You are on page 1of 38

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran
bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran
plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. Persalinan di katakan normal jika terjadi
pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala dalam waktu 18 jam tanpa komplikasi pada ibu/janin (Saifuddin,
2009).
Persalinan normal dapat berubah menjadi persalinan patologi jika persalinan
berlangsung melampaui batas waktu tanpa diikuti oleh kemajuan persalinan
(Nugroho, 2010). Persalinan patologi dapat membawa akibat buruk bagi ibu dan
janin yang menyebabkan kematian ibu dan janin (Saifuddin, 2009).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan
barometer pelayanan kesehatan suatu negara. Menurut laporan World Health
Organization (WHO) tahun 2014, AKI di dunia yaitu sebanyak 289.000 jiwa.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Indonesia, Angka Kematian Ibu (AKI)
tahun 2015 sebanyak 156 per 100.000 kelahiran hidup, mengalami peningkatan
pada tahun 2016 yaitu sebanyak 163 per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian
Bayi (AKB) sebanyak 23 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2015, namun pada tahun
2016 mengalami penurunan yaitu sebanyak 13 per 1.000 kelahiran hidup.
(Kemenkes RI, 2016).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah dari 117 per 100.000
kelahiran hidup pada tahun 2015 menjadi 109,6 per 100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2016, menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) dari 32,3 per 1.000
kelahiran hidup pada tahun 2015 menjadi 15,5 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun
2016. (Profil Kesehatan Provinsi Jateng, 2016).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Brebes pada tahun 2015 adalah
dari 156 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2016 mngalami peningkatan
menjadi 163 per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (AKB) di
2

Kabupaten Brebes mengalami peningkatan dari 10,26 per 1.000 kelahiran hidup
menjadi 13 per 1.000 kelahiran hidup. (Profil Kesehatan Kabupaten Brebes, 2016).
Tingginya AKI di sebabkan karena perdarahan 28 %, infeksi 15%, abortus
tidak aman 13 %, hipertensi dalam kehamilan 12 %, partus macet 9 %, dan lain -
lain. Infeksi biasa terjadi pada saat kehamilan, persalinan, dan nifas. Jika ibu hamil
terinfeksi, maka janin yang dikandungnya akan mempunyai resiko terkena infeksi.
Salah satu infeksi dalam persalinan yang menyebabkan komplikasi pada persalinan
adalah ketuban pecah dini (KPD) (Saifuddin, 2009).
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah keluarnya cairan dari jalan lahir atau
vagina sebelum proses persalinan. Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti.
Kejadian KPD mendekati 10% dari semua persalinan pada umur kehamilan kurang
dari 34 minggu, kejadian sekitar 4% kemungkinan disebabkan karena berbagai jenis
faktor yaitu infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban yang abnormal,
inkompetensi servik, dan defisiensi zat gizi (asam askorbat) pecahnya selaput
ketuban berkaitan erat dengan perubahan proses biokimia yang terjadi dalam faktor
kolagen, infeksi dan peregangan selaput ketuban (Saifuddin, 2009).
Asuhan kebidanan merupakan penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi
tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai
kebutuhan atau masalah dalam bidang kesehatan ibu pada masa hamil, bersalin,
nifas, bayi setelah lahir, serta keluarga berencana (Depkes RI, 2010).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
asuhan pada “Asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. E umur 27 tahun G3P2A0
gravida 37 minggu dengan Ketuban Pecah Dini di RSUD Brebes Kabupaten Brebes
Tahun 2019”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis mencoba merumuskan
permasalahan dalam laporan kasus yaitu ”Bagaimana Asuhan Kebidanan
Komprehensif pada Ny. E Umur 27 Tahun G3P2A0 Gravida 37 Minggu dengan
Ketuban Pecah Dini di RSUD Brebes Kabupaten Brebes Tahun 2019”.
3

C. Tujuan Penyusunan Laporan


1. Tujuan Umum
Mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan KPD di RSUD
Brebes Tahun 2019 secara komprehensif.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengumpulan data subyektif pada ibu bersalin Ny. E umur 27
tahun G3P2A0 gravida 37 minggu dengan Ketuban Pecah Dini di RSUD
Brebes Tahun 2019.
b. Melakukan pengumpulan objektif pada ibu bersalin Ny. E umur 27 tahun
G3P2A0 gravida 37 minggu dengan Ketuban Pecah Dini di RSUD Brebes
Tahun 2019.
c. Melakukan analisis pada ibu bersalin Ny. E umur 27 tahun G3P2A0 gravida 37
minggu dengan Ketuban Pecah Dini di RSUD Brebes Tahun 2019.
c. Melakukan penatalaksanaan dan evaluasi pada ibu bersalin Ny. E umur 27
tahun G3P2A0 gravida 37 minggu dengan Ketuban Pecah Dini di RSUD
Brebes Tahun 2019.

D. Manfaat Penyusunan Laporan


1. Secara teoritis
Pembuatan laporan asuhan komprehensif ini diharapkan dapat meningkatkan
wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan asuhan kebidanan pada kasus
Ketuban Pecah Dini (KPD) dengan pendekatan SOAP pada ibu bersalin.
2. Secara praktis
a. Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Brebes
Hasil presentasi kasus ini dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan dalam
melakukan penanganan kasus ibu bersalin dengan Ketuban Pecah Dini (KPD)
di RSUD Brebes, sehingga dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB).
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah kepustakaan dan wacana khususnya tentang ibu bersalin
dengan Ketuban Pecah Dini (KPD), yang termasuk dalam mata kuliah
program studi kebidanan.
4

c. Bagi Bidan
Dapat sebagai masukan untuk melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu
bersalin dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) dan pertimbangan bagi profesi
bidan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Persalinan
a. Pengertian Persalinan
1) Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan
lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba,
2010).
2) Persalinan normal yaitu proses pengeluaran buah kehamilan cukup bulan
yang mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan
presentasi kepala (posisi belakang kepala), dari rahim ibu melalui jalan lahir
(baik jalan lahir lunak maupun kasar), dengan tenaga ibu sendiri (tidak ada
intervensi dari luar) (Winkjosastro, 2008).
b. Tanda dan Gejala Persalinan
a) Kekuatan his semakin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang
semakin pendek.
b) Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda, yaitu pengeluaran lendir dan
lendir bercampur darah melalui vagina.
c) Dapat di sertai ketuban pecah.
d) Pada pemeriksaan dalam, di jumpai perubahan servik yaitu perlunakan
servik, pendataran servik, dan terjadi pembukaan servik (Manuaba, 2010).
c. Faktor yang berpengaruh pada persalinan menurut Sulistyawati, 2009 yaitu :
1) Power atau tenaga yang mendorong bayi
Adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari his atau
kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power merupakan tenaga
primer atau kekuatan utama yang di hasilkan oleh adanya kontraksi dan
retraksi otot -otot rahim.
2) Passage atau jalan lahir
Adalah bagian tulang panggul, servik, vagina dan dasar panggul. Janin
harus berjalan lewat rongga panggul, servik dan vagina sebelum di lahirkan.
6

