You are on page 1of 12

HUBUNGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR DENGAN KEJADIAN

IKTERUS NEONATORUM PADA BAYI


BARU LAHIR DI RSUD PANEMBAHAN
SENOPATI BANTULTAHUN 2009

Ika Susilowati¹ , Anjarwati²

Abstract: This research was conducted at hospitals in Bantul Senopati Panembahan which aims
to know the relationship of birth weight infants with the incidence of neonatal jaundice in
newborns in hospitals in Bantul Senopati Panembahan year 2009. This study uses an analytical
survey with retrospective time approach. The population in this study were all infants with
neonatal jaundice is both a physiological and pathological perinatal care room Panembahan
Senopati Bantul District Hospital in 2009. The sampling technique used is random sampling
system so that the total sample of 127 infants. Data collection tool used is the guidance
documentation by chi square test. Based on the results obtained chi square χ ² value of 0.507 on 2
degrees of freedom with a significance level of 0.476 thus giving the conclusion that no
correlation between low birth weight baby with the incidence of neonatal jaundice in newborns
in hospitals in Bantul Senopati Panembahan year 2009.

Kata kunci: Ikterus neonatorum, Berat badan bayi lahir

PENDAHULUAN

Di Indonesia Angka Kematian Ibu 17/1000 KH (http://one.indoskripsi.com,


(AKI) dan Angka Kematian Balita (AKB) , 2009).
berdasarkan perhitungan Badan Pusat Di Indonesia, proyeksi pada tahun
Statistika (BPS) diperoleh AKI tahun 2007 2025 AKB dapat turun menjadi 18 per 1000
sebesar 248/100.000 KH. Jika dibandingkan kelahiran hidup. Salah satu penyebab
dengan AKI tahun 2002 sebesar mortalitas pada bayi baru lahir adalah
307/100.000 KH, AKI tersebut sudah jauh ensefalopati bilirubin (lebih dikenal sebagai
menurun, namun masih jauh dari target kernikterus). Ensefalopati bilirubin
MDGs 2015 (102/100.000 KH) sehingga merupakan komplikasi ikterus neonatorum
masih memerlukan kerja keras dari semua yang paling berat. Selain memiliki angka
komponen untuk mencapai target tersebut. mortalitas yang tinggi, juga dapat
Sementara untuk AKB, berdasarkan menyebabkan gejala sisa berupa cerebral
perhitungan dari BPS, pada tahun 2007 palsy, tuli nada tinggi, paralisis dan displasia
diperoleh AKB sebesar 26,9/1000 KH. dental yang sangat mempengaruhi kualitas
Angka ini sudah jauh menurun hidup (http://one.indoskripsi.com, 2009).
dibandingkan tahun 2002-2003 sebesar Selain itu, dari beberapa
35/1000 KH dan upayanya akan lebih ringan penyelidikan kematian neonatal di beberapa
bila dibandingkan dengan upaya pencapaian rumah sakit Indonesia menunjukan bahwa
target MDGs untuk penurunan AKI. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kematian
target AKB pada MDGs 2015 sebesar neonatal adalah faktor ibu yang
mempertinggi kematian neonatal atau
1
perinatal (Hight Risk Mother) dan faktor 13,7% hingga 85% (www.yanmedik-
bayi yang mempertinggi kematian perinatal depkes.net, 2009).
atau neonatal (High Risk Infant). Termasuk Sepanjang tahun 2008, angka
dalam High Risk Infant antara lain BBLR, kematian bayi di Bantul tercatat 170 orang
prematur, asfiksia, dan ikterus neonatorum atau naik sekitar 55 persen dari tahun 2007.
(Wiknjosastro, 2005:736). Sebagian besar karena gagal napas saat
Kondisi darurat neonatal yang sering proses lahir, berat bayi lahir rendah yakni
dijumpai di beberapa rumah sakit terkait kurang dari 2,5 kilogram, dan kelainan
kematian neonatus adalah peningkatan kadar bawaan. Ada beberapa hal penting yang
bilirubin darah (ikterus). Kejadian ikterus harus diamati saat bayi lahir, yakni
pada bayi baru lahir berkisar 50% pada bayi tangisannya, jantungnya, gerakan
cukup bulan dan 75% pada bayi yang refleksnya, warna, kulit, berat, dan napasnya
kurang bulan (Wiknjosastro, 2005:752). (http://kesehatan.kompas.com, 2009).
Ikterus neonatorum merupakan Risiko terjadinya ikterus pada bayi
fenomena biologis yang timbul akibat baru lahir meningkat 80% pada bayi
tingginya produksi dan rendahnya ekskresi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah
bilirubin selama masa transisi pada jika dibandingkan dengan bayi yang cukup
neonatus. Pada neonatus produksi bilirubin bulan. Peningkatan risiko tersebut terjadi
2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang akibat kondisi organ yang belum matur
dewasa normal. Hal ini dapat terjadi karena terutama organ hepar karena akan
jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak mengganggu jalannya metabolisme tersebut
dan usianya lebih pendek ( www.yanmedik- (Berhman dkk, 2004: 592).
depkes.net, 2009). Tanggapan pemerintah terkait
masalah kematian perinatal dan neonatal
Banyak bayi baru lahir, terutama yang diutamakan adalah dengan
bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500 g pemeliharaan kesehatan ibu dan bayi. Hal
