You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Setiap organisme selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan


hidupnya,artinya setiap perubahan dunia luar akan mendapat tanggapan agar ia
tetap bertahan hidup.Sistem saraf dengan cepa menyebarkan Informasi agar
mendapat tanggapan sehingga terjadi perubahan dalam diri kita seperti
perubahan tekanan darah, respirasi, suhu.sebaliknya sistem endokrin yang
menghasilkan hormon bekerja lebih lambat sebab hormon tersebut akan
mengikuti aliran darah, terikat pada reseptor di organ target yang menyebabkan
efek perubahan metabolisme atau fungsi dari organ tersebut,yang termasuk
kelenjar endokrin adalah hipotalamus,kelenjar hiposis anterior dan
posterior,kelenjar tiroid,kelenjar paratiroid,pulau langerhans pankreas,korteks
dan medula anak ginjal,ovarium,testis dan sel endokrin di saluran cerna.
(Tarwoto, 2012)
Kelenjar Hipofisis atau nama lainnya adalah kelenjar pituitary merupakan
kelenjar yang sebesar kelereng namun mempunyai makna fisiologis yang sangat
penting bagi kelangsungan dan homeostasis tubuhmanusia. Selain itu hipofisis,
terutama bagian anterior, memiliki kemampuan dalam mengatur kelenjar-
kelenjar endokrin lainnya. Pituitary adalah kelenjar majemuk sekresi internal
yang terletak di dalam sel tursika, yakni suatu lekukan di dalam tulang sfenoid
hipopituitarisme dapat desebabkan oleh macam-macam kelainan kelamin antara
lain nekrosis, hipofisis postpartura (penyakit shecan), nekrosis karena
meningitis basalis, trauma tengkorak, hipertensi maligna, arteriasklerosis
serebri, tumor granulema dan lain-lain. .
( Nurarif Huda Amin, 2015)
Kelenjar hipofisis manusia dewasa terdiri dari lobus posterior atau
neurohipofisis sebagai lanjutan dari hipotalamus, dan lobus anterior atau
adenohipofisis yang berhubungan dengan hipotalamus melalui tangkai hipofisis.
Pada manusia lobus Intermedia terdapatmenyatu dengan lobus anterior.

(Sudoyo W, 2009)

1
A. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Hipopituitarisme ?
2. Bagaimana Klasifikasi Hipopituitarisme?
3. Bagaimana Etiologi Hipopituitarisme?
4. Bagaimana Manifestasi Hipopituitarisme?
5. Bagaimana Patofisiologi Hipopituitarisme?
6. Bagaimana Pathway Hipopituitarisme?
7. Bagaimana Pemeriksaan penunjang i Hipopituitarisme?
8. Bagaimana Penatalaksanaan Hipopituitarisme?
9. Bagaimana Komplikasi Hipopituitarisme?
10. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan Hipopituitarisme?

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep Hipopituitarisme dan asuhan
keperawatan Hipopituitarisme.
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan Definisi Hipopituitarisme.
b. Menjelaskan Klasifikasi Hipopituitarisme.
c. Menjelaskan Etiologi Hipopituitarisme.
d. Menjelaskan Manifestasi Klinis Hipopituitarisme.
e. Menjelaskan Patofisiologi Hipopituitarisme.
f. Menjelaskan Pathway Hipopituitarisme.
g. Menjelaskan Pemeriksaan penunjang Hipertensi.
h. Menjelaskan Penatalaksanaan Hipopituitarisme.
i. Menjelaskan Komplikasi Hipopituitarisme.
j. Menjelaskan konsep Asuhan Keperawatan Hipopituitarisme.

2
C. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien Hipopituitarisme.
2. Bagi masyarakat
Diharapkan mahasiswa dapat memberikan pengetahuan atau informasi kepada
masyarakat tentang Hipopituitarisme dan bagaimana cara penanganannya.
3. Bagi tenaga kesehatan
Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan dan
pendidikan kesehatan Hipopituitarisme pada klien.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi

Hipopituitarisme adalah keadaan dimana terdapat defisit atau


kekurangan satu, beberapa atau semua hormon-hormon yang dihasilkan oleh
pituitary.

(Sudoyo W ,2009)

Hipopituitarisme adalah istilah umum yang mengacu pada setiap


bawah fungsi dari kelenjar pituitari. Ini adalah definisi klinis yang digunakan
oleh ahli endokrin dan ditafsirkan bahwa satu atau lebih fungsi hipofisis
kekurangan. Istilah ini dapat merujuk kepada kedua anterior dan kegagalan
kelenjar hipofisis posterior (Pituitary Network Association).

