You are on page 1of 5

RESUME

Demografi

Demografi merupakan bidang ilmuyang mempelajari statistika vital populasi dan


perubahan statistika seturut waktu yang diteliti para ahli dengan menghitung laju kematian dan
laju variasi diantara individu (Campbell, dkk., 2010).
Menurut Meadows (1972), demografi bekerja dengan menggunakan 5 komponen
demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas
sosial. Ilmu demografi digunakan oleh para ahli umumnya terdiri dari empat tujuan pokok, yaitu:
1. Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu.
2. Menjelaskan pertumbuhan penduduk masa lampau, penurunannya dan persebarannya dengan
sebaik-baiknya dan dengan data yang tersedia.
3. Mengembangkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan bermacam-
macam aspek organisasi sosial.
4. Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang dan kemungkinan-
kemungkinan konsekuensinya (Meadows, 1972).

Tabel Kehidupan

Proses demografi seperti kelahiran, kematian, imigrasi, dan emigrasi, merupakan faktor-
faktor yang mempengaruhi ukuran dan komposisi suatu populasi. Waktu memiliki peran penting
dalam perkembangan populasi. Neraca kehidupan merupakan tabel data kesintasan dan
fekunditas setiap individu dalam suatu populasi (Rockwood, 2006).
Tabel kehidupan merupakan rangkuman spesifik-usia pola kesintasan suatu populasi.
Para ahli ekologi populasi mengadaptasi pendekatan ini untuk mempelajari populasi populasi
bukan manusia. Cara terbaik untuk menyusun tabel kehidupan adalah mengikuti kohor,
sekelompok individu yang berusia sama, mulai hingga lahir sampai mati. Untuk menyusun tabel
kehidupan, kita perlu menentukan jumlah individu yang mati pada setiap kelompok usia dan
mengitung proporsi kohor yang sintas dari satu kelompok usia ke kelompok lain (Campbell,
dkk., 2010).
Aspek demografi suatu populasi terdapat dalam tabel kehidupan (life table) (Carey,
1993). Menurut Price (1997), tabel kehidupan adalah ringkasan pernyataan tentang kehidupan
individu-individu dalam populasi/ kelompok. Tarumingkeng (1992) menambahkan bahwa tabel
kehidupan dapat digunakan untuk mengkalkulasikan berbagai statistik populasi yang dapat
memberikan informasi mengenai kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas), dan peluang untuk
berkembang biak, sehingga dapat digunakan sebagai parameter perilaku perkembangan populasi.
Informasi yang dapat diperoleh dari neraca kehidupan merupakan deskripsi yang sistematis
tentang mortalitas dan kelangsungan hidup suatu populasi. Informasi tersebut merupakan
informasi dasar yang diperlukan dalam menelaah perubahan kepadatan dan laju pertumbuhan
atau penurunan suatu populasi (Price, 1997; Smith, 1990). Neraca kehidupan juga dapat
membantu kita untuk memutuskan teknik pengendalian yang sesuai dengan mengetahui strategi
kehidupan dari hama tersebut. Price (1997), menyatakan bahwa neraca kehidupan merupakan
suatu pendekatan dalam mempelajari dinamika populasi.
Contoh Tabel Kehidupan Atau Neraca Kehidupan

