You are on page 1of 35

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN KORPULMONAL

Disusun Oleh

Nama : Friska Nur’azizah Haryanti

Nim : 34403417039

POLITEKNIK NEGERI SUBANG

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Jln. Brigjen Katamso No. 37 telp. (0264)412250

Tahun Akademik 2019/2020


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
taufik serta hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Korpulmonal”. Atas dukungan
moral dan material yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis
mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Kepada teman-teman yang telah membantu menyelesaikan tugas


makalah ini
2. Kepada orang tua yang selalu mendukung kita semua
3. Dan kepada pihak-pihak lain yang begitu banyak membantu dalam
menyelesaikan makalah, namun tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan.


Oleh sebab itu,penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca guna perbaikan penulisan makalah ini di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Subang. 28 Maret 2019

Friska

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................. 2
D. Sistematika Penyusunan ....................................................................................... 3
E. Ruang Lingkup Penulisan ..................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ............................................................................................................. 4
B. Etiologi ................................................................................................................. 5
C. Anatomi Fisiologi ................................................................................................. 6
D. Patofisiologi ......................................................................................................... 11
E. Manifestasi Klinik ................................................................................................ 12
F. Pemeriksaan Penunjang ........................................................................................ 12
G. Penatalaksanaan Medis ........................................................................................ 15
H. Komplikasi ........................................................................................................... 18
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian ........................................................................................................... 19
B. Diagnosa Keperawatan ........................................................................................ 29
C. Perencanaan Keperawatan ................................................................................... 29
BAB IV KESIMPULAN
A. Simpulan .............................................................................................................. 31
B. Saran ..................................................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 32

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka-angka insidensi prevalensi beraneka ragam serta tidak sama,

tergantung pada kondisi dan situasi yang disurvei. Di daerah Massachuset angka

insidensi kecil yaitu 0,9 % sedangkan di Arizona merupakan 59 % dari angka

insidensi penyakit jantung seluruhnya, di Belgia, New Delhi, Praha, Inggris angka

insidensinya berkisar antara 16 – 33 %.

Eksaserbasi dari kegagalan jantung kanan dan hipertensi pulmonal selalu

menjadi ancaman pada Korpulmonal. Selain itu prosesnya terjadi secara progresif

sehingga menimbulkan kegagalan kardiorespiratorius.

Penyebab dari korpulmonal yang terbanyak adalah hipertensi pulmonal

yang disebabkan oleh proses primer paru, akan tetapi sebagian besar tidak

diketahui. Lebih banyak gejala korpulmonal di timbulkan oleh hipertensi

pulmonal, berupa cepat capek, sesak, tegang, kadang-kadang sampai sinkope.

Hemoptisis disebabkan oleh hipertensi pulmonal dan seraknya suara

merupakan tanda-tanda kegawatan Korpulmonal yang disebabkan hipertensi

pulmonal. Penyakit jantung paru merupakan penyakit paru dengan hipertropi dan

atau dilatasi ventrikel kanan akibat gangguan fungsi dan atau struktur paru

(setelah menyingkirkan penyakit jantung congenital atau penyakit lain yang

primernya pada jantung kiri).

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Korpulmonal?

2. Apa etiologi Korpulmonal?

3. Bagaimana proses terjadinya Korpulmonal (patofisiologi)?

4. Apa manifestasi klinis Korpulmonal?

5. Apa saja pemeriksaan penunjang pada Korpulmonal?

6. Bagiamana penatalaksanaan Korpulmonal?

7. Apa saja komplikasi yang bisa terjadi pada Korpulmonal?

8. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Korpulmonal

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian Korpulmonal

2. Mengetahui etiologi Korpulmonal

3. Mengidentifikasi proses terjadinya Korpulmonal

4. Mengetahui manifestasi klinis Korpulmonal

5. Mengetahui pemeriksaan penunjang Korpulmonal

6. Mengetahui penatalakasanaan medis Korpulmonal

7. Mengetahui komplikasi Korpulmonal

8. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien Korpulmonal

2
D. Sistematika Penyusunan

Penyusunan makalah ini terbagi atas empat (IV) bab yang tersusun secara

sistematis meliputi:

