You are on page 1of 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan harga saham merupakan pusat perhatian para

pelaku pasar modal, terutama yang terlibat langsung dengan aktivitas

transaksi saham. Sebagian saham mengalami kenaikan yang berarti,

sebagian lainnya relatif tidak berubah, sebagian lagi mengalami

penurunan. Dinamika ini sedikit atau banyak menunjukkan adanya

karateristik saham yang berbeda dan mencerminkan kondisi dan

situasi bisnis emiten.

Pergerakan harga saham perusahaan perkebunan sawit,

sebagaimana harga saham perusahaan lainnya, ditentukan oleh

berbagai faktor baik yang bersifat fundamental maupun yang bersifat

teknikal. Karena itu, secara tradisional ada dua kategori metode

analisis yang dikenal fundamental analysis dan technical analysis

(Vishwanath & Krishnamurti, 2009:10). Hal ini menunjukkan bahwa

dinamikan harga saham di samping oleh faktor-faktor fundamental

yang berdampak pada jangka panjang, juga faktor teknikal yang

setiap saat bisa berubah (jangka pendek), antara lain karena supply

dan demand di pasar modal.

Berkenaan dengan dampak panjang tersebut, secara umum ada

4 (empat) faktor yang menentukan nilai instrinsik maupun nilai pasar


2

saham, yaitu kinerja internal perusahaan itu sendiri (the company) dan

tiga faktor eksternal: lingkungan ekonomi; perpajakan dan iklim politik

(Brigham and Ehrhard,2014:264),

Khusus dalam industri sawit di Indonesia, faktor utama ekonomi

yang diasumsikan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan-

perusahaan perkebunan sawit adalah harga Crude Palm Oi (CPO)

global, mengingat sebagian besar hasil produksi perusahaan industri

sawit ini diekspor, dan Indonesia merupakan pemasok CPO terbesar

di dunia sejak 2006 (sebelumnya Malaysia). Beberapa penelitian

empiris yang menunjukkan bahwa harga komoditas berpengaruh

signifikan terhadap harga saham di bursa efek, antara lain: emas

(Dwiati dan Ambarwati, 2016); minyak bumi (Siddiqui, 2014); juga

termasuk harga CPO itu sendiri sebagaimana penelitian Nordin, et.al.

(2014) di Malaysia dan Ayudya et,al. (2017) di Indonesia.

Faktor ekonomi lainnya yang terkait dengan harga saham

perusahaan perkebunan sawit adalah nilai tukar Rupiah (Rupiah

exchange rate). Beberapa penelitian membuktikan pengaruh negatif

sebagaimana penelitian Ayudya et,al. (2017) di Indonesia dan

penelitian Nordin, et.al (2014) di Malaysia. Peneltian Granger et.al

(2000) juga menghasilkan korelasi negatif di Filipina, Indonesia,

Malaysia dan Korea, namun positif di Jepang dan Thailan. Penelitan di

China berkorelasi positif (Tian dan Ma, 2010). Sementara penelitian

Suriani et,al (2015) di Pakistan menunjukkan bahwa tidak ada


3

hubungan antara nilai tukar dan harga saham dan kedua variabel

tersebut tidak bergantung satu sama lain.

Faktor fundamental dari lingkungan eksternal lainnya yang juga

berpengaruh adalah iklim politik sebagaimana penelitian Siddiqui

(2014) di Pakistan. Sementara pengaruh kebijakan perpajakan (pajak

ekspor) di Indonesia sebagaimana penelitian Rifin (2014) berdampak

pada penurunan harga CPO dalam negeri, Perlu penelitian lebih lanjut

untuk mengetahui pengaruhnya secara tidak langsung terhadap harga

saham perusahaan sawit di bursa efek.

Faktor yang berasal dari kondisi internal perusahaan biasanya

didasarkan pada informasi keuangan perusahaan. IDX Statistics

menyediakan informasi keuangan setiap emiten yang dipandang

penting, antara lain EPS sebagai ukuran kinerja pertumbuhan dan

beberapa ukuran profitabilitas seperti ROA, ROE NPM, dan struktur

modal yaitu DER.

EPS (earning per share) sudah sejak lama disajikan oleh IDX

Statistics dan dianggap predictor pertumbuhan harga saham

sebagaimana telah dibuktikan oleh banyak peneliti seperti Mirfakhr-al-

Dini, et.al, (2011); Pushpa Bhatt and Sumangala (2012); De Bondt,

2008; Nicholas and Wahlen (2004); Chang, et.al. (2008); Manaje

(2012); Arkan (2016); Idawati dan Wahyudi (2015) serta

Ayudya,et.al.(2017). Sejauh ini EPS selalu terbukti berkorelasi positif

dan signifikan dengan harga saham.


4

Sementara ROA (return on assets) dan DER (Debt to Equity

Rasio) disajikan IDX Statistics sejak 2017 juga dianggap berpengaruh

terhadap harga saham. Penelitian empiris yang membuktikan

pengaruh ROA antara lain penelitian Arkan (2016); Manaje (2012) dan

Ayudya, et,al.(2017), namun penelitian Idawati dan Wahyudi (2015)

menunjukkan pengaruh ROA yang tidak signifikan. Sedangkan

pengaruh DER dibuktikan oleh Ayudya et.al. (2017).

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini membatasi beberapa

variabel yang diasumsikan berdampak signifikan atau pun menguji

kembali pengaruhnya terhadap harga saham perusahaan sawit, yaitu

harga CPO dan nilai tukar sebagai dua faktor ekonomi; tiga faktor

internal perusahaan, yaitu EPS sebagai rasio pertumbuhan, ROA

dari rasio profitabilitasnya, dan DER sebagai rasio permodalan.

Variabel iklim politik dan pajak diabaikan dalam model penelitian ini,

dengan mengambil judul “Anteseden Yang Mempengaruhi Harga

Saham Perusahaan Sawit di Bursa Efek Indonesia”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan variabel yang diteliti sebagai variabel

bebas yang mempengaruhi harga saham perusahaan sawit dalam

penelitian ini, maka rumusan masalah yang dikemukakan adalah

sebagai berikut:

a. Apakah harga CPO Oil berpengaruh signifikan terhadap harga

saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia?


5

b. Apakah Nilai tukar Rupiah berpengaruh signifikan terhadap harga

saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia?

c. Apakah Earning per Share berpengaruh signifikan terhadap harga

saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia?

d. Apakah Return on Assets berpengaruh signifikan terhadap harga

saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia?

e. Apakah Debt Equity Rasio berpengaruh signifikan terhadap harga

saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini sebagaimana rumusan masalah tersebut di

atas adalah:

a. Mengetahui pengaruh harga Crude Palm Oil di pasar dunia

terhadap harga saham perusahaan perkebunan sawit yang listing

di Bursa Efek Indonesia (BEI).

b. Mengetahui pengaruh Nilai tukar Rupiah terhadap harga saham

perusahaan yang berbasis perkebunan sawit yang listing di BEI.

c. Mengetahui pengaruh Earning Per Share terhadap harga saham

perusahaan yang berbasis perkebunan sawit yang listing di BEI.

d. Mengetahui pengaruh Return on Assets terhadap harga saham

perusahaan perkebunan sawit yang listing di BEI.

e. Mengetahui pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap harga saham

perusahaan perkebunan sawit yang listing di BEI.


6

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, antara lain:

a. Meningkatkan kemampuan penulis dalam mengembangkan ilmu

pengetahuan melalui penelitian yang terbimbing, terutama

berkaitan harga saham dan variabel yang mempengaruhinya,

khususnya saham perusahaan perkebunan sawit.

b. Diharapkan dapat memberikan masukan bagi perusahaan dan

dan investor sehubungan bidang usaha perkebunan sawit.

c. Secara akademik diharapkan dapat menjadi referensi bagi

penelitian lebih jauh, terutama berkaitan dengan harga saham

perusahaan perkebunan sawit.


7

BAB I

PENDAHULUAN

2.1. Penelitian Terdahulu


Beberapa penelitian empiris yang terkait dengan pergerakan

harga saham di pasar modal, antara lain:

Pertama, Nordin, et.al.(2014) dalam “The Impact of Palm Oil

Price on the Malaysian Stock Market Performance” yang menguji

pengaruh tingkat suku bunga, nilai tukar dan harga minyak kelapa

sawit terhadap kinerja saham di bursa efek Malaysia. Dengan

menggunakan data bulanan untuk periode 1997M12 sampai 012M9,

hasil uji ARDL menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan

berpengaruh signifikan terhadap indeks pasar saham Malaysia dalam

jangka panjang maupun dalam jangka pendek.

Kedua, Ayudya et,al. (2017) dalam “The Impacts of Fundamental

and Macroeconomic Factors on the Stock Price of Oil Palm Plantation

Companies in Indonesia Stock Exchange (IDX)” yang bertujuan untuk

mengetahui dampak faktor fundamental dan makroekonomi terhadap

harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit di BEI. Data yang

digunakan secara purposive sampling yang terdiri dari Astra Agro

Lestari PP London Sumatra Indonesia, dan Tunas Baru Lampung,

mulai periode Januari 2006 sampai dengan Juni 2016. Hasil penelitian

ini menunjukkan bahwa pergerakan harga saham perkebunan kelapa


8

sawit di Bursa Efek Indonesia dipengaruhi oleh faktor fundamental,

yaitu EPS dan DER (negatif); dan makroekonomi: Nilai tukar Rupiah

(negatif) dan harga CPO.

