You are on page 1of 64

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Pada dasarnya studi sebuah sistem kelistrikan pada sektor industri

diperlukan untuk mendukung operasional peralatan listrik yang prima dengan

tetap mengutamakan aspek ekonomis dan keamanan pelayanan sektor industri.

Analisis aliran daya merupakan salah satu metode pemecahan masalah pada suatu

sistem kelistrikan melalui perhitungan aliran daya pada saluran dan pemeriksaan

kapasitas dari seluruh peralatan yang terdapat pada sistem kelistrikan gedung

tersebut.

Seiiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidang

kelistrikan, terutama dalam hal analisis sistem tenaga listrik, dimana pada awalnya

tugas perhitungan dilakukan secara manual, namun saat ini pekerjaan tersebut

dapat dikerjakan melalui bantuan program aplikasi computer. Salah satunya

program yang dapat dijadikan dalam membantu dalam studi aliran daya listrik,

evaluasi maupun perancanagan sistem tenaga listrik adalah ETAP (Electrical

Transient and Analysis Program).

Sebelum melakukan simulasi aliran daya, diharuskan mengetahui secara

kesluruhan secara jelas konfigurasi sistem kelistrikan yang ingin ditinjau seperti

spesifikasi jaringan atau grid yang terhubung langsung ke sistem pembangkit,

komponen elektrikal utama seperti transformator, busbar, pemutus rangkaian,

saluran penghantar serta unit beban terpasang. Pada setiap elemen

38
direpresentasikan dengan menggunakan simbol yang telah terstandarisasi untuk

diagram satu garis (single line diagram). Elemen pada diagram satu garis tersebut

tidak mewakili ukuran fisik atau lokasi dari peralatan listrik, melainkan

merupakan konvensi umum untuk mengatur diagram dengan urutan kiri-ke-kanan,

yang sama , atas-ke-bawah, sebagai mewakili peralatan lainnya.

Arti dan aplikasi bus berayun (bus swing bus) bus pembangkit (generator

bus), bus P-V (P-V bus), bus P-Q (P-Q bus), bus beban (load bus), beban kVA

konstan (constant kVA load), beban impedans konstan (constant impedance load),

beban arus konstan (constant current load), dan sumber kompensasi reaktif

(reaktif compensation source). Manfaat utama dengan diketahuinya secara lebih

awal dari data dan parameter sistem yang ingin ditinjau adalah agar nantinya

output atau hasil yang didapatkan dari simulasi aliran daya ini dapat

direpresentasikan kondisi yang sebenarnya di lapangan.

4.1 Gambaran Umum PT. Showa Indonesia Manufacturing


4.1.1 Tinjauan Umum Sistem Kelistrikan Terpasang
Pada umumnya sistem distribusi dari suatu industri ini memiliki

karakteristik yang sama dengan gedung lain seperti perkantoran, rumah sakit dan

gedung lainnya. Akan tetapi aspek pembeda yang dimiliki sistem distribusi listrik

industri terutama dalam hal ukuran dan lebih kompleks sistem kelistrikan industri

harus memiliki tingkat kontinuitas agar dapat memenuhi kebutuhan pasokan

tenaga listrik pada durasi yang tidak menentu.

39
Penyedia utama sistem kelistrikan pada PT. Showa Indonesia Manufacturing

menggunakan perusahaan listrik swasta yang memang diperuntukan untuk

penyedia listrik kawasan industri cikarang yang bersumber dari PT. Cikarang

Listrindo. PT. SIM memiliki kontrak daya pada PT. Cikarang Listrindo sebesar

7.550.000 VA.

Gambar 4. 1 Konfigurasi sistem tenaga listrik PT. Showa Indonesia


Manufacturing secara umum.

a. Unit Transformator
Industri yang terggolong memiliki fasilitas yang lengkap dan penggunaan

beban-beban yang memiliki konsumsi daya yang besar, pada umumnya

merupakan pelanggan kelas tegangan menengah (TM) dan memiliki unit

transformator secara independen. Sistem kelistrikan PT. SIM didukung oleh 6 unit

40
transformator yang terdiri dari transformator 1 20/0.4 kV 2500 kVA,

transformator 2 20/0.4 kV 2500, transformator 3 20/0.4 kV 2500, transformator 4

20/0.4 kV 3000, transformator 5 20/0.4 kV 3000 dan transformator 6 20/0.4 kV

630 kVA.

Tabel 4. 1 Data spesifikasi transformator 1 step down 2500 kVA

Parameter Nilai
Frekuensi 50 Hz
Kapasitas 2500 KVA
 Primer : 20000
Nominal Tegangan
 Sekunder : 400
 Primer : 72,17
Nominal Arus
 Sekunder : 3608,44
Impedansi 7%
Tipe Pendinginan ONAN
Grup Vektor Dyn-5
Tahun 2012

Transformator memiliki 3 buah belitan yang memudahkan teknisi untuk

melakukan pengamatan khususnya terhadap faktor keseimbangan beban yang

dilakukan melalui pengukuran parameter arus yang melalui titik netral.

Transformator memiliki grup vector Dyn-5 yang berarti belitan primer terangkai

secara delta dan belitan sekunder terangkai secara bintang (Y), angka 5

menunjukan bahwa arus pada kumparan primer dengan kumparan sekunder

memiliki perbedaan sudut fasa sebesar 150 derajat. Perbedaan sudut sebesar 150

derajat diperoleh melalui perkalian jumlah bilangan pada grup vektor dengan

sudut acuan dari titik normal sebesar 30 derajat.

41
Tabel 4. 2 Data spesifikasi transformator 2 step down 2500 kVA

Parameter Nilai
Frekuensi 50 Hz
Kapasitas 2500 KVA
Nominal Tegangan  Primer : 20000
 Srkunder : 400
Nominal Arus  Primer : 72,17
 Sekunder : 3608,4
Impedansi 7%
Tipe Pendinginan ONAN
Grup Vektor Dyn-5
Tahun 1998

Tabel 4. 3 Data spesifikasi transformator 3 step down 2500 kVA

Parameter Nilai
Frekuensi 50 Hz
Kapasitas 2500 KVA
Nominal Tegangan  Primer : 20000
 Sekunder : 400
Nominal Arus  Primer : 72,17
 Sekunder : 3608,4
Impedansi 7%
Tipe Pendinginan ONAN
Grup Vektor Dyn-5
Tahun 2004

Tabel 4. 4 Data spesifikasi transformator 4 step down 3000 kVA

Parameter Nilai

Frekuensi 50 Hz
Kapasitas 3000 KVA
Nominal Tegangan  Primer : 20000
 Sekunder : 400
Nominal Arus  Primer : 86,60
 Sekunder : 4330,13
Impedansi 7,5 %

42
Parameter Nilai

Tipe Pendinginan ONAN


Grup Vektor Dyn-5
Tahun 2004

Tabel 4. 5 Data spesifikasi transformator 5 step down 3000 kVA

Parameter Nilai
Frekuensi 50 Hz
Kapasitas 3000 KVA
Nominal Tegangan  Primer : 20000
 Sekunder : 400
Nominal Arus  Primer : 86,60
 Sekunder : 4330,13
Impedansi 7,5 %
Tipe Pendinginan ONAN
Grup Vektor Dyn-5
Tahun 2014

Transformator 1, 2, 3 kapasitas bernilai sebesar 2500 kVA, transformator 4,

5 dengan kapasitas sebesar 3000 kVA dan Transformator 6 dengan kapasitas

sebesar 630 kVA. Pemilihan kapasitas pembebanan yang tinggi tentu akan

membawa pengaruh terhadap peningkatan kriteria isolasi dari inti tranformator.

Apabila transformator dibebani maka kumparan dan isolator, dalam hal ini

digunakan isolasi minyak, akan mengalami kenaikan suhu sesuai dengan kenaikan

beban atau sebesar I2R.

Isolasi yang terdiri dari kertas kraft serta minyak trafo memiliki batas panas

yang diijinkan sesui dengan kelas isolasi spesifikasi transformator. Apabila

kenaikan suhu yang terjadi dalam kumparan tersebut tidak segera diredam maka

isolasi akan mengalami kerusakan dan secara keseluruhan transformator tersebut

43
lambat laun akan mengalami kerusakan. Salah satu solusi untuk masalah ini yakni

dengan pemasangan sistem pendingin eksternal.

Tabel 4. 6 Data spesifikasi transformator 6 step down 630 kVA

Parameter Nilai
Frekuensi 50 Hz
Kapasitas 630 KVA
Nominal Tegangan  Pimer : 20000
 Skunder : 400
Nominal Arus  Pimer : 18,2
 Skunder : 910
Impedansi 4%
Tipe Pendinginan ONAN
Grup Vektor Dyn-5
Tahun 2004

Gambar 4. 2 Transformator 1 20/0.4 kV 2500kVA

44
Gambar 4. 3 Transformator 2 20/0.4 kV 2500kVA

Gambar 4. 4 Transformator 3 20/0.4 kV 2500kVA

45
Gambar 4. 5 Transformator 4 20/0.4 kV 3000kVA

Gambar 4. 6 Transformator 5 20/0.4 kV 3000kVA

46
Meskipun total pemakaian beban pada gedung utama saat ini belum

mencapai 50% dari total kapasitas masing-masing trafo utama, masih terdapat

kemungkinan dilakukannya pembebanan tambahan hingga mencapai nilai

pembebanan ideal transformator sebesar 80% dengan asumsi saat kondisi beban

tinggi.

Sistem pendingin yang diterapkan pada masing-masing transformator

termasuk pada tipe pendinginan ONAN (Oil Natural Air Natural) berbasis

ppenggunaan sirkulasi minyak dan sirkulasi udara secara alamiah, sirkulasi

minyak diperoleh melalui adanya perbedaan masa jenis antara minyak dingin dan

minyak yang panas akibat operasional transformator.

Transformator 4 dan 5 merupakan transformator step down rating tegangan

20/0.4 kV dengan kapasitas daya yang paling besar di sistem kelistrikan PT.

Showa Indonesia Manufacturing yakni sebesar 3000 kVA. Karena penggunaan

beban yang besar pada saluran transformator 4 dan 5 tersebut.

47
Gambar 4. 7 Transformator 6 20/0.4 kV 630 kVA
Transformator 6 ini merupakan trafo step down rating tegangan 20/0.4 kV
dengan kapasitas daya yang terkecil yakni dengan daya 630 kVA dengan .

b. Kapasitor Bank
Kapasitor Bank (capasitor bank) diperhitungkan dalam studi aliran daya

khususnya untuk perhitungan kVAR pada sistem kelistrikan karena di industri

secara umum beban yang sering digunakan adalah beban induktif, seperti motor

listrik, lampu TL, heater dsb. Dengan adanya beban induktif ini menyebabkan

nilai faktor daya yang rendah. Standar dari PLN adalah minimal 85%. PLN akan

membebankan biaya kelebihan pemakaain kVARh pada pelanggan, jika faktor

daya (cos phi) nya kurang dari 85%. maka dari itu digunakan kapasitor bank pada

bagian LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel) sistem kelistrikan PT.