1. BAB I PENDAHULUAN : meliputi latar belakang, rumusan masalah,

tujuan penulisan, sistematika penyusunan, dan ruang lingkup penyusunan

2. BAB II PEMBAHASAN : meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi,

manifestasi klinis, pemeriksasaan penunjang, penatalaksanaan medis,

komplikasi korpulmonal

3. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN : meliputi pengkajian, diagnosa

keperawatan dan perencanaan perawatan Korpulmonal

4. BAB IV PENUTUP : meliputi kesimpulan dan saran

E. Ruang Lingkup Penyusuanan

Penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriptif yang

menjelaskan konsep penyakit Korpulmonal secara umum dan Asuhan

Keperawatan yang tepat untuk pasien Korpulmonal yang diambil dari beberapa

literatur buku dan internet.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Cor Pulmonale (CP) adalah suatu keadaan dimana terdapat hipertofi dan

atau dilatasi dari ventrikel kanan sebagai akibat dari hipertensi (arteri) pulmonal

yang disebabkan oleh penyakit intriksik dari parenkhim paru, dinding thoraks

maupun vaskuler paru. Karena itu untuk mendiagnosa CP maka harus

disingkirkan adanya Stenosis Mitral, Kelainan jantung Bawaan atau Gagal

Jantung Kiri yang juga dapat menyebabkan dilatasi dan hipertrofi ventrikel kanan.

CP dapat bersifat akut akibat adanya emboli paru yang masif, dapat juga bersifat

kronis.

Korpulmonal adalah kondisi ventrikel kanan jantung membesar (dengan

atau tanpa gagal jantung sebelah kanan) sebagai akibat penyakit yang mengenai

struktur atau fungsi paru dan pembuluh darahnya. (Burner dan Suddarth, 2001).

Korpulmonal adalah pembesaran ventrikel kanan (hipertrofi dan/dilatasi)

yang terjadi akibat kelainan paru, kelainan dinding dada, atau kelainan pada

kontrol pernafasan. (Suyono Slamet, dkk, 2001).

4
B. Etiologi

Penyebab penyakit Korpulmonal antara lain :

1. Penyakit menahun dengan hipoksia :

a. Penyakit paru obstruksi kronik.

b. Fibrosis paru.

c. Penyakit fibrositik.

d. Crypogenic fibrosing alveolitis.

e. Penyakit paru lain yang berhubungan dengan hipoksia.

2. Kelainan dinding dada :

a. Kifoskoliosis, torakoplasti, fibrosis pleura.

b. Penyakit neuromuscular.

3. Gangguan mekanisme kontrol pernafasan :

a. Obesitas, hipoventilasi idiopatik.

b. Penyakit serebrovaskuler.

4. Obstruksi saluran nafas atas pada anak

a. Hipertrofi tonsil dan adenoid

5
5. Kelainan primer pembuluh darah

a. Hipertensi pulmonal primer, emboli paru berulang dan vaskulitis

pembuluh darah paru.

C. Anatomi Fisiologi

Anatomi Dan Fisiologi

Saluran pernafasan bagian atas terdiri atas :

1. Lubang hidung (cavum nasalis )

Hidung dibentuk oleh tulang sejati (os) dan tulang rawan (kartilago).

Hidung dibentuk oleh sebagian tulang sejati, sisanya terdiri atas kartilago dan

jaringan ikat (connective tissue). Bagian dalam hidung merupakan suatu lubang

yang dipisahkan menjadi lubang kiri dan kanan oleh sekat (septum). Rongga

hidung mengandung rambut (fimbrie) yang berfungsi sebagai penyaring (filter)

kasar terhadap benda asing yang masuk. Pada permukaan (mukosa) hidung

terdapat epitel bersilia yang mengandung sel goblet. Sel tersebut mengeluarkan

lender sehingga dapat menangkap benda asing yang masuk ke dalam saluran

pernafasan. Kita dapat mencium aroma karena di dalam lubang hidung terdapat

reseptor. Reseptor bau terletak pada cibriform plate, didalamnya terdapat ujung

dari saraf krania I (nervous olfactorium)

6
Hidung berfungsi sebagai jalan nafas, pengatur udara, pengatur

kelembaban udara (humidifikasi), pengatur suhu, pelindung dan penyaring

udara, indra pencium, dan resonator suara. Fungsi hidung sebagai pelindung

dan penyaring dilakukan oleh vibrissa, lapisan lender, dan enzim lozosim.

Vibrissa adalah rambut vestibulum nasi yang bertugas sebagai penyaring debu

dan kotoran (partikel berukuran besar). Debu-debu kecil dan kotoran (partikel

kecil) yang masih dapat melewati vibrissa akan melekat pada lapisan lender

dan selanjutnya dikeluarkan oleh refleks bersin. Jika dalam udara masih

terdapat bakteri (partikel sangat kecil), maka enzim lizosim yang

menghancurkannya.

2. Sinus para nasal

Sinus para nasalis merupakan daerah yang terbuka pada tulang kepala.

