You are on page 1of 30

Asuhan Keperawatan Anak dengan

Tuberkulosis (TB)
Asuhan Keperawatan ini dibuat untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Keperawatan Anak

Disusun Oleh :

Nama : Meira Dewi Puspita Wijayanti


NIM : P1337420117067

Kelas : II/A2 DIII Keperawatan Semarang

Dosen Pengajar : Titin Suheri, SKp, MSc

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

TAHUN AJARAN 2018/2019


A. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tubeculosis yaitu suatu bakteri tahan asam. Tuberculossis (TB)
dapat pula diartikan sebagai penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium
tuberculosis sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh,
dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.

Gambar 1. Mycobacterium tuberculosis

Secara umum sifat kuman TB ( Mycobacterium tuberculosis ) antara lain


adalah sebagai berikut :
 Berbentuk batang dengan panjang 1 – 10 mikron, lebar 0,2 – 0,6 mikron,
berwarna merah pada pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan ZN.
 Bersifat tahan asam dalam pewarnaan dengan metode Ziehl Neelsen.
 Memerlukan media khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen,
Ogawa.
 Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka
waktu lama pada suhu antara 4°C sampai -70°C.
 Sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultraviolet sehingga
kuman akan mati dalam beberapa menit.
 Dalam dahak pada suhu antara 30 – 37°C kuman akan mati lebih kurang 1
minggu.
 Dapat bersifat dormant (”tidur” / tidak berkembang).
B. Etiologi
Bakteri penyebab TBC, Mycobacterium tuberculosis, menyebar ketika
penderita TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi
kuman tersebut ke udara misalnya saat batuk, bersin, berbicara,
bernyanyi, meludah, atau bahkan tertawa dan kemudian dihirup oleh orang lain
di sekitarnya.
Menurut Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis milik Kemenkes
RI, dalam satu kali batuk seseorang biasanya bisa menghasilkan sekitar 3.000
percikan air liur.
Kuman yang keluar dari batuknya penderita TB dapat bertahan di udara
lembap yang tidak terpapar sinar matahari selama berjam-jam, bahkan
berminggu-minggu. Akibatnya, setiap orang yang berdekatan dan memiliki
kontak dengan penderita TB secara langsung berpotensi menghirupnya dan
akhirnya tertular.
Penyakit TBC sangat menular, tapi tidak secara langsung. Begitu masuk ke
dalam tubuh, bakteri ini bisa “tertidur” atau berada di fase “dormant” yang
artinya bakteri tetap ada di dalam tubuh namun tidak aktif berkembang biak dan
menyerang tubuh. Faktanya, kebanyakan orang pernah terpapar kuman TB
selama hidupnya, namun hanya 10% orang yang terinfeksi TB akan benar-benar
menderita penyakit ini.
Penyebab TBC pada anak antara lain :
1. Merokok Pasif
Merokok pasif bisa berdampak pada sistem kekebalan anak, sehingga
meningkatkan risiko tertular. Pajanan pada asap rokok mengubah fungsi
sel, misalnya dengan menurunkan tingkat kejernihan zat yang dihirup
dan kerusakan kemampuan penyerapan sel dan pembuluh darah.
2. Faktor Risiko TBC anak
a. Resiko infeksi TBC
Anak yang memiliki kontak dengan orang dewasa dengan TBC aktif,
daerah endemis, penggunaan obat-obat intravena, kemiskinan serta
lingkungan yang tidak sehat. Resiko timbulnya transmisi kuman dari
orang dewasa ke anak akan lebih tinggi jika pasien dewasa tersebut
mempunyai BTA sputum yang positif, terdapat infiltrat luas pada
lobus atas atau kavitas produksi sputum banyak dan encer, batuk
produktif dan kuat serta terdapat faktor lingkungan yang kurang sehat,
terutama sirkulasi udara yang tidak baik. Pasien TBC anak jarang
menularkan kuman pada anak lain atau orang dewasa disekitarnya,
karena TBC pada anak jarang infeksius, hal ini disebabkan karena
kuman TBC sangat jarang ditemukan pada sekret endotracheal, dan
jarang terdapat batuk. Walaupun terdapat batuk tetapi jarang
menghasilkan sputum. Bahkan jika ada sputum pun, kuman TBC
jarang, sebab hanya terdapat dalam konsentrasi yang rendah pada
sekret endobrokial anak.
b. Resiko Penyakit TBC
Anak ≤ 5 tahun mempunyai resiko lebih besar mengalami progresi
infeksi menjadi sakit TBC, hal ini dikarenakan imunitas selulernya
belum berkembang sempurna (imatur). Namun, resiko sakit TBC ini
akan berkurang secara bertahap seiring pertambahan usia. Pada bayi
< 1 tahun yang terinfeksi TBC, 43% nya akan menjadi sakit TBC,
sedangkan pada anak usia 1-5 tahun, yang menjadi sakit hanya 24%,
pada usia remaja 15% dan pada dewasa 5-10%. Anak < 5 tahun
memiliki resiko lebih tinggi mengalami TBC diseminata dengan
angka kesakitan dan kematian yang tinggi, malnutrisi, keadaan
imunokompromis, diabetes melitus, gagal ginjal kronik dan silikosis.
Status sosial ekonomi yang rendah, penghasilan yang kurang,
kepadatan hunian, pengangguran, dan pendidikan yang rendah.
C. Patofisiologi
Berbeda dengan TBC pada orang dewasa, TBC pada anak tidak menular.
Pada TBC anak, kuman berkembang biak di kelenjar paru-paru. Jadi, kuman ada
di dalam kelenjar, tidak terbuka. Sementara pada TBC dewasa, kuman berada di
paru-paru dan membuat lubang untuk keluar melalui jalan napas. Pada saat
batuk, percikan ludah yang mengandung kuman ini biasanya terisap oleh anak-
anak, lalu masuk ke paru-paru
Proses penularan tuberculosis dapat melalui proses udara atau langsung,
seperti saat batuk. Terdapat dua kelompok besar penyakit ini diantaranya adalah
sebagai berikut: tuberculosis paru primer dan tuberculosis post primer.
Tuberculosis primer sering terjadi pada anak, proses ini dapat dimulai dari proses
yang disebut droplet nuklei, yaitu proses terinfeksinya partikel yang
mengandung dua atau lebih kuman tuberculosis yang hidup dan terhirup serta
diendapkan pada permukaan alveoli, yang akan terjadi eksudasi dan dilatasi pada
kapiler, pembengkakan sel endotel dan alveolar, keluar fibrin serta makrofag ke
dalam alveolar spase. Tuberculosis post primer, terjadi setelah pasien
sebelumnya telah terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.
Sebagian besar infeksi tuberculosis menyebar melalui udara, melalui
terhirupnya nukleus droplet yang berisikan mikroorganisme basil tuberkel dari
seseorang yang terinfeksi. Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh
respon imunitas yang diperantarai oleh sel dengan sel elektor berupa makropag
dan limfosit (biasanya sel T) sebagai sel imunoresponsif. Tipe imunitas ini
melibatkan pengaktifan makrofag pada bagian yang terinfeksi oleh limfosit dan
limfokin mereka, responya berupa reaksi hipersensitivitas seluler (lambat). Basil
tuberkel yang mencapai permukaan alveolar membangkitkan reaksi peradangan
yaitu ketika leukosit digantikan oleh makrofag. Alveoli yang terlibat mengalami
konsolidasi dan pneumonia akut, yang dapat sembuh sendiri sehingga tidak
terdapat sisa, atau prosesnya dapat berjalan terus dengan bakteri di dalam sel-sel
(Price dan Wilson, 2006).
Drainase limfatik basil tersebut juga masuk ke kelenjar getah bening
regional dan infiltrasi makrofag membentuk tuberkel sel epitelloid yang
dikelilingi oleh limfosit. Nekrosis sel menyebabkan gambaran keju (nekrosis
kaseosa), jaringan granulasi yang disekitarnya terdapat sel-sel epitelloid dan
fibroblas dapat lebih berserat, membentuk jaringan parut kolagenosa,
menghasilkan kapsul yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer pada paru
dinamakan fokus ghon, dan kombinasi antara kelenjar getah bening yang terlibat
dengan lesi primer disebut kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami
kalsifikasi dapat terlihat dalam pemeriksaan foto thorax rutin pada seseorang
yang sehat.
Sebagian besar pasien menunjukkan demam tingkat rendah, keletihan,
anorexia, penurunan berat badan, berkeringat malam, nyeri dada dan batuk
menetap. Batuk pada awalnya mungkin nonproduktif, tetapi dapat berkembang
ke arah pembentukan sputum mukopurulen dengan hemoptisis. Tuberculosis
dapat mempunyai manifestasi atipikal pada anak seperti perilaku tidak biasa dan
perubahan status mental, demam , anorexia dan penurunan berat badan. Basil
tuberkulosis dapat bertahan lebih dari 50 tahun dalam keadaan dorman.

