You are on page 1of 16

ANALISIS CARA MENINGKATKAN MINAT SISWA DALAM

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMPN 23 TANGERANG

(Dosen Pengampuh: Goziah, M.Pd)

Disusun oleh:

Nama : Dimas Aulia N


Nim: 1588201084

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG


2018
ABSTRAK

Masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran masih didominasi oleh guru yang kurang
menentukan dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai, sehingga pembelajaran yang
dilakukan di Kelas VII-A SMPN 23 Tangerang dalam menulis sebuah puisi bebas kurang efektif.
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti mencoba melakukan suatu tindakan pembaharuan
dengan menggunakan suatu media pembelajaran yaitu media Teknik Permainan Bahasa.
Diharapkan dengan adanya media pembelajaran seperti ini dapat meningkatkan kemampuan atau
hasil belajar siswa dalam menulis puisi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah
media Teknik Permainan Bahasa dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua
siklus, dimana setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dengan rincian kegiatan setiap pertemuan
sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik permainan bahasa dapat meningkatkan
kemampuan menulis puisi siswa di Kelas VII-A SMPN 23 Tangerang pada sub pokok bahasan
menulis puisi bebas. Hal ini dapat dilihat dari data berikut :

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pengajaran Bahasa Indonesia mempunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan
kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan
benar. Pada hakekatnya pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk mempertajam kepekaan
perasaan siswa. Guru dituntut mampu memotivasi siswa agar mereka dapat meningkatkan minat
baca terhadap karya sastra, karena dengan mempelajari sastra siswa diharapkan dapat menarik
berbagai manfaat dari kehidupannya. Maka dari itu seorang guru harus dapat mengarahkan siswa
memiliki karya sastra yang sesuai dengan minat dan kematangan jiwa mereka. Berbagai upaya
dapat dilakukan salah satunya dengan memberikan tugas untuk membuat karya sastra yaitu
menulis puisi.

Keterampilan menulis puisi perlu ditanamkan pada siswa di Sekolah Menengah Pertama, sehingga
mereka mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik. Mengapresiasikan
sebuah puisi bukan hanya ditujukan untuk penghayatan dan pemahaman puisi, melainkan
mempertajam kepekaan perasaan, penalaran, serta kepekaan anak terhadap masalah kemanusiaan.
Dalam pembelajaran menulis puisi di Sekolah Menengah Pertama masih ditemukan berbagai
kendala dan hambatan, hal ini yang berkaitan dengan ketepatan penggunaan model atau media
dalam pembelajaran sastra dalam menulis puisi. Demikian pula dengan permasalahan yang timbul
dalam proses pembelajaran menulis puisi di kelas VII-A Sekolah Menengah Pertama Negeri
Siderejo Lor 05, selama ini kurang menunjukan kemampuan yang sesungguhnya dimiliki siswa.
Penulis menemukan beberapa permasalahan yang timbul dari guru maupun murid. Hal ini
diperoleh melalui pengalaman penulis saat melakukan kegiatan PPL di Sekolah Menengah
Pertama Negeri 23 Tangerang

Dalam pembelajaran menulis puisi ini guru hanya membacakan salah satu puisi dalam buku paket,
menjelaskan cara tentang menulis puisi, dan menyuruh siswa untuk menuliskan puisi tersebut lalu
guru menugaskan siswa untuk membuat sebuah puisi serta membacakannya di depan kelas.
Sedangkan siswa tidak diberi rangsangan atau motivasi yang mampu membangkitkan imajinasi
siswa dalam memperoleh kata-kata yang tepat. Pastinya pembelajaran tersebut sangat kurang
menggembirakan bagi siswa, di sini terkesan tidak adanya aktivitas dan kreatifitas siswa dalam
menulis puisi. Ketika penulis memberikan tugas pada siswa untuk menulis puisi dengan kata-kata
atau bahasanya sendiri, siswa terlihat kesulitan dalam menyusun kata-kata dengan bahasanya
sendiri, hal itu disebabkan karena selama pembelajaran Bahasa Indonesia sebelumnya mereka
tidak pernah memperhatikan bahasa yang sesuai dan tepat dalam menuliskan puisi.

Melihat dari kondisi tersebut, akhirnya penulis mempunyai ide untuk memperbaiki pembelajaran
tersebut dengan menggunakan Teknik Permainan Bahasa dalam pembelajaran menulis puisi di
kelas VII-A, karena bermain bagi anak-anak tak ubahnya seperti berkerja bagi orang dewasa.
Bermain merupakan kegiatan yang menimbulkan kenikmatan yang akan menjadi rangsangan bagi
perilaku lainnya. Waktu untuk anak – anak bermain tidak jauh berbeda dengan waktu untuk
bekerja orang dewasa. Usia siswa SMP merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia.
Anak-anak merupakan makhluk yang unik sehingga dalam pembelajaran mereka tidak harus
merasa terpenjara.