Dinamakan sesuai dengan tulang tempat dia berada yaitu sinus frontalis, sinus

ethmoidalis, sinus sphenoidalis, dan sinus maxilaris. Sinus berfungsi untuk :

a. Membantu menghangatkan dan humidifikasi

b. Meringankan berat tulang tengkorak

c. Mengatur bunyi suara manusia dengan ruang resonansi

3. Faring

Faring merupakan pipa berotot berbentuk cerobong (+ 13 cm) yang

letaknya bermula dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan

esophagus pada ketinggian tulang rawan (kartilago) krikoid.

7
Faring digunakan pada saat digestion (menelan) seperti pada saat bernafas.

Berdasarkan letaknya faring dibagi menjadi tiga yaitu dibelakang hidung (nasi-

faring), belakang mulut (oro-faring), dan belakang (laringo-faring).

4. Laring

Laring sering disebut dengan voice box dibentuk oleh struktur epitrlium

lined yang berhubungan dengan faring (di atas) dan trakea (di bawah). Lring

terletak di anterior tulang belakang (vertebra) ke-4 dan ke-6. Bagian atas dari

esophagus berada di posterior laring. Fungsi utama laring adalah untuk

pembetukan suara, sebagai protek jalan nafas bawah dari benda asing dan

untuk memfasilitasi proses terjadinya batuk. Laring terdiri atas :

a. Eoiglotis : katup kartilago yang menutup dan membuka selama menelan.

b. Glotis : lubang antara pita suara dan laring.

c. Kartilago tiroid : kartilago yang terbesar pada trachea, terdapat bagian yang

membentuk jakun (adams apple).

d. Kartilago krikoid : cicin kartilago yang utuh di laring (terletak di bawah

kartilago tiroid).

e. Kartilago aritenoid : digunakan pada pergerakan pita suara bersama dengan

kartilago tiroid.

8
f. Pita suara : sebuah ligament yang dikontrol oleh pergerakan otot yang

menghasilkan suara dan menempel pada lumen laring.

Saluran pernafasan bagian bawah (tracheobronchial tree) terdiri atas :

1. Trachea

Trachea merupakan perpanjangan dari laring pada ketinggian tulang

vertebrae torakal ke-7 yang bercabang menjadi dua bronkus. Ujung cabang

trachea disebut carina. Trachea bersifat sangat fleksibel, berotot dan memiliki

panjang 12 cm dengan cincin kartilago berbentuk huruf C. pada cincin tersebut

terdapat epitel bersilia tegak yang mengandung banyak sel goblet yang

mensekresikan lender (mucus).

2. Bronchus dan bronkhiolus

Cabang bronchus kanan lebih pendek, lebih lebar, dan cenderung lebih

vertical daripada cabang yang kiri. Hal tersebut menyebabkan benda asing

lebih mudah masuk ke dalam cabang sebelah kanan daripada cabang bronchus

sebelah kiri. Segmen dan subsegmen bronchus bercabang lagi dan berbentuk

seperti ranting masuk ke setiap paru-paru. Bronchus disusun oleh jaringan

kartilago sedangkan bronkiolus yang berakhir di alveoli tidak mengandung

kartilago.

9
Tidak adanya kartilago menyebabkan bronkhiolus mampu menangkap

udara, namun juga dapat mengalami kolaps. Agar tidak kolaps, alveoli

dilengkapi dengan porus/lubang kecil yang terletak antar alveoli (kohn pores)

yang berfungsi untuk mencegah kolaps alveoli. Saluran pernafasan mulai dari

trakea sampai bronkiolus terminal tidak mengalami pertukaran dan merupakan

area yang dinamakan anatomical dead space. Banyaknya udara yang berada

dalam area tersebut adalah sebesar 150 ml. awal dari proses pertukaran gas

terjadi di bronkeolus respiratorius.

3. Alveoli

Parenkim paru-paru merupakan area yang aktif bekerja dari jaringan paru-

paru. Parenkim tersebut mengandung berjuta-juta unit alveolus. Alveolus

merupakan kantong udara yang berukuran sangat kecil, dan merupakan akhir

dari bronkhiolus respiratorius sehingga memungkinkan pertukaran O2 dan

CO2. Seluruh dari unit alveoli terdiri dari bronkhiolus respiratorius, duktus

alveolus, dan alveolar sacs. Fungsi utama dari unit alveolus adalah pertukaran

O2 dan CO2 di antara kapiler pulmoner dan alveoli.