Patogenesis penyakit tuberkulosis pada anak terdiri atas :


1. Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman
TBC. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati
sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus berjalan sehingga sampai di
alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil
berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan
peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke
kelenjar limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer
predileksinya disemua lobus, 70% terletak di subpelura. Fokus primer dapat
mengalami penyembuhan sempurna, kalsifikasi atau penyebaran lebih lanjut.
Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah
sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya
perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang
masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada
umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan
perkembangan kuman TBC. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan
menetap sebagai kuman persisten atau dormant (tidur). Kadang kadang daya
tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya
dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita TBC. Masa
inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit,
diperkirakan sekitar 6 bulan.
2. TBC Pasca Primer (Post Primary TBC)
TBC pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah
infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi
HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari TBC pasca primer adalah
kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.
Pathway
D. Manifestasi Klinis
Menurut Wirjodiardjo (2008) gejala TBC pada anak tidak serta-merta
muncul. Pada saat-saat awal, 4-8 minggu setelah infeksi, biasanya anak hanya
demam sedikit. Beberapa bulan kemudian, gejalanya mulai muncul di paru-paru.
Anak batuk-batuk sedikit. Tahap berikutnya (3-9 bulan setelah infeksi), anak
tidak nafsu makan, kurang gairah, dan berat badan turun tanpa sebab. Juga ada
pembesaran kelenjar di leher, sementara di paru-paru muncul gambaran vlek.
Pada saat itu, kemungkinannya ada dua, apakah akan muncul gejala TBC yang
benar-benar atau sama sekali tidak muncul. Hal ini tergantung pada kekebalan
tubuh anak, jika anak kebal (daya tahan tubuhnya bagus), TBC-nya tidak muncul
tapi bukan berarti sembuh setelah bertahun-tahun bisa saja muncul, bukan di
paru-paru lagi melainkan di tulang, ginjal, otak, dan sebagainya. Hal ini yang
berbahaya dan membutuhkan waktu lama untuk penyembuhannya.
Riwayat penyakit TBC anak sulit dideteksi penyebabnya, penyebab TBC
adalah kuman TBC (mycobacterium tuberculosis). Sebetulnya, untuk
mendeteksi bakteri TBC (dewasa) tidak begitu sulit. Pada orang dewasa bisa
dideteksi dengan pemeriksaan dahak langsung dengan mikroskop atau dibiakkan
dulu di media. Mendeteksi TBC anak sangat sulit, karena tidak mengeluarkan
kuman pada dahaknya dan gejalanya sedikit. Diperiksa dahaknya pun tidak akan
keluar, sehingga harus dibuat diagnosis baku untuk mendiagnosis anak TBC
sedini mungkin. Hal yang harus dicermati pada saat diagnosis TBC anak adalah
riwayat penyakitnya. Apakah ada riwayat kontak anak dengan pasien TBC
dewasa, jika ada kemungkinan besar anak positif TBC
Gejala-gejala lain untuk diagnosa antara lain (Wirjodiardjo, 2008):
1. Apakah anak sudah mendapat imunisasi BCG semasa kecil atau reaksi BCG
sangat cepat. Misalnya, bengkak hanya seminggu setelah diimunisasi BCG.
Ini juga harus dicurigai TBC, meskipun jarang.
2. Berat badan anak turun tanpa sebab yang jelas, atau kenaikan berat badan
setiap bulan berkurang.
3. Demam lama atau berulang tanpa sebab (bukan tifus, malaria, atau infeksi
saluran napas akut), dapat disertai keringat malam.
4. Batuk lama, lebih dari 3 minggu. Ini terkadang tersamar dengan alergi. Jika
tidak ada alergi dan tidak ada penyebab lain, dapat dicurigai kemungkinan
anak terkena TBC.
5. Pembesaran kelenjar di kulit, terutama di bagian leher, juga bisa ditengarai
sebagai kemungkinan gejala TBC. Pembesaran yang sekarang sudah jarang
adalah adanya pembesaran kelenjar di seluruh tubuh, misalnya di
selangkangan, ketiak, dan sebagainya.
6. Mata merah bukan karena sakit mata, tetapi di sudut mata ada kemerahan
yang khas.
7. Pemeriksaan lain juga dibutuhkan diantaranya pemeriksaan tuberkulin
(Mantoux Test, MT) dan foto thoraks. Pada anak normal Mantoux Test
positif jika hasilnya lebih dari 10 mm. Tetapi pada anak yang gizinya kurang
meskipun ada TBC hasilnya biasanya negatif, karena tidak memberikan
reaksi terhadap MT.

