You are on page 1of 28

KEPERAWATAN ANAK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KASUS CAMPAK


Tugas dibuat untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Anak
Dosen Pembimbing : Ibu Tri Wiji Lestari, S.SiT, M.Kes.

Disusun oleh :
Alifia Jaya Wandira
P1337420617085

JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI S1 TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
2019

i
PENGESAHAN PEMBIMBING

1. Judul Makalah : Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Kasus Campak


2. Penyusun
a. Nama Lengkap : Alifia Jaya Wandira
b. Program Studi : S1 Terapan Keperawatan Semarang
c. NIM : P1337420617085
3. Pembimbing
a. NamaLengkap : Ibu Tri Wiji Lestari, S.SiT, M.Kes
b. NIP : 196807271989032001

Semarang, 15 Februari 2019


Pembimbing, Penyusun,

Tri Wiji Lestari, S.SiT, M.Kes Alifia Jaya Wandira


NIP. 196807271989032001 NIM. P1337420617085

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul :
“Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Kasus Campak”

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini dapat diselesaikan berkat bimbingan
dan bantuan sejumlah pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu
Tri Wiji Lestari, S.SiT, M.Kes
Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat.

Semarang, 15 Februari 2019

Alifia Jaya Wandira

iii
DAFTAR ISI

JUDUL……………………….…………………………………………………………………………………………..i
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................................iii
DAFTAR ISI..................................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................. 1


1.1. Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................ 3
1.3. Tujuan Penulisan ............................................................................................... 3
1.4. Manfaat Penulisan ............................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 4


2.1 Pengertian Pertumbuhan Anak Prasekolah..................................................... 4
2.2 Faktor Perkembangan menurut Freud,Erickson,Sullivan,Kolberg,dan Piaget
.................................................................................................................................... 4
2.3 Konsep Perkembangan Sosial Anak Prasekolah ............................................. 5
2.4 Kebutuhan Nutrisi pada Anak Prasekolah ...................................................... 6
2.5 Konsep Perkembangan Seksual Anak Prasekolah .......................................... 6
2.6 Konsep Perkembangan Komunikasi Pada Anak Prasekolah ....................... 11
2.7 Konsep Perkembangan Bermain Pada Anak Prasekolah.............................. 12
2.8 Perawatan Anak Dengan Hospitalisasi Pada Anak Prasekolah.................... 23
2.9 JSDHISD………………………………………………………………
2.10
2.11
BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 24
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 24
3.2Saran .................................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 25

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Campak merupakan penyakit menular yang banyak ditemukan didunia dan dianggap
sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang harus diselesaikan. Gejala awal campak berupa
demam, konjungtivis, pilek batuk dan bintik-bintik kecil dengan bagian tengah berwarna
putih atau putih kebiru-biruan dengan dasar kemerahan di daerah pipi. Tanda khas bercak
kemerahan dikulit timbul pada hari ketiga sampai ketujuh, dimulai di daerah muka, kemudian
meneluruh, berlangsung sekitar 4-7 hari, dan terkadang berakhir dengan pengelupasan kulit
berwarna kecoklatan (Enrisyu, 2012).
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus campak atau measles. Bagi penderita
campak, virus campak ada di dalam percikan cairan yang dikeluarkan saat mereka bersin dan
batuk. Virus campak akan menulari siapa pun yang menghirup percikan cairan tersebut.
Virus campak bisa bertahan di permukaan selama beberapa jam, akibatnya, virus ini bisa
bertahan menempel pada bendabenda. Saat menyentuh benda yang sudah terkena percikan
virus campak, lalu menempelkan tangan ke hidung atau mulut, orang lain bisa ikut terinfeksi.
Campak lebih sering menimpa anak-anak berusia di bawah lima tahun. Tetapi pada
dasarnya semua orang bisa terinfeksi virus ini, terutama yang belum pernah terkena campak
atau yang belum mendapat vaksinasi campak. Maka dari itu, memungkinkan virus campak
juga menyerang orang dewasa.
Prof.dr.M Juffrie, Ph.D.,Sp.A(K), dosen bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran UGM, menyebutkan bahwa vaksinasi campak merupakan cara paling efektif
untuk mencegah penularan virus measles penyebab campak. Imunisasi diberikan dengan cara
memberikan vaksin (bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif
terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh
organisme) kedalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit
(Nugroho, 2009).
Selain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran yang
memiliki peranan penting dalam mencegah penyebaran penyakit ini agar tidak meluas
melalui vaksinasi. Matematika juga memberikan peranan penting dalam mencegah
mewabahnya suatu penyakit dengan pengaruh vaksinasi. Peranan matematika ini berupa

1
model matematika yang disebut SEIR (Susceptible-Exposed-Infected-Recovered). Model ini
digunakan untuk menganalisis penyebaran penyakit dengan pengaruh vaksinasi.
Penderita campak memiliki kemungkinan untuk meninggal, memiliki kekebalan
tetapi masih rentan terhadap penyakit itu kembali atau menjadi semakin parah. Namun
dengan pemberian vaksin individu yang rentan akan memperoleh kekebalan sehingga jika
nantinya terjangkit penyakit campak tidak akan sakit atau tidak menjadi parah. Dari
pernyataan tersebut, penyakit campak dapat dikelompokkan ke dalam model SEIR
(Susceptible-Exposed-Infected-Recovered) yang merupakan model epidemik yang
mengasumsikan bahwa individu yang rentan mempunyai kekebalan terhadap penyakit yang
bersangkutan dengan pemberian vaksin.
Berdasarkan pusat data dan informasi kesehatan (2015), Daerah Istimewa Yogyakarta
termasuk daerah dengan cakupan imunisasi yang tergolong tinggi. Namun, kasus campak
masih terjadi di beberapa daerah di DIY. Cakupan vaksin campak di DIY mencapai 9.67%.
Namun demikian, Kabupaten Sleman merupakan daerah dengan cakupan imunisasi tergolong
rendah. Cakupan vaksin campak di Kabupaten Sleman masih dibawah Kabupaten
Kulonprogo, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul. Oleh karena itu, pada tugas akhir ini
akan dilakukan Analisis Kestabilan Model SEIR (Susceptible-Exposed-InfectedRecovered)
dengan vaksinasi pada penyebaran penyakit campak di Kabupaten 4 Sleman Provinsi DIY.
Analisis ini untuk mengetahui perilaku penyebaran campak dalam suatu populasi dengan
pengaruh vaksinasi.

