You are on page 1of 23

Astra Daihatsu Blitar

Sistem Pelumasan (Lubricant System)

Pelumas memegang peranan penting dalam desain dan operasi semua mesin otomotif. Umur dan
service yang diberikan oleh mobil tergantung pada perhatian yang kita berikan pada
pelumasannya. Pada motor bakar, pelumasan bahkan lebih sulit dibanding pada mesin-
mesin lainnya, karena di sini terdapat panas terutama di sekitar torak dan silinder, sebagai akibat
leadakan dalam ruang

pembakaran. Tujuan utama dari pelumasan setiap peralatan mekanis adalah untuk melenyapkan
gesekan, keausan dan kehilangan daya. Tujuan lain dari pelumasan pada motor bakar adalah:
1. Menyerap dan memindahkan panas.
2. Sebagai penyekat lubang antara torak dan silinder sehingga tekanan tidak bocordari ruang
pembakaran.
3. Sebagai bantalan untuk meredam suara berisik dari bagian-bagian yang bergerak.

Pada sisitem pelumasan terdapat beberapa macam sistem yang saling melengkapi agar terjadinya
pelumasan yang baik di dalam suatu kendaraan.

Prinsip kerja sistem pelumasan: Oli diangkat dari bak oli ( carter), oleh suatu sedotan, dari
pompa oli yang digerakkan oleh perputaran roda gerigi yang dikoperlkan dengan perputaran
poros engkol, melalui pipa hisap. Dari pompa oli, disalurkan melalui pipa pembagi, kemudian
dialirkan ke suatu media pendinginan yang berupa pipa penunjang melingkar satu setengah ( 1 ½
) lingkar dnegan dinding bersirip untuk memperluas permukaan pipa sehingga proses
pendinginan lebih lancar dari udara sekitarnya atau berupa radiator oli atau tanpa kedua sistem
pendinginan tersebut, tergantung dari kapasitas diesel. Dalam hal yang terakhir ini oli hanya
disalurkan ke dalam pipa yang cukup pendek saja ( y pass). Dari ini kotoran oli yang mungkin
terbawa, baik dari luar maupun sirkulasi di dalam mesin sendiri. Sistem Pelumasan pada Rosker
Arm dari klep, didapatkan melalui camp shaft, tappel dan push rod langsung menembus baud
pengatur jarak rosker arm ( Rocker Arm Bearing) kemudian menetes keluar sejenak ditampung
bak per klep ; melalui celah antara push rod dan pipa pelindung push rod, oli mengalir ke bahah
menuju ke bak charter. Untuk pelumasan ada metal-metal dan juga dinding-dinding silinder, oli
disalurkan melalui pipa kapiler yang terdapat dalam dinding charter ( crank case), juga masuk ke
dalam pipa yang sejenis dengan crank case)

FUNGSI PELUMASAN

Mengurangi gesekan

Mesin sepeda motor terdiri dari beberapa komponen, terdapat komponen yang diam dan ada
yang bergerak. Gerakan komponen satu dengan yang lain akan menimbulkan gesekan, dan
gesekan akan mengurangi tenaga, menimbulkan keausan, menghasilkan kotoran dan
panas. Guna mengurangi gesekan maka antara bagian yang bergesekan dilapisi oli pelumas (oil
film).

Sebagai peredam

Piston, batang piston dan poros engkol merupakan bagian mesin menerima gaya yang
berfluktuasi, sehingga saat menerima gaya tekan yang besar memungkinkan menimbulkan
benturan yang keras dan menimbulkan suara berisik. Pelumas berfungsi untuk melapisi antara
bagian tersebut dan meredam benturan yang terjadi sehingga suara mesin lebih halus.

Sebagai anti karat

Sistem pelumas berfungsi untuk melapisi logam dengan oli, sehingga mencegah kontak langsung
antar logam dengan udara maupun maupun air dan terbentuknya karat dapat dihindari.
Bagian bagian yang penting dari mobil yang memerlukan pelumasan adalah
1. dinding silinder dan torak
2. bantalan poros engkol dan batang penggerak
3. bantalan poros kam
4. mekanisme katup
5. pena poros
6. kipas pendingin
7. pompa
8. mekanisme pengapian

Macam – macam sistem pelumasan

Seperti telah saya jelaskan dalam postingan sebelumnya disini tentang kegunaan dan fungsi
sistem pelumasan, maka sekarang saya akan menjelaskan macam – macam sistem pelumasan .
Sistem pelumasan pada kendaraan baik mobil atau sepeda motor dapat kita kelompokkan
menjadi 3 macam yaitu :
1. Jenis percik ( splash type) Pada jenis ini stang seher dilengkapi dengan sendok yang berada
pada ujung bagian bawah dari stang seher . Sehingga saat mesin berputar, maka sendok
pemercik akan memercikan oli yang di bak oli ke dinding silinder dan bearing. Jenis ini memiliki
konstruksi yang sangat sederhana , namun sulit untuk melumasi bagian – bagian yang memiliki
celah lebih sempit . Karena itu sistem pelumasan tipe ini sudah tidak lagi digunakan.
2. Jenis tekanan ( pressure feed type ) Pada jenis ini sistem pelumasan menggunakan pompa oli
yang berguna untuk mensirkulasikan minyak pelumas. Jenis inilah yang sekarang digunakan
pada kendaraan baik mobil ataupun sepeda motor. Adapun pompa oli yang digunakan ada
bermacam – macam yaitu :

 model roda gigi ( gear type )


 model trocoid

Mengenai sistem pelumasan tipe ini akan saya bahas tersendiri dalam postingan saya berikutnya.
3. Jenis kombinasi Pada sistem pelumas tipe ini adalah penggabungan dari sistem pelumas tipe 1
dan tipe 2 .