1.2 Identifikasi Masalah

Bidang kajian yang dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai media pembelajaran, dengan
fokus yang berkaitan pada Penggunaan Teknik Permainan Bahasa Untuk Meningkatkan
Kemampuan Menulis Puisi Siswa di Kelas VII-A Sekolah Menengah Pertama. Adapun identifikasi
masalah dalam penelitian ini adalah media pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat
siswa dalam belajar membuat puisi kurang diterapkan sehingga siswa kurang aktif, tidak kreatif
dan kurang termotivasi.

1.3 Batasan Masalah

Sesuai dengan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, maka batasan masalah dalam
penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan atau hasil belajar siswa dalam menulis puisi
BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori


2.1.1 Teknik Permainan Bahasa
Pengertian Teknik
Teknik dapat diarikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan
sesuatu secara spesifik, seperti teknik pembelajaran. Teknik Pembelajaran dapat diartikan sebagai
cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak
membutuhkan teknik tersendiri.
Hakikat Permainan
Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunia, dari apa yang tidak dikenali sampai
apa yang diketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuat sampai mampu melakukan. “Bermain
merupakan kegiatan yang sangat penting bagi anak seperti halnya kebutuhan terhadap makanan
bergizi dan kesehatan untuk pertumbuhannya” (Padmonodewo: 2002). Cohen (1993) juga
menganggap bahwa “Bermain merupakan pengalaman belajar”. Bermain bagi anak memiliki nilai
dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari.
Berkaitan dengan permainan Pellegrini dan Saracho, (1996:3) permainan memiliki sifat sebagai
berikut:
Permainan dimotivasi secara personal, karena memberin rasa kepuasan. pemain lebih asyik dengan
aktivitas permainan (sifatnya spontan) ketimbang pada tujuannya.
Aktivitas permainan dapat bersifat non literal. Permainan bersifat bebas dari aturan-aturan yang
dipaksakan dari luar, dan aturan-aturan yang ada dapat dimotivasi oleh para pemainnya. Permainan
memerlukan keterlibatan aktif dari pihak pemainnya.
Menurut Framberg (dalam Berky, 1995)“Permainan merupakan aktivitas yang bersifat simbolik,
yang menghadirkan kembali realitas dalam bentuk pengandaian misalnya bagaimana jika, atau
apakah jika yang penuh makna”. Dalam hal ini permainan dapat menghubungkan pengalaman –
pengalaman menyenangkan atau mengasyikkan, bahkan ketika siswa terlibat dalam permainan
secara serius dan menegangkan sifat sukarela dan motivasi datang dari dalam diri siswa sendiri
secara spontan.
3. Hakikat Bahasa
Hakikat bahasa menurut Alwasilah (1993: 82-89) dijelaskan dalam uraian berikut:
Bahasa itu sistematik
Sistematik artinya beraturan atau berpola. Bahasa memiliki sistem bunyi dan sistem makna yang
beraturan. Dalam hal bunyi, tidak sembarangan bunyi bisa dipakai sebagai suatu simbol dari suatu
rujukan (referent) dalam berbahasa. Bunyi mesti diatur sedemikian rupa sehingga terucapkan. Kata
panggilaln tidak mungkin muncul secara alamiah, karena tidak ada vokal di dalamnya. Kalimat
Pagi ini Faris pergi ke kampus, bisa dimengarti karena polanya sitematis, tetapi kalau diubah
menjadi Pagi pergi ini kampus ke Faris tidak bisa dimengarti karena melanggar sistem.
Bahasa itu manasuka (Arbitrer)
Manasuka atau arbiter adalah acak , bisa muncul tanpa alasan. Kata-kata (sebagai simbol) dalam
bahasa bisa muncul tanpa hubungan logis dengan yang disimbolkannya.
Bahasa itu vokal
Vokal dalam hal ini berarti bunyi. Bahasa mewujud dalam bentuk bunyi. Kemajuan teknologi dan
perkembangan kecerdasan manusia memang telah melahirkan bahasa dalam wujud tulis, tetapi
sistem tulis tidak bisa menggantikan ciri bunyi dalam bahasa. Sistem penulisan hanyalah alat untuk
menggambarkan arti di atas kertas, atau media keras lain. Lebih jauh lagi, tulisan berfungsi sebagai
pelestari ujaran. Lebih jauh lagi dari itu, tulisan menjadi pelestari kebudayaan manusia.
Kebudayaan manusia purba dan manusia terdahulu lainnya bisa kita prediksi karena mereka
meninggalkan sesuatu untuk dipelajari. Sesuatu itu antara lain berbentuk tulisan. Realitas yang
menunjukkan bahwa bahasa itu vokal mengakibatkan telaah tentang bahasa (linguistik) memiliki
cabang kajian telaah bunyi yang disebut dengan istilah fonetik dan fonologi.
Bahasa itu simbol
Simbol adalah lambang sesuatu, bahasa juga adalah lambang sesuatu. Titik-titik air yang jatuh dari
langit diberi simbol dengan bahasa dengan bunyi tertentu. Bunyi tersebut jika ditulis adalah hujan.
Hujan adalah simbol linguistik yang bisa disebut kata untuk melambangkan titik-titik air yang
jatuh dari langit itu. Simbol bisa berupa bunyi, tetapi bisa berupa goresan tinta berupa gambar di
atas kertas. Gambar adalah bentuk lain dari simbol. Potensi yang begitu tinggi yang dimiliki bahasa
untuk menyimbolkan sesuatu menjadikannya alat yang sangat berharga bagi kehidupan manusia.
Tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika manusia tidak memiliki bahasa, betapa sulit
mengingat dan menkomunikasikan sesuatu kepada orang lain.
Bahasa itu mengacu pada dirinya
Sesuatu disebut bahasa jika ia mampu dipakai untuk menganalisis bahasa itu sendiri. Binatang
mempunyai bunyi-bunyi sendiri ketika bersama dengan sesamanya, tetapi bunyi-bunyi yang
meraka gunakan tidak bisa digunakan untuk membelajari bunyi mereka sendiri. Berbeda dengan
halnya bunyi-bunyi yang digunakan oleh manusia ketika berkomunikasi. Bunyi-bunyi yang
digunakan manusia bisa digunakan untuk menganalisis bunyi itu sendiri. Dalam istilah linguistik,
kondisi seperti itu disebut dengan metalaguage, yaitu bahasa bisa dipakai untuk membicarakan
bahasa itu sendiri. Linguistik menggunakan bahasa untuk menelaah bahasa secara ilmiah.
Bahasa Itu Manusiawi
Bahasa itu manusiawi dalam arti bahwa bahwa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki umat
manusia. Manusialah yang berbahasa sedangkan hewan dan tumbuhan tidak. Para ahli biologi
telah membuktikan bahwa berdasarkan sejarah evolusi, sistem komunikasi binatang berbeda
dengan sistem komunikasi manusia, sistem komunikasi binatang tidak mengenal ciri bahaya
manusia sebagai sistem bunyi dan makna. Perbedaan itu kemudian menjadi pembenaran menamai
