You are on page 1of 23

ANTIPSIKOTIK

1. PENGERTIAN ANTIPSIKOTIK
Antipsikotik (juga disebut neuroleptics) adalah kelompok obat- obatan psikoaktif umum
tetapi tidak secara khusus digunakan untuk mengobati psikosis yang ditandai oleh
skizofernia. Obat antipsikotik memiliki beberapa sinonim antara lain neuroleptik dan
transquilizer mayor.
2. KLASIFIKASI ANTIPSIKOTIK
Penemuan obat generasi yang lebih baru biasanya ditujukan untuk mengoreksi
kekurangan obat sebelumnya atau untuk memperoleh obat yang lebih efektif serta memiliki
efek samping yang lebih kecil. Tujuan ini berhasil diraih oleh obat antipsikotik generasi
kedua. Menurut sebuah studi teranyar, dipublikasikan dalam Journal of Clinical Psychiatry
edisi Desember 2007, antipsikotik generasi kedua yangdiberikan secara intramuscular,
ternyata efektif mengurangi agitasi dan lebih minim efek ekstrapiramidal-nya dibanding
dengan antipsikotik generasi pertama.
a. Antipsikotik Tipikal (Antipsikotik Generasi Pertama)
Antipsikotik tipkal atau dikenal APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di
mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat
menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping
berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang
akan menyebabkan disfungsi seksual/ peningkatan berat badan dan memperberat gejala
negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik
seperti mulut kering pandangan kabur, gangguan miksi dan defekasi dan hipotensi. APG I
dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama
dengan 10mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide.
Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis,
menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50
mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita
dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. (Nantingkaseh , 2007).
Obat-obat yang termasuk antipsikotik tipikal adalah sebagai berikut :
o Derifat Fenotiazin : Chlorprimazine, Fluphenazine, Perphenazine, Prochlorperazine,
Thioridazine, Trifluoperazine, Mesoridazine, Periciazine, Promazine,
Triflupromazine, Levomeprimazine, Promethazine, Pimozide.
o Derifat Butirofenon : Haloperidol, Droperidol
o Derifat Thioxanthenes : Chlorprothixene, Flupenthixol, Thiothixene, Zuclopenthixol

