You are on page 1of 8

Asuhan Keperawatan Krisis Tiroid

1. Pengkajian
a. Pemeriksaan fisik
Tanda dan gejala krisis tiroid bervariasi dan nonspesifik. Hasil pemeriksaan
fisik dapat ditemukan tanda dan gejala sebagai berikut: hipertemi, nyeri dada,
agitasi, delirium, dispnea, edema, diare, peningkatan produksi keringat, nyeri
abdominal, takikardi, dehidrasi, atrial fibrilasi, gagal jantung kongestif, tremor,
dan koma. Tanda klinik yang dapat dilihat dari peningkatan metabolisme adalah
demam, takikardi, tremor, delirium, stupor, koma, dan hiperpireksia.
Pemeriksaan B1-B6
B1 (Breathing)
Peningkatan respirasi dapat diakibatkan oleh peningkatan kebutuhan
oksigen sebagai bentuk kompensasi peningkatan laju metabolisme yang ditandai
dengan takipnea.

B2 (Blood)
Peningkatan metabolisme menstimulasi produksi katekolamin yang
mengakibatkan peningkatan kontraktilitas jantung, denyut nadi dan cardiac
output. Ini mengakibatkan peningkatan pemakaian oksigen dan nutrisi.
Peningkatan produksi panas membuat dilatasi pembuluh darah sehingga
pada pasien didapatkan palpitasi, takikardia, dan peningkatan tekanan darah.
Pada auskultasi jantung terdengar mur-mur sistolik pada area pulmonal dan
aorta. Dan dapat terjadi disritmia,atrial fibrilasi,dan atrial flutter. Serta krisis
tiroid dapat menyebabkan angina pectoris dan gagal jantung.

B3 (Brain)
Peningkatan metabolisme di serebral mengakibatkan pasien menjadi
iritabel, penurunan perhatian, agitasi, takut. Pasien juga dapat mengalami
delirium, kejang, stupor, apatis, depresi dan bisa menyebabkan koma.
B4 (Bladder)

Ditemukan perubahan pola berkemih yaitu poliuri dan nocturia.

B5 (Bowel)

Peningkatan metabolisme dan degradasi lemak dapat mengakibatkan


kehilangan berat badan. Krisis tiroid juga dapat meningkatkan peningkatan
motilitas usus sehingga pasien dapat mengalami diare, nyeri perut, mual,
dan muntah.

B6 (Bone)

Degradasi protein dalam muskuloskeletal menyebabkan kelelahan,


kelemahan, dan kehilangan berat badan.

b. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan penunjang pada pasien dengan krisis tiroid ditemukan
data sebagai berikut:
Pada pemeriksaan laboratorium:
Peningkatan T3 dan T4 
Hematologi: leukositosis 
Fungsi hati: peningkatan ALT, AST, LDH, CK, alkalin pospatase, dan
bilirubin serum 
Asidosis metabolik
Hiperkalsemia 
Hiperglikemia
Pada pemeriksaan radiologi:
ECG: atrial fibrilasi, artimia 
Ultrascan thyroid : gambaran klinis basedow’s desease atau nodular
goiter dengan karakteristik warna tertentu.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul dari kasus krisis tiroid, diantaranya
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme
regulasi
c. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
3. Intervensi Keperawatan

No. Diagnosa Intervensi Rasional


(tujuan, kriteria hasil)
1. Penurunan curah jantung b.d. 1. Pantau tekanan darah tiap jam. Kaji nadi pasien 1. Hipotensi umum atau ortostatik dapat

perubahan kontraktilitas (00029). 2. Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi
angina yang dikeluhkan pasien. perifer yang berlebihan dan penurunan
Domain 4. Aktivitas/istirahat
3. Auskultasi suara nafas. Perhatikan adanya suara volume sirkulasi
Kelas 4. Respons
yang tidak normal (seperti krekels) 2. Merupakan tanda adanya peningkatan
kardiovaskuler/pulmonal
4. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat,
kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau
mukosa membran kering, nadi lemah,
iskemia.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan penurunan produksi urine dan
3. S1 dan murmur yang menonjol
keperawatan selama 1x24 jam, hipotensi,pengisian kapiler lambat
berhubungan dengan curah jantung
diharapkan tidak ada penurunan 5. Kolaborasi : berikan obat sesuai dengan
meningkat pada keadaan hipermetabolik
indikasi : beta blocker seperti: propranolol,
curah jantung 4. Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang
atenolol, nadolol
akan menurunkan volume sirkulasi dan
Kriteria hasil: menurunkan curah jantung
Denyut nadi perifer teraba (5) 5. Diberikan untuk mengendalikan pengaruh
Tekanan darah sistol dan diastol tirotoksikosis terhadap takikardi, tremor

normal (5) dan gugup serta obat pilihan pertama

Tidak ada disritmia (5) pada krisis tiroid akut. Menurunkan


frekuensi/ kerja jantung oleh daerah
Tidak ada angina (5)
reseptor penyekat beta adrenergic dan
konversi dari T3 dan T4.