( Sylvia Wilson, 2008)

Jadi dapat disimpulkan bahwa hipopituitarisme adalah suatu keadaan


dimana terjadinya penurunan satu atau beberapa hormon yang dihasilkan oleh
pituitari sehingga menyebabkan kurangnya hormon yang ada didalam tubuh,
sehingga menyebabkan adanya komplikasi pada seluruh sistem yang ada
didalam tubuh. Hipopituirisme biasanya terjadi akibat adanya kerusakan atau
kegagalan kelenjar hipofisis anterior maupun posterior.

(Tarwoto, 2009)

B. KLASIFIKASI

Klasifikasi berdasarkan Manifestasi Klinik :

1. Hipofisis Anterior (Adenohipofisis)


Merupakan kelenjar yang sangat vaskuler dengan sinus - sinus
kapiler yang luas diantara sel – sel kelenjar, 0,6 gr dan diameternya sekitar 1

4
cm sekresi hipofisis anterior diatur oleh hormon yang dinamakan ”releasing
dan inhibitory hormones (atau factor) hipotalamus” yang disekresi dalam
hipotalamus sendiri dan kemudian dihantarkan kehipofisis anterior melalui
pembuluh darah kecil yang dinamakan pembuluh partal hipotalamik
hipofisial. Kelenjar hipofisis anterior terdiri atas beberapa jenis sel.
Pada umumnya terdapat satu jenis sel untuk setiap jenis hormon
yang dibentuk pada kelenjar ini, dengan teknik pewarnaan khusus berbagai
jenis sel ini dapat dibedakan satu sama lain.Satu-satunya kemungkinan
pengecualiannya adalah sel dari jenis yang sama mungkin menyekresi
hormon iuteinisasi dan hormon perangsang folikel. Berdasarkan ciri – ciri
pewarnaannya, sel-sel hipofise anterior dibedakan ke dalam 3 kelompok
klasik: Kromofobik (tanpa granul), Eosinofilik, dan Basofilik. Sel-sel
eosinfilik dianggap bertanggung jawab untuk sekresi ACTH, TSH, LH serta
FSH.
1) ACTH (Adrenocorticotropic Hormon) merangsang biosintesis dan
pelepasan kortisol oleh korteks adrenal.
2) Hormon perangsang tiroid / TSH (Thyroid-Stimulating Hormon :
tirotropin) merangsang uptake yodida dan sintesis serta pelepasan
hormon tiroid oleh kelenjar tiroid.
3) Hormon perangsang folikel / FSH (Follicte-Stimulating Hormon)
merangsang perkembangan folikel de graaf dan sekresi hormon
esterogen dan ovarium serta spermatogenesis pada testis.
4) Hormon Luteinisasi (LH) mendorong ovulasi dan luteinasi folikel yang
sudah masak di dalam ovarium. Pada laki – laki hormon ini, yang
dahulunya disebut hormon perangsang sel interstisialis
(ICSH=Interfisial Cell Stimulating Hormon), merangsang produksi dan
pelepasan testosteron oleh sel – sel leydig di testis.
5) Prolaktrin (PRL) merangsang sekresi air susu oleh payudara ibu setelah
melahirkan.
6) Pengendalian sekresi hipofisis anterior.
Sistem rangkap (dual system) yang mengendalikan sekresi hormon
hipofise anterior melalui 2 mekanisme kontrol antara lain :
a. Umpan Balik negatif, dimana hormon dari kelenjar sasaran yang bekerja
pada tingakat hipofise/hipotalamus menghambat sekresi hormon trofiknya.
5
b. PengendalianOleh hormon – hormon hipotalamus yang berasal dari sel-sel
neuronai di dalam atau di dekat eminensia medialis dan disekresikan ke
sirkulasi partai hipofise.
2. Hipofisis Posterior (Neurohipofisis)
Kelenjar hipofisis posterior terutama terdiri atas sel-sel glia yang
disebut pituisit. Namun, pituisit ini tidak mensekresi hormon, sel ini hanya
bekerja sebagai struktur penunjang bagi banyak sekali ujung-ujung serat
saraf dan bagian terminal akhir serat dari jaras saraf yang berasal dari
nukleus supraoptik dan nukleus paraventrikel hipotalamus.
Jaras saraf ini berjalan menuju ke neurohipofisis melalui tangkai
hipofisis, bagian akhir saraf ini merupakan knop bulat yang mengandung
banyak granula-granula sekretonik, yang terletak pada permukaan kapiler
tempat granula-granula tersebut mensekresikan hormon hipofisis posterior
berikut: Hormon antidiuretik (ADH) yang juga disebut sebagai vasopresin
yaitu senyawa oktapeptida yang merupakan produk utama hipofise
posterior. Memainkan peranan fisiologik yang penting dalam pengaturan
metabolisme air.
Hormon antidiuretik (ADH) dalam jumlah sedikit sekali, sekecil 2
nanogram, bila disuntukkan ke orang dapat menyebabkan anti diuresis yaitu
penurunan ekskresi air oleh ginjal. Stimulus yang lazim menimbulkan
ekskresi ADH adalah peningkatan osmolaritas plasma. Dalam keadaan
normal osmolaritas plasma dipertahankan secara ketat sebesar 280 mOsm/kg
plasma. Kalau terjadi kehilangan air ekstraselular, osmolaritas plasma akan
meningkat shingga mengaktifkan osmoreseptor, kemudian sinyal untuk
pelepasan ADH, peningkatan osmolaritas plasma juga merangsang pusat
rasa haus yang secara anatomis berdekatan / berhubungan dengan nukleus
supraoptikus. Kerja ADH untuk mempertahankan jumlah air tubuh terutama
terjadi pada sel – sel ductus colligens ginjal. ADH mengerahkan
kemampuannya yang baik untuk mengubah permeabilitas membran sel
epitel sehingga meningkatkan keluarnya air dari tubulus ke dalam cairan
hipertonik diruang pertibuler/interstisial. Aktifitas ADH dan rasa haus yang
saling terintigritas itu sangat efektif untuk mempertahankan osmolaritas
cairan tubuh dalam batas – batas yang sangat sempit.
4. Hipofisis Pars Intermedus
6
Berasal dari bagian dorsal kantong Rathke yang menjadi satu dengan
hipofisis posterior. Pars intermedus mengeluarkan hormon MSH
(melanocyte stimulating hormon) melanotropin =intermedian. MSH terdiri
dari sub unit alfa dan sub untui beta, beta MHS lebih menentukan khasiat
hormon tersebut. Pada manusia, pars intermedus sangat rudimeter sehingga
pada orang dewasa tidak ada bukti bahwa MSH dihasilkan oleh bagian ini.
Beta MSH memiliki struktur kimia yang mirip dengan ACTH
(adrenocortico tropic hormon), sehingga ACTH memiliki khasiat seperti
MSH.
( Sudoyo W, 2009)