E. Komplikasi
1. Penyakit paru primer pogresif
Komplikasi infeksi tuberkulosis serius dimana fokus primer membesar dan
terjadi pusat perkejuan yang besar. Tetapi hal ini jarang terjadi pada anak.
2. Efusi pleura
Efusi pleura tuberkulosis dapat terjadi secara lokal dan menyeluruh. Kondisi
ini eluarnya cairan dari pembuluh darah atau pembuluh limfe ke dalam
jaringan selaput paru yang disebabkan oleh masuknya suatu material yang
mengandung bakteri ke rongga pleura.
3. Perikarditis
Perikarditis biasanya berasal dari infasi langsung atau aliran limfe dari
limponodi subkranial.
4. Meningitis
Meningitis tuberkulosa terjadi sekitar 0,3% dari infeksi TB primer yang
tidak diobati pada anak. Kadang-kadang meningitis tuberkulosa dapat
terjadi beberapa tahun setelah infeksi primer.
5. Tuberkulosis Tulang
Infeksi tulang dan sendi yang merupakan komplikasi tuberkulosis dan
cenderung menyerang vetebra. Tuberkulosis skeletona adalah komplikasi
tuberkulosis lambat dan jarang terjadi semenjak adanya terapi
antituberkulosis.
6. Empiema
Penumpukan cairan yang terinfeksi atau pus (nanah) pada cavitas pleura,
rongga pleura yang di sebabkan oleh terinfeksinya pleura oleh bakteri
mycobacterium tuberculosis (pleuritis tuberculosis).
7. Laryngitis
Infeksi mycobacterium pada laring yang kemudian menyebabkan laryngitis
tuberculosis.

F. Pemeriksaan Diagnostik
Mendiagnosa tuberculosis pada anak, terlebih pada anak-anak yang masih
sangat kecil, sangat sulit. Diagnosa tepat TBC tak lain dan tak bukan adalah
dengan menemukan adanya Mycobacterium tuberculosis yang hidup dan aktif
dalam tubuh suspect TB atau orang yang diduga TBC. Cara yang paling mudah
adalah dengan melakukan tes dahak. Pada orang dewasa, hal ini tak sulit
dilakukan. Tetapi hal ini cukup sulit untuk anak-anak apalagi yang masih usia
balita karena mereka belum mampu mengeluarkan dahak. Oleh karena itu
diperlukan alternatif lain untuk mendiagnosa TB pada anak.
Kesulitan lainnya, tanda-tanda dan gejala TB pada anak seringkali tidak
spesifik (khas). Cukup banyak anak yang overdiagnosed sebagai pengidap TB,
padahal sebenarnya tidak. Atau underdiagnosed, maksudnya terinfeksi atau
malah sakit TB tetapi tidak terdeteksi sehingga tidak memperoleh penanganan
yang tepat. Diagnosa TBC pada anak tidak dapat ditegakkan hanya dengan 1
atau 2 tes saja melainkan harus komprehensif.
Pemeriksaan diagnostik tersebut Antara lain :
1. Uji Tuberkulin Mantoux
Tes Mantoux ini hanya menunjukkan apakah seseorang
terinfeksi Mycobacterium tuberculosis atau tidak, dan sama sekali bukan
untuk menegakkan diagnosa atas penyakit TB. Sebab, tidak semua orang
yang terinfeksi kuman TB lalu menjadi sakit TB.
Sistem imun tubuh mulai menyerang bakteri TB kira-kira 2-8
minggu setelah terinfeksi. Pada kurun waktu inilah tes Mantoux mulai
bereaksi. Ketika pada saat terinfeksi daya tahan tubuh orang tersebut
sangat baik, bakteri akan mati dan tidak ada lagi infeksi dalam
tubuh. Namun pada orang lain, yang terjadi adalah bakteri tidak aktif
tetapi bertahan lama di dalam tubuh dan sama sekali tidak menimbulkan
gejala. Atau pada orang lainnya lagi, bakteri tetap aktif dan orang
tersebut menjadi sakit TB.
Uji ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil (0,1 ml)
kuman TBC yang telah dimatikan dan dimurnikan ke dalam lapisan atas
(lapisan dermis) kulit pada lengan bawah. Lalu, 48 sampai 72 jam
kemudian tenaga medis harus melihat hasilnya untuk diukur. Yang
diukur adalah indurasi (tonjolan keras tapi tidak sakit) yang terbentuk,
bukan warna kemerahannya (erythema). Ukuran dinyatakan dalam
milimeter bukan centimeter. Bahkan bila ternyata tidak ada indurasi,
hasil tetap harus ditulis sebagai 0 mm.
Secara umum, hasil tes Mantoux ini dinyatakan positif bila diameter
indurasi berukuran sama dengan atau lebih dari 10 mm. Namun untuk
bayi dan anak sampai usia 2 tahun yang tanpa faktor resiko TB dikatakan
positif bila indurasinya berdiameter 15 mm atau lebih. Hal ini
dikarenakan pengaruh vaksin BCG yang diperolehnya ketika baru lahir
masih kuat. Pengecualian lainnya adalah, untuk anak dengan gizi buruk
atau anak dengan HIV, sudah dianggap positif bila diameter indurasinya
5 mm atau lebih.
Namun tes Mantoux ini dapat memberikan hasil negatif palsu
(anergi), artinya hasil negatif padahal sesungguhnya terinfeksi kuman
TB. Anergi dapat terjadi apabila anak mengalami malnutrisi berat atau
gizi buruk (gizi kurang tidak menyebabkan anergi), sistem imun
tubuhnya sedang sangat menurun akibat mengkonsumsi obat-obat
tertentu, baru saja divaksinasi dengan virus hidup, sedang terkena infeksi
virus, baru saja terinfeksi bakteri TB, tata laksana tes Mantoux yang
kurang benar. Apabila dicurigai terjadi anergi, maka tes harus diulang.

