You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak-anak sangatlah berbeda dari orang dewasa baik secara fisiologis maupun
psikologis. Asuhan keperawatan pediatrik merupakan fenomena yang spesial. Untuk
menghadapi tantangan berespons terhadap kebutuhan anak, banyak fasilitas asuhan
keperawatan dewasa ini diperlengkapi dengan unit pediatrik terpisah, sehingga perawat
dan staf asuhan keperawatan profesional lainnya dapat memberikan terapi berdasarkan
kebutuhan individual pasiennya masing-masing. Namun, pada kenyataannya banyak
fasilitas asuhan kesehatan tidak memiliki ruangan berstandar tinggi seperti yang
dimaksud. Sebagai konsekuensi yang harus dipikul dalam penataan ruangan tersebut,
anak-anak yang menderita penyakit akut kadang-kadang tidak menerima perhatian
khusus serta perawatan yang mereka inginkan yang sepatutnya harus mereka dapatkan.
Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak, mengigat anak bagian
dari keluarga. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, kehidupan dan
kesehatan anak juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Hal ini dapat telihat bila
dukungan keluarga sangat baik maka pertumbuhan dan perkembangan anak relatif stabil,
tetapi bila dukungan pada anak kurang baik, maka anak akan mengalami hambatan pada
dirinya yang dapat menggangu psikologis anak. Anak dipandang sebagai individu yang
unik, yang punya potensi untuk tumbuh dan berkembang. Anak bukanlah miniature orang
dewasa, melainkan individu yang sedang berada dalam proses tumbuh kembang dan
mempunyai kebutuhan yang spesifik.
Sepanjang rentang sehat-sakit, anak membutuhkan bantuan perawat baik secara
langsung maupun tidak langsung sehingga tumbuh kembangnya dapat terus berjalan.
Orangtua diyakini sebagai orang yang paling tepat dan paling baik dalam memberikan
perawatan pada anak, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Keberadaan anak di
tengah-tengah keluarga sangat penting, baik dalam perawatan anak sehat, maupun saat
anak sakit. Keluarga dengan anak yang sedang sakit di rumah menuntut keluarga itu
sendiri untuk memberi perawatan yang optimal pada anak.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan Konsep Hospitalisasi?
1.2.2 Apakah yang dimaksud dengan Konsep atramatic care?
1.2.3 Apakah yang dimaksud Konsep beramain?

1.3 Tujuan Masalah


1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud konsep Hospitalisasi
1.3.2 Untuk mengetahui apa yang dimaksud konsep Atraumatic care
1.3.3 Untuk mengetahui apa yang dimaksud konsep Bermain
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Hospitalisasi


2.1.1 Definisi
Hospitalisasi adalah bentuk stressor individu yang berlangsung selama
individu tersebut dirawat dirumah sakit. Hospitalisasi merupakan suatu proses
yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk
tinggal di RS, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya ke rumah.
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individu karena
stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman, seperti:
a. Lingkungan yang asing
b. Berpisah dengan orang yang berarti
c. Kurang informasi
d. Kehilangan kebebasan dan kemandirian
e. Pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan , semakin sering
berhubungan dengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil
atau malah sebaliknya.
f. Prilaku petugas Rumah Sakit.

