You are on page 1of 4

GEJALA DAN TANDA KLINIS

Gejala khas yang timbul akibat influenza adalah gangguan keadaan umum dan
gangguan pernapasan yang munculnya mendadak. Gejala influenza mulai timbul setelah 24-
48 jam penderita terserang virus. Gejala ini biasanya akan hilang setelah 3-5 hari. Gangguan
keadaan umum meliputi demam (umumnya demam tinggi atau suhu badan 38-40 derajat C),
nyeri otot (terutama di bagian punggung dan pinggang), sakit kepala, kelelahan yang luar biasa,
batuk yang tidak produktif, nyeri tenggorok, pilek, kadang-kadang mata gatal dan berair.
Gejala lain berupa mual, muntah, dan diare, umumnya terjadi pada anak-anak. Satu hal yang
perlu ditegaskan, influenza akibat virus tidak sama dengan pilek akibat alergi (Maryani dkk,
2004).
Masa inkubasi (sejak bibit penyakit masuk sampai timbul gejala) penyakit ini selama
1-4 hari (rata-rata dua hari). Pada orang dewasa, infeksi terjadi sejak satu hari sebelum
timbulnya gejala influenza hingga lima hari setelah terjadinya penyakit ini. Anak-anak dapat
menyebarkan virus ini sampai lebih dari 10 hari. Bahkan, anak-anak yang lebih kecil dapat
menyebarkan virus enam hari sebelum tampak gejala pertama penyakit ini (Maryani dkk,
2004).

SASARAN TERAPI
Pasien yang mengeluh pilek, batuk dan demam selama 2 hari. Pada pemeriksaan awal,
suhunya 38,9 derajat C dan pada pemeriksaan telinga, dada dan sistem lainnya normal. Riwayat
pasien menunjukkan kontak dengan seseorang yang menderita demam dan pilek. Namun, tidak
ada riwayat penyakit serupa yang pernah dicatat dan pasien tidak mengalami alergi terhadap
obat apapun. Pasien didiagnosis batuk dan pilek dikarenakan infeksi virus.

STRATEGI TERAPI
Untuk mengurangi keluhan akibat influenza dapat dilakukan dengan cara mengonsumsi
obat influenza yang mengandung penurun panas, analgesik, dekongestan, dan antihistamin.
Obat analgesik akan mengurangi rasa sakit di otot dan kepala. Dekongestan untuk membantu
melegakan hidung tersumbat, sedangkan antihistamin dapat membantu mengatasi hidung yang
terus-menerus berair dan mata gatal. Pada influenza ini penggunaan antibiotik tidak berguna
karena tidak mempengaruhi virus. Antibiotik diperlukan hanya jika ada komplikasi.
Penggunaan ini hanya terdiri 5% dari semua kasus influenza. Pemakaian antibiotik yang
berlebihan dan tidak pada tempatnya dapat menyebabkan kekebalan kuman dan membuat
kuman tubuh yang jinak menjadi ganas (Maryani dkk, 2004).
TATA LAKSANA TERAPI
A. Terapi Non Farmakologi
Pengobata influenza yang tidak mengalami komplikasi sangat sederhana.
Penderita harus istirahat yang cukup dan mengehentikan semua aktivitas olahraga.
Selain itu, penderita harus lebih banyak minum cairan dan makan makanan bergizi.
Cairan akan membantu menghilangkan cairan hidung yang keluar dan menghindari
dehidrasi. Istirahat yang cukup bertujuan untuk menyimpan tenaga guna mengurangi
kelelahan dan lemas. Dengan demikian, diharapkan pertahanan tubuh cepat pulih dan
influenza akan segera sembuh dengan sendirinya. Penderita juga disarankan untuk
mandi air panas atau memanaskan badan untuk mengurangi rasa sakit di otot. Mandi
uap atau air hangat juga berguna untuk merangsang keluarnya keringat sehingga
demam cepat turun (Maryani dkk, 2004).