atau usia gestasi <37 minggu) mengalami ini tercakup dalam rencana strategi nasional
ikterus pada minggu pertama kehidupannya. Making Pregnancy Safer melalui 3 pesan
Data epidemiologi yang ada menunjukkan kunci, yaitu setiap persalinan harus ditolong
bahwa lebih 50% bayi baru lahir menderita oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap
ikterus yang dapat dideteksi secara klinis komplikasi obstetri dan neonatal mendapat
dalam minggu pertama kehidupannya pelayanan yang adekuat, dan setiap wanita
( www.yanmedik-depkes.net, 2009). subur mempunyai akses terhadap
Di Amerika Serikat, sebanyak 65 % pencegahan kehamilan yang tidak
bayi baru lahir menderita ikterus dalam diinginkan dan penanganan komplikasi
minggu pertama kehidupannya. Di keguguran (Depkes RI, 2004, 58-63).
Malaysia, hasil survei pada tahun 1998 di Menyongsong Indonesia sehat tahun
rumah sakit pemerintah dan pusat kesehatan 2010, tenaga kesehatan sangat berperan
di bawah Departemen Kesehatan didalamnya, sehingga dapat meningkatkan
mendapatkan 75% bayi baru lahir menderita derajat kesehatan yang optimal. Dalam
ikterus dalam minggu pertama rangka mewujudkan tingginya angka
kehidupannya. Di Indonesia, insidens ikterus kesehatan di Indonesia, Bidan juga memiliki
neonatorum pada bayi cukup bulan maupun peran didalamnya untuk menurunkan angka
kurang bulan di beberapa RS pendidikan kematian ibu dan angka kematian bayi.
antara lain RSCM, RS Dr. Sardjito, RS Dr. Dalam melaksanakan tugasnya, bidan tidak
Soetomo, RS Dr. Kariadi bervariasi dari hanya memberikan pelayanan, tetapi bisa
2
juga menjadi konseling dan menjadi Masyarakat sendiri mengganggap
pendengar yang baik bagi setiap orang yang ikterus adalah penyakit yang berbahaya,
membutuhkannya. Bidan harus tahu apa khususnya ibu-ibu yang mempunyai bayi
sebenarnya yang dibutuhkan oleh kliennya ikterus merasa sangat cemas dan
(pasien) sehingga dapat memberikan menganggap penyakit ikterus sangat
pelayanan yang tepat sesuai dengan memerlukan perhatian dan perawatan
kebutuhan klien tersebut.Seorang Bidan khusus karena dapat menyebabkan kematian
akan kelihatan sempurna (perfect) apabila (Nurhayati, 2002: 45).
memilki 3 kriteria, yaitu: Knowledge Berdasarkan studi pendahuluan yang
(pengetahuan), Actittut (sikap), Practise dilakukan penulis pada tanggal 17
(keterampilan). Didalam memberikan September 2009 diperoleh data dari rekam
asuhan seorang bidan harus lebih medik di bagian perinatal. Selama tahun
meningkatkan gerakan sayang ibu dan 2008 terdapat kelahiran sebanyak 1.513
gerakan sayang bayi. Terkait peran bidan bayi. Dari sekian bayi ada 124 bayi (8,2%)
dalam kasus ikterus neonatorum ini, bidan kasus ikterus neonatorum. Sedangkan pada
bisa memberikan konseling kepada ibu-ibu tahun 2009 terdapat kelahiran bayi sebanyak
hamil khususnya untuk memeriksakan 1.762 bayi dan dari sekian bayi ada 204
kondisi kesehatan ibu dan janin agar (11,58%) bayi yang mengalami ikterus
kesehatannya dapat dipantau dan dapat neonatorum. Sedangkan bayi yang BBLR
dicegah apabila memang ada ada 326 bayi.
ketidaknormalan yang ditemui. Selain itu, Berdasarkan latar belakang
bidan juga bisa memberikan penyuluhan tersebut, angka kejadian ikterus neonatorum
seperti apakah ikterus neonatorum itu sendiri dari tahun 2008 ke tahun 2009
sehingga masyarakat luas khususnya para mengalami peningkatan yang cukup tinggi,
ibu akan lebih waspada dan melakukan maka peneliti berminat untuk mengadakan
pencegahan agar kasus ikterus neonatorum penelitian di RSUD Panembahan Senopati
ini bisa dihindari (http://petromandauhusada. Bantul terkait dengan hubungan bayi berat
wordpress.com, 2008). lahir rendah dengan kejadian ikterus
neonatorum.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode atau akibat yang telah terjadi. Kemudian
survey analitik dengan menggunakan studi dari efek tersebut ditelusuri penyebabnya
dokumentasi untuk mengetahui seberapa atau variabel-variabel yang mempengaruhi
jauh variabel bebas sebagai faktor risiko akibat yang telah terjadi. Dengan kata lain,
memberikan kontribusi terhadap variabel penelitian ini dimulai dari dependent
terikat yang merupakan efek (Notoatmodjo, variables, kemudian dicari independent
2005: 145). Dalam penelitian ini menelaah variables-nya (Notoatmodjo, 2005: 150).
masalah hubungan berat badan bayi lahir Pendekatan dalam retrospektif dalam
dengan keadian ikterus neonatorum pada penelitian ini diidentifikasi terlebih dahulu
bayi baru lahir di RSUD Panembahan kejadian ikterus neonatorum kemudian
Senopati selama tahun 2009. ditelusuri apakah bayi tersebut dilahirkan
Desain penelitian ini menggunakan dengan berat badan lahir cukup ataupun
pendekatan waktu secara retrospektif yaitu kurang.
proses pengumpulan data dimulai dari efek
3
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan di RSUD disebabkan 3 faktor yaitu faktor ibu,