Karter atau panci oli terletak pada bagian bawah engine untuk menyimpan oli yang diperlukan
untuk pelumasan engine.
Sebuah tutup pengisi oli ketika dibuka, menyediakan sebuah ruang yang memungkinkan oli
dapat dimasukan kedalam engine.
Tongkat kedalaman merupakan batang yang dapat dicabut dengan mudah yang digunakan untuk
menjelaskan jumlah oli engine dengan benar.
Pompa oli mensirkulasikan oli engine ke komponen-komponen engine untuk memberikan
pelumasan kepada bagian-bagian yang bergerak sehingga mecegah keausan akibat gesekan.
Katup pembebas tekanan oli memungkinkan takanan oli yang berlebihan untuk kembali ke panci
oli, termasuk ketika engine dingin (oli pekat), untuk mengurangi kemungkinan kerusakan
komponen-komponen sistem pelumasan.
Sebuah saringan oli dipasangkan untuk menghalangi partikel-partikel kotoran terbawa masuk
oleh oli engine yang dapat menimbulkan kerusakan engine. Katup By-pass dipasangkan yang
memungkinkan oli tidak tersaring dan masuk ke engine dengan jalan pintas ketika saringan
buntu/ penuh klotoran.
Saluran Serambi Utama dan pipa-pipa, sebagai dipelumas menuju engine.
Indikator tekanan oli dirancang untuk memberi sebuah peringatan jika tekanan oli pelumas turun
dibawah tekanan yang diperlukan untuk kerja engine yang efektif.
Pendinginan oli sesuatu yang dipasang untuk mendinginkan oli pelumas dengan memindahkan
kelebihan panas dengan pendingin udara yang dilewatkan pada inti pendingin.
Katup Ventilasi Ruang Engkol (Positif Crankcase Ventilation (PCV)) dirancang untuk
membuang kebocoran asap yang dihasilkan oleh pembakaran-pembakaran yang masuk keruang
engkol. Asap ini dihasilkan karena tekanan pada engine yang meningkat, dihasilkan karena
kebocoran perapat oli pada silinder.

Gambar : Positive Crankcase Valve (PCV)

Fungsi dari oli pelumas adalah :


1. Mengurangi keausan engine agar minimum.
2. Mengurangi gesekan dan kehilangan tenaga yang diakibatkannya.
3. Memindahkan panas.
4. Mengurangi suara engine
5. Sebagai perapat.
6. Membersihkan kompone-komponen engine.

Lima kondisi yang mengotori oli pelumas engine :

1. Kotoran karbon dari pembakaran engine.


2. Debu dan kotoran yang terbawa masuk ke engine oleh oleh udara atau bahan bakar.
3. Bagian yang halus dari logam, merupakan hasil dari keausan engine, menjadi bercampur
dengan oli.
4. Bahan bakar liar dan pembakaran menghasilkan kebocoran melalui ring-ring piston kedalam
ruang engkoll.
5. Kondensasi / pengembunan air dari udara yang melalui engine.

Dalam engine dua langkah, oli pelumas dicampurkan dengan sebuah perbandingan campuran
dengan bahan bakar, dan dimasukkan dalam tangki. Campuran oli dan bahan bakar dikabutkan
melalui karburator kedalam ruang engkol disini melumasi bagian-bagian bergerak engine.
Cara lain dari pelumasan campur menggunakan pompa oli untuk menekan oli yang diinjeksikan
diatur oleh pembukaan katup gas.
Beberapa engine menggunakan sistem pelumasan penci kering. Oli pelumas dikumpulkan pada
sebuah tangki atau penampung yang terpasang dilluar rangkaian engine. Pengaliran dilakukan
dengan tekanan menuju rangkaian mesin oleh pompa oli pengalir dan disebarkan kebagian-
bagian yang bergerak oleh saluran serambi utama atau pembuluh (saluran-saluran halus) dalam
engine. Setelah melumasi komponen yang bermacam-macam, oli jatuh dipanci oli dibagian
bawah engine dimana sebuah pompa pembilas mengambil oli tersebut dan mengembalikan ke
penampung / tangki oli untuk disirkulasikan ulang.

Engine/mesin-mesin stationer 4 langkah kecil seperti pemotong rumput, menggunakan sistem


pelumasan tipe ciprat / percik. Ketika poros engine berputar, bantalan ujung besar batang torak
terendam didalam penampung oli, memercikan oli disekeliling bagian-bagian setengah bagian
bawah engine.

Skop kecil terkadang dipasangkan pada ujung besar batang torak untuk membantu proses
pengambilan oli. Apabila putaran engine meningkat bagian kabutan tipis oli menembus bagian-
bagian bawah yang bergerak.

Perbedaan diantara sebuah sistem penyaringan tipe aliran penuh dan penyaringan tipe by-pass
adalah bahwa sistem aliran penuh menggunakan sebuah elemen kertas atau model kaleng atau
cartridge yang terpasang antara pompa oli dan saluran utama oli, untuk menyaring semua
partikel ukuran besar sebelum menggores bantalan dan bagian-bagian penggerak lain.

Gambar : Saringan Oli Aliran Penuh.