1) Chlorpromazine (CPZ)
Turunan dari phenotiazine yang mewakili efek seluruh derivate phenotiazine
adalah chlorpromazine atau CPZ, turunan dari rantai aliphatic, salah satu obat
antipsikotik yang sering digunakan sebab paling berefek luas sehingga dikatakan
largactil (Large action).
 Nama dagang : – Cepezet – Meprosetil – Promactil – Largactil
 Dosis :
- Anak > = 6 bulan : Sizoprenia/psikosis : Oral : 0,5-1 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam;
Anak yang lebih tua mungkin membutuhkan 200 mg/hari atau lebih besar; im, iv:
0,5-1 mg/kg/dosis setiap 6-8 jam< 5 tahun (22,7 kg): maksimum 75 mg/hari
Mual muntah ; Oral : 0,5-1 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam bila diperlukan; im, iv :
0,5-1 mg/kg/dosis setiap 6-8 jam, < 5 tahun (22,75 kg) : maksimum 40 mg/hari,
5-12 tahun (22,7-45,5 jg) : maksimum 75 mg/hari.
- Dewasa : Shcizoprenia/psikosis; Oral : 30-2000 mg/hari dibagi dalam 1-4 dosis,
mulai dengan dosis rendah, kemudian sesuaikan dengan kebutuhan. Dosis lazim :
400-600 mg/hari, beberapa pasien membutuhkan 1-2 g/hari. im.,iv.: awal: 25 mg,
dapat diulang 25-50 mg , dalam 1-4 jam, naikkan bertahap sampai maksimum 400
mg/dosis setiap 4-6 jam sampai pasien terkendali; Dosis lazim : 300-800 mg/hari.
Cegukan tidak terkendali : Oral, im.: 25-50 mg sehari 3-4 kali. Mual muntah :
Oral : 10-25 mg setiap 4-6 jam, im.,iv., : 25-50 mg setiap 4-6 jam.
- Orang tua : Gejala-gejala perilaku yang berkaitan dengan demensia: awal : 10-25
mg sehari 1-2 kali, naikkan pada interval 4-7 hari dengan 10-25 mg/hari, naikkan
interval dosis, sehari 2x, sehari 3 kali dst. Bila perlu untuk mengontrol respons
dan efek samping; dosis maksimum : 800 mg.
 Indikasi
Mengendalikan mania, terapi shcizofrenia, mengendalikan mual dan muntah,
menghilangkan kegelisahan dan ketakutan sebelum operasi, porforia intermiten akut,
terapi tambahan pada tetanus. Cegukan tidak terkontrol, perilaku anak 1-12 tahun
yang ekplosif dan mudah tersinggung dan terapi jangka pendek untuk anak hiperaktif.
 Kontraindikasi
Hipersensitifitas terhadap klorpromazin atau komponen lain formulasi, reaksi
hipersensitif silang antar fenotiazin mungkin terjadi, Depresi SSP berat dan koma.
 Efek samping
- Kardiovaskuler : hipotensi postural, takikardia, pusing, perubahan interval QT
tidak spesifik.
- SSP : mengantuk, distonia, akathisia, pseudoparkinsonism, diskinesia tardif,
sindroma neurolepsi malignan, kejang.
- Kulit : fotosensitivitas, dermatitis, pigmentasi (abu-abu-biru).
- Metabolik & endokrin : laktasi, amenore, ginekomastia, pembesaran payudara,
hiperglisemia, hipoglisemia, test kehamilan positif palsu.
- Saluran cerna : mual, konstipasi xerostomia.
- Agenitourinari : retensi urin, gangguan ejakulasi, impotensi.
- Hematologi : agranulositosis, eosinofilia, leukopenia, anemia hemolisis, anemia
aplastik, purpura trombositopenia.
- Hati : jaundice.
- Mata : penglihatan kabur, perubahan kornea dan lentikuler, keratopati epitel,
retinopati pigmen.
 Interaksi
- Dengan Obat Lain : Efek klorpromazin dapat ditingkatkan oleh delavirdin,
fluoksetin, mikonazol, paroksetin, pergolid, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirol
dan inhibitor CYP2D6 lainnya.
- Klorpromazin memperkuat efek penekan terhadap SSP dari analgesik narkotik,
etanol, barbiturat, antidepresan siklik, antihistamin, hipnotik-sedatif.
- Klorpromazin dapat meningkatkan efek amfetamin, betabloker tertentu,
dekstrometorfan, fluoksetin, lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir,
antidepresan trisiklik dan substrat CYP2D6 lainnya.
- Klorpromazin dapat meningkatkan efek /toksiksitas antikolinergik,
antihipertensi,litium, trazodon, asam valproat. Penggunaan bersama antidepresan
trisklik dapt mengubah respons dan meningkatkan toksisitas.
- Kombinasi dengan epinefrin akan dapat menimbulkan hipotensi. Kombinasi
dengan antiaritmia, cisaprid, pimosid, sparfloksacin dan obat-obat yang
memperpanjang interval QT akan dapat meningkatkan resiko aritmia.
- Kombinasi dengan metoklopramid akan dapt meningkatkan resiko gejala
ekstrapiramidal. Klorpromasin mungkin menurunkan efek substrat prodrug
CYP2D6 seperti kodein, hirokodon, oksikodon dan tramadol.
- Klorpromasin mungkin dapat menghambat efek antiparkinson levodopa dan
mungkin dapat menghambat efek pressor epinefrin.
 Mekanisme kerja
Memblok reseptor dopaminergik di postsinaptik mesolimbik otak. Memblok kuat
efek alfa adrenergik. Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa,
menekan Reticular Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme
basal, temperatur tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dandan emesis
 Bentuk sediaan
Tablet 25 mg, 100 mg, Injeksi 25mg/ml, 2ml
2) Flufenazin
Flufenazin (modecote, moditen/) adalah turunan –CH2OH dan trifluoperazin
(1959) dengan sifat hampir sama. Daya antimual dan sedatifnya ringan.
 Nama dagang : Permitil, Prolixin, Apo-Fluphenazine, Moditen HCl, PMS-
Fluphenazine
 Dosis
- Anak : Oral : 0,04 mg/kg/hari.
- Dewasa : psikosis : Oral : 0,5-10 mg/hari dibagi dalam beberapa dosis dengan
interval 6-8 jam, beberapa pasien mungkin membutuhkan peningkatan dosis
sampai 40 mg/hari.; i.m.: 2,5-10 mg/hari dibagi dalam beberapa dosis dengan
interval 6-8 jam. (dosis parenteral 1/3-1/2 dosis oral); im. Dekanoat : 12,5 mg
setiap 2 minggu. 12,5 mg dekanoat setiap 3 minggu = 10 mg HCl/hari.
 Indikasi : Mengendalikan gangguan psikotik dan shcizofrenia.
 Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap flufenazin atau komponen formulasi lainnya.
Mungkin terjadi reaktivitas silang antara fenotiazin. Depresi SSP berat, koma,
kerusakan otak subkortikal, diskrasia darah, penyakit hati.
 Efek samping
- Kardiovaskular : takikardia, tekanan darah berfluktuasi, hiper/hipotensi, aritmia,
udem.
- SSP : parkinsonisme, akathisia, distonia, diskinesia tardif, pusing, hiper refleksia,
sakit kepala, udem serebral, mengantuk, lelah, gelisah, mimpi aneh, perubahan
EEG, depresi, kejang, perubahan pengaturan pusat temperatur tubuh.
- Kulit : dermatitis, eksim, eritema, fotosensitifitas, rash, seborea, pigmentasi,
urtikaria.
- Metabolik & endokrin : perubahan siklus menstruasi, nyeri payudara, amenorea,
galaktoria, ginekomastia, perubahan libido, peningkatan prolaktin.
- Saluran cerna : berat badan bertambah, kehilangan selera makan, salivasi,
xerostomia, konstipasi, ileus paralitik, udem laring.
- Genitourinari : gangguan ejakulasi, impotensi, poliuria, paralisis kandung urin,
enurisis,
- Darah : agranulositosis, leukopenia, trombositopenia, nontrombositopenik
purpura, eosinofilia, pansitopenia.
- Hati : cholestatic jaundice, hepatotoksik.
- Otot-saraf : tangan gemetar, sindroma lupus eritamatosus, spasme muka sebelah.
- Mata : retinopati pigmen, perubahan kornea dan lensa, penglihatan kabur,
glaukoma,
- Pernafasan : kongesti hidung, asma.
 Interaksi
- Dengan Obat Lain : InhibiCYP2D6 : chlorpromazin, delavirdin, fluoksetin,
mikonazol, paroksetin, pergolid, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirol
meningkatkan efek flufenasin. Flufenasin memperkuat efek penekanan terhadap
SSP dari analgesik narkotik, etanol, barbiturat, antidepresan siklik, antihistamin,
hipnotik-sedatif. Flufenasin dapat meningkatkan efek/toksisitas antikolinergik,
antihipertensif, litium, trazodon, asam valproat. Penggunaan bersama
antidepresan trisklik dapat mengubah respons dan meningkatkan toksisitas.
Kombinasi flufenasin dengan epinefrin akan dapat menimbulkan hipotensi.
Kombinasi dengan antiaritmia, cisaprid, pimosid, sparfloksacin dan obat-obat
yang memperpanjang interval QT, akan dapat meningkatkan resiko aritmia.
Kombinasi dengan metoklopramid akan dapat meningkatkan resiko gejala
ekstrapiramidal.
- Fenotiasin akan menghambat aktivitas guanetidin, levodopa dan brokriptin.
Barbiturat, merokok akan dapat meningkatkan metabolisme flufenasin di hati.
flufenasin dan antipsikotik potensi rendah lainnya dapat menghambat efek presor
epinefrin.
 Mekanisme kerja
Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak.
Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular
Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur
tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dan emesis.
 Bentuk sediaan
Injeksi Sebagai Dekanoat, 25 mg/ml, Tablet Sebagai HCl, 1 mg, 2,5 mg, 5 mg, 10 mg

3) Perphenazine
Derivat-fenotiazin dengan rantai-sisi piperazin ini (1957) berdaya antipsikotis kuat
dengan daya anti-adrenergis dan antiserotonin relatif lemah. Kerja antikolinergisnya
ringan sekali. Obat ini juga berkhasiat antiemetis kuat. GEP sering timbul. Reasorbsinya
di usus baik, BA-nya hanya ca 35% karena FPE tinggi. PP-nya di atas 90%, t1/2-nya ca 9
jam. Dalarn hati, zat ini dirombak menjadi metabolit yang kurang aktif. Perfenazin
mengalami siklus enterohepatis.
 Dosis: oral 2-3 dd 2-4 mg, maks 24 mg sehari, im. 100 mg (dekanoat/ enanthat,
preparat depot) setiap 2-4 minggu.
4) Trifluoperazin
Trifluoperazin (Stelazin, Terfluzin) adalah derivat yang atom-Cl digantikan -CF3 de-
ngan efek yang lebih kurang sama dengan perfenazin.
 Dosis: oral permulaan 5 mg sehari, dan dinaikkan setiap 2-3 hari dengan 5 mg sampai
maksimum 90 mg. Sebagai obat antimual dan tranquillizer 2 dd 1-3 mg.

