You are on page 1of 8

Definisi

Untuk mengatur keselamatan pasien di Indonesia, telah dikeluarkan PMK No.


1691 tentang keselamatan pasien rumah sakit. Berdasarkan peraturan tersebut,
dibentuklah Komite Nasional Keselamatan Pasien untuk meningkatkan keselamatan
pasien dan mutu pelayanan rumah sakit dan setiap rumah sakit wajib membentuk tim
keselamatan pasien rumah sakit (TKPRS) sebagai pelaksana kegiatan keselamatan
pasien.

Keselamatan pasien juga menjadi salah satu standar akreditasi rumah sakit di
Indonesia (KARS 2011). Berdasarkan PMK No.1961 dan standar akreditasi rumah
sakit terdapat enam sasaran keselamatan pasien yaitu:

a. Ketepatan identifikasi pasien

b. Peningkatan komunikasi yang efektif

c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwasapadai

d. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi

e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

f. Pengurangan risiko pasien jatuh

Salah satu sasaran keselamatan pasien yaitu ketepatan identifikasi pasien, dimana
kemanan pelayanan di rumah sakit dimulai dari ketepatan identifikasi pasien, hal ini
karena kesalahan identifikasi pasien diawal pelayanan akan berlanjut pada kesalahan
pelayanan berikutnya (WHO 2007). Setiap pasien perlu diberikan identitas pasien
dengan tepat karena tidak semua pasien dapat mengungkapkan identitas secara
lengkap dan benar. Hal tersebut karena beberapa pasien dalam keadaan terbius,
mengalami disorientasi, tidak sadar sepenuhnya, bertukar tempat tidur atau kamar
atau lokasi dalam rumah sakit atau kondisi lain yang menyebabkan kesalahan
identifikasi pasien (KARS 2011).

Identifikasi pasien adalah upaya mengetahui identitas pasien melalui nomor ID


(KTP, SIM, kartu pelajar, kartu mahasiswa, BPJS) dan asuransi kesehatan) dan tanda
lahir untuk mempermudah pemberian pelayanan kepada pasien. (Joint Comission
resources 2005).
Sebelum melakukan tindakan, pasien harus diidentifikasi terlebih dahulu dengan
dua kali pengecekan, yaitu: pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang
akan menerima pelayanan atau pengobatan dan kedua untuk kesesuai pelayanan atau
pengobatan terhadap individu tersebut.

Menurut Soejadi (1996) bahwa seiap perawat selalu menyadari pentingnya


memberikan pelayanan keperawatan yang terbaik terutama dalam mengidentifikasi
pasien secara benar selain berfokus pada kondisi kesehatan, semua tindakan harus
memiliki dampak kepuasan bagi pasien. Kepuasan pasien adalah tingkatan kepuasan
pelayanan dan persepsi pasien atau keluarga terdekat. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa kepuasan pasien mempunyai hubungan erat dengan benar atau
tidaknya perawat dalam mengidentifikasi pasien.

Hal ini menunjukan bahwa sangat penting perawat memperhatiakan pelayanan


keperawatan kepada pasien terutama dalam menerapkan patient safety, karena
berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pelayanan keperawatan pada pasien
terutama mengidentifikasi pasien secara benar memiliki hubungan dengan kepuasan
pasien.

Tahapan identifikasi pasien menurut WHO

1. Kebijakan

Menekankan bahwa penyedia layanan kesehatan memiliki tanggung jawab utama


untuk memeriksa/memverifikasi identitas pasien.Sementara itu, pasien harus terlibat
secara aktif dan harus menerima edukasi tentang pentingnya identifikasi pasien yang
benar.

2. Admisi

Setelah masuk dan sebelum menjalani perawatan, gunakan setidaknya dua


identitas untuk memverifikasi identitas pasien, dan tidak boleh menggunakan nomor
kamar.

a. Pengidentifikasi pasien

 Standarisasi pendekatan identifikasi pasien di berbagai fasilitas dalam sistem

layanan kesehatan.
 Mengembangkan protokol organisasi untuk mengidentifikasi pasien, tanpa

identitas atau nama yang sama.

 Menggunakan pendekatan non-verbal lainnya, seperti biometrik, untuk


pasien koma.

b. Intervensi

Memeriksa rincian identifikasi pasien untuk memastikan pasien yang tepat


mendapat perawatan yang benar.

c. Pasien

Libatkan pasien dalam proses identifikasi.

