You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak didalam leher bagian
bawah, melekat pada tulang laring, sebelah kanan depan trakea, dan melekat
pada dinding laring.Fungsi kelenjar tiroid sangat erat berkaitan dengan
kegiatan metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan;
bekerja sebagai merangsang sebagai perangsang proses oksidasi, mengatur
penggunaan oksigen, dan dengan sendirinya mengatur pengeluaran
karbondioksida. Hipotiroidisme merupakan penyakit yang sering kali
ditemukan dalam masyarakat. Hipotiroidisme diakibatkan hipofungsi tiroid.
Penyakit ini juga sangat sensitive pada bayi dan anak-anak namun gejala dan
tanda-tandanya belum dapat dilihat dengan jelas.Penyakit ini akan
memberikan dampak pada keterbelakangan individu, baik itu fisik maupun
mental. Jika hal ini dibiarkan dan tanpa ada usaha yang dilakukan untuk
meminimalkan jumlah penderita hipotiroidisme maka rakyat Indonesia akan
terus berada dalam keterbelakangan.Status tiroid seseorang ditentukan oleh
kecukupan sel atas hormone tiroid dan bukan kadar normal hormone tiroid
dalam darah. Ada beberapa prinsip faali dasar yang perlu diingat kembali.
Pertama bahwa hormone yang aktif ialah free-hormon, kedua bahwa
metabolisme sel didasarkan adanya free-T3 bukan free-T4, ketiga bahwa
distribusi enzim deyodinasi I,II dan III (DI, DII, DIII) di berbagai organ
tubuh berbeda, dimana DI banyak ditemukan di hepar, ginjal dan tiroid, DII
utamanya di otak, hipofisis dan DIII hampir seluruhnya ditemukan di
jaringan fetal (otak, plasenta). Hanya DI yang direm oleh PTU. (Aru W.
Sudoyo, dkk 2009).Di Indonesia dengan angka kelahiran sekitar 5 juta per
tahun, diperkirakan sebanyak 1.765 sampai 3200 bayi dengan hipotiroid
kongenital dan 966 sampai 3.200 bayi dengan hipotiroid kongenital transien
karena kekurangan iodium, lahir setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan
di India pada tahun 2010, dengan 30 sample penderita hipotiroid kongenital
didapatkan 94% mengalami gambaran dismorfik terdiri dari : 29% dengan
kelainan jantung kongenital dan 41% dengan kelainan spina bifida. Di RSCM

1
Jakarta, dilakukan penelitian terhadap 30 anak dengan kasus hipotiroid
kongenital. Terdapat 30 sample yang terdiri dari 9 laki- laki dan 21
perempuan. Didapatkan gejala klinis tersering adalah perkembangan motorik
yang lambat (83,3%), konstipasi (73,3%), makroglosi (70%), wajah tipikal
(60%), usia tulang terhambat (95,5%), retardasi mental (IQ < 69) sebesar
(62,5%),dll.

B.Rumusan Masalah

1. Apakah definisi dari Hipotiroidisme ?


2. Apa saja klasifikasi dari penyakit Hipotiroidisme?
3. Bagaimana etiologi Hipotiroidisme?
4. Apa saja manifestasi klinis Hipotiroidisme?
5. Bagaimana patofisiologi dari Hipotiroidisme?
6. Bagaimana pathways Hipotiroidisme?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang pada Hipotiroidisme?
8. Bagaimana penatalakasanaan Hipotiroidisme?
9. Apa saja komplikasi pada pasien Hipotiroidisme?
10. Bagaimana Asuhan keperawatan pada Hipotiroidisme?

C.Tujuan

1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Medikal
Bedah serta memahami tentang Hipotiroidisme dan dapat
mengaplikasikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan
Hipotiroidisme.
2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu mengetahui tentang definisi dari Hipotiroidisme.
2. Mahasiswa mampu mengetahui klasifikasi dari Hipotiroidisme.
3. Mahasiswa mampu mengetahuai etiologi dari Hipotiroidisme.
4. Mahasiswa mampu mengetahui manifestasiklinis dari Hipotiroidisme.
5. Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi dari Hipotiroidisme.
6. Mahasiswa mampu mengetahui pathways Hipotiroidisme.
7. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang pada
Hipotiroidisme.