Showa Indonesia Manufactring tersebut.

48
Tabel 4. 7 Data kapasitor bank yang terpasang di sistem kelistrika PT. Showa
Indonesia Manufacturing

Total
Lokasi Nilai (kVAR) Jumlah Step
(kVAR)

LVMDP 1 75 12 900

LVMDP 2 100 12 1200

LVMDP 3 100 12 1200

LVMDP 4 150 10 1500

LVMDP 5 150 12 1800

LVMDP 6 20 12 240

c. Saluran Penghantar
Pada penelitian ini digunakan asumsi sebagai dasar penenetuan untuk nilai

total faktor koreksi dari kabel yang digunakan. Perhitungan nilai total faktor

koreksi (F) pada persamaan 2.28 disesuaikan dengan keadaan riil di lapangan.

Misal, apabila kondisi lingkungan di sekitar lokasi instalasi telah sesui dengan

ketentuan yang telah dijelaskan pada bab 2.2.4, maka faktor koreksi mengenai hal

tersebut dapat diabaikan. Nilai faktor-faktor penyusun total koreksi bersumber

dari nilai yang terdapat pada tabel 2.5 hingga 2.6 beberapa asumsi yang digunakan

dalam penelitian ini antara lain:

1. Suhu keliling kabel penghantar terpasang diasumsikan memiliki nilai di atas

suhu keliling ideal sekitar kabel (dalam hal ini sebesar 30oC) yakni 30oC.

pemilihan nilai suhu ini didasari atas faktor kondisi tanah di wilayah PT.

Showa Indonesia Manufactuing. Nilai faktor koreksi suhu keliling yang

diterapkan pada simulasi aliran daya antara lain.

49
 Kabel berisolasi PVC tegangan pengenal 0.6/1 (1,2) kV =1

 Kabel berisolasi XLPE tegangan pengenal 12/20 (24) kV =1

2. Instalasi kebel bawah tanah diasumsikan memiliki jarak sebesar 7 cm antar

kabel untuk kabel berinti berisolasi PVC dengan NYY serta kabel inti

tunggal berisolasi XLPE dengan tipe N2SXY dan N2XSEBY. Nilai faktor

koreksi instalasi kable disesuaikan dengan jumlah kabel yang terpasang,

nilai dari 2 hingga 10 kabel. Apabila terdapat jenis dan jumlah kabel selain

yang telah disebutkan sebelum ini maka faktor koreksi instalasi kabel

diasumsikan 1.

Spesifikasi saluran penghantar utama oada sistem kelistrikan PT. Showa

Indonesia Manufacturing dapat dijelaskan pada tabel-tabel berikut.

Tabel 4. 8 Data saluran penghantar tahap 1 pada sistem kelistrikan PT. SIM

Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang


No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)
1 Cubicle – Trafo 1 N2XSY 1 3 70 289 10
Trafo 1 – LVMDP
2 NYY 1 8 300 707 20
1
LVMDP 1 – MDP
3 BUSBAR 1 4 10 x 100 2577 1.5
1.01
LVMDP 1 – MDP
4 BUSBAR 1 4 10 x 100 2577 2.2
1.04
LVMDP 1 – MDP
5 BUSBAR 1 4 10 x 100 2577 2.9
1.07
LVMDP 1 – MDP
6 BUSBAR 1 4 10 x 100 2577 3.6
1.12
LVMDP 1 – MDP
7 BUSBAR 1 4 10 x 100 2577 4.3
1.13
CAPASITOR 1 –
8 NYY 1 3 300 707 5
LVMDP 1
MDP 1.01 – SDP
9 NYY 1 1 185 511 7
1.01
MDP 1.01 – SDP
10 NYY 1 1 185 511 8
1.02

50
Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang
No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)
MDP 1.04 – SDP
11 NYY 1 2 185 511 54.6
1.04
MDP 1.07 – SDP
12 NYY 1 1 185 511 235.8
1.07
MDP 1.07 – SDP
13 NYY 1 1 185 511 240
1.08
MDP 1.07 – SDP
14 NYY 1 1 185 511 122.3
1.09
MDP 1.12 – SDP
15 NYY 1 1 185 511 271.7
1.12
MDP 1.13 – SDP
16 NYY 1 2 240 612 197.6
1.13

Tabel 4. 9 Data saluran penghantar tahap 2 pada sistem kelistrikan PT. SIM

Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang


No Lokasi Jenis 2
Inti konduktor (mm ) (A) (m)
1 Cubicle – Trafo 2 N2XSY 1 3 70 289 20
TRAFO 2 –
2 NYY 1 8 300 707 10
LVMDP 2
LVMDP 2 – MDP
3 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 1.5
2.01
LVMDP 2 – MDP
4 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 2.2
2.02
LVMDP 2 – MDP
5 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 2.9
2.03
LVMDP 2 – MDP
6 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 3.6
2.04
LVMDP 2 – MDP
7 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 4.3
2.05
LVMDP 2 – MDP
8 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 5
2.06
LVMDP 2 – MDP
9 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 5.7
2.07
CAPASITOR 2 –
10 NYY 1 3 300 707 6.4
LVMDP 2
MDP 2.02 – SDP
11 NYY 1 2 300 707 193.7
2.02
MDP 2.03 – SDP
12 NYY 1 2 300 707 195
2.03
MDP 2.04 – SDP
13 NYY 1 1 300 707 121.6
2.04A

51
Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang
No Lokasi Jenis 2
Inti konduktor (mm ) (A) (m)
MDP 2.04 – SDP
14 NYY 1 2 300 707 126.6
2.04B
MDP 2.06 – SDP
15 NYY 1 2 300 707 157.3
2.06
MDP 2.07 – SDP
16 NYY 1 3 300 707 199
2.07

Tabel 4. 10 Data saluran penghantar tahap 3 pada sistem kelistrikan PT. SIM

Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang


No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)

1 Cubicle – Trafo 3 N2XSY 1 3 70 289 40

2 TRAFO 3 – LVMDP 3 NYY 1 8 300 707 11

3 LVMDP 3 – MDP 3.01 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 1.5

4 LVMDP 3 – MDP 3.02 BUSBAR 1 3 10 x 100 2755 2.2

5 LVMDP 3 – MDP 3.03 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 2.9

6 LVMDP 3 – MDP 3.04 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 3.6

7 LVMDP 3 – MDP 3.05 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 4.3

8 LVMDP 3 – MDP 3.06 BUSBAR 1 3 10 x 100 2577 5


CAPASITOR 3 – LVMDP
9 NYY 1 3 300 707 5.7
3
10 MDP 3.01 – SDP 3.01A NYY 1 2 300 707 204.1

11 MDP 3.01 – SDP 3.01B NYY 1 2 300 707 280.9

12 MDP 3.02 – SDP 3.02 NYY 1 1 185 511 24.4

13 MDP 3.03 – SDP 3.03A NYY 1 2 300 707 83.59

14 MDP 3.03 – SDP 3.03B NYY 1 1 300 707 119.6

15 MDP 3.03 – SDP 3.03C NYY 1 1 300 707 176.8

16 MDP 3.03 – SDP 3.03D NYY 1 1 185 511 180

17 MDP 3.04 – SDP 3.04A NYY 1 2 240 612 252

18 MDP 3.04 – SDP 3.04B NYY 1 3 240 612 170

52
Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang
No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)

19 MDP 3.06 – SDP 3.06A NYY 1 1 185 511 187

20 MDP 3.06 – SDP 3.06B NYY 1 1 300 707 191


MDP 3.03 – MDP 3.03
21 NYY 1 3 300 707 89
JUNCTION

Tabel 4. 11 Data saluran penghantar tahap 4 pada sistem kelistrikan PT. SIM

Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang


No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)
Cubicle – Subcubicle
1 N2XSEBY 3 1 70 236 241
4
Subcubicle 4 – Trafo
2 N2XSY 1 3 70 289 10
4
TRAFO 4 – LVMDP
3 NYY 1 5 400 859 8
4
LVMDP 4 – MDP
4 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 1.5
4.01
LVMDP 4 – MDP
5 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 2.2
4.02
LVMDP 4 – MDP
6 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 2.9
4.03
LVMDP 4 – MDP
7 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 3.6
4.04
LVMDP 4 – MDP
8 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 4.3
4.05
LVMDP 4 – MDP
9 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 5
4.06
CAPASITOR 4 –
10 NYY 1 3 300 707 5.7
LVMDP 4
11 MDP 4.01 – SDP 4.01 NYY 1 4 300 707 7
MDP 4.01 – SDP
12 NYY 1 1 300 707 18
4.01A
MDP 4.02 – SDP
13 NYY 1 - 300 707 157
4.02A
MDP 4.02 – SDP
14 NYY 1 1 300 707 125
4.02B
MDP 4.02 – SDP
15 NYY 1 1 185 511 137
4.02C

53
Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang
No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)
MDP 4.02 – SDP
16 NYY 1 3 300 707 208
4.02D
17 MDP 4.03 – SDP 4.03 NYY 1 1 240 612 71,5
MDP 4.03 – SDP
18 NYY 1 1 240 612 9
4.03A
MDP 4.03 – SDP
19 NYY 1 1 185 511 14
4.03B
MDP 4.03 – SDP
20 NYY 4 1 25 140 2
4.03C
21 MDP 4.05 – SDP 4.05 NYY 1 3 300 707 180
MDP 4.03 – MDP
22 NYY 1 1 300 707 180
4.03 JUNCTION

Tabel 4. 12 Data saluran penghantar tahap 5 pada sistem kelistrikan PT. SIM

Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang


No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)

Cubicle –
1 N2XSEBY 3 1 70 236 226
Subcubicle 5
Subcubicle 5 –
2 N2XSY 1 3 70 289 10
Trafo 5
TRAFO 5 –
3 NYY 1 5 400 859 10
LVMDP 5
LVMDP 5 –
4 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 1.5
MDP 5.01
LVMDP 5 –
5 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 2.2
MDP 5.02
LVMDP 5 –
6 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 2.9
MDP 5.03
LVMDP 5 –
7 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 3.6
MDP 5.04
LVMDP 5 –
8 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 4.3
MDP 5.05
LVMDP 5 –
9 BUSBAR 1 3 10 x 150 3436 5
MDP 5.06
CAPASITOR 5 –
10 NYY 1 3 300 707 5.7
LVMDP 5

54
Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang
No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)

