You are on page 1of 32

SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN

“PERAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI LAYANAN


PEMBERIAN ASKEP”

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 1

Abdurrahman Nata Negara

Al Della Noviana Asgar

Ramsyah

Ratu Kardina

Sandra Ekha Diergantara

Pembimbing:

Ns. Rizky Setiadi, S. Kep., MKM.

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES

KALIMANTAN TIMUR

i
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan segala puji syukur kehadirat Allah SWT, yang


selalu melimpahkan karunia Nya sehingga kami bisa meyelesaikan tugas Sistem
Informasi Keperawatan dengan judul “Peran Teknologi Informasi Bagi Layanan
Pemberian Asuhan Keperawatan”.

Dalam penyusunan makalah ini kami mendapat banyak bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Rizky
Setiadi selaku dosen pembimbing.

Kami Menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penyusunan makalah ini masih


banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
sifatnyaa membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Samarinda, 03 Desember 20178

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG............................................................... 1

1.2 TUJUAN.................................................................................... 6

1.3 MANFAAT…………………………………………………… 6

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

2.1 Sistem Informasi Manajemen.................................................... 7

2.2 Sistem Informasi Keperawatan................................................. 8

2.3 Teknologi PDA………………………………………………. 13

BAB 3 PEMBAHASAN………………………………………………… 21

BAB 4 PENUTUP

4.1 KESIMPULAN........................................................................ 27

4.2PENUTUP....................................................................................27

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan globalisasi, perkembangan pengetahuan dan

teknologi, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mulai

berkembang. Perkembangan pengetahuan masyarakat membuat

masyarakat lebih menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat

dipertanggung jawabkan. Perawat sebagai salah satu tenaga yang

mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai

peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam

upaya peningkatan mutu, seorang perawat harus mampu melaksanakan

asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari pengkajian sampai

dengan evaluasi berikut dengan dokumentasinya.

Saat ini masih banyak perawat yang belum menyadari bahwa

tindakan yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan. Selain itu banyak

pihak menyebutkan kurangnya dokumentasi juga disebabkan karena

banyak yang tidak tahu data apa saja yang yang harus dimasukkan, dan

bagaimana cara mendokumentasi yang benar.( Hariyati, RT., 2002)

Kondisi tersebut di atas membuat perawat mempunyai potensi

yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian pada pelayanan kesehatan

pada umumnya dan pelayanan keperawatan pada khususnya. Selain itu

dengan tidak ada kontrol pendokumentasian yang benar maka pelayanan

1
yang diberikan kepada pasien akan cenderung kurang baik, dan dapat

merugikan pasien. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang berlaku di

beberapa rumah sakit di Indonesia umumnya masih menggunakan

pendokumentasian tertulis. Pendokumentasian tertulis ini sering

membebani perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada

form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk

mengisinya. Permasalahan lain yang sering muncul adalah biaya

pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak

tersedia. Pendokumentasian secara tertulis dan manual juga mempunyai

kelemahan yaitu sering hilang. Pendokumentasian yang berupa lembaran-

lembaran kertas maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip.

Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat

penyimpanan dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika

sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut diperlukan. Dokumentasi yang

hilang atau terselip di ruang penyimpanan akan merugikan perawat. Hal

ini karena tidak dapat menjadi bukti legal jika terjadi suatu gugatan

hukum, dengan demikian perawat berada pada posisi yang lemah dan

rentan terhadap gugatan hukum.

Di luar negri kasus hilangnya dokumentasi serta tidak tersedianya

form pengisian tidak lagi menjadi masalah. Hal ini karena pada rumah

sakit yang sudah maju seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan pasien

termasuk dokumentasi asuhan keperawatan telah dimasukkan dalam

komputer. Dengan informasi yang berbasis dengan komputer diharapkan

2
waktu pengisian form tidak terlalu lama, lebih murah, lebih mudah

mencari data yang telah tersimpan dan resiko hilangnya data dapat

dikurangi serta dapat menghemat tempat karena dapat tersimpan dalam

ruang yang kecil yang berukuran 10 cm x 15 cm x 5 cm . Sistem ini sering

dikenal dengan Sistem informasi manjemen. Sistem informasi merupakan

suatu kumpulan dari komponen-komponen dalam organisasi yang

berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem

Informasi mempunyai komponen- komponen yaitu proses, prosedur,

struktur organisasi, sumber daya manusia, produk, pelanggan, supplier,

dan rekanan. (Eko,I. 2001).

Salah satu kegiatan yang dapat mendukung adalah penerapan

sistem informasi manajemen keperawatan berbasis komputer. Sistem

Informasi Manajemen Keperawatan (SIMK) disusun untuk

memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi serta

digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan.

Artinya SIMK disusun untuk memudahkan pelaksanaan manajemen

asuhan keperawatan. Dan tujuan ini adalah tujuan paling dasar dalam

pemanfaatan teknologi informasi/komputer. Sehingga, pemanfaatan

teknologi informasi/komputer harus menjamin sebuah pekerjaan menjadi

lebih mudah, bukan malah menjadi sulit. Aplikasi/system harus mampu

memberikan informasi yang bermanfaat bagi manajemen. SIMK bukan

hanya sekedar mengganti dokumen manual menjadi terkomputerisasi,

tetapi lebih dari itu. Sebagai sebuah contoh, system mampu memfasilitasi

3
untuk memunculkan evidance base keperawatan. Mampu menampilkan

laporan-laporan yang dapat dijadikan rujukan akuntabilitas perawat,

kinerja perawat, performa perawat, kompetensi perawat dll.

Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer,

ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan

manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang

digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan (Gravea &

Cococran,1989) Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995)

system informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk

memperoleh dan menggunakan data, informasi dan pengetahuan tentang

standar dokumentasi, komunikasi, mendukung proses pengambilan

keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru,

meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan

memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan.

Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada

keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan

dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail,

cepat, relevan untuk suatu organisasi.

Sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan sudah

berkembang di luar negri sekitar tahun 1992, di mana pada bulan

September 1992, sistem informasi diterapkan pada sistem pelayanan

kesehatan Australia khususnya pada pencatatan pasien. (Liaw, T.,1993).

Pemerintah Indonesia sudah mempunyai visi tentang sistem informasi

4
kesehatan nasional yaitu Informasi kesehatan andal 2010(Reliable Health

Information 2010). (Depkes, 2001). Pada Informasi kesehatan andal

tersebut telah direncanakan untuk membangun system informasi di

pelayanan kesehatan dalam hal ini Rumah sakit dan dilanjutkan di

pelayanan di masyarakat, namun pelaksanaannya belum optimal. Sistem

informasi manajemen keperawatan sampai saat ini juga masih sangat

minim di rumah sakit Indonesia. Padahal sistem Informasi manajemen

asuhan keperawatan mempunyai banyak keuntungan jika dilihat dari segi

efisien, dan produktifitas.

Dengan sistem dokumentasi yang berbasis komputer pengumpulan

data dapat dilaksanakan dengan cepat dan lengkap. Data yang telah

disimpan juga dapat lebih efektive dan dapat menjadi sumber dari

penelitian, dapat melihat kelanjutan dari edukasi ke pasien, melihat

epidemiologi penyakit serta dapat memperhitungkan biaya dari pelayanan

kesehatan.(Liaw,T. 1993). Selain itu dokumentasi keperawatan juga dapat

tersimpan dengan aman. Akses untuk mendapat data yang telah tersimpan

dapat dilaksanakan lebih cepat dibandingkan bila harus mencari lembaran

kertas yang bertumpuk di ruang penyimpanan. Menurut Herring dan

Rochman (1990) diambil dalam Emilia, 2003: beberapa institusi kesehatan

yang menerapkan system komputer, setiap perawat dalam tugasnya dapat

menghemat sekitar 20-30 menit waktu yang dipakai untuk dokmuntasi

keperawatan dan meningkat keakuratan dalam dokumentasi keperawatan.

Dokumentasi keperawatan dengan menggunakan komputer seyogyanya

5
mengikuti prinsip-prinsip pendokumentasian, serta sesuai dengan standar

pendokumentasian internasional seperti: ANA, NANDA,NIC (Nursing

Interventions Classification, 2000).

1.2 Tujuan

A. Mempermudah bagi tenaga medis dalam memberikan pelayan kesehatan

yang efisien dan efektif.

B. Merubah cara konvensional menjadi cara modern, sehingga dapat bersaing

secara globalisasi.

1.3 Manfaat

A. Memberikan kemudahan dalam pelaksanaan pendokumentasian asuhan

keperawatankepada pasien, juga dapat meningkatkan pelayanan kepada

pasien secara optimal.

B. Mengurangi kekeliruan dalam pelayanan keperawatan serta

dapatmemotivasi perawat untuk bekerja lebih praktis, cepat, tepat dan

akurat yang akhirnyadapat meningkatkan kinerja dan produktivitas.

C. Dengan sistem informasi keperawatan akan dapat mengurangi resiko-

resiko kehilangan data, memudahkan dalam mencari datayang tersimpan.

6
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi manajemen adalah sebuah sistem/mesin

yang terpadu, untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi

operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dari sebuah organisasi.

Sistem ini menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak computer,

prosedur pedoman, model manajemen dan keputusan, dan sebuah

database. ( Davis, 2002). Sistem informasi merupakan suatu kumpulan

dari komponen-komponen dalam organisasi yang berhubungan dengan

proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem Informasi mempunyai

komponen- komponen yaitu proses, prosedur, struktur organisasi,

sumberdaya manusia, produk, pelanggan, supplier, dan rekaman. (Eko,I.

2001). Menurut Davis (2002) Pokok-pokok sistem informasi manajemen

terdiri dari perangkat keras komputer dan perangkat lunak yang terdiri dari

perangkat lunak sistem umum,perangkat terapan umum, program aplikasi,

data base, prosedur, petugas pengoperasian.Sedangkan menurut Siagian

(2003), komponen suatu pengolahan data elektronik terdiridari sumber

daya manusia, prosedur, infrastruktur fisik, perangkat keras dan

perangkatlunak. Manfaat penggunaan sistem informasi manajemen di

rumah sakit yaitu menjaga mutu pelayanan rumah sakit, mengontrol

biaya dan meningkatkan produktivitas, memperkirakan demand

7
terhadap pelayanan, merencanakan program perencanaan danevaluasi,

serta mendukung pelaksanaan penelitian dan pengembangan serta

menetapkankegiatan pendidikan dan pelatihan.