2.1.2 Perubahan Yang Terjadi Akibat Hospitalisai


a. Perubahan konsep diri.
Akibat penyakit yang di derita atau tindakan seperti pembedahan, pengaruh
citra tubuh , perubahan citra tubuh dapat menyebabkan perubahan peran , idial
diri, harga diri dan identitasnya.
b. Regresi
Klien mengalami kemunduran ketingkat perkembangan sebelumnya atau lebih
rendah dalam fungsi fisik, mental, prilaku dan intelektual.
c. Dependensi
Klien merasa tidak berdaya dan tergantung pada orang lain.
d. Dipersonalisasi
Peran sakit yang dialami klien menyebabkan perubahan kepribadian, tidak
realistis, tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, perubahan
identitas dan sulit bekerjasama mengatasi masalahnya.
e. Takut dan Ansietas
Perasaan takut dan ansietas timbul karena persepsi yang salah terhadap
penyakitnya.
f. Kehilangan dan perpisahan
Kehilangan dan perpisahan selama klien dirawat muncul karena lingkungan
yang asing dan jauh dari suasana kekeluargaan, kehilangan kebebasan,
berpisah dengan pasangan dan terasing dari orang yang dicintai.
2.1.3 Reaksi Anak Terhadap Hospitalisasi
Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia
perkembangan anak,pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung
yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya, pada umumnya, reaksi
anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan
tubuh,dan rasa nyeri.
Reaksi anak pada hospitalisasi :
1. Masa bayi(0-1 th)
a. Dampak perpisahan
b. Pembentukan rasa P.D dan kasih sayang
c. Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas
 Menangis keras
 Pergerakan tubuh yang banyak
 Ekspresi wajah yang tak menyenangkan
2. Masa todler (2-3 th)
Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan .Disini respon perilaku anak
dengan tahapnya.
 Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain
 Putus asa menangis berkurang,anak tak aktif,kurang menunjukkan minat
bermain, sedih, apatis
 Pengingkaran/ denial
 Mulai menerima perpisahan
 Membina hubungan secara dangkal
 Anak mulai menyukai lingkungannya

3. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun )


 Menolak makan
 Sering bertanya
 Menangis perlahan
 Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan

Perawatan di rumah sakit :

 Kehilangan kontrol
 Pembatasan aktivitas

Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada


perasaan malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah,
berontak,tidak mau bekerja sama dengan perawat.

4. Masa sekolah 6 sampai 12 tahun


Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang
dicintai , keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan.
Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm keluarga,
kehilangan kelompok sosial, perasaan takut mati, kelemahan fisik. Reaksi
nyeri bisa digambarkan dengan verbal dan non verbal.

5. Masa remaja (12 sampai 18 tahun )


Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Saat
MRS cemas karena perpisahan tersebut. Pembatasan aktifitas kehilangan
control Reaksi yang muncul :
 Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan
 Tidak kooperatif dengan petugas
Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon :

 Bertanya-tanya
 Menarik diri
 Menolak kehadiran orang lain

2.1.4 Reaksi Orang Tua Terhadap Hospitalisasi


Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi & Perasaan yang muncul dalam
hospitalisasi:
a. Takut dan cemas,perasaan sedih dan frustasi
b. Kehilangan anak yang dicintainya:
 Prosedur yang menyakitkan
 Informasi buruk tentang diagnosa medis
 Perawatan yang tidak direncanakan
 Pengalaman perawatan sebelumnya & Perasaan sedih:
Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain &
Perasaan frustasi: Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak
kooperatif, putus asa, menolak tindakan, menginginkan P.P & Reaksi
saudara kandung terhadap perawatan anak di RS: Marah, cemburu, benci,
rasa bersalah
c. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah: - Surat menyurat, bertemu
teman sekolah
Mencegah perasaan kehilangan kontrol:
 Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif.
 Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan
 Buat jadwal untuk prosedur terapi,latihan,bermain
 Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang
tua dalam perencanaan kegiatan.
Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri:

 Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang
menimbulkan rasa nyeri
 Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak
 Menghadirkan orang tua bila memungkinkan
 Tunjukkan sikap empati
 Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang
dilakukan melalui cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang
kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka.

Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak:

 Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk


belajar
 Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak.
 Meningkatkan kemampuan kontrol diri.
 Memberi kesempatan untuk sosialisasi.
 Memberi support kepada anggota keluarga.

Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit

 Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak.


 Mengorientasikan situasi rumah sakit.

