You are on page 1of 15

Asuhan Keperawatan Pada Lansia Menjelang Ajal-Keadaan Terminal

I. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan penyakit terminal, menggunakan pendekatan
holistik yaitu suatu pendekatan yang menyeluruh terhadap klien bukan hanya pada
penyakit dan aspek pengobatan dan penyembuhan saja akan tetapi juga aspek
psikososial lainnya.
Salah satu metode untuk membantu perawat dalam mengkaji data psikososial pada
klien terminal yaitu dengan menggunakan metode “PERSON”.

P: Personal Strenghat
Yaitu: kekuatan seseorang ditunjukkan melalui gaya hidup, kegiatannya atau pekerjaan.
Contoh yang positif:
1. Bekerja ditempat yang menyenangkan bertanggung jawab penuh dan nyaman, Bekerja
dengan siapa saja dalam kegiatan sehari-hari.
Contoh yang negatif:
1. Kecewa dalam pengalaman hidup.

E: Emotional Reaction
Yaitu reaksi emosional yang ditunjukkan dengan klien.
Contoh yang positif:
1. Binggung tetapi mampu memfokuskan keadaan.
Contoh yang negatif:
1. Tidak berespon (menarik diri)

R: Respon to Stress
Yaitu respon klien terhadap situasi saat ini atau dimasa lalu.
Contoh yang positif:
1. Memahami masalah secara langsung dan mencari informasi.
2. Menggunakan perasaannya dengan sehat misalnya: latihan dan olah raga.
Contoh yang negative:
1. Menyangkal masalah.
2. Pemakaian alkohol.

S: Support System
Yaitu: keluarga atau orang lain yang berarti.
Contoh yang positif:
1. KeluargA.
2. Lembaga di masyarakat
Contoh yang negatif:
1. Tidak mempunyai keluarga

O: Optimum Health Goal


Yaitu: alasan untuk menjadi lebih baik (motivasi)
Contoh yang positif:
1. Menjadi orang tua
2. Melihat hidup sebagai pengalaman positif
Contoh yang negatif:
1. Pandangan hidup sebagai masalah yang terkuat
2. Tidak mungkin mendapatkan yang terbaik

N: Nexsus
Yaitu: bagian dari bahasa tubuh mengontrol seseorang mempunyai penyakit atau mempunyai
gejala yang serius.
Contoh yang positif:
1. Melibatkan diri dalam perawatan dan pengobatan.
Contoh yang negatif:
1. Tidak berusaha melibatkan diri dalam perawatan.
2. Menunda keputusan.

Pengkajian yang perlu diperhatikan klien dengan penyakit terminal menggunakan pendekatan
meliputi.
1. Faktor predisposisi
Yaitu faktor yang mempengaruhi respon psikologis klien pada penyakit
terminal, sistem pendekatan bagi klien. Klas Kerud telah mengklasifikasikan
pengkajian yang dilakukan yaitu:
1. Riwayat psikosisial, termasuk hubungan-hubungan interpersonal,
penyalahgunaan zat, perawatan psikiatri sebelumnya.
2. Banyaknya distress yang dialami dan respon terhadap krisis.
3. Kemampuan koping.
4. Sosial support sistem termasuk sumber-sumber yang ada dan dibutuhkan
support tambahan.
5. Tingkat perkembangan
6. Fase penyakit cepat terdiagnosa, pengobatan dan post pengobatan.
7. Identitas kepercayaan diri, pendekatan nilai-nilai dan filosofi hidup.
8. Adanya reaksi sedih dan kehilangan
9. Pengetahuan klien tentang penyakit
10. Pengalaman masa lalu dengan penyakit.
11. Persepsi dan wawasan hidup respon klien terhadap penyakit terminal, persepsi
terhadap dirinya, sikap, keluarga, lingkungan, tersedianya fasilitas kesehatan
dan beratnya perjalanan penyakit.
12. Kapasitas individu untuk membuat psikosial kembali dalam penderitaan.

