You are on page 1of 27

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK D.

DENGAN GANGGUAN
HIDROSEFALUS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hidrosefalus adalah suatu pemyakit dengan ciri-ciri pembesaran pada sefal atau kepala
yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinalis (CSS) dengan atau karena tekanan
intra kranial yang meningkat sehingga terjadi pelebaran ruang tempat mengalirnya cairan
serebrospinalis (CSS).( Ngastiyah : 1997 ). Bila masalah ini tidak segera di tanggulangi dapat
mengakibatkan kematian dan dapat menurunkan angka kelahiran di suatu wilayah atau
negara tertentu sehingga pertumbuhan populasi disuatu daerah menjadi kecil. Menurut
penelitian WHO untuk wilayah ASEAN jumlah penderita Hidrosefalus di beberapa negara
adalah sebagai berikut, di Singapura pada anak 0-9 th : 0,5%, Malaysia : anak 5-12 th 15%,
India anak 2-4 th 4%, di Indonesia berdasarkan penelitian dari Fakultas Ilmu Kedokteran
Universitas Indonesia terdapat 3%. Berdasarkan pencatatan dan pelaporan yang diperoleh
dari catatan register dari ruang perawatan IKA I RSPAD Gatot Soebroto selama 3 bulan
terakhir dari bulan oktober-desember 2007 jumlah anak yang menderita dengan gangguan
serebral berjumlah 159 anak dan yang mengalami Hidrosefalus berjumlah 69 anak dengan
persentase 43,39%.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis ingin melakukan asuhan keperawatan pada An. D
dengan Hidrosefalus melalui pendekatan proses keperawatan yang dilakukan secara
menyeluruh meliputi pencegahan primer yaitu promoif, preventif. Pencegahan skunder yaitu
kuratif dan pencegahan tertier yaitu rehabilitatif.

B. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini diantaranya sebagai berikut :
1. Tujuan umum
Untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada
klien dengan Hidrosefalus menggunakan pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan khusus
Agar penulis mendapatkan pengalaman nyata dalam :
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan Hidrosefalus
b. Menganalisa data yang telah diperoleh dari klien dengan Hidrosefalus
c. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan Hidrosefalus
d. Membuat rencana keperawatan pada klien dengan Hidrosefalus
e. Melaksanakan rencana keperawatan yang telah ada pada klien dengan Hidrosefalus
f. Membuat pendokumentasian pada klien dengan Hidrosefalus
g. Mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan pada klien dengan Hidrosefalus.
h. Mengidentifikasi adanya kesenjangan asuhan keperawatan antara teori dengan kasus yang
sesungguh serta alternatif pemecahan masalah dari kesenjangan yang di temukan

C. Metode penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini ialah metode dekriptif dengan tipe
studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan dan teknik pengumpulan data dengan
cara observasi, wawancara dan pengkajian fisik. Sumber data terdiri dari data primer yaitu
data yang di peroleh dari klien sendiri, data skunder diperoleh dari keluarga klien dan data
tertier diperoleh dari data yang ada di ruang perawatan terkait dengan masalah yang di alami
klien saat ini.
Study kasus yaitu dengan cara mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan
masalah yang di alami oleh klien yang terdapat di perpustakaan.

D. Ruang lingkup
Asuhan keperawatan yang dilakukan pada anak D. dengan Hidrosefalus dilakukan di
ruang perawatan IKA I RSPAD Gatot Soebroto yang dilakukan selama 3 x 24 jam yaitu dari
tanggal 21 januari sampai 23 januari 2008.

E. Sistematika penulisan
Sistematika dalam penulisan makalah ini diantaranya sebagai berikut, BAB I
Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, ruang lingkup
dan sistematika penulisan. BAB I Tinjauan Teori terdiri dari pengertian, patofisiologi,
penatalaksanaan, pengkajian, diagnosa keperawatan, Intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB III Tinjauan Kasus terdiri dari pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan,
Intervensi, implementasi dan evaluasi. BAB IV Pembahasan terdiri dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, Intervensi, implementasi dan evaluasi. BAB V Penutup terdiri dari kesimpulan
dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
- Hidrosefalus adalah akumulasi cairan serebrospinal dalam ventrikel serebral, ruang
subarachnoid atau ruang subdural. ( Suriadi : 2001)
- Hidrosefalus adalah keadaan fatlogis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan
serebro spinalis (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intra cranial yang meningkat
sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. ( Ngastiyah :1997)
- Hidrosefalus adalah akumulasi berlebuhan dari cairan serebrospinalis (CSS) dalam sisitem
ventrikel, yang mengakibatkan dilatasi positif pada ventrikel. ( Donna L. Wong : 2003 )
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian dari
Hidrosefalus ialah bertambahnya cairan serebro spinalis atau CSS di otak dengan atau tanpa
tekanan intra cranial yang meningkat sehingga terjadi pembesaran pada tempat mengalirnya
cairan serebro spinalis (CSS).