Pada hari pertama lakukan tindakan :

 Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya


 Kenalkan pada pasien yang lain.
 Berikan identitas pada anak.
 Jelaskan aturan rumah sakit.
 Laksanakan pengkajian .
 Lakukan pemeriksaan fisik.
2.2 Konsep Atraumatic Care
2.2.1 Definisi
Atraumatic care adalah asuhan keperawatanj yang tidak menimbulkan trauma
pada anak dan keluarganya merupakan asuhan yang teurapetik karena bertujuan
sebagai therapi pada anak. Atraumatic care merupakan bentuk perawatan
teurapetik yang diberikan oleh tenaga kesehatan dalam tatanan kesehatan anak,
melalui penggunakan tindakan yang dapat mengurangi stres fisik maupun stres
psikologis yang dialami anak maupun orang tuanya. Atraumatic care bukan suatu
bentuk intervensi yang nyata terlihat, tetapi memberikan perhatian pada apa,
siapa, dimana, mengapa dan bagaimana prosedur dilakukan pada anak
dengantujuan mencegah dan mengurangi stres fisik maupun psikologis.
Sedangkan Hospitalisasi adalah Suatu proses karena suatu alasan darurat atau
berencana mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Selama proses tersebut bukan
saja anak tetapi orang tua juga mengalami kebiasaan yang asing,lingkunganya
yang asing,orang tua yang kurang mendapat dukungan emosi akan menunjukkan
rasa cemas.Rasa cemas pada orang tua akan membuat stress anak
meningkat.Dengan demikian asuhan keperawatan tidak hanya terfokus pada anak
tetapi juga pada orang tuanya
2.2.2 Prinsip-prinsip atraumatic care
Atraumatic care sebagai bentuk perawatan therapetik dapat diberikan pada
anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan
keperawatan yang diberikan, seperti memperhatikan dari dampak tindakan yang
diberikan dengan melihat prosedur tindakan atau aspek lain yang kemungkinan
berdampak adanya trauma.
1. Prinsip-prinsip yang dilakukan oleh perawat yaitu :
a. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga
Dampak perpisahan dari keluarga, anak mengalami gangguan psikologis
seperti kecemasan, ketakutan, dan kurangnya kasih sayang. Gangguan ini
akan menghambat proses penyambuhan anak dan dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan anak.
b. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontril perawatan anak
Melalui peningkatan kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak
mampu mandiri dalam kehidupannya, anak akn selalu berhati-hati dalam
melakukan aktivitas sehari-hari, slalu bersikan waspada dalam segala hal,
serta pendidikan terhadap kemampuan dan keterampilan orang tua dalam
mengawasi perawatan anaknya.
c. Mencegah dan mengurangi cedera (injury) nyeri (dampak psikologis)
Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam
keperawatan anak. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa
dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai
teknik misalnya distraksi, relaksasi, imaginary. Apabila tindakan
pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama
pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan
anak.
d. Tidak melakukan kekerasan pada anak. Kekerasan pada anak akan
menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan
anak. Apabila terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka
kemungkinan pencapaian kematangan akan terlambat, dengan demikian
tindakan kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena akan
memperberat kondisi anak.

2. Modifikasi lingkungan fisik


Melalui modifikasi lingkungan fisik yang bernuansa anak dapat
meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dsan nyaman bagi lingkungan anak
sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman di
lingkungannya.Faktor predisposisi terjadinya trauma pada anak yang
mengalami hospitalisasi diantaranya dampak lingkungan fisik rumah sakit dan
perilaku petugas itu sendiri sering kali menimbulkan trauma pada anak.
Lingkungan rumah sakit yang asing bagi anak maupun orang tuanya dapat
menjadi stressor.
2.3 Konsep Bermain
2.3.1 Pengertian
Bermain adalah cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam
dirinya yang tidak disadari. Dengan bermain anak dapat menemukan dan
mengatur kelangsungan tumbuh kembangnya, bila anak merasa senang dengan
apa yang dilakukannya maka dia akan mencoba mengulang aktifitas tersebut dan
juga mencoba aktifitas lain. Sebaliknya jika kegiatan tersebut tidak disukai dan
tidak bermanfaat maka ia akan tinggalkan dan tidak akan melanjutkan permainan
tersebut.
2.3.2 Klasifikasi Bermain
Menurut isinya bermain terbagi menjadi social affective play, Sense of plessure
play, Skill play dan dramatic play:
1. Social Affective Play
Pada social affective play anak belajar memberi respon terhadap respon yang
diberikan oleh lingkungan terhadapnya dalam bentuk permainan, misalnya
orang tua berbicara atau memanjakan dan anak tertawa senang.
2. Sense Of Plessure Play
Anak memperoleh kesenangan dari satu objek yang ada disekitarnya,
misalnya bermain air atau pasir.
3. Skill Play
Permainan yang memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh
ketrampilan tertentu dan anak akan melakukan secara berulang-ulang,
misalnya mengendarai sepeda.
4. Dramatic Play
Dramatic play atau Role Play anak akan berfantasi menjalankan peran
tertentu , misalnya menjadi ayah, ibu, perawat, atau guru.
Menurut karakteristik sosial bermain terdiri dari Solitary play, Paralel
Play,Assosiative Play dan Cooperative Play.