2. Fokus Sosiokultural
Klien mengekpresikannya sesuai dengan tahap perkembangan, pola kultur atau
latar belakang budaya terhadap kesehatan, penyakit, penderitaan dan kematian yang
dikomunikasikan baik secara verbal maupun non verbal.
3. Faktor presipitasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya reaksi klien terminal, yaitu:
1. Prognosa akhir penyakit yang menyebabkan kematian.
2. Faktor transisi dari arti kehidupan menuju kematian.
3. Support dari keluarga dan orang terdekat.
4. Hilangnya harga diri, karena kebutuhan tidak terpenuhi sehingga klien menarik
diri, cepat tersinggung dan tidak ada semangat hidup.
Selain itu etiologi dari penyakit terminal dapat merupakan faktor presipitasi,
diantaranya:
1. Penyakit kanker
2. Penyakit akibat infeksi yang parah/kronis
3. Congestif Renal Failure (CRF)
4. Stroke Multiple Sklerosis
5. Akibat kecelakaan yang fatal
4. Faktor perilaku
1. Respon terhadap klien
Bila klien terdiagnosa penyakit terminal maka klien akan mengalami krisis dan keadaan
ini mengakibatkan keadaan mental klien tersinggung sehingga secara langsung dapat
menganggu fungsi fisik/penurunan daya tahan tubuh.
2. Respon terhadap diagnosa
Biasanya terjadi pada klien yang terdiagnosa penyakit terminal adalah shock atau tidak
percaya perubahan konsep diri klien terancam, ekspresi klien dapat berupa emosi
kesedihan dan kemarahan.
3. Isolasi social
Pada klien terminal merupakan pengalaman yang sering dialami, klien kehilangan
kontak dengan orang lain dan tidak tahu dengan pasti bagaimana pendapat orang
terhadap dirinya.
5. Mekanisme koping
1. Denial
Adalah mekanisme koping yang berhubungan dengan penyakit fisik yang berfungsi
pelindung kien untuk memahami penyakit secara bertahap, tahapan tersebut adalah:
1. Tahap awal (initial stage)
Yaitu tahap menghadapi ancaman terhadap kehilangan “saya harus meninggal
karena penyakit ini”
2. Tahap kronik (kronik stage)
Persetujuan dengan proses penyakit “aku menyadari dengan sakit akan meninggal
tetapi tidak sekarang”. Proses ini mendadak dan timbul perlahan-lahan.
3. Tahap akhir (finansial stage)
Menerima kehilangan “saya akan meninggal” kedamaian dalam kematiannya sesuai
dengan kepercayaan.
2. Regresi
Mekanisme klien untuk menerima ketergantungan terhadap fungsi perannya.
Mekanisme ini juga dapat memecahkan masalah pada peran sakit klien dalam masa
penyembuhan.
3. Kompensasi
Suatu tindakan dimana klien tidak mampu mengatasi keterbatasannya karena penyakit
yang dialami.
Selain dari faktor-faktor yang mempengaruhi diatas, yang perlu dikaji saat pengkajian
pada klien terminal singkat “kesadaran“ antara lain adalah:
1. Belum menyadari (closed awereness)
Yaitu klien dan keluarga tidak menyadari kemungkinan akan kematian, tidak
mengerti mengapa klien sakit, dan mereka yakin klien akan sembuh.
2. Berpura-pura (mutual pralensa)
Yaitu klien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lainnya tahu prognosa
penyakit terminal.
3. Menyadari (open awereness)
Yaitu klien dan keluarga menerima/mengetahui klien akan adanya kematian dan
merasa tenang mendiskusikan adanya kematian.
Pengkajiaan adalah tahap pertama proses keperawatan. Sebelum perawat dapat
merencanakan asuhan keperawatan pada pasien yang tidak ada harapan sembuh,
perawat harus mengidentifikasi dan menetapkan masalah pasien terlebih dahulu.