manusia sebagai homo loquens atau binatang yang mempunyai kemampuan berbahasa. Karena
sistem bunyi yang digunakan dalam bahasa manusia itu berpola maka manusia pun disebut homo
grammaticus, atau hewan yang bertata bahasa.
7) Bahasa itu komunikasi
Fungsi terpenting dan paling terasa dari bahasa adalah bahasa sebagai alat komunikasi dan
interakasi. Bahasa berfungsi sebagai alat memperaret antar manusia dalam komunitasnya, dari
komunitas kecil seperti keluarga, sampai komunitas besar seperti negara. Tanpa bahasa tidak
mungkin terjadi interaksi harmonis antar manusia, tidak terbayangkan bagaimana bentuk kegiatan
sosial antar manusia tanpa bahasa. Komunikasi mencakup makna mengungkapkan dan menerima
pesan, caranya bisa dengan berbicara, mendengar, menulis, atau membaca. Komunikasi itu bisa
beralangsung dua arah, bisa pula searah. Komunikasi tidak hanya berlangsung antar manusia yang
hidup pada satu jaman, komunikasi itu bisa dilakukan antar manusia yang hidup pada jaman yang
berbeda, tentu saja meskipun hanya satu arah. Nabi Muhammad SAW telah meninggal pada masa
silam, tetapi ajaran-ajarannya telah berhasil dikomunikasikan kepada umat manusia pada masa
sekarang. Melalui buku, para pemikir sekarang bisa mengkomunikasikan pikirannya kepada para
penerusnya yang akan lahir di masa datang. Itulah bukti bahwa bahasa menjadi jembatan
komunikasi antar manusia.
4. Pengertian Teknik Permainan Bahasa
Teknik permainan bahasa termasuk dalam kategori media yang terdiri atas paduan suara dan gerak.
Sesuai dengan klasifikasi tersebut, permainan bahasa merupakan kelompok media pembelajaran
bahasa. Teknik ini merupakan media yang hampir-hampir tidak memerlukan hardware, akan tetapi
memerlukan aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa.
Untuk memperoleh pengalaman dan keterampilan dalam bidang kebahasaan, dapat ditempuh
melalui berbagai permainan. Permainan-permaian yang berfungsi untuk melatih keterampilan
dalam bidang kebahasaan itulah yang dinamakan permainan bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari,
permainan semacam itu sudah sering dilakukan. Akan tetapi pada umumnya hanya merupakan
kegiatan pengisi waktu luang saja.
Tujuan permainan bahasa menurut Soeparno (1980: 60) yaitu untuk memperoleh kegembiraan dan
memperoleh keterampilan tertentu dalam bidang kebahasaan. Apabila ada jenis permainan namun
tidak ada keterampilan kebahasaan yang dilatihkan, maka permainan tersebut bukanlah permainan
bahasa.
Permainan bahasa adalah suatu bentuk permainan yang sengaja dilakukan dengan melibatkan
unsur bahasa. Unsur bahasa dapat mencakup ranah yang mana saja. Permainan bahasa juga
meliputi keterampilan berbahasa yang dapat difokuskan ke bidang tertentu. Teknik yang dapat
membuat kelas menjadi aktif adalah teknik impact yang menggunakan benda, partisipasi aktif
siswa, kursi, dan gerakan.
Berikut ini beberapa permainan bahasa yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran bahasa:
1) Permainan Bahasa MENYIMAK
Tujuan permainan ini adalah pengembangan keterampilan menyimak anak. Beberapa bentuknya
antara lain: Dengar-Ucap; Dengar-Tiru; Dengar-Gaya; Pesan Berantai; Dengar Cerita.
2) Permainan Bahasa BERBICARA
Tujuan permainan ini adalah pengembangan keterampilan berbicara anak untuk mengucapkan kata
dan menyusun kalimat secara lebih tepat. Contohnya: Aku minta, Aku Tanya, Cerita berpasangan,
Tebak aku, Main Peran/Sosiodrama.
3) Permainan Bahasa MEMBACA
Tujuan permainan ini adalah pengembangan keterampilan membaca anak. Contohnya: Tebak
Huruf; Pancing Huruf; Aku Tahu.
4) Permainan Bahasa MENULIS
Tujuan permainan ini adalah pengembangan keterampilan menulis, tetapi masih sangat terbatas.
Misalnya: Tebak Huruf, Cetak Huruf.
Ada beberapa faktor-faktor yang menentukan permainan bahasa adalah sebagai berikut:
Situasi dan Kondisi
Sebenarnya dalam situasi apapun dan dalam kondisi apapun permainan bahasa dapat saja
dilakukan. Akan tetapi agar berdayaguna tinggi, hendaknya pelaksanaan permainan bahasa
tersebut selalu memperhatikan faktor situasi dan kondisi.
Peraturan Permainan
Setiap permainan mempunyai aturan masing-masing. Peraturan tersebut hendaknya jelas dan tegas
serta mengatur langkah-langkah permainan yang harus ditempuh maupun cara menilainya.
Apabila aturan kurang jelas dan tegas, maka tidak mustahil akan menimbulkan kericuhan di dalam
kelas. Setiap pemain harus memahami, menyetujui, dan mentaati benar-benar peraturan itu. Guru
sebagai pemimpin permainan mempunyai kewajiban untuk menjelaskan peraturan-peraturan yang
harus ditaati sebelum permainan dilaksanakan.
Permainan
Terkait ketentuan dengan pemain, permainan dapat berjalan dengan baik, jika para pemain, dalam
hal ini siswa, mempunyai sportivitas yang tinggi. Selain itu, keseriusan, kekuatan, dan keterlibatan
aktif pemain juga sangat dibutuhkan agar permainan dapat berjalan dengan baik. 4) Peminpin
Permainan atau Wasit
Pemimpin permainan atau wasit, dalam hal ini guru, harus mempunyai wibawa, tegas, adil, serta
dapat memutuskan permasalahan dengan cepat, serta menguasai ketentuan permainan dengan
baik. Selain guru, wasit dalam sebuah permainan dapat juga dipilih dari perwakilan siswa yang
dianggap mampu.
Beberapa kelebihan dan kekurangan pada penggunaan teknik permainan bahasa yaitu sebagai
berikut:
Kelebihan teknik permainan bahasa
Adapun kelebihan dari permainan bahasa di antaranya adalah sebagai berikut: (1) Permainan
bahasa merupakan salah satu media pembelajaran yang berkadar CBSA tinggi. (2) Dapat
mengurangi kebosanan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. (3) Dengan adanya kompetisi
antarsiswa, dapat menumbuhkan semangat siswa untuk lebih maju. (4) Permainan bahasa dapat
membina hubungan kelompok dan mengembangkan kompetensi sosial siswa. (5) Materi yang
dikomunikasikan akan mngesankan di hati siswa sehingga pengalaman keterampilan yang
dilatihkan sukar dilupakan.
Kekurangan teknik permainan bahasa
Ada juga kekurangan dalam pelaksanaan permainan bahasa, diantaranya adalah sebagai berikut:
(1) Jumlah siswa yang terlalu besar menyebabkan kesukaran untuk melibatkan semua siswa dalam
permainan. (2) Pelaksanaan permainan bahasa biasanya diikuti gelak tawa dan sorak sorai siswa,
sehingga dapat menganggu pelaksanaan pembelajaran di kelas yang lain. (3) Tidak semua materi
