You are on page 1of 11

PANDUAN

PROGRAM PENGENDALIAN
PENYAKIT KUSTA
PUSKESMAS KARANGANYAR I

PUSKESMAS KARANGANYAR 1 DEMAK


Jl. Demak – Kudus Km 19 Demak
Kode Pos 59582
Telepon . (0291) 432542 email :
puskesmaskaranganyar1@yahoo.com
puskesmas1 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak
PENYELENGGARAAN PROGRAM PENGENDALIAN
PENYAKIT KUSTA

No. Dokumen : PANDUAN-....UKM/..../ 2018


P
A No. Revisi :0
N
D
U Tanggal Terbit : januari 2018
PEMERINTAH
A PUSKESMAS
KAB. DEMAK
N KARANGANYAR I

PANDUAN
PROGRAM PENGENDALIAN
PENYAKIT KUSTA

DINAS KESEHATAN DEMAK


PUSKESMAS KARANGANYAR I

puskesmas2 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


LEMBAR PENGESAHAN

PANDUAN
PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT KUSTA
PUSKESMAS KARANGANYAR I DEMAK

Demak, Januari 2018


Mengetahui,
Kepala Puskesmas Karanganyar I Penanggungjawab Penyakit Kusta

dr. Siti Anisah Joko Sutoko,S .Kep


NIP. 19701124200701 2 009 NIP. 197209081994031004

puskesmas3 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


DAFTAR ISI

BAB I : DEFINISI

BAB II : RUANG LINGKUP

BAB III : TATA LAKSANA

BAB IV : DOKUMENTASI

puskesmas4 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


BAB I
DEFINISI

1. Definisi Kusta
Kusta adalah penyakit menular, menahun disebabkan oleh Mycobacterium
Kustae yang bersifat intraseluler obligat. Penularan kemungkinan terjadi
melalui saluran pernapasan atas dan kontak kulit pasien lebih dari 1 bulan
terus menerus. Masa inkubasi rata-rata 2,5 tahun, namun dapat juga
bertahun-tahun.
2. Anamnesa
Hasil Anamnesis (Subjective) : Keluhan Bercak kulit berwarna merah atau
putih berbentuk plakat, terutama di wajah dan telinga. Bercak kurang/mati
rasa, tidak gatal. Lepuh pada kulit tidak dirasakan nyeri. Kelainan kulit tidak
sembuh dengan pengobatan rutin, terutama bila terdapat keterlibatan saraf
tepi. Faktor Risiko :
a. Sosial ekonomi rendah.
b. Kontak lama dengan pasien, seperti anggota keluarga yang didiagnosis
dengan kusta.
c. Imunokompromais
d. Tinggal di daerah endemik kusta
Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective).
Pemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis
a. Tanda-tanda pada kulit
Perhatikan setiap bercak, bintil (nodul), bercak berbentuk plakat dengan
kulit mengkilat atau kering bersisik. Kulit tidak berkeringat dan berambut.
Terdapat baal pada lesi kulit, hilang sensasi nyeri dan suhu, vitiligo. Pada
kulit dapat pula ditemukan nodul.
b. Tanda-tanda pada saraf
Penebalan nervus perifer, nyeri tekan dan atau spontan pada saraf,
kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota gerak, kelemahan
anggota gerak dan atau wajah, adanya deformitas, ulkus yang sulit
sembuh.Ekstremitas dapat terjadi mutilasi.
3. Penegakan Diagnosis (Assessment)

puskesmas5 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan apabila terdapat satu dari tanda-tanda
utama atau cardinal (cardinal signs), yaitu:
Tanda utama Kusta tipe PB dan MB PB MB
Bercak Kusta Jumlah 1-5 Jumlah > 5
Penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi
Hanya 1 Lebih dari 1
(mati rasa dan atau kelemahan otot, di daerah
saraf saraf
yang dipersarafi saraf yang bersangkutan)
Kerokan jaringan kulit BTA negatif BTA positif
1. Kelainan (lesi) kulit yang mati rasa

2. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf

3. Adanya basil tahan asam (BTA) dalam kerokan jaringan kulit (slit skin smear)

Sebagian besar pasien Kusta didiagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis.