2.2 Sistem Informasi Keperawatan

Informasi keperawatan adalah ilmu keperawatan yang terintegrasi

dengan ilmu keperawatan, ilmu komputer, dan ilmu informasi untuk

mengolah data, informasi, danpengetahuan dalam praktik keperawatan.

Informasi keperawatan terintegrasi dari data,informasi dan pengetahuan

untuk mendukung pasien, perawat dan pengguna lain dalam berperan

mengambil keputusan (ANA, 2001). Pendapat lain juga menyatakan

bahwainformasi keperawatan adalah untuk menganalisa, mengumpulkan ,

mengolah data, danmemproses data ke dalam bentuk informasi dan

pengetahuan, membuat pengetahuan sebagai dasar keputusan dan

pemberian pelayanan keperawatan pasien dan meningkatkan kualitas

dalam praktik profesionalnya (Goossen, 1996).Perkembangan teknologi

informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai

kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga

akhirnya akan meningkatkan produktivitas, dan dapat meningkatkan

kualitas pelayanan yang diberikan. Banyak manfaat yang diperoleh bila

rumah sakit menggunakan sistem informasi keperawatan yaitu manajemen

lebih efisien, penggunaan sumber biaya lebih efektif, peningkatan

program perencanaan, dan meningkatkan pendayagunaan

perawat.(Strachan, 2005).American Association of Nurse Executive

8
(1993) dalam Saba,McCormick,(2001)mengemukakan manfaat penting

dalam penggunaan informasi teknologi yaitu meningkatkan pemanfaatan

sumber daya staf perawat, meningkatkan pelayanan dan monitoring

pasien, meningkatkan dokumentasi, meningkatkan informasi,

meningkatkan perencanaan, meningkatkan standar praktik keperawatan,

kemampuan menetapkan masalah dan meningkatkan evaluasi perawatan

dan mendukung organisasi yang dinamik.Menurut ANA (American Nurse

Association) dalam Saba (2001), menyebutkan ada enam standar praktik

untuk informasi keperawatan yaitu:

1. Pengkajian, berfokus pada pasien yang meliputi identitas pasien.

Identifikasi hasil, hasil siklus teknologi informasi dari pasien dan

data pasien dalam mendukung adanya perubahan dalam

pembuatan keputusan.

2. Diagnosa, meliputi seluruh aktivitas yang berhubungan dengan

identifikasi hasil yang menggambarkan hasil perawatan yang

terukur.

3. Perencanaan, penggunaanteknologi yang digunakan untuk

menambah dan merubah data yang relevan ke dalam perencanaan

keperawatan.

4. Implementasi, merupakan pemberian tindakan yang nyata kepada

pasien.

9
5. Evaluasi, digunakan untuk efisiensi dan efektifitas

keputusan,perencanaan dan pelaksanaan untuk meningkatkan

praktik keperawatan.

6. Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting

yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan.

(Kozier,E. 1990).

Oleh karena itu pendokumentasian keperawatan yang menggunakan

Sistem Informasi Manajemen Keperawatan (SIMK) perlu diterapkan, dimana

fasilitas yang dibuat menjadi lebih lengkap, karena memuat berbagai aspek

pendokumentasian seperti yang telah diuraikandiatas. sistem ini memuat standar

asuhan keperawatan, standart operating procedure(SOP), discharge planning,

jadwal dinas perawat, penghitungan angka kredit perawat,daftar diagnosa

keperawatan terbanyak, daftar NIC terbanyak, laporan implementasi,laporan

statistik, resume perawatan, daftar SAK, presentasi kasus on line, mengetahuijasa

perawat, monitoring tindakan perawat, dan monitoring aktifitas perawat laporan

shiftdan monitoring pasien oleh kepala ruang saat sedang rapat. (Haryati, RT,

1999)Sistem Informasi Manajemen Keperawatan (SIMK) merupakan paket

perangkat lunak yang dikembangkan secara khusus untuk divisi pelayanan

keperawatan. Paket perangkat lunak ini mempunyai program-program atau

modul-modul yang dapat membentukberbagai fungsi manajemen. SIMK

mempunyai modul untuk mengklasifikasikan pasien,pembentukan staf,

penjadwalan, catatan personal. Modul ini juga termasukpengembangan

anggaran, alokasi sumber dan pengendalian biaya, analisa kelompok diagnosa

10
yang berhubungan (KDB), pengendalian mutu, catatan perkembangan staf,model

dan simulasi untuk pengabilan keputusan, rencana strategik, ramalan permintaan

jangka pendek dan rencana kerja serta evaluasi program. (Swanburg RC, 2000).

SIMK dan komputer akan membuat perawatan pasien lebih efektif dan ekomomis.

Perawat-perawat klinis akan menggunakannya untuk mengatur perawatan

pasien,komponen klinis termasuk riwayat pasien, rencana perawatan,pemantauan

psikologislangsung dan tidak langsung, catatan kemajuan perawatan pasien.

Perawat klinis dapat menggunakan SIMK untuk mengganti sistem manual dari

pencatatan data. Hal ini dapat mengurangi biaya-biaya sekaligus memungkinkan

peningkatan kualitas perawatan kepada pasien. Hasil penelitian telah

membuktikan bahwa penggunaan sistem informasi keperawatan yang efektif

dan teknologi tepat guna akan dapat mengurangi kesalahan dalam memberikan

perencanaan keperawatan pada pasien. Sistem informasi keperawatan juga akan

meningkatkan mutu pelayanan dan asuhan keperawatan ( lewis, 2005)

Program-program yang dirancang dalam Sistem Informasi Manajemen

Keperawatan (SIMK) menurut Jasun (2006):

1. Standar Asuhan Keperawatan Standar asuhan keperawatan menggunakan

standar internasional dengan mengacu padaNANDA, standar outcome

keperawatan mengacu pada NOC, dan standar intervensikeperawatan

mengacu pada NIC.

