You are on page 1of 17

MATA KULIAH FARMAKOGNOSI II

JURUSAN S1 FARMASI

UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR

PEMBUATAN SIMPLISIA OBAT TRADISIONAL DAN PENYIAPAN


SERBUK SIMPLISIA

OLEH :
KELOMPOK III
KELAS C/2017
NASARIAH AHMAD 17 3145 201 086
NINGRIANI ANTIONIA R. 17 3145 201 087
NUR FADLIANA 17 3145 201 088
PATRISIA YANISTA WAZA 17 3145 201 089
PUTRI CADALORA KOBSTAN 17 3145 201 090
SITTI HAPSAH 17 3145 201 091

FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA

UNIVERSITAS MEGAREZKY

MAKASSAR

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan untuk obat tradisional

dan belum mengalami perubahan proses apapun kecuali proses pengeringan

(Ratmi 2009). Simplisia telah lama dikenal masyarakat sebagai bahan dasar.

Obat tradisional yang bermanfaat untuk pengobatan saat penyakit tanpa

menimbulkan efek samping apapun. Agar dapat menfaat dengan oktimal

simplisia harus memenuhi syarat sebagai simplisia yang aman, berkhasiat dan

bermutuh baik. Simlisia yang aman dan berkhasiat adalah simplisia yang tidak

mengandung bahaya bagi kesehatan serta simplisia yang masih mengandunng

bahan aktif yang berkhasiat bagi kesehatan (Herawati dkk,. 2012). Jenis

simplisia sangat beragam, terutama simplisia jenis tumbuhan. Simplisia jenis

tumbuhan merupakan simplisia yang diambil dari bagian tumbuhan yang

dapat dimanfaatkan seperti daun, bunga,buah, biji, rimpang, batang dan akar.

Di Indonesia terdapat berbagai macam tanaman obat. Tanaman obat atau

yang biasa dikenal dengan obat herbal adalah sediaan obat baik berupa obat

tradisional, fitofarmaka, maupun farmasetika. Dapat berupa simplisia (bahan

segar atau yang dikeringkan), ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni

yang berasal dari alam.

Tanaman obat dapat memberikan nilai tambah apabila diolah lebih

lanjut menjadi berbagai jenis produk. Tanaman obat tersebut dapat diolah
menjadi berbagai macam produk, seperti simplisia (rajangan), serbuk, minyak

atsiri, ekstrak kental, ekstrak kering, kapsul maupun tablet.

Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagi bahan baku

obat yang belum mengalami pengolahan atau baru dirajang saja, tetapi sudah

dikeringkan. Permintaan bahan baku simplisia sebagai bahan baku obat-

obatan semakin meningkat dengan bertambahnya industri jamu. Selain itu,

juga dikarenakan efek samping penggunaan tanaman obat untuk mengobati

suatu penyakit lebih kecil dibandingkan obat sintetis.

Produk hasil tanaman obat tidak hanya sampai pada bentuk simplisia,

namun juga sampai pada bentuk ekstrak sebagai komoditi agrobisnis, melalui

industri ekstrak. Untuk memperoleh keajegan dari mutu ekstrak yang

diproduksi, maka setiap ekstrak harus dilakukan standarisasi.Tanaman

kangkung darat (Ipomoea reptans, Poir) adalah salah satu obat herbal yang

memiliki aktivitas antihiperglikemik. Untuk memperoleh senyawa aktif dari

tanaman kankung darat yang bermutu baik, maka perlu dilakukan standarisasi

ekstrak yang dihasilkan.


B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan simplisia ?

2. Bagaimana Pembuatan dan Penyiapan Serbuk Simplisia

3. Bagaimanakah tata nama simplisia ?

4. Bagaimana aturan penusisan simplisia ?

5. Bagaimana proses penyimpanan simplisia ?

6. Apakah definisi sediaaan gelanik dan hal-hal yang perlu diperhatikan

dalam simplisia

C. Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini, antara lain:

1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan simplisia?

2. Untuk mengetahui tata cara penamaan simplisia?

3. Untuk mengetahui aturan penulisan simplisia?

4. Untuk mengetahui proses penyimpanan simplisia?

5. Untuk mengetahui definisi sediaan gelanik dan hal-hal yang perlu

diperhatikan dalam simplisia?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Simplisia

Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum

mengalami perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya

berupa bahan yang telah dikeringkan.