C. ETIOLOGI
Sejumlah kelainan dapat menyebabkan defisiensi satu atau lebih
hormon pituitari atau hipofise. Kelainan ini dapat bersifat kongenital, traumatik
(pembedahan hipofise, iradiasi kranial, cedera kepala), neoplastik (adenoma
hipofise yang besar, massa paraselar, kraniofaringioma, metastase,
meningioma, infiltratif (hemokromatosis, hipofisitis limfositik, sarkoidosis,
histiositosis X), vaskuler (apopleksia hipofise, nekrosis postpartum, penyakit sel
sabit) atau infeksi (tuberkulosis, jamur, parasit) .beberapa penyebab atau
etiologi dari hipopituitarisme diantaranya:

1. Adenomas pituitari atau tumor pituitari merupakan penyebab yang paling sering
terjadi. Adanya tumor dapat menekan dan merusak pituitari sehingga fungsinya
dapat terganggu. Namun demikian adenomas pituaitari juga dapat
mengakibatkan peningkatan produksi hormon (hiperpituitari). Hasil penelitian
menunjukan bahwa 30% pada adenomas mengalami defisiensi hormon pitutitary
2. Pembedahan atau operasi pituitari. Salah satu resiko operasi pituitari adalah
terganggunya fungsi pituitari, hal ini juga tergantung pada ukuran, jenis tumor
derajat infiltrasi maupun pengalaman dari ahli bedah
3. Kelebihan zat besi, keadaan overload besi misalnya pada thalasemi, transfusi
darah akan mengakibatkan penurunan jumlah sel hipofisis.
4. Karena genetik, hal ini masih belum jelas idiopatik), diduga karena faktor
mutasi gen