Ketiga, Siddiqui, Masood Mashkoor (2014) dengan penelitiannya

“Oil Price Fluctuation and Stock Market Performance: The Case of

Pakistan” bertujuan untuk mengetahui dampak fluktuasi harga minyak

internasional terhadap kinerja pasar saham di Pakistan dan Indeks

KSE-100. Selain harga minyak, variabel makroekonomi lainnya yaitu

nilai tukar dan investasi portofolio swasta asing juga masuk dalam

model untuk memperkuat kekuatan penjelasnya. Studi tersebut juga

menganalisis signifikansi stabilitas politik dalam penentuan kinerja

pasar saham. Hasilnya menunjukkan bahwa harga minyak, nilai tukar

dan investasi portofolio swasta asing memiliki korelasi positif dengan

kinerja pasar saham sementara kinerja politik yang demokratik (yang

cenderung lebih tidak stabil) terbukti berdampak negatif terhadap

kinerja pasar saham di Pakistan.

Keempat, Tian and Ma (2010) dalam “The Relationship between

Stock Returns and the Foreign Exchange rate: the ARDL Approach”.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kointegrasi ARDL untuk

menguji dampak liberalisasi keuangan pada hubungan antara nilai

tukar dan kinerja pasar saham di Cina. Temuannya, terdapat

kointegrasi antara Indeks Shanghai A Share dan nilai tukar terhadap

dolar AS dan dolar Hong Kong sejak 200. Juga, ditemukan bahwa
9

nilai tukar dan jumlah uang beredar mempengaruhi harga saham,

dengan korelasi positif.

Kelima, Granger, et.al. (2000) dalam “A Bivariate Causality

between Stock Prices and Exchange Rates: Evidence from Recent

Asia Flu”. Penelitian yang menerapkan model akar dan kointegrasi unit

ditujukan untuk menentukan hubungan kausalitas Granger antara

harga saham dan nilai tukar di Asia. Kesimpulannya, di Jepang dan

Thailand berkorelasi positif, di Taiwan, Indonesia, Korea, Malaysia,

dan Filipina berkorelasi negatif, dan di Singapore tidak dapat dikenali.

Keenam, Suriani, et.al.(2015) dalam “Impact of Exchange Rate

on Stock Market” yang menyelidiki hubungan nilai tukar dengan harga

pasar saham di Pakistan. Data yang dipergunakan adalah data

bulanan periode Januari 2004 hingga Desember 2009, Indeks KSE-

100 digunakan sebagai pengganti harga saham dan exchange rate

dengan mata uang Pak Rupee terhadap Dolar AS (Rs / US $).

Temuan penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara

nilai tukar dan harga saham dan kedua variabel tersebut tidak

bergantung satu sama lain.

Ketujuh, Ying Wu (2000) dalam “Stock Prices and Exchange

Rates in a VEC Model:The Case of Singapore in the 1990s”, yang

bertujuan ini menguji dua masalah, yaitu: apakah perubahan nilai tukar

mata uang domestik terhadap US Dollar memiliki efek yang terbalik

(negative effect) dengan indeks harga saham baik jangka pendek


10

maupun jangka panjang di 4 negara di Asia yaitu Indonesia. Thailand,

Filipina dan Singapura; dan apakah perubahan indeks harga saham

akan membawa efek yang terbalik (negative effect ) pada nilai kurs

jangka pendek dan jangka panjang. Dengan data 1998-200 dan

analisis Error Correction Model (ECM), hasil penelitian menunjukkan

bahwa perubahan exchange rate 4 negara sampel penelitian memiliki

efek jangka panjang yang tidak searah dengan indeks harga saham.

Artinya depresiasi mata uang akan membawa efek pada penurunan

indeks harga saham. Sedangkan untuk jangka pendek ada hubungan

yang tidak searah juga bagi Thailand dan Singapura, sedangkan bagi

Filipina hubungan searah (positif). Bagi Indonesia ternyata

menunjukkan tidak signifikan adanya pengaruh (causality) jangka

pendek atas perubahan exchange rate terhadap indeks harga saham.

Untuk jangka panjang perubahan indeks harga saham terhadap

exchange rate 3 negara yaitu Indonesia. Thailand dan Singapura

menunjukkan tidak signifikan, sedangkan Filipina menunjukkan

pengaruh yang searah .Secara umum dapat disimpulkan bahwa

exchange rate berpengaruh terhadap indeks harga saham.

Kedelapan, Dwiati dan Ambarwati (2016) dalam “Pengaruh Harga

Emas Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Dengan Nilai Kurs

Sebagai Variabel Moderating” yang bertujuan mengetahui pengaruh

harga emas terhadap indeks harga saham gabungan dengan nilai

kurs sebagai variabel moderating. Penelitian ini menggunakan data


11

dari tahun 2012-2014 dengan total 689 observasi dengan alat analisis

Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan

bahwa harga emas berpengaruh terhadap indeks harga saham

gabungan sedangkan nilai kurs tidak bisa memoderasi pengaruh

harga emas terhadap indeks harga saham gabungan.

Kesembilan, Mirfakhr-al–Dini,et.al.(2011) dalam “Fitting the

Relation-ship between Financial Variables and Stock Price Through

Fuzzy Regression Case Study: Iran Khodro Company”. Hasil

penelitian ini menunjukkan hubungan antara EPS dengan harga

saham signfikan. Sedangkan variabel Dividen per share dan

Price/Earning ratio tidak signifikan hubungannya dengan harga

saham.

Kesepuluh, Pushpa Bhatt and Sumangala (2012) dengan

penelitiannya “Impact of Earnings per Share on Market Value of an

Equity Share: An Empirical Study in Indian Capital Market”,

menggunakan 50 perusahaan teratas di India menurut survai The

Business Today 2010. Kesimpulannya, EPS berdampak signifikan

terhadap harga saham.

Kesebelas, Bondt (2008) dalam “Fundamental Stock Price

Determinants: New International Evidence” yang meneliti hubungan

antara beberapa faktor fundamental, diantaranya adalah earning

dengan harga saham di 12 negara (Australia, Belgia, Canada,

German, Denmark, Perancis, Jepang, Belanda, Austria, Switzerland,


12

Inggris dan Amerika Serikat). Dengan menggunakan data 1998 hingga

2005, penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan antara

earning dengan harga saham pada semua negara tersebut, baik

jangka pendek, maupun jangka panjang, dengan level signifkansi

yang sama, yaitu 10%. Kecuali ada satu negara yang level

signifikansinya mencapai 1%, yakni di Jepang untuk jangka pendek.

Keduabelas, Chang, et.al. (2008) dalam “The Relationship

Between Stock Price and EPS: Evidence Based on Taiwan Panel

Data” memberikan dua kesimpulan. Pertama, harga saham bergerak

searah dengan earning dalam jangka panjang. Kedua, perusahaan

dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, EPS memiliki kekuatan yang

lebih rendah dalam menjelaskan harga saham, namun untuk

perusahaan dengan tingkat pertumbuhan rendah, EPS memiliki

dampak yang kuat pada harga saham.

Ketigabelas, Manaje (2012) dalam “Impact of Selected Financial

Variables on Share Price of Publicly Listed Firms in the Philippines”,

bertujuan mengetahui mana diantara dua variabel, yaitu: EPS dan

ROA yang lebih berdampak pada harga saham. Dengan

menggunakan laporan 50 perusahaan publik pada 2009, penelitian ini

menyimpulkan bahwa EPS mempunyai dampak yang lebih besar

terhadap harga saham dibanding ROA.

Keempatbelas, Arkan (2016) dengan penelitiannya “The

Importance of Financial Ratios in Predicting Stock Price Trends: A


13

Case Study in Emerging Markets” bertujuan untuk menguji pentingnya

rasio keuangan untuk memprediksi tren harga saham di Kuwait.

Dengan 12 rasio keuangan sebagai variabel bebas, penelitian ini

membuktikan bahwa beberapa rasio berkorelasi positif dan signifikan

terhadap tren harga saham. Rasio yang paling efektif terhadap harga

saham untuk sektor industri adalah ROA, ROE dan NPM (net profit

margin). Sedangkan untuk sektor jasa, yang paling efektif adalah

ROA, ROE, P/E dan EPS.

Kelimabelas, Idawati dan Wahyudi (2015) dalam “Effect of

Earning Per Shares (EPS) and Return On Assets (ROA) against Share

Price on Coal Mining Company Listed in Indonesia Stock Exchange”

yang tujuannya adalah mengetahui hubungan EPS dan ROA dengan

harga saham perusahaan tambang batubara. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa EPS dan ROA memiliki hubungan positif dan

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Namun secara parsial, hanya EPS menunjukkan efek signifikan.