1. Memastikan bahwa organisasi pelayanan kesehatan tersebut memiliki sistem.


a. Menekankan tanggung jawab kepada petugas kesehatan untuk memeriksa
identitas pasien dan mencocokkan pasien dengan perawatan yang benar
(misalnya hasil laboratorium, spesimen, prosedur) sebelum perawatan diberikan.
b. Menggunakan setidaknya dua pengenal (misalnya nama dan tanggal lahir) untuk
memverifikasi identitas pasien saat masuk atau pindah ke rumah sakit lain atau
perawatan lainnya dan sebelum mengurus perawatan. Tidak boleh dari
pengidentifikasian menggunakan nomor kamar pasien.
c. Standarisasi pendekatan identifikasi pasien di berbagai fasilitas dalam sistem
layanan kesehatan. Misalnya, penggunaan pita putih, dimana bentuk atau penanda
terstandar dan informasi spesifik (misalnya nama dan tanggal lahir) dapat ditulis,
atau menerapkan teknologi biometrik.
d. Menyediakan protokol yang jelas untuk mengidentifikasi pasien yang tidak
memiliki identitas atau membedakan identitas pasien dengan nama yang sama.
Kemudian juga mengembangkan dan menggunakan pendekatan non verbal untuk
mengidentifikasi pasien koma atau pasien yang bingung.
e. Mendorong pasien untuk ikut berpartisipasi terhadap semua tahap proses.
f. Melakukan pelabelan wadah yang digunakan untuk darah dan spesimen lainnya
dihadapan pasien.
g. Menyediakan protokol yang jelas untuk menjaga identitas sampel pasien selama
proses pra-analisis, analisis, dan paska-analisis.
h. Membuat protokol yang jelas untuk mempertanyakan hasil laboratorium atau
temuan uji lainnya yang tidak sesuai dengan riwayat klinis pasien.

2. Melakukan pelatihan tentang prosedur untuk memeriksa/memverifikasi identitas


pasien ke dalam orientasi dan melanjutkan pengembangan profesional untuk
petugas kesehatan.
3. Mengedukasi pasien dan keluarga pasien tentang relevansi dan pentingnya
identifikasi pasien yang benar dengan cara yang positif dan juga menghormati
privasi pasien dan keluarga pasien.

Dalam identifikasi pasien, bukan hanya petugas kesehatan yang terlibat namun
juga melibatkan pasien/keluarga pasien. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk
melibatkan pasien/keluarga dalam kegiatan identifikasi pasien sebagai berikut :

1. Mengedukasi pasien tentang resiko yang berhubungan dengan kesalahan dalam


mengidentifikasi pasien.
2. Meminta pasien atau keluarga pasien untuk memverifikasi informasi identitas
untuk memastikan itu benar.
3. Meminta pasien untuk mengidentifikasi diri mereka sebelum menerima
pengobatan dan sebelum menerima pengobatan atau sebelum melakukan
intervensi diagnostik atau terapetik.
4. Mendorong pasien atau keluarga pasien untuk menjadi peserta aktif dalam
identifikasi, untuk mengungkapkan kekhawatiran terhadap potensial kesalahan
keamanan, dan untuk mengajukan pertanyaan tentang ketepatan perawatan
mereka.

Dalam akreditasi Rumah Sakit, KARS juga telah menetapkan elemen- elemen
yang harus dipenuhi rumah sakit dalam identifikasi pasien. Berdasarkan akreditasi RS
versi 2012, terdapat 5 (lima) elemen pada sasaran identifikasi pasien, yaitu :

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh


menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.

2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.


3. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis.

4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan / prosedur.

5. Kebijakan dan prosedur mendukung praktek identifikasi yang konsisten pada


semua situasi dan lokasi.

Tepat identifikasi pasien (Komisi Akreditasi Rumah Sakit/KARS 2012)

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan


nomor kamar atau lokasi pasien.

2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.

3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk


pemeriksaan klinis.

4. Pasien didentifikasi sebelum pemberian pengobatan tindakan/prosedur.

Manfaat

a. Untuk mnegidentifikasi pasien dengan benar (identify patient correctly).

b. Meningkatkan komunikasi yang efektif (improve effective commmunication).

c. Meningkatkan kepuasan pasien akan pelayanan yang diberikan.

d. Meminimalkan kesalahan penempatan, kesalahan pasien, kesalahan prosedur


(eliminate wrong site, wrong patient, wrong procedure surgery).

e. Meningkatkan keamanan dari risiko pengobatan (improve the safety of high alert
medications).

f. Menurunkan resiko infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan


(reduce the risk of health care associated infections).

g. Menurunkan risisko pasien terjatuh (reduce the risk of patient harm from falls).