3) Passanger atau fetus


Adalah janin (secara khusus bagian kepala janin) dan plasenta, selaput dan
cairan ketuban atau amnion.
d. Mekanisme Persalinan Normal
1) Masuknya kepala janin pada pintu atas panggul
Masuknya kepala ke dalam Pintu Atas Panggul (PAP) biasanya dengan
sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi ringan.
2) Flexion (fleksi)
Dengan majunya kepala biasanya juga fleksi bertambah hingga ubun-ubun
kecil jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar.
3) Internal rotation (putaran paksi dalam)
Pemutaran bagian terendah janin ke depan (simfisis pubis) atau ke belakang
(sakrum). Putaran paksi dalam merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan
posisi kepala dengan bentuk jalan lahir.
4) Extension (defleksi)
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai dasar panggul maka terjadi
extensi atau defleksi dari kepala, karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah
panggul mengarah ke depan dan atas sehingga kepala harus mengadakan
extensi untuk melaluinya.
5) External rotation (putaran paksi luar)
Setelah kepala lahir seluruhnya, kepala kembali memutar ke arah punggung
untuk menghilangkan torsi pada leher karena putaran paksi dalam
tadi.putaran ini disebut putaran restitusi kemudian putaran dilanjutkan
hingga kepala berhadapan dengan tuber ischiadicum sepihak (di sisi kiri).
6) Expulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah simfisis dan menjadi
hypomochlion untuk melahirkan bahu belakang kemudian bahu depan
menyusul seluruh badan anak lahir searah dengan putaran paksi jalan lahir.
e. Kala Persalinan
Menurut Puspita Sari (2014). Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :
1) Kala I (Kala Pembukaan)
7

Inpartu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah


(bloody show) karena servik mulai membuka (dilatasi) dan mendatar
(effecement). Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler disekitar
kanalis servikalis akibat pergeseran ketika serviks mendatar dan membuka.
Kala pembukaan dibagi atas 2 fase :
a) Fase laten
Fase laten yaitu pembukaan servik yang berlangsung lambat sampai
pembukaan 3 cm, lamanya 7-8 jam.
b) Fase aktif
Fase aktif yaitu berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 sub fase
 Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
 Periode dilatasi maksimal (steadi) : selama 2 jam pembukaan
berlangsung cepat menjadi 9 cm.
 Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam
pembukaan menjadi 10 cm (lengkap).
2) Kala II ( Kala Pengeluaran Janin )
Pada kala pengeluaran janin, his terkoordinasi, kuat, cepat dan lebih
lama kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun dan masuk ke ruang
panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang
melalui lengkung refleks menimbulkan rasa ingin mengedan. Karena
tekanan pada rektum ibu merasa seperti mau buang air besar, dengan tanda
anus terbuka.
Pada waktu his, kepala janin mulai terlihat, vulva membuka dan
perineum meregang. Dengan his dan mengejan terpimpin, akan lahir kepala,
diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada primi berlangsung selama 1½ -
2 jam. Pada multi ½ - 1 jam.
3) Kala III ( Kala Pengeluaran Uri )
Setelah bayi lahir, kontraksi rahim beristirahat sebentar. Uterus teraba
keras dengan fundus uteri setinggi pusat dan berisi plasenta yang menjadi 2
kali lebih tebal. Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan
pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit, seluruh plasenta terlepas,
terdorong ke dalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit
8

dorongan dari atas simpisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya
berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai
dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.
4) Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi dan uri
lahir untuk mengamati keadaan ibu, terutama terhadap bahaya perdarahan
post partum.

B. Persalinan Patologi
a. Pengertian
Persalinan patologis adalah persalinan dengan komplikasi (Saifuddin,
2009).
b. Klasifikasi Persalinan Patologi berdasarkan Saifuddin (2009), yaitu :
1) Persalinan dengan perdarahan
Adalah persalinan yang di sebabkan karena plasenta previa, solusio plasenta,
robekan jalan lahir, atonia uteri, dan anemia sehingga banyak mengeluarkan
darah dari jalan lahir.
2) Persalinan dengan KPD
Adalah persalinan yang di dahului dengan pecahnya selaput ketuban sebelum
adanya tanda-tanda persalinan.
3) Persalinan dengan Preeklampsi atau Eklampsi
Persalinan dengan tekanan darah sistolik dan diastolik lebih dari 140/90 mmhg
dengan di sertai ciri-ciri protein urin (+) dan oedema di seluruh tubuh.
4) Persalinan lama
Adalah persalinan yang abnormal atau sulit yang disebabkan karena kelainan
his, kelainan janin, ataupun kelainan jalan lahir.
5) Persalinan dengan Distosia
Adalah keadaan di perlukannya tambahan manuver obstetri.
6) Persalinan Preterm
Persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20 - < 37 minggu di hitung
dari hari pertama haid terakhir.
9

C. Ketuban Pecah Dini (KPD)


a. Pengertian KPD
1) Ketuban Pecah Dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum
persalinan. Bila Ketuban Pecah Dini (KPD) terjadi sebelum usia 37 minggu di
sebut Ketuban Pecah Dini (KPD) pada kehamilan premature (Saifuddin,
2009).
2) Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan/sebelum inpartu, pada pembukaan < 4 cm (fase laten). Hal ini
dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
melahirkan (Nugroho, 2010).
3) Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum
persalinan (Bari, 2009).
4) Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum ada tanda-tanda
persalinan (Wiknjosastro, 2008).
b. Etiologi
Penyebab KPD belum di ketahui dengan pasti. Kejadian KPD mendekati 10% dari
semua persalinan pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu, sekitar 4%
kemungkinan di sebabkan berbagai jenis faktor yaitu infeksi vagina dan servik,
fisiologi selaput ketuban yang abnormal, inkompetensi servik, dan defisiensi zat
gizi (asam askorbat) pecahnya selaput ketuban berkaitan erat dengan perubahan
proses biokimia yang terjadi dalam faktor kolagen, infeksi dan peregangan selaput
ketuban (Manuaba, 2010).
c. faktor predisposisinya KPD menurut Saifuddin, (2009). adalah :
1) Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya
KPD.
2) Servik yang inkompetensia, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).
3) Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (over
distensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli.
10