Gambar 2. Tes Tuberkulin


2. Pemeriksaan Radiologis
Pada anak dengan uji tuberkulin positif dilakukan pemeriksaan
radiologis. Secara rutin dilakukan fotorontgen paru dan atas indikasi juga
dibuat fotorontgen alat tubuh lain, misalnya foto tulang punggung pada
spondilitis. Gambaran radiologis paru yang biasanya dijumpai pada
tuberkulosis paru ialah :
a. Kompleks primer dengan atau tanpa perkapuran
b. pembesaran kelenjar paratrakeal
c. Penyebaran milier
d. Atelektasis
e. Pleuritis dengan efusi.

Gambar 3. Paru-paru normal Gambar 4. Paru-paru terinfeksi TBC


3. Pemeriksaan Bakteriologis
Penemuan basil tuberkulosis memastikan diagnosis tuberkulosis,
tetapi tidak ditemukannya basil tuberkulosis bukan berarti tidak
menderita tuberkulosis. Bahan-bahan yang digunakan untuk
pemeriksaan bakteriologis adalah :
a. Bilasan lambung
b. Sekret bronkus
c. Sputum pada anak besar
d. Cairan pleura
e. Likuor serebrospinalis
f. Cairan asites
g. Bahan-bahan lainnya

4. Uji Laboratorium
Laju endap darah (LED) meninggi, sering tinggi sekali. Mungkin
liositosis, monositosis, anemia, leukositosis ringan, bila ditemui hasil
demikian (bila tidak ada faktor lain) akan menyokong diagnosis.
Gambaran darah normal tidak menyingkirkan TBC. Gambaran darah tepi
dan laju endap darah hanya mempunyai korelasi dengan aktivitas
penyakit. Pemeriksaan cairan spinal dilakukan atas indikasi kecurigaan
meningitis dan pada setiap TBC milier.

