You are on page 1of 10

PERSONAL HYGIENE DAN NYERI

A. PENGERTIAN
a. Definisi Personal Hygiene
Personal hygiene berasal dari bahasa yunani yakni personal artinya
perorangan dan hygiene artinya sehat. Seseorang yang upaya dalam memelihara
kebersihan dan kesehatan dirinya untuk memperoleh kesejahteraan fisik dan
psikologis disebut personal hygiene (Ernawati, 2012).
b. Definisi nyeri
Nyeri merupakan sensasi yang unik, universal dan bersifat individual sebagai
suatu sensasi yang tidak menyenangkan baik secara sensori dan emosional
berhubungan adanya kerusakan jaringan atau faktor lain (Asmida, 2008).
B. ANATOMI FISIOLOGI
1. Kulit
Kulit merupakan bagian penting dari tubuh untuk melindungi tubuh dari berbagai
kuman atau trauma. Kulit dibagi menjadi tiga lapisan yaitu:
a. Lapisan epidermis (lapisan utama): lapisan kulit tipis untuk melindungi
jaringan terhadap kehilangan cairan dan kimia dan untuk mencegah masuknya
mikroorganisme yang memproduksi penyakit. Terdiri dari stratum korneum,
lusidum dan granulosum.
b. Lapisan dermis: lapisan kulit tebal terdiri dari ikatan kolegen dan serabut
elastik untuk menudukung epidermis. Terdiri atas ujung saraf sensorik,
kelenjar keringat.
c. Lapisan jaringan subkutan terdiri dari pembuluh darah, saraf, limfe jaringan
penyambung halus (sel-sel lemak).
Pada kulit terdapat ujung-ujung syaraf yang berfungsi sebagai reseptor yaitu:
a. RasaDingin : Organ dari krause
b. Rasa Panas : Organ dari ruffini
c. Rasa Raba : Benda-benda dari meissners
d. Rasa Tekan : Benda-benda dari pacini
e. Rasa Nyeri : Ujung saraf bebas
Fungsi Kulit yaitu:
a. Melindungi tubuh
b. Pengaturan suhu tubuh
c. Indera peraba
d. Sebagai alat ekresi
e. Pengatur keseimbangan
2. Mata
Organ penglihatan yang mendeteksi cahaya, yang dilakukan untuk mengetahui
apakah lingkungan sekitarnya terang atau gelap disebut mata. Mata memiliki
berbagai organ seperti:
a. Superior rectusmuscle: otot mata bagian atas yang berfungsi menggerakan
mata kita keatas.
b. Sclera: bagian pelindung mata yang berwarna putih di bagian luar bola mata.
c. Iris: pigmen yang kita bisa melihat warna cokelat atau hitam atau warna biru
jika orang Eropa.
d. Lensa: media refraksi untuk bisa kita melihat.
e. Kornea: kubah transparan agak pipih yang membentuk sepernam bagian
anterior dinding dan tidak memiliki suplai darah.
f. Conjunctiva: lapisan tipis bening yang menghubungkan sklea dan kornea.
g. Retina: lapisan yang akan menerima sinar yang di terima oleh mata kita.
3. Telinga
Sebuah organ yang mampu mendeteksi atau mengenal suara disebut telinga.
Telinga terdiri atas 3 bagian, yaitu:
a. Telinga Luar: daun telinga dan liang telinga.
b. Telinga Tengah: tulang landasan (incus), gendang telinga (membran timpani),
malleus (tulang martil), tulang sanggurdi (stapes) dan saluran eustachius.
c. Telinga Dalam: skala timpani, rtngkap oval, tingkap bulat, rumah siput
(koklea) dan labirin osea.
4. Hidung
Panca indra yang berfungsi sebagai indra pembau adalah hidung. Fungsi Hidung
sebagai menghangatkan udara, penyaring udara masuk, saluran udara pernapasan
dan membunuh kuman oleh leukosit yang terdapat pada selaput lendir.
5. Mulut dan gigi
Bertugas dalam proses perncernaan makanan yaitu disebut mulut. Berfungsi untuk
menghancurkan makanan sehingga ukurannya cukup kecil untuk dapat ditelan ke
dalam perut. Makanan dapat halus karena di dalam mulut terdapat gigi dan lidah.
Bagian dalam mulut terdiri dari gigi, langit-langt lunak, uvula, tonsil (amandel).
6. Rambut
Bagian tubuh yang berfungsi sebagai poteksi serta pengantar suhu disebut rambut.
Bagian rambut terdiri atas bagian batang, akar rambut, sarung kar, folikel rambut
serta kelenjar sabase.
7. Tangan, kaki dan kuku
Tangan adalah dari siku sampai ujung jari. Kaki adalah bagian luar yang komples
dalam tubuh. Kuku adalah penutup dan pelindung ujung jari tangan dan kaki
sensitif daya sentuh..
8. Genetalia
a. Pria: alat reproduksi pada pria terdiri atas sepasang testis, saluran kelamin,
kelenjar tambahan dan penis. Testis: kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai
penghasil sperma dan hormon testosteron.
b. Wanita: alat reproduksi pada wanita terdiri atas sepasang ovarium (indung
telur) yang terletak pada rongga perut, saluran telur (oviduk / tuba falopi),
uterus atau rahim, vagina dan organ kelamin bagian luar.