Klasifikasi Kusta terdiri dari 2 tipe, yaitu Pausibasilar (PB) dan Multibasilar
(MB).

Diagnosis Banding

a. Bercak eritema

1. Psoriasis

2. Tinea circinata

3. Dermatitis seboroik

b. Bercak putih

puskesmas6 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


1. Vitiligo

2. Pitiriasis versikolor

3. Pitiriasis alba

c. Nodul

1. Neurofibromatosis

2. Sarkoma Kaposi

3. Veruka vulgaris

Faktor pencetus reaksi tipe 1 dan tipe 2


Reaksi Tipe 1 Reaksi Tipe 2
Pasien dengan bercak multiple dan Obat MDT, kecuali lampren
diseminata, mengenai area tubuh yang
luas sertaketerlibatan saraf multipel
Bercak luas pada wajah dan lesi dekat BI >4+
mata, berisiko terjadinya lagoftalmos
karena reaksi
Saat puerpurium (karena peningkatan Kehamilan awal (karena stress mental),
CMI). Paling tinggi 6 bulan pertama trisemester ke-3, dan puerpurium
setelah melahirkan/ masa menyusui (karena stress fisik), setiap masa
kehamilan (karena infeksi penyerta
Infeksi penyerta: Hepatitis B dan C Infeksi penyerta: streptokokus, virus,
cacing, filarial, malaria
Neuritis atau riwayat nyeri saraf Stress fisik dan mental
Lain-lain seperti trauma, operasi, imunisasi protektif, tes Mantoux positif kuat, minum
kalium hidroksida.
4. Penatalaksanaan
a. Pasien diberikan informasi mengenai kondisi pasien saat ini, serta
mengenai pengobatan serta pentingnya kepatuhan untuk eliminasi
penyakit.
b. Hygiene diri dan pola makan yang baik perlu dilakukan.
c. Pasien dimotivasi untuk memulai terapi hingga selesai terapi dilaksanakan.
d. Terapi menggunakan Multi Drug Therapy (MDT) pada:
e. Pasien yang baru didiagnosis kusta dan belum pernah mendapat MDT.
f. Pasien ulangan, yaitu pasien yang mengalami hal-hal di bawah ini:

puskesmas7 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


1) Relaps
2) Masuk kembali setelah default (dapat PB maupun MB)
3) Pindahan (pindah masuk)
4) Ganti klasifikasi/tipe
g. Terapi pada pasien PB:
1) Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya (obat diminum di
depan petugas) terdiri dari: 2 kapsul rifampisin @ 300mg (600mg) dan
1 tablet dapson/DDS 100 mg.
2) Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1 tablet dapson/DDS
100 mg. 1 blister obat untuk 1 bulan.
3) Pasien minum obat selama 6-9 bulan (± 6 blister).
4) Pada anak 10-15 tahun, dosis rifampisin 450 mg, dan DDS 50 mg.
h. Terapi pada Pasien MB:
1) Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya (obat diminum di
depan petugas) terdiri dari: 2 kapsul rifampisin @ 300mg (600mg), 3
tablet lampren (klofazimin) @ 100mg (300mg) dan 1 tablet
dapson/DDS 100 mg.
2) Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1 tablet lampren 50
mg dan 1 tablet dapson/DDS 100 mg. 1 blister obat untuk 1 bulan.
3) Pasien minum obat selama 12-18 bulan (± 12 blister).
4) Pada anak 10-15 tahun, dosis rifampisin 450 mg, lampren 150 mg dan
DDS 50 mg untuk dosis bulanannya, sedangkan dosis harian untuk
lampren 50 mg diselang 1 hari.
i. Dosis MDT pada anak <10 tahun dapat disesuaikan dengan berat badan:
1) Rifampisin: 10-15 mg/kgBB
2) Dapson: 1-2 mg/kgBB
3) Lampren: 1 mg/kgBB
4) Obat penunjang (vitamin/roboransia) dapat diberikan vitamin B1, B6,
dan B12.
5) Tablet MDT dapat diberikan pada pasien hamil dan menyusui. Bila
pasien juga mengalami tuberkulosis, terapi rifampisin disesuaikan
dengan tuberkulosis.
6) Untuk pasien yang alergi dapson, dapat diganti dengan lampren, untuk
MB dengan alergi, terapinya hanya 2 macam obat (dikurangi DDS).