5. Uji BCG
Di Indonesia BCG diberikan secara langsung tanpa didahului uji
tuberkulin (BCG langsung). Bila pada anak yang mendapat BCG
langsung terdapat reaksi lokal yang besar dalam waktu kurang dari 7 hari
setelah penyuntikan, maka harus dicurigai adanya tuberkulosis dan
diperiksa lebih lanjut kearah tuberkulosis. Pada anak dengan
tuberkulosis, BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan
besar. Karena itu reaksi BCG ini dapat dipakai sebagai alat diagnostik.
Sering terdapat kesukaran untuk diagnosis tuberkulosis yang dini pada
anak dengan malnutrisi karena adanya anergi terhadap tuberkulin.
G. Pencegahan
1. Berikan imunisasi BCG
BCG merupakan kepanjangan dari Bacillus Calmette-Guérin. Pemberian
imunisasi BCG pada bayi di Indonesia umumnya dilakukan pada bayi yang
baru lahir dan dianjurkan paling lambat diberikan sebelum bayi berusia 3
bulan.
Bagi bayi yang akan diberikan imunisasi BCG setelah usia 3 bulan, harus
dilakukan tes tuberkulin terlebih dulu. Tes tuberkulin (tes
Mantoux) dilakukan dengan cara menyuntik protein kuman TB (antigen)
pada lapisan kulit lengan atas. Kulit akan bereaksi terhadap antigen, bila
sudah pernah terpapar kuman TB. Reaksi tersebut berupa benjolan merah
pada kulit di area penyuntikan.
Vaksin BCG terbuat dari bakteri tuberkulosis yang telah dilemahkan dan
tidak akan menyebabkan penerima vaksin menjadi sakit TB. Bakteri yang
digunakan adalah Mycobacterium bovine, yang paling mirip dengan bakteri
penyebab tuberkulosis pada manusia. Pemberian vaksin ini akan
memicu sistem imun untuk menghasilkan sel-sel yang dapat melindungi kita
dari bakteri tuberkulosis. Imunisasi BCG sangat efektif mencegah penyakit
tuberkulosis, termasuk jenis yang paling berbahaya yaitu meningitis TB pada
anak.
Tuberkulosis tidak hanya berisiko menyebabkan infeksi paru-paru, tapi juga
dapat menyerang bagian tubuh lain seperti sendi, tulang, selaput otak
(meningen), dan ginjal. Tuberkulosis sangat berbahaya dan mudah menyebar
melalui cipratan air liur, lewat bersin atau batuk yang tanpa sengaja terhirup
oleh orang lain.
Meski hampir serupa dengan cara penyebaran pilek atau flu, tuberkulosis
umumnya memerlukan waktu kontak lebih lama sebelum seseorang dapat
tertular. Karena itu, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita
TB memiliki peluang lebih tinggi untuk tertular.
Setelah mendapat imunisasi BCG, tidak perlu panik apabila muncul seperti
luka melepuh di area suntikan. Tidak jarang, luka tersebut terasa sakit dan
lebam selama beberapa hari.
Setelah 2-6 minggu, titik suntikan dapat membesar hingga berukuran
hampir 1 cm, dan mengeras karena cairan yang berada di permukaan
mengering. Kemudian, akan meninggalkan bekas luka yang kecil. Sebagian
orang mungkin akan mengalami bekas luka yang lebih berat, tapi umumnya
akan sembuh setelah beberapa minggu.
BCG sangat jarang menimbulkan efek samping berupa reaksi alergi
anafilaktik. Tapi tetap lebih baik untuk mencegah terjadinya hal-hal yang
tidak diinginkan jika timbul alergi. Untuk mewaspadai efek samping yang
berbahaya, vaksinasi harus dilakukan oleh dokter atau petugas medis yang
mengetahui penanganan alergi dengan tepat.
Dosis imunisasi BCG sebanyak 0,05 ml untuk bayi di bawah usia satu tahun.
Umumnya penyuntikan imunisasi BCG dilakukan pada lengan bagian atas.
Lengan bagian tersebut tidak boleh diberikan imunisasi lain, minimal selama
tiga bulan.
Meski tergolong imunisasi wajib, ada beberapa kondisi bayi yang membuat
pemberian imunisasi BCG perlu ditunda, seperti:
 Demam tinggi.
 Infeksi kulit.
 HIV positif, dan belum mendapat penanganan.
 Pengobatan kanker atau kondisi lain yang memperlemah sistem
imunitas.
 Diketahui mengalami reaksi anafilaktik terhadap imunisasi BCG.
 Pernah terkena tuberkulosis, atau tinggal serumah dengan penderita
tuberkulosis.
Imunisasi BCG merupakan tindakan yang penting untuk melindungi
kesehatan bayi. Namun, perhatikan pula kondisi bayi sebelum melakukan
imunisasi.
2. Hindari bertukar perlengkapan makan dan minum dengan penderita TB
Jika ada salah satu anggota keluarga yang menderita TB dan tinggal serumah,
misalnya nenek, kakek, atau bahkan ayah. Maka penggunaan alat makan dan
minum sebaiknya tidak digunakan bergantian. Sediakan peralatan makan dan
minum khusus bagi penderita. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman maka
sebaiknya penderita diberi penjelasan mengenai cara penularan TBC.
3. Perhatikan nutrisi anak
Anak yang sehat didukung dengan pemberian gizi lengkap dan seimbang.
Nutrisi lengkap dan seimbang ini turut berperan dalam meningkatkan daya
tahan tubuh anak sehingga terhindar dari penyakit, termasuk TB.
4. Jaga kebersihan rumah dan lingkungan
Lingkungan yang kotor dengan sanitasi yang tidak terjaga menjadi penyebab
timbulnya beragam penyakit, termasuk TB. Bisa saja saat anak bermain, ia
terpapar bakteri penyebab TB karena lingkungan bermainnya yang tidak
bersih.

H. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan TBC terutama berupa pemberian obat antimikroba dalam
jangka waktu lama. Obat-obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah
timbulnya penyakit klinis. ATS (1994) menekankan tiga prinsip dalam
pengobatan tuberculosis yang berdasarkan pada :
1. Regimen harus termasuk obat-obat multiple yang sensitif terhadap
mikroorganisme.
2. Obat-obatan harus diminum secara teratur.
3. Terapi obat harus dilakukan terus menerus dalam waktu yang cukup untuk
menghasilkan terapi yang paling efektif dan paling aman pada waktu yang
paling singkat.
Obat anti tuberculosis (OAT) harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya
dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan dari
pengobatan ini adalah :
1. Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin
melalui kegiatan bakterisid.
2. Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan
kegiatan sterilisasi.
3. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan
imunologis.
Perawatan anak dengan tuberculosis dapat dilakukan dengan melakukan :
1. Pemantauan tanda-tanda infeksi sekunder
2. Pemberian oksigen yang adekuat
3. Latihan batuk efektif
4. Fisioterapi dada
5. Pemberian nutrisi yang adekuat
6. Kolaborasi pemberian obat antituberkulosis (seperti: isoniazid, streptomisin,
etambutol, rifampisin, pirazinamid dan lain-lain)
7. Intervensi yang dapat dilakukan untuk menstimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anak yang menderita tuberculosis adalah dengan membantu
memenuhi kebutuhan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas perkembangan,
yaitu :
a. Memberikan aktivitas ringan yang sesuai dengan usia anak (permainan,
ketrampilan tangan, video game, televisi)
b. Memberikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulus yang
bervariasi bagi anak
c. Melibatkan anak dalam mengatur jadwal harian dan memilih aktivitas
yang diinginkan
d. Mengijinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama di rumah
sakit, menganjurkan anak untuk berhubungan dengan teman melalui
telepon jika memungkinkan.