2. Kekurangan volume cairan b.d. 1. Kaji status volume cairan (TD, suhu, 1. Takikardia, dispnea, atau hipotensi
kegagalan mekanisme regulasi bunyi jantung) tiap 1 jam dapat mengindikasikan kekurangan
(00027) 2. Kaji turgor kulit dan membran mukosa volume cairan.
Domain 2. Nutrisi mulut setiap 8 jam 2. Turgor kulit tidak elastis dan dan
Kelas 5. Hidrasi 3. Ukur asupan dan haluaran setiap 1 membran mukosa kering gejala
sampai 4 jam. Catat dan laporkan kurang cairan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan perubahan yang signifikan termasuk 3. Haluaran urin yang rendah
keperawatan selama 1x24 jam, urine. mengindikasikan hipovolemi.
diharapkan kebutuhan volume cairan 4. Berikan cairan IV sesuai instruksi. 4. Cairan intravena yang cukup dapat
pasien terpenuhi. 5. Kaji semua data laboratorium, laporkan menormalkan dekompensasi
nilai elektrolit abnormal homeostasis.
Kriteria hasil: 6. Kolaborasi: berikan beta adrenergik 5. Nilai elektrolit abnormal dapat
Tekanan darah normal (5) sesuai instruksi menjadi tanda kekurangan cairan dan
Keseimbangan intake dan elektrolit.
output dalam 24 jam (5) 6. Beta adrenergik dapat menurunkan
Berat badan stabil (5) gejala yang dimediasi katekolamin
Turgor kulit baik (5) sehingga memulihkan fungsi jantung.
Serum elektrolit normal (5)
Hematokrit normal (5)

3. Hipertermia b.d. peningkatan laju 1. Pantau suhu dan tanda vital tiap 1 jam, 1. Menilai peningkatan dan penurunan
metabolisme (00007) sesuai kebutuhan suhu tubuh
Domain 11. Keamanan/perlindungan 2. Anjurkan banyak minum bila tidak ada 2. Hidrasi yang cukup dapat menurunkan

Kelas 6. Termoregulasi kontraindikasi suhu tubuh


3. Beri kompres hangat 3. Kompres hangat dapat menyebabkan
4. Gunakan selimut atau pakaian ringan, dilatasi pembuluh darah sehingga
Tujuan: setelah dilakukan tindakan
tergantung pada fase demam (memberikan mengurangi panas
keperawatan selama 1x24 jam,
selimut hangat untuk fase dingin, menyediakan
4. Pakaian tipis dan menyerap keringat
diharapkan termoregulasi pasien pakaian atau linen tempat tidur ringan untuk
menurunkan metabolisme sehingga
kembali normal. demam dan fase flush)
menurunkan panas
5. Pertahankan cairan intravena sesuai progam
5. Cairan intravena memenuhi kebutuhan
Kriteria hasil: 6. Kolaborasi: berikan pengobatan antipiretik
cairan sehingga menurunkan panas
sesuai kebutuhan
Terjadi penurunan suhu tubuh ke 6. Antipiretik menghambat produksi
batas normal (5) prostaglandin di hipotalamus anterior
Tidak ada hipertermia (5) sehingga menurunkan suhu

Tidak ada dehidrasi (5)


Denyut jantung apikal dan radial
tidak terganggu (5)
4. Implementasi dan Evaluasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang sudah dibuat.
Implementasi dapat diulang-ulang agar mencapai tujuan sesuai dengan keadaan
pasien. Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan tindakan yang sudah
diberikan.
Sumber :

Yosi Oktarina. 2013. Krisis Tiroid. Diakses dari


http://oktarinayosi.staff.unja.ac.id/wp-content/uploads/2016/11/KRISIS-TIROID-
Fix_Yosi.pdf&ved=2ahUKEwiWpo67wP3gAhWLs8KHbu8BJ0QFjAAegQIARAB
&usg=