You are on page 1of 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Seminar Asuhan
Keperawatan Konsep Diri. Laporan ini disusun untuk menyelesaikan tugas dari Blok 3.4
mengenai Self Perception.
Terima kasih kami ucapkan kepada bapak Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., M.Kes selaku
dosen pembimbing kami yang telah memberi masukan dan koreksi demi kelancaran dalam
penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kami memohon kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan laporan ini, dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 4 Maret 2019

Kelompok 11

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................................ 3

1.2 Tujuan ............................................................................................................................. 3

1.3 Manfaat ........................................................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diri ....................................................................................................................... 5

2.2 Harga Diri dan Harga Diri Rendah ................................................................................... 7

2.3 Gangguan Citra Tubuh .................................................................................................... 10

BAB III ANALISIS DATA & PEMBAHASAN

3.1 Kasus .............................................................................................................................. 12

3.2 Pengkajian ...................................................................................................................... 12

3.3 Analisis Data .................................................................................................................. 15

3.4 Diagnosa dan Perencanaan ............................................................................................ 17

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan .................................................................................................................... 19

4.2 Saran .............................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 20

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Harga diri merupakan salah satu bagian dari konsep diri. Harga diri mengacu pada

persepsi individu atau penilaian subyektif dari harga diri seseorang, perasaan harga diri dan

kepercayaan diri seseorang dan sejauh mana individu memiliki pandangan positif atau negatif

tentang diri (Sedikides and Gress, 2003). Harga diri terkait dengan kepercayaan pribadi tentang

keterampilan, kemampuan, dan hubungan sosial (Khalek, 2016). Wang dan Ollendick (2001)

menyatakan bahwa harga diri melibatkan evaluasi diri diikuti oleh reaksi emosional terhadap

diri sendiri.

Harga diri dapat merujuk pada keseluruhan diri atau aspek spesifik dari diri, seperti

bagaimana perasaan orang tentang kedudukan sosial, ras atau kelompok etnis mereka fitur

fisik, keterampilan atletik, pekerjaan atau kinerja sekolah. sifat harga diri, yaitu, stabil dalam

waktu karena merupakan bagian dari kepribadian dan harga diri negara, yang lebih labil,

dipengaruhi oleh peristiwa,situasi, dan emosi (Gilovich, Keltner dan Nisbett, 2006).

Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. masalah

kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengan ansietas yang

rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain.

1.2 Tujuan
1. Tujuan umum : Mampu memberikan asuhan keperawatan pasien dengan gangguan
konsep diri: harga diri rendah dan gangguan citra diri.
2. Tujuan khusus:
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan harga diri rendah dan gangguan
citra diri

3
b. Mendiagnosis kasus keperawatan berdasarkan data yang diperoleh untuk
mengatasi masalah harga diri rendah dan gangguan citra diri.
c. Merencanakan tindakan keperawatan yang tepat untuk mengatasi harga diri rendah
dan gangguan citra diri.
d. Melaksanakan tindakan keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah harga
diri rendah dan gangguan citra diri.
e. Mengevaluasi untuk mengetahui keberhasilan yang sesuai dengan rencana
tindakan keperawatan yang telah diberikan dan gangguan citra diri.

1.3 Manfaat

1. Bagi Penulis

Penulis mampu memperdalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan

gangguan konsep diri: harga diri rendah dan gangguan citra diri.

2. Bagi rumah sakit jiwa

a. Asuhan keperawatan dapat digunakan sebagai pedoman dalam tindakan.

b. Asuhan keperawatan dapat digunakan sebagai pedoman dalam meningkatkan mutu

pelayanan.

3. Bagi institusi pendidikan

Dapat dijadikan acuan dalam penelitian tentang harga diri rendah dan gangguan citra

diri lebih lanjut.

4. Bagi Pasien dan keluarga

Menambah ilmu pengetahuan terkait tentang kasus harga diri rendah dan cara

mengatasi harga diri rendah dan gangguan citra diri.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diri

1. Definisi

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempegaruhi individu dlam berhuungan dengan orang
lain (Stuart & Sundeen,1998).

2. Dimensi Konsep Diri

Menurut (Stuart & Sundeen,1998) dimensi konsep diri terbagi menjadi empat :

a. Konsep diri actual

Konsep diri actual merupakan persepsi nyata kta pada diri sendiri dan persepsi
yang digambarkan kepada orang lain, seperti status social, usia, jenis kelmain,
dan tingkat pendidikan.

b. Konsep diri ideal

Konsep diri ideal merupakan persepsi seseorang atas dirinya sendiri harus
seperti apa yang ingin ditampakkan ke orang lain. Dengan kosep diri ideal kita
berusaha untuk berjuang memperbaiki kemampuan dan kehidupan kita.

c. Konsep diri pribadi

Merupakan gambaran bagaiamana kita menjadi diri kita sendiri.

d. Konsep diri social

Konsep diri social pada dasarnya berkaitan dengan relas kta pada sesam
manusia. Kita ingin orang lain memandang kita sebagai orang yang cerdas,
menarik, baik hati, peduli, dll.

