You are on page 1of 2

Pada percobaan kali ini, dilakukan penentuan kadar besi [Fe(II)] dalam sampel air sumur

dengan teknik spektrofotometri UV-Vis. Spektrofotometri jenis ini digunakan karena logam
besi mempunyai panjang gelombang lebih dari 400 nm, sehingga jika menggunakan
spktrofotometri UV saja, logam besi dalam sampel tidak terdeteksi karena tidak menyerap
sinar dengan panjang gelombang tersebut.

Panjang gelombang 480 nm digunakan sebagai panjang gelombang untuk menganalisis


kadar besi di dalam air sumur karena pada panjang gelombang ini absorbansi sinar
mempunyai nilai maksimal. Pada panjang gelombang ini, sinar yang dipancarkan oleh
spektrofotometer paling banyak diserap oleh larutan. Oleh karena itu, pengukuran pada
panjang gelombang 480 nm ini menghasilkan pengukuran yang akurat. Panjang gelombang
ini juga termasuk dalam rentang panjang gelombang yang diserap warna hijau biru (490-550
nm) yang merupakan warna komplementer dari warna merah jingga yang merupakan warna
dari larutan yang dianalisis

Pertama, dilakukan pembuatan larutan standar induk Fe 100 ppm dengan melarutkan
50 miligram FeSO4.7H2O dan 20 mL HCl kedalam labu ukur 1000 ml dengan menambahkan
aquadest sampai garis batas pada labu ukur. Larutan ini bewarna kuning keruh. Selanjutnya,
pembuatan larutan standar Fe dengan variasi konsentrasi 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, dan 5
ppm dari larutan standar induk Fe 100 ppm. Tujuannya adalah untuk membuat kurva
kalibrasi yang akan digunakan untuk menghitung kadar besi dalam sampel.

Larutan standar induk diambil sebanyak 1 ml untuk 1 ppm, 2 ml untuk 2 ppm, 3 ml untuk
3 ppm, 4 ml untuk 4 ppm, dan 5 ml untuk 5 ppm. Kemudian, tiap larutan di masukan ke
dalam labu ukur 100 ml lalu di tambahkan 2,5 ml KSCN 20%, 2,5 ml HNO3 dan
ditambahkan akuadest sampai garis batas pada labu. Fungsi KSCN dan HNO3 untuk
pengompleks Fe sehingga menghasilkan warna merah jingga dengan degradasi warna yang
berbeda-beda dari masing masing larutan. Warna pada larutan standar adalah berbanding
lurus dengan konsentrasinya, di mana larutan dengan konsentrasi rendah memiliki warna yang
lebih cerah, sedangkan larutan yang memiliki konsentrasi tinggi warnanya semakin gelap.
Warna yang dihasilkan ini lah yang akan dideteksi oleh alat spektrofotometri uv vis.
Larutan blanko yang digunakan adalah aquadesr. Larutan blanko ini berfungsi sebagai
pembanding larutan yang akan di analisis. Sampel yang dianalisis adalah air dari sumur
galian. Sampel ini diasamkan hingga pH < 4 dengan penambahan HCl pekat, fungsinya
adalah untuk menjaga agar sampel tetap pada pH < 4 atau dalam keadaan asam. Hal ini
disebabkan karena unsur Fe akan stabil pada kondisi asam kuat. Jika pH netral atau basa,
terbentuk ion Fe3+ yang tidak larut dalam air, sehingga tidak bisa di analisis dengan
spektrofotometri uv vis. Sebanyak 5 ml sampel ini direaksikan dengan 5 mL KSCN 20%, 5
mL HNO3, dan dienecerkan dengan aquadesrt. Tujuan dari penambahan zat ini adalah untuk
mengkomplekskan Fe menjadi larutan berwarna.

Setelah semua preprasi selesai, alat spektrofotometri UV VIS dihidupkan dan disetting.
Larutan blanko digunakan sebagai pembanding dan di masukan kedalam kuvet dan di set
absorbansinya menjadi nol. Selanjutnya larutan standar Fe 1 ppm di masukan kedalam kuvet,
kemudian di analsisis dengan spektrofotometri uv vis dengan larutan blanko sebagai
standarnya. Pada larutan standar Fe 1 ppm nilai abs-nya adalah 0,03 ppm. Dengan perlakuan
yang sama, diperoleh nilai abs untuk larutan standar 2ppm, 3ppm, 4ppm dan 5ppm berturut-
turut adalah 0,096 ppm, 0,122 ppm, 0,144 ppm, 0,180 ppm. Nilai absorbansi yang diperoleh
relatif stabil dan naik secara eksponensial berbanding lurus dengan konsentrasinya. Hal ini
menunjukkan larutan standar dapat digunakan sebagai larutan pembanding yang tepat.

Pada sampel air sumur yang mengandung Fe dan larutan sampelnya berwarna jingga.
Konsentrasi Fe dalam sampel dapat diketahui dari adsorbansinya, dengan menghitung x dari
persamaan linear kurva standar dengan y adalah adsorbansi larutan sampel. Persamaan garis
dari kurva kalibrasi standar y = -0,0116 + 0,0402x dengan R2 = 0.95 dan absorbansi sampel
sebesar 0,037. Sehingga konsentrasi Fe(II) dalam sampel diperoleh sebesar 1,2 ppm.