MDP 5.01 – SDP


11 NYY 1 3 300 707 50
5.01
MDP 5.02 – SDP
12 NYY 1 3 300 707 60
5.02
MDP 5.03 – SDP
13 NYY 1 3 300 707 80
5.03
MDP 5.04 – SDP
14 NYY 1 3 300 707 70
5.04
MDP 5.05 – SDP
15 NYY 1 6 300 707 90
5.05A
MDP 5.05 – SDP
16 NYY 1 3 300 707 130
5.05B
MDP 5.06 – SDP
17 NYY 1 3 300 707 20
5.06

Tabel 4. 13 Data saluran penghantar tahap 6 pada sistem kelistrikan PT. SIM

Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang


No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)

1
Cubicle – N2XSEBY 3 1 70 236 105
Subcubicle 6
Subcubicle 6 –
2 N2XSY 1 3 70 289 10
Trafo 6
TRAFO 6 –
3 NYY 1 2 300 707 10
LVMDP 6
LVMDP 6 – MDP
4 NYY 1 4 35 174 1.5
6.01
LVMDP 6 – MDP
5 NYY 1 2 150 442 2.2
6.02
LVMDP 6 – MDP
6 NYY 1 2 150 442 2.9
6.03
LVMDP 6 – MDP
7 NYY 1 2 150 442 3.6
6.05

55
Jumlah Jumlah Penampang KHA Panjang
No Lokasi Jenis
Inti konduktor (mm2) (A) (m)

LVMDP 6 – MDP
8 NYY 1 2 150 442 4.3
6.06
LVMDP 6 – MDP
9 NYY 1 2 150 442 5
6.07
CAPASITOR 6 –
10 NYY 1 1 300 707 5.7
LVMDP 6
MDP 6.01 – SDP
11 NYY 1 4 35 174 1
6.01
MDP 6.02 – SDP
12 NYY 1 2 150 442 1
6.02
MDP 6.03 – SDP
13 NYY 1 4 35 174 20
6.03A
MDP 6.05 – SDP
14 NYY 1 4 120 386 50
6.05
MDP 6.07 – SDP
15 NYY 1 2 240 612 60
6.07

56
d. Unit Beban
Rekap data unit beban yang terdapat pada sistem kelistrikan PT. Showa

Indonesia manufacturing disertakan pada tabel 4.14.

Tabel 4. 14 Data beban pada sistem kelistrikan PT. SIM

Grup Faktor Arus P total Q total S total


SDP
Beban Daya (A) (kW) (kVAR) (kVA)
SDP 1.01 0.84 43.40 24.44 15.79 29.09
SDP 1.02 0.72 33.60 16.20 15.61 22.54
SDP 1.04 0.71 663.59 308.93 302.70 433.59
SDP 1.07 0.65 103.20 44.53 52.06 68.46
MDP 1
SDP 1.08 0.65 149.60 64.55 75.46 99.29
SDP 1.09 0.67 180.40 147.00 163.00 118.54
SDP 1.12 0.71 205.70 93.01 92.25 131.46
SDP 1.13 0.73 326.10 160.00 150.00 218.97
Total 1705.59 858.65 866.87 1121.95
SDP 2.02 0.82 328.00 178.00 124.00 216.56
SDP 2.03 0.73 416.40 203.00 190.00 278.39
SDP 2.04A 0.71 323.00 174.00 123.00 213.15
MDP 2
SDP 2.04B 0.67 464.00 206.00 228.00 307.23
SDP 2.06 0.80 73.32 39.60 29.70 49.53
SDP 2.07 0.80 32.15 17.36 13.02 21.72
Total 1636.87 817.96 707.72 1086.57
SDP 3.01A 0.79 183.32 98.12 59.88 123.02
SDP 3.01B 0.63 257.00 107.00 132 169.95
SDP 3.02 0.88 101.38 57.83 31.12 65.77
SDP 3.03A 0.87 272.53 152.94 86.52 175.93
SDP 3.03B 0.53 377.00 125.02 117.86 234.74
MDP 3 SDP 3.03C 0.90 291.90 168.78 79.92 186.95
SDP 3.03D 0.97 31.20 13.80 3.63 14.52
SDP 3.04A 0.91 437.58 246.28 112.00 270.75
SDP 3.04 0.89 282.27 157.66 79.13 176.47
SDP 3.06A 0.90 291.90 168.78 79.92 186.95
SDP 3.06B 0.97 31.20 13.80 3.63 14.52
Total 2557.29 1310.02 593.71 1619.57

57
Tabel 4. 15.Data beban pada sistem kelistrikan PT. SIM (lanjutan tabel 4.14)

Faktor
Grup SDP Arus P total Q total S total
Daya
Beban
(A) (kW) (kVAR) (kVA)
SDP 4.01 0.64 369.20 158.00 190.00 247.47
SDP 4.01A 0.9 30.74 19.17 9.284 21.34
SDP 4.02A 0.74 350.10 169.00 153.00 227.57
SDP 4.02B 0.73 377.48 172.26 152.97 234.24
SDP 4.02C 0.72 66.79 32.61 23.99 45.06
MDP 4 SDP 4.02D 0.65 579.59 239.45 270.60 368.29
SDP 4.03 0.91 160.27 92.06 41.66 101.41
SDP 4.03A 0.75 34.66 17.01 13.36 22.19
SDP 4.03B 0.76 18.66 9.17 7.42 11.91
SDP 4.03C -0.78 10.95 5.46 0.00 7.01
SDP 4.05 0.50 557.20 69.44 392.10 362.50
Total 1805.587 637.463 902.102 1649.013
SDP 5.01 0.68 680.57 295.80 313.06 436.14
SDP 5.02 0.64 552.61 228.10 264.73 355.78
SDP 5.04 0.52 77.07 26.03 40.99 49.89
MDP 5
SDP 5.05A 0.92 59.72 35.02 14.76 38.16
SDP 5.05B 0.68 797.58 343.58 368.69 504.82
SDP 5.06 0.65 552.97 235.42 269.17 360.69
Total 2720.53 1163.95 1271.41 1745.48
SDP 6.01 0.79 1.17 0.64 0.30 0.79
SDP 6.02 0.9 21.50 11.10 9.49 14.60
MDP 6 SDP 6.03A 0.65 31.50 13.46 15.73 20.73
SDP 6.05 0.61 44.94 18.32 23.26 30.11
SDP 6.07 0.88 9.65 5.72 2.58 6.47
Total 119.44 54.09 57.14 80.12

Pada tabel 4.14 terlihat grup beban MDP 1 dengan nilai sebesar 1121.95

kVA, SDP 1.04 memiliki nilai yang terbesar yakni sebesar 433.59 kVA atau

36,64% dari total kVA di Grup MDP 1.

58
Pada grup beban MDP 2 dengan nilai sebesar 1086.57 kVA, SDP 2.04B

memiliki nilai yang terbesar yakni sebesar 307.23 kVA atau 28,27% dari total

kVA di Grup MDP 2.

Pada grup beban MDP 3 dengan nilai sebesar 1619.57 kVA, SDP 3.04A

memiliki nilai yang terbesar yakni sebesar 270.75 kVA atau 16,71% dari total

kVA di Grup MDP 3.

Pada grup beban MDP 4 dengan nilai sebesar 1634.45 kVA, SDP 4.02D

memiliki nilai yang terbesar yakni sebesar 368.29 kVA atau 22,53% dari total

kVA di Grup MDP 4.

Pada grup beban MDP 5 dengan nilai sebesar 1745.48 kVA, SDP 5.05B

memiliki nilai yang terbesar yakni sebesar 504.82 kVA atau 28.92% dari total

kVA di Grup MDP 5. Grup beban ini merupakan yang terbesar di sistem

kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing.

Pada grup beban MDP 6 dengan nilai sebesar 80.12 kVA, SDP 6.05

memiliki nilai yang terbesar yakni sebesar 20.73 kVA atau 25.87,75% dari total

kVA di Grup MDP 6. Grup beban ini merupakan yang terkecil di sistem

kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing.

59
4.2 Analisis Hasil Simulasi
Simulasi aliran daya ini meninjau secara keseluruhan sistem

kelistrikan sesuai dengan rill di lapangan., berdasarkan operasi normal dari

beban-beban listrik yang digunakan. Nilai pembebanan yang terdapat dalam

simulasi ini mengacu pada data pembebanan hasil pengukuran seperti yang

tertera pada tabel 4.14 dan tabel 4.15.

4.2.1 Pembebanan Transformator


Hasil simulasi aliran daya menggunakan perangkat bantuan software

ETAP (Electrical Transient and Analysis Program) versi 12.6.0

menunjukan nilai pembebanan saluran maupun sistem bus, ketentuan batas

pembebanan ideal untuk tipe transformator distribusi pengaturam tegangan

yakni senilai 50% hingga 60% dari kapasitas maksimum (SPLN No.50

Tahun 1997). Presentase pembebanan sebesar 60% ini didasari karena faktor

efisiensi maksimum dari transformator distribusi baru dapat dicapai ketika

pembebanan mencapai nilai presentasi tersebut. Efisiensi transformator akan

menurun apabila pembebanan telah melebihi 60% dari kapasitas unit

transformator tersebut.

Transformator yang dibebani hingga melebihi 100% dari kapasitas

pembebanannya tergolong dalam kategori yang berbahaya. Analisis

mengenai kelayakannya operasional dari unit transformator terpasang di

sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing dapat dilakukan

dengan cara membandingkan data pembebanan terhitung berapa persen

dengan kapasitas transformator tersebut.

60
Tabel 4. 16 Data Perbandingan Pembebanan dengan kapasitas Transformator
Batas
Unit Nilai Kapasitas Beban pembebanan
Trafo (kV) (kVA) Ideal
kVA % (kVA)
Trafo 1 20/0.4 2500 960 38.4 1500
Trafo 2 20/0.4 2500 860 34.4 1500
Trafo 3 20/0.4 2500 1442 57.7 1500
Trafo 4 20/0.4 3000 1293 43.1 1800
Trafo 5 20/0.4 3000 1621 54 1800
Trafo 6 20/0.4 630 60.48 9.6 378

Pembebanan Unit Transformator


3500
3000
Total Daya (kVA)

2500
Kapasitas Trafo
2000
1500 Beban
1000
Batas Pembebanan Ideal
500
Transformator
0
Trafo 1 Trafo 2 Trafo 3 Trafo 4 Trafo 5 Trafo 6
Unit Transformator

Gambar 4. 8 Grafik perbandingan kapasitas dan pembebanan transformator

Pada transformator 1 dengan kapasitas daya maksimal sebesar 2500

kVA dengan nilai pembebanan sebesar 960 kVA atau 38.4% dari kapasitas

maksimal transformator. Nilai ini masih tingkat aman dalam tingkat

transformator distribusi dikarenakan masih memiliki alokasi 540 kVA atau

21.6% sebelum mencapai tingkat batas pembebanan ideal 1500 kVA dan

61
61.6% sebelum mencapai batas maksimal kapasitas dari transformator 2500

kVA.