Berikut ringkasannya dalam tabel.

Tabel 2.1. Ringkasan Penelitian: Harga Saham

Peneliti Judul Independen Metode Kesimpulan


Variable

01 The Impact of Interest rate; ADRL Semua IV


Palm Oil Price berpengaruh
Nordin, et.al. Exchange
on the signifikan
(2014) rate;
Malaysian Stock terhadap harga
Market CPO Price saham
Performance
14

Peneliti Judul Independen Metode Kesimpulan


Variable
02 The Impacts of CPO Price Multiple CPO Price dan
Ayudya et,al. Fundamental Exchange linear EPS;
(2017) and rate; regressio Exchange rate
Macroeconomic EPS dan DER
Factors on the berpengaruh
Stock Price of DER
negatif
Oil Palm
Plantation
Companies in
IDX
03. Oil Price Harga Mutiple Harga minyak,
Siddiqui, Fluctuation and Minyak; Linear nilai tukar dan
Masood Stock Market Nilai Tukar; Regression investasi asing
Mashkoor Performance: berkorelasi po-
The Case of Investasi sitif. Ketidaksta-
(2014) asing; dan
Pakistan bilan politik
Stabilitas berdampak ne-
Politik gatif di Pakistan.

04 The Relationship Nilai Tukar ARDL Nilai tukar dan


Tian and between Stock Harga saham
Ma (2010) Returns and the berkorelasi
Foreign positif.
Exchange rate:
the ARDL
Approach
05 A Bivariate Exchange Regreesion Korelasi exchange
Granger, Causality rate rate dengan
et.al. (2000) between Stock harga saham:
Prices and
Exchange
Rates: Evidence
from Recent
Asia Flu
06 Impact of Exchange Simple Tidak ada
Suriani, Exchange Rate rate Regression korelasi
et.al. (2015) on Stock Market

07. Stock Prices and Exchange Error Secara umum


Exchange Rates rate Correction exchange rate
Ying Wu
in a VEC Model berpengaruh
Stock Price
Model:The Case terhadap indeks
(ECM)
of Singapore in
harga saham
the 1990s
15

Peneliti Judul Independen Metode Kesimpulan


Variable
08. Pengaruh Harga Harga Emas Moderated Harga emas
Dwiati dan Emas Terhadap dan Kurs Regression berpengaruh
Ambarwati IHSG Dengan sebagai Analysis terhadap IHSG.
(2016) Nilai Kurs Se- moderating (MRA) Nilai kurs tidak
bagai Variabel variable. bisa memode-
Moderating rasi.

Fitting the
Hanya ESP yang
Relationship EPS;
09. Fuzzi berkorelasi
between
Seyed Dividen per Regression signifikan dengan
Financial
share (DPS); harga saham
Heidar Variables and dan
Mirfakhr- Stock Price
Al –Dini, Price/Earning
Through Fuzzy
ratio (PER)
et.al. Regression
(2011) Case Study: Iran
Khodro
Company
Impact of EPS
10.
on Market Value EPS Regresi Berkorelasi
Pushpa
of an Equity (OLS) rata- signifikan dengan
Bhatt and
Share: An rata setiap harga saham
Sumangala
Empirical Study tahun
JK (2012)
in Indian Capital
Market
11.
EPS dan Regresi ESP berkorelasi
Fundamental
De Bondt variabel- (OLS) signifikan dengan
Stock Price
(2008) variabel harga saham,
Determinants:
keuangan baik jangka
New
lainnya panjang maupun
International
pendek
Evidence

12. EPS berkorelasi


EPS Panel
The Relationship signifikan dengan
Chang, dan Harga Cointeg-
Between Stock harga saham
et.al. (2008) Saham rated
Price and EPS: (long term).
Regression
Evidence Based Pengaruhnya
on Taiwan Panel lebih kuat pada
Data perusahaan
dengan tingkat
pertumbuhan
yang rendah.
16

Peneliti Judul Independen Metode Kesimpulan


Variable

13. Impact of Spearman Kedua variabel


Selected Rank berpengaruh
Placido M. EPS dan
Financial positif, namun
Manaje ROA dan
Variables on EPS berdampak
(2012)
Share Price of Regresi lebih besar
Publicly Listed Ganda terhadap harga
Firms in the saham dibanding
Philippines ROA.
14. The Importance 12 variabel Mutiple ROA, ROE dan
of Financial rasio Linear NPM paling
Arkan
Ratios in keuangan Regression berdampak
(2016)
Predicting Stock efektif untuk
Price Trends: A sektor industri;
Case Study in ROA, ROE, P/E
Emerging dan EPS paling
Markets” berdampak
efektif untuk
sektor jasa
Effect of Earning ES berpengaruh
15.
Per Shares signifikan.
Idawati dan EPS Mutiple
(EPS) and Pengaruh ROA
Wahyudi Regression
Return On tidak signifikan
(2015)
Assets (ROA) ROA
against Share
Price on Coal
Mining Company
Listed in
Indonesia Stock
Exchange

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Pasar Modal Indonesia

Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai

instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik

surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif

maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana

pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya


17

pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan

demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana

kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya. (www.idx.co.id).

Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar

Modal mendefinisikan pasar modal sebagai “kegiatan yang

bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek,

Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya,

serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.

Berdasarkan definisi tersebut di atas, secara sederhana, pasar

modal dapat dikatakan sebagai pasar tempat bertemunya pihak yang

butuh modal, dengan pihak yang ingin berinvestasi pada produk

keuangan. Dengan demikian, pasar modal jika diibaratkan sebuah mall,

maka mall tersebut adalah Bursa Efek Indonesia (BE) atau Indonesia

Stock Exchange (IDX), yang mana terdapat anggota bursa

(perusahaan sekuritas) yang berjualan (berbagai instrumen keuangan)

dan pembeli (investor). Instrumen keuangan yang diperdagangkan di

pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih

dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, right, reksa dana, dan

berbagai instrumen derivatif seperti option, futures, dan lain-lain.

Regulasi pasar modal tentu lebih canggih dari pasar umumnya

yang menghendaki keterlibatan keterlibatan secara langsung berbagai

lembaga sebagaimana diatur dalam undang-undang pasar modal yang

terlihat pada gambar berikut.


18
19

Kelembagaan pasar modal dapat dibagi dalam empat bagian,

yaitu:

a. Pengawas pasar modal, yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak

2013, menggantikan peran Bapepam.

b. Penyelenggara bursa, yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI) / IDX

c. Pelaku Utama perdagangan saham, yaitu Underwriter, Broker,

Emiten, dan Investor.

d. Lembaga Penunjang, seperti Bank RDI, KPEI, KSEI, SIPF

OJK sebagai lembaga pengawas kegiatan di pasar modal

mempunyai peran antara lain (Mumpuni & Darmawan, 2017:35):

a. Mengawasi kegiatan jual beli saham, agar tidak menyimpang dari

peraturan.

b. Melakukan pengujian terhadap semua pekerja profesional di pasar

modal, seperti broker, manajer investasi dan lain-lain.

c. Memberi izin pada perusahaan yang berkegiatan di pasar modal.

Bursa Efek Indonesia (BEI) atau IDX adalah lembaga resmi yang

menyelenggarakan aktivitas jual beli saham. Bagi perusahaan yang

ingin go public di Indonesia harus melalui BEI. Perannya antara lain:

a. Mengatur dan menyediakan fasilitas bagi perusahaan sekuritas

untuk bertransaksi. Sekuritas yang bisa bertransaksi hanyalah

yang terdaftar sebagai anggota bursa.

b. Mencatat perdagangan, menghentikan perdagangan, dan

mencabut efek yang listing di bursa.


20

c. Memantauan kegiatan transaksi untuk melindungi investor dari

praktik-praktik yang dilarang dan bertentangan dengan undang-

undang

Emiten adalah perusahaan, baik swasta maupun BUMN yang

mencari modal dari bursa efek dengan cara menerbitkan efek

(saham, obligasi, dan jenis efek lainnya). Saat ini sudah ada 570

perusahaan yang terdaftar di IDX sebagai perusahaan terbuka yang

dikelompokkan 9 sektor berdasarkan bidangnya (IDX Statistics 2017).

Anggota bursa adalah perusahaan sekuritas yang terdaftar di

IDX. Anggota bursa, baik secara online maupun offline, berperan

sebagai perpanjangan tangan nasabah. Ada tiga bentuk peran

anggota bursa, yaitu:

a. Penjamin Emisi Efek (PEE) atau Underwriter sebagai pihak yang

menjamin emisi efek dari Emiten, untuk dijual kepada investor.

Penjamin Emisi dibutuhkan oleh saat emiten ingin menerbitkan

efek

b. Perantara Pedagang Efek (PPE) atau Broker sebagai pihak yang

membantu investor untuk melakukan jual beli efek. Broker

dibutuhkan investor sebagai perpanjangan tangan untuk membeli

saham.

c. Manajer Investasi (MI) atau Fund Manager sebagai pihak yang

mengumpulkan dana masyarakat, kemudian mengelolanya dalam

sebuah portofolio efek.