I. Sistem Pengobatan dengan DOTS (Directly Observed Treatment Short-


course)
Merupakan strategi penanggulangan Tuberkulosis di Rumah Sakit melalui
pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung. DOTs adalah tempat
untuk konsultasi pasien TB.
Penanggulangan Tuberkulosis merupakan program nasional yang harus
dilaksanakan di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan termasuk Rumah Sakit.
Khusus bagi pelayanan pasien tuberkulosis di Rumah Sakit dilakukan dengan
strategi DOTS. Hal ini memerlukan pengelolaan yang lebih spesifik, karena
dibutuhkan kedisplinan dalam penerapan semua standar prosedur operasional
yang ditetapkan, disamping itu perlu adanya koordinasi antar unit pelayanan
dalam bentuk jejaring serta penerapan standar diagnosa dan terapi yang benar,
dan dukungan yang kuat dari jajaran direksi rumah sakit berupa komitmen dalam
pengelolaan penanggulangan TB.
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas
diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan
penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens TB di masyarakat.
Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya
pencegahan penularan TB.
Upaya penanggulangan TB dimulai pada awal tahun 1990-an WHO dan
IUALTD (International Union Against Tb and Lung Diseases) telah
mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi
DOTS dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis
paling efektif (cost efective).
WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam
penanggulangan TB sejak tahun 1995. Bank dunia menyatakan strategi DOTS
sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Integrasi ke dalam
pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya.
Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di indonesia menggambarkan
bahwa dengan menggunakan strategi DOTS, setiap dolar yang digunakan untuk
membiayai program penanggulangan TB akan menghemat sebesar US$ 55
selama 20 tahun.
Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci:
1. Komitmen politis
2. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya
3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan
tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung
pengobatan.
4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu.
5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian
terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara
keseluruhan.
Strategi DOTS di atas telah dikembangkan oleh kemitraan global dalam
penanggulangan TB (stop TB partnership) dengan memperluas strategi DOTS
sebagai berikut:
1. Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS
2. Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya
3. Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan
4. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah
maupun swasta
5. Memberdayakan pasien dan masyarakat
6. Melaksanakan dan mengembangkan riset.
Tim DOTS di Rumah Sakit
Adanya pengorganisasian kelompok SMF (staf medis fungsional)
berasal dari unit terkait dengan pasien TB dalam wadah fungsional yaitu Tim
DOTS. Yang terdiri dari:
1. Ketua Tim DOTS rumah sakit
Ketua tim adalah seorang dokter spesial paru atau penyakit dalam atau dokter
umum yang bersertifikat Pelatihan Pelayanan Tuberkulosis dengan Strategi
DOTS di Rumah Sakit (PPTSDOTS).
2. Anggota
Terdiri dari:
◦ Staf Medis Fungsional Paru
◦ Staf Medis Fungsional Penyakit Dalam
◦ Staf Medis Fungsional Kesehatan Anak
◦ Staf Medis Fungsional lainnya bila ada (Bedah, Obgyn, Kulit dan Kelamin,
Saraf, dll)
◦ Instalasi Laboratorium (PA, PK, Mikro)
◦ Instalasi Farmasi
◦ Perawat Rawat Inap dan Perawat Rawat Jalan terlatih
◦ Petugas pencatatan dan pelaporan, serta
◦ Petugas PKMRS
Tugas Tim DOTS di Rumah Sakit adalah:
Menjamin terselenggaranya pelayanan TB dengan membentuk unit DOTS di
rumah sakit sesuai dengan strategi DOTS termasuk sisitem jejaring internal dan
eksternal. Dimana Tim DOTS di rumah sakit melakukan:
1. Perencanaan terhadap semua kebutuhan bagi terselenggaranya pelayanan
TB di rumah sakit, meliputi diantaranya: tenaga terlatih, pencatatan dan
pelaporan.
2. Pelaksanaan termasuk mengadakan rapat rutin untuk membicarakan semua
hal temuan terkait dengan pelaksanaan pelayanan terhadap pasien TB di RS.
3. Monitoring dan Evaluasi terhadap pelayanan DOTS di RS dan dalam
pelaksanaannya berkoordinasi dengan setiap SMF dan unit DOTS.

Tatalaksana Pasien TB dengan DOTS yaitu:


1. Penemuan tersangka TB
o Pasien dengan gejala utama pasien TB paru: batuk berdahak selama 2-3
minggu atau lebih dianggap sebagai seorang tersangka pasien TB, dan
perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.
o Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA
positif dan pada keluarga anak yang menderita TB yang menunjukkan
gejala sama, harus diperiksa dahaknya.
2. Diagnosis TB
o Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari,
yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS).
o Diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya
kuman TB melalui pemeriksaan dahak BTA. Pemeriksaan lain seperti
foto thoraks, biakan dan uji kepekaan dapat juga sebagai penunjang
diagnosis.
3. Pengobatan TB
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (obat anti
tuberkulosis).
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan
lanjutan.
o Tahap Awal
Pada tahap awal ini pasien mendapatkan obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat, bila
pengobatan tahap awal ini diberikan secara tepat biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu, sebagian
besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan.
o Tahap Lanjutan
Pasien mendapat obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang
lebih lama (kurang lebih 4-6 bulan), tahap lanjutan ini penting untuk
membunuh kuman persisten sehingga mencegah kekambuhan.
4. Rujukan
o Melakukan rujukan ke UPK lain bagi pasien yang ingin pindah dengan
menggunakan formulir rujukan yang ada.
Formulir Pencatatan dan Pelaporan TB di DOTS
1. Formulir TB.01 : Kartu Pengobatan Pasien TB
2. Formulir TB.02 : Kartu Identitas Pasien
3. Formulir TB.03 : Register TB Kabupaten
4. Formulir TB.04 : Register Laboratorium TBC
5. Formulir TB.05 : Formulir Permohonan Laboratorium TBC Untuk
Pemeriksaan Dahak
6. Formulir TB.06 : Daftar Suspek Yang Diperiksa Dahak SPS
7. Formulir TB.09 : Formulir Rujukan/Pindah pasien TB
8. Formulir TB.10 : Formulir Hasil Akhir Pengobatan Dari Pasien TB
Pindahan
Melalui strategi DOTS ini diharapkan dapat menurunkan angka
kesakitan dan angka kematian TB, memutuskan rantai penularan, serta
mencegah MDR-TB, dengan target program penanggulanga TB adalah
tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70 % dari
perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta
mempertahankannya. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat
prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya dan mencapai tujuan
MDGs (millenium development goals) pada tahun 2015. (sumber dari buku
Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis : Depkes RI, 2011).