Oleh karena itu tahapan itu meliputi pengumpulan data, analisis data mengenai
status kesehatan dan berakhir penegakan diagnose keperawatan, yaitu permyataan
tentang masalah pasien yang dapat di intervensi. Tujuan pengkajian adalah member
gambaran yang terus menerus mengenai kesehatan pasien yang memungkinkan tim
perawatan untuk merencanakan asuhan keperawatannya secara perseorangan.
Pengumpulan data dimulai dengan upaya untuk mengenal pasien dan
keluarganya. Siapa pasien itu dan bagaimana kondisinya akan membahayakan
jiwanya. Rencana pengobatan apa yang telah di laksanakan ? tindakan apa saja
yang telah diberikan ? adakah bukti mengenai pengetahuannya, prognosisnya dan
pada proses kematian yang mana pasien berada? Apakah ia menderita rasa nyeri?
Apakah anggota keluarganya mengetahui prognosisnya,dan bagaimana reaksi
mereka? Filsafat apa yang dianut pasien dan keluarganya mengenai hidup dan mati,
pengkajian kebutuhan,keadaan, dan masalah kesehatan/keperawatan pasien
khususnya. Sikap pasien terghadap penyakitnya,antara lain apakah pasien tabah
terhadap penyakitnya, apakah menyadari tentang keadaannya?
1. Perasaan Takut.
Kebanyakan pasien merasa takut terhadap rasa nyeri yang tidak
terkendalikan yang begitu sering di asosiakan dengan keadaan sakit
terminal, terutama bila keadaan tersebut di sebbkan oleh penyakit yang
ganas. Perawat harus menggunakan pertimbnagan yang sehat apabila
sedang merawaat orang yang sakit terminal. Perawat harus mengendalikan
rasa nyeri pasien dengan cara yang tepat.
Perasaan takut yang muncul mungkin takut terhadap rasa nyeri,
walaupun secara teori, nyeri tersebut dapat diatasi dengan obat penghilang
rasa nyeri,seperti aspirin,dehidrokodein dan dektromororamid. Apabila
orang berbicara tentang perasaan takut mereka terhadap maut, respons
mereka secara tipikal mencakup perasaan yang takut terhadap hal yang
tidak jelas,takut meninggalkan orang yang dicintai, kehilangan martabat,
urusan yang belum selesai dan sebagainya.
Kematian merupakan berhentinya kehidupan. Semua orang akan
mengalami kematian tersebut. Dalam menghadapi kematian ini, pada
umumnya orang akan merasa takut dan cemas. Ketakutan dan kecemasan
terhadap kematian ini dapat membuat pasien tegang dan stress.
2. Emosi.
Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang kematian ,antara lain
mencela dan mudah marah.
3. Tanda vital.
Perubahan fungsi tubuh sering tercermin pada suhu badan, denyut nadi,
pernafasan, dan tekanan darah. Mekanisme fisiologis yang mengaturnya
berkaitan satu sam lain. Setiap perubahan yang berlainan dengan keadaan
yang normal dianggap sebagai indikasi yang penting untuk mengenali
keadaan kesehatan seseorang.
4. Kesadaran.
Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai awas waspada, yang
merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat, didengar, dialami, dan
perasaan keseimbangan, nyeri, suhu, raba, getar gerak, gerak tekan dan
sikap, bersifat adekuat yaitu tepat dan sesuai
5. Fungsi tubuh.
Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ. Setiap organ
mempunyai fungsi khusus.
Tingkat Kesadaran
1. Komposmentis sadar sempurna
2. Apatis Tidak ada perasaan/kesadaran menurun
(masabodoh)
3. Somnolen Kelelahan (mengantuk berat)
4. Soporus Tidur lelap patologis (tidur pulas)
5. Subkoma Keadaan tidak sadar/hampir koma
6. Koma Keadaan pingsan lama disertai dengan
penurunan daya reaksi.