B. Terapi Farmakologi
1. Oseltamivir
Ada 2 sediaan oseltamivir, yaitu kapsul 75 mg dan suspensi (12 mg/mL)
(Nitiyoso, 2018).
 INDIKASI :
Pengobatan: untuk penyakit akut tanpa komplikasi pada pasien berusia
lebih dari 1 tahun yang sudah mengalami gejala tidak lebih dari 2 (dua)
hari. Profilaksis: untuk dewasa dan anak lebih dari 13 tahun. Oseltamivir
tidak digunakan sebagai pengganti vaksinasi (Nitiyoso, 2018).
 DOSIS
Oseltamivir dapat digunakan tanpa memperhatikan makanan. Jika
digunakan bersamaan dengan makanan, toleransi dapat meningkat
(Nitiyoso, 2018).
Pengobatan: Dewasa dan anak lebih dari 13 tahun: Dosis oral yang
direkomendasikan adalah 75 mg dua kali sehari selama 5 hari.
Pengobatan dimulai dalam dua hari setelah timbul gejala influenza
(Nitiyoso, 2018).
 MEKANISME
Mekanisme kerja oseltamivir sebagai inhibitor neuraminidase (suatu
protein yang terdapat pada permukaan virus influenza yang berguna
untuk berikatan dengan nucleoprotein yang terdapat pada permukaan sel
inang) (Hidayanti dkk, 2010).
2. Zanamivir
Zanamivir adalah obat antivirus yang digunakan secara inhalasi dan tersedia
dalam bentuk blister 5 mg (Nitiyoso, 2018).
 INDIKASI :
Pengobatan: untuk penyakit akut tanpa komplikasi yang disebabkan
oleh infeksi virus influenza A dan B pada pasien dewasa dan anak lebih
dari 7 tahun yang sudah mengalami gejala tidak lebih dari 2 (dua) hari.
Zanamivir tidak direkomendasikan untuk pasien penyakit saluran
napas, seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
(Nitiyoso, 2018).
 DOSIS
Zanamivir digunakan untuk saluran pernapasan melalui inhalasi oral
menggunakan alat “diskhaler”. Pasien harus diberi penjelasan tentang
cara penggunaan obat, jika mungkin disertai demonstrasi cara
pemakaian obat. Jika zanamivir diresepkan untuk anak-anak,
pemakaiannya harus dalam pengawasan dan instruksi orang dewasa
yang telah diberi penjelasan tentang cara pemakaian obat. Dosis
zanamivir yang direkomendasikan untuk perawatan influenza pada
pasien berusia lebih dari 7 tahun dan lebih adalah 2 inhalasi (per
inhalasi adalah 5 mg blister, jadi dosis total adalah 10 mg) dua kali
sehari (jarak pemakaian 12 jam), selama 5 hari.28 Dua dosis ini harus
digunakan pada pengobatan awal, jika mungkin jarak pemberian
adalah 2 jam. Pada hari berikutnya, jarak pemberian adalah 12 jam
(misalnya pada malam dan siang hari), waktu pemberian ini hendaknya
sama setiap hari (Nitiyoso, 2018).
 MEKANISME
Mekanisme kerja dari zanamivir serupa dengan oseltamivir yaitu
inhibisi neuraminidase virus influenza yang menyebabkan perubahan
agregasi dari partikel virus untuk selanjutnya menjadi bebas (Kandun,
et.al, 2005).
DAFTAR PUSTAKA
Hidayanti, F.N dkk, 2010. PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN UJI
AKTIVITAS ANTIVIRUS EKSTRAK ETANOL DAUN TAPAK LIMAN
(Elephantopus scaber L.) TERHADAP VIRUS Avian influenza. PHARMACY Vol 07
No 03.
Kandun IN, Wibisono H, Sedyaningsih ER, Yusharmen, Purba W et al. Three Indonesian
Clusters of H5N1 Virus Infection in 2005. N Engl J Med 2006; 355: 21862194
Maryani H, Kristiana L. 2004. Tanaman Obat Untuk Influenza. Surabaya : PT Agromedia
Pustaka.
Nitiyoso, 2018. Antivirus untuk Influenza. Continuing Medical Education vol 45 no 4.