B. Patofisiologis
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS dalam ventrikel dan tempat
absorbsi dalam ruang subarakhnoid. Akibatnya terjadi dilatasi ruangan CSS. Penyebab
penyumbatan aliran CSS yang sering terjadi pada bayi adalah karena kelainan bawaan /
kongenital, infeksi, neoplasma dan perdarahan.
Hidrosefalus terjadi karena adanya gangguan absorbsi CSF dalam subaracnoid
(comunicating Hidrosefalus) dan atau adanya obstruksi dalam ventrikel yang mencegah CSF
masuk ke rongga sub arachnoid karena infeksi, neoplasma, perdarahan, atau kelainan bentuk
perkembangan otak janin. (non comunicating Hidrosefalus) cairan terakumulasi ke dalam
ventrikel dan mengakibatkan dilatasi ventrikel dan penekanan organ - organ yang terdapat
dalam otak.
Tanda dan gejala dari Hidrosefalus diantaranya adanya tanda-tanda tekanan intrakranial
yang meningkat seperti mual, muntahnyeri kepala, edema pupil. Pembesaran tengkorak yang
terjadi bila tekanan yang meninggi saat sebelum sutura tengkorak menutup, ubun-ubun besar
melebar, teraba tegang atau menonjol. Dahi melebar dengan kulit kepala menipis. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan adanya cracked pot sign yaitu bunyi seperti pot kembang yang
retak pada perkusi kepala. Bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan dan penipisan tulang
supraorbita. Sklera tampak di atas iris seakan-akan seperti matahari yang akan terbenam
(sunset sign). Pergerakan bola mata tidak teratur dan nistagmus.
Komplikasi yang biasa terjadi diantaranya meningkatnya tekanan intrakranial, kerusakan
otak, infeksi seperti septikemia, endokarditis, nefritis, meningitis, abses otak, ventrikulitis,
hematoma subdural, peritonitis, abses abdomen, perforasi organ dalam rongga abdomen,
hernia, ileus dan dapat mengakibatkan kematian.
C. Pertumbuhan dan perkembngan, nutrisis, bermain serta dampak hospitalisasi

1. Pertumbuhan berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau
dimensi tigkat sel, organ maupun individu yang dapat diukur seperti berat (gram, pound,
kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur, tulang dan keseimbangan metabolik (retensi
kalsium, dan nitrogen tubuh). (Soejiningsih : 1998). Peretumbuhan berat badan akan menjadi
dua kali lipat pada usia 6 bulan yaitu sekitar 0,6 kg perbulan, panjang badan rata-rata saat
usia 6 bulan adalah 65 cm dan meningkat 2,5 cm pertahun. LINGKAR KEPALA
MENCAPAI 42,5 CM PADA USIA 6 BULAN MENINGKAT 1,25 CM PERBULAN.
(KEPERAWATAN PEDIATRIK, CEALY L. BETZ. LINDA A SOWDEN)
2. Perkembangan ialah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari pematangan, disini
menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan
sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi
fungsi termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungan. (Soejiningsih : 1998)
3. Nutrisi : Menurut konsep dasar keperawatan anak Yupi Supartini, Skp, Msc, EGC, 2004.
Nutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbh dan berkembang. Setiap
anak mempunyai karakteristik yang khas dalam mengkonsumsi makanan atau zat gizi. Oleh
karena itu untuk menentukan makanan yang tepat pada anak, tentukan jumlah kebutuhan dari
setiap nutrien, lalu tentukan jenis bahan makanan yang dapat dipilih untuk di olahsesuai
dengan menu yang diinginkan, tentukan juga jadwal pemberian makanan serta perhatikan
porsi yang di habiskan.
4. Bermain menurut Soejiningsih :1998 ialah anak tidak memisahkan antara bermain dan
bekerja. Bagi anak bermain merupakan seluruh akitfitas anak termasuk bekerja.
Kesenangannya merupakan metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bermain tidak
sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan,
Perawatan, cinta kasih melalui bermain. Anak tidak hanya menstimulasi pertumbuhan otot-
ototnya, tetapi ketika mereka bosan akan berhenti main.
5. Dampak hospitalisasi menurut Yupi Supartini Skp. Msc. ialah merupkan suatu proses karena
suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal dirumah sakit
menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali kerumah. Masalah utama
yang terjadi adalah karena dampak dari perpisahan dengan orang tua sehingga ada gangguan
pembentukan rasa percaya dan kasih sayang. Pada anak usia satu tahun terjadi stranger
anxiety atau cemas apabila berhadapan dengan orang lain yang tidak dikenalnya dan cemas
karena perpisahan.

D. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan medis
Tindakan pembedahan hingga saat ini tidak begitu memuaskan hingga 100%, kecuali jika
penyebabnya adalah tumor yang masih dapat di angkat. Ada tiga prinsip pengobatan pada
hidrosefalus diantarnya
a. Mengurangi produksi CSS dengan cara merusak sebagian pleksus koroidalisdengan tindakan
reseksi (pembedahan) atau koagulasi. Obat azetasolamid (Diamox) mempunyai fungsi untuk
inhibisi pembentukan CSS.
b. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi yaitu dengan
menghubungkan ventrikel dengan subaraknoid.
c. Pengeluaran cairan CSS ke rongga eksternal seperti drainase ventrikulo-peritoneal, lombo-
peritoneal, ventrikulo-pleural, ventrikulo-uretrostomi, drainase kerongga antrum mastoid dan
cara yang paling baik adalah dengan mengalirkan CSS ke dalam vena jugularis dan jantung
melalui kateter yang berventil (Holter valve). Namun cara ini berisiko karena kateter harus
diganti sesuai dengan pertumbuhan anak, selain itu dapat juga mengakibatkan infeksi
sekunder dan sepsis.
2. Penatalaksanaan keperawatan
Klien dengan hidrosefalus ialah klien yang memerlukan perawatan khusus karena adanya
kerusakan saraf yang menimbulkan kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran sampai
pada gangguan pusat vital. Tujun pengobatan adalah untuk mengurangi Hidrosefalus,
menangani komplikasi, mengatasi efek Hidrosefalus atau gangguan perkembangan.
3. pemeriksaan diagnostik
a. Ukur lingkar kepala secara berkala
b. CT – Scan dan MRI, kesan menunjukan pembesaran ventrikel
c. Transimulasi
d. USG
e. Ventrikulografi
f. Menyuntikan zat warna PSP ke dalam ventrikel lateralis

E. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan
2. kaji adanaya pembesaran kepala, vena terlihat jelas pada kulit kepala, bunyi cracked – pot
pada perkusi, tanda setting – sun, penurunan kesadaran, opisthotonus, dan spastik pada
ekstremitas bawah, tanda peningkatan tekanan intra kranial ( muntah, mual, pusing, papil
edema), bingung.
3. Kaji lingkar kepala
4. Kaji ukuran ubun-ubun, bila menangis ubun-ubun menonjol
5. Kaji perubahan tanda vital khususnya pernafasan
6. Kaji pola tidur, prilaku dan interaksi