Sementara sistem penyaringan tipe by-pass menggunakan sebuah elemen saringan serupa,
terpasang pada sisi tekanan dari pompa dan oli yang disaring kembali ke panci oli. Sebuah
pembatas dipasang sehingga kira-kira 10 % dari oli yang dialirkan pompa tersaring.

Gambar :Saringan oli By-pass.

Tiga tipe yang berbeda dari pompa oli pelumas engine adalah :
1. Pompa roda gigi.
2. Pompa rotor.
3. Pompa sabit.

Engine menggunakan sebuah sistem pelumasan mesin tipe tekanan juga memiliki tambahan
sebuah saringan pengambil (saringan kasar) dari pengayak baja selain telah dilengkapi saringan
oli dengan elemen kertas (saringan halus). Saringan tambahan ini dipasangkan pada panci oli
pada sisi masuk pompa oli dan terdiri dari sebuah saringan kasar atau pengayak. Fungsi
primernya adalah untuk mencegah pertikel-pertikel besar terisap naik ke pompa oli atau saluran
oli.

Dua tipe indikator tekanan oli yang digunakan pada engine untuk menunjukkan kerusakan
/gangguan tekanan oli :
1. Lampu peringatan.
2. Pengukur tekana oli.

Beberapa pabrik memasang sebuah magnet kecil pada pengetap panci oli yang menarik dan
memegang partikel-partikel logam besi untuk mencegah partikel-partikel tersebut masuk
kepompa karena dapat menyebabkan kerusakan. Magnet akan dibersihkan ketika melakukan
penggantian oli.

Komponen-komponen Sistem Pelumasan :

Oil Pressure Switch


Suatu komponen yang berfungsi sebagai switch yang mengaktifkan lampu peringatan bila
tekanan oli tidak tercukupi pada saat mesin mobil dinyalakan.
Oil Pump
Suatu komponen yang berfungsi untuk menarik oli yang berada di Oil Pump dan memompa oli
tersebut ke seluruh bagian mesin mobil.
Relief Valve
Komponen ini bekerja untuk membebaskan tekanan pada saat Oil Pump mempunyai tekanan
yang berlebihan.
Oil Strainer

Komponen yang berupa saringan oli dan terpasang di saluran masuk oli untuk memisahkan
partikel yang besar dari oli.
Oil Filter
Komponen ini berfungsi sebagai penyaring kotoran yang tidak diinginkan dari oli mesin yang
secara bertahap akan terkontaminasi dengan kotoran besi dan lainnya.

Apabila mesin mulai distart, gesekan antara bagian-bagian mesin akan mengurangi tenaga mesin.
Oli pelumas yang memberikan pelumasan secara tetap pada bagian-bagian mesin untuk
mencegah dan membatasi keausan. Pelumasan ini dilakukan oleh sistem pelumasan mesin.

CARA PEMERIKSAAN MINYAK PELUMAS

1. Tempatkan kendaraan ditempat yang rata


2. Apabila kendaraan habis perjalanan/ panas, tunggu 30 menit
3. Apabila kendaraan dalam kondisi dingin hidupkan 1-3 menit kemudian matikan
4. Tarik batang pengukur minyak dan bersihkan dengan kain lap, kemudian masukkan kembali
dengan tepat.
5. Tarik kembali batang pengukur kemudian perhatikan :
6. Periksa volume minyak ,harus pada level F dan L pada batang pengukur
7. Periksa Viskositas (kekentalan minyak) dengan jari tangan
8. Periksa perubahan warna minyak mesin

PERUBAHAN WARNA MINYAK MESIN

Warna merah berarti minyak tercampur bensin

Warna kelabu berarti bercampur serbuk bantalan

Warna susu berarti bercampur dengan air

Warna coklat berarti bercampur dengan karbon

Minyak pelumas mesin bensin disarankan menggunakan minyak dengan tingkat kekentalan
(viskositas) SAE 30 atau 20W/50 dengan API service SE keatas

REFEREENSI LAIN

Prinsip Pelumasan
Tidak bisa dipungkiri – pelumas – atau yang lebih popular disebut oli – merupakan bagian tak
terpisahkan dari kendaraan bermotor. Tanpa pelumas, mobil secanggih apapun dipastikan tidak
akan bisa bekerja. Pada manusia, pelumas adalah darah. Pelumas sangat menentukan
kemampuan kerja sebuah mesin, baik otomotif maupun industri. Salah memilih pelumas bisa
berakibat fatal. Bila mutu pelumas jelek dan tercemar, mesin bisa rontok dalam waktu dekat.
Pemilihan dan penggunaan pelumas yang tepat akan sangat membantu kelancaran kerja dan
keawetan sebuah mesin.