Pada transformator 2 dengan kapasitas daya maksimal sebesar 2500

kVA dengan nilai pembebanan sebesar 860 kVA atau 34.4% dari kapasitas

maksimal transformator. Nilai ini masih tingkat aman dalam tingkat

transformator distribusi dikarenakan masih memiliki alokasi 640 kVA atau

25.6% sebelum mencapai tingkat batas pembebanan ideal 1500 kVA dan

65.6% sebelum mencapai batas maksimal kapasitas dari transformator 2500

kVA.

Terlihat pada tabel 4.16 persentase pembebanan tertinggi terdapat

pada transformator 3 dengan kapasitas daya transformator 3000 kVA dengan

nilai pembebanan yaitu sebesar 1442 kVA atau 57.7% dari kapasitas

maksimal transformator. Nilai pembebanan ini hampir mendekati tingkat

pembebanan ideal unit transformator distribusi dikarenakan memliki alokasi

sebesar 58 kVA atau 2.3% sebelum mencapai tingkat pembebanan ideal

dan transformator ini dapat dikategorikan pada tingkat pembebanan

transformator masih aman karena masih 42.3% dari nilai kapasitas maksimal

transformator sebesar 2500 kVA.

Pada transformator 4 dengan kapasitas daya maksimal sebesar 3000

kVA dengan nilai pembebanan sebesar 1293 kVA atau 43.1% dari kapasitas

maksimal transformator. Nilai ini masih tingkat aman dalam tingkat

transformator distribusi dikarenakan masih memiliki alokasi 507 kVA atau

16.9% sebelum mencapai tingkat batas pembebanan ideal 1800 kVA dan

62
56.9% sebelum mencapai batas maksimal kapasitas dari transformator 3000

kVA.

Pada transformator 5 dengan kapasitas daya maksimal sebesar 3000

kVA dengan nilai pembebanan sebesar 1621 kVA atau 54% dari kapasitas

maksimal transformator. Nilai ini masih tingkat aman dalam tingkat

transformator distribusi dikarenakan masih memiliki alokasi 179 kVA atau

6% sebelum mencapai tingkat batas pembebanan ideal 1800 kVA dan 46%

sebelum mencapai batas maksimal kapasitas dari transformator 3000 kVA.

Sedangkan presentase yang terendah terdapat pada transformator 6

dengan kapasitas daya maksimal sebesar 630 kVA dengan nilai pembebanan

sebesar 60.48 kVA atau 9.6% dari kapasitas maksimal transformator. Nilai

ini masih tingkat aman dalam tingkat transformator distribusi dikarenakan

masih memiliki alokasi 317.51 kVA atau 50.4% sebelum mencapai tingkat

batas pembebanan ideal 378 kVA dan 90.4% sebelum mencapai batas

maksimal kapasitas dari transformator 630 kVA.

Dari hasil simulasi ini pada pembebanan transformator dari mulai

tranformator 1 sampai dengan transformator 6 masih dapat dikategorikan

ideal dan aman. Terdapat juga yang pembebanannya sangat kecil yakni pada

transformator 6 yang pembebanannya 60.48 kVA atau 9.6% dari batas

kapasitas maksimal 630 kVA.

63
Tabel 4. 17 Data pembebanan dan rata-rata transformator

Unit Nilai Kapasitas Beban


Trafo (kV) (kVA)
kVA %
Trafo 1 20/0.4 2500 960 38.4
Trafo 2 20/0.4 2500 860 34.4
Trafo 3 20/0.4 2500 1442 57.7
Trafo 4 20/0.4 3000 1293 43.1
Trafo 5 20/0.4 3000 1621 54
Trafo 6 20/0.4 630 60.48 9.6
Rata-rata 39.5

Dari tabel 4.17 terlihat bawah nilai keseluruhan pembebanan rata-rata dari

keseluruhan transformator pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia

Manufacturing sebesar 39.5%.

Pada transformator 1 hasil simulasi terlihat nilai pembebanan sebesar 38.4%

dari total kapasitas transformator sebesar 2500 kVA, nilai presentase tersebut

lebih kecil dari total keseluruhan rata-rata pembebanan pada transformator yakni

sebesar 39.5%.

Pada transformator 2 hasil simulasi terlihat nilai pembebanan sebesar 34.4%

dari total kapasitas transformator sebesar 2500 kVA, nilai presentase tersebut

lebih kecil dari total keseluruhan rata-rata pembebanan pada transformator yakni

sebesar 39.5%.

Pada transformator 3 hasil simulasi terlihat nilai pembebanan sebesar 57.7%

dari total kapasitas transformator sebesar 2500 kVA, nilai presentase tersebut

lebih besar dari total keseluruhan rata-rata pembebanan pada tranformator yakni

sebesar 39.5%.

64
Pada transformator 4 hasil simulasi terlihat nilai pembebanan sebesar 43.1%

dari total kapasitas transformator sebesar 3000 kVA, nilai presentase tersebut

lebih besar dari total keseluruhan rata-rata pembebanan pada transformator yakni

sebesar 39.5%.

Pada transformator 5 hasil simulasi terlihat nilai pembebanan sebesar 54%

dari total kapasitas transformator sebesar 3000 kVA, nilai presentase tersebut

lebih besar dari total keseluruhan rata-rata pembebanan pada transformator yakni

sebesar 39.5%.

Pada transformator 2 hasil simulasi terlihat nilai pembebanan sebesar 9.6%

dari total kapasitas transformator sebesar 2500 kVA, nilai presentase tersebut

lebih kecil dari total keseluruhan rata-rata pembebanan pada transformator yakni

sebesar 39.5%.
Perbandingan Persentase Pembebanan
100.0 Transformator rata-rata
Persentase Pembebanan (%)

90.0
80.0
70.0
Pembebanan
60.0
Transformator
50.0
40.0
30.0 34.4 43.1 Total rata-rata
38.4 57.7 54.0
20.0 pembebanan
10.0 9.6 trafo
0.0
Trafo 1 Trafo 2 Trafo 3 Trafo 4 Trafo 5 Trafo 6
Unit Transformator
Gambar 4. 9 Grafik perbandingan persentase pembebanan transformator rata-rata

65
Tabel 4. 18 Data Perbandingan Pembebanan dan efisiensi transformator

Unit Nilai Kapasitas Beban (input) Beban (output) Efisiensi


Trafo (kV) (kVA) (%)
kVA % kVA %
Trafo 1 20/0.4 2500 960 38.40 946 37.84 98.54
Trafo 2 20/0.4 2500 860 34.40 851 34.04 98.95
Trafo 3 20/0.4 2500 1442 57.68 1411 56.44 97.85
Trafo 4 20/0.4 3000 1293 43.10 1266 42.20 97.91
Trafo 5 20/0.4 3000 1621 54.03 1586 52.87 97.84
Trafo 6 20/0.4 630 60.48 9.60 60.33 9.58 99.76

Melalui data yang ditunjukan pada tabel 4.18 terlihat nilai efisiensi dari

unit transformator yang didapat melalui perbandingan daya keluaran (output)

dengan daya masukan (input) transformator. Faktor rugi-rugi daya yang terdiri

dari rugi tembaga dan rugi inti cukup berpengaruh bagi penentuan nilai efisiensi

transformator.

Terlihat juga pada tabel 4.18 Pada transformator 1 dengan kapasitas

maksimal 2500 kVA dengan pembebanan input 960 kVA atau sebesar 38.40%

dan pembebanan output sebesar 946 kVA atau sebesar 37.84% dari kapasitas dari

batas maksimal pembebanan. Dari hasil tersebut didapat nilai efisiensi dari unit

transformator 1 ini sebesar 98.54%.

Pada transformator 2 dengan kapasitas maksimal 2500 kVA dengan

pembebanan input 860 kVA atau sebesar 34.40% dan pembebanan output sebesar

851 kVA atau sebesar 34.04% dari kapasitas dari batas maksimal pembebanan.

Dari hasil tersebut didapat nilai efisiensi dari unit transformator 2 ini sebesar

98.95%.

Pada transformator 3 dengan kapasitas maksimal 2500 kVA dengan

pembebanan input 1442 kVA atau sebesar 57.68% dan pembebanan output

66
sebesar 1411 kVA atau sebesar 56.44% dari kapasitas dari batas maksimal

pembebanan. Dari hasil tersebut didapat nilai efisiensi dari unit transformator 3 ini

sebesar 97.85%.

Pada transformator 4 dengan kapasitas maksimal 3000 kVA dengan

pembebanan input 1293 kVA atau sebesar 43.13% dan pembebanan output

sebesar 1266 kVA atau sebesar 42.2% dari kapasitas dari batas maksimal

pembebanan. Dari hasil tersebut didapat nilai efisiensi dari unit transformator 4 ini

sebesar 97.91%.

Pada transformator 5 dengan kapasitas maksimal 3000 kVA dengan

pembebanan input 1621 kVA atau sebesar 54.03% dan pembebanan output

sebesar 1586 kVA atau sebesar 52.87% dari kapasitas dari batas maksimal

pembebanan. Dari hasil tersebut didapat nilai efisiensi dari unit transformator 5 ini

sebesar 97.84%.

Pada transformator 6 dengan kapasitas maksimal 630 kVA dengan

pembebanan input 60.48 kVA atau sebesar 9.60% dan pembebanan output

sebesar 60.33 kVA atau sebesar 9.6% dari kapasitas dari batas maksimal

pembebanan. Dari hasil tersebut didapat nilai efisiensi dari unit transformator 6 ini

sebesar 99.76%.

67
Pembebanan dan Efisiensi Transformator
100.00
90.00
80.00
70.00
Persentase (%)

60.00
50.00 Beban (input)
40.00 Beban (output)
30.00 Efisiensi Transformator
20.00
10.00
0.00
Trafo 1 Trafo 2 Trafo 3 Trafo 4 Trafo 5 Trafo 6
Unit Transformator

Gambar 4. 10 Grafik persentase nilai pembebanan dan efisiensi transformator

Terlihat bahwa efisiensi transformator tertinggi yakni sebesar 99.76%

dicapai pada transformator 6 dengan nilai pembebanan yang relative rendah yakni

60.48 kVA atau 9.6% pada sisi input dan pada sisi output 60.33 kVA atau 9.58%

dari kapasitas pembebanan maksimal. Sisa kapasitas daya menuju ke batas

maksimal sebesar 569.52 kVA atau 90.4% Ini masih sangat jauh menuju ke batas

maksimal pembebanan dari transfrmator 6.

Dan berdasarkan data pada tabel 4.16 tersebut didapat bahwa transformator

dengan nilai efisiensi terendah adalah transformator 5 yakni sebesar 97.84%.

4.2.2 Pembebanan Saluran Penghantar


Load atau pembebanan saluran merupakan presentase nilai total arus yang

mengalir di penghantar saluran terhadap nilai total ampasitas (current carrying

capacity) penghantar tersebut. Nilai ampasitas kabel didasari antara lain atas

68
adanya ketidakcocokan (mismatch) medium ataupun kondisi lingkungan sekitar

kabel sehingga perlu dilakukan koreksi terhadap nilai Kemampuan Hantar Arus

(KHA) kabel tersebut.