F. Diagnosa keperawatan

1. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d meningkatnya volume cairan serebrospinal,


meningkatnya tekanan intra kranial
2. Resiko injury b.d. pemasangan shunt
3. Risiko infeksi b.d. efek pemasangan shunt
4. Perubahan persepsi sensori b.d. adanya tindakan untuk mengurangi tekanan intra kranial,
meningkatnya tekanan intra kranial

G. Perencanaan

1. Dx. 1
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan komplikasi
dapat dicegah
Kriteri hasil : anak tidak menunjukan adanya tanda-tanda komplikasi dan perfusi jaringan
serebral adekuat.
INTERVENSI :
- Ukur lingkar kepala tiap 8 jam
- Monitor kondisi fontanel
- Atur posisi anak miring kearah yang tidak dilakukan tindakan operasi
- Jaga posisi kepala tetap sejajar dengan tempat tidur untuk menghindari pengurangan tekanan
intrakranial yang tiba-tiba.
- Observasi dan nilai fungsi neurologis tiap 15 menit hingga TTV stabil
- Laporkan segera adanya perubahan tingkah laku misalnya : mudah terstimulasi, menurunnya
tingkat kesadaran, atau perubahan TTV ( meningkatnya tekanan darah, penurunan denyut
nadi)
2. Dx. 2
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi
injury
Kriteria hasil : Anak menunjukan tanda – tanda pemasangan shunt tepat pada tempatnya.
INTERVENSI :
- Laporkan adanya perubahan tanda-tanda vital ( meningkatnya temperatur tubuh) atau
tingkah laku ( mudah terstimulasi, penurunan tingkat kesadaran )
- Monitor daerah sekitar operasi terhadap adanya tanda-tanda kemerahan atau pembengkakan.
- Pertahankan terpasangnya kondisi shunt tetap baik
- Lakukan pemijitan pada selang shunt untuk menghindari sumbatan pada awalnya.
3. Dx. 3
Tujuan : mencegah terjadinya komplikasi
Kriteria hasil : anak tidak menunjukkan tanda-tanda injuri.
INTERVENSI : :
- Ukur lingkar kepala tiap hari
- Monitor kondisi fontanel
- Atur posisi anak ke arah yang tidak dilakukan tindakan pembedahan
- Atur posisi kepala anak agar tetap sejajar dengan tempat tidur untuk menghindari
pengurangan TIK secara tiba-tiba
4. Dx. 4
Tujuan : diharapkan infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : anak tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi seperti merah, bengkak,
panas, sakit dan perubahan fungsi laesa.
INTERVENSI : :
- Observasi TTV tiap 4 jam khususnya peningkatan suhu tubuh, penurunan kesadaran dan
mudah marah / mudah terstimulus.
- Monitor daerah luka post op terhadap adanya tanda-tanda infeksi seperti merah, bengkak,
panas, sakit
- Lakukan pijatan pada shunt untuk menghindari sumbatan awal
- Lakukan perawatan luka pada daerah pemasangan shunt tiap 1 x 24 jam
H. Implementasi

Implementasi disusun menurut Patricia A, Potter (2005)


Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan yang telah
disusun bertujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. Perawat memilih
intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada klien. Brikut metode dan langkah-
langkah persiapan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang dapat dilakukan oleh
perawat :
- Memahami rencana keperawatan yang telah ditentukan
- Menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan
- Menyiapkan lingkungan yang terapeutik
- Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
- Memberikan asuhan keperawatan secara langsung
- Mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.
Implementasi membutuhkan perawat untuk mengkaji kembali keadaan klien, menelaah, dan
memodifikasi rencana keperawatan yang sudah ada, mengidentifikasi area dimana bantuan
dibutuhkan untuk mengimplementasikan, mengkomunikasikan intervensi keperawatan.
Implementasi dari asuhan keperawatan juga membutuhkan pengetahuan tambahan
keterampilan dan personal. Setelah implementasi, perawat menuliskan dalam catatan klien
deskripsi singkat dari pengkajian keperawatan, prosedur spesifik dan respon klien terhadap
asuhan keperawatan atau juga perawat bisa mendelegasikan implementasi pada tenaga
kesehatan lain termasuk memastikan bahwa orang yang didelegasikan terampil dalam tugas
dan dapat menjelaskan tugas sesuai dengan standar keperawatan.

I. Evaluasi

Evaluasi keperawatan ini disusun menurut Patricia A, Potter (2005)


Evluasi merupakan proses yang dilakukan untuk menilai pencapaian tujuan atau menilai
respon klien terhadap tindakan keperawatan sejauh mana tujuan keperawatan telah tercapai.
Pada umumnya evaluasi dibedakan menjadi dua yaitu evaluasi kuantitatif yang dinilai adalah
kuantitas atau jumlah kegiatan keperawatan yang telah di tentukan sedangkan evaluasi
kualitatif di fokuskan pada masalah satu dari tiga dimensi struktur atau sumber, dimensi
proses dan dimensi hasil tindakan yang dilakukan.
Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan adalah sebagai berikut :
- Mengumpulkan data keperawatan klien
- Menafsirkan (menginterpretasikan) perkembangan klien
- Membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan
menggunakan kriteria hasil pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
- Mengukur dan membandingkan perkembangan klien dengan standar normal yang berlaku

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada tanggal 21 januari 2008 di ruang perawatan IKA I dengan no
register 291991. klien masuk ruang perawatan pada tanggal 11 januari 2008 dengan diagnosa
medis Hidrosefalus.