Panembahan Senopati Bantul pada Februari janin, dan lingkungan.
2010 yang bertujuan untuk mengetahui Faktor dari ibu antara lain faktor
hubungan bayi berat lahir rendah dengan penyakit yang berhubungan langsung
kejadian ikterus neonatorum pada bayi baru dengan kehamilan misalnya perdarahan
lahir di RSUD Panembahan Senopati Bantul antepartum, toksemia gravidarum, DM,
tahun 2009. RSUD Panembahan Senopati trauma fisik dan psikologis. Faktor usia
adalah rumah sakit umum milik pemerintah ibu yang memberikan faktor tertinggi
kabupaten Bantul yang didirikan sejak tahun penyebab bayi berat lahir rendah adalah <
1953 dan beralamatkan di Jl. Dr. Wahidin 20 tahun atau multigravida. Sedangkan
Sudiro Husodo Bantul 55714. faktor lain adalah keadaan sosial ekonomi
Luas bangunan RSUD Panembahan ibu. Kejadian tertinggi terdapat pada
Senopati seluas 2,5 Ha, dengan luas golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini
bangunan 8.350 m². RSUD Panembahan disebabkan oleh keadaan gizi yang
Senopati merupakan salah satu unit kurang baik dan pengawasan antenatal
pelayanan kesehatan yang buka 24 jam. yang kurang. Selain itu ibu yang
Berdasarkan hasil penelitian dapat mempunyai kebiasaan merokok,
diketahui bahwa sebagian besar peminum alkohol dan pecandu obat
responden bayi berat lahir rendah dengan narkotik lebih mempunyai risiko. Selain
berat badan lahir cukup yaitu sebanyak faktor ibu, ada juga faktor janin yang
124 bayi (97,6%) sedangkan responden antara lain hidramnion, kehamilan ganda
yang paling sedikit adalah bayi berat lahir maupun karena faktor kelainan
rendah dengan berat badan lahir kurang kromosom. Sedangkan faktor selanjutnya
yaitu sebanyak 3 bayi (2,4%). Bayi berat adalah lingkungan dimana di daerah
lahir rendah merupakan bayi yang lahir dataran tinggi lebih berisiko karena
dengan berat badan kurang dari 2500 radiasi dan zat-zat beracunnya (Sitohang
gram sebagaimana dinyatakan Hasan N, 2009). Hasil penelitian menunjukan
(2002). bahwa responden yang mengalami
Kejadian BBBL terutama yang kejadian ikterus fisiologis yaitu sebanyak
BBLR banyak faktor penyebabnya, antara 18 bayi (14,2%) sedangkan responden
lain kurangnya asupan gizi yang yang mengalami kejadian ikterus
dikonsumsi ibu sewaktu hamil sehingga patologis sebanyak 109 bayi (85,8%).
pertumbuhan dan perkembangan janin Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
terganggu. Cunningham (2002) responden yang mengalami kejadian
menyatakan bahwa gizi yang buruk ikterus patologis lebih banyak dibanding
sangat berisiko terjadinya abortus karena yang mengalami ikterus fisiologis.
makanan kurang diserap oleh plasenta, Kejadian ikterus neonatorum terjadi
sehingga janin terlambat pertumbuhan karena berbagai macam faktor risiko yang
dan perkembangannya. Secara umum mungkin menyebabkannya. Salah satunya
penyebab bayi berat lahir rendah bayi yang mengalami infeksi yaitu
sebanyak 61 bayi (48%). Bayi yang
4
mengalami infeksi menyebabkan dismatur mempunyai organ-organ tubuh
penurunan daya gabung bilirubin yang kurang berkembang sempurna. Hal
terhadap albumin yang mempengaruhi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor
peningkatan kadar bilirubin indirek seperti halnya yang dikatakan oleh Sarwono
(Depkes RI, 2004, 42). Pada penelitian ini (2001) bahwa bayi yang lahir dengan berat
