You are on page 1of 13

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS

A. Pengertian

Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom)yang terdiri dari rasa


tidak enak/sakit diperut bagian atas yang dapat puladisertai dengan keluhan lain, perasaan
panas di dada daerah jantung(heartburn), kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang,
sendawa,anoreksia, mual, muntah, dan beberapa keluhan lainnya (Warpadji Sarwono,et
all, 1996, hal. 26)

Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada saluran penceranaan,khususnya


lambung.(http://www.scribd.com/doc/3949918/dispepsiadi akses tanggal 22Agustus 2010)

Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiridari rasa tidak


enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks
gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung
kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488).

Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu:

1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya

2. Dispepsia non organik, atau dispepsia fungsional, atau dispepsia nonulkus (DNU), bila
tidak jelas penyebabnya.

B. Anatomi dan Fisiologi.

1. Anatomi

Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomenatas tepat dibawah
diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung J, dan bila penuh
berbentuk seperti buah alpukat raksasa. Kapasitasnormal lambung 1 sampai 2 liter.
Secara anatomis lambung terbagi atasfundus, korpus dan antrum pilorus. Sebelah atas
lambung terdapatcekungan kurvatura minor, dan bagian kiri bawah lambung
terdapatkurvatura mayor. Sfingter kedua ujung lambung mengatur pengeluarandan
pemasukan. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkanmakanan yang
masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambungmemasuki esofagus kembali.
Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia.
Disaat sfingter pilorikum berelaksasi makanan masuk kedalam duodenum, dan ketika
berkontraksisfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isis usus halus
kedalamlambung.Lambung terdiri dari empat lapisan yaitu :

a. lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa.

b. Lapisan berotot yang terdiri atas 3 lapisan :

1) Serabut longitudinal, yang tidak dalam dan bersambungdengan otot esophagus

2) Serabut sirkuler yang palig tebal dan terletak di pylorusserta membentuk otot
sfingter, yang berada dibawah lapisan pertama.

3) Serabut oblik yang terutama dijumpai pada funduslambung dan berjalan dari
orivisium kardiak, kemudian membelok kebawah melalui kurva tura minor
(lengkung kelenjar).

c. Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluhdarah dan
saluran limfe.

d. Lapisan mukosa yang terletak disebelah dalam, tebal, dan terdiri atas banyak kerutan/
rugae, yang menghilang bila organ itu mengembangkarena berisi makanan.

Ada beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini dan dikategorikan menurut bagian
anatomi lambung yang ditempatinya.Kelenjar kardia berada dekat orifisium kardia.
Kelenjar inimensekresikan mukus. Kelenjar fundus atau gastric terletak di fundusdan
pada hampir selurus korpus lambung. Kelenjar gastrik memilikitipe-tipe utama sel. Sel-
sel zimognik atau chief cells mensekresikan pepsinogen. Pepsinogen diubah menjadi
pepsin dalam suasana asam.Sel-sel parietal mensekresikan asam hidroklorida dan faktor
intrinsik.Faktor intrinsik diperlukan untuk absorpsi vitamin B 12 di dalam usushalus.
Kekurangan faktor intrinsik akan mengakibatkan anemia pernisiosa. Sel-sel mukus
(leher) ditemukan dileher fundus atau kelenjar-kelenjar gastrik. Sel-sel ini
mensekresikan mukus. Hormon gastrindiproduksi oleh sel G yang terletak pada pylorus
lambung. Gastrinmerangsang kelenjar gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida
dan pepsinogen. Substansi lain yang disekresikan oleh lambung adalahenzim dan
berbagai elektrolit, terutama ion-ion natrium, kalium, danklorida.Persarafan lambung
sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum
dihantarkan ke dan dariabdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus mempercabangkan
ramusgastrik, pilorik, hepatik dan seliaka. Pengetahuan tentang anatomi inisangat
penting, karena vagotomi selektif merupakan tindakan pembedahan primer yang penting
dalam mengobati tukak duodenum.Persarafan simpatis adalah melalui saraf splenikus
major danganlia seliakum. Serabut-serabut aferen menghantarkan impuls nyeriyang
dirangsang oleh peregangan, dan dirasakan di daerah epigastrium.Serabut-serabut aferen
simpatis menghambat gerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesentrikus
(auerbach) dan submukosa(meissner) membentuk persarafan intrinsik dinding lambung
dan mengkordinasi aktivitas motoring dan sekresi mukosa lambung.

Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas (serat hati,empedu, dan limpa)
terutama berasal dari daerah arteri seliaka atautrunkus seliaka, yang mempecabangkan
cabang-cabang yang mensuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang arteri yang
penting dalam klinisadalah arteri gastroduodenalis dan arteri pankreas
tikoduodenalis(retroduodenalis) yang berjalan sepanjang bulbus posterior
duodenum.Tukak dinding postrior duodenum dapat mengerosi arteria ini dan
menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum,serta berasal dari
pankreas, limpa, dan bagian lain saluran cerna, berjalankehati melalui vena porta.
Berikut ini adalah gambar anatomi lambung

2. Fisiologi lambung

a. Mencerna makanan secara mekanikal

b. Sekresi, yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500 – 3000 mL gastric
juice (cairan lambung) per hari. Komponeneutamanya yaitu mukus, HCL
(hydrochloric acid), pensinogen, danair. Hormon gastrik yang disekresi langsung
masuk kedalam alirandarah.

c. Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirobah menjadi
polipeptida

d. Absorpsi, secara minimal terjadi dalam lambung yaitu absorpsi air,alkohol, glukosa,
dan beberapa obat.

e. Pencegahan, banyak mikroorganisme dapat dihancurkan dalamlambung oleh HCL.


f. Mengontrol aliran chyme (makanan yang sudah dicerna dalamlambung) kedalam
duodenum. Pada saat chyme siap masuk kedalam duodenum, akan terjadi peristaltik
yang lambat yang berjalan dari fundus ke pylorus. (http://keperawatan-
gun.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-klien-dg-dispepsia.htmldiakses 20
Agustus 2010).

C. Etiologi

Seringnya, dispepsia disebabkan oleh ulkus lambung atau penyakitacid reflux. Jika
anda memiliki penyakit acid reflux, asam lambungterdorong ke atas menuju esofagus
(saluran muskulo membranosa yangmembentang dari faring ke dalam lambung). Hal ini
menyebabkan nyeri didada. Beberapa obat-obatan, seperti obat anti-inflammatory,
dapatmenyebabkan dispepsia. Terkadang penyebab dispepsia belum dapatditemukan.
Penyebab dispepsia secara rinci adalah:

1. Menelan udara (aerofagi)


2. Regurgitasi(alir balik, refluks) asam dari lambung
3. Iritasi lambung (gastritis)
4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
5. Kanker lambung
6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
7. Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
8. Kelainan gerakan usus
9. Stress psikologis, kecemasan, atau depresi
10. Infeksi Helicobacter pylory

D. Patofisiologi

Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti
nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi
kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi
pada lambung akibatgesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian
dapatmengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsangterjadinya kondisi
asam pada lambung, sehingga rangsangan di medullaoblongata membawa impuls muntah
sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan.
E. Tanda dan Gejala

a.Nyeri perut

b.Rasa perih di ulu hati

c.Mual, kadang-kadang sampai muntah

d.Nafsu makan berkurang

e.Rasa lekas kenyang

f.Perut kembung

g.Rasa panas di dada dan perut

h.Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)

F. Pencegahan

Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbangdengan kebutuhan
dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar
asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu
penyakit, misalnyasakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu
fungsilambung.

G. Prognosis

Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan bahwa 15 – 30 % orang


dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari. Di inggris dan skandinavia
dilaporkan angka prevalensinya berkisar 7 – 41 %tetapi hanya 10 – 20 % yang mencari
pertolongan medis. Insiden dispepsia pertahun diperkirakan antara 1 – 8 % (Suryono S, et
all, 2001 hal 154). Dan dispepsia cukup banyak dijumpai. Menurut Sigi, di negara barat
prevalensi yang dilaporkan antara 23 dan 41 %. Sekitar 4 % penderita berkunjung
kedokter umumnya mempunyai keluhan dispepsia. Didaerah asia pasifik,dispepsia juga
merupakan keluhan yang banyak dijumpai, prevalensinya sekitar 10 – 20 % (Kusmobroto
H, 2003)
H. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan radiologi yaitu, OMD degan kontras ganda, serologiHelicobacter pylori,


dan urea breath test (belum tersedia di Indonesia.Endoskopi merupakan pemeriksaan baku
emas, selain sebagai diagnosticsekaligus teraupetik. Pemeriksaan yang dapat dilakukan
dengan endoskopiadalah :

1. CLO (rapid urea test)


2. Patologi antaomi (PA)
3. Kultur moikroorganisme (MO) jaringan

PCR (Plymerase chain reaction), hanya dalam rangka penelitian (Mansjoer, A edisi
III, 2000: 488) Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama,seperti
halnya pada sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala
dan penyakit disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk memastikan
penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain pengamatan jasmani,
juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis, endoskopi, USG, dan lain-lain.

1. LaboratoriumPemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak


ditekankanuntuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitiskronik,
diabets mellitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium
dalam batas normal.
2. RadiologisPemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit
disaluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaanradiologis terhadap
saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.
3. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi) Sesuai dengan definisi bahwa pada
dispepsia fungsional, gambaranendoskopinya normal atau sangat tidak spesifik.
4. USG (ultrasonografi) Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin
banyak dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit,
apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping,dapat digunakan setiap saat dan pada
kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan
5. Waktu Pengosongan Lambung Dapat dilakukan dengan scintigafi atau dengan pellet
radioopak. Pada dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30 – 40
%kasus.
I. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan non farmakologis

1. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung


2. Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda,obat-obatan yang
berlebihan, nikotin rokok, dan stress

Atur pola makan Penatalaksanaan farmakologis yaitu:

Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam
mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun
masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.
Obat-obatan yangdiberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan
antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah
terjadinya muntah)
BAB II