1. Solitary Play
Dilakukan oleh anak usia Toddler, merupakan jenis permainan dimana anak
bermain sendiri walaupun ada orang lain yang berada disekitarnya.
2. Parallel Play
Permainan sejenis dilakukan oleh satu kelompok anak Toddler atau preschool
yang masing-masing mempunyai mainan yang sama tetapi antara satu dengan
yang lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung.
3. Assosiative play
Merupakan permainan dimana anak bermain dalam kelompok dengan aktifitas
yang sama tetapi belum terorganisasi dengan baik, jadi belum ada pembagian
tugas diantara anak dan mereka yang bermain sesuai dengan keinginannya.
4. Cooperative Play
Merupakan permainan dimana anak bermain bersama dengan jenis permainan
yang terorganisasi, terencana dan ada aturan-aturan tertentu. Permainan ini
dilakukan oleh anak usia sekolah atau adolesence.
2.3.3 Fungsi Bermain
Fungsi bermain bagi anak terutama dapat mengatur kelangsungan
perkembangan, yang mencakup perkembangan sensori motorik, kognitif,
kreatifitas sosial, kesadaran diri, moral, terapi dan komunikasi.
1. Perkembangan Sensory Motorik
Aktifitas sensory motorik adalah komponen yang terbesar dalam permainan
bagi semua tingkat usia. Permainan yang aktif dengan menggunakan suatu
obyek adalah penting untuk perkembangan otot-otot/gerak.
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan ini diperoleh dengan melakukan explorasi dan manipulasi
benda-benda sekitarnya baik dalam hal warna, bentuk, ukuran dan pentingnya
benda tersebut. Anak juga belajar bagaimana menggunakannya,
menghubungkan kata-kata dengan obyek/benda tersebut dan mengembangkan
pengertian tentang konsep yang abstrak misalnya atas, bawah, dibawah dan
diatas. Selain perkembangan kognitif, perkembangan bahasa juga diperoleh
dengan cara pengalaman yang lalu dan menggabungkannya dengan persepsi
baru.
3. Perkembangan Kreatifitas
Perkembangan kreatifitas sangat mungkin diperoleh karena anak dapat
melakukan percobaan tentang ide mereka dalam permainan melalui semua
media. Kreatifitas terutama diperoleh sebagai hasil permainan solitary dan
group. Seorang anak yang merasa puas dengan kreatifitasnya yang baru dan
beda akan membawa minatnya terhadap lingkungannya.
4. Perkembangan Sosial
Perkembangan ini diperoleh karena dengan bermain anak belajar berinteraksi
dengan orang lain dan mempelajari peran dalam kelompok. Sebenarnya sejak
bayi anak sudah mulai menunjukkan perhatian dan kesenangannya dalam
berhubungan dengan orang lain, tetapi melalui permainan dengan anak yang
lainnya, meraka dapat mengembangkan hubungan sosial dan memecahkan