Tabel 4. 19 Hasil studi dari beberapa sampel pembebanan saluran penghantar


Spesifikasi Saluran Total Pembebanan

Pembebanan Saluran
Total Ampasitas (A)
Penampang (mm2)
Lokasi Saluran

Arus Saluran (A)


Faktor Koreksi
KHA (A)
Jumlah
Tipe

(%)
Dari Ke

MDP
SDP 1.04 NYY 2 185 511 1 1022 642.6 62.9
1.04
MDP
SDP 1.09 NYY 1 185 511 1 511 324.5 63.5
1.07
MDP SDP
NYY 2 300 707 1 1414 450.2 31.8
2.04 2.04B
MDP
SDP 2.07 NYY 2 300 707 1 1414 31.56 2.2
2.07
MDP SDP
NYY 2 300 707 1 1414 251.7 17.8
3.01 3.01B
MDP3.04 SDP3.04A NYY 2 185 511 1 1022 405.1 39.6
MDP SDP 3.06
NYY 1 185 511 1 511 279.7 54.7
3.06 A
MDP SDP
NYY 1 185 511 1 511 66.26 13
4.02 4.02C
MDP
SDP 4.05 NYY 3 300 707 1 2121 536.8 25.3
4.05
MDP
SDP 5.02 NYY 3 300 707 1 2121 523.7 18.5
5.02
MDP SDP
NYY 4 35 174 1 696 29.94 4.3
6.03 6.03A
MDP
SDP 6.05 NYY 4 120 386 1 1544 43.54 2.8
6.05

69
Perbandingan Kapasitas dan
Pembebanan Saluran

2121

2121
2500

1544
2000

1414

1414

1414
Arus (A)

1500
1022

1022
642.6

536.8

696
523.7
1000 450.2

405.1

511
511

511
324.5

279.7
251.7

66.26

43.54
31.56

29.94
500

0
MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP
1.04 1.07 2.04 2.07 3.01 3.04 3.06 4.02 4.05 5.02 6.03 6.05
SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP
1.04 1.09 2.04B 2.07 3.01B 3.04 A 3.06A 4.02C 4.05 5.02 6.03A 6.05
Lokasi Saluran

Arus (A) Total Ampasitas

Gambar 4. 11 Grafik nilai pembebanan saluran terpasang


Perhitungan nilai pembebanan saluran memiliki kegunaan antara lain dapat

digunakan untuk melihat kondisi saluran, terutama mengenai kondisi saluran yang

hampir mendekati ambang batas pembebanan atau kondisi saluran yang masih

memiliki pembebanan yang normal maupun rendah, pembebanan tiap saluran

pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing hasil simulasi sampel

dapat dilihat pada tabel 4.17.

Pada tabel 4.19 terlihat nilai persentase pembebanan penghantar saluran

dengan tegangan nominal 0.4 kV secara keseluruhan menunjukan nilai

pembebanan saluran penghantar rata-rata yakni sebesar 19.84%. Arus

pembebanan terbesar terjadi pada saluran pembebanan MDP 1.07 menuju ke SDP

1.09 yaitu sebesar 63.5% dari nilai batas kapasitas penghantar tersebut.

70
Perhitungan total ampasitas untuk saluran antara MDP 1.07 ke SDP 1.09

didasari adanya faktor koreksi sistem kabel bawah tanah untuk tipe NYY yang

lain dan dipengaruhi oleh faktor instalasi kabel (jarak antar tipe kabel yakni 7 cm)

yang bernilai 1 didasari pengunaan kabel 1, sehingga faktor instalasi kabel

dianggap tidak berpengaruh dan juga faktor suhu sekitar kabel (asumsi suhu

sekeliling 30oC) yang bernilai 1. apabila parameter faktor koreksi telah diketahui,

hal ini tentunya akan mempermudah untuk selanjutnya melakukan perhitungan

total ampasitas saluran sebagai berikut.

F = Ft.Fth.Fg

=1x1x1

=1

Sehingga didapatkan total ampasitas (I’) saluran sebesar

I’ = F x I

= 1 x 511

= 511

Nilai peresentase pembebanan saluran yang melebihi 100% dalam durasi

yang lama tentunya akan berpotensi menigkatkan nilai jatuh tegangan dan rugi-

rugi saluran. Serta dari nilai keamanan operasional, presentase yang melebihi

batas akan meningkatkan suhu penghantar dan dapat berujung pada penurunan

usia pakai dari saluran tersebut. Suhu ideal yang diperbolehkan dari proses

71
pengaliran arus sesuai dengan SNI 04-0225-2000 adalah sebesar 90o (untuk kabel

dengan isolasi XLPE) dan 65oC (untukkabel dengan isolasi PVC).

4.2.3 Jatuh Tegangan Saluran


Jatuh tegangan atau voltage drop merupakan salah satu masalah yang

hampir selalu terjadi pada suatu sistem kelistrikan, baik pada sisi penyedia jasa

tenaga listrik maupun pada sisi pelanggan. Data nilai jatuh tegangan pada simulasi

aliran daya dapat dilihat pada tabel 4.20.

Tabel 4. 20 Hasil simulasi beberapa sampel jatuh tegangan saluran penghantar

Tegangan (%)
Tegangan (%)
Lokasi Saluran

Standar Jatuh
Jumlah Inti

Penampang

Jarak (m)
(mm2)

Jatuh
Tipe
Dari

Ke

MDP
SDP 1.04 NYY 1 185 54.6 1.13 10
1.04
MDP
SDP 1.13 NYY 1 240 197.6 3.62 10
1.13
MDP SDP
NYY 1 300 126.6 1.44 10
2.04 2.04B
MDP
SDP 2.07 NYY 1 300 199 0.15 10
2.07
MDP SDP
NYY 1 300 280.9 1.79 10
3.01 3.01B
MDP SDP 3.04
NYY 1 185 252 3.22 10
3.04 A
MDP SDP
NYY 1 185 187 3.32 10
3.06 3.06A
MDP SDP
NYY 1 185 137 0.58 10
4.02 4.02C
MDP
SDP 4.05 NYY 1 300 180 1.61 10
4.05
MDP
SDP 5.02 NYY 1 300 60 0.53 10
5.02
MDP SDP
NYY 1 35 20 0.03 10
6.03 6.03A
MDP
SDP 6.05 NYY 1 120 50 0.04 10
6.05

72
Dari tabel 4.20 didapatkan nilai jatuh tegangan terbesar terjadi pada saluran

yang menghubungkan MDP 1.13 menuju ke SDP 1.13 sebesar 3.62% dari

tegangan nominal 0.4 kV. Hal ini disebabkan karena jarak saluran penghantar 187

meter yang cukup panjang dan dipengaruhi juga oleh diameter kabel 240 mm2.

Dengan nilai jatuh tegangan terbesar hasil simulasi aliran daya yang terjadi pada

saluran MDP 1.13 menuju SDP 1.13 masih dikategorikan aman dikarenakan

bernilai dibawah constaint jatuh tegangan yang ditetapkan yakni sebesar -10%.

Karena keseluruhan jatuh tegangan pada simulasi aliran daya kondisi operasi

normal masih memenuhi kriteria operasional ideal karena tidak terdapat nilai

persentase jatuh tegangan yang melewati -10%. Hal ini berarti pada sistem

kelistrikan dari PT. Showa Indonesia Manufacturing memenuhi syarat untuk

melakukan operasional dari unit-unit beban listrik, terutama untuk beban listrik

industri secara kontinu selama tidak menemukan terhadap kemungkinan adanya

pelanggaran tegangan (voltage violation).

Perbandingan Jatuh Tegangan


12 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Persentase Total Jatuh Tegangan (%)

10
8
3.62

3.32
3.22

6
1.79

1.61
1.44
1.13

0.58

0.53

4
0.15

0.04
0.03

2
0
MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP MDP
1.04 1.13 2.04 2.07 3.01 3.04 3.06 4.02 4.05 5.02 6.03 6.05
SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP SDP
1.04 1.13 2.04B 2.07 3.01B 3.04 A 3.06A 4.02C 4.05 5.02 6.03A 6.05
Unit Beban

Magnitude Vdrop Standar Nominal Vdrop

Gambar 4. 12 Grafik data perbandingan jatuh tegangan pada saluran

73
4.2.4 Rugi-rugi Total Sistem
Tabel 4. 21 Hasil simulasi beberapa sampel rugi-rugi sistem

Pembebanan
Lokasi Saluran

Penampang
Jumlah Inti

Jarak (m)

Arus (A)
(mm2)
Rugi-rugi

Tipe
Dari

Ke

kW kVAR
MDP
SDP 1.04 NYY 1 185 54.6 642.5 4.00 3.10
1.04
MDP
SDP 1.09 NYY 1 185 122.3 324.5 4.57 3.54
1.07
MDP SDP
NYY 1 300 126.6 450.2 2.86 3.49
2.04 2.04B
MDP
SDP 2.07 NYY 1 300 199 31.56 0.02 0.03
2.07
MDP SDP
NYY 1 300 280.9 251.7 1.98 2.42
3.01 3.01B
MDP SDP 3.04
NYY 1 185 252 405.1 7.33 5.69
3.04 A
MDP SDP 3.06
NYY 1 185 187 279.7 5.19 4.03
3.06 A
MDP SDP
NYY 1 185 137 66.26 0.21 0.17
4.02 4.02C
MDP
SDP 4.05 NYY 1 300 180 536.8 3.85 4.70
4.05
MDP
SDP 5.02 NYY 1 300 60 523.7 1.22 1.49
5.02
MDP SDP
NYY 1 35 20 29.94 0.008 0.001
6.03 6.03A
MDP
SDP 6.05 NYY 1 120 50 43.54 0.01 0.01
6.05
- Trafo 1 - - - - 27.72 4.25 25.47
- Trafo 2 - - - - 24.83 3.41 20.43
- Trafo 3 - - - - 41.62 9.57 57.41
- Trafo 4 - - - - 37.33 6.87 41.23
- Trafo 5 - - - - 46.82 10.81 64.87
- Trafo 6 - - - - 1.746 0.13 0.19
Total Rugi-rugi sistem hasil simulasi 127.20 310.90

Suatu sistem kelistrikan dikatakan belum memiliki operasi optimal apabila

masih ditemukan adanya rugi-rugi daya yang cukup besar dimana hal tersebut

dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain panjang saluran, tidak optimalnya

74
penempatan transformator terhadap beban, dan diameter penghantar yang tidak

sesuai dengan jumlah kapasitas beban sehingga menghasilkan timbulnya panas

pada saluran penghantar yang berujung pada hilangnya daya dan tegangan pada

saluran.