dapat dikomunikasikan melalui permainan bahasa. (4) Permainan bahasa pada umumnya belum
dianggap sebagai program pembelajaran bahasa, melainkan hanya sebagai selingan saja.
2.1.2 Kemampuan Menulis Puisi
Kemampuan menulis merupakan sebuah frasa yang berasal dari dua kata yakni kemampuan dan
menulis. Kedua kata tersebut jelas memiliki makna tersendiri tanpa ada kaitan sama sekali. Akan
tetapi, ketika kedua kata tersebut menjadi satu kesatuan maka menimbulkan makna yang sedikit
banyaknya menjadi saling berhubungan dan berkaitan.
Pengertian Kemampuan
Dalam KBBI (2005:707) kemampuan diartikan sebagai kesanggupan; kecakapan. Hal ini berarti
bahwa kemampuan seseorang dalam mengerjakan sesuatu merupakan kecakapan orang tersebut
dalam mengerjakan hal tersebut.
Pengertian Menulis
Menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa. Dalam pembagian kemampuan berbahasa,
menulis selalu diletakkan paling akhir setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca.
Meskipun selalu ditulis paling akhir, bukan berarti menulis merupakan kemampuan yang tidak
penting. Dalam menulis semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh
agar mendapat hasil yang benar-benar baik. Tarigan (2008:3) mengemukakan bahwa menulis
merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak
langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Selain itu, ia juga mengemukakan bahwa
menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Sementara itu, Lado dalam
ahmadi (1990:28) mengemukakan bahwa menulis adalah meletakan atau mengatur simbol –
simbol grafis yang menyatakan pemahaman suatu bahasa sedemikian rupa sehingga orang lain
dapat membaca simbol – simbol grafis itu sebagai bagian penyajian satuan – satuan ekspresi
bahasa. Tarigan (2008:3) menyimpulkan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa
yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan
orang lain.Dalam KBBI (2005:1219) secara singkat menulis berarti (1) membuat huruf atau angka
dan sebagainya dengan menggunakan pena, pensil, kapur, dan sebagainya; (2) melahirkan pikiran
atau perasaan seperti mengarang dan membuat surat dengan tulisan; (3) menggambar; (4)
membatik.
Menulis yang merupakan suatu kegiatan ini jelas bukanlah sekedar penguasaan materi atau teori
tentang menulis itu sendiri. Akan tetapi, menulis merupakan sebuah keterampilan dan kemampuan
dalam mengimplementasikan ide kedalam sebuah tulisan.
Henry Guntur Tarigan (1986: 15) menyatakan bahwa “menulis dapat diartikan sebagai kegiatan
menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai”. Menurut
Djago Tarigan dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) “menulis berarti
mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan”. Lado dalam
Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) juga mengungkapkan pendapatnya mengenai
menulis yaitu: “meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain”.
Menulis dapat dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan
yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Heaton dalam St. Y.
Slamet (2008: 141) “menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks”. Menurut
Gebhardt dan Dawn Rodrigues (1989: 1) “writing is one of the most important things you do in
college”. Menulis merupakan salah satu hal paling penting yang kamu lakukan di sekolah.
Kemampuan menulis yang baik memegang peranan yang penting dalam kesuksesan, baik itu
menulis laporan, proposal atau tugas di sekolah. Pengertian menulis diungkapkan juga oleh Barli
Bram (2002: 7) “in principle, to write means to try to produce or reproduce writen message”. Barli
Bram mengartikan menulis sebagai suatu usaha untuk membuat atau mereka ulang tulisan yang
sudah ada. Menurut Eric Gould, Robert Di Yanni, dan William Smith (1989: 18) menyebutkan
“writing is a creative act, the act of writing is creative because its requires to interpret or make
sense of something: a experience, a text, an event”. Menulis adalah perilaku kreatif, perilaku
menulis kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu: sebuah pengalaman,
tulisan, peristiwa. M. Atar Semi (2007: 14) dalam bukunya mengungkapkan pengertian menulis
adalah “suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan”. Burhan
Nurgiantoro (1988: 273) menyatakan bahwa “menulis adalah aktivitas aktif produktif, yaitu
aktivitas menghasilkan bahasa”.
Menulis menurut McCrimmon dalam St. Y. Slamet (2008: 141) “merupakan kegiatan menggali
pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara
menuliskannya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas”. St. Y. Slamet
(2008: 72) sendiri mengemukakan pendapatnya tentang menulis yaitu “kegiatan yang memerlukan
kemampuan yang bersifat kompleks”.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.2. Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
3.2.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanankan untuk
memecahkan suatu masalah yang ditimbulkan, kemudian adanya upaya perbaikan yang dilakukan
untuk suatu peningkatan hasil belajar siswa.
Mcniff 1992, dalam Harun Rasyid dkk (2009: 7) dengan tegas mengatakan bahwa penelitian
tindakan kelas merupakan bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang
hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan dan perbaikan pembelajaran.
Rustam dan Mundiarto 2004, dalam Harun Rasyid dkk (2009: 9) mendefinisikan penelitian
tindakan kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan guru di kelasnya sendiri dengan jalan
merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipasif dengan
tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
Berdasarkan dua pernyataan diatas maka penelitian tindakan kelas merupakan tindakan penelitian
terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan dikelas dalam upaya untuk meningkatkan
kemampuan siswa dalam menulis puisi, memperbaiki kinerja guru, dan memecahkan suatu
permasalahan yang ditemukan dikelas. Dengan penelitian tindadakan kelas guru dapat
merefleksikan hasilnya dan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pembelajaran. Penelitian
tindakan kelas juga adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya baik antara guru dan sekolah, guru
dan dosen maupun mahasiswa dan guru, sehingga adanya partisipasi ini diharapkan mampu
memperbaiki permasalahan dalam pembelajaran.