4. Paru-paru

Paru-pau terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya

berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru-

paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua

lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru

10
terbagi lagi menjadi beberapa subbagian menjadi sekita sepuluh unit terkecil

yang disebut bronchopulmonary segments.

Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang sebut mediastinum.

Jantung, aorta, vena cava, pembuluh paru-paru, esophagus bagian dari trachea

dan bronchus, serta kelenjar timus terdapat pada mediastinum

D. Patofisiologi

Gangguan paru-paru Restriktif

Gangguan paru-paru Obstruksi

Gangguan paru-paru Primer

Perubahan anatomi pembuluh Perubahan fungsional paru


darah paru-paru

Hipoksimea dan hiperkapnea


Pengurangan jaringan vaskular
paru-paru
Asidosis

Polisitemia Vasokonstriksi arteri pulmonal

Peningkatan resistensi vascular


paru

Hipertensi pulmonal

Hipertensi ventrikel kanan

Kor Pulmonal

11
E. Manifestasi Klinis

Informasi yang didapat bisa berbeda-beda antara satu penderita yang satu

dengan yang lain tergantung pada penyakit dasar yang menyebabkan

korpulmonal :

1. Kor-pumonal akibat Emboli Paru : sesak tiba-tiba pada saat istirahat, kadang-

kadang didapatkan batuk-batuk, dan hemoptisis.

2. Kor-pulmonal dengan PPOM : sesak napas disertai batuk yang produktif

(banyak sputum).

3. Kor-pulmonal dengan Hipertensi Pulmonal primer : sesak napas dan, sering

pingsan jika beraktifitas (exertional syncope).

4. Pulmonary heart disease dengan kelainan jantung kanan : bengkak pada perut,

kaki cepat lelah, batuk produktif kronik, dispnea karena olahraga, wheezing

respirasi, kelelahan dan kelemahan.

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan EKG

a. Biasanya menunjukkan hipertrofi ventrikel kanan dan abnormalitas atrium

kanan. Sering pula didapatkan aritmia ventrikuler dan atau supra

ventrikuler.

12
b. EKG menunjukkan deviasi aksis ke kanan dan gelombang P lancip.

Gelombang S dalam tampak pada lead V6.

c. Adanya hipertrofi atrium, ventrikel kanan atau kedua-duanya.

2. Pemeriksaan foto thoraks

a. Kelainan pada parenkim paru, pleura maupun dinding thoraks tergantung

penyakit dasarnya.

b. Pelebaran trunkus pulmonalis pada daerah hilus disertai penurunan

gambaran vaskuler paru drastis di daerah perifer, sehingga menimbulkan

gambaran pohon gundul (pruned tree)

c. Pembesaran ventrikel kanan.

d. Pelebaran vena cava superior

e. Jika ada emphysema maka diafragma agak rendah, conus pulmonalis

melebar.

3. Ekokardiografi : memungkinkan pengukuran ketebalan ventrikel kanan.

Meskipun perubahan volume tidak dapat diukur, teknik ini dapat

memperlihatkan pembesaran kavitas ventrikel kanan dalam hubunganya

dengan ventrikel kiri.

4. Biopsi Paru : dapat digunakan untuk menunjukkan vaskulitas pada beberapa

tipe penyakit vaskuler paru-paru seperti penyakit vaskuler kolagen, artitis

rhematoid, dan granulomatosis wagener.

13
5. Pemeriksaan Laboratorium

a. Pada penderita Korpulmonal pemeriksaan fungsi paru menunjukkan

kelainan restriktif atau obstruksi berat (atau gabungan keduanya).

b. Polisitemia (hemoglobin dan eritrosit meninggi) akibat PPOM (Penyakit

Paru Obstruksif Menahun).

c. Faal paru menurun, yaitu :

1). F.V.C berkurang (N = 5,80 L).

2). F.E.V1 berkurang (N = 4,32 L).

d. Analisa gas darah

1). PO2 kurang dari 60 mmHg.

2). PO2 lebih besar dari 49 mmHg.

e. pH darah rendah

f. waktu sirkulasi stadium dekompensata akan memanjang

14
G. Penatalaksanaan Medis

Pengobatan Cor Pulmonale pada dasarnya dibagi menjadi dua yaitu Pengobatan

Medik dan Pengobatan Tindakan bedah.

1. Pengobatan Medik

Terapi CP difokuskan kepada penyakit paru sebagai penyakit dasarnya.