Mengapa mesin sangat membutuhkan pelumasan? Jawaban yang paling sederhana adalah untuk
mengatasi gesekan. Dua permukaan logam yang bergerak satu sama lain mempunyai gesekan.
Fungsi pelumas adalah “memisahkan” dua permukaan logam yang saling bergesekan itu agar
keausan dapat dikurangi. Jika tidak ada lapisan pelumas, bisa dibayangkan apa jadinya. Mesin
bisa rontok !
Pelumas juga berfungsi untuk mendinginkan mesin yaitu dengan cara menyalurkan panas akibat
gesekan dan pembakaran. Selain itu juga berfungsi untuk membersihkan mesin dengan cara
mengangkut kotoran dan elemen logam yang nantinya akan “dititipkan” di filter oli setiap
sirkulasi. Fungsi lain dari pelumas yang tidak kalah penting adalah untuk memaksimumkan
kompresi dan mempertahankan tekanan. Jika tekanan yang hilang terlalu besar pembentukan seal
(lapisan pelumas) yang tidak baik, mesin akan kehilangan tenaga sehingga konsumsi bahan
bakar meningkat – yang berarti pemborosan biaya. Begitu vitalnya pelumas bagi kendaraan
bermotor atau mesin-mesin industri sehingga memacu para ahli untuk tak hentinya berusaha
menciptakan formula yang dapat menghasilkan suatu pelumas berkualitas tinggi.
Dulu, selama berabad-abad, orang menggunakan lemak binatang untuk mengurangi gesekan
pada bantalan roda gerobak atau kereta pengangkut. Namun seratus tahun belakangan ini – sejak
ditemukannya minyak bumi, perkembangan pelumas memasuki era baru. Hal ini sejalan dengan
perkembangan teknologi mesin otomotif dan industri saat ini yang menuntut kecepatan mesin
yang lebih tinggi. Mesin-mesin modern saat ini menghasilkan tenaga lebih besar, kapasitas
tampung minyak pelumas di dalam mesin lebih kecil, temperatur operasi lebih tinggi dan juga
menuntut interval pergantian pelumas yang lebih lama.
Fungsi Pelumas :

 Mengendalikan gesekan
 Mencegah keausan
 Mendinginkan mesin
 Mencegah korosi
 Memelihara mesin tetap bersih
 Memaksimumkan kompresi, mempertahankan tekanan

Gesekan dan Keausan :

 Gesekan : Hambatan yang menahan gerakan pada dua permukaan yang saling berkontak dan
bergerak relative.
 Akibat dari gesekan : timbul keausan, kehilangan energi, timbul getara (bunyi
 Keausan : proses hilangnya sebagian material dari salah satu atau kedua permukaan yang saling
berkontak dan bergerak relative.
 Akibat dari keausan : mengurangi umur pakai mesin, mengurangi kinerja mesin

Bahan dasar dan Aditif


Bahan dasar pelumas adalah base oil, yang didapat dari crude oil (minyak mentah). Tapi tidak
semua crude oil bisa diolah menjadi base oil. Hanya minyak mentah dari jenis parafinik saja
yang menghasilkan base oil untuk bahan dasar pelumas. Sayangnya, minyak mentah jenis ini
sangat terbatas kandungannya di perut bumi.
Untuk mendapatkan pelumas yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan mesin, ke dalam
base oil ditambahkan aditif. Aditif merupakan senyawa-senyawa kimia (chemical compound)
dalam formulasi tertentu yang ditambahkan ke dalam base oil untuk mendapatkan pelumas
sesuai spesifikasi yang ditentukan. Komposisi base oil dalam pelumas berkisar 80% dan
komposisi aditif sekitar 30%.
Fungsi aditif bermacam-macam, antara lain untuk membersihkan mesin, mengurangi gesekan,
meminimalkan keausan, mencegah karat, meningkatkan indeks kekentalan pelumas sehingga
pelumas tetap mudah mengalir pada suhu rendah dan tidak encer pada suhu tinggi. Pelumas yang
baik sudah mengandung aditif, karenanya pelumas yang baik tidak memerlukan tambahan aditif.
Memilih Pelumas
Perhatikan tingkat mutu dan kekentalannya
Saat ini banyak sekali jenis dan merek pelumas yang beredar di pasar, masing-masing
menawarkan kelebihan. Karenanya tak jarang banyak pengguna pelumas yang bingung memilih
pelumas yang sesuai untuk kebutuhan mesinnya. Sayangnya, tak semua pemakai pelumas
memahami dasar penggunaan pelumas. Biasanya pemilik kendaraan pasrah saja dan
mempercayakan urusan yang satu ini kepada para mekanik di bengkel. Apapun kata mekanik
mereka terima begitu saja. Karena tak heran jika satu mobil sering berganti-ganti merek dan jenis
pelumas, sesuai saran dan “kepentingan” mekanik. Lalu bagaimana sebenarnya cara memilih
pelumas yang baik untuk mesin kendaraan?
Minyak pelumas terdiri dari berbagai jenis. Dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan
persyaratan mesin yang telah ditentukan oleh pembuat mesin. Karena itu kenalilah mesin anda
dan ketahuilah pelumas dengan spesifikasi apa yang direkomendasikan untuk digunakan. Mesin-
mesin diesel berbahan bakar solar seperti truk atau angkutan umum berbeda kebutuhan
pelumasnya dengan mobil yang berbahan bakar bensin. Karena itu ada pelumas yang dirancang
khusus untuk mesin bensin, ada pula yang dirancang khusus untuk mesin diesel. Tapi ada juga
pelumas yang dapat digunakan untuk keduanya, untuk mesin bensin bensin sekaligus mesin
diesel. Pelumas yang pada spesifikasinya tercantum kode ganda misalnya SG/CD, berarti
pelumas tersebut dapat digunakan untuk mesin bensin (dengan spesifikasi SG) dan mesin diesel
(dengan spesifikasi CD). Penyebutan kode SG terlebih dahulu menyatakan bahwa pelumas
tersebut lebih diutamakan untuk mesin bensin.
Pelumas sangat menentukan kemampuan kerja sebuah mesin, baik otomotif maupun industri.
Pemilihan dan penggunaan pelumas yang tepat akan sangat membantu kelancaran kerja dan
keawetan sebuah mesin. Salah memilih pelumas bisa berakibat fatal. Dalam memilih pelumas
ada dua hal yang harus diperhatikan dengan seksama yaitu : klasifikasi mutu pelumas (API
Service) dan tingkat kekentalan pelumas (SAE).
Klasifikasi Mutu Pelumas (API Service)
Untuk mengukur standar mutu pelumas dipakai standar American Petroleum Institute (API)
Service. American Petroleum Institute adalah sebuah lembaga resmi di Amerika Serikat yang
diakui di seluruh dunia, yang membuat kategori pelumas sesuai dengan kerja mesin.
Klasifikasi pelumas mesin berbahan bakar bensin ditandai dengan huruf S sedangkan untuk
mesin diesel (berbahan bakar solar) ditandai dengan huruf C. Klasifikasi sesuai dengan tingkat
kemampuan pelumas dimulai dari yang terendah adalah SA, SB, SC, SD, SE, SF, SG, SH, SJ
dan SL (untuk mesin bensin) dan CA, CB, CC, CD, CE, CF-4, CH-4 dan CI-4 (untuk mesin
diesel). Pelumas yang memenuhi standar mutu ditandai dengan pencantuman kata “API
Service”, diikuti dengan klasifikasinya. Contoh : Pennzoil GT Performance Plus, API Service SJ.
Pelumas dengan API Service SL lebih baik kemampuan kerjanya dari SJ. Pelumas dengan API
Service SJ lebih baik dari API Service SH, demikian seterusnya, yang berlaku juga untuk mesin
diesel. Pelumas dengan API Service CH-4 lebih baik kemampuan kerjanya dari pelumas API
Service CF-4. Oleh pembuat mesin, setiap kendaraan sudah ditentukan spesifikasi apa yang
harus digunakan, yang tercantum dalam buku manual. Menggunakan pelumas yang
spesifikasinya lebih tinggi dari yang ditentukan oleh pembuat mesin, tidak jadi masalah. Tetapi
sangat tidak disarankan menggunakan pelumas dengan klasifikasi lebih rendah dari yang
ditentukan karena akan berakibat kurang baik pada mesin.
Tingkat Kekentalan
Untuk mengurangi gesekan dan keausan, dibutuhkan “lapisan” di antara dua permukaan yang
bergerak untuk mencegah kontak langsung logam dengan logam. Lapisan pelumas ini diperlukan
dengan ketebalan yang minimum. Ketebalan lapisan pelumas tergantung pada kekentalan.
Kekentalan adalah karakteristik yang sangat penting dari pelumas. Kalau kekentalan pelumas
tinggi, maka lapisan pelumas yang terbentuk akan tebal. Kalau kekentalan rendah, maka lapisan
pelumas yang terbentuk akan tipis.
Kalau standar API dipakai untuk mengukur standar mutu pelumas, maka untuk mengukur tingkat
kekentalan pelumas dipakai standar SAE – Society of American Engineers.
Dalam pelumas dikenal dua tingkat kekentalan yaitu :