Kurva Kesintasan
Suatu metode grafik yang digunakan untuk mempresentasikan data pada tabel kehidupan
adalah kurva kesintasan (survivorship curve), yaitu suatu plot proporsi atau jumlah kohor yang
masih hidup pada setiap kelompok usia (Campbell, dkk., 2010). Sebagai contoh, data bajing
tanah belding untuk menyusun kurva kesintasan bagi populasi ini.
Menurut Campbell, dkk. (2010), kesintasan dibuat dengan kohor yang berukuran
spesifik. Kita dapat melakukan hal ini untuk populasi bajing tanah belding dengan cara
mengalikan proporsi anggota populasi yang hidup pada awal setiap tahun (kolom ketiga dan
kedelapan) dengan 1000 (kohor awal hipotesis). Hasilnya adalah jumlah bajing tanah yang hidup
pada awal setiap tahun. Memplot jumlah bajing tanah ini pada sumbu y dengan usia betina dan
jantan bajing tanah belding sebagai sumbu x . garis-garis yang relative lurus pada kedua plot
mengindikasikan laju kematian yang relative konstan; akan tetapi, laju kesintasan total bajing
tanah belding jantan lebih rendah daripada bajing tanah belding betina.
Peraga tersebut mempresentasikan hanya satu di antara banyak pola kesintasan yang
ditunjukkan oleh populasi di alam. Walaupun beraneka ragam, kurva kesintasan dapat
diklasifikasikan menjadi tiga tipe umum. Kurva tipe I datar di awal, mencerminkan laju kematian
yang rendah pada individu muda dan berusia pertengahan, dan kemudian turun drastis sewaktu
laju kematian meningkat di kelompok-kelompok usia tua. Banyak mamalia besar, termasuk
manusia, yang menghasilkan sedikit keturunan namun memberikan pengasuhan yang baik,
menunjukkan kurva jenis ini. Sebaliknya, tipe III menukik turun dengan tajam di awal,
mencerminkan laju kematian yang sangat tinggi pada anak, namun mendatar sewaktu laju
kematian menurun untuk sedikit individu yang sintas melewati periode kematian di bagian awal.
Tipe kurva ini biasanya berasosiasi dengan organisme-organisme yang menghasilkan banyak
sekali keturunan namun hanya memberikan sedikit pengasuhan atau bahkan tidak sama sekali,
misalnya tumbuhan-tumbuhan yang berusia panjang, berbagai jenis ikan, dan sebagian besar
invertebrata laut. Tiram misalnya mungkin melepaskan jutaan telur, namun sebagian besar
keturunan akan mati dalam tahap larva akibat predasi atau sebab-sebab yang lain. Segelintir
tiram yang sintas cukup lama untuk melekat ke substrat yang sesuai dan mulai menumbuhkan
cangkang yang keras, cenderung sintas untuk waktu yang relatif lama. Kurva tipe II merupakan
intermediet, dengan laju kematian yang konstan selama rentang hidup organisme. Jenis
kesintasan ini terjadi pada bajing tanah belding dan beberapa jenis rodensia lainnya, berbagai
jenis invertebrata, beberapa jenis kadal, dan beberapa jenis tumbuhan annual (Campbell, dkk.,
2010).
Banyak spesies memiliki tipe yang tidak tepat benar dengan ketiga tipe dasar kesintasan
itu, atau menunjukka pola yang lebih kompleks. Pada burung, misalnya, mortalitas seringkali
tinggi di antara individu-individu paling muda (seperti pada kurva tipe III), namun cukup
konstan pada dewasa (seperti pada kurva tipe II). Beberapa jenis invertebrata, misalnya kepiting,
mungkin menunjukkan kurva “berundakan”, dengan periode singkat peningkatan mortalitas saat
penyongsongan, diikuti oleh periode mortalitas yang lebih rendah ketika eksoskeleton pelindung
kepiting telah keras (Campbell, dkk., 2010).
Populasi yang tidak mengalami imigrasi dan emigrasi, kesintasan merupakan salah satu
faktor kunci yang menentukan perubahan pada ukuran populasi dan laju reproduktif (Campbell,
dkk., 2010).
Daftar Rujukan

Campbell, N. A., Reece J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., &
Jackson, R. B. 2010. Biologi Jilid 3 Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.

Price Pw. 1997. Insected Ecology. 3th ed. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Rockwood LL., 2006. Introduction To Population Ecology. Oxford, UK : Blackwell Publishing.

Smith RL. 1990. Ecology And Field Biology. 4th ed. New York: Harper Collins Publisher.

Tarumingkeng. RC. 1992. Dinamika Pertumbuhan Populasi Serangga. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.

Meadows, Donella, H., et al. 1972. The Limits to Growth. New York: A Potomac Associates
Book.