Simplisia terbagi menjadi 3 golongan yaitu simplisia nabati, simplisia

hewani, dan simplisia mineral.

a. Simplisia nabati

Merupakan simplisia atau bahan yang berupa tanaman utuh, bisa bagian

tanaman, eksudat tanaman ataupun ketiganya. Eksudat sendiri mempunyai

definisi sebagai cairan yang secara spontan keluar dari tanaman atau secara

sengaja dikeluarkan dari selnya. Bagian bagian tanaman yang digunakan

bisa berbentuk daun, akar, batang, kulit batang, biji, buah dan bunga

b. Simplisia hewani

Merupakan simplisia atau bahan yang berasal dari hewan meliputi kulit,

daging ataupun tulang. Contoh pemanfaatan simplisia dari hewan adalah

pembuatan kapsul yang berasal dari tulang ikan lele.

c. Simplisia mineral

Merupakan simplisia atau bahan yang berasal dari alam selain hewan dan

tanaman. Contoh simplisia yang berasal dari mineral antara lain Paraffinum

liquidum, paraffinum solidum dan vaselin. Cara memperoleh simplisia


mineral biasanya melakukan teknik penyulingan sebagai contoh untuk

mendapatkan paraffinum solidum adalah dengan menyuling residu minyak

kasar hingga menjadi destilat dan diolah dengan bantuan asam sulfat dan

natrium hidroksida.

D. Pembuatan dan Penyiapan Serbuk Simplisia

1. Pembuatan Simplisia

Menurut Depkes (1985), pada umumnya pembuatan simplisia melalui

tahapan-tahapan sebagai berikut :

a. Pengumpulan bahan baku: Kualitas bahan baku simplisia sangat

dipengaruhi beberapa faktor, seperti : umur tumbuhan atau bagian

tumbuhan pada waktu panen, bagian tumbuhan, waktu panen dan

lingkungan tempat tumbuh.

b. Sortasi basah: Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-

kotoran atau bahan asing lainnya setelah dilakukan pencucian dan

perajangan.

c. Pencucian: Dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran

lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan

dengan air bersih.

d. Perajangan Beberapa jenis bahna simplisia tertentu ada yang

memerlukan proses perajangan. Perajangan bahan simplisia

dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan

dan penggilingan.
e. Pengeringan: Mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak,

sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan

mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan

dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.

f. Sortasi kering: Tujuannya untuk memisahkan benda-benda asing

seperti bagianbagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-

pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering.

g. Pengepakan

h. Penyimpanan dan pemeriksaan mutu

2. Penyiapan Serbuk Simplisia

Serbuk adalah sediaan obat tradisional berupa butiran homogen dengan

deraiat halus yang cocok; bahan bakunya berupa simplisia sediaan galenik,

atau campurannya (DepKes RI, 1994). Serbuk Simplisia adalah sediaan

Obat Tradisional berupa butiran homogen dengan derajat halus yang sesuai,

terbuat dari simplisia atau campuran dengan Ekstrak yang cara

penggunaannya diseduh dengan air panas (BPOM, 2014). Serbuk simplisia

dibuat dari simplisia utuh atau potongan-potongan halus simplisia yang

sudah dikeringkan melalui proses pembuatan serbuk dengan suatu alat tanpa

menyebabkan kerusakan atau kehilangan kandungan kimia yang dibutuhkan

dan diayak hingga diperoleh serbuk. Derajat kehalusan serbuk simplisia

untuk pembuatan ektrak merupakan simplisia halus dengan nomor pengayak


60 dengan lebar nominal lobang 0,105 mm, garis tengahnya 0,064, dan

ukurannya ukuran 250 µm (Depkes RI, 2008).

Menurut DepKes RI (1994), serbuk dari simplisia memiliki

beberapa persyaratan yaitu:

1. Kadar air. Tidak lebih dari 10 %.

2. Angka lempeng total. Tidak lebih dari 10

3. Angka kapang dan khamir. Tidak lebih dari 10

4. Mikroba patogen. Negatif.

5. Aflatoksin. Tidak lebih dari 30 bpj.

6. Serbuk dengan bahan baku simplisia dilarang ditambah bahan

pengawet.