2
8. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan pada Hipotiroidisme.
9. Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi pada Hipotiroidisme.
10. Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada
Hipotiroidisme.

D.Manfaat

1. Bagi mahasiswa
Diharapakan mahasiswa dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien Hipotiroidisme.
2. Bagi masyarakat
Diharapkan dapat memberikan pengetahuan atau informasi kepada
masyarakat tentang penyakit Hipotiroidisme.
3. Bagi tenaga kesehatan
Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan
Hipotiroidisme.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Hiportiroidisme adalah hipofungsi atau kurangnya aktivitas kelenjar
tiroid (penurunan produksi hormon tiroid) atau sebagai kegagalan tiroid
ringan.
(Sylvia A.Price, 2013)
Hipotiroidisme adalah keadaan defisiensi hormon tiroid (TH) yang
menyebabkan metabolisme tubuh berjalan lambat, penurunan produksi panas,
dan penurunan konsumsi oksigen dijaringan. Aktivitas yang lambat di
kelenjar tiroid mungkin sebagai akibat disfungsi tirodi primer, atau kejadian
sekunder akibat disfungsi hipofisis anterior.
(Esther Chang, 2009)

Hipotiroidisme adalah suatu keadaan hipometabolik akibat defisiensi


hormone tiroid yang dapat terjadi pada setiap umur

(Long, Barbara,2008)

Hipotiroidisme adalah penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid


sebagai akibat kegagalan mekanisme kompensasi kelenjar tiroid dalam
memenuhi kebutuhan jaringan tubuh akan horon-hormon tiroid.

(Brunner Sudart,2009)

B. Klasifikasi
1. Hipotiroid primer
Terjadi karena adanya kerusakan pada kelenjar tiroid.
2. Hipotiroid sekunder
Terjadi akibat defisiensi sekresi TSH oleh hipofisis.

4
3. Hipotiroid tertier/ pusat
Terjadi akibat defisiensi sekresi TSH oleh hipotalamus.
(Muttaqin,2010)

C. Etiologi
1. Penyakit Hashimoto,
Terjadi akibat adanya otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar
tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar
TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal, Penyebab
tiroiditis otoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat
kecenderungan genetikuntuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang
paling sering ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto.Pada tiroiditis
Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi
beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang masih
berfungsi.
2.Pengobatan terhadap hipertiroidisme.
Baik yodium radioaktif maupun pembedahan cenderung
menyebabkan hipotiroidisme.
3.Gondok endemik
Hipotiroidisme akibat defisiensi iodium dalam makanan. Gondok
adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok
karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha
untuk menyerap sernua iodium yang tersisa dalam. darah. Kadar HT yang
rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena minimnya
umpan balik.Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan,
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif
(hipotiroidisme goitrosa).
4.Kekurangan yodium jangka panjang
Penyebab tersering dari hipotiroidisme di negara terbelakang.
(Ilham, 2010)

D. Manifestasi Klinis
Menurut (Corwin, 2009), manifestasi klinis hipotiroidisme adalah :
1.Kelambanan, berpikir lamban, dan gerakan yang canggung dan lambat

5
2.Penurunan frekuensi jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema),
dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki
3.Intoleransi terhadap suhu dingin
4.Penurunan laju metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penuruan nafsu
makan dan absorbsi zat gizi yang melewati usus
5.Konstipasi
6.Perubahan fungsi reproduksi
7.Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan rambut tubuh yang tipis
dan rapuh.