1. Data Biografi
Nama klien An. D usia 1 tahun, jenis kelamin laki-laki, klin lahir pada tanggal 5 januari
2007. identitas orang tua ialah ayah klien bernama Tn. T, usia 30 tahun, pendidikan terakhir
S1, pekerjaan saat ini karyawawn swasta, agama islam, suku bangsa jawa, alamat rumah
adalah kampung hantaran RT 9/9 tanah sari Bogor.

2. Resume
Sebelum dirawat di ruang perawatan IKA I klien terlebih dahulu masuk unit gawat
darurat RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 10 januari 2008, saat di UGD data yang
diperoleh diantaranya keluarga mengatakan anak sudah tiga hari yang lalu badan teraba
panas, kepala anak semakin hari bertambah besar, lingkar kepala saat lahir 31 cm, dan saat ini
55 cm. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya cracked pot pada palpasi kepala, kelemahan
fisik, terdapat adanya tanda-tanda peningkatan TIK seperti mual, muntah, pusing dan lain-
lain. Tindakan keperawatan yang telah dilakukan diantaranya mengukur TTV hasil S: 39 0c,
N: 130 X/mnt, RR: 35 x/mnt. Memberikan cairan IVFD dengan cairan RL 5 tts/mnt makro,
terapi yang didapat ialah klien mendapat obat antipiretik supositoria paracetamol 125 mg.
Masalah keperawatan yang muncul diantaranya perubahan perfusi jaringan serebral, risiko
injury dan hipertermi. Kemudian klien dipindahkan ke ruang perawatan IKA I, saat di
ruangan data yang diperoleh diantaranya kepala anak tampak membesar, lingkar kepala lahir
31 cm saat ini 56 cm, . Pada pemeriksaan fisik secara palpasi pada kepala ditemukan adanya
cracked pot, tindakan keperawatan yang telah dilakukan diantaranya pemeriksaan darah
lengkap, pemeriksaan CT-Scan, MRI dan pengajuan operasi pemasangan shunt. Masalah
keperawatan yang di temukan di ruangan diantaranya perubahan perfusi jaringan serebral dan
risiko injury. Kemudian klien menjalani operasi pemasangan shunt peritonium pada tanggal
14 januari 2008.

3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


a. Riwayat kehamilan dan kelahiran
Kesehatan pada ibu sewaktu hamil tidak ada masalah, tidak ada hiperemis gravidarum,
perdarahan pervagina, anemia dan lain-lain. Pemeriksaan kehamilan dilaksasnakan secara
teratur, diperiksa oleh dokter, tempat pemeriksaan kehamilan adalah puskesmas, imunisasi
yang di dapat ialah TT. Pengobatan yang didapat saat hamil adalah vitamin B kompleks, obat
penambah darah dan kalk.
Usia kelahiran saat melahirkan adalah 39 minggu dengan cara persalinan spontan. Di totlong
oleh dokter, keadaan bayi saat lahir bayi menangis kuat, gerak aktif, BB lahir 3,5 kg, PB 48
cm, lingkar kepala 31 cm.
Saat setelah lahir cacat congenital tidak ada, ikterus pada bayi tidak ada, tida ada kejang,
paralisis, perdarahan, trauma persalinan dan penurunan BB. Anak mendapatkan ASI segera
setelah lahir.
b. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
Gangguan dalam proses tumbuh kembang tidak ada, anak sudah dapat menggenggam benda
dengan kuat dan erat, gigi susu sudah mulai ada.
c. Penyaki-penyakit yang pernah diderita
Penykit yang pernah diderita antara lain batuk pilek, demam dan mencret.
d. Pernah dirawat di rumah sakit
Sebelumnya anak belum pernah di rawat di rumah sakit.
e. Obat-obat
Anak sebelumnya tidak mendapatkan terapi obat-obatan
f. Tindakan
Sebelumnya anak tindak pernah mendapatkan tindakan pembedahan dan lainnya.
g. Alergi
Alergi terhadap obat-obatan, ASI dan makanan lainnya tidak ada.

h. Kecelakaan
Sebelumnya anak tidak ada riwayat kecelakaan
i. Imunisasi
Imunisasi yang didapat anak diantaranya BCG 1x, Hepatitis B 1x, DPT 3x, polio 3x dan
campak 1x.
j. Kebiasaan sehari-hari
Kebutuhan sehari-hari anak dibantu oleh orang tua, anak mendapat ASI eksklusif dan saat
ini anak mulai mendapatkan makanan padat sejak usia 7 bulan, cara pemberiannya yaitu di
campur dengan air susu botol. Pola tidur anak saat ini adalah anak tidur siang + 2 jam dari
jam 13.00 – 15.00, tidur malam yaitu pukul 21:00 – 06:00 WIB. Pola aktivitas anak saat ini
anak suka memasukkan tangannya kedalam mulut. Frekuansi mandi anak saat ini 2x/hari pagi
dan sore dengan menggunakan sabun. Pola eliminasi saat ini adalah frekuansi BAB 3 x/hari,
warna kuning, bau khas, konsisitensi lembek, keluhan saat BAB tidak ada, tidak ada
penggunaan Laxatif. Frekuensi BAK saat ini 5 x/hari, warna urin kuning jernih, tidak ada
keluhan saat BAK, pola asuh klien saat ini adalah klien hanya diasuh oleh orang tua atau ibu
dan bapak klien.
1. Riwayat kesehatan keluarga ( GENOGRAM )

65 th 60 th 55 th 52 th

35 th 33 th 32 th 29 th 19 th 16 th

28

th 26 th
1 th

KETERANGAN :