E. Tata Nama Latin Tanaman

Nama Latin tanaman terdiri dari 2 kata, kata pertama disebut nama genus dan

perkataan kedua disebut petunjuk species , misalnya nama latin dari padi adalah

Oryza sativa, jadi Oryza adalah genusnya sedangkan sativa adalah petunjuk

speciesnya. Huruf pertama dari genus ditulis dengan huruf besar dan huruf

pertama dari petunjuk species ditulis dengan huruf kecil .Nama ilmiah lengkap

dari suatu tanaman terdiri dari nama latin diikuti dengan singkatan nama ahli

botani yang memberikan nama latin tersebut.

Beberapa contoh adalah sebagai berikut :

Nama ahli botani Disingkat sbg Nama tanaman lengkap

Linnaeus L Oryza sativa L


De Candolle DC Strophanthus hispidus

Miller Mill Foeniculum vulgare Mill

Houttuyn Houtt Myristica fragrans Houtt

Nama latin tanaman tidak boleh lebih dari 2 perkataan, jika lebih dari 2 kata (3

kata), 2 dari 3 kata tersebut harus digabungkan dengan tanda (-) .

Contoh : Dryopteris filix – mas

Hibiscus rosa – sinensis

Kadang- kadang terjadi penggunaan 1 nama latin terhadap 2 tanaman yang

berbeda, hal ini disebut homonim dan keadaan seperti ini terjadi sehingga ahli botani

lain keliru menggunakan nama latin yang bersangkutan terhadap tanaman lain yang

juga cocok dengan uraian morfologis tersebut.

F. Tata Nama Simplisia

Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama simplisia

nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau species nama tanaman, diikuti

nama bagian tanaman yang digunakan. Ketentuan ini tidak berlaku untuk simplisia

nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman dan untuk eksudat nabati.

Contoh :

1. Genus + nama bagian tanaman : Cinchonae Cortex, Digitalis Folium, Thymi

Herba, Zingiberis Rhizoma

2. Petunjuk species + nama bagian tanaman : Belladonnae Herba, Serpylli Herba,

Ipecacuanhae Radix, Stramonii

Herba
3. Genus + petunjuk species + nama bagian tanaman : Curcuma aeruginosae

Rhizoma, Capsici

frutescentis Fructus

E. Pengolahan Simplisia

1. Pengeringan

Hasil panen tanaman obat untuk dibuat simplisia umumnya perlu segera

dikeringkan. Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air, untuk

menjamin dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur, serta mencegah

terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat menurunkan mutu. Dalam

pengeringan faktor yang penting adalah suhu, kelembaban dan aliran udara

(ventilasi). Sumber suhu dapat berasal dari matahari atau dapat pula dari suhu

buatan.

Umumnya pengeringan bagian tanaman yang mengandung minyak atsiri atau

komponen lain yang termolabil, hendaknya dilakukan pada suhu tidak terlalu

tinggi dengan aliran udara berlengas rendah secara teratur. Untuk simplisia yang

mengandung alkaloida, umumnya dikeringkan pada suhu kurang dari 70 0 C.

Agar dalam pengeringan tidak terjadi proses pembusukan, hendaknya

simplisia jangan tertumpuk terlalu tebal. Sehingga proses penguapan berlangsung

dengan cepat. Sering suhu yang tidak terlalu tinggi dapat menyebabkan warna

simplisia menjadi lebih menarik. Misalnya pada pengeringan Temulawak suhu

awal pengeringan dengan panas buatan antara 50 0– 55 0 C.

2. Pengawetan
Simplisia nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga atau

cemaran atau mikroba dengan penambahan kloroform, CCl4, eter atau pemberian

bahan atau penggunaan cara yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang

membahayakan kesehatan.

3. Wadah

Wadah adalah tempat penyimpanan artikel dan dapat berhubungan langsung

atau tidak langsung dengan artikel. Wadah langsung (wadah primer) adalah wadah

yang langsung berhubungan dengan artikel sepanjang waktu. Sedangkan wadah

yang tidak bersentuhan langsung dengan artikel disebut wadah sekunder. Wadah

dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik

secara fisika maupun kimia, yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan, mutu

atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi.