masalahnya yang berhubungan dengan masalah sosial tersebut.
5. Perkembangan Kesadaran Diri
Kesadaran diri dapat diperoleh dengan bermain, sebab anak belajar
memahami kemampuan dirinya, kelemahannya dan tingkah lakunya terhadap
orang lain.
6. Perkembangan Moral
Perkembangan moral dapat diperoleh dari permainan dengan adanya interaksi
dengan teman selama melakukan permainan, walaupun pemahaman yang
mendasar dari orang tua, guru atau orang lain sekitarnya. Dengan bemain anak
akan bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkan, karenanya anak akan
menyesuaikan dengan aturan-aturan kelompok dan bersikap jujur terhadap
kelompok.
7. Terapi
Bermain juga berfungsi sebagai terapi, karena dapat memberi kesempatan
pada anak untuk mengekspresikan perasaan yang tidak enak, misalnya marah ,
benci, kesal atau takut.
8. Komunikasi
Bermain dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bermain
merupakan alat komunikasi terutama anak yang belum dapat menyatakan
perasaannya secara verbal, misalnya melukis, menggambar atau bermain
peran.
2.3.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bermain
Aktifitas bermain dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: Tahap
perkembangan, status kesehatan, jenis kelamin, lingkungan dan alat
permainannya cocok atau tidak. Setiap tahap perkembangan mempunyai potensi
atau keterbatasan, anak usia BATITA mempunyai potensi untuk melakukan
serangkaian permainan tertentu tetapi juga mempunyai keterbatasan dimana
belum dapat mencapai kemampuan seperti anak di atas usianya yaitu anak usia
pra sekolah. Kondisi ini mempengaruhi permainan yang dibutuhkannya. Status
kesehatan anak juga mempengaruhi aktifitas bermain karena anak dalam keadaan
sakit kemampuan psikomotor maupun kognitifnya terganggu.
Pada tahap usia tertentu jenis kelamin mempengaruhi aktifitas misalnya
pada usia sekolah anak laki-laki tidak mau bermain dengan anak wanita. Dengan
demikian jenis permainan yang dipilih sesuai dengan minat atau interes kelompok
kelamin tersebut. Lingkungan dapat mempengaruhi aktifitas bermain. Sesuai
dengan lokasi tempat tinggal atau suku bangsa, maka budaya juga mempunyai
karakteristik yang berbeda. Hal ini berpengaruh dalam setiap gerak kehidupannya.
Dengan demikian kehidupan anak tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bermain.
Hal lain yang berpengaruh terhadap aktifitas bermain adalah alat permainan itu
sendiri. Alat permainan yang dipilih harus sesuai dengan tahap perkembangan
anak sehingga anak akan dapat menggunakannya dan memperoleh kepuasan.