Yang terbaik adalah menurunkan beban tekanan pada ventrikel kanan disertai

pengobatan yang spesifik untuk penyakit parunya. Jika tidak terdapat tanda-

tanda gagal jantung kanan, tujuan utama pengobatan CP adalah mencegah

terjadinya gagal jantung kanan. Jika hal tersebut sudah terjadi, maka

pengobatan ditujukan untuk gagal jantungnya, tetapi respons terhadap

pengobatan biasanya jelek, kecuali jika pengobatan yang diberikan dapat

mengendalikan hipertensi pulmonalnya.

a. Pengobatan untuk mengendalikan hipertensi pulmonal

Pengobagtan terhadap hipoksia merupakan pengobatan yang utama

dalam hal menurunkan tekanan darah pulmonal. Pengobatan terhadap

hipoksia ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : Pengobatan terhadap

penyakit dasarnya dan pemberian Oksigen. Kedua cara ini hasilnya kurang

memuaskan karena hipertensi pulmonal biasanya sudah menetap sebagai

akibat terjadinya perubahan struktural pada pembuluh darah paru. Pada CP

akut, karena hipertensi pulmonalnya sebagai akibat obstruksi pembuluh

darah paru karena adanya emboli parunya. Terapi standar adalah heparin

5000-10.000 unit bolus iv dilanjutkan 1000 iu/jam sampai aPTT ½ – 2x


normal selama 7-10 hari dilanjutkan warfarin 2-3 bulan. Alternatif lain

adalah dengan thrombolysis (mis: streptokinase : 250.000iu dalam infus

selama 30 menit, dilanjutkan 100.000 iu/jam selama 24 - 72 jam, post

thrombolysis dilanjutkan dengan heparin seperti di atas.

Pada penderita CP kronis, sebagian besar mengalami

vasokonstriksi pada pembuluh darah parunya akibat hipoksia. Pada

penderita seperti ini harus diberikan oksigen untuk dapat mencapai

tekanan oksigen arterial ≥ 60 mmHg. Untuk penderita CP dengan PPOM

sebagai penyakit dasarnya perlu ditekankan bahwa dosis oksigen yang

diberikan harus rendah (1-2 liter/menit) dan kontinyu. Hal ini disebabkan

karena pada penderita PPOM ventilatory drive nya tergantung dari

hipoksia. Jika diberikan oksigen dosis tinggi maka penderita akan

mengalami Oksigen narkosis sehingga pusat nafas tidak lagi terangsang

dan penderita dapat meninggal karena gagal nafas. Di samping itu harus

dihindari bahan-bahan iritant termasuk asap rokok.

Obat-obatan lain yang biasanya diberikan adalah bronkodilator

(aminofilin, β2 agonis), mukolitik dan ekspektoran untuk memudahkan

pengeluaran dahak serta antibiotik jika terjadi eksaserbasi akut dari

bronkitis. Dengan pengobatan di atas beberapa penderita dapat diperbaiki

ventilasi alveolarnya sehingga hipoksianya dan atau asidosis

respiratoriknya dapat diatasi. Koreksi asidosis dan hipoksia pada beberapa

kasus dapat menurunkan tekanan pembuluh darah (arteri) pulmonal.

16
Oksigenasi yang adekuat telah terbukti dapat menunda terjadinya gagal

jantung kanan dan memperpanjang harapan hidup penderita.

b. Pengobatan gagal jantung

Pada CP yang disertai gagal jantung kanan (Cor Pulmonale

Chronicum Decompensata = CPCD) pengobatan penyakit paru yang

mendasari dan penanganan hipoksia tetap menjadi terapi utama. Diuretik

dan flebotomi merupakan terapi yang cukup baik pada CPCD. Vasodilator

pulmoner memberikan hasil yang cukup baik pada beberapa penderita

hipertensi pulmonal primer, tetapi hasilnya tidak meyakinkan pada

penderita CPCD dengan PPOM sebagai penyakit dasarnya. Pemberian

digitalis untuk penderita gagal jantung kiri. Disamping itu kemungkinan

terjadinya intoksikasi digitalis lebih besar pada penderita CPCD karena

adanya hipoksia dan asidosis respiratorik. Karena itu pemberian digitalis

harus sangat hati-hati pada penderita CPCD. Pemberian digitalis dapat

dipertimbangkan jika terdapat juga gagal jantung kiri atau adanya aritmia

terutama Atrial Fibrilasi walaupun harus tetap hati-hati. Diuretik efektif

untuk pengobatan CPCD, terutama pada penderita dengan PPOM sebagai

penyakit dasarnya. Efek diuretik harus dimonitor secara ketat dengan

pemeriksaan analisa gas darah.