4. Suhu penyimpanan

Dingin : adalah suhu tidak lebih dari 80C, Lemari pendingin mempunyai suhu

antara 20C– 80C, sedangkan lemari pembeku mempunyai suhu antara -200C dan -

100C.

Sejuk : adalah suhu antara 80C dan 150C. Kecuali dinyatakan lain, bahan

yang harus di simpan pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari pendingin.

Suhu kamar : adalah suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah

suhu yang di atur antara 150 dan 300.

Hangat : hangat adalah suhu antara 300 dan 400 .

Panas berlebih : panas berlebih adalah suhu di atas 400.


5. Tanda dan Penyimpanan

Semua simplisia yang termasuk daftar narkotika, diberi tanda palang medali

berwarna merah di atas putih dan harus disimpan dalam lemari terkunci. Semua

simplisia yang termasuk daftar obat keras kecuali yang termasuk daftar narkotika,

diberi tanda tengkorak dan harus disimpan dalam lemari terkunci.

6. Kemurnian Simplisia

Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia

yang diperdagangkan, tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu

pembuatan atau isolasi minyak atsiri, alkaloida, glikosida, atau zat aktif lain, tidak

harus memenuhi persyaratan tersebut.

Persyaratan yang membedakan strukrur mikroskopik serbuk yang berasal dari

simplisia nabati atau simplisia hewani dapat tercakup dalam masing – masing

monografi, sebagai petunjuk identitas, mutu atau kemurniannya.

7. Benda asing

Simplisia nabati dan simplisia hewani tidak boleh mengandung organisme

patogen, dan harus bebas dari cemaran mikro organisme , serangga dan binatang

lain maupun kotoran hewan. Simplisia tidak boleh menyimpang bau dan warna,

tidak boleh mengandung lendir, atau menunjukan adanya kerusakan. Sebelum

diserbukkan simplisia nabati harus dibebaskan dari pasir, debu, atau pengotoran

lain yang berasal dari tanah maupun benda anorganik asing. Dalam perdagangan,

jarang dijumpai simplisia nabati tanpa terikut atau tercampur bagian lain , maupun

bagian asing, yang biasanya tidak mempengaruhi simplisianya sendiri. Simplisia


tidak boleh mengandung bahan asing atau sisa yang beracun atau membahayakan

kesehatan. Bahan asing termasuk bagian lain tanaman yang tidak dinyatakan

F. Penyiapan simplisia

Dalam penyiapan atau pembuatan simplisia, tahapan yang perlu diperhatikan

adalah (a) bahan baku simplisia, (b) Pemanenan pada saat yang tepat (c) proses

pembuatan simplisia, dan (d) cara pengepakan/pengemasan simpilisa.

1. Bahan baku simplisia.

Dalam pembuatan simplisia, kualitas bahan baku simplisia merupakan

faktor yang penting yang perlu diperhatikan. Sumber bahan baku dapat

berupa tumbuhan, hewan, maupun mineral. Simplisia nabati yang idealdapat

ditinjau dari asal tumbuhan tersebut. Tumbuhan tersebut dapat berasal dari

tanaman budidaya maupun tumbuhan liar.

2. Tanaman budidaya

Tanaman ini sengaja dibudidaya untuk itu bibit tanaman harus dipilih

yang baik, ditinjau dari penampilan dan kandungan senyawa berkhasiat,

atau dengan kata lain berkualitas atau bermutu tinggi. Simplisia yang

berasal dari tanaman budidaya selain berkualitas, juga sama rata atau

homogeny sehingga dari waktu ke waktu akan dihasilkan simplisia yang

bermutu mendekati ajeg atau konsisten. Dari simplisia tersebut akan

dihasilkan produk obat tradisional yang “reproducible” atau ajeg khasiatnya.