2. Standar operating Prosedur (SOP)Uraian standar tindakan keperawatan

yang terdapat dalam standar asuhan keperawatan.

11
3. Discharge planning Uraian perencanaan pulang pasien setelah dirawat di

rumah sakit

4. Jadwal Dinas Perawat Jadwal dinas perawat dibuat secara otomatis oleh

program komputer, sehingga tinggal melakukan print

5. Penghitungan angka kredit perawat Angka kredit merupakan rekapan dari

aktivitas perawat sehari-hari, yang otomatis akandapat diakses harian,

mingguan dan bulanan.

6. Daftar diagnosa terbanyak Daftar diagnosa keperawatan direkapitulasi

oleh sistem berdasar input perawat sehari-hari. Penghitungan diagnosa

keperawatan bermanfaat untuk pembuatan standar asuhankeperawatan.

7. Daftar NIC terbanyak Rekapan tindakan terbanyak berdasarkan pada

masing-masing diagnosa keperawatan yang ada

8. Laporan implementasi Rekapan tindakan perawatan pada satu periode,

daftar difilter berdasarkan ruang,pelaksana dan pasien. Laporan ini dapat

menjadi alat monitoring yang efektif tentangkebutuhan pembelajaran bagi

perawat. laporan implementasi juga dapat dijadikan alatbantu operan shift.

9. Laporan statistikLaporan statistik yang dimunculkan adalah BOR, LOS,

TOI dan BTO di ruang tersebut.

10. Resume keperawatan Resume bermanfaat untuk melihat secara global

pengelolaan pasien saat dirawatsebelumnya, jika pasien pernah dirawat.

Resume dicetak saat pasien akan keluar dariperawatan. Komputer telah

merekam data-data yang dibutuhkan untuk pembuatan resume

keperawatan

12
11. Daftar SAK Dalam SIMK, SAK berdasarkan rekapan dari sistem yang

telah dibuat.

12. Presentasi kasus on lineSistem dengan jaringan WiFi memungkinkan data

pasien dapat diakses dalam ruangconverence. Maka presentasi kasus

kelolaan di ruang rawat dapat dilakukan secara online, ketika pasien masih

di rawat.

13. Mengetahui jasa perawat Dengan system yang terintegrasi dengan SIM

RS, memungkinkan perawat mengetahuijasa tundakan yang dilakukannya.

14. Monitoring tindakan perawat & monitoring aktivitas perawat manajemen

perawatan dapat mengakses langsung tindakan-tindakan yang dilakukan

oleh perawat, dan mengetahui pula masing-masing perawat telah

melakukan aktivitas keperawatan apa.

15. Laporan shift merupakan rekapan dari aktivitas yang telah dilakukan dan

yang akan dilakukan oleh perawat, tergantung item mana yang akan

dilaporkan pada masing-masing pasien.

16. Monitoring pasien oleh PN atau kepala ruang saat sedang rapatMonitoring

dapat dilakukan ketika PN atau Karu sedang rapat di ruang converence.

Akandiketahui apakah seorang pasien telah dilakukan pengkajian,

diagnosa, perencanaan,implementasi dan evaluasi atau belum.

2.3 Teknologi PDA

Tenaga perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai

kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting

untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dalam upaya

13
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, seorang perawat harus mampu

melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu dari mulai

pengkajian sampai dengan evaluasi dan yang sangat penting adalah

disertai dengan sistem pendokumentasian yang baik. Namun pada

realitanya dilapangan, asuhan keperawatan yang dilakukan masih bersifar

manual dan konvensional, belum disertai dengan sistem /perangkat

tekhonolgi yang memadai. Contohnya dalam hal pendokumentasian

asuhan keperawatan masih manual, sehingga perawat mempunyai potensi

yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian dalam praktek. Dengan

adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka sangat

dimungkinkan bagi perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian

asuhan keperawatan yang lebih baik dengan menggunakan Sistem

Informasi Manajemen. Salah satu bagian dari perkembangan teknologi

dibidang informasi yang sudah mulai dipergunakan oleh kalangan perawat

di dunia internasional adalah teknologi PDA ( personal digital assistance.

Di masa yang akan datang, pelayanan kesehatan akan dipermudah dengan

pemanfaatan personal digital assistance (PDA). Perawat, dokter, bahkan

pasien akan lebih mudah mengakses data pasien serta informasi perawatan

terakhir.