3. Penyebab Gangguan Konsep Diri

a. Pola asuh orang tua

5
Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak akan menumbuhkan konsep dan
peikiran yang positi serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negate orang tua
akan mengundang pertanyaan pada anak dan menimbulkan asumsi bahwa
dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, disayangi dan dihargai.
b. Kegagalan

Kegagalan yang terus-menerus dialami seringkali menibulkan pertanyaan


kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa seua penyebabnya
adalah kelamahan diri.
c. Depresi

Orang yang mengalai depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung


negative dalam memandang dan merespon segala sesuatu, termasuk menilai diri
sendiri.
d. Kritik internal

Kritik kepada diri sendiri berfungsi menjadi rambu-rambu dalam bertindak,


namun jika dilakukan secara berlebihan, bisa mengakibatkan harga diri yang
rendah.
4. Pembagian Konsep Diri

Menurut Stuart & Sundeen 1995, konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian
yaitu:
a. Citra Tubuh

b. Ideal Diri

c. Peran

d. Identitas Diri

e. Harga Diri

6
2.2 Harga Diri dan Harga Diri Rendah

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart & Sundeen,1995).

Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negative terhadap diri sendiri
termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, atau disebut dengan harga diri rendah.

1. Pengertian Harga Diri Rendah

Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk
kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya, pesimis,
tidak ada harapan dan putus asa. (Departemen Kesehatan RI, 2000).

Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri atau
cita-cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan bahagia.(Keliat, Budi, 2006).

2. Etiologi Harga Diri Rendah

Terdapat dua faktor penyebab harga diri rendah menurut Stuart dan Laraia
(2008) yaitu :

a. Faktor Predisposisi yang menyebabkan timbulnya harga diri rendah meliputi:


1) Biologis
Faktor heriditer (keturunan) seperti adanya riwayat anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa Selain itu adanya riwayat penyakit kronis atau trauma
kepala merupakan merupakan salah satu faktor penyebab gangguan jiwa.
2) Psikologis
Masalah psikologis yang dapat menyebabkan timbulnya harga diri rendah adalah
pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, penolakan dari lingkungan dan
orang terdekat serta harapan yang tidak realistis. Kegagalan berulang, kurang
mempunyai tanggungjawab personal dan memiliki ketergantungan yang tinggi pada
orang lain merupakan faktor lain yang menyebabkan gangguan jiwa. Selain itu
pasiendengan harga diri rendah memiliki penilaian yang negatif terhadap gambaran
dirinya, mengalami krisis identitas, peran yang terganggu, ideal diri yang tidak
realistis.
3) Faktor Sosial Budaya

7
Pengaruh sosial budaya yang dapat menimbulkan harga diri rendah adalah adanya
penilaian negatif dari lingkungan terhadap klien, sosial ekonomi rendah, pendidikan
yang rendah serta adanya riwayat penolakan lingkungan pada tahap tumbuh
kembang anak.
b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi yang menimbulkan harga diri rendah antara lain:
1) Riwayat trauma seperti adanya penganiayaan seksual dan pengalaman psikologis
yang tidak menyenangkan, menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan,
menjadi pelaku, korban maupun saksi dari perilaku kekerasan.
2) Ketegangan peran: Ketegangan peran dapat disebabkan karena
a. Transisi peran perkembangan: perubahan normatif yang berkaitan dengan
pertumbuhan seperti transisi dari masa kanak-kanak ke remaja.
b. Transisi peran situasi: terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c. Transisi peran sehat-sakit: merupakan akibat pergeseran dari kondisi sehat
kesakit. Transisi ini dapat dicetuskan antara lain karena kehilangansebahagian
anggota tuhuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan atau fungsi tubuh.Atau
perubahan fisik yang berhubungan dengan tumbuh kembang normal, prosedur
medis dan keperawatan.

3. Jenis Harga Diri Rendah

Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self
evaluasi yang telah berlangsung lama)
a. Harga diri rendah situasional

Yaitu kondisi dimana terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus dioperasi,
kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, PHK, dan lain lain.
b. Harga diri rendah kronik

Yaitu perasaan negatif terhadap diri yang telah berlangsung lama sebelum
penyakitnya muncul. Klien yang mempunyai harga diri kronis akan mempunyai
cara berfikit yang negatif, sehingga membutuhkan perawatan. Kondisi ini dapat
ditemukan pada klien gangguan jiwa.