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan yangdilakukan yaitu :
Mengumpulkan data, mengelompokkan data danmenganalisa data. Data fokus yang
berhubungan dengan dispepsia meliputiadanya nyeri perut, rasa pedih di ulu hati, mual
kadang-kadang muntah,nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, perut kembung, rasa
panas didada dan perut, regurgitasi (keluar cairan dari lambung secar tiba-tiba).(Mansjoer
A, 2000, Hal. 488). Dispepsia merupakan kumpulankeluhan/gejala klinis (sindrom) yang
terdiri dari rasa tidak enak/sakit diperut bagian atas yang dapat pula disertai dengan
keluhan lain, perasaan panas didada daerah jantung (heartburn), regurgitasi, kembung,
perut terasa penuh,cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual, muntah, dan beberapa
keluhanlainnya (Warpadji Sarwono, et all, 1996, hal. 26)

B. Diagnosa Keperawatan

Menurut Inayah (2004) bahwa diagnosa keperawatan yang lazimtimbul pada klien
dengan dispepsia.

1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi padamukosa lambung.


2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasatidak enak setelah makan,
anoreksia.
3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual,
muntah
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan statuskesehatannya

C. Intervensi

Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk


menngulangi masalah keperawatan yang telahditentukan dengan tujuan.

1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.


Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien
melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, Kaji tingkat nyeri,
beratnya (skala 0 – 10)Rasional : Berguna dalam pengawasan kefektifan obat,
kemajuan penyembuhan
a. Berikan istirahat dengan posisi semifowler
Rasional : Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan teganganabdomen
yang bertambah dengan posisi telentang
b. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam
lambung
Rasional : dapat menghilangkan nyeri akut/hebat dan menurunkan aktivitas
peristaltik
c. Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktu makannya
Rasional : mencegah terjadinya perih pada ulu hati/epigastrium
d. Observasi TTV tiap 24 jam
Rasional : sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya
e. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi
Rasional : Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol
f. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesic
Rasional : Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan
intervensi terapi lain

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan,
anoreksia.

Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yangdiharapkan


individu, dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi

a. Pantau dan dokumentasikan dan haluaran tiap jam secara adekuat

Rasional : Untuk mengidentifikasi indikasi/perkembangan dari hasil yangdiharapkan

b. Timbang BB klien

Rasional : Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat

c. Berikan makanan sedikit tapi sering

Rasional : meminimalkan anoreksia, dan mengurangi iritasi gaster


d. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritasmukosa
mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayatmual/rnuntah atau diare.

Rasional : Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensiyang tepat


Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan

e. Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai.

Rasional : Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet


klien.

f. Monitor intake dan output secara periodik.

Rasional : Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan

g. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan
medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).

Rasional : Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah


untuk meningkatkan intake nutrisi.

3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan denganadanya mual,


muntah

Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk
memperbaiki defisit cairan, dengan kriteria mempertahankan/menunjukkan
perubaan keseimbangan cairan,dibuktikan stabil, membran mukosa lembab,
turgor kulit baik.

a. Awasi tekanan darah dan nadi, pengisian kapiler, status membranmukosa, turgor kulit

Rasional : Indikator keadekuatan volume sirkulasi perifer dan hidrasiseluler

b. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan, ukur haluaran urine denganakurat

Rasional : Klien tidak mengkomsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi


atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan
elektrolit

c. Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaanlaksatif/diuretic


Rasional : Membantu klien menerima perasaan bahwa akibat muntahdan atau
penggunaan laksatif/diuretik mencegah kehilangan cairan lanjut

d. Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan cairan


optimal misalnya : jadwal masukan cairan.

Rasional : Melibatkan klien dalam rencana untuk memperbaiki keseimbangan untuk


berhasil

e. Berikan/awasi hiperalimentasi IV

Rasional : Tindakan daruat untuk memperbaiki ketidak seimbangan cairan elektrolit

4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya

Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan


kecemasan, dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang penyakitnya.

a. Kaji tingkat kecemasan

Rasional : Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakanoleh klien


sehingga memudahkan dlam tindakan selanjutnya

b. Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dandengarkan


semua keluhannya

Rasional : Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasaaman dalam
segala hal tundakan yang diberikan

c. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan

Rasional : Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama
dalam perawatannya.

d. Berikan dorongan spiritual

Rasional : Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan


penyakitnya, masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha
Esa.
D. Evaluasi

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan mencakup pencapaian terhadap tujuan


apakah masalah teratasi atau tidak, dan apabila tidak berhasil perlu dikaji, direncanakan
dan dilaksanakan dalam jangka waktu panjang dan pendek tergantung respon dalam
keefektifan intervensi.
DAFTAR PUSTAKA

Manjoer, A, et al. 2000. Kapita selekta kedokteran edisi 3.Jakarta: Medika eusculapeus. Price
& Wilson. 1994.

Patofisiologi edisi 4. Jakarta: EGChttp://www.scribd.com/doc/3949918/dispepsiadi akses


tanggal 22 Agustus 2010http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-
klien-dg-dispepsia.html diakses 20 Agustus 2010