Pemberian diuretik yang berlebihan dapat menimbulkan metabolik

alkalosis yang pada akhirnya dapat menekan pusat pernafasan dan

berakibat fatal pada penderita. Flebotomi dapat dipertimbangkan jika

17
PCV > 55-60%. Pengambilan darah 200-300 cc secara hati-hati dapat

menurunkan tekanan arteri pulmonal dan mungkin dapat memperbaiki

fungsi ventrikel kanan.

2. Pengobatan Tindakan Bedah

Pada beberapa kasus CP tindakan bedah mempunyai peran dalam

pengobatan. Pulmonal Embolectomy sangat bermanfaat pada penderita

emboli paru. Adenoidectomi pada anak dengan obstruksi jalan nafas kronis,

uvulopalatopharyngeoplasty pada penderita sleep apnea dapat mengobati CP

akibat hipoventilasi yang kronis. Transplantasi jantung-paru dilakukan pada

penderita CPCD tahap akhir (end stage).

H. Komplikasi

1. Emfisema.

2. Gagal jantung kanan.

3. Gagal jantung kiri.

4. Hipertensi pulmonal primer.

18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Anamnesa,meliputi:

Informasi yang didapat pada anamnesis dapat berbeda antara satu

penderita dengan penderita lain tergantung pada penyakit dasar yang

menyebabkan CP. CP akut akibat emboli paru keluhannya adalah sesak tiba-

tiba pada saat istrahat, kadang-kadang didapatkan batuk-batuk, dan

hemoptisis.

Pada penderita CP dengan PPOM sebagai penyakit dasarnya maka

keluhannya adalah sesak nafas disertai batuk yang produktif (banyak sputum).

Pada penderita CP dengan Hipertensi Pulmonal Primer, keluhannya berupa

sesak nafas dan sering pingsan jika beraktivitas (exertional syncope). Dalam

hal mengevaluasi keluhan sesak nafas, haruslah disingkirkan adanya kelainan

pada jantung kiri sebagai kelainan jantung kiri (misalnya: Stenosis mitral,

payah jantung kiri) menimbulkan keluhan orthopnea dan paroxysmal

nocturnal dyspnea. Jika terjadi gagal jantung kanan maka keluhan bengkak

pada perut dan kaki serta cepat lelah sering terjadi.

19
a. Identitas pasien

Kor pulmonal dapat terjadi pada orang dewasa dan pada anak-anak.

Untuk orang dewasa, kasus yang paling sering ditemukan adalah pada

lansia karena sering didapati dengan kebiasaan merokok dan terpapar

polusi. Hal ini di dasarkan pada epidemiologi penyakit-penyakit yang

menjadi penyebab kor pulmonal, karena hipertensi pulmonal merupakan

dampak dari beberepa penyakit yang menyerang paru-paru.

Untuk kasus anak-anak, umumnya terjadi kor pulmonal akibat

obstruksi saluran napas atas seperti hipertrofi tonsil dan adenoid. Jenis

pekerjaan yang dapat menjadi resiko terjadinya kor pulmonal adalah para

pekerja yang sering terpapar polusi udara dan kebiasaan merokok yang

tinggi.

Lingkungan tempat tinggal yang dapat menjadi resiko terjadinya

kor pulmonal adalah lingkungan yang dekat daerah perindustrian, dan

kondisi rumah yang kurang memenuhi persyaratan rumah yang sehat.

Contohnya ventilasi rumah yang kurang baik, hal ini akan semakin

memicu terjadinya penyakit-penyakit paru dan berakibat terjadinya kor

pulmonal.

20
b. Riwayat sakit dan Kesehatan

1). Keluhan utama

Pasien dengan kor pulmonal sering mengeluh sesak, nyeri dada

2). Riwayat penyakit saat ini

Pada pasien kor pulmonal, biasanya akan diawali dengan tanda-

tanda mudah letih, sesak, nyeri dada, batuk yang tidak produktif. Perlu

juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang

telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-

keluhan tersebut. Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan

aktifitas ringan sampai berat:

a) Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan,

biasanya disertai sesak nafas.

b) Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot

rangka dan apakah disertai ketidakmampuan dalam melakukan

pergerakan.

c) Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas

sehari-hari.

d) Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa

lamanya kelemahan beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat

ataupun saat beraktifitas

21
3). Riwayat penyakit dahulu

Klien dengan kor pulmonal biasanya memilki riwayat penyakit

seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), fibrosis paru, fibrosis

pleura, dan yang paling sering adalah klien dengan riwayat hipertensi

pulmonal.

c. Pemeriksaan fisik : Review Of System (ROS)

1). Inspeksi

a). Vena-vena pada leher tidak terlihat kolaps pada saat inspirasi

b). Kelemahan

c). Dispnea

d). Sianosis pada jari

e). Perubahan Mental (Sinkope pada saat aktivasi).