E. Patofisiologi
Kelenjar tiroid membutuhkan iodine untuk sintesis dan mensekresi
hormon tiroid. Jika diet seseorang kurang mengandung iodine atau jika
produksi dari hormon tiroid tertekan untuk alasan yang lain, tiroid akan
membesar sebagai usaha untuk kompensasi dari kekurangan hormon. Pada
keadaan seperti ini, goiter merupakan adaptasi penting pada suatu defisiensi
hormon tiroid. Pembesaran dari kelenjar terjadi sebagai respon untuk
meningkatkan respon sekresi pituitary dari TSH. TSH menstimulasi tiroid
untuk mensekresi T4 lebih banyak, ketika level T4 darah rendah. Biasanya,
kelenjar akan membesar dan itu akan menekan struktur di leher dan dada
menyebabkan gejala respirasi disfagia.
Penurunan tingkatan dari hormon tiroid mempengaruhi BMR secara lambat
dan menyeluruh. Perlambatan ini terjadi pada seluruh proses tubuh mengarah
pada kondisi achlorhydria (penurunan produksi asam lambung), penurunan
traktus gastrointestinal, bradikardi, fungsi pernafasan menurun, dan suatu
penurunan produksi panas tubuh.
Perubahan yang paling penting menyebabkan penurunan tingkatan hormone
tiroid yang mempengaruhi metabolisme lemak. Ada suatu peningkatan hasil
kolesterol dalam serum dan level trigliserida dan sehingga klien berpotensi
mengalami arteriosclerosis dan penyakit jantung koroner. Akumulasi
proteoglikan hidrophilik di rongga interstitial seperti rongga pleural, cardiac,
dan abdominal sebagai tanda dari mixedema.
Hormon tiroid biasanya berperan dalam produksi sel darah merah, jadi klien
dengan hipotiroidisme biasanya menunjukkan tanda anemia karena

6
pembentukan eritrosit yang tidak optimal dengan kemungkinan kekurangan
vitamin B12 dan asam folat.
(Sylvia Price,2013)

7
F. Pathway
Penyakit Hashimoto,yodium radioaktif,gondok
endemik,kekurangan yodium jangka panjang

Defisiensi iodium

Disfungsi hipofisis dan hipotalamus

Hipotiroidisme

Pre operatif Post Operatif

TSH Penekanan Peningkatan Kekurangan Adanya Terputusnya


merangsang produksi kolestrol dan vit.B12 dan luka insisi Kontinuitas
kelenjar tiroid Hormon trigliserida asam folat pembedaha jaringan
untuk Tiroid n
mensekresi
Peningkatan Tempat
Pembentukan masuknya Nyeri akut
Kelenjar Laju BMR arteriosklerosis eritrosit tidak
lambat mikroorganisme
tiroid optimal
membesar
Oklusi
Penurunan pembuluh darah
Menekan Anemia Resiko tinggi
Produksi
infeksi
struktur dileher Panas
dan dada Suplai darah
kejaringan otak Kelemahan
Hipotermi menurun
Disfagia
Intoleransi aktivitas
Hipoksia
Ketidak efektifan
pola nafas
Gangguan
pertukaran gas

8
G. Pemeriksaan Penunjang

1.Pemeriksaan kadar T3 dan T4.

2.Pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi


peningkatan TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat
menurun)

3.Pemeriksaan USG : Pemeriksaan ini bertujuan untuk memberikan


informasi yang tepat tentang ukuran dan bentuk kelenjar tiroid dan nodul.

(Brunner & Sudarth,2009)

H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a.Medikamentosa
T4 diberikan dengan dosis 25-50ug/hari, dimulai dengan dosis rendah
dan menaikkan dosisnya setiap bulan untuk mencapai kadar TSH yang
normal. Dosis rumatan rata-rata adalah 125ug/hari. Kadar T4 bebas berada di
atas ambang normal pada pasien yang tidak diobati. Jika ada penyakit jantung
iskemik, pada awalnya harus diberikan dosis terendah. Pasien harus
diperingatkan bahwa pengobatan ini harus dilakukan seumur hidup.
Osteoporosis adalah risiko jangka panjang pengobatan yang berlebihan
b.Pembedahan
Teriodektomi dilaksanakan apabila goiternya besar dan menekan
jaringan sekitar.Tekanan pada trakea dan esofaguus dapat mengakibatkan
inspirasi stridor dan disfagia.Tekanan pada laring dapat mengakibatkan suara
serak.