4) Trauma yang di dapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,


maupun amniosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya di
sertai infeksi.
5) Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah
yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan
terhadap membrane bagian bawah.
6) Keadaan sosial ekonomi
7) Faktor lain :
a) Faktor golongan darah, akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak
sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan
jaringan kulit ketuban.
b) Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu
c) Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
d) Defisiensi gizi daritembaga atau asamaskorbat (vitamin C).
Beberapa faktor resiko dari KPD :
(1) Inkompetensi servik (leher rahim)
(2) Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
(3) Riwayat KPD sebelumnya
(4) Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
(5) Kehamilan kembar
(6) Trauma
(7) Servik (leher rahim) yang pendek (<25 mm) pada usia kehamilan 23
minggu.
(8) Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis.
d. Tanda dan Gejala
1) Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui
vagina.
2) Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin
cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan
bergaris warna darah.
3) Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus di produksi sampai
kelahiran. Tetapi apabila duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah
11

terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran


sementara.
e. Diagnosa
Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang
positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkan bayi terlalu awal
atau melakukan seksio sesarea yang sebetulnya tidak ada indikasinya.
Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin
mempunyai risiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu, dan
keduanya. Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa
KPD ditegakkan dengan cara :
1) Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan berbau khas,
dan perlu juga diperhatikan warna keluarnya cairan tersebut, his belum
teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah.
2) Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa, akan tampak keluarnya cairan dari vagina,
bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan
ini akan lebih jelas.
3) Pemeriksaan dengan speculum Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD
akan tempak keluar cairan dari ostium uteri eksternum (OUE), kalau belum
juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, mengejan
atau mengadakan manuver valsava, atau bagian terendah digoyangkan,
akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpil pada fornik
anterior.
4) Pemeriksaan dalam
Di dalam vagina didapati cairan dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam dengan toucher perlu dipertimbangkan, pada
kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu
diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari
pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina
yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen.
Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam
12

persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit


mungkin (Nugroho, 2010).
f. Penatalaksanaan
KPD termasuk dalam kehamilan beresiko tinggi. Kesalahan dalam
mengelola KPD akan membawa akibat meningkatnya angka morbiditas dan
mortalitas ibu maupun bayinya. Penatalaksanaan KPD masih dilema bagi
sebagian besar ahli kebidanan. Kasus KPD yang cukup bulan, kalau segera
mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesarea, dan kalau
menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi korioamnionitis.
Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktif harus
dipastikan bahwa tidak akan terjadi Respiratory Distress Syndrome (RDS),
dan kalau menempuh cara konservatif dengan maksud untuk memberi waktu
pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi yang akan
memperjelek prognosis janin.
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau umur
kehamilan tidak di ketahui secara pasti segera lakukan pemeriksaan
ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin.
Risiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah RDS
dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan
perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal untuk
persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru
sudah matang, korioamnionitis yang diikuti dengan sepsis pada janin
merupakan sebab utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin.
Sedangkan kehamilan cukup bulan, infeksi janin langsung berhubungan
dengan lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya periode laten.
Penatalaksanaannya pada kasus KPD antara lain:
1) Konservatif
a) Rawat di rumah sakit.
b) Berikan antibiotic : Bila ketuban pecah > 6 jam (ampisilin 4 x 500 mg
atau eritromisin bila tidak tahan ampisilin dan metronidazol 2 x 500 mg
selama 7 hari).
13

c) Umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih
keluar, atau sampai air ketuban tidak lagi keluar.
d) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes
busa negatif beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan
kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu.
e) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi,
berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24
jam.
f) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan
lakukan induksi.
g) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin).
h) Pada usia kehamilan 32-37 minggu berikan steroid untuk memacu
kematangan paru janin, dan bila memungkinkan periksa kadar lesitin dan
spingomielintiap minggu. Dosis deksametason 12 mg sehari dosis
tunggal selama 2 hari, deksametason I.M. 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4
kali.
2) Aktif
Kehamilan >35 minggu, induksi dengan oksitosin.Bila gagal seksio
sesarea.Dapat pula diberikan misoprostol 25 μg - 50 μg intravaginal tiap 6
jam maksimal 4 kali.Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis
tinggi dan persalinan diakhiri.
a) Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika
tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea.
b) Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan (Winkjosastro, 2008).
14

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. E UMUR 27 TAHUN G3P2A0 GRAVIDA 37
MINGGU DENGAN KETUBAN PECAH DINI DI RSUD BREBES

Tanggal : 4 Januari 2019


Waktu : Pukul 14.30 WIB
Tempat : Ruang Seruni

A. DATA SUBJEKTIF
1. Biodata
Nama Istri : Ny. E Nama Suami : Tn. A
Umur : 39 tahun Umur : 43 tahun
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat rumah : Losari Lor 4/3
2. Riwayat
Ny. E G3P2A0 merasa hamil 9 bulan datang ke ruang bersalin pukul 14.30 WIB
kiriman PONEK RSUD Brebes. Ibu merasa perut kenceng-kenceng sejak pukul
07.00 WIB, keluar cairan dari jalan lahir pukul 05.30 WIB. HPHT 20-4-2018 HPL
27-1-2019. Ini merupakan kehamilan yang ketiga, belum pernah keguguran,
memeriksakan kehamilan 8 kali di Bidan. Anak pertama dan kedua lahir normal di
Bidan, jenis kelamin perempuan. Tidak ada penyulit dimasa persalinan dan nifas.
Ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit yang berat seperti hipertensi,
diabetes, paru-paru jantung maupun yang lainnya. Makan terakhir pukul 13.00
WIB berupa roti, minum terakhir pukul 13.30 WIB segelas teh manis hangat.
BAK terakhir pukul 13.45 WIB. BAB terakhir pukul 06.00 WIB.

B. DATA OBJEKTIF
1. Keadaan Umum : Baik.
15

2. Kesadaran : Composmentis
3. Tanda-tanda Vital
a. Tekanan darah : 120/80 mmHg
b. Suhu : 36,8 ºC
c. Nadi : 90 x/menit
d. Pernafasan : 22 x/menit
4. Pemeriksaan Fisik
Tinggi Badan : 151 cm Berat Badan : 71 kg
a. Muka : tidak oedem
b. Mata : simetris, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak kuning
c. Payudara : simetris, tidak ada Luka, tidak ada benjolan, puting susu
menonjol, kolostrum sudah keluar
d. Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, TFU 33 cm, punggung
kanan, presentasi kepala, penurunan kepala 1/5 bagian,
DJJ 156 x/menit, his 5x dalam 10 menit lamanya 45
detik, Taksiran Berat Janin (TBJ) : (33-11) x 155 = 3410
gram.
e. Genitalia
Pemeriksaan Dalam : vulva/vagina tidak ada kelainan, portio tidak teraba,
pembukaan lengkap, ketuban (-), cairan ketuban jernih,
Hodge IV, UUK depan, tidak ada bagian kecil yang
menumbung.
f. Ekstremitas
Atas : tidak ada oedem, terpasang infuse RL plabot ke 1
Bawah : tidak oedem, kuku tidak pucat, reflek patella +/+
5. Pemeriksaan Penunjang
HB : 11,9 gr/%
Golongan darah :A
Protein urin :-
Leukosit : 15.020 10^3/ul
16