2
1.2 Rumusan Masalah

Pada makalah ini, membahas tentang :


1. Bagaimana konsep teori pada kasus penyakit campak?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit campak?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui konsep teori kasus penyakit campak pada anak
2. Mengetahui asuhan keperawatan dengan penyakit camapak pada anak
1.4 Manfaat
1. Bagi Institusi Pendidikan
Menambah wawasan pada siswa didik sehingga mampu mengetahui asuhan
keperawatan pada anak dengan penyakit campak dan dapat menangani masalah
penyakit tersebut.
2. Bagi Penulis
Menambah wawasan tentang asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit
campak secara luas.

3
BAB II
KONSEP TEORI
2.1 Latar Belakang
Campak juga dikenal dengan nama morbili atau morbillia dan rubeola (bahasa Latin), yang
kemudian dalam bahasa Jerman disebut dengan nama masern, dalam bahasa Islandia dikenal
dengan nama mislingar dan measles dalam bahasa Inggris. Campak adalah penyakit infeksi
yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan gejala-gejala eksantem akut,
demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan, gejala-gejala mata, kemudian
diikuti erupsi makulopapula yang berwarna merah dan diakhiri dengan deskuamasi dari kulit.
Campak merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi pada anak, sangat
infeksius, dapat menular sejak awal masa prodromal (4 hari sebelum muncul ruam) sampai
lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam.1,2 Campak timbul karena terpapar droplet yang
mengandung virus campak. Sejak program imunisasi campak dicanangkan, jumlah kasus
menurun, namun akhir-akhir ini kembali meningkat.4,6 Di Amerika Serikat, timbul KLB
(Kejadian Luar Biasa) dengan 147 kasus sejak awal Januari hingga awal Februari 2015.
Campak adalah penyakit akut yang sangat menular yang disebabkan oleh infeksi virus
umumnya menyerang anak. Campak memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium
yang masing-masing mempunyai ciri khusus: (1) stadium masa tunas berlangsung kira-kira
10-12 hari. (2) stadium prodromal dengan gejala pilek dan batuk yang meningkat dan
ditemukan enantem pada mukosa pipi (bercak Koplik), faring dan peradangan mukosa
konjungtiva, dan (3) stadium akhir dengan keluarnya ruam mulai dari belakang telinga
menyebar ke muka, badan, lengan dan kaki. Ruam timbul didahului dengan suhu badan yang
meningkat, selanjutnya ruam menjadi menghitam dan mengelupas. (Sumarmo, 2015)

2.2 Etiologi
Virus morbili yang berasal dari secret saluran pernafasan, darah, dan urine dari orang yang
terinfeksi. Penyebaran infeksi melalui kontak langsung dengan droplet dari orang yang
terinfeksi. Masa inkubasi selama 10-20 hari, dimana periode yang sangat menular adalah hari
pertama hingga hari ke 4 setelah timbulnya rash (pada umumnya pada stadium kataral)
(Suriati & Rita, 2010).

4
Campak adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh RNA virus genus Morbilivirus,
family Paramyxoviridae. Virus ini dari family yang sama dengan virus parainfluenza, virus
human metapneumovirus, dan RSV (Respiratory Syncytial Virus). Virus campak berukuran
100-250 nm dan mengandung inti untai RNA tunggal yang diselubungi dengan lapisan
pelindung lipid. Virus campak memiliki 6 struktur protein utama. Protein H (Hemagglutinin)
berperan penting dalam perlekatan virus ke sel penderita. Protein F (Fusion) meningkatkan
penyebaran virus dari sel ke sel. Protein M (Matrix) di permukaan dalam lapisan pelindung
virus berperan penting dalam penyatuan virus. Di bagian dalam virus terdapat protein L
(Large), NP (Nucleoprotein), dan P (Polymerase phosphoprotein). Protein L dan P berperan
dalam aktivitas polimerasi RNA virus, sedangkan protein NP berperan sebagai struktur
protein nucleocapsid. Karena virus campak dikelilingi lapisan pelindung lipid, maka mudah
diinaktivasi oleh cairan yang melarutkan lipid seperti eter dan kloroform. Selain itu, virus
juga dapat diinaktivasi dengan suhu panas (>37oC), suhu dingin (<20oC), sinar ultraviolet
serta kadar (pH) ekstrim (pH <5 dan >10). Virus ini jangka hidupnya pendek (short survival
time), yaitu kurang dari 2 jam (Soegijanto, 2011).

2.3 Gejala klinis:


Penyakit campak mempunyai masa inkubasi 10-14 hari, merupakan jangka waktu dari
mulai mendapat paparan sampai munculnya gejala klinik penyakit. Jika ada, hanya
sedikit gejala yang muncul pada periode ini. Gejala prodromal pertama penyakit adalah
demam, lemas, anoreksia, disertai batuk, pilek, dan konjungtivitis. Gejala prodromal
berakhir 2-3 hari. Selama periode ini, pada mukosa pipi muncul lesi punctat kecil
berwarna putih,yang merupakan tanda diagnostic dini penyakit campak yang disebut
Koplik’s spots. Penyakit campak terdiri dari 3 stadium:
A Stadium kataral (prodromal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari dengan gejala demam, malaise,
batuk, fotofobia, konjungtivitis, dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan
24 jam sebelum timbul bercak Koplik. Bercak Koplik berwarna putih kelabu,
sebesar ujung jarum timbul pertama kali pada mukosa bukal yang menghadap gigi
molar dan menjelang kira-kira hari ke3 atau 4 dari masa prodromal dapat meluas