Sistem kelistrikan pada suatu industri yang beroperasi secara kontinu

memerlukan keseimbangan beban antar fasa untuk pemerataan beban sehingga

meminimalkan rugi-rugi daya yang terjadi pada sistem. Nilai rugi-rugi daya yang

besar tentunya akan berpengaruh pada optimalnya kerja pada peralatan listrik

yang digunakan serta pada perhitungan finansial terhadap biaya perawatan dari

peralatan tersebut. Dalam penelitian ini dibahas mengenai rugi-rugi daya total

yaitu rugi-rugi saluran penghantar ditambah dengan rugi-rugi transformator.

Perhitungan nilai rugi-rugi daya pada saluran tegangan rendah maupun

tinggi sangat bergantung pada karakteristik penghantar berdasarkan nilai luas

penampang dan resistansi dari penghantar tersebut. Ukuran luas penampang

saluran penghantar yang besar tentu saja akan mengalirkan arus yang besar dan

menahan panas lebih baik bila dibandingkan ukuran luas penampang yang lebih

kecil.

Namun keunggulan ini juga memiliki efek samping yakni memungkinkan

untuk terciptanya niali rugi–rugi daya yang lebih besar oleh sebab adanya efek

Joule, dimana terciptanya kenaikan temperature kabel seiring dengan

meningkatnya arus yang mengalir pada kabel. Hasil simulasi rugi-rugi daya yang

75
terjadi dipenghantar pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Mamufacturing

dapat dilihat pada tabel 4.21.

Dari tabel 4.21 dapat dilihat bahwa saluran antara MDP 3.04 menuju ke

SDP 3.04A dengan nilai rugi-rugi KW sebesar 7.33 kW. Rugi-rugi yang terjadi ini

disebabkan nilai daya besar 271 kVA, nilai faktor daya 91% dan juga disebabkan

oleh panjang saluran 252 meter dan luas penampang yang kurang sesuai. Adanya

jatuh tegangan saluran sebesar 3.22% juga turut andil dalam kemunculan nilai

rugi-rugi saluran ini.

Gambar 4. 13 Tampilan nilai rugi-rugi saluran penghantar terbesar hasil simulasi


aliran daya.

76
Nilai daya aktif yang dikirim saluran sebanding dengan nilai arus yang

dikirim oleh saluran tersebut. Hal ini sesuai dengan analogi yang telah dijelaskan

sebelumnya bahwa semakin besar nilai arus yang mengalir di suatu saluran maka

akan menghasilkan potensi nilai rugi-rugi yang semakin besar pula.

Gambar 4. 14 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 1 2500kVA hasil simulasi


aliran daya

Pada transformator 1 dengan kapasitas daya sebesar 2500 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 25.47 kVAR atau 8.19% dari total daya reaktif sistem sebesar

310.9 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 4.25 kW atau menyumbang

3.34% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 127.2 kW.

Gambar 4. 15 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 2 2500kVA hasil simulasi


aliran daya

77
Pada transformator 2 dengan kapasitas daya sebesar 2500 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 20.43 kVAR atau 6.57% dari total daya reaktif sistem sebesar

310.9 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 3.41 kW atau menyumbang

2.68% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 127.2 kW.

Gambar 4. 16 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 3 3000 kVA hasil simulasi


aliran daya

Pada transformator 3 dengan kapasitas daya sebesar 2500 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 57.41 kVAR atau 18.47% dari total daya reaktif sistem

sebesar 310.9 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 9.6 kW atau

menyumbang 7.52% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 127.2 kW.

Gambar 4. 17 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 4 3000 kVA hasil simulasi


aliran daya

78
Pada transformator 4 dengan kapasitas daya sebesar 3000 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 41.2 kVAR atau 13.26% dari total daya reaktif sistem sebesar

310.9 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 6.9 kW atau menyumbang

5.4% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 127.2 kW.

Gambar 4. 18 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 5 3000 kVA hasil simulasi


aliran daya

Pada transformator 5 dengan kapasitas daya sebesar 3000 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 64.9 kVAR atau 20.86% dari total daya reaktif sistem sebesar

310.9 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 10.8 kW atau menyumbang

8.50% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 127.2 kW.

Gambar 4. 19 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 6 630 kVA hasil simulasi


aliran daya

Pada transformator 6 dengan kapasitas daya sebesar 630 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 0.2 kVAR atau 0.1% dari total daya reaktif sistem sebesar

79
310.9 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 0.1 kW atau menyumbang

0.06% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 127.2 kW.

Total rugi-rugi pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing

lebih didominasi oleh rugi-rugi daya yang dihasilkan oleh transformator 5 step

down 20/0.4 kV dengan kapasitas daya sebesar 3000 kVA. Pada transformator 5

3000 kVA menyerap daya reaktif sebesar 64.87 kVAR atau 20.86% dari total

daya reaktif sistem sebesar 310.9 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar

10.81 kW atau menyumbang 8.50% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi

127.2 kW.

Dari gambar 4.20 Grafik cakupan daya aktif pada hasil simulasi, total rugi-

rugi pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing lebih didominasi

pada saluran penghantar yakni 92.17 kW atau 72.46% dari total rugi-rugi daya

aktif 127.2 kW. Dan rugi-rugi pada keseluruhan transformator sebesar 35.03 kW

atau 27.54% dari total rugi-rugi daya aktif.

Dan untuk keseluruhan rugi-rugi yang terjadi pada sistem kelistrikan PT.

Showa Indonesia Manufacturing yaitu sebesar 127.2 kW atau 2.2% dari total

beban sebesar 5658 kW. Data persentase total rugi-rugi daya aktif pada simulasi

aliran daya kondisi operasi normal dapat dilihat pada Gambar 4.20 berikut.

80
Distribusi Daya Aktif (kW)
92.17
35.03

Total beban
Rugi-rugi saluran
Rugi-rugi trafo

5658

Gambar 4. 20 Grafik cakupan daya aktif pada hasil simulasi

4.2.5 Skenario Saat Pemakaian Transformator Maksimal

Tabel 4. 22 Hasil pembebanan saluran saat kapasitas maksimal transformator

Lokasi Saluran
Arus Saluran

Pembebanan

Pembebanan
Saluran (%)

Trafo (%)
(A)

Penampang Ampasitas
Dari Ke Jenis Jumlah
(mm2) (A)

Trafo LVMDP
NYY 300 8 5656 3608 63.8 100
1 1
Trafo LVMDP
NYY 300 8 5656 3609 63.8 100
2 2
Trafo LVMDP
NYY 300 8 5656 3608 63.8 100
3 3
Trafo LVMDP
NYY 400 5 4295 4332 100.9 100
4 4
Trafo LVMDP
NYY 400 5 4295 4323 100.7 100
5 5
Trafo LVMDP
NYY 300 2 1414 909.6 64.3 100
6 6

81
Pembebanan Saluran Saat Kapasitas
Maksimal Trafo
120
100.9 100.7
100
Persentase (%)

80 63.8 63.8 63.8 64.3


60
Pembebanan
40 Saluran
20
0
Trafo1 Trafo2 Trafo3 Trafo4 Trafo5 Trafo6
LVMDP 1 LVMDP 2 LVMDP 3 LVMDP 4 LVMDP 5 LVMDP 6
Lokasi Saluran

Gambar 4. 21 Grafik pembebanan saluran saat kapasitas maksimal transformator

Dari tabel 4.22 dapat dilihat bahwa pada masing-masing saluran penghantar

dapat ketahui pembebanannya saat menggunakan kapasitas maksimal dari

transformator.

Pada saluran penghantar dari Transformator 1 ke LVMDP 1 dengan

menggunakan kabel jenis NYY dengan penampang 300 mm2 jumlah konduktor 8

dengan nilai ampasitas sebesar 5656 A dengan pembebanan transformator 100%

yakni 2500 kVA maka didapatkan arus yang mengalir di saluran 3608 A atau

63.8% dari total ampasitas maksimal penghantar tersebut. Dari data diatas dapat

dilihat bahwa pada saluran dari Transformator 1 menuju ke LVMDP 1 ini sangat

memungkinkan jikalau menggunakan transformator dengan pembebanan

maksimal masih bisa dan masih memenuhi dan tidak perlu ada penggantian atau

penambahan dari saluran penghantar.

82
Pada saluran penghantar dari Transformator 2 ke LVMDP 2 dengan

menggunakan kabel jenis NYY dengan penampang 300 mm2 jumlah konduktor 8

dengan nilai ampasitas sebesar 5656 A dengan pembebanan transformator 100%

yakni 2500 kVA maka didapatkan arus yang mengalir di saluran 3607 A atau

63.8% dari total ampasitas maksimal penghantar tersebut. Dari data diatas dapat

dilihat bahwa pada saluran dari Transformator 2 menuju ke LVMDP 2 ini sangat

memungkinkan jikalau menggunakan transformator dengan pembebanan

maksimal masih bisa dan masih memenuhi dan tidak perlu ada penggantian atau

penambahan dari saluran penghantar.

Pada saluran penghantar dari Transformator 3 ke LVMDP 3 dengan

menggunakan kabel jenis NYY dengan penampang 300 mm2 jumlah konduktor 8

dengan nilai ampasitas sebesar 5656 A dengan pembebanan transformator 100%

yakni 2500 kVA maka didapatkan arus yang mengalir di saluran 3608 A atau

63.8% dari total ampasitas maksimal penghantar tersebut. Dari data diatas dapat

dilihat bahwa pada saluran dari Transformator 3 menuju ke LVMDP 3 ini sangat

memungkinkan jikalau menggunakan transformator dengan pembebanan

maksimal masih bisa dan masih memenuhi dan tidak perlu ada penggantian atau

penambahan dari saluran penghantar.

Pada saluran penghantar dari Transformator 4 ke LVMDP 4 dengan

menggunakan kabel jenis NYY dengan penampang 400 mm2 jumlah konduktor 5

dengan nilai ampasitas sebesar 4295 A dengan pembebanan transformator 100%

yakni 3000 kVA maka didapatkan arus yang mengalir di saluran 4332 A atau

100.9% dari total ampasitas maksimal penghantar tersebut. Dari data diatas dapat

83
dilihat bahwa pada saluran dari Transformator 4 menuju ke LVMDP 4 ini sangat

tidak memungkinkan jikalau menggunakan transformator dengan pembebanan

maksimal, dan untuk menggunakan pembebanan maksimal transformator tersebut

harus mengganti saluran pengahantar tersebut atau menambah jumlah konduktor

sehingga tidak melebihi pembebanan dari saluran penghantar.