2.3.5 Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Perkembangan


Dalam memilih permainan harus memperhatikan kebutuhan anak sehingga
tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya. Latar belakang, budaya, sex, status
kesehatan dan lingkungan dimana anak berada.
Adapun jenis permainan yang dapat diberikan kepada anak berdasarkan tingkat
usia adalah sebagai berikut:
1. Bayi (1 Bulan)
Secara visual permainan dapat dilihat dalam jarak dekat misalnya dengan
menggantikan benda yang terang/menyolok. Berbicara dengan bayi, menyanyi
atau bercanda adalah permainan yang dapat merangsang pendengarannya
sedangkan secara tactile dilakukan dengan memeluk dan menggendong
(memberi kehangatan). Secara kinetik permainan dapat dilakukan dengan
mengajak atau naik kereta untuk jalan-jalan.
2. Bayi (2 – 3 Bulan)
Secara visual permainan dapat dilakukan dengan membuat ruangan
menjadi terang atau memasang gambar-gambar di dinding. Untuk
perangsangan auditory permainan dapat dilakukan dengan berbicara dengan
bayi, mainan bunyi-bunyian atau mengikut sertakan bayi dalam pertemuan
keluarga. Secara tactile permainan dapat dilakukan dengan membelai pada
waktu memandikan, mengganti pakaian atau menyisir rambut sedangkan
secara kinetik sama halnya dengan bayi usia 1 bulan yaitu jalan-jalan dengan
kereta atau gerakan-gerakan berenang pada saat mandi.
3. Bayi (4 – 6 Bulan)
Secara visual permainan dapat dilakukan dengan memberi cermin,
mengajak nonton TV, atau mainan yang berwarna terang. Melalui
pendengaran anak dapat bermain dengan mengajak bicara, mengulangi suara-
suara yang dibuatnya atau memanggil nama. Selain itu dapat juga dengan
meremas kertas di dekat telinga atau memegang mainan yang berbunyi. Untuk
perangsangan tactile anak dapat diberi mainan dengan berbagai texture baik
lembut atau kasar dan bermain pada saat mandi. Sedangkan untuk
perkembangan kinetik dapat dilakukan dengan membantu anak untuk
tengkurap atau menyokong waktu duduk.
4. Bayi (6 – 9 Bulan)
Permainan yang dapat dilakukan untuk pemasangan visual adalah bermain
warna gelap atau bunyi yang lebih khas atau berbicara sendiri di depan kaca.
Selain itu juga dapat dilakukan permainan ciluk ba atau merobek-robek kertas.
Untuk pendengaran dapat dilakukan dengan memanggil nama, mama, papa
dan bagian-bagian tubuh, dapat juga anak diajarkan tepuk tangan atau dengan
memberi perintah yang sederhana. Secara taktil permainan dapat dilakukan
dengan cara meraba bermacam-macam texture dan ukuran. Selain itu dengan
main air yang mengalir atau berenang. Untuk perangsangan kinetik dapat
dilakukan permainan dengan menggunakan kereta bayi, berjalan, atau
meletakkan mainan yang agak jauh lalu disuruh mengambil.
5. (Bayi (9 – 12 Bulan)
Secara visual permainan yang dapat dilakukan adalah dengan
memperlihatkan gambar-gambar dalam buku atau mengajak jalan-jalan ke
berbagai rumput. Disamping itu juga dengan menunjukkan bangunan yang
agak jauh. Perangsangan auditori dilakukan dengan menunjukkan bagian-
bagian tubuh dan menyebutkannya atau memperkenalkan suara-suara
bianatang. Secara taktil dapat dilakukan dengan memberi makanan yang dapat
dipegang atau memperkenalkan benda dingin atau panas. Untuk gerak dapat
diberikan mainan yang dapat ditarik atau didorong.
6. Toddler (2 – 3 Tahun)
Anak pada usia ini sudah dapat berjalan, memanjat, atau berlari dan dapat
memainkan sesuatu dengan tangannya. Disamping itu anak senang melempar,
mendorong, atau mengambil sesuatu. Anak mulai mengerti arti “memiliki”.
Dengan karakteristik bermain yang paralel play, anak toddler seringkali
bertengkar memperebutkan mainan. Pada usia ini juga anak mulai
menyenangi musik atau irama.
7. Pre School (3 – 5 Tahun)
Sesuai dengan tingkatnya bahwa anak sudah menjalani perkembangan
gross motor dan fine motor. Anak dapat melompat, berlari, atau main sepeda
karena sangat energetic dan juga imaginatif anak sudah dapat bermain dengan
kelompok dan karakteristik bermainnya adalah assosiatif play, dramatic play
dan skill play.
8. Usia Sekolah (6 – 12 Tahun)
Pada usia ini anak dapat bermain dengan kelompok yang berjenis kelamin
sama dan dapat belajar untuk independent, cooperative, bersaing atau
menerima orang lain dan tingkah laku yang diterima. Dengan demikian
karakteristik permainannya adalah cooperative play dan anak laki-laki sifatnya
mekanikal sedang anak wanita mothers role.
9. Adolescent (13 – 18 Tahun)
Pada usia ini anak dapat bermain dalam kelompok (keluar), misalnya
melalui sepak bola, basket, badminton, mendengar musik atau TV serta
dengan buku-buku.
Bermain Di Rumah Sakit Dan Usaha Perawat Dalam Melakukan Aktifitas Bermain
Di Rumah Sakit