21

Gambar 2.2. Diagram Mekanisme Transaksi di IDX


(Mumpuni & Darmawan, 2017:38)

Peran lembaga penunjang dapat ditelusuri dari mekanisme

transaksi (lihat gambar 2.2). Saat membuka rekening saham, investor

akan mengisi 2 jenis formulir, yaitu rekening saham, dan rekening

dana investor. Proses perdagangan dan penyelesaian transaksinya

melibatkan:

a. Bank Administrator RDI (Rekening Dana Investor) yang akan

menampung dana investor;

b. PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) sebagai satu-

satunya lembaga yang bertugas mencatat dan memastikan

pencatatan sebaik-baiknya dari ribuan transaksi yang terjadi

dalam sehari perdagangan.

c. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) satu-satunya

lembaga yang berperan sebagai kustodian/tempat penitipan harta


22

dan bertugas untuk menyelesaikan semua transaksi yang dicatat

oleh KPEI.

d. PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia

(PPPIEI) atau juga dikenal dengan sebutan Securities Investor

Protection Fund (SIPF). yang bertugas mengelola dana

perlindungan investor.

2.2.2. Investasi Saham dan Analisisnya

Saham adalah secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal

yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut untuk memperoleh bagian

dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas

tersebut, dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut

menjalankan haknya (Husnan, (2008:29). Dengan demikian, saham

adalah bukti penyertaan atau kepemilikan atas sesuatu perusahaan

penyertaan

Ada beragam jenis saham menurut sudut pandang tertentu. Dari

sudut pandang hak pemegangnya, dikenal ada dua jenis saham, yaitu:

saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock)

(Gitman and Zutter, 2012, 267)

Pemegang saham biasa kadang-kadang disebut sebagai pemilik

residu (sisa) karena mereka menerima apa yang tersisa setelah

semua klaim lain atas pendapatan dan aset perusahaan telah

terpenuhi. Jika harus menanggung kerugian, maka kerugian tersebut

tidak lebih dari sebesar yang mereka investasikan di perusahaan.


23

Sebagai akibat dari posisi yang umumnya tidak pasti ini, pemegang

saham biasa berharap mendapat kompensasi berupa dividen yang

memadai dan capital gains (selisih harga beli dan harga jual) yang

menguntungkan ketika melakukan divestasi.

Hak yang melekat pada pemegang biasa ada dua hal, yaitu: hak

preemtif (preemptive right) dan hak suara (voting right). Hak preemtif

adalah hak yang memungkinkan pemegang saham biasa untuk

mempertahankan proporsi kepemilikan di perusahaan ketika saham

baru diterbitkan dengan memberikan hak kepada pemegang saham-

nya untuk membeli saham tambahan dengan harga di bawah harga

pasar, sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki. Sedangkan hak

suara adalah hak pemegang saham biasa untuk memilih Direksi dan

masalah khusus dalam RUPS. Karena sebagian besar pemegang

saham kecil tidak menghadiri rapat tahunan untuk memilih, mereka

dapat menandatangani sebuah pernyataan proxy yang mentransfer

suara mereka ke pihak lain. Permohonan proxy dari pemegang saham

dikontrol ketat oleh otoritas pasar modal untuk memastikan bahwa

proxy tidak diminta atas dasar informasi yang salah atau

menyesatkan. Manajemen yang ada pada umumnya menerima kuota

pemegang saham karena mereka dapat mengumpulkannya atas biaya

perusahaan. (Gitman and Zutter, 2012, 268).

Adapun saham preferen merupakan saham yang menjanjikan

dividen periodik tetap, yang dinyatakan baik sebagai persentase atau


24

sebagai jumlah dolar. Jika tidak ada nilai nominal pada saham

preferen, maka dividen yang diberikan dipastikan dalam bentuk

absolut (rupiah). Saham preferen sering dianggap sebagai kuasi-

hutang karena, seperti bunga utang (obligasi), ia menetapkan

pembayaran periodik tertentu (berupa dividen). Bedanya tidak

mengenal tanggal jatuh tempo. Kelebihannya di banding saham biasa

adalah lebih diutamakan daripada klaim pemegang saham biasa, dan

karena itu pemegang saham preferen terkena risiko lebih kecil. Namun

pemegang saham preferen tidak mempunyai hak preemtif dan

maksimum hanya mempunyai hak suara untuh memilih satu dari

beberapa direksi (Gitman and Zutter, 2012, 270). Dengan demikian,

apa yang merupakan kelebihan saham biasa merupakan kelemahan

dari saham preferen, dan begitu pula sebaliknya.

Dari sisi cara peralihannya, jenis saham dapat dibagi dua, yaitu:

saham atas unjuk (bearer stock) dan saham atas nama (registered

stock). Saham atas unjuk (bearer stock) artinya pada saham tersebut

tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari

satu investor ke investor lain. Sedangkan . saham atas nama

(registered stock), merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa

pemiliknya, dan dimana cara peralihannya harus melalui prosedur

tertentu (Darmadji dan Fakhruddin (2012: 6).

Saham yang listing di bursa merupakan saham atas unjuk. Saham

ini sengaja diciptakan dengan tujuan mudah dipindahtangan-kan dari


25

satu investor satu ke investor lainnya. Banyak investor yang memiliki

saham ini dengan tujuan memang untuk diperjualbelikan. Investor

tidak perlu khawatir karena secara hukum, siapa yang memegang

saham tersebut, maka dialah diakui sebagai pemiliknya dan berhak

untuk ikut hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Di kalangan pelaku pasar modal muncul beberapa istilah kategori

saham yang didasarkan pada kinerjanya, diantaranya: Blue Chiep

Stock, Income Stock, Growth Stock, Speculative Stock, Counter

Cyclical Stocks (Darmadji dan Fakhruddin (2012: 6).

Pertama, blue chip socks adalah jenis saham ini banyak diburu

investor karena berasal dari perusahaan yang memiliki reputasi tinggi,

sebagai petinggi di industrinya, dan memiliki pendapatan yang stabil

dan konsisten dalam membayar dividen. Kedua, income stocks adalah

jenis saham ini juga mempunyai keunggulan dalam hal kemampuan

membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan

pada tahun sebelumnya. Kemampuan menciptakan pendapatan yang

lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai menjadi daya

tarik tersediri bagi investor. Ketiga, growth stocks ada dua klasifikasi,

yaitu well-known adalah jenis saham dari perusahaan yang

mempunyai reputasi sebagaimana dengan blue chip, namun juga

memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi; dan lesser-known yang

hanya memiliki pertumbuhan yang tinggi. Keempat, speculative stocks

yang merupakan jenis saham risiko tinggi, namun berpotensi


26

menghasilkan laba tinggi di masa depan. Terakhir, counter cyclical

stocks, yakni jenis saham yang paling stabil saat menghadapi kondisi

ekonomi bergejolak dan tetap mampu memnghasilkan return yang

memadai.

Para praktisi pasar modal umumnya membedakan dua jenis

aktivitas transaksi berdasarkan karakternya, yaitu investasi dan

trading. Artinya, membeli saham di pasar modal tidak selalu untuk

tujuan investasi yang, melainkan aksi profit taking dalam jangka

pendek. Masing-masing karakter transaksi tersebut memerlukan

analisis yang berbeda, yang dikenal analisis fundamental dan analisis

tehnikal.

Tabel 2.2 Perbedaan Investasi dan Trading

Karateristik Investasi Trading

Waktu Jangka panjang Jangka pendek

Keuntungan Kenaikan harga saham Kenaikan harga saham


dan dividen dalam waktu singkat

Strategi Membeli instrumen Membeli instrumen yang


investasi terbaik berpotensi naik dalam waktu
singkat

Sumber: https://www.finansialku.com/dasar-analisis-teknikal-trading/

Analisis tehnikal setidaknya memiliki tiga asumsi dasar (Kuepper

dalam situs Investopedia), yaitu:

a. The market discounts everything.

b. Price moves in trends.

c. History tends to repeat itself.


27

Asumsi “The market discounts everything” bermakna bahwa

segala hal yang mempengaruhi pergerakan pasar (baik fundamental,

politik, bencana alam, dan faktor psikologis pelaku pasar) telah

tercermin dalam pergerakan pasar. Dari asumsi tersebut, maka

pengambilan keputusan trading didasarkan pada pergerakan harga itu

sendiri. Asumsi “Price moves in trends” bermakna bahwa harga

saham tidak bergerak secara acak, melainkan berlangsung dalam satu

pola (trend) tertentu dalam pendek, menengah, dan panjang dan akan

terus berlangsung sampai ada tanda-tanda bahwa pola

pergerakannya berhenti dan berbalik arah. Asumsi “History tends to

repeat itself” bermakna bahwa sejarah cenderung berulang. Sifat

berulang dari pergerakan harga sering dikaitkan dengan psikologi

pasar, yang cenderung sangat mudah diprediksi berdasarkan emosi

seperti ketakutan atau kegembiraan. Analisis teknis menggunakan

pola grafik untuk menganalisa emosi dan pergerakan pasar

selanjutnya untuk memahami tren.

