatur dalam pelayanan berdasarkan kebutuhan atau pandangan konsumen.
Penelitian terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirumah sakit tidak semudah menentukan
kualitas barang pada industri manufaktur. Pada industri manufaktur, kualitas barang yang
dihasilkan ditentukan oleh standar baku dan harga. Bila kualitas dibawah standar atau bila
harganya diatas standar untuk barang tertentu maka konsumen tidak akan mau membelinya.
Sedangkan pada bidang kesehatan, konsumen atau pasien berada pada posisi yang tidak mampu
menilai secara pasti kualitas pelayanan yang diterimanya. Bidang keperawatan, tujuan kualitas
pelayanan adalah untuk memastikan bahwa jasa atau produk pelayanan keperawatan yang
dihasilakan sesuai dengan standar atau keinginan pasien (Nursalam, 2002). Untuk memenuhi
kebutuhan pasien tersebut maka yang paling bertanggung jawab adalah perawat. Kualitas
pelayanan keperawatan dinilai dari berbagai pelayanan itu, baik bagi perorangan maupun
populasi.
Penilaian kualitas pelayanan keperawatan, terdapat tahap-tahap yang harus dijalani.
Menurut Nursalam(2002), tahap pertama dalam proses ini adalah penyusunan standar atau
kriteria. Adalah sesuatu yang mustahil apabila mengukur sesuatu tanpa adanya suatu standar
yang baku. Tidak hanya harus ada standar, tetapi pemimpin juga harus tanggap dan melihat
bahwa perawat mengetahui dan mengerti standar yang telah ditentukan tersebut, karena standar
bervariasi operasionalnya dalam setiap institusi dan perawat harus melaksanakan tugasnya sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Tahap kedua adalah mengidentifikasi informasi yang
sesuai dengan kriteria. Informasi-informasi yang diperoleh tersebut dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam pengukuran kualitas pelayanan keperawatan.
Tahap tiga adalah identifikasi sumber informasi. Pemimpin harus yakin terhadap sumber
informasi yang didapatkan. Dalam melakukan pengawasan kualitas pelayanan keperawatan,
pemimpin dapat menemukan banyak informasi dari pasien sendiri yang merupakan sumber yang
sangat membantu. Tahap keempat adalah mengumpulkan dan menganalisa data. Semua
informasi yang telah didapat dari pasien, dapat diadikan sebagai pengukuran kualitas pelayanan
keperawatan. Tahapan terakhir yaitu evaluasi ulang. Jika semua asuhan keperawatan dilakukan
sesuai dengan standar yang berlaku, maka evvaluasi ulang tidak perlu dilakukan. Evaluasi ulang
hanya akan dikerjakan apabila banyak kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan standar yang
berlaku. Penelitian standar asuhan keperawatan, maka tindakan yang seharusnya dilakukan
adalah menetapkan standar keperawatan. Standar keperawatan yang telah terbentuk akan
membantu dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan, yang konsisten, kontiniu, dan
bermutu. Standar keperawatan juga dapat melindungi pasien dari tindakan yang salah yang
dilakukan oleh perawat.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelayanan Keperawatan Prima
Menurut Nursalam (2002) keberhasilan pelaksanaan kegiatan menjamin kualitas
pelayanan keperawatan dipengaruhi oleh berbagai factor yakni :
1. Faktor pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra
manusia. Dimana pengetahuan manusia umumnya diperoleh diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoadmojo, 2003). Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket
terhadap responden tentang isi materi yang diukur. Dalam pengetahuan yang ingin diukur
disesuaikan dengan tingkatan pengetahuan dalam kognitif (Notoadmojo, 2003). Pengetahuan
tenaga perawat kepada kegiatan penjaminan mutu pelayanan keperawatan merupakan
kegiatan penilai, memantau atau mengatur pelayanan yang berorientasi pada klien
(Nurachmah, 2001).
Adapun tujuan dari penilaian mutu pelayanan keperawatan adalah untuk meningkatkan
asuhan keperawatan kepada pasien atau konsumen, menghasilkan keuntungan atau pendapat
institusi, mempertahankan eksistensi institusi, meningkatkan kepuasan kerja sumber daya
yang ada, meningkatkan kepercayaan konsumen atau pelanggan serta menjalankan kegiatan
sesuai aturan atau standar yang berlaku. Pelayanan asuhan keperawatan yang bermutu dan
