You are on page 1of 2

PASAR MODAL INDONESIA DALAM MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) 2016

Pasar Modal pada dasarnya mengandung arti sebuah pasar tempat bertemunya penjual dan pembeli serta
peristiwa tawar-menawar yang jika dibandingkan tidak berbeda jauh dengan pasar tradisional yang selama ini kita
kenal. Pasar modal dapat juga diartikan sebagai sebuah wahana dalam mempertemukan pihak yang membutuhkan
dana dengan pihak yang menyediakan dana sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga yang
terkait. Arus pasar modal di Indonesia bisa dikatakan semakin hari semakin meningkat baik dari segi pelakunya
ataupun nilai dari transaksinya. Hal ini tentunya harus diimbangi oleh pengetahuan yang mantap bagi para pelaku
yang ingin ataupun yang sudah berkecimpung dalam dunia bisnis pasar modal. Minimal para pelaku harus
mengetahui apa saja produk-produk yang diperjualkan dalam transaksi pasar modal serta bagaimana cara kerjanya
dan kalkulasi keuntungan yang akan didapatkan. Sebutan efek mungkin sudah dianggap tidak asing lagi bagi para
pelaku pasar modal. Efek dalam pasar modal dapat diartikan sebagai instrumen ataupun produk-produk yang akan
diperjualbelikan pada transaksi-transaksi di pasar modal. Efek merupakan surat berharga, yaitu surat pengakuan
utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif,
kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.
Selang tahun 2016, Indonesia sudah memasuki taraf Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Tentunya sebuah
tantangan baru bagi sumber daya manusia Indonesia. Bukan hanya tantangan sumber daya manusia, namun juga
tantangan kesiapan infrastruktur yang memadai. Singkatnya, MEA berarti perdagangan bebas antar anggota-
anggota negara Asean dan dengan adanya perdagangan bebas itu berarti tidak ada hambatan/berkurangnya
hambatan tenaga kerja asing dan Penanaman Modal Asing (PMA) untuk masuk dan bekerja di Negara Indonesia.
Para PMA yang akan mendirikan usaha di Indonesia juga tidak akan mengalami hambatan-hambatan yang berarti
contohnya dalam hal perijinan seperti sebelum adanya MEA.
MEA menimbulkan banyak kontroversi pro dan kontra bagi masyarakat Indonesia. Pada sisi pro-nya adalah
MEA tentu akan memberikan dampak positif bagi perdagangan Indonesia. Negara Indonesia akan menjadi negara
yang lebih terbuka dalam hal perdagangan. Singkatnya, dampak positif yang besar akan menguntungkan Indonesia
dari sisi eksport. Selain itu, tenaga kerja Indonesia juga bisa mendapat banyak ilmu dengan bekerja di luar negeri.
itu salah satunya, dampak yang akan kita rasakan secara mengena. Tentu masih banyak dampak-dampak lainnya
yang masih bisa dirasakan. Tetapi kalau tenaga asing masuk ke Indonesia dengan mudah, tenaga kerja Indonesia
bisa-bisa "tersisih" dari kompetensi. Jangankan harus bersaing dengan luar negeri, bersaing dengan tenaga kerja
Indonesia sendiri saja tidak mudah. Dampak yang dapat dirasakan dari adanya persaingan tersebut adalah
pengangguran.
Salah satu kendala dalam pengembangan pasar modal adalah terbatasnya tenaga kerja yang handal.
Sebenarnya keterbatasan akan tenaga kerja yang handal bukan hanya di pasar modal tapi juga industri secara
keseluruhan. Untuk industri pasar modal sendiri, terdapat satu lagi kendala tambahan yaitu untuk tenaga kerja yang
mengisi jabatan tertentu harus memiliki izin seperti WAPERD, WPPE, WPEE, dan WMI. Adanya MEA memang
tidak menghilangkan kewajiban untuk memiliki izin tersebut untuk bekerja di pasar modal. Artinya ada atau tidak
ada MEA, izin tersebut tetap diperlukan jika tenaga kerja mengisi jabatan tertentu di pasar modal. Namun dengan
syarat pengajuan kerja lintas negara yang lebih mudah, bisa jadi para orang-orang ahli dari Singapura ataupun
Thailand datang ke Indonesia untuk mengadu nasib dan meramaikan tenaga kerja di bidang pasar modal. Di lain
hal, bagi perusahaan yang bergerak di bidang pasar modal, perubahan budaya akibat adanya MEA tersebut harus
bisa diantisipasi. Caranya adalah dengan membiasakan berkomunikasi baik lisan ataupun tulisan dalam bahasa
Inggris. Perusahaan penyedia kursus, asosiasi penyelenggara ujian, dan Otoritas yang memberikan izin juga harus
mempertimbangkan untuk membuat versi Bahasa Inggris pemberian lisensi terkait pasar modal. Persaingan yang
sehat antar tenaga kerja akan membawa kemajuan bagi industri dan perusahaan karena semua orang berupaya
memberikan yang terbaik untuk mendapatkan atau mempertahankan kesempatan kerjanya.
Di pasar modal MEA, ada istilah yang disebut ASEAN CIS (ASEAN Collective Investment Scheme).
ASEAN CIS adalah suatu kerangka kerja yang mengizinkan negara-negara yang berpartisipasi didalamnya untuk
menawarkan produk pasar modal yang telah memenuhi standar yang ditetapkan bersama. Indonesia masih belum
masuk dalam kerangka ASEAN CIS tersebut. Sebab berdasarkan kualifikasi yang ada,kurang lebih sekitar 10 dari
80an perusahaan Manajer Investasi asing yang secara dana kelolaan memenuhi standar. Selain itu, terdapat pula
kendala operasional, perpajakan, dan hal lainnya yang perlu disetarakan sebelum Indonesia benar-benar bergabung.
Melihat kondisi ini, regulasi serta operasional pasar modal MEA di Indonesia dapat dirasakan masih belum siap.
Jikalaupun dipaksakan, maka kita akan di posisi yang agak dirugikan karena negara counterparty yang sudah siap
akan leluasa menawarkan produk di kita sementara bagi Indonesia yang mau melakukan hal yang sama masih
gugup.
Berdasarkan beberapa uraian diatas, pengaruh MEA terhadap arus pasar modal di Indonesia hanya sebatas
pada tenaga kerja, produk, dan perusahan. Kinerja investasi saham, obligasi, dan reksa dana tidaklah sangat
berpengaruh, hanya sebatas dari kebijakan perusahaan. Semua hal baik dalam hal pembayaran bunga yang tepat
watu dan laba yang secara periodik selalu meningkat, maka otomatis harga efek akan meningkat pula. Sehingga,
MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) tidak terlalu mempengaruhi kondisi pasar modal di Indonesia.