2). Auskultrasi

a). Terdengar Graham steel murmur yang bersifat soft, blowing, high

pitch diastolic murmur, akibat adanya insusifisiensi relative katup

pulmonal.

b). Right ventricular lift dam right arterial gallop

c). Giant waves.

22
d. Pola Kebiasaan Sehari-hari

1). Aktivitas dan Istirahat

Gejala :

a). Mengeluh lemah, cepat lelah, pusing, rasa berdenyut dan berdebar.

b). Mengeluh sulit tidur (ortopneu, dispneu paroksimal nokturnal,

nokturia, keringat malam hari).

Tanda :

Takikardia, perubahan tekanan darah, pingsan karena kerja,

takpineu, dispneu.

2). Sirkulasi

Gejala :

Mengatakan memiliki riwayat demam reumatik hipertensi,

kongenital : kerusakan arterial septal, trauma dada, riwayat murmur

jantung dan palpitasi, serak, hemoptisi, batuk dengan/tanpa sputum,

riwayat anemia, riwayat shock hipovolema.

Tanda :

Getaran sistolik pada aspek, bunyi jantung; S1 keras, pembukaan

yang keras, takikardia. Irama tidak teratur; fibrilasi arterial.

23
3). Integritas Ego

Tanda :

Menunjukan kecemasan; gelisah, pucat, berkeringat, gemetar. Takut

akan kematian, keinginan mengakhiri hidup, merasa tidak berguna,

kepribadian neurotik.

4). Makanan/Cairan

Gejala :

Mengeluh terjadi perubahan berat badan, sering penggunaan diuretik.

Tanda :

Edema umum, hepatomegali dan sistes, pernafasan payah dan

bisisng terdengar krakela dan mengi.

5). Neurosensoris

Gejala :

Mengeluh kesemutan, pusing.

Tanda :

Kelemahan.

24
6). Pernafasan

Gejala :

Mengeluh sesak, batuk menetap atau nokturnal.

Tanda :

Takipneu, bunyi nafas; krekels, mengi, sputum berwarna bercak

darah, gelisah.

7). Keamanan

Gejala :

Proses infeksi/ sepsis, riwayat operasi.

Tanda :

Kelemahan tubuh

8). Penyuluhan/pembelajaran

Gejala :

Menanyakan tentang keadaan penyakitnya.

Tanda :

Menunjukan kurang informasi.

25
B. Diagnosa keperawatan

1. Gangguan pertukaran gas yang b.d. hipoksemia secara reversible/menetap,

refraktori dan kebocoran interstisial pulmonal/alveolar pada status cedera

kapiler paru.

2. Ketidakefektifan pola napas b.d. sempitnya lapang respirasi dan penekanan

toraks.

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. penurunan nafsu

makan (energi lebih banyak digunakan untuk usaha bernapas, sehingga

metabolism berlangsung lebih cepat).

C. Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Perencanaan
No Rasional
Keperawatan Tujuan Intervensi

1 Gangguan Tupan : 1. Pantau frekuensi, 1. Berguna dalam

pertukaran gas b.d. kedalaman evaluasi derajat


Gangguan
Hipoksemia secara pernapasan. Catat distress pernapasan
pertukaran gas dapat
reversible/menetap, penggunaan otot dan/atau kronisnya
teratasi
refraktori dan aksesori, nafas proses penyakit.

26
kebocoran Tupen : bibir,

interstisial tidakmampuan
Setelah dilakukan
pulmonal/alveolar bicara/ berbincang
tindakan selama
2. Pengiriman oksigen
pada status cedera
keperawatan selama 2. Tinggikan kepala
dapat diperbaiki
kapiler paru.
1x24 jam tidak tempat tidur, bantu
dengan posisi duduk
mengalami pasien untuk
tinggi dan latihan
hipoksemia dengan memilih posisi
nafas untuk
kriteria hasil : yang mudah untuk
menurunkan kolaps
bernapas.
a. Klien tidak jalan nafas, dispnea

mengalami sesak dan kerja nafas.

napas.
3. Awasi secara rutin 3. Sianosis mungkin

b. Tanda-tanda vital kulit dan warna perifer (terlihat pada

dalam batas membrane mukosa kuku) atau sentral

normal (terlihat sekitar

bibir/atau daun
c. Tidak ada tanda-
telinga).
tanda sianosis.
4. Berikan oksigen
4. Dapat
d. PaO2 dan PaC02
tambahan yang
memperbaiki/mence
dalam batas
sesuai dengan
gah memburuknya
normal
indikasi hasil GDA
hypoxia. Catatan:
e. Saturasi O2 dalam dan toleransi
emfisema kronis,
rentang normal pasien.
mengatur

27
pernapasan pasien

ditentukan oleh

kadar CO2 dan

mungkin dieluarkan

dengan peningkatan

PaO2 berlebihan.