Pada saluran penghantar dari Transformator 5 ke LVMDP 5 dengan

menggunakan kabel jenis NYY dengan penampang 400 mm2 jumlah konduktor 5

dengan nilai ampasitas sebesar 4295 A dengan pembebanan transformator 100%

yakni 3000 kVA maka didapatkan arus yang mengalir di saluran 4323 A atau

100.7% dari total ampasitas maksimal penghantar tersebut. Dari data diatas dapat

dilihat bahwa pada saluran dari Transformator 5 menuju ke LVMDP 5 ini sangat

tidak memungkinkan jikalau menggunakan transformator dengan pembebanan

maksimal, dan untuk menggunakan pembebanan maksimal transformator tersebut

harus mengganti saluran pengahantar tersebut atau menambah jumlah konduktor

sehingga tidak melebihi pembebanan dari saluran penghantar.

Pada saluran penghantar dari Transformator 6 ke LVMDP 6 dengan

menggunakan kabel jenis NYY dengan penampang 300 mm2 jumlah konduktor 3

dengan nilai ampasitas sebesar 1414 A dengan pembebanan transformator 100%

yakni 630 kVA maka didapatkan arus yang mengalir di saluran 909.6 A atau

64.3% dari total ampasitas maksimal penghantar tersebut. Dari data diatas dapat

dilihat bahwa pada saluran dari transformator 6 menuju ke LVMDP 6 ini sangat

memungkinkan jikalau menggunakan transformator dengan pembebanan

84
maksimal masih bisa dan masih memenuhi dan tidak perlu ada penggantian atau

penambahan dari saluran penghantar.

4.2.6 Skenario Saat Tidak Memakai Kapasitor Bank

a. Pembebanan Saluran
Tabel 4. 23 Hasil studi dari beberapa sampel pebebanan saluran penghantar
skenario tidak menggunakan kapasitor bank

Lokasi Saluran Spesifikasi Saluran Total Pembebanan

Arus Saluran (A)


Total Ampasitas
Faktor Koreksi

Pembebanan
Saluran (%)
Penampang

KHA (A)
Jumlah

(mm2)
Tipe

(A)
Dari Ke

MDP
SDP 1.04 NYY 2 185 511 1 1022 652 63.8
1.04
MDP
SDP 1.09 NYY 1 185 511 1 511 327.9 64.2
1.07
MDP SDP
NYY 2 300 707 1 1414 454.4 32.1
2.04 2.04B
MDP
SDP 2.07 NYY 2 300 707 1 1414 31.84 2.3
2.07
MDP SDP
NYY 2 300 707 1 1414 253.6 17.9
3.01 3.01B
MDP SDP 3.04
NYY 2 185 511 1 1022 408.3 40
3.04 A
MDP SDP 3.06
NYY 1 185 511 1 511 281.9 55.2
3.06 A
MDP SDP
NYY 1 185 511 1 511 66.92 13.1
4.02 4.02C
MDP
SDP 4.05 NYY 3 300 707 1 2121 542.3 25.6
4.05
MDP
SDP 5.02 NYY 3 300 707 1 2121 533.5 18.9
5.02
MDP SDP
NYY 4 35 174 1 696 29.98 4.3
6.03 6.03A
MDP
SDP 6.05 NYY 4 120 386 1 1544 43.6 2.8
6.05

85
Perhitungan nilai pembebanan saluran memiliki kegunaan antara lain dapat

digunakan untuk melihat kondisi saluran, terutama mengenai kondisi saluran yang

hampir mendekati ambang batas pembebanan atau kondisi saluran yang masih

memiliki pembebanan yang normal maupun rendah, pembebanan tiap saluran

pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing hasil simulasi sampel

dapat dilihat pada tabel 4.23.

Pada tabel 4.23 terlihat nilai persentase pembebanan penghantar saluran

dengan tegangan nominal 0.4 kV secara keseluruhan menunjukan nilai

pembebanan rata-rata yakni sebesar 19.92%. Arus pembebanan terbesar terjadi

pada saluran pembebanan MDP 1.07 menuju ke SDP 1.09 yaitu sebesar 64.2%

dari nilai batas kapasitas penghantar tersebut.

b. Jatuh Tegangan Saluran

Jatuh tegangan atau voltage drop merupakan salah satu masalah yang

hampir selalu terjadi pada suatu sistem kelistrikan, baik pada sisi penyedia jasa

tenaga listrik maupun pada sisi pelanggan. Data nilai jatuh tegangan pada simulasi

aliran daya dapat dilihat pada tabel 4.24.

86
Tabel 4. 24 Hasil simulasi beberapa sampel jatuh tegangan saluran penghantar
skenario tidak memakai kapasitor bank

Jatuh Tegangan
Lokasi Saluran

Tegangan (%)
Standar Jatuh
Jumlah Inti

Penampang

Jarak (m)
(mm2)
Tipe

(%)
Dari

Ke

MDP 1.04 SDP 1.04 NYY 1 185 54.6 1.14 10


MDP 1.13 SDP 1.13 NYY 1 240 197.6 3.66 10
SDP
MDP 2.04 NYY 1 300 126.6 1.46 10
2.04B
MDP 2.07 SDP 2.07 NYY 1 300 199 0.16 10
SDP
MDP 3.01 NYY 1 300 280.9 1.81 10
3.01B
SDP 3.04
MDP 3.04 NYY 1 185 252 3.25 10
A
SDP 3.06
MDP 3.06 NYY 1 185 187 3.34 10
A
SDP
MDP 4.02 NYY 1 185 137 0.59 10
4.02C
MDP 4.05 SDP 4.05 NYY 1 300 180 1.63 10
MDP 5.02 SDP 5.02 NYY 1 300 60 0.54 10
SDP
MDP 6.03 NYY 1 35 20 0.03 10
6.03A
MDP 6.05 SDP 6.05 NYY 1 120 50 0.04 10

Dari tabel 4.24 didapatkan nilai jatuh tegangan terbesar terjadi pada saluran

yang menghubungkan MDP 1.13 menuju ke SDP 1.13 sebesar 3.66% dari

tegangan nominal 0.4 kV. Hal ini disebabkan karena jarak saluran penghantar

yang cukup panjang dan dipengaruhi juga oleh diameter kabel. Dengan nilai jatuh

tegangan terbesar hasil simulasi aliran daya yang terjadi pada saluran MDP 1.13

87
menuju SDP 1.13 masih dikategorikan aman dikarenakan bernilai dibawah

constaint jatuh tegangan yang ditetapkan yakni sebesar -10%.

Karena keseluruhan jatuh tegangan pada simulasi aliran daya kondisi operasi

normal masih memenuhi kriteria operasional ideal karena tidak terdapat nilai

persentase jatuh tegangan yang melewati -10%. Hal ini berarti pada sistem

kelistrikan dari PT. Showa Indonesia Manufacturing memenuhi syarat untuk

melakukan operasional dari unit-unit beban listrik, terutama untuk beban listrik

industri secara kontinu selama tidak menemukan terhadap kemungkinan adanya

pelanggaran tegangan (voltage violation).

c. Rugi-rugi Total Sistem


Tabel 4. 25 Hasil simulasi beberapa sampel rugi-rugi sistem skenario tidak
memakai kapasitor bank
Pembebanan Arus

Lokasi Saluran
Penampang
Jumlah Inti

Jarak (m)

Rugi-rugi
(mm2)
Tipe

(A)
Dari

Ke

kW kVAR
MDP SDP
NYY 1 185 54.6 652 4.12 3.193
1.04 1.04
MDP SDP
NYY 1 185 122.3 327.9 4.66 3.617
1.07 1.09
MDP SDP
NYY 1 300 126.6 454.4 2.91 3.552
2.04 2.04B
MDP SDP
NYY 1 300 199 31.84 0.02 0.027
2.07 2.07
MDP SDP
NYY 1 300 280.9 253.6 2.01 2.455
3.01 3.01B
MDP SDP
NYY 1 185 252 408.3 7.45 5.779
3.04 3.04 A
MDP SDP
NYY 1 185 187 281.9 5.27 4.089
3.06 3.06 A

88
Pembebanan Arus
Lokasi Saluran

Penampang
Jumlah Inti

Jarak (m)
Rugi-rugi

(mm2)
Tipe

(A)
Dari

Ke

kW kVAR
MDP SDP
NYY 1 185 137 66.92 0.22 0.169
4.02 4.02C
MDP SDP
NYY 1 300 180 542.3 3.93 4.797
4.05 4.05
MDP SDP
NYY 1 300 60 533.5 1.27 1.547
5.02 5.02
MDP SDP
NYY 1 35 20 29.98 0.01 0.001
6.03 6.03A
MDP SDP
NYY 1 120 50 43.6 0.01 0.007
6.05 6.05
- Trafo 1 - - - - 36.71 7.45 44.675

- Trafo 2 - - - - 32.05 5.67 34.036

- Trafo 3 - - - - 47.3 12.36 74.139

- Trafo 4 - - - - 48.61 11.65 69.914

- Trafo 5 - - - - 65.32 21.04 126

- Trafo 6 - - - - 2.391 0.24 0.363

Total rugi-rugi sistem simulasi 158.20 460.50

Suatu sistem kelistrikan dikatakan belum memiliki operasi optimal apabila

masih ditemukan adanya rugi-rugi daya yang cukup besar dimana hal tersebut

dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain panjang saluran, tidak optimalnya

penempatan transformator terhadap beban, dan diameter penghantar yang tidak

sesuai dengan jumlah kapasitas beban sehingga menghasilkan timbulnya panas

pada saluran penghantar yang berujung pada hilangnya daya dan tegangan pada

saluran.

89
Sistem kelistrikan pada suatu industri yang beroperasi secara kontinu

memerlukan keseimbangan beban antar fasa untuk pemerataan beban sehingga

meminimalkan rugi-rugi daya yang terjadi pada sistem. Nilai rugi-rugi daya yang

besar tentunya akan berpengaruh pada optimalnya kerja pada peralatan listrik

yang digunakan serta pada perhitungan finansial terhadap biaya perawatan dari

peralatan tersebut. Dalam penelitian ini dibahas mengenai rugi-rugi daya total

Dalam penelitian ini dibahas mengenai rugi-rugi daya total yaitu rugi-rugi saluran

penghantar ditambah dengan rugi-rugi transformator.

Perhitungan nilai rugi-rugi daya pada saluran tegangan rendah maupun

tinggi sangat bergantung pada karakteristik penghantar berdasarkan nilai luas

penampang dan resistansi dari penghantar tersebut. Ukuran luas penampang

saluran penghantar yang besar tentu saja akan mengalirkan arus yang besar dan

menahan panas lebih baik bila dibandingkan ukuran luas penampang yang lebih

kecil.

Namun keunggulan ini juga memiliki efek samping yakni memungkinkan

untuk terciptanya niali rugi–rugi daya yang lebih besar oleh sebab adanya efek

Joule, dimana terciptanya kenaikan temperature kabel seiring dengan

meningkatnya arus yang mengalir pada kabel. Hasil simulasi rugi-rugi daya yang

terjadi dipenghantar pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Mamufacturing

dapat dilihat pada tabel 4.25.