: LAKI-LAKI

: PEREMPUAN

: MENIKAH

: KLIEN

: MENINGGAL

: TINGGAL SATU RUMAH

Koping keluarga ialah apabila ada masalah pada keluarga mengenai kesehatankeluarga
biasanya membeli obat warung, jika tidak sembuh membawanya ke puskesmas. Tidak ada
sisitem nilai kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan keluarga. Kegiatan spiritual yang
biasa digunakan ialah shalat 5 waktu.
2. Riwayat kesehatan lingkungan
Daerah lingkungan rumah dekat dengan jalan raya, lingkungan cukup bersih, banyak
mobil angkutan umum yang melewati rumah, tempat rekreasi didekat rumah tidak ada.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Klien masuk tanggal 11 januari 2008, keluhan saat masuk rumah sakit adalah
4. Pengkajian fisik secara fungsional
a. Data dasar berupa TTV N: 120 x/mnt, S: 370c, RR: 30 X/mnt, kesadaran CM, lingkar
kepala 50 cm, lingkar dada 31 cm.
b. Nutrisi dan metabolik
Ibu mengatakan anak mau minum susu, tidak ada muntah, BB saat ini 11 kg. Diit anak
saat ini ialah minum susu dan makanan lunak, mukosa bibir lembab, sudah terdapat gigi susu
pada klien, turgor kulit elastis.
c. Respirasi / sirkulasi
Jenis pernafaasan spontan, tidak ada sesak, batuk. Suara nafas vasekuler, pernafasan
cuping hidung tidak ada, penggunaan otot bantu nafas tidak ada, frenuensi nafas klien 30
x/mnt, pengisian kapiler repil < 2 detik, suhu tubuh 370C.

d. Eliminasi
Pada abdomen tidak ada kembung, sakit dan mual, keadaan umum tampak lemah, bising
usus 6 x/mnt, klien BAB + 3 x/hari, bau khas, konsistensi lembek, ganti popok 4 x/hari.

e. Aktivitas dan latihan


Kekuatan otot adalah 5555 5555 , kebutuhan klien saat ini di bantu oleh orang
y 5555 5555
Tua klien sendiri, klien sudah dapat menggenggam mainan dengan kuat dan erat, keadaan
umum tampak lemah.
f. Persepsi dan sensori
Sistem pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba dan pengecap tidak ada gangguan,
reaksi terhadap rangsang baik.
g. Konsep diri
Masalah yang di hadapi anak saat ini sangat mempengaruhi klien sehingga anak jadi
rewel dan mudah menangis.
h. Tidur dam istirahat
Anak dapat tidur nyenyak, masalah saat tidur tidak ada.
i. Seksual / reproduksi
Kelainan skrotum tidak ada, hipospadia, pimosis tidak ada, sakit saat BAK tidak ada,
penis bisa ereksi.
5. Dampak hospitalisasi
Saat ini anak gampang menangis dan takut jika melihat banyak orang, dan melihat
perawat ruangan. Pada keluarga merasa tidak tega dan kasihan akan keadaan anaknya saat ini.
6. Tingkat perkembangan saat ini
Pada motorik kasar anak sudah dapar memegang makanan atau mainan dengan kuat dan
erat, motorik halus anak sudah dapat membedakan perbedaan mana orang tua dan mana yang
bukan orang tua. Pada kemampuan berbahasa anak dapat menyebutkan kata-kata seperti “MA
MA, DA DA, PA PA”. Sosialisasi anak dengan orang lain cukup baik kecuali dengan perawat,
anak akan menangis jika melihat perawat.
7. Pemeriksaan penunjang
Hasi lab. Pada tanggal 20 Januari 2008
Hb : 13,6 gr/dl (13 – 18 gr/dl)
Ht : 39% ( 35-45%)
Thrombo : 170.000 /ul (150.000 – 400.000 gr/dl)
Leukosit : 8600 (4800 – 10800 /ul)
Eritrosit : 4,7 (4,3 - 6,0 jt/ul )
Hasil CT – Scan dan MRI pada tanggal 13 Januari 2008 kesan menunjukan pembesaran
ventrikel

8. Penatalaksanaan
- Klien terpasang infus RL 5 tts/mnt makro
- Therapi obat yang didapatkan diantaranya :
Inj : Cefotaxim 2x300 mg/IV
Vit. C 3x40 mg/IV
Diamox 3x250 mg/IV

I. DATA FOKUS
Data subjektif : orang tua mengatakan kepala anaknya bertambah besar
Data objektif :
- Tingkat kesadaran composmentis
- Balutan luka tampak kotor
- Terdapat luka pemasangan alat shunt pada kepala, leher dan abdomen sejak tanggal 14
januari 2008
- Pada daerah luka pemasangan shunt tidak ada merah, bengkak, panas dan sakit
- Pengisian kapiler repil kurang < 2 detik
- Ubun-ubun besar menonjol bila menangis
- Lingkar kepala 50 cm
- Anak menangis kuat dan nafas dangkal
- GCS : E 4, M 6, V 5
- Anak tidak kejang
- Hasil lab. Tanggal 20 januari 2008 leukosit 11.000 gr/dl (5.000-11.000 gr/dl)
- TTV : N 120 x/mnt, S 370C, RR 30 x/mnt

II. ANALISA DATA


No DATA ETIOLOGI PROBLEM
1. DS : Orang tua klien mengatakan kepalaMeningkatnya volumePerubahan perfusi
anaknya makin hari bertambah besar cairan serebrospinalis jaringan
DO :
Ubun-ubun besar menonjol bila anak
menangis
Lingkar kepala 50 cm
Anak menangis kuat dan bernafas dangkal
GCS : E 4, M 6, V 5
Kesadaran komposmentis
TTV : S 370C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt Peningkatan tekanan
2. DS : - ventrikel sekunderRisiko injury
DO : terhadap pemasangan
Tingkat kesadaran composmentis shunt
Pengisian kapiler repil kurang < 2 detik
Lingkar kepala 50 cm
Anak tidak kejang
Terdapat luka pemasangan alat shunt pada
kepala, leher dan abdomen sejak tanggal 14
januari 2008 Masuknya
3. DS : - mikroorganisme Risiko terjadi
DO : sekunder terhadapinfeksi
Balutan luka tampak kotor tempat pemasangan
Terdapat luka pemasangan alat shunt padashunt
kepala, leher dan abdomen
Pada daerah luka pemasangan shunt tidak ada
merah, bengkak, panas dan sakit
Hasil lab. Tanggal 20 januari 2008 leukosit
11.000 gr/dl (5.000-11.000 gr/dl)
TTV: N 120 x/mnt, S 370C, RR 30 x/mnt