Asumsi tersebut di atas sejalan yang prinsip yang dikemukakan

Robert A. Levy, pendiri CDA InvestmentTechnologies

(www.financialku. com), yaitu:

a. Nilai pasar, ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran.

b. Interaksi permintaan dan penawaran ditentukan oleh berbagai

faktor, baik faktor rasional maupun faktor yang tidak rasional.


28

c. Harga-harga efek secara individual dan nilai pasar secara

keseluruhan cenderung bergerak mengikuti suatu trend selama

jangka waktu yang relatif panjang.

d. Trend perubahan harga dan nilai pasar dapat berubah karena

perubahan hubungan permintaan dan penawaran.

Analisis teknikal yang berpijak pada teori Dow yang beroperasi

pada “The Efficient Markets Hypothesis (EMH), yang menyatakan

bahwa: “the price of a stock at any given point in time fully reflects all

available information relevant to the value of the stock at that time”

(Vishwanath and Krishnamurti, 2009:6). Dengan demikian, analisis

teknikal memang mengabaikan faktor-faktor fundamental, karena

mulai dari fundamental perusahaan, faktor pasar yang luas hingga

psikologi pasar sudah masuk dalam harga saham sebagai.

Vishwanath and Krishnamurti (2009:10) menyatakan: “Technical

analysis takes a completely different approach; it does not care one bit

about the “value” of a company or a commodity.

Dibalik kritik akan kelemahan analisis teknikal yang

menghilangkan kebutuhan untuk mempertimbangkan faktor

fundamental maupun eksternal tersebut secara terpisah sebelum

membuat keputusan investasi, maka satu-satunya yang tersisa adalah

analisis pergerakan harga, yang dilihat oleh analis teknikal sebagai

produk penawaran dan permintaan untuk saham tertentu di pasar.

Sementara alat-alat peramalan yang digunakan umumnya merupakan


29

analisis tren dan grafik, mulai dari yang sederhana hingga yang

canggih, seperti moving average (MA), moving average convergence

divergence (MACD) dan lainnya.

Sebagaimana klasifikasi karakter transaksi di atas, maka pembeli

instrumen keuangan di pasar modal pun dibagi dalam dua kelompok,

yaitu investor atau investor jangka panjang; dan investor jangka

pendek atau trader. Trader ini dapat pula dibagi dua (Mumpuni &

Darmawan, 2017:106), yaitu:

a. Swing trader, jenis investor yang membeli dan menyimpan saham

dengan jangka waktu singkat, dan dapat menikmati naik turunnya

harga saham.

b. Dayly Trader, yaitu jenis investor yang bertransaksi dalam hitungan

menit dan jam dalam sehari.

Analisis fundamental adalah kebalikan dari analisis teknikal yang

memanfaatkan informasi fundamental dan eksternal perusahaan

dalam analisisnya. Selain menggunakan data historis, juga

menggunakan informasi masa depan yang bersumber dari estimasi,

Analisis ini jelas diperlukan untuk pembelian saham yang ditujukan

sebagai investasi (bukan trading). Analisis fundamental merupakan

seni tersendiri untuk memperhitungkan mana faktor berpengaruh.

Karena begitu banyak kemungkinannya, maka menjadi seni tersendiri

untuk memilah informasi yang relevan untuk dianalisis dengan asumsi

berpengaruh terhadap harga saham.


30

Manfaat digunakannya analisis fundamental selain untuk

mengetahui tren harga dalam jangka panjang, pada kasus tertentu

efektif pula untuk jangka pendek dan menentukan harga secara umum

(www.seputarforex.com). Artinya, investor sangat memerlukan analisis

fundamental untuk portofolio saham yang terbaiknya.

Satu diantara berbagai analisis fundamental adalah menganalisis

faktor yang mempengaruhi harga saham yang diuraikan pada bagian

berikut ini.

2.2.3. Harga Saham dan Faktor Yang Mempengaruhinya

Sebagaimana telah diuraikan, untuk kepentingan trading saham,

analisisnya berfokus perkembangan harga pasar Sementara fokus

analisis fundamental tidak hanya tertuju kepada harga pasar aktual,

melainkan juga memperhatikan nilai instrinsik (intrinsic value) saham,

yaitu: “estimasi nilai saham sebenarnya yang didasarkan atas data

risiko dan pengembalian yang akurat” (Brigham dan Houton, 2010:11).

Lebih jauh, Brigham dan Hoston (2010:11) menyatakan bahwa

“mengestimasi nilai instrinsik adalah inti dari analisis efek”. Artinya, jika

seluruh nilai instrinsik saham diketahui, maka akan mudah berinvestasi

yang menguntungkan dan hampir tanpa risiko. Sayangnya nilai

instrinsik tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Jika nilai instrinsik sama dengan harga pasar atau dalam kondisi

seimbang, maka investor akan bersikap indeferen antara membeli dan


31

menjual. Artinya, keputusan investasi/divestasi cenderung terjadi

karena adanya perbedaan antara harga pasar dan nilai instrinsiknya.

Brigham and Ehrhard (2014:264) menjelaskan bahwa harga

saham dan nilai instrinsiknya dipengaruhi oleh faktor dasar yang sama,

namun kedua nilai tersebut bisa berbeda disebabkan oleh perbedaan

tanggapan terhadap informasi yang diperoleh. Faktor dasar yang

dimaksud adalah perusahaan atau emiten dari saham itu sendiri,

lingkungan ekonomi yang luas, kebijakan pajak dari pemerintah, dan

iklim politik (the company; the economics environment; taxes, and the

political climate), yang dapat disimak pada gambar 2.1. berikut ini.

The Company, the Economics Environment,


Taxes, and the Political Climate

All relevant Selected information


available information and its interpretation

“True” Investor True” “Perceived” “Perceived”


Returns Risk Investor Returns Risk

Stock’s Intrinsic Equal Stock’s Price


Value Value

Gambar 2.1. Faktor Penentu Nilai Intrinsik dan Harga Saham


(Sumber: Brigham and Ehrhardt, 2014:264)
32

Faktor pertama, perusahaan itu sendiri sebagai faktor penentu

adalah menyangkut faktor fundamental perusahaan yang luas. Hal ini

direpresentasikan oleh kinerja manajemen perusahaan yang dipubli-

kasikan atau terpublikasikan menjadi informasi yang diserap investor.

Informasi tersebut bisa bersifat reguler seperti laporan keuangan, bisa

pula publikasi temporer seperti inovasi produk yang lebih murah atau

informasi tentang kasus pelanggaran hukum. Semua informasi yang

mencerminkan aksi manajemen bisa berpengaruh positif dan negatif.

Artinya, dengan segenap kapasitas produktif perusahaan itulah yang

berperan menentukan harga.

Beberapa bentuk informasi yang mungkin berpengaruh terhadap

pergerakan harga saham menurut Alwi (2008:87) antara lain

a. Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti

pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk

baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan

penjualan.

b. Pengumuman pendanaan (financing announcements), seperti

pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.

c. Pengumuman badan direksi manajemen (management board of

director announcements) seperti perubahan dan pergantian direktur,

manajemen, dan struktur organisasi.

d. Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan merger,

investasi ekuitas, laporan take over..


33

e. Pengumuman investasi (investment announcements), seperti

melakukan ekspansi pabrik, pengembangan riset dan penutupan

usaha lainnya.

f. Berita ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negoisasi

baru, kontrak baru, pemogokan dan lainnya.

g. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan

laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal,

Earning Per Share (EPS), Dividen Per Share (DPS), price earning

ratio (PER), net profit margin (NPM), return on assets (ROA), dan

lain-lain.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, jelas banyak variabel

fundamental perusahaan yang mungkin berpengaruh terhadap harga

saham. Bodie, et.al. (2009:553) memberikan pedoman dengan

pernyataannya sebagai berikut:

To determine a proper price for a firm’s stock, the security analyst


must forecast the dividends and earnings that can be expected
from the firm. This is the heart of fundamental analysis, that is, the
analysis of determinants of value such as earnings prospects. This
is the heart of fundamental analysis, that is, the analysis of
determinants of value such as earnings prospects (Untuk
menentukan harga saham dengan tepat, analis sekuritas harus
meramalkan dividen dan earnings yang dapat diharapkan dari
perusahaan. Inlah inti dari analisis fundamental, yaitu analisis
penentu nilai prospek earnings).