90
Gambar 4. 22 Tampilan nilai rugi-rugi saluran penghantar terbesar hasil simulasi
aliran daya.

Dari tabel 4.25 dapat dilihat bahwa saluran antara MDP 3.04 menuju ke

SDP 3.04A dengan nilai rugi-rugi KW sebesar 7.4 kW. Rugi-rugi yang terjadi ini

disebabkan nilai daya besar 271 kVA, nilai arus yang mengalir sebesar 408.3 A

dan juga disebabkan oleh panjang saluran 252 meter dan luas penampang yang

kurang sesuai. Adanya jatuh tegangan saluran sebesar 3.25% juga turut andil

dalam kemunculan nilai rugi-rugi saluran ini.

Nilai daya aktif yang dikirim saluran sebanding dengan nilai arus yang

dikirim oleh saluran tersebut. Hal ini sesuai dengan analogi yang telah dijelaskan

sebelumnya bahwa semakin besar nilai arus yang mengalir di suatu saluran maka

akan menghasilkan potensi nilai rugi-rugi yang semakin besar pula.

91
Gambar 4. 23 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 1 2500kVA hasil simulasi
aliran daya
Pada transformator 1 dengan kapasitas daya sebesar 2500 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 44.7 kVAR atau 9.70% dari total daya reaktif sistem sebesar

460.5 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 7.4 kW atau menyumbang

4.71% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 158.2 kW.

Gambar 4. 24 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 2 2500kVA hasil simulasi


aliran daya

Pada transformator 2 dengan kapasitas daya sebesar 2500 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 34 kVAR atau 7.59% dari total daya reaktif sistem sebesar

92
460.5 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 5.7 kW atau menyumbang

3.59% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 158.2 kW.

Gambar 4. 25 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 3 3000 kVA hasil simulasi


aliran daya

Pada transformator 3 dengan kapasitas daya sebesar 2500 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 74.1 kVAR atau 16.1% dari total daya reaktif sistem sebesar

460.5 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 12.4 kW atau

menyumbang 7.81% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 158.2 kW.

Gambar 4. 26 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 4 3000 kVA hasil simulasi


aliran daya

93
Pada transformator 4 dengan kapasitas daya sebesar 3000 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 69.9 kVAR atau 15.18% dari total daya reaktif sistem sebesar

460.5 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 11.7 kW atau menyumbang

7.37% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 158.2 kW.

Gambar 4. 27 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 5 3000 kVA hasil simulasi


aliran daya

Pada transformator 5 dengan kapasitas daya sebesar 3000 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 126.3 kVAR atau 27.36% dari total daya reaktif sistem

sebesar 460.5 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 21 kW atau

menyumbang 13.30% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 158.4 kW.

Gambar 4. 28 Tampilan nilai rugi-rugi transformator 6 630 kVA hasil simulasi


aliran daya

94
Pada transformator 6 dengan kapasitas daya sebesar 630 kVA menyerap

daya reaktif sebesar 0.4 kVAR atau 0.08% dari total daya reaktif sistem sebesar

460.5 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar 0.2 kW atau menyumbang

0.15% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 158.2 kW.

Total rugi-rugi pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing

lebih didominasi oleh rugi-rugi daya yang dihasilkan oleh transformator 5 step

down 20/0.4 kV dengan kapasitas daya sebesar 3000 kVA. Pada transformator 5

3000 kVA menyerap daya reaktif sebesar 126.3 kVAR atau 27.36% dari total

daya reaktif sistem sebesar 460.5 kVAR. Rugi-rugi daya aktif yang terjadi sebesar

21 kW atau menyumbang 13.3% dari total rugi-rugi daya aktif yang terjadi 158.2

kW.

Dari gambar 4.28 Grafik cakupan daya aktif pada hasil simulasi, total rugi-

rugi pada sistem kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing lebih didominasi

pada saluran penghantar yakni 99.79 kW atau 63% dari total rugi-rugi daya aktif

158.2 kW. Dan rugi pada keseluruhan transformator sebesar 58.41 kW atau 37%

dari total rugi-rugi daya aktif.

Dan untuk keseluruhan rugi-rugi yang terjadi pada sistem kelistrikan PT.

Showa Indonesia Manufacturing yaitu sebesar 158.2 kW atau 2.8% dari total

beban sebesar 5652 kW. Data persentase total rugi-rugi daya aktif pada simulasi

aliran daya kondisi operasi normal dapat dilihat pada Gambar 4.28 berikut.

95
Distribusi Daya Aktif (kW)
99.79
58.41

Total beban
Rugi-rugi saluran
Rugi-rugi trafo

5652

Gambar 4. 29 Grafik cakupan daya aktif pada hasil simulasi aliran daya

Dari hasil simulasi dengan skenario tidak menggunakan/memasang

kapasitor bank, nilai dari rugi-rugi yang terjadi pada saluran penghantar dan

transformator menjadi lebih besar ini karena dipengaruhi oleh nilai faktor daya

yang berakibat pada semakin besar arus yang mengalir pada sistem kelistrikan,

sehingga nilai rugi-rugi pada sistem kelistrikan semakin besar.

d. Nilai Faktor Daya


Tabel 4. 26 Perbandingan nilai saat menggunakan dan tidak menggunakan
kapasitor bank

Tidak Memakai Kapasitor


Memakai Kapasitor Bank
Lokasi Bank
Faktor Daya Arus (A) Faktor Daya Arus (A)
LVMDP 1 92% 1386 70.4% 1835.6
LVMDP 2 96.4% 1241.4 75.4% 1602.3
LVMDP 3 93.1% 2080.9 82.5% 2364.8
LVMDP 4 86.5% 1866.5 67.1% 2430.5
LVMDP 5 92.6% 2341.1 67.6% 3266.2
LVMDP 6 94.4% 87.3 69% 119.6

96
Pada tabel 4.26 terlihat nilai faktor daya dan arus yang mengalir pada sistem

kelistrikan PT. Showa Indonesia Manufacturing saat menggunakan kapasitor dan

saat tidak menggunakan kapasitor.

Perbandingan faktor daya saat tidak


menggunakan kapasitor
96.4

94.4
93.1

92.6
86.5
100
92

82.5
75.4

90
70.4

67.6
67.1
80

69
Faktor Daya (%)

70 Memakai Kapasitor
60 Bank
50 Tidak Memakai
40 Kapasitor
30
20
10
0
LVMDP LVMDP LVMDP LVMDP LVMDP LVMDP
1 2 3 4 5 6
Lokasi

Gambar 4. 30 Perbandingan faktor daya saat tidak menggunakan kapasitor bank

Gambar 4. 31 Nilai faktor daya di LVMDP 1 hasil simulasi aliran daya

Pada LVMDP 1 saat terpasang kapasitor bank arus yang mengalir sebesar

1386 A dengan nilai faktor daya 92%. Pada LVMDP 1 saat tidak terpasang

kapasitor bank nilai nilai faktor daya pada saat tidak memakai kapasitor lebih

97
kecil yakni sebesar 70.4%, dan saat kapasitor tidak terpasang nilai arus yang

mengalir semakin besar yakni sebesar 1835.7 A.

Gambar 4. 32 Nilai faktor daya di LVMDP 2 hasil simulasi aliran daya

Pada LVMDP 2 saat terpasang kapasitor bank arus yang mengalir sebesar

1241.4 A dengan nilai faktor daya 96.4%. Pada LVMDP 2 saat tidak terpasang

kapasitor bank nilai nilai faktor daya pada saat tidak memakai kapasitor lebih

kecil yakni sebesar 75.4%, dan saat kapasitor tidak terpasang nilai arus yang

mengalir semakin besar yakni sebesar 1602.3 A.

Gambar 4. 33 Nilai faktor daya di LVMDP 3 hasil simulasi aliran daya

Pada LVMDP 3 saat terpasang kapasitor bank arus yang mengalir sebesar

2080.9 A dengan nilai faktor daya 93.1%. Pada LVMDP 3 saat tidak terpasang

98
kapasitor bank nilai nilai faktor daya pada saat tidak memakai kapasitor lebih

kecil yakni sebesar 85.2%, dan saat kapasitor tidak terpasang nilai arus yang

mengalir semakin besar yakni sebesar 2364.8 A.

Gambar 4. 34 Nilai faktor daya di LVMDP 4 hasil simulasi aliran daya

Pada LVMDP 4 saat terpasang kapasitor bank arus yang mengalir sebesar

1866.4 A dengan nilai faktor daya 86.5%. Pada LVMDP 4 saat tidak terpasang

kapasitor bank nilai nilai faktor daya pada saat tidak memakai kapasitor lebih

kecil yakni sebesar 67.1%, dan saat kapasitor tidak terpasang nilai arus yang

mengalir semakin besar yakni sebesar 2430.3 A.

Gambar 4. 35 Nilai faktor daya di LVMDP 5 hasil simulasi aliran daya

99
Pada LVMDP 5 saat terpasang kapasitor bank arus yang mengalir sebesar

2341 A dengan nilai faktor daya 92.6%. Pada LVMDP 5 saat tidak terpasang

kapasitor bank nilai nilai faktor daya pada saat tidak memakai kapasitor lebih

kecil yakni sebesar 67.6%, dan saat kapasitor tidak terpasang nilai arus yang

mengalir semakin besar yakni sebesar 3266.1 A.

Gambar 4. 36 Nilai faktor daya di LVMDP 6 hasil simulasi aliran daya

Pada LVMDP 6 saat terpasang kapasitor bank arus yang mengalir sebesar

87.3 A dengan nilai faktor daya 94%. Pada LVMDP 6 saat tidak terpasang

kapasitor bank nilai nilai faktor daya pada saat tidak memakai kapasitor lebih

kecil yakni sebesar 69%, dan saat kapasitor tidak terpasang nilai arus yang

mengalir semakin besar yakni sebesar 119.6 A.

Pada semua LVMDP mulai dari LVMDP 1 sampai dengan LVMDP 6 nilai

faktor daya saat tidak menggunakan kapasitor menjadi rendah dan berakibat nilai

arus semakin tinggi. Dari hasil diatas, jelas terlihat bahwa arus berbanding terbalik

dengan faktor daya, yang merupakan faktor daya. Sehingga apabila faktor daya

meningkat maka arus menjadi turun, dan sebaliknya apabila faktor daya rendah,

arus yang mengalir akan menjadi tinggi.

100
Dari penjelasan diatas, terlihat bahwa faktor daya rendah mengakibatkan

arus yang mengalir pada sistim jaringan tenaga listrik tersebut mengalami

kenaikan, dan kenaikan arus mengakibatkan kerugian-kerugian pada jaringan itu

sendiri, diantaranya kerugian pada jalur penghantar, penggunaan ukuran

penghantar yang semakin besar, pinalti pada penyedia layanan listrik

membebankan denda faktor daya dibawah 0.85 dalam tagihan tenaga listrik.

101