8
4. Manifestasi Klinis

a. Data Subjektif

o Perasaan tidak mampu


o Rasa bersalah
o Mengkritik diri sendiri atau orang lain
o Sikap negative pada diri sendiri
o Sikap pesimis pada kehidupan
o Keluhan sakit fisik
o Pandangan hidup yang terpolarisasi
o Menolak kemampuan diri sendiri
o Mengungkapkan kegagalan diri sendiri
o Ketidakmampuan menetukan tujuan

b. Data objektif:
o Produktivitas menurun
o Mengukur diri sendiri dan orang lain
o Destruktif pada orang lain
o Destruktif terhadap diri sendiri
o Menolak diri secara sosial
o Penyalahgunaan obat
o Menarik diri dan realistis
o Khawatir
o Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
o Menunujukkan tanda depresi (susah tidur dan tidak nafsu makan)

9
5. Patofisiologi

Proses terjadinya harga diri rendah dimulai dari akibat faktor predisposisi yang
diantaranya pengalaman kanak-kanak yang merupakan faktor kontribusi pada
gangguan konsep diri, arah yang tidak menerima kasih sayang, individu yang kurang
mengerti akan arti dan tujuan kehidupan akan gagal menerima tanggung jawab untuk
diri sendiri, penolakan orang tua, harapan realistis. Selain faktor predisposisi, faktor
presipitasi juga salah satu penyebab terjadinya harga diri rendah yang diantaranya pola
asuhan anak yang tidak cepat atau dituruti, kesalahan dan kegagalan berulang kali, cita-
cita yang tidak dapat dicapai gagal, bertanggung jawab tehadap diri sendiri. (Keliat,
Budi Anna, 2006)

Berdasarkan gambar 5.2 diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut: gangguan


Konsep Diri:
Harga diri rendah merupakan core problem (masalah utama). Apabila harga diri
rendah pasien tidak diintervensi akan mengakibatkan isolasi sosial. Penyebab harga diri
rendah pasien dikarenakan pasien memiliki mekanisme koping yang inefektif dan dapat
pula dikarenakan mekanisme koping keluarga yang inefektif.

2.3 Gangguan Citra Tubuh

A. Definisi
Banyak ahli mendefinisikan mengenai citra tubuh diantaranya menurutStuart
&Laraia (2005) bahwa citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari
dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk dalam hal ini adalah persepsi tentang

10
masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi
diri. Citra tubuh merupakan salah satu komponen dari konsep diri dimana konsep diri
adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang
mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.
B. Tanda dan Gejala
a. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah

b. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi/akan terjadi

c. Menolak penjelasan perubahan tubuh

d. Persepsi negatif pada tubuh

e. Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang

f. Mengungkapkan keputusasaan

g. Mengungkapkan ketakutan

11
BAB III
ANALISIS KASUS & PEMBAHASAN

3.1 Kasus

Nn. Br usia 25 tahun seorang model terkenal dikotanya, 1 minggu yang lalu mengalami

sakit pada payudara yang sangat dibanggakan untuk mendukung profesinya. Kemudian

diperiksakan ke poliklinik RS tipe B. Setelah diperiksa poliklinik, pasien diminta periksa

laboratorium lengkap. Hasil laboratorium menunjukkan Nn. Br didiagnosis Kanker ganas (Ca)

Payudara stadium II. Tindakan yang perlu dilakukan adalah operasi dan kemo terapi. Dokter

bersama perawat menjelaskan pada pasien efek samping dari tidakan tersebut adalah pasien

dapat mengalami payudaranya harus diangkat dan mengalami kerontokan rambut. Setelah

mendengar informasi tersebut pasien mengalami suka melamun, menyendiri, merasa tidak

berguna lagi, gairah bekerja sangat menurun bahkan beranggapan bahwa tidak ada harapan

untuk masa depan.

3.2 Pengkajian

Identitas Pasien

Nama : Nn. Br

Umur : 25 Tahun

Jenis Kelamin : perempuan

Alamat : perlu dikaji lebih lanjut

Profesi : model terkenal

Status perkawinan : perlu dikaji lebih lanjut

Agama : perlu dikaji lebih lanjut

Suku/bangsa : perlu dikaji lebih lanjut

Pendidikan : perlu dikaji lebih lanjut

12
Riwayat Kesehatan

Riwayat Penyakit Pasien : pasien mengalami sakit pada payudara 1 minggu yang lalu.