C. ANALISIS
Ny.E usia 27 tahun G3P2A0 UK 37 minggu parturient aterm kala II dengan KPD,
perlu kolaborasi Dokter SPOG.

C. PENATALAKSANAAN
1. Membina hubungan baik dan rasa saling percaya, hubungan baik terjalin
2. Melakukan informed consent kepada ibu dan keluarga atas segala tindakan
medis yang akan dilakukan pada ibu, ibu setuju dan suami menandatangani
lembar informed consent
3. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan meliputi DJJ normal,
4. pembukaan lengkap dan ibu akan dipimpin mengejan, ibu sudah mengerti hasil
pemeriksaan.
5. Melakukan kolaborasi dengan dokter SPOG. Advice infuse RL + oksitosin 5 IU
20 tetes, amoxicilin 1 tablet 500 mg
6. Menganjurkan kepada suami untuk mendampingi ibu karena proses persalinan
akan segera dimulai, suami sudah mendampingi ibu dan memberikan support
7. Menawarkan pada ibu makan dan minum di sela-sela his, ibu minum teh manis
hangat setengah gelas.
8. Mengajarkan ibu cara mengejan yang benar, ibu sudah memahami dan bersedia
melakukan
9. Membantu Ibu untuk mengatur posisi litotomi, ibu sudah dalam posisi litotomi.
10. Menyiapkan partus set, alat resusitasi, dan perlengkapan ibu dan bayi,
perlengkapan alat dan penolong sudah siap.
11. Menolong persalinan secara APN, bayi lahir jam 16.05 WIB, spontan, menangis
kuat, pergerakan aktif, warna kulit kemerahan, jenis kelamin perempuan.

KALA III
Pukul 16.05 WIB.
A. Data Subjektif
Ibu mengatakan perutnya masih terasa mules dan mengatakan senang bayinya sudah
lahir.
17

B. Data Objektif
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, tinggi fundus uteri setinggi pusat,
kandung kemih kosong, plasenta belum lepas, tali pusat tampak di vulva dan
bertambah panjang.

C. Analisis
Kala III dengan KPD, perlu dilakukan manajemen aktif kala III

C. Penatalaksanaan
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan rencana tindakan yang akan diberikan,
ibu sudah mengerti dan respon ibu baik.
2. Mengecek adanya janin ke dua, janin tunggal
3.Memberitahu ibu akan disuntik, ibu bersedia.
2. Melakukan manajemen aktif kala III
a. Menyuntikan oksitosin 10 IU secara IM dipaha kanan atas 1/3 anterolateral
b. Adanya tanda – tanda pelepasan plasenta seperti tali pusat bertambah panjang ,
uterus globuler/membulat, dan adanya semburan darah, kontraksi uterus baik
c. Melakukan penegangan tali pusat terkendali saat ada kontraksi
3. Melahirkan plasenta, plasenta lahir spontan jam 16.10 WIB .
4. Melakukan masase fundus uteri sebanyak 15 kali 15 detik, kontraksi uterus baik.

KALA IV
Pukul 16.25 WIB.
A. Data Subjektif
Ibu mengatakan sudah merasa lega karena bayi dan placenta sudah lahir.

B. Data Objektif
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, kontraksi uterus keras, tinggi fundus
uteri 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, pengeluaran darah ± 100 cc.

C. Analisis
Kala IV dengan KPD, keadaan umum ibu baik
18

C. Penatalaksanaan
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan rencana tindakan yang akan diberikan,
ibu sudah mengerti dan respon ibu baik.
2. Memeriksa kelengkapan plasenta, kotiledon dan selaput plasenta lengkap
3. Mengecek adanya laserasi jalan lahir, tidak ada laserasi jalan lahir.
4. Mengecek kontraksi dan perdarahan, uterus berkontraksi baik dan perdarahan
sedikit.
5. Mengajarkan ibu dan keluarga cara masase fundus uteri, ibu dapat melakukannya
dengan benar
6. Membersihkan badan ibu dengan air DTT untuk membuat ibu nyaman, ibu
tampak nyaman
7. Mendekontaminasikan alat-alat bekas pakai dan penanganan sampah basah,
kering dan tajam, semua alat dan ruangan sudah kembali seperti semula.
8. Melakukan pemantauan kala IV selama 2 jam, hasil terlampir di lembar balik
partograf
9. Membantu ibu untuk makan dan minum, sudah makan 1 porsi dan minum
setengah gelas.
10. Melakukan advice dokter SPOG, advis :
a. Amoxilin 500 mg 3x1 tablet/hari
b. Asam mefenamat 500 mg 3x1 tablet/hari
c. Tablet tambah darah 1x1/hari
11. Melengkapi partograf, partograf terlampir
12. Merencanakan pasien pindah ke ruang nifas bila keadaan umum baik jam 18.05
WIB.
19

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. E 2 JAM POST PARTUM DENGAN


RIWAYAT KPD 9 JAM DI RSUD BREBES

Hari dan Tanggal Pengkajian : Jumat, 04 Januari 2019.


Waktu : 18.05 WIB.
Tempat : Ruang Seruni RSUD Brebes

A. Data subjektif
Ibu merasa senang atas kelahiran anaknya, lahir jam 16.05 WIB, tetapi perutnya
masih terasa mules. Ibu masih takut untuk miring kanan dan kiri. Ibu sudah makan
nasi dan sayur habis setengah piring dan minum teh manis hangat setengah gelas.
Kolostrum sudah keluar, ibu sudah menyusui bayinya, ibu sudah BAK tapi belum
BAB.

B. Data Objektif
Keadaan umum baik. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 110/70 mmHg,
nadi 84 x/ m, pernapasan 20 x/ m, suhu 36,6°C. Wajah tidak pucat. konjungtiva
tidak anemis, sklera tidak ikterik. Kolostrum sudah keluar. Kontraksi uterus baik.
TFU 3 jari bawah pusat, kandung kemih kosong. Vulva vagina tidak ada kelainan,
terdapat luka jahitan laserasi baik, pengeluaran darah ± 25 cc. Terpasang infus RL
20 tetes/menit pada tangan kiri. Ekstremitas tidak oedema.

C. Analisis
2 jam post partum dengan riwayat KPD, keadaan umum ibu baik.

D. Penatalaksanaan
1. Membina hubungan baik dengan ibu dan keluarga, hubungan yang baik terjalin
dengan ibu dan keluarga
2. Memberitahu hasil pemeriksaan dan rencana asuhan yang akan diberikan, ibu
sudah mengetahui hasil pemeriksaan.
3. Memastikan kontraksi uterus baik dan mengingatkan ibu untuk masase jika
kontraksi lembek, ibu sudah mengetahui dan dapat melakukan dengan baik.
20

4. Memberitahukan ibu penyebab mules-mules yang disebabkan karena kontraksi


uterus, respon ibu baik.
5. Mengobservasi KU, TTV, proses involusi dan tetesan infus, KU baik, Tekanan
darah 110/70 mmHg, nadi 84 x/ m, pernapasan 20 x/ m, suhu 36,6°C, kontraksi
uterus baik, tetesan infus 20 tetes/menit.
6. Memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan secara on demand, ibu
memahami dan bersedia melakukannya.
7. Memberikan KIE tentang nutrisi, pola istirahat, pemberian ASI, kebersihan diri,
mobilisasi, perawatan luka perineum, senam nifas dan tanda-tanda bahaya pada
masa nifas, ibu sudah mengerti
8. Memberikan konseling KB pasca persalinan pada ibu, ibu memilih KB implant
9. Jam 18.05 WIB mengantar ibu ke ruang Alamanda (Ruang nifas), ibu sudah
diantar ke ruang Alamanda.
10. Mendokumentasikan hasil asuhan, hasil asuhan telah di dokumentasikan.
21

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. E 1 HARI POST PARTUM


DENGAN RIWAYAT KPD DI RSUD BREBES

Hari dan Tanggal Pengkajian : Sabtu, 05 Januari 2019.