5) Flufenazin
Flufenazin (Modecate, Moditen) adalah turunan-CH20H dari trifluoperazin dengan
sifat hampir sarna. Daya antimual dan sedatifnya ringan. Flufenazin terutama digunakan
sebagai injeksi kerja-panjang guna menjamin pengobatan. Plasma t1/2-nya dari senyawa
-HCl, -enantat dan -dekanoatnya masing-masing rata-rata 8 jam, 3,6 hari, dan 8 hari. GEP
sering terjadi, efek anti-kolinergis dan sedasifnya ringan. Esternya dapat mengakibatkan
depresi serius.
 Dosis: pada psikotik akut i.m. 1,25 mg (HCl), lalu setiap 4-8 jarn 2-5 mg sampai
gejala terkendali, pemeliharaan 25 mg enantat setiap 2 minggu, atau 25 mg dekanoat
setiap 3-4 minggu.

6) Pimozide
Derivat-difenilbutilpiperidin ini diturunkan dari droperidol (1969) dan memiliki
khasiat antipsikotis kuat dan panjang. Efek terapi baru nyata sesudah beberapa waktu,
tetapi bertahan agak lama (1-2 hari). Obat ini tidak layak diberikan pada keadaan eksitasi
dan kegelisahan akut, yang memerlukan sedasi langsung. Lagi pula efek sedasinya lebih
ringan dibandingkan obat-obat lain. Pimozida khusus digunakan pada psikosis kronis
jangka-panjang. Resorpsinya di usus lambat dan variabel. Plasma t1/2-nya panjang: 55-
150 jam; pada pasien schizofrenia rata-rata 55-150 jam. Sifatnya sangat lipofil dan hanya
sedikit dirombak dalam hati. Ekskresinya sangat lambat, karena selalu diresorpsi kembali
oleh tubuli. Akhirnya ca 40% dikeluarkan lewat kemih terutama berupa metabolit dan
15% dengan tinja secara utuh.
 Efek sampingnya berupa umum, GEP sering terjadi, adakalanya nampak perubahan
jantung (ECG) dan aritmia.
 Dosis: oral 1 dd 1-2 mg, dinaikkan secara berangsur-angsur setiap 2 minggu sampai
maksimum 6 mg sehari.