7
5. Malnutrisi berat dan kehilanganberat badan yang cepat juga dapat
merusak hipofisis
(Harrison, 2012)
D. MANIFESTASI KLINIK
a. Tanda-tanda klinik sesuai dengan penyebabnya, misalnya baktermia, viral,
hepatitis dan trauma
b. Gangguan penglihatan dan papiledema.
c. Tanda-tanda defisit gonadotropin
1) Menurun kadar FSH, LH serum, dan steroid gonad.Anak-anak
mengalami terlambat pubertas
2) Dewasa :
a) Wanita (olrgomenorea atau amenorea, atrofi uterus dan vagina,
potensial atrofi payudara,
b) Laki-laki serta hilangnya libido, jumlah sperma berkurang, gangguan
ereksi, testis mengecil dan rambut tumbuh rontok).
3) Manifestasi defisit hormon pertumbuhan
a) Anak
1. Pertumbuhan lambat, tetapi bagian tubuh proporsional, terlalu
banyak jaringan lemak, tetapi pertumbuhan otot buruk.
2. Terlambat pubertas, tetapi pada akhirnya perkembangan
seksual normal .Kadar hormon pertumbuhan serum menurun
b) Dewasa :
1. Tubuh pendek sekali.
2. Pertumbuhan otot buruk sehingga cepat lelah.
3. Emosi labil
4. Manifestasi defisit prolaktin (ibu pascapartem tidak
mengeluarkan air susu dan kadar prolaktin serum kurang)
d. Manifestasi defisit hormon TSH, rasa lelah, konstipasi, kulit kering,
gambaran laboratorium dari hipertiroidisme.
(Wilson M, 2008)

8
E. PATOFISIOLOGI

Pengaturan sekresi hormon perifer umumnya oleh glandula pituitari


anterior dan hipotalamus serta jalur umpan balik negatif.Kelenjar hipofisis atau
pituitari terletak di bawah hipotalamus otak dan melekat melelalui suatu tangkai
pada eminensia medialis otak yang terdiri dari lobus posterior (neorohipofisi )
dan lobus anterior.

Lobus posterior berasal dari infundibulan diencefalon yang


mempunyaisambungan saraf langsung lewat jaras serat yang besar yang
mengekskresi hormon ADH dan oksitosin.Lobus anterior berkembang dari
ektodermstomadeum (kantong Rathke ) dan dikendalikan melalui sekresi
hipotalamus yang mensekresi hormone THS ,ACTH,FSH,LH.Ujung serabut
saraf hipotalamus melepaskan neurohormon ke dalam kapiler eminensia
medialis dan dibawah kesistem portal hipofisis.

Eminensia medialis merupakan lintasan akhir bersama seluruh faktor


pelepas (releasing factor).Ada 2 tipe sekresi hipotalamus yaitu hormon pelepas
(releasing) dan hormon penghambat (inhibisi).Hormon hipofisis y a n g t i d a
m e m i l i k i k o n t r o l u m p a n b a l i k dari produk kelenjar sasaran (growth
hormone, prolaktin, dan melanocyte-stimulating hormon).

Memerlukan inhibitor dan stimulator hipotalamus untuk


pengendaliannya.Yang memiliki stimulator adalah kortikotropin, tirotropin, LH,
FSH.Growth hormone atau somatropin mempunyai pengaruh metabolik utama
yang pada anak-anak untuk untuk pertumbuhan somatik danorang dewasa untuk
mempertahankan ukuran normal tubuh, pengaturan sintesis protein dan
pembuatan nutrien.Growth hormon memproduksi somatomedin yang
memperantarai efek growth promoting.

Apabila tanpa somatomedin maka GH tidak dapat merangsang


pertumbuhan.Sekresi GH diatur oleh G H R H d a r i d a n o l e h h i p o t a l a m u s
( h o r m o n penghambat). Pelepasan GH dirangsang oleh hipoglikemia dan oleh
asam amino (seperti arginin).

9
Penghambatan pelepasan GH dan somatostatin oleh kelenjar hipofisis
akan mengakibatkan pertumbuhan terhambat yang ditandai anak cebol, kepala
bulat, wajah pendek dan lebar, tulang frontal menonjol, mata agak
menonjol,gigi berupsi lambat,eksretmitas kecil,pertumbuhan rambut hampir
tidak ada ,kerelambatan mental,hal ini di akubatkan oleh proses patologik yaitu
: Trombosis vaskuler yang mengakibatkan nekrosis kelenjar hipofisis normal.

b. Tumor hipofisis yang merusak sel-sel hipofisisy a n g n o r m a l .


c. Trombosis vaskuler yang mengakibatkan nekrosis kelenjar hipofisis normal.
d. Penyakit granulamatosa infiltratif yang merusak hipofisis.
e. Destruksi sel-sel hipofisis yang bersifat idiopatik atau autoimun.

( Wilson M. Lorraine, 2008)

10
F. Patways

Trauma Kepala Infeksi peradangan Penyakit antimun


G.Tumor Hipofisa Akibat pembedahan

Merusak Hipofise Aliran darah ke Ensefalitis viral & Hipofisi limfosit Tumor di kepala
hipofisi hipofisis berkurang bakterimia antimun
Didaerah lobus
Lobus anterior anterior Kelenjar hipofise/ Kelenjar Hipofise Kerusakan/terangkatnya
hipotalamus sendiri kelenjar hipofisi
Hipofise rusak Malfungsi kelenjar
Hiposekresi hormon hipofise terutama Malfuingsi
hipofisi anterior anterior Malfungsi terutama anterior
Defisit hormon hipofisi
Malfungsi kelenjar
Hiposekresi hormon hipofise
hipofisi anterior

Hipopituitarisme

Hypophyscaldwarfisim
Hypopysical Hypophyscaldwarfisim
chachexia

Gangguan produksi Gangguan produksi Gangguan produksi Gangguan produksi Tumor dihipofisa
hormone somatropik hormone Gonadtropin Hormone ACTH Hormone tirotropik membesar

Masa anak2 Defisit kortikotropin Gangguan defisit Nervus ke II


LH Terganggu
Gangguan transmisi
Defisiensi pertumbuhan Malaise, Kelenjar tiroid impuls
MSH terganggu penurunan
tekan otot Defisit tiroksin
Pertumbuhan lambat Malfungsi Gangguan persepsi
testosteron Perubahan suhu, sensori
kulit kering
Dwafirasme
Defisit androgen
Resiko gangguan
Defisit sperma (mandul) libido, integritas kulit
Gangguan Citra impoten
tubuh Defisit perawatan
diri
Kerusakan integritas
Koping individu tidak kulit
efektif

(Harrison, 2012)