1. Pelumas dengan kekentalan tunggal (mono grade) Monograde ditandai dengan satu angka SAE
misalnya SAE 10, SAE 30, SAE 40, SAE 90, dll
2. Pelumas dengan kekentalan ganda (multi grade)
3. Multi grade ditandai dengan dua angka SAE misalnya SAE 10W-40, SAE 20W-50, dll

Pelumas mono grade hanya memiliki satu tingkat kekentalan. Pelumas kategori ini memiliki
rentang yang relative sempit atau kecil terhadap perubahan temperatur. Kini yang banyak
digunakan adalah pelumas multi grade. Pelumas multi grade memiliki rentang kekentalan yang
relatif luas atau lebar, sehingga lebih fleksibel beradaptasi terhadap perubahan temperatur.
Contohnya pelumas SAE 20W-50. Huruf W pada SAE 20W-50 menunjukkan bahwa bila
pelumas dipakai pada suhu rendah (W=winter/dingin), pelumas akan bersifat seperti pelumas
SAE 20. Sementara angka 50 menunjukkan bahwa pada suhu tinggi (panas) pelumas bersifat
seperti SAE 50.
Dibanding dengan pelumas mono grade, maka pelumas multi grade bisa disebut “dingin tidak
beku, panas tidak cair”. Karena sifatnya yang fleksibel mempertahankan kinerja pada berbagai
tingkatan suhu, maka pelumas ini relatif cocok dipakai untuk semua mesin.
beberapa jenis pelumas yang beredar di Indonesia.

Sistem Pelumasan Motor Diesel

Motor diesel adalah suatu motor yang merubah bentuk energi menjadi tenaga mekanik yang
dihasilkan dri percampuran antara bahan bakar dengan udara dalam suatu proses pembakaran.
Motor diesel tebagi menjadi 2 komponen utama yaitu :

Gambar 1 komponen utama motor diesel

a. Bagian-bagian yang diam :

1. Kepala silinder
2. Blok silinder
3. Tabung silinder
4. Rumah engkol
5. Pan minyak pelumas
b. Bagian-bagian yang bergerak :

1. Torak
2. Batang torak
3. Poros engkol
4. Pompa bahan bakar
5. Katup pamasukan Katup pembuangan.

Sesuai dengan Proses kerja pada motor yaitu :

 Memasukan udara ke dalam silinder, untuk pembakaran.