Faktor kedua, lingkungan ekonomi jelas merupakan variabel

eksternal yang sangat luas. Kemungkinan variabel dalam lingkungan

ekonomi yang berpengaruh terhadap harga saham tidak hanya

terbatas pada indikator-indikator makro ekonomi seperti pertumbuhan


34

PDB, tingkat suku bunga, inflasi, ekspor-impor, nilai tukar, supply &

demand yang tercermin pada harga komoditas dan sebagainya,

Melainkan juga karakteristik industri dimana perusahaan itu

beroperasi. Bodie et.al. (2009:553) menjelaskan pentingnya memper-

timbangkan lingkungan ekonomi dalam analisis fundamental sebagai

berikut:

Because the prospects of the firm are tied to those of the


broader economy, however, valuation analyses must consider
the business environment in which the fi rm operates. For some
firms, macroeconomic and industry circumstances might have a
greater influence on profits than the fi rm’s relative performance
within its industry. In other words, investors need to keep the big
economic picture in mind (Karena prospek perusahaan terkait
dengan ekonomi yang lebih luas, bagaimanapun, analisis
penilaian harus mempertimbangkan lingkungan bisnis di mana
perusahaan beroperasi. Untuk beberapa perusahaan, keadaan
ekonomi makro dan industri mungkin memiliki pengaruh yang
lebih besar terhadap laba daripada kinerja relatif perusahaan
dalam industrinya. Dengan kata lain, investor perlu menjaga
gambaran ekonomi besar dalam pikiran).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dalam menganalisis

prospek perusahaan menjadii masuk akal untuk memulai dengan

lingkungan ekonomi yang luas, memeriksa keadaan ekonomi agregat

dan bahkan ekonomi internasional. Analisis perlu mempertimbangkan

implikasi dari lingkungan luar pada industri di mana perusahaan

beroperasi, kemudian menilai posisi perusahan dalam industri.

Bagaimanapun, variabel ekonomi yang diasumsikan berpengaruh

terhadap suatu industri tidak selalu berdampak sama dengan industri

yang lain.
35

Faktor ketiga, pajak sebagai pengisi anggaran pemerintah jelas

mengurangi laba perusahaan. Pertama, pajak penghasilan (PPh) yang

dikenakan terhadap laba perusahaan, sehingga menjadi pengurang

laba yang dibagikan kepada pemegang saham. Dengan demikian,

jelas besar-kecilnya persentase PPh mempengaruhi tingkat

pengembalian (return) atas investasi. Kedua, pajak ekspor dari

negara asal barang yang mungkin maksudnya untuk menekan harga

dalam negeri, yang secara tidak langsung mempengaruhi pendapatan

perusahaan, dan akhirnya dapat mempengaruhi harga saham. Ketiga,

pajak yang dikenakan oleh negara importir yang tentu akan

mengurangi daya saing yang akhirnya berdampak pada pendapatan

pula.

Faktor keempat, mengenai iklim politik biasanya mengacu

kepada perilaku penguasa yang analisis berujung kepada pertanyaan:

apakah konduksif atau tidak konduksif bagi dunia usaha secara

umum atau spesifik pada hal tertentu? Media seringkali mengaitkan

pemerintahan baru dengan pergerakan saham di pasar modal sebagai

respon invetor pada rezim baru. Ketidakstabilan politik dapat

berpengaruh negatif sebagaimana penelitian Sidiqui

Ketiga faktor terakhir tersebut di atas identik dengan faktor

eksternal yang juga dikemukakan Alwi (2008:87) sebagai berikut:

a. Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga

tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai


36

regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh

pemerintah.

b. Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan

karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan

tuntutan perusahaan terhadap manajernya.

c. Pengumuman industri sekuritas (securities announcements),

seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau

harga saham perdagangan, pembatasan/penundaan trading.

d. Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga

merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya

pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara.

e. Berbagai isu baik dari dalam dan luar negeri.

2.2.4. Harga Komoditas dan Hubungannya dengan Harga Saham

Harga suatu komoditas pada dasarnya tidak terlepas dari hukum

supply dan demand. Karena kondisi supply dan demand yang dinamis

tersebut, maka hargapun berubah, naik atau turun. Beberapa

komoditas dianggap sebagai komoditas strategis, baik karena sifat

barang tersebut maupun dampaknya terhadap perekonomian.

Harga komoditas strategis ini dapat mempengaruhi harga saham,

antara lain sebagaimana penelitian Dwiati dan Ambarwati (2016) yang

menyatakan harga emas berpengaruh signifikan terhadap IHSG; dan

penelitian Siddiqui (2014) yang menyimpulkan harga minyak bumi

berpengaruh signifikan terhadap indeks KSE-100 di Pakistan..


37

Adapun minyak kelapa sawit atau CPO (Crude Palm Oil) bagi

Indonesia dan Malaysia dapat pula dianggap sebagai komoditas

strategis, karena besarnya nilai ekonomi atas produksi hasil CPO

tersebut. Pada tahun 2016, kedua Negara menguasai 86% pasokan

pasokan CPO dunia, yang mana Indonesia sebesar 54% dan Malaysia

sebesar 32% (GAPKI, www.gapki.id). Penelitian Nordin, et.al. (2014)

membuktikan bahwa harga CPO dunia berpengaruh positif terhadap

kinerja saham di Malaysia. Sedangkan penelitian Ayudya, et.al.(2017)

membuktikan pengaruh harga CPO dunia terhadap harga saham

perusahaan pekebunan sawit di Indonesia.

Selain atas dasar penelitian tersebut, secara teoritis dapat

dijelaskan bahwa jika harga CPO yang merupakan produk dari

perusahaan perkebunan sawit tersebut mengalami kenaikan,

sementara biaya produksi per unit relatif tidak berubah, maka yang

akan terjadi adalah laba perusahaan yang meningkat, dan berarti

estimasi nilai instrinsik saham juga meningkat. Informasi profitablitas ini

tentu diapresiasi investor secara positif. Karena itu, hipotesis hubungan

antara harga CPO dunia dengan harga saham perusahaan perkebunan

sawit adalah searah atau positif.

2.2.5. Nilai Tukar dan Hubungannya dengan Harga Saham

Nilai tukar (exchange rate) atau kurs adalah jumlah mata uang

tertentu yang dapat ditukar terhadap satu unit mata uang lain. Terdapat

dua macam sistem kurs yaitu kurs tetap (fixed rate) dan kurs
38

mengambang (floating rate). Kurs tetap adalah sistem kurs dimana nilai

tukar dari setiap mata uang asing dikunci pada sejumlah tertentu mata

uang domestik. Kurs mengambang adalah sistem kurs dimana nilai

tukar dari setiap mata uang asing dibolehkan untuk bervariasi terhadap

sejumlah mata uang domestik (Joesoef, 2008:12).

Kurs dari valuta asing dapat berubah-ubah karena mekanisme

pasar ataupun karena intervensi Bank Sentral. Istilah untuk

menunjukkan arah perubahan nilai tukar mata uang satu terhadap

mata uang lainnya karena mekanisme pasar disebut depresiasi atau

apresiasi. Ketika nilai tukarnya menurun atau meningkat, mata uang

tersebut dikatakan telah terdepresiasi atau terapresiasi. Sementara

Istilah yang menunjukkan perubahan nilai tukar mata uang domestik

terhadap mata uang asing karena intervensi kekuatan Bank Sentral

disebut devaluasi (menurunkan nilai tukar) atau revaluasi (menaikkan

nilai tukar) (Joesoef, 2008:12).

Ada dua jenis nilai tukar (Syarifuddin,2015:29), yaitu:

a. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate); dan

b. Nilai tukar riil (real exchange rate),

Jika E, adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya,

maka nilai tukar riil (real exchange rate) adalah:

Q = E. P*/P, yang mana:

P = tingkat harga dalam negeri

P*= tingkat harga di Negara mata uang yang asing


39

Terdapat pula pengembangan dari nilai tukar riil (Syarifuddin,

2015:29), antara lain:

a. Real Effective Exchange Rate (REER) adalah indeks nilai tukar

suatu negara terhadap nilai tukar negara mitra dagangnya, yang

diukur berdasarkan bobot dari traded goods (eskpor dan impor)

negara tersebut.

b. Bilateral Real Effective Exchange Rate (BREER) adalah nilai tukar

riil suatu negara terhadap negara lain yang dihitung dengan

membandingkan tingkat inflasi dan nilai tukar nominal antar kedua

negara.

Menurut teori makroekonomi, nilai tukar dan harga saham

berhubungan positif. Jatuhnya nilai tukar mata uang suatu negara

merangsang ekspor dan meningkatkan pendapatan industri ekspor

dan impor yang bersaing, sehingga meningkatkan tingkat rata-rata

harga saham. Namun demikian, hubungan positif antara nilai tukar

dan harga saham dapat diakibatkan oleh gangguan tingkat bunga riil:

ketika tingkat bunga riil naik, capital inflow meningkat dan nilai tukar

jatuh (terdepresiasi); di sisi lain, teori arbitrase menunjukkan bahwa

tingkat bunga riil yang lebih tinggi mengurangi nilai sekarang dari arus

kas masa depan perusahaan dan menyebabkan harga saham jatuh.

Namun, di bawah gangguan inflasi, hubungan harga-nilai tukar dapat

menjadi negatif: ketika inflasi meningkat, nilai tukar naik karena mata

uang domestik kehilangan nilainya tidak hanya dalam hal barang dan
40

jasa tetapi juga dalam hal mata uang asing; Ekspektasi inflasi yang

lebih tinggi menyebabkan investor untuk menuntut premi risiko yang

lebih tinggi dan menuntut tingkat pengembalian yang lebih tinggi

sehingga harga saham menurun (Ying Wu, 2000).