dapat dicapai jika pelaksanaan asuhan keperawatan dipersiapkan sebagai suatu kehormatan
yang dimiliki perawat dalam mempertahankan haknya untuk memberikan asuhan yang
manusiawi, aman, serta sesuai dengan standar dan etik profesi perawat yang
berkesinambungan dan terdiri dari kegiatan pengkajian, perencanaan, implementasi rencana,
dan evaluasi tindakan yang diberikan (Nuracmah,2001). Pengetahuan perawat tentang
penilaian mutu pelayanan keperawatan tidak terrlepas dari standar praktik keperawatan yang
telah ditetapkan oleh PPNI (2000) yang mengacu dalam tahapan proses keperawatan yakni :
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
2. Faktor beban kerja
Bekera adalah suatu bentuk aktifitas yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan. Dan
aktifitas ini melibatkan baik fisik maupun mental (As’ad, 2001). Beban kerja merupakan
suatu kondisi atau keadaan yang memberatkan pada pencapaian aktifitas untuk melakukan
suatu aktifitas. Beban kerja perawat yang tinggi serta beragam dengan tuntutan institusi
kerja dalam pencapaian kualitas bermutu, jumlah tenaga yang tidak memadai berpengaruh
besar pada pencapaian mutu pelayanan yang diharapkan (Kusdijanto, 2000). Untuk itu perlu
adanya pengorganisasian kerja perawat yang tepat dan jelas (Swansburg, 2000).
Tujuan utama menyusun rencana pembagian tugas adalah untuk meningkatkan efektivitas
dan efisiensi staf dalam melaksanakan tugasnya. Pembagian tugas terdiri dari tiga aspek
yaitu : pengembangan tugas, keterlibatan dalam tugas, dan rotasi tugas (Nursalam, 2000).
Dalam upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan adalah dengan cara menjaga
kesinambungan antara beban kera perawat dan jumlah tenaga perawat yang tersedia.
3. Faktor komunikasi
Komunikasi adalah sesuatu untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan
dengan cara yang gampang sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima (Nursalam,
2000). Komunikasi dalam praktik keperawatan professional merupakan unsur utama bagi
perawat dalam melaksanakan pelayanan keperawatan untuk mencapai hasil yang optimal.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan komunikasi terapeutik antara lain :
a. Pendidikan
Merupakan penuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya yang dapat
digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga dapat digunakan untuk mendapatkan
informasi untuk meningkatkan kualitas hidup (Notoadmojo, 2003). Makin tinggi
pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi dan makin baik pengetahuan
yang dimiliki sehingga menggunakan komunikasi terapeutik secara efektif akan dapat
dilakukannya.
b. Lama bekerja
Merupakan waktu dimana seseorang mulai bekerja ditempat kerja. Makin lama seseorang
bekera makin banyak pengalaman yang dimilikinya sehingga akan makin baik cara
berkomunikasinya (Alimul, 2003)
c. Pengetahuan
Merupakan proses belajar dengan meggunakan panca indra yang dilakukan seseorang
terhadap objek tertentu untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan
(Notoadmojo, 2003). Menurut Bloom dan Kartwalk (1998) membagi pengetahuan dalam
enam tingkatan diantaranya tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
d. Sikap
Sikap dalam komunikasi akan mempengaruhi proses komunikasi berjalan efektif atau
tidak. Sikap kurang baik akan menyebabkan pendengar kurang percaya terhadap
komunikator. Sikap yang diharapkan dalam komunikasi tersebut seperti terbuka, percaya,
empati, menghargai, rendah diri dan menjadi pendengar yang baik. Kesemuanya dapat
mendukung komunikasi yang terapeutik.
e. Kondisi psikologi
Pada komunikator akan mudah mempengaruhi dari isi pembicaraan melalui komunikasi
terapeutik. Namun perlu memperhatikan kondisi psikologis yang baik untuk menjadikan
komunikasi sebagai terapeutik. Kondisi psikologis seorang pendengar dapat dipengaruhi
oleh rangsangan emosi yang disebabkan oleh pembicaraan itu sendiri. Indikator dalam
melaksanakan komunikasi terapeutik (Nursalam, 2003) mendorong pasien untuk
mengungkapkan pandangan dan perasaannya, menggunakan bahasa yang mudah
dimengerti dalam setiap komunikasi serta memanggil pasien sesuai dengan identitasnya.
BAB III
PEMBAHASAN
A. ARTIKEL