3.2.2. Populasi Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-A SMPN 23 Tangerang yang berjumlah 44
siswa.
3.2.3. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII-A SMPN 23 Tangerang yang berjumlah
36 siswa.
3.2.4. Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di SMP Negeri 23 Tangerang beralamatkan di
Jln.kyai maja no.2 panunggan utara Status SMP sampai sekarang berstatus Negeri sesuai dengan
No. SK Pendirian/Tahun : 421.2/008385/97 Tgl 29-12-1997 yang berdiri di atas tanah seluas 2625
m2, cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Pinang Kota Tangerang Kelas yang digunakan adalah
kelas VII-A dengan jumlah siswa sebanyak 44 anak.. Dengan beberapa pertimbangan dan alasan,
peneliti menentukan penggunakan waktu penelitian selama pertengahan bulan Maret hingga
pertengahan bulan April pada semester II Tahun Ajaran 2017/2018.
3.3. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian tindakan kelas ini adalah
variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas (X) : Teknik Permainan Bahasa.
Variabel terikat (Y) : Kemampuan Menulis Puisi.
3.4. Rencana Tindakan
Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan model Kemmis dan McTaggart. Menurut Kemmis dan McTaggart dalam Suharsimi
Arikunto (2006:84) “pelaksanaan tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi
empat alur (langkah): (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi; dan (4)
refleksi”.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASA


4.2. Deskripsi Hasil Penelitian
4.1.1 Kondisi awal
Berdasarkan nilai evaluasi siswa kelas VII-A dari pelaksanaan tindakan penelitian siklus I
pertemuan pertama, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam pokok bahasan menulis puisi
diperoleh hasil nilai rata-rata keselurahan siswa mencapai 66. Hal ini menunjukan bahwa hasil
yang telah diperoleh siswa sudah mencapai KKM yaitu 60. Namun, dari keseluruhan siswa masih
banyak yang belum mencapai kriteria ketuntansan minimal yaitu 60. Terdapat 14 siswa yang
belum mencapi KKM, hal ini berarti hanya 68% dari 44 siswa kelas VII-A yang mencapai
ketuntasan, sedangkan pada indikator kinerja prosentase ketuntasan minimal seluruh siswa
mencapai 75%. Oleh karena itu peneliti merencanakan Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan
dalam II siklus.
4.1.2 Siklus I
Praktek pembelajaran pertama dilaksanakan dengan pokok bahasan menulis puisi. Dalam siklus I
ini dilakukan melalui dua kali pertemuan dengan rinciannya sebagai berikut:
Perencanaan
Persiapan yang dilakukan peneliti untuk melaksanakan praktek pembelajaran dalam siklus I ini
adalah mempersiapkan RPP, instrumen, alat dan bahan untuk penelitian agar tujuan pembelajaran
dapat tercapai secara optimal.
Tindakan
(1) Pertemuan pertama
Tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 20 April 2012 melalui beberapa kegiatan sebagai berikut
:Kegiatan awal
Pertemuan pertama ini berlangsung pada waktu pembelajaran jam terakhir. Untuk mengwali
kegiatan pembelajaran guru mengucapkan salam, kemudian guru bertanya pada siswa tentang
puisi. Setelah itu guru menyampaikan meteri yang akan dipelajari pada pertemuan ini.
Kegiatan inti
Beberapa siswa diminta menyebutkan cara menulis puisi sesuai pemahaman masing-masing,
beberapa sisiwa menanggapi pendapat temannya, setelah itu guru menjelaskan tentang cara
menulis puisi (menentukan ide pokok, memilih kata, dan menulis puisi atau merangkai kata),
kemudian guru membagi siswa dalam kelompok kecil bersama teman semejanya. Guru
menugaskan siswa menentukan ide pokok berdasarkan pengalaman yang akan ditulis menjadi
sebuah puisi kemudian guru menugaskan siswa memilih kata-kata berdasarkan kejadian pada
pengalaman masing-masing. Guru mengarahkan setiap kelompok pada teknik permainan bahasa
(Mencocokan Kata) dalam pemilihan kata-kata dan kata kiasan: Dalam 1 kelompok ada 2 siswa,
yaitu “A” dan “B”. Siswa A dan B menuliskan kata-kata yang terjadi berdasarkan pengalaman
masing-masing. Kata-kata yang telah ditulis kemudian ditukarkan antara siswa A dan B.
Berdasarkan kata-kata yang dituliskan siswa A, siswa B menentukan dan menuliskan kata kiasan
yang sesuai pada lembar kata-kata siswa A, demikian sebaliknya Kemudian lembar kata-kata tadi
dikembalikan pada masing – masing siswa. Siswa berdiskusi dalam kelompok mengenai
pencocokan kata kiasan yang tepat. Siswa merangkai kata – kata menjadi sebuah puisi dangan
pilihan kata kiasan yang tepat. Guru mengawasi sambil memberikan bimbingan kepada siswa yang
kurang memahami.
Kegiatan akhir
Guru bersama siswa menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Kemudian guru mengadakan refleksi tentang pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa
mengerjakan soal tugas evaluasi. Guru menutup pembelajaran dengan salam.
(2) Pertemuan kedua
Tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2018 melalui beberapa kegiatan sebagai berikut:
Kegiatan awal
Sebelum masuk pada materi, guru mengucapkan salam, kemudian guru bertanya kepada siswa
“apa yang perlu dilakukan sebelum kita menulis puisi bebas?”. Setelah itu guru menyampaikan
meteri yang akan dipelajari pada pertemuan ini.
Kegiatan inti
Beberapa siswa diminta menjelaskan apa yang dimaksud dengan gagasan pokok dan siswa yang
lain menanggapi pendapat temannya. Guru menjelaskan tentang cara menulis puisi (menentukan
ide pokok, memilih kata, dan menulis puisi atau merangkai kata). Guru meminta siswa membentuk
kelompok kecil dengan teman semejanya kemudian guru menugaskan siswa memikirkan suatu
gagasan pokok yang akan dijadikan dasar dalam menulis puisi dan setiap siswa merenungkan dan
mencatat hasil renungan tersebut berdasarkan gagasan pokok. Guru menugaskan siswa memilih
kata-kata berdasarkan gagasan pokok setelah guru mengarahkan setiap kelompok pada teknik
permainan bahasa (Menulis Kata) dalam pemilihan kata-kata dan kata kiasan: Siswa menulis kata-
kata berdasarkan gagasan pokok. Untuk memperoleh keindahan kata-kata tersebut, siswa juga
menuliskan kata kiasan yang sesuai dengan kata-kata yang telah ditulis berdasarkan dengan
gagasan pokok. Siswa mendiskusikan pemilihan kata kiasan yang tepat dalam kelompok. Guru
mengawasi sambil memberikan bimbingan kepada siswa yang kurang memahami.
Kegiatan akhir
Guru bersama siswa menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Kemudian guru mengadakan refleksi tentang pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa
mengerjakan soal tugas evaluasi. Guru menutup pembelajaran dengan salam.
Observasi
Pertemuan pertama
Pembelajaran sudah berjalan dengan lancar, tetapi masih ada sedikit hambatan yaitu sebagai
berikut:
Siswa terlihat sedikit kebingungan dalam menerima materi pembelajaran dan tidak bertanya pada
guru tentang apa yang kurang mereka pahami.
Ada beberapa siswa yang masih ribut ketika guru sedang menyampaikan materi pembelajaran
sehingga mengganggu teman yang lain.
Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru.
Masih ada siswa yang tidak terlihat aktif dalam kelompok.