2. Penatalaksanaan Keperawatan
Hipotiroidisme adalah penyakit sepanjang hayat dan memerlukan
partisipasi klien secara penuh. Klien harus paham tentang farmakologi dari
rejimen obat, nutrisi, dan tindak lanjut yang diperlukan untuk mengontrol
kondisi klien.Dalam perawatan mandiri, fokuskan terhadap kebutuhan klien

9
untuk memahami manifestasi hipotiroidisme , mengikuti rejimen medikasi
dan nutrisi,serta mencari informasi medis secara tepat.
(Black & Hawks, 2014).

I. Komplikasi
Menurut (Corwin, 2009), komplikasi hipotiroidisme adalah :
1. Koma miksedema adalah situasi yang mengancam jiwa yang ditandai
dengan eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme, termasuk
hipotermia tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan
penurunan kesadaran yang menyebabkan koma
2. Kematian dapat terjadi tanpa penggantian TH dan stabilisasi gejala.
3. Ada juga risiko yang berkaitan dengan terapi defisiensi tiroid. Risiko ini
mencakup pergantian hormone yang berlebihan, ansietas, atrofi otot,
osteoporosis, dan fibrilasi atrium

10
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Identitas
meliputi : nama, tempat/tanggal lahir, umur,jenis kelamin,anak-ke, BB/TB,
alamat.
b. Keluhan Utama
Penurunan frekuensi jantung.
c. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan sekarang
Kelambanan, berpikir lamban, dan gerakan yang canggung dan
lambat. Penurunan frekuensi jantung, pembesaran jantung (jantung
miksedema), dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan
kaki. Intoleransi terhadap suhu dingin.Penurunan laju metabolisme,
penurunan kebutuhan kalori, penuruan nafsu makan dan absorbsi zat gizi
yang melewati usus. Konstipasi. Perubahan fungsi reproduksi. Kulit kering
dan bersisik serta rambut kepala dan rambut tubuh yang tipis dan rapuh.
2. Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya ada pembedahan atau terapi radioaktif untuk
hipotiroidisme, penyakit inflamasi kronik seperti penyakit hashimoto,
amylodosis dan sarcoidosis .
3. Riwayat kesehatan keluarga
Ada keluarga yang menderita penyakit hipotiroidisme, penyakit ini
bersifat congenital .

d. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )

1.Pernafasan B1 (breath)

Sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis), frekuensi pernafasan


meningkan,dipneu,dipsneu,dan edema paru.

2.Kardiovaskular B2 (blood)

11
Hipertensi, aritmia, palpitasi, gagal jantung, limfositosis, anemia,
splenomegali, leher membesar

3.Persyarafan B3 (brain)

Bicaranya cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku, seperti:
bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium,
psikosis, stupor, koma, tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa
bagian tersentak – sentak, hiperaktif refleks tendon dalam (RTD).

4.Perkemihan B4 (bladder)

Oligomenorea, amenorea, libido turun, infertil, ginekomasti

5.Pencernaan B5 (bowel)

Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan


banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah.

6.Muskuloskeletal/integument B6 (bone)

Rasa lemah, kelelahan.

(Muttaqin,2010)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operatif
1. Ketidakefektifan pola nafas b.d disfagia.
2. Gangguan pertukaran gas b.d hipoksia.
3. Hipotermi b.d penurunan produksi panas.
4. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan.
Post Operatif
1.Resiko tinggi infeksi b.d masuknya mikroorganisme.
2.Nyeri akut b.d terputusnya kontinuitas jaringan.
( Nanda, 2012 )

12
C. INTERVENSI

TUJUAN DAN
INTERVENSI
NO DIAGNOSA KRITERIA HASIL
(NIC)
(NOC)
1 Ketidakefektifan pola NOC NIC
nafas berhubungan Respiratory satatus : gas Airway Management
dengan depresi ventilasi exchange a. Posiskan pasien untuk
Respiratory status : memaksimalkan ventilasi
ventilation b. Auskultasi suara nafas,
Vital sign status catat adanya suara tambahan
Kriteria hasil : c. Atur intake untuk cairan
Mendemonstrasikan mengoptimalkan
peningaktan ventilasi dan keseimbangan
oksigenasi yang adekuat d. Monitor respirasi dan
Memelihra kebersihan paru- status o2
paru dan bebas dari tanda e. Repiratory Monitoring
distress pernafasan f.Monitorrata-rata, kedalaman,
Mendemonstrasikan batuk irama, dan usaha respirasi
efektif dan suara nafas yang g. Monitor pola nafas
bersih, tidak ada sianosis
dan dyspneu
Tanda-tanda vital dalam
rentang normal