Definisi PDA (Personal Digital Assistants) menurut Wikipedia

adalah sebuah alat komputer genggam portable, dan dapat dipegang

tangan yang didesain sebagai organizer individu, namun terus berkembang

sepanjang masa. PDA memiliki fungsi antara lain sebagai kalkulator, jam,

14
kalender, games, internet akses, mengirim dan menerima email, radio,

merekam gambar/video, membuat catatan, sebagai address book, dan juga

spreadsheet. PDA terbaru bahkan memiliki tampilan layar berwarna dan

kemampuan audio, dapat berfungsi sebagai telepon bergerak, HP/ponsel,

browser internet dan media players. Saat ini banyak PDA dapat langsung

mengakses internet, intranet dan ekstranet melalui Wi-Fi, atau WWAN

(Wireless Wide-Area Networks). Dan terutama PDA memiliki kelebihan

hanya menggunakan sentuhan layar dengan pulpen/ touch screen.7)

Perusahaan Apple Computer-lah yang pertama kali mengenalkan

PDA model Newton MessagePad di tahun 1993. Setelah itu kemudian

muncul beragam perusahaan yang menawarkan produk serupa seperti yang

terpopuler adalah PalmOne (Palm) yang mengeluarkan seri Palm Pilots

from Palm, Inc dan Microsoft Pocket PC (Microsoft). Palm menggunakan

Palm Operating System (OS) dan melibatkan beberapa perusahaan seperti

Handspring, Sony, and TRG dalam produksinya. Microsoft Pocket PC

lebih banyak menggunakan MS produk, yang banyak diproduksi oleh

Compaq/Hewlett-Packard and Casio. 9) Bahkan saat ini juga telah muncul

Linux PDA dan smart phone. Coba klik :

http://www.mobiletechreview.com/. Di masa yang akan datang, pelayanan

kesehatan akan dipermudah dengan pemanfaatan personal digital

assistance (PDA). Dokter, mahasiswa kedokteran, perawat, bahkan pasien

akan lebih mudah mengakses data pasien serta informasi perawatan

15
terakhir. "Aplikasi klinis yang banyak digunakan selama ini adalah

referensi tentang obat/drug reference.

Bahkan sebuah PDA dengan pemindai bar code/gelang data, saat

ini sudah tersedia. PDA semacam ini memungkinkan tenaga kesehatan

untuk memindai gelang bar code/gelang data pasien guna mengakses

rekam medis mereka, seperti obat yang tengah dikonsumsi, riwayat medis,

dan lain-lain. Selain itu, informasi medis tersebut dapat pula diakses secara

virtual di mana pun kapan pun, dengan bandwidth ponsel yang diperluas

atau jaringan institusional internet nirkabel kecepatan tinggi yang ada di

rumah sakit. Di samping itu data pasien atau gambar kondisi/penyakit

pasien dapat didokumentasikan, untuk tujuan pengajaran atau riset, demi

meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Meski demikian, PDA tidak

akan dapat menggantikan komputer/dekstop/laptop. Tetapi setidaknya, alat

ini akan memberikan kemudahan tenaga kesehatan untuk mengakses

informasi di mana saja.

Fungsi bantuan PDA untuk kita sebagai perawat adalah perawat

dapat mengakses secara cepat informasi tentang obat, penyakit, dan

perhitungan kalkulasi obat atau perhitungan cairan IV fluid/infus; perawat

dapat menyimpan data pasien, membuat grafik/table, mengefisiensikan

data dan menyebarluaskannya; perawat dapat mengorganisasikan data,

mendokumentasikan intervensi keperawatan dan membuat rencana asuhan

keperawatan; PDA dapat menyimpan daftar nama, email, alamat website,

16
dan diary/agenda harian; PDA sangat berguna untuk program

pembelajaran keperawatan; meningkatkan keterlibatan dan hubungan

pasien-perawat. Apabila pasien dan perawat memiliki PDA, aplikasi

komunikasi keperawatan tingkat mutahir dapat diterapkan, yang tidak lagi

menonjolkan peran tatap muka hubungan interaksi perawat-pasien

(telenursing). PDA dapat menunjang pengumpulan data base pasien dan

RS, yang berguna untuk kepentingan riset dalam bidang keperawatan.

Sudah selayaknya institusi pendidikan keperawatan sebaiknya

memberikan penekanan penting dalam kurikulumnya, untuk mulai

mengaplikasikan "touch" over "tech" (sentuhan tehnologi dalam bidang

keperawatan). Sehingga saat si perawat tersebut telah lulus, mereka dapat

mengintegrasikan tehnologi dalam asuhan keperawatan.

Dengan adanya komputer dan PDA di tempat kerja perawat, dapat

meningkatkan produktivitas, mengurangi kesalahan serta

kelalaian/negligence, meningkatkan mutu perawatan kepada pasien, dan

meningkatkan juga kepuasan kerja perawat. Sebagian besar perawat secara

umum masih "gaptek" tehnologi, termasuk PDA. Kita bisa memulai

bergabung dengan grup penggermar PDA dan masuk dalam

kelompok/komunitas, atau dapat pula belajar dari para dokter, membuka

website tutorial/panduan PDA, mempelajari dari buku dan dari perawat

lain yang telah terbiasa menggunakan PDA. Mulailah mencoba dari hal

yang sederhana seperti agenda harian, organizer, mengambil/upload

gambar, games, musik, dsb.

17
Pemanfaatan PDA dan tehnologi pada akhirnya berpulang kepada

perawat itu sendiri. Namun sudah semestinya diharapkan keterlibatan

institusi rumah sakit atau pendidikan keperawatan, agar mampu

merangsang pemanfaatan tehnologi informasi/nursing computer secara

luas di negara kita. Di Indonesia seyogyanya akan lebih baik jika dosen/CI

(clinical instructor) dari institusi pendidikan AKPER/STIKES/FIK mulai

mengenal pemanfaatan PDA, dalam interaksi belajar mengajar. Misalnya

saja saat pre/post conference pembahasan kasus praktek mahasiswa di RS

apabila terdapat obat/tindakan keperawatan yang rumit, maka dosen dan

mahasiswa dapat langsung akses browser internet.