7) Haloperidol
Haloperidol, merupakan obat yang efektif untuk penanganan berbagai gangguan
psikotik seperti hiperaktivitas, agitation, dan mania. Haloperidole efektif untuk
mengobati gejala positif pada skizofrenia walaupun kurang efektif untuk gejala negative
skizofrenia. Haloperidol juga dapat digunakan untuk pengobatan gangguan neurologis
seperti Gilles de la Tourette syndrome, Huntington’s chorea and acute/chronic brain
syndrome
 Nama dagang : – Lodomer – Serenace – Haldol
 Dosis
- Anak-anak : (3-12 tahun) Oral : Awal : 0,05 mg/kg/hari atau 0,25-0,5 mg/hari
dibagi dalam 2-3 dosis; peningkatan 0,25-0,5 mg setiap 5-7 hari maksimum 0,15
mg/kg/hari.
Dosis lazim pemeliharaan :
- Agitasi/hiperkinesia : 0,01-0,003 mg/kg/hari, sehari satu kali.; Gangguan
nonpsikosis : 0,05-0,075 mg/kg/hari dibagi dalam 2-3 dosis;
- Gangguan psikosis : 0,05-15 mg/kg/hari dibagi dalam 2-3 dosis.
- Anak-anak 6-12 tahun: Gangguan psikosis/sedasi : i.im. sebagai laktat: 1-3
mg/dosis setiap 4-8 jam ditingkatkan sampai maksimum 0,15 mg/kg/hari; ubah ke
terapi oral sesegera mungkin.
- Dewasa : Psikosis : Oral : 0,5-5 mg, sehari 2-3 kali, maksimum lazimnya 30
mg/hari. I.m. sebagai laktat : 2-5 mg setiap 4-8 jam sesuai kebutuhan; Sebagai
dekanoat : awal 10-20 x dosis harian oral, diberikan dengan interval 4 minggu.
- Dosis pemeliharaan : 10-15 kali dosis awal oral, digunakan untuk menstabilkan
gejala psikiatri.
- Delirium di unit perawatan intensif: IV= 2-10 mg; dapat diulang secara bolus
setiap 20-30 menit sampai dicapai kondisi tenang, kemudian berikan 25% dosis
maksimum setiap 6 jam, monitor EKG dan interval QT. IV intermiten = 0,03-0,15
mg/kg setiap 30 menit sampai 6 jam. Oral = Agitasi : 5-10 mg; infus iv.
100mg/100 ml D5W (dextrosa 5%), kecepatan 3-25 mg/jam. Agitasi berat =
setiap 30-60 menit 5-10 mg oral atau 5 mg im., dosis pemeliharaan total 10-20
mg.
- Orang tua : Awal 0,25-0,5 mg oral sehari 1-2 kali, tingkatkan dosis 0,25-0,5
mg/hari setiap interval 4-7 hari, Naikkan interval pemberian sehari 2 kali, sehari 3
kali dan seterusnya bila diperlukan untuk mengontrol efek samping.
 Indikasi
Penanganan shcizofrenia, sindroma Tourette pada anak dan dewasa, masalah perilaku
yang berat pada anak.
 Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap haloperidol atau komponen lain formulasi, penyakit Parkinson,
depresi berat SSP, supresi sumsum tulang, penyakit jantung atau hati berat, koma.
 Efek samping
- Kardiovaskular : takikardia, hiper/hipotensi, aritmia, gelombang T abnormal
dengan perpanjangan repolarisasi ventrikel, torsade de pointes (sekitar 4%).
- SSP : gelisah, cemas, reaksi ekstrapiramidal, reaksi distonik, tanda
pseudoparkinson, diskinesia tardif, sindroma neurolepsi malignan, perubahan
pengaturan temperatur tubuh, akathisia, distonia tardif, insomnia, eforia, agitasi,
pusing, depresi, lelah,sakit kepala, mengantuk, bingung, vertigo, kejang.
- Kulit : kontak dermatitis, fotosensitifitas, rash, hiperpigmentasi, alopesia
- Metabolik & endokrin : amenore, gangguan seksual, nyeri payudara,
ginekomastia, laktasi, pembesaran payudara, gangguan keteraturan menstruasi,
hiperglisemia, hipoglisemia, hiponatremia;
- Saluran cerna : berat : mual muntah, anoreksia, konstipasi, diare, hipersalivasi,
dispepsia, xerostomia.
- Saluran genito-urinari : retensi urin, priapisme;
- Hematologi : cholestatic jaundice, obstructive jaundice;
- Mata : penglihatan kabur,
- Pernafasan : spasme laring dan bronkus;
- Lain-lain : diaforesis dan heat stroke.
 Interaksi
Dengan Obat Lain : Efek haloperidol meningkat oleh klorokuin, propranolol,
sulfadoksin-piridoksin, anti jamur azol, chlorpromazin, siprofloksacin, klaritromisin,
delavirdin, diklofenak, doksisiklin, aritromisin, fluoksetin, imatinib, isoniasid,
mikonazol, nefazodon, paroksetin, pergolid, propofol, protease inhibitor, kuinidin,
kuinin, ritonavir, ropinirole, telitromisin, verapamil, dan inhibitor CYP2D6 atau 3A4.
Haloperidol dapat meningkakan efek amfetamin, betabloker tertentu, benzodiazepin
tertentu, kalsium antagonis, cisaprid, siklosporin, dekstrometorfan, alkaloid ergot,
fluoksetin, inhibitor HMG0CoA reductase tertentu, lidokain, paroksetin, risperidon,
ritonavir, sildenafil , takrolimus, antidepresan trisiklik, venlafaksin, dan sunstrat
CYP2D6 atau 3A4. Haloperidol dapat meningkatkan efek antihipertensi, SSP
depresan, litium, trazodon dan antidepresan trisiklik. Kombinasi haloperidol dengan
indometasin dapat menyebabkan mengantuk, lelah dan bingung sedangkan dengan
metoklopramid dapat meningkatkan resiko ekstrapiramidal. Haloperidol dapat
menghambat kemampuan bromokriptin menurunkan konsentrasi prolaktin.
Benztropin dan antikholinergik lainnya dapat menghambat respons terapi haloperidol
dan menimbulkan efek antikholinergik.
Barbiturat, karbamazepin, merokok, dapat meningkatkan metabolisme haloperidol.
Haloperidol dapat menurunkan efek levodopa, hindari kombinasi. Efek haloperidol
dapat menurun oleh aminoglutetimid, karbamazepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital,
fenitoin, rifamisin dan induser CYP3A4 lainnya. Efek haloperidol dapat menurun
oleh aminoglutetimid, karbamazepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin,
rifamisin dan induser CYP3A4 lainnya.
 Mekanisme kerja
Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak.
Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular
Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur
tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dan emesis.
 Bentuk sediaan
Injeksi Sebagai Dekanoat, 50 mg/ml, 1 ml; Larutan Injeksi Sebagai Laktat, Tablet 1,5
mg, 2 mg, 5 mg.
b. Antipsikotik Atipikal
Adapun contohnya antara lain : Clozapine, Olanzapine, Risperidone, Quetiapine,
Ziprasidone, Amisulpride, Asenapine, Paliperidone, Llioperidone, Zotepine, Sertindole.
1) Klozapin
Merupakan salah satu golongan obat ini yang menunjukkan efek antipsikosis lemah.
Profil farmakologiknya atipikal bila dibandingkan antipsikosis yang lain. Terutama resiko
timbulnya efek samping ekstrapiramidal obat ini sangat minimal, dan kadar prolaktin
serum pada manusia tidak ditingkatkan. Diskinesia Tardif belum pernah dilaporkan
terjadi pada pasien yang diberi obat ini, walaupun beberapa pasien telah diobati hingga
10 tahun. Dibandingkan terhadap psikotropik yang lain, klozapin menunjukkan efek
dopaminergik lemah, tetapi dapat mempengaruhi fungsi saraf dopamine pada system
mesolimbik-mesokortikal otak; yang berhubungan dengan fungsi emosional dan mental
yang lebih tinggi, yang berbeda dari dopamine neuron di daera nigrostriatal (daerah
gerak) dan tuberinfundibular (daerah neuroendokrin). Klozapin efektif untuk mengontrol
gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif (iritabilitas) maupun yang
negative (social disinterest dan incompetence, personal neatness). Efek yang bermanfaat
terlihat dalam waktu 2 minggu, diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu
berikutnya. Obat ini berguna untuk pengobatan pasien yang refrakter dan terganggu berat
selama pengobatan. Selain itu, karena risiko efek samping ekstrapiramidal yangs sangat
rendah, obat ini cocok untuk pasien yang menunjukkan gejala ekstrapiramidal yang berat
bila diberikan antipsikosis yang lain, maka penggunaannya hanya dibatasi pada pasien
yang resisten atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis yang lain. Pasien yang diberi
klozapin perlu dipantau jumlah sel darah putihnya setiap minggu.
 Efek Samping dan Intoksikasi
Agranulositosis merupakan efek samping utama yang yang ditimbulkan pada
pengobatan dengan klozapin. Pada pasien yang mendapata klozapin selama 4 minggu
atau lebih, resiko terjadinya kira-kira 1,2%. Gejala ini paling sering timbul 6-18
minggu setelah pemberian obat. Pengobatan dengan obat ini tidak boleh lebih dari 6
minggu kecuali bila terlihat adanya perbaikan. Efek samping lain yang dapat terjadi
antara lain hipertermia, takikardia, sedasi, pusing kepala, hipersalivasi. Gejala takar
lajak meliputi antara lain: kantuk, letargi, koma, disorientasi, delirium, takikardia,
depresi napas, aritmia, kejang dan hipertemia.
 Farmakokinetik
Klozapin diabsorbsi secara cepat dan sempurna pada pemberian per oral; kadar
puncak plasma tercapai pada kira-kira 1,6 jam setelah pemberian obat. Klozapin
secara ekstensif diikat protein plasma (>95%), obat ini dimetabolisme hampir
sempurna sebelum diekskresi lewat urin dan tinja, dengan waktu paruh rata-rata 11,8
jam.