 Memampatkan udara di dalam silinder (agar suhu tinggi )
 Pembakaran bahan bakar oleh udara dengan suhu tinggi.
 Ekspansi gas hasil pembakaran, dihasilkan tenaga mekanis.
 Pembuangan gas sisa, agar silinder siap diisi dengan udara baru.

Beroprasinya suatu sistem pelumasan yang bertujuan untuk melumasi bagian-bagian yang
bergerak, yang saling bergesekan pada bagian motor. Pelumasan juga sebagai media pendingin
dari panas yang dihasilkan oleh bagian yang saling bergesekan, maupun dari panas yang di
hasilkan dari proses pembakaran. Maka dari itu pelumasan dapat dikatakan sebagai salah satu
elemen dasar dalam permesinan, sebab apabila telah terjadi kerusakan pada sistem pelumasan
pada suatu mesin, maka secara otomatis mesin tersebut tidak dapat beroprasi.
SISTEM PELUMASAN PADA MOTOR DIESEL 1.

Pengertian Pelumasan

Pada dasarnya pelumasan adalah pemisahan dari dua permukaan benda padat yang begerak
secara tangensial terhadap satu sama lain dengan cara menempatkan suatu zat diantara kedua
benda padat tadi yang :

1. Mempunyai jumlah yang cukup dan secara terus menerus dan dapat memisahkan kedua benda
sesuai dengan kondisi beban dan suhu.
2. Tetap membasahi permukaan kedua benda.
3. Mempunyai sifat netral secara kimia terhadap kedua benda.
4. Mempunyai komposisi tetap stabil secara kimia pada kondisi operasional.

Suatu zat yang dapat memenuhi persyaratan tadi disebut pelumas / lubricant. Suatu benda atau
logam yang tampak halus, sebenarnya tidak pernah mempunyai permukaan yang licin secara
sempurna, seperti yang terlihat dengan mata biasa, tetapi jika dilihat dengan mikroskop akan
terlihat bahwa pada permukaan tersebut merupakan tonjokan-tonjolan dan lekukan-lekukan
mikroskopis. Sehingga bila kedua permukaan tersebut bersinggunan satu dengan yang lain,
bagian yang merupakan tonjolan dan lekukan pada kedua benda akan saling mengait. Sehingga
apabila kedua permukaan tadi bergerak satu dengan yang lain maka terjadi suatu tahanan yang
besar karena tonjolan dan lekukan yang saling mengait harus saling mematahkan. Patah nya
tonjolan dan lekukan tadi akan menimbulkan panas, dan tahanan tadi disebut tahanan gesekan.
Dam gesekan yang tadi di sebut gesekan kering. Permukaan yang kasar tidak dapat dihaluskan
seluruhnya dengan cara digosok atau diampelas, karena tonjolan dan lekukan tadi sangat tidak
teratur, sehingga efek keausan akan berjalan terus. Kalau pemisahan antara kedua permukaan
dengan menggunakan pelumas, gesekan masih tetap ada, yang di sebut gesekan cair. Nilai
gesekan cair jauh lebih kecil dibandingkan gesekan kering. 2. Fungsi Pelumasan

1. Mengurangi tingkat keausan pada benda yang saling bergerak bergesekan.


2. Mengurangi timbulnya panas yang berlebihan

Fungsi lain dari pelumasan :

 Sebagai media pendingin

menghilangkan panas dari bsagian-bagian yang bergesekan

 Sebagai zat perapat kebocoran

menyekat udara antara ring piston dengan dinding silinder

 Sebagai zat pembersih.

menghilangkan karbon didalam sylinder dan debu dan menyaringnya.

 Sebagai peredam suara dari getaran

3. Sifat-sifat Minyak Pelumas

Umum.

Agar menghasilkan suatu pelumasan yang baik, maka diperlukan minyak pelumas yang dapat
memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan sesuai kebutuhan. Beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan dalam pemilihan minyak pelumas adalah :

1) Tekanan bantalan

2) Kecepatan pergesekan

3) Bahan yang bergesekan

4) Ruang antara bahan yang bergesekan

5) Aksesabilitas

6) Suhu dan tekanan kerja

1. Viskositas
Viskositas adalah sifat daari suatu fluida, sebagai gesekan internal, yang menyebabkan fluida
tersebut melawan untuk mengalir.

Angka Viskositas SAE untuk pelumas motor

Rentantang Viskositas, Saybolt seconds


Angka viskositas
Pada suhu 1300F Pada suhu 2100F
SAE
Min Max Min Max

10 90 119

20 120 184

30 185 254

40 255 80

50 80 104

60 105 124

70 125 150

Viskositas Index Viskositas index adalah suatu ukuran perubahan viskositas dari minyak
terhadap suhu dibandingkan dengan dua macam minyak referensi yang mempunyai viskositas
yang sama pada suhu tertentu. d. Pour Point Pour point atau suhu tuang , atau titik tuang ialah
suhu terendah dimana minyak dapat mengalir. e. Flash Point Flash point atau titik nyala adalah
suhu dimana minyak harus dipanaskan didalam alat percobaan, sehingga timbul uap yang dapat
menyala sebentar bila suatu nyala api kecil didekatkan pada uap tadi. Titik nyala minyak
pelumas yang digunakan pada motor berkisar antara 175º C sampai 260º C tergantung pada
penggunaan motor dan jenis minyak pelumasnya. f. Carbon Residu Carbon residu ialah berat
sisa dari minyak pelumas yang telah terbakar. g. Acidity atau Neutralization Number Acidity
atau keasaman dinyatakan sebagai jumlah dalam milligram dari potassium hydroxide, yang
diperlukan untuk menetralkan suatu gram minyak. h. Warna Warna minyak pelumas berguna
hanya untuk tujuan identifikasai, dan bukan menunjukan kualitas suatu minyak.
Bagian-bagian yang dilumasi Umumnya bagian-bagian yang dilumasi pada motor diesel ialah
semua bagian-bagian yang saling bergesekan misalnya :