11
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratori Pengeluaran 17 ketosteroid dan 17 hidroksi
kortikosteroid dalam urine menurun, BMR menurun.
2. Pemeriksaan radiologic
3. Poto polos kepala
4. Polimografi berbagai arah (multi direksional)
5. Pnemoensefalogarfi
6. cT scan
7. Angiografi serebral
8. Pemeriksaan lapang pandang
9. Adanya kelainan lapang pandang mencurigakan
10. Adanya tumor hipofisis yang menekan kiasmaoptik
11. Pemeriksaan diagnostic
12. Pemeriksaan karfisol, T3 dan T4 serta estrogen atau testoter
13. Pemeriksaan ACTH, TSH dan LH
14. Test provokasi dengan menggunakan stimulan atau subreson hormon dan
dengan melakukan pengukuran efeknya terhadap kadar hormon serum
15. Test provokatif
(Tarwoto, 2012)
H. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan medis
1. Kausal Bila disebabkan oleh tumor, umumnya dilakukan radiasi, bila
gejala-gejala tekanan oleh tumor progresif dilakukan operasi.
2. Terapi substitusi
a) Hidrokortison Antara 20-30 mg selama 5 hari, diberikan per-Or,
umumnya sisesuaikan dengan siklus harian sekresi steroid, yaitu
10-15mg waktu pagi dan 10mg waktu malam. Cairan perinfus NaCl,
glukosa, steroid dan vasoreses.
b) Puluis tiroid / tiroksin diberikan setelah terapi dengan hidrokortison.
c) Testosteron pada penderita laki – laki berikan suntikan testosteron
enantot atau testosteron siprionat 200 mg intramuskuler tiap 2
minggu. Dapat juga diberikan fluoxymestron 10 mg per-os tiap hari.
d) Esterogen diberikan pada wanita secara siklik untuk
mempertahankan siklus haid. Berikan juga androgen dosis setengah
12
dosis pada laki – laki hentikan bila ada gejala virilisasi ’’growth
hormone’’ bila terdapat dwarfisme.
3. Tumor hipofisis, diobati dengan pembedahan radioterapi atau obat (misal
: akromegali dan hiperprolaktinemia dengan hymocriptine).
4. Defisiensi hormon hos diobati sebagai berikut : penggantian GH untuk
defisiensi GH pada anak – anak, tiroksin dan kortison untuk defisiensi
TSH dan ACTH, penggantian androgen atau esterogen untuk defisiensi
gonadotropin sendiri (isolated) dapat diobati dengan penyuntikan FSH
atau HCG.
5. Desmopressin dengan insuflasi masal dalam dosis terukur
b. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pemberian hormon pertumbuhan sintesis (oksigen)
2. Ciptakan agar kondisi klien dapat dengan bebas mengungkapkan
perasaan dan fikirannya tentang perubahan tubuh yang dalaminya
3. Bangkitkan motivasi agar klien mau melaksanakan progam yang
sudah ditentukan
4. Anjurkan klien memeriksakan diri secara teratur ke tempat pelayanan
terdekat
5. Anjurkan pada keluarga untuk dapat membantu klien memenuhi
kebutuhan sehari-harinya bila diperlukan serta dapat menciptakan
lingkungan yang kondusif dalam keluarga seperti menghindari perselisihan
atau persaingan yang tidak sehat.
6. Bantu klien untuk mengembangkan sisi positif yang dimiliki serta
bantu untuk beradaptasi
7. Ajarkan klien cara melakukan perawatan kulit secara teratur setiap
hari
8. Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakitnya,pengobatannya
dan kuncikebersihan pengobatan.
( Sudoyo W, 2009)
I. KOMPLIKASI
1. Kardiovaskuler
a. Hipertensi
b. Tromboflebitas
c. Tromboembolism
13
d. Percepatan uterosklerosis
2. Imunologi Peningkatan resiko infeksi dan penyamaran tanda-tanda
infeksi.
3. Perubahan mata
a. Galukoma
b. Lesi kornea
4. Muskulokletal
a. Kelisutan otot
b. Kesembuhan luka yang jelek.
c. Osteoporosis dengan fraktur komplikasi vertebra, fraktur patologik
tulang panjang, nekrosis aseptic kaput femoris
.( Nurarif Huda Amin, 2015)
J. Fokus pengkajian
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada klien dengan kelainan ini antara lain
mencakup:
a. Riwayat penyakit masa lalu : Adakah penyakit atau trauma pada
kepala yang pernah diderita klien, serta riwayat radiasi pada kepala.
b. Sejak kapan keluhan diarasakan : Dampak defisiensi GH mulai
tampak pada masa balita sedang defisiensi gonadotropin nyata pada
masa praremaja.
c. Apakah keluhan terjadi sejak lahir : Tubuh kecil dan kerdil sejak
lahirterdapat pada klien kretinisme.
d. Kaji TTV : dasar untuk perbandingan dengan hasil pemeriksaan yang
akan datang.
e. Berat dan tinggi badan saat lahir atau kaji pertumbuhan fisik klien.:
Bandingkan perumbuhan anak dengan standar.
f. Keluhan utama klien:
1) Pertumbuhan lambat.
2) Ukuran otot dan tulang kecil.
3) Tanda – tanda seks sekunder tidak berkembang, tidak ada rambut
pubis dan rambut axila, payudara tidak tumbuh, penis tidak
tumbuh, tidak mendapat haid, dan lain – lain.
4) Interfilitas.
14
5) Impotensi.
6) Libido menurun.
7) Nyeri senggama pada wanita.
g. Pemeriksaan fisik
1) Amati bentuk dan ukuran tubuh, ukur BB dan TB, amati bentuk
dan ukuran buah dada, pertumbuhan rambut axila dan pubis pada
klien pria amati pula pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan
kumis).
2) Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar.
Tergantung pada penyebab hipopituitary,perlu juga dikaji data
lain sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor
maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi serebrum
danfungsi nervus kranialis dan adanya keluhan nyeri kepala.
h. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemapuan klien dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya.
i. Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostik seperti :
1) Foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella
tursika.
2) Pemeriksaan serta serum darah : LH dan FSH GH, androgen,
prolaktin, testosteron, kartisol, aldosteron, test stimulating yang
mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid releasing
hormone.
(Harrison, 2012)
K. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan Gangguan transmisi
impuls
2. .individu tidak efektif berhubungan dengan Defisit sperma (mandul)
libido, impoten
3. Gangguan Citra tubuh berhubungan dengan Dwafirasme
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan Malaise, anoreksia penurun
tekan otot
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Resiko gangguan
integritas kulit

15
L.Intervensi
NO
Diagnosa Tujuan dan Intervensi (NIC)
Keperawatan Kriteria Hasil
(NOC)
1. Gangguan persepsi NOC NIC
sensorik
1. Visual (Body image,  Pencampaian
berhubungan dengan
Gangguan transmisi Cognitive orientation, komuikasi: defisit
impuls
Sensory function). pengelihatan.
2. Auditory (Cognitive 1. Kaji reaksi pasien
orientation. terhadap
Communicative penurunan
receptive penglihatan.
ability,Distorted 2. Ajak pasien untuk
thought control) menentukan tujuan
dan belajar melihat
Kriteria Hasil : dengan cara yang
1. Menunjukkan lain.
pemahaman verbal, 3. Deskripsikan
tulis atau sinyal respon. lingkungan
2. Menunjukkan disekitar pasien.
pergerakan dan 4. Jangan
ekspresi wajah yang memindahkan
rileks. sesuatu diruangan
3. Menjelaskan rencana pasien tanpa
memodifikasi gaya memberi informasi
hidup untuk pada pasien.
mengakomodasi 5. Bacakan surat atau
kerusakan visual dan korann atau info