didapatkan informasi bahwa sebagain lahir rendah lebih berisiko mengalami
besar responden bayi dalam kondisi tidak berbagai gangguan salah satunya
mengalami infeksi sehingga hiperbilirubinemia. Hal tersebut dikarenakan
kemungkinan kejadian ikterus yang belum sempurnanya kinerja alat tubuh yang
dialami responden bukan karena faktor diperlukan untuk tumbuh kembangnya.
infeksi. Hasil uji statistik pada penelitian ini
Selain itu menurut Depkes (2004), yang dihitung dengan menggunakan chi
jenis persalinan yang mungkin square menunjukan hasil nilai χ² sebesar
menyebabkan trauma pada bayi juga ikut 0,507 pada derajad kebebasan 2 dengan taraf
berperan, bayi yang lahir spontan 94 bayi signifikansi 0,476. Dengan hasil nilai χ²
(74%) sedangkan bayi yang lahir dengan yang > 0,05 dan nilai signifikansi < 0,05,
tindakan 25 bayi (19,9%) dan induksi 8 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada
bayi (6,3%). Pada penelitian ini hubungan antara berat badan bayi lahir
didapatkan informasi bahwa sebagain dengan kejadian ikterus neonatorum pada
besar responden bayi dilahirkan secara bayi baru lahir di RSUD Panembahan
spontan sehingga kemungkinan kejadian Senopati Bantul tahun 2009.
ikterus yang dialami responden bukan Hasil penelitian ini didukung oleh
karena faktor dari jenis persalinan. penelitian yang pernah dilakukan
BBLR juga merupakan salah satu sebelumnya antara lain penelitian oleh
faktor yang dapat menyebabkan kejadian Casminah (2005) dengan judul penelitian
ikterus neonatorum pada bayi sebagaimana Hubungan Tindakan Induksi Persalinan
dinyatakan oleh Depkes (2004). Pada bayi dengan Kejadian Ikterus Neonatorum pada
dengan berat lahir rendah, organ-organ Bayi Baru Lahir di RS PKU
tubuhnya belum matang termasuk organ Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2004.
hati. Dengan kondisi hati yang belum Dari hasil penelitian menunjukkan tidak ada
matang maka metabolism bilirubin pun akan hubungan. Penelitian pendukung
terganggu karena hati tidak mampu selanjutnya oleh Adriyati (2008) dengan
mengubah bilirubin indirek menjadi judul penelitian Hubungan Kelahiran
bilirubin direk. Hasil penelitian menunjukan Prematur dengan Kejadian Ikterus
bahwa sebagian besar responden adalah bayi Neonatorum pada Bayi Baru Lahir di RSUD
yang lahir berat badan lahir cukup dan Wates Kulon Progo tahun 2007 dengan hasil
mengalami ikterus patologis yaitu sebanyak tidak ada hubungan juga. Penelitian yang
106 bayi (97,2%) sedangkan responden yang juga mendukung adalah dari sumber jurnal
paling sedikit bayi yang lahir berta badan dengan judul pengaruh hiperbilirubinemia
lahir cukup dan mengalami ikterus patologis pada neonates cukup bulan terhadap
yaitu sebanyak 3 bayi (2,8%). Penelitian ini perkembangan anak usia 3-5 tahun, yang
memberikan gambaran bahwa bayi yang dilakukan oleh Andreas mahasiswa Instalasi
lahir dengan berat badan cukup dari berat IMP RS. Dr Sarjito Yogyakarta dengan hasil
badan yang seharusnya untuk massa penelitian tidak ada pengaruh. Sehingga
kehamilan lebih cenderung mengalami kemungkinan faktor lainlah yang memang
ikterus fisiologis. Bayi yang lahir dengan berpengaruh.
5
Selain itu penelitian yang berhubungan disebabkan oleh faktor maternal seperti usia
dengan penelitian ini oleh Sulistyowati ibu dan jenis pekerjaan ibu. Hasil penelitian