(Ernawati, 2012

C. NILI-NILAI NORMAL
a. Nilai- nilai normal hygiene

Kulit kering, hangat, mempunyai turgor


yang bagus (apabila kulit ditekan maka
akan kembali seperti semula dengan
cepat), warna kulit  light pink atau
warna gading sampai ruddy pink, dari
coklet terang ke coklat gelap
Kaki, tangan, dan kuku Toes  straight (lurus) dan flat.
Kulit ari  lembut, utuh, tidak ada
inflamasi.
Kuku  transparan, lembut, bulat
lepat, konveks, sudut nail bed
160o kuku pada kaki dan jempol
lebih keras dan tebal
Rambut Rambut  panjang, kesat, liat, kecil,
lembut
Rongga mulut Bibir  pink, lembab, simetris, dan
lembut
Mukosa mulut, gigi, dan gigi  gigi
normal (lembut, putih, cdan shiny),
membrane mukosa (pinkish red,
lembut, dan lembab), mukosa
(berkilau, pink, lembut, lembab,
lunak), gusi (pink, lembut, lembab)
Lidah dan mulut dasar  lidah
(medium atau merah tumpul, lembab,
agak kasar pada permukaan atas dan
lembut sepanjang garis tepi marginal),
daeral ventral (pink dan lembut)
Palate  light pink dan lembut
Mata, hidung, telinga Mata  konjungtiva (transparan),
kornea (transparan, shiny, dan lembut),
alis mata (simetris)
Telinga  ear canal (berliku dan
sepanjang 2.5 cm).
Genetelia Genetelia pria: ukuran, bentuk penis,
testis, warna, tekstur kulit skrotum, dan
serta distribusi rambut pubis.
Genetelia wanita: kulit perineum halus,
bersih dan sedikit gelap, membran
mukosa tampak lebih muda dan
lembab, labia dapat membuka dan
menutup dan simetris.