5
sampai seluruh mukosa mulut. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai
influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza.
B Stadium erupsi
Stadium ini berlangsung selama 4-7 hari. Gejala yang biasanya timbul adalah
koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul eksantema di palatum durum dan
palatum mole. Kadang terlihat pula bercak Koplik. Terjadinya ruam atau eritema
yang berbentuk macula-papula disertai dengan naiknya suhu badan. Mula-mula
eritema timbul di belakang telinga, di bagian atas tengkuk, sepanjang rambut dan
bagian belakang bengkak. Ruam kemudian akan menyebar ke dada dan abdomen
dan akhirnya mencapai anggota bagian bawah pada hari ketiga dan akan
menghilang dengan urutan seperti terjadinya yang berakhir dalam 2-3 hari.
C Stadium konvalensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
yang lama-kelamaan akan menghilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak
sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Selanjutnya suhu menurun sampai
menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.
(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan UI, 1985)

2.4 Epidemiologi
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan
seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan
mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah
umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga bayi dapat menderita morbili. Bila si
ibu belum pernah menderita morbili maka bayi yang dilahirkannya tidak mempunyai
kekebalan terhadap morbili dan dapat menderita penyakit ini setelah ia dilahirkan. Bila
seorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan
akan mengalami abortus: bila ia menderita morbili pada trimester 1, kedua atau ketiga
maka ia mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak
dengan berat badan lahir rendah atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal
sebelum usia 1 tahun.
2.5 Pathways Campak (Mobirli)

6
Paramyxoviridae Mengendap Saluran
Morbili Virus pada Organ Cerna
1. Epitel
Masuk Sel Nafas Kulit Saluran Hiperplasi
Napas Jaringan
Limfoid
Poliferasi Sel
Ditangkap Oleh Endotel Kapiler Fungsi Silia
Makrofag dalam Korium
Iritasi Mukosa
Usus
Menyebar ke Sekret
Kelenjar Limpa Eksudasi
Regional Serum/Eritrosit Sekresi
dalam Epidermis
Reflek Batuk
Mengalami Peristaltik
Replikasi Ruam Ketidakefektifan
Bersihan Jalan
Nafas
Virus Dilepas ke Diare
Aliran Darah
(Viremia Primer) Gang. Gang.
Citra Diri Integritas Dehidrasi
Kulit
Virus sampai RES
Ketidakseimbangan
Histamin Cairan & Elektrolit
Replikasi Kembali
Set Poin Meningkat
Gatal (Nyeri
Ringan) Peningkatan Suhu Tubuh
Virus sampai ke
multiple tissue site
(viremia sekunder)
Hipertemi
Gang. Rasa
Nyaman
Reaksi Radang
Nafsu Makan

Pengeluaran
Mediator Kimia Intake Nutrisi

Mempengaruhi
Termostat dalam
7
Hipotalamus Ketidakseimbangan Nutrisi
Kurang dari Kebutuhan
Tubuh
2.6 Patogenesis
Penyakit campak adalah penyakit pada manusia, terutama menyerang anak-anak
melalui saluran nafas. Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius
sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan campak terjadi secara
droplet melalui udara, sejak 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah
timbul ruam. Di tempat awal infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat
ditemukan virusnya. Virus masuk ke dalam limfatik local, bebas maupun berhubungan
dengan sel mononuclear, kemudian mencapai kelenjar getah bening regional. Di sini
virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dimulailah penyebaran ke sel
jaringan limforetikular seperti limpa. Sel mononuclear yang terinfeksi menyebabkan
terbentuknya sel raksasa berinti banyak (sel Warthin), sedangkan limfosit-T (termasuk T-
supressor dan T-helper) yang rentan terhadap infeksi, turut aktif membelah.
Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap,
tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, terbentuklah focus infeksi yaitu ketika virus masuk ke
dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva,
saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus.
Pada hari ke 9-10, focus infeksi yang berada di epitel saluran nafas dan konjungtiva,
akan menyebabkan timbulnya nekrosis pada satu sampai dua lapis sel. Pada saat itu virus
dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi
klinis dari system saluran nafas diikuti dengan batuk pilek disertai selaput konjungtiva
yang tampak merah. Respon imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada
system saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak
tampak sakit berat dan tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak
Koplik, yang dapat tanda pasti untuk menegakkan diagnosis.
Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Sebagai akibat respon delayed
hypersensitivity terhadap antigen virus, muncul ruam makulopapular pada hari ke-14
sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi pada kulit.
Kejadian ini tampak pada kasus yang mengalami deficit sel-T.
Focus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara
mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Penelitian dengan
imunofluoresens dan histologik menunjukkan adanya antigen campak dan diduga terjadi

8
suatu reaksi Arthus. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan
memberikan kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media,
dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu pneumonia juga dapat terjadi, selain itu campak
dapat menyebabkan gizi kurang (Sumarmo, 2015).

Hari Patogenesis
0 Virus campak dalam droplet terhirup dan melekat pada permukaan
konjungtiva. Infeksi terjadi di sel epitel dan virus bermultiplikasi.
1-2 Infeksi menyebar ke jaringan limfatik regional
2-3 Viremia primer
3-5 Virus bermultiplikasi di epitel saluran napas, virus melekat pertama
kali, juga di sistem retikuloendotelial regional dan kemudian
menyebar
5-7 Viremia sekunder
7-11 Timbul gejala infeksi di kulit dan saluran napas
11-14 Virus terdapat di darah, saluran napas, kulit, dan organ-organ tubuh
lain
15-17 Viremia berkurang dan menghilang
Sumber: Halim (2016). Jurnal Campak pada Anak vol.43 no.3

2.7 Komplikasi
Pada penyakit morbili terdapat resistensi umum yang menurun sehingga data terjadi
energi (uji berkulin yang semula positif berubah menjadi negative). Keadaan ini
menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti otitis media akut,
ensefalitis, bronkopneumonia.
Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus morbili atau oleh pneumococcus,
Streptopcoccus, Stayphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematin
bayi yang masih muda, anak dengan malnutrisi energy protein, penderita penyakit
menahun (missal tuberculosis ), leukemia, dan lain lain. Oleh karena itu pada keadaan
tertentu perlu dilakukan pencegahan.