II. Diagnosa Keperawatan


1. Merasa kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan sosial
berhubungan dengan kondisi sakit terminal.
2. Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan kehilangan fungsi
3. Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan terminal
4. Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti, ditandai
dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah perubahan atau tidak
(fisik), raut muka klien yang cemaS
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima akan
kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang keadaan dirinya,
menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya, menghindari kontak sosial
dengan keluarga/teman, marah terhadap orang lain maupun perawat.
6. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dalam
melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit ditandai dengan
klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan ibadah sholat.
7. Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan
III. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Tujuan intervensi rasional
keperawatan

Merasa Setelah dilakukan 1. Dengarkan dengan


kehilangan tindakan keperawatan penuh empati setiap
harapan hidup dan selama 3x24 jam, pertanyaan dan
terisolasi dari diharapkan pola nafas berikan respon jika
lingkungan sosial pasien kembali efektif dIbutuhkan klien
berhubungan dengan kriteria hasil : dan gali perasaan
dengan kondisi 1. Klien merasa klien.
sakit terminal tenang 2. Berikan klien
menghadapi harapan untuk dapat
sakaratul maut bertahan hidup.
sehubungan 3. Bantu klien
dengan sakit menerima
terminal keadaannya
sehubungan dengan
ajal yang akan
menjelang.
4. Usahakan klien
untuk dapat
berkomunikasi dan
selalu ada teman di
dekatnya.
5. Perhatikan
kenyamanan fisik
klien
Kehilangan harga Setelah dilakukan 1. Gali perasaan klien
diri berhubungan tindakan keperawatan sehubungan dengan
dengan penurunan selama 3x24 jam, kehilangan.
diharapkan pola nafas
dan kehilangan pasien kembali efektif 2. Perhatikan
fungsi dengan kriteria hasil : penampilan klien
1. Mempertahankan saat bertemu
rasa aman, dengan orang lain.
tenteram, 3. Bantu dan penuhi
percaya diri, kebutuhan dasar
harga diri dan klien antara lain
martabat klien hygiene, eliminasi.
4. Anjurkan keluarga
dan teman dekat
untuk saling
berkunjung dan
melakukan hal – hal
yang disenangi
klien.
5. Beri klien support
dan biarkan klien
memutuskan
sesuatu untuk
dirinya, misalnya
dalam hal
perawatan.

Depresi Setelah dilakukan 2. Bantu klien untuk


berhubungan tindakan keperawatan mengungkapkan
dengan kesedihan selama 3x24 jam, perasaan sedih,
tentang dirinya diharapkan pola nafas marah dan lain lain.
dalam keadaan pasien kembali efektif 3. Perhatikan empati
terminal dengan kriteria hasil : sebagai wujud
1. Mengurangi rasa bahwa perawat
takut, depresi dan turut merasakan apa
kesepian
yang dirasakan
klien.
4. Bantu klien untuk
mengidentifikasi
sumber koping,
misalnya dari teman
dekat, keluarga
ataupun keyakinan
klien.
5. Berikan klien waktu
dan kesempatan
untuk
mencerminkan arti
penderitaan,
kematian dan
sekarat.
6. Gunakan sentuhan
ketika klien
menunjukkan
tingkah laku sedih,
takut ataupun
depresi, yakinkan
bahwa perawat
selalu siap
membantu.
7. Lakukan hubungan
interpersonal yang
baik dan
berkomunikasi
tentag pengalaman
– pengalaman klien
yang
menyenangkan
Cemas Setelah dilakukan 2. Kaji tingkat
berhubungan tindakan keperawatan kecemasan
dengan selama 3x24 jam, klien.
kemungkinan diharapkan pola nafas 3. Jelaskan kepada
sembuh yang pasien kembali efektif klien tentang
tidak pasti, dengan kriteria hasil : penyakitnya.
ditandai dengan 1. Klien tidak 4. Tetap mitivasi
klien selalu cemas lagi (beri dukungan)
bertanya tentang dan klien kepada klien
penyakitnya, memiliki agar tidak
adakah perubahan suatu harapan kehilangan
atau tidak (fisik), serta harapan hidup
raut muka klien semangat dengan tetap
yang cemas hidup mengikuti dan
mematuhi
petunjuk
perawatan dan
pengobatan.
5. Anjurkan
kepada klien
untuk tetap
berserah diri
kepada Tuhan
6. Datangkan
seorang klien
yang lain yang
memiliki
penyakit yang
sama dengan
klien.
7. Ajarkan kepada
klien dalam
melakukan
teknik distraksi,
misal dengan
mendengarkan
musik kesukaan
klien atau
dengan teknik
relaksasi, misal
dengan menarik
nafas dalam.
8. Beritahukan
kepada klien
mengenai
perkembangan
penyakitnya.
9. Ikut sertakan
klien dalam
rencana
perawatan dan
pengobatan.