Waktu : 12.00 WIB.
Ruang : Alamanda RSUD Brebes

A. Data Subjektif
Ibu merasa senang atas kelahiran anaknya, lahir jam 16.05 WIB, Ibu mengatakan
mulai merasa nyaman dengan keadaan yang sekarang. Ibu sudah turun dari tempat
tidur dan sudah berjalan-jalan. Ibu dapat beristirahat dan makan seperti biasa. ASI
sudah keluar lancar, ibu sudah menyusui bayinya, ibu sudah BAK tapi belum BAB.
Ibu mengatakan mulai merasa nyaman dengan keadaan yang sekarang.

B. Data Objektif
Keadaan umum ibu baik. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 120/78 mmHg,
nadi 80 x/m, pernafasan 20 x/m, suhu 36,7°C. Konjungtiva tidak pucat. ASI sudah
keluar, kontraksi uterus baik. TFU 2 jari bawah pusat, kandung kemih kosong. Luka
jahitan laserasi baik. Lochea rubra. Ekstremitas atas tidak oedema, infus sudah di
lepas jam 11.15 WIB, ektsremitas bawah terdapat oedema.

C. Analisis
1 hari post partum, keadaan umum ibu baik.

D. Penatalaksanaan
1. Membina hubungan baik dengan ibu dan keluarga, hubungan baik terjalin
dengan ibu dan keluarga
2. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu, ibu sudah mengerti
3. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat, respon ibu baik.
4. Melaksanakan advice dokter tentang pemberian obat, advice :
a. Amoxicilin tab 500 mg 3x1
b. Asam mefenamat tab 500 mg 3x1
22

5. Mengingatkan kembali KIE tentang :


a. Nutrisi ibu nifas
b. Menjaga kebersihn diri (personal hygiene)
c. Istirahat yang cukup
d. Menyusui bayi sesering mungkin (ondemand)
Respon ibu baik, ibu mampu mengulang penjelasan bidan.
6. Membuat kesepakatan untuk kunjungan ulang ke bidan terdekat pada hari ke-6
(pada tanggal 12 januari 2019), ibu bersedia kunjungan ulang ke bidan atau
sewaktu-waktu jika ada keluhan.
7. Melakukan advice dokter ibu boleh pulang, mengantar ibu pulang.
8. Mendokumentasikan hasil asuhan, asuhan telah di dokumentasikan.
23

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. E BARU LAHIR NORMAL

Hari/Tanggal : Jumat, 4 Januari 2019


Waktu : 16.05 WIB
Tempat : Ruang Seruni

A. Data Subjektif
Ibu mengatakan senang, bayinya telah lahir.

B. Objektif
Keadaan umum : Baik, bayi menangis, gerakan aktif
Kesadaran : CM
TTV : Denyut Jantung : 142 X/m
Pernafasan : 46 X/m
Suhu : 36,40C
Berat badan : 3. 600 gram
Panjang badan : 49 cm

Kepala : Ubun-ubun datar, tidak ada caput sucendaneum dan


chepal hematoma. Lingkar kepala 33 cm.
Mata : Simetris, sejajar dengan telinga, sklera tidak ikterik,
konjungtiva tidak anemis. Tidak ada pus.
Hidung dan Mulut : Bibir tidak ada labioskizis, tidak ada
palatolabioskizis, bentuk normal, tidak ada
pernafasan cuping hidung, reflex rooting +, refleks
sucking +.
Telinga : Bersih, simetris kanan dan kiri, tidak ada kelainan.
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar.
Dada : Simetris, terdapat puting susu dan areola, irama
jantung regular, tidak ada retraksi. Lingkar dada 32
cm
Bahu, lengan, tangan : Gerakan aktif, tidak ada flexus brachialis, tidak ada
24

polidaktili dan sindaktili, refleks grasping (+),


Sistem syaraf : Refleks moro (+)
Abdomen : Normal, tidak ada kelainan, tali pusat bersih, tidak
ada benjolan dan perdarahan tali pusat.
Genitalia : Labia mayora menutupi labia minora, (BAK +)
Tungkai dan kaki : Gerakan aktif, tidak ada polidaktili dan sindaktili,
refleks grasping (+),
Punggung : Tidak ada pembengkakan dan cekungan
(spinabifida),
Anus : Anus berlubang, BAB mekonium (+).
Kulit : warna kulit kemerahan, turgor baik, tidak ada
pembengkakan atau bercak-bercak hitam.

C. Analisis
Bayi Ny.E dengan BBL normal.

D. Penatalaksanaan
1. Melakukan penilaian awal bayi baru lahir :
a. Apakah bayi bernapas/menangis => Bayi akan menangis segera
b. Apakah tonus otot baik => Gerakan aktif
c. Apakah warna kulit kemerahan => Warna kulit kemerahan
2. Menilai Apgar Score
Klasifikasi 1 menit 5 menit 10 menit

Warna 2 2 2
Denyut Jantung 2 2 2
Reflex 1 1 1
Tonus Otot 1 1 2
Pernapasan 2 2 2
Jumlah 8 8 9
25

3. Menjaga kehangatan bayi, mengganti kain yang basah dengan kain yang bersih
dan kering
4. Melakukan IMD, bayi berada di dada dan perut ibu.
5. Memberikan salep mata oxytetracycline 1% dan 1 jam setelah bayi lahir
lakukan penyuntikan vitamin K 1 mg secara IM di paha atas sebelah kiri
bagian anterolateral, sudah dilakukan.
6. Melakukan pengukuran antropometri, PB 49 cm ,BB 3.600 gram, LK 33 cm,
LD 32 cm.
7. Memberikan kesempatan kepada bapak atau ibu untuk melihat bayinya.
8. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan, ibu mengetahui hasil pemeriksaan.
9. Mengidentifikasi ibu dan bayi
a. Memakaikan gelang identifikasi warna biru pada bayi ditangan dan kaki
sebelah kiri sedangkan pada ibu ditangan sebelah kanan.
b. Melakukan cap kaki kanan dan kiri bayi
c. Melakukan cap ibu jari kanan dan kiri ibu, sudah dilakukan.
10. Melakukan dokumentasi, dokumentasi telah dilakukan.
26

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. E 2 JAM POST NATAL DENGAN


BAYI BARU LAHIR NORMAL DI RSUD BREBES

Hari/tanggal : Jumat, 04 Januari 2019


Waktu : 18.05 WIB

A. Data Subjektif
Ibu mengatakan senang bayinya lahir sehat. Ibu sudah menyusui bayinya, bayi
tidak rewel, gerakan bayi aktif dan tidak ada keluhan. Bayi sudah BAK dan BAB.