9
Komplikasi neurologis pada morbili dapat berupa hemiplegia, paraplegia, afasia,
gangguan mental, neuritis optika dan ensefalitis.
Ensefalitis morbili dapat terjadi sebagai komplikasi pada anak yang sedang menderita
morbili atau dalam satu bulan setelah mendapat imunisasi dengan vaksin virus morbili
hidup (ensefalitis morbili akut), pada penderita yang sedang mendapat pengobatan
imunosupresif (immunosuppressive measles encephalopathy) dan sebagai subacute
sclerosing panenchepalitis (SSPE).
Ensefalitis morbili akut ini timbul pada stadium eksanten, angka kematian rendah dan
sisa deficit neurologis sedikit. Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi morbili ialah
1:1000 kasus, sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus morbili hidup adalah
1,16 tiap 1.000.000 dosis
SSPE adalah suatu penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf pusat. Penyakit
ini progresif dan fatal serta ditemukan pada anak dan orang dewasa. Ditandai oleh gejala
yang terjadi secara tiba- tiba seperti kekacauan mental, disfungsi motorik, kejang dan
koma. Perjalanan klinis lambat dan sebagian besar penderita meninggal dunia dalam 6
bulan- 3 tahun setelah terjadi gejala pertama. Meskipun demikian remisi spontan masih
bisa terjadi.
Penyebab SSPE tidak jelas tetapi ada bukti- bukti bahwa virus morbili memegang
peranan dalam patogenesisnya. Biasanya anak menderita morbili sebelum umur 2tahun
sedangkan SSPE bisa timbul sampai 7 tahun setelah morbili. SSPE yang terjadi setelah
vaksinasi morbili didapatkan kira- kira 3 tahun kemudian. Kemungkinan penderita SSPE
setelah vaksinasi morbili adalah 0,5 – 1,1 tiap 10juta, sedangkan setelah infeksi morbili
sebesar 5,2 – 9,7 tiap 10 juta. Immunosuppressive measles encephalopathy didapatkan
pada anak dengan morbili yang menderita defisiensi imunologik karena keganasan atau
karena pemakaian obat- obatan imunosupresif. Di afrika didapatkan kebutaan sebagai
komplikasi morbili pada anak yang menderita malnutrisi. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan
Anak FKUI)

10
2.8 Pencegahan
Imunisasi Campak
Pada tahun 1954, Peebles dan Enders pertama kali berhasil mengembangbiakkan
virus campak pada kultur jaringan. Virus campak tersebut berasal dari darah kasus
campak bernama David Edmonston.
Saat ini ada beberapa macam vaksin campak,
a. Monovalen
b. Kombinasi vaksin campak dengan vaksin rubella (MR)
c. Kombinasi dengan mumps dan rubella (MMR)
d. Kombinasi dengan mumps, rubella dan varisela (MMRV)

1. Imunisasi aktif
Ini dilakukan dengan pemberian “Live attenuated measles vaccine“. Mula-mula
digunakan strain Edmonston B, tetapi karena “strain” ini menyebabkan panas tinggi dan
eksantem ada hari ketujuh sampai hari kesepuluh setelah vaksinasi, maka strain
Edmonston B diberikan bersama-sama dengan globulingama pada lengan yang lain.
Sekarang digunakan starin Schwarz dan Moraten dan tidak diberikan globulin-gama.
Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung
lama. Pada penyelidikan serologis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-
10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan untuk memberikan vaksin morbili tersebut pada
anak berumur 15 bulan yaitu karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak
dapat membentuk antibody secara baik karena masih ada antibody dari ibu. Tetapi
dianjurkan pula agar anak yang tinggal didaerah endemis morbili dan terdapat banyak
tuberculosis diberikan vaksinasi pada umur 6 bulan dan revaksinasi dilakukan pada umur
5 bulan. Diketahui dari penelitian Linnemann dkk. (1982) pada anak yang divaksinasi
sebelum umur 10 bulan tidak ditemukan antibody, begitu pula setelah revaksinasi
kadang-kadang titer antibody tidak naik secara bermakna. Di Indonesia saat ini masih
dianjurkan memberikan vaksin morbili pada anak berumur 9 bulan ke atas. Vaksin
morbili tersebut di atas dapat pula diberikan pada orang yang alergi terhadap telur, karena
vaksin morbili ini ditumbuhkan dalam biakan jaringan janin ayam yang secara antigen
adalah berbeda dengan protein telur. Hanya bila terdapat suatu penyakit alergi sebaiknya

11
vaksinasi ditunda sampai 2 minggu sembuh. Vaksin morbili juga dapat diberikan kepada
penderita tuberculosis aktif yang sedang mendapat tuberkulostatika. Vaksin morbili tidak
boleh diberikan kepada wanita hamil, anak dengan tuberculosis yang tidak diobati,
penderita leukemia dan anak yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif.
Vaksin morbili dapat diberikan sebagai vaksin morbili saja atau sebagai vaksin
measles- mumps- rubella (MMR)
Di Indonesia digunakan pula vaksin morbili buatan perum biofarma yang terdiri dari
virus morbili yang hidup dan sangat dilemahkan, strain Scwarz dan ditumbuhkan dalam
jaringan janin ayam dan kemudian di beku- keringkan. Tiap dosis dari vaksin yang sudah
dilarutkan mengandung virus morbili tidak kurang dari 1.00 TCID50 dan neomisin B
sulfat tidak lebih dari 50 mikrogram
Vaksin ini diberikan secara subkutan sebanyak 0,5 ml pada umur 9 bulan. Terjadi
anergi terhadap tuberculin selama 2 bulan setelah vaksinasi. Bila seseorang telah
mendapat immunoglobulin atau transfuse darah maka vaksinasi dengan vaksin morbili
harus ditangguhkan sekurang – kurangnya 3 bulan. Vaksin ini tidak boleh diberikan
kepada anak dengan infeksi saluran pernafasan akut atau infeksi akut lainnya yang
disertai demam, anak dengan defisiensi imunologik, anak yang sedang diberi pengobatan
intensif dengan obat imunosupresif.

2. Imunisasi pasif
Baik diketahui bahwa morbili yang perjalanan penyakitnya diperingan dengan
pemberian globulin- gama dapat mengakibatkan ensefalitis dan penyebaran proses
tuberculosis. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985).

Telah dikeluarkan Permenkes no 42 tahun 2013 mengenai pemberian imunisasi untuk


campak diberikan 2 kali, yaitu pada umur 9 bulan sebagai imunisasi dasar dan pada umur
2 tahun sebagai imunisasi lanjutan. Kemudian pada anak usia sekolah dasar, diberikan
imunisasi campak yang ketiga pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Imunisasi tidak dianjurkan pada ibu hamil, anak dengan imunodefisiensi primer,
pasien TB yang tidak boleh diobati, pasien keganasan atau transplantasi organ, mereka
yang mendapat pengobatan imunosupresif jangka panjang atau anakimunokompromais

12
yang terinfeksi HIV. Anak yang terinfeksi HIV tanpa immunosupresi berat dan tanpa
bukti kekebalan terhadap campak bisa mendapat imunisasi campak.
Kesulitan untuk mencapai dan mempertahankan angka cukup yang tinggi
bersama-sama dengan keinginan untuk menunda pemberian imunisasi sampai antibody
maternal hilang merupakan suatu hal yang berat dalam pengendalian campak. Pada anak-
anak di Negara berkembang, antibody maternal akan hilang pada usia 9 bulan, dan pada
anak-anak di Negara maju setelah 15 bulan. Dosis dan cara pemberian :
a. Dosis vaksin campak 0,5 ml
b. Pemberian diberikan pada umur 9 bulan, secara subkutan walaupun
dapatdiberikan secara intramuscular
c. Imunisasi campak diberikan lagi pada umur 2 tahun masuk sekolah SD (program
BIAS)
(Rezeki, Sri, 2014)

2.9 Reaksi KIPI


Reaksi KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi) yang dapat terjadi pasca-vaksinasi
campak berupa demam pada 5-15% kasus, yang dimulai pada hari 5-6 sesudah imunisasi,
dan berlangsung selama 5 hari. Ruam dapat dijumpai pada 5% resipien, yang timbul pada
hari ke 7 sampai 10 sesudah imunisasi dan berlangsung 2-4 hari. Reaksi KIPI dianggap
berat jika ditemukan gangguan system saraf pusat, seperti ensefalitis dan ensefalopati
pasca-imunisasi. Risiko kedua efek samping tersebut dalam 30 hari sesudah imunisasi
diperkirakan 1 di antara 1.000.000 dosis vaksin.
Reaksi KIPI vaksinasi MMR yang dilaporkan pada penelitian mencakup 6000 anak
berusia 1-2 tahun berupa malaise, demam, atau ruam 1 mingu setelah imunisasi dan
berlangsung 2-3 hari (Soegijanto, 2011).
Vaksinasi MMR dapat menyebabkan efek samping demam, terutama karena
komponen campak. Kurang lebih 5-15% anak akan mengalami demam >39,4oC setelah
imunisasi MMR. Reaksi demam tersebut biasanya berlangsung 7-12 hari setelah
imunisasi, ada yang selama 1-2 hari. Dalam 6-11 hari setelah imunisasi, dapat terjadi
kejang demam pada 0,1% anak, ensefalitis pasca-imunisasi terjadi pada <1/1.000.000
dosis (Soegijanto, 2011).

13
2.10 Penatalaksanaan
Menurut Halim dalam Jurnal Campak pada Anak (2016):
Pada campak tanpa komplikasi tatalaksana bersifat suportif, berupa tirah baring,
antipiretik (parasetamol 10-15 mg/kgBB/dosis dapat diberikan sampai setiap 4 jam),
cairan yang cukup, suplemen nutrisi, dan vitamin A. Vitamin A dapat berfungsi sebagai
imunomodulator yang meningkatkan respon antibody terhadap virus campak. Pemberian
vitamin A dapat menurunkan angka kejadian komplikasi diare dan pneumonia. Vitamin
A diberikan satu kali per hari selama 2 hari dengan dosis sebagai berikut:
a. 200.000 IU pada anak umur 12 bulan atau lebih
b. 100.000 IU pada anak umur 6-11 bulan
c. 50.000 IU pada anak kurang dari 6 bulan
d. Pemberian vitamin A tambahan satu kali dosis tunggal dengan dosis sesuai umur
penderita diberikan antara minggu ke-2 sampai ke-4 pada anak dengan gejala
defisiensi vitamin A. sedangkan pada campak dengan komplikasi otitis media
dan/atau pneumonia bacterial dapat diberi antibiotic. Komplikasi diare diatasi
dehidrasinya sesuai derajat dehidrasinya.
Suplemen vitamin A pada situasi khusus:
A. Bila ada kejadian luar biasa (KLB), campak, dan infeksi lain, maka suplementasi
vitamin A diberikan pada:
a. Seluruh balita yang ada di wilayah tersebut diberi 1 (satu) kapsul vitamin
A dengan dosis sesuai umurnya.
b. Balita yang telah menerima kapsul vitamin A dalam jangka waktu kurang
dari 30 hari (sebulan) pada saat KLB, maka balita tersebut tidak
dianjurkan lagi untuk diberi kapsul.
B. Untuk pengobatan xerophtalmia, campak, dan gizi buruk:
Bila ditemukan kasus xerophtalmia, campak, dan gizi burul (marasmus,
kwashiorkor, dan marasmik kwashiorkor), pemberian vitamin A mengikuti aturan
sebagai berikut:
a. Saat ditemukan: Berikan satu kapsul vitamin A merah atau biru sesuai
umur anak.

14
b. Hari berikutnya: Berikan lagi satu kapsul vitamin A merah atau biru sesuai
umur anak.
c. Dua minggu berikutnya: Berikan satu kapsul vitamin A merah atau biru
sesuai umur anak.

(Depkes RI Bina Gizi Masyarakat, 2010)

2.11 Pemeriksaan Penunjang


a. Serologi
Pada kasus atopic, dapat dilakukan pemeriksaan serologi untuk memastikannya.
Tehnik pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah fiksasi complement, inhibisi
hemaglutinasi, metode antibody fluoresensi tidak langsung.
b. Patologi anatomi
Pada organ limfoid dijjumpai: hyperplasia folikuler yang nyata, senterum
germinativum yang besar, sel Warthin-Finkeldey (sel datia berinti banyak yang
tersebar secara acak, sel ini memiliki nucleus eosinofilik dan jisim inklusi dalam
sitoplasma, sel ini merupakan tanda patognomonik sampak). Pada bercak koplik
dijumpai : nekrosis, neutrofil, neovaskularisasi.
c. Darah tepi
Jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri.
d. Pemeriksaan antibody IgM anti campak.
e. Pemeriksaan untuk komplikasi
Ensefalopati / ensefalitis (dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal, kadar
elektrolit darah dan analisis gas darah), enteritis (feces lengkap), bronkopneumonia
(dilakukan pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah).

15
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa,
sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.
Pengkajian adalah tahap awal dalam proses keperawatan dan merupakan suatu proses
yang sistemik dalam mengumpulkan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi
dan mengidentifikasi status kesehatan pasien. Langlah – langkah dalam pengkajian
meliputi pengumpulan data, analisa data serta perumusan diagnosa keperawatan.
Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan
yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungn pasien.
Pengkajian pada pasien morbili :
1. Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
2. Kepala : sakit kepala
3. Hidung : banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/ koriza. Perdarahan
hitung ( pada stadium erupsi)
4. Mulut dan bibir : mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit
5. Kulit : permukaan kulit (kering),turgor kulit, rasa gatal, ruam pada leher,
muka, lengan, dan kaki ( pada stadium konvalensi), eritema, panas
(demam)
6. Pernapasan : pola napas, RR, batuk, sesak napas, wheezing, ronchi, sputum
7. Timbang : BB, TB, BB lahir, tumbuh kembang riwayat imunisasi
8. Pola defekasi : BAK, BAB, Diare
9. Status nutrisi : intake- output makanan, nafsu makanan baik atau tidak

Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni. Dalam sputum, sekresi
nasal, sedimen urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant sel yang khas. Pada
pemeriksaan serologi dengan cara hematglutination inhibition tesdan compelement
fiksatior tes akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3 hari setelah
timbulnya rash dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu kemudian. (Nurarif &
Kusuma, 2015)

16
3.2 Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis tentang respon individu, keluarga,
dan masyarakat tentang masalah kesehatan actual dan potensial, dimana berdasarkan
pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menutunkan, membatasi, mencegah
dan merubah status kesehatan pasien.
Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa dan interpretasi data yang
diperoleh dari pengkajian keperawatan pasien. Diagnose keperawatan memberikan
gambaran tentang masalah atau status kesehatan pasien yang nyata( actual ) dan
kemungkinan yang terjadi. Dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas
wewenang perawat.
Diagnosa keperawatan yang bisa ditemukan pada pasien dengan morbili adalah sebagai
berikut (Nurarif, Amin Huda dan Hardi Kusuma, 2015) meliputi :
1. Ketidakefektifsn bersihan jalan nafas
2. Ketidakefektifan pola nafas
3. Resiko kekurangan volume cairan
4. Hipertermia
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
6. Kerusakan integritas jaringan kulit
3.3 Rencana asuhan keperawatan
Perencanaan adalah proses dua bagian. Pertama identifikasi tujuan dan hasil yang
diinginkan pasien untuk memperbaiki masalah kesehatan atau kebutuhan yang telah
dikaji, hasil yang diharapkan harus spesifik, realistic, dapat diukur, mempertimbangkan
keinginan dan sumber pasien. Kedua, pemilihan intervensi keperawatan yang tepat untuk
membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan ( Doengoes, 2000 )
Rencana tindakan adalah desain spesifik intervensi untuk membantu pasien dalam
mencapai criteria hasil. Rencana tindakan dilaksanakan berdasarkan komponen penyebab
dari diagnosa keperawatan
Rencana asuhan keperawatan yang sesuai diagnosa keperawatan diatas (Nurarif, Amin
Huda dan Hardi Kusuma, 2015) meliputi :

17
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan produksi sputum yang
berlebih. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan ketidakefektifan bersihan
jalan napas dapat teratasi. Kriteria hasil : Mendemonstrasikan batuk efektif, suara
napas bersih, tidak terdapat sianosis dan dispnea, jalan napas paten. Intervensi : kaji
status pernapasan, Auskultasi suara napas, catat adanya suara napas tambahan,
keluarkan sputum dengan batuk efektif dan sunction ( bila perlu ) , atur intake untuk
cairan mengoptimalkan keseimbangan, monitor respirasi dan status oksigen lakukan
fisioterapi dada bila perlu, berikan posisi yang nyaman , semifowler atau fowler,
kolaborasi dalam pemberian nebulizer.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan inflamasi saluran napas. Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan, masalah ketidakefektifan pola napas dapat
teratasi, pasien menunjukkan status respirasi, ventilasi : pergerakan udara ke dalam
dan keluar dari paru- paru normal. Criteria hasil : menunjukkan pola pernapasan
efektif, kedalaman inspirasi dan kemudahan bernapas, ekspansi dada simetris, tidak
ada penggunaan otot bantu pernapasan, tidak terdapat bunyi pernapasan tambahan,
tanda- tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan).
Intervensi : monitor TTD, nadi, suhu dan RR, pantau adanya sianosis, beri posisi
semifowler atau fowler pada pasien untuk memaksimalkan ventilasi, keluarkan secret
(bila ada ) dengan batuk efektif atau sunction, monitor respirasi dan status oksigen,
observasi tanda- tanda adanya hipoventilasi, monitor pola pernapasan abnormal,
kolaborasi dalam pemberian bronkodilator dan terapi O2.
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih
(diare ). Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, resiko kekurangan volume
cairan dapat teratasi. Criteria hasil : turgor kulit baik, produksi urine normal ( 0,5 –
1cc/kgBB/jam ), kulit lembab, TTV dalam batas normal, mukosa mulut lembab,
cairan masuk dan keluar seimbang, tidak pusing pada perubahan posisi, tidak haus.
Intervensi : observasi penyebab kekurangan cairan : muntah, diare, kesulitan
menelan, kekurangan darah aktif, diuretic, depresi, kelelahan, observasi TTV, pantau
tanda- tanda dehidrasi, observasi pemasukan dan pengeluaran cairan bila kekurangan
cairan secara mendadak, ukur produksi urin setiap jam, berat jenis, dan observasi
warna urine, perhatikan : cairan yang masuk, kecepatan tetesan untuk mencegah