2 Ketidakefektifan pola NOC NIC


nafas berhubungan Repiratory status : Airway Management
dengan depresi ventilasi ventilation a. Posiskan pasien untuk
Respiratory status : airway memaksimalkan ventilasi
patency b. Auskultasi suara nafas, catat
Vital sign status adanya suara tambahan
c. Atur intake untuk cairan
Criteria hasil mengoptimalkan

13
Mendemonstrasikan batuk keseimbangan
efektif dan suara nafas d. Monitor respirasi dan status o2
bersih, tidak ada sianosis e. Pertahankan posisi pasien
dan dyspneu f. Observasi adanya tanda-tanda
Menunjukkan jalan nafas hipoventilasi
yang paten(klien tidak g. Vital sign Monitoring
terasa tercekik, irama nafas, h. Monitor TD, nadi, shu, dan
frekuensi pernafasan RR
rentang normal, tidak ada i. Monitor pola pernafasan
suara nafas abnormal. abnormal
Tanda-tanda vital dalam j. Monitor suhu, warna, dan
rentang normal(tekanan kelembapan kulit
darah, nadi, pernafasan)
3 Hipotermi berhubungan NOC NIC
dengan penurunan Thermoregulation Temperature regulation
produksi panas Thermoregulation: neonate a. Monitor suhu minimal tiap 2
Criteria hasil jam
Suhu tubuh dalam rentang b. Rencanakan monitoring suhu
normal secara kontinyu
Nadi dan RR dalam rentang c. Monitor Td, nadi dan suhu
normal d. Monitor warna dan suhu kulit
e. Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
f. Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
g. Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
h. Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negative
dari kedinginan
i. Ajarkan indikasi dari

14
hipotermi dan penanganan
yang diperlukan
j. Berikan antipiretik jika perlu
k. Vital sign Monitoring
4 Intoleransi aktivitas NOC NIC
berhubungan dengan Activity Therapy
 Energy conservation
kelemahan
 Activity tolerance  Kolaborasikan dengan tenaga
 Self Care : ADLs rehabilitasi medik dalam
merencanakan program terapi
yang tepat
Kriteria Hasil :
 Bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas
 Berpartisipasi dalam
yang mampu dilakukan
aktivitas fisik tanpa
 Bantu untuk memilih
disertai peningkatan
aktivitas konsisten yang
tekanan darah, nadi
sesuai dengan kemampuan
dan RR
fisik, psikologi dan social
 Mampu melakukan
 Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas sehari-hari
dan mendapatkan sumber
(ADLs) secara mandiri
yang diperlukan untuk
 Tanda-tanda vital
aktivitas yang diinginkan
normal
 Bantu untuk mendapatkan
 Energy psikomotor
alat bantuan aktivitas seperti
 Level kelemahan
kursi roda, krek
 Mampu berpindah:
 Bantu untuk mengidentifikasi
dengan atau tanpa
aktivitas yang disukai
bantuan alat
 Bantu klien untuk membuat
 Status kardiopulmunari
jadwal latihan diwaktu luang
adekuat
 Bantu pasien/keluarga untuk
 Sirkulasi status baik
mengidentifikasi kekurangan
 Status respirasi :
dalam beraktivitas
pertukaran gas dan
 Sediakan penguatan positif
ventilasi adekuat