B. Data Objektif
Keadaan umum : Baik
TTV : Denyut Jantung : 140 x/m
Pernafasan : 44 x/m
Suhu : 36,40C
Berat badan : 3. 600 gram
Panjang badan : 49 cm
Apgar score : 8-8-9

Kepala : Ubun-ubun datar, tidak ada caput sucendaneum dan


chepal hematoma. Lingkar kepala 33 cm.
Mata : Sejajar dengan telinga, tidak ada pus, konjungtiva
tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Hidung dan Mulut : Tidak ada labioskizis, tidak ada labiopalatoskizis,
bentuk normal, tidak ada pernafasan cuping hidung,
reflex rooting +, refleks sucking +.
Telinga : Bersih, simetris kanan dan kiri, tidak ada kelainan.
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar,
Dada : Simetris, irama jantung regular, tidak ada retraksi.
Lingkar dada 32 cm
Bahu, lengan, tangan : Gerakan aktif, tidak ada flexus brachialis, tidak ada
polidaktili dan sindaktili, refleks grasping (+),
27

Sistem syaraf : Refleks moro (+)


Abdomen : Normal, tidak ada kelainan, tali pusat bersih, tidak
ada benjolan dan perdarahan tali pusat.
Genitalia : Labia mayora menutupi labia minora, (BAK +)
Tungkai dan kaki : Gerakan aktif, tidak ada polidaktili dan sindaktili,
refleks babinski (+),
Punggung : Tidak ada pembengkakan, tidak ada spinabifida.
Anus : Anus berlubang, mekonium (+).
Kulit : warna kulit kemerahan, turgor baik, tidak ada
pembengkakan atau bercak-bercak hitam.

C. Analisis
Bayi Ny. E postnatal 2 jam, normal.

D. Penatalaksanaan
1. Memberikan imunisasi HB0, imunisasi sudah diberikan secara IM dosis 0,5 mg
pada jam 18.00 WIB..
2. Memberikan KIE tentang :
a. Cara menjaga kehangatan bayi
b. Pemberian ASI dan Asi eksklusif.
c. Perawatan bayi
d. Tanda bahaya pada bayi
Respon ibu baik, ibu mampu mengulang penjelasan bidan.
3. Membedong bayi dan memberikan bayi ke ibu, bayi sudah bersama ibu.
4. Melakukan dokumentasi, pendokumentasian telah dilakukan
28

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. E 1 HARI POST NATAL NORMAL


DI RSUD BREBES

Hari/tanggal : Sabtu, 05 Januari 2019


Waktu :12.00 WIB

A. Data Subjektif
Ibu mengatakan senang karena sudah diperbolehkan pulang. Ibu sudah menyusui
bayinya, bayi tidak rewel dan tertidur pulas setelah menyusu, gerakan bayi aktif
dan tidak ada keluhan. Bayi sudah BAK dan BAB.

B. Data Objektif
Keadaan umum Baik, Denyut Jantung 140 x/m, Pernafasan 44 x/m, Suhu
36,40C, BB 3. 600 gram, PB 49 cm, LK 33 cm, mata tidak ada pus, sklera tidak
ikterik dan konjungtiva tidak anemis, tidak ada pernafasan cuping hidung,
refleks sucking (+), refleks rooting (+), tidak ada retraksi dinding dada, LD 32
cm, gerakan aktif, refleks grasping (+), reflex babinski (+), Refleks moro (+),
keadaan tali pusat terbungkus kasa kering, tidak ada perdarahan tali pusat,
muntah (-), kembung (-), labia mayora menutupi labia minora, tidak ada
spinabifida, reflex galan (+), BAK (+), BAB (+), turgor kulit baik.

C. Analisis
Bayi Ny.E 1 hari post natal normal.

D. Penatalaksanaan
1. Menjaga kehangatan bayi, suhu ruangan hangat
2. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi, bayi telah dilakukan pemeriksaan
fisik. Keadaan fisik bayi normal.
3. Memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan secara on demand,
respon ibu baik dan ibu bersedia melakukannya.
4. Mengingatkan kembali KIE tentang :
a. ASI eksklusif
29

b. Perawatan tali pusat bayi.


c. Tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir, segera datang ke tenaga
kesehatan jika terdapat salah satu dari tanda bahaya tersebut.
Respon ibu baik dan ibu mampu mengulang penjelasan bidan.
30

BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam Bab IV ini pengkaji akan membahas mengenai kesamaan serta perbedaan
antara teori dan yang terjadi pada saat melaksanakan asuhan kebidanan terhadap pasien
Ny.E umur 27 tahun G3P2A0 dengan ketuban pecah dini 9 jam. Adapun hal-hal yang
penulis temukan selama melakukan asuhan kebidanan adalah :

A. Persalinan
Menurut Saifuddin, 2009. Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah keadaan
pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila Ketuban Pecah terjadi sebelum
usia 37 minggu di sebut Ketuban Pecah Dini. Pada kasus Ny. E diagnosis KPD
ditegakkan berdasarkan dilakukannya anamnesa Ny. E mengatakan sudah keluar
air-air dari jalan lahir ketika dilakukan pemeriksaan dalam, diperoleh hasil belum
ada pembukaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa diagnosis KPD telah Sesuai
antara teori dengan praktik.
Penatalaksanaan ketuban pecah dini menurut Manuaba, (2010). Ketuban
pecah dini yang cukup bulan, kalau tidak segera mengakhiri kehamilan akan
menaikkan insiden chrioaminonitis. Di RS rujukan, dilakukan tatalaksana sesuai
dengan usia kehamilan, pada kasus Ny. E didapatkan usia kehamilan >34 minggu
sehingga penatalaksanaannya dilakukan induksi persalinan dengan oksitosin, bila
tidak ada kontra indikasi.
Penyebab KPD pada Ny. E adalah disebabkan faktor multi graviditas. Pada
kasus Ny. E dalam penatalaksanaannya di berikan oksitosin drip 5 IU dalam cairan
RL sebanyak 20 tetes/ menit. Sehingga penatalaksanaan kasus KPD pada Ny. E di
Rumah sakit telah Sesuai dengan apa yang ada dalam teori.
Penanganan asuhan persalinan di VK (ruang seruni) RSUD Brebes adalah
segera setelah pasien datang pada pukul 14.30 WIB dilakukan anamnesa dan
pemeriksaan fisik yang dilengkapi dengan pemeriksaan dalam. Setelah diketahui
hasilnya, pasien diketahui memiliki diagnosa Ketuban Pecah Dini. Ibu diberikan
terapi atas advice dokter SpOG, infuse RL 20 tetes/menit, Amoxicilin 1 tablet per
oral. Ibu merasa ingin BAB dan meneran pada pukul 14.30 WIB (Jumat, 4 Januari
31