(Ernawati, 2012).
b. Nilai-nilai normal nyeri
Provoking Accident: faktor pencetus nyeri
Quality: sifat nyeri atau kualitas nyeri seperti ditusuk-tusuk, tajam seperti terkena
api.
Region: letak atau lokasi nyeri
Skala: skala ringan 1-3, skala sedang 4-6, skala berat 7-9, skala sangat berat 10
Time: sifat akut, subakut, perlahan atau bertahap, bersifat hilang timbul.
(Asmida, 2008).
D. JENIS KELAINAN/GANGGUAN
1. Masalah Pada Personal Hygiene
a. Kulit: Kulit Kering, pertumbuhan rambut yang abnormal), luka lecet, jerawat,
ruam kulit.
b. Mata: katarak, iritasi mata, radang pada mata, edema kornea, desemetokel
(kornea menipis dan menonjol, leukoma (kekeruhan yang menempel pada
iris).
c. Telinga: radang telinga, labirintis (infeksi dan alergi), motion sickness
(mabuuuk perjalannan), tuli.
d. Hidung: sinusitis, rinitis alergi maupun vasomotor, deviasi septum, dan polip
hidung.
e. Mulut dan gigi: bau nafas tidak sedap, radang pada gusi, karises gigi, radang
pada daerah mukosa dan rongga mulut, gusi mudah berdarah, radang pada
lidah bibir pecah –pecah.
f. Rambut: ketombe, kusut, rontok, radang pada kulit rambut, kutu kepala.
g. Tangan, kaki dan kuku: kalus, katimumul, kutil pada kaki, infeksi jamur, kuku
yang tumbuh kedalam, kuku tanduk ram, dan bau kaki.
h. Genetalia: wanita (jamur, virus, parasit, gangguan menstruasi bagi wanita,
kanker vagina, infeksi vagina). Pria: hypospadia (buang air kecil sedikit),
micro penis (penis kecil).
(Ernawati, 2012).
E. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAYS
1. Patofisiologi
Personal hygiene adalah suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk
memelihara kebersihan diri. Personal hygiene dapat terganggu apabila individu
sedang sakit. Selan itu fasilitas yang kurang, kurangnya pengetahuan tentang
personal hygiene yang tepat, ekonomi yang kurang dan faktor lingkungan.
Akibatnya individu akan mrngalami defisit personal hygiene. Apabila defisit
personal hygiene individu terganggu, maka akan menimbulkan dampak baik
dilihat dari segi fisik maupun psikologis. Dampak fisik yang mungkin muncul,
gangguan integritas kulit, ganngguan mukosa mulu, infeksi pada mata dan telinga,
gangguan fisik pada kuku. Dampak psikologis yang mungkin muncul, kebutuhan
harga diri, gangguan interaksi sosial, aktualisasi diri, gangguan rasa nyaman,
kebutuhan mencintai dicinta.
Nyeri merupakan campuran reaksi fisik, emosi, perilaku. Cara yang paling
baik untuk memahami pengalaman nyeri, akan membantu untuk menjelaskan tiga
komponen fisiologis berikut yakni: resepsi, persepsi, dan reaksi. nyeri berkaitan
erat dengan reseptor dan adanya rangsangan reseptor. Nyeri yang dimaksud
adalah nocieptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki
sedikit atau bahkan tidak memiliki nyelin yang terbesar pada kulit dan mukosa,
khusunya pada persendian dinding arteri, dan kandung empedu. Maka otak
menginterpretasi kualitas nyeri dan memproses informasi dalam upaya
mengekspresikan nyeri.
(Hidayat Aziz, 2008)
2. Patway

CONGENITAL PSEUDARTHROSIS TIBIA

rendahnya produksi morphogenic tulang protein

osteoblas & osteoklas

pertumbuhan tulang tdk sempurna menyebabkan penyempitan sel saraf

tidak mampu menahan BB fraktur tidak mampu merendam


energi yang terlalu besar

tulang rapuh pergeseran fragmen tulang


tekanan pada tulang

kondisi patologis (osteoporosis, pembedahan trauma tidak langsung


osteomelitis, keganasan)
Kerusakan jaringan trauma langsung
(jatuh, hantaman, kecelakaan)

Farktur terbuka pelepasan pelepasan deformitas


Mediator mediator
luka Nyeri inflamasi gangguan fungsi

kerusakan ditangkap reseptor aliran darah


intergritas nyeri prifer hambatan
jaringan kebocoran cairan ke mobilitas fisik
implus ke otak intertisiel
kerusakan thp perimer ativitas terganggu
persepsi nyeri oedema
port de entry kuman ggn kebersihan diri
Nyeri akut menekan pembuluh (perpakaian, mandi,
R. infeksi darah perifer toileting)