18
edema paru, dispneu, bila pasien terpasang infuse, pertahankan bedrest selama fase
akut, ajarkan tentang masukan cairan yang adekuat, tanda serta cara mengatasi kurang
cairan, kolaborasi dalam pemberian cairan parenteral, obat sesuai indikasi, dan
observasi kadar Hb dan Ht.
4. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit. Tujuan : setelah dilakukan
tindakan keperawatan, masalah dapat teratasi, suhu tubuh normal. Keriteria hasil :
suhu tubuh kisaran 36,5 ͦ C – 37,5 ͦ C, bibir lembab, badi normal, kulit tidak terasa
panas, tidak ada gangguan neurologis (kejang). Intervensi : identifikasi penyebab atau
faktor yang dapat menimbulkan peningkatan suhu tubuh : dehidrasi, infeksi, efek
obat, hipertiroid. Monitr suhu minimal 2 jam, monitor TD, nadi, dan RR, monitor
tanda- tanda hipertermi tingkatkan intake cairan dan nutrisi, observasi cairan masuk
dan keluar, hitung balance cairan, observasi tanda kejang mendadak, berikan kompres
hangat, anjurkan pasien untuk mengurangi aktivitas yang berlebihan bila suhu
naik/bedrest total, anjurkan dan bantu pasien menggunakan pakaian yang mudah
menyerap keringat, kolaborasi dalam pemberian antipiretik, antibiotic, dan
pemeriksaan penunjang.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan
makanan yang kurang, anoreksia. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan,
diharapka, masalah ketidakseimbangan nutrisi dapat teratasi, pasien dapat
memperbaiki status gizi (nutrisi) dalam jangka waktu, kriteria hasil : BB meningkat,
mual/ muntah berkurang atau hilang, pasien dapat menghabiskan porsi makan yang
diberikan, nafsu makan meningkat, pasien mengungkapkan kesediaan mematuhi diit,
tidak ada tanda- tanda malnutrisi. Intervensi : kaji pola makan pasien, observasi mual
muntah, jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat untuk kesembuhan. Kaji
kemampuan untuk mengunyah dan menelan, beri posisi semifowler atau fowler saat
makan, identifikasi faktor pencets mual, muntah, diare, atau nyeri abdomen, kaji
makanan yang disukai dan yang tidak disukai, sajikan makanan dalam keadaan
hangat dan menarik, bantu pasien utnuk makan dan catat jumlah makanan yang
dihabiskan, lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan, kolaborasi dalam :
penatalaksaan diet yang sesuai dengan ahli gizi, pemberian nutrisi parenteral,
pemberian anti emetic, pemberian mulvitamin.

19
6. Kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan adanya rash. Tujuan : setelah
dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan masalah kerusakan integritas kulit dapat
teratasi. Kritria hasil : tidak terdapat luka/lesi pada jaringan kulit, mampu melindungi
kulit dan mempertahankan kelembaban kulit, integritas kulit yang baik bisa di
pertahankan (sensasi elastisitas, temperature, pigmentasi ). Intervensi : pantau kulit
dari adanya : ruam dan lecet, warna dan suhu, kelembaban dan kekeringan yang
berlebih, area kemerahan dan rusak, mandingan dengan air hangat dan sabun ringan,
anjurkan pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit, balikkan atau
ubah posisi dengan sering, ajarkan anggota keluarga/ member asuhan tentang tanda
kerusakan kulit, jika diperlukan, konsultasi pada ahli gizi tentang makan tinggi
protein, mineral, kalori, dan vitamin.
3.4 Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan tindakan yang telah direncanakan untuk mencapai
tujuan pada rencana tindakan keperawatan yang telah disusun. Prinsip- prinsip
melakukan asuhan keperawatan menggunakan komunikasi terapeutik serta memberikan
penjelasan untuk setiap tindakan yang telah diberikan ke pasien. Pelaksaan bertujuan
untuk mengatasi masalah dan diagnose keperawtatan kolaborasi, dan membantu dalam
pencapaian tujuan yang ditetapkan dan memfasilitasi koping.
Pelaksanaan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan morbili ( Nurarif, Amin
Huda dan Hardi Kusuma, 2015) meliputi :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan produksi sputum yang
berlebih. Implementasi : kaji status pernapasan, auskultasi suara napas, catat adanya
suara napas tambahan, ajarkan keluarga untuk melakukan batuk efektif dan
melakukan tindakan sunction ( bila perlu ) , kaji dan monitor intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan, pantau respirasi dan status oksigen, ajarkan keluarga
melakukan tindakan fisioterapi dada bila perlu, berikan tindakan posisi yang nyaman,
semifowler atau fowler, kolaborasi untuk melakukan dalam pemberian nebulizer
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan inflamasi saluran napas.
Implementasi : monitor dan kaji, nadi, suhu, dan RR, pantau adanya sianosis, berikan
posisi semifowler atau fowler pada pasien untuk memaksimalkan ventilasi, dan
ajarkan kembali keluarga untuk mengeluarkan secret (bila perlu ) dengan batuk