2) Olanzapine (Zyprexa)
Digunakan untuk mengobati gangguan psikotik termasuk skizofrenia, akut manic
episode, dan pemeliharaan dari gangguan bipolar. Dosis 2,5-20 mg per hari.

3) Risperidone (Risperdal)
 Indikasi
Terapi shcizofrenia, mania akut, mania yang berkaitan dengan gangguan bipolar I
 Dosis:
- Anak dan remaja : Autis : awal 0,25 mg pada waktu tidur titrasi sampai 1 mg/hari
(0,1 mg/kg/hari). Sizofrenia : awal : 0, 5 mg sehari 1-2 kali, bila dibutuhkan
dinaikkan bertahap sampai 2-6 mg/hari. Gangguan mania bipolar: awal: 0,5 mg,
naikkan sampai 0,5-3 mg/hari; Autism : awal o,25 mg pada saat tidur, naikkan
sampai 1 mg/hari.
- Dewasa : Shcizofrenia : dosis awal ; 0,5- 1 mg sehari 2 kali, naikkan perlahan
sampai kisaran optimal 3-6 mg/hari. Mania bipolar : awal : 2-3 mg, dosis tunggal,
bila perlu sesuaikan dengan dosis 1 mg/hari, kisaran dosis : 1-6 mg/hari.
- Orang tua : awal : 0,25-1 mg dibagi dalam 2 dosis. Penyesuaian dosis pada gagal
ginjal dan hati : oral : awal 0,25-0,5 mg sehari 2 kali.
 Farmakologi
Berikatan dengan reseptor serotonin 5HT2 dan Dopamin D2 di otak dan perifer.
Ikatan dengan reseptor dopamin 20 kali lebih rendah dibandingkan ikatan dengan
reseptor 5-HT2. Penambahan aktivitas antagonis reseptor serotonin pada aktivitas
antagonis reseptor dopamin (mekanisme klasik neuroleptik) dipercaya memperbaiki
gejala negatif psikosis dan menurunkan insidens efek samping ekstrapiramidal.
Reseptor alfa 1, alfa2 adrenergik, reseptor histamin juga diantagonis dengan afinitas
kuat. Risperidon mempunyai afinitas rendah atau sedang terhadap reseptor 5-HT1c,
5-HT1d dan5-HT1a, sedangkan terhadap reseptor D1 afinitasnya rendah dan tidak
mempunyai afinitas terhadap reseptor muskarinik, beta1 dan beta2. Absorpsi oral
cepat dan baik, makanan tidak berpengaruh; injeksi absorbsi awal <1%, penglepasan
utama terjadi sekitar 3 minggu dan dipertahankan 4-6 minggu. Vd 1-2 l/kg, ikatan
protein risperidon 90%, 9-hidroksirisperidon 77%. Metabolisme lewat hati secara
ekstensif. Bioavailabilitas larutan 70%, tablet 66% . Waktu paruh eliminasi oral 20
jam. Orang dengan metabolisme ekstensif : T½ risperidon 3 jam, 9-
hidroksirisperidon 21 jam. Orang dengan metabolisme buruk ; T½ riperidon 20 jam, 9
hidroksi risperidon 30 jam. T½ injeksi 3-6 hari. T maks oral dalam 1 jam, 9-
hidroksirisperidon : ekstensif metaboliser 3 jam, metaboliser yang jelek 17 jam.
Ekskresi lewat urin 70%, lewat feses 15%.
 Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap risperidon atau komponen-komponen lain sediaan.
 Efek samping
Frekuensi>10% : SSP : insomnia, agitasi, cemas, sakit kepala, gejala ekstra piramidal,
pusing(injeksi); Saluran cerna : berat badan naik; Pernapasan : rinitis(injeksi).
Frekuensi 1-10% : KV : hipotensi, terutama ortostatik, takikardia, SSP : sedasi, pusing,
gelisah, reaksi distoni, pseudoparkinson, diskinesia tardif, sindroma neurolepsi
malignan, perubahan pengaturan suhu tubuh, nervous, lelah, somnolen, halusinasi.
Dermatologi : fotosensitivitas, rash, kulit kering, seborea, akne. Endokrin-metabolisme
: amenore, galaktorea, ginekomastia, disfungsi seks. Saluran cerna : konstipasi,
xerostomia, dispepsia, muntah, nyeri abdominal, mual, anoreksia, diare, perubahan
berat badan.
4) Quetiapine (Seroquel)
Digunakan terutama untuk mengobati gangguan bipolar dan skizofrenia, dan “off-label”
untuk mengobati kronis insomnia dan sindrom kaki resah, melainkan obat penenang yang
kuat. Dosis dimulai pada 25 mg dan terus sampai maksimum 800 mg per hari, tergantung
pada keparahan dari gejala (s) sedang dirawat.

5) Ziprasidone (Geodon)
Disetujui pada tahun 2006 untuk mengobati gangguan bipolar. Dosis 20 mg dua kali
sehari pada awalnya sampai 80 mg dua kali sehari. Termasuk efek samping yang
berkepanjangan Interval QT di jantung, yang dapat berbahaya bagi pasien dengan
penyakit jantung atau mereka yang memakai obat lain yang memperpanjang interval QT.

6) Amisulpride (Solian)
Selektif dopamin antagonis. Dosis yang lebih tinggi (lebih dari 400 mg) bertindak atas
post-sinaptik reseptor dopamin yang mengakibatkan pengurangan dalam gejala positif
skizofrenia, seperti psikosis. Dosis yang lebih rendah, bagaimanapun, bertindak atas
dopamin autoreceptors, mengakibatkan peningkatan dopamin transmisi, memperbaiki
gejala negatif skizofrenia. Dosis rendah amisulpride juga telah terbukti mempunyai
antidepresan dan anxiolytic efek non-pasien skizofrenia, menyebabkan dysthymia dan
fobia sosial. Amisulpride belum disetujui untuk digunakan oleh Food and Drug
Administration di Amerika Serikat.

7) Asenapine
Adalah 5-HT2A-dan D2-reseptor antagonis yang sedang dikembangkan untuk
pengobatan skizofrenia dan mania akut berhubungan dengan gangguan bipolar. Derivatif
dari risperidone yang disetujui pada tahun 2006.