RSUD PADANG PANJANG, LUNCURKAN TIGA INOVASI BARU

PADANG PANJANG, HARIANHALUAN.COM - Dorongan untuk selalu berinovasi dan


berimprovisasi yang selalu ditekankan Walikota Padang Panjang, Hendri Arnis kepada instansi
pelayanan di Kota Serambi Mekah berhasil diwujudkan RSUD Kota Padang Panjang.

"Saya mau instansi pelayanan di Kota Padang Panjang bisa melahirkan sejumlah inovasi dalam
upaya memberikan pelayanan prima kepada masyarakat," tekan Wako Padang Panjang kepada
kepala OPD teknisnya dalam beberapa kali kesempatan.

Senin (9/10) pagi, bertempat di halaman RSUD Padang, pihak rumah sakit yang dipimpin
Direkturnya, dr Hardoni secara resmi meluncurkan tiga inovasi baru di RSUD tersebut.

Rumah Sakit tipe Madya itu mulai Senin ini, mulai menerapkan pendaftaran online pasien
rawat jalan, kemudian meluncurkan pemakaian (operasional) Shuttle Bus gratis yang
melayani jemput antar pasien, serta sistem informasi manajemen rumah sakit.

Ketiga bentuk pelayanan tersebut dilauncing secara resmi oleh Walikota Padang Panjang dan
dihadiri Sekdako Indra Gusnady, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry
Yuliesday, Kepala RSUD Kota Padang Panjang, Ardoni, para staf ahli para kepala dinas, para
Direktur RSUD se-Sumatera Barat dan undangan lainnya, termasuk keluarga pasien yang sempat
hadir.

Dalam laporanya, dr Ardhoni menjelaskan, melalui pendaftaran online, pasien rawat jalan tak
perlu antri lama untuk mendaftar berobat. Pasien dapat mendaftar lewat link http//rsudpp.com),
yang bisa di browsing di mozilla firefox maupun chrome.

Registrasi online dapat dilakukan dalam jangka waktu 1- 7 hari sebelum tanggal kunjungan.
Selanjutnya, pasien bisa datang pada hari sesuai registrasi dengan menunjukkan bukti registrasi
online ke loket khusus pendaftaran online, serta membawa kartu berobat/No. MR, Kartu BPJS
asli dan foto copy, fofo copy KTP/ KK, surat rujukan, karcis dan hasil screen
shoot pendaftaran online.

Untuk operasional shutle bus, para pasien yang tak memiliki kendaraan dapat memanfaatkan jasa
kendaraan antar jemput untuk berobat ke RSUD.
Dari pantauan di lapangan, para pasien RSUD Padang Panjang merasa diuntungkan dengan
adanya shuttle bus, terutama para pasien yang harus berobat rutin, seperti para pasien cuci darah
dan penyakit kronis lainnya.

Sementara itu, inovasi terhadap sistem informasi manajemen rumah sakit, digunakan untuk
menangani keseluruhan proses manejemen mulai dari pelayanan diagnosa pasein sampai pada
tahapan pengendalian yang terkendali secara efektif, efesien dan terintegrasi.

Wako Padang Panjang, diwakili Sekda Indra Gusnady, menyampaikan, seluruh OPD yang ada di
Kota Padang Panjang diminta untuk berlomba menciptakan berbagai terobosan dan inovasi
sesuai bidang nya masing masing. Inovasi tersebut nanti akan dihargai oleh pemerintah lewat
pemberian reward.

Kepada RSUD wako mengingatkan, meksi telah berinovasi, pihak RSUD diminta agar tidak
cepat berpuas diri. "Ke depan harus ditingkatkan lagi. Saya meminta pada direktur agar
pelayanan online ini bisa diakses lewat android serta bisa di upload aplikasinya lewat play
store,” pinta wako.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesday


menyampaikan, RSUD Kota Padang Panjang merupakan satu diantara 21 rumah sakit yang
terakriditasi dari 72 rumah sakit di Sumatera Barat.

"Saya mendukung atas tiga pelayanan yang di launcing RSUD Kota Padang Panjang dan saya
ucapakan selamat kepada seluruh jajaran," pungkas Merry Yuliesday. (h/pis).

Websait:https://www.harianhaluan.com/mobile/detailberita/67049/rsud-padang-pajang-
luncurkan-tiga-inovasi-baru

B. Opini Kelompok

Visi : Mewujudkan Rumah Sakit Yang AMANAH


 A = Aman terhadap sarana dan prasarana yang digunakan
 M = Mandiri terhadap pelayanan yang diberikan
 A = Ahli (SDM) sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan
 N = Nyaman terhadap sarana dan prasarana yang digunakan dan pelayanan yang
diberikan
 A = Adil dalam memberikan pelayanan
 H = Humanis terhadap semua pasien
Misi :
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan SDM yang profesional, mandiri, adil dan
humanis
2. Menyediakan sarana dan prasarana yang aman dan nyaman sesuai dengan kebutuhan

Motto:
“MELAYANI DENGAN HATI”
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelayanan keperawatan prima adalah pelayanan keperawatan profesional yang memiliki
mutu, kualitas, dbersifat efektif, efisien sehingga memberikan kepuasan pada kebutuhan dan
keinginan lebih dari yang diharapkan pelanggan atau pasien. Pelayanan prima, sebagaimana
tuntutan pelayanan yang memuaskan pelanggan atau masyarakat, maka diperlukan persyaratan
agar dapat dirasakan oleh setiap pelayan untuk memiliki kualitas kompetensi yang profesional,
dengan demikian kualitas kompetensi profesionalisme menjadi sesuatu aspek penting dan wajar
dalam setiap transaksi.

B. SARAN
Perawat membantu pasien untuk mencapai tingkat kesehatan optimum, perawat
membantu meningkatkan autonomi pasien mengekspresikan kebutuhannya, perawat mendukung
martabat kemanusiaan dan berprilaku sebagai advokat bagi pasien, perawat menjaga kerahasiaan
pasien, beriorentasi pada akuntabilitas perawat, dan perawat bekera dalam lingkungan yang
kompeten, etik, dan aman (CAN,2001). Prinsip pelayanan prima dibidang kesehatan:
1. Mengutamakan pelanggan
2. Sistem yang efektif
3. melayani dengan hati nurani
4. perbaikan berkelanjutan pemberdayaan pelanggan