(2006) dengan judul penelitian Hubungan ini menunjukan usia ibu yang anaknya
Umur Kehamilan dengan Kejadian Ikterus sebagian besar mengalami ikterus adalah
Neonatorum pada Bayi Baru Lahir di RSUD pada usia 20-35 tahun yaitu sebanyak 107
Wates Kulon Progo bulan April 2005-Maret ibu (83,3%), < 20 tahun 3 ibu (2,4%), dan >
2006 dengan hasil penelitian yang 35 ada 17 ibu (13,4%). Hasil penelitian yang
menunjukan ada hubungan. Karena memang menunjukan perbedaan yang signifikan ini
dalam penelitian ini kedua faktor tersebut mengasumsikan bahwa kejadian ikterus
saling mempengaruhi. neonatorum di RSUD Panembahan Senopati
ini bukan disebabkan karena faktor usia ibu.
Berdasarkan beberapa penelitian pendukung
Sedangkan untuk jenis pekerjaan ibu
diatas dapat disimpulkan bahwa
didapatkan hasil sebagian besar adalah
kemungkinan faktor penyebab kejadian
sebagai buruh sebanyak 54 ibu (42,5%),
ikterus di RSUD Panembahan Senopati
swasta 44 ibu (36,6%), PNS 4 ibu (3,1%),
Bantul adalah faktor-faktor lain yang
tani 8 ibu (6,3%), mahasiswa 1 ibu (0,8%),
memang secara teoritis berpengaruh seperti
IRT 14 ibu (11%), dan karyawan 2 ibu
yang telah dipaparkan pada tinjauan teori.
(1,6%). Dari hasil penelitian ini menunjukan
Ladewig (2005) mengatakan bahwa kejadian angka signifikasi yang jauh sehingga
ikterus patologis umumnya dihubungkan kejadian ikterus pada bayi di RSUD
dengan perbedaan golongan darah, infeksi, Panembahan Senopati bukan disebabkan
maupun ketidaknormalan metabolik. Pada karena faktor pekerjaan ibu. Selain itu
hasil penelitian ini menunjukan hasil umur kebanyakan ibu yang bersalin disana tidak
bayi terbanyak adalah 1 hari yaitu sebanyak terbiasa melakukan ANC di RSUD tersebut
84 bayi (66,2%). Dengan perbandingan yang sehingga kurang dapat dipantau atau
cukup signifikan dapat diasumsikan bahwa diketahui apakah ibu itu memang melakukan
kejadian ikterus neonatorum di RSUD ANC secara berkualitas.
Panembahan Senopati tidak disebabkan Menurut Suriadi (2001) kejadian
karena faktor umur bayi. Selain itu dari hasil ikterus neonatorum dapat disebabkan oleh
penelitian yang menunjukan bahwa bayi prematuritas. Hasil penelitian menunjukan
yang mengalami infeksi sebanyak 61 bayi bahwa jumlah bayi yang lahir premature
(48%), sedang bayi ynag tidak mengalami sebanyak 12 bayi (9,4%) dan yang matur
infeksi sebanyak 66 bayi (52%). Dengan sekitar 115 bayi (90,6%). Dengan melihat
melihat perbandingan antara bayi yang perbandingan jumlah bayi yang mengalami
mengalami infeksi dengan bayi yang tidak ikterus berdasarkan prematuritas
mengalami infeksi yang hampir sama, diasumsikan kejadian ikterus pada bayi di
memberikan gambaran bahwa kemungkinan RSUD Panembahan Senopati Bantul bukan
kejadian ikterus yang dialami bayi di RSUD disebabkan karena prematuritas. Dengan
Panembahan Senopati disebabkan oleh banyaknya kasus patologi yang bermunculan
kejadian infeksi. Hal ini sesuai dengan di RSUD ini, pihak RSUD terkait telah
faktor-faktor yang merupakan risiko ikterus melakukan berbagai upaya antara lain
salah satunya adalah infeksi (Depkes RI, dengan melakukan KIE pada pasien dan
2004). melakukan berbagai macam bentuk upaya
Masih menurut Depkes RI (2004) untuk memaksimalkan pelayanan.
kejadian ikterus neonatorum dapat