J. Konsep Asuhan Keperawatan Anak dengan TB Paru


1. Fokus Pengkajian
Data Subjektif yang dialami oleh pasien sehubungan dengan tanda dan
gejala TB, seperti :
a. Batuk yang tidak kunjung sembuh
b. Demam
c. Lemas
d. Keringat pada malam hari
e. Berat badan menurun
f. Tidak nafsu makan
g. Apakah ada kontak langsung dengan penderita TB ?
h. Apakah sudah menerima imunisasi BCG ?
Data Objektif yang dapat menunjang penentuan diagnosa, seperti :
a. Tanda-tanda vital (suhu, tekanan darah, laju pernafasan, denyut
nadi)
b. Berat badan sebelum dan setelah sakit
c. Pemeriksaan penunjang :
o Uji tuberkulin mantoux
o Pemeriksaan bakteriologis
o Pemeriksaan Radiologis (fotorontgen)
o Uji BCG
o Uji Laboratorium
2. Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya
penumpukan sekret
2) Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
3) Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi tidak adekuat
4) Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
mekanisme pertahanan diri
5) Defisit pengetahuan mengenai kondisi dan pencegahan berhubungan
dengan keterbatasan kognitif, informasi yang kurang

3. Intervensi Keperawatan
No. Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan
Dx
a. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas,
kecepatan, kedalaman dan penggunaan
otot aksesori.
R: Untuk mengetahui tingkat sakit dan
tindakan apa yang harus dilakukan.
b. Catat kemampuan untuk
mengeluarkan sekret atau batuk efektif,
Tujuan: setelah dilakukan catat karakter, jumlah sputum, adanya
tindakan keperawatan jalan hemoptisis.
nafas kembali efektif dalam R: Untuk mengetahui perkembangan
waktu 3x24 jam. Dengan kesehatan pasien.
1 kriteria hasil: c. Berikan pasien posisi semi atau fowler,
Sekret berkurang sampai R: Semi fowler memudahkan pasien
dengan hilang, pernafasan untuk bernafas.
dalam batas normal 40- d. Bersihkan sekret dari mulut dan
60x/menit. trakea, suction bila perlu.
R: Untuk mencegah penyebaran infeksi.
e. Lembabkan udara/oksigen. Berikan
obat: agen mukolitik, bronkodilator,
kortikosteroid sesuai indikasi.
R: Pemberian oksigen dapat
memudahkan pasien untuk bernafas.

a. Review patologi penyakit fase aktif/


tidak aktif, menyebarnya infeksi melalui
bronkus pada jaringan sekitarnya atau
melalui aliran darah atau sistem limfe
dan potensial infeksi melalui batuk,
bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.
R : Membantu klien agar klien mau
mengerti dan menerima terhadap terapi
yang diberikan untuk mencegah
komplikasi.
b. Mengidentifikasi orang-orang yang
beresiko untuk terjadinya infeksi seperti
anggota keluarga, teman, orang dalam
satu perkumpulan. Memberitahukan
kepada mereka untuk mempersiapkan
diri untuk mendapatkan terapi
Tujuan: setelah dilakukan pencegahan.
tindakan keperawatan pasien R : Pengetahuan dan terapi dapat
2 tidak demam dalam waktu meminimalkan kerentanan terjadinya
3x24 jam. penyebaran.
Dengan kriteria hasil : tidak c. Anjurkan klien menampung dahaknya
terjadi penyebaran infeksi jika batuk.
R : Kebiasaan ini untuk mencegah
terjadinya penularan infeksi.
d. Gunakan masker setiap melakukan
tindakan.
R : Masker dapat mengurangi resiko
penyebaran infeksi.
e. Monitor temperatur.
R : Untuk mengetahui adanya indikasi
terjadinya infeksi. Febris merupakan
indikasi terjadinya infeksi.
f. Kolaborasi pemberian terapi untuk
anak.
R : Kerja sama akan mempercepat proses
penyembuhan.
g. Monitor sputum BTA. Klien dengan 3
kali pemeriksaan BTA negatif, terapi
diteruskan sampai batas waktu yang
ditentukan.
R : Pemantauan untuk terapi yang akan
dilaksanakan selanjutnya