Pasien didiagnosa menderita Kanker ganas (Ca) Payudara

stadium II. Pasien dianjurkan untuk dilakukan tindakan operasi

dengan mengangkat payudara yang diindikasi kanker, dan

dilakukan kemoterapi yang menimbulkan efek rambutnya akan

rontok.

Riwayat Penyakit Keluarga : perlu dikaji lebih lanjut

Riwayat Kesehatan Saat ini : pasien mengalami suka melamun, menyendiri, merasa tidak

berguna lagi, gairah bekerja sangat menurun bahkan

beranggapan bahwa tidak ada harapan untuk masa depan.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum

Warna kulit : perlu dikaji lebih lanjut

Pola Pernafasan : perlu dikaji lebih lanjut

Verbal Respon : bisa menerima respon

Skala nyeri : perlu dikaji lebih lanjut

Lokasi nyeri : perlu dikaji lebih lanjut

Pengukuran TTV

Tekanan darah : perlu dikaji lebih lanjut

Nadi : perlu dikaji lebih lanjut

Orthostatic hipotensi : perlu dikaji lebih lanjut

13
Pernapasan

Frekuensi : perlu dikaji lebih lanjut

Kelainan Pernapasan : perlu dikaji lebih lanjut

Saturasi Oksigen : perlu dikaji lebih lanjut

Pengkajian Prekordial

Inspeksi : perlu dikaji lebih lanjut

Palpasi : perlu dikaji lebih lanjut

Perkusi : perlu dikaji lebih lanjut

Auskultasi : perlu dikaji lebih lanjut

Pemeriksaan Penunjang
- Status Mental
1. Penampilan : perlu dikaji lebih lanjut
2. Pembicaraan : pasien suka menyendiri
3. Aktivitas motorik : pasien suka melamun
4. Alam perasaan : pasien merasa tidak berguna lagi
5. Afek : gairah untuk bekerja pada pasien sangat
menurun
6. Interaksi selama wawancara : perlu dikaji lebih lanjut
7. Persepsi : pasien merasa tidak ada harapan untuk masa
depannya.
8. Pola pikir : pasien menganggap tindakan medis akan
mempengaruhi masa depannya.
9. Tingkat kesadaran : pasien sadar sepenuhnya
10. Memori : perlu dikaji lebih lanjut
11. Tingkat konsentrasi dan berhitung : pasien kurang berkonsentrasi karena
suka melamun
12. Kemampuan penilaian : perlu dikaji lebih lanjut
13. Daya tilik diri : perlu dikaji lebih lanjut

14
- Konsep Diri
1. Citra tubuh : pasien mengatakan bahwa payudaranya sangat dibanggakan
untuk mendukung profesinya.
2. Identitas : perlu dikaji lebih lanjut
3. Peran : pasien adalah seorang model yang terkenal
4. Ideal diri : pasien tidak siap dan tidak sanggup jika harus mengalami
pengangkatan payudaranya dan juga kehilangan rambutnya
karena efek kemoterapi.
5. Harga diri : pasien merasa tidak berguna lagi, gairah bekerja sangat
menurun bahkan beranggapan bahwa tidak ada harapan untuk
masa depan.
- Hubungan Sosial
Pasien suka menyendiri dan suka melamun
- Spiritual
Perlu dikaji lebih lanjut

3.3 Analisis Kasus

DATA PENYEBAB MASALAH


Data Subjektif  koping yang rendah dari Harga diri rendah
 Merasa diri sudah tidak dalam diri pasien untuk
berguna, dan menghadapi tindakan
mengatakan tidak ada medis
harapan untuk masa
depan

Data Objektif
 Setelah mendengar
informasi setentang
efek samping tersebut,
pasien sering melamun,
menyendiri, gairah
kerja menurun

15
Data Subjektif  Perubahan struktur dan Gangguan Citra
 Merasa tidak berguna fungsi tubuh karena Tubuh
lagi tindakan medis
 Beranggapan bahwa
tidak ada harapan di
masa depan

Data Objektif
 Efek samping operasi
berupa pengangkatan
payudara dan
kemungkinan
kerontokan rambut
 Suka melamun,
menyendiri, merasa
tidak berguna lagi,
gairah bekerja sangat
menurun