6
55;
43% laki-laki

72; perempu
57% an

Gambar 1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

5; 4; 3% 4; 3%
1 hari
4%
2; 2% 1; 1% 2 hari
5; 4%
9; 3 hari
7%
4 hari
10; 8% 84;
68% 5 hari
6 hari

Gambar 2. Karakteristik responden berdasarkan umur bayi

8; 14; 2; 2% buruh
6% 11%
4; 54;
3% swasta
42%

44; PNS
35%

Gambar 3. Karakteristik berdasarkan pekerjaan ibu

17;
14% 3; 2%
< 20
20-35
>35
107;
84%

Gambar 4. Karakteristik responden berdasarkan umur ibu

7
12;
9% prematu
re
matur
115;
91%

Gambar 5. Karakteristik responden berdasarkan umur kehamilan

25;
8; 6%
20% spontan
tindakan
94; induksi
74%

Gambar 6. Karakteristik responden berdasar jenis persalinan

66;
52% infeksi
61;
48%
tidak
infeksi

Gambar 7. Karakteristik responden berdasar jenis penyakit

3; 2%
kurang

normal
124;
98%

Gambar 8. Kejadian berat badan bayi lahir

8
18;
14% fisiologi
s
patologi
109; s
86%

Gambar 9. Kejadian ikterus neonatorum

Tabel 4. 1.