Bagi anak yang dirawat di rumah sakit, bermain sangat penting untuk
menghilangkan ketakutan dan kecemasan, mengekspresikan perasaan dan mengurangi
trauma sakit akibat hospitalisasi. Perawat dapat membantu anak yang diawali dengan
membina hubungan saling percaya, sehingga dalam bermain anak dapat mengekspresikan
perasaannya secara terbuka, selain itu untuk pemenuhan kebutuhannya secara mandiri
anak dapat dilatih secara perlahan-lahan dengan melakukan permainan yang
menggunakan ketrampilan gerak. Untuk itu perlu diperhatikan Tujuan dan Prinsip-prinsip
bermain sebagai berikut :

A. Tujuan Bermain Di Rumah Sakit


Tujuan bermain di rumah sakit bagi anak :
1. Dapat melanjutkan tumbuh kembang selama perawatan sehingga kelangsungan
tumbuh kembang dapat berjalan.
2. Dapat mengembangkan kreatifitas melalui pengalaman bermain yang tepat.
3. Dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena penyakit atau dirawat di
rumah sakit.
B. Prinsip-Prinsip Bermain Di Rumah Sakit
Dalam melakukan aktifitas bermain di Rumah Sakit, perawat hendaknya
memperhatikan prisip-prinsip sebagai berikut :
1. Tidak banyak energi, singkat dan sederhana
2. Memperhatikan keamanan dan infeksi silang
3. Kelompok umur sama
4. Permainan tidak bertentangan dengan pengobatan
5. Melibatkan keluarga atau orang lain
C. Upaya Perawat Dalam Melaksanakan Bermain Di Rumah Sakit
Usaha-usaha yang dapat dilakukan perawat untuk memberi kesempatan bermain
selama anak dirawat di rumah sakit adalah dengan melakukan aktifitas bermain
bersamaan dengan tindakan keperawatan atau dengan sengaja memberikan
kesempatan untuk bermain.
Dalam melaksanakan aktifitas bermain di rumah sakit, beberapa hal yang perlu
diperhatikan adalah:
1. Alat-alat Bermain
Alat-alat bermain yang diperlukan sesuai dengan perkembangan anak,
antara lain boneka, mobil-mobilan, bata, balon, lilin, kertas gambar, pensil
gambar dsb. Dalam menyediakan lalat-alat tersebut orang tua dapat dilibatkan
yaitu dengan membawa mainan dari rumah yang digunakan anaknya.
2. Tempat Bermain
Untuk tempat bermain diperlukan ruangan khusus yang diatur sedemikian
rupa, sehingga ruangan tersebut menyenangkan bagi anak. Keuntungan dengan
adanya ruangan khusus adalah jika sewaktu-waktu ingin bermain anak dapat
melakukan tanpa harus menyesuaikan dengan kegiatan ruangan atau anak-anak
lain. Disamping itu perawat lebih mudah mengadakan pengawasan. Bila anak
mempunyai keterbatasan, belum mampu mobilisasi keluar ruangan atau tempat
khusus tidak ada, anak tetap dapat melakukan ditempat tidur, tetapi tetap harus
memperhatikan prinsip-prinsip bermain di rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat.A.A.2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Salemba Medika : Jakarta

Supartini (2004). Buku ajar: Konsep Dasar Keperawatan Anak. EGC, Jakarta

Wong, D.L, et all. (2009). Wong, Buku Ajar Keperawatan Pediatric. (6th ed.). Missouri;
Mosby

Yuliastati dan arnis Amelia.2016.Keperawatan Anak (Modul bahan ajar cetak


keperawatan.Kementrian Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta.
PAPER KEPERAWATAN ANAK

KONSEP DASAR KEPERAWATAN ANAK I

OLEH:

Gede Wahyu Septiana (17.321.2720)

Ni Luh Ayu Listyawati (17.321.2735)

Ni Luh Desy Purwaningsih (17.321.2737)

Ni Luh Putu Widhi Astiti Rahayu (17.321.2742)

Ni Wayan Ayu Febriyani (17.321.2753)

Putu Bagus Warsa Wardana (17.321.2758)

Putu Kola Indriani (17.321.2760)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

2019