Demikian pula halnya di level manajer keperawatan setingkat

Kepala bidang Keperawatan/supervisor keperawatan di RS pun demikian.

PDA sebagai organizer, dan smart phone dapat membantu bidang

pekerjaan perawat dalam peran sebagai manajer. Setiap kegiatan rapat,

pengambilan keputusan, penggunaan analisa data dan teori keperawatan

dapat diakses segera melalui PDA. Setiap data yang ada di RS dapat pula

bermanfaat untuk bahan analisa riset keperawatan, masukkan untuk

perumusan kebijakan/policy dan penunjang sistem TI (tehnologi

informasi) di RS. Sehingga bukan tidak mungkin akan tercipta nursing

network (jaringan keperawatan online) yang dapat memberikan pertukaran

informasi data dan program kesehatan secara online tanpa mengenal batas

geografis.

18
Akan ada saatnya dimana keperawatan, perawat, klien, asuhan

keperawatan akan bersinggungan dan berjalan seiringan dengan

perkembangan percepatan tehnologi. Sentuhan asuhan keperawatan

dimasa mendatang bukan tidak mungkin, akan semakin banyak

berkembang pesat. Aplikasi telemetry (alat monitor jantung pasien) di

ruang rawat semisal medikal pada pasien jantung koroner/MI, yang

dimonitor melalui CCU untuk melihat irama dan patologi, sistem data base

pasien, dan bahkan di Singapura telah dikembangkan alat pengukuran

suhu pasien dengan dimonitor melalui komputer - menjadi terobosan baru

yang perawat perlu ketahui. Hingga ada saatnya pula tehnologi

informatika dapat membantu mengurangi beban kerja perawat, dan

meningkatkan akurasi hasil asuhan keperawatan yang diberikan di

Indonesia.

Perkembangan pemanfaatan PDA di dunia keperawatan Indonesia

nampaknya masih sangat minim, berbeda dengan di luar negeri yang

sudah berkembang pesat. Kemungkinan faktor penghambatnya yaitu

kurang terpaparnya perawat Indonesia dengan teknologi informatika

khususnya PDA, masih bervariasinya tingkat pengetahuan dan pendidikan

perawat, dan belum terintegrasinya sistem infirmasi manajemen berbasis

IT dalam parktek keperawatan di klinik. Mungkin perlu ada terobosan-

terobosan dari organisasi profesi perawat bekerjasama dengan institusi

pelyanan kesehatan untuk lebih mengaplikaskan lagi sistem informasi

manajemen berbasis IT dalam memberikan pelayanan ke pasien. Semula

19
memang terasa menyulitkan dan membutuhkan waktu lebih lama saat

menerapkan program tersebut. Namun setelah terbiasa terasa sangat

membantu perawat sehingga mengurangi administrasi kertas kerja dalam

asuhan keperawatan. Seperti contohnya, perawat tidak perlu lagi mengisi

format tanda vital/vital signs pasien (dengan pulpen warna biru, merah,

hitam, hijau dsb), cukup dengan langsung entry ke komputer. Sehingga

yang semula ada sekitar 6 lembar kertas kerja yang perlu diisikan,

sekarang cukup 1 saja yaitu nurses notes (catatan keperawatan).

20
BAB III

PEMBAHASAN

Seiring dengan perkembangan teknologi keperawatan, penerapan

pendokumentasian keperawatan di Indonesia, sudah saatnya untuk

dikembangkan dengan berbasis komputer,mengingat banyak kegunaannya.

Tetapi dalam perkembangan, masih sedikit rumah sakityang sudah

menerapkannya, masih terdapat beberapa faktor pendukung dan

penghambat dalam penerapan di suatu lembaga institusi. Ada beberapa

faktor pendukung dalam pelaksanaan SIM keperawatan di Indonesia yaitu

saat ini sudah mulai ada perusahaan (yang dikelola oleh profesi

keperawatan) yang menawarkan produk SIM keperawatan yang siap pakai

untuk diterapkan di rumah sakit. Sekalipun memiliki harga yang cukup

tinggi tetapi keberadaan perusahaan ini dapat mendukung pelaksanaan

SIM keperawatan di beberapa rumah sakit yang memiliki danacukup

untuk membeli produk tersebut. Semakin mudahnya akses informasi

tentang pelaksanaan SIM keperawatan juga memudahkan rumah sakit

dalam memilih SIM yang tepat.

