You are on page 1of 3

7.

Asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi


a. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung
b. Sirkulasi
Gejala : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner
Tanda : kenaikan TD, takikardi, kulit pucat/sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer)
c. Integritas Ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian ansietas, faktor stress multipel (hubungan,
keuangan yang berkaitan dengan pekerjaan)
Tanda : letupan suasana hati, gelisah, otot muka tegang, meningkatnya pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala : gangguan ginjal saat ini atau obstruksi atau riwayat penyakit ginjal pada masa
lalu.
e. Makanan/cairan
Gejala : makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta
kolestrol, mual, mutah, perubahan berat badan (naik/turun).
Tanda : berat badan normal/obesitas adanya edema.
f. Neurosensori
Gejala : pusing/pening, gangguan penglihatan (kabur)
Tanda : status mental perubahan pola/isi bicara, proses fikir, penurunan kekuatan
genggaman tangan.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : angina (penyakit arteri koroner) sakit kepala
h. Pernafasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas kerja, batuk dengan/tanpa adanya
sputum, riwayat merokok
Tanda : distress pernafasan penggunaan otot aksesoris pernafasan, bunyi nafas
tambahan (mengi), sinosis.
i. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan
j. Pembelajaran/penyuluhan
Gejala : faktor resiko keluarga hipertensi, penyakit jantung, DM
Diagnosa keperawatan yang muncul
 Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peningkatan tekanan vaskuler
 Cemas b/d ketidaktahuan mengenai penyakit
8. Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan emosional dan individu dan individu mempunyai peran masing-masing yang
merupakan bagian dari keluarga. Friedman (1998) sedangkan menurut sayekti (1994)
keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang
dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang
perempuan dengan atau tanpa anak, baik anak sendiri atau anak adopsi yang tinggal dalam
sebuah rumah tangga.
 Struktur keluarga
Menggambarkan bagaimana keluarga menjalankan fungsinya di masyarakat sekitar.
Menurut parad dan caplan (1996) yang diadopsi oleh Friedman mengatakan ada empat
elemen struktur keluarga yaitu :
a. Struktur peran keluarga (menggambarkan peran masing-masing keluarga dlam
keluarga sendiri dan perannya dalam masyarakat)
b. Nilai atau norma keluarga (menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan
diyakini oleh keluarga, khususnya berhubungan dengan kesehatan)
c. Pola komunikasi keluarga (bagaimana dan pola komunikasi ayah-ibu, orang tua
dengan anak, anak dengan anak dan anggota keluarga lain)
d. Struktur kekuatan keluarga (kemampuan keluarga mempengaruhi dan
mengendalikan orang lain untuk mengubah perilaku keluarga yang mendukung
kesehatan)

Berdasarkan kemampuan keluarga untuk pemenuhan kebutuhan dasar,


kebutuhan psikososial, kebutuhan memenuhi ekonominya dan aktualisasi keluarga
dimasyarakat, serta memperhatikan perkembangan negara indonesia menuju negara
industri, indonesia menginginkan terwujudnya keluarga sejahtera. Di indonesia
keluarga dikelompokkan menjadi lima tahap yaitu :

 Keluarga prasejahtera : keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar


secara minimal, yaitu kebutuhan pengajaran agama, pangan, sandang, papan dan
kesehatan atau keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator
keluarga sejahtera tahap I.
 Keluarga sejahtera tahap I. Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar
secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial
psikologis, yaitu kebutuhan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaqksi
dengan lingkungan tempat tinggal dan tranportasi.
 Keluarga sejahtera tahap II, keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar
secara minimal serta telah memenuhi seluruh kebutuhan sosial psikologisnya, tetapi
belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan yaitu kebutuhan untuk menabung
dan memperoleh informasi.
 Keluarga sejahtera tahap III, (KS)
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis
dan kebutuhan pengembangan tetapi belum dapat memberikan sumbangan
(kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat secara teratur, dalam bentuk
material dan keuangan untuk sosial kemasyarakatan.
 Keluarga sejahtera tahap III plus. Keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh
kebutuhan baik bersifat dasar, sosial psikologis, maupu pengembangan serta telah
mampu memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Penduduk miskin indonesia telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Pada tahun
1970 proporsi penduduk miskin sekitar 60% tahun 1996 menjadi 11% tahun 1998
menunjukkan proporsi keluarga miskin meningkat kembali menjadi 39%. Survei biro
statistik akhir desember 1998 menunjukkan keluarga miskin sekitar 24,2%
kecendrungan