Perlu diperhatikan pula bahwa tanaman budidaya dapat bervariasi

kualitasnya bila ditanam secara monokultur (tanaman tunggal) dibanding


dengan tanaman tumpangsari. Demikian juga terdapat faktor lain yang

berpengaruh terhadap penampilan dan kandungan kimia suatu tanaman,

antara lain tempat tumbuh, iklim, pemupukan, waktu panen, pengolahan

pasca panen dsb.

3. Tumbuhan liar.

Tumbuhan liar artinya tumbuhan tersebut tidak dibudidaya atau

tumbuh liar. Sebetulnya tumbuhan liar tersebut dapat dibudidayakan.

Namun hal ini jarang dilakukan oleh petani karena tradisi atau kebiasaan.

Agar bahan tumbuhan yang berasal dan tumbuhan liar ini mutunya dapat

dipertahankan, diperlukan pengawasan kualitas secara intern yang baik.

Apabila suatu bahan baku simplisia yang berasal dari tumbuhan liar ini

melangka, padahal permintaan pasar tinggi, maka sering kita jumpai adanya

pemalsuan. Dan pengalaman dapat kita lacak kemudian dicatat asal-usul

bahan tumbuhan yang berasal dari tumbuhan liar tersebut, kita periksa kadar

bahan berkhasiat, sehingga kita dapat memilih bahan simplisia serupa untuk

produk kita di masa mendatang.

4. Pemanenan pada saat yang tepat

Waktu pemanenan yang tepat akan menghasilkan simplisia yang

mengandung bahan berkhasiat yang optimal. Kandungan kimia dalam

tumbuhan tidak sama sepanjang waktu. Kandungan kimia akan mencapai

kadar optimum pada waktu tertentu. Di bawah ini akan diuraikan kapan

waktu yang tepat untuk memanen bagian tumbuhan.


Ketentuan saat pemanenan tumbuhan atau bagian tumbuhan adalah

sebagai benikut.

a. Biji (semen) dipanen pada saat buah sudah tua atau buah mengering,

misalnya biji kedawung.

b. Buah (fructus) dikumpulkan pada saat buah sudah masak atau sudah tua

tetapi belum masak, misalnya Iada (misalnya pada pemanenan lada,

kalau dilakukan pada saat buah sudah tua tetapi belum masak akan

dihasilkan lada hitam (Piperis nigri Fructus); tetapi kalau sudah masak

akan dihasilkan lada putih (Piperis aIbi Fructus).

c. Daun (folia) dikumpulkan pada saat tumbuhan menjelang berbunga atau

sedang berbunga tetapi belum berbuah.

5. Pembuatan simplisa

6. Cara pengemasan simplisia

Pengemasan adalah proses perlindungan produk dari gangguan faktor

luar yang dapat mempengaruhi masa simpan produk dengan menggunakan

media atau bahan tertentu. Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis

simplisia dan tujuan pengemasan.

Tujuannya utama pengemasan antara lain : menyimpan produk secara

aman agar terhindar dari pencemaran atau kotoran; melindungi produk

selama dalam perjalanan, saat pemasaran mepermudah pengangkutan atau

pemindahan produk dari satu tempat ke tempat yang lain.


Bahan kemasan yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai

berikut :

a. Mampu melindungi produk dari kerusakan mekanis;

b. Tidak mengandung bahan kimia yang menyebabkan perubahan

bahan isi, rasa, bau dan kadar air produk;

c. Tidak terlalu berat, praktis, ukuran maupun bentuk kemasan

menarik;

d. Mampu mencegah penyerapan air atau menghindari kelembaban

karena dapat menyebabkan peningkatan kadar air produk;

e. Mampu menahan pengaruh cahaya;

f. Memiliki daya lindung yang dapat diandalkan;

g. Harga terjangkau/ ekonomis.

G. Sediaan Gelenik

Sediaan gelenik adalah sediaan yang diperoleh dengan cara melakukan

penyaringan zat-zat yang bermanfaat bagi manusia, dari tumbuhan atau hewan

menggunakan cairan penyaringan yang sesui. Dalam Permenkes No. 246 /

Menkes / V / 1990, sediaan galanik didefenisikan sebagai hasil ekstrasi bahan

atau campuran bahan yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan atau hewan.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan untuk obat

tradisional dan belum mengalami perubahan proses apapun kecuali proses

pengeringan