Infeksi perfusi
jaringan perifer Defisit perawatan diri
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Pemeriksaan laboratorium dan radiologi penyakit yang dialami.
b. menggunakan skala nyeri:
1) Ringan = Skala nyeri 1-3 : Secara objektif pasien masih dapat berkomunikasi
dengan baik.
2) Sedang = Skala nyeri 4-6 : Secara objektif pasien dapat menunjukkan lokasi
nyeri, masih merespon dan dapat mengikuti instruksi yang diberikan.
3) Berat = Skala nyeri 7-9 : Secara objektif pasien masih bisa merespon, namun
terkadang klien tidak mengikuti instruksi yang diberikan.
4) Nyeri sangat berat = Skala 10 : Secara objektif pasien tidak mampu
berkomunikasi dan klien merespon dengan cara memukul.
G. PENATALAKSANAAN KOLABORATIF
1. Tim medis dalam pemberian obat (untuk nyeri).
H. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
1. Identitas pasien: Nama, umur, alamat, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan
terkahir dan sebagainya.
2. Riwayat Keperawatan: Tanyakan tentang pola kebersihan individu sehari-hari,
sarana dan prasarana yang dimiliki, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
hygiene personal individu, baik faktor pendukung maupun faktor penghambat.
3. Pemeriksaan fisik
a) Rambut: amati kondisi rambut, keadaan kesuburan rambut, keadaan rambut
yang mudah rontok, keadaan rambut yang kusam, keadaan tekstur
b) Kepala: amati dengan seksama kebersihan kulit kepala, botak, ketombe,
berkutu, kebersihan
c) Mata: amati adanya tanda-tanda ikterus, konjungtiva pucat, sekret pada
kelopak mata, kemerahan atau gatal-gatal pada mata.
d) Hidung: kaji kebersihan hidung, kaji adanya sinusitis, perdarahan hidung,
tanda-tanda pilek, tanda-tanda alergi, adakah perubahan penciuman, dan
bagaimana membran mukosa.
e) Mulut: amati kondisi mukosa mulut dan kaji kelembapannya. Perhatikan
adanya lesi, tanda-tanda radang gusi/sariawan, kekeringan atau pecah-pecah.
f) Gigi: amati adanya tanda-tanda karang gigi, karies, gigi pecah-pecah, tidak
lengkap atau gigi palsu.
g) Telinga: perhatikan adanya serumen atau kotoran pada telinga, lesi, infeksi
atau perubahan daya pendengaran.
h) Kulit:amati kondisi kulit (tekstur, turgor, kelembapan) dan
kebersihannya. Perhatikan adanya warna kulit, stria, kulit keriput, lesi atau
pruritus.
i) Kuku tangan dan kaki: amati bentuk dan kebersihan kuku. Perhatikan
adanya kelainan atau luka.
j) Genetalia: amati kondisi dan kebersihan genetalia berikut area
perinium. Perhatikan pola pertumbuhan rambut pubis. Pada laki-laki
perhatikan kondisi skrotum dan testisnya.
k) Tubuh secara umum: amati kondisi dan kebersihan tubuh secara umum.
Perhatikan adanya kelainan pada kulit atau bentuk tubuh.
4. KajinNyeri
P: Paliatif: Faktor yang mempengaruhi gawat atau ringannya nyeri
Q: Qualitatif: Seperti apa, tajam, tumpul, atau tersayat
R: Regio: Daerah perjalan nyeri
S: Skala: skala ringan 1-3, skala sedang 4-6, skala berat 7-9, skala sangat berat
10
T: Time: Lama waktu serangan atau frequensi nyeri
5. Pemeriksaan fisik
a) Tanda: tanda vital : Tekanan darah, nadi, pernafasan
b) Perilaku: Meletakkan tangan di paha, tungkai, dan paha flexi
c) Expresi wajah
b. Diagnosa keperawatan
1. Defisit perawatan diri ( berpakaian, makan, mandi / hygiene dan toileting)
2. Nyeri akut
c. Intervensi keperawatan
1. Defisit perawatan diri ( berpakaian, makan, mandi / hygiene dan toileting)
a. Observasi: kaji pola kebersihan, tempat tidur, kebersihan badan klien.
Rasional : untuk mengetahui pola kebersihan diri pasien normal.
b. Nursing: bantu klien dalam kebersihan badan, mulut, rambut dan kuku.
Rasional : untuk mengetahui keadaan mulut bersih,rambut bersih,
kuku panjang dan badan bersih/tidak bau.
c. Edukasi:lakukan pendidikan kesehatan tentang kebersihan mulut,
keadaan badan, rambut dan kuku bersih, pentingnya kebersihan.
d. Colaboration: libatkankan keluarga
2. Nyeri akut
a. Observasi: kaji tingkat nyeri
Rasional: untuk mengetahui tingkat nyerinya
b. Nursing: bantu klien untuk mengontrol pemberian analgetik
Rasional: untuk mengetahui keadaan klien terhadap nyeri
c. Edukasi: lakukan pendidikan kesehatan tentang terapi relaksasi
d. Colaboration: libatkan dokter dan apoteker.
I. DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.
Jakarta: Salemba Medika.
Ernawati. 2012. Buku Ajar dan Aplikasi Keperawatan Dalam Pemeuhan Kebutuhan
Dasar Manusia. Jakata: CV. Trans Info Media.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Kebutuhan Daras Manusia. Jakarta: Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika.