You are on page 1of 4

BAB II

1. Anatomi
Otak dilindungi dari cidera rambut
2. Hematoma Epidural
Hematoma epidural merupakan gejala yang obesitas kepala sekitar 50%.
Hematoma epidural sering terjadi di daerah parietotemporal akibat robekan arteria
meningea media. Hematoma epidural di daerah frontal dan oksipital sering tidak
dicurigai dan memberi tanda-tanda setempat yang tidak jelas. Bila hematoma epidural
tidak sesuai dengan otak lainnya, terapi dini biasanyadapat menyembuhakan penderita
dengan sedikit atau tanpa defisit neurologik.
Gejala dan tanda yang terlihat bervariasi , tetapi penderita hematom epidural
yang khas memiliki riwayat cidera kepala dengan periode tidak sadar dalam waktu
singkat, diikuti oleh periode lusid.
Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa interval lusid bukan merupakan
tanda diagnostik yang dipercaya pada hematom epidural. Pertama, interval lusid
mungkin berlalu tanpa diketahui, terutama bila hanya sekejap saja. Kedua, penderita
dengan cidera otak Berat tambahan dapat tetap berada dalam keadaan stupor.
Hematoma yang meluas di daerah temporal menyebabkan tertekannya lobus
temporalis otak ke arah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial
lobus (unkus dan sebagian dari girus hipokampus) mengalami Herniasi di bawah tepi
tentorium. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat
dikenal oleh tim medis
Tekanan herniasi unkus pada sirkulasi arteria ke formasio retikularis medula
oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini juga terdapat nuklei saraf
kranial III (okulomotorius). Tekanan pada saraf saat ini terletak dilatasi pupil dan
ptosis elopak mata. Tekanan pada jaras kortikospinalis asendens pada area ini
menyebabkan kelemahan respon motorik kontralateral (yaitu berlawanan dengan
tempat hematoma), refleks hiperaktif atau sangat cepat, dan tanda Babinski positif.
Dengan makin meluasnya hematoma, seluruh isi otak akan menuju ke arah
yang berbeda sehingga terjadi peningkatan ICP, termasuk kekaku deserebrasi dan
gangguan tanda vital dan fungsi pernapasan. Diagnosis perdarahan epidural
ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis, dan arteriogram
karotis,echoensefalogram, serta CT scan. Pengobatan adalah dengan evakuasi bedah
hematoma dan mengatasi perdarahan arteri meningea yang terkoyak. Intervensi bedah
harus dikerjakan dini sebelum penekanan pada jaringan otak menimbulkan kerusakan
otak. Mortalitas tetap tinggi meskipun di agnosis dan pengobatan dilakukan dini, yaitu
karena trauma dan gejala sisa berat yang menyertainya.

3. Hematoma Subdural
Sementara hematoma epidural pada umumnya berasal dari arteria hematoma subdural
berasal dari vena. Hematoma Ini timbul akibat ruptur vena yang teradi dalam ruangan
subdural. Hematoma subdural dipilah Menjadi different tipe dengan gejala dan
prognosis Yang berbeda akut, subakut, Dan kronik.

4. Hematoma Subdural akut

Hematoma subdural akut menimbulkan gejala neurologik yang penting dan


serius dalam 24 sampai 48 jam setelah cedera. Hematoma sering berkaitan dengan
trauma otak berat dan juga memiliki mortalitas yang tinggi. Hematoma subdural akut
teradi pada pasien yang meminum obat antikoagulan terus menerus yang tampaknya
mengalami trauma kepala minor. Cidera ini seringkali berkaitan dengan akibat
kecelakaan kendaraan bermotor.

Defisit neurologik progresif yang disebabkan oleh jaringan otak dan herniasi
batang otak ke dalam foramen magnum, yang kemudian menimbulkantekanan pada
batang otak. Keadaan ini cepat menimulkan henti nafas dan hilangnya kontrol atas
denyut nadi dan tekanan darah.

Diagnosis ditegakkan dengan arteriogram karotis dan echoensefalogram atau


CT scan. Adanya hematoma subdura akut harus selalu dipertimbangkan bagi
penderita trauma neurologik berat yang memperlihatkan tanda-tanda status neurologik
yang memburuk. Lebih dari separuh kasus hematoma ini terjadi bilateral sehingga
sangat penting untuk menentukan tipe cidera yang terjadi dan melakukan tindakan
dignostik yang tepat (misal, arteriogram bilateral) untuk menyingkirkan kemungkinan
hematoma bilateral.

pengobatan terutama dengan tindakan pengankatan hematoma, dekompresi


dengan mengangkat tempat-tempat pada tengkorak dan bagian-bagian lo-bus frontalis
atau lobus temporalis (bila perlu), serta melepaskan kompresi dura. Bahkan pada
diagnosis dini sekalipun, jumlah mortalitas tetap mencapai 60%, sebagian besar
disebabkan oleh trauma yang berat dan kegagalan organ utama yang menyertai
trauma berat.

5. Hematoma Subdural Subakut


Hematoma subdural subakut menyebabkan defisit neurologik bermakna dalam
waktu lebih dari 48 jam tetapi kurang dari dua minggu setelah cidera. Seperti pada
hematoma subdural akut hematoma ini juga disebabkan oleh perdarahan vena keruang
subdural.
Riwayat yang yang khas dari penderita hematoma subdural subakut adalah
adanya trauma kepala yang menyebabkan ketidaksadaran, selanjutnya diikuti
perbaikan status neurologik yang bertahap. Namun, setelah jangka waktu tertentu
penderita memperlihatkan tanda-tanda statusneurologis yang memburuk. Tingkat
kesadaran menurun secara bertahap dalam beberapa jam.
Sejalan dengan meningkatnya ICP akibat timbunan hematoma, pasien menjadi
sulit dibangunkan dan tidak berespons terhadap rangsangan verbal atau nyeri. Seperti
pada hematoma subdural akut, pergeseran isi intrakranial dan peningkatan intrakranial
akibat timbunan darah akan menyebabkan terjadinya herniasi unkus atau sentral dan
timbulnya neurologik akibat kompresi batang otak.
seperti pada hematoma subdural akut, pengobatan hematoma subdural subakut
adalah dengan mengangkat bekuan darah secepat dan sesegera mungkin. Hal ini dapat
dilaksanakan melalui bdrbagai cara bergantung padakeadaan klinis penderita. Banyak
bekuan darah yang bersifat bilateral sehingga kedua ruang subdural harus dievaluasi
dan dilaku kan eksplorasi bedah (bila diindikasikan).

6. Hematoma Subdural Kronik


Ada hal yang menarik dalam anamnesis penderita hematoma subdural kronik.
Trauma otak yang menjadi penyebab dapat sangat sepele atau terlupakan dan sering
terjadi akibat cidera ringan.awitan gejala pada umumnya tertunda beberapa minggu,
bulan dan bahkan beberapa tahun selelah perlatan awal. Pada orang dewasa, gejala ini
dapat dikelirukan dengan gejala awal demensia.