a. Mengukur dan mencatat BB pasien


R : BB menggambarkan status gizi
pasien.
b. Menyajikan makanan dalam porsi
kecil tapi sering.
R : Sebagai masukan makanan sedikit-
sedikit dan mencegah muntah.
c. Menyajikan makanan yang dapat
menimbulkan selera makan.
R : Sebagai alternatif meningkatkan
nafsu makan pasien.
d. Memberikan makanan TKTP (tinggi
kalori tinggi protein).
R : Protein mempengaruhi tekanan
osmotik pembuluh darah.
e. Memberi motivasi kepada pasien agar
mau makan.
R : Alternatif lain meningkatkan
motivasi pasein untuk makan.
f. Lakukan perawatan oral sebelum dan
sesudah terapi respirasi.
R : Mengurangi rasa yang tidak enak dari
sputum atau obat-obat yang digunakan
Tujuan : Setelah dilakukan untuk pengobatan yang dapat
tindakan keperawatan merangsang vomiting.
selama 3 x 24 jam g. Jelaskan kepada keluarga tentang
keseimbangan nutrisi terjaga penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi
Kriteria hasil: Keluarga klien pemulihan, susunan menu dan
dapat menjelaskan penyebab pengolahan makanan sehat seimbang,
3
gangguan nutrisi yang dialami tunjukkan contoh jenis sumber makanan
klien, pemulihan kebutuhan ekonomis sesuai status sosial ekonomi
nutrisi, susunan menu dan klien.
pengolahan makanan sehat R : Meningkatkan pemahaman keluarga
seimbang. Dengan bantuan tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi
perawat, keluarga klien dapat untuk pemulihan klien sehingga dapat
mendemonstrasikan pemberian meneruskan upaya terapi diet yang telah
diet (per sonde/per oral) sesuai diberikan selama hospitalisasi.
program diet. h. Tunjukkan cara pemberian makanan
per sonde, beri kesempatan keluarga
untuk melakukannya sendiri.
R : Meningkatkan partisipasi keluarga
dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
klien, mempertegas peran keluarga
dalam upaya pemulihan status nutrisi
klien.
i. Laksanakan pemberian roborans sesuai
program terapi.
R : Roborans, meningkatkan nafsu
makan, proses absorbsi dan memenuhi
defisit yang menyertai keadaan
malnutrisi.
j. Timbang berat badan, ukur lingkar
lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap
pagi.
R : Menilai perkembangan masalah
klien.
k. Memberi makan lewat parenteral.
R : Mengganti zat-zat makanan secara
cepat melalui parenteral.

a. Kaji kemampuan belajar pasien


misalnya: tingkat kecemasan, perhatian,
kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan
belajar, tingkat pengetahuan, media,
orang dipercaya.
R: Untuk mengetahui kondisi pasien dan
Tujuan: Menyatakan tindakan apa yang akan diberikan.
pemahaman proses b. Tekankan pentingnya asupan diet
penyakit/prognosis dan Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan
kebutuhan pengobatan. intake cairan yang adekuat.
Melakukan perubahan perilaku R: Agar pemenuhan nutrisi terpenuhi
dan pola hidup untuk sehingga penyembuhan bisa lebih cepat.
memperbaiki kesehatan dan c. Berikan Informasi yang spesifik dalam
menurunkan resiko bentuk tulisan misalnya: jadwal minum
4
pengaktifan ulang tuberkulosis obat.
paru. R: Agar keluarga pasien tidak
Mengidentifikasi gejala yang memberikan obat dan waktu yang keliru.
memerlukan d. Jelaskan penatalaksanaan obat: dosis,
evaluasi/intervensi. frekuensi, tindakan dan perlunya terapi
Menerima perawatan dalam jangka waktu lama. Ulangi
kesehatan adekuat. penyuluhan tentang interaksi obat
Kriteria hasil : Keluarga pasien Tuberkulosis dengan obat lain.
tidak merasa cemas, dapat R: Agar keluarga pasien tidak
meminimalisir terjadinya memberikan obat dan waktu yang keliru.
penyebaran infeksi. e. Jelaskan tentang efek samping obat:
mulut kering, konstipasi, gangguan
penglihatan, sakit kepala, peningkatan
tekanan darah.
R: Agar keluarga pasien mengetahui
sehingga bisa melaporkan jika hal
tersebut terjadi.

1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga.


R: Untuk mengetahui tingkat
Tujuan: Setelah dilakukan pengetahuan keluarga pasien.
tindakan keperawatan 2. Berikan pendidikan kesehatan
pengetahuan ibu dan keluarga berkaitan dengan penyakit pasien.
5 pasien bertambah dalam waktu R: Agar keluarga pasien mengetahui dan
1x24 jam dengan kriteria hasil tidak cemas.
ibu dan keluarga pasien paham 3. Jelaskan setiap tindakan keperawatan
tentang penyakit anaknya dan yang akan dilakukan.
cemas teratasi. R: Untuk mengurangi kecemasan
keluarga pasien.
Daftar Pustaka

1. Harry. 2016. Sifat Kuman Tuberkulosis dan Penularannya.


https://dokterharry.com/2016/09/19/sifat-kuman-tuberkulosis-dan-
penularannya/. Diakses pada 10 September 2018 pukul 10.00 WIB.
2. Heidy. 2018. Tes Mantoux: Kegunaan, Prosedur, Efek Samping.
https://mediskus.com/tes-mantoux. Diakses pada 10 September 2018 pukul
10.00 WIB.
3. Kusumah, R Bayu. 2015. Pathway TBC.
http://dosen.stikesdhb.ac.id/bayu/2015/03/05/pathway-tbc/. Diakses pada 26
Juli 2018 pukul 18.00 WIB.
4. Noya, Alert. 2018. Bayi Butuh Imunisasi BCG Untuk Apa.
https://www.alodokter.com/bayi-butuh-imunisasi-bcg-untuk-apa. Diakses
pada 10 September 2018 pukul 10.00 WIB.
5. NANDA International. 2015. Diagnosa Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2015-2017, edisi 10. Jakarta: EGC
6. Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine M. . Patofisiologi: Konsep Klinis
Prosess-Proses Penyakit, edisi 6. Jakarta: EGC
7. Van, Giezta. 2011. Asuhan Keperawatan Pada Anak TB. http://giezta-
van.blogspot.com/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-anak-yang-tb.html.
Diakses pada 26 Juli 2018 pukul 18.00 WIB.
8. Whaley dan Wong. . Nursing Care of Infants and Children, Fourth Edition.
9. Widiartis, Cici. 2013. Apa Itu DOTS.
https://ibundayusufhanun.wordpress.com/2013/02/12/apa-itu-dots/. Diakses
pada 10 September 2018 pukul 10.00 WIB.