8) Ilioperidone (Fanapt)
Ilioperidone (Fanapt) – Disetujui oleh FDA pada 6 Mei 2009.
9) Zotepine
Sebuah antipsikotik atipikal diindikasikan untuk skizofrenia akut dan kronis. Ini disetujui
di Jepang sekitar tahun 1982 dan Jerman pada tahun 1990, masing-masing.

10) Sertindole
Dikembangkan oleh perusahaan farmasi Denmark H. Lundbeck .. Seperti antipsikotik
atipikal yang lain, itu diyakini telah antagonis aktivitas pada reseptor dopamin dan
serotonin di otak.

3. CARA KERJA ANTIPSIKOTIK


Kerja antipsikotika neuroleptika berupa penghambatan reseptor dopamine dan/atau
serotonin. Banyak di antara obat-obat ini menghambat reseptor kolinergik, adrenergik dan
histamin, dengan berbagai efek samping.
- Kerja antipsikotik: Obat-obat neuroleptika mengurangi halusinasi dan agitasi dari
skizofren dengan cara menghambat reseptor dopamin sistem mesolimbik otak. Obat-
obat ini juga mempunyai efek menenangkan dan mengurangi gerakan fisik spontan.
Berbeda dengan obat-obat depresan SSP, seperti barbiturat, neuroleptika tidak menekan
fungsi intelektual pasien dan koordinasi motorik terganggu minimal. Efek antipsikotik
biasanya terlihat setelah beberapa minggu, menunjukkan bahwa efek terapi berhubungan
dengan perubahan sekunder dalam jalur kortikostriata.
- Efek ekstrapiramidal: Gejala Parkinson, akatisia (kegelisaan motorik) dan diskinesia
tardif (postur Ieher, badan atau ekstremitas yang tidak benar) terjadi pada pengobatan
kronis. Gejala-gejala parkinson yang tidak diinginkan ini barangkali disebabkan
penghambatan reseptor dopamin dalam jalur grostriata. Insidens ini rendah dengan
klozapin dan risperidor.
- Efek antiemetik: Kecuali dengan tioridazin, umumnya obat neuroleptika mempunyai
efek antiemetik melalui penghambatan reseptordopminergik D2 di daerah picu
kemoresep medula Gambar 13. menyimpulkan penggunaan antiemetik obat neuroleptika
bersama dengan penggunaan obat lain untuk mual.
- Efek antimuskarinik: Semua neuroleptika terutama tioridazin dan klorpromazin
menyebabkan efek antikolinergik, termasuk penglihatan kabur, mulut kering, sedasi,
bingung dan penghambatan gerakan otot polos pencernaan dan kandung kemih sehingga
terjadi konstipasi dan retensi urin.
- Efek lain: Penghambat reseptor a-adrenergik menyebabkan hipotensi statik dan pusing.
Neuroleptika juga mengubah mekanisme pengatur suhu dan dapat menghasilkan
poikilothermia (suhu tubuh berubah sesuai lingkungan). Dalam hipofisis neuroleptika
menghambat reseptor D2, sehingga pelepasan prolaktin meningkat.