Koping individu Setelah dilakukan 2. Gali koping


tidak efektif tindakan keperawatan individu yang
berhubungan selama 3x24 jam, positif yang pernah
dengan tidak diharapkan pola nafas dilakukan oleh
menerima akan pasien kembali efektif klien.
kematian, ditandai dengan kriteria hasil : 3. Jelaskan kepada
dengan klien yang 1. Koping individu klien bahwa setiap
selalu mengeluh positif manusia itu pasti
tentang keadaan akan mengalami
dirinya, suatu kematian dan
menyalahkan itu telah ditentukan
Tuhan atas oleh Tuhan.
penyakit yang
dideritanya, 4. Anjurkan kepada
menghindari klien untuk tetap
kontak sosial berserah diri kepada
dengan Tuhan.
keluarga/teman, 5. Perawat maupun
marah terhadap keluarga haruslah
orang lain tetap mendampingi
maupun perawat klien dan
mendengarkan
segala keluhan
dengan rasa empati
dan penuh
perhatian.
6. Hindari barang –
barang yang
mungkin dapat
membahayakan
klien.
7. Tetap memotivasi
klien agar tidak
kehilangan harapan
untuk hidup.
8. Kaji keinginan
klien mengenai
harapa untuk
hidup/keinginan
sebelum menjelang
ajal.
9. Bantu klien dalam
mengekspresikan
perasaannya.
Distress spiritual Setelah dilakukan 2. Kaji tingkat
berhubungan tindakan keperawatan pengetahuan
dengan kurangnya selama 3x24 jam, klien mengenai
pengetahuan klien diharapkan pola nafas ibadah..
dalam pasien kembali efektif 3. Ajarkan pada
melaksanakan dengan kriteria hasil : klien cara
alternatif ibadah 1. Kebutuhan ibadah dalam
dalam keadaan spiritual keadaan
sakit ditandai dapat berbaring.
dengan klien terpenuhi 4. Datangkan
merasa lemah dan yaitu dapat seorang ahli
tidak berdaya melakukan agama.
dalam melakukan ibadah
ibadah dalam
keadaan
sakit
Inefektif koping Setelah dilakukan 2. Motivasi keluarga
keluarga tindakan keperawatan untuk
berhubungan selama 3x24 jam, menverbalisasikan
dengan diharapkan pola nafas perasaan –
kehilangan pasien kembali efektif perasaan antara
dengan kriteria hasil : lain : sedih, marah
1. Membantu dan lain – lain.
individu 3. Beri pengertian
menangani dan klarifikasi
kesedihan terhadap perasaan
secara efektif – perasaan
anggota keluarga.
4. Dukung keluarga
untuk tetap
melakukan
aktivitas sehari –
hari yang dapat
dilakukan.
5. Bantu keluarga
agar mempunyai
pengaharapan
yang realistis.
6. Berikan rasa
empati dan rasa
aman dan
tenteram dengan
cara duduk
disamping
keluarga,
mendengarkan
keluhan dengan
tetap
menghormati
klien serta
keluarga.
7. Berikan
kesempatan pada
keluarga untuk
melakukan
upacara
keagamaan
menjelang saat –
saat kematian.