Faktor pendukung yang lain adalah adanya UU No 8 tahun 1997

yang mengatur tentang keamanan terhadap dokumentasi yang berupa

lembaran kertas. Undang-undang ini merupakan bentuk perlindungan

hukum atas dokumen yang dimiliki pusat pelayanan kesehatan, perusahaan

atau organisasi. Aspek etik juga dapat menjadi salah satu faktor

21
pendukung karena sistem ini semaksimal mungkin dirancang untuk

menjaga kerahasiaan data pasien. Hanya orang-orang tertentu saja yang

boleh mengakses data melalui SIM ini,misalnya dokter, perawat, pasien

sendiri. (Depkes, 2001)

Selain faktor pendukung, terdapat beberapa aspek yang

menjadi kendala dalam penerapan SIM di Indonesia. Memutuskan

untuk menerapkan sistem informasimanajemen berbasis komputer ke

dalam sistem praktek keperawatan di Indonesia tidakterlalu mudah. Hal ini

karena pihak manajemen harus memperhatikan beberapa aspekantara lain

struktur organisasi, sebagai contoh pengambil keputusan/kebijakan bukan

dariprofesi perawat, sehingga seringkali keputusan tentang pelaksanaan

SIMK yang sudahdisepakati oleh tim keperawatan dimentahkan lagi

karena tidak sesuai dengan keinginan pengambil kebijakan. Pihak

manajemen rumah sakit masih banyak yangmempertanyakan apakah

Sistem Informasi keperawatan ini akan berdampak langsungterhadap

kualitas pelayanan keperawatan dan kualitas pelayanan rumah sakit

secarakeseluruhan.Aspek kedua adalah kemampuan sumber daya

keperawatan. Ada banyak sumber dayamanusia di institusi pelayanan

kesehatan yang belum siap menghadapi sistem komputerisasi, hal

ini dapat disebabkan karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan staf

terhadap sistem informasi teknologi yang sedang berkembang.

Pemahaman yang kurangtentang manfaat sistem informasi menjadi salah

satu faktor penyebab ketidaksiapan SDM keperawatan. Aspek ketiga yang

22
menjadi faktor penghambat atau kendala dalam pelaksanaan SIMKadalah

faktor sumber dana. Sebagaimana kita tahu bahwa untuk mendapatkan

sistem informasi manajemen keperawatan yang sudah siap

diterapkan di rumah sakit, membutuhkan biaya yang cukup besar .

Masalahnya sekarang, tidak setiap rumah sakit memiliki dana operasional

yang cukup besar, sehingga seringkali SIM keperawatan gagal diterapkan

karena tidak ada sumber dana yang cukup. Aspek keempat adalah

kurangnya fasilitas Information teknologi yang mendukung. Pelaksanaan

SIM keperawatan tentunya membutuhkan banyak perangkat keras

atau unit komputer untuk mengimplementasikan program tersebut.

Sistem informasi manajemen berbasis komputer dapat menjadi

pendukung pedoman bagi pengambil kebijakan/pengambil keputusan di

keperawatan/Decision Support System and Executive Information

System.(Eko,I. 2001) Informasi asuhan keperawatan dalam sistem

informasi manajemen yang berbasis komputer dapat digunakan dalam

menghitung pemakaian tempat tidur /BOR pasien, angka nosokomial,

penghitungan budget keperawatan dan sebagainya. Dengan adanya data

yang akurat pada keperawatan maka data ini juga dapat digunakan untuk

informasi bagi tim kesehatan yang lain. Sistem Informasi asuhan

keperawatan juga dapat menjadi sumber dalam pelaksanaan riset

keperawatan secara khususnya dan riset kesehatan pada umumnya.

(Udin,and Martin, 1997).

23
Dengan informasi yang didapatkan, diharapkan pengambilan

kebijakan yang dilakukan oleh manajemen keperawatan memiliki dasar

yang kuat karena berdasar data yang ada di lapangan. Sistem informasi

juga dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu

pengetahuan perawat. Menurut Hariyati, RT., (1999) Masalah yang sering

muncul dan dihadapi dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah

banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai

standar asuhan keperawatan. Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak

disertai pendokumentasian yang lengkap. Pendokumentasian yang

dilakukan secara tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu

sering hilang. Pendokumentasian yang berupa lembaran-lembaran kertas

maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip. Selain itu

pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan

dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu

pendokumentasian tersebut diperlukan. Dokumentasi yang hilang atau

terselip di ruang penyimpanan akan merugikan perawat. Hal ini karena

tidak dapat menjadi bukti legal jika terjadi suatu gugatan hukum, dengan

demikian perawat berada pada posisi yang lemah dan rentan terhadap

gugatan hukum.(Haryati, RT, 2002) Realita dalam pendokumentasian

asuhan keperawatan, sebagian besar di beberapa rumah sakit di Indonesia

saat ini umumnya masih menggunakan pendokumentasian secara

konvensional.

24
Dengan adanya pendokumentasian tertulis ini perawat sering

mengeluh merasa berat karena membutuhkan waktu banyak untuk

mengisinya. Permasalahan lain yang sering muncul adalah biaya

pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak

tersedia. Akibatnya pendokumentasian menjadi terhambat.

Pendokumentasian asuhan keperawatan yang sudah modern dengan

menggunakan komputer, seluruh dokumentasi yang berkaitan dengan

pasien telah dimasukkan dalam komputer, sehingga kasus hilangnya

dokumentasi serta tidak tersedianya form pengisian tidak lagi menjadi

masalah. Dengan informasi yang berbasis komputer diharapkan

pendokumentasian menjadi praktis, lebih cepat, lebih murah, lebih mudah

mencari data yang telah tersimpan dan resiko hilangnya data dapat

dikurangi. Sehingga dapat memudahkan perawat dalam melaksanakan

tugasnya. Sistem pendokumentasian yang berbasis komputer,

pengumpulan data dapat dilaksanakandengan cepat dan lengkap.