Pertemuan kedua
Siswa mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh.
Siswa aktif dalam diskusi kelompok.
Refleksi

Berdasarkan hasil pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, diketahui bahwa selama guru mengajar
pada pertemuan pertama siswa belum mampu memahami konsep pembelajaran secara maksimal,
akan tetapi ada beberapa siswa yang tingkat kemampuannya sudah cukup baik. berdasarkan
prosentase ketuntasan seluruh siswa dikelas, terdapat 68% siswa yang telah mencapai ketuntasan
belajar dan 32% siswa yang masih tergolong belum tuntas. Hal tersebut dikarenakan interaksi guru
dengan siswa belum optimal dalam proses pembelajaran di kelas, masih terdapat beberapa anak
yang saat mengikuti pelajaran tidak mendengarkan penjelasan dan arahan dari guru serta masih
kurang memahami konsep pembelajaran. Pada pertemuan kedua telah terjadi peningkatan
kemampuan siswa dalam mencermati pelajaran. Terbukti siswa mampu membuat puisi bebas
dengan kata – kata mereka sendiri yang ditunjukan oleh prosentase ketuntasan nilai seluruh siswa
telah mencapai 86% dan hanya 14% siswa yang belum tuntas. Berarti pada siklus I pertemuan
kedua telah terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam belajar menulis puisi.
Berdasarkan analisis hasil tugas evaluasi pada siklus I terdapat 86% dari keseluruhan siswa yang
tuntas dan 14% siswa belum tuntas dalam proses belajar menulis puisi. Hal ini telah menunjukan
bahwa telah terjadi peningkatan. Namun demikian masih belum semua siswa bisa mencapai KKM
(60), Sehingga perlu diadakan perbaikan pembelajaran. Maka peneliti akan memperbaikinya agar
hasil belajar siswa yang dicapai secara optimal dapat berhasil pada siklus II.
Perbaikan yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya untuk memperbaiki pembelajaran pada
siklus sebelumnya, antara lain dengan cara :
Dalam menyampaikan materi menggunaan media teknik permainan bahasa sama pada saat
pelakasanaan pembelajaran pada siklus I, tujuannya untuk membuktikan bahwa media
pembelajaran yang digunakan peneliti mampu meningkatkan kemampuan menulis siswa. Namun
cara penggunaannya dalam menyampaikan pembelajaran yang akan berbeda dari siklus I dan
setiap pertemuan.
Lebih mengutamakan interaksi siswa dengan guru dalam pembelajaran, ini dilakukan untuk
melatih keberanian siswa dalam menyampaikan pertanyaan atau menyampaikan pendapatnya.
Prosentase ketuntasan pada pertemuan pertama adalah 68% dan pertemuan kedua meningkat
menjadi 86%. Hasil tersebut juga telah menunjukan bahwa pembelajaran pada siklus I sudah
mencapai porsentase ketuntasan minimal (75%) dan telah terjadi peningkatan kemampuan atau
hasil belajar siswa dalam menulis puisi, dengan rata – rata nilai prosentase ketuntasan siswa pada
pertemuan pertama dan kedua mencapai 77%.