16
3.4 Diagnosa dan Perencanaan

No. Diagnosa NOC NIC


1. Harga diri rendah situasional Label: harga diri Label: peningkatan harga diri
(munculnya persepsi negative tentang Definisi: penilaian harga diri sendiri Definisi: membantu pasien untuk meningkatkan
makna diri sebagai respons terhadap Setelah dilakukan intervensi 3 X 24 penilaian pribadi mengenai harga diri
situasi saat ini) berhubungan dengan jam pasien diharapkan: Rencana intervensi yang akan dilakukan:
gangguan citra tubuh ditandai dengan 1. Verbalisasi penemerimaan 1. Monitor pernyataan pasien mengenai diri
meremehkan kemampuan diri 2  4 2. Bantu pasien untuk menemukan penerimaan diri
menghadapi situasi dan tidak 2. Komunikasi terbuka 2  4 3. Dukung pasien untuk bisa mengidentifikasi
berdaya 3. Tingkat percaya diri 2  4 kekuatan
DO: 4. Kuatkan kekuatan pribadi yang diidentifikasi
- Setelah mendengar informasi Keterangan: pasien
setentang efek samping 1: sangat kurang 5. Jangan mengkritisi pasien dengan negative
tersebut, pasien sering 2: kurang 6. Bantu untuk mengatur tujuan yang realistik
melamun, menyendiri, gairah 3: cukup dalam rangka mencapai harga diri yang lebih
kerja menurun 4: baik tinggi
DS: 5: sangat baik 7. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas-aktivitas
- Merasa diri sudah tidak yang akan meningkatkan harga diri
berguna, dan mengatakan tidak
ada harapan untuk masa depan.

17
2. Gangguan citra tubuh (konfusi dalam Label: citra tubuh Label: peningkatan citra tubuh
gambaran mental tentang diri-fisik Definisi: persepsi terhadap Definisi: meningkatkan persepsi dan sikap pasien baik
individu) berhubungan dengan penampilan dan fungsi tubuh sendiri. yang disadari maupun tidak disadari terhadap tubuhnya.
perubahan persepsi diri ditandai Setelah dilakukan intervensi 3 X 24 Rencana intervensi yang akan dilakukan:
dengan perubahan struktur tubuh jam, diharapkan pasien dapat: 1. Membantu pasien untuk mendiskusikan
(efek prosedur bedah) 1. Penyesuaian terhadap perubahan-perubahan (bagian tubuh)
perubahan tubuh akibat disebabkan adanya penyakit atau pembedahan,
DO: pembedahan 2  4 dengan cara yang tepat.
- Efek samping operasi berupa 2. Kepuasan dengan penampilan 2. Bantu pasien memisahkan penampilan fisik
pengangkatan payudara dan fisik 2  4 dari perasaan berharga secara pribadi, dengan
kemungkinan kerontokan 3. Gambaran internal diri 2  4 cara yang tepat.
rambut 3. Fasilitasi kontak dengan individu yang
- Suka melamun, menyendiri, Keterangan: mengalami perubahan yang sama dalam hal
merasa tidak berguna lagi, 1: sangat kurang citra tubuh.
gairah bekerja sangat menurun 2: kurang 4. Bantu pasien untuk mengidentifikasi bagian
DS: 3: cukup dari tubuhnya yang memiliki persepsi positif
- Merasa tidak berguna lagi 4: baik terkait dengan tubuhnya
- Beranggapan bahwa tidak ada 5: sangat baik
harapan di masa depan

18
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Konsep diri terdiri dari citra diri, ideal diri, konflik peran, identitas diri, dan harga diri.
Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk kehilangan rasa
percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya, pesimis, tidak ada harapan dan putus
asa. (Departemen Kesehatan RI, 2000). Harga diri rendah disebabkan faktor predisposisi dan
faktor presipitasi. Sedangkan gangguan citra tubuh adalah gangguan yang disebabkan
kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya Berdasarkan
kasus dapat diangkat diagnosa harga diri rendah situasional dan gangguan citra tubuh.

4.2 Saran

19
DAFTAR PUSTAKA

Gilovich, T., Keltner, D. and Nisbett, R. (2006). Social psychology. New York: Norton
And Company.
Khalek, A. (2016). Introduction To The Psychology Of Self-Esteem. The Court Historian, 7(1),
1–15. https://doi.org/10.1179/cou.2002.7.1.001
Muhith,A. 2015. Pendidikan Keperawaan Jiwa : Teori dan Aplikasi. Yogyakarta. Penerbit

ANDI.

Nurhalimah. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan : Keperawatan Jiwa. Kementerian
Ksehatan Indonesia.

Sedikides, C. and Gress, A. P. (2003). Portraits of the self. In M. A. Hogg and J.


Cooper (Eds.),Sage handbook of social psychology (pp. 110-138). London: Sage.
Wang, Y. and Ollendick, T. H. (2001). A cross-cultural and developmental analysis of self
esteem in Chinese and Western children. Clinical Child and Family Psychology
Review, 4, 253-271.

20