20
efektif atau lakukan tindakan sunction, monitor dan kaji respirasi dan status oksigen,
mengobservasi tanda- tanda adanya hipoventilasi, monitor pola pernapasan abnormal,
melakukan tindakan kolaborasi dalam pemberian bronkodilator dan terapi oksigen.
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya kehilangan cairan
berlebih (diare), implementasi : melakukan observasi penyebab kekurangan cairan :
muntah, diare, kesulitan menelan, kekurangan darah aktif, diuretic, depresi, kelelahan,
melakukan observasi TTV , monitor dan pantau tanda- tanda dehidrasi, melakukan
observasi pemasukan dan pengeluaran cairan bila kekurangan cairan secara
mendadak, ukur produksi urine setiap jam, berat jenis dan observasi warna urine,
perhatikan : cairan yang masuk, kecepatan tetesan untuk mencegah edema paru,
dispneu, bila pasien terpasang infuse, berikan informasi keluarga untuk
mempertahankan bedrest selama fase akut, ajarkan keluarga tentang masukan cairan
yang adekuat, tanda serta cara mengatasi kurang cairan, dan observasi kadar Hb dan
Ht.
4. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit. Implementasi : monitor dan
mengidentifikasi penyebab atau faktor yang dapat menimbulkan peningkatan suhu
tubuh : dehidrasi, infeksi, efek obat, hipertiroid. Monitor dan kaji suhu minimal setiap
2 jam. Monitor dan pantau TD,nadi, dan RR. Monitor dan pantau adanya tanda- tanda
hipertermi , berikan informasi keluarga untuk meningkatkan intake cairan dan nutrisi.
Mengobservasi cairan masuk dan keluar, hitung balance cairan. Kaji dan observasi
tanda kejang mendadak, berikan kompres hangat jika suhu diatas normal. Anjurkan
kepada keluarga untuk pasien mengurangi aktivitas yang berlebihan bila suhu
naik/bedrest total. Anjurkan kepada keluarga dan bantu pasien menggunakan pakaian
yang mudah menyerap keringat. Kolaborasikan didalam pemberian antipiretik,
antibiotic, dan pemeriksaan penunjang.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan
makanan yang kurang, anoreksia. Implementasi : kaji dan pantau pola makan pasien,
observasi dan monitor mual muntah, berikan informasi tentang penjelasan pentingnya
nutrisi yang adekuat untuk kesembuhan, kaji dan pantau kemampuan untuk
mengunyah dan menelan, berikan posisi semifowler atau fowler saat makan,
melakukan dan mengidentifikasi fakyor pencetus mual, muntah, diare, atau nyeri

21
abdomen, kaji makanan yang disukai dan tidak disukai, berikan informasi keluarga
untuk menyajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik, bantu pasien untuk
makan dan catat jumlah makanan yang dihabiskan, melakukan tindakan dan beri
informasi perawatan mulut sebelum dan sesudah makan kepada keluarga, kolaborasi
dalam : penatalaksanaan diet yang sesuai dengan ahli gizi, pemberian nutrisi
parenteral, pemberian anti emetic, pemberian multi vitamin.
6. Kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan adanya rash. Implementasi :
pantau dan kaji kulit dari adanya : ruam dan lecet, warna dan suhu, kelembapan dan
kekringan yang berlebih, area kemerahan dan rusak, anjurkan kepada pasien dan beri
informasi keluarga untuk memandikan dengan air hangat dan sabun ringan anjurkan
dan beri informasi kepada keluarga pasien untuk menghindari menggaruk dan
menepuk kulit, anjurkan dan beri informasi keluarga untuk membalikan atau ubah
posisi dengan sering, ajarkan anggota keluarga atau member asuhan tentang tanda
kerusakan kulit, jika diperlukan, konsultasi pada ahli gizi tentang makanan tinggi
protein, menieral, kalori dan vitamin.
3.5 Evaluasi keperawatan
Evaluasi didefinisikan sebagai keputusan dan efektifitas asuhan keperawatan antara dasr
tujuan keperawatan pasien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku pasien yang
trampil. Evaluasi yang diharapakan pada pasien morbili adalah merupakan integral data
pada setiap tahap proses keperawatan. Pengumpulan data perlu direvisi untuk
menentukan apakah informasi yang telah dikumpulkan sudah mencukupi dan apakah
perilaku yang diobservasi sudah sesuai. Tujuan dan intervensi di evaluasi untuk
menentukan apakah tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif. Evaluasi diharapakan
dari asuhan keperawatan dengan morbili adalah perjalanan infeksi tidak terjadi,
hipertermi tidak terjadi, intraksi social tidak terganggu, kerusakan integritas kulit tidak
terganggu serta perubahan proses keluarga dapat diterima.

22
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Campak ialah penyakit infeksi virus akut, menular, secara epidemiologi penyebab utama
kematian terbesar pada anak. Menurut etiologinya campak disebabkan oleh virus RNA dari
famili paramixoviridae, genus Morbillivirus, yang ditularkan secara droplet. Gejala klinis
campak terdiri dari 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium
konvalesensi. Campak dapat dicegah dengan melakukan imunisasi secara aktif, pasif dan
isolasi penderita. Insidens Rate Campak dari data rutin selama tahun 1992 – 1998 di
Indonesia cenderung menurun untuk semua kelompok umur. Penurunan paling tajam pada
kelompok umur.

4.2 Saran
Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah
dan memahami apa yang telah terulis dalam makalah ini sehingga sedikit banyak bisa
menambah pengetahuan pembaca. Disamping itu kami juga mengharapkan saran dan kritik
dari para pembaca sehinga kami bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami selanjutnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Maldonado, Y. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC.

Lestari titik.2016.AsuhanKeperawatanAnak.Yogyakarta:NuhaMedika

SetiawanMade.2008.PenyakitCampak.Jakarta:SagungSeto

GilbertPatricia.1986.PenyakitYangLazimPadaAnakAnak.Jakarta:ARCAN

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Suriadi, Rita Yuliani., 2006, Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 2. Jakarta : Sagung
setia.

24