1. Antara torak dan tabung silinder


2. Antara poros dengan bantalan poros
3. Antara roda-roda gigi dan sebagainya.

PERAWATAN SISTEM PELUMASAN


1. Bak minyak pelumas.

Bukalah bak minyak pelumas setiap 500 jam, dan bersihakanlah bak minyak tersebut. Dan
saringan hisap dari pompa minyak pelumas dengan mempergunakan minyak ringan atau minyak
cuci.

2. Saringan minyak pelumas

Cucilah rumah filter sebersih-bersihnya dengan menggunakan minyak ringan atau minyak cuci,
sementara itu periksalah kertas saringan, apabila terlihat adanya kotoran, serbuk logam berwarna
putih atau warna tembaga tembaga, maka hal itu menunjukan adanya keausan pada bantalan-
bantalannya, segera lakukan perbaikan

3. Tekanan minyak pelumas

Apabila tekanan minyak pelumas tidak dapat mencapai bilangan yang disyaratkan oleh pabrik
pembuatnya, matikanlah mesin lakukanlah pemerikasaan :

1. Apakah isi minyak pelumas didalam cukup ?


2. Apakah ada kerusakan pada pipa atau alat pengukur tekanan minyak pelumasnya ?
3. Apakah ada kebocoran minyak pelumas dari saluran-salurannya ?
4. Apakah pompa minyak pelumas bekerja dengan baik, atau apakah udara masuk kedalam saluran
minyak pelumas ?
5. Apakah ada bantalan yang rusak ?
6. Apakah alat pengatur tekanan minyak pelumas bekerja dengan baik ? biasanya kotoran didalam
saluran minyak pelumas menyebabkan gangguan pada sistem pelumasannya.

MACAM-MACAM SISTEM PELUMASAN

1. Sistem pelumasan sump kering

Sistem pelumasan motor yang tidak memanfaatkan karakternya sebagai penampung minyak
pelumas, tetapi menggunakan tanki tersendiri diluar motor. Minyak pelumas yang jatuh ke dalam
sump, selanjutnya dialirkan dengan pompa, melalui sebuah filter, dan dikembalikan lagi ke
dalam tangki supply yang terletak diluar dari pada motor tersebut. Pompa ini mempunyai
kapasitas yang besar, sehingga dapat mengosongkan sama sekali sumpnya Pada
umumnya dengan sistem ini di pergunakan juga sebuah oilcooler, baik yang menggunakan air
atau udara sebagai medium pendinginannya untuk keperluan pendinginan dari pada minyak
pelumasnya.Gambar 3. Sistem pelumasan sump kering Keterangan :

1. Tangki penampungan 5. Tangki ekspansi (penampung


2. Filter 6. Filter
3. Pompa minyak pelumas 7. Bagian mesin yang dilumasi
4. Pendingin minyak 8. Pengatur tekanan minyak pelumas

2. Sistem pelumasan sump basah


Sistem pelumasan sump basah ialah sistem pelumasan motor yang memanfaatkan karakternya
sebagai penampung minyak pelumas. Dalam sistem ini, dibagian bawah dari pada karter sebuah
piringan (pan) yang juga merupakan tangkisupply dan ada kalanya sebagai alat pendingin untuk
minyak pelumasnya, minyak yang jatuh menetes dari silinder-silinder dan bantalan-bantalan,
kembali ke tempat ini, untuk selanjutnya dialirkan kembali dengan sebuah pompa minyak
kedalam sistem pelumasanya lagi. Tipe sistem sump basah yang umum diguunakan ialah:

1. Sistem percikan dan sirkulasi pompa


2. Sistem percikan dan tekanan
3. Sistem tekanan

MEKANISME PELUMASAN
. Proses pelumasan adalah seperti pada gambar 5, yang merupakan suatu bidang bantalan,
dengan ruang antara (clearance)di lukiskan secara berlebihan, untuk sekedar ilustrasi. Minyak
pelumas membasahi kedua permukaan. Minyak pelumas dapat dikatakan terdiri dari lapisan-
lapisan, dan garis titik horizontal melukiskan batas-batas dari lapisan minyak tadi.
Pada gambar 5a. permukaan bantalan adalah sejajar, permukaan atas tinggal diam sedang,
permukan bawah bergerak dengan kecepatan tetap dan sejajar dengan permukaan. Tidak ada
gaya normal terhadap kedua permukaan. Kedua permukaan dipisahkan oleh suatu film minyak
dengan ketebalan yang sama lapisan minyak pelumas yang menempel pada permukaan bawah
akan bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan permukaan bawah.
Pada gambar 5b. kedua permukaan dalam keadaan berhenti, ada gaya normal pada kedua
permukaan, sehingga minyak pelumas cenderung terdesak keluar. Dan besarnya kecepatan pada
masing-masing lapisan di lukiskan lagi dengan vektor-vektor.
Pada gambar 5c. merupakan kombinasi pada gambar 4a dan 4b. pada kecepatan minyak pelumas
pada tiap titik dari lapisan ditentukan dengan menjumlah vektor-vektor pada masing-masing titik
pada kondisi gambar 4a dan gambar 5b.
Pada gambar 5d. permukaan atas tidak ditahan sejajar dengan permukaan bawah, tetapi di buat
sedikit miring. Maka bentuk film minyak pelumas jadi seperti bentuk baji. Sehingga akibat
kemiringan ini minyak pelumas dapat mengalir secara terus menerus, dan integrasi kecepatan
aliran film minyak pelumas pada permukaan dan sepanjang bantalan adalah tetap, dan menjamin
pemisahan kedua permukaan.