Berdasarkan teori tersebut, nilai tukar bisa berdampak positif

terhadap harga saham, bisa pula tidak menunjukkan dampak, bahkan

berdampak sebaliknya. Penelitian Ying Wu (2000), sebagaimana

dikemukakan sebelumnya menunjukkan bahwa nilai tukar

berpengaruh negatif di Thailan, Filipina dan Singapura dan Indonesia

untuk jangka panjang; Sedangkan untuk jangka pendek, juga

berkorelasi negatif di Thailand dan Singapura, bagi Filipina positif, dan

dii Indonesia ternyata menunjukkan tidak signifikan adanya pengaruh

(causality). Penelitian Tian and Ma (2010) di China menghasilkan

korelasi yang positif. Penelitian Granger et.al. (2000) menyimpulkan di

Jepang dan Thailand berkorelasi positif, di Taiwan, Indonesia, Korea,

Malaysia, dan Filipina berkorelasi negatif, dan di Singapore tidak dapat

dikenali. Sementara penelitian Suriani,et.al. (2015) di Karachi Stock

Exhange (Pakistan) menyimpulan tidak ada hubungan antara nilai

tukar Rupee dengan indeks KSE-100.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dampak nilai tukar

tergantung pada kondisi fundamental makro suatu Negara. Dalam

konteks Indonesia, dengan melihat hasil penelitian sebelumnya bahwa

diduga nilai tukar berdampak negatif terhadap harga saham.


41

2.2.6. EPS dan Hubungannya dengan Harga Saham

EPS (earning per share) atau pendapatan per lembar saham

sudah maknya. Yang perlu diperjelas saham yang mana dan laba

yang mana. Atril (2009:93) menyatakan: “The earnings per share

(EPS) ratio relates the earnings generated by the business, and

available to shareholders, during a period to the number of shares in

issue” (Rasio EPS merupakan pendapatan per lembar saham yang

diperoleh dan tersedia bagi pemegang saham pada periode

bersangkutan). Warren et. al. (2009:602) memperjelas dengan

definisinya sebagai berikut: “Earning per share (EPS) on Common

Stock measure the share of profits that are eaned by a share of

common stock”, dengan rumusan secara matematikanya:

EPS on Common Stock =

Berdasarkan definisi tersebut jelas bahwa EPS adalah bagian

laba yang diperoleh setiap lembar saham biasa (common stock).

Dasar perhitungannya adalah laba bersih (net income) perusahaan

yang berarti laba setelah pajak (earning after tax), dikurangi lebih

dahulu dengan dividen saham preferen jika struktur modal perusahaan

juga dibiayai dengan saham preferen, baru kemudian dibagi dengan

jumlah saham biasa yang beredar.

Setiap pemegang saham tentu berharap laba per saham yang

dimiliknya meningkat, dan itu hanya terjadi jika laba bersih

perusahaan meningkat. Karena itu, EPS satu diantara sekian


42

indikator yang menunjukkan kinerja perusahaan. Samsul (2006: 167)

menyatakan: “Membeli saham berarti membeli prospek perusahaan,

itu tercermin pada laba persaham (earnings per share)”. Ketika

investor menganggap ada kecenderungan EPS di masa depan

meningkat, maka prospek perusahaan juga dianggap semakin baik.

Sementara Atrill (2009: 93) menyatakan: “many investment analysts

regard the EPS ratio as a fundamental measure of share performance”

(kebanyakan analis investasi menganggap rasio EPS sebagai ukuran

fundamental kinerja saham). Tren pendapatan per saham dari waktu

ke waktu digunakan untuk membantu menilai potensi investasi dari

saham bisnis.

Hubungan EPS dengan harga saham terletak pada nilai

fundamental yang dikandungnya. Jika informasi tentang EPS

cenderung menurun, berarti ekspektasi terhadap laba yang akan

diperoleh di masa depan yang bersumber dari dividen dan capital gain

(harga jual - harga beli), juga lebih kecil. Perubahan EPS memang

tidak serta merta mendorong aksi jual saham semua investor, sebab

tergantung seberapa besar perkiraan penurunan tersebut. Logisnya,

ketika penurunan ESP diperkirakan signifikan, menyebabkan nilai

instrinsik saham menjadi lebih kecil dari harga pasar, maka investor

cenderung melakukan aksi jual sahamnya tersebut. Namun jika

penurunan EPS yang diperkirakan tidak signifikan, dalam arti

perkiraan nilai sekarang (present value) dari saham tersebut di masa


43

depan masih memadai (net present value masih positif), ceteris

paribus, tekanan jual saham masih mungkin terbendung. Intinya,

dampak kecenderungan penurunan EPS terhadap harga saham

tergantung seberapa besar penurunan tersebut diperkirakan.

Bagaimana pun, dapat diasumsikan bahwa ada hubungan antara

EPS dengan harga saham, mengingat penurunan EPS, ceteris

paribus, menyebabkan penurunan nilai instrinsik saham. Penurunan

instrinsik berdampak pada naiknya penawaran dan turunnya

permintaan, sehingga membuat keseimbangan harga dan kuantitas

bergeser ke kanan-bawah, yang berarti harga saham cenderung turun

juga, sebagai telah dibuktikan dalam penelitian terdahulu (al-Dini,

et.al, 2011; Pushpa Bhatt and Sumangala, 2012; De Bondt, 2008; Chi-

Wei Su, et.al., 2008; dan Manaje, 2012).

Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu, jelas sekali

EPS merupakan predictor harga saham yang kuat, sehingga hipotesis

penelitian ini mengarah pada hubungan EPS dengan harga saham

perusahaan sawit secara positif.

2.2.7. ROA dan Hubungannya dengan Harga Saham

Tolok ukur kinerja perusahaan berbasis data yang dihasilkan oleh

proses akuntansi dapat memberikan petunjuk kekuatan internal

perusahaan secara menyeluruh, baik secara tersendiri maupun

dalam hubungannya dengan pesaing di industri yang sama


44

Willson dan Campbell dalam bukunya Controllership (1997:83-

84) mengelompokkan dua tolok ukur kinerja perusahaan secara

keseluruhan tersebut, yaitu profitabilitas (kemampulabaan) dan

pertumbuhan. Jika Earning per Share (EPS) merupakan bagian dari

tolok ukur pertumbuhan, maka Return on Assets merupakan satu di

antara dari tolok ukur kemampulabaan.

Penjualan
Harta
Dibagi Tetap
Perputaran
dengan
Jumlah Kas
Tambah
Harta
Modal Piutang
Dikalikan dengan Kerja Dagang
ROA
Persediaan
Penjualan
Laba
Kurang

Rasio Laba Dibagi


dengan CGS dan
Pengeluaran
Penjualan

Gambar 2.4. ROA dan Variabel Keuangan yang terkait


(Sumber : Willson dan Campbell, 1997: 86)

Sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2.4, ROA berasal dari

Perputaran dikalikan dengan Rasio Laba. Perputaran tidak lain dari

Total Penjualan dibagi dengan Jumlah Harta. Sedangkan Rasio Laba

adalah Laba dibagi dengan Penjualan. Laba disini tidak lain dari hasil

Penjualan dikurangi Cost of Good Sold (Biaya barang yang terjual)


45

dan pengeluaran-pengeluaran (expenses) yang bisa disebut dengan

biaya usaha. Secara singkat, maka ROA dirumuskan sebagai berikut:

ROA =

ROA =

Berdasarkan rumus tersebut, ROA dapat ditingkatkan jika laba

meningkat, dan laba dapat ditingkatkan tanpa menambah modal

dengan meningkatkan perputaran penjualan. Perputaran penjualan

antara lain dapat dilakukan dengan kebijakan penjualan kredit dan

penjualan tunai dengan tingkat diskon tertentu.

Telah dikemukakan bahwa salah satu tolok ukur kinerja

perusahaan keseluruhan tanpa melibatkan biaya modal adalah ROA

atau tingkat pengembalian atas harta (asset). ROA merupakan angka

rasio yang biasanya dinyatakan dalam persen. Brigham dan Daves

(2007: 261) menegaskan: “The ratio of net income to total assets

measures the return on total assets (ROA) after interest and taxes”.

Dengan demikian jelas bahwa apa yang dimaksud dengan ROA

adalah rasio antara laba bersih atau laba setelah bunga dan pajak.

Secara teoritis, jelas bahwa return on assets (ROA) merupakan

hubungan antara keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan

dengan jumlah aktiva yang dipergunakan perusahaan untuk

menghasilkan keuntungan operasi perusahaan tersebut. Tinggi atau

rendahnya return on assets mempengaruhi tingkat efisien perusahaan

dalam mengelola seluruh aktiva yang ada dalam perusahaan tersebut.


46

Semakin tinggi return on assets semakin efisien perusahaan tersebut,

sehingga semakin tinggi pula keuntungan perusahaan. Shim dan

Siegel (2007: 29) menegaskan “The return on total assets (ROA)

indicates the efficiency with which management has used its available

resources to generate income”. Dengan demikian return on assets

dapat diasumsikan dapat berpengaruh pada harga saham, yaitu

semakin tinggi ROA perusahaan, nilai instrinsik meningkat, hingga

semakin tinggi pula harga saham, dan begitu pula sebaliknya.