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Perubahan perfusi jaringan b.d. Meningkatnya volume cairan serebrospinalis
2. Risiko injury b.d. Peningkatan tekanan ventrikel sekunder terhadap pemasangan shunt
3. Risiko terjadi infeksi b.d. Masuknya mikroorganisme sekunder terhadap tempat pemasangan
shunt

IV. INTERVENSI, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


1. Perubahan perfusi jaringan b.d. Meningkatnya volume cairan serebrospinalis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan perubahan
perfusi jaringan serebral dapat diatasi.
Kriteria hasil :
- tidak ada tanda-tanda penurunan kesadaran
- kesadaran composmentis
- TTV dalam batas normal (S 36-370C, N 100-120 x/mnt, RR 25-30 x/mnt)
INTERVENSI :
4. Ukur lingkar kepala tiap 1x24 jam
5. Ubah posisi anak miring ke arah yang tidak dilakukan tindakanoperasi
6. Posisikan kepala anak sejajar dengan tempat tidur untuk menghindari pengurangan tekanan
intra kranial yang tiba-tiba
7. Pantau TTV tiap 8 jam
8. Kolaborasi untuk pemberian obat injeksi Diamox sesuai program
PELAKSANAAN :
Tanggal 21-1-2008
Pukul 08:00 mengukur TTV hasil : S 37 0C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 09:00 mengukur
lingkar kepala, Hasil : lingkar kepala 50 cm. Pukul 09:15 Menjaga posisi kepala sejajar
dengan tempat tidur, Hasil : anak dapat dirubah posisi, ankak tidak menangis. Pukul 14:00
mengukur TTV hasil : S 370C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 19:00 mengukur lingkar
kepala, Hasil : lingkar kepala 50 cm. Pukul 22:15 Menjaga posisi kepala sejajar dengan
tempat tidur, Hasil : anak dapat dirubah posisi, anak tidak menangis. Pukul 08:00 mengukur
TTV hasil : S 370C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt.
Tanggal 22-1-2008
Pukul 08:00 mengukur TTV hasil : S 37 0C, N 110x/mnt, RR 32x/mnt. Pukul 09:30 merubah
posisi anak miring kanan menjauhi daerah luka operasi, hasil : posisi anak dapat dirubah
menjadi miring kanan. Pukul 13.00 memberikan obat injeksi Diamox 250 mg/IV sesuai
program, hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 14:00 mengukur TTV
hasil : S 370C, N 110x/mnt, RR 32x/mnt. Pukul 17:30 merubah posisi anak miring kanan
menjauhi daerah luka operasi, hasil : posisi anak dapat dirubah menjadi miring kanan. Pukul
21.00 memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV dan Diamox 250 mg/IV sesuai program,
hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 06.00 memberikan obat injeksi
cefotaxim 300 mg/IV dan Diamox 250 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak
ada alergi terhadap obat.
Tanggal 23-1-2008
Pukul 14.00 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 14.15
memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV dan Diamox 250 mg/IV sesuai program,
hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 17:30 merubah posisi anak
miring kanan menjauhi daerah luka operasi, hasil : posisi anak dapat dirubah menjadi miring
kanan. Pukul 21.00 mengukur TTV hasil : S 360C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 06.00
memberikan obat injeksi Diamox 250 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak
ada alergi terhadap obat. Pukul 08.00 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N 120x/mnt, RR
27x/mnt. Pukul 13.00 memberikan obat injeksi Diamox 250 mg/IV sesuai program, hasil :
obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat.
EVALUASI
Tanggal 24-1-2008
S :-
O : kesadaran komposmentis, tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial tidak ada seperti
mual, muntah, sakit kepala dan penurunan kesadaran, TTV S 360C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt.
lingkar kepala 49 cm.
A : tujuan tercapai masalah teratasi
P : tindakan keperawatan kolaborasi memberikan obat injeksi Diamox 3x250 mg/IV sesuai
program dilanjutkan.

2. Risiko injury b.d. Peningkatan tekanan ventrikel sekunder terhadap pemasangan shunt
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan injury tidak
terjadi
Kriteria hasil : alat pemasangan shunt tepat berada pada tempatnya, TTV dalam batas normal,
kesadaran composmentis.
INTERVENSI :
1. Observasi tingkat kesadaran tiap 1x24 jam
2. Monitor adanya tanda-tanda meningkatnya tekanan intra kranial tiap 1x24 jam
3. Berikan anak posisi tidur menjadi semi fowler
4. Observasi intake dan out put tiap 1x24 jam
PELAKSANAAN
Tanggal 21-1-2008
Pukul 08.00 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 10.00
mengobservasi adanya peningkatan TIK, hasil : anak tidak ada mual, muntah dan sakit
kepala. Pukul 11.30 merubah posisi tidur klien menjadi semi fowler, hasil : posisi tidur anak
dapat dirubah dapat dirubah menjadi semi fowler, anak tidak menangis. Pukul 14.10
mengukur TTV hasil : S 360C, N 120x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 18.00 mengobservasi adanya
peningkatan TIK, hasil : anak tidak ada mual, muntah dan sakit kepala. Pukul 22.30 merubah
posisi tidur klien menjadi semi fowler, hasil : posisi tidur anak dapat dirubah menjadi semi
fowler, anak tidak menangis. Pukul 06.00 mengobservasi adanya peningkatan TIK, hasil :
anak tidak ada mual, muntah dan sakit kepala.
Tanggal 22-1-2008
Pukul 08.00 mengukur TTV hasil : S 360C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 10.00
memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak
ada alergi terhadap obat. Pukul 12.00 mengobservasi tingkat kesadaran, hasil : kesadaran
klien composmentis. Pukul 14.00 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt.
Pukul 21.00 memberikan obat injeksi Diamox 250 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk,
klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 05.00 mengobservasi tingkat kesadaran, hasil :
kesadaran klien composmentis