SOP

1. Pengertian suatu sistem identifikasi kepada pasien untuk membedakan antara


pasien satu dengan yang lain sehingga memperlancar atau
mempermudah dalam pemberian pelayanan kepada pasien
2. Tujuan untuk memberikan identitas pada pasien, untuk membedakan
pasien, untuk menghindari kesalahan medis (mal praktik).

3. Referensi UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 40


Permenkes No: 1691/MENKES/PER/VIII/ 2011 tentang
Keselamatan Pasien
Permenkes 659 tahun 2009 tentang Rumah Sakit kelas dunia.

4. Alat dan Bahan 1. Rekam Medis


2. Buku Saku Pasien
3. Kartu identitas
4. Label kotak obat

5. Prosedur/Langkah- langkah
Pasien datang
 Di Bagian Pendaftaran
a. Sapa pasien (oleh petugas
pendaftaran).
b. Menanyakan data pasien, nama, Loket :
identifi Unit
tanggal lahir, alamat sesuai dengan
kasi rawat
kartu identitas maupun kartu jalan :
menyes
keluarga bila belum punya kartu crosce
uaikan
identitas. dengan k
c. Dicatat di form identitas pasien dan Di rawat inap :
KTP identita
diinput ke komputer. pemasangan
atau s px
gelang biru
KK lewat
 Di Bagian Rawat Jalan / UGD untuk pasien KTP
laki-laki, atau
a. Petugas menyapa dan menanyakan
gelang merah KK
kartu identitas pasien dengan
muda untuk
b. Petugas mengkonfirmasi identitas buku
pasien
pasien dengan catatan Rekam perempuan. rekam
Medik yang ada di bagian Rawat Cek identitas medis
Jalan. px dengan pasien
c. Petugas menanyakan riwayat alergi crosscek
obat pada pasien dan menuliskan antara rekam
pada buku rekam medisnya medis dengan
d. Petugas memanggil pasien untuk KTP atau KK
mendapat pemeriksaan dokter
dengan menyebutkan nama
lengkap sesuai urutan antrian
pasien.
e. Dokter mengkonfirmasi identitas
pasien (tanyakan nama dan alamat)
sebelum memeriksa pasien.
f. Dokter memberikan pelayanan
medis & resep (dalam resep tertera:
nama, usia, tanggal peresepan,
tanda tangan dokter).

 Di Bagian Farmasi
a. Petugas farmasi menerima resep
berdasar nomer antrian
b. Sebelum obat diserahkan petugas
menanyakan & memastikan bahwa
nama obat telah sesuai dengan
kondisi pasien.

 Di Bagian Laboratorium/Radiologi
a. Menanyakan nama , alamat,
golongan darah ( khusus
laboratorium ) sebelum
pemeriksaan/ pengambilan sampel
dilakukan.

 Di Bagian Rawat Inap


a. Perawat memeriksa kesesuaian
identitas & kondisi pasien dengan
data identitas di Rekam Medik.
b. Pemasangan gelang identitas pada
pasien. Isi data pada gelang adalah
nama, usia, jenis kelamin, tanggal
masuk, nomer Rekam Medik, nama
dokter penanggung jawab. Gelang
biru untuk pasien laki-laki, gelang
merah muda untuk pasien
perempuan.
c. Diberi tanda khusus pada gelang
pasien untuk pasien riwayat alergi.
d. Di nurse station, perawat
memisahkan obat antar pasien
dengan memberikan nama label
kotak obat.
e. Seluruh petugas medis &
paramedis harus mengkonfirmasi
identitas pasien dengan melihat
gelang indentitas sebelum
melakukan tindakan ataupun
pemberian obat.
f. Sebelum pasien pulang dilakukan
pengecekan gelang identitas pasien
dan dilakukan pencopotan.

6. Hal - hal  Identitas harus disesuaikan dengan kartu identitas pasien,


yang Perlu bila belum punya maka memakai kartu keluarga pasien
diperhatikan

7. Unit terkait 1. Bagian Pendaftaran


2. Instalasi Rawat Jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Rawat Inap
5. Instalasi Farmasi
6. Instalasi Laboratorium

8. Dokumen  Rekam medis


Terkait