Sebagian penelitian membuktikan ada pengaruh (positif) ROA yang

signifikan terhadap harga saham (Arkan, 2016), namun ada pula yang

membuktikan tidak ada pengaruh yang signifikan (Idawati dan

Wahyudi, 2015).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penelitian ini mengasumsi-

kan adanya pengaruh ROA terhadap harga saham.

2.2.8. DER dan Hubungannya dengan Harga saham

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan kelompok dalam rasio

solvabilitas. Horne and Wachovicz (2009:140) menyatakan: “To

assess the extent to which the firm is using borrowed money, we may

use several different debt ratios. The debt-to-equity ratio is computed

by simply dividing the total debt of the firm (including current liabilities)

by its shareholders’ equity:


47

Berdasarkan rumusan tersebut di atas, Debt to Equity Ratio

merupakan rasio yang dapat digunakan untuk mengetahui jumlah

dana yang disediakan peminjam (kreditor) dibanding modal sendiri.

Dengan kata lain rasio ini digunakan untuk mengetahui setiap rupiah

modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.

Selain itu DER juga dapat memberikan gambaran mengenai

struktur modal perusahaan. Semakin tinggi proporsi DER, berarti

semakin besar bagian laba perusahaan untuk membayar hutang. Jika

berlebihan, dan tentu mengancam perusahaan tidak dapat memenuhi

kewajiban pembayaran utangnya. Oleh karena itu apabila DER

semakin tinggi dari satu period ke periode berikutnya, maka risiko

financial perusahaan menjadi lebih tinggi pula. Informasi tinggi

rendahnya resiko keuangan perusahaan inilah yang kemungkinannya

mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka arah hipotesis

penelitian ini menyatakan hubungan yang negatif antara DER dengan

harga saham, sebagaimana hasil penelitian Ayudya. et.al. (2017)

2.3. Kerangka Konsep Penelitian

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, penelitian ini ditujuakan

untuk menguji pengaruh berbagai variabel terhadap harga saham

perusahaan perkebunan sawit di bursa efek, yang mana variabel

bebas-nya dibatasi sejumlah lima variabel yang dianggap relevan,


48

yaitu: harga CPO dunia, Nilai tukar Rupiah, Earning per Share (EPS),

Return on Assets (ROA), dan Debt to Equity Ratio (DER). Kerangka

konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Harga CPO (X1)

Nilai tukar (X2)

EPS (X3)
Harga Saham (Y)

ROA (X4)

DER (X5)

2.4. Hipotesis

Berdasarkan kajian hubungan antar variabel bebas dengan

harga saham sebelumnya telah diuraikan diatas, maka hipotesis yang

dikemukakan adalah sebagai berikut:

a. Harga Crude Palm Oil berpengaruh positif terhadap harga saham

perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia.

b. Nilai tukar Rupiah berpengaruh negatif terhadap harga saham

perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia.

c. Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap harga

saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia.

d. Return on Assets (ROA) berpengaruh positif terhadap harga

saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek Indonesia.


49

e. Debt to Equity Rasio (DER) berpengaruh positif/negatif terhadap

harga saham perusahaan perkebunan sawit di Bursa Efek

Indonesia.
50

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Pada dasarnya tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan

hubungan antar variabel, sehingga penelitian ini merupakan jenis

penelitian penjelasan (explanatory research). Sementara dari sudut

pendekatannya adalah penelitian kuantitatif, karena untuk

menjelaskan hubungan antar variabel penetian ini menggunakan alat

analisis statitistik.

3.2. Definisi Operasional

Definisi operasional masing-masing variabel penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Harga CPO (X1) adalah harga CPO di pasar dunia rata-rata per

bulan dalam US dollar per metric ton.

b. Nilai tukar (X2) disini adalah jumlah Rupiah yang ditukar dengan

US$1, yang diambil dari nilai kurs tengah BI pada setiap awal

bulan.

c. Earning Per Share (X3) adalah rara-rata laba bersih per saham

beberapa perusahaan perkebunan sawit di IDX setiap bulan.

d. Return on Assets (X4) adalah rata-rata net income dibagi total

asset beberapa perusahaan perkebunan sawit di IDX per bulan.


51

e. Debt to Equity (X4) adalah rata-rata total hutang dibagi ekuitas

beberapa perusahaan perkebunan sawit di IDX setiap bulan

3.3. Jangkauan Penelitian

Penelitian ini mencakup data bulanan mulai dari Januari 2015

hingga Februari 2018 (38 bulan).

Adapun pun jumlah perusahaan dibidang perkebunan sawit

saat ini ada 16 emiten. Penelitian ini hanya mengambil 10 dari 16

emiten tersebut, guna menghindari data yang ekstrim yang

kemungkinannya tidak mencerminkan kondisi fundamental

perusahaan. Sepuluh emiten yang dimaksud adalah:

a. Astra Agro Lestari Tbk]

b. Austindo Nusantara Jaya Tbk]

c. Dharma Satya Nusantara Tbk.

d. PP London Sumatra Indonesia Tbk

e. Provident Agro Tbk.

f. Sampoerna Agro Tbk

g. Salim Ivomas Pratama Tbk.

h. SMART Tbk

i. Sawit Sumbermas Sarana Tbk

j. Tunas Baru Lampung Tbk.


52

3.4. Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Data mengenai variabel Harga CPO dunia per bulan diambil dari

www.indexmundi.com

b. Data mengenai variabel Nilai Tukar diambil dari situs Bank

Indonesia (www.bi.co.id)

c. Data mengenai variabel EPS, ROA, DER dan harga diambil dari

IDX Monthly Statististics (diunduh dari www.idx.co.id)

3.5. Jenis Data

Dari aspek pengumpulan datanya, maka data yang digunakan

merupakan data sekunder atau yang sudah diolah oleh pihak yang

berkompeten dalam bentuk laporan yang diterbitkan secara periodik.

Sementara dari aspek pengukuran variabel penelitian, semua variabel

dalam penelitian ini merupakan data rasio.

3.6. Alat Analisis

Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap

pergerakan harga saham, maka digunakan analisis linear berganda

yang dirumuskan dengan persamaan berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e

Keterangan:

Y = harga saham perusahaan perkebunan sawit


a adalah Konstanta
53

b1 adalah koefisien regresi harga CPO

b2 adalah koefisien regresi Nilai Tukar

b3 adalah koefisien regresi EPS

b4 adalah koefisien regresi ROA

b5 adalah koefisien regresi DER

e adalah error.

Menurut Gujarati (2004: 65-113), setiap estimator OLS

seharusnya memenuhi kriteria BLUE, yaitu :

a. Best adalah yang terbaik

b. Linier adalah kombinasi linier dari sampel jika ukuran sampel

ditambah maka hasil nilai estimasi akan mendekati parameter

populasi yang sebenarnya.

c. Unbiased adalah rata-rata atau nilai harapan atau estimasi sesuai

dengan nilai yang sebenarnya.

d. Efficient estimator adalah memiliki varians yang minimum diantara

prediktor (variabel bebas) yang tidak bias.

Agar estimator layak dipergunakan, maka diperlukan uji

terhadap beberapa masalah klasik, yaitu Normalitas, Multikolinearitas,

Otokorelasi, dan Heterokedatisitas.

Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah dalam model

regresi, variabel peganggu atau residual terdistribusi secara normal


54

atau tidak. Dalam penelitian ini uji normalitas data dilakukan melalui

pendekatan statistik, yakni test Kolmogorov- Smirnov.

Uji multikolonieritas (multicolinerity) dimaksudkan untuk

mengetahui apakah ada korelasi antar variabel bebas (independen)

pada model regresi berganda. Model regresi yang baik adalah tidak

terjadinya multikolonieritas antar variabel independen. Untuk menguji

multikolonieritas pada penelitian ini dengan melihat nilai Tolerance

dan Variance.

Uji Otokorelasi (autocorrelation) data time series dimaksudkan

untuk menguji apakah ada korelasi antara data yang bersangkutan

dengan dirinya sendiri, khususnya untuk data runtun waktu. Hal ini

dapat dilakukan dengan Durbin-Watson (uji DW), yang mana

ketentuannya adalah sebagai berikut:

a. Jika angka DW lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka

hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat otokorelasi.

b. Jika angka DW terletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol

diterima, yang berarti tidak ada otokorelasi.

c. Jika angka DW terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan

(4-dL), maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Uji Heterokesdatisitas dimaksudkan untuk menguji apakah

dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoske-


55

dastisitas, dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi

yang baik seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk itu

dipergunakan uji Glejser melalui program SPSS.

3.7. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis secara individual dilakukan dengan

menggunakan uji-t dengan tingkat signifikansi 95% (α = 5%).

Sedangkan untuk melihat pengaruh seluruh variabel bebas (harga

batubara, ROA dan EPS) terhadap harga saham secara sekaligus,

dipergunakan uji-F, sekaligus untuk menilai goodness of fit dari model

yang dihasilkan bersama dengan R2 (koefisiensi determinasi).