15
bagi yang aktif beraktivitas

Bantu pasien untuk


mengembangkan motivasi diri dan
penguatan
5 Resiko tinggi infeksi NOC NIC
berhubungan dengan Infection Control (kontrol
1.Imune status
masuknya infeksi)
2.Knowledge:Infection
mikroorganisme. 1. Pantau TTV
Control
2. Observasi luka
3.Risk control
3. Observasi inflamasi
4. Pantau pernafasan
Kriteria Hasil :
5. Observasi tanda/gejala
 Klien bebas dari peritonitis
tandadan gejala infeksi 6. Pertahankan luka aseptik
 Mendiskripsikan 7. Gunakan bebat mintgomeri
proses penularan 8. Kultur terhadap kecurigaan
penyakit drainase
 Menunjukkan 9. Lakukan irigasi luka sesuai
kemampuan untuk kebutuhan
mencegah timbulnya 10. Kolaborasi dengan dokter
infeksi untuk obat antibiotik
 Leukosit dalam batas
normal.
 Menunjukkan perilaku
hidup sehat

6. Nyeri akut berhubungan NOC NIC


dengan terputusnya Pain Management
 Pain Level,
kontinuitas jaringan.
 Pain control  Lakukan pengkajian nyeri
 Comfort level secara komprehensif
termasuk lokasi, karakteristik,

16
Kriteria Hasil : durasi frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi
 Mampu mengontrol
 Observasi reaksi nonverbal
nyeri (tahu penyebab
dan ketidaknyamanan
nyeri, mampu
 Gunakan teknik komunikasi
menggunakan tehnik
terapeutik untuk mengetahui
nonfarmakologi untuk
pengalaman nyeri pasien
mengurangi nyeri,
 Kaji kultur yang
mencari bantuan)
mempengaruhi respon nyeri
 Melaporkan bahwa
 Evaluasi pengalaman nyeri
nyeri berkurang
masa lampau
dengan menggunakan
 Evaluasi bersama pasien dan
manajemen nyeri
tim kesehatan lain tentang
 Mampu mengenali
ketidakefektifan kontrol nyeri
nyeri (skala, intensitas,
masa Iampau
frekuensi dan tanda
 Bantu pasierl dan keluarga
nyeri)
untuk mencari dan
 Menyatakan rasa
menemukan dukungan
nyaman setelah nyeri
 Kontrol lingkungan yang
berkurang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi
nyeri
 Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
 Berikan anaIgetik untuk

17
mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter
jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
 Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration

 Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
 Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan
frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
 Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
 Tentukan analgesik pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal
 Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
 Monitor vital sign sebelum

18
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
 Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat

Evaluasi efektivitas analgesik,


tanda dan gejala

(Nanda, 2012)

19
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hipotiroidisme adalah penurunan produksi hormone tiroid. Hal ini
mengakibatkan penurunan aktivitas metabolic, konstipasi, letargi, reaksi
mental lambat, dan peningkatan simpanan lemak.Pada orang dewasa, kondisi
ini menyebabkan miksedema, yang ditandai dengan adanya akumulasi air dan
musin dibawah kulit, sehingga penampakan edema terlihat. Pada anak kecil,
hipotiroidisme yang mengakibatkan retardasi mental dan fisik disebut dengan
kretinisme (Smeltzer S. 2012).

B. Saran
Kami selaku penulis berharap kepada pembaca agar dapat
meningkatkan lagi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
dibidang mata kuliah keperawatan khususnya terkait asuhan keperawatan
pada klien dengan hipotiroidisme.

20
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M dan Hokanson, Jane Hawks.2014.Keperawatan Medikal Bedah Edisi


8.Elsevier : Singapore

Brunner & Sudarth,2009,Buku AjarMedikal BedahEd 8 Vol 3 EGC, Jakarta

Chang, Esther.2009.Patofisiologi:Aplikasi Pada Praktik Keperawatan.Jakarta : EGC

Ilham.A.2010 Proses dan Dokumentasi Keperawatan ed.2. Jakarta:Salemba Medika.


Long C,Barbara.Perawatan Medikal Bedah.Volume 2. Bandung:Yayasan IAPK
Pajajaran;2008
Muttaqin, Arif, Ns, S.Kep. 2008.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Muskuloskeletal, EGC, Jakarta.
Nanda,2012.Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta:Prima Medika.

Price, Sylvia A, (2013). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6.


Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

21