Tabulasi Silang Hubungan Berat Badan Bayi Lahir Dengan Kejadian Ikterus Neonatorum

di RSUD Panembahan Senopati Bantul Tahun 2009

Kejadian ikterus Fisiologis Patologis Total

No BBLR F % F % F %

1. Kurang 0 0 3 2,8 3 2,8

2. Cukup 18 100 106 97,2 124 97,2

Jumlah 18 100 109 100 127 100

Sumber: data sekunder 2009.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan 2. Sebagian besar responden dengan berat


pembahasan dapat diambil kesimpulan badan lahir cukup yaitu sebanyak 124
sebagai berikut: bayi (97,6%).
1. Jumlah bayi yang mengalami ikterus 3. Hasil uji chi square diperoleh nilai χ²
neonatorum adalah sebanyak 204 bayi. 0,507 pada derajad kebebasan 2 dengan
Sebagain besar responden adalah taraf signifikansi 0,476 sehingga
sebagian besar adalah bayi ikterus yang disimpulkan tidak ada hubungan berat
patologis yaitu sebanyak 109 bayi badan bayi lahir dengan kejadian ikterus
(85,8%). neonatorum pada bayi baru lahir di
RSUD Panembahan Senopati Bantul
tahun 2009.

9
Saran

1. Bagi ibu hamil Agar lebih meningkatkan segala macam


Agar lebih memperhatikan kondisi ibu bentuk pelayanan kesehatan. Misalnya
dan janin sejak dalam kandungan untuk khusus ibu hamil dengan mengadakan
selalu memantau perkembangan melalui penyuluhan tentang tanda bahaya BBLR
Ante Natal Care (ANC) yang rutin dan dan cara pencegahannya ataupun dengan
berkualitas seak kunjungan pertama cara memberikan konseling saat
ANC. pelayanan.
2. Bagi Pihak Pengguna rekam medik 4. Bagi Peneliti selanjutnya
Untuk lebih menuliskan data terkait Agar melanjutkan penelitian dengan
dengan lengkap sehingga data tersebut menggali faktor asupan ASI karena
dapat lebih informatif. rendahnya supan atau tidaknya ASI akan
3. Bagi Tenaga Kesehatan di RSUD berpengaruh pada kejadian ikterus
Panembahan Senopati neonatorum.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian


Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Briscoe dkk. 2002. Pemeriksaan Bilirubin.
Cipta. Jakarta. EGC. Jakarta. 572.
Andreas. 2006. Pengaruh Casminah. 2005. Hubungan Tindakan
Hiperbilirubinemia pada Neonatus Induksi Persalinan dengan
Cukup Bulan terhadap Kejadian Ikterus Neonatorum pada
Perkembangan Anak Usia 3-5 Bayi Baru Lahir di RS PKU
tahun 1 Agustus 1999-2001 di Muhammadiyah Yogyakarta Tahun
Instalasi IMP RS Dr. Sarjito 2004. Karya Tulis Ilmiah tidak
Yogyakarta. Sekolah Pascasarjana diterbitkan. Yogyakarta: Program
UGM Yogyakarta. Studi Kebidanan Jenjang Diploma
Adriyani, R. 2008. Hubungan Kelahiran III STIKes ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Prematur dengan Kejadian Ikterus Depkes. R.I. 2004. Pelayanan Kesehatan
Neonatorum pada Bayi Baru Lahir Neonatal Essensial. Jakarta.
di RSUD Wates Kulon Progo bulan
april 2005-Maret 2007. Karya Dennery PA, Seidman DS, Stevenson DK.
Tulis Ilmiah tidak diterbitkan. Neonatal hyperbilirubinemia. N
Yogyakarta: Program Studi Engl J Med 2001;344:581-90.
Kebidanan Jenjang Diploma III
STIKes ‘Aisyiyah Yogyakarta. DR. H. Moeloek, Abdul. 2008. Hubungan
____________. 2007. Berat Badan lahir Rendah dengan
http://one.indoskripsi.com . Timbulnya Ikterus Patologis pada
Diakses 30 September 2009. Neonatus di RSUD DR H. Abdul
Behrman, R. E., Kliegman, R. M., dan Moeloek periode Januari 2006 –
Jenson, H. B., 2004. Nelson Desember 2007.
textbook of Pediatric, 17 edition, http://skripsi.unila.ac.id. diakses 25
Saunders, Philadelphia. Juli 2009.
10
___________.2009.http://smallscrab.com. __________.2009.
diakses 20 Desember 2009. http://www.klikdokter.com. Tanda
Gejala Ikterus. Diakses 27
Hilmansyah, H. 2006. Ikterus November 2009.
Neonatorum.www.yanmedik.depke
s.net. Diakses 13 Oktober 2009. __________.2008. Peran Bidan Dalam
Menyongsong Indonesia Sehat.
Handoko.2009. http://one.indoskripsi.com. http://petromandauhusada.wordpres
Masalah BBLR di Indonesia. s.com, diakses 08 Februari 2010.
Diakses 16 Januari 2010.
Khosim S, Indarso F, Irawan G, Hendrarto Rennie MJ, Roberton NRC. 2002. A manual
TW. Buku acuan pelatihan of neonatal intensive care. edisi
pelayanan obstetri Neonatal ke-4. London : Arnold. 414
Emergensi Dasar. Jakarta : Depkes
RI, 2006; 58-63. Rahayu, E. Bayi Berat Lahir Rendah.
www.tabloid-nakita.com. Diakses
Mansjoer, A. 2000.Ikterus Neonatorum. 22 Mei 2009.
EGC. Jakarta.504.
Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi ____________. 2008.
Penelitian Kesehatan. Rineka http://library.usu.ac.id. Diakses 16
Cipta. Jakarta. Januari 2010.
Nurhayati. 2002. Hubungan Tingkat
Pengetahuan dengan Tingkat Sitohang, A. 2004. Asuhan keperawatan
Kecemasan Ibu yang Mempunyai Pada BBLR. http://librari.usu.ic.id.
Bayi Ikterus Neonatorum di RSU Diakses 15 Januari 2010.
PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Tahun 2002. Karya Tulis Ilmiah Sugiyono. 2006. Statistik Untuk Penelitian.
tidak diterbitkan. Yogyakarta: Alfabeta. Bandung.
Program Studi Kebidanan Jenjang
Diploma III STIKes ‘Aisyiyah Sulistyowati. 2006. Hubungan Umur
Yogyakarta. Kehamilan dengan Kejadian
Noortiningsih, 28 Januari 2003. Bayi Ikterus Neonatorum pada Bayi
Kuning dan ketidakcocokan Baru Lahir di RSUD Wates Kulon
Golongan Darah. Progo bulan april 2005-Maret
www.republika.co.id, 16 Januari 2006. Karya Tulis Ilmiah tidak
2010 ). diterbitkan. Yogyakarta: Program
_______,2010.asuhan keperawatan ikterik Studi Kebidanan Jenjang Diploma
pada bayi. http://eprints.ums.ac.id. III STIKes ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Prawiroharjo, S. 2006. Buku Acuan
Neonatal dan Pelayanan Sylvia. 2002. Hiperbilirubinemia.
Kesehatan Maternal dan Neonatal. www.pediatric.com, 22 Desember
Jakarta. 2009.
Prihtiyani. 2009. Tingkat pemberian ASI Surasmi, Asrining., Handayani, S., Kusuma,
Eksklusif Baru 40 Persen. H. N., 2003. Perawatan Bayi
http://kesehatan.kompas.com, Risiko Tinggi. Buku Kedokteran
diakses 08 Februari 2010. EGC. Jakarta.59.
11
Sylviati. 2009. www.pediatrik.com. Diakses Wiknjosastro, H, 2005. Ilmu Kebidanan.
22 Desember 2009. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo. Jakarta.
Suriadi, Yuliana, rita. 2001. Asuhan WHO. 2002. Ikterus Neonatorum. Depkes
keperawatan Pada Anak. PT Fajar RI.
Interpratama. Jakarta: 144. ________, studi korelasi berat badan lahir
dengan rupture perineum persalinan
Surasmi, Asrining., Handayani, S., Kusuma, normal pada primigravid di BPS nurjanah,
H. N., 2003. Perawatan Bayi http://ejournal.unud.ac.id, 2010
Risiko Tinggi. Buku Kedokteran Yulianti. 2009. Landasan Teori Bayi Berat
EGC. Jakarta.57. Lahir Rendah. http://artykel-
Suresh dkk. 2004. Penatalaksanaan Ikterus kebidanan.blogspot.com. Diakses
neonatorum. EGC. Jakarta. 569. 16 Januari 2010.
Sylviati. 2002. Hiperbilirubinemia. Yuli.2009. Ikterus Neonatorum.
www.pediatric.com. diakses 22 www.yanmedik-depkes.net.
Desember 2009. Diakses 26 Oktober 2009.

12