16
pendengaran. lainnya.
4. Bebas dari bahaya fisik 6. Sediakan huruf
karena penurunan braile.
keseimbangan 7. Informasikan letak
pendengaran, benda-benda yang
penglihatan dan sering diperlukan
sensasi. pasien.
5. Memelihara kontak  Manajemen
dengan sumber Lingkungan:
komunitas yang tepat. 1. Ciptakan
lingkungan yang
aman bagi pasen.
2. Pndahkan benda-
benda berbahaya
dari
lingkungangan
pasien.
3. Pasang side rail.
4. Sediakan tempat
tidur yang rendah.
5. Tempatkan benda-
benda pada tempat
yang dapat
dijangkau pasien

2. Ketidakefektifan NOC NIC


koping individu 1. Decision making Dicision making
tidak efektif 2. Role inhasmet 1. Menginformasikan
3. Sosial support pasien alternatif atau

17
Kriteria hasil : solusi lain penanganan
1. Mengidentifikasi pola 2. Memfasilitasi pasien
koping yang efektif untuk membuat
2. Mengungkapkan secara keputusan
verbal tentang kopIng 3. Bantu pasien
yang efektif mengidentifikasi,
3. Mengatakan penurunan keuntungan, kerugian
stres dari keadaan
4. Klien mengatakan telah Role inhancemet
menerima tentang 1. Bantu pasien untuk
keadaannya identifikasi bermacam-
5. Mampu macam nilai kehidupan
mengidentifikasi 2. Bantu pasien identifikasi
strategi tentang koping strategi positif untuk
mengatur pola nilai yang
dimiliki
Coping enhancement
1. Anjurkan pasien untuk
mengidentifikasi
gambaran perubahan
peran yang realistis
2. Gunakan pendekatan
tenang dan menyakinkan
3. Hindari pengambilan
keputusan pada saat
pasien berada dalam
stress berat
4. Berikan informasi actual
yang terkait dengan
diagnosis, terapi dan
prognosis

18
3. Gangguan citra tubuh NOC : NIC :
berhubungan dengan 1. Body image Body image enhancement
Dwarfisme 2. Self esteem 1. Kaji secar verbal dn non
verbal respon klien
Kriteria Hasil : terhadap tubuhnya
1. Body image positif 2. Monitor frekuensi
2. Mampu mengkritik dirinya
mengidentifikasi 3. Jelaskan tentang
kekuatan personal pengobatan
3. Mempertahankan 4. Jelaskan prognosis
intraksi sosial penyakit
5. Jelaskan semua prosedur
dan apa yang dirasakan
selama prosedur
6. Dorong klien untuk
mengungkapkan
perasaanya
7. Identifikasi arti
pengurangan melalui
pemaikan alat bantu
8. Fasilitas kontak dengan
individu lain dalam
kelompok kecil
9. Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
10. Kaloborasi dengan
dokter

19
4. Defisit perawatan NOC : NIC :
diri berhubungan Self Care assistane : ADLs
1. Activity Intolerance
dengan Malaise, 1. Monitor kemempuan
2. Mobility: physical
anoreksia penurun klien untuk
impaired
tekan otot perawatan diri yang
3. Self Care Deficit
mandiri.
Hygiene
2. Monitor kebutuhan
4. Self Care Deficit
klien untuk alat-alat
Feeding
bantu untuk
kebersihan diri,
Kriteria Hasil :
berpakaian, berhias,
1. Klien terbebas dari toileting dan makan.
bau badan 3. Sediakan bantuan
a. Menyatakan sampai klien mampu
kenyamanan secara utuh untuk
terhadap melakukan self-care.
kemampuan 4. Dorong klien untuk
untuk melakukan aktivitas
melakukan sehari-hari yang
ADLs normal sesuai
2. Dapat melakukan kemampuan yang
ADLS dengan dimiliki.
bantuan 5. Dorong untuk
3. Perawatan diri : melakukan secara
Aktivitas kehidupan mandiri, tapi beri
sehari-hari (ADL) bantuan ketika klien
mampu untuk tidak mampu
melakukan aktivitas melakukannya.
perawatan fisik dan 6. Ajarkan klien/
pribadi secara keluarga untuk
mandiri atau dengan mendorong
alat bantu kemandirian, untuk
4. Perawatan Diri : memberikan bantuan