Tanggal 23-1-2008
Pukul 14.00 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 16.00 merubah
posisi tidur klien menjadi semi fowler, hasil : posisi tidur anak dapat dirubah menjadi semi
fowler, anak tidak menangis. Pukul 17.30 memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV
sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 21.00
mengukur TTV hasil : S 360C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 22.00 merubah posisi tidur
klien menjadi semi fowler, hasil : posisi tidur anak dapat dirubah menjadi semi fowler, anak
tidak menangis. Pukul 06.00 memberikan obat injeksi Diamox 250 mg/IV sesuai program,
hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 08.00 mengukur TTV hasil : S
360C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. . Pukul 13.00 memberikan obat injeksi Diamox 250 mg/IV
sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat.
EVALUASI
Tanggal 24-1-2008
S :-
O : Alat pemasangan shunt tepat berada pada tempatnya, TTV S 36,5 0C, N 110x/mnt, RR
30x/mnt, tingkat kesadaran composmentis
A : Tujuan tercapai, masalah teratasi
P : Tindakan kperawatan dilanjutkan
- Berikan posisi tidur anak menjadi semi fowler
- Berikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program
3. Risiko terjadi infeksi b.d. Masuknya mikroorganisme sekunder terhadap tempat
pemasangan shunt
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan infeksi tidak
terjadi
Kriteria hasil : Daerah luka pemasangan shunt tidak merah, bengkak, panas dan sakit.
Leukosit dalam batas normal (5.800-11.000 gr/dl)

INTERVENSI :
1. Observasi TTV tiap 4 jam khususnya suhu tubuh (36-370C)
2. Monitor daerah luka post op terhadap adanya tanda-tanda infeksi seperti merah, bengkak,
panas dan sakit
3. Lakukan pemijatan pada daerah tempat pemasangan shunt untuk menghindari sumbatan awal
4. Lakukan perawatan luka tiap 1x24 jam dengan menggunakan NaCl 0.9% dan Bethadin 10%
sesuai program
PELAKSANAAN :
Tanggal 21-1-2008
Pukul 08.30 mengukur TTV hasil : S 360C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 10.00
memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak
ada alergi terhadap obat. Pukul 11.30 melakukan perawatan luka dengan menggunakan NaCl
0.9% dan Bethadin 10% serta kasa streril sesuai program, hasil : luka tampak kering dan
bersih, balutan luka bersih. Pukul 14.30 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N 110x/mnt, RR
30x/mnt. Pukul 14.30 memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil :
obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 17.00 melakukan perawatan luka
dengan menggunakan NaCl 0.9% dan Bethadin 10% serta kasa streril sesuai program, hasil :
luka tampak kering dan bersih, balutan luka bersih. Pukul 21.00 memberikan obat injeksi
cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat.
Pukul 06.00 memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil : obat
masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat.

Tanggal 22-1-2008
Pukul 08.00 mengukur TTV hasil : S 360C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 10.30
memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak
ada alergi terhadap obat. Pukul 12.00 mengganti dan merawat luka dengan menggunakan
NaCl 0.9% dan Bethadin 10% serta kasa streril sesuai program, hasil : luka tampak kering
dan bersih, balutan luka bersih. Pukul 14.00 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N 110x/mnt, RR
30x/mnt. Pukul 14.30 memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil :
obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 17.00 mengganti dan merawat luka
dengan menggunakan NaCl 0.9% dan Bethadin 10% serta kasa streril sesuai program, hasil :
luka tampak kering dan bersih, balutan luka bersih. Pukul 21.00 memberikan obat injeksi
cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat.
Pukul 06.00 memberikan obat injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai program, hasil : obat
masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat.

Tanggal 23-1-2008
Pukul 14.00 mengukur TTV hasil : S 360C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 17.00 mengganti
dan merawat luka dengan menggunakan NaCl 0.9% dan Bethadin 10% serta kasa streril
sesuai program, hasil : luka tampak kering dan bersih, balutan luka bersih Pukul 18.00
merubah posisi tidur klien menjadi semi fowler, hasil : posisi tidur anak dapat dirubah
menjadi semi fowler, anak tidak menangis. Pukul 21.00 mengukur TTV hasil : S 36 0C, N
110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 21.15 memberikan injeksi cefotaxim 300 mg/IV sesuai
program, hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat. Pukul 08.00 mengukur TTV
hasil : S 360C, N 110x/mnt, RR 30x/mnt. Pukul 13.00 memberikan injeksi cefotaxim 300
mg/IV sesuai program, hasil : obat masuk, klien tidak ada alergi terhadap obat
EVALUASI :
S :-
O : Daerah pemasangan shunt tidak merah, bengkak, panas dan sakit. Luka tampak kering, balutan
luka tampak kering dan bersih. TTV S 36,50C, N 110 x/mnt, RR 31 x/mnt.
A : tujuan tercapai, masalah teratasi
P : tindakan keperawatan dihentikan