2019) dengan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam pada pukul 14.30
WIB yang hasilnya adalah pembukaan 10 cm, ibu mengaku keluar air-air sejak
tanggal 4 Januari 2019 jam 05.30 WIB. Kemudian dilakukan pertolongan
persalinan secara APN, bayi lahir normal, spontan, segera menangis pada pukul
16.05 WIB. Dari uraian kasus tersebut tampak ada kesesuaian antara teori dan
praktik di lapangan di mana proses pertolongan persalinan dilakukan secara APN.
Manajemen Aktif Kala III segera dilakukan setelah bayi lahir. Penengangan
tali pusat terkendali dilakukan setelah ada tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu
adanya semburan darah dari jalan lahir, tali pusat memanjang dan uterus globuler.
Plasenta lahir lengkap pukul 16.10 WIB. Berdasarkan hal tersebut tampak adanya
kesesuaian antara teori dan penatalaksanaan di lapangan.
Kadar Haemoglobin (HB) pada ibu nifas menurut WHO (2014) adalah 11-
12 gr%. Pada Ny. E didapatkan hasil pemeriksaan HB 11,9 gr% berarti ada
kesesuaian antara teori dan kadar HB normal Ny. E.
Kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta
lahir. (Puspita Sari, 2014).
Ny.E dilakukan pemantauan kala IV selama 2 jam dimulai dari plasenta
lahir pukul 16.10 WIB sampai pukul 18.05 dengan hasil terlampir pada partograf.
Dari uraian kasus tersebut, tampak adanya kesesuaian antara teori dan
penatalaksanaan di lapangan.

B. Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Masa nifas kira-kira
berlangsung selama 6 minggu (Wiknjosastro, 2009).
Pada Ny. E asuhan yang diberikan selama post partum yaitu :
1. Asuhan kebidanan pada Ny. E 2 jam post partum
a. Keadaan umum ibu baik, ibu masih takut untuk miring kanan dan kiri. Ibu
sudah makan seperti biasa. Kolostrum sudah keluar, ibu sudah menyusui
bayinya, ibu sudah BAK tapi belum BAB. TD 110/70 mmHg, nadi 84 x/
m, pernapasan 20 x/ m, suhu 36,6°C. Wajah tidak pucat. konjungtiva
tidak anemis, sklera tidak ikterik. Kontraksi uterus baik. TFU 3 jari
32

bawah pusat, kandung kemih kosong. Terdapat luka jahitan laserasi baik,
pengeluaran darah ± 25 cc. Terpasang infus RL 20 tetes/menit pada
tangan kiri.
b. Asuhan yang diberikan
1. Membina hubungan baik dengan ibu dan keluarga, hubungan yang
baik terjalin dengan ibu dan keluarga
2. Memberitahu hasil pemeriksaan dan rencana asuhan yang akan
diberikan, ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan.
3. Memastikan kontraksi uterus baik dan mengingatkan ibu untuk
masase jika kontraksi lembek, ibu sudah mengetahui dan dapat
melakukan dengan baik.
4. Memberitahukan ibu penyebab mules-mules yang disebabkan karena
kontraksi uterus, respon ibu baik.
5. Mengobservasi KU, TTV, proses involusi dan tetesan infus, KU baik,
Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 84 x/ m, pernapasan 20 x/ m, suhu
36,6°C, kontraksi uterus baik, tetesan infus 20 tetes/menit.
6. Memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan secara on
demand, ibu memahami dan bersedia melakukannya.
7. Memberikan KIE tentang nutrisi, pola istirahat, pemberian ASI,
kebersihan diri, perawatan luka perineum, mobilisasi, senam nifas dan
tanda-tanda bahaya pada masa nifas, ibu sudah mengerti
8. Memberikan konseling KB pasca persalinan pada ibu, ibu memilih
KB implant
9. Jam 18.05 WIB mengantar ibu ke ruang Alamanda (Ruang nifas), ibu
sudah diantar ke ruang Alamanda.
2. Asuhan kebidanan pada Ny. E 1 hari post partum
a. Ibu merasa senang atas kelahiran anaknya, lahir jam 16.05 WIB, Ibu
mengatakan mulai merasa nyaman dengan keadaan yang sekarang. Ibu
sudah turun dari tempat tidur dan sudah berjalan-jalan. Ibu dapat
beristirahat dan makan seperti biasa. ASI sudah keluar lancar, ibu sudah
menyusui bayinya, ibu sudah BAK tapi belum BAB. Keadaan umum ibu
baik. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 120/78 mmHg, nadi 80
33

x/m, pernafasan 20 x/m, suhu 36,7°C. Konjungtiva tidak pucat. ASI sudah
keluar, kontraksi uterus baik. TFU 2 jari bawah pusat, kandung kemih
kosong. Luka jahitan laserasi baik. Lochea rubra. Ekstremitas atas tidak
oedema, infus sudah di lepas jam 11.15 WIB, ektsremitas bawah terdapat
oedema.
b. Asuhan yan diberikan
1. Membina hubungan baik dengan ibu dan keluarga, hubungan baik
terjalin dengan ibu dan keluarga
2. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu, ibu sudah mengerti
3. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat, respon ibu baik.
4. Melaksanakan advice dokter tentang pemberian obat, advice :
a. Amoxicilin tab 500 mg 3x1
b. Asam mefenamat tab 500 mg 3x1
5. Mengingatkan kembali KIE tentang nutrisi ibu nifas, enjaga
kebersihn diri (personal hygiene), istirahat yang cukup, menyusui
bayi sesering mungkin (ondemand), respon ibu baik, ibu mampu
mengulang penjelasan bidan.
6. Membuat kesepakatan untuk kunjungan ulang ke bidan terdekat pada
hari ke-6 (pada tanggal 12 januari 2019), ibu bersedia kunjungan
ulang ke bidan atau sewaktu-waktu jika ada keluhan.
7. Melakukan advice dokter ibu boleh pulang, mengantar ibu pulang.
8. Mendokumentasikan hasil asuhan, asuhan telah di dokumentasikan.
Pada kasus Ny.E, post partum normal. Berdasarkan uraian tersebut adanya
kesesuaian antara teori dan praktik di lapangan.