20
Makan : hanya jika pasien
Kemampuan untuk tidak mampu untuk
menyiapkan dan melakukannya.
memakan makanan 7. Berikan aktivitas
dan cairan secara rutin sehari- hari
mandiri dengan atau sesuai kemampuan.
tanpa alat bantu Pertimbangkan usia klien
jika mendorong pelaksanaan
aktivitas sehari-

21
5. Kerusakan NOC : NIC :
integritas kulit 1. Tissue Integrity : Skin and Pressure Management
berhubungan Mucous Membranes 1. Anjurkan pasien untuk
Resiko gangguan 2. Wound Healing : primer dan menggunakan pakaian
integritas kulit sekunder yang longgar
kriteria hasil: 2. Hindari kerutan pada
1. Integritas kulit yang baik bisa tempat tidur
dipertahankan (sensasi, elastisitas, 3. Jaga kebersihan kulit
temperatur, hidrasi, pigmentasi) agar tetap bersih dan
2. Tidak ada luka/lesi pada kulit kering
3. Perfusi jaringan baik 4. Mobilisasi pasien
4. Menunjukkan pemahaman (ubah posisi pasien)
dalam proses perbaikan kulit dan setiap dua jam sekali
mencegah terjadinya sedera 5. Monitor kulit akan
berulang adanya kemerahan
5. Mampu melindungi kulit dan 6. Oleskan lotion atau
mempertahankan kelembaban kulit minyak/baby oil pada
dan perawatan alami derah yang tertekan
6. Menunjukkan terjadinya 7. Monitor aktivitas dan
proses penyembuhan luka mobilisasi pasien
8. Monitor status nutrisi
pasien
9. Memandikan pasien
dengan sabun dan air
hangat
10. Kaji lingkungan dan
peralatan yang
menyebabkan
tekanan
11. Observasi luka :
lokasi, dimensi,
kedalaman luka,
karakteristik,warna

22
cairan, granulasi,
jaringan nekrotik,
tanda-tanda infeksi
lokal, formasi traktus
12. Ajarkan pada
keluarga tentang luka
dan perawatan luka
13. Kolaburasi ahli gizi
pemberian diae
TKTP, vitamin
14. Cegah kontaminasi
feses dan urin
15. Lakukan tehnik
perawatan luka
dengan steril
16. Berikan posisi yang
mengurangi tekanan
pada luka

(NANDA, 2015)

23
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hipopituitarisme adalah insupisiensi hipofisis akibat kerusakan mudos
anterior kelenjar hipofise. Panhipopituitarisme (penyakit simmod) adalah tidak
terdapatnya sekresi semua hipofisis secara total dan merupakan kondisi yang
jarang terjadi. Nekrosis hipofisis post partum (sindrom Sheehan) adalah
penyebab tidak umum dari gagal hipofisis anterior. Kondisi lebih sering terjadi
pada wanita dengan kelainan darah hebat, hipovolemia, dan hipotennsi saat
melahirkan. Hipopituitarisme merupakan komplikasi radiasi pada kepala dan
leher. Kerusakan kelenjar hipofise total oleh trauma, tomur atau lesi vaskuler
menghilangkan semua stimuli yang normmalnya diterima oleh tiroid, kelenjar
gonad, dan kelenjar adrenal

B. SARAN
Saran kami kepada pembaca agar senantiasa selalu berorientasi pada
Konsep Dasar Keperawatan yang ada, dalam menetapkan Asuhan Keperawatan
pada Klien dengan masalah keperawatan yaitu Hipopitutarisme yang telah
diberikan agar dipertahankan / ditingkatkan agar lebih baik untuk masa yang
akan datang..

24
DAFTAR PUSTAKA

Harrison 2012 Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Endokrin.

Jakarta: CV Trans Info Media

Price A. Sylvia, Wilson M. Lorraine. 2008. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-

proses Penyakit Edisi 6. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Sudoyo W. Aru dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 Edisi 4.

Jakarta: InternaPublishing

Baradero Mary dkk. 2009. Seri Asuhan Keperawatan Klien dengan


Gangguan

Endokrin. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Tarwoto. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Endokrin.

Jakarta: CV Trans Info Media

Nurarif Huda Amin dkk. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis Nanda. Yogyakarta: Mediaction

Wong. 2010. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Jakarta: EGC.

25
26