Data yang telah disimpan juga dapat lebih efektive dan

dapatmenjadi sumber dari penelitian, dapat melihat kelanjutan dari edukasi

ke pasien, melihat epidemiologi penyakit serta dapat memperhitungkan

biaya dari pelayanan kesehatan.(Liaw,T. 1993). Menurut Herring dan

Rochman (1990) dalam Emilia, (2003): beberapa institusi

kesehatan yang menerapkan system komputer, setiap perawat dalam

tugasnya dapat menghemat sekitar 20-30 menit waktu yang dipakai untuk

dokumentasi keperawatan dan meningkat keakuratan dalam dokumentasi

25
keperawatan. Pendokumentasian keperawatan sudah saatnya untuk

dikembangkan dengan berbasis komputer. Untuk menerapkan SIMK

membutuhkan komitmen dari semua pihak yangterkait terutama sumber

daya manusia. Dan perlu adanya komite yang akan mengevaluasi

penerapan sistem tersebut (Mahler, 2007).

26
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pendokumentasian keperawatan merupakan hal yang penting

dalam menunjang peningkatan mutu asuhan keperawatan, dan secara

umum dapat berkontribusi terhadapmutu pelayanan kesehatan. dengan

adanya perkembangan teknologi sistem informasi manajemen

keperawatan, maka pendokumentasian asuhan keperawatan yang

sebelumnya dilakukan secara konvensional maka akan beralih ke

pendokumentasian berbasis komputer, sehingga perawat dapat

memberikan pelayanan keperawatan secara profesional kepada pasien.

4.2 Saran

Perlunya memberikan pemahaman kepada setiap anggota

organisasi mengenai pentingnya sistem informasi manajemen

keperawatan. Peningkatan kemampuan perawat dalam menggunakan

komputerisasi sehingga bisamemaksimalkan dalam pelaksanaan sistem

informasi keperawatan.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait sistem informasi

keperawatan yang dilakukan di rumah sakit untuk menambah khasanah

ilmu pengetahuan terkait dengan asuhan keperawatan dan juga

berkontribusi positif bagi pengembangan sistem informasi keperawatan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan. (2001). Kebijakan dan strategi Pengembangan Sistem


Informasi Kesehatan Nasional. Depkes. RI. Jakarta

Davis (2002) Kerangka dasar system informasi manajemen : struktur


danpengembangannya, terjemahan oleh Bob Widyahartono, jakarta: Gramedia

Delaney, at all (2000) Reliability of nursing diagnoses documented in a


computerized nursing information systemNursing Diagnosis; Vol.11 No.3.
ProQuest

Eko, I. (2001). Manajemen Sistem Informasi dan Tehnologi Informasi. Jakarta:

Emiliana, (2003). Sistem informasi keperawatan berbasis komputer yang


terintegrasi dipelayanan kesehatan Sint Carolus, tidak dipublikasikan.

Goossen,J.L (1996), http://dlthdee.net/informatics/Chap01/NIDefinotions.htm.

Hariyati, R. T. (1999). Hubungan antara pengetahuan aspek hukum dari perawat


dan karakteristik perawat terhadap kualitas dokuemntasi keperawatan
diRS.Bhakti Yudha, Tidak dipublikasikan

Haryati,R.T.(2002)http://www.google.co.id/search?hl=en&q=dokumentasi%2C+
asuhan%2C+keperawatan&meta=

Indrajati I, Ummah, Sumarsih T, (2011) Pendokumentasian tentang perencanaan


dan pelaksanaan asuhan keperawatan di ruang barokah rumah sakit PKU
Muhamadiyah Gombong, Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 7, No.
3,

Jasun. (2006). Aplikasi Proses Keperawatan Dengan Pendekatan Nanda NOCdan


NIC Dalam Sistem Informasi Manajemen Keperawatan Di Banyumas

Kozier, E. (1990). Fundamentals of Nursing. Addison Wesley Co., Redwood City.

Liaw, T. (1993). The Computer Based Patient Record: An Historical Perpective.


Diambildari http:// www.hisavic.aus.net/hisa/mag/nov93/the.htm.

Lewis, (2005) My prediction for nursing’s technological future, http:// www.eaa-


knowledge.com/ojni/ni/8_1/lewised.htm.

28
Mahler , et all (2007) Effects of a Computer-based Nursing Documentation
System on theQuality of Nursing Documentation,Journal Of Medical Systems [J
Med Syst], Vol. 31 (4), pp. 274-82; Ebsco

Ping Y, Qiu, Crookes (2008) Computer-based Nursing Documentation in


NursingHomes: A Feasibility StudyJournal Of The Society For Academic
EmergencyMedicine Vol. 15 (10), pp. 908-15; Ebsco

Swanburg, Rc & Swanburg R.J .(2000). Introduction management & leadership


for nursemanager. Boston: James & Bartleett Publisher.Siagian (2003) Sistem
Informasi manajemen, Jakarta, Bumi aksaraSaba, McCormic (2001) Essentials of
computersfor nurses: informatics for the new millenium,third edition New
york:McGraw.Hill companies.Saletnik, et all (2008), Nursing resource
considerations for implementing an electronik Documentation System, Aorn
Journal, vol 87 No 3. The john hopkins hospital, Baltimore.

Wei Su K & Li Liu (2010) A Mobile Nursing Information System Based on


Human-Computer Interaction Design for Improving Quality of Nursing
Department of Management and Information Technology, Vanung University,
No. 1. Taiwan.

29