KLASIFIKASI MINYAK PELUMAS


Dulu klasifikasi API (MM,ML,DG,DM,DS) digunakan untuk klsifikasi service minyak pelumas.
Kadang-kadang hal ini kurang jelas dan perincian kondisinya untuk kemampuan pelumasan tidak
selalu berhubungan dengan situasi sebenarnya. Untuk hal inilah tiga organisasi di Amerika Srikat
(SAE,API,ASTM) bergabung untuk mengembangkan system klasifikasi yang baru, yang telah
diresmikan pemakaiannya sejak juli. 1970. Klasifikasi yang dulu, dibagi menjadi golongan motor
bensin dan motor diesel ; dan diklasifikasikan sebagai SA, SD, dengan huruf S pada huruf
pertama menyatakan commercial, kedua duanya dari golongan-golongan tersebut mempunyai 4
(empat) kelas berturut-turut.

SAE : Society of Automotive Engineers


API : American Petroleum Institute
ASTM : American Society for Testing Materials.
Di bawah ini keterangan mengenai minyak mesin yang di definisikan sebagai klasifikasi system
yang baru.

KLASIFIKASI LAMPAU (A.P.I) KLASIFIKASI SEKARANG

ML SA
MOTOR
MM SB
BENSIN
MS SC. SD

DG CA
MOTOR
DM CB. CC
DIESEL
DS CD

Klasifikasi Service mesin api Minyak mesin ASTM

Tak termasuk aditiv,


Untuk service motor bensin dan diesel untuk
selain dari pada untuk
SA mesin dalam keadaan biasa, yang tak
pengentalan atau minyak
memerlukan kombinasi aditiv minyak
penetrasi

Untuk service motor bensin


beban ringan.untuk mesin yang bekerja alam Miyak anti oxidant a
SB
keadaan biasa ang membtuhkan sedikit aditiv gesekan
kombinasi dari minyak.

Miyak ini sesuai dengan


Motor bensin untuk truk dan mobil yang
permntaan pabrik-pabrik
SC dibuat antara 1964-1967 dan bekerja dibawah
untuk model 1964-1967
tahun 1964 dalam masa garansi pabrik.
terutama dipakai untuk
Minyak ini mempunyai sifat yang baik
mobil da mempunyai
terhadap temperatur rendah dan tinggi,
ketahanan pada
melindungi pengendapan dan mempunyai sifat temperatur rendah, anti
untuk mengurangi gesekan pelumpuran dan anti
karat.

Minyak sesuai
permintaan pabrik-
pabrik setelah 1968,
terutama dipakai untuk
Untuk 1968 motor bensin truk dan mobil yang
SD mobil dan mempunyai
beroprasi dibawah 1962
ketahanan pada
temperature rendah anti
pelumpuran dan anti
karat

Dipakai untuk
Motor diesel biasa memakai bahan bakar
memenuhi kemampuan
bermutu tinggi. Minyak yang dipakai ini untuk
MIL-L-21004A pada
spesifikasi ini terutama pada pemakaian antara
motor-motor diesel
CA 1940 dan 1950, minyak ini dipakai dengan
tampa supercharger dan
mutu bahan bakar yang tinggi dan sifatnya anti
motor bensin dengan
karat pada bearing/bantalan dan mencegah
pemakain bahan bakar
pengendapan pada temperatur tinggi
kadar sulfur rendah

Motor diesel dengan beban berat motor diesel


yang bekerja pada oprasi biassa dengan mutu Minyak ini dipakai
bahan bakar yang rendah yang menyebabkan untuk motor bensin dan
tempertur tinggi dan karat pada bantalan. motor bensin tanpa
Kadang-kadang motor motor bensin dipakai turbocharger ini
CB
dalam kasus ini. Minyak ini diformalisasikan termasuk minyak MIL-
tahun 1949. Minyak ini dipergunakan untuk L-2104A yang ditest
bahan bakar dengan kadar sulfur tinggi dan dengan kadar sulfur
melindungi bantalan dari karat dan tinggi pada bahan bakar
temperature tinggi.

Kesimpulan :

1. Sistem pelumasan merupakan salah satu elemen dasar dalam permesinan, karena apabila telah
terjadi kerusakan sistem pelumasan padamesin tersebut maka mesin tidak dapat beroprasinal
dengan baik.
2. Sistem pelumasan ditujukan untuk mengurangi gesekan yang terjadi, sehingga dapat mengurangi
keausan yang di sebabkan oleh gesekan tadi.
3. Sistem pelumasan juga digunakan sebagai media pendingin dari panas yang di hasilkan dari
gesekan yang terjadi dan dari proses pembakaran.
4. Minyak pelumas yang baik ialah minyak yang memenuhi setandart yang telah ditentukan.
5. Setiap jenis mesin memiliki jenis minyak pelumas yang berbeda.