C. Bayi Baru Lahir


Bayi baru lahir Ny.E telah dilakukan penjagaan suhu tubuh, mengeringkan
bay, memantau tanda bahaya, dan melakukan IMD. Pada 1 jam pertama diberikan
vit K1 dan salep mata oxytetracyclin. Setelah 2 jam diberikan imunisasi HB0 0,5
mL. Hal ini sudah sesuai teori tentang asuhan pada bayi baru lahir menurut
Kemenkes RI 2012, yaitu:
a. Menjaga bayi tetap hangat,
34

b. Isap lendir dari mulut dan hidung


c. Mengeringkan bayi
d. Pemantauan tanda bahaya
e. Melakukan IMD
f. Beri suntikan Vit K1 1mg
g. Memberi salep mata
h. Pemeriksaan fisik
i. Memberi imunisasi HB0 0,5 mL di paha kanan anterorateral, 1-2 jam setelah
pemberian vit K1
Pada bayi Ny.E asuhan yang diberikan selama post natal yaitu :
1. Asuhan kebidanan pada bayi Ny. E baru lahir normal
a. Keadaan umum Baik, Denyut Jantung 140 x/m, Pernafasan 44 x/m, Suhu
36,40C, BB 3. 600 gram, PB 49 cm, LK 33 cm, mata tidak ada pus, sklera
tidak ikterik dan konjungtiva tidak anemis, tidak ada pernafasan cuping
hidung, refleks sucking (+), refleks rooting (+), tidak ada retraksi dinding
dada, LD 32 cm, gerakan aktif, refleks grasping (+), reflex babinski (+),
Refleks moro (+), keadaan tali pusat terbungkus kasa kering, tidak ada
perdarahan tali pusat, muntah (-), kembung (-), labia mayora menutupi labia
minora, tidak ada spinabifida, reflex galan (+), BAK (+), BAB (+), turgor
kulit baik.
b. Asuhan yang diberikan
1. Melakukan penilaian awal bayi baru lahir :
2. Menilai Apgar Score
3. Menjaga kehangatan bayi, mengganti kain yang basah dengan kain
yang bersih dan kering
4. Melakukan IMD, bayi berada di dada dan perut ibu.
5. Memberikan salep mata oxytetracycline 1% dan 1 jam setelah bayi
lahir lakukan penyuntikan vitamin K 1 mg secara IM di paha atas
sebelah kiri bagian anterolateral, sudah dilakukan.
6. Melakukan pengukuran antropometri, PB 49 cm ,BB 3.600 gram, LK
33 cm, LD 32 cm.
7. Memberikan kesempatan kepada bapak atau ibu untuk melihat bayinya.
35

8. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan, ibu mengetahui hasil


pemeriksaan.
9. Mengidentifikasi ibu dan bayi
10. Memakaikan gelang identifikasi warna biru pada bayi ditangan dan
kaki sebelah kiri sedangkan pada ibu ditangan sebelah kanan.
11. Melakukan cap kaki kanan dan kiri bayi
12. Melakukan cap ibu jari kanan dan kiri ibu, sudah dilakukan.
13. Melakukan dokumentasi, dokumentasi telah dilakukan.
2. Asuhan kebidanan pada bayi Ny. E 2 jam post natal
a. Keadaan umum Baik, Denyut Jantung 140 x/m, Pernafasan 44 x/m, Suhu
36,40C, BB 3. 600 gram, PB 49 cm, LK 33 cm, mata tidak ada pus, sklera
tidak ikterik dan konjungtiva tidak anemis, tidak ada pernafasan cuping
hidung, refleks sucking (+), refleks rooting (+), tidak ada retraksi dinding
dada, LD 32 cm, gerakan aktif, refleks grasping (+), reflex babinski (+),
Refleks moro (+), keadaan tali pusat terbungkus kasa kering, tidak ada
perdarahan tali pusat, muntah (-), kembung (-), labia mayora menutupi labia
minora, tidak ada spinabifida, reflex galan (+), BAK (+), BAB (+), turgor
kulit baik.
b. Asuhan yang diberikan
1. Memberikan imunisasi HB0, imunisasi sudah diberikan secara IM dosis
0,5 mg pada jam 18.00 WIB.
2. Memberikan KIE tentang cara menjaga kehangatan bayi, pemberian ASI
dan Asi eksklusif, perawatan bayi, tanda bahaya pada bayi, Respon ibu
baik, ibu mampu mengulang penjelasan bidan.
3. Membedong bayi dan memberikan bayi ke ibu, bayi sudah bersama ibu.
4. Melakukan dokumentasi, pendokumentasian telah dilakukan
3. Asuhan kebidanan pada bayi Ny. E 1 hari post natal
a. Keadaan umum Baik, Denyut Jantung 140 x/m, Pernafasan 44 x/m, Suhu
36,40C, BB 3. 600 gram, PB 49 cm, LK 33 cm, mata tidak ada pus, sklera
tidak ikterik dan konjungtiva tidak anemis, tidak ada pernafasan cuping
hidung, refleks sucking (+), refleks rooting (+), tidak ada retraksi dinding
dada, LD 32 cm, gerakan aktif, refleks grasping (+), reflex babinski (+),
36

Refleks moro (+), keadaan tali pusat terbungkus kasa kering, tidak ada
perdarahan tali pusat, muntah (-), kembung (-), labia mayora menutupi labia
minora, tidak ada spinabifida, reflex galan (+), BAK (+), BAB (+), turgor
kulit baik.
b. Asuhan yang diberikan
1. Menjaga kehangatan bayi, suhu ruangan hangat
2. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi, bayi telah dilakukan
pemeriksaan fisik. Keadaan fisik bayi normal.
3. Memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan secara on
demand, respon ibu baik dan ibu bersedia melakukannya.
4. Mengingatkan kembali KIE tentang ASI eksklusif, perawatan tali pusat
bayi, tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir, segera datang ke tenaga
kesehatan jika terdapat salah satu dari tanda bahaya tersebut, respon ibu
baik dan ibu mampu mengulang penjelasan bidan.
Pada kasus bayi Ny.E, bayi lahir normal. Berdasarkan uraian tersebut adanya
kesesuaian antara teori dan praktik di lapangan.
37

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Setelah penulis melakukan Asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. E
umur 27 tahun G3P2A0 gravida 37 minggu dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) di
Ruang Seruni RSUD Brebes Tahun 2019 dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengumpulan data subjektif pada Ny. E telah dilakukan, tidak ada kesenjangan
antara teori dan praktek.
2. Pengumpulan data objektif pada Ny. E telah dilakukan, tidak ada kesenjangan
antara teori dan praktek.
3. Analisis pada Ny. E telah dilakukan, tidak ada kesenjangan antara teori dan
praktek.
4. Penatalaksanaan dan evaluasi pada Ny. E telah dilakukan, tidak ada kesenjangan
antara teori dan praktek.

B. Saran
Diharapkan bidan maupun calon bidan dapat melakukan asuhan kebidanan
secara komprehensif sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi
dapat ditekan.
38

DAFTAR PUSTAKA

Bari, Abdul, dkk, 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Dinas Kesehatan. (2016). Profil Kesehatan Kabupaten Brebes tahun 2016.
Dinas Kesehatan. (2016). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2016.
KemenKes RI, 2016. Profil Kesehatan Indonesia.
Manuaba, I.B.G. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta: EGC
Nugroho, Taufan. (2012). Obsgyn Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan
Keperawatan. Yogyakarta.: Nuha Medika.
Prawirohardjo, Sarwono. (2010). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Puspita Sari, 2014. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Jakarta : Trans Info Media.
Saifudin, A.B. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Winkdjosastro, H. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP
WHO, 2014. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilias Kesehatan Dasar Dan
Rujukan. Jakarta.