4.1.3 Siklus II
Praktek pembelajaran dilaksanakan masih dengan pokok bahasan menulis puisi, karena tujuan
dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menulis puisi. Dalam siklus II ini dilakukan
melalui dua kali pertemuan dengan rinciannya sebagai berikut:
Perencanaan
Persiapan yang dilakukan peneliti untuk melaksanakan praktek pembelajaran dalam siklus II ini
adalah mempersiapkan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan berdasarakan
identifikasi masalah yang timbul pada siklus I, RPP, instrumen, alat dan bahan untuk penelitian
agar efektifitas pembelajaran dapat meningkat dibanding pada siklus I.
Tindakan
(1) Pertemuan Pertama
Tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 23 April 2012 melalui beberapa kegiatan sebagai berikut:
Kegiatan awal
Untuk mengawali proses pembelajaran ini guru mengucapkan salam pada siswa, kemudian guru
bertanya kepada siswa: ”apakah kalian masih ingat tentang materi yang kita pelajari pada
pertemuan sebelumnya?”.
Kegiatan inti
Beberapa siswa diminta menyebutkan apa pentingnya menulis, kemudian beberapa sisiwa
menanggapi pendapat temannya. Guru menjelaskan tentang cara menulis puisi (menentukan ide
pokok, memilih kata, dan menulis puisi atau merangkai kata), kemudian guru memberikan
kesempatan untuk setiap siswa yang ingin bertanya mengenai materi yang disampaikan. Guru
meminta siswa membentuk kelompok kecil dengan teman semejanya, kemudian guru meminta
siswa untuk memperhatikan gambar pemandangan laut yang akan siswa jadikan sebagai ide pokok
dalam membuat puisi setelah itu guru mengarahkan setiap kelompok pada teknik permainan
bahasa (Mencocokan Kata) dalam pemilihan kata-kata dan kata kiasan: Dalam satu kelompok,
siswa masing-masing membuat tulisan yang menceritakan kejadian pada gambar. Guru
memberikan pilihan-pilihan kata kiasan yang akan siswa rangkai menjadi sebuah puisi. Contoh;
Daun kelapa melambai-lambai, Ombak yang berguling-guling, Hembusan angin laut sangat
menyegarkan jiwa, dan lain-lain sebagainya. Guru menugaskan siswa untuk mencocokan kata-
kata yang telah ditulis berdasakan kejadian pada gambar dengan kata kiasan yang telah diberikan
guru dan mendiskusikannya dalam kelompok, selanjutnya guru menugaskan siswa merangkai
kata-kata yang telah dicocokan menjadi sebuah puisi. Guru mengawasi sambil memberikan
bimbingan kepada siswa yang kurang memahami.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan
Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa teknik
permainan bahasa dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa kelas VII-A SMPN 23
Tangerang Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan data perolehan dari hasil belajar siswa, yaitu dari
siklus I dan siklus II yang ditunjukan oleh pencapaian rata-rata nilai dari nilai rata-rata kelas, yaitu
71.19 pada siklus I meningkat menjadi 84.75 pada siklus II. Sedangkan siswa yang sudah tuntas
sebanyak 31 siswa, dan yang tidak mencapai ketuntasan ada 13 siswa dengan rata – rata prosentase
ketuntasan 77%.

5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan bahwa Penggunaan media teknik permainan bahasa dapat meningkatkan
kemampuan atau hasil belajar siswa dalam menulis puisi, maka peneliti memberikan saran sebagai
berikut:
DAFTAR PUSTAKA

Hudson, William. H. (1965). An Introduction to The Study of Literature.


James W Pennebaker, Ph.D.Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Texas.
Kemmis. S. dan Mc. Taggart, R. 1990. The Action Research Reader. Third Edition. Victoria:
Deakin University Press.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1990). Depdikbud: Balai Pustaka.