4. EFEK SAMPING OBAT ANTIPSIKOTIK


a. Efek Samping Non Neurologis
1) Efek pada jantung
Antipsikotik potensi rendah lebih bersifat kardiotoksik dibandingkan dengan
antipsikotik potensi tinggi. Chlorpromazine menyebabkan perpanjangan interval QT
dan PR, penumpulan gelombang T, dan depresi segmen ST. Thioridazine, khususnya
memiliki efek yang nyata pada gelombang T dan disertai dengan aritmia malignan,
seperti torsade de pointes yang sangat mematikan. Selain itu kematian mendadak juga
disebabkan karena timbulnya takikardia ventrikuler atau fibrilasi ventrikuler. Untuk
mengantisipasi hal tersebut sebaiknya pada pasien yang berusia lebih dari 50 tahun
dilakukan pemeriksaan EKG serta pemberian serum potassium dan magnesium.
2) Hipotensi Ortostatik (Postural)
Hipotensi ortostatik (postural) terjadi akibat penghambatan adrenergic yang paling
sering disebabkan oleh antipsikotik potensi rendah, khususnya chlorpromazine dan
thioridazine. Keadaan ini terjadi selama beberapa hari pertama terapi dan memiliki
toleransi yang cepat yaitu sekitar 2-3 bulan. Bahaya utama dari hipotensi ortostatik
adalah adanya kemungkinan pasien terjatuh, pingsan, dan mencederai dirinya. Jika
menggunakan antipsikotik potensi rendah intramuscular (IM), tekanan darah pasien
harus diperiksa sebelum dan setelah pemberian dosis pertama dalam beberapa hari
pertama terapi. Pemberian epinefrin dikontraindikasikan karena dapat memperburuk
hipotensi. Metaraminol dan norepinefrin sebagai agen pressor adrenergic α-1 murni
adalah obat terpilih. Untuk antipsikosis dosis dapat diturunkan atau diganti dengan
obat yang tidak menghambat adrenergic.
3) Efek Hematologis
Gangguan hematologis yang membahayakan yang dapat terjadi akibat pemakaian
antipsikotik tipikal seperti chlorpromazine, thioridazine dan pada hampir semua
antipsikotik adalah agranulositosis. Agranulositosis adalah suatu kumpulan gejala
yang ditandai dengan penurunan bermakna jumlah granulosit yang beredar,
neutropeni berat yang menimbulkan lesi-lesi di tenggorokan, selaput lendir lain,
saluran cerna dan kulit. Pada kebanyakan kasus, gejala ini disebabkan oleh sensitasi
terhadap obat-obatan, zat kimia, radiasi yang mempengaruhi sumsum tulang dan
menekan granulopoiesis. Agranulositosis paling sering terjadi selama tiga bulan
pertama terapi dengan insidensi sekitar 5 dari 10.000 pasien yang diobati dengan
antipsikotik. Jika pasien melaporkan adanya suatu nyeri tenggorokan atau demam,
hitung darah lengkap harus segera dilakukan untuk memeriksa kemungkinan
terjadinya agranulositosis. Jika indeks darah rendah, antipsikotik harus segera
dihentikan. Angka mortalitas dari komplikasi setinggi 30%.
4) Efek Antikolinergik Perifer
Obat antipsikotik tipikal seperti chlorpromazine, thioridazine, dan trifluoperazine
adalah antikolinergik yang paten. Mulut kering merupakan efek yang mengganggu
beberapa pasien dan dapat mempengaruhi kepatuhan terapi. Pasien dapat dianjurkan
sering membilas mulutnya dengan air dan tidak mengunyah permen karet atau
permen yang mengandung gula, karena hal tersebut dapat menyebabkan infeksi jamur
pada mulut dan peningkatan insidensi karies gigi. Konstipasi harus diobati dengan
perbanyak olahraga, cairan, diet tinggi serat, serta preparat laksatif biasa, tetapi
kondisi ini masih dapat berkembang menjadi ileus paralitik. Pada kasus tersebut
diperlukan penurunan dosis atau penggantian dengan obat yang kurang
antikolinergik. Pilocarpine mungkin berguna pada beberapa pasien dengan retensi
urin.
5) Efek Endokrin
Penghambatan reseptor dopamine pada saluran tuberinfundibular menyebabkan
peningkatan sekresi prolaktin, yang dapat menyebabkan pembesaran payudara,
galaktorea, impotensi pada laki-laki, dan amenore serta penghambatan orgasme pada
wanita. Untuk mengatasi efek samping tersebut dapat dilakukan penggantian obat
antipsikotik yang diberikan. Pada keadaan impotensi sebagai efek obat dapat
diberikan bromokriptin. Untuk gangguan pada orgasme maupun penurunan libido
dapat diberikan brompheniramine (bromfed), ephedrine (Primatene),
phenylpropanolamin (Comtrex), midrione, dan imipramin (tofranil). Priapisme dan
laporan orgasme yang nyeri juga dilaporkan, kemungkinan kedua hal tersebut terjadi
akibat aktivitas antagonis adrenergic α1. Peningkatan berat badan juga merupakan
efek endokrin yang paling sering terjadi akibat penggunaan antipsikotik tipikal.
Peningkatan berat badan nantinya akan menjadi resiko terjadinya DM tipe 2,
hipertensi dan dislipidemia.
6) Efek Dermatologis
Dermatitis alergik dan fotosensitivitas dapat terjadi pada sejumlah kecil pasien, paling
sering terjadi pada mereka yang menggunakan antipsikotik tipikal potensi rendah,
khusunya chlorpromazine. Berbagai erupsi kulit seperti urtikaria, makulopapular,
peteki, dan erupsi edematous telah dilaporkan. Erupsi terjadi pada awal terapi,
biasanya dalam minggu pertama dan menghilang dengan spontan. Pasien harus
diperingatkan tentang efek tersebut, yaitu agar tidak berada dibawah sinar matahari
lebih dari 30-60 menit, dan harus menggunakan tabir surya. Penggunaan
chlorpromazine juga disertai beberapa kasus diskolorasi biru-kelabu pada kulit pada
daerah yang terpapar dengan sinar matahari.
7) Efek pada Mata
Thioridazine disertai dengan pegmentasi ireversibel pada retina bila diberikan dalam
dosis lebih besar dari 800 mg sehari. Gejala awal dari efek tersebut kadang-kadang
berupa kebingungan nocturnal yang berhubungan dengan kesulitan penglihatan
malam. Pigmentasi dapat berkembang menjadi kebutaan walaupun thioridazine
dihentikan karena tidak bersifat reversible. Chlorpromazine berhubungan dengan
pigmentasi mata yang relatif ringan, ditandai oleh deposit granular coklat keputihan
yang terpusat di lensa anterior dan kornea posterior yang dapat timbul bila pasien
mengingesti 1-3 kg chlorpromazine selama hidupnya. Deposit dapat berkembang
menjadi granula putih opak dan coklat kekuningan. Keadaan ini hampir tidak
mempengaruhi penglihatan pasien.
8) Ikterus
Ikterus obstruktif atau kolestatik adalah suatu efek samping yang relative jarang
terjadi dalam penggunaan antipsikotik tipikal. Biasanya ikterus muncul pada bulan
pertama terapi dan ditandai oleh nyeri abdomen bagian atas, mual, muntah, gejala
mirip flu, demam, ruam, bilirubin pada urin dan peningkatan bilirubin serum, alkali
fosfatase dan transaminase hati. Jika ikterus terjadi, maka terapi harus diberhentikan
dan diganti. Ikterus dilaporkan terjadi pada penggunaan promazine, thioridazine, dan
sangat jarang terjadi pada fluphenazine dan trifluoperazine.
9) Overdosis Antipsikotik
Gejala overdosis antipsikotik berupa gejala ekstrapiramidal, midriasis, penurunan
reflex tendon dalam, takikardia, dan hipotensi. Gejala overdosis yang parah adalah
delirium, koma, depresi pernapasan, dan kejang. Terapi overdosis antipsikotik harus
termasuk pemakaian arang aktif (activated charcoal), jika memungkinkan lavage
lambung dapat dipertimbangkan. Terapi kejang dengan diazepam serta hipotensi
dengan norepinefrin juga merupakan terapi overdosis antipsikotik atipikal.
b. Efek Samping Neurologis
Obat antipsikotik tipikal memiliki efek samping neurologis yang mengganggu dan
beberapa efek neurologis yang kemungkinan bersifat serius. Efek neurologis tersebut
dikenal sebagai efek sindrom ekstrapiramidal. Pentingnya mengetahui efek samping
neurologis akibat terapi dibuktikan pada DSM-IV yang memasukkan efek samping
tersebut sebagai kelompok tersendiri gangguan pergerakan akibat medikasi.
1) Parkinsonisme Akibat Neuroleptik
Efek samping berupa parkinsonisme terjadi pada kira-kira 25 % pasien yang diobati
dengan antipsikotik tipikal. Biasanya terjadi dalam 5-30 hari setelah awal terapi.
Gejala-gejala yang timbul berupa kekakuan otot atau rigiditas pipa besi (lead-pipe
rigidity), rigiditas gigi gergaji (cog-wheel rigidity), gaya berjalan menyeret, postur
membungkuk dan air liur menetes. Tremor menggulung pil (pill-rolling) pada
parkinsonisme idopatik jarang terjadi, tetapi tremor yang teratur dan kasar yang
serupa dengan tremor esensial mungkin ditemukan dan dinamakan sebagai tremor
postural akibat medikasi dalam DSM-IV. Suatu tanda fisik parkinsonisme adalah
reflek ketukan glabela yang positif yang ditimbulkan dengan mengetuk dahi antara
alis mata. Dikatakan reflek positif bila orbikularis okuli tidak dapat membiasakan diri
dengan ketukan yang berulang. Wajah yang mirip topeng, bradikinesia, akinesia
(tidak ada inisitatif), dan ataraksia (kebingungan terhadap lingkungan) merupakan
gejala parkinsonisme yang sering didiagnosis keliru sebagai gambaran gejala negative
atau defisit pada skizofrenia. Perbandingan wanita dengan laki-laki yang terkena
parkinsonisme akibat neuroleptik adalah 2:1 dan dapat terjadi pada setiap usia
walaupun jarang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Semua antipsikotik tipikal
dapat menyebabkan gejala parkinsonisme, khususnya obat potensi tinggi dengan
aktivitas antikolinergik yang rendah. Penghambatan transmisi dopaminergik dalam
traktus nigrostriatal adalah penyebab dari parkinsonisme akibat neuroleptik.
Gangguan berupa parkinsonisme ini dapat diobati dengan pemberian obat
antikolinergik, amantadine atau diphenhydramine. Antikolinergik harus dihentikan
setelah 4-6 minggu untuk menilai apakah pasien telah mengembangkan suatu
toleransi terhadap efek parkinsonisme sebab kira-kira 50% pasien dengan
parkinsonisme akibat neuroleptik dapat meneruskan terapi. Pemberian anti Parkinson
seperti levodopa lebih baik jangan diberikan karena akan memperbuuk gejala
psikotiknya.
2) Distonia Akut Akibat Neuroleptik
Kira-kira terdapat 10% dari semua pasien yang diberikan terapi antipsikotik tipikal
mengalami distonia sebagai efek samping. Biasanya terjadi dalam beberapa jam atau
90% pada tiga hari pertama terapi. Gerakan distonia disebabkan oleh kontraksi atau
spasme otot yang perlahan dan terus-menerus yang dapat menyebabkan gerakan
involunter. Distonia dapat mengenai leher (tortikolis atau retrokolis spasmodik),
rahang (pembukaan paksa yang menyebabkan dislokasi rahang atau trismus), lidah
(prostrusi, memuntir), dan keseluruhan tubuh (opistotonus). Distonia dapat terjadi
pada semua umur dan pada kedua jenis kelamin tetapi paling sering terjadi pada laki-
laki muda (<40 tahun), dapat terjadi pada semua antipsikotik dan paling sering
disebabkan oleh antipsikotik potensi tinggi. Mekanisme kerja diperkirakan
merupakan suatu hiperaktivitas dopaminergik di ganglia basalis yang terjadi jika
kadar antipsikotik dalam SSP mulai menurun diantara pemberian dosis. Profilaksis
dengan antikolinergik atau obat yang berhubungan biasanya mencegah
berkembangnya distonia, walaupun risiko terapi profilaksis melebihi manfaatnya.
Terapi dengan antikolinergik IM atau diphenhydramine IV atau IM (50 mg) hampir
selalu menghilangkan gejala. Diazepam (10 mg IV), amobarbital (Amytal), caffeine
sodium benzoate dan hipnosis dilaporkan juga efektif.
3) Sindrom Neuroleptik Maligna
Sindrom neuroleptik maligna adalah komplikasi yang membahayakan yang dapat
terjadi setiap waktu selama pemberian terapi antipsikotik. Hal ini dapat terjadi karena
reaksi idiosinkrasi terhadap obat psikotik khususnya pada long acting.1
Gejala motorik dan perilaku adalah rigiditas otot dan distonia, akinesia, mutisme,
obtundasi, dan agitasi. Gejala otonomik adalah hiperpireksia, berkeringat dan
peningkatan kecepatan denyut nadi dan tekanan darah. Temuan laboratorium adalah
peningkatan hitung sel darah putih, kreatinin fosfokinase, enzim hati, mioglobin
plasma, dan mioglobinuria, kadang kadang disertai dengan gagal ginjal. Untuk
pengobatan segera hentikan anti psikotik dan berikan perawatan suportif dan berikan
obat dopamine agonist (bromokriptin 7,5-60 mg/h 3x sehari, l-dopa2x 100 mg/h atau
amantadine 200 mg/h). Menurut kepustakaan lain, pengobatan dengan datrolene juga
efektif dengan dosis 0,8-2,5 mg/kgbb, setiap 6 jam iv, apabila gejala berkurang
diberikan oral dengan dosis 100-200 mg/hari dapat ditambahkan bromocriptin dengan
dosis 20-30 mg/hari dalam 4x pemberian, terapi berlangsung selama 5-20 hari, bila
pada penanganan SNM membaik maka pengobatan anti psikotik dapat dilanjutkan
kembali.
4) Efek Epileptogenik
Pemberian antipsikotik ternyata menyebabkan perlambatan dan peningkatan
sinkronisasi EEG. Efek tersebut merupakan mekanisme dimana antipsikotik
menurunkan ambang kejang. Chlorpromazine dan antipsikotik potensi rendah lain
diperkirakan lebih epileptogenik dibandingkan obat potensi tinggi.
5) Sedasi
Sedasi terutama merupakan akibat dari penghambatan reseptor dopamine tipe-1.
Chlorpromazine adalah antipsikotik yang paling menimbulkan sedasi. Memberikan
dosis antipsikotik harian sebelum tidur biasanya menghilangkan masalah dari sedasi,
dan toleransi untuk efek merugikan tersebut dapat terjadi.
6) Efek Antikolinergik Sentral
Gejala aktivasi antikolinergik sentral adalah agitasi parah; disorientasi terhadap
waktu, orang dan tempat; halusinasi; kejang; demam tinggi; dilatasi pupil. Stupor dan
koma dapat timbul. Terapi toksisitas antikolinergik adalah pertama menghentikan
obat penyebab dan pemberian anticholinergic agents seperti injeksi sulfas atropine
0,25 mg(im), tablet trihexyphenidyl 3x2mg/hari. Hal ini juga dapat terjadi bila
pengehntian mendadak dari antipsikotik.
DAFTAR PUSTAKA
Mutschler Ernst. 1991. Dinamika Obat. Bagian Farmakologi dan Toksikologi. Penerbit ITB.
Bandung.

Mycek, Mary J. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Widya Medika. Jakarta.

Tjay Tan Hoan. 2002. Obat-Obat Penting. PT. Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia.
Jakarta.
Ganiswara Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Toksikologi. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta.

Katzung G. Bertram. 2002. Farmakologi dasar dan Klinik Edisi 2. Penerbit Saalemba Medika.
Jakarta.