puskesmas8 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


5. Pencatatan dan Pelaporan
a. Petugas mengisi Kartu Penderita ( lampiran 1 )
b. Petugas mengisi register/ monitoring penderita PB/ MB (lampiran 2)
c. Petugas mengisi formulir pencatatan pencegahan cacat (lampiran 3)
d. Petugas mengisi formulir evaluasi pengobatan reaksi ( lampiran 4 ) jika ada
penderita reaksi
e. Petugas membuat surat/ bon untuk meminta obat/ MDT ke DKK
f. Petugas membuat laporan kusta setiap bulan ke DKK

BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup Pedoman Program Pengendalian Penyakit Kusta yang


dimaksud meliputi pelayanan pengendalian penyakit kusta yaitu :
2. Penemuan penderita secara aktip dan pasif.
3. Pengawasan pengobatan,POD dan perawatan diri.
4. Melacak kasus mangkir.
5. Supervisi dan bimbingan tehnis.
6. Pertemuan tehnis progam kusta.
7. Pembinaan mantan dan penderita kusta.
8. Pengelolaan obat dan logistik.
9. Pencatatan dan pelaporan.

puskesmas9 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


BAB III
TATALAKSANA PELAYANAN

A. LingkupKegiatan
Lingkup kegiatan program pengendalian penyakit kusta meliputi pelayanan
penemuan kasus dini, pemeriksaan POD, pengobatan MDT.

B. Metode
Peningkatan mutu dari program pengendalian penyakit kusta dapat dilakukan
dengan cara melihat status pasien berkunjung berobat ke klinik kusta , peran
keluarga,lingkungan, khohot pasien dan peran masyarakat, serta dengan melihat
cakupan dari kegiatan pengendalian penyakit kusta yang dilaksanakan.
C. Langkah Kegiatan
Kegiatan disesuaikan dengan matriks Puskesmas Karanganyar I mengenai
rehabilitasi berbasis masyarakat dimana kegiatan merupakan kebutuhan yang
dibutuhkan oleh masyarakat.
1. Kesehatan Rehabilitasi Medis
a. Memperbaiki sistem rujukan dan mengembangkan jejaring dengan
layanan rehabilitasi medis.
b. Meningkatkan kemampuan petugas.
c. Memfasilitasi akses kepada penyediaan alat bantu (alat bantu kaki)
d. Membentuk dan memfasilitasi kelompok perawatan diri (KPD)
2. Pendidikan
a. Melakukan sosialiasi di sekolah tentang kusta dan kecacatannya.
b. Melakukan penyuluhan tentang hak anak untuk mendapatkan pendidikan
dan perlakuan yang sama disekolah.
3. Kehidupan Sosial Ekonomi dan Pemberdayaan
a. Membentuk kelompok mandiri (self help group)
b. Memfasilitasi klien untuk konseling dan mendapatkan bantuan dari
program pemberdayaan sosial ekonomi yang ada di masyarakat.

puskesmas1 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


0
BAB IV
DOKUMENTASI

1. PMK Nomor 5 Tahun 2014 Tentang PANDUAN PRAKTIK KLINIS BAGI


DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PRIMER
2. PMK Nomor 82 Tahun 2014 Tentang PENANGGULANGAN PENYAKIT
MENULAR
3. Kementrian Kesehatan RI Deriktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan
tahun 2012
4. Laporan Bulanan,Kohot penderita Kusta.
5. SOP Penanganan Tata laksana Penderita Kusta

6. SOP Mangkir penderita Kusta

puskesmas1 Panduan Program Pengendalian Penyakit Kusta| puskesmas Karanganyar 1 Demak


1