BAB IV
PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN

Pada tahap pengkajian antara teori dan kasus terdapat kesenjangan diantaranya pada teori
ditemukan gejala muntah, strabismus, namun pada kasus tidak ditemukan karena pada saat di
lakukan pengkajian tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial sehingga anak
tidak mengalami mual, muntah serta strabismus.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Pada teori diagnosa yang ditemukan ada empat yaitu Perubahan perfusi jaringan b.d.
Meningkatnya volume cairan serebrospinalis, Risiko injury b.d Peningkatan tekanan ventrikel
sekunder terhadap pemasangan shunt, Risiko terjadi infeksi b.d. Masuknya mikroorganisme
sekunder terhadap tempat pemasangan shunt dan Perubahan persepsi sensori b.d. adanya
tindakan untuk mengurangi tekanan intra kranial, meningkatnya tekanan intra kranial.
Diagnosa yang ada pada teori namun tidak ada di kasus yaitu Perubahan persepsi sensori b.d.
adanya tindakan untuk mengurangi tekanan intra kranial, meningkatnya tekanan intra kranial
karena pada pengkajian tidak ditemukan adanya data-dat yang mendukung untuk diagnosa
tersebut.
C. INTERVENSI

Pada teori langkah-langkah perencanaan diantaranya meliputi prioritas masalah,


menetapkan tujuan dan kriteria hasil. Pada tahap ini ditemukan adanya kesenjangan antara
teori dan kasus diantaranya pada teori dalam pencapaian tujuan dan kriteria hasil tidak
menggunakan batasan waktu, sedangkan pada kasus penulis menggunakan batasan waktu
yaitu 3x24 jam. Selain itu pada penyususnan perencanan tindakan pada kasus di sesuaikan
dengan kondisi dan kebutuhan klien saat memberikan asuhak keperawatan.
D. PELAKSANAAN

Pada pelaksanaan tindakan dilakukan berdasarakan rencana yang telah di buat dan di
sesuaikan dengan kondisi klien sendiri. Semua tindakan dilaksanakan sesuai dengan respon
dari klien dan keluarga. Dalam mengatasi masalah keperawatan dalam melaksanakan
tindakan penulis tidak menemukan hambatan karena klien dan keluarga cukup kooperatif saat
akan dilakukan atau diberikan asuhan keperawatan.
E. EVALUASI
Dari ke tiga diagnosa yang ditemukan pada kasus semuanya teratasi, namun pada diagnosa
yang ke satu dan dua tindakan keperawatan kolaborasi pemberian obat injeksi Diamox 3x250
mg/IV sesuai program dan merawat luka pada pemasanagan shunt dilanjutkan karena klien
masih berisiko terjadi peningkatan CSS dan komplikasi pada pemasangan alat shunt. Pada
tahap evaluasi penulis mengalami hambatan khususnya pada evaluasi hasil karena pada
pendokumentasian yang dilakukan terhadap respon klien dari setiap tindakan belum
dilaksankan secara optimal di ruang perawatan. Untuk mengatasi penulis bekerjasama dengan
keluarga melalui cara bertanya tentang respon klien terhadap tindakan keperawatan yang
telah diberikan.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pada pengkajian data yang ditemukan sesuai dengan respon klien terhadap penyakitnya.
Hal ini memberikan pengalaman terhapa penulis bahwa respon klienterhadap penyakitnya
berbeda-beda tergantung pada parahnya penyakit, lamanya, usia atau maturasi serta daya
tahan tubuh klien sendiri. Selain itu ju kerjasama yang terjalin antara penulis dengan klien
dan keluarga merupakan faktor utama yang sangat membantu dalam melakukan pengkajian.
Pada diagnosa keperawatan yang ditemukan pada kasus disesuaikan dengan data yang
diperoleh saat pengkajian yang mengacu pada teori. Pada tahap ini penulis tidak mengalami
hambatan karena keluarga sangat kooperatif dan dapat menceritakan masalah yang
dirasakannya kepada penulis.
Perencanaan dibuat berdasarakan kondisi dan kebutuhan klien mulai dari penentuan
prioritas masalah, penetapan tujuan dan kriteria hasil, serta menyusun rencana tindakan
keperawatan secara sistematis. Pada penetapan tujuan dan kriteria hasil ditetapkan waktu
pencapaian tujuan sebagai dasar untuk melakukan evaluasi proses yaitu 3x24 jam.
Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dibuat dan semua tindakan yang
dilakuakan didokumentasikan pada catatan keperawatan meliputi waktu, tindakan dan respon
klien. Dalam mengatasi masalah keperawatan pada melaksanakan tindakan keperawatan
penulis tidak menemukan hambatan karena klien dan keluarga cukup kooperatif saat akan
dilakukan atau diberikan asuhan keperawatan.
Evaluasi dari ke tiga diagnosas keperawatan yang ditemukan pada kasus semuanya
teratasi namun pada diagnosa yang ke namun pada diagnosa yang ke satu dan dua tindakan
keperawatan kolaborasi pemberian obat injeksi Diamox 3x250 mg/IV sesuai program dan
merawat luka pada pemasanagan shunt dilanjutkan karena klien masih berisiko terjadi
peningkatan CSS dan komplikasi pada pemasangan alat shunt. Pada tahap ini terdapat adanya
hambatan yang disebabkan oleh pendokumentasian yang di lakukan terhadap respon klien
dari setiap tindakan keperawatan yang telah diberikanbelum dilaksanakan dengan optimal.
Faktor penunjang dalam evaluasi adalah teralinnya kerjasama antara keluarga dengan penulis
dimana keluarga dapat menyebutkan respon klien terhadap tindakan yang telah diberikan.
B. SARAN

Setelah penulis memberikan kesimpulan maka pada tahap ini penulis akan memberikan
saran kepada keluarga dan perawat ruangan diantranaya sebagai berikut :
Untuk keluarga diharapkan mempertahankan atau mungkin meningkatkan kerjasamanya
dengan perawat ruangan agar asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dapat
dilaksnakan secara optimal.
Untuk perawat ruangan diharapkan setiap setelah melakukan tindakan keperawatan dapat
mendokumentasikannya dedngan lengkap termasuk respon klien terhadap semua tindakan
yang telah diberikan agar mempermudah dalam melakukan evaluasi proses.
DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. (1999). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Suriadi, Rita Yuliani. (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi I. Jakarta : CV Sagung Seto

Wong, Donna L. (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. jakarta : EGC