2 Ketidakefektifan Tupan : 1. Berikan posisi 1. Memaksimalkan

pola napas b.d. fowler atau semi ekspansi paru,


Ketidakefektifan
Hipoksia. fowler menurunkan kerja
pola napas dapat
pernapasan, dan
teratasi
menurunkan resiko
Tupen :
aspirasi

Setelah dilakukan 2. Ajarkan teknik


2. Membantu
tindakan selama napas dalam dan
meningkatkan difusi
keperawatan selama atau pernapasan
gas dan ekspansi
1x24 jam tidak bibir atau
jalan napas kecil,
mengalami hipoksia pernapasan
memberika pasien
dengan kriteria hasil : diafragmatik
beberapa kontrol
abdomen bila
a. Pasien terhadap
diindikasikan
menunjukkan pernapasan,

frekuensi membantu

menurunkan

28
pernapasan yang ansietas.

efektif.
3. Mengetahui

b. Pasien bebas dari keadekuatan


3. Observasi TTV
dispnea, sianosis, frekuensi
(RR atau frekuensi
atau tanda-tanda pernapasan dan
permenit
lain distress keefektifan jalan

pernapasan napas.

3 Ketidakseimbangan Tupan : 1. Beri motivasi pada 1. Agar pasien mau

nutrisi kurang dari klien untuk memenuhi diet yang


Ketidakseimbangan
kebutuhan tubuh b.d. mengubah disarankan untuk
nutrisi kurang dari
Penurunan nafsu kebiasaan makan. kebutuhan nutrisi
kebutuhan tubuh dapat
makan dalam metabolism
teratasi

2. Mengurangi
Tupen : 2. Sajikan makanan
anorexia pada
untuk klien
Setelah dilakukan
pasien.
semenarik
tindakan selama
mungkin.
keperawatan selama

1x24 jam tidak 3. Pantau nilai 3. Untuk mengetahui

mengalami nafsu laboratorium, perkembangan

makan bertambah khususnya asupan gizi klien

dengan kriteria hasil : transferin, melalui sampel

29
a. Gizi untuk albumin, dan darah.

kebutuhan elektrolit

metabolik
4. Diskusikan dengan
4. Untuk bisa lebih
terpenuhi
ahli gizi dalam
tepat memberikan
b. Massa tubuh dan menentukan
diet kepada pasien
berat badan klien kebutuhan protein
sesuai zat gizi dan
berada dalam batas untuk klien.
kalori yang
normal.
dibutuhkan.

30
BAB IV

KESIMPULAN

A. Simpulan

Cor Pulmonale (CP) adalah suatu keadaan dimana terdapat hipertofi dan

atau dilatasi dari ventrikel kanan sebagai akibat dari hipertensi (arteri) pulmonal

yang disebabkan oleh penyakit intriksik dari parenkhim paru, dinding thoraks

maupun vaskuler paru. Karena itu untuk mendiagnosa CP maka harus

disingkirkan adanya Stenosis Mitral, Kelainan jantung Bawaan atau Gagal

Jantung Kiri yang juga dapat menyebabkan dilatasi dan hipertrofi ventrikel kanan.

CP dapat bersifat akut akibat adanya emboli paru yang masif, dapat juga bersifat

kronis.

Penyebab Cor Pulmonale adalah Penyakit menahun dengan hipoksia,

Kelainan dinding dada, Gangguan mekanisme kontrol pernafasan, Obstruksi

saluran nafas atas pada anak, Kelainan primer pembuluh darah.

B. Saran

Hindari obesitas/kegemukan dan kolestrol tinggi, berhenti merokok

merupakan target yang harus dicapai, juga hindari asap rokok dari lingkungan,

kurangi atau stop minuman beralkohol, melakukan olahraga secara teratur.

31
DAFTAR PUSTAKA

Boughman, Diane C & Hackley, Joann C.2000.Buku Saku Keperawatan Medical

Bedah.Jakarta:EGC

Wahid, Abad.2013.Buku Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem

Respirasi.IKAPI:Jakarta

Wilkinson, Judith. M.2002